Anda di halaman 1dari 4

Nabila Sajidah 2010420140

Logbook 5

Lokalitas, Tak Sebatas Bentuk Fisik Bangunan.


Dalam sebuah asistensi skripsi, Dosen Pembimbing penulis mengutarakan pendapatnya tentang Lokalitas Arsitektur dan karya Arsitektur masa kini. Beliau bercerita bahwa lokalitas seharusnya tidak serta merta diwujudkan dalam kulit luar dan bentuk fisik dari karya arsitektur, Lokalitas harusnya diaplikasikan dalam hal yang lebih substansial seperti prinsip perancanganya. Beliau bersikukuh bahwa aplikasi bentuk arsitektur lokal misalnya atap julang ngapak dari tanah sunda- pada bangunan moderen tidak cukup mewakili lokalitas itu sendiri. Aplikasi bentuk tradisional pada rancangan masa kini adalah langkah yang naif dan terlalu dangkal. Pendapat beliau mengugah rasa ingin tahu penulis tentang seperti apa aplikasi lokalitas dalam karya arsitektur masa kini yang tepat. Beliau mengatakan bahwa prinsip perancangan, budaya dan cara hidup orang lokal lah yang harusnya dituangkan. Ketiganya adalah alat tanpa wujud fisik yang akan memberi jiwa lokalitas yang sesungguhnya pada bentukan fisik arsitektur. Namun, ditengah geliat zaman yang serba cepat dan praktis seperti ini bagaimana caranya seseorang dapat melihat dan merasakan lokalitas tanpa mengenalinya dari bentuk fisik? Adakah cara yang mampu membahasakan nilai lokalitas kedalam bahasa perseptual yang mudah ditangkap orang awam? Tak bisa dipungkiri bahwa karya arsitektur seharusnya bukan hanya dipahami oleh mereka yang mendalami ilmu arsitektur, namun oleh mereka juga yang hanya mampu melihat dan merasakan ruang tanpa harus mendalaminya. Mereka adalah masyarakat awam yang setiap hari menjalani aktifitasnya dalam ruang-ruang binaan yang dirancang oleh arsitek. Mereka tidak dapat melihat prinsip perancangan secara kasat mata ataupun mengerti dan memahami tiap elemen desain dan alasan dibaliknya. Mereka mampu melihat bentuk dan mengaitkannya dengan citra visual terdekat dari pengalaman mereka sendiri.

Nabila Sajidah 2010420140

Logbook 5

Hanya satu atau dua yang mungkin mampu mengaitkannya dengan ciri-ciri lokal tertentu. Baik masyarakat awam maupun arsitek tentunya mampu merasakan pengalaman ruang dari tiap ruang binaan. Namun, kemampuan mereka umunya terbatas pada apakah ruang binaan tersebut dapat memberikan kenyamanan pada mereka. Mereka tidak dapat melihat bagaimana prinsip penataan

dilekatkan pada pengalaman ruang mereka. Datum, irama, repetisi dan hirarki hanyalah nilai semu dimata mereka. Jadi bagaimana seharusnya prinsip perancangan dengan nilai-nilai lokalitas diterapkan? Dalam mata kuliah lain, penulis belajar bahwa seluruh komunikasi dalam kehidupan manusia dibangun dari tanda dan penanda. Tanda tanpa makna dikategorikan dalam Langue dan tanda dengan makna atau penanda dikategorikan dalam Parole. Keduanya memiliki hubungan kausalitas yang sangat erat. Arsitektur juga adalah sebentuk media komunikasi, dan lokalitas adalah nilai yang harus disampaikan agar maknanya dapat dimengerti. Bangunan tanpa makna yang jelas hanya menjadi Tanda atau Langue. Arsitektur sebagai media komunikasi kedalam penanda atau Parole. Konsep diatas juga dapat dikaitkan dengan Konsep Ikon -Indeks-Symbol. Bentuk fisik bangunan semata-mata dikenali karena ia menggambarkan sesuatu yang terkait langsung dengannya, ia adalah Ikon. Arsitektur dengan makna yang jelas adalah Simbol. Makna yang ingin disampaikan tanpa bentuk harafiah adalah Indeks. Dengan konsep tersebut maka Lokalitas perlu dijadikan sebagai gesture atau Indeks dari Ikon bentuk fisik bangunan. Konsep Ikon-Indeks-Simbol berkaitan erat dengan citra visual sesuatu. Konsep ini berhubungan dengan bahasa perseptual dari tiap objek yang diamati oleh seseorang. Jika dikaitkan dengan pernyataan dosen pembimbing penulis diatas, karya yang mengambil bentuk bangunan lokal secara harafiah berarti berhenti pada tahap Ikon saja. Untuk mencapai Indeks dan Simbol, bangunan tersebut harus menerapkan pula konteks dan prinsip perancangan lokal dalam rancangannya. Dalam tahap Indeks, seseorang secara kasat mata dapat dengan makna khusus menjadikannya

Nabila Sajidah 2010420140

Logbook 5

langsung membaca makna dari tiap bentuk tanpa harus melihat wujud fisik yang menjadi referensi. Contohnya konsep indeks adalah saat kita mengerti melihat rambu lalu lintas. Konsep Simbol adalah tahap lanjutan dari konsep Indeks. Ditahap ini seseorang dapat menafsirkan makna tersebut sesuai dengan pengalaman masing-masing. Menurut pandangan penulis, jika diterjemahkan dalam sudut pandang arsitektur, pengalaman masing-masing ini merujuk pada Konteks dari karya Arsitektur itu sendiri. Konteks karya arsitektur dapat berupa konteks tempat, waktu dan budaya. Konteks ini membangun penafsiran citra visual dengan lebih lengkap. Menggunakan contoh rambu lalu lintas diatas, Seseorang akan lebih mengerti mengapa dan kapan ia harus mematuhinya jika berada di tempat yang sesuai. Sehingga dari uraian diatas penerapan nilai lokal dalam karya arsitektur harus dilengkapi dengan suasana dan konteks yang dapat menggambarkan nilai lokal tersebut. Bentuk fisik bangunan tidak harus mengadopsi langsung bentuk lokal maupun tradisional, bentuk fisik bangunan dapat disamarkan lewat pensuasanaan yang dibangun dari nilai-nilai lokal. Bentuk fisik dapat dibangun dari elemen-elemen kecil yang mengingatkan seseorang pada nilai lokal, tentunya dengan menyesuaikan elemen tersebut dengan konteks tempatnya. Contoh yang menarik untuk Bangunan diamati adalah

Perpustakaan

Pusat UI karya firma Duta Cermat Mandiri atau DCM. Bangunan dengan konsep Crystal of Knowledge ini memiliki bentuk tajam
Gambar 1.1 Bangunan Perpus UI yang terinspirasi 'Batu Sabak'. Sumber : Archdaily.com

dengan warna dan tekstur permukaan fasad berwarna

hitam berkilatan. Dikaitkan dengan konsep Ikon-Indek-Simbol, Ikon dari

Nabila Sajidah 2010420140

Logbook 5

bangunan ini adalah bangunan bertingkat, Indeksnya adalah bentuk mirip batu sabak dan simbolnya adalah ilmu pengetahuan. Bangunan ini termasuk berhasil menerjemahkan nilai lokal dalam bahasa perseptual kekinian, yang menarik nilai lokalnya justru nilai lokal yang kuno. Nilai lokal yang diangkat adalah Batu Sabak, batu ini merupakan alat tulis yang akrab digunakan bangsa In donesia untuk menuntut ilmu ketika belum alat tulis moderen seperti pena dan kertas ada. Bagian dalam bangunan ini juga terasa lokal sekali. Alih-alih

menggunakan transportasi vertikal umum seperti tangga dan lift, bangunan ini menggunakan ramp. Cara berpindah antar lantai yang seakan-akan

mengingatkan seseorang untuk meniti bukit-bukit yang berisi ilmu pengetahuan. Hal ini menarik karena mengajak seseorang untuk terbebas dari budaya serba instan dan cepat khas kekinian. Pada bagian belakang bangunan terdapat teras dinaungi pohon besar. Teras ini berorientasi pada sebuah danau. Pemandangan ini sesungguhnya mengingatkan kita pada pemandangan di buku-buku teks lampau dimana tempat membaca yang nyaman yaitu berada dalam naungan pohon didekat empang atau kolam. Sungguh pengalaman ruang yang mengesankan. Penulis mengaharapkan uraian dan contoh diatas tidak hanya dapat mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi arsitektur Indonesia saat ini tapi juga mengajak pembaca untuk lebih menyelami lagi nilai-nilai lokal. Pemahaman yang mendalam akan nilai lokal bukan hanya membantu menciptakan karya yang inovatif tapi juga karya yang berjiwa lokal.