Anda di halaman 1dari 27

REFERAT LUKA BAKAR

Pembimbing : DR. ERIKA SIMANJUNTAK, Sp.An


Disusun Oleh : Juffandi S. 0761050048 Putrei Ayu Dwie Jayantie 0861050032 KEPANITERAAN ILMU ANESTESI PERIODE 14 MEI 2012 09 JUNI 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang membahas Penanggulangan Luka Bakar sebagai salah satu tugas kepaniteraan Ilmu Anestesi. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Erika Simanjuntak, Sp.An yang telah membimbing kami dalam kepaniteraan Ilmu Anestesi,

khususnya dalam penyelesaian referat ini. Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada. Akhir kata, kiranya referat ini berguna bagi para pembaca. Sekian dan terimakasih.

Penulis.

2 ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii 1 1&6

DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN

I.1 ANATOMI DAN FISIOLGI KULIT

BAB II ISI LUKA BAKAR 12 II.1 DEFINISI 12 II.2 EPIDEMIOLOGI .. 12 II.3 ETIOLOGI ............. 13 II.4 FASE & KLASIFIKASI 15 II.5 PATOFISIOLOGI 15 II.6 PENATALAKSANAAN II.7 KOMPLIKASI II.8 KOMPLIKASI II.9 PROGNOSIS 20 ................. 21 23 24 25 26

BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN
I.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT Kulit adalah organ terbesar di tubuh, tidak hanya berfungsi sebagai sawar mekanis antara lingkungan eksternal dan jaringan dibawahnya, tetapi secara dinamis juga terlibat dalam mekanisme pertahanan dan berbagai fungsi lain. Kulit terdiri dari dua lapisan, epidermis disebelah luar dan dermis disebelah dalam.(1)

A. EPIDERMIS Epidermis terdiri dari banyak lapisan sel epitel. Lapisan epidermis di bagian dalam terdiri dari sel- sel berbentuk kubus yang hidup dan cepat membelah diri, sementara sel-sel di lapisan luar mati dan menggepeng. Epidermis tidak mendapatkan pasokan darah langsungr dan hanya mendapatkan makanan melalui difus nutrien dari jaringan epidermis di bawahnya. Sel-sel epidermis berikatan erat satu sama lain melalui pada desmosom titik yang berhubungan dengan intrasel untuk membentuk suatu lapisan pembungkus kohesif yang kuat. Selama pematangan sel penghasil kreatinin, terjadi akumulasi filamen-filamen keratin secara progresif yang saling berikatan silang di sitoplasma. Sewaktu sel-sel di bagian luar mati, yang tertinggal hanya inti kreatinin fibrosa yang membentuk skuama keras-gepeng dan menjadi lapisan kreatinisasi protektif-kuat. Skuama pada lapisan keratinisasi paling luar yang terkelupas atau tanggal akbiat abrasi, secara terus-menerus di ganti melalui pembelahan sel dilapisan epidermis sebelah dalam. Lapisan kreatinisasinya bersifat kedap udara, cukup kedap air dan sulit untuk ditembus oleh sebagian besar bahan. Lapisan ini juga berfungsi menahan lewatnya bahan dalam kedua arah antara tubuh dan lingkungan eksternal. Epidermis mengandung empat jenis sel : (1)(6) Sel kreatinosit Melanosit Sel langerhans Sel granstein

Lapisan epidermis ada 6, yaitu :(6) 1. Stratum dysjunctum 2. Stratum corneum 3. Stratum lucidum 4. Stratum granulosum 5. Stratum spinosum 6. Stratum basale

Fungsi epidermis sendiri yaitu : Melindugi dari kekeringan Pelindung dari masuknya bakteri Melindungi dari toksin Menjaga keseimbangan cairan: menghindari kehilangan cairan yang berlebihan Neuronsensori dan interaksi sosial

B. DERMIS Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang mengandung banyak serat elstin (untuk peregangan) dan serat kolagen (untuk kekuatan), serta sejumlah besar pembuluh darah dan ujung-ujung saraf khusus. Jaringan penyambung padat berbentuk irregular yg mensupport epdermis dan berikatan dng jar.subcutan ( hypodermis) Tebal : 0,6 mm 3 mm,pada wanita lebih tipis dibanding pria.(1)(6) Pembuluh darah dermis tidak hanya memasok darah kedermis dan epidermis tetapi, juga berperan penting dalam mengatur suhu. Kaliber pembuluh-pembuluh darah ini,dan dengan demikian volume darah yang mengalir didalamnya dapat di kontrol untuk mengubah-ubah tingkat pertukaran panas antara pembuluh permukaan kulit ini dengan lingkungan eksternal. Reseptor-reseptor di ujung perifer serat saraf aferen di dermis mendeteksi tekanan,suhu,nyeri,dan masukkan somatosensorik lainnya. Ujungujung saraf eferen didermis mengontrol kaliber pembuluh darah, ereksi rambut,dan sekresi oleh kelenjar eksokrin. Dermis dibagi mennjadi :(1)(6)

Superficial yang tipis yang dikenal dengan papilary layer, terdapat fibroblast, serat elastin dan kolagen tipe 3 serta banyak terdapat kapiler. Dan bagian yang paling tebal yang dikenal dengan reticular layer,terdapat serat kolagen tipe 2, terisi matriks ekstrasel yang mengandung dermatan sulfat dan glikosaminoglikan,sel

fibroblas,makrofag,lymfosit dan mast cells. Membentuk garis paralel dengan permukaan tubuh diuat lines of Langer surgical important minimize scar tissue.

Fungsi dermis sendiri yaitu :

Melindungi

dari

trauma

dengan

elastisitas,

daya

tahan

dan

komponennya. Menjaga keseimbangan cairan melalui regulasi aliran darah kulit Termoregulasi melalui control aliran darah. Faktor pertumbuhan dan arah kontak pada replikasi epidermis dan perbaikan dermis.

C. Hypodermis ( subcutaneous tissue) Hypodermis merupakan bagian dalam dari lapisan reticular layer. Jaringan penyambung jarang terbungkus oleh serabut kolagen, serta banyak mengandung jaringan lemak terutama bagian perut dan pinggul yg dapat mencapai ketebalan 3 cm lapisan ini disebut panniculus adiposus.(6)

Kelenjar eksokrin kulit terdiri dari kelenjar dari kelenjar sebasea,yang menghasilkan sebum, suatu bahan berminyak yang melunakkan dan membuat kulit kedap air, dan kelenjar keringat, yang mengahsilkan keringat pendingin. Folike rambut mengahsilkan rambut, yang didistribusi dan fungsinya minimal pada manusia. Selain itu kulit juga mensintetis vitamin D dengan adanya sinar matahari. (1)

BAB II ISI
II.1 DEFINISI Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).

II.2 EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat, sekitar 1,1 juta orang per tahun mengalami luka bakar yang cukup serius dan harus mencari perawatan kesehatan. Sekitar 45.000 dari memerlukan rawat inap, dan sekitar 4.500 mati.Lebih dari 90 persen dari kebakaran dapat dicegah, dengan hampir satu-setengah yang berhubungan dengan merokok atau karena penyalahgunaan bahan mudah terbakar. Jumlah tahunan membakar kematian di Amerika Serikat telah menurun dari kira-kira 15.000 pada tahun 1970 menjadi sekitar 4.500 saat ini. Selama periode yang sama, ukuran luka bakar yang berhubungan dengan 50 persen angka kematian telah meningkat dari 30 persen dari total luas permukaan tubuh (TBSA) sehingga 80 persen dari TBSA orang dewasa muda. Hampir 95 persen pasien yang dirawat di pusat perawatan luka bakar di Amerika Serikat bertahan hidup, dan lebih dari satu-setengah dari mereka kembali ke fungsi

sosial dalam waktu 12-24 bulan setelah cedera. Kualitas perawatan luka bakar tidak lagi diukur hanya dengan kelangsungan hidup, tetapi juga oleh fungsi jangka panjang dan penampilan.Seperti bentuk-bentuk lain trauma, luka bakar sering mempengaruhi anak-anak dan kaum muda dewasa.Anak-anak kurang dari 8 tahun, luka bakar yang paling umum adalah luka bakar, biasanya diakibatkan cairan panas. Pada anak yang lebih tua dan orang dewasa, luka bakar yang paling umum adalah yang berhubungan dengan api, biasanya akibat kebakaran rumah. Bahan kimia atau cairan panas, diikuti oleh listrik, dan kemudian logam cair atau panas yang paling sering terkait dengan pekerjaan menyebabkan luka bakar.

II.3 ETIOLOGI Luka bakar kutaneus disebabkan oleh panas, dingin, atau bahan kimia kaustik kulit. Bila panas diberikan pada kulit, kedalaman cedera sebanding dengan suhu diterapkan, durasi kontak, dan ketebalan kulit.

A. Luka Bakar Lepuh

Luka bakar, biasanya dari air panas, adalah yang paling umum yang menyebabkan luka bakar .Air pada 60 C (140 F) menyebabkan luka dalam parsial atau luka bakar dalam dalam 3 detik.Pada 69 C (156 F), luka bakar yang sama terjadi dalam 1 detik. Luka bakar di kulit cenderung kurang dalam berbanding daerah yang ditutupi pakaian karena ia mempertahankan kontak panas dan cairan panas dengan kulit untuk jangka waktu lebih lama. Luka bakar lepuh dari minyak panas biasanya dalam ketebalan parsial atau luka dalam, seperti minyak atau lemak dengan suhu 200 C (400 F). Luka bakar tar dan aspal adalah jenis khusus luka lepuh. Tar harus dibersihkan dengan aplikasi salep berbasis petroleum atau pelarut non toksik (misalnya, Medisol atau minyak bunga matahari) di bawah pakaian. Perban harus diganti dan sering disapu salep sampai larut.

B. Luka Bakar Termal Luka bakar akibat api adalah penyebab utama trauma termal. Meskipun insiden luka-luka yang disebabkan oleh kebakaran rumah telah menurun dengan menggunakan detektor asap, kebakaran yang berhubungan dengan merokok,

penggunaan cairan yang mudah terbakar yang tidak tepat, kecelakaan kendaraan bermotor dan kebakaran pakaian oleh kompor atau ruang pemanas menyebabkan sebagian besar luka bakar termal

C. Luka Bakar Akibat Bahan Kimia Luka bakar ini disebabkan oleh ledakan gas alam, propana, butana, petroleum distil, alkohol, cairan yang mudah terbakar, dan listrik menyebabkan panas untuk jangka waktu singkat. Luka ini umumnya memiliki distribusi ke seluruh kulitdengan daerah-daerah terdalam yang terkena bahan bakar . Biasanya iadangkal atau ketebalan parsial, kedalamannya tergantung pada jumlah dan jenis dari bahan bakar yang meledak. Namun, luka bakar akibat listrik dan bensin ketebalan graft. memerlukan

D. Luka Bakar Kontak Ia disebabkan oleh logam panas, plastik, kaca, atau bara panas. Luas luka bakar biasanya terbatas tetapi selalu dalam .

II.4 FASE LUKA BAKAR & KLASIFIKASI

A. Fase akut. Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.(3)

B. FASE SUB-AKUT Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:(3) 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme Kedalaman Penyebab Penampilan Warna Perasaan

C. FASE LANJUT Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.(3)

KLASIFIKASI LUKA BAKAR a) DALAMNYA LUKA BAKAR

Ketebalan partial superfisial (tingkat I)

Jilatan api, sinar ultra violet (terbakar oleh matahari).

Kering tidak ada gelembung. Oedem minimal atau tidak ada. Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.

Bertambah merah.

Nyeri

Lebih dalam dari ketebalan partial

Kontak dengan bahan air atau bahan padat.

Blister besar Berbintikdan lembab bintik yang yang ukurannya kurang jelas, bertambahbesar . Pucat bial ditekan gan ujung jari, tekanan dilepas kembali.

Sangat nyeri

(tingkat II) - Superfisial - Dalam

Jilatan api kepada pakaian. Jilatan langsung kimiawi. den Sinar ultra violet. bila beri
Kontak dengan bahan cair atau padat. Nyala api. Kimia. Kontak dengan arus listrik.

putih, coklat, pink, daerah merah coklat.

Ketebalan sepenuhnya (tingkat III)

Kering disertai kulit Putih, mengelupas. kering, Pembuluh darah hitam, seperti arang coklat terlihat dibawah tua. kulit yang Hitam. mengelupas. Merah. Gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar. Tidak pucat bila ditekan.

Tidak sakit, sedikit sakit. Rambut mudah lepas bila dicabut.

b) LUAS LUKA BAKAR Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:(4) 1) Kepala dan leher : 9%

2) Lengan masing-masing 9% : 18% 3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36% 4) Tungkai maisng-masing 18% : 36% 5) Genetalia/perineum : 1% Total : 100%

10

RULE OF NINE

c)

BERAT RINGANNYA LUKA BAKAR Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara

lain: (3) 1) Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. 2) Kedalaman luka bakar. 3) Anatomi lokasi luka bakar. 4) Umur klien. 5) Riwayat pengobatan yang lalu. 6) Trauma yang menyertai atau bersamaan. American college of surgeon membagi dalam: (3) A. Parah critical: a) Tingkat II : 30% atau lebih. b) Tingkat III : 10% atau lebih. c) Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah. d) Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas. B. Sedang moderate: a) Tingkat II : 15 30% b) Tingkat III : 1 10% C. Ringan minor:

a) Tingkat II : kurang 15% b) Tingkat III : kurang 1%

II.5 PATOFISIOLGI

11

Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar

Perubahan

Tingkatan diuretik (12 jam 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Pergeseran Vaskuler ke Hemokonsentr Interstitial ke Hemodilusi. cairan insterstitial. asi oedem pada vaskuler. ekstraseluler. lokasi luka bakar. Fungsi renal. Aliran darah Oliguri. Peningkatan Diuresis. renal aliran darah berkurang renal karena karena desakan desakan darah darah turun meningkat. dan CO berkurang. Kadar Na+ Defisit sodium. Kehilangan Defisit sodium. sodium/natriu direabsorbsi Na+ melalui m. oleh ginjal, diuresis tapi kehilangan (normal Na+ melalui kembali eksudat dan setelah 1 tertahan dalam minggu). cairan oedem. Kadar K+ dilepas Hiperkalemi K+ bergerak Hipokalemi. potassium. sebagai akibat kembali ke cidera jarinagn dalam sel, K+ sel-sel darah terbuang merah, K+ melalui berkurang diuresis (mulai ekskresi 4-5 hari karena fungsi renal Rawat Inap Luka Bakar(3) A. Luka bakar grade II: 1) Dewasa > 20% 2) Anak/orang tua > 15% B. Luka bakar grade III. C. Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll

Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama)

Indi kasi

12

II.6 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan luka bakar dimulai pada saat pertama kali korban ditemukan. Pada saat korban ditemukan, biasanya api sudah mati. Dan apabila korban masih dalam keadaan terbakar, maka dapat dilakukan tindakan atau cara-cara sebagi berikut ini :(2) Menyiram dengan air dalam jumlah banyak, apabila api disebabkan karena bensin atau minyak tana, karena bila jumlah air dalam penyiraman hanya sedikit akan mengakibatkan api semakin besar. Menggulingkan korban gawat darurat, kalau bisa dalam selimut basah, dengan cara ini,penolong harus waspada jangan sampai turut terbakar.

Hentikan Proses Luka Bakar Luka bakar akan mengalami pendalaman, walaupun api sudah mati. Untuk

mengurangi proses pendalaman ini, luka dapat disiram dengan air pendinginnya. Proses pendalaman ini hanya akan berlangsung selama 15 menit. Sehingga apabila pertolongan pertama tiba setelah 15 menit, usaha ini akan sia-sia.(2)

Circulation Kulit yang terbuka akan menyebabkan penguapan air yang berlebih dari tubuh sehingga mengakibatkan terjadinya dehidrasi. Walaupun dehidrasi akan terjadi agak lambat, namun pemasangan infus pada luka bakar diatas 15% merupakan suatu keharusan.(2)

Pemberian Cairan dengan menggunakan Rumus Baxter Rehidrasi dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut :(2) 4cc/kgBB/%lukabakar/24 jam. Separuhnya diberikan dalam 8 jam pertama dan separuhnya lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya.
13

Rumus inipun tidak mutlak tepat karena banyak faktor tidak diperhitungkan, misalnya luka bakar yang dalam.

Contoh : Korban gawat darurat dengan BB 50kg, luas luka bakar 20%. Maka korban gawat darurat akan mendapat 50 x 20 x 4 cc / 24 jam = 4000 cc / 24 jam. Separuhnya 2000 cc (4 kolf) dalam 8 jam pertama. Catatatan : 2000cc x 20 (tetes infus set) = 80 tetes / menit. 4 (jam) x 60 (menit) Rumus ini hanya merupakan patokan awal, dan menilai cukupnya cairan yang diberikan lebih tepat dengan menilai reproduksi urin setiap jam, yaitu 30 50 cc setiap jam pada orang dewasa. Atau dapat menggunakan ukuran 1-1,5 cc / kgBB / jam. Contohnya, korban yang Bbnya 50 kg, maka produksi urin normalnya antara 50 70 cc / jam. Bila masa pra rumah sakit hanya singkat, maka tidak perlu pemasangan kateter uretra ( pemasangan DC, Dauer Catheter). Namun dalam keadaan khusu dimana masa prarumah sakit yang lama ( transportasi yang sangat lama ), maka perlu pemasangan DC sehingga dapat di lakukan monituring produksi urin.(2) Airway Jalan nafas, adalah sumbatan jalan atas (larinx, pharinx) akibat cedera inhalasi yang ditandai kesulitan bernafas atau suara nafas yang berbunyi (stridor hoarness). Kecurigaan dibuat bila ditemukan oedem mukosa mulut dan jalan nafas, ditemukan sisa-sisa pembakaran di hidung atau mulut dan luka bakar mengenai muka atau leher. Cedera ini harus segera ditangani karena angka kematiannya sangat tinggi.(2) Breathing Gangguan breathing atau pernafasan dapat timbu segera atau setelah beberapa saat kemudian. Gangguan pernafan yang timbul cepat dapat disebkan karena :(2)

14

Inhalasi paretikel partikel panas yang menyebabkan proses peradangan dan edema pada saluran jalan nafas yang paling kecil. Mengatasi sesak yang terjadi adalah dengan penanganan yang agresif. Keracunan CO ( Carbon Mono-oksida ) Asap dari api mengandung CO. Apabila korban gawat darurat berada dalam ruangan cukup besar. Diagnostiknya sulit (apalagi di fase pra- rumah sakit). Kulit yang berwarna merah terang biasanya belum terlihat. Pulse oksimeter akan menunjukkan tingkat saturasi O2 yang cukup, walaupun korban gawat darurat dalam keadaan sesak.

Bila diduga kemungkinan keracunan CO2 maka diberikan O2 100 % dengan menggunakan non- breathing mask, ataupun bila perlu ventilasi tambahan dengan BVM yang ada reservoir O2. Monitoring urine dan CVP(3) Topikal dan tutp luka :(3) a. Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik. b. - Tulle. c. - Silver sulfa diazin tebal. d. - Tutup kassa tebal. e. - Evaluasi 5 7 hari, kecuali balutan kotor Obat obatan :(3) Antibiotika : tidak diberikan jika psien datang < 6 jam sejak kejadian Analgetika : kuat ( morfin, petidin) diberikan secara iv Anti tetanus : diberikan pada luka bakar II & III Antasida :kalau perlu

Survei Sekunder Survei sekunder dillakukan dalam bentuk : Anamnesis

15

Penting untuk menanyakan dengan teliti hal sekitar kejadian kita. Tidak jarang terjadi bahwa di samping luka bakar akan di temukan pula perlukaan lain yang di sebabkan usaha untuk melarikan diri dari api dalam keadaan panik. Pemeriksaan ujung rambut Pemeriksaan teliti dilakukan apabila ada waktu. Apabila di temukan kelainan maka diberikan pertolongan yang sesuai kondisi korban. Bila ada ahli, maka rujuk kepada tim ahli. Luka bakarnya sendiri Tidak perlu dilakukan apa-apa, selain menutup dengan kain bersih. Menyemprot dengan air dingin hanya dilakukan bila tiba sebelum 15 menit setelah kejadian. Catatan : dinegara yang amat dingin, tidak boleh menyiram dengan air dingin karena korban gawat darurat akan hiportermia dan jangan memecahkan bula atau vesikula.(2)

Perawatan Luka Pada Luka Bakar Terdapat 2 jenis perawatan luka pada luka bakar, yaitu : 1. Perawatan luka bakar terbuka (exposure method) Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan luka yang selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang. Kerugiannya bila digunakan obat tertentu, misalnya mitras-argenti, alas tidur menjadi kotor. Penderita dan keluargapun merasa kurang enak karena melihat luka yang tampak kotor. Perawatan terbuka ini memerlukan ketelatenan dan

pengawasan yang ketat dan aktif. Keadaan luka harus diamati beberapa kali dalam sehari. Cara ini baik untuk merawat LB yang dangkal. Untuk LB III dengan eksudasi dan pembentukan pus harus dilakukan pembersihan luka berulang-ulang untuk menjaga luka tetap kering. Penderita perlu dimandikan tiap hari, tubuh sebagian yang luka dicuci dengan sabun atau antiseptik dan secara bertahap dilakukan eksisi eskar atau debridement.(5) 2. Perawatan luka bakar tertutup (occlusive dressing method)

16

Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan untuk menutup luka dari kemungkinan kontaminasi. Keuntungannya adalah luka tampak rapi, terlindung dan enak bagi penderita. Hanya diperlukan tenaga dan biaya yang lebih karena dipakainya banyak pembalut dan antiseptik. Untuk menghindari kemungkinan kuman untuk berkembang biak, sedapat mungkin luka ditutup kasa penyerap (tole) setelah dibubuhi dan dikompres dengan antispetik. Balutan kompres diganti beberapa kali sehari. Pada waktu penggantian balut, eskar yang terkelupas dari dasarnya akan terangkat, sehingga dilakukan debridement. Tetapi untuk LB luas debridement harus lebih aktif dan dicuci yaitu dengan melakukan eksisi eskar.(5)

Tindakan Bedah Tindakan bedah selanjutnya pada penderita LB yang dapat melewati fase aktif adalah eksisi dan penutupan luka. Hal ini sangat penting bila ingin menghindarkan kematian oleh sepsis dan akibat-akibat hipermetabolisme yang sulit diatasi. Eksisi eskar dilakukan secara tangensial. Seluruh jaringan nekrotik dibuang, bila perlu sampai fascia atau lebih dalam.(5) Keuntungan eksisi eskar dan penutupan luka yang dini adalah : (5) 1. Keadaan umum cepat membaik. 2. Jaringan nekrotik sebagai media tumbuh bakteri dihilangkan. 3. Penyembuhan luka menjadi lebih pendek bila dilakukan skin graft. 4. Timbulnya jaringan parut dan kontraktur dikurangi. 5. Sensitivitas lebih baik.

Terapi Suportif LB menimbulkan hipermetabolisme dengan akibat nitrogen balans (-). Hiperpigmentasi dimulai hari ke 4 selama 7 10 hari dengan formula :(5) 1. Tinggi protein : 2-3 g/kgBB/hari Tinggi kalori : 50-75 kal/kgBB/hari

17

2. Dewasa : 25 kal/kgBB + 40 kal % LB Anak-anak : 40 kal/kgBB + 40 kal % LB Kalorinya terdiri dari : 20% protein 50 60% KH 30 30% lemak vitamin C 1.500 mg; B 50 mg Riboflavin 50 mg; Niacide 500 mg (anak-anak dosis disesuaikan) Pemeriksaan laboratorium

Hb, Ht, ureum dan kreatini, elektrolit darah. Kultur dan sensitivitas luka bakar. Produksi urin dan berat jenis

II.7 KOMPLIKASI Infeksi, Infeksi merupakan masalah utama. Bila infeksi berat, maka penderita dapat mengalami sepsis. Berikan antibiotika berspektrum luas, bila perlu dalam bentuk kombinasi. Kortikosteroid jangan diberikan karena bersifat imunosupresif (menekan daya tahan), kecuali pada keadaan tertentu, misalnya pda edema larings berat demi kepentingan penyelamatan jiwa penderita.(5) Curlings ulcer (ulkus Curling), Ini merupakan komplikasi serius, biasanya muncul pada hari ke 5 10. Terjadi ulkus pada duodenum atau lambung, kadang-kadang dijumpai hematemesis. Antasida harus diberikan secara rutin pada penderita luka bakar sedang hingga berat.Pada endoskopi 75% penderita luka bakar menunjukkan ulkus di duodenum.(5)

Gangguan Jalan Nafas, Paling dini muncul dibandingkan komplikasi lainnya, muncul pada hari pertama. Terjadi karena inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi. Penanganan dengan jalan membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen, trakeostomi, pemberian kortikosteroid dosis tinggi dan antibiotika.(5)

Konvulsi, Ia komplikasi paling unik, dan sering terjadi pada anak-anak. Konvulsi ini disebabkan oleh ketidaknyamanan elektrolit, hipoksia, infeksi, obat-obatan (penisilin, aminofilin, difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak diketahui. Komplikasi luka bakar yang lain adalah timbulnya kontraktur dan gangguan kosmetis.(5)

18

II.8 PROGNOSIS . Morbiditas dan mortalitas penderita luka bakar berhubungan luas luka bakar, derajat luka bakar, umur, tingkat kesehatan, lokalisasi luka bakar, cepat lambatnya pertolongan yang diberikan dan fasilitas tempat pertolongannya.(5)

Permasalahan Pasca Luka Bakar Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat estetis yang jelek sekali terutama bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah. Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli bedah rekonstruksi terutama jika cacat mengenai wajah atau tangan. Bila luka bakar merusak jalan nafas akibat inhalasi, dapat terjadi atelektasis, pneumonia atau insufisiensi fungsi paru pasca trauma.(5)

Perubahan yang terjadi pada luka bakar(5) Renin angiotensin ACTH Glukagon = = Meningkat sebanding dengan luas LB, terutama pada anak-anak Meningkat tes toleransi glukosa abnormal gula tetapi dalam puasa tidak begitu meningkat GH = Naik selama 2 minggu pertama kemudian agak turun (tetap di atas normal sampai 6-8 minggu)

19

insulin

Sampai 2-3 minggu berkurang, kadar terendah dalam minggu pertama

Kortisol Aldosteron

= =

Segera meningkat sampai 2-4 kali Naik, biasanya normal kembali setelah 1 minggu

Protein

Menurun dengan cepat dan untuk waktu lama

Albumin

Idem, sampai luka tertutup. Produksi berkurang dan katabolisme 2-3 kali dan normal

Globulin

Menurun pada fase awal I lalu meningkat 5-7 kali. Katabolisme 2-3 kali normal tapi produksi bertambah dengan cepat

IgG

Segera berkurang, diikuti dengan peningkatan yang lambat

IgM

Pada orang dewasa tidak banyak berubah, tetapi pada anak-anak perubahan seperti pada IgG

Asam lemak bebas Trigliserid Kolesterol Fosfolipid

Meningkat sebanding dengan luas LB tetapi tidak lama

= = =

Idem Berkurang sebanding dengan luas LB Idem

20

Eritrosit

Segera berkurang sebanding dengan luas dan adalam LB. Masa hidupnya hanya 30% dan normal

Lekosit

Sejak awal meningkat dan berlangsung lama. Menurun pada keadaan sepsis LB

Fibrinogen

Segera berkurang disusul dengan kenaikan untuk jangka waktu yang lama

Viskositas darah Cardiac Output

Naik dengan cepat sesuai dengan nilai hematokrit

Menurun cepat sampai 20-40% kembali secara spontan dan perlahan 24-36 jam

Resistensi perifer

Meninggi dengan cepat dan turun perlahan-lahan

Resistensi pembuluh pulmonal Fungsi paru tanpapneumonia

Meninggi dengan cepat dan turun perlahan-lahan

Menurun sebanding dengan beratnya LB, sekalipun tanpa trauma inhalasi

BSP

Terdapat retensi sebanding dengan luas LB, naik dengan cepat dan berlangsung berminggu-minggu

21

SGOT, SGPT

Segera naik, mencapai puncaknya dalam 2-3 hari, berlangsung berminggu-minggu. Akibat kerusakan hati

Fungsi ginjal

Menurun karena sirkulasi darah ke ginjal menurun. Fungsi kembali normal dengan resusitasi adekuat

Penguapan air

LB yang mengenai sebagian tebal kulit dan daerah donor kulit menguapkan air dengan kecepatan sedang LB yang mengenai seluruh tebal kulit menguapkan air sangat cepat, besarnya 15-20 kali normal. Perhitungan klinis : (25+%LB) x m2 luas tubuh/jam

22

BAB III KESIMPULAN

Kasus luka bakar yang memerlukan perawatan terjadi pada pasien 500.000 per tahun di Amerika Serikat.46% adalah luka bakar akibat kebakaran .Luka bakar disebabkan oleh panas, dingin, bahan kimia kaustik kulit dan listrik. Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan lokasi, umur pasien dan ada atau tidak adanya kondisi yang memperberat.Luka bakar gred 1 terbatas pada epidermis, meradang dan menyakitkan.Luka bakar gred 2 melibatkan semua epidermis dan lapisan dermis manakala luka bakar gred 3 berwarna coklat gelap dan memiliki kulit tekstur yang tidak sensitif terhadap sentuhan karena kerusakan saraf.Ukuran luka bakar digambarkan oleh perkiraan persentase dari total permukaan tubuh dengan luka bakar gred 2 dan 3. Daerah dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus Lund - Browder untuk anak-anak dan "Rules of Nine " untuk pasien usia 10 tahun atau lebih. Luka bakar ditangani dengan skin graft, operasi dan pemberian obat topikal.Untuk mengatasi komplikasi-komplikasi luka bakar yang fatal, pasien dengan luka bakar dirawat dengan member bantuan pernapasan, asupan nutrisi yang baik dan resusitasi cairan.Untuk mencegah komplikasi lanjut dari luka bakar, pasien diawasi untuk gejala anemia, gagal ginjal akut, perdarahan lambung, sepsis, infeksi, dan hipertrofi jaringan parut.Ini dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, asupan nutrisi yang cukup, transfusi darah, skin graft dan pemberian cairan yang cukup.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Lauralee. Pertahanan Tubuh. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. 2001. Jakarta: EGC. 2. Sudiarto, SKp.Mkes.RN & Sartono, CRNA, CCRN, RN. Luka Bakar. Basic Trauma Cardiac Life Suport. 2011. Jakarta : Sagung Seto. . 3. Sam,S.Kep.Ns-Akper. Luka Bakar. Tolis.2011. Available at: .http://www.ebookkedokteran.com/luka-bakar--combustio#ttp

4. Dr. Yuda handaya ,SpB,FINACS,FMAS. Luka Bakar dan Kontraktur. Available at : http://www.dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/Lengkap-TentangLuka-Bakar.pdf 5. Muhammad Akbar. Combutio ( Luka Bakar) . Medical. 2008. Available at :
http://www.dr-medical.blogspot.com/2008/12/combutio-luka-bakar.html

6. Dr. Marwito. Kulit/Integumentary System. Kuliah pakar blok 21. 2011

24