Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang melalui pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan itu akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Manifestasinya akan dapat dilihat setelah beberapa menit, jam dan seterusnya. Dalam kasus tertentu, salah satu kewajiban dokter adalah membantu penyidik menegakan keadilan. Untuk itu dokter sedapat mungkin membantu menentukan beberapa hal seperti saat kematian dan penyebab kematian tersebut. Dari kepustakaan yang ada, saat kematian seseorang belum dapat ditunjukan secara tepat karena tanda - tanda dan gejala setelah kematian sangat bervariasi. Hal ini karena tanda atau gejala yang ditunjukan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya, umur, kondisi fisik pasien, penyakit sebelumnya, keadaan lingkungan mayat, sebelumnya makanan maupun penyebab kematian itu sendiri. Dalam era ini dibutuhkan penentuan saat kematian secara tepat. Untuk itu akan telah dilakukan suatu penelitian dasar untuk mendapat suatu indikator bebas. Indikator ini akan dipakai untuk dasar kerja sebuah slat banal yang mampu mendeteksi perubahan yang hanya objektif dan akurat setelah kematian terjadi. Otak sebagai organ yang relatif terlindung maksimal dengan batok kepala diperkirakan mengalami proses kimiawi yang relatif cepat dan tidak dipengaruhi lingkungan. Proses kimiawi akibat terhentinya suplai zat asam / oksigen mengakibatkan jaringan otak yang sangat sensitif terhadap kekurangan zat asam itu akan lebih cepat mengalami disintegrasi kimiawi, yang diamati melalui perubahan konduktivitas listrik yang terjadi. Asfiksia adalah kumpulan dari pelbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya kematian. Asfiksia merupakan penyebab kematian terbanyak yang

ditemukan dalam kasus kedokteran forensik. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawamanusia. Mengetahui gambaran asfiksia, khususnya pada postmortem serta keadaan apa saja yang dapat menyebabkan asfiksia, khususnya asfiksia mekanik mempunyai arti penting terutama dikaitkan dengan proses penyidikan.

Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban yang diduga karena peristiwa tindak pidana, seorang penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Seorang dokter sebagaimana pasal 179 KUHAP wajib memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan di bidang keahliannya demi keadilan. Untuk itu, sudah selayaknya seorang dokter perlu mengetahui dengan seksama perihal ilmu forensik, salah satunya asfiksia. Dalam referat ini akan dibahas mengenai salah satu jenis dari asfiksia mekanik yaitu pencekikan (manual strangulation). Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter. Kasus asfiksia yang umum dijumpai salah satunya adalah pencekikan. Pencekikan menyebabkan penekanan dan penutupan pembuluh darah dan jalan napas oleh karena tekanan eksternal (luar) pada leher. Hal ini menyebabkan hipoksia atau anoksia otak sekunder menyebabkan perubahan atau terhentinya aliran darah dari dan ke otak. Dengan hambatan komplit pada arteri karotis, kehilangan kesadaran dapat terjadi dalam 1015 detik.

BAB II ISI

A. Pemeriksaan Medis 1. Autopsi Autopsi berasal dari kata Auto : sendiri dan Opsis : melihat. Yang dimaksudkan dengan autopsi adalah pemeriksaan tehadap tubuh mayat meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Jika pada pemeriksaan ditemukan beberapa jenis kelainan bersama-sama maka dilakukan penentuan kelainan mana yang merupakan penyebab kematian, serta apakah kelianan yang lain turut mempunyai andil dalam terjadinya kematian tersebut. Berdasarkan tujuannya dikanal dua jenis autopsi yaitu autopsi klinik dan autopsi forensik/ autosi mediko-legal. Autopsi pada kasus dengan kelainan pada leher

Untuk dapat melihat kelainan pada leher dengan lebih baik maka perlu diusahakan agar daerh leher bersih dari kemungkinan terdapatnya genangan darah. Untuk itu dilakukan usaha agar darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat lain. Pemotonan kulit dimulai dari incisura jugularis ke arah simfisis pubis. Pembukaan rongga dada dan perut dilakuakan seperti autopsi rutin. Pengeluarahn alat leher ditangguhkan untuk sementara. Lakukanlah kini pemotongan kulit kepala, penggergarjian tengkorak seta pengeluaran otak. Pindahkan ginjal yang semula terdapat pada punggung/bahu ke daerah tengkuk sedemikian rupa ehingga daerah leher terletak paling tinggi. Dengan mengeuarkan otak dan alat dada denga jalan memotang trachea setinggi incisura jugularis, maka darah yang terdapat dalam pembuluh darah daerah leher dapat dialirkan ke arah kepala dan dada, dan lapangan leher menjadi bersih. Dengan demikian, keainan berupa resapan darah yang kecil pun dapat terlihat jelas. Autopsi pada kasus kematian akibat kekerasan Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan berbagai hal tersebut di bawah ini:

1. Penyebab luka. Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditemukan. Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulkan marginal haemorrhage. Luka lecet jenis tekan memberika gambaran bentuk benda penyebab luka.

2. Arah kekerasan. Pada luka lecet jenis geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.

3. Cara terjadinya luka Yang dimaksudkan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri.

Luka-luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang basanya terlindung jarang mendapat luka pasa suatu kecelakaan. Daerah terlndung ini misalnya adalah ketiak, daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadkan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan.Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.

4. Hubungan antar luka yang ditemukan dengan sebab mati. Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu ertama-tama harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adaah benar-benar luka yang terjadi selama korban msasih hidup (luka intravital). Untuk itu tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari ditemukannya resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, serbukan sel radang, pemeriksaan histo-ensimatik sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan. Sekiranya di samping luka, ditemukan pula keadaan patologik lain, misalnya penyakit tertentu, maka darus diyakinkan bahwa kelainan yang lain tidaklah merupkan penyebab kematian. 2. Pemeriksaan Luka Tusuk1,2,8 Pemeriksaan luka tusuk penting untuk mencatat posisi dan jumlah tusukan atau luka-luka yang terjadi dengan teliti sebelum tubuh dibuka. Hal itu sangat dapat diterima untuk meninggalkan hal tersebut sampai autopsy sudah diselesaikan dan tubuh direkonstruksi. Deskripsi mengenai lokasi tiap-tiap luka harus dibuat sesuai referensi untuk memastikan letak anatomi seperti midline, klavikula atau sisi luar pinggul dan tiap luka harus di beri nomor di dalam laporannya. Suatu metode yang mudah tentang pencatatan sejumlah besar luka tusuk, sehingga tidak ada yang diduplikat atau dihilangkan, dengan menomori tiap luka dengan dengan memberikan tanda berupa label pada kulit seperti yang ada dalam catatan. Memberikan nomor didepan foto-foto sebagai barang bukti yang dibuat dengan sangat lebih mudah ketika diperlukan untuk laporan di pengadilan. Ketika mempertimbangkan apakah korban tadinya berdiri sesuai tinggi badan korban dan tingginya luka tusuk tunggal, atau masing-masing dari sejumlah kecil luka-luka, dari

tumit. Ketika deskripsi dari bentuk dan panjang luka, juga penting untuk mencatat apakah terdapat beberapa bukti luka memar disekitar salah satu atau kedua ujung karena hal itu, jika pada saat sekarang, mungkin dianggap bahwa senjata telah dipegang pada bagian gagangnya. Gagang itu kadang-kadang mempunyai permukaan kasar yang dibuat dari logam atau berupa gagang kayu. Meskipun jika memar tidak ada, mungkin saja terdapat abrasi pada dengan area yang kecil yang disebabkan oleh permukaan yang tidak seimbang ini. Kualifikasi Luka1,2,4,8 Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu : 1. Luka ringan / luka derajat I / luka golongan C / penganiayaan ringan. 2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B / penganiayaan sedang. 3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A / penganiayaan berat. Luka derajat I apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. Luka derajat II apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi pekerjaan korban. Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yakni : 1. Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut. 2. Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya. 3. Hilangnya salah satu panca indera korban. 4. Cacat besar. 5. Terganggunya akal selama lebih 4 minggu. 6. Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu. Dokter tidak boleh menulis luka ringan, luka sedang atau luka berat pada bagian kesimpulan visum et repertum sebab ketiganya merupakan istilah hukum. Melainkan dokter akan menulis antara lain : luka ini menyebabkan halangan pekerjaan selama 6 hari, atau luka ini menyebabkan kehilangan salah satu panca indera. Luka tusuk bisa tunggal ataupun ganda, dan pada kesempatan itu, tubuh telah diperiksa dimana terdapat sejumlah luka yang sangat lebar. Biasanya terjadi dalam serangan seksual, terutama mereka yang bersifat homoseksual. Pada kebanyakan orang tipe luka yang multiple itu kemungkinan terjadi setelah meninggal. Hal itu mungkin berhubungan dengan pembunuhan terhadap manusia pembunuh melakukan itu untuk memastikan kematian dari korbannya. Luka post mortem yang lain mungkin diakibatkan oleh kesengajaan dorongan psikis yang akan melanjutkannya.

Karakteristik luka tusuk a) Kedalaman luka Pemakaian istilah luka penetrasi ditunjukkan bahwa kedalaman luka yang diakibatkan oleh instrument itu lebih besar daripada panjangnya yang tampak pada permukaan kulit. Hal ini terlatak dalam perbedaan yang jelas yang akan dipertimbangkan lagi dimana panjang permukaan luka kemungkinan lebih besar dari pada dalamnya. Keduanya biasanya dapat dibedakan dengan jelas, ada saat-saat ketika suatu luka sudah mulai memotong kulit dengan cara sayatan tetapi kemudian terus menembus kedalam lapisan yang lebih dalam. Hal itu merupakan aksi kombinasi dan pemeriksaan yang teliti diwajibkan untuk mencari unsur apakah yang penting dari sayatan atau tusukan itu dan biasanya dapat diidentifikasi tanpa banyak kesulitan. b) Internal injury Suatu luka tusuk hampir selalu menyebabkan kerusakan luas pada struktur-struktur yang ada dibawahnya. Kematian sering terjadi cepat sebagai akibat perdarahan yang terjadi atau emboli udara yang mungkin diakibatkan oleh terbukanya vena yang ada dibawahnya dengan udara luar. Beberapa luka tusuk mempunyai potensi untuk menyebabkan luka internal injury yang luas, biasanya dalam bentuk perdarahan massif. Bahaya itu ditambah dengan kenyataan bahwa kebanyakan dari darah yang keluar dari organ atau pembuluh darah yang rusak mengisi kedalam salah satu rongga-rongga tubuh yang utama dan kemungkinan ada sedikit cara melepaskan darah untuk mengetahui keparahan luka yang disebabkannya. c) Panjang luka Kebanyakan luka tusuk akan menganga bukan karena sifat instrument yang menyisip tetapi sebagai akibat kekenyalan yang alami dari kulit. Banyak luka yang akan nampak, oleh karena itu, seperti luka terbuka berbentuk oval pada kulit dan mungkin juga sebagai luka berbentuk bulat. Pada bagian tertentu pada tubuh, dimana terdapat dasar berupa tulang atau serat otot yang penting, luka itu mungkin nampak berbentuk seperti kurva. Foto dari suatu luka akan menunjukkan dengan jelas sifatnya yang menganga, tetapi ketika suatu luka tusuk diukur, sisi lukanya harus dirapatkan terlebih dahulu sehingga luka itu sekarang akan menyerupai garis linear yang memotong kulit. Hal ini akan memberikan ukuran yang tepat dari luka. Perbedaan itu kemungkinan menjadi kecil, tetapi pada saat itu, mungkin saja pantas untuk dipertimbangkan dan berhubungan erat dengan sifat alaminya dan identitas senjata yang ditemukan kemudian yang

telah menyebabkan luka. Ketika deskripsi panjang luka dibawa ke pengadilan, hal itu harus dibuat cukup jelas yang salah satunya berhubungan dengan panjangnya pada permukaan kulit dan sama sekali tidak hanya berhubungan dengan panjangnya saja ditentukan juga dalamnya penetrasi kedalam jaringan yang mendasarinya. d) Bentuk luka Bentuk luka merupakan gambaran yang penting dari luka tusuk karena karena hal itu akan sangat membantu dalam membedakan berbagai jenis senjata yang mungkin telah dikumpulkan oleh polisi dan dibawa untuk diperiksa oleh ahli patologi. Suatu senjata yang bermata dua, seperti suatu golok atau pisau yang telah diasah pada tiap-tiap sisinya, biasanya menyebabkan suatu luka sayat yang jelas dengan kedua sudut luka yang runcing. Dan secara garis besar, perbedaannya senjata yang bermata satu, yang ditemukan seperti pisau dapur yang biasa digunakan atau sebuah pisau untuk memotong daging, akan menyebabkan suatu luka yang mempunyai salah satu sudut luka yang runcing sedangkan sudut yang lainnya lebih tumpul. Sisi pisau yang tumpul kadang kadang menghasilkan celah yang kecil pada ujung luka, yang kemudian dikenal sebagai gambaran seperti ekor ikan hal itu, bagaimanapun juga, kadang-kadang dikatakan bahwa gambaran itu tergantung, pada luasnya, pada arah tertentu dari luka bekas tusukan pisau dan kerusakan pada serabut-serabut jaringan ikat yang ada dibawahnya. e) Pakaian Pakaian sering sangat menolong jika ahli patologi diberi kesempatan untuk memeriksa pakaian sebelum mempertimbangkan luka-luka pada kulit dan sebelum beberapa pemeriksaan yang lebih dalam dilakukan. Ia dikonsentrasikan untuk menentukan dengan tepat jumlah luka pada pakaian karena hal itu memungkinkan untuk mengetahui beberpa luka sayatan yang bisa ditemukan pada pakaian yang tidak ada pada tubuh atau kemungkinan terdapat lebih banyak sayatan pada benda itu dari pada yang akan ditemukan pada tubuh jika pakaian itu telah dilipat, yang dilipat atau yang kusut dibeberpa bagian. Hal itu mungkin mempunyai nilai yang nyata jika telah terdapat perkelahian dan jika pisau pisau hanya merobek pakaian tanpa merusak kulit. Pengamatan seperti itu akan membuat suatu perbedaan yang dapat dipertimbangkan ketika meringankan kesalahan dalam suatu kecelakaan sebagai lawan dalam serangkaian perkelahian yang dicoba terhadap korban tersebut sudah ditawarkan. Jika posisi lubang pada pakaian tidak sesuai dengan luka-luka pada tubuh, hal itu kemungkinan disebabkan pakaian sudah dilepas sebagai contoh, ketika lengan diangkat-

pakaian itu sudah dibawa oleh penyerang dan dipindahkan dari posisi normalnya pada korban; pakaian sering direbut oleh pihak yang dihadapi dalam perkelahian kemungkinan sebagian sudah dilepas sebelum pisau telah menyerang korban. 1,4,6,7

B. INTERPRESTASI TEMUAN

Identifikasi Forensik Identifiasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses pengadilan. Peran ilmu kedokteran forensic dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar, dan pada kecelakaan masal, bencana alam atau huru-hara yang mengakibatkan banyak korban mati, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensic juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi yang tertukar atau diragukan orang tuanya. Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang digunakan memberikah hasil positif (tidak meragukan).Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologic, dan secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.

1. PEMERIKSAAN SIDIK JARI Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. 2. METODE VISUAL Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum membusuk sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang.

3. PEMERIKSAAN DOKUMEN Dokumen seperti kartu identifikasi (KTP, SIM, paspor, dsb) yang kebetulan dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat mengenali jenazah tersebut.

4. PEMERIKSAAN PAKAIAN DAN PERHIASAN Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah mungkin dapat diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut. 5. IDENTIFIKASI MEDIK Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat atau kelainan khusus, tatu (rajah). Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara / modifikasi (termasuk pemeriksaan sinar-X), sehingga ketepatannya cukup tinggi. Bahkan pada tengkorak / kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. Melalui metode ini, diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi badan, kelainan pada tulang, dsb. 6. PEMERIKSAAN GIGI Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi, dan sebagainya. Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Dengan demikian, dapat dilakukan identifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding ante mortem.

7. PEMERIKSAAN SEROLOGIK Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku, dan tulang. 8. METODE EKSKLUSI Metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut, dsb. Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode-metode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan metode-metode tersebut diatas, maka sisa korban diidentifikasi menurut daftar penumpang.

Cara Mendeteksi Kematian1-3

Melalui fungsi sistem saraf, kardiovaskuler, dan pernapasan, kita bisa mendeteksi hidup matinya seseorang. Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf, yaitu : 1. Areflex 2. Relaksasi 3. Pergerakan tidak ada 4. Tonus tidak ada 5. Elekto Ensefalografi (EEG) mendatar / flat

Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler, yaitu :

1. Denyut nadi berhenti pada palpasi. 2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi. 3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar / flat. 4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kita ikat. 5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna kuning kehijauan. 6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis. Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem pernapasan, yaitu : 1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi. 2. Tidak ada bising napas pada auskultasi. 3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes Winslow. 4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. 5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. Perubahan Setelah Kematian (Post Mortem)

Ada 2 fase perubahan post mortem, yaitu fase dini dan fase lanjut. Ada 5 perubahan pada fase dini post mortem, yaitu :

1. Muka pucat.

2. Hilangnya elastisitas kulit. 3. Otot atoni dan relaksasi. 4. Perubahan mata. 5. Terhentinya sistem pernapasan, kardiovaskuler, dan saraf. Ada 5 perubahan mata pada fase dini post mortem, yaitu :

1. Segmentasi pembuluh darah retina. 2. Tidak adanya refleks pupil dan refleks kornea. 3. Menurunnya tonus bola mata. 4. Kornea keruh. 5. Bulbus okuli melunak dan mengkerut. Keruhnya kornea mata akibat adanya lapisan tipis yang menutupi kornea mata. Lapisan tipis itu merupakan sekret mata yang telah mengering akibat penguapan cairan. Apabila lapisan itu hilang setelah kita meneteskan cairan pada kornea mata maka lama kematian korban dapat kita perkirakan yaitu kurang 6 jam. Ada 5 perubahan pada fase lanjut post mortem, yaitu : 1. Algor mortis 2. Livor mortis 3. Rigor mortis 4. Pembusukan(Putrefection/Dekomposisi) 5. Perubahan biokimia

Ada 3 contoh perubahan biokimia pada fase lanjut post mortem, yaitu :

1. Perubahan plasma 2. Perubahan humor vitreus 3. Perubahan jantung

Ada 3 perubahan post mortem yang lain, yaitu :

1. Maserasi 2. Mummifikasi 3. Adipocere / saponifikasi

Maserasi atau dekomposisi steril atau otolisis merupakan kematian intra uterin yang tampak nyata pada 8-10 hari kematian. 1. Ada 5 tanda maserasi, yaitu : a) Kulit merah b) Sendi lunak dan hiperekstensi c) Bulla sereus merah d) Bau ketuban e) Gas pembusukan tidak ada

2. Mummifikasi Mummifikasi adalah mayat menjadi kering & awet, tidak membusuk, dan kulit melekat erat pada jaringan dibawahnya. Mayat mengering karena penguapan cairan tubuh oleh udara dingin & kering seperti udara padang pasir. Ada 5 hal yang penting pada mummifikasi, yaitu : 1. Prinsip : ada pengeringan dan pengisutan alat tubuh akibat proses penguapan cairan tubuh. 2. Syarat : suhu udara tinggi, kelembaban rendah (udara kering), dan aliran udara terjadi terusmenerus. 3. Gejala : tubuh kurus kering, mengeriput, kulit kecoklatan, kulit merekat erat pada jaringan dibawahnya, anatomi organ baik, dan tidak ada pembusukan. 4. Tujuan : identifikasi korban. 5. Tanda kekerasan dapat kita cari.

A. Tanda Kematian Tidak Pasti 1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lenih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi). 2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama15 menit, nadi karotis tidak teraba. 3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan. 4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi daro otot-otot wajah mrnyebabkan kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang tampak lebih muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerahdaerah yang tertekan, misalnya daerahbelikat dan bokong pada mayat yang terlentang. 5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.

6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air.

B. Tanda Pasti Kematian 1. Lebam Mayat (livor mortis). Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempatu tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisis yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Setelah waktu ini, lebam mayat masih hilang (memucat) Pada penekanan dan dapat berpindah jika posis mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 24 jam darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih cukup mengalirdan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang terbaru. Kadangkadang dijumpai bercak perubahan warna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah merah dalam jumlah yang cukup banyaksehingga sulit untuk berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut. 2. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.

3. Kaku Mayat (rigor mortis). Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot

menjadi kaku. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayai ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekkan otot. Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat: a) Adaveric spasm(instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh ralaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. b) Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan flexi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). c) Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.

4. Penurunan suhu tubuh (algor mortis). Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurvas sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran, dan kelembapan udara, bentuk tubuh, posis tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih capat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembapan rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil. Berbagai rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil dari penelitian di negara barat,

namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena faktor-faktor yang berpengaruh di atas berbeda pada setiap kasus, lokasi, cuaca, dan iklim.

5. Pembusukan (decomposition, putrefaction Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakkan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaaan steril. Autolisis timbulk akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2s, dan HCN serta asam amino dan asam lemak. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dengan dinding perut. Selanjutnya, rambut dengan mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah membengkan dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga. Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda. Perubahan warna yang terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan m udah robek. Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26,5 derajat celcius hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembapan dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat dapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan

dengan yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam tanah : air : udara adalah 1 : 2 : 8 Perkiraan saat kematian1,2,4 Selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati.

1. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi.

2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk memberi petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam isi lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut.

3. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut 0,4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat digunakan untuk memeprkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur.

4. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas, pertmbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1mm/ hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. 5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.

Identifikasi Luka/Traumatologi1,2,5,8 MEMAR / HEMATOM Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala memberi petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya. Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit penyerta ( hipertensi, diastesis hemorragik, penyakit kardiovaskular). Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan. Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar merupakan hal penting, apalagi bila luka memar itu disertai luka lecet. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang hidup atau mati, luka memar akan memberikan gambaran yang makin jelas. Pada lebam mayat, darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih. Sedangkan pada hematom penampang sayatan tetap berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini.

3.TANATOLOGI 1,2 ,9 Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari cara kematian korban dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada 3 manfaat tanatologi, yaitu : 1. Menetapkan hidup atau matinya korban. 2. Memperkirakan lama kematian korban. 3. Menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian korban.

Ada 3 sistem yang berperan dalam siklus oksigen dan membantu kita mendeteksi hidup matinya seseorang, yaitu : 1. Sistem saraf, terutama medulla oblongata sebagai pusat vital. 2. Sistem kardiovaskuler, yaitu jantung sebagai pemompa darah dan denyut nadi sebagai transpor oksigen. 3. Sistem pernapasan (respiratorius system), terutama paru-paru sebagai tempat pertukaran oksigen (oxygen exchange).

Stadium Kematian. Ada 2 stadium kematian, yaitu : 1. Kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik Kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik adalah berhentinya fungsi sistem saraf, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernapasan secara irreversibel sehingga menyebabkan terjadinya anoksia jaringan yang lengkap dan menyeluruh. Jadi stadium kematian ini telah sampai pada kematian otak yang irreversibel (brain death irreversible). Setelah stadium kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik berlalu, masih ada beberapa jaringan yang masih hidup beberapa lama. Sel saraf bisa bertahan hidup dalam 5 menit. Otot dapat dirangsang secara mekanis atau listrik setelah 3 jam kematian. Pupil dapat midriasis dengan tetesan atropin sesudah 4 jam kematian.

2. Kematian seluler / kematian molekuler Kematian seluler / kematian molekuler adalah berhentinya aktifitas sistem jaringan, sel, dan molekuler tubuh. Sel otak merupakan organ yang paling cepat mengalami kematian ini. Stadium ini penting dalam transplantasi organ atau transplantasi jaringan. Fungsi sistem saraf, kardiovaskuler, dan sistem pernapasan dapat saja berhenti secara reversibel. Artinya dapat kita bantu untuk menghidupkannya kembali menggunakan alat yang adekuat. Keadaan ini disebut

mati suri. Kadang-kadang kita menjumpai suatu keadaan dimana otak telah mengalami kematian irreversibel (EEG flat/datar) sedangkan organ lain atau kedua sistem (sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan) lainnya tetap hidup dan dapat kita pertahankan menggunakan bantuan alat. Situasi ini disebut mati serebral. PENCEKIKAN (MANUAL STANGULATION)1,2,6 Kematian Akibat Asfiksia Mekanik Asfiksia adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon monoksida (hiperkapnea). Dengan dmikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Dari segi etiologi,asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut: 1. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakkan paru seperti fibrosis paru. 2. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral;sumbatan atau halangan pada saluran nafas dan sebagainya. 3. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pernafasan misalnya barbiturat, narkotika. Asfiksia Mekanik1,2 Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernafasan terhalang memasuki saluran pernafasan oelh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik), misalnya: Penutupan lubang salran pernafasan bagian atas: 1. Pembekapan (smothering) 2. Penyumbatan (gagging dan choking) Penekanan dinding saluran pernafasan: 1. Penjeratan (strangulation) 2. Pencekikan (manual strangulation, throttling) 3. Gantung (hanging) Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia raumatik) Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam 4 fase, yaitu: 1. Fase dispnea. Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma akan merangsang pusat pernafasan di medula oblongata, sehingga ampliundo dan

frekuensi pernafasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan tangan. 2. Fase konvulsi. Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf pusat sehingga terjadi konvlsi (kejang), yang mula-mula berupa kejang klonik tetapi kemudian menjadi kejang tonik, danakhirnya imbul spasme opstotonik. Pupil mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan O2. 3. Fase apnea. Depresi pusat pernafasan menjadi ebih hebat, pernafasan melemah dan dapat berhenti. Kesadran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan sperma, urin, dan tinja. 4. Fase akhir. Terjadi paralisis pusat pernafasan yang lengkap. Pernafasan berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat setelah pernafasan berhenti.

Masa dari saat asfiksia timbul smpai terjadnya kematian sangat bervariasi. Umumnya berkisar antara 4-5 menit. Fas 1 dan 2 berlangsung lebih kurang 3-4 menit, tergantung dari tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tanda-tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.

Pemeriksaan Luar Jenazah Asfiksia Pada pemeriksaan luar jenazah dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku. Pembendungan sistemik maupun oedema pulmonal dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. Warna lebam mayat merah kebiru gelapan dan terbentuk lebih cepat. Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir. Tingginya fibrinolisin ini sangat berhubungan dengan cepatnya proses kematian. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernafasan disertai sekresi selaput lender saluran nafas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran yang sempit akan menimbulkan busa yang kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.

Pemeriksaan Bedah Jenazah Asfiksia Kelainan yang umum ditemukan pada pembedahan jenazah korban mati akibat asfiksia adalah:

Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang meningkat pasca kematian. Busa halus di dalam saluran pernafasan Perbandungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang jantung daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika da fisura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglottis dan daerah subglotis. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia. Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur, pendarahan faring.

4.MEDIKOLEGAL DAN ASPEK HUKUM 1,3-5,7,10

1. Kewajiban dokter membantu peradilan PASAL 133 KUHAP (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas ntuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Penjelasan Pasal 133 KUHAP (2) keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan.

Keputusan Menkeh No. M.01PW.07-43 tahun 1982 tentang pedoman pelaksanaan KUHAP.

Pasal 134 KUHAP (1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 137 KUHAP (1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. (2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

2. Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya Pasal 138 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya ada alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 KHAP (1) Alat bukti yang sah adalah: a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keterangan terdakwa (2) Hal yang secara umum sudah diktahui tidak perlu dibuktikan

Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Penjelasan pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Pasal 187 KUHAP Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, diseai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu. b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata lakasana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliaannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yan lain

3. Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter Pasal 216 KUHP (1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupah.

(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. (3) Jika pada waktu melakukan kejahaan belum lewat dua tahun adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiganya.

Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denada paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi, ahli atau juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan

4. Rahasia jabatan dan pembuatan SKA/ V et R Peraturan pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafal sumpah doker Saya bersumpah/berjanji bahwa: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan Saya ajkan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martaat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran. Saya akan mereahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya sadan karena keilmuan saya sebagai dokter. .........dst.

Peraturan pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran.

Pasal 322 KUHP (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana

penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.

Pasal 51 KUHP (1) Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana. (2) Perintah jabatan tanpa wewenang tidak menyebabkan hapusnya pidana kecuali jika yang diperintah, dengan itikad mengira bahwa perintah diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya.

5. Bedah mayat klinis, anatomis dan transplantasi Peraturan Pemerintah No18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi alat dan atau Jaringan tubuh manusia.

Pasal 70 UU kesehatan (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.

6. Persetujuan tindakan medik Peraturan Menteri Kesehatan No 585/MenKes/per/IX/1989 tentang persetujuan Tindakan Medik

7. Pantia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran Peraturan Menteri Kesehatan No 554/menKes/XII/1982 tentang Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran

8. Praktek dokter Pasal 512a KUHP Barangsiapa sebagai mata pencaharian baik khusus maupaun sebagai sambilan menjalankan pekerjaan dokter atau dokter gigi dengan tidak mempunyai surat izin, didalam keadaan yang tidak memaksa, diancam dengan kurungan paling lama dua bulan atau denga setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah.

Pasal 531 KUHP Barangsiapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang mengahadapi maut, tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan padanya, tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain, diancam jika kemdian orang itu meninggal, dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Pasal 53 UU Kesehatan (1) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. (2) Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati pasien. (3) Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medik terhadap seseorang denga memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. (4) Ketentuan menganai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 54 UU Kesehatan (1) Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. (2) Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. (3) Ketentuan mengenai pembentukan, tugas, fungsi, dan tata kerja MDTK ditetapkan dengan Keppres. Pasal 55 UU Kesehatan (1) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.

9. Keterangan Palsu Pasal 267 KUHP (1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberi surat keterangan palsu tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang dalam rumah sakit gila atau untuk menahannya disitu dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan.

(3) Diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai surat keterangan paslu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.

Pasal 7 KODEKI Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.

6.Visum et Repertum 4,7

Visum et repertum berasal dari kata latin yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris yaitu something seen atau appearance (visum) dan inventions atau find out (repertum). Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Peranan dan fungsi visum et repertum adalah untuk proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Maksud pembuatan visum et repertum yakni sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung. Ada 3 tujuan pembuatan visum et repertum, yaitu : 1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim. 2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat. 3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan visum et repertum yang lebih baru.

Penyampaian laporan hasil pemeriksaan

Bagian ilmu kedokteran forensic Fakultas Kedokteran Universitas Kristen krida wacana Jalan Arjuna Utara No.6, Telp 5689473, Fax 5688473 Jakarta 11510

Nomor : 1457-Sk.III/2371/1-11

Jakarta, 27 Desember 2012

Lamp. : Satu sampul tersegel ---------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil pemeriksaan pembedahan--------------------------------------------------------------atas jenazah Tn Kamarudin ---------------------------------------------------------------

PROJUSTITIA Visum Et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Reveinska Talahatu, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan bertulis dari kepolisan Resort Polisi Jakarta Barat No. pol.:B/678/VR/XII/12/Serse tanggal 27 Desember , maka pada tanggal dua puluh tujuh desember tahun dua ribu dua belas, pukul lima lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Bagian Rumah Sakit Pemerintahan Tipe C telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama : Kamarudin -------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Laki-laki---------------------------------------------------------------------------------Umur Kebangsaan Agama Pekerjaan Alamat : 35 tahun ---------------------------------------------------------------------------------: Indonesia--------------------------------------------------------------------------------: Islam-------------------------------------------------------------------------------------: --------------------------------------------------------------------------------------------: Jl Apel, no 4, tanjung duren, 11480, Jakarta Barat.------------------Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan. Hasil pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. Mayat tertelungkup dengan leher terjerat lengan bajunya sendiri------------------------------------2. Mayat berpakaian sebagai berikut : a. Kaos oblong berwarna putih tidak bermerk, ada bercak darah pada kaos di sekitar ketiak.--------

b. Celana panjang berwarna coklat bermotif batik, bagian bawah celana tergulung hingga setengah tungkai bawah, celana tidak bermerk, dengan dompet di saku belakang berisikan KTP, uang dengan dua lembar sepuluh ribuan, satu lembar lima ribuan. Tampak bercak darah di celana bagian lutut bawah kanan dan kiri---------------------------------------------------------------------------c. Celana dalam berwarna putih berbahan katun, tidak bermerk-----------------------------------------3. Pada jari manis tangan kanan terdapat cincin emas-----------------------------------------------------4. Di leher korban terjerat oleh kemeja panjang milik korban dengan simpul mati, arah jerat serong ke atas, dengan jejas jerat meninggi ke arah simpul----------------------------------------------5. Pada kemeja untuk menjerat leher korban didapat robekan di bagian lengan atas baju di sekitar ketiak dengan lebar dua sentimeter beserta bercak darah-------------------------------------------------6. Kaku mayat telah muncul. Lebam mayat terdapat pada bagian dada, berwarna merah kebiruan, tidak hilang pada penekanan, tubuh mayat telah membusuk di seluruh perut dan dada dan tercium bau busuk--------------------------------------------------------------------------------------------------------7. Mayat adalah seorang laki laki bangsa Indonesia, umur 35 tahun, kulit berwarnasawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter dan berat lima puluh lima kilogram dan zakar telah disunat-----------------------------------------------------------------------------8. Rambut cepak, bulu mata hitam, alis hitam lebat-------------------------------------------------------9. Kedua mata tertutup, selaput bening mata jernih, pupil dengan diameter 4 mm, iris coklat, selaput kelopak mata kanan dan kiri berwarna merah muda, tidak tampak perdarahan maupun pelebaran pembuluh darah------------------------------------------------------------------------------------10. Hidung mancung, kedua telinga berbentuk biasa-----------------------------------------------------11.Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap, tidak ada tambalan-------------12. Lubang hidung, telinga mulut dan lubang tubuh lainnya tidak mengeluarkan cairan atau darah---13. Alat kelamin dan lubang dubur berbentuk biasa tidak menunjukan kelainan---------------------14. Pada tubuh terdapat luka pada daerah ketiak sebelah kiri berjarak tiga sentimeter dari puncak atas ketiak bagian pertengahan jika ditarik garis lurus dari atas ke bawah, tampak mengenai pembuluh darah besar di daerah ketiak. Dengan kedua sudut luka tajam, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan, dasar luka lurus, kedalaman luka tiga sentimeter. -----------------------15. Terdapat pula luka dua sentimeter dibawah lutut kanan dan tampak kepingan kaca dengan permukaan tidak rata dan tajam dengan panjang kali lebar enam kali satu sentimeter cm, kedalam luka dua sentimeter dengan dasar luka berupa titik. juga terdapat luka lima sentimeter diatas pergelangan kaki kiri dengan kepingan kaca tidak rata dan tajam dengan panjang kali lebar lima kali dua sentimeter dengan kedalaman luka satu sentimeter dengan dasar luka berupa titik---------

II. Pemeriksaan dalam (bedah jenazah) 16. Tidak terdapat patah pada tulang iga beserta pelebaran sela iga------------------------------------17. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan tebal di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot - otot berwarna coklat cukup tebal.---------------------------------------------------------------------------------------------18. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher tidak menunjukan kelainan.--------------------19. Kandung jantung tampak tiga jari diantara kedua tepi paru. Dalam kandung jantung terdapat darah sebanyak seratus sentimeter kubik. Paru kanan dan kiri cukup mengembang.-----------------20. Dinding rongga perut tampak licin berwarna kelabu mengkilat. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan. Tirai usus tampak menutupi sebagian besar usus---------------------21. Lidah berwarna kelabu, perabaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupu resapan darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Kelenjar gondok berwarna coklat merah, tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan, berat dua puluh gram.-------------------------------------------------------------------------------------------------22. Batang tenggorok dan cabangnnya kosong, berwarna putih dan tidak menunjukan kelainan.--23. Kerongkongan kosong, selaput lendir berwarna putih.-----------------------------------------------24. Paru kanan terdiri dari tiga baga, berwarna kelabu dan perabaan seperti karet busa, penampangnya tidak tampak kelainan dan irisan tidak keluar darah. Pada paru kiri terdapat dari dua baga, berwarna kelabu dan perabaan seperti karet busa, penampangnya tidak tampak kelainan dan irisan tidak keluar darah. Berat paru kiri empat ratus gram dan berat paru kanan empat ratus gram.-------------------------------------------------------------------------------------------------------------25. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin. Katup jantung tidak menunjukkan kelainan. Dinding jantung menebal.-------------------------------------------------26. Hati warna coklat permukaan rata, tepi tumpul, perabaan kenyal padat.Penampang hati merah coklat dan gambaran hati jelas. Berat hati 1100 gram.----------------------------------------------------27. Kandung empedu berisi cairan hijau,selaput lendir berwarna hijau seperti beludru.Saluran tidak ada penyumbatan.----------------------------------------------------------------------------------------28. Limpa berwarna ungu kelabu. Permukaan keriput dan perabaan lembek. Penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus gram.---------------------29. Kelenjar liur perut berwarna putih kuning, permukaan belah belah penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Berat delapan puluh gram.--------------------------------------------------------30. Lambung kosong. Selaput lendir berwarna putih dan lipatan normal. Usus duabelas jari,usus halus, usus besar normal.----------------------------------------------------------------------------------

31. Anak ginjal kanan berbentuk trapesium dan kiri berbentuk trapesium. Gambaran kulit dan sumsum tidak menunjukkan kelainan. Berat anak ginjal kanan delapangram dan yang kiri delapan gram.------------------------------------------------------------------------------------------------------------32. Ginjal kanan dan kiri berimpai lemak tipis simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan 80 gram danyang kiri 90 gram. Penampang ginjal menunjukkan gambaran yang jelas, piala ginjal dan saluran kemih tidak menunjukkan kelainan.----------------------------------------------------------------------------------------33. Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan berwarna putih, tidak menunjukkan kelainan.---------------------------------------------------------------------------------------------------------34. Kulit kepala bagian dalam bersih. Tulang tengkorak utuh selaput keras otak tidak menunjukkan kelainan. Tidak terdapat perdarahan di atas maupun di bawah selaput keras otak. Permukaan otak besar menunjukkan gambaran lekuk otak yang biasa, tidak terdapat perdarahan baik pada permukaan maupun penampangnya-------------------------------------------------------------35. Selanjutnya dapat ditentukan saluran luka pada ketiak kiri yang menembus kulit, pembuluh darah di sekitar ketiak, jaringan dibawah ketiak kiri, kedalaman luka tiga sentimeter. Dengan kedua sudut luka tajam, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan, dasar luka lurus, kedalaman luka tiga sentimeter.------------------------------------------------------------------------------36. Pada luka dua sentimeter bawah lutut sebelah kanan menembus kulit, jaringan dibawah kulit, beserta tulang kering, dengan kedalaman luka satu sentimeter. Terdapat pula luka lima sentimeter diatas pergelangan kaki kiri menembus kulit dan jaringan dibawah kulit dengan kedalaman satu sentimeter. ------------------------------------------------------------------------------------------------------Kesimpulan Telah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap mayat seorang laki-laki dewasa berumur sekitar tiga puluh lima tahun, bangsa Indonesia, warna kulit sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter. Kemungkinan kematian orang tersebut disebabkan oleh luka terbuka pada ketiak kiri akibat kekerasan benda tajam berupa luka tusuk. Benda tajam tersebut mengenai pembuluh darah besar di bagian ketiak sehingga terjadi perdarahan yang menyebabkan korban kekurangan darah sehingga jantung kekurangan darah untuk memompa ke seluruh tubuh dan melemahnya fungsi jantung. Luka pada ketiak kiri tersebut menunjukkan ciriciri yang sesuai dengan kekerasan benda tajam akibat pisau bermata dua. Kemungkinan penyebab kematian lain ialah adanya luka di kedua bagian tungkai bawah sehingga memperparah kondisi perdarahan. Kemungkinan saat kematian korban telah berlangsung lebih dari dua puluh empat jam.

Dokter yang memeriksa

Dr Reveinska Talahatu NIP 1563734

BAB III PENUTUP

A. Intepretasi Temuan Ditemukan sesosok mayat laki-laki tertelungkup di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan. Mengenakan kaos dalam oblong dan celana panjang yang dibagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat dengan lengan baju dan ujung lengan baju terikat kesebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relative mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki cirri-ciri sesuai dengan akibat kekerasan tajam. TKP berada kira-kira 2 km dari rumah terdekat dan berada di daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.

B. Kesimpulan Pada banyak kasus asfiksia yang disebabkan oleh kekerasan terdapat tanda-tanda khusus yang dapat mengarahkan pada solusi yang tepat. Beberapa permasalahan ada/terjadi walau bagaimanapun akan tetap ada. Sebagai contoh tingkatan dari tekanan pada leher tidak dapat dibuktikan secara jelas. Situasi semacam ini dapat timbul karena melakukan aktititas seksual yang terlalu bersemangat dimana kematian mungkin terjadi karena tekanan pada leher yang relatif ringan. Kesulitan lain timbul karena dari pembekapan dengan benda lembut. Sedikit bukti untuk membuktikan asfiksia atau cedera mungkin timbul bila pembekapan dilakukan dengan bantal. Satu-satunya indikasi utama yang menuntun pada kecurigaan kekerasan dapat di lihat pada tanda tekanan oleh gigi pada bagian dalam bibir dan sedikit paetikie haemoragi pada konjungtiva. Pada semua bentuk pekerjaan forensik, kondisi-kondisi patologi yang terlihat tidak

selalu dapat menghasilkan suatu solusi. Jawaban dari permasalahan tersebut umumnya akan diperoleh saat tanda-tanda patologi dipertimbangkan dalam hubungannya dengan bukti-bukti penting dan hasilnya diperoleh oleh ahli forensik lain .1,2,8

DAFTAR PUSTAKA 1. Budyanto A, Wibisana W, dan Sudiono S dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan kedua. Jakarta: Bagian ilmu kedokteran forensik FKUI. 1997. 2. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Cetakan Pertama Edisi Revisi. Jakarta : Sagung Seto, 2008. 3. Staf pengajar ilmu kedokteran forensik FKUI. peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Cetakan kedua. Jakarta:bagian kedokteran ferensik FKUI. 1994. 4. Staf pengajar ilmu kedokteran forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Cetakan ke-4. Jakarta : bagian kedokteran Forensik FKUI, 2000. 5. Sampurna, B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Cetakan kedua. Jakarta. 2007. 6. Autopsi forensik. Di unduh dari http://www.freewebs.com/reef_forensik/autopsi.htm. 10 Januari 2011 7. Visum et Repertum. Di unduh dari www.klinikindonesia.com. 11 januari 2011 8. Pathology Of Trauma. Diunduh dari http://forensik-upnxx.webs.com/chapterviii.htm 11 januari 2011 9. Tanatologi. Di unduh dari www.klinikindonesia.com. 11 Januari 2011. 10. Tindak Pidana Kekerasan. di unduh dari www.focalpointgender.kejaksaan.go.id 12 Januari 2011