Anda di halaman 1dari 24

OLEH : Riduan Sembiring

hutan tropis Indonesia telah mencapai titik nadirnya. Penyebabnya adalah bermacam-macam, mulai Dario maraknya illegal logging, kebakaran hutan, ulah HPH-HTI yang bertanggung jawab (over area). Sampai pada alih fungsi hutan untuk pertanian, permukiman, pertambangan, perkebunan dan sebaginya. Badan Planologi Dephut (2003) mencatat laju kerusakan hutan periode 19972000 menjadi 3,8 juta hektar pertahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan.

Pendahuluan Laju kerusakan

Memasuki tahun 2008, kerusakan hutan masih terus terjadi.

Terkuaknya kasusu illegal logging di Ketapang Kalimantan Barat yang melibatkan aparat setempat menjadi bukti bahwa secara diam-diam dan tak terekspos hutan Indonesia masih terus dirusak. Keluarnya PP. No. 2 tahun 2008 menambah pelik masalah hutan, karena dengan hadirinya PP 2/2008, memuluskan jalan 13 perusahaan tambag untuk merusak hutan lindung. Belum lagi kasus alih fungsi hutan lindung Pulau Bintan, yang menyeret salah satu nama anggota DPR yang diindikasi menerima suap. Kawasan hutan lindung yang bakal di konversi seluas 8.000 hektar dari total 102.234 hektar (luas pulau Bintan). Sebagian besar lahan (7.300 hektar diperuntukkan sebagai central bussines development alias pusat bisnis dan perumahan. Sekitar 200 hektar sisanya untuk kantor pemerintahan. Kabarnya, dibelakang perubahan alih status hutan ada kepentingan salah satu konglomerat (JP/10/04/2008).

Kawasan hutan pun semakin terancam eksistensinya

ketika banyak perusahaan perkebunan terutama kelapa sawit dan karet mengajukan ijin alih fungsi hutan unntuk perkebuanan. Karena dari segi financial harga sawit lebih tinggi dari harga kayu, maka pemerintah memberikan ijin karena pemasukan ke kas Negara dari sector ini sangat besar. Naiknya harga minyak mentah dunia, membuat beban APBN kian berat. Pemerintahpun harus pontang panting mencari solusi terbaik, menaikan harga BBM yang berarti subsisi dicabut/dikurangi. Atau mencari bantuan ke Negara lain agar APBD tidak deficit.

Mahanya harga BBM memaksa pemerintah mencari energy

alternative, minyak nabati, biofeul dari ekstrak kelapa sawit. Maka hutan terbebani dua hal yaitu menghasilkan panagan dan kayu serta sebagai sumber energy. Bila kebutuhan akan sumber energy alternative sangan mendesak, sangat dimungkinkan akan terjadi konversi besar-besaran lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Dan fenomena ini telah tejadi. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan hutan Indonesia ?. Sebenarnya solusi dari kerusakan hutan Indonesia sangat sederhana yaitu penghutanan kembali kawasan yang gundul dan merekonstruksi ulang, menata kembali manajemen pengelolaan hutan. Karena saat ini manajemen pengelolaan hutan menjadi absurd. Pemerintah yang sebenarnya bertanggung jawab menjaganya, melindungi dan melestarikan hutan seakan lepas tangan. Buktinya hutan menjadi rusak, berarti fungsi perlindungan tidak berjalan.

Hutan adalah

titipan Allah untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya bagi kesejahtraan manusia. Amanah pengurusan hutan dibebankan kepada pemerintah, maka ketika rakyat disekitar hutan tidak sejahtera , hidup serba kekurangan, sedangkan segelintir orang diluar hutan kekenyangan makan hutan, maka siapa disalahkan ?. Bukankah pemerataan kesejahtraan dari hasil hutan adalah tugas pemerintah?. Tetapi fakta berbicara lain. Indonesia yang sangat kaya raya sumber daya alamnya menjadi Negara dengan 37,17 juta rakyat hidup menderita, makan nasi aking. Bahkan fakta di lapangan sangat bebeda, melebihi data BPS diatas. Katanya Indonesia adalah Negara bekembang. Namun fakta nyata dari perkembangan itu tidak ada. Hutang masih numpuk, dan kemungkinan ditambah. Bila dihitung setiap bayi yang baru lahir tebebeni hutang lebih kurang 5 juta rupiah.

Hampir 70 % penduduk yang berprofesi sebagai petani

hidup di bawah garis kemiskinan. Katanya tanahnya subur, mengapa rakyat tidak hidup makmur. Panen raya tak membuat bahagia tetapi besedih karena harus mencicil hutang. Apalagi saat masa tanam, harga bibit mahal, harga pupuk mahal, tiba-tiba pupuk hilang di pasaran. Setelah panen harga menjadi murah. Petani banyak ruginya daripada meraup untung. Belum lagi bencana dating silih berganti. Banjir besar hampi dating tiap tahun, ribuan hektar persawahan terndam, panenpun gagal. Sederetan fakta memeksa kita untuk beperan aktif, minimal menngurangi dampak kerusakan lingkungan. Bagi siapa yang memiliki lahan, maka bias dimanfaatkan sebaikbaiknya. Salah satu solusinya ditawarkan adalah penerapan system agroforestri. Sistem agroforestri adalah sistem bercocok tanam multikultur, yang mengkombinasikan antara tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian, hewan atau tanaman lainnya dalam satu lahan secara bersamaan maupun periodic.

Mengapa harus dengan sistem agroforestri?. Karena

sistem ini memungkinkan kita membuat hutan yang multi fungsi, sesuai dengan tuntutan jaman dan kebutuhan. Dari sistem agroforestri, memungkinkan kita memanen kayu, tanaman pangan, pakan ternak, bahkan tanaman sumber energy seperti jarak dan sawit untuk bahan biofeul. Menurut Hairiah dkk. (2003) agroforestri merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan baru dibidang petanian dan kehutanan yang mencoba menggabungkan unsure tanaman dan pohonpohonan. Ilmu ini mencoba mengenali dan menggabungkan sistem-sistem agroforestri yang telah diperaktekan oleh petani sejak berabad-abad yang lalu.

Agroforestri lebih mantap secara ekologi daripada

sistem persawahan, lebih tahan hama dan penyakit daripada sistem monokultur. Produktivitasnya pul lebih besar. Bagi perusahaan yang menerapkan sistem agrofforestri dijamin akan mendapatkan penghasilkan tambahan diluar tanaman pokok. Sistem agroforestri juga menjamin ketahanan ketahanan pangan karena kontinuitas produktifitasnya stabil setiap tahaun. Bila salah satu tanaman tidak menghasilkan maka tanaman lainnya yang panen, begitu seterusnya tergantung seberapa banyaknya variasi jenis yang kita introduksikan pada lahan.

Sisstem agroforestri bias diterapkan pada bentuk

pemanfaatan lahan apa saja, baik perkarangan, lading, persawahan, hutan rakyat, maupun hutan tanaman industry.
Melihat kerusakan hutan yang semakin parah maka

sudah selayaknya kita ikut berbuat, ambil bagian dalam upaya pelestarian . Termasuk menerapkan sistem agroforestri dilahan milik kita, agroforestri dapat tercapai keseimbangan ekonomi dan ekologi.

Definisi Agroforestri berasal dari 2 kata adalah: agros dan

forestry, dengan pengertian : agros (bahasa Yunani) yang berarti bentuk kombinasi kegiatan pertanian dengan kegiatan lainnya pada sebuah lahan. Sedangkan arti dari forestry (bahasa Inggris) yang artinya segala yang sesuatunya yang berkenan dengan hutan (kehutanan). Forestri meliputi segala usaha, ilmu, proses dan semua kegiatan dalam mengelola hutan dan pengunaan sumberdaya alam untuk kepentingan dan kesejahtraan manusia.

Beberapa definisi dari para pakar mengenai agroforestri, sebagai berikut : Soemarwoto (1981), agroforestri adalah suatu sistem tata guna lahan yang

bersifat permanen. Tanaman semusim maupun tahunan ditanam bersamaan atau dalam rotasi sehingga membentuk tajuk-tajuk yang berlapis. Sistem ini memberikan keuntungan secara biologis maupun ekonomis. Wiersum (1981), agroforestri adalah bentuk tata guna lahan yang tetap (permanen). Pepohonan ditanm dengan dicampurkan tanaman pertanian (bersamaan atau bergiliran ) dan mungkin juga kombinasi dengan peternakan. Keuntungan dengan teknik penanaman dengan sistem agroforestri memiliki 5 keuntungan, sebagai berikut a. keuntungan ekologis; penggunaan sumberdaya lebih efisien, b. keuntungan ekonomis ; jumlah produksi yang lebih tinggi, kenaikan produksi kayu perkakas /kayu bakar dan mengurangi biaya untuk memelihara vegetasi, c. keuntungan social ; kesempatan kerja sepanjang tahun, menghasilkan panen kayu pada musim paceklik, memperkecil factor resiko, produksi yang diarahkan pada keperluan sendiri dan/atau pasar, d. keuntungan psikologis; perubahan relative kecil dari cara produksi tradisional dan lebih murah diterima oleh penduduk daripada teknik-teknik pertanian berdasarkan sistem monokultur,dan e. keuntungan politis; sebagai alat untuk memberikan pelayanan social yang lebih baik dan kondisi-kondisi yang lebih baik bagi para petani.

Lahjie, A.M. (1992), agroforestri merupakan bentuk

pengelolaan lahan yang memadukan prinsip-prinsip pertanian dan kehutanan. Pertanian dalam arti suatu pemanfaatan lahan untuk memperoleh panagn, serat, dan protein hewani. Kehutanan untuk memperoleh produksi kayu bakar serta fumgsi estetik, hidrologi serta konsevasi flora dan fauna. Hairiah, dkk (2003) pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, dimana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komodditi khas atau kelompok produksi yang serupa.

International Council for Research Agroforestry (ICRAF), agroforestri

adalah: a. sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu , bamboo, rotan, dll.) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya, b. sistem pengunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu dan hewan yang tumbuh bersamaan atau bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai produk dan jasa (service) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara komponen tanaman, c. Sistem pengelolaan sumber daya alam yang dinamis secara ekologi dengan penanaman pepohonan dilahan pertanian atau padang pengembalaan untuk memperoleh bebagai produk secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan keuntungan social, ekonomi dan lingkungan bagi semua penggunaan lahan (Hukley, 1999). Agroforestri adalah sistem pemanfaatan lahan yang meliputi penggabungan yang dapat diterima secara social dan ekologis antara pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau hewan-hewan , dalam waktu yang sama atau bergiliran sehingga meningkatkan produktivitas tanaman dan hewan secara berkelanjutan, khususnya di bawah kondisi teknologi yang sederhana dan lahan yang tergolong marginal (Nair, 2000)

De

Foresta, dkk (2000), berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal sistem agroforestri kompleks dibedakan menjadi dua,yaitu kebun atau perkarangan bebasis pohon (home garden) yang letaknya disekitar tempat tinggal dan agroforestri yang biasanya disebut hutan yang letaknya jauh dari tempat tinggal. agroforestri semakin kompleks dengan perkembangan zaman, dan kemungkinan muncul sisem agroforestri baru.

Definisi

Sejarah Agroforestri

Sejak peradaban bercocok tanam di mulai, masyarakat kuno telah mengenal penanaman bebagai macam jenis pada satu lahan dalam waktu besamaan maupun secara berurutan (rotasi) yang istilah sekarang agroforestri. Berapa asumsi-asumsi tentang agroforestri, adalah : Pola hidup yang subsisten memaksa mereka untuk menanam berbagai jenis tanaman yang berguna bagi kehidupan mereka. Pola pikir masyarakat waktu itu masih alami, menanam bebagai jenis tanaman dan membentuk struktur tajuk yang sempurna, Jiwa dagang masih primitive, sehingga menanam tanaman belum mencari keuntungan. Kebutuhan yang beragam, diambil dari kebun sendiri.

Di Filipina, suku Hanunoo sengaja meninggalkan beberapa

pohon pilihan (tertentu) ada masa akhir pertumbuhan padi dengan maksud mencegah penerimaan cahaya yang berlebih pada saat kelembaban lebih penting daripada cahaya. Di Nigreria Selatan, umbi rambat, jagung, labu-labuan, kacangkacangan secara khas ditanam bersamaan di bawah naungan pohon-pohonan yang tumbuh berpencar. Tahun 1806, U Pan Hle, seorang Karen pada hutan Tonze di Thararrawaddy Division di Birma membangun hutan tanaman jati dengan metode taungya dan menghadiahkannya pada Sir Dietrich Brandis. Sistem taungya kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Burma, pada tahun 1867, Schlich mencatat bahwa telah menyaksikan tanaman jati pada tahun kedua dengan sistem taungnya di hutan kabaung di Yaungoo Division. Pada 1887 sistem taungya di perkenalkan di Afrika Selatan dan dibawa dari Birma ke Chittagong di India pada tahun 1890 dan ke Bengan pada tahun 1896 (Lahjie, 2002).

Taungya terdiri dari dua kata, taung artinya bukit, dan ya artinya

pertanian. Sistem toungya adalah modifikasi pola perladangan berpindah, dimana para pekerja diperbolehkan menanam tanaman pertanian berdampingan dengan jenis-jenis tanaman hutan. Jangka waktu diperbiolehkan menanam tanaman petanian antara 1-3 tahun, dengan asumsi tajuk pohon telah dapat menutupi sebagian permukaan lahan. Di Indonesia, sistem taungya diteapkan pada tahun 1883 di hutan jati Pekalongan KPH Pemalang, Jawa Tengah. Indonesia mengenal sistem taungya dengan sebutan tumpangsari (Indriyanto, 2008). Teknik tanaman campuran (multikultur) mendapat perhatian pada tahun 1966, saat disaelenggarakan kongres kehutanan sedunia di Seattle, Amerika Serikat dengan tema Multiple Use of Forest Land. Dengan tema tersebut hutan tidak lagi dipandang sebagai pehasil kayu saja, tetapi menjadi lebih luas seperti penghasil kayu bakar, kayu bangunan, pakan tenak, menjaga kelestarian ekosistem, hidrologi, konsevasi tanah dan air, sebagai sarana pendidikan, sarana rekreasi, pelindung satwa, pengendali erosi dan banjir dan masih banyak lagi.

Melihat

betapa urgennya penerapan teknik multikultur ini, maka pada tahun 1977 dibentuk International Council for Research in Agroforestry (ICRAF) atas rkomendasi dari International Development Research Center (IDRC) yang sebelumnya menugaskan John Bene untuk melakukan penelitian tentang kekurangan penelitian kehutanan sedunia, menilai ketergantungan antara kehutanan dan pertanian di Negara tropis, merumuskan program-program penelitian kehutanan dan mempersiapkan renacana kegiatan untuk memperoleh dana intenasional. Dari hasil penelitiannya, John Bene menyiumpulkan bahwa prioritas utama sebaiknya diberikan untuk sistem produksi antara pertanian dan kehutanan (Lahjie, 2002).

Dengan

berdiinya ICRAF inilah maka nama agroforestri untuk teknik tanam campur mulai dikenal masyarak dunia. Pada tahun 1978, diadakan kongres kehutanan sdunia VIII di Jakarta dengan tema Forest for People. Dari tema jelas mencerminkan betapa hutan harus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Adanya hutan menjamin kesejahtraan masyarakat. Dan sistem agroforestri dirasa tepat untuk diterapkan pada paradigma pembangunan hutan ke depan. Dari catatan sejarah, agroforestri adalah ilmu baru dengan teknik lama. Dikatakan baru karena sebagai ilmu, karena baru dikenal pada abad 19 dan dikatakan lama karena telah diperaktekan oleh masyarakat sejak dahulu. Sebagai ilmu baru, penelitian tentang agroforestri banyak dilakukan, dan bantuan dana internasional mempercepat akselerasinya.

Di

Indonesia, untuk agroforestri disebut juga wanatani. Wana (bahasa Jawa berarti hutan sedangkan tani berarti bertani (kegiatan bercocok tanam. Teknik bercocok tanam yang menggabungkan tanaman berkayu (pohon hutan) dengan tanaman pertanian (Pangan).

Ruang Lingkup Agrforestri Agroforestri sebagi teknik penanaman campur memiliki

ruang lingkup beragam. Klasifikasi ditunjuk dengan dengan kombinasi beebrapa unsure penyusun. Sebuah sistem baru tebentuk dari perbedaan elemen-elemen penyusun (sub sistemnya). Agroforestri adalah pola tanam dinamis bukan statis. Artinya setiap kombinasi elemen berbeda melahirkan sistem yang berbeda pula. Perbedaan sistem ini menambah khasanah kekayaan sistem agroforestri. Ruang lingkup agroforestri semakin luas dan masyarakat memiliki alternative aplikasi salah satu sistem sesuai karakteristik kawasan, mnat serta tujuan pemanfaatan lahan. Pada kawasan tetentu, ada kita jumpai beraneka ragam pola pemanfaatan lahan, dan beberapa bentuk agroforestri antara lain :

Agrisilvicultur, yaitu pola penggunaan lahan yang terdiri dari

atas kombinasi tanaman pertanian (pangan) dengan tanaman kehutanan dalam rauang dan waktu yang sama. Sylvopostoral system, yaitu system, yaitu sistem pengelolaan lahan yang menghasilkan kayu sekaligus berfungsi sebagai padang gembalaan. Ternak-tenak leluasa mendapatkan hijauan makanan ternak (hmt) pada lahan tesebut. Agrosylvo-pastoral system, yaitu sistem pengelolaan lahan yang memiliki tiga fungsi produksi sekaligus, antara lain sebagai penghasil kayu, penyedia tanaman pangan dan juga padang pengembalaan ternak. Ketiga fungsi tersebut bias maksimal bila lahan yang dikelola memiliki luasan yang cukup. Bila terlalu sempit maka akan terjadi kompotisi negative antara komponen penyusun.

Sylvofishery, yaitu sistem pengelolaan lahan yang didesain

untuk menghasilkan kayu sekaligus berfungsi sebagai tambak ikan. Apiculture, yaitu sistem pengelolaan lahan yang memfungsikan pohon-pohon yang ditanam sebagai sumbe pakan lebah madu. Selain memproduksi kayu, juga menghasilkan madu yang memiliki nilai jual tinggidan berkhsiat. Sericulture, yaitu sistem pengelolaan lahan yang menjadikan pohon-pohon untuk memelihara ulat sutra. Sehingga murbei yang menjadi makanan pokok ulat sutera harus ada dalam jumlah yang besar pada lahan tersebut. Multipurpose forest tree production system, yaitu sistem pengelolaan lahan yang mengambil bebagai macam manfaat dari pohon baik dari kayunya, buahnya, maupun daunnya. Sistem ini merupakan pengoptimalan fungsi dari pohon yang ditanam. Sistem ini merupakan kombinasi antara pohon penghasil kayu, penghasil buah maupun yang diambil daunnya untuk hijauan makanan ternak (HMT).