Anda di halaman 1dari 48

Barang Publik

Presented by:

BARANG PUBLIK

DEFINISI BARANG PUBLIK


Barang dan jasa yang disediakan oleh sektor publik Barang yang mempunyai sifat non rival dan non eksklusif

Rival dan Ekslusif


Rival artinya suatu barang tidak dapat dinikmati secara bersama tanpa saling meniadakan manfaat.

Eksklusif artinya untuk dapat mengkonsumsi barang tersebut diperlukan syarat, misalnya harus membayar.

Non Rivalry
Dapat dikonsumsi bersamaan pada waktu yang sama, tanpa saling meniadakan manfaat.

Non Eksklusif
Tidak perlu membayar untuk menikmati manfaat barang publik.

Jenis-Jenis Barang
Private Goods (barang pribadi) Common Resources (sumber daya milik bersama)

Toll Goods (Barang yang ekslusif dan non rival).

Public Goods (barang publik)

KLASIFIKASI BARANG
SIFAT BARANG EKSKLUSIF NON EKSKLUSIF

RIVAL

Barang Privat (baju, mobil)

Common Goods (sumber daya alam, air bersih)

NON RIVAL

Toll Goods (TV kabel, jalan tol)

Barang Publik (mercusuar, pertahanan nasional)

BARANG PRIVAT VS BARANG PUBLIK


Sifat-sifat barang privat

Rivalrous consumption Excludable consumption Scarcity

BARANG PRIVAT VS BARANG PUBLIK


Sifat-Sifat Barang Publik

Non-rivalry Non-excludable

Kategori Barang Publik

PURE PUBLIC GOODS

INTERNATIO NAL PUBLIC GOODS

NATIONAL PUBLIC GOODS

LOCAL PUBLIC GOODS

Impure Public Goods


Escludable Public Goods Congestible Public Goods

Mixed Public Good

Impure Privat Goods


Private Goods with Eksternalities Mixed Private Goods Publicly Provide private Goods

KULIAH DI STAN ?

JALAN RAYA?

SALURAN TELEVISI UMUM ?

Sumber Pembiayaan
Pajak Pembebanan langsung kepada masyarakat

Pelayanan publik yang dapat dibebankan tarif pelayanan


Penyediaan air bersih Pendidikan

Transportasi publik

Fasilitas rekreasi

Jasa pos dan telekomunikasi

Perumahan rakyat

Energi dan listrik

ALASAN PEMBENARAN TARIF PELAYANAN PUBLIK :

Adanya barang privat dan barang publik, dan merit good Efisiensi ekonomi Prinsip keuntungan

Argumen terhadap pembebanan tarif pelayanan


Dasar Pembebanan Langsung: Suatu jasa mungkin tidak dapat diberikan kepada setiap orang. Sumber daya yang mahal atau langka Variasi dalam konsumsi individual suatu jasa mungkin digunakan untuk operasi komersil yang menguntungkan Pembebanan dapat digunakan untuk memenuhi arah dan skala permintaan publik atas suatu jasa apabila jenis dan standar pelayannya tidak dapat ditentukan secara tegas

Argumen yang menentang pembebanan tarif pelayanan


Kesulitan administrasi dalam menghitung biaya pelayanan Yang miskin tidak mampu membayar

Adanya ekternalitas positif (spillover effect)


Adanya merit good Adanya persyaratan legal

Kegunaan Pembebanan Langsung dalam Praktik


Salah satu sumber penerimaan bagi pemerintah daerah. Sumber penerimaan Pemerintah, antara lain :
Pajak Pembebanan langsung kepada masyarakat (charging of service) Laba BUMN/BUMD Penjualan aset milik pemerintah Utang Pembiayaan defisit anggaran (mencetak uang)

Metode penetapan biaya publik


Full Cost Recovery

Total beban(charge)= Total biaya Marginal cost pricing


Tarif = biaya + margin

Full cost pricing


Metode harga jual dengan metode full cost pricing adalah penentuan harga jual dengan mempertimbangkan seluruh biaya produk. Contoh : Bahan Baku Rp. 100.000 Tenaga Kerja Langsung Rp. 50.000 Overhead Variabel Rp. 30.000 Ovehead tetap Rp. 20.000 Jumlah Biaya Produksi Rp. 200.000 Biaya Operasi Variabel Rp. 15.000 Biaya Operasi tetap Rp. 10.000 Jumlah Biaya Operasi Rp. 25.000 Total Biaya Rp. 225.000 Margin (0%) Rp. 0 Harga Jual Produk Rp. 225.000

Gross Margin Pricing


Pendekatan gross margin pricing dapat diterapkan pada perusahaan milik Negara (BUMN-BUMD), Badan layanan umum, dan BLUD. Penentuan harga pelayanan dengan metode gross margin pricing dapat dirumuskan : Harga Pokok produk (product cost) XX Margin Laba XX Harga Jual (HPP+Margin) XX Sebagai contoh : Rumah Sakit umum milik Pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat mengambil keuntungan dengan besaran tertentu. Keuntungan bisa diperoleh dari penjualan obat, sewa kamar, penggunaan alat-alat medis, jasa medis dan non medis. Misalnya untuk pasien rawat jalan pada poli tertentu, penentuan harga sebagai berikut : Harga Pokok penjualan Obat Rp 100.000 Margin (10%) Rp. 10.000 Harga Obat yang harus dibayar Rp 110.000 Ditambah Jasa Dokter Rp 50.000 Pemeriksaan lab Rp 100.000 Administrasi Rp 10.000 Tarif Pelayanan Rp 270.000

PERMASALAHAN MARGINAL COST PRICING


Sulit memperhitungkan secara tepat marginal cost untuk jasa-jasa tertentu Penentuan harga seharusnya didasarkan pada biaya marginal jangka pendek (short run MC) atau biaya marginal jangka panjang (long run MC).

Marginal cost princing full cost recovery.


Konsep kewajaran Eksternalitas konsumsi Pertimbangan ekuitas

KOMPLEKSITAS STRATEGI HARGA

Two-part tariffs

Peak-load tariffs

Diskriminasi harga

Full cost recovery

Harga diatas marginal cost

TAKSIRAN BIAYA
Pertimbangan penentuan harga:
Opportunity cost untuk staff,perlengkapan dll Opportunity cost of capital Accounting price untuk input ketika harga pasar tidak menunjukan value to society (opportunity cost) Pooling,ketika biaya berbeda-beda antara setiap individu Cadangan inflasi

Hubungan Barang Publik dengan Peranan Pemerintah


jenis dan kualitas dari barang publik

harga yang harus dibayarkan oleh konsumen

besarnya nilai manfaat yang akan diperoleh konsumen

Inefisiensi Ekonomi Pelaksanaan Pengadaan Barang Publik


adanya kepentingan golongan tertentu adanya biaya yang tidak jelas sedangkan manfaat sangat jelas dan Iangsung dibutuhkan birokrasi dan inefisiensi

PENYEDIAAN BARANG PUBLIK OLEH SWASTA

Penyediaan Barang Publik Oleh Swasta

Pemerintah

Swasta

Penyediaan Barang Publik Oleh Swasta

Pemerintah

Swasta

Public-Private Partnership

Karakteristik Public-Private Partnership


Pihak swasta mengambil fungsi pemerintahan dalam jangka waktu tertentu;
Pihak swasta menerima kompensasi atas penyediaan fungsi pemrintah baik langsung maupun tidak langsung; Pihak swasta menanggung risiko atas penyediaan fungsi pemerintahan yang diambil; Fasilitas publik, tanah atau sumber lainnya dapat ditransfer untuk pihak swasta.

Seleksi dan Prioritisasi Proyek

Proses Kerja Public-Private Partnership Studi


Kelayakan dan Uji Tuntas Proses Lelang Penyiapan dokumen lelang Penetapan cara evaluasi Pembentuk an panitia Proses lelang Evaluasi lelang Penetapan calon pemenang Negosiasi Manajemen Kontrak Check list negosiasi Pembentuk an tim negosiasi Negosiasi draft perjanjian kerjasama Negosiasi alokasi risiko Penetapan pemenang lelang

Analisis Kebutuhan Identifikasi dan penetapan prioritas proyek Analisis Value of Money

Studi Kelayakan Identifikasi kebutuhan dukungan Pemerintah Analisis risiko Pemilihan bentuk KPD

Financial closing Kosntruksi Comissioni ng Operasi Monitoring Pengalihan pada akhir masa konsesi

Manfaat Public-Private Partnership


Terjaminnya mendapatkan harga pasar yang terendah Meningkatkan penerimaan public terhadap proyek PPP Mendorong kesanggupan lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan tanpa sovereign guarantees Mengurangi risiko kegagalan proyek Dapat membantu tertariknya bidders yang sangat berpengalaman dan berkualitas tinggi Mencegah aparat pemerintah dari praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Public-Private Partnership
Menurut Siregar (2004) persyaratan pelaksanaan kerjasama: Infrastruktur yang dibangun sejalan dengan tugas pokok, fungsi dan kebutuhan pemerintah; Tidak membebani APBD/APBN; Harus dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah sesuai bidang tugasnya baik masa pengoperasian maupun saat penyerahan kembali; Swasta harus mempunyai kemampuan keuangan dan keahlian; Tanah dan bangunan tetap milik pemerintah; penggunaan tanah harus sesuai Rencana Umum Tata Ruang Wilayah/Kota (RUTRW/K);

Bentuk Public-Private Partnership (1/2)


Operation Maintenance (OM) Buid Own Operate (BOO) Lease Purchase (LP)
Build Operate Transfer (BOT) Lease Contract (LC)

Bentuk Public-Private Partnership (2/2)


Build Transfer Lease (BTL) Service Contract (SC) Kerjasama Operasi (KSO) Warp Arround Addition (WAA) Joint Venture

Penyediaan Barang Publik yang Efisien

Apakah mungkin

Penentuan Jumlah Efisien Pada Penyediaan Barang Privat


Tingkat Harga Rp1.000,00 Konsumen A 1 Konsumen B 2 Pasar 3

Penentuan Jumlah Efisien Pada Penyediaan Barang Privat


Tingkat Harga Rp1.000,00 Konsumen A 1 Konsumen B 2 Pasar 3

Pf
1000

Pf
1000

Pf
1000

DB

DA+B
3

DA
1

f per year

f per year

f per year

Gambar 1

Penentuan Jumlah Efisien Pada Penyediaan Barang Privat


Gambar 2.2

C Pf

Pf
S 1000 800 DA+B

Pf

1000

1000

DB DA

3 4.5

f per year

1 1.5

f per year

2 3

f per year

Gambar 2

Horizontal Summation

Penentuan Jumlah Efisien Pada Penyediaan Barang Publik


Jumlah Unit Willing to Pay

Konsumen A
Konsumen B Pasar

2
2 2

Rp15.000,00
Rp40.000,00 Rp55.000,00

Penentuan Jumlah Efisien Pada Penyediaan Barang Publik


A

vertical B summation
Pf

Pf 70.000 55.000

Pf

Biaya Marginal

40.000

40.000

15.000 DA 2 f per year 2

DB

15.000 DA+B

f per year

1 2

f per year

Gambar 3

Permasalahan dalam Mencapai Efisiensi


Free riders problem Barang publik excludable-nonrival MC = 0
Eksternalitas

STUDI KASUS : PRIVATISASI JALAN TOL

Pertimbangan Pelaksanaan Privatisasi Jalan Tol:


investasi modal dari pihak swasta Perawatan rutin tidak dilakukan dengan baik oleh Pemerintah memberikan nilai sekarang dari jalan tol (sesuai dengan lamanya konsesi) dalam jumlah yang sangat besar