Anda di halaman 1dari 45

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang

Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.Perlukaan jalan lahir merupakan predisposisi yang kuat untuk terjadinya infeksi pada masa nifas. Untuk mencegah terjadinya infeksi perlu di perhatikan khususnya pada hari pertama postpartum harus di jaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman kuman dari luar. Oleh sebab itu semua alat dan kain yang berhubungan dengan alat genetal harus suci hama. Infeksi ini juga dapat di sebabkan oleh pemeriksaan dalam yang terlalu sering, persalinan kasep,persalinan memanjang, infeksi lokal dan peralatan yang digunakan tidak steril (Manuaba, 2010). Menurut WHO (World Health organitation) melalui pemantauan ibu meninggal di berbagai belahan dunia memperkirakan bahwa setiap tahun jumlah 500.000 ibu meninggal di sebabkan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes, 2010).Di Indonesia angka kematian ibu (AKI) yaitu 228/100.000 kelahiran hidup (Rakornas,2008). Hasil SDKI menunjukkan bahwa angka kematian ibu pada tahun 2010 sekitar 226/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian ibu pada tahun 2011 sekitar 215/100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2012 di kota Surabaya angka kematian ibu 144/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jatim,

2012).Sedangkan Manuaba (2010), menjelaskan penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 60-70%, pre eklamsia 10%-20%, infeksi 10%-20%. Dalam periode sekarang ini asuhan masa nifas sangat di perlukan karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayi. Di perkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Prawirohardjo, 2010). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (hamilton, 2009). Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab AKI. Ibu post partum yang mengalami luka perineum sangat rentan terhadap terjadinya infeksi, karena luka perineum yang tidak dijaga dengan baik akan sangatberpengaruh terhadap kesembuhan luka perineum. Perawatan dan pengetahuan teknik perawatan luka yang baik akan membantu proses penyembuhan luka. Faktor penyebab terjadinya infeksi nifas berasal dari perlukaan pada jalan lahir yang merupakan media yang baik untuk berkembangnya kuman. Hal ini bisa diakibatkan oleh daya tahan tubuh yang rendah setelahmelahirkan, perawatan yang kurang baik dan kebersihan yang kurang terjaga pada saat perawatan sendiri di rumah. Selama penulis dinas di RSIA Kirana Sepanjang Sidoarjo masih banyak ibu nifas yang takut untuk membersihkan alat genitalianya dengan sabun, karena mereka takut jahitannya lepas. Jadi saat BAB (Buang Air Besar) / BAK (Buang Air Kecil), ibu hanya membilas dengan air saja.

Berdasarkan data tersebut perawatan luka perineum jika tidak dibersihkan dengan sabun akan mengakibatkan luka perineum sulit sembuh atau infeksi seperti terjadi kemerahan dan bengkak pada luka. Dan juga bisa menghambat proses involusi sehingga pasien mengalami peningkatan suhu badan lebih dari 39C yang berlangsung selama 24 jam atau kambuh lagi sejak hari pertama sampai hari ke sepuluh setelah melahirkan. Jika infeksi tidak segera di tangani maka bisa menyebabkan kematian pada ibu nifas. Pencegahan infeksi nifas dapat dilakukan oleh petugas kesehatan dengan melakukan perawatan luka yang benar pada persalinan normal, menganjurkan ibu nifas melakukan aktivitas ringan sedini mungkin segera setelah partus, memperhatikan asupan gizi pada ibu, menjaga kesterilan alat-alat dengan tepat, mencucitangan dan memakai sarung tangan dalam melakukan tindakan pada pasien (Maryunani, 2009). Sehubungan dengan kasus tersebut di temukan bahwa masih ada ibu nifas yang belum mengetahui tentang perawatan luka perineum yang benar. Untuk itu penulis tertarik untuk mengambil judul Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Perineum di RSIA KIRANA Sidoarjo tahun 2014 .

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan gambaran dari latar belakang diatas, maka dapat

disimpulkan permasalahan sebagai berikut Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Perineum di RSIA KIRANA Sidoarjo Tahun 2014?

1.3 1.3.1

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka

perineum di RSIA Kirana Sidoarjo. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat tahu. 2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuanibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat paham. 3. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat aplikasi. 4. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat analisis. 5. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat sintesis. 6. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum pada tingkat evaluasi.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi peneliti Mengaplikasikan teori dari perkuliahan, menambah wawasan peneliti untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka

perineum.

1.4.2

Bagi institusi

1) Bagi lahan penelitian, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan untuk meningkatkan kualitas dalam pelayanan kebidanan, dan dapat digunakan untuk menyusun dan merencanakan program pelayanan di RS. 2) Bagi institusi pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dokumen dan bahan tambahan sumber bacaan bagi mahasiswi prodi DIII Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Pengetahuan

2.1.1

Definisi Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan

indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecap. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam setiap mengambil keputusan dan dalam berperilaku (Setiawati,2009). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan hasil tahu pengindraan manusia terhadap suatu obyek tertentu. Proses pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba melalui kulit. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior).

2.1.2

Tingkat Pengetahuan di dalam domain kognitif Menurut Notoatmodjo (2010), dalam domain kognitif berkaitan dengan

pengetahuan yang bersifat intelektual (cara berpikir, berinteraksi, analisa, memecahkan masalah dan lain-lain) yang berjenjang sebagai berikut :

1. Tahu (knowledge) Menunjukkan keberhasilan mengumpulkan keterangan apa adanya. Termasuk dalam kategori ini adalah kemampuan mengenali atau mengingat kembali hal-hal atau keterangan yang pernah berhasil di himpun atau di kenali (recall of facts).Misalnya, dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita. 2. Memahami (comprehension) Pemahaman diartikan dicapainya pengertian (understanding) tentang hal yang sudah kita kenali. Karena sudah memahami hal yang bersangkutan maka juga sudah mampu mengenali hal tadi meskipun diberi bentuk lain. Termasuk dalam jenjang kognitif ini misalnya kemampuan menterjemahkan, dan

menginterpretasiakan,

menafsirkan,

meramalkan,

mengeksplorasikan.Contohnya, dapat menjelaskan mengapa harus makanmakanan yang bergizi. 3. Menerapkan (aplication) Penerapan diartikan sebagai kemampuan menerapkan hal yang sudah dipahami ke dalam situasi dan kondisi yang sesuai.Misalnya, dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian. 4. Analisa (analysis) Analisis adalah kemampuan untuk menguraikan hal tadi menjadi rincian yang terdiri unsur-unsur atau komponen-komponen yang berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya dalam suatu bentuk susunan berarti.Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat

menggambarkan, sebagainya. 5. Sintesis (syntesis)

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan

dan

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun kembali bagian-bagian atau unsur-unsur tadi menjadi suatu keseluruhan yang mengandung arti tertentu.Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan denagan kemampuan untuk membandingkan hal yang bersangkutan dengan hal-hal serupa atau setara lainnya, sehingga diperoleh kesan yang lengkap dan menyeluruh tentang hal yang sedang

dinilainya.Misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan yang kurang gizi.

2.1.3

Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Menurut Mubarak (2009), faktor yang mempengaruhi tingkat

pengetahuan seseorang adalah : 1. Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang di berikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah,

akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. 2. Pekerjaan Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. 3. Umur Bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental) pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan yakni : perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ pada aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang makin matang dan dewasa. 4. Minat Diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu minat menjadikan seseorang untuk memenuhi suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. 5. Pengalaman Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap objek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi

10

kejiwaannya, dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya. 6. Kebudayaan Lingkungan Sekitar Kebudayaan di mana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka akan sangat mungkin masyarakat mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang. 7. Informasi Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu

mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.

2.1.4

Proses Penyerapan Ilmu Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010), bahwa suatu pesan setiap individu akan

melalui 5 tahapan yaitu : 1. Awarnees (kesadaran) Yaitu suatu keadaan di mana seseorang sadar bahwa ada suatu peranan yang disampaikan dan pesan yang disampaikan. 2. Interest (merasa tertarik) Adalah seseorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan.

11

3. Evaluation (menimbang-nimbang) Merupakan suatu tahap di mana penerima pesan mulai mengadakan penilaian keuntungan dan kerugian dari isi pesan yang disampaikan. 4. Trial (mencoba) Merupakan tahapan di mana penerima pesan mencoba mempraktikan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari. 5. Adaption (adapsi) Merupakan tahap di mana penerima pesan mempraktikan dan melaksanankan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.5

Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010), ada beberapa cara untuk memperoleh

pengetahuan,yaitu : 1. Cara Coba-salah (Trial and Error) Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkian kedua ini gagal pula, maka dicoba dengan kemungkinan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinann keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal atau salah) atau metode coba salah salah. 2. Secara Kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak di sengaja oleh orang yang bersangkutan.

12

3. Cara Kekuasaan atau Otoritas Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya, dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli-ahli ilmu pengetahuan. Prinsip ini adalah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa yang dikemukakannya adalah benar. 4. Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber

pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan. 5. Cara Akal Sehat Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua aman dahulu agar anaknya mau menuruti nasehat orang tuanya, atau agar anak

13

disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah. Misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi teori kebenaran bahwa hukuman merupakan metode untuk mendidik anak. 6. Kebenaran melalui wahyu Akaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang di wahyukan dari Tuhan melalui para nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama yang bersangkutan. 7. Kebenaran secara intuitif Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui proses di luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya, karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan sistematis. 8. Melalui Jalan Pikiran Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. 9. Induksi Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pertanyaanpertanyaan khusus ke pertanyaan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berfikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman

14

empiris yang ditangkap oleh indra. Bahwa induksi beranjak dari hal konkret ke hal abstrak. 10. Deduksi Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus. Silogisme yaitu suatu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik.

2.1.6 Kriteria Mengukur Tingkat Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara / angket yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dan dilakukan penelitian terhadap kuesioner. Menurut Arikunto (2007), pengetahuan dapat dikriteriakan menjadi presentase yang ditafsirkan ke kalimat yang bersifat kuantitatif yaitu sebagai berikut : 1. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100% 2. Tingkat pengetahuan cukup baik bila skor atau nilai 56-75% 3. Tingkat pengetahuan kurang baik bila skor atau nilai 40-55% 4. Tingkat pengetahuan tidak baik bila skor atau nilai< 40%

15

2.2

Konsep Dasar Nifas

2.2.1

Definisi Masa nifas adalah masa (kira- kira 6minggu) sesudah persalinan dan

kelahiran bayi, plasenta, selama tubuh ibu beradaptasi ke keadaan sebelum hamil di sebut juga puerperium (Bahiyatun, 2009). Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, placenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu postpartum (Sulistyawati, 2009). Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah plasenta lahir sampai 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi (Prawirohardjo, 2011).

2.2.2

Periode masa nifas Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8

minggu setelah persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Saleha, 2009). Periode Nifas menurut Bahiyatun (2009), dibagi menjadi 3 periode yaitu: 1. Puerperium Dini, yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.

16

2. Puerperium Intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital. 3. Remote Puerperium,, yaitu wwaktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

2.2.3

Tujuan Asuhan Masa Nifas Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa

kritis baik ibu maupun bayinya. Adapun tujuan dari perawatan masa nifas ini adalah : 1. Untuk memulihkan kesehatan umum penderita, dengan jalan menyediakan makanan sesuai kebutuhan, mengatasi anemia. 2. Mempertahankan kesehatan psikologis 3. Mencegah infeksi dan komplikasi 4. Memperlancar pembentukan air susu ibu (ASI) 5. Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal (Setyo, 2011:2).

2.2.4

Perubahan perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas

1. Tanda Vital Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 C. Pasca melahirkan suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5C dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari keempat post partum akan naik lagi.

17

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya nadi akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melibihi 100 kali permenit adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan post partum yang tertunda. Tekanan darah biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklamsi post partum. Sedang pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi (Damaiyanti, 2011:68). 2. Involusi Involusi merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi

sebelum hamil dengan berat berkisar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah placenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada saat ini uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dengan berat 1000 gram (Wulandari, 2009).Perubahan tinggi dan berat uterus masa nifas.

Tabel 2.1. Perubahan tinggi dan berat uterus masa nifas

Involusi Uteri Placenta lahir 7 hari (minggu 1)

14 hari (minggu 2) 6 minggu

Tinggi fundus Uteri Setinggi pusat Pertengahan pusat dan simpisis Tidak teraba Normal

Berat Uterus 1000 gram 500 gram

Diameter Uterus 12,5 cm 7,5 cm

350 gram 60 gram

5cm 2,5 cm (Damaiyanti, 2011 : 56)

18

3. Lochea Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal (Damaiyanti, 2011:58). Pengeluaran lochea dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut : a. Lochea Rubra/merah : lochea ini muncul pada hari 1 sampai hari ke 4 masa post partum. Cairan yang kel;uar warna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa placenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium. b. Lochea sanguilenta : cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari harimke sampai hari ke 7 post partum. c. Lochea Serosa : cairan yang keluar berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan / laserasi placenta. Muncul pada hari ke 7 sampai hari ke 14 post partum. d. Lochea alba : Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir servik dan serabut jaringan mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu post partum. e. Lochea Purulenta : terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk. f. Locheostasis : Lochea yang tidak lancar keluarnya. (Wulandari, 2009).

19

4. Perubahan Vagina dan Perineum a. Vagina Pada minggu ketiga , vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau kerutan- kerutan) kembali. b. Perubahan pada perineum Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan pada perineum pada umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis terlalu kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukan penjahitan dan peerawatan dengan baik (Suherni, 2009). 5. Perubahan pada sistem pencernaan Sering terjadi obstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, dehidrasi, kurang makan, hemoroid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah gliserin spuit (Wulandari 2009).

20

6. Perubahan perkemihan Diuresis dapat terjadi setelah 2-3 hari postpartum. Diuresis terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu postpartum. Pada awal postpartum, kandung kemih mengalami edema, kongesti dan hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat kala dua persalinan dan pengeluaran urine yang tertahan selama proses persalinan. Sumbatan pada uretra disebabkan oleh adanya trauma persalinan berlangsung dan trauma ini dapat berkurang setelah 24 jam postpartum (Bahiyatun, 2009). 7. Perubahan Sistem Muskuloskeletal Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluhpembuluh darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah placenta lahir. Ligamen-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu

persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Tidak jarang pula wanita mengeluh kandungannya turun setelah melahirkan karena ligamen, fasia , jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan. Sebagai akibat putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan kendor untuk sementara waktu.Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genetalia, serta otot-otot

21

dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu.Pada 2 hari post partum, sudah dapat fisioterapi (Sulistyawati, 2009). 8. Perubahan Sistem Kardiovaskuler Volume darah normal yang diperlukan placenta dan pembuluh darah uterin, meningkat selama kehamilan. Diuresis terjadi akibat adanya penurunan hormon esterogen, yang dengan cepat mengurangi volume plasma menjadi normal kembali. Meskipun kadar esterogen menurun selama nifas, namun kadarnya masih tetap tinggi dari pada normal. Plasma darah tidak banyak mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat. Kehilangan darah pada persalinan per vaginam sekitar 300-400 cc, sedangakan kehilangan darah dengan persalinan seksio sesarea menjadi dua kali lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Pada persalinan per vaginam, hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan seksio sesarea, hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu (Damaiyanti, 2011). 9. Perubahan Sistem Endokrin Menurut Sulistyawati (2009), perubahan pada sistem endokrin meliputi : a. Hormon placenta Hormon placenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG (Hormon Chorionic Gonadotropin). Menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mammae pada hari ke 3 postpartum. b. Hormon Pituitary

22

Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler (minggu ke 3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi. c. Hypotalamik Pituitary Ovarium Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar progesteron dan esterogen. d. Kadar Esterogen Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen yang bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mammae dalam menghasilkan ASI. 10. Perubahan Sistem Hematologi Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadarfibrinogen dan plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama postpartum,kadarfibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, akan tetapi darah akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari postpartum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan yang lama (Sulistyawati, 2009).

23

2.2.5

Perawatan atau kebutuhan masa nifas

1. Mobilisasi Mobilisasi segera setelah ibu melahirkan dengan membimbing ibu untuk bangun dari tempat tidurnya. Ibu post partum diperbolehkan bangun dari tempat tidurnya 24-48 jam setelah melahirkan. Anjurkan ibu untuk memulai mobilisasi dengan miring kanan/kiri, duduk, kemudian berjalan. Menurut Damaiyanti (2011), Keuntungan mobilisasi adalah : a. Ibu merasa lebih sehat dan kuat b. Fungsi usus, sirkulasi, paru-paru dan perkemihan lebih baik. c. Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu. d. Mencegah trombosis pada pembuluh tungkai 2. Diit Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu. Ibu nifas dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut : a. Mengkonsumsi makanan tambahan kurang lebih 500 kalori tiap hari. b. Makan dengan diet gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. c. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari. d. Mengkonsumsi tablet besi selam 40 hari post partum. e. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 intra unit. (Damaiyanti, 2011).

24

3. Eliminasi Buang air kecil sendiri sebaiknya dilakukan secepatnya. Miksi normal bila dapat BAK spontan setiap 3-4 jam. Kesulitan BAK dapat disebabkan karena springter uretra tertekan oleh kepala janin dan spasme spingter ani selama persalinan, atau dikarenakan oedem kandung kemih selama persalinan. Lakukan kateterisasi apabila kandung kemih penuh dan sulit berkemih. Untuk defekasi pada ibu post partum sama halnya dengan miksi mengalami kesulitan yang diakibatkan oleh tekanan saat persalinan. Jika hari ketiga atau keempat ibu belum buang air besar maka dilakukan klisma gliserin (Damaiyanti, 2011). 4. Personal hygiene Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi.Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk dijaga. 5. Istirahat dan tidur Hal ini bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur, ibu dianjurkan agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan, untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahanlahan dan untuk tidur siang atau beristirahat saat bayi tidur. Kurangnya istirahat dapat mempengaruhi ibu dalam beberapa hal seperti mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Bahiyatun, 2009).

25

6.

Aktifitas seksual Aktifitas seksual yang dapat dilakukan ibu oleh ibu masa nifas harus

memenuhi syarat yaitu, secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa adanya rasa nyeri, maka ibu aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap, dan banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari 6 minggu setelah melahirkan, keputusan ini tergantung pada pasangan masing-masing (Saleha, 2009). 7. Latihan senam nifas Setelah melahirkan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita.Involusi ini jelas sangat terlihat pada alat-alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena itu, mereka akan selalu berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut yang sudah tidak indah lagi. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas (Saleha, 2009). 8. Perawatan Mammae Perawatan mammae atau payudara dimulai sebelum hamil supaya puting susu lemas dan tidak keras. Begitupun perawatn dalam masa nifas sangatlah penting dalam membantu memperlancar pengeluaran ASI, yaitu dengan:

26

a. Menjaga payudara tetap bersih, terutama puting susu. b. Menggunakan BH yang menyokong payudara. c. Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui. Dan menyusui tetap dilakukan dari puting susu yang tidak lecet. Apabila puting lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI di keluarkan dan diberikan dengan menggunakan sendok. d. Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukanlah pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat setiap 5 menit dan urut payudara dari arah pangkal menuju putting, kemudian keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak. e. Susukan bayi setiap 2-3 jam, apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan (Pusdiknakes, 2010). 9. Perawatan Perineum Perawatan luka perineum adalah membersihkan daerah vulva dan perineum pada ibu setelah melahirkan sampai 42 hari post partum dan masih menjalani rawat inap di rumah sakit (Reni, 2010). Menurut hamilton (2009), perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

27

10. Komplikasi yang terjadi pada masa nifas a. Perdarahan Yaitu perdarahan lebih dari 500 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. Menurut Damaiyanti (2011), perdarahan dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Perdarahan post partum primer (Early postpartum hemorrhage) yang terjadi pada 24 jam pertama. 2) Perdarahan post partum sekunder (Late postpartum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam. Penyebab perdarahan post partum primer adalah atonia uteri, retensio placenta, sisa placenta, laserasi jalan lahi, dan inversion uteri. Sedangkan penyebab perdarahan sekunder adalah sub involusio uteri, retensi sisa placenta, infeksi nifas. b. Infeksi Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas (Sulistyawati, 2009).

2.3

Perawatan luka perineum

2.3.1

Definisi Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia

(biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Hidayat, 2009).

28

Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (hamilton, 2009).

2.3.2

TujuanPerawatan Luka Perineum Tujuan perawatan luka perineum menurut hamilton (2009), adalah

mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.

2.3.3

Bentuk luka perineum

1. Rupture Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk Rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan (Hamilton,2009). 2. Episiotomi Episiotomi, suatu tindakan yang di sengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anastesi epidural. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral.

29

Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki.

2.3.4

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum menurut Reni (2010), yakni :

1. Gizi Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein. 2. Keturunan Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori. 3. Sarana prasarana Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik. 4. Budaya dan Keyakinan Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan makan telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.

30

2.3.5

Cara Perawatan Luka Perineum Pengamatan dan perawatan khusus diperlukan untuk menjamin agar

daerah tersebut sembuh dengan cepat dan mudah. Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka. Alat yang digunakan adalah botol, baskom, gayung, dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, sabun dan washlap, handuk kering dan basah, pembalut nifas baru dan celana dalm yang bersih (Reni, 2010). Langkah- langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu post partum adalah sebagai berikut : 1. Mandi teratur minimal 2 kali sehari. 2. Menganjurkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang kemudian membersihkan daerah sekitar anus, nasehati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar. 3. Mengganti pembalut minimal 2 kali sehari. 4. Mencuci tangan setiap membersihkan daerah genitalia. 5. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut (Setyo, 2011).

31

2.3.6

Dampak dari perawatan perineum

Perawatan perineum yang baik dapat menghindarkan hal berikut ini : 1. Infeksi Kondisi perineum yang terkena lochea dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum. 2. Komplikasi Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir. 3. Kematian Ibu Postpartum Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi ibu post partum masih lemah (Setyo, 2011).

32

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konseptual Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan anatara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitianpenelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2010). Kerangka konseptual pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum yang benar. Tingkat pengetahuan ada 6, yang meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengetahui Memahami Menerapkan Analisa Sintesis Evaluasi

Faktor yang mempengaruhi pengetahuan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pendidikan Pekerjaan Umur Minat Pengalaman Kebudayaan informasi

Dapat di kategorikan : Baik 76 %-100% Cukup 56%-75% Kurang 40%-55% Tidak baik < 40%

Gambar 3.1 Kerangka konseptual tentang Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Perineum yang Benar
32

33

Keterangan Kerangka Konseptual Dari kerangka konseptual di atas, faktor penyebab dari perawatan luka perineum yang benar dapat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan, dan informasi. Faktor-faktor yang

mempengaruhi seorang ibu nifas untuk melakukan perawatan perineum secara teratur sangatlah komplek. Bahkan kemungkinan antara faktor yang satu dengan yang lain berkaitan. Pada penelitian ini akan dibahas masalah tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum. Keterangan : Di teliti :

Tidak diteliti :

34

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian Desain penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2013).Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian Lokasi penelitian menjelaskan tempat dimana penelitian

dilakukan.Lokasi penelitian ini sekaligus membatasi ruang lingkup penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2010).Penelitian ini dilakukan di RSIA Kirana Sidoarjo.

4.2.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian merupakan kapan penelitian tersebut akan dilakukan (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini dilakukan mulai bulan April sampai Mei 2014.

34

35

4.3 Kerangka Penelitian Kerangka penelitian merupakan strategi yang mengatur latar (setting) penelitian agar peneliti memperoleh data yang tepat sesuai dengan karakteristik dan tujuan penelitian.
Populasi ibu nifas di RSIA Kirana periode 2014

Pengambilan Sampel dengan caraNon Random Sampling dengan metode purposive sampling.

Mengumpulkan data dengan membagi kuesioner tentang pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka perineum yang benar.

Editing, scoring, dan tabulasi.

Deskriptif Presentase.

Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian

36

4.4 4.4.1

Populasi, Sampel, besar sampel, dan sampling Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek (pasien) penelitian (Arikunto,

2010).Populasi yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas yang mengalami robekan perineum di RSIA Kirana Sidoarjo. Besar populasi ibu nifas di RSIA Kirana Sidoarjo sebanyak 40 orang. 4.4.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dan keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini (Notoatmodjo, 2010).Sampel penelitian ini adalah semua ibu nifas yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas di RSIA Kirana Sidoarjo. a. Kriteria inklusi 1) Ibu nifas yang di rawat di RSIA Kirana Sidoarjo. 2) Ibu nifas yang bersedia menjadi subyek penelitian. 3) Ibu nifas dengan robekan perineum (spontan / episiotomi). 4) Ibu nifas yang dapat baca tulis.

4.4.3

Besar Sampel Berdasarkan pendapat Hidayat tersebut, maka sampel yang ada

digunakan seluruhnya. Adapun rumus yang digunakan adalah

37

Keterangan: n : jumlah sampel N : jumlah populasi d : tingkat signifikan (0,05) (Hidayat , 2010) Maka besar sampel :
n= 1 + N ( d )2 n= 40 N

1 + 40 ( 0,05 )2 n= 40

1 + 40 ( 0.0025 ) n= 1 + 0,1 n= 40 1.1 n = 36 orang 40

4.4.4

Sampling Sampling merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono,

2009).Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Non Random Sampling dengan metode Purposive Sampling. Menurut

Notoatmodjo (2010), Purposive Sampling yaitu anggota sampel yang dipilih berdasarkan pada suatu pertimbangan yang dibuat oleh peneliti sendiri.

38

4.5

Identifikasi Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu nifas tentang

perawatan luka perineum.

4.6 Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dan sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati, (diukur).

39

Variabel Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Luka Perineum Yang meliputi tingkat :

Definisi operasional Hal-hal yang diketahui oleh responden tentang:

Indicator

Alat Ukur

Skala

Skor

a. Tahu

a. Kemampuan untuk menyebutkan dan mengingat tentang perawatan luka perineum yang benar.

Tahu

Menggunak Ordin an kuesioner al

Ibu nifas dapat di kategorikan : Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40% Ibu nifas dapat di kategorikan : Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40% Ibu nifas dapat di kategorikan : Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40% Ibu nifas dapat di kategorikan :

b. Paha m

b. Kemampuan untuk memahami tentang perawatan luka perineum yang benar.

Paham

Menggunak Ordin an kuesioner al

c. Aplikasi

c. Kemampuan untuk mengaplikasi kan tentang perawatan luka perineum yang benar.

Aplikasi

Menggunak Ordin an kuesioner al

d. Analisis

d. Kemampuan untuk menjabarkan

Analisis

Menggunak Ordin an kuesioner al

40

materi atau suatu obyek kedalam komponenkomponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis e. Kemampuan untuk meletakkan atau menghubung kan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis Menggunak Ordin an kuesioner al

Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40%

Ibu nifas dapat di kategorikan : Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40%

f.

Evaluasi

f. Kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi obyek. Penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteriakriteria yang telah ada.

Evaluasi

Menggunak Ordin an kuesioner al

Ibu nifas dapat di kategorikan : Baik 76 %100% Cukup 56%75% Kurang 40%55% Tidak baik < 40%

41

4.7 4.7.1

Pengumpulan Data dan Analisis Data Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai

variabel yang diteliti (Sugiyono, 2010).Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner tertutup. 4.7.2 Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode tes berupa kuesioner yang diberikan kepada responden untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Perineum. Data yang diperoleh dibedakan menjadi 2 jenis data, yaitu : 1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Sebelum mengisi kuesioner responden diberi penjelasan tentang cara mengisi kuesioner dan selanjutnya memberikan informed consent yang diikuti penyerahan kuesioner. Setelah itu, kuesioner langsung diisi oleh responden sesuai dengan ketentuan yang ada. 2. Data Sekunder adalah pengumpulan data yang diperoleh dari orang atau tempat lain dan bukan dilakukan oleh peneliti sendiri. Data yang digunakan dari rekam medis RSIA Kirana Sidoarjo.

42

4.7.3

Teknik analisa data

1. Editing Data / kuesioner yang terkumpul diperiksa kembali di lapangan dan memastikan semua jawaban telah diisi sesuai maksut pertanyaan atau tidak. Jika terdapat jawaban yang belum terisi, maka peneliti meminta responden untuk mengisi lembar jawaban kuesioner yang belum terisi . 2. Coding Tidak menggunakan kode-kode tertentu pada setiap jawaban hanya saja ada pembatas antar tingkat pengetahuan yaitu : tahu = nomer 1-2, memahami = nomer 3-4, aplikasi = 5-6, analisis = nomer 7-8, sintesis = nomer 9-10, evaluasi = nomer 11-12. 3. Scoring Memberi nilai pada jawaban yang dipilih sesuai dengan tingkatan yaitu jika memilih A maka nilainya 3, jika memilih B nilainya 2, jika memilih C maka nilainya 1, jika tidak menjawab maka nilainya 0. 4. Transfering Memindahkan jawaban dalam distribusi frekuensi. 5. Tabulating Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dalam bentuk persen, sedang untuk memgetahui kriteria tingkat pengetahuan dengan rumus :
Rumus : P = x 100%

43

Keterangan : P :Persentase f :Skor jawaban benar n :Jumlah skor maksimal seluruh pertanyaan Setelah di ketahui persentasenya, maka dimasukkan dalam kriteriabaik bila skor 76 %- 100%, cukup baik bila skor 56%-75%, kurang baik bila skor 40%-55%, tidak baik bila skor kurang dari 40%. 4.8 4.8.1 Etika Penelitian Informed Consent (Lembar Persetujuan) Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan dari riset yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika responden bersedia diteliti maka respoden menandatangani lembar persetujuan, jika responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hakhaknya. 4.8.2 Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan responden, maka peneliti tidak

mencantumkan nama responden pada pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subjek, tetapi cukup dengan memberi kode.

44

4.8.3

Confidentialy (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya

kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.

45

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Prosedur Penelitian Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Bahiyatun.2009. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Normal. Jakarta. EGC.

Carole, Hamilton. 2009. Obstetric dan Ginekologi: Panduan Praktik. Jakarta. EGC.

Damaiyanti. 2011. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Bandung. PT. Refika Aditama.

Heryani, Reni. 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Menyusui. Jakarta. TIM.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saleha.Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta. Salemba Medika.

Setyo dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Ibu Masa Nifas. Yogyakarta. Gosyen Publishing.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Bandung : Alfa Beta

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta.Andi.