Anda di halaman 1dari 5

1

A. Pendahuluan
Pada waktu kita membicarakan tentang asal-usul persamaan Diferensial, kita akhirnya
memperoleh persamaan Diferensial orde 2 seperti:
1. 0 0 = + = + y
m
k
y ky my
n n
, dimana m = massa & k = konstanta pegas
2. 0
'
= + + ky by my
n
, untuk kasus gesekan udara tidak diabaikan, yakni berbanding
lurus dengan y (kecepatan).
Kedua persamaan Diferensial tadi adalah contoh persamaan diferensial orde 2. Secara umum
persamaan diferensial orde 2 memiliki bentuk:
) ( ) ( ) (
'
x r y x q y x p y
n
= + + ..(*)
PD di atas dikatakan linier karena berbentuk linier dalam fungsi y yang tidak diketahui dan
turunan-turunannya, sementara p, q, dan r adalah fungsi-fungsi dari x yang diketahui. Jika suku
pertama PD itu berbentuk f(x)y, maka kita bisa membaginya dengan f(x) sehingga diperoleh
bentuk baku seperti (1), dengan suku pertamanya adalah y.
1. Jika r(x) = 0, maka persamaan diferensial tadi dikatakan homogeny, sedangkan
Contoh: (1-x
2
)y-2xy+6y = 0
2. Jika r(x) 0, maka persamaan diferensial tadi bersifat tidak homogen
Contoh: y+ 4y = e
-x
sin x
3. p(x) dan q(x) disebut koefisien dari persamaan diferensial tadi.
Pada bagian awal pembicaraan akan difokuskan pada persamaan diferensial homogen baru
kemudian ke persamaan diferensial yang tidak homogen.




2

B. Solusi dan Prinsip Superposisi
Suatu fungsi:

Kita katakana bahwa ) (x | adalah solusi dari suatu persamaan diferensial orde 2 pada satu
interval jika ) (x | terdefinisi dan terdiferensialkan dua kali pada interval tersebut dan sedemikian
sehingga jika y beserta turunan-turunannya kita ganti dengan ) (x | beserta turunan-turunanya
dipetoleh suatu identitas.
Contoh 1: x y sin = dan x y cos =

adalah solusi dari R x y y e = + ; 0 "
Sebab :

( ) ( )
( ) 0 cos ) cos ( cos " cos
0 sin sin sin " sin
= + = +
= + = +
x x x x
x x x x

Jika masing-masing fungsi itu dikalikan dengan konstan-konstan tertentu dan dijumlahkan, maka
hasilnya juga merupakan suatu selesaian dari PD di atas.
x C x C y cos sin
2 1
+ = juga solusi dari persamaan diferensial tadi dan juga
x C x C y cos sin
2 1
+ = adalah solusi.
Contoh 2 :
Misal diambil konstan-konstan 3 dan 2, maka diperoleh fungsi

x x y sin 2 cos 3 =

Jika disubtitusikan dalam PD-nya diperoleh
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) x x x x x x x x sin " sin 2 cos " cos 3 sin 2 cos 3 " sin 2 cos 3 + + = +
= 3.0-2.0
= 0.


) (x y | =

3

Contoh soal:
Buktikan bahwa persamaan di bawah ini merupakan solusi atau bukan solusi dari
R x y y e = + ; 0 "

a.
x y sin 2 =
dan
x y cos 3 =

b. x x y cos 5 sin 4 + =
Penyelesaian :
a.
( ) ( )
( ) 0 cos 3 ) cos ( 3 cos 3 " cos 3
0 sin 2 sin 2 sin 2 " sin 2
= + = +
= + = +
x x x x
x x x x

Jadi, x y sin 2 = dan x y cos 3 = merupakan solusi dari R x y y e = + ; 0 "

b.
( )
( )
( ) 0 cos 5 sin 4 cos 5 sin 4
cos 5 sin 4 sin 5 cos 4
cos 5 sin 4 cos 5 sin 4
'
"
= + +
+ +
+ + +
x x x x
x x x x
x x x x


Suatu ekspresi yang berbentuk


2 2 1 1
y C y C y + =
disebut kombinasi linier dari
1
y dan
2
y . Dari contoh-contoh di atas memberikan suatu ilustrasi
yang sifatnya umum untuk persamaan diferensial homogen (linier) 0 ) ( ' ) ( " = + + y x q y x p y , yang
disebut dengan prinsip superposisi.
Contoh di atas juga merupakan suatu ilustrasi dari Teorema Dasar 1:
Teorema Dasar 1
- Jika solusi dari persamaan diferensial linier homogen 0 ) ( ' ) ( " = + + y x q y x p y dalam satu
interval Idikalikan dengan satu konstanta, maka fungsi yang dihasilkan juga solusi dari
persamaan diferensial tadi dalam interval I.
- Jumlah dari dua solusi juga solusi (dalam interval yang sama).
Teorema di atas hanya berlaku untuk PD linier homogen, tidak berlaku untuk PD linier
takhomogen dan PD taklinier. Sebagai contoh:
4

Fungsi-fungsi
y =1+cos x dan
y =1+sin x
adalah selesaian PD takhomogen :
y + y = 1
tetapi,
2(1+cos x) dan (1+cos x)+(1+sin x)
keduanya bukan selesaian PD tersebut.

Fungsi-fungsi
y = x
2
dan y =1
adalah selesaian dari PD taklinier
yy - xy=0

tetapi fungsi-fungsi
x
2
dan x
2
+1
keduanya bukan selesaian PD itu.

Sebab:

( )
( ) ( ) ( ) 2 2 ) 1 ( ' 2 )' 1 ( 1 1
2 2 )' .( .
2 2 2 2
"
2
2 2 2 2
"
2
= + = + + +
= =
x x x x x x x
x x x x x x


Bukti Teorema Dasar 1:
Diketahui persamaan diferensial linier homogen y + p(x)y + q(x)y = 0...(*)
Misalkan y = | (x) adalah solusi dari (*)| + p(x)| + q(x)| =0
Maka y = C| (x) dengan C = konstanta juga solusi sebab
(c| ) + p(x)c| (x) + q(x)c| (x) = c(| + p(x)| + q(x)| )
5

= c . 0 = 0
Diketahui persamaan diferensial linier homogen y + p(x)y + q(x)y = 0 ....(*)
Misalkan y = | (x) dan y = (x) adalah dua solusi dari (*), maka
y = c| (x) + d (x) juga solusi sebab :
[c| (x) + d (x)] + p(x) [c| (x) + d (x)] + q(x) [c| (x) + d (x)] = c (| + p| + q| ) + d (|
+ p| + q| ) = c.0 + d.0 = 0
Catatan :
Bentuk y = C
1
| (x) + C
2
| (x) dengan C
1
&C
2
adalah konstan disebut kombinasi linier dari
| (x) dan (x).
Teorema tersebut hanya berlaku untuk persamaan diferensial linier homogen.



Contoh :
Bisa ditunjukkan bahwa y = 1 + sin x dan y = 1 + cos x adalah solusi dari persamaan
diferensial non-homogen y + y = 1, tetapi y = 2 ( 1 + cos x) dan y = sin x + cos x + 2
bukanlah solusi.
Begitu juga y = x
2
dan y = 1 adalah solusi dari yy xy = 0 (non linier) tetapi y = -x
2
dan
y = x
2
1 bukan solusi dari persamaan diferensial tadi.