Anda di halaman 1dari 19

Alat Tangkap Tuna Longline

Penangkapan ikan tuna di laut dilakukan dengan menggunakan alat tangkap ikan yang dioperasikan oleh suatu kapal ikan. Alat tangkap ikan tersebut salah satunya adalah tuna longline. Berikut beberapa informasi terkait dengan tuna longline. Semoga bermanfaat.

Karakteristik Tuna longline merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan oseanis pelagis, karena menurut Farid et al. (1989) konstruksinya mampu menjangkau swimming layer tuna. Hal ini dapat dilihat dari 40% produksi tuna di dunia dihasilkan oleh alat tangkap tuna longline dan selebihnya dihasilkan oleh purse seine, trolling serta alat tangkap lainnya (Simorangkir, 1982). Selain efektif alat tangkap tuna longline juga merupakan alat tangkap yang selektif terhadap hasil tangkapannya dan cara pengoperasiannya bersifat pasif sehingga tidak merusak sumber daya hayati perairan (Nugraha et al., 2010).

Tuna longline atau juga dikenal sebagai rawai tuna merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna terdiri dari rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu kapal tuna longline biasanya mengoperasikan 1000-2000 mata pancing untuk sekali operasi. Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan dan mesin kapal dimatikan, kapal dan alat tangkap dihanyutkan mengikuti arus atau drifting. Drifting berlangsung selama 4-5 jam dan selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal. Alat tangkap ini termasuk alat tangkap ramah lingkungan karena bersifat selektif terhadap jenis ikan yang ditangkap. Di Pelabuhan Benoa Bali, desain dan konstruksi rawai tuna didasarkan dibedakan menjadi 2 sistem yaitu sistem arranger dan non arranger (blong dan basket). Satu unit longline terdiri dari pelampung (float), tali pelampung (float line), tali utama (main line) dengan sejumlah tali cabang (branch line) yang berpancing (hook). Bahan tali utama dan tali cabang dapat terbuat dari bahan polymide dan nylon (monofilamen) atau bahan polyethilene. Dalam satu pelampung digunakan

7-17 mata pancing dengan jenis umpan yang berbeda. Umpan yang digunakan terdiri dari umpan hidup (ikan bandeng) dan umpan mati seperti ikan lemuru, layang, cumi dan tongkol (ATLI, 2010). Cara Operasi Kondisi pancing pada satu pelamung disesuaikan dengan kedalaman perairan yang akan dijangkau oleh pancing. Jangkauan terdalam bisa mencapai 450 meter. Secara ringkas dalam kegiatan operasi penangkapan rawai tuna, setelah persiapan dilakukan dan kapal ikan telah tiba di fishing ground yang telah ditentukan, selanjutnya dilakukan setting yang diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama. Selanjutnya dilakukan penebaran pancing yang telah dipasangi umpan. Rata-rata waktu yang digunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/pancing. Pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerang atau tegak lurus terhadap arus. Pelepasang pancing umumnya dilakukan saat malam dengan pertimbangan pancing yang telah terpasang waktu pagi saat ikan aktif mencari mangsa. Pengoperasian juga dapat dilakukan pada siang hari. Penarikan alat tangkap dilakukan setelah berada didalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang dapat diatur kecepatannya. Lamanya penarikan alat tangkap sangat ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan dan faktor cuaca. Penarikan biasanya membutuhkan waktu 3 menit/pancing. (disarikan dari beberapa sumber)
About these ads

26 April, 2009

Teknologi Penangkapan Ikan Tuna

Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang.

Rawai tuna (tuna longllne) Rawai tuna atau tuna longline adalah alat penangkap tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000 - 2.000 mata pancing untuk sekali turun.

Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan. sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arah arus atau sering disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih empat jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.

Umpan longline harus bersifat atraktif. misalnya sisik ikan mengkilat, tahan di dalam air, dan tulang punggung kuat. Umpan dalam pengoperasian alat tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis

umpan yang digunakan umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decopterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), dan bandeng (Chanos chanos).

Huhate (pole and line) Huhate atau pole and line khusus dipakai untuk menangkap cakalang. Tak heran jika alat ini sering disebut pancing cakalang. Huhate dioperasikan sepanjang siang hari pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat tangkap ini bersifat aktif. Kapal akan mengejar gerombolan ikan. Setelah gerombolan ikan berada di sekitar kapal, lalu diadakan pemancingan.

Terdapat beberapa keunikan dari alat tangkap huhate. Bentuk mata pancing huhate tidak berkait seperti lazimnya mata pancing. Mata pancing huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan rafia yang halus agar tidak tampak oleh ikan. Bagian haluan kapal huhate mempunyai konstruksi khusus, dimodifikasi menjadi lebih panjang, sehingga dapat dijadikan tempat duduk oleh pemancing. Kapal huhate umumnya berukuran kecil. Di dinding bagian lambung kapal, beberapa cm di bawah dek, terdapat sprayer dan di dek terdapat beberapa tempat ikan umpan hidup. Sprayer adalah alat penyemprot air.

Pemancingan dilakukan serempak oleh seluruh pemancing. Pemancing duduk di sekeliling kapal dengan pembagian kelompok berdasarkan keterampilan memancing.

Pemancing I adalah pemancing paling unggul dengan kecepatan mengangkat mata pancing berikan sebesar 50-60 ekor per menit. Pemaneing I diberi posisi di bagian haluan kapal, dimaksudkan agar lebih banyak ikan tertangkap.

Pemancing II diberi posisi di bagian lambung kiri dan kanan kapal. Sedangkan pemancing III berposisi di bagian buritan, umumnya adalah orang-orang yang baru belajar memancing dan pemancing berusia tua yang tenaganya sudah mulai berkurang atau sudah lamban. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemancingan dilakukan jangan ada ikan yang lolos atau jatuh kembali ke perairan, karena dapat menyebabkan gerombolan ikan menjauh dari sekitar kapal.

Umpan yang digunakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah ikan umpan dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air. Hal ini akan mengundang cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan. Selanjutnya dilakukan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan air dimaksudkan untuk mengaburkan pandangan ikan, sehingga tidak dapat

membedakan antara ikan umpan sebagai makanan atau mata pancing yang sedang dioperasikan. Umpan hidup yang digunakan biasanya adalah teri (Stolephorus spp.).

Pancing ulur (handline) Handline atau pancing ulur dioperasikan pada siang hari. Konstruksi pancing ulur sangat sederhana. Pada satu tali pancing utama dirangkaikan 2-10 mata pancing secara vertikal. Pengoperasian alat ini dibantu menggunakan rumpon sebagai alat pengumpul ikan. Pada saat pemancingan, satu rumpon dikelilingi oleh lima unit kapal, masing-masing kapal berisi 3-5 orang pemancing. Umpan yang digunakan adalah ikan segar yang dipotong-potong. Hasil tangkapan utama pancing ulur adalah tuna (Thunnus spp.).

Pukat cincin (purse seine) Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis jaring yang di bagian bawahnya dipasang sejumlah cincin atau gelang besi. Dewasa ini tidak terlalu banyak dilakukan penangkapan tuna menggunakan pukat cincin, kalau pun ada hanya berskala kecil.

Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya menarik purse line di antara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan agar ikan tidak dapat meloloskan diri. Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk.

Pukat cincin dapat dioperasikan siang atau malam hari. Pengoperasian pada siang hari sering menggunakan rumpon atau payaos sebagai alat bantu pengumpul ikan. Sedangkan alat bantu pengumpul yang sering digunakan di malam hari adalah lampu, umumnya menggunakan lampu petromaks.

Gafa et al. (1987) mengemukakan bahwa payaos selain berfungsi sebagai alat pengumpul ikan juga berfungsi sebagai penghambat pergerakan atau ruaya ikan, sehingga ikan akan berada lebih lama di sekitar payaos. Uktolseja (1987) menyatakan bahwa payaos dapat menjaga atau membantu cakalang tetap berada d lokasi pemasangannya selama 340 hari.

Jaring insang (gillnet) Jaring insang merupakan jaring berben tuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama di sepanjang jaring. Dinamakan jaring insang karena berdasarkar cara tertangkapnya, ikan terjerat di bagian insangnya pada mata jaring. Ukuran ikan yang tertangkap relatif seragam.

Pengoperasian jaring insang dilakuka secara pasif. Setelah diturunkan ke perairan, kapal dan alat dibiarkan drifting, umumnya berlangsung selama 2-3 jam. Selanjutnya dilakukan pengangkat jaring sambil melepaskan ikan hasil tangkapan ke palka.

INDUSTRIALISASI TUNA SULTENG (2) : MENINGKATKAN DAYA SAING KOMODITAS TUNA SULAWESI TENGAH Written by DKP 1 Monday, 15 October 2012 00:00 Oleh Hasanuddin Atjo*

IKAN TUNA telah menjadi salah satu komoditas industrialisasi di sektor Kelautan dan Perikanan, antara lain karena merupakan komoditas ekspor dengan permintaan pasar tinggi terutama Jepang, Amerika Serikat dan beberapa kota besar di Dunia termasuk Jakarta; Bernilai ekonomi tinggi karena harga di tingkat nelayan bisa mencapai 10 dollar US per Kg; serta Indonesia memiliki potensi sumberdaya tuna terbesar di Asia Tenggara yang didominasi jenis yellow fin tuna atau biasa disebut tuna sirip kuning atau madidihang , dan jenis big eye tuna atau tuna mata besar. Jenis tuna yang paling mahal harganya adalah blue fin tuna atau tuna sirip biru yang tertangkap hanya di wilayah perairan yang memiliki empat musim.

Provinsi Sulawesi Tengah memiliki dua jenis yang dominan yaitu: tuna yellow fin dan tuna big eye dengan potensi sumberdaya menjanjikan yang tersebar pada tiga cluster yaitu (1) selat Makassar - laut Sulawesi terutama di wilayah perairan Buol, Tolitoli dan Perbatasan DonggalaTolitoli; (2) teluk Tomini terutama di Banggai, Tojo Unauna dan Parigi Moutong yang berbatasan Gorontalo; serta (3) teluk Tolo terutama Banggai Kepulauan dan Morowali yang berbatasan dengan Maluku. Selama ini tuna yang tertangkap di Sulawesi Tengah lebih banyak dikirim ke Gorontalo dan Makassar melalui laut dan darat, selebihnya di kirim ke Bali dan Jakarta melalui bandara udara Mutiara Palu dan Syamsudin Amir Luwuk.

Pangkalan Pendaratan Ikan ( PPI) Donggala adalah salah satu tempat mendaratkan tuna hasil tangkapan nelayan. Volume tangkapan periode Januari - September 2012 baru mencapai 450 ton dengan nilai sekitar 14 milyar rupiah, pedahal sesungguhnya volume tangkapan dapat ditingkatkan menjadi beberapa kali lipat. Diprediksi hanya sekitar 30-40 persen tuna yang tertangkap di selat Makassar-laut Sulawesi pada wilayah perairan Sulawesi Tengah yang didaratkan di PPI Donggala dan selebihnya di daratkan di Gorontalo dan dibeberapa tempat di wilayah pesisir Sulawei Tengah yang tidak tercatat. Demikian halnya yang tertangkap di teluk Tomini dan teluk Tolo sebahagian besar didaratkan di Gorontalo dan atau Makassar. Ikan tuna hasil tangkapan nelayan di Sulawesi Tengah hanya dihargai sekitar 4 dollar US per kg, sementara itu ikan tuna di Gorontalo dan Bitung dihargai 7 dollar US per kg. Dari gambaran ini, tentunya kita semua berkeinginan meningkatkann daya saing terutama bagaimana harga tuna di tingkat nelayan dapat ditingkatkan dari 4 dollar US mencapai 7 dollar US per Kg. Selain itu kita berkeinginan adanya hasil ikutan dari prosesing tuna untuk memperbesar nilai tambah bagi nelayan dan daerah ini. Mewujudkan keinginan ini diperlukan sejumlah strategi antara lain : Perbaikan data stastistik tuna; Pengembangan Inovasi penangkapan dan Penanganan Mutu; Pengembangan Sistem Logistik serta; Pengembangan Sistem Pembiayaan. Saat ini melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, sistem monitoring dan pencatatan tempat pendaratan dan volume hasil tangkapan ikan tuna di Sulawesi Tengah sedang diperbaiki, oleh karena tersedianya data yang valid menjadi penting dalam membuat regulasi dan rencana investasi. Pengembangan Inovasi Inovasi penangkapan tuna sekala nelayan yang paling produktif adalah yang dikembangkan nelayan Philipina dan selanjutnya diadopsi dan dikembangkan nelayan Bitung dan Gorontalo. Terdapat beberapa perbedaan dengan inovasi yang diaplikasikan nelayan tuna di Donggala. Perbedaan itu antara lain: Pertama, nelayan tuna di Bitung dalam satu kelompok terdiri dari 1520 orang tinggal di rumpon selama 20 hari dan terus memancing dengan perahu jukung masingmasing yang dilengkapi mesin penggerak 5 PK ( mesin karinting). Mesin dihidupkan pada saat menuju rumpon setelah ikan tuna berhasil dinaikkan di atas jukung, dan hasilnya setiap hari dijemput oleh kapal induknya ( tonase 7 - 10 Gross Ton) sekaligus membawa kebutuhan logistik dan es sebagai pengawet. Kapal yang disebut Farm Boat itu digerakkan oleh mesin bertenaga besar sehingga mempunyai kecepatan tinggi agar cepat tiba di darat untuk selanjutnya segera diekspor menggunakan pesawat udara. Sedangkan nelayan tuna Donggala yang mengadopsi cara Mandar jumlah anggota kelompoknya juga sekitar 15-20 orang berada di rumpon sekitar 2-3 hari, memancing dengan jukung tanpa dilengkapi mesin. Kemudian kembali bersama kapal induknya menuju ke Pangkalan Pendaratan. Cara seperti ini ada kelemahannya karena nelayan memerlukan energi untuk mendayung ke arah rumpon setelah jukung dibawah bergeser oleh ikan tuna pada saat pancing termakan, selain itu rumpon juga di tinggalkan yang kadangkala di eksplotasi oleh kelompok nelayan lain. Berbeda dengan nelayan Bitung yang tetap terjaga, karena setiap 20 hari dilakukann pergantian kelompok pemancing. Kedua, baik nelayan Bitung maupun Donggala sama-sama menggunakan umpan mati berupa ikan layang atau bandeng, namun perbedaannya nelayan Bitung menggunakan pemberat sementara berupa batu sekepalan tangan dan juga diikatkan tinta cumi dalam kemasan plastik. Selanjutnya di kedalaman 1500-2000 meter tali pancing disentakkan yang menyebabkan

pemberat dari batu tadi terlepas dan secara bersamaan kemasan plastik yang berisi tinta cumi itu pecah. Dengan demikian umpan mati tersebut seakan-akan hidup karena melayang akibat tekanan hidrostatik dan arus, kemudian tinta cumi menimbulkan aroma yang merangsang bagi tuna. Dengan cara seperti itu peluang umpan dimakan oleh tuna lebih besar. Sementara itu nelayan Donggala menggunakan pemberat tetap dari potongan besi tanpa diberi kemasan cumi, yang menyebabkan umpan kurang bergerak dan kurang memiliki daya tarik. Ketiga, rumpon tuna di Bitung khusus diperuntukkan hanya untuk memancing tuna, sedangkan ikan pelajik kecil seperti layang, kembung dan lainnya tidak dieksploitasi ini dimaksudkan agar kelompok tuna tetap senang berada disekitar rumpon karena makanan tersedia. Sementara itu rumpon tuna di Sulteng selain untuk memancing tuna, ikan pelajik kecilnya juga sering dieksplotasi. Adanya perbedaan inovasi inilah yan menjadi salah satu penyebab produktivitas nelayan tuna di Bitung dan Gorontalo lebih tinggi daripada nelayan tuna di Sulteng. Selanjutnya tingginya volume produksi dan cepatnya tuna tiba di darat menyebabkan tuna di Bitung dan Gorontalo juga dihargai lebih tinggi. Sistem Logistik dan Pembiayaan Tingginya volume produksi disertai adannya jaminan kontinyuitas dan kualitas tuna yang di daratkan di sebuah Pangkalan Pendaratan Ikan tidak serta merta dapat meningkatkan daya saing komoditas ini terutama harga dan hasil ikutan lainnya. Untuk mewujudkan itu masih diperlukan pengembangan sistem logistik serta adanya dukungan moda transportasi udara terutama tersedianya space untuk cargo, karena nilai tertinggi dari komoditi ini kalau dijual dalam bentuk segar. Kaitannya dengan itu, di Pangkalan Pendaratan Ikan harus tersedia es dalam jumlah dan kualitas yang cukup; Tersedianya cold storedge, gudang pembekuan; Miniplant atau mini prosesing untuk memproses awal sebelum ikan di kirim utuh atau dalam bentuk loin (potongan blok daging tuna) serta; Fasilitas pengolah limbah tuna untuk menjadi menjadi hasil ikutan seperti tepung ikan maupun tepung tulang. Investasi menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan untuk meningkatkan daya saing komoditas ini, karena itu lembaga keuangan sangat diharapkan melirik dan berperan ikut ambil bagian dalam mengembangkann bisnis komoditas ini, apakah pada sektor hulu atau hilir. Pemerintah tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan dan hanya akan berperan dalam hal regulasi, fasilitasi dan stimulan serta menyediakan infrastruktur dasar yang dibutuhkan. Oleh karena itu adanya harmonisasi antara pelaku usaha di daerah ini dan lembaga keuangan menjadi salah satu harapan penting, dan Pemerintah Daerah tentunya akan siap memfasilitasinya. Rencana Aksi Dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif maupun kompetetif yang dimiliki Sulawesi Tengah, diyakini bahwa pengembangan Agribisnis Tuna di daerah ini memiliki prospek yang menjanjikan. Kaitannya dengan itu, maka Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Sulawesi Tengah pada tahun 2013 akan menyusun roadmap atau peta jalan agribisnis tuna Sulawesi Tengah. Output dari roadmap antara lain adalah : Tersusunnya masterplan pengembangan seperti menetapkan Pangkalan Pendaratan sebagai landing base (pusat pendaratan); Kawasan Prosesing serta Pintu Keluar Komoditas tuna dari Sulawesi Tengah; Paket Investasi; Regulasi serta beberapa hal yang terkait dengan pengembangan agribisnis tuna. Selanjutnya roadmap ini akan menjadi bahan sosialisasi dan promosi untuk melahirkan sejumlah investasi. Kerjasama antara Pemerintah Daerah, Kadin

Daerah dan Lembaga Keuangan menjadi kata kunci. Mengawali penyusunan roadmap ini, maka di akhir tahun 2012 ini akan dilakukan studi komparasi ke Industrialisasi Tuna di kota Bitung, Sulawesi Utara bersama dengan pelaku usaha di sektor hilir, pelaku usaha di sektor hulu (nelayan penangkap), akademisi dan diharapkan juga dari Kadinda dan lembaga keuangan. Kita berharap bahwa roadmap ini nantinya dapat membantu mewujudkan visi sejajar dengan provinsi maju di Kawasan Timur dalam pengembangan Agribisnis dan Kelautan. Semoga *) Hasanuddinn Atjo, Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Last Updated on Thursday, 08 November 2012 01:25

III. PERAWAI DAN TUNA LONGLINE


3.1. Pengertian Umum dan Klasifikasi Perawai dan Tuna Longline Perawai dan tuna longline adalah suatu jenis pancing. Pancing merupakan salah satu jenis alat tangkap yang umum dikenal oleh masyarakat, terlebih dikalangan nelayan. Pada prinsipnya pancing ini terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali ( line) dan mata pancing (hook). Tali pancing biasa dibuat dari bahan benang katun, nilon, polyethilin, plastik (senar), dan lain-lain. Mata pancingnya dibuat dari kawat baja, kuningan atau bahan lain yang tahan karat. Mata pancing tersebut umumnya ujungnya berkait balik, namun ada juga yang tanpa kait balik. Jumlah mata pancing yang terdapat pada tiap perangkat (satuan) pancing itu bisa tunggal maupun ganda (dua-tiga buah) bahkan banyak sekali (ratusan sampai ribuan) tergantung dari jenis pancingnya. Ukuran mata pancing bervariasi, disesuaikan dengan besar kecilnya ikan yang akan ditangkap (Subani, 1989). 3.1.1. Pengertian umum dan klasifikasi perawai

3.1.1.1. pengertian umum perawai

Menurut Sadhori (1985), perawai merupakan salah satu alat penangkap ikan yang terdiri dari rangkaian tali-temali yang bercabang-cabang dan pada tiap-tiap ujung cabangnya dikaitkan sebuah pancing. Secara teknis operasional rawai termasuk dalam jenis perangkap, karena dalam operasionalnya tiap-tiap pancing diberi umpan yang tujuanya untuk menarik ikan sehingga ikan memakan umpan tersebut dan terkait oleh pancing. Secara material ada yang mengklasifikasikan rawai termasuk dalam golongan penangkapan ikan dengan tali line fishing karena bahan utama untuk rawai ini terdiri dari tali-temali. Alat penangkapan ikan ini disebut rawai karena bentuk alat sewaktu dioperasikan adalah rawe-rawe (rawe = bahasa Jawa) yang berarti sesuatu yang ujungnya bergerak bebas. Rawai disebut juga dengan longline yang secara harfiah dapat diartikan dengan tali panjang. Alat ini konstruksinya berbentuk rangkaian talitemali yang disambung-sambung sehingga merupakan tali yang panjang dengan beratus-ratus tali cabang (Sadhori, 1985). Menurut Mulyono (1986), Perawai terdiri dari sejumlah mata kail yang di pasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali pokok atau utama (main line) dari suatu rangkaian pancing-pancing perawai. Pada tali utama terdapat tali-tali pendek yang disebut tali cabang (branch line). Menurut bentuk, sasaran dan cara penangkapannya perawai termasuk dalam jenis Bottom Set

Longline. Cara penangkapannya pancing ini dilepas atau dilabuhkan sampai posisinya dapat mendasar. 3.1.1.2. klasifikasi perawai

Menurut Sadhori (1985), ada berbagai macam bentuk rawai yang secara keseluruhan dapat dikelompokkan dalam berbagai kelompok antara lain : 1. Berdasarkan letak pemasangannya di perairan rawai dapat dibagi menjadi : a. Rawai permukaan (Surface longline);

b. Rawai pertengahan (Midwater longline); c. Rawai dasar (Bottom longline).

2. Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama : a. Rawai tegak (Vertikal longline);

b. Pancing ladung; c. Rawai mendatar (Horizontal longline).

3. Berdasarkan jenis-jenis ikan yang banyak tertangkap : a. Rawai Tuna (Tuna longline);

b. Rawai Albacore (Albacore longline); c. Rawai Cucut (Shark longline), dan sebagainya. Perawai terdiri dari sejumlah mata kail yang di pasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali pokok atau utama (main line) dari suatu rangkaian pancing-pancing perawai. Tali utama terdapat tali-tali pendek yang disebut tali cabang (branch line). Menurut bentuk, sasaran dan cara penangkapannya perawai termasuk dalam jenis Bottom Set Longline. Cara penangkapannya pancing ini dilepas atau dilabuhkan sampai posisinya dapat mendasar (Mulyono, 1986). Menurut Sadhori (1985), persyaratan daerah operasi perawai yaitu : 1. Pantai yang keadaannya landai; 2. Kedalamanya merata;

3. Bersih dari tonggak atau kerangka kapal yang rusak; 4. Terhindar dari kesibukan lalu-lintas. 3.1.2. Pengertian umum dan klasifikasi tuna longline

3.1.2.1. pengertian umum tuna longline Ada beberapa jenis alat tangkap longline. Ada yang dipasang di dasar perairan secara tetap dalam jangka waktu tertentu dikenal dengan nama rawai tetap atau bottom longline. atau set longline yang biasanya digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal. Ada juga rawai yang hanyut yang biasa disebut dengan drift longline, biasanya untuk menangkap ikan-ikan pelagis. Paling terkenal adalah tuna longline atau disebut dengan rawai tuna (Ayodhyoa,1975). Tuna longline merupakan bagian dari rawai yang didasarkan atas jenis ikan yang ditangkap, yaitu ikan tuna. Tuna longline atau yang disebut dengan rawai tuna merupakan jenis rawai yang paling terkenal. Kenyataanya bahwa hasil tangkapannya bukan hanya ikan Tuna, tetapi juga berbagai jenis ikan lain seperti ikan Layaran, ikan Hiu dan lain-lain (Sudirman, 2004). Pada prinsipnya rawai tuna terdiri dari komponen-komponen utama yang biasanya terdiri dari : tali utama (main line), tali cabang (tali pancing, branch line) berikut bagian-bagiannya, yaitu : tali pelampung (float line) berikut pelampungnya, batu pemberat dan tali penyambungnya (Subani, 1989). 3.1.2.2. klasifikasi tuna longline Dilihat dari segi kedalaman operasi (fishing depth) tuna longline dibagi dua yaitu :

1.

Tuna longline pada perairan yang bersifat dangkal (subsurface). Pada tuna longline jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing;

2.

Tuna longline pada perairan yang bersifat dalam (Deep). Pada tuna longline jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 11 - 13 pancing sehingga lengkungan tali utama menjadi lebih dalam. Menurut Mulyono (1986), jenis ikan yang menjadi sasaran/tujuan penangkapan adalah untuk penangkapan ikan tuna. Ikan tuna termasuk ikan pelagis-oceanis, artinya ikan pelagis lepas pantai yang bila sudah mendekati mencapai kedewasaannya menurut hasil-hasil penelitian tempat kehidupannya dari dekat permukaan berpindah ke lapisan yang lebih dalam, sehingga alat-alat penangkapan yang dioperasikan di dekat permukaan tidak akan pernah memperoleh ikan tersebut. 3.2. Teknik Pengoperasian Perawai dan Tuna Longline

3.2.1. Teknik pengoperasian perawai Penangkapan dengan mengopersikan perawai dapat dilaksanakan pada waktu siang atau malam hari. Teknik pengoperasian perawai adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Perahu tiba pada lokasi fishing ground; Mula-mula pengapung pertama diikat dengan talinya begitu pula batu pemberatnya; Perahu dijalankan secara perlahan, sementara pancing demi pancing dilemparkan kedalam air setelah terlebih dahulu pada masing-masing mata pancing di beri umpan berupa ikan segar yang dipotong-potong; 4. 5. Tali cabang diikatkan pada tali utama; Sementara perahu masih tetap berjalan, tali cabang di ulur sampai panjang yang dibutuhkan, setelah itu kapal atau perahu dapat dihentikan;

6.

Rangkaian pancing oleh nelayan dibiarkan hanyut oleh arus dan angin, lamanya tidak ditentukan oleh waktu dan hauling (Penarikan);

7. a.

Hauling dilakukan dengan cara : Tali cabang perlahan-lahan di tarik kedalam perahu, setelah penarikannya sampai pada pelampung, untuk penarikan selanjutnya dilakukan dengan cara menarik tali utama;

b.

Ikan-ikan yang tertangkap dilepaskan dari kaitnya, mata-mata pancing yang umpannya telah tanggal, segera di gantikan yang baru.

8.

Begitulah seterusnya hingga penarikan alat selesai.

3.2.2. Teknik pengoperasian tuna longline Teknik pengoperasian tuna longline tidak jauh beda dengan perawai adalah sebagai berikut : 1. Mula-mula kita siapkan semua peralatan yang telah disiapkan dan tiba pada suatu fishing ground yang telah ditentukan; 2. Setting diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasang umpan. Rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 0,6 menit per pancing. Pelepasan dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus. Waktu melepas pancing biasanya waktu tengah malam, sehingga pancing telah terpasang waktu pagi saat ikan sedang giat mencari mangsa; 3. Penarikan alat tangkap dilakukan jika telah berada dalam air selama 3 - 6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya. Lama

penarikan alat tangkap sangat ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan dan cuaca. Penarikan biasanya memakan waktu 3 menit per panci

Permasalahan dan Kendala Pemanfaatan Penangkapan Ikan Tuna di Indonesia


Posted on Juni 26, 2013 by yogiputranto Standar A. Pendahuluan Perikanan tuna adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan SDI tuna dan lingkungan mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran dalam kesatuan industri tuna. Pemanfaatan SDI tuna di Indonesia didominasi oleh armada penangkapan tuna longline atau rawai tuna (Prasetyo, 2010). Industri tuna sangat berperan penting di Indonesia karena kelimpahannya dan tersedianya sumberdaya yang melimpah di perairan Indonesia. Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat Indonesia terdapat melimpah di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi percampuran antara perikanan tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang. Hal lain yang menjadi sangat penting Industri tuna di Indonesia selain kelimpahan sumberdayanya adalah biaya operasi, market/pasar dan prosedur menejemen. Biaya operasional mencakup BBM dan subsidi. Terkadang harga bahan bakar solar yang tinggi membuat para nelayan untuk enggan melaut menangkap tuna. Para nelayan yang sudah mulai jarang melakukan aktivitas penangkapan disebabkan oleh semakin mencekiknya biaya operasional penangkapan terutama biaya bahan bakar solar. Para pemilik kapal memang diharuskan membeli solar dengan tarif industri yang rata-rata sekitar Rp 8.900 per liter (Tragistina, 2011) Industri tuna juga berperan dalam pasar yaitu ekspor ke luar negeri yang dapat berpengaruh terhadap bartambahnya devisa negara. Biasanya tuna di ekspor ke Jepang untuk dibuat makanan tradisional yaitu shasimi. Disamping keuntungan-keuntungan produksi tuna terdapat banyak permasalahan yang didapat. Menurut Prasetyo (2010), Permasalahan penangkapan tuna di Indonesia yaitu : 1. Hook rate & berat ikan yang cenderung menurun 1995-2005 2. Biaya operasional meningkat akibat kenaikan harga BBM 3. Beban pajak, PNBP, retribusi daerah dan pungutan illegal 4. Proses perijinan yang kurang efektif 5. Permasalahan perdagangan global 6. Permasalah non-teknis armada tuna longline Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang (Ali, 2008).

B. Permasalahan Ada beberapa hal yang dapat dijadikan permasalahan dalam makalah dengan berjudul Permasalahan dan Kendala Pemanfaatan Penangkapan Tuna di Indonesia yaitu : 1. Apa masalah dan kendala yang dihadapi perindustrian tuna di Indonesia? 2. Bagaimana hubungan pemanfaatan global ikan tuna Indonesia dengan negara lain? C. Pembahasan Masalah 1. Permasalahan Masalah yang didapat di atas akan di bahas dalam pembahasan berikut ini. 1. Tuna merupakan komoditas perikanan andalan Indonesia setelah udang yang mempunyai prospek pemanfaatan industri yang cerah mengingat permintaan tuna di dalam dan luar negeri yang menguat. Tuna banyak di ekspor ke berbagai negara termasuk Jepang, karena di Jepang tuna sangat dibutuhkan sebagai bahan pembuatan makanan tradisional shasimi. Permintaan ekspor tuna juga meningkat di Eropa dan Amerika serta negara-negara di kawasan Timur yang mulai sadar akan makanan sehat. Dalam perdagangan tuna internasional umumnya tuna dipasarkan melalui tiga cara, yaitu tuna segar, tuna beku, dan tuna kaleng. Tuna segar dan tuna beku mempuyai harga jual yang lebih tinggi daripada tuna kaleng. Tidak semua tuna yang di kaleng akan di ekspor, hal ini dikarenakan sebagian dikonsumsi di dalam negeri negara produsen tersebut, sisanya sejumlah 857,8 ribu ton (55,3 %) yang masuk pasar ekspor dunia atau setara dengan 2.029,2 miliar US$, sementara untuk Indonesia, produksi tuna kalengnya 100 % untuk ekspor. Sejak tahun 1981 2000, produksi dan ekspor tuna kaleng Indonesia tumbuh dari 0,5 juta karton menjadi 5 juta karton, artinya baru 20 % kapasitas produksi yang dapat dimanfaatkan. Masalah yang muncul disini adalah industri pengalengan nasional tidak dapat bersaing dengan negara tetangga seperti Filipina dan Thailand serta negara pengekspor tuna kaleng lainnya karena kurangnya pasokan bahan baku dan industri tuna nasional yang cenderung menjual tuna dalam bentuk segar dan beku karena mempunyai harga jual yang tinggi. Disamping itu industri pengalengan tuna nasional umumnya tidak memiliki armada penangkapan sendiri sehingga kontinuitas bahan baku kurang terjamin karena hanya mengandalkan pasokan dari nelayan tradisional dengan hasil tangkapan yang kurang memadai dan kualitasnya rendah. Bila dibandingkan dengan nilai ekspor tuna kaleng dari negara lainnya, posisi ekspor tuna kaleng Indonesia berada pada urutan ke 7, setelah Thailand, Ecuador, Spanyol, Cote dlvoire, Seychelles dan Philiphina. Sementara itu bila dilihat dari produksi tuna kaleng negara produsen tuna kaleng dunia, posisi Indonesia berada pada urutan ke 11 setelah Thailand, Spanyol, Amerika Serikat, Cote dlvoire, Ecuador Italia, Mexico, Jepang, Philiphina dan Iran. Volume penangkapan ikan tuna yang terus menurun juga merupakan kendala bagi industri tuna saat ini. Berdasarkan data Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), sepanjang semester I-2011, ikan tuna yang berhasil ditangkap hanya sebanyak 1.594 ton. Jumlah jauh lebih sedikit ketimbang volume penangkapan tahun 2010 yang masih sebanyak 2.813 ton (dalam, Tragistina, 2011). Ada beberapa hal yang membuat volume penangkapan tuna semakin menurun setiap tahunnya, karena nelayan tak lagi gencar menjalankan aktivitas penangkapan, hal itu disebabkan karena beratnya biaya operasional yang harus ditanggung seperti harga solar. Para pemilik kapal memang diharuskan membeli solar dengan tarif industri yang rata-rata sekitar Rp 8.900 per liter. Pemerintah sebenarnya sudah memberikan subsidi kepada pemilik kapal sebanyak 75 kiloliter (kl) solar untuk jangka waktu 3 bulan, hingga bulan September 2010, para pemilik kapal masih bisa mengambil jatah subsidi itu sekaligus di bulan pertama. Namun, pemerintah kemudian

merevisi kebijakan itu dengan mengharuskan pengambilan subsidi dilakukan sebulan sekali sebanyak 25 kl per bulannya. Hal inilah yang kemudian membuat para pemilik kapal banyak yang menurunkan aktivitas penangkapannya (Tragistina, 2011). 2. Kawasan perairan Indonesia sudah terkenal di dunia memiliki sumberdaya tuna yang melimpah. Tetapi amat disayangkan sekali ketika Indonesia belum bisa memanfaatkan sumberdaya laut tersebut secara optimal. Bahkan, potensi perairan di ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) masih sering dimanfaatkan oleh kapal-kapal asing yang akhirnya merugikan ekonomi nasional. Ekspor tuna ke luar negeri juga masih belum bisa terlalu diharapkan karena dari peluang sumberdaya perikanan itu Indonesia baru bisa mencapai pangsa pasar dunia sebesar 7,52 %. Persaingan perdagangan diantara negara pesaing lainnya juga sangat ketat terkait dengan masalah kualitas dan kuantitas. Peraturan internasional seperti Code of Conduct for Ressponsible Fisheries, International Convention for The Conservation of Atlantic Tuna (ICCAT) yang mengatur tentang kelestarian sumberdaya perikanan, Convention of National Trade of Endanger Species (CITES) yang mengatur tentang perlindungan satwa yang terancam punah, dan General Agreement on Tariff and Trade (GATT oleh WTO), termasuk didalamnya perjanjian Agreement on Sanitary and Phitosanitary Measures(SPS) dan Agreement on Technical Barrier on Trade (TBT oleh WTO) juga mempengaruhi keadaan perdagangan ikan tuna Indonesia di pasar internasional (Cahya, 2010). Keadaan pemanfaatan yang tidak besar dan sumberdaya yang melimpah membuat negara-negara lain melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia. Sampai pada September 2001, diduga sebagian besar (+- 70%) dari sekitar 7000 kapal perikanan berbendera Indonesia yang memperoleh izin di perairan ZEE masih dimiliki oleh pihak asing, terutama Thailand, Filipina, RRC, dan Taiwan. Keadaan tersebut menyebabkan kerugian negara yang diperkirakan mencapai US $ 1,362 miliar per tahun dengan rincian (1) Kerugian dari kehilangan devisa US $ 1 miliar (2) Kerugian dari selisih iuran DPKK US $ 22 juta, dan (3) Kerugian dari fee yang harus dibayar sekitar US $ 100 juta (dalam, Prayogo, 2010). Dalam beberapa tahun terakhir ini beberapa negara di dunia tengah mendeklarasikan zona ekonomi yang diperluas untuk laut yang berbatasan dengan pantai mereka, suatu proses yang menimbulkan pertikaian antar pemilik sumberdaya tersebut. sekalipun beberapa negara berusaha untuk menetapkan jenis ikan yang berimigrasi seperti tuna sebagai milik bersama dunia tetapi kebanyakan negara sedang berkembang melihat ikan tersebut yang ada dalam wilayah yuridiksi mereka sebagai milik mereka dan telah memprakarsai perundingan-perundingan dengan pemilik armada perikanan samudera untuk mengeksploitasinya (melalui, Marten, 1983, 311) 2. Solusi Dari permasalahan yang telah dijelaskan diatas, penulis akan menjelaskan solusi yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut. 1. Perindustrian tuna pada umumnya mengandalkan tiga jenis ekspor tuna yaitu tuna segar, tuna beku dan tuna kaleng. Dalam ekspor tuna di Indonesia mereka memberlakukan ekspor tuna segar dan tuna beku karena harganya yang lebih tinggi daripada tuna kaleng, sehingga industri tuna kaleng kembang kempis nasibnya. Selain itu industri tuna nasional tidak memiliki armada kapal penangkapan sendiri sehingga kontinuitas bahan baku tidak terjamin. Selama ini Indonesia hanya mengandalkan kapal-kapal penangkapan milik nelayan yang kualitasnya pun kurang terjamin. Ironis memang jika Indonesia sendiri kekurangan bahan baku dalam penyediaan tuna kaleng. Maka dari itu Direktorat Kelembagaan Dunia Usaha, Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan

Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan mencoba menjembatani dengan mempertemukan pelaku usaha (stakeholder), melalui workshop Revitalisasi Industri Pengolahan Hasil Perikanan, awal September 2004. Sehingga dari workshop tersebut dapat ditemukan solusi dari masalah tersebut (Prayogo, 2010). 2. Masalah Illegal Fishing memang dari dulu tidak ada habisnya. Pemerintah bukannya hanya duduk berpangku tangan melihat masalah yang hanya lewat. Tetapi mereka sudah berusaha memperkuat penganmanannya di laut perbatasan. Tetapi kenapa kita tetap saja kecolongan dengan kapal-kapal penangkapan berbendera asing tersebut? mungkin saja penjagaan perbatasn kelautan Indonesia kurang optimal untuk dilakukan ataupun Indonesia kekurangan kapal-kapal patroli. Indonesia pernah bersengketa juga dengan Jepang dalam daerah penangkapan Ikan di Laut Banda. Sebelum Perang Dunia II, kapal-kapal penangkap tuna Jepang secara berkala menangkap ikan di Laut Banda, Laut Flores, perairan sekitar pulau Timor dan Samudera Indonesia sebelah selatan pulau Jawa (Marten, 1983, 313). Setelah sekian lama Jepang menangkap ikan di perairan Indonesia, akhirnya pada tahun 1957 Indonesia mendeklarasikan prinsip negara kepulauan sebagai dasar atas hak di perairan wilayahnya. Itu artinya Jepang tidak mempunyai hak untuk melaut di wilayah perairan Indonesia lagi. Akhirnya Jepang memprotes deklarasi Indonesia tersebut karena mereka sudah lama terbiasa melaut di perairan Indonesia dan jika mereka tidak memanfaatkan kekayaan Indonesia mereka akan mengalami kelebihan modal dan pengangguran yang besar-besaran. Upaya-upaya oleh kedua negara untuk menyelesaikan pertikaian akhirnya terwujud dalam persetujuan pungutan perikanan pada tahun 1968 antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang (mewakili Federasi Nasional Koperasi Perikanan Tuna Jepang) (Marten, 1983, 314). D. Simpulan Dari pembahasan yang telah dijelaskan oleh penulis diatas, dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut. 1. Kendala perikanan tuna yang utama di Indonesia adalah merosotnya industri pengalengan ikan tuna dan merosotnya volume penangkapan ikan tuna di Indonesia karea mahalnya harga BBM sehingga para nelayan mulai jarang melaut. 2. Wilayah perairan Indonesia masih sering dimanfaatkan oleh kapal-kapal penangkapan ikan berbendera negara asing, sehingga Indonesia mendeklarasikan prinsip negara kepulauan sebagai dasar atas hak di perairan wilayahnya. Daftar Pustaka Prasetyo, Andika Prima. 2010. Perikanan Tuna di Indonesia : Masalah dan Kendala Usaha Perikanan Tuna. http://andikaprima.wordpress.com Diakses tanggal 16-12-2011 pukul 10.57 WIB. Tragistina, Veri Nurhansyah. 2011. Volume Penangkapan Ikan Tuna Terus Menurun.http://intenasional.kontan.co.id Diakses tanggal 16-12-2011 pukul 10.58 WIB. Cahya, Indry Nilam. 2010. Analisis Daya Saing IkanTuna Indonesia di Pasar Internasional. http://repository.ipb.ac.id/H10inc.pdf Diakses tanggal 19-12-2011 pukul 19.45 WIB. Prayogo, Agga Wibowo. 2010. Industri Tuna. http://www.scribd.com Diakses tanggal 25-122011 pukul 20.05 WIB. Marten, Gerald G dkk. 1983. Ekonomi Perikanan. Jakarta:Gramedia. Hal 311-314. Di sadur dari : http://hildaniyulia.blogspot.com/2012/10/permasalahan-dan-kendalapemanfaatan.html