Anda di halaman 1dari 5

A. DASAR TEORI SGPT 1.

Hati Hati adalah organ yang paling besar di dalam tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya 1 kg. Letaknya dibagian atas dalam rongga abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Hati terbagi atas dua lapisan utama yaitu permukaan atas terbentuk cembung, terletak di bawah diafragma dan permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura transfersus. Fungsi utama hati adalah mengubah zat buangan dan bahan racun untuk disekresi dalam empedu dan urin, membersihkan darah sebelum zat-zat toksin tersebut mencapai organ tubuh yang peka misalnya otak fungsi, hal ini disebut detoksikasi (Syaifudin, 1999). Hati mempunyai multi fungsi yang berkaitan dengan metabolisme maka gangguan faal hati dapat disebabkan oleh kelainan prahepatik, intra hepatik dan post-hepatik. Kelainan prehepatik misalnya pada anemi hemolitik, kelainan intrahepatik atau hepatoseluler misalnya pada hepatitis, cirrhosis dan karsinoma hepatis. Sedangkan kelainan post hepatik karena adanya tumor ( Hardjono, 2003 ). Gangguan faal hati dapat diketahui, salah satunya dengan menentukan kadar SGPT. SGPT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan SGPT terjadi bila ada kerusakan pada selaput hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada SGPT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat,

penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu. Pada hepatitis virus yang akut bisa disebakan oleh berbagai macam virus hepatitis, virus mononukleosis infeksiosa, demam kuning, cacar air, sitomegali, cacar herpes zoster, morbili, dan demam berdarah (Setijowati, 2012).

2. SGPT Aktivitas enzim Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) adalah salah satu parameter laboratorium spesifik untuk mengetahui adanya destruksi hepatoseluler. SGPT merupakan enzim untuk mengevaluasi fungsi hepar, dimana jika terjadi peningkatan kadar-nya menunjukkan adanya kerusakan parenkim hepar akut (Puspa, 2013) SGPT adalah enzim transminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel hati rusak, misalnya pada hepatitis atau sirosis, kadar enzim ini meningkat. Karena itu, SGPT ini bisa memberi gambaran adanya gangguan hati. SGPT, alanin transminase juga merupakan enzim sitosol yang juga ada dalam hati walaupun jumlah absolute kurang dari SGOT. Namun bagian lebih besar berada di dalam hati dibanding dengan otot rangka dan jantung, sehingga peningkatan serum ini lebih spesifik untuk kerusakan hati dari pada SGOT (Sherlock, 1995). Transminase merupakan enzim yang bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugus alpha amino alanin untuk menjadi glutamate dan asam piruvat. Enzim ini didapat pada sel hati dalam kadar yang jauh

lbih tinggi dari pada dalam sel-sel jantung dan otot, untuk keperluan dalam klinik test SGPT lebih peka bagi pemeriksaan dengan dugaan kerusakan hati akut. Pemeriksaan SGPT mempunya nilai diagnostik yang baik dalam menentukan kemungkinan dari kerusakan sel hati (Wattimena, 1985) 3. Tes SGPT Secara umum, prinsip kerja dari tes SGPT ini adalah Alanine aminotransferase (ALT) mengkatalis transiminasi dari Lalanine dan alpha-katoglutarate membentuk l glutamate dan pyruvate, pyruvate yang terbentuk di reduksi menjadi laktat oleh enzym laktat dehidrogenase (LDH) dan nicotinamide adenine dinucleotide (NADH) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya NADH yang teroksidasi hasil penurunan serapan (absobance) berbanding langsung dengan aktivitas ALT dan diukur secara fotometrik dengan panjang gelombang 340 nm (Sarah, 2008). Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. Kadar ALT serum dapat lebih tinggi sebelum ikretik terjadi. Pada ikretik dan ALT serum>300 unit, penyebab yang paling mungkin karena gangguan hepar dan tidak gangguan hemolitik (Joyce, 1997). Umumnya nilai rujukan data klinis pada kadar SGPT adalah

a.

Dewasa: 5-35 U/mL (Frankel), 5-25 mU/mL (Wrobleweski), 8-50 U/mL pada suhu 30 0C (Karmen), 4-35 U/L pada suhu 370S (unit S1)

b. Anak; bayi : dapat dua kali tinggi orang dewasa; Anak: sama dengan dewasa. c. Lansia: agak lebih tinggi dari dewasa (Joyce, 1997) Kadar ALT/SGPT seringkali dibandingkan dengan AST/SGOT untuk tujuan diagnostik. ALT meningkat lebih khas daripada AST pada kasus nekrosis hati dan hepatitis akut, sedangkan AST meningkat lebih khas pada nekrosis miokardium (infark miokardium akut), sirosis, kanker hati, hepatitis kronis dan kongesti hati (Akatsuki, 2009).

4. Perbedaan SGPT dan SGOT ALT dianggap lebih spesifik untuk kerusakan hati karena hadir terutama dalam sitosol hati dan dalam konsentrasi rendah di tempat lain. AST memiliki bentuk sitosol dan mitokondria dan hadir di jaringan hati, jantung, otot rangka, ginjal, otak, pankreas, dan paru-paru, dan sel darah putih dan merah. AST kurang umum disebut sebagai oksaloasetat transaminase serum glutamic dan ALT piruvat transaminase sebagai serum glutamat. Meskipun tingkat ALT dan AST bisa sangat tinggi (melebihi 2.000 U per L dalam kasus cedera dan nekrosis hepatosit yang berhubungan dengan obat-obatan, racun, iskemia, dan hepatitis), ketinggian kurang dari lima kali batas atas normal (yaitu, sekitar 250 U per

L dan bawah) jauh lebih umum dalam kedokteran perawatan primer. Kisaran etiologi yang mungkin pada tingkat elevasi transaminase lebih luas dan tes kurang spesifik. Hal ini juga penting untuk mengingat bahwa pasien dengan ALT normal dan tingkat SGOT dapat mempunyai penyakit hati yang signifikan dalam pengaturan cedera hepatosit kronis (misalnya, sirosis, hepatitis C) ( Pault, 2005). 5. Masalah klinis SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase). Peningkatan paling tinggi : Hepatitis (virus) akut, hepatoksisitas yang menyebabkan nekrosis hepar (toksisitas obat atau kimia); agak atau meningkat sedang : sirosis, kanker hepar, gagal jantung kongesif, intoksisitas alkohol akut; peningkatan marginal : infrak miokard akut (IMA). Antibiotik, narkotik, metildopa (Aldomet), guanetidin, sediaan digitalis, indometasin (Indocin), salisilat, rifampisin, flurazepam (Dalamane), propanolol (Inderal), kontrasepsi oral, timah, heparin (Joyce, 1997).