Anda di halaman 1dari 119

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN BENZENA


PADA KARYAWAN DI SPBU X PANCORANMAS DEPOK
TAHUN 2011







SKRIPSI







RENDY NOOR SALIM
0906617145










FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
DEPARTEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DEPOK
JANUARI 2012
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012

UNIVERSITAS INDONESIA


ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN BENZENA
PADA KARYAWAN DI SPBU X PANCORANMAS DEPOK
TAHUN 2011






SKRIPSI
Diajukan sebagai selah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Kesehatan Masyarakat








RENDY NOOR SALIM
0906617145








FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
DEPARTEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DEPOK
JANUARI 2012
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
ii Universitas Indonesia


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
iii Universitas Indonesia

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
iv Universitas Indonesia

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
iii
KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul
Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Terhadap Karyawan di SPBU X
Pancoranmas Depok. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat jurusan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini,
sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Ibu Dr. Robiana Modjo, SKM., M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan skripsi ini;
(2) Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dukungan
material dan moral;
(3) Bapak Doni Hikmat Ramdhan, SKM., M.Kes, selaku penguji 1 yang telah
bersedia untuk berkenan hadir, memberikan kritik, masukan dan saran
terhadap perbaikan dalam penulisan skripsi ini;
(4) Mba Yuni Kusminanti, SKM, M.Si, selaku penguji 2 yang telah bersedia
untuk berkenan hadir, memberikan kritik, masukan dan saran terhadap
perbaikan dalam penulisan skripsi ini;
(5) Bapak Didi, selaku manajer SPBU X Pancoramas Depok yang telah
bersedia menyediakan waktu dan tempat untuk melakukan penelitan ini.
(6) Sdra. Ferdian, sdri. Selfi, sdri. Aulia, sdri. Citra dan teman-teman
seperjuangan K3 Ekstensi 2009 yang telah memberikan tenaga, pikiran, dan
doa agar skripsi ini berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa
manfaat bagi pengembangan ilmu.


Depok, Januari 2012


Rendy
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
vii Universitas Indonesia

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama : Rendy Noor Salim
NPM : 0906617145
Tempat Tanggal Lahir: Depok, 15 Desember 1988
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Mujair 9 No. 22 RT 01 RW 09 Pancoranmas Depok
Jawa Barat, 16432
No. Telepon : (021) 7774877/085694651361
Email : raind_kid@yahoo.com, rendy.salim99@gmail.com


Riwayat Pendidikan
2009 2012 : Program Sarjana Ekstensi Kesehatan Masyarakat
Indonesia, Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2006 2009 : Program Diploma Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Peminatan Rehabilitasi Medik (Fisioterapi)
2003 2006 : SMAN 5 Depok
2000 2003 : SLTPN 2 Depok
1994 2000 : SDN Depok Baru 3
1992 1994 : TK Taman Indria

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
v
ABSTRAK

Nama : Rendy Noor Salim
Program Studi : Sarjana
Judul : Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Karyawan
SPBU X Pancoranmas Depok Tahun 2011


Sejak penggunaan benzena, ditemukan juga dampak kesehatan akibat pemajanan
dengan bahan kimia ini. Petugas operator pada pengisian BBM adalah salah satu
populasi pekerja yang memiliki tingkat resiko pajanan benzena yang tinggi,
terutama melalui jalur inhalasi dalam waktu pajanan yang kontinyu. Metode yang
digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan, yaitu menghitung besar
risiko individu dan populasi.

Pada estimasi risiko individu, seluruh karyawan belum berisiko efek
nonkarsinogenik, tetapi pada pajanan 3 tahun terdapat 1 karyawan yang berisiko
efek kanker dan pada pajanan lifetime seluruh karyawan berisiko efek kanker.
Seluruh populasi karyawan belum berisiko efek nonkarsinogenik pada semua
durasi pajanan. Populasi operator pompa BBM berisiko efek karsinogenik pada
durasi pajanan lifetime. Populasi karyawan bagian administrasi belum berisiko
efek karsinogenik pada semua durasi pajanan. Disarankan bekerja tidak lebih dari
3 tahun, bekerja selama maksimal 6 jam/hari atau penggunaan APD yang tepat
agar terlindung dari risiko kanker.

Kata kunci:
Benzena, Analisis Risiko Kesehatan, Karyawan SPBU, Besar Risiko
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
vi
ABSTRACT


Name : Rendy Noor Salim
Study Program: Bachelor of Degree
Title : Health Risk Analysis of Benzene Exposure at Employees In Gas
Station X Pancoranmas Depok 2011



Since the use of benzene, was also found health effects due to exposure to these
chemicals. Operators in charge of fuel is one of the working population who have
high levels of benzene exposure is high risk, mainly through the inhalation
pathway of exposure is continuous in time. The method used is the analysis of
environmental health risks, namely large calculating individual and population
risk.

In the individual risk estimates, the employee has not at risk noncarsinogenic
effect, but at 3 years of exposure there is an employee at risk of cancer and the
effects on lifetime exposure to all employees at risk of cancer effects. The entire
population of non-employee has not at risk of carcinogenic effects in all the
duration of exposure. The population at risk of fuel pump operators carcinogenic
effect on the duration of lifetime exposure. Populations at risk yet the
administrative staff of a carcinogenic effect on all the duration of exposure.
Advised to work no more than 3 years, working for a maximum of 6 hours / day
or the use of appropriate PPE to protect them from the risk of cancer.

Keywords:
Benzene, Health Risk Analysis, Gas Station Employees, Risks.

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH.. iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.. v
ABSTRAK. vi
DAFTAR ISI. vii
DAFTAR TABEL.. viii
DAFTAR GAMBAR.. ix
DAFTAR BAGAN. x
DAFTAR LAMPIRAN.. xi
1. PENDAHULUAN. 1
1.1. Latar Belakang.. 1
1.2. Rumusan Masalah. 3
1.3. Pertanyaan Penelitian 4
1.4. Tujuan Penelitian.. 4
1.5. Manfaat Penelitian 4
1.6. Ruang Lingkup Penelitian 5

2. TINJAUAN PUSTAKA.. . 6
2.1. Tinjauan Pustaka Tentang Benzena.. 6
2.1.1. Karakteristik Fisika dan Kimia Benzena. 6
2.1.2. Sejarah dan Pemanfaatan Benzena.. 7
2.1.3. Sumber Pajanan Benzena 9
2.1.4. Toksisitas Benzena 10
2.1.5. Toksikokinetik Benzena... 12
2.1.5.1. Absorpsi Benzena. 12
2.1.5.2. Distribusi Benzena 13
2.1.5.3. Metabolisme Benzena. 13
2.1.5.4. Ekskresi Benzena. 14
2.1.6. Efek Benzena Terhadap Kesehatan.. 15
2.1.6.1. Efek Pajanan Akut Benzena 15
2.1.6.2. Efek Pajanan Kronis Benzena 16
2.1.7. Tanda dan Gejala Pajanan Benzena... 18
2.1.7.1. Pajanan Akut.. 18
2.1.7.2. Pajanan Kronis 18
2.1.8. Ambang Batas Pajanan Benzena. 19
2.1.9. Pengukuran dan Monitoring Benzena di Lingkungan. 20
2.1.10. Alat Pelindung Diri.. 21
2.1.11. Biomarker. 23
2.2. Analisis Risiko dan Penilaian Risiko 24
2.2.1. Identifikasi Bahaya.. 26
2.2.2. Analisis Pemajanan. 26
2.2.3. Analisis Dosis-Respon. 28
2.2.4. Karakteristik Risiko. 29
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012

2.3. Manajemen Risiko.... 31
2.4. Komunikasi Risiko... 31

3. KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, dan
DEFINISI OPERASIONAL 33
3.1. Kerangka Teori 33
3.2. Kerangka Konsep. 35
3.3. Definisi Operasional. 36

4. METODOLOGI PENELITIAN. 41
4.1. Jenis dan Desain Penelitian.. 41
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 41
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian... 41
4.3.1. Populasi Penelitian. 41
4.3.2. Sampel Penelitian.. 42
4.4. Jenis Data Penelitian 42
4.5. Bahan dan Cara Kerja.. 42
4.5.1. Prosedur Pengambilan Sampel Benzena di Udara.. 42
4.5.2. Bahan dan Metode Analisis Benzena Dalam Sampel
Udara. 42
4.6. Pengolahan Data. 43
4.7. Analisis Data 43
4.7.1. Perhitungan Risiko Nonkarsinogenik. 43
4.7.2. Perhitungan Risiko Karsinogenik... 44

5. HASIL PENELITIAN. 46
5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 46
5.2. Pola Pajanan. 46
5.2.1. Konsentrasi Benzena di Udara.... 46
5.2.2. Waktu Pajanan (t
E
)..... 48
5.2.3. Frekuensi Pajanan (f
E
).... 48
5.2.4. Durasi Pajanan (D
t
). 49
5.3. Antropometri Pekerja... 50
5.3.1. Berat Badan Karyawan (Wb).. 50
5.3.2. Inhalation Rate (R). 52
5.3.3. Status Merokok Karyawan.. 53
5.4. Keluhan Kesehatan 54
5.5. Analisis Dosis-Respon.. 54
5.5.1. Analisis Dosis-Respon Risiko Nonkanker Pajanan
Benzena 54
5.5.2. Analisis Dosis-Respon Risiko Kanker Pajanan
Benzena.... 55
5.6. Analisis Pemajanan. 56
5.7. Karakteristik Risiko 61
5.8. Estimasi Risiko Kesehatan Populasi Karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok Terhadap Pajanan Benzena.. 66
5.8.1. Estimasi Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Populasi
Karyawan Operator Pompa BBM. 67
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012

5.8.2. Estimasi Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Populasi
Karyawan Bagian Administrasi 70
5.9. Manajemen Risiko.. 72

6. PEMBAHASAN. 76
6.1. Keterbatasan Penelitian.. 76
6.2. Sumber Pajanan Benzena di SPBU X Pancoranmas Depok. 76
6.3. Disribusi Variabel-variabel Pola Pajanan dan
Antropometri Pekerja. 77
6.3.1. Konsentrasi Pajanan Benzena di Udara 77
6.3.2. Berat Badan Karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok.... 78
6.3.3. Lama Bekerja Karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok.... 79
6.4. Keluhan Kesehatan. 79
6.5. Analisis Pemajanan 79
6.6. Karakteristik Risiko... 80
6.7. Estimasi Risiko Kesehatan Populasi Karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok Terhadap Pajanan Benzena.. 82
6.8. Manajemen Risiko. 82

7. SIMPULAN dan SARAN.. 85
7.1. Simpulan 85
7.2. Saran.. 85

DAFTAR PUSTAKA.. 87
LAMPIRAN










Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
viii
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1. Distribusi konsentrasi

benzena di udara SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011. 47
Tabel 5.2. Distribusi pola pajanan benzena di udara terhadap
karyawan SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011.. 50
Tabel 5.3. Distribusi berat badan (W
b)
karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011 51
Tabel 5.4. Distribusi nilai inhalation rate (R) terhadap pajanan
benzena di udara pada karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok tahun 2011 52
Tabel 5.5. Distribusi status merokok pada karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011.. 53
Tabel 5.6. Distribusi nilai intake (asupan) efek nonkarsinogenik
berdasarkan pajanan benzena realtime, 3 tahun, dan
lifetime pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
tahun 2011. 58
Tabel 5.7. Distribusi nilai Intake (asupan) efek karsinogenik
berdasarkan pajanan benzena realtime, 3 tahun, dan
lifetime pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
tahun 2011. 60
Tabel 5.8. Distribusi nilai Risk Quotient (RQ) berdasarkan pajanan
benzena selama realtime, 3 tahun, dan lifetime pada
karyawan SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011. 62
Tabel 5.9. Persentase nilai Risk Quotient (RQ) pajanan benzena
selama realtime, 3 tahun, dan lifetime berdasarkan
perhitungan individu pada karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011 63
Tabel 5.10. Distribusi nilai Excess Cancer Risk (ECR) pajanan benzena
selama realtime, 3 tahun, dan lifetime berdasarkan
perhitungan individu pada karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011 65
Tabel 5.11. Persentase nilai Excess Cancer Risk (ECR) pajanan
benzena selama realtime, 3 tahun, dan lifetime
berdasarkan perhitungan individu pada karyawan
SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011... 66
Tabel 5.12. Data hasil perhitungan pilihan pengendalian risiko
efek non kanker terhadap pajanan benzena yang aman
pada populasi karyawan operator pompa BBM
SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011 75

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Struktur Kimia Benzena. 6
Gambar 2.2. Bahan kimia dan polimer yang dihasilkan dari
reaksi benzena 10
Gambar 2.3. Jalur Metabolisme Benzena Dalam Tubuh 14
Gambar 2.4. Langkah-langkah analisis risiko, manajemen
risiko, dan komunikasi risiko. 25

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
x
DAFTAR BAGAN


Bagan 3.1. Kerangka Teori 34
Bagan 3.2. Kerangka Konsep. 35

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat Izin Penelitian

Lampiran 2: Titik Sampling Area

Lampiran 3: Hasil Analisis Laboratorium

Lampiran 4: Hasil Analisis Laboratorium (lanjutan)

Lampiran 5: Hasil Analisis Laboratorium (lanjutan)

Lampiran 6: Kuesioner

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
1

Universitas Indonesia
BAB 1
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Kendaraan merupakan suatu alat transportasi yang sangat dibutuhkan oleh
manusia, tanpanya mungkin aktivitas manusia tidak akan berjalan dengan lancar.
Kendaraan, baik kendaraan darat, udara ataupun laut pastinya memerlukan bahan
bakar minyak (BBM) untuk menghidupkan kendaraan. Hasil pembakaran yang
tidak sempurna dari kendaraan-kendaraan tersebut dapat berupa zat-zat kimia
yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Salah satu zat kimia yang terdapat dalam
bensin adalah benzena. Benzena secara luas digunakan di Amerika Serikat dan
berada di daftar 20 bahan kimia terbesar yang diproduksi. Sumber benzena di
udara ambien meliputi asap rokok, pembakaran dan penguapan bensin yang
mengandung benzena (lebih dari 5%), industri petrokimia, serta proses
pembakaran. Rata-rata konsentrasi benzena di udara perkotaan dan pedesaan
adalah sekitar 1 g/m sampai 5-20 g/m. Konsentrasi lebih tinggi benzena di
dalam dan luar ruangan akan ditemukan di sekitar sumber emisi seperti Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) (WHO-Europe, 2000).
Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Register (ATSDR),
bahan kimia berbahaya dan beracun yang terdapat di dalam kandungan minyak
yaitu benzena, toluene, xylene, ethylene, TPH (Total Petroleum Hydrocarbon),
Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAHs). Dari keenam bahan kimia tersebut
pajanan benzena yang berdampak sangat serius bagi kesehatan. Benzena pertama
kali digunakan secara luas di industri ban mobil, tidak lama sebelum Perang
Dunia I dimulai. Benzena dihasilkan dari penyulingan batubara, yang kemudian
digunakan diberbagai industri seperti industri perminyakan dan industri
pertambangan dan energy lainnya (Wahju, 1997).
Sejak penggunaan benzena, ditemukan juga dampak kesehatan akibat
pemajanan dengan bahan kimia ini. Benzena apabila terinhalasi, dapat
menyebabkan anemia aplastik dan leukemia. Hasil penelitian yang dilakukan di
Eropa, Amerika, dan Meksiko telah menunjukkan adanya hubungan yang nyata
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
2

Universitas Indonesia
antara peningkatan kadar benzena di udara dengan peningkatan kasus kanker dan
leukemia penduduk setempat (Haryanto, 2006 dalam Jurnal UI Untuk Bangsa Seri
Kesehatan, Sains, dan Teknologi, 2010). Dalam penelitian lainnya di Amerika
Serikat, telah terbukti bahwa menghirup benzena walaupun dalam ambang batas
dapat menyebabkan abnormalitas kromosom pada sel sperma (Xing, et al., 2010
dalam Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi, 2010).
Pada tahun 1975 hingga 2002 telah terjadi kenaikan insiden leukemia tipe
Acute Lymphocytic Leukemia (ALL) pada anak-anak di Amerika Serikat. Namun,
saat ini angka insiden ALL pada anak-anak di Amerika Serikat telah stabil di
angka 3-4/100.000 anak yang berusia di bawah lima belas tahun dengan jumlah
kasus tertinggi pada anak berusia 2-5 tahun (Greenlee et al., 2000; Margolin et al.,
2001 dalam Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi, 2010).
Di kawasan Eropa, pada tahun 2000, insiden leukemia mencapai angka 46,7
kasus/1.000.000 anak/tahun. Hal ini berarti kasus leukemia di Eropa telah
mengalami kenaikan sejak tahun 1970-1999 sebesar 0,7% per tahun (WHO
Europe, 2009:1 dalam Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan
Teknologi, 2010). Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih menempati
urutan teratas dengan angka kematian akibat leukemia sebesar 9,6/1000 penduduk
jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia (0,9/1000
penduduk), Singapura (0,1/1000 penduduk), Thailand (2,3/1000 penduduk),
Filipina (2,4/1000 penduduk), dan Brunei Darussalam (0/1000 penduduk) pada
tahun 2002 (WHO, 2004 dalam Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains,
dan Teknologi, 2010).
Karyawan SPBU, khususnya petugas operator pada pengisian BBM
(filling point) adalah salah satu populasi pekerja yang memiliki tingkat risiko
pajanan benzena yang tinggi, terutama melalui jalur inhalasi dalam waktu pajanan
yang kontinyu. Egeghy et. al. (2000) menyebutkan bahwa, pembeli BBM secara
swalayan terpajan benzena yang terdiri atas emisi dari proses pembakaran bahan
bakar, dari tanki penyimpanan bawah tanah, tumpahan BBM, dan dari
perpindahan uap dari tangki bahan bakar. Dari jumlah tersebut, perpindahan uap
bahan bakar dianggap sebagai proses yang paling bertanggung jawab atas
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
3

Universitas Indonesia
sebagian besar pajanan benzena. ATSDR (2007) mengestimasikan bahwa rata-rata
pajanan benzena terhadap pekerja pada area SPBU adalah sebesar 0,12 ppm.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) merupakan
prasarana umum yang disediakan oleh PT. Pertamina untuk masyarakat luas guna
memenuhi kebutuhan bahan bakar. Pada umumnya SPBU menjual bahan bakar
sejenis premium, solar, pertamax dan pertamax plus (PT Pertamina, 2009). Bahan
bakar minyak adalah campuran lebih dari 500 senyawa hydrocarbon yang mudah
menguap, dan benzena adalah senyawa hydrocarbon yang menjadi perhatian
utama dalam penelitian yang menjelaskan gangguan kesehatan akibat pajanan
bensin (Keenan et al, 2009 dalam Zuliawan, 2010). Populasi pekerja yang bekerja
pada industri yang memproduksi atau menggunakan benzena dapat terpajan
dengan tingkat pajanan tertinggi (NIOSH, 2005). ATSDR (2007) menyebutkan
bahwa rute pajanan utama terjadi melalui inhalasi, walaupun pada pajanan secara
dermal (kontak dengan kulit) dan oral juga mungkin dapat terjadi. Oleh karena itu,
pada penelitian ini penulis memilih analisis risiko pajanan benzena akibat pajanan
inhalasi.

1.2. Rumusan Masalah
Efek pajanan akut terhadap benzena dengan kadar tinggi (terhadap
syaraf/neurological, kulit/dermal, pernapasan/respiratory, dan
pencernaan/gastrointestinal) dapat terjadi langsung setelah pajanan (ATSDR,
2007). Kemudian pajanan benzena konsentrasi tinggi (minimal 200 ppm) yang
terus berulang dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat permanen.
Pajanan kronis benzena di tempat kerja dihubungkan dengan gangguan
hematologik (seperti thrombocytopenia, anemia aplastik, pansitopenia, dan
leukemia akut) (ATSDR, 2007). ATSDR (2007) juga mengestimasikan bahwa
rata-rata pajanan benzena terhadap pekerja pada area SPBU adalah sebesar 0,12
ppm.
Egeghy et. al. (2000) menyebutkan bahwa, pembeli BBM secara swalayan
terpajan benzena yang terdiri atas emisi dari proses pembakaran bahan bakar, dari
tanki penyimpanan bawah tanah, tumpahan BBM, dan dari perpindahan uap dari
tangki bahan bakar. Bahan bakar minyak adalah campuran lebih dari 500 senyawa
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
4

Universitas Indonesia
hydrocarbon yang mudah menguap, dan benzena adalah senyawa hydrocarbon
yang menjadi perhatian utama dalam penelitian yang menjelaskan gangguan
kesehatan akibat pajanan bensin. Dari beberapa hal tersebut, membuat penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang risiko kesehatan pajanan benzena di
udara terhadap karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok.

1.3. Pertanyaan Penelitian
Seberapa besar tingkat risiko kesehatan pajanan benzena terhadap
karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok.

1.4. Tujuan
1.4.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menjelaskan
tingkat risiko pajanan benzena terhadap kesehatan (nonkarsinogenik dan
karsinogenik) karyawan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU)
X Pancoranmas Depok.

1.4.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pelaksanaan penelitian ini untuk:
1) Menjelaskan sumber pajanan benzena di area Stasiun Pengisian Bahan
Bakar untuk Umum (SPBU) X Pancoranmas Depok
2) Menjelaskan intake pajanan benzena pada karyawan di area Stasiun
Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) X Pancoranmas Depok
3) Menjelaskan tingkat risiko pajanan benzena terhadap kesehatan
(nonkarsinogenik dan karsinogenik) karyawan di area Stasiun Pengisian
Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) X Pancoranmas Depok

1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini meliputi:
1) Bagi perusahaan, hasil penelitian ini sebagai bahan informasi untuk
mengetahui tingkat risiko pajanan benzena terhadap kesehatan
(nonkarsinogenik dan karsinogenik) pada para karyawan di area Stasiun
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
5

Universitas Indonesia
Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) X Pancoranmas Depok,
sehingga perusahaan dapat merencanakan tindakan pencegahan penyakit
akibat kerja yang lebih baik di masa datang.
2) Bagi institusi pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan dan menjadi
bahan acuan dalam mengembangkan penelitian yang lebih mendalam
mengenai penilaian risiko kesehatan.
3) Bagi mahasiswa, hasil penelitian ini diharapkan sebagai sarana bagi
seluruh mahasiswa K3 dalam menerapkan ilmu K3 khususnya mengenai
penilaian risiko kesehatan.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Jenis penelitian ini dilaksanakan untuk meminimalisasi risiko kesehatan
pajanan benzena di udara dengan melakukan penilaian risiko secara menyeluruh
dan sistematik, karena di area Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum
(SPBU) memiliki potensi risiko kesehatan yang cukup tinggi. Subjek dari
penelitian ini ialah karyawan yang bekerja di SPBU X Pancoranmas Depok.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2011. Tempat penelitian adalah di
SPBU X Pancoranmas Depok.
Data mengenai konsentrasi benzena di udara didapatkan dengan
melakukan pengukuran langsung menggunakan Coconut shell charcoal dan
dianalisis dengan Gas Chromatography (GC). Kemudian untuk mendapatkan nilai
intake/asupan benzena, perhitungan berdasarkan konsentrasi benzena di udara,
frekuensi pajanan, lama pajanan, inhalation rate, dan berat badan, peneliti
menggunakan kuesioner dan untuk berat badan diukur langsung menggunakan
timbangan berat badan.


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
6

Universitas Indonesia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tinjauan Pustaka Tentang Benzena
2.1.1. Karakteristik Fisika dan Kimia Benzena (ATSDR, 2007; IRIS, 2002)
Rumus Kimia : C
6
H
6

Nama IUPAC : Benzena
Nama Lain : Benzol, Sikloheksa-1,3,5-triena
Struktur Kimia:

Gambar 2.1. Struktur Kimia Benzena
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Benzena_Representations.svg)

Nomor CAS : 71-43-2
Sinonim : Annulene, benzena (Dutch), benzena (Polish), benzol,
benzole; benzolo (Italian), coal naphtha, cyclohexatriene,
fenzen (Czech), phene, phenyl hydride, pyrobenzol,
pyrobenzole
Berat Molekul : 78.11 g/mol
Bentuk Fisik : Cairan tidak berwarna
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
7

Universitas Indonesia
Kerapatan : 0.8787 g/cm
3
(15
0
C)
Titik Leleh : 5.5
0
C, 279 K, 42
0
F
Titik Didih : 80.1
0
C
Kelarutan dalam air : 0.8 g/L (15
0
C), 1.75 g/L pada 25
0
C
Viskositas : 0.652 Cp PADA 20
0
C
Batas ambang bau : 1.5 ppm (5 mg/m
3
)
Tekanan uap : 95.2 mmHg pada 25
0
C, 75 mmHg pada 20
0
C
Faktor konversi : 1 ppm = 3.24 mg/m
3
pada 20
0
C ; 1 mg/m
3
= 0.31 ppm ; 1
mg/L = 313 ppm

2.1.2. Sejarah dan Pemanfaatan Benzena
Benzena ditemukan pada tahun 1985 oleh seorang ilmuwan Inggris
bernama Michael Faraday, ia mengisolasikannya dari gas minyak dan
menamakannya bikarburet dari hidrogen. Lalu pada tahun 1833, kimiawan
Jerman, Eilhard Mitscherlich menghasilkan benzena melalui distilasi asam
benzoate (dari benzoin karet/gum benzoin) dan kapur. Mitscherlich memberinya
nama benzin. Pada tahun 1845, kimiawan Inggris, Charles Mansfield, yang sedang
bekerja di bawah August Wilhelm von Hofmann, mengisolasikan benzena dari tir
(coal tar). Empat tahun kemudian, Mansfield memulai produksi benzena berskala
besar pertama menggunakan metode tir tersebut.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Benzena)
Benzena adalah senyawa kimia organik, tidak berwarna, dan mudah
terbakar dengan bau yang manis. Dalam pemanfaatannya, benzena merupakan
salah satu komponen dalam bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam
dunia industri. Benzena juga sebagai bahan dasar dalam produksi obat-obatan,
plastik, bensin, karet buatan, dan pewarna. Selain itu, benzena adalah kandungan
alami dalam minyak bumi, namun biasanya diperoleh dari senyawa lainnya yang
terdapat dalam minyak bumi (http://en.wikipedia.org/wiki/Benzena).
Benzena pertama kali diproduksi secara komersial dari coal tar pada tahun
1849 dan dari minyak pada tahun 1941. Setelah Perang Dunia II, kebutuhan
benzena bagi industri sangat besar, terutama untuk kebutuhan industri plastik,
sehingga benzena kemudian diproduksi secara besar-besaran dari industri minyak
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
8

Universitas Indonesia
bumi. Terdapat empat proses skimia dalam produksi benzena, yaitu cataliyc
reforming, toluene hydrodealkylation, toluene disproportionation, dan steam
cracking (ATSDR, 2007).
Benzena merupakan salah satu senyawa kimia yang paling banyak
digunakan dalam industri di dunia. Di Amerika Serikat, benzena merupakan
peringkat teratas dari 20 zat kimia terbanyak yang diproduksi. Benzena digunakan
secara luas sebagai pelarut dan industri obat sebagai bahan baku atau bahan
intermediet dalam pembuatan banyak senyawa kimia, juga sebagai zat adiktif
pada bensin. Penggunaan utama benzena adalah untuk produksi etilbenzena,
cumene, dan sikloheksan. Etil benzena (penggunaan 55% benzena yang
diproduksi) adalah senyawa intermediet untuk pembentukan stirena, dimana
digunakan untuk pembentukan plastic. Cumene (24%) digunakan untuk
memproduksi fenol dan aseton. Fenol digunakan untuk membuat resin dan nylon
sebagai serat sintetik, sedangkan aseton digunakan sebagai pelarut dan industri
obat. Sikloheksan (12%) digunakan untuk membuat nylon. Benzena juga
merupakan salah satu komponen dalam bensin tanpa timbal untuk meningkatkan
nilai oktan bensin, oleh karena itulah polusi udara yang disebabkan senyawa
aromatic seperti benzena dalam bensin tanpa timbal meningkat (ATSDR, 2007).
US-EPA telah mengklasifikasikan benzena sebagai polutan udara
berbahaya dan limbah berbahaya (US-EPA 1977, 1981). Selain itu, ada bukti yang
cukup untuk mendukung dalam pengklasifikasian benzena sebagai karsinogen
manusia (Grup A) (IRIS, 2007). Oleh karena pengklasifikasian oleh US-EPA ini,
di masa sekarang penggunaan benzena sebagai pelarut semakin dibatasi, tetapi
diganti oleh pelarut organik lain. Tetapi karena benzena masih tetap terdapat
dalam pelarut organik pengganti ini sebagai impurities (pengotor), maka manusia
masih dapat terpajan oleh benzena di lingkungan kerja. Benzena juga digunakan
dalam industri pembuatan sepatu dan industri percetakan (ATSDR, 2007).
Sebagai zat aditif pada bensin, benzena dapat meningkatkan nilai oktan.
Konsekuensinya yaitu bensin mengandung benzena beberapa persen, ketika pada
tahun 1050-an diganti oleh Tetraetil timbal sebagai zat anti ketuk. Tetapi karena
timbal (Pb) juga merupakan zat berbahaya, maka benzena kembali digunakan
sebagai aditif pada bensin di beberapa negara.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
9

Universitas Indonesia
Dalam penelitian laboratorium, toluene sekarang sering digunakan sebagai
pengganti untuk benzena. Kedua pelarut (benzena dan toluene) ini mempunyai
sifat yang mirip, tetapi toluene kurang toksik dibandingkan benzena. Gambar 2.2
memperlihatkan tentang penggunaan bahan dasar benzena pada masa kini yang
sebagian besar untuk membuat bahan kimia lain dimana hasil aakhirnya berupa
polistirena (plastik), polikarbonat, resin, dan nilon (serat sintesik)
(http://en.wikipedia.org/wiki/Benzena#Uses).

2.1.3. Sumber Pajanan Benzena
Benzena dapat ditemukan dari sumber-sumber alami, seperti gunung
merapi dan kebakaran hutan, minyak mentah, dan BBM. Sebagian besar sumber
pajanan benzena adalah berasal dari asap rokok, bengkel, pembakaran kendaraan
bermotor dan emisi dari industri. Sumber pajanan yang lain berasal dari uap atau
gas dari produk-produk yang mengandung benzena, seperti lem, cat, lilin pelapis
peralatan rumah tangga dan sabun deterjen. Sekitar 20% dari pajanan berasal dari
knalpot dan emisi dari industri. Di Amerika Serikat, setengah dari sumber pajanan
berasal dari asap rokok. Rata-rata jumlah asupan benzena yang terserap perokok
(32 batang per hari) adalah sekitar 1,8 mg per hari. Jumlah tersebut lebih besar 10
kali lipat dibandingkan dengan rata-rata asupan benzena per hari dari orang yang
tidak merokok.
Konsentrasi lebih tinggi benzena di dalam dan di luar ruangan akan
ditemukan di sekitar sumber emisi seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU) (WHO-Europe, 2000). Sumber utama yang berasal dari proses penguapan
adalah penguapan dari BBM yang mengandung 1-5% Benzena (WHO, 1996).
Pekerja pada industri yang membuat atau menggunakan benzena (petrokimia,
penyulingan minyak bumi, tambang batubara, pabrik ban, penyimpanan dan
distribusi benzena, penyimpanan dan distribusi BBM yang mengandung benzena)
dapat terpajan dengan level tinggi. Pekerja lain yang dapat terpajan benzena
adalah pekerja yang bekerja di tungku batubara pada industri baja, percetakan,
pabrik sepatu, teknisi laboratorium, pemadam kebakaran, dan operator SPBU
(ATSDR, 2007).
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
10

Universitas Indonesia

Gambar 2.2. Bahan kimia dan polimer yang dihasilkan dari reaksi benzena
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Benzena#Uses)

2.1.4. Toksisitas Benzena (ATSDR, 2007)
Apabila terpajan oleh benzena akan berdampak buruk pada kesehatan.
Kandungan benzena di udara dalam kadar yang rendah dapat berasal dari rokok,
bengkel mob, SPBU, poluasi dari kendaraan bermotor dan industry. Uap dari
produk yang mengandung benzena, seperti lem, cat, pembersih furniture, dan
deterjen juga dapat menjadi sumber pajanan. Benzena merupakan zat yang
karsinogenik (zat penyebab kanker) terhadap manusia apabila terpajan. Studi
epidemiologi membuktikan adanya hubungan antara pajanan benzena yang
berasal dari pelarut yang mengandung benzena dengan kejadian acute
myelogenous leukemia (AML). Pengujian secara in vivo dan in vitro pada hewan
dan manusia juga mengindikasikan benzena dan zat metabolitnya bersifat
genotoksik, merubah gen, perubahan kromosom pada limfosit, dan sel sumsum
tulang. Kerusakan pada sistem imun juga terjadi pada pajanan benzena melalui
inhalasi. Hal ini ditunjukkan oleh menurunnya jumlah antibodi dan menurunnya
jumlah leukosit pada pekerja terpajan.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
11

Universitas Indonesia
Efek paling sistemik yang dihasilkan pada pajanan benzena kronis dan
subkronis adalah kegagalan pembentukan sel darah merah. Biomarkes awal untuk
pajanan benzena tingkat rendah adalah berkurangnya jumlah sel darah merah.
Penemuan klinis dalam hematoksisitas benzena adalah cytopenia, yaitu penurunan
unsur-unsur yang terkandung dalam sel darah yang mengakibatkan anemia,
leukopenia, atau thrombocytopenia pada manusia dan hewan percobaan. Benzena
juga dapat menyebabkan kerusakan dalam tubuh yang sangat berbahaya yang
disebut anemia aplastik, dimana tubuh tidak berhasil membentuk sel darah merah
karena rusaknya sumsum tulang yang memproduksi sel darah. Anemia aplastik ini
merupakan indikasi awal terjadinya acute non-limphocytic leukemia (leukemia
non-limfosit akut).
Pajanan benzena dengan kadar tinggi melalui inhalasi (jalur pernapasan)
dapat menyebabkan kematian, sementara pajanan kronis dosis rendah dapat
menyebabkan pusing, detak jantung cepat, kepala pusing, tremor, kebingungan
dan tidak fokus. Apabila termakan atau terminum bahan dengan kandungan
benzena tinggi dapat menyebabkan batuk, serak, dan rasa terbakar di mulut.
Faring dam kerongkongan, iritasi pada lambung, rasa mengantuk berlebihan, dan
akhirnya kematian. Efek neurologis telah dilaporkan pada manusia yang terpajan
benzena berkadar tinggi. Pajanan fatal melalui inhalasi menyebabkan terjadinya
vascular congestion di otak. Pajanan inhalasi kronis dapat menyebabkan
terjadinya distal neuropathy, susah tidur, dan kehilangan memori. Pajanan melalui
oral mempunyai efek yang sama dengan pajanan melalui inhalasi. Studi pada
hewan menyatakan bahwa pajanan benzena melalui inhalasi menyebabkan
berkurangnya aktivitas listrik di otak, kehilangan refleks, dan tremor. Pajanan
benzena melalui kulit tidak menyebabkan kerusakan pada saraf. Pajanan akut
melalui oral dan inhalasi dengan kadar benzena tinggi dapat menyebabkan
kematian, pajanan tersebut yang berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat
(SSP). Pajanan kronis pada tingkat rendah berhubungan dengan efek terhadap
sistem saraf perifer.



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
12

Universitas Indonesia
2.1.5. Toksikoninetik Benzena
Pajanan utama benzena terhadap tubuh manusia melalui rute inhalasi
(pernapasan), selain melalui pajanan oral (mulut) dan dermal (kulit) juga dapat
terjadi. Benzena yang terabsorpsi kemudian dengan cepat didistribusikan ke
seluruh tubuh dan cenderung terakumulasi di jaringan lemak. Hati memiliki
peranan penting dalam menghasilkan beberapa metabolit benzena yang reaktif dan
berbahaya (ATSDR, 2007).

2.1.5.1.Absorpsi Benzena
Benzena dengan cepat diabsorpsi melalui saluran pernapasan dan
pencernaan. Penyerapan melalui kulit cepat tetapi tidak luas, hal ini disebabkan
karena benzena yang menguap dengan cepat. Sekitar Sekitar 50% dari
benzena yang dihirup diabsorbsi setelah pajanan 4 jam pada konsentrasi sekitar 50
ppm benzena di udara. Sebuah penelitian in vivo pada manusia menunjukkan
bahwa terjadi absorbsi sekitar 0,05% dari dosis benzena yang diaplikasikan pada
kulit, sedangkan pada penelitian in vitro kulit manusia, penyerapan benzena
secara konsisten sebanyak 0,2% setelah pajanan dosis antara 0,01-520 mikroliter
per persegi sentimeter. Belum ada penelitian absorbsi melalui oral pada manusia.
Pada hewan, di sedikitnya 90% dari benzena diserap setelah konsumsi pada dosis
340-500 miligram per kilogram per hari (mg/kg/hari) (ATSDR, 2006).
Setengah dari benzena yang terhirup dalam konsentrasi tinggi akan
masuk ke dalam saluran pernafasan yang kemudian masuk ke dalam aliran darah.
Hal yang sama terjadi jika pajanan benzena melalui makanan dan minuman,
sebagian besar benzena akan masuk ke dalam jaringan gastrointestinal, kemudian
masuk kedalam jaringan darah. Sejumlah kecil benzena masuk melalui kulit
melaluikontak langsung antara kulit dengan benzena atau produk yang
mengandung benzena. Di dalam jaringan darah, benzena akan beredar ke seluruh
tubuh dandisimpan sementara di dalam lemak dan sumsum tulang, kemudian
akandikonversi menjadi metabolit di dalam hati dan sumsum tulang. Sebagian
besar hasil metabolisme akan keluar melalui urin dengan waktu sekitar 48 jam
setelah pajanan. Apabila tidak segera dikeluarkan melalui ekspirasi, benzena akan
diabsorbsi ke dalam darah. Benzena larut dalam cairan tubuh dalam konsentrasi
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
13

Universitas Indonesia
rendah dan secara cepat dapat terakumulasi dalam jaringan lemak karena
kelarutannya yang tinggi dalam lemak. Uap benzena mudah diabsorbsi oleh darah
yang sebelumnya diabsorbsi oleh jaringan lemak. Benzena masuk ke dalam tubuh
dalam bentuk uap melalui inhalasi dan absorbsi terutama melalui paruparu,
jumlah uap benzena yang diinhalasi sekitar 4050% dari keseluruhan jumlah
benzena yang masuk ke dalam tubuh. Benzena mudah diabsorbsi melalui saluran
pernafasan, ketahanan paruparu mengabsorbsi benzena kira - kira 50% untuk
pajanan sebesar 2100 cm
3
/m
3
selama beberapa jam pajanan (ATSDR, 2007).

2.1.5.2.Distribusi Benzena
Distribusi benzena ke seluruh tubuh melalui absorbsi dalam darah, karena
benzena bersifat lipofilik, maka distribusi terbesar adalah dalam jaringan lemak.
Jaringan lemak, sumsum tulang, dan urin mengandung sekitar 20 kali konsentrasi
benzena lebih banyak daripada yang terdapat dalam darah. Kadar benzena dalam
otot dan organ-organ 1-3 kali lebih banyak dibandingkan dalam darah. Eritrosit
(sel darah merah) mengandung benzena sekitar 2 kali lebih banyak di dalam
plasma (ATSDR, 2007).

2.1.5.3.Metabolisme Benzena
Meskipun metabolisme benzena telah dipelajari secara ekstensif, proses
terjadinya toksisitas benzena belum sepenuhnya dipahami. Umumnya
dipahami bahwa efek kanker dan nonkanker disebabkan oleh satu atau lebih
metabolit reaktif dari benzena. Metabolit diproduksi di hati, kemudian dibawa ke
sumsum tulang dimana toksisitas benzena terlihat. Metabolisme benzena dalam
jumlah yang sedikit terdapat dalam sumsum tulang (ATSDR, 2007). Langkah
pertama adalah enzim cytochrome P-450 2E1 (CYP2E1) mengkatalisis reaksi
oksidasi benzena menjadi benzena oksida yang berkesetimbangan dengan benzena
oxepin, yang kemudian termetabolisme menjadi fenol (produk metabolit utama
benzena). Fenol kemudian dioksidasi dengan katalisis CYP2E1 menjadi katekol
atau hidrokuinon, yang kemudian dengan enzim myeloperoxidase (MPO)
dioksidasi menjadi metabolit reaktif 1,2- dan 1,4-benzokuinon. Katekol dan
hidrokuinon dapat diubah menjadi metabolit 1,2,4-benzoenatriol dengan katalisis
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
14

Universitas Indonesia
CYP2E1. Reaksi metabolisme benzena yang lain adalah reaksi dengan glutathion
(GSH) yang menghasilkan asam S-fenilmerkapturat. Kemudian reaksi dengan
katalis Fe (besi) yang menghasilkan produk dengan cincin terbuka, yaitu asam
trans,trans-mukonat dengan senyawa intermediet trans,trans-mukonaldehida yang
merupakan metabolit benzena yang hematoksik (racun terhadap sistem darah)
(ATSDR, 2007).

Gambar 2.3. Jalur Metabolisme Benzena Dalam Tubuh
(Sumber: Nebert et al. 2002; Ross 2000 dalam ATSDR, 2007)

2.1.5.4.Ekskresi Benzena
Pada pajanan inhalasi, ekskresi benzena dalam tubuh terjadi melalui proses
eksresi dan ekshalasi, ekskresi benzena terutama di dalam urin sebagai metabolit,
khususnya sebagai asam sulfat dan glucuronid terkonjugasi fenol (IPCS EHC 150,
1993). Tidak ada studi terkait ekskresi karena pajanan oral pada manusia. Namun,
sebuah penelitian pada kelinci dengan benzena radiolabel (sekitar 340 mg/kg berat
badan), menemukan bahwa 43% dari label itu hilang sebagai bukan metabolit
benzena. Ekskresi urin sebesar 33%, terdiri dalam bentuk phenol terkonjugasi
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
15

Universitas Indonesia
(23.5%), hydroquinone (4.8%), catechol (2.2%), dan hydroxyquinol (0.3%)
(Parkes & Williams, 1953 dalam US EPA 2002). Data yang tersedia terbatas
terkait ekskresi pajanan benzena dalam tubuh manusia karena pajanan dermal.

2.1.6. Efek Benzena Terhadap Kesehatan (ATSDR, 2007)
Untuk menilai efek kesehatan benzena terhadap pekerja didapat dari data
kesehatan para pekerja yang terpajan benzena di lingkungan kerja. Industri
percetakan, pembuatan sepatu atau tas, pengolahan karet, dan pembuatan jas hujan
(pada proses kimianya) merupakan tempat kerja yang terdapat pajanan benzena.
Pajanan utama terjadi melalui inhalasi, walaupun pada pajanan secara dermal
(kontak dengan kulit) dan oral juga mungkin dapat terjadi. Efek kesehatan dibagi
menjadi beberapa durasi/lama pajanan terjadi, pajanan akut (14 hari atau kurang),
pajanan intermediet (15-364 hari), dan pajanan kronis (365 hari atau lebih).

2.1.6.1.Efek Pajanan Akut Benzena (IPCS EHC 150, 1993)
Pajanan pada populasi umum yang mengakibatkan efek toksik akut
biasanya berhubungan dengan kecelakaan dan penyalahgunaan benzena. Banyak
kematian dan efek kesehatan yang serius terjadi akibat pajanan benzena yang
disengaja karena mengendus lem dan lainnya dari produk yang mengandung
benzena sebagai pelarut. Diperkirakan bahwa pajanan konsentrasi benzena dari
sekitar 64.000 mg/m
3
(20.000 ppm) untuk 5-10 menit dapat mengakibatkan
kematian, 24.000 mg/m
3
(7.500 ppm) selama 30 menit adalah berbahaya untuk
kehidupan manusia, 4.800 mg/m
3
(1.500 ppm) selama 60 menit menyebabkan
gejala yang serius, 1.600 mg/m
3
(500 ppm) selama 60 menit menyebabkan gejala
penyakit, dan 160-480 mg/m
3
(50-150 ppm) selama 5 jam menyebabkan sakit
kepala, kelelahan, dan kelemahan, sementara 80 mg/m
3
(25 ppm) selama 8 jam
tanpa efek klinis. Tanda-tanda klinis toksisitas akut dari benzena termasuk depresi
sistem saraf pusat (SSP), aritmia jantung, dan akhirnya sesak napas juga
kegagalan pernapasan jika pajanan berada pada tingkat yang mematikan.
Dosis tunggal mematikan melalui pajanan oral yang akut diperkirakan 10
ml benzena (8.8 g). Tanda-tanda klinis toksisitas setelah pajanan oral akut yaitu
muntah, mengantuk, kehilangan kesadaran, delirium, pneumonitis, depresi SSP,
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
16

Universitas Indonesia
dan kolaps. Dosis oral tinggi tetapi sublethal dapat menyebabkan satu atau lebih
dari gejala berikut, seperti pusing, gangguan penglihatan, euphoria, eksitasi, pucat,
kemerahan, sesak napas dan penyempitan dada, sakit kepala, kelelahan,
mengantuk, dan takut datangnya kematian. Selain itu konsumsi benzena
menyebabkan ulserasi gastrointestinal. Benzena dapat menyebabkan iritasi pada
kulit karena benzena merupakan leparut lemak yang dapat merusak kulit apabila
terjadi pajanan berulang dan lama. Efek bila terkena cairan benzena adalah kulit
terasa terbakar dan dapat menyebabkan eritema, dan edema pada kulit. Bila
dihirup, benzena dapat mengiritasi lambung, menyebabkan mual, muntah, dan
diare (ATSDR, 2007).

2.1.6.2.Efek Pajanan Kronis Benzena (IPCS EHC 150, 1993)


Efek kesehatan yang paling signifikan dari pajanan benzena dalam jangka
pendek dan jangka panjang adalah hematoksisitas, immunotoksisitas,
neurotoksisitas, dan karsinogenisitas. Selain itu tiga jenis efek terhadap sumsum
tulang karena pajanan benzena, yaitu depresi sumsum tulang yang mengarah
terjadinya anemia aplastik, perubahan kromosom, dan karsinogenisitas.

Depresi Sumsum Tulang - Anemia Aplastik (EHC 150, 1993)
Sebuah studi dari 32 pasien yang terpajan karena inhalasi benzena pada tingkat
480-2100 mg/m
3
(150-650 ppm) selama 4 bulan sampai 15 bulan menunjukkan
pansitopenia dengan hipoplasia, hiperplastik atau sumsum tulang normoblastik.
Delapan dari 32 orang menunjukkan trombositopenia yang mengakibatkan
pendarahan dan infeksi. Pada pajanan kurang dari 32 mg/m
3
(10 ppm) tidak ada
efek hematologi.

Efek Immunologi (IPCS EHC 150, 1993 & ATSDR 2007)
Studi terdahulu terhadap pekerja yang terpajan benzena, toluene, dan xilen,
menunjukkan bahwa pajanan ketiga pelarut organik ini menyebabkan penurunan
jumlah agglutinin, IgG dan immunoglobulin IgA, dan meningkatnya jumlah IgM.
Penurunan jumlah immunoglobulin ini menunjukkan bahwa benzena dan pelarut
organik lainnya mempunyai efek terhadap system immunologi. Pada studi lainnya
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
17

Universitas Indonesia
juga ditemukan bahwa pajanan benzena dengan kadar tinggi menyebabkan
penurunan jumlah limfosit T dalam darah.

Perubahan Kromosom (IPCS EHC 150, 1993)
Telah terbukti bahwa terkait efek kromosomal akibat pajanan benzena terhadap
pekerja. Perubahan terjadi pada struktur dan jumlah kromosom, ini terjadi pada
penelitian yang dilakukan oleh Huff et al, 1989, yang mengamati dengan
konsisten terhadap limfosit dan sel-sel tulang sumsum pekerja yang terpajan
benzena. Penelitian lain yang dilakukan oleh Forni et al, 1971, mengamati efek
yang sama yakni pada limfosit pekerja di sebuah pabrik rotogravure, dimana telah
terpajan benzena tingkat sangat tinggi yaitu 400-1700 mg/m
3
(125-532 ppm)
selama 1-22 tahun.

Efek Neurologi (ATSDR, 2007)
Setelah inhalasi akut pajanan benzena pada manusia, menunjukkan gejala
terhadap efek sistem saraf pusat (Midzenski et al., 1992). Gejala yang dapat
terjadi pada tingkat konsentrasi antara 300-3000 ppm, diantaranya mengantuk,
pusing, sakit kepala, vertigo, tremor, delirium, dan kehilangan kesadaran. Pada
kondisi akut (5-10 menit) untuk konsentrasi benzena yang lebih tinggi (sekitar
20.000 ppm) dapat mengakibatkan kematian, terkait dengan terjadinya kemacetan
pembuluh darah di otak (Avis & Hutton, 1993). Pada pajanan kronis benzena
dilaporkan dapat mengakibatkan kelainan neurologis pada manusia. Sebuah studi
pada 8 pasien (6 pasien dengan anemia applastik dan 2 dengan preleukemia)
akibat pajanan adhesive/perekat dan pemanfaatannya yang mengandung 9-88%
benzena, menghasilkan 4 dari 6 pasien dengan anemia aplastik menunjukkan
kelainan neurologis (atrofi global ekstermitas bawah dan neuropati distal
ekstermitas atas) (Baslo & Aksoy, 1982). Temuan lain menyebutkan bahwa
konsentrasi benzena di udara tempat kerja mencapai tingkat >210 ppm dapat
menyebabkan efek toksik pada sistem saraf perifer yang melibatkan saraf dan atau
sumsum tulang belakang.


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
18

Universitas Indonesia
Efek Karsinogenik (IPCS EHC 150, 1993)
Fakta bahwa benzena merupakan human leukaemogen telah dilakukan pada dalam
sebuah studi epidemiologi dan kasus-kasus dimana sebagian besar terpajan di
industri. Salah satu studi yang dilakukan oleh Aksoy & Erdem, 1978, mereka
meneliti 44 pasien dengan pansitopenia akibat pajanan benzena adhesive (bahan
perekat) pada tingkat pajanan sebesar 480-2100 mg/m
3
(150-650 ppm) selama 4
bulan sampai 15 tahun membuktikan bahwa 6 dari 44 pasien tersebut terdiagnosis
leukemia myeloid metaplasia. Dan masih banyak studi-studi lain yang sebagian
besar menyimpulkan ada hubungan antara pajanan benzena dengan leukemia.
Namun, salah satu studi yang dilakukan oleh Tsai et al., 1983, mereka meneliti
mengenai hubungan antara pajanan benzena dengan angka kematian pada 454
pekerja kilang minyak di Amerika Serikat antara tahun 1952 dan 1981 tidak
menunjukkan kematian akibat leukemia.

2.1.7. Tanda dan Gejala Pajanan Benzena
2.1.7.1.Pajanan Akut
Benzol jag adalah istilah yang digunakan para pekerja untuk menjelaskan
gejala kebingungan, euforia, dan gaya berjalan goyah terkait dengan
pajanan benzena akut. Tergantung pada besarnya dosis, orang yang menelan
Benzena mungkin mengalami efek ini 30 sampai 60 menit setelah benzena
dikonsumsi. Dalam satu laporan kasus, dosis oral 10 ml dilaporkan menghasilkan
hal yang mengejutkan, muntah, takikardia, pneumonitis, mengantuk, delirium,
kejang, koma, dan kematian. Gejala lain termasuk iritasi bronkial dan laring
setelah pajanan inhalasi. Pulmonary edema telah dilaporkan. Pajanan ingesti dapat
menyebabkan nyeri sub sternal, batuk, suara serak, dan rasa terbakar pada mulut,
faring, dan kerongkongan tak lama setelah konsumsi. Hal ini juga dapat
menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah (ATSDR, 2006).

2.1.7.2.Pajanan Kronis
Gejala awal pajanan kronis benzena sering tidak spesifik tetapi
menunjukkan tanda yang bervariasi. Demam akibat infeksi atau manifestasi
trombositopenia, seperti perdarahan diatesis dengan perdarahan dari gusi, hidung,
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
19

Universitas Indonesia
kulit, saluran pencernaan, atau di tempat lain, kelelahan, dan anoreksia. Sebuah
studi kohort pada tahun 1938 terhadap sekitar 300 pekerja pada industri
percetakan yang menggunakan tinta pelarut dan pengencer berisi 75 sampai 80%
benzena. Setelah diuji, 22 orang memiliki kelainan hematologi berat. Setelah
dilakukan penghentian pajanan selama setahun terhadap pekerja, sebagian besar
pasien pulih setelah pajanan berhenti (ATSDR, 2006)

2.1.8. Ambang Batas Pajanan Benzena
Di Indonesia memiliki beberapa standar yang telah ditetapkan untuk
penetapan Nilai Ambang Batas (NAB) terhadap faktor-faktor fisika dan kimia di
tempat kerja. Standar Nasional Indonesia tahun 2005 (SNI 2005) yang mengacu
pada Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE 01/Men/1997 yang memuat
tentang Nilai Ambang Batas (NAB) rata-rata tertimbang waktu (TWA/Time
Weighted Average) zat kimia di tempat kerja dengan jumlah jam kerja 8 jam per
hari atau 40 jam per minggu menyatakan bahwa benzena yang diklasifikasikan
dalam kelompok A2 (zat kimia yang diperkirakan karsinogen untuk manusia)
memiliki NAB sebesar 10 ppm atau 32 mg/m
3
benzena di udara (SNI 2005).
Kemudian Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia NOMOR PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor
Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja menyatakan bahwa benzena
diklasifikasikan dalam kelompok A1 (zat kimia yang terbukti karsinogen untuk
manusia) memiliki NAB sebesar 0,5 ppm dan memiliki PSD (Paparan Singkat
yang Diperkenankan) sebesar 2,5 ppm.
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mengeluarkan
untuk batas ambang pajanan benzena (PEL/Permissible Exposure Limit) yang
diperbolehkan adalah 1 ppm untuk pajanan selama 8 jam kerja) dan 5 ppm untuk
pajanan dalam jangka waktu pendek (STEL/Short Term Exposure Limit) kurang
dari 15 menit . The National Institute for Occupational Safety and Health
(NIOSH) menetapkan batas pajanan benzena untuk TWA/Time Weighted Average
adalah 0,1 ppm dan untuk nilai ambang batas pajanan singkat atau Short Term
Exposure Limit (STEL) sebesar 1 ppm, NIOSH juga mengklasifikan benzena
sebagai karsinogen (NIOSH, 2008).
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
20

Universitas Indonesia
American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH)
Threshold limit Values (TLV) atau disingkat TLV-ACGIH menetapkan batas
pajanan benzena untuk TWA/Time Weighted Average adalah 0.5 ppm (1.6 mg/m
3
)
dan untuk nilai ambang batas pajanan singkat atau Short Term Exposure Limit
(STEL) sebesar 2.5 ppm (8 mg/m
3
), ACGIH juga mengklasifikan benzena sebagai
karsinogen bagi manusia (A1) (TLV-ACGIH, 2011).

2.1.9. Pengukuran dan Monitoring Benzena di Lingkungan
Terdapat beberapa metode pengukuran benzena termasuk benzena yang
terdapat di udara lingkungan maupun benzena yang masuk ke dalam tubuh.
OSHA merekomendasikan pengukuran pajanan benzena di udara tempat kerja
dengan menggunakan tabung sorbent arang teraktivasi, dilakukan desorpsi dengan
karbon disulfide (CS
2
), kemudian dianalisa dengan gas kromatografi
menggunakan detektor ionisasi sinar, Flame Ionization Detector (FID).
Sedangkan NIOSH merekomendasikan pengumpulan melalui kantung udara,
kemudian analisis dengan kromatografi gas portable menggunakan detektor
fotoionisasi. Untuk metode penentuan benzena di udara didapat dari metode
NIOSH 1501.
Metode yang tersedia untuk penentuan benzena di udara, sedimen air,
tanah, makanan, asap rokok, dan minyak bumi dan produk minyak bumi sebagian
besar melibatkan pemisahan dengan Gas Chromatography (GC) yang dideteksi
melalui Flame Ionization nyala (FID) atau Photoionization (PID) atau dengan
Mass Spectrometry (MS). Pengukuran benzena di udara (ambien dan tempat kerja)
biasanya melibatkan langkah prekonsentrasi dimana sampel dilewatkan melalui
sebuah penyerap padat. Umumnya adsorben yang digunakan adalah resin Tenax
R
,
silica gel, dan karbon aktif. Prekonsentrasi benzena juga bisa dilakukan dengan
perangkap kriogenik langsung pada kolom.
Teknik GC/FID atau GC/PID memiliki batas deteksi yang rendah, dari
konsentrasi rendah dalam satuan ppb (g/m
3
) sampai konsentrasi rendah dalam
satuan ppt (Ng/m3). Sedangkan metode GC/MS memiliki batas deteksi
konsentrasi yang rendah dalam satuan (g/m
3
). Meskipun GC/FID dan GC/PID
memberikan sensitivitas lebih besar dari GC/MS, namun teknik GC/MS umumnya
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
21

Universitas Indonesia
dianggap lebih handal untuk pengukuran benzena pada sampel yang mengandung
beberapa komponen yang memiliki karakteristik yang serupa. Atomic Line
Molecular Spectrometry (ALMS) telah dikembangkan untuk memantau benzena
dan senyawa organik lainnya pada udara ambien. Batas deteksi adalah 800 g/m
3

(250 ppb).
Benzena di tempat kerja dapat diukur dengan instrument portable yang
dapat langsung dibaca. Real-time Continous Monitoring Systems dan Passive
Dosimeters memiliki kepekaan jangkauan dalam ppm (mg/m
3
). Di Amerika
Serikat, prosedur penggunaan Charcoal yang diikuti dengan analisis GC/MS
adalah prosedur yang sensitif yang menjadi pilihan untuk pengukuran benzena di
udara. Benzena dalam media air, tanah, endapan, dan makanan diisolasi melalui
metode Purge and Trap, yang kemudian dianalisis dengan metode GC/MS,
GC/FID atau GC/PID. Gas inert seperti nitrogen digunakan untuk membersihkan
sampel, benzena terjebak pada zat pengabsorbsi seperti Tenax
R
atau arang aktif,
kemudian diikuti oleh desorpsi termal. Sensitivitas dari metode ini dapat
mendeteksi pada kosentrasi rendah dalam satuan mg/liter (IPCS EHC 150, 1993).
Metode lain juga tersedia untuk mendeteksi benzena di media lingkungan lain
seperti asap rokok, bensin, dan bahan bakar jet serta asapnya. Pemisahan dan
pendeteksian dengan teknik HPLC/UV, GC/FID, dan GC/MS telah digunakan
untuk analisis ini. Sensitivitas dan kehandalan metode ini tidak dapat
dibandingkan karena kurangnya data (ATSDR, 2007).

2.1.10. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri atau disingkat APD adalah suatu alat yang mempunyai
kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian
atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. APD yang harus ada di
tempat kerja untuk melindungi pekerja adalah alat pelindung kepala, pelindung
mata dan muka, pelindung telinga, pelindung pernapasan beserta kelengkapannya,
pelindung tangan dan pelindung kaki (Permenakertrans No. 08, 2010). Menurut
OSHA (2003) alat pelindung diri atau APD seperti sarung tangan, pelindung mata
dan kaki, alat-alat pelindung pendengaran, topi keras, respirator, dan baju
pelindung seluruh tubuh digunakan untuk meminimalisasi berbagai macam
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
22

Universitas Indonesia
pajanan bahaya di tempat kerja. Penggunaan APD dalam upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit dan cidera akibat kerja merupakan pilihan terakhir apabila
pengendalian secara teknis (engineering control) dan administrasi (administrative
control) telah dilakukan namun belum dapat maksimal atau memadai dalam
meminimalisasi risiko. Pemakaian alat pelindung diri harus disesuaikan dengan
lingkungan kerja agar memberikan perlindungan yang efektif dan tidak
mengganggu pekerjaan. Menurut OSHA, pemilihan alat pelindung diri, semua
pakaian APD dan peralatan harus aman, disain konstruksi, fashionable, serta harus
dipelihara di tempat yang bersih.
Alat pelindung pernapasan berfungsi untuk memberikan perlindungan
terhadap sumber-sumber bahaya di udara tempat kerja, seperti kekurangan
oksigen, pencemaran oleh partikel, dan pencemaran oleh gas atau uap. Ada tiga
jenis alat pelindung diri pernapasan, yaitu: 1) respirator yang bersifat memurnikan
udara, 2) respirator yang dihubungkan dengan suplai udara bersih, dan 3)
respirator pemasok oksigen. Sebelum memilih alat pelindung pernapasan yang
sesuai, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan:
1. Sifat bahaya (partikulat, gas, uap, dan lain-lain)
2. Cukup tanda-tanda adanya zat tercemar
3. Kadar zat pencemar
4. Kegawatan bahaya (akibat bila alat pernapasan tidak berfungsi)
5. Lamanya (panjangnya waktu dalam lingkungan yang tercemar)
6. Lokasi (sehubungan dengan sumber udara segar)
7. Jalan (ke dan dari tempat yang tercemar)
8. Aktivitas pemakai yang diperkirakan (kekuatan fisiknya)
9. Mobilitas pemakai
10. Pasnya pada muka dan kenyamanan
(Nedved, Milos, 1991)

Untuk pajanan inhalasi benzena dengan konsentrasi kurang atau sama
dengan 10 ppm, 50 ppm, dan 100 ppm tipe masker pelindung pernapasan yang
digunakan berturut-turut adalah half mask respirator with organic vapor catridge,
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
23

Universitas Indonesia
full faceplace with organic vapor catridge, dan full faceplace powered with
organic vapor catridge (Gunawan, 2000, dalam Zuliawan, 2010)

2.1.11. Biomarker
Biomarker didefinisikan sebagai penanda indikator suatu peristiwa dalam
sistem biologi atau sampel. Biomarker telah diklasifikasikan sebagai penanda
pajanan, penanda efek, dan tanda kerentanan (ATSDR, 2007). WHO (1996)
menyebutkan bahwa, biomarker yang dapat dijadikan indikator pajanan benzena
yaitu benzena dalam darah, benzena dama urin, benzena dalam udara pernapasan,
phenol dalam urin, catechol dalam urin, hydroquinon dalam urin, 1,2,4
trihydroxibenzena dalam urin, phenylmercapturic acid dalam urin, dan asam
trans,trans-muconic dalam urin.
Pengukuran fenol dalam urin telah digunakan untuk pemantauan pajanan
benzena (OSHA, 1987), dan tingkat fenol dalam urin tampaknya berkolerasi
dengan tingkat pajanan. Efek pajanan cenderung signifikan untuk asam
trans,trans-muconic dalam urin dan kadar asam phenylmercapturic pada subjek di
suatu tempat kerja yang terpajan pada tingkat paparan < 1 ppm (Qu et al, 2005
dalam ATSDR, 2007). American of Governmental Industrial Hygients (ACGIH)
telah menetapkan 25 g phenylmercapturic acid/g kreatinin dalam urin dan 500
g trans,trans-muconic acid/g kreatinin dalam urin sebagai Biological Exposure
Indices (BEIs) untuk pajanan benzena di tempat kerja (ACGIH, 2006 dalam
ATSDR, 2007).
BEI yang utama indeks pajanan dan bukan level dimana efek kesehatan
yang mungkin terjadi dari pajanan benzena. Korelasi positif dibuat antara tingkat
udara benzena di tempat kerja dengan catechol dalam urin dan hydroquinone pada
pekerja terpajan (Inoue et al. 1988a, 1988b; Rothman et al. 1998 dalam ATSDR,
2007). Asam muconic dalam urin berkorelasi terbaik dengan konsentrasi benzena
di lingkungan. Tingkat biomarker hydroquinone dalam urin yang paling akurat
dari pajanan untuk metabolit fenolik benzena, diikuti oleh phenol ndan catechol
(Ong et al. 1995 dalam ATSDR, 2007).


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
24

Universitas Indonesia
2.2. Analisis Risiko (Risk Analysis) dan Penilaian Risiko (Risk Assessment)
Risiko merupakan probabilitas suatu dampak merugikan kesehatan pada
suatu organisme, sistem, atau (sub)populasi yang disebabkan oleh pajanan suatu
agen dalam jumlah dan dengan jalur pajanan tertentu (IPCS, 2004). Definisi lain
menyebutkan risiko K3 adalah kombinasi dan kemungkinan terjadinya kejadian
berbahaya atau paparan dengan keparahan dari cedera atau gangguan kesehatan
yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut. Sedangkan manajemen
risiko adalah suatu proses untuk mengelola risiko yang ada dalam setiap kegiatan
(OHSAS 18001, 2007 dalam Ramli, 2010).
Risiko tidaklah sama dengan bahaya. Bahaya adalah sifat yang melekat
(inherent) pada suatu agen atau situasi yang berpotensi menyebabkan efek
merugikan terhadap organisme, sistem, atau sub(populasi) yang terpajan agen
tersebut (IPCS, 2004). Bahaya (hazard) juga didefinisikan sebagai sumber, situasi
atau tindakan yang berpotensi menciderai manusia atau sakit/penyakit atau
kombinasi dari semuanya (OHSAS 18001, 2007). Bahaya (hazard) di tempat
kerja dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu hazard tubuh pekerja, hazard perilaku
kesehatan, hazard lingkungan kerja (faktor atau bahaya fisik, faktor atau bahaya
kimia, dan faktor atau bahaya biologik), hazard ergonomik, dan hazard
pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja (Kurniawidjaja, 2010).
Dalam manajemen risiko dibutuhkanlah sebuah analisis risiko. Analisis
risiko adalah sebuah proses untuk mengendalikan situasi dimana organisme,
sistem, atau sub(populasi) dapat terkena bahaya. Proses analisis risiko terdiri atas
3 komponen, yaitu penilaian risiko, manajemen risiko, dan komunikasi risiko
(IPCS, 2004). Analisis risiko kesehatan (health risk assessment) adalah suatu
proses memperkirakan masalah kesehatan yang mungkin timbul dan besarnya
akibat yang ditimbulkannya pada suatu waktu tertentu. Gambar 2.2 merupakan
gambar analisis risiko terdiri atas empat tahap kajian, yaitu identifikasi bahaya
(hazard potential identification), analisis dosis-respon (dose-response
assessment), analisis pemajanan (exposure assessment), dan karakterisasi risiko
(risk characterization), yang kemudian dilanjutkan dengan manajemen risiko dan
komunikasi risiko (US-EPA/NRC, 1983 dalam Louvar & Louvar, 1998).
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
25

Universitas Indonesia

Gambar 2.4. Langkah-langkah analisis risiko, manajemen risiko, dan komunikasi
risiko (Sumber: US-EPA/NRC, 1983 dalam Louvar & Louvar, 1998)

Analisis risiko bisa dilakukan untuk pemajanan bahaya lingkungan yang
telah lampau (post exposure), dengan efek yang merugikan sudah atau belum
terjadi, bisa juga dilakukan sebagai suatu prediksi risiko untuk pemajanan
yangakan datang (Rahman dkk., 2007). Rahman dkk. (2007) juga menyebutkan
bahwa ada dua kemungkinan kajian ARKL yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Evaluasi di atas meja (Desktop Evaluation), selanjutnya disebut ARKL Meja
2. Kajian lapangan (Field Study), selanjutnya disebut ARKL Lengkap
ARKL Meja dilakukan untuk menghitung estimasi risiko dengan segera
tanpa harus mengumpulkan data dan informasi baru dari lapangan. Kajian
ini biasanya dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan khalayak ramai
yang (bisa) menimbulkan kepanikan meluas, mencegah provokasi yang dapat
memicu ketegangan sosial, atau dalam situasi kecelakaan dan bencana. ARKL
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
26

Universitas Indonesia
Lengkap biasanya berlangsung dalam suasana normal, tidak ada tuntutan
mendesak namun perlu dilakukan sebagai tindakan proaktif untuk melindungi dan
meningkatkan kesehatan masyarakat. Evaluasi di atas meja hanya membutuhkan
konsentrasi risk agent dalam media lingkungan bermasalah, dosis referensi risk
agent dan nilai default faktor-faktor antropometri pemajanan untuk menghitung
asupan.
ARKL lengkap pada dasarnya sama dengan evaluasi di atas meja namun
didasarkan pada data lingkungan dan faktor-faktor pemajanan antropometri
sebenarnya yang didapat dari lapangan, bukan dengan asumsi atau simulasi.
Kajian ini membutuhkan data dan informasi tentang jalur pemajanan dan
populasi berisiko. Berikut adalah langkah-langkah dalam analisis risiko.

2.2.1. Identifikasi Bahaya (Hazard I dentification)
Ada beberapa definisi identifikasi bahaya. Identifikasi bahaya adalah
identifikasi jenis dan sifat dari suatu agen, memiliki kapasitas melekat yang dapat
menyebabkan dampak pada organisme, sistem atau sub(populasi). Identifikasi
bahaya merupakan tahap pertama dalam penilaian bahaya juga merupakan awal
dari empat langkah-langkah dalam penilaian risiko (IPCS, 2004). Menurut Louvar
& Louvar (1998), identifikasi bahaya adalah suatu proses mengenal semua bahaya
dari suatu bahan dengan potensinya untuk membahayakan individu atau
lingkungan. Identifikasi bahaya juga didefinisikan The process of determining
what, where, when, why, and how something could happen (proses penentuan
apa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana sesuatu dapat terjadi) (AS-NZS
4360, 2004). Bahaya dapat diketahui dengan berbagai cara dan dari berbagai
sumber, yaitu dari peristiwa atau kecelakaan yang pernah terjadi, pemeriksaan ke
tempat kerja, melalukan wawancara dengan pekerja di lokasi kerja, informasi dari
pabrik atau asosiasi industri, data keselamatan bahan (material safety data sheet)
dan lainnya (Ramli, 2010).

2.2.2. Analisis Pemajanan (Exposure Assessment)
Pajanan adalah konsentrasi atau jumlah kuantitatif agen risiko yang sampai
dan memajani organisme target, sistem, atau sub(populasi) dengan frekuensi dan
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
27

Universitas Indonesia
durasi pajanan yang tertentu. Exposure assessment merupakan evaluasi pemajanan
dari organisme, sistem, atau sub(populasi) terhadap agen (IPCS, 2004). Dalam
analisis ini dilakukan identifikasi tentang dosis atau jumlah risk agen yang
diterima seseorang (intake/asupan) yang masuk melalui ingesti (saluran
pencernaan). Intake (asupan) adalah jumlah asupan yang diterima individu per
berat badan per hari (Louvar & Louvar, 1998). Data intake ini dapat dengan
menggunakan persamaan Louvar & Louvar, 1998 (Rahman dkk., 2007) sebagai
berikut:

Dengan:
I : asupan/intake (mg/kg/hari)
C : konsentrasi risk agent, mg/m
3
untuk medium udara, mg/l untuk air
minum, mg/kg untuk makanan atau pangan
R : laju (rate) asupan (m
3
/jam)
t
E
: waktu pajanan/bekerja dalam sehari (jam/hari)
f
E
: frekuensi pajanan tahunan (hari/tahun)
D
t
: durasi pajanan, tahun (real time atau proteksi, 30 tahun untuk nilai
default residensial)
W
b
: berat badan (kg)
t
avg
: periode waktu rata-rata, (D
t
x 365 hari/tahun untuk zat nonkarsinogen, 70
tahun x 365 hari/tahun untuk zat karsinogen)

Konsentrasi agen risiko dalam media lingkungan diperlakukan menurut
karakteristik statistiknya. Jika distribusi konsentrasi risk agent normal, bisa
digunakan nilai arithmetic mean-nya. Jika distribusinya tidak normal, harus
digunakan log normal atau mediannya. Normal tidaknya distribusi konsentrasi
risk agent bisa ditentukan dengan menghitung coefficience of variance (CoV),
yaitu SD dibagi mean. Jika CoV <20% distribusi dianggap normal dan karena itu
dapat digunakan nilai mean (Rahman dkk., 2007).
(1)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
28

Universitas Indonesia
Nilai t
E
didapatkan dari hasil penelitian, f
E
dihitung dengan mengurangi
waktu satu tahun (365 hari) dengan lama responden (dalam hari) meninggalkan
lokasi studi atau libur kerja. Nilai D
t
merupakan hasil penelitian yang menyatakan
waktu responden tinggal di lokasi studi dan terpajan bahaya untuk perhitungan
real time, sedangkan untuk perhitungan sepanjang hayat dapat digunakan nilai D
t
,
yaitu 30 tahun. Nilai R adalah laju inhalasi, berdasarkan US-EPA, 1990, nilai R
default adalah 20 m
3
/hari untuk laju inhalasi dengan berat badan 70 kg. Oleh
karena antropometri masyarakat Indonesia berbeda, maka laju inhalasi dihitung
berdasarkan data yang dihimpun oleh Abrianto (2004) menghimpun berbagai nilai
default sehingga didapatkan kurva logaritmik berat badan terhadap laju inhalasi
normal (US EPA, 1997) yang menghasilkan persamaan y = 5,3 ln(x) 6,9 dimana
y = R (m
3
/hari) dan x = W
b
(kg), maka laju inhalasi dapat diperkirakan sesuai
dengan karakteristik antropometri masyarakat Indonesia.

2.2.3. Analisis Dosis-Respon (Dose-Response Assessment)
Dosis adalah unit yang menyatakan pajanan terhadap bahan kimia, fisik,
atau biologis yang sampai ke organ sasaran. Dosis diekspresikan sebagai unit
berat atau volume per unit luas permukaan tubuh. Misalnya: mg/kgBB, ml/kgBB,
atau mg/m
2
, ppm atau ppb (Kurniawidjaja, 2009). Analisis dosis-respon, disebut
juga dose-response assessment atau toxicity assessment, menetapkan nilai-nilai
kuantitatif toksisitas risk agent untuk setiap bentuk spesi kimianya. Toksisitas
dinyatakan sebagai dosis referensi (reference dose, RfD) untuk efek-efek
nonkarsinogenik dan Cancer Slope Factor (CSF) atau Cancer Unit Risk (CCR)
untuk efek-efek karsinogenik (Rahman dkk., 2007).
RfD atau RfC adalah toksisitas kuantitatif nonkarsinogenik, menyatakan
estimasi dosis pajanan harian yang diprakirakan tidak menimbulkan efek
merugikan kesehatan meskipun pajanan berlanjut sepanjang hayat (IPCS, 2004).
Dosis referensi dibedakan untuk pajanan oral atau tertelan (ingesti, untuk
makanan dan minuman) yang disebut RfD (saja) dan untuk pajanan inhalasi
(udara) yang disebut reference concentration (RfC). Dalam analisis dosis-respon,
dosis dinyatakan sebagai risk agent yang terhirup (inhaled), tertelan (ingested)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
29

Universitas Indonesia
atau terserap melalui kulit (absorbed) per kg berat badan per hari (mg/kg/hari)
(Rahman, 2007).
Nilai RfD atau RfC didapatkan berdasarkan formula:

Dengan:
UF1=10 untuk variasi sensitivitas dalam populasi manusia (10H, human)
UF2=10 untuk ekstrapolasi dari hewan ke manusia (10A, animal)
UF3=10 jika NOAEL diturunkan dari uji subkronik, bukan kronik.
UF4=10 bila menggunakan LOAEL bukan NOAEL.
MF adalah modifying factor, merupakan professional judgement atau penilaian
professional terhadap kualitas studi toksisitas dan kelengkapan datanya yang
tidak tertampung dalam UF, nilainya >0 sampai <10 dengan nilai default 1.

NOAEL (No Observable Advers Effect Levels) diperoleh berdasarkan
eksperimen menggunakan hewan uji (uji bioassay) atau studi epidemiologi.
NOAEL adalah nilai dosis tertinggi yang tidak menimbulkan efek kesehatan baik
secara statistik atau biologis. LOAEL merupakan dosis terendah yang secara
statistik atau biologis (masih) menimbulkan efek merugikan pada hewan uji atau
manusia (enHealth, 2002). RfC bukan dosis yang acceptable melainkan hanya
referensi saja, jika dosis yang diterima manusia melebihi RfC, maka probabilitas
untuk mendapatkan risiko juga lebih besar (Rahman dkk., 2004).

2.2.4. Karakterisasi Risiko (Risk Characterization)
Karakteristik risiko kesehatan dinyatakan sebagai Risk Quotient (RQ,
Tingkat Risiko) untuk efek-efek nonkarsinogenik (ATSDR, 2005; US EPA, 1986;
IPCS, 2004; Kolluru, 1996; Louvar & Louvar, 1998) dan Excess Cancer Risk
(ECR) untuk efek-efek karsinogenik (EPA, 2005). RQ dihitung dengan membagi
asupan nonkarsinogenik (I
nk
) risk agent dengan RfD atau RfC-nya menurut
persamaan:
(2)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
30

Universitas Indonesia

Dengan:
RQ : Risk Quotient
I
nk
: Intake nonkarsinogenik (m
3
/kg/hari)
RfD/RfC : Reference Dose/reference Concentration (m
3
/kg/hari)

Jika nilai RQ <1 menunjukkan indikasi tidak adanya kemungkinan
terjadinya risiko efek yang merugikan, namun perlu dipertahankan agar nilai
numerik RQ tidak melebihi 1. Sedangkan RQ >1 menunjukkan indikasi adanya
kemungkinan terjadinya risiko efek yang merugikan dan perlu adanya upaya
pengendalian (Rahman dkk., 2007).
Sementara untuk perhitungan tingkat risiko karsinogenik dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut: (Louvar & Louvar, 1998):



Dengan:
ECR : Excess Cancer Risk (Risiko Kanker)
I
kanker
: Intake/asupan kronis (sepanjang hayat, yaitu 70 tahun)
CSF : Cancer Slope Factor

Perlu diperhatikan, asupan karsinogenik dengan nonkarsinogenik tidak
sama karena perbedaan bobot waktu rata-ratanya (t
avg
). Cancer Slope Factor
didefinisikan sebagai hubungan kuantitatif antara dosis dan respon, yang
merupakan perkiraan (estimasi) besar peluang seseorang (individu) berkembang
menjadi kanker karena terpajan (seumur hidup) oleh suatu agen kanker yang
potensial (Louvar & Louvar, 1998). Nilai ECR dinyatakan aman apabila <E-4 (1
dalam 10.000) yang dapat diinterpretasikan akan terjadi penambahan kasus kanker
1 kasus dalam 10.000 populasi.
ECR = I
k
x CSF
(3)
(4)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
31

Universitas Indonesia
Unit risiko benzena di udara adalah sebesar 2,2 x 10
-6
hingga 7,8 x 10
-6

meningkatkan risiko sepanjang hayat apabila seseorang terpajan 1 g/m
3
benzena
di udara sepanjang hayatnya (US-EPA, IRIS, 1998). Nilai ambang batas risiko
kanker yang dapat diterima diadopsi dari US-EPA, yaitu satu kasus kanker per
sepuluh ribu penduduk (Louvar & Louvar, 1998).

2.3 Manajemen Risiko (Risk Management)
Dalam OHSAS 18001 (2007) manajemen risiko terbagi atas 3 bagian,
yaitu Hazard Identification, Risk Assessment, dan Risk Control, biasanya dikenal
dengan singkatan HIRARC. Sementara dalam Kepmenaker No. 05/1996
menempatkan manajemen risiko sebagai salah satu elemen penting yaitu pada
klausul 2.2.1. menyebutkan: Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko,
dan Pengendalian Risiko: Identifikasi Bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko
dari kegiatan, produk barang dan jasa harus dipertimbangkan pada saat
merumuskan rencana untuk memenuhi kebijakan keselamatan dan kesehatan
kerja. Untuk itu harus ditetapkan dan dipelihara prosedurnya (Ramli, 2010).
Berdasarkan nilai karakteristik risiko yang telah didapatkan, manajemen
risiko sebenarnya merupakan pilihan-pilihan yang dilakukan untuk memperkecil
risiko dampak pajanan benzena terhadap kesehatan karyawan atau pekerja,
dengan cara mengubah (memanipulasi) nilai faktor-faktor pemajanan, sehingga
asupan lebih kecil atau sama dengan dosis referensi toksisitasnya yang pada
dasarnya hanya ada 2 cara untuk menyamakan intake dengan RfC, yaitu dengan
menurunkan konsentrasi Risk Agent dan/atau mengurangi waktu kontak (Rahman
dkk, 2007).

2.4. Komunikasi Risiko (Risk Communication)
Hasil manajemen risiko harus dikomunikasikan dan diketahui oleh semua
pihak yang berkepentingan sehingga akan memberikan manfaat dan keuntungan
bagi semua. Pihak manajemen harus memperoleh informasi yang jelas mengenai
semua risiko yang ada di bawah kendalinya. Begitu juga dengan para pekerja,
perlu diberi informasi mengenai semua potensi bahaya yang ada di tempat
kerjanya sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
32

Universitas Indonesia
aman dan sehat. Komunikasi yang digunakan dapat berupa edaran, petunjuk
praktis, forum komunikasi, buku panduan atau pedoman kerja. (Ramli, 2010).








Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
33

Universitas Indonesia
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, dan
DEFINISI OPERASIONAL


3.1. Kerangka Teori
WHO (1996) menyebutkan bahwa sumber utama yang berasal dari proses
penguapan adalah penguapan dari BBM yang mengandung 1-5% Benzena.
Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Register (ATSDR), bahan
kimia berbahaya dan beracun yang terdapat di dalam kandungan minyak yaitu
benzena, toluene, xylene, ethylene, TPH (Total Petroleum Hydrocarbon),
Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAHs). Rute pajanan utama terjadi melalui
inhalasi, walaupun pada pajanan secara dermal (kontak dengan kulit) dan oral
juga mungkin dapat terjadi (ATSDR, 2007).
Pajanan benzena di dalam tubuh melalui proses toksikonetik, yaitu
absorpsi, distribusi, metabolism, dan eksresi. Fenol merupakan produk metabolit
benzena yang utama (ATSDR, 2007). Tanda-tanda klinis toksisitas akut dari
benzena termasuk depresi sistem saraf pusat (SSP), aritmia jantung, dan akhirnya
sesak napas juga kegagalan pernapasan jika pajanan berada pada tingkat yang
mematikan. Efek kesehatan yang paling signifikan dari pajanan benzena dalam
jangka pendek dan jangka panjang adalah hematoksisitas, immunotoksisitas,
neurotoksisitas, dan karsinogenisitas (IPCS EHC 150, 1993). Fenol merupakan
produk metabolit benzena yang utama (ATSDR, 2007).
Proses analisis risiko terdiri atas 3 komponen, yaitu penilaian risiko,
manajemen risiko, dan komunikasi risiko (IPCS, 2004). analisis risiko terdiri atas
empat tahap kajian, yaitu identifikasi bahaya (hazard potential identification),
analisis dosis-respon (dose-response assessment), analisis pemajanan (exposure
assessment), dan karakterisasi risiko (risk characterization), yang kemudian
dilanjutkan dengan manajemen risiko dan komunikasi risiko (US-EPA/NRC,
1983 dalam Louvar & Louvar, 1998). Berdasarkan tinjauan kepustakaan tersebut,
maka dapat disusun suatu kerangka teori sebagai berikut:

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
34

Universitas Indonesia
Bagan 3.1. Kerangka Teori




























Antropometri:
Berat Badan
Laju Asupan
Pola Pajanan:
Konsentrasi Pajanan
Waktu Pajanan
Frekuensi Pajanan
Durasi Pajanan
Intake
benzena
dalam tubuh
manusia
Metabolit
benzena
dalam tubuh
Efek kesehatan
pada manusia
manusia:
Efek Akut
Efek Kronis
Benzena
dalam
komponen
Bahan Bakar
Minyak
(BBM):
Sebagai
hidrokarbon
aromatik
Inhalasi
Ingesti
Kulit
Identifikasi
Bahaya
Analisis
Pajanan
Analisis
Dose-
respon
Karakteristik
Risiko pajanan
benzena:
Risiko
Nonkarsinog
enik
Risiko
Karsinogenik

Manajemen
Risiko


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
35

Universitas Indonesia
3.2. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori yang telah dijelaskan, berikut adalah bagan
kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini:

Bagan 3.2. Kerangka Konsep










Pola Pajanan
Konsentrasi Benzena
Waktu Pajanan
Frekuensi Pajanan
Durasi Pajanan
Antropometri Pekerja
Inhalation Rate
Berat Badan
Asupan/intake Pajanan Benzena :
- Intake Nonkarsinogenik
- Intake Karsinogenik
Tingkat risiko pajanan Benzena di
udara terhadap kesehatan karyawan
CSF
(Cancer Slope Factor)

RfC
(Konsentrasi Referensi)

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
36

Universitas Indonesia
3.3. Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Satuan Skala
1
Konsentrasi (C)
benzena di
udara
Kandungan
benzena di udara
di SPBU X
Pancoranmas
Depok
Pengambilan sampel benzena di
udara dilakukan dengan sampler
(alat pengambil sampel udara)
yang berupa bahan pengabsorb
karbon aktif (coconut shell
charcoal).
Kemudian alat sampling
diletakkan pada 3 titik, yaitu di
filling point 1-2, filling point 4,
dan ruang administrasi.
Kemudian karbon aktif di bawa
ke laboratorium untuk dianalisis
dengan Gas Chromatography
(GC).
Pompa sampling
Karbon aktif (coconut
shell charcoal)
Gas Chromatography
(GC) FID
mg/m
3
Rasio
2
Waktu Pajanan
(t
E
)
Jumlah jam kerja
pajanan benzena
terhadap para
Kuesioner Perhitungan hasil kuesioner jam/hari Rasio
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
37

Universitas Indonesia
karyawan
3
Frekuensi
Pajanan (f
E
)
Jumlah hari
karyawan terpajan
benzena melalui
jalur inhalasi
dalam satu tahun
Kuesioner Perhitungan hasil kuesioner hari/tahun Rasio
4
Durasi Pajanan
(D
t
)
Lamanya pekerja
terpajan dengan
benzena melalui
jalur inhalasi
dalam satu tahun
Kuesioner Perhitungan hasil kuesioner Tahun Rasio
5
Inhalation Rate
(R)
Jumlah udara yang
dihirup pekerja
dalam satu hari
Studi literatur dari US-EPA, 1997
dalam Yuni, 2010
Kalkulator m
3
/jam Rasio
6
Berat Badan
(W
b
)
Jumlah massa
tubuh karyawan
Penimbangan
Dengan menggunakan
timbangan berat badan
Kg Rasio
7
Periode Waktu
rata-rata (t
avg
)
Waktu yang
dihasilkan dari
perkalian durasi
frekuensi pajanan
Perhitungan Kalkulator Tahun Rasio
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
38

Universitas Indonesia
dengan durasi
pajanan, untuk
nonkanker : 30
tahun, untuk
kanker 70 tahun
8
Intake (I)
Benzena
Jumlah uap
benzena di udara
yang masuk ke
dalam tubuh
pekerja melalui
jalur inhalasi per-
kg berat badan per-
hari
Perhitungan berdasarkan
konsentrasi udara ambient di udara,
frekuensi pajanan, lama pajanan,
inhalation rate, dan berat badan
Kalkulator mg/kg/hari Rasio
9
Cancer Slope
Factor (CSF)
Nilai estimasi
kanker, yang
diturunkan dari
unit risk benzena
di udara, yaitu
sebesar 2,2 x 10
-6

hingga 7,8 x 10
-6

Perhitungan dan studi literatur Kalkulator
(Tidak ada
satuan)
Ordinal
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
39

Universitas Indonesia
untuk setiap 1
g/m
3
benzena di
udara
10
RfC
(Konsentrasi
Referensi
Benzena)
NOAEL atau
LOAEL benzena
dari uji toksisitas
kemudian
diterapkan pada
populasi penelitian
dalam bentuk
konsentrasi
referensi inhalasi
(RfC/RfDi)
Literatur dan hasil perhitungan Kalkulator mg/kg-hari Rasio
11
Risiko
Nonkanker (RQ)
Perkiraan besaran
risiko nonkanker
yang
menggambarkan
kemungkinan
timbulnya
gangguan
Perhitungan bilangan risiko (RQ) Kalkulator
RQ > 1
berarti
berisiko, RQ
< 1 berarti
tidak berisiko
Ordinal
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
40

Universitas Indonesia
kesehatan
disebabkan
pajanan benzena di
udara lingkungan
kerja, dihitung
dengan
perbandingan
antara intake
(nonkanker)
dengan konsentrasi
referensi
12
Risiko Kanker
(ECR)
Perkiraan besar
risiko kanker,
dihitung dengan
intake benzena
(kanker) x nilai
estimasi kanker
(Cancer Slope
Factor)
Perhitungan Kalkulator
Perkiraan
jumlah kasus
per populasi
Rasio
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
41

Universitas Indonesia
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN


4.1. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan
metode analisis kuantitatif. Untuk desain penelitian dimulai dari pengumpulan data
sekunder terkait dengan proses kerja yang meliputi bahan kimia yang terdapat di area
kerja, MSDS bahan tersebut, dan jumlah pekerja yang terlibat. Kemudian penulis
melakukan pengumpulan data primer terkait dengan konsentrasi benzena di udara,
frekuensi pajanan, waktu pajanan, durasi pajanan karyawan terhadap benzena serta berat
badan karyawan.
Desain studi yang digunakan adalah metode analisis risiko yang diambil dari
langkah-langkah analisis risiko, manajemen risiko, dan komunikasi risiko (US-
EPA/NRC, 1983 dalam Louvar & Louvar, 1998) yang digunakan untuk menilai dan
melakukan prediksi yang akan terjadi akibat adanya pajanan zat berbahaya, dalam hal
ini adalah benzena yang digunakan sebagai salah satu komponen dalam Bahan Bakar
Minyak (BBM). Langkah yang dilakukan dalam paradigm analisis risiko ini adalah:
1. Analisis Risiko, terdiri identifikasi bahaya, analisis pemajanan, analisis dosis
respon, dan karakteristik risiko
2. Manajemen Risiko
3. Komunikasi Risiko

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada pekerja di SPBU X Pancoranmas Depok.
Waktu penelitian pada bulan Desember 2011.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi yang dituju adalah seluruh pekerja yang bekerja hingga saat penelitian
dilaksanakan. Jumlah populasi pekerja yang bekerja di SPBU X Pancoranmas Depok
yaitu berjumlah 15 orang, terdiri atas 13 karyawan operator mesin pompa BBM, dan 2
karyawan administrasi.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
42

Universitas Indonesia
4.3.2. Sampel Penelitian
Jumlah populasi dalam penelitian ini diketahui sebanyak 15 orang, terdiri atas
13 karyawan operator mesin pompa BBM, dan 2 karyawan administrasi. Sampel adalah
seluruh karyawan yang bekerja di SPBU X Pancoranmas Depok. Cara pengambilan
sampel yaitu total populasi.

4.4. Jenis Data Penelitian
Data sekunder terkait dengan proses kerja yang meliputi bahan kimia yang
terdapat di area kerja, MSDS bahan tersebut, dan jumlah pekerja yang terlibat.
Kemudian untuk data primer terkait dengan konsentrasi benzena di udara, frekuensi
pajanan, waktu pajanan, durasi pajanan karyawan terhadap benzena serta berat badan
karyawan.

4.5 Bahan dan Cara Kerja
4.5.1 Prosedur Pengambilan Sampel Benzena di Udara
Menggunakan karbon aktif yang berada dalam tabung kaca bermerek SKC.
Karbon aktif ini dipasang pada alat air sampler dan diletakkan di area SPBU dan
diletakkan sejajar dengan zona pernapasan karyawan. Kecepatan alir pompa vakum
diatur menjadi 0,2 ml/menit, dan pompa diaktifkan selama 5 menit, sehingga diperoleh
volume sampling yang sesuai dengan metode NIOSH 1501. Karbon aktif (charcoal)
yang telah mengandung senyawa benzena ini kemudian dipecahkan dan dilarutkan
dengan larutan Carbon Disulfida (CS
2
) untuk mengekstrak benzena yang terkandung di
dalamnya. Setelah itu, dilakukan analisis konsentrasi benzena dengan menggunakan alat
GC/FID di laboratorium.
Pengambilan sampel udara untuk menentukan konsentrasi benzena di
lingkungan kerja dilakukan di area filling point sebanyak 2 titik dan 1 titik di bagian
administrasi. Proses sampling area dilakukan pada pukul 09.00 12.00 WIB.

4.5.2 Bahan dan Metode Analisis Benzena Dalam Sampel Udara
Pengukuran benzena di udara mengacu pada metode NIOSH 1501, 1994.
Pengambilan sampel di udara dilakukan dengan sampler (alat pengambil sampel udara)
yang berupa bahan pengabsorb karbon aktif (coconut shell charcoal). Sampel yang
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
43

Universitas Indonesia
diambil ini kemudian disimpan pada suhu 4
0
C dan dapat stabil selama 3 hari. Kondisi
kromatografi gas untuk pengukuran benzena adalah sebagai berikut:
Alat : Kromatografi Gas dengan Flame Ionization Detector (FID)
Analit : Benzena
Desorpsi : 2 mL
Volume Injeksi : 1L
Suhu Injeksi : 250
0
C
Suhu Detektor : 300
0
C
Suhu Kolom : 40
0
C ( 10 menit) 230
0
C (kenaikan 10
0
C/menit)
Gas Pembawa : Helium UHP dengan kecepatan 1 mL/min
Kolom Kromatografi : DB Petro (100 m x 0,25 mm x 0,5 m)
Kalibrasi : 09-08-2011 s.d. 09-08-2012

4.6. Pengolahan Data
Untuk pengolahan data terhadap hasil penelitian dilakukan dengan
menggunakan metode analisis kuantitatif dimana membandingkan nilai intake yang
telah didapat dari pekerja dengan nilai konsentrasi referensi (RfC) yang aman bagi
pajanan Benzena untuk efek-efek nonkarsinogenik dan Cancer Slope Factor (CSF)
untuk efek-efek karsinogenik.

4.7. Analisis Data
4.7.1. Perhitungan Risiko Nonkarsinogenik
Risiko nonkanker dihitung berdasarkan jumlah asupan risk agent sehingga dapat
diketahui berapa besar risiko dampak yang ditimbulkan terhadap pekerja. Data dan
informasi yang dibutuhkan untuk menghitung asupan benzena dalam tubuh pekerja
adalah semua variabel dalam formula berikut (ATSDR, 2005, Louvar & Louvar, 1998).

Dengan:
I : Intake (asupan), jumlah risk agent yang diterima individu per satuan,
mg/kg/hari
C : Konsentrasi risk agent benzena di udara (mg/m
3
)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
44

Universitas Indonesia
R : Rate (laju) asupan (m
3
/jam)
t
E
: Waktu pajanan / bekerja dalam sehari (jam)
f
E
: Frekuensi pajanan tahunan (hari/tahun)
D
t
: Durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi
W
b
: Berat badan (kg)
t
avg
: Periode waktu rata-rata, 30 tahun x 365 hari/tahun (nonkarsinogenik)

Kemudian untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan (Risk Quotient/RQ) pada
karyawan, maka dilakukan perhitungan RQ dengan rumus sebagai berikut:

RQ (Risk Quotient) menyatakan kemungkinan risiko yang potensial terjadi
akibat pajanan benzena. Nilai RQ > 1 menunjukkan benzena telah di atas normal,
sehingga dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi pengemudi tersebut sepanjang
hidupnya. Nilai RQ < 1 menunjukkan bahwa pajanan benzena berada di bawah batas
yang diperbolehkan sehingga karyawan yang terpajan masih terhitung aman dari risiko
kesehatan akibat benzena selama hidupnya.

4.7.2. Perhitungan Risiko Karsinogenik
Untuk risiko kanker dihitung berdasarkan jumlah asupan risk agent sepanjang
hayat sehingga dapat diketahui berapa besar risiko dampak yang ditimbulkannya
terhadap karyawan. Data dan informasi yang dibutuhkan untuk menghitung asupan
benzena dalam tubuh karyawan adalah semua variabel dalam formula sebagai berikut
(Louvar dan Louvar, 1998).

Keterangan:
I : asupan (intake), jumlah risk agent yang diterima individu per satuan,
mg/kg/hari
C : Konsentrasi risk agent benzena di udara (mg/m
3
)
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
45

Universitas Indonesia
R : Rate (laju) asupan (m
3
/jam)
t
E
: Waktu pajanan / bekerja dalam sehari (jam)
f
E
: Frekuensi pajanan tahunan (hari/tahun)
D
t
: Durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi
W
b
: Berat badan (kg)
t
avg
: Periode waktu rata-rata, 30 tahun x 365 hari/tahun (nonkarsinogenik)

Untuk menentukan risiko karsinogenik, maka dibutuhkan nilai Cancer Slope
Factor (CSF). Dimana nilai ini diturunkan dari data yang ada di IRIS tentang nilai Air
Unit Risk benzena yaitu: 2,2 x 10
-6
hingga 7,8 x 10
-6
, untuk kemudian ditentukanlah
nilai risiko kankernya dengan menggunakan rumus:


Dengan:
ECR : Excess Cancer Risk (Risiko Kanker)
I
k
: Jumlah intake kronis (sepanjang hayat, yaitu selama 70 tahun)
CSF : Cancer Slope Factor

Nilai ambang batas risiko kanker yang dapat diterima, penulis menggunakan
mengadopsi dari IRIS US-EPA, yaitu 1 x 10
-6
(satu kasus untuk satu juta penduduk)
untuk konsentrasi benzena di udara sebesar 13 45 g/m
3
, 1 x 10
-5
(satu kasus dalam
seratus ribu penduduk) untuk konsentrasi benzena di udara 1,3 4,5 g/m
3
, dan 1 x 10
-4

(satu kasus dalam sepuluh ribu penduduk) untuk konsentrasi benzena di udara 0,13
4,5 g/m
3
. Dalam penelitian ini dipilih nilai ambang batas risiko kanker adalah 1 x 10
-4

untuk konsentrasi benzena di udara 0,13 4,5 g/m
3
, nilai ini dipilih karena populasi
responden yang sedikit.

ECR = I
k
x CSF
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
46

Universitas Indonesia
BAB 5
HASIL PENELITIAN


5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi SPBU X terletak di Pancoranmas Depok. SPBU ini memiliki 4 tempat
penyimpanan BBM bawah tanah, terdiri atas 2 untuk Premium, 1 untuk Pertamax dan
Solar dengan kapasitas secara berurutan yaitu 75.000 liter, 21.000 liter, dan 32.000 liter.
Kemudian di SPBU ini memiliki 10 mesin pompa bahan bakar, yaitu 7 mesin pompa
untuk Premium, 2 untuk Pertamax, dan 1 untuk Solar. Jumlah seluruh karyawan
sebanyak 15 orang, terdiri atas 13 orang bagian operator mesin bahan bakar (13
perempuan) dan 2 orang bagian administrasi (2 laki-laki).
Untuk hari kerja operator mesin bahan bakar minyak yaitu dari hari Senin
sampai dengan hari Minggu yang terbagi menjadi 2 shift. Shift pertama bertugas dari
pukul 04.30 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB, Shift kedua bertugas dari pukul
13.30 WIB sampai dengan pukul 22.30 WIB. Untuk sistem libur bagi operator SPBU
adalah sistem libur tidak tetap, jadi operator SPBU hanya diberikan satu hari saja untuk
libur dan mereka bisa bebas memilih hari apa saja untuk liburnya. Kemudian untuk hari
kerja karyawan bagian administrasi yaitu setiap hari, karena tidak ada hari libur bagi
karyawan bagian administrasi.

5.2. Pola Pajanan
5.2.1. Konsentrasi Benzena Di Udara
Berikut disajikan Tabel distribusi konsentrasi

benzena di udara lingkungan kerja
SPBU X Pancoranmas Depok:








Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
47

Universitas Indonesia
Tabel 5.1.
Distribusi konsentrasi

benzena di udara SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011
Lokasi/titik
Pengukuran
Nama
Zat
Bentuk
Fisik
Hasil
Pengukuran
(ppm)
Hasil
Pengukuran
(mg/m
3
)
NAB
(ppm)*
NAB
(mg/m
3
)**
Area SPBU
X (Outdor
Air Quality)
Benzena
(C
6
H
6)

Gas 0,02 0,06 0,5 32
Area Bagian
Administrasi
(Indoor Air
Quality)
Benzena
(C
6
H
6)

Gas 0,02 0,06 0,5 32

* Referensi NAB: Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia NOMOR PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
** Referensi NAB: Standar Nasional Indonesia 19-0232-2005 tentang Nilai Ambang
Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerja.

Hasil pengukuran apabila dikonversikan ke dalam satuan mg/m
3
sebagai berikut:



(Nedved & Milos, 1991:123)


mg/m
3
= 0,06 mg/m
3
= 0,06



0,02 x 78,11
24,5
mg/m
3
=
0,02 x 78,11
24,5
mg/m
3
=

ppm x BM
Benzena

24,5
mg/m
3
=
=
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
48

Universitas Indonesia
5.2.2. Waktu Pajanan (t
E
)
Waktu pajanan didapatkan berdasarkan perhitungan sistem shift yang berlaku
atau yang telah ditetapkan perusahaan serta waktu untuk melayani pembelian BBM
dalam satu hari. Satuan yang dipakai adalah jumlah keterpajanan karyawan terhadap
benzena dalam jam/hari. Jumlah shift yang ada di SPBU X ini yaitu 2 shift dengan
jumlah karyawan operator SPBU pada masing-masing shift berjumlah 7 orang untuk
shift siang dan 6 orang untuk shift pagi dan 2 orang di bagian administrasi. Berdasarkan
hasil kuesioner dan wawancara dengan manager SPBU X didapatkan bahwa dalam
satu hari operator SPBU bekerja selama 8 jam/hari dan karyawan administrasi bekerja
selama 8 jam/hari, maka dari itu peluang terjadinya terpajan benzena pada setiap shift
dalam satu hari adalah sama. Jadi dapat disimpulkan bahwa waktu pajanan pada setiap
karyawan terpajan benzena di SPBU X Pancoranmas Depok yaitu 8 jam/hari.

5.2.3. Frekuensi Pajanan (f
E
)
Satuan yang dipakai dalam variabel frekuensi pajanan (f
e
)

adalah hari/tahun.
Seberapa lama (dalam hari) pajanan benzena yang diterima oleh karyawan di SPBU X
Pancoranmas Depok dalam satu tahun. Variabel ini didapatkan dari hasil perhitungan
jumlah seluruh jam kerja selama satu tahun dikurangi dengan jumlah hari libur.
Berdasarkan hasil wawancara dengan manager SPBU bahwa sistem shift yang berlaku
adalah sebagai berikut:
Untuk operator pompa BBM: sistem dua shift, yaitu shift pagi (dari pukul 04.30
WIB s.d. 13.30 WIB) dan shift siang (dari pukul 13.30 WIB s.d. 22.30 WIB).
Jumlah hari kerja untuk operator SPBU yaitu 6 hari/minggu.
Untuk karyawan administrasi: sistem dua shift, yaitu shift pagi (dari pukul 04.30
WIB s.d. 13.30 WIB) dan shift siang (dari pukul 13.30 WIB s.d. 22.30 WIB).
Jumlah hari kerja untuk karyawan administrasi yaitu 7 hari/minggu.
Untuk mendapatkan jumlah hari kerja total karyawan dalam satu tahun, penulis
mengalikan jumlah hari kerja (dalam satu minggu) dengan 4 minggu (dalam satu bulan)
kemudian dikali 12 bulan (dalam satu tahun). Berikut uraiannya:
Untuk operator pompa BBM : 6 hari/minggu x 4 minggu x 12 bulan = 288
hari/tahun
Untuk karyawan administrasi : 7 hari/minggu x 4 minggu x 12 bulan = 336
hari/tahun
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
49

Universitas Indonesia
Menurut informasi yang didapatkan dari hasil wawancara dengan manager SPBU
bahwa tidak ada hari libur di SPBU ini dalam satu tahun. Berdasarkan informasi
keseluruhan, dapat ditentukan frekuensi pajanan dalam satu tahun yaitu 288 hari/tahun
untuk operator SPBU dan 336 hari/tahun untuk karyawan administrasi.

5.2.4. Durasi Pajanan (D
t
)
Untuk data durasi pajanan karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok terhadap
benzena ditentukan berdasarkan pengolahan data dari hasil pengisian kuesioner
karyawan tentang sejak kapan mereka mulai bekerja di SPBU ini. Besarnya durasi
dihitung semenjak waktu karyawan mulai masuk bekerja di SPBU ini sampai dengan
saat penelitian ini dilakukan yaitu sampai bulan Desember 2011. Adapun satuan yang
digunakan untuk variabel ini adalah tahun. Hasil penelitian untuk variabel ini
didapatkan bahwa durasi terlama terhadap pajanan benzena yaitu 4,5 tahun, sedangkan
untuk durasi terkecil yaitu 0,08 tahun.



















Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
50

Universitas Indonesia
Tabel 5.2.
Distribusi pola pajanan benzena di udara terhadap karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok tahun 2011
Nomor
Responden
Konsentrasi Benzena
di Udara / C (mg/m
3
)
Waktu
Pajanan / t
E

(jam/hari)
Frekuensi
Pajanan / f
E

(hari/tahun)
Durasi
Pajanan /
D
t
(tahun)
1 * 0,06 8 228 4,5
2 * 0,06 8 228 0,6
3 * 0,06 8 228 0,5
4 * 0,06 8 228 0,6
5 * 0,06 8 228 4,5
6 * 0,06 8 228 1,3
7 ** 0,06 8 336 3
8 * 0,06 8 228 0,25
9 * 0,06 8 228 0,6
10 * 0,06 8 228 1
11 * 0,06 8 228 0,5
12 ** 0,06 8 336 4
13 * 0,06 8 228 2
14 * 0,06 8 228 3
15 * 0,06 8 228 0,1

Keterangan:
* Operator SPBU
** Karyawan Administrasi

5.3. Antropometri Pekerja
5.3.1. Berat Badan Karyawan (W
b
)
Berikut disajikan Tabel Distribusi Berat Badan (W
b)
karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok:



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
51

Universitas Indonesia
Tabel 5.3.
Distribusi berat badan (W
b)
karyawan SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011
Nomor Responden Berat Badan / W
b
(kg)
1 * 50
2 * 44
3 * 44
4 * 51
5 * 55
6 * 68
7 ** 62
8 * 45
9 * 55
10 * 62
11 * 42
12 ** 90
13 * 78
14 * 60
15 * 60
Min 42
Max 90
Mean 57,73
Median 55
Varian 179,35
Standar Deviasi (SD) 13,40
COV 23,21%

Keterangan:
* Operator SPBU
** Karyawan Administrasi

Variabel berat badan karyawan diukur berdasarkan hasil pengukuran langsung
dengan menggunakan timbangan berat badan. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
52

Universitas Indonesia
kemudian dihitung nilai rata-ratanya dengan tujuan untuk menjaga reliabilitas data.
Berat badan karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok berada pada range 42 - 90 kg.
Rata-rata berat badan seluruh karyawan di SPBU ini adalah 57,73 kg dengan nilai
Standar Deviasi yaitu 13,40.

5.3.2. I nhalation Rate (R)
Berikut disajikan Tabel Distribusi Inhalation Rate (R) terhadap pajanan benzena
di udara lingkungan kerja pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok:

Tabel 5.4.
Distribusi nilai inhalation rate (R) terhadap pajanan benzena di udara pada karyawan
SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011
Nomor Responden
I nhalation Rate /R
(m
3
/jam)
1 * 0,6
2 * 0,54
3 * 0,54
4 * 0,6
5 * 0,6
6 * 0,64
7 ** 0,62
8 * 0,55
9 * 0,6
10 * 0,62
11 * 0,53
12 ** 0,7
13 * 0,7
14 * 0,61
15 * 0,61

Untuk nilai inhalation rate (R) atau laju inhalasi, penulis menggunakan
berdasarkan data yang dihimpun oleh Abrianto (2004), menghimpun berbagai nilai
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
53

Universitas Indonesia
default sehingga didapatkan kurva logaritmik berat badan terhadap laju inhalasi normal
(US-EPA, 1997) yang menghasilkan persamaan:
y = 5,3 ln(x) 6,9
dengan: y = R (m
3
/hari)
x = W
b
(kg).

Contoh perhitungan pada responden pertama sebagai berikut:
y = 5,3 ln(x) 6,9
m
3
/hari = 5,3 ln(50) 6,9
m
3
/hari = 13,83 0,6 m
3
/jam
Dari hasil perhitungan inhalation rate (R) pada responden pertama didapat nilai R = 0,6
m
3
/jam. Kemudian dihitung juga pada responden kedua sampai responden lima belas
(lihat tabel 5.4.).

5.3.3. Status Merokok Karyawan
Berikut disajikan tabel distribusi status merokok pada karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok:

Tabel 5.5.
Distribusi status merokok pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011
Karakteristik Responden
(Status Merokok)
Jumlah
Presentase
(%)
Merokok 2 13,3
Tidak Merokok 13 86,7

Kebiasaan merokok akan menambah jumlah asupan benzena ke dalam tubuh
karyawan dimana akan memperburuk risiko kesehatan yang dihadapinya. Didapatkan
hasil sebanyak 13 orang tidak merokok (86,7%) dan sebanyak 2 orang merokok
(13,3%).




Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
54

Universitas Indonesia
5.4. Keluhan Kesehatan
Berdasarkan perhitungan kuesioner kepada seluruh karyawan dengan total 15
responden, didapatkan data keluhan subjektif terhadap kesehatan karyawan sebagai
berikut:

Tabel 6.1. Data keluhan kesehatan terhadap pajanan benzena pada karyawan SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011
Keluhan Jumlah Responden Persentase (%)
Pusing 11 73,33
Sesak napas 7 47
Mudah/cepat marah 8 53,33
Mual 2 13,33
Muntah 0 0

Dari seluruh keluhan kesehatan akibat pajanan benzena, yang terbanyak
dikeluhkan oleh responden adalah merasa pusing yaitu sebanyak 11 orang (73,33%),
mudah/cepat marah sebanyak 8 orang (53,33%), sesak napas sebanyak 7 orang (47%),
dan mual sebanyak 2 orang (13,33%).

5.5. Analisis Dosis-Respon
5.5.1. Analisis Dosis-Respon Risiko Nonkanker Pajanan Benzena
Konsentrasi referensi merupakan nilai RfC (Reference Concentration) dari
pajanan benzena terhadap karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok. Nilai RfC dalam
penelitian ini menggunakan dosis referensi untuk inhalasi (reference dose, RfC) yang
ditetapkan oleh IRIS dari US-EPA yaitu sebesar 3x10
-2
mg/m
3
. Nilai RfC ini harus
dikonversi sehingga memiliki satuan mg/kg/hari. Karena nilai RfC didapatkan dari
penelitian yang dilakukan oleh Rothman et al. (US-EPA, 2002) yang menggunakan
nilai-nilai default dari US-EPA dalam eksperimennya, maka untuk konversi satuan RfC
ini digunakan data-data sebagai berikut:
Berat Badan (W
b
) = 70 kg
Laju Inhalasi (R) = 20 m
3
/hari
Maka RfC : 0,03 mg x 20 m
3
x 1_

m
3
hari 70 kg
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
55

Universitas Indonesia
= 0, 0086 mg/kg/hari = 0,01 mg/kg/hari

Nilai RfC (Reference Concentration) ini yang akan digunakan dalam perhitungan risiko
kesehatan nonkanker akibat pajanan benzena dengan rumus:


5.5.2. Analisis Dosis-Respon Risiko Kanker Pajanan Benzena
Perkiraan risiko karsinogenik ini dihitung dengan lama pajanan sepanjang hayat
(lifetime) selama 70 tahun (Louvar & Louvar, 1998). Perhitungan risiko karsinogenik
ini akan dilakukan untuk karyawan per bagian pekerjaan dan masing-masing individu.
Dalam perhitungan risiko kanker ini, selain membutuhkan pajanan sepajang hayat juga
nilai CSF (Cancer Slope Factor). Nilai CSF ini dapat diturunkan dari nilai air unit risk
benzena melalui inhalasi yang diterapkan oleh IRIS US-EPA, yaitu sebesar 2,2 x 10
-6

hingga 7,8 x 10
-6
untuk setiap 1 g/m
3
benzena, yang dapat diartikan bahwa untuk
setiap g/m
3
benzena di udara dapat menyebabkan

risiko kanker (ECR) sebesar 2,2
hingga 7,8 kasus per 1.000.000 populasi. Nilai CSF ini merupakan nilai yang tetap
untuk setiap populasi, hanya saja nilai air unit risk-nya yang berbeda.
Untuk menurunkan nilai CSF, digunakan dua nilai air unit risk, yaitu 2,2 x 10
-6
dan 7,8 x 10
-6
untuk setiap konsentrasi benzena di udara 1 g/m
3
. Nilai 2,2 x 10
-6
adalah
untuk perkiraan risiko yang minimal, sementara nilai 7,8 x 10
-6
adalah untuk perkiraan
risiko yang over estimate sehingga diperkirakan lebih dapat melindungi responden. Dan
dalam proses penurunan nilai CSF ini, digunakan nilai-nilai default dari US-EPA
Standard Default Exposure Factors (1991) dengan data-data sebagai berikut:
Laju inhalasi (R) = 20 m
3
/hari = 0,82 m
3
/jam
Frekuensi pajanan (f
e
) = 250 hari
Waktu pajanan (t
E
) = 8 jam/hari
Durasi pajanan (D
t
) = 25 tahun
Berat badan (W
b
) = 70 kg
Periode waktu rata-rata (t
avg
) = 365 hari/tahun x 70 tahun
Konsentrasi benzena (C) = 1 g/m
3
= 1 x 10
-3
mg/m
3

Risiko kanker (ECR) = 2,2 x 10
-6
dan 7,8 x 10
-6

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
56

Universitas Indonesia
Risiko kanker ini merupakan risiko kanker untuk populasi tertentu yang
digunakan dalam penelitian penentuan air unit risk yang diambil oleh IRIS US-EPA,
tetapi dapat ditentukan nilai Cancer Slope Factor (CSF) dengan menurunkan rumus
sebagai berikut:

ECR =I
k
x CSF CSF =ECR / I
k


Maka untuk air unit risk untuk 7,8 x 10
-6
didapatkan nilai CSF maksimum:

CSF = 7,8 x 10
-6
:

= 0,0000078 :

= 0,34 mg/kg/hari

Kemudian air unit risk untuk 2,2 x 10
-6
didapatkan nilai CSF minimum:

CSF = 2,2 x 10
-6
:

= 0,0000022 :

= 0,1 mg/kg/hari

Kedua nilai Cancer Slope Factor (CSF) ini yang akan digunakan dalam
perhitungan risiko kesehatan kanker akibat pajanan benzena di udara lingkungan kerja
terhadap karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok, untuk memperkirakan risiko
minimum dan risiko maksimum (over estimate) yang akan terjadi terhadap para
karyawan.

5.6. Analisis Pemajanan (Exposure Assessment)
Analisis pajanan adalah mengukur jumlah pajanan benzena ke dalam tubuh
karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok dengan menggunakan persamaan:
1 x 10
-3
mg/m
3
x 0,83 m
3
/jam x 8 jam/hari x 250 hari x 25 tahun
70 kg x 365 hari/tahun x 70 tahun
41,5
1.788.500
1 x 10
-3
mg/m
3
x 0,83 m
3
/jam x 8 jam/hari x 250 hari x 25 tahun
70 kg x 365 hari/tahun x 70 tahun
41,5
1.788.500
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
57

Universitas Indonesia

Untuk melakukan analisis pajanan dilakukan perhitungan intake (asupan) benzena
dengan memasukkan nilai variabel yang dibutuhkan dalam perhitungan. Data
konsentrasi yang digunakan dalam perhitungan adalah data konsentrasi pajanan atau
konsentrasi benzena di lingkungan yang didapat dari hasil sampling area (indoor air
quality dan outdoor air quality). Intake (asupan) yang dihitung adalah berdasarkan
kondisi pajanan realtime, 3 tahun (UU RI No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
batas waktu maksimal kontrak kerja karyawan) dan lifetime.
Perhitungan intake individu sebagai contoh akan dilakukan pada responden
pertama dengan data-data yang dimiliki oleh responden pertama adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan Intake pajanan nonkanker

I
realtime (nk)
=

= 0,0005 mg/kg/hari

I
3 tahun (nk)
=

= 0,001 mg/kg/hari

I
lifetime (nk)
=

= 0,004 mg/kg/hari

Perhitungan intake pajanan nonkanker dilakukan pada pajanan realtime, 3 tahun
dan lifetime. Yang membedakan pajana realtime, 3 tahun dan lifetime adalah nilai
durasi pajanan, yakni pada pajanan realtime durasi yang diperhitungkan adalah durasi
sebenarnya atau lama responden telah bekerja di SPBU tersebut. Pada pajanan 3 tahun,
nilai durasi yang digunakan adalah durasi batas waktu maksimal kontrak kerja
karyawan berdasarkan UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sedangkan
pada pajanan lifetime nonkanker yakni 30 tahun.
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 4,5 th
50 kg x 30 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (4,5+3)th
50 kg x 30 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (4,5+30)th
50 kg x 30 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
58

Universitas Indonesia
Tabel 5.6.
Distribusi nilai intake (asupan) efek nonkarsinogenik berdasarkan pajanan benzena
realtime, 3 tahun, dan lifetime pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
tahun 2011
No.
No.
Responden
Realtime
(mg/kg/hari)
3 tahun
(mg/kg/hari)
lifetime
(mg/kg/hari)
1. 1 * 0,0005 0,001 0,004
2. 2 * 0,0008 0,0004 0,004
3. 3 * 0,0001 0,0004 0,004
4. 4 * 0,0001 0,0004 0,003
5. 5 * 0,0005 0,001 0,004
6. 6 * 0,0001 0,0004 0,003
7. 7 ** 0,0004 0,001 0,005
8. 8 * 0,00003 0,0004 0,004
9. 9 * 0,0001 0,0004 0,003
10. 10 * 0,0001 0,0004 0,003
11. 11 * 0,0001 0,0004 0,004
12. 12 ** 0,0004 0,001 0,004
13. 13 * 0,0002 0,0004 0,003
14. 14 * 0,0003 0,001 0,003
15. 15 * 0,00001 0,0003 0,003

Keterangan:
* Operator SPBU
** Karyawan Administrasi

b. Perhitungan Intake pajanan kanker

I
realtime (k)
=

= 0,0002 mg/kg/hari


0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 4,5 th
50 kg x 70 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
59

Universitas Indonesia

I
3 tahun (k)
=

= 0,0004 mg/kg/hari

I
lifetime (k)
=

= 0,002 mg/kg/hari

Pada pajanan benzena yang dapat berakibat kanker, perhitungan yang dilakukan
hamper sama, perbedaannya hanya terletak pada nilai periode rata-rata pajanan (t
avg
)
untuk kanker yaitu 70 tahun.





















0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (4,5+3)th
50 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (4,5+30)th
50 kg x 70 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
60

Universitas Indonesia
Tabel 5.7.
Distribusi nilai Intake (asupan) efek karsinogenik berdasarkan pajanan benzena
realtime, 3 tahun, dan lifetime pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
tahun 2011
No.
No.
Responden
Realtime
(mg/kg/hari)
3 tahun
(mg/kg/hari)
Lifetime
(mg/kg/hari)
1. 1 * 2 x 10
-4
4 x 10
-4
2 x 10
-3
2. 2 * 3 x 10
-5

2 x 10
-4
2 x 10
-3
3. 3 * 3 x 10
-5
2 x 10
-4
2 x 10
-3
4. 4 * 3 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3
5. 5 * 2 x 10
-4
3 x 10
-4
2 x 10
-3

6. 6 * 5 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3

7. 7 ** 2 x 10
-4
5 x 10
-4
2 x 10
-3

8. 8 * 1 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3

9. 9 * 3 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3

10. 10 * 4 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3

11. 11 * 2 x 10
-5
2 x 10
-4
2 x 10
-3

12. 12 ** 2 x 10
-4
4 x 10
-4
2 x 10
-3

13. 13 * 7 x 10
-5
2 x 10
-4
1 x 10
-3

14. 14 * 1 x 10
-4
2 x 10
-4
1 x 10
-3

15. 15 * 3 x 10
-6
1 x 10
-4
1 x 10
-3


Keterangan:
* Operator SPBU
** Karyawan Administrasi





Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
61

Universitas Indonesia
5.7. Karakteristik Risiko (Risk Characterization)
Karakteristik risiko untuk efek nonkanker dapat diketahui dengan membagi nilai
Intake dengan nilai RfD atau RfC sebagai berikut:

Setelah diperoleh nilai RQ, maka asumsi yang digunakan sebagai berikut:
Jika RQ < 1, maka konsentrasi hazard belum berisiko dapat menimbulkan efek
kesehatan nonkarsinogenik.
Jika RQ > 1, maka konsentrasi hazard berisiko dapat menimbulkan efek kesehatan
nonkarsinogenik.

Sedangkan karakteristik untuk efek kanker dapat diketahui dengan mengalikan nilai
Intake dengan nilai CSF.
ECR =I
k
x CSF
Setelah diperoleh nilai ECR, maka asumsi yang digunakan sebagai berikut:
Jika ECR < 10
-4
, maka konsentrasi hazard belum berisiko menimbulkan efek
kesehatan karsinogenik.
Jika ECR > 10
-4
, maka nilai konsentrasi hazard sudah dapat berisiko efek kesehatan
karsinogenik.

a. Perhitungan Risk Quotient (RQ) pada individu untuk pajanan nonkanker (pada
responden pertama)

RQ
realtime (nk)
= = 0,05


RQ
3 tahun (nk)
= = 0,1


RQ
lifetime (nk)
= = 0,4

0,0005 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,001 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,004 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
62

Universitas Indonesia
Diketahui pada responden pertama nilai RQ pada pajanan realtime, 3 tahun, dan
pajanan lifetime berturut-turut adalah 0,05 ; 0,1 ; 0,4. Ini menunjukkan bahwa pada
pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime belum berisiko terhadap efek nonkanker pada
responden pertama.

Tabel 5.8.
Distribusi nilai Risk Quotient (RQ) berdasarkan pajanan benzena selama realtime, 3
tahun, dan lifetime pada karyawan SPBU X Pancoranmas Depok tahun 2011
No.
Responden
Realtime 3 tahun Lifetime
1 * 0,05 0,1 0,4
2 * 0,1 0,04 0,4
3 * 0,01 0,04 0,4
4 * 0,01 0,04 0,3
5 * 0,05 0,1 0,4
6 * 0,01 0,04 0,3
7 ** 0,04 0,1 0,5
8 * 0,003 0,04 0,4
9 * 0,01 0,04 0,3
10 * 0,01 0,04 0,3
11 * 0,01 0,04 0,4
12 ** 0,04 0,1 0,4
13 * 0,02 0,04 0,3
14 * 0,03 0,1 0,3
15 * 0,001 0,03 0,3








Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
63

Universitas Indonesia
Tabel 5.9.
Persentase nilai Risk Quotient (RQ) pajanan benzena selama realtime, 3 tahun, dan
lifetime berdasarkan perhitungan individu pada karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok tahun 2011
Pajanan
Risk Quotient
(RQ)
Jumlah
Total
Orang Persentase
RQ
Realtime
RQ < 1 15 100%
15 orang
RQ > 1 0 0%
RQ
3 tahun
RQ < 1 15 100%
15 orang
RQ > 1 0 0%
RQ
Lifetime
RQ < 1 15 100%
15 orang
RQ > 1 0 0%

Diketahui nilai RQ dari seluruh responden yaitu pada pajanan realtime tidak
terdapat karyawan (0%) dengan nilai RQ > 1 dan 15 orang (100%) dengan nilai RQ < 1.
Pada pajanan 3 tahun tidak terdapat karyawan (0%) dengan nilai RQ > 1 dan 15 orang
(100%) dengan nilai RQ < 1. Dan pada pajanan lifetime, juga tidak terdapat karyawan
(0%) dengan nilai RQ > 1 dan 15 orang (100%) dengan nilai RQ < 1. Kesimpulannya,
seluruh karyawan pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime belum berisiko efek
nonkanker terhadap pajanan benzena.

b. Perhitungan risiko kanker (ECR) individu pada pajanan yang dapat mengakibatkan
kanker (pada responden pertama):
ECR =I
k
x CSF
ECR
realtime (k)
= (2 x 10
-4
)

x 0,1 = 0,0002 x 0,1 = 0,00002
= 2 x 10
-5
risiko minimum
ECR
realtime (k)
= (2 x 10
-4
)

x 0,34 = 0,0002 x 0,34 = 0,00007
= 7 x 10
-5
risiko maksimum




Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
64

Universitas Indonesia
ECR
3 tahun (k)
= (4 x 10
-4
)

x 0,1 = 0,0004 x 0,1 = 0,00004
= 4 x 10
-5
risiko minimum
ECR
3 tahun (k)
= (4 x 10
-4
) x 0,34 = 0,0004 x 0,34 = 0,0001
= 1 x 10
-4
risiko maksimum

ECR
lifetime (k)
= (2 x 10
-3
) x 0,1 = 0,002 x 0,1 = 0,0002
= 2 x 10
-4
risiko minimum
ECR
lifetime (k)
= (2 x 10
-3
) x 0,34 = 0,002 x 0,34 = 0,0007
= 7 x 10
-4
risiko maksimum

Risiko kesehatan kanker pajanan realtime pada responden pertama yaitu sebesar
2 x 10
-5
- 7 x 10
-5
, artinya nilai risiko kanker ini belum melebihi ambang batas (ECR <
1 x 10
-4
). Kemudian pada pajanan selama 3 tahun, nilai ECR sebesar 4 x 10
-5
- 1 x 10
-4
,
artinya pada nilai ECR minimal dan maksimal belum berisiko kanker. Dan pada pajanan
lifetime, nilai ECR sebesar 2 x 10
-4
7 x 10
-4
, artinya kedua nilai tersebut sudah berisiko
kanker.















Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
65

Universitas Indonesia
Tabel 5.10.
Distribusi nilai Excess Cancer Risk (ECR) pajanan benzena selama realtime, 3 tahun,
dan lifetime berdasarkan perhitungan individu pada karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok tahun 2011
No.
Responden
Realtime 3 tahun Lifetime
ECR
Min
ECR
Maks
ECR
Min
ECR
Maks
ECR
Min
ECR
Maks
1 * 2 x 10
-5
7 x 10
-5
4 x 10
-5
1 x 10
-4
2 x 10
-4
7 x 10
-4

2 * 3 x 10
-6
2 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
2 x 10
-4
7 x 10
-4

3 * 3 x 10
-6
2 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
2 x 10
-4
7 x 10
-4

4 * 3 x 10
-6
2 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

5 * 2 x 10
-5
7 x 10
-5
3 x 10
-5
1 x 10
-4
2 x 10
-4
7 x 10
-4

6 * 5 x 10
-6
1 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

7 ** 2 x 10
-5
7 x 10
-5
5 x 10
-5
2 x 10
-4
2 x 10
-4
7 x 10
-4

8 * 1 x 10
-6
3 x 10
-6
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

9 * 3 x 10
-6
1 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

10 * 4 x 10
-6
1 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

11 * 2 x 10
-6
7 x 10
-6
2 x 10
-5
7 x 10
-5
2 x 10
-4
7 x 10
-4

12 ** 2 x 10
-6
7 x 10
-6
4 x 10
-5
1 x 10
-4
2 x 10
-4
7 x 10
-4

13 * 7 x 10
-6
2 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

14 * 1 x 10
-5
3 x 10
-5
2 x 10
-5
7 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4

15 * 3 x 10
-7
1 x 10
-5
1 x 10
-5
3 x 10
-5
1 x 10
-4
3 x 10
-4












Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
66

Universitas Indonesia
Tabel 5.11.
Persentase nilai Excess Cancer Risk (ECR) pajanan benzena selama realtime, 3 tahun,
dan lifetime berdasarkan perhitungan individu pada karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok tahun 2011
Pajanan ECR
Jumlah
Total
Orang Persentase
ECR
Realtime
ECR < 10
-4
15 100%
15 orang
ECR > 10
-4
0 0%
ECR
3 tahun
ECR < 10
-4
14 93,33%
15 orang
ECR > 10
-4
1 6,66%
ECR
Lifetime
ECR < 10
-4
0 0%
15 orang
ECR > 10
-4
15 100%

Diketahui nilai ECR seluruh responden yaitu pada pajanan realtime tidak terdapat
karyawan (0%) dengan nilai ECR > 10
-4
dan terdapat 15 orang (100%) dengan nilai
ECR < 10
-4
. Kemudian pada pajanan 3 tahun, terdapat 1 karyawan (6,66%) dengan nilai
ECR > 10
-4
dan terdapat 14 orang (93,33%) dengan nilai ECR < 10
-4
. Dan pada pajanan
lifetime, terdapat 15 karyawan (100%) dengan nilai ECR > 10
-4
dan tidak terdapat
karyawan (0%) dengan nilai ECR < 10
-4
.

5.8. Estimasi Risiko Kesehatan Populasi Karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok Terhadap Pajanan Benzena
Perhitungan risiko populasi terhadap pajanan benzena dilakukan pada durasi
pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime. Yang membedakan perhitungan populasi dengan
individu adalah nilai variabel yang digunakan pada perhitungan ini merupakan nilai-
nilai yang mewakili nilai tiap-tiap variabel pada populasi.
Nilai konsentrasi (C) adalah nilai konsentrasi pajanan benzena yang berbeda
pada 2 titik pada lokasi penelitian ini, yaitu area SPBU dan ruang administrasi. Nilai
konsentrasi pada titik 1 (area SPBU) yaitu 0,06 mg/m
3
dan nilai konsentrasi pada titik 2
(ruang administrasi) yaitu 0,06 mg/m
3
. Nilai laju inhalasi (R) yang digunakan
berdasarkan pengolahan data, diketahui bahwa data laju inhalasi responden berdistribusi
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
67

Universitas Indonesia
normal (COV < 20%), sehingga nilai laju inhalasi yang digunakan adalah data mean
yaitu 0,6 m
3
/jam (operator pompa BBM) dan 0,08 m
3
/jam (karyawan administrasi).
Waktu/lama pajanan (t
E
) adalah nilai waktu pajanan responden dalam 1 hari, yaitu 8
jam/hari. Nilai ini sama pada semua responden karena lama jam kerja responden adalah
8 jam dalam 1 shift.
Variabel frekuensi pajanan (f
E
) adalah jumlah hari kerja responden dalam 1
tahun, yaitu 228 hari/tahun (operator pompa BBM) dan 336 hari/tahun (karyawan
administrasi). Dan untuk variabel durasi pajanan (D
t
) pada masing-masing responden
berbeda, bergantung pada berapa lama responden bekerja untuk pajanan realtime. Nilai
durasi pajanan pada responden operator pompa BBM berdistribusi tidak normal,
sehingga menggunakan nilai median yaitu 0,58 tahun dan nilai durasi pada responden
karyawan administrasi berdistribusi normal sehingga menggunakan nilai mean yaitu 3,5
tahun.
Pajanan 3 tahun dihitung untuk mempertimbangkan waktu maksimal seorang
karyawan dipekerjakan di dalam sebuah perusahaan. Sedangkan untuk pajanan lifetime
digunakan nilai default (30 tahun untuk nonkanker dan 70 tahun untuk kanker). Nilai
berat badan (W
b
) pada responden operator pompa BBM berdistribusi normal, sehingga
menggunakan nilai mean yaitu 55 kg dan nilai berat badan pada responden karyawan
administrasi berdistribusi tidak normal, sehingga menggunakan nilai median yaitu 76
kg.

5.8.1. Estimasi Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Populasi Karyawan
Operator Pompa BBM

Perhitungan estimasi risiko kesehatan pada pajanan benzena nonkanker sebagai
berikut:

I
realtime (nk)
=

= 6 x 10
-5
mg/kg/hari


0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 0,58 th
55 kg x 30 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
68

Universitas Indonesia

I
3 tahun (nk)
=

= 4 x 10
-4
mg/kg/hari

I
lifetime (nk)
=

= 3 x 10
-3
mg/kg/hari

Pada perhitungan Intake nonkanker, didapatkan nilai pajanan realtime, 3 tahun, dan
lifetime secara berturut-turut adalah 6 x 10
-5
mg/kg/hari ; 4 x 10
-4
mg/kg/hari, dan 3 x
10
-3
mg/kg/hari. Kemudian dilakukan perhitungan Risk Quotient (RQ) sebagai berikut:

RQ
realtime (nk)
= = 6 x 10
-3



RQ
3 tahun (nk)
= = 4 x 10
-2



RQ
lifetime (nk)
= = 3 x 10
-1



Nilai estimasi risiko nonkanker (RQ) pada populasi karyawan operator pompa
BBM yang terpajan benzena untuk pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara
berturut-turut adalah 6 x 10
-3
; 4 x 10
-2
; dan 3 x 10
-1
. Dari nilai-nilai tersebut diketahui
bahwa pada semua pajanan di populasi ini belum berisiko terkena efek nonkanker (RQ
< 1).
Perhitungan estimasi risiko kesehatan kanker pajanan benzena sebagai berikut:

I
realtime (k)
=

= 2 x 10
-5
mg/kg/hari
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 30 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+3)th
55 kg x 30 th x 365 hari/th
0,00006 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,0004 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,003 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 0,58 th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
69

Universitas Indonesia

I
3 tahun (k)
=

= 1 x 10
-4
mg/kg/hari

I
lifetime (k)
=

= 1 x 10
-3
mg/kg/hari

Pada perhitungan Intake berisiko kanker, didapatkan nilai pajanan realtime, 3 tahun, dan
lifetime secara berturut-turut adalah 2 x 10
-5
mg/kg/hari ; 1 x 10
-4
mg/kg/hari, dan 1 x
10
-3
mg/kg/hari. Kemudian dilakukan perhitungan ECR sebagai berikut:

ECR
realtime (k)
= 2 x 10
-5
x 0,1 = 2 x 10
-6
risiko minimum
ECR
realtime (k)
= 2 x 10
-5
x 0,34 = 7 x 10
-6
risiko maksimum

ECR
3 tahun (k)
= 1 x 10
-4
x 0,1 = 1 x 10
-5
risiko minimum
ECR
3 tahun (k)
= 1 x 10
-4
x 0,34 = 3 x 10
-5
risiko maksimum

ECR
lifetime (k)
= 1 x 10
-3
x 0,1 = 1 x 10
-4
risiko minimum
ECR
lifetime (k)
= 1 x 10
-3
x 0,34 = 3 x 10
-4
risiko maksimum

Nilai estimasi risiko kanker (ECR) pada populasi karyawan operator pompa
BBM yang terpajan benzena untuk pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara
berturut-turut adalah 2 x 10
-6
(risiko minimum) dan 7 x 10
-6
(risiko maksimum), 1 x 10
-5
(risiko minimum) dan 3 x 10
-5
(risiko maksimum), dan 1 x 10
-4
(risiko minimum) dan 3
x 10
-4
(risiko maksimum). Dari nilai-nilai tersebut populasi ini sudah berisiko kanker
pada pajanan lifetime karena ECR > 10
-4
, sehingga diperlukan upaya manajemen risiko.

0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+3)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
70

Universitas Indonesia
5.8.2. Estimasi Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Populasi Karyawan
Bagian Administrasi

Perhitungan estimasi risiko kesehatan nonkanker pajanan benzena sebagai
berikut:

I
realtime (nk)
=

= 5 x 10
-5
mg/kg/hari

I
3 tahun (nk)
=

= 1 x 10
-4
mg/kg/hari

I
lifetime (nk)
=

= 5 x 10
-4
mg/kg/hari

Pada perhitungan Intake nonkanker, didapatkan nilai pajanan realtime, 3 tahun,
dan lifetime secara berturut-turut adalah 5 x 10
-5
mg/kg/hari ; 1 x 10
-4
mg/kg/hari, dan 5
x 10
-4
mg/kg/hari. Kemudian dilakukan perhitungan Risk Quotient (RQ) sebagai
berikut:

RQ
realtime (nk)
= = 5 x 10
-3



RQ
3 tahun (nk)
= = 1 x 10
-2



RQ
lifetime (nk)
= = 5 x 10
-2


0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x (3,5+30)th
76 kg x 30 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x 3,5 th
76 kg x 30 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x (3,5+3)th
76 kg x 30 th x 365 hari/th
0,00005 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,0001 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
0,0005 mg/kg/hari
0,01 mg/kg/hari
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
71

Universitas Indonesia
Nilai estimasi risiko nonkanker (RQ) pada populasi karyawan bagian
administrasi yang terpajan benzena untuk pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara
berturut-turut adalah 5 x 10
-3
; 1 x 10
-2
; dan 5 x 10
-2
. Dari nilai-nilai tersebut diketahui
bahwa pada semua pajanan di populasi ini belum berisiko terkena efek nonkanker (RQ
< 1).
Perhitungan estimasi risiko kesehatan kanker pajanan benzena sebagai berikut:

I
realtime (k)
=

= 2 x 10
-5
mg/kg/hari

I
3 tahun (k)
=

= 4 x 10
-5
mg/kg/hari

I
lifetime (k)
=

= 2 x 10
-4
mg/kg/hari

Pada perhitungan Intake berefek kanker, didapatkan nilai pajanan realtime, 3
tahun, dan lifetime secara berturut-turut adalah 2 x 10
-5
mg/kg/hari ; 4 x 10
-5

mg/kg/hari, dan 2 x 10
-4
mg/kg/hari. Kemudian dilakukan perhitungan ECR sebagai
berikut:
ECR
realtime (k)
= 2 x 10
-5
x 0,1 = 2 x 10
-6
risiko minimum
ECR
realtime (k)
= 2 x 10
-5
x 0,34 = 7 x 10
-6
risiko maksimum

ECR
3 tahun (k)
= 4 x 10
-5
x 0,1 = 4 x 10
-6
risiko minimum
ECR
3 tahun (k)
= 4 x 10
-5
x 0,34 = 1 x 10
-5
risiko maksimum

ECR
lifetime (k)
= 2 x 10
-4
x 0,1 = 2 x 10
-5
risiko minimum
ECR
lifetime (k)
= 2 x 10
-4
x 0,34 = 7 x 10
-5
risiko maksimum
0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x (3,5+3)th

76 kg x 70 th x 365 hari/th

0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x (3,5+30)th

76 kg x 70 th x 365 hari/th

0,06 mg/m
3
x 0,08 m
3
/jam x 8 jam/hari x 336 hari/th x 3,5 th

76 kg x 70 th x 365 hari/th

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
72

Universitas Indonesia
Nilai estimasi risiko kanker (ECR) pada populasi karyawan operator pompa
BBM yang terpajan benzena untuk pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara
berturut-turut adalah 2 x 10
-6
(risiko minimum) dan 7 x 10
-6
(risiko maksimum), 4 x 10
-6
(risiko minimum) dan 1 x 10
-5
(risiko maksimum), dan 2 x 10
-5
(risiko minimum) dan 7
x 10
-5
(risiko maksimum). Dari nilai-nilai tersebut populasi ini belum berisiko efek
kanker.

5.9. Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah suatu upaya untuk melindungi populasi yang terpajan
dengan berbagai cara, dapat dengan menghindari kontak, mengurangi kontak atau
menggunakan alat perlindungan. Namun dalam perhitungan Analisis Risiko Kesehatan,
manajemen risiko yang dilakukan adalah dengan memperhitungkan setiap komponen
atau variabel sehingga ditemukan batas aman yang dapat melindungi populasi, yaitu
dengan menurunkan konsentrasi pajanan, mengurangi waktu keterpajanan atau durasi
pajanan dan frekuensi pajanan.
Berdasarkan karakteristik risiko, dapat dirumuskan pilihan-pilihan manajemen
risiko untuk meminimalkan RQ dan ECR dengan memanipulasi (mengubah) nilai
faktor-faktor pemajanan yang tercakup dalam Persamaan (1) sedemikian rupa sehingga
asupan lebih kecil atau sama dengan dosis referensi toksisitasnya. Pada dasarnya hanya
ada dua cara untuk menyamakan I
nk
dengan RfD atau RfC atau mengubah I
k
sedemikian
rupa sehingga ECR tidak melebihi E-4, yaitu menurunkan konsentrasi risk agent atau
mengurangi waktu kontak. Ini berarti hanya variabel-variabel Persamaan (1) tertentu
saja yang bisa diubah-ubah nilainya.
Dari hasil perhitungan estimasi untuk efek nonkanker dan efek kanker, baik pada
populasi operator pompa BBM dan karyawan administrasi bahwa semuanya diketahui
belum berisiko efek nonkanker dan efek kanker. Namun, apabila diketahui salah satu
populasi berisiko nonkanker (RQ > 1) dan atau berisiko kanker (ECR > 10
-4
), sehingga
diperlukan suatu manajemen risiko untuk melindungi populasi tersebut.
Perhitungan Intake pada kegiatan manajemen risiko efek karsinogenik pada
karyawan operator pompa BBM adalah sebagai berikut:


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
73

Universitas Indonesia
Intake = 10
-4
/ 0,34
= 0,0003 mg/kg/hari intake minimum
Intake = 10
-4
/ 0,1
= 0,001 mg/kg/hari intake maksimum

a. Mengurangi konsentrasi selama pajanan lifetime




C mg/m
3
=

= 0,013 mg/m
3





C mg/m
3
=

= 0,042 mg/m
3

b. Mengurangi lama pajanan (t
E
) selama pajanan lifetime




t
E
jam/hari =

= 2 jam/hari

= 0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x t
E
jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,0003
mg/kg/hari
0,0003 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 228 hari/th x 30,58 th
0,0003
mg/kg/hari
= C mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,0003 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 30,58 th
= C mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,001 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 228 hari/th x 30,58 th
0,001
mg/kg/hari
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
74

Universitas Indonesia




t
E
jam/hari =

= 6 jam/hari

c. Mengurangi frekuensi pajanan (f
E
) selama pajanan lifetime



f
E
hari/th =

= 47 hari/tahun



f
E
hari/th =

= 159 hari/tahun

d. Mengurangi durasi pajanan (D
t
)
Durasi pajanan dapat langsung ditentukan sebesar 3 tahun terhadap karyawan SPBU
X, hasil perhitungan estimasi risiko kanker terhadap populasi karyawan operator
pompa BBM yang terpajan benzene dengan durasi pajanan 3 tahun ternyata belum
berisiko untuk mendapatkan efek kanker pada populasi tersebut.



0,0003
mg/kg/hari
= 0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x f
E
hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,0003 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 30,58 th
= 0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x t
E
jam/hari x 228 hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,001
mg/kg/hari
0,001 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 228 hari/th x 30,58 th
0,001
mg/kg/hari
= 0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x f
E
hari/th x (0,58+30)th
55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,001 mg/kg/hari x 55 kg x 70 th x 365 hari/th
0,06 mg/m
3
x 0,6 m
3
/jam x 8 jam/hari x 30,58 th
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
75

Universitas Indonesia
Tabel 5.12.
Data hasil perhitungan pilihan pengendalian risiko efek nonkanker terhadap pajanan
benzena yang aman pada populasi karyawan operator pompa BBM SPBU X
Pancoranmas Depok tahun 2011
Komponen Data Awal
Variabel Aman
Nilai Min Nilai Maks
Konsentrasi (C) 0,06 mg/m
3
0,013 mg/m
3
0,032 mg/m
3

Lama Pajanan (t
E
)
8 jam/hari 2 jam/hari 6 jam/hari
Frekuensi Pajanan (f
E
)
228 hari/tahun 47 hari/tahun 159 hari/tahun
Durasi Pajanan (D
t
) 30 tahun 3 tahun


Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
76

Universitas Indonesia
BAB 6
PEMBAHASAN


6.1. Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk populasi pekerja yang
terpajan benzena pada umumnya, karena penelitian ini terbatas hanya memperkirakan
risiko kesehatan pajanan benzena terhadap karyawan di SPBU X Pancoranmas
Depok.
Penulis menggunakan bahan pustaka yang diambil dari negara-negara yang telah
maju dalam menggunakan pendekatan ini, dikarenakan bahan pustaka di dalam negeri
yang terbatas membuat penulis menggunakan referensi dari penelitian di negara-negara
tersebut. Seperti penetapan nilai reference concentration (RfC) benzena yang dalam hal
ini penulis mengadopsi nilai acuan dari penelitian yang dilakukan oleh Rothman et al.
(US-EPA, 2002) yang menggunakan nilai-nilai default dari US-EPA dalam
eksperimennya. Di dalam nilai acuan ini terdapat dua nilai, yaitu nilai berat badan (W
b
)
dan laju inhalasi (R). Untuk nilai berat badan belum mewakili nilai berat badan orang
Indonesia yaitu 50 kg (Laurence dan Bacharach, 1964 dalam Febriyantho, 2009), tetapi
untuk nilai laju inhalasi (inhalation rate/R) penulis mengadopsi dari data yang dihimpun
oleh Abrianto (2004) menghimpun berbagai nilai default sehingga didapatkan kurva
logaritmik berat badan terhadap laju inhalasi normal (US-EPA, 1997) yang
menghasilkan persamaan y = 5,3 ln(x) 6,9 dimana y = R (m
3
/hari) dan x = W
b
(kg),
maka laju inhalasi dapat diperkirakan sesuai dengan karakteristik antropometri
masyarakat Indonesia.
Kemudian untuk pengukuran konsentrasi benzena di udara, pengukuran hanya
dilakukan satu kali, yaitu pada pagi hari pukul 09.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB.
Hal ini kurang representatif dalam mewakili keadaan keseluruhan dalam penentuan
konsentrasi benzena di udara lingkungan kerja SPBU X Pancoranmas Depok.

6.2. Sumber Pajanan Benzena di SPBU X Pancoranmas Depok
Terdapat beberapa sumber potensial pajanan benzena di SPBU X Pancoranmas
Depok, yaitu sumber pajanan tetap dan sumber pajanan tidak tetap. Sumber pajanan
tetap yaitu berasal dari 4 tempat penyimpanan BBM bawah tanah, terdiri atas 2 untuk
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
77

Universitas Indonesia
Premium, 1 untuk Pertamax dan Solar dengan kapasitas secara berurutan yaitu 75.000
liter, 21.000 liter, dan 32.000 liter. Kemudian 10 mesin pompa bahan bakar, yaitu 7
mesin pompa untuk Premium, 2 untuk Pertamax, dan 1 untuk Solar. Sedangkan sumber
tidak tetap yaitu berasal dari pembakaran kendaraan bermotor yang mengantri untuk
membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).

6.3. Distribusi Variabel-variabel Pola Pajanan dan Antropometri Pekerja
6.3.1. Konsentrasi Pajanan Benzena di Udara
Hasil pengukuran kadar benzena di udara di tiga titik yang berbeda yaitu, 0,0170
ppm (titik 1, filling point 1-2), 0,0170 ppm (titik 2, filling point 4), dan 0,0214 ppm
(titik 3, ruang administrasi). Dikarenakan subjek penelitian ini adalah operator pompa
BBM dan karyawan administrasi, jadi hasil pengukuran pada titik 1 dan 2 penulis
mengambil nilai rata-ratanya menjadi 0,02 ppm untuk nilai konsentrasi area SPBU dan
0,02 ppm untuk nilai konsentrasi ruang administrasi. Kemudian nilai tersebut dikonversi
menjadi satuan mg/m
3
yaitu 0,06 mg/m
3
untuk konsentrasi area SPBU dan 0,06 mg/m
3

untuk konsentrasi ruang administrasi.
Dari hasil pengukuran awal (kadar benzena di udara), terlihat bahwa nilai
konsentrasi di ruang administrasi (0,02 ppm) sama dengan nilai konsentrasi di area
SPBU (0,02 ppm). Menurut penulis hal ini terjadi karena walaupun kedua hasil
pengukuran tersebut sama dan yang berisiko tinggi terpajan benzena ialah operator
pompa BBM, tetapi di ruang administrasi terdapat pintu yang terkadang dalam keadaan
tertutup dan terbuka. Ini terjadi karena aktifitas keluar masuk karyawan dari dan menuju
ke ruang administrasi sering terjadi, sehingga mengakibatkan kadar benzena yang
diemisikan dari beberapa sumber di lingkungan SPBU dengan mudah dapat masuk ke
dalam ruangan, sehingga akan terjadi akumulasi konsentrasi karena tidak terjadi
pengenceran atau pergantian udara. Ditambah juga para karyawan operator mesin
pompa BBM melakukan absensi dan briefing setelah selesai bertugas di ruangan
administrasi, mengakibatkan kulit dan pakaian kerja yang mereka gunakan saat bekerja
kemungkinan dapat menghantarkan uap benzena ke dalam ruangan akibat percikan atau
tumpahan bahan bakar minyak.
Jika dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditentukan oleh
ACGIH, NIOSH, dan OSHA (0,5 ppm, 0,1 ppm, dan 1 ppm), konsentrasi benzena di
lingkungan SPBU X ini masih berada di bawah nilai NAB yang ditetapkan untuk
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
78

Universitas Indonesia
pajanan selama 8 jam kerja. Selain itu, jika dibandingkan juga dengan beberapa
peraturan di Indonesia, diantaranya Standar Nasional Indonesia tahun 2005 (SNI 2005)
yang mengacu pada Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE 01/Men/1997 yang
memuat tentang Nilai Ambang Batas (NAB) rata-rata tertimbang waktu (TWA/Time
Weighted Average) zat kimia di tempat kerja dengan jumlah jam kerja 8 jam per hari
atau 40 jam per minggu menyatakan bahwa benzena NAB sebesar 10 ppm atau 32
mg/m
3
benzena di udara (SNI 2005) dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia NOMOR PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja menyatakan bahwa
benzena memiliki NAB sebesar 0,5 ppm dan memiliki PSD (Paparan Singkat yang
Diperkenankan) sebesar 2,5 ppm juga masih berada di bawah NAB tersebut. ATSDR
(2007) mengestimasi bahwa rata-rata pajanan benzena terhadap pekerja di area SPBU di
dunia hanyalah sebesar 0,12 ppm.

6.3.2. Berat Badan Karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
Pada prinsipnya besarnya nilai Intake berbanding lurus dengan nilai konsentrasi
bahan kimia, laju asupan, frekuensi pajanan, dan durasi pajanan, artinya semakin besar
nilai tersebut maka akan semakin besar pula asupan atau Intake seseorang. Begitu pula
dengan nilai intake, intake berbanding lurus dengan nilai berat badan. Karena benzena
bersifat lipofilik dimana distribusi terbesar dalam tubuh adalah dalam jaringan lemak
(ATSDR, 2007), sehingga semakin besar berat badan seseorang maka semakin besar
pula risiko kesehatannya.
Rata-rata berat badan karyawan adalah 57,73 kg yang digunakan dalam
perhitungan, walaupun demikian, dasar perhitungan ini mengacu pada US-EPA yang
menggunakan pengukuran dengan berat badan orang barat dewasa yaitu dengan nilai
default 70 kg. Berdasarkan konsep ARKL dan rata-rata keseluruhan (pria dan wanita)
angka harapan hidup orang Indonesia yaitu 70,76 kg (CIA World Factbook dalam
Wikipedia Indonesia), semakin besar berat badan seseorang, maka akan semakin
berisiko, sehingga kemungkinan risiko orang Indonesia untuk terkena efek yang
merugikan dari pajanan suatu bahan atau zat kimia lebih tinggi.



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
79

Universitas Indonesia
6.3.3. Lama Bekerja Karyawan SPBU X Pancoranmas Depok
Lama karyawan bekerja di SPBU X Pancoranmas Depok ini rata-rata 1,76
tahun dengan 1 orang yang baru bekerja selama 1 bulan dan 2 orang yang telah bekerja
selama 4,5 tahun. Masa kerja sangat mempengaruhi pajanan dan nilai intake yang
kemudian dapat menimbulkan risiko kesehatan. Menurut Undang-undang Republik
Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengisyaratkan batas
waktu maksimal 3 tahun bagi pengusaha untuk mempekerjakan karyawan, secara tidak
langsung hal ini memberikan perlindungan kepada karyawan SPBU terhadap pajanan
dan nilai intake senyawa benzena dalam waktu yang lebih lama.

6.4. Keluhan Kesehatan
Berdasarkan perhitungan kuesioner kepada seluruh karyawan dengan total 15
responden, keluhan subjektif terhadap kesehatan karyawan akibat pajanan benzena yaitu
yang terbanyak dikeluhkan oleh responden adalah merasa pusing yaitu sebanyak 11
orang (73,33%), mudah/cepat marah sebanyak 8 orang (53,33%), sesak napas sebanyak
7 orang (47%), dan mual sebanyak 2 orang (13,33%).
Tingkat risiko yang didapat dari gambaran penelitian ini bahwa populasi
karyawan (operator pompa BBM dan karyawan bagian administrasi) belum berisiko
efek nonkarsinogenik pada semua durasi pajanan (RQ < 1). Tetapi dari hasil pengukuran
kuesioner diketahui bahwa sebanyak 11 responden mengeluh pusing, 8 orang mengeluh
mudah/cepat marah, 7 responden merasa mengeluh sesak napas, dan 2 orang mengeluh
mual. Melihat gejala-gejala atau keluhan-keluhan karyawan tersebut mengindikasikan
bahwa karyawan SPBU X telah terpajan benzena.

6.5. Analisis Pemajanan
Perhitungan intake dilakukan dengan membedakan durasi pajanan, yaitu durasi
untuk pajanan realtime (perhitungan berdasarkan waktu pajanan yang sebenarnya),
pajanan 3 tahun dan pajanan lifetime (dengan durasi pajanan seumur hidup). Pada
pajanan nonkarsinogenik periode waktu rata-rata selama 30 tahun untuk orang dewasa,
sedangkan pada karsinogenik selama 70 tahun. Nilai risiko (RQ) Pajanan
nonkarsinogenik dapat diperhitungkan jika diketahui nilai RfD atau RfC, sedangkan
pada karsinogenik dapat diperhitungkan jika diketahui nilai Cancer Slope Factor.
Besarnya nilai intake berbanding lurus dengan nilai konsentrasi bahan kimia, laju
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
80

Universitas Indonesia
asupan, frekuensi pajanan dan durasi pajanan, yang artinya semakin besar nilai tersebut
maka akan semakin besar asupan seseorang. Sedangkan asupan berbanding terbalik
dengan nilai berat badan dan periode waktu rata-rata, yaitu semakin besar berat badan
maka akan semakin kecil risiko kesehatan.
Dari hasil perhitungan, dapat diketahui nilai intake (nonkarsinogenik) realtime,
3 tahun, dan lifetime secara berurutan pada populasi karyawan operator pompa BBM
adalah sebesar 6 x 10
-5
mg/kg/hari ; 4 x 10
-4
mg/kg/hari ; 3 x 10
-3
mg/kg/hari, nilai
intake (karsinogenik) realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berurutan adalah sebesar 2 x
10
-5
mg/kg/hari ; 1 x 10
-4
mg/kg/hari ; 1 x 10
-3
mg/kg/hari. Kemudian dapat diketahui
nilai intake (nonkarsinogenik) realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berurutan pada
populasi karyawan administrasi adalah sebesar 5 x 10
-5
mg/kg/hari ; 1 x 10
-4
mg/kg/hari
; 5 x 10
-4
mg/kg/hari, nilai intake (karsinogenik) realtime, 3 tahun, dan lifetime secara
berurutan adalah sebesar 2 x 10
-5
mg/kg/hari ; 4 x 10
-5
mg/kg/hari ; 2 x 10
-4
mg/kg/hari.
Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa durasi pajanan sangat
berpengaruh terhadap nilai intake, semakin lama karyawan bekerja maka nilai intake
akan semakin besar dan risiko untuk mendapatkan efek yang merugikan kesehatan pun
semakin tinggi pula.

6.6. Karakteristik Risiko
Karakteristik risiko dapat ditentukan dari hasil perbandingan intake dengan nilai
dosis referensi yang diperbolehkan, dengan hubungan semakin besar intake maka akan
semakin besar risiko. Nilai RfC 0,03 dari benzena adalah 0,01 mg/kg/hari (US-EPA,
2003) dan nilai Slope Factor (SF) yaitu 0,1 mg/m
3
/hari untuk SF minimum dan 0,34
mg/m
3
/hari untuk SF maksimum. Nilai ini digunakan baik pada pajanan realtime , 3
tahun dan lifetime. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan pekerja yang memiliki
risiko kesehatan dengan pekerja yang belum memiliki risiko kesehatan, hal ini
dipengaruhi oleh besar intake yang masuk ke dalam tubuh.
Dari hasil perhitungan efek nonkarsinogenik, didapatkan nilai RQ dari seluruh
responden yaitu pada pajanan realtime tidak terdapat karyawan (0%) dengan nilai RQ >
1 dan 15 orang (100%) dengan nilai RQ < 1. Pada pajanan 3 tahun tidak terdapat
karyawan (0%) dengan nilai RQ > 1 dan 15 orang (100%) dengan nilai RQ < 1. Dan
pada pajanan lifetime, juga tidak terdapat karyawan (0%) dengan nilai RQ > 1 dan 15
orang (100%) dengan nilai RQ < 1. Kesimpulannya, seluruh karyawan pada pajanan
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
81

Universitas Indonesia
realtime, 3 tahun, dan lifetime belum berisiko efek nonkanker terhadap pajanan
benzena.
Efek pajanan akut benzena dengan konsentrasi tinggi pada sistem syaraf, kulit,
sistem pernapasan dan pencernaan dapat segera terjadi setelah pajanan. Efek neurologis
adalah efek yang pertama muncul di pusat sistem saraf. Reaksi anestesi benzena di pusat
sistem saraf mirip dengan gas anestesi lain, pertama merangsang eksitasi diikuti oleh
depresi, dan jika pajanan terus terjadi, kematian dapat terjadi karena kegagalan
pernapasan. Efek pada kulit, pernapasan dan efek gastrointestinal disebabkan sifat iritasi
dari benzena (ATSDR, 2007).
Dari hasil perhitungan efek karsinogenik, didapatkan nilai ECR seluruh
responden yaitu pada pajanan realtime tidak terdapat karyawan (0%) dengan nilai ECR
> 10
-4
dan terdapat 15 orang (100%) dengan nilai ECR < 10
-4
. Kemudian pada pajanan
3 tahun, terdapat 1 karyawan (6,66%) dengan nilai ECR > 10
-4
dan terdapat 14 orang
(93,33%) dengan nilai ECR < 10
-4
. Dan pada pajanan lifetime, terdapat 15 karyawan
(100%) dengan nilai ECR > 10
-4
dan tidak terdapat karyawan (0%) dengan nilai ECR <
10
-4
.
Tidak ada batas terendah yang aman terhadap pemajanan senyawa kimia ini
untuk mendapatkan risiko leukemia pada semua tingkat pajanan. WHO memberikan
peringatan bahwa setiap pajanan benzena setingkat 1 g/m akan terdapat 4 - 8
tambahan kasus leukemia per sejuta populasi selama masa hidup (Larbey, 1994 dalam
Zuliyawan, 2010). US-EPA, IARC, dan Departemen Kesehatan dan Layanan
Kemanusiaan Amerika Serikat telah menyimpulkan bahwa benzena adalah karsinogen
terhadap manusia. IARC mengklasifikasikan Benzene di Grup 1 (karsinogenik pada
manusia), sedangkan EPA mengklasifikasikan benzena dalam Kategori A (terbukti
karsinogen pada manusia) berdasarkan bukti yang meyakinkan pada manusia didukung
oleh bukti dari studi hewan. Benzena ditetapkan karsinogen pada manusia untuk semua
rute pajanan. Hematologi neoplasma seperti leukemia akut myelogenous telah
didokumentasikan terjadi pada pajanan kronis dengan konsentrasi rendah (10 ppm).



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
82

Universitas Indonesia
6.7. Estimasi Risiko Kesehatan Populasi Karyawan SPBU X Pancoranmas
Depok Terhadap Pajanan Benzena
Hasil perhitungan estimasi risiko nonkanker (RQ) terhadap populasi karyawan
operator pompa BBM, pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berturut-turut
adalah sebesar 6 x 10
-3
; 4 x 10
-2
; dan 3 x 10
-1
. Kemudian nilai estimasi risiko kanker
(ECR) pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berturut-turut adalah sebesar
2 x 10
-6
(risiko minimum) dan 7 x 10
-6
(risiko maksimum), 1 x 10
-5
(risiko minimum)
dan 3 x 10
-5
(risiko maksimum), dan 1 x 10
-4
(risiko minimum) dan 3 x 10
-4
(risiko
maksimum).
Hasil perhitungan estimasi risiko nonkanker (RQ) terhadap populasi karyawan
bagian administrasi pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berturut-turut
adalah sebesar 5 x 10
-3
; 1 x 10
-2
; dan 5 x 10
-2
. Kemudian nilai estimasi risiko kanker
(ECR) pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime secara berturut-turut adalah sebesar
2 x 10
-6
(risiko minimum) dan 7 x 10
-6
(risiko maksimum), 4 x 10
-6
(risiko minimum)
dan 1 x 10
-5
(risiko maksimum), dan 2 x 10
-5
(risiko minimum) dan 7 x 10
-5
(risiko
maksimum).
Dari nilai-nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi karyawan operator
pompa BBM sudah berisiko efek kanker, sehingga diperlukan langkah manajamen
risiko.

6.8. Manajemen Risiko
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan pada prinsipnya harus dilakukan dalam
bentuk pengelolaan risiko jika nilai RQ > 1 dan ECR > 10
-4
. Manajemen risiko yang
dapat dilakukan yaitu menurunkan konsentrasi pajanan (C), mengurangi waktu kontak,
diantaranya dapat dilakukan dengan mengurangi lama pajanan (t
E
), mengurangi
frekuensi pajanan (f
E
) dan mengurangi durasi pajanan (D
t
).
Menurunkan konsentrasi pajanan yang aman dilakukan dengan mengganti nilai
intake dengan nilai RfC pada pajanan nonkanker, sedangkan nilai komponen lain yang
digunakan sesuai dengan keadaan saat sampling. Nilai RfC dianggap sebagai nilai
asupan aman sehingga didapatkan nilai konsentrasi aman. Perlakuan perhitungan yang
sama dilakukan pada pajanan efek kanker, namun nilai yang menggantikan nilai intake
adalah nilai CSF = 0,1 mg/kg/hari atau 0,34 mg/kg/hari.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
83

Universitas Indonesia
Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa seluruh populasi di SPBU ini
(karyawan operator pompa BBM dan karyawan administrasi) pada pajanan realtime, 3
tahun, dan lifetime belum berisiko efek nonkarsinogenik (RQ < 1) terhadap pajanan
benzena. Sedangkan untuk risiko kanker didapatkan bahwa hanya populasi karyawan
operator pompa BBM pada pajanan lifetime yang berisiko efek kanker (ECR > 10
-4
)
terhadap pajanan benzena. Oleh karena itu diperlukan langkah manajemen risiko lebih
lanjut.
Konsentrasi pajanan benzena terhadap karyawan SPBU X tergantung pada
kandungan benzena dalam bahan bakar minyak dan dipengaruhi oleh kondisi
pencemaran benzena pada udara ambien di lingkungan SPBU. Sedangkan variable
waktu berhubungan dengan ketentuan/peraturan kerja yang telah disepakati antara
karyawan dan manajemen SPBU, yang mengaju kepada peraturan ketenagakerjaan.
Hasil perhitungan langkah manajemen risiko terhadap konsentrasi, lama, dan frekuensi
berturut-turut adalah 0,013 mg/m
3
atau

0,032

mg/m
3
, 2 jam/hari atau 6 jam/hari, 47
hari/tahun atau 159 hari/tahun.
Dari hasil tersebut, pilihan yang dapat diambil sebagai upaya pengedalian efek
karsinogenik bagi populasi karyawan SPBU X, dengan konsentrasi pajanan benzena
sebesar 0,06 mg/m
3
, lama pajanan 8 jam/hari, frekwensi pajanan 228 hari/tahun dengan
berat badan 55 kg, adalah menetapkan durasi pajanan paling lama adalah 3 tahun dan
lama pajanan selama maksimal 6 jam/hari. Bila melihat peraturan ketenagakerjaan di
Indonesia (UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan) yang mengisyaratkan
mengenai kontrak kerja maksimal 3 tahun terhadap seorang karyawan, maka pilihan
manajemen risiko di atas sangat tepat, karena secara tidak langsung peraturan tersebut
memberikan perlindungan bagi karyawan SPBU X untuk menghindari efek kanker
akibat pajanan benzena di SPBU. Kemudian penerapan jam kerja selama 6 jam/hari
juga dapat mengurangi intensitas karyawan terpajan benzena. Menurut rumus
fungsional efek kesehatan:
D = f (I x t)
Keterangan: D penyakit, efek atau penyakit; I Intensitas; t Waktu

Rumus tersebut menjelaskan hubungan pajanan dan efek, serta hubungan pajanan dan
respon. Hubungan pajanan dan efek atau Dose-Effect Relationship menggambarkan
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
84

Universitas Indonesia
hubungan antara dosis pajanan dan efek yang ditimbulkan; apabila intensitas pajanan
semakin tinggi dan waktu pajanan semakin panjang maka gangguan kesehatan atau
masalah kesehatan yang timbul akan semakin berat (Kurniawidjaja, 2010). Oleh karena
itu penerapan sistem waktu kerja 6 jam/hari menurut penulis tepat jika direalisasikan.
Kemudian dari hasil perhitungan per individu untuk efek karsinogenik
didapatkan bahwa pada pajanan 3 tahun, terdapat 1 karyawan (6,66%) dengan nilai ECR
> 10
-4
dan terdapat 14 orang (93,33%) dengan nilai ECR < 10
-4
. Dan pada pajanan
lifetime, terdapat 15 karyawan (100%) dengan nilai ECR > 10
-4
dan tidak terdapat
karyawan (0 %) dengan nilai ECR < 10
-4
. Oleh karena itu diperlukan manajemen risiko
lebih lanjut. Menurut penulis, tindakan manajemen risiko yang dibutuhkan yaitu dengan
pengendalian risiko. Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan
dalam keseluruhan manajemen risiko. OHSAS 18001 (2007) memberikan pedoman
pengendalian risiko yang lebih spesifik untuk bahaya K3 dengan pendekatan eliminasi,
substitusi, engineering control (pendekatan teknis), administrative control
(pengendalian administrasi), dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Untuk
pendekatan eliminasi, substitusi, dan engineering control sepertinya tidak bisa
diterapkan, dikarenakan sumber pajanan benzena di SPBU ini berasal dari sumber tetap
dan tidak tetap juga sumber-sumber tersebut berada di outdoor.
Pendekatan pengendalian risiko terakhir yang dapat dilakukan yaitu dengan
penggunaan alat pelindung diri berupa masker. Menurut penulis, pendekatan ini dapat
menimalisir kemungkinan terpajan inhalasi benzena di udara, sehingga risiko kesehatan
karyawan pun dapat dicegah. Pendekatan ini pun sepertinya akan sulit direalisasikan,
karena perusahaan telah memberlakukan peraturan 3S (Senyum, Salam, Sapa )
kepada karyawan operator pompa BBM di setiap SPBU milik perusahaan sejak tahun
2006 ketika mereka melayani costumer atau pembeli BBM. Peraturan ini
mengakibatkan ketika para operator tersebut ketika sedang melayani pembeli BBM
tidak memakai masker. Dari hasil kuesioner juga terbukti bahwa perusahaan sama sekali
tidak menyediakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan/gloves, safety glasses,
dan safety shoes) bagi karyawannya. Penggunaan half mask respirator with organic
vapor catridge pada konsentrasi pajanan benzena kurang atau sama dengan 10 ppm
(Gunawan, 2000 dalam Zuliyawan, 2010), dapat dijadikan sebagai acuan dalam
pemilihan APD yang tepat untuk meminimalisir pajanan inhalasi benzena di udara.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
85

Universitas Indonesia
BAB 7
SIMPULAN dan SARAN


7.1. Simpulan
Berdasarkan penelitian analisis risiko pajanan benzena pada karyawan SPBU
X Pancoranmas Depok dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Karyawan pada SPBU X dapat diklasifikasikan sebagai pekerja dengan risiko
tinggi terhadap pajanan benzena. Mereka secara konstan terpajan benzena
karena berada pada lingkungan yang mengemisikan benzena yang berasal dari
mesin pompa bahan bakar minyak saat pengisian BBM, gudang penyimpanan
bahan bakar minyak serta yang dikeluarkan oleh knalpot kendaraan pada saat
antrian pengisian bahan bakar.
2. Dari hasil perhitungan efek nonkarsinogenik per individu dapat disimpulkan
bahwa seluruh karyawan pada pajanan realtime, 3 tahun, dan lifetime belum
berisiko efek nonkarsinogenik terhadap pajanan benzena (RQ < 1). Dan hasil
perhitungan efek karsinogenik per individu dapat disimpulkan bahwa pada
pajanan 3 tahun terdapat 1 karyawan yang berisiko efek kanker (ECR > 10
-4
)
dan pada pajanan lifetime seluruh karyawan berisiko efek kanker.
3. Populasi karyawan (operator pompa BBM dan karyawan bagian administrasi)
belum berisiko efek nonkarsinogenik pada semua durasi pajanan (RQ < 1).
4. Populasi karyawan (operator pompa BBM) berisiko efek karsinogenik (ECR >
10
-4
) pada durasi pajanan lifetime. Populasi karyawan bagian administrasi belum
berisiko efek karsinogenik pada semua durasi pajanan (ECR < 10
-4
).
5. Berdasarkan analisis penulis, pengendalian risiko terakhir yang dapat dilakukan
adalah menggunakan alat pelindung diri berupa half mask respirator with
organic vapor catridge dapat dijadikan sebagai acuan dalam pemilihan APD
yang tepat untuk meminimalisir pajanan inhalasi benzena di udara.




Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
86

Universitas Indonesia
7.2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Manajemen Perusahaan
a. Menetapkan masa kerja karyawan agar tidak boleh lebih dari 3 tahun.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan yang mengisyaratkan batas waktu maksimal 3 tahun bagi
pengusaha untuk mempekerjakan karyawan. Menurut penulis hal ini tentunya
secara tidak langsung memberikan perlindungan kepada karyawan SPBU
terhadap pajanan dan nilai intake senyawa benzena dalam waktu yang lebih
lama. Jadi, apabila seorang karyawan terdeteksi sakit akibat pajanan benzena
sebelum masa kerja 3 tahun, pihak manajemen tentunya harus mengajukan
surat kontrak kepada karyawan agar memberikan pilihan apakah melanjutkan
kerja di perusahaan tersebut ataupun berhenti.
b. Pelaksanaan absensi dan briefing di SPBU X Pancoranmas Depok setelah
selesai bertugas sebaiknya tidak di dalam ruang administrasi, karena dapat
meningkatkan konsentrasi pajanan benzena di dalam ruangan yang
kemungkinan berasal dari pakaian atau kulit yang terciprat bahan bakar
minyak dan pernapasan ekshalasi dari karyawan operator mesin pompa BBM
sesaat setelah selesai bertugas. Kalaupun sulit direalisasikan, sebaiknya
jangan terlalu lama dalam melakukan absensi dan briefing di dalam ruangan
tersebut, gunakan waktu dengan seefisien mungkin.
c. Pemeriksaan berkala terhadap kadar Biomarker pajanan benzena untuk
memantau kondisi konsentrasi benzena di udara ambien atau area pernapasan
karyawan di SPBU ini.

2. Bagi Pemerintah atau Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Selalu memantau nilai ambang batas yang telah ditetapkan untuk konsentrasi
benzena di lingkungan kerja, karena konsentrasi yang sedikit pun berpotensi
menimbulkan efek kanker terhadap karyawan SPBU yang telah ditetapkan saat
ini yaitu 0,5 ppm.



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
87

Universitas Indonesia
3. Bagi Mahasiswa atau Peneliti Lainnya
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait pajanan benzena di SPBU lainnya.
Selain itu dapat dilakukan dengan menganalisis kadar Biomarker di setiap
pekerja dimanapun yang kontak dengan benzena, tidak hanya di SPBU saja
tetapi masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang menggunakan bahan kimia
ini sebagai bahan campuran dan tentu saja berisiko terhadap kesehatan
pekerjanya.





Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
DAFTAR PUSTAKA


Australian/New Zealand Standard. Risk Management. Australia, 2004.

ATSDR. Toxicological Profile for Benzene. Atlanta, 2007. Diunduh dari
http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp3-c8.pdf. Pada tanggal 16 November
2011, pada pukul 21.29 WIB.

ATSDR. Case Study in Environment Medicine. Atlanta, 2006. Diunduh dari
http://www.atsdr.cdc.gov/csem/lead/docs/lead.pdf. Pada tanggal 5 Desember
2011, pada pukul 20.57 WIB.

Egeghy, Velez, dan Rapport. Environment and Biological Monitoring of
Benzene during Self-Service Automobile Refueling. North Carolina, USA,
2000. Diunduh dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1240202/pdf/ehp0108-
001195.pdf. Pada tanggal 1 Januari 2012, pada pukul 20.40 WIB.

EPA. Users Guide Biomarkers Data Base. USA, 2004.

EPA-IRIS. Toxicological Review of Benzene (Noncancer Effect). Washington,
2002. Diunduh dari http://www.epa.gov/iris/toxreviews/0276tr.pdf. Pada
tanggal 6 Desember 2011, pada pukul 14.26 WIB.

EPA-IRIS. Carcinogenic Effects of Benzene: An Update. Washington, 1998.
Diunduh dari http://www.epa.gov/ncea/pdfs/benzenef.pdf. Pada tanggal 13
Desember 2011, pada pukul 14.01 WIB.

Fatonah I. Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Pekerja Sepatu
X Di Kawasan Perkampungsn Industri Kecil (PIK) Pulogadung Jakarta
Timur Tahun 2010. Tesis. Depok, 2010.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
IPCS. Environment Health Criteria 150, Benzene. WHO, 1993. Diunduh dari
http://www.inchem.org/documents/ehc/ehc/ehc150.htm. Pada tanggal 11 Oktober
2011, pada pukul 22.50 WIB.

IPCS. Risk Assessment Terminology. Geneva, 2004. Diunduh dari
http://www.inchem.org/documents/harmproj/harmproj/harmproj1.pdf. Pada
tanggal 7 Desember 2011, pada pukul 22.22 WIB.

Louvar FL and Louvar BD (1998). Health and Environment Risk Analysis
Volume 2. New Jersey: Prentice Hall PTR.

Naufal, Eky, dan Nanda. Leukimia Sebagai Dampak Penggantian Timbal
Dengan High Octane Mogas Component Dalam Bahan Bakar Minyak di
Indonesia. Diunduh dari
http://uiuntukbangsa.files.wordpress.com/2011/06/leukimia-sebagai-dampak-
penggantian-timbal-dengan-high-octane-mogas-component-dalam-bahan-
bakar-minyak-di-indonesia-achmad-n-azhari-eky-pramitha-dp-nanda-
pratiwi.pdf. Pada tanggal 3 Desember 2011, pada pukul 21.44 WIB.

NIOSH. Manual of Analytical Methods, Hydrocarbon Aromatic. CDC, 2003.
Diunduh dari http://www.cdc.gov/niosh/docs/2003-154/pdfs/1501.pdf. Pada
tanggal 24 November 2011, pada pukul 21.09 WIB.

NIOSH. Pocket Guide to Chemical Hazards. Pittsburgh, 2007. Diunduh dari
http://www.cdc.gov/niosh/docs/2005-149/pdfs/2005-149.pdf. Pada tanggal 26
Maret 2010, pada pukul 12.06 WIB.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Peraturan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang
Alat Pelindung Diri. Jakarta, 2010.

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Peraturan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER13/MEN/X/2011 tentang
Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
Jakarta, 2011.

PT. Pertamina. Info SPBU. Jakarta, 2009. Diunduh dari
http://sppbe.pertamina.com/spbu.aspx#spbu2 . Pada tanggal 17 Desember 2011,
pada pukul 20.00 WIB.

Rahman. Public Health Assessment: Model Kajian Prediktif Dampak Lingkungan
dan Aplikasinya Untuk Manajemen Risiko Kesehatan. Depok, 2007. Diunduh dari
http://arrahman29.files.wordpress.com/2008/02/ph-a-130208.pdf. Pada tanggal 11
Oktober 2011, pada pukul 12.47 WIB.

Ramli, S (2010). Manajemen Risiko: Dalam perspektif K3 OHS Risk
Management. Jakarta: Dian Rakyat.

Standar Nasional Indonesia (SNI). Nilai Ambang Batas (NAB) Zat Kimia di
Udara Tempat Kerja. Jakarta, 2005.

Undang-undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Indonesia.

Wikipedia Ensiklopedia Bebas. Benzena. Diunduh dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Benzena. Pada tanggal 28 November 2011, pada
pukul 21.53 WIB.

Wikipedia The Free Encyclopedia. Benzene. Diunduh dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Benzene. Pada tanggal 28 November 2011, pada
pukul 21.40 WIB.

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
World Health Organization. Air Quality Guidelines for Europe Second Edition.
Copenhagen, 2000. Diunduh dari
http://www.euro.who.int/__data/assets/pdf_file/0005/74732/E71922.pdf. Pada
tanggal 9 Januari 2012, pada pukul 19.50 WIB.

World Health Organization. Biological Monitoring of Chemical Exposure in the
Workplace Guidelines, Volume 2. Geneva, 1996. Diunduh dari
http://whqlibdoc.who.int/hq/1996/WHO_HPR_OCH_96.2.pdf. Pada tanggal 19
Desember 2011, pada pukul 21.22 WIB.

Zuliyawan. Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Melalui Penentuan Level
Trans-trans-muconic Acid Dalam Urin Pada Karyawan di SPBU X Jakarta
Utara 2010. Skripsi. Depok, 2010.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 1: Surat Izin Penelitian

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 2: Titik Sampling Area

Titik Sampling 1: Filling Point 1 dan 2

Titik Sampling 2: Filling Point 4

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012

Titik Sampling 3: Ruang Administrasi













Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 3: Hasil Analisis Laboratorium



Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 4: Hasil Analisis Laboratorium (lanjutan)




Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 5: Hasil Analisis Laboratorium (lanjutan)




Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
Lampiran 6: Kuesioner
KUESIONER
Perkenalkan nama saya Rendy Noor Salim, mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia bidang studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Saya saat ini
sedang melaksanakan penelitian (skripsi) dengan tema Analisis Risiko Kesehatan
Pajanan Benzena di Udara Terhadap Karyawan di SPBU X Pancoranmas Depok Tahun
2011 sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana kesehatan masyarakat.
Untuk itu, saya memohon kesediaan bapak/ibu/sdra/sdri untuk menjawab beberapa
pertanyaan di bawah ini. Jawaban yang jujur akan menjadi data yang valid dan nantinya
dapat menjadi saran-saran perbaikan terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja di SPBU
X Pancoranmas Depok ini.
A. KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. Nama :
....
2. Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan (coret yang tidak perlu)
3. Pendidikan Terakhir :
a. Tidak/belum sekolah d. SMP
b. Belum/tidak tamat SD e. SMA
c. Sekolah Dasar (SD) f. D3/SI ke atas
4. Apakah Anda merokok?
a. Ya. Berapa batang dalam sehari?
.
b. Sudah berhenti merokok sejak
..
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
c. Tidak
5. Apakah dalam 2 minggu terakhir Anda pernah merasakan / mengeluh seperti
gejala-gejala berikut ini:
Keluhan Ya Tidak
Pusing
Sesak napas
Mudah/cepat marah
Mual
Muntah

B. KARAKTERISTIK ANTROPOMETRI
6. Umur : tahun
7. Berat Badan : kg (penimbangan langsung)
8. Pola aktivitas
a. Sejak kapan Anda bekerja di SPBU ini?

b. Pukul berapa Anda mulai bekerja dan pulang dari SPBU ini?

c. Dalam satu minggu, berapa hari Anda bekerja di SPBU ini?
.
d. Berapa hari Anda mendapat jatah libur setiap minggunya?
.......................................... dan hari apa saja?
.
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
e. Apakah libur nasional Anda juga libur atau tetap masuk kerja?

9. Apa pekerjaan atau posisi Anda di SPBU ini?
a. Operator SPBU
b. Bagian administrasi
C. PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
10. Apakah di tempat kerja Anda menyediakan masker (penutup hidung) untuk
Anda bekerja?
a. Jika ya, lanjut ke pertanyaan no. 11
b. Jika tidak, lanjut ke pertanyaan no. 12
11. Apakah anda selalu memakai masker (penutup hidung) dalam bekerja?
a. Ya (setiap hari)
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah. Alasannya kenapa?
.
12. Apakah di tempat kerja Anda menyediakan sarung tangan untuk Anda bekerja?
a. Jika ya, lanjut ke pertanyaan no. 13
b. Jika tidak, lanjut ke pertanyaan no. 14
13. Apakah anda selalu memakai sarung tangan dalam bekerja?
a. Ya (setiap hari)
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah. Alasannya kenapa?
..
14. Apakah di tempat kerja Anda menyediakan safety glasses (kacamata safety)
untuk Anda bekerja?
Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012
a. Jika ya, lanjut ke pertanyaan no. 15
b. Jika tidak, lanjut ke pertanyaan no. 16
15. Apakah anda selalu memakai safety glassess (kacamata safety) dalam bekerja?
a. Ya (setiap hari)
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah. Alasannya kenapa?

16. Apakah di tempat kerja Anda menyediakan safety shoes (sepatu safety) untuk
Anda bekerja?
a. Jika ya, lanjut ke pertanyaan no. 17
b. Jika tidak, lanjut ke pertanyaan no. 18
17. Apakah anda selalu memakai safety shoes (sepatu safety) dalam bekerja?
a. Ya (setiap hari)
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah. Alasannya kenapa?
..
18. Apakah Anda mengetahui bahaya Bahan Bakar Minyak (BBM) atau bensin bagi
kesehatan anda?
a. Ya
b. Tidak


- Terima kasih -

Analisis resiko..., Rendy Noor Salim, FKM UI, 2012