Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

NEUROLOGY AND BEHAVIOUR SCIENCE


MORFIN

KELOMPOK: D XI

NORFAIZAH NADIA BINTI SARIJAN :102009313
BASIRAH ANATI BINTI BASARUDDIN :102009317
AHMAD FIKRI BIN SAHAK :102009320
IZZA BINTI ZAINAL ABIDIN :102009324
MUHAMMAD HAZIM AFIF B. AMIRUDIN :102009328
NUR AVINI MAGDALINA :102009329
MUHAMMAD AFIQ BIN MASLAN MALIK :102009338
NURUL NADJWA BINTI MOHAMED SHOKRI :102009340











Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich Wilhelm Adam
Sertrner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853).
Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan
alkohol dan opium.
Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan
menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling mudah
larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long
acting)
Dalam praktikum ini digunakan kelinci sebagai hewan coba yang memperlihatkan
efek morfin paling mirip pada manusia, memperlihatkan efek depresi nafas yang dapat timbul
pada kelebihan dosis morfin (OD), serta pemberian antidotum yang dapat segera mengatasi
depresi nafas tersebut. Juga akan diperlihatkan efek morfin yang berlainan pada berbagai
spesies (species difference), antara lain kucing, tikus, dan mencit.


1. Melihat efek morfin , terutama depresi nafas, miosis dan gejala lain yang terjadi pada
overdosis ( OD ) pada manusia yang diperlihatkan pada kelinci.
2. Memperlihatkan efek species difference akibat morfin pada berbagai hewan coba.
3. Memperlihatkan efek antidotum pada keracunan/over dosis morfin.
4. Melatih mahasiswa menghitung dosis yang tepat yang akan diberi pada masing-
masing hewan coba dan memberi suntikan yang tepat sesuai petunjuk.

ALAT
1. Timbangan hewan coba
2. Baskom plastik
3. Penggaris
4. Semprit
5. Kandang hewan
Alat dan bahan



Alat dan bahan


Sasaran belajar



Alat dan bahan


Pendahuluan



Alat dan bahan




OBAT-OBATAN
1. Larutan morfin 4%
2. Kafein benzoat 4%
3. Larutan nalokson
HEWAN COBA
1. Kelinci
2. Tikus putih
3. Mencit
4. Kucing

1. Dosis larutan morfin 4% yang akan diberikan pada hewan coba :
Kucing : 20mg/kgBB
Kelinci : 0.5ml/kgBB
Tikus : 40-60mg/kgBB
Mencit : 40mg/kgBB
*Nalokson : untuk kelinci 0.01mg/kgBB (=0.2ml )
2. Cara perhitungan dosis yang akan disuntikkan :
Misalnya : bb mencit = X gram X/1000 x 40mg = Y mg
Larutan 40% ialah 40mg/100ml
Yang akan disuntikkan = Y/40 x 1ml= Zml

Efek overdosis morfin dan antidotumnya
Untuk memperlihatkan efek morfin pada manusia seperti sedasi, lemas, miosis, dan terutama
gejala overdosis ( OD ) morfin dimana terjadi trias intoksikasi akut : depresi nafas, miosis
hebat dan koma, maka observasi pada kelinci paling tepat menggambarkan hal tersebut.
a. Kelinci
1. Ambillah seekor kelinci , perlakukan hewan coba dengan baik dan tidak kasar.
2. Timbanglah kelinci anda dengan timbangan hewan coba dengan akurat dan catat.
Tatalaksana



Alat dan bahan


Persiapan



Alat dan bahan




3. Lakukan observasi parameter dasar : sikap kelinci, refleks otot, diameter pupil
kanan dan kiri, hitung frekuensi pernafasan dan denyut jantung, kelakuan kelinci.
Sikap kelinci : biasanya lincah, jalan-jalan di meja
Refleks otot : tariklah ( jangan terlalu keras ) tungkai kaki depannya,
normal biasanya ada tahanan
Diameter pupil : diukur dalam kondisi cahaya yang konstan
Frekuensi nafas : dapat dihitung dengan meraba dada kelinci atau
dengan menghitung kembang-kempisnya cuping hidungnya.Karena
frekuensi nafas kelinci cepat maka hitunglah menit, kemudian
kalikan 4
Denyut jantung : dihitung dengan meraba bagian dada bawah tubuh
kelinci dalam semenit.
4. Setelah seluruh parameter dasar selesai , hitunglah berapa ml , larutan morfin
yang akan disuntikkan pada kelinci dengan cara perhitungan di atas.
5. Mintalah pada instruktur larutan morfin 4% yang akan disuntikkan dalam semprit
yang telah disediakan .
6. Lakukan tindakan asepsis, dengan menggosok tempat suntikan dengan larutan
alkohol 70% .
7. Suntikan larutan morfin 4% yang sesuai dengan perhitungan untuk kelinci anda
secara subkutan di daerah subskapula.Pastikan seluruh cairan morfin tadi masuk
ke dalam tubuh kelinci dan tidak ada yang tercicir keluar.
8. Biarkan kelinci tetap diatas meja laboratorium, dan lakukan observasi seluruh
parameter tiap 5 menit.
9. Bila frekuensi pernafasan telah 20X /menit , laporkan pada instruktor dan
mintalah larutan kafein benzoat 0.5ml dan suntikan secara subkutan pada daerah
subskapula.
10. Bila frekuensi nafas tetap turun sampai kurang dari 15X/menit, laporkan pada
instruktor agar segera disuntikkan nalorfin 0.2ml pada vena marginalis kelinci.
11. Perhatikan saat terjadi overdosis pada kelinci yang ditandai dengan : depresi
pernafasan, miosis, dan sikap kelinci menjadi lemas, tonus otot sangat menurun ,
maka beberapa detik setelah penyuntikan nalorfin, maka kelinci akan pulih
seperti semula : aktif, tonus otot baik, frekuensi nafas normal.


Efek species difference morfin
Selanjutnya untuk memperlihatkan adanya species difference pada morfin, kita menggunakan
beberapa hewan coba yang akan memperlihatkan effek yang berlawanan dari kelinci yang
mengalami depresi , beberapa jenis binatang seperti kucing, kuda, mencit, dan tikus akan
mengalami efek eksitasi.Efek muntah oleh morfin yang disebabkan rangsangan pada medulla
oblongata dapat diperlihatkan pada anjing, namun sudah tidak dilakukan lagi karena anjing
tersebut akan sangat menderita.
a. Tikus
1. Ambil dan timbanglah berat badan tikus putih dan taruh dalam baskom plastik.
2. Hitunglah dosis larutan morfin 4% yang akan diberikan sesuai berat badan tikus
dengan menggunakan rumus perhitungan diatas.
3. Laporkan hasil perhitungan dosis anda pada instruktor dan ambil larutan morfin
4% dalam semprit dengan jumlah yang tepat.
4. Lakukan tindakan asepsis pada tempat suntikan
5. Peganglah kuduk tikus dengan berhati-hati , suntikkan larutan morfin secara
subkutan di daerah interskapula.Lakukan dengan baik sehingga seluruh larutan
dalam semprit masuk ke dalam tubuh tikus dan tidak tercecer keluar.
6. Biarkan tikus tetap dalam baskom plastik dan lakukan observasi sampai timbul
sikap katatonik , tikus akan tetap bertahan pada sikap yang diberikan oleh
mahasiswa, misalnya sikap duduk.Sikap katatonik ini disebabkan karena
kekakuan otot tubuh tikus.
b. Mencit
1. Ambil dan timbanglah seekor mencit dengan menggunakan timbangan surat
2. Hitung dosis larutan morfin 4% seperti rumus diatas
3. Laporkan perhitungan dosis pada instruktor dan mintalah larutan morfin 4%
sebanyak dosis yang harus disuntikkan.
4. Lakukan tindakan asepsis pada daerah yang akan disuntik
5. Peganglah kuduk mencit dengan halus , suntikkan larutan morfin secara subkutan
pada daerah interskapula, perhatikan jangan sampai ada larutan morfin yang tidak
masuk ke dalam tubuh tikus.
6. Letakkan mencit dalam baskom plastik dan lakukan observasi sampai timbul efek
rangsangan otot diafragma pelvis dan sfingter ani yang terlihat sebagai efek


Straub, yaitu ekor mencit menjadi tegang dan terangkat membentuk huruf S atau
lurus ke atas.
c. Kucing
1. Hanya dilakukan dalam bentuk demonstrasi
2. Ambil dan timbang kucing
3. Hitung dosis larutan morfin yang harus diberikan
4. Lakukan tindakan asepsis pada daerah yang akan disuntik
5. Suntikkan larutan morfin 4% sesuai perhitungan dosis , secara subkutan pada
daerah interskapula
6. Masukkan kucing ke dalam kandang, dan lakukan observasi sampai terjadi efek
eksitasi dimana kucing akann terlihat liar, pupilnya midriasis, keluar saliva,
gelisah.

















Efek overdosis morfin dan antidotum pada Kelinci
Berat Kelinci = 600g
Hitungan Dosis =600g/1000
=0.6kg
Dosis larutan morfin 4% pada kelinci =0.5ml/kgBB
Dosis morfin yang perlu disuntik =0.6x0.5
=0.3ml

Setelah menit ke-25, disuntik larutan kafein benzoat 0.5ml karena frekuensi nafas sudah
mencapai 24x/menit dan dibawah 30x/menit. Setelah suntikan, hasilnya:
Frekuensi nafas kembali meningkat ke 30x/menit
Refleks otot kembali kuat dan tonus otot meningkat
Sikap kelinci kembali aktif
Kelakuan kelinci lincah




Sebelum
pemberian
morfin
Selepas pemberian morfin

Masa(menit)
0 5 10 15 20 25
Denyut Jantung 110 100 91 93 80 80
Frekuensi nafas 106 56 56 48 32 24
Diameter pupil
kanan (cm)
1 0.8 0.7 0.6 0.5 0.5
Diameter pupil kiri
(cm)
1 0.8 0.7 0.6 0.5 0.5
Refleks otot Kuat Kuat Lemah Lemah Lemah Lemah
Sikap Aktif Kurang
Aktif
Lemas Lemas Lemas Lemas
Kelakuan Lincah Kurang
lincah
Pasif Pasif Pasif Pasif
Hasil Praktikum



Alat dan bahan




Masa(menit) 30 35
Denyut Jantung 100 100
Frekuensi nafas 30 32
Diameter pupil kanan
(cm)
0.6 0.6
Diameter pupil kiri (cm) 0.6 0.6
Refleks otot Kuat Kuat
Sikap Aktif Aktif
Kelakuan Lincah Lincah

Larutan nalorfin 0.2ml tidak disuntik pada vena marginalis kelinci karena overdosis morfin
yang terjadi telah dapat diatasi dengan kafein benzoat.

Efek species difference morfin
1.Tikus
Berat tikus =145g
Dosis morfin = 145/1000 x 60mg
=8.7mg/40
=0.2175ml
=0.22ml
Terlihat sikap katatonik yaitu tikus yang bertahan pada sikap yang dilakukan oleh mahasiswa.
Contohnya efek duduk,efek berdiri serta efek berpegang pada pensil.
2.Mencit
Berat mencit = 20g
Dosis morfin = 20/1000 x 40mg
=0.8mg/40
=0.02ml
Terlihat efek Straub Ekor mencit menjadi tegang dan terangkat membentuk huruf S atau lurus ke
atas.
3.Kucing
Kucing terlihat gelisah,liar, pupil midriasis.




1. Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan
alkohol dan opium. Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatif
selektif, yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar
(vibrasi), penglihatan dan pendengaran bahkan persepsi nyeripun tidak selalu hilang
setelah pemberian morfin dosis terapi.
2. Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme yaitu:
morfin meninggikan ambang rangsang nyeri
morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang
timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari
thalamus
morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.
3. Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi
reseptor -opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia,
sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak
sebagai agonis reseptor -opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis. Morfin
juga mengaktivasi reseptor , yang mana memegang peranan dengan menimbulkan
depresi pernafasan seperti opioid.
4. Terdapat juga opioid endogen yang terdapat dalam tubuh manusia, terdapat tiga jenis yaitu
endorphin, enkefalin dan dinorfin.
5. Faktor yang dapat mengubah eksitasi morfin ialah idiosinkrasi dan tingkat eksitasi reflex
SSP. Idiosyncrasy adalah suatu reaktivitas abnormal terhadap zat kimia yang yang
ditimbulkan dari seorang individu. Idiosinkrasi merupakan peristiwa ketika efek obat yang
diberikan secara kualitatif total berbeda dari efek normal karena sifat genetik masing-
masing subjek berlainan Respon idiosinkrasi mungkin berasal dari bentuk sensitifitas yang
extreme terhadap dosis rendah atau insensitifitas ekstreme terhadap dosis tinggi dari suatu
zat kimia. Kita sekarang tahu dengan yakin bahwa reaksi idiosinkrasi dapat dihasilkan dari
genetic polimorfisme yang menyebabkan individual differences dalam farmakokinetik
obat. Polimorfisme juga dapat menyebabkan farmakodinamik obat berbeda ke individu
seperti interaksi obat-reseptor

Pembahasan



Alat dan bahan




Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos.
Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi.
Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar.
Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal,
konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH).

Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka.
Morfin juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik
setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah
pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan
mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas
ditemukan dalam tinja dan keringat.

Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau
menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih
hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang
menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4)
Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis
dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri
pasca bedah.

Kontraindikasi
Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan
otak atau cedera kepala

Efek samping
Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan atau adiksi pada over dosis menimbulkan
keracunan dan dapat menyebabkan kematian.





Pembahasan Efek Morfin pada Kelinci
Beberapa efek farmakodinamik morfin dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai
perubahan yang terjadi pada kelinci sehubungan dengan percobaan yang dilakukan
1. Frekuensi Napas
Dari hasil percobaan didapatkan bahwa frekuensi napas kelinci mengalami penurunan
setelah pemberian morfin. Hal ini sesuai dengan efek depresi napas yang dapat ditimbulkan
morfin. Penurunan frekuensi napas dapat terjadi berdasarkan efek langsung terhadap pusat
napas di batang otak. Kepekaan pusat napas terhadap CO
2
berkurang, sehingga kadar CO
2
5%
tidak lagi minimbulkan peninggian ventilasi pulmonal.
Setelah pemberian kafein benzoat frekuensi napas berangsur-angsur meningkat. Hal
ini berkaitan dengan efek kafein yang menyebabkan relaksasi otot polos bronkus, sehingga
pernapasan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Jika nalokson diberikan pada kelinci, frekuensi napas lebih cepat meningkat dan
kembali menjadi normal. Hal ini berkaitan dengan efek antagonis terhadap morfin. Frekuensi
napas dapat meningkat dengan cepat, sekitar satu sampai dua menit setelah pemberian
intravena. Namun nalokson tidak diberikan karena overdosis morfin telah dapat diatasi
dengan pemberian kafein benzoat.
2. Frekuensi Denyut Jantung
Dari hasil percobaan didapatkan bahwa frekuensi denyut jantung kelinci sekitar 100
denyut per menit pada menit ke-5 setelah pemberian morfin, kemudian berangsur menurun
hingga menit ke-25. Penurunan frekuensi denyut jantung dapat terjadi akibat efek depresi
pada pusat vagus dan pusat vasomotor.
Setelah pemberian kafein benzoat, frekuensi denyut jantung berangsur-angsur
meningkat. Hal ini sesuai dengan efek kafein yang dapat meningkatkan frekuensi denyut
jantung, bahkan dapat menyebabkan takikardi atau aritmia pada orang yang sensitif.
Pemberian nalokson juga mampu menyebabkan frekuensi denyut jantung kembali
menjadi normal. Hal ini seusai dengan efek antagonis nalokson terhadap morfin, walaupun
morfin hanya sedikit menurunkan frekuensi denyut jantung.


3. Diameter Pupil
Dari hasil percobaan didapatkan bahawa pupil mengecil secara berangsur setelah
pemberian morfin. Hal ini sesuai dengan efek miosis yang ditimbulkan oleh morfin. Miosis
ditimbulkan oleh perangsangan pada segmen otonom inti saraf okulomotor.
Setelah pemberian kafein benzoat, pupil kembali membesar. Hal ini dapat dijelaskan
dengan efek antagonis terhadap morfin.
4. Tonus Otot
Dari hasil percobaan didapatkan bahwa ketonusan otot pada kelinci menurun selama
pemberian morfin. Hal ini sesuai dengan efek morfin yang mengurangi aktivitas motorik.
Penurunan refleks dan tonus otot ini terus terjadi sejalan dengan waktu. Bahkan pada saat
hewan coba mencapai depresi pernapasan, ditemukan refleks dan tonus otot kelinci yang
sangat buruk.
Ketonusan otot akan meningkat secara bertahap setelah pemberian kafein benzoat. Hal
ini sesuai dengan efek kafein yang dapat meningkatkan kapasitas kerja otot.
5. Refleks
Dari hasil percobaan didapatkan bahwa refleks kelinci pada 5 menit pertama setelah
pemberian morfin masih baik. Refleks menjadi berkurang dan memburuk pada minit ke 10
dan berikutnya. Hal ini berkaitan dengan efek analgesik yang dimiliki morfin. Hilangnya rasa
nyeri atau sentuhan menyebabkan kelinci tidak merasa ketika diberi rangsangan, sehingga
tidak melakukan gerak refleks menghindar.
Setelah pemberian kafein benzoat, refleks dapat kembali normal. Kafein benzoat akan
mengembalikan kekuatan refleks, dan jika refleks otot tidak kembali normal, hal ini dapat
diperkuat dengan pemberian nalokson yang mengantagonis efek analgetik morfin.
6. Sikap Kelinci
Dari hasil percobaan didapatkan bahwa sifat kelinci pada awalnya aktif. Hal ini dapat
terjadi mungkin karena kelinci tersebut merasa bingung dan tidak nyaman berada di tempat
percobaan yang terasa asing baginya. Setelah pemberian morfin, sikapnya berangsur menjadi
pasif atau tenang. Hal ini sesuai dengan efek morfin yang memberi rasa tenang, jika
sebelumnya gelisah.


Pada pemberian kafein benzoat, kelinci masih pasif/tenang dan kembali menjadi
sedikit aktif setelah pemberian kafein benzoat.
Pembahasan Efek Morfin pada Species
Difference
Setelah dilakukan penimbangan, mencit dan tikus diobservasi untuk dilihat reflex dan
tonus otot, sikap hewan coba, dan kelakuan umum. Pada mencit, tikus dan kucing, tidak
dilakukan observasi frekuensi dan dalam nafas, frekuensi dan denyut jantung, reaksi atas
tonus pada rangsang nyeri, serta diameter pupil karena cukup sulit untuk mengamatinya.
Perbedaan efek suatu obat dapat disebabkan oleh perbedaan jenis hewan, misalnya:
morfin menyebabkan eksitasi pada kucing dan kuda, tetapi pada kelinci menyebabkan depresi.
Pada tikus menunjukkan perubahan tonus badan; sikap katatonik yaitu badan berada dalam
sikap yang diberikan oleh pembuat percobaan (katalepsi); sedangkan percobaan pada mencit
menunjukkan eksitasi sedang, ekornya diangkat dan berbentuk S (efek Straub). Reaksi Straub
memberi petunjuk bahwa ada rangsangan terhadap susunan saraf pusat (khususnya sumsum
tulang belakang) atau pembebasan adrenalin yaitu rangsangan terhadap otot diafragma pelvis
dan sfingter ani. Gejala Straub terlihat pada semua mencit yang menerima morfin.
Pada beberapa spesies, efek eksitasi morfin jauh lebih jelas. Misalnya pada kucing,
menunjukkan eksitasi (rangsangan) yang umumnya hebat, pupil melebar, hipersalivasi,
hipertermia, konvulsi tonik dan klonik yang dapat berakhir dengan kematian. Fenomena ini
juga timbul ada kucing tanpa korteks serebri (decorticated cat).
Suatu peristiwa pada manusia yang menyerupai species difference ini ialah peristiwa
idiosinkrasi (efek obat yang terjadi pada individu tertentu tetapi berbeda dengan efek yang
terjadi pada umumnya, yang disebabkan oleh kelainan genetik). Misalnya morfin yang pada
kebanyakan orang menyebabkan efek depresi, pada orang tertentu, khususnya wanita,
menyebabkan eksitasi misalnya mual dan muntah yang mendahului depresi, tetapi delirium
dan konvulsi jarang timbul.





1. Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos.
2. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan
stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi
alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif
reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH).
3. Perbedaan efek suatu obat dapat disebabkan oleh perbedaan jenis hewan, misalnya:
morfin menyebabkan eksitasi pada kucing dan kuda, tetapi pada kelinci menyebabkan
depresi.
4. Pada tikus menunjukkan perubahan tonus badan; sikap katatonik yaitu badan berada
dalam sikap yang diberikan oleh pembuat percobaan (katalepsi); sedangkan percobaan
pada mencit menunjukkan eksitasi sedang, ekornya diangkat dan berbentuk S (efek
Straub). Reaksi Straub memberi petunjuk bahwa ada rangsangan terhadap susunan
saraf pusat (khususnya sumsum tulang belakang) atau pembebasan adrenalin yaitu
rangsangan terhadap otot diafragma pelvis dan sfingter ani. Gejala Straub terlihat pada
semua mencit yang menerima morfin.

1. Nah Y.K, Rumawas M.A, Azalia A, Sudradjat S, Wijaya D.Morfin. Buku Panduan
Tatalaksana Praktikum Farmakologi. Bagian farmakologi. Fakultas Kedokteran.
Universitas Kristen Krida Wacana. 2010.
2. Sulistia GG, Rianto.S, Nafrialdi. Farmakologi terapi 5Ed . Seksi III: Obat susunan
saraf pusat: analgesic opioid dan antagonis oleh Hedi.RD. Department farmakologi
dan terapeutik, Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta: 2007;210-29.
3. Dewoto H R. Farmakologi dan terapi edi 5. FKUI. Jakarta: 2007; 214.
Daftar pustaka



Alat dan bahan


Kesimpulan



Alat dan bahan

Anda mungkin juga menyukai