Anda di halaman 1dari 3

SEJARAH CANDI MORANGAN

Candi Morangan merupakan komplek candi berlatar belakang agama Hindu yang terletak di Dusun
Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Bangunan Candi Morangan terdiri dari candi
induk dan candi perwara, yang semuanya tersusun dari batu andesit. Candi induk Morangan menghadap ke
barat berbilik satu dan berdenah bujursangkar. Secara lengkap candi induk Morangan terdiri atas kaki, tubuh,
dan atap candi. Pembagian tersebut dalam agama Hindu melambangkan tiga alam yaitu bhurloka, bhuvarloka,
dan savarloka.
Candi perwara Morangan menghadap ke timur dan berdenah bujur sangkar. Saat ini bangunan yang
dapat dijumpai adalah bagian tubuh dan kaki candi saja. Sisi utara, barat, dan selatan tubuh candi memiliki
relung yang berisi arca, tetapi arca tersebut telah diamankan. Satu hal yang membedakan Candi Morangan
dengan candi-candi lain adalah terdapatnya panil relief yang diperkirakan merupakan bagian dari cerita Tantri
Kamandaka, yang sejauh ini hanya ditemukan pada candi-candi berlatar belakang agama Budha. Relief tersebut
menceritakan tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing.
Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi
ini kembali tertutup tanah. Pihak SPSP DIY pernah melakukan ekskavasi pada tahun 1982. Ekskavasi yang
dilakukan oleh SPSP DIY ini berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi
perwara. Hingga saat ini candi induk pun belum seluruhnya dapat disingkap dan baru dapat digali sekitar tiga
perempat bagian saja. Bangunan candi induk memiliki arah hadap ke barat sedangkan candi perwara terletak di
depan candi induk agak geser ke sisi utara serta arah hadapnya ke timur.
Pada Candi Morangan ditemukan pula yoni dengan ukuran yang cukup besar. Pada saat ditemukan yoni
tersebut masih in situ. Sedangkan lingga yang seharusnya ada dan menjadi pasangan dari yoni tidak ditemukan
lagi. Pada saat ditemukan yoni tersebut masih dalam keadaan baik sekalipun pada bagian ceratnya sudah hilang.
Pada kompleks Candi Morangan ini juga ditemukan pula arca resi dan sejumlah arca lain di dalam relung-
relung candi. Arca-arca ini sebagian besar belum dapat diidentifikasikan. Kecuali itu Candi Morangan belum
dapat diamati secara sempurna karena bangunan candi belum dapat direkonstruksi kembali. Hal ini disebabkan
oleh karena sebagian bangunan candi masih belum ditemukan (terpendam) di dalam tanah.
Candi Morangan juga terletak 100 meter dari bantaran Sungai Gendol. Bila tanggul Sungai Gendol
jebol dan meluber ke pemukiman warga, ada kemungkinan Candi Morangan pun akan tertimbun material
banjir. Candi Morangan ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan
Indonesia, candi ini kembali tertutup tanah.



SEJARAH CANDI KEDULAN
Candi Kedulan ditemukan pada tahun 1993 dalam kondisi runtuh dan tertimbun pasir. Penemuanya pun
terjadi secara tidak sengaja, yaitu saat sekelompok mayarakat sedang menambang pasir. Jika ditinjau dari
material pasir yang menimbun Candi Kedulan, diperkirakan material tersebut berasal dari letusan Gunung
Merapi yang terjadi dalam beberapa periode. Dilihat dari jenis tanah yang menutup candi yang kini telah
dilakukan pengerukan, terlihat ada 13 lapis jenis lahar, sehingga diperkirakan lahar yang mengubur candi
tersebut berasal dari 13 kali letusan Gunung Merapi. Bagian dasar candi berada pada kedalaman sekitar tujuh
meter.
Candi Kedulan diperkirakan sebagai candi Hindu karena ditemukannya yoni pada area candi. Karakter
candi Hindu adalah biasanya terdiri dari dua - tiga halaman bertingkat. Petunjuk pagar halaman satu di Candi
Kedulan sudah ditemukan di sisi selatan, untuk halaman dua dan tiga masih diselidiki.
Semenjak ditemukan pada tahun 1993 hingga tahun 2010 pemugaran Candi Kedulan masih belum usai.
Bahkan ketiga candi perwaranya (candi pendamping) di kompleks candi Kedulan ini belum dapat digali secara
sempurna karena berada di area milik warga. Luas area Candi Kedulan diperkirkan juga akan terus bertambah
mengingat pagar timur candi masih belum ditemukan.
Upaya penelitian dan pemugaran Candi Kedulan terus dilakukan. Penelitian pada tahun 2003 telah
berhasil menemukan prasasti Pananggaran dan Sumudul di area Candi Kedulan. Dua buah prasasti tersebut
ditulis dalam aksara palawa dengan bahasa sansekerta yang berisis mengenai pembebasan pajak tanah di Desa
Pananggaran dan Parhyangan untuk pembuatan bendungan dan irigasi serta pendirian bangunan suci bernama
Tiwaharyyan di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Banguanan suci Tiwaharyyan tersebut di perkirakan adalah
Candi Kedulan itu sendiri.