Anda di halaman 1dari 59

MODUL PRAKTIKUM

FISIKA DASAR I
LABORATORIUM FISIKA
JURUSAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2013

PEDOMAN PRAKTIKUM
A. Kehadiran
1. Praktikum harus diikuti sekurang-kurangnya 75% dari jumlah total praktikum yang
diberikan.
2. Ketidakhadiran karena sakit harus disertai surat keterangan resmi yang diserahkan paling
lambat dua minggu sejak ketidak-hadirannya. J ika tidak maka yang bersangkutan tidak
diperkenankan mengikuti praktikumsusulan sehingga nilai modul yang bersangkutan NOL.
3. Keterlambatan lebih dari 10 menit tidak dapat mengikuti tes awal
B. Persyaratan Mengikuti Praktikum
1. Terdaftar dalamabsensi peserta kelas yang diserahkan oleh jurusan masing-masing.
2. Berprilaku, berpakaian sopan, dan tidak memakai sandal serta menggunakan jas
laboratorium.
3. Mengerjakan tugas-tugas pendahuluan.
4. Membuat skema tabel pengambilan data modul yang bersangkutan.
5. Menyiapkan diri dengan materi praktikum yang akan dilakukan. Mahasiswa yang kedapatan
tidak siap untuk praktikum tidak diijinkan mengikuti praktikum dan nilai modul yang
bersangkutan NOL.
C. Pelaksanaan Praktikum
1. Mentaati tata tertib yang berlaku di LaboratoriumFisika
2. Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh asisten dan dosen penanggung jawab praktikum
3. Memelihara kebersihan dan bertanggung jawab atas keutuhan alat-alat praktikum

D. Penilaian
1. Nilai praktikumditentutan dari nilai Tugas Pendahuluan, Tes Awal, Aktivitas, dan Laporan
2. Nilai akhir praktikumdihitung dari rata-rata nilai praktikum.
E. Praktikum Susulan dan Ulangan
1. Secara umumtidak diadakan praktikumsusulan, kecuali bagi yang berhalangan praktikum
karena sakit. Praktikumsusulan akan dilaksanakan setelah praktikumreguler berakhir.
2. Praktikum yang tidak dapat dilaksanakan karena hari libur, kegagalan arys listrik PLN dsb.,
akan diberikan praktikumpengganti detelah seluruh sesi praktikumreguler selesai.


Percobaan 1
Analisis Ketidakpastian Pengukuran
dan Metode Grafik
1.1 Sumber Ketidakpastian
Pada percobaan sika dasar dan juga pengambilan data pada praktikum maupun penelitian,hasil
yang diperoleh biasanya tidak dapat langsung diterima karena harus dipertanggung
jawabkankeberhasilan dan kebenarannya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan manusia
yangterbatas dan ketelitian alat-alat yang dipergunakan mempunyai batas kemampuan
tertentu.Dengan kata lain peralatan dan sarana (termasuk waktu) yang tersedia bagi kita
membatasitujuan dan hasil yang dapat dicapai. Hasil percobaan baru dapat diterima apabila
hargabesaran yang diukur dilengkapi dengan batas-batas penyimpangan dan hasil tersebut,
yangdisebut sesatan (ketidakpastian). J ika dari hasil tersebut diketahui penyimpangan terlalu
besar,maka bila diperlukan, percobaan harus diulang kembali dengan berbagai cara,
misalnyadengan mengulang pengukuran beberapa kali yang lebih teliti atau mengganti alat-alat
percobaandengan alat yang lebih baik ketelitiannya. J adi jelaslah untuk keperluan ini
mutlakdiperlukan teori sesaat (ketidakpastian).
Penyebab Ketidakpastian
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakpastian, yaitu:
1. Adanya nilai skala terkecil (NST) yang ditimbulkan oleh keterbatasan dari alat ukur.
2. Adanya ketidakpastian bersistem:
a) Kesalahan kalibrasi.
b) Kesalahan titik nol.
c) Kesalahan pegas.
d) Gesekan pada bagian-bagian alat yang bergerak.
e) Paralaks (arah pandang) dalamhal membaca skala.
3. Adanya ketidakpastian acak:
1. Gerak Brown molekul udara.
2. Fluktasi tegangan jaringan listrik.
3. Bising elektronik.
4. Keterbatasan keterampilan pengamat.
Pengukuran Besaran Fisika
Pengukuran besaran sis terbagi atas:
1. Pengukuran langsung yaitu hasil pengukuran secara langsung dari alat ukur,
contohnyapengukuran besaran pokok seperti massa, panjang, waktu, suhu dan kuat arus.
2. Pengukuran tidak langsung yaitu pengukuran yang diperoleh dari turunan
pengukuranlangsung, contohnya pengukuran besaran turunan seperti massa jenis, volume,
luas,gaya, kecepatan dan lainnya.
1.2 Analisis Ketidakpastian
Pengukuran Tunggal Satu Variabel
J ika pengukuran suatu besaran hanya dilakukan sekali, maka ketidakpastian diperoleh dari
skala terkecil alat ukur
x =
1
2
NSI (1.1)
Pengukuran Berulang Satu Variabel
Untukpengukurandilakukanberulangmakarata-ratanilaipengukurandapatdiperolehsebagai
x
n
=
x
1
+x
2
+x
3
+x
n
n
=
1
n
x

n
=1
(1.2)
Nilai standar deviasi sebesar:
x =s
n
=_
(x
i
-x
n
)
2
n-1
n
=1
(1.3)
dengan n adalah banyaknya pengambilan data.
Perambatan Kesalahan Besaran Turunan
Banyak besaran-besaran sika yang tidak dapat diukur secara langsung. Lebih sering kitadapati
besaran-besaran itu sebagai fungsi dari besaran-besaran lain yang dapat diukur.Contohnya, jika kita
hendak mengukur massa jenis suatu benda padat. Karena alat ukurmengukur massa jenis benda
padat secara tidak langsung, maka dapat ditentukan melaluihubungan:
p =
m
v
(1.4)
yang mana m dan V menyatakan massa dan volume benda (keduanya dapat diukur
secaralangsung). Karena pengukuran mdan V menghasilkan ketidakpastianm danV, maka juga
mengandung ketidakpastian. Permasalahannya bagaimana hubunganm danVdengan?
Misalkan besaran sis Z (yang tidak dapat diukur secara langsung) merupakanfungsi dari besaran X
dan Y (yang dapat diukur secara langsung). Secara matematishubungan Z dengan X dan Y
dinyatakan sebagai:
Z(X,) =Z(X
0
X,
0
) (1.5)
dengan menggunakan deret Taylor di sekitar(X
0
, Y
0
) dapat diperoleh:
Z =
z
X

X +
z

X
(1.6)
Ketelitian dan Ketepatan
Suatu percobaan dikatakan memiliki ketelitian tinggi jika kesalahan percobaan(X) kecil.Dan suatu
percobaan dikatakan memiliki ketepatan tinggi jika kesalahan sistematik percobaan tersebut kecil.
Secara matematis ketelitian dan ketepatan suatu percobaan dapat ditulissebagai:
kctclition =j1
X
X

[ 100% (1.7)
kctcpoton =j1
X
litcrctur
-X
pcrccbccn
X
litcrctur
[ 100% (1.8)
Percobaan yang baik harus sama-sama memiliki ketelitian dan ketepatan yang tinggi.
1.3 Metode Grak
Pada umumnya, proses pencarian nilai dari suatu besaran sika, proses pencarian hubunganantara
besaran sika yang satu dengan yang lain, atau proses pencarian konstanta yang
menghubungkanantara besaran sika yang satu dengan besaran sika yang lain, dapat
dilakukandengan metode grak. Bentuk grak yang biasa digunakan dalam metode ini adalah
bentuklinear yang diperoleh dari sebuah persamaan linear. Selain regresi linier, dapat juga
dilakukandengan pendekatan eksponensial, sinusoidal, parabola, hiperbola, kuadrat, atau
polinomialsesuai dengan karakteristik besaran sika yang akan di ukur.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam eksperimen sika
yangmenggunakan metode grak dengan pendekatan kuadrat terkecil (linier):
1. Menentukan besaran-besaran yang berperan sebagai variabel bebas (variabel yang
nilainyadivariasi) dan besaran-besaran yang berperan sebagai variabel tak bebas
(variabelyang nilainya berubah karena adanya variasi dari variabel bebas).
2. Mengubah persamaan sika yang terkait dengan tema eksperimen ke dalam
bentukpersamaan linear sedemikian rupa sehingga hubungan antara variabel bebas (x)
danvariabel tak bebasnya(y) membentuk persamaan linier
y =o +bx (1.9)
dengan b adalah gradien grak dan a adalah titik potong grak terhadap sumbu y.
3. Membuat tabel yang diperlukan untuk mengubah nilai variabel-variabel terkait beserta
ketidakpastiannya menjadi variabel-variabel yang siap diplot ke dalamgrak.
4. Membuat grak.
5. Menganalisa nilai besaran atau konstanta yang akan dicari dari grak.
6. Membahas dan menyimpulkan hasil yang didapatkan.
Besaran atau konstanta yang akan dicari dari grak biasanya berasal dari gradien(b) grakatau titik
potong grak terhadap sumbu y(a). Penentuan b dan a dapat dilakukan secaramanual setelah grak
dibuat. Namun dapat pula ditentukan dengan menggunakan regresilinear, sebagai berikut:
b =
n x
i

i i
- x
i i

i i
n x
i
2
-( x
i i
)
2
i
(1.10)
o =
n x
i
2

i i
- x
i i
x
i

i i
n x
i
2
-( x
i i
)
2
i
(1.11)
Dengan ketidakpastian sebagai berikut
(b)
2
=
n
(n-2)
(
i
-u-bx
i
)
2
i
n x
i
2
-( x
i i
)
2
i
(1.12)
(o)
2
=
x
i
2
i
(n-2)
(
i
-u-bx
i
)
2
i
n x
i
2
-( x
i i
)
2
i
(1.13)
Secara numerik dapat diperoleh secara langsung dengan menggunakan Microsoft Excel
ataukalkulator saintik.





















Percobaan 2
DasarPengukuran
2.1 Tujuan
1. Dapat melakukan pengukuran dengan mistar, jangka sorong, mikrometer sekrup, dan
neraca.
2. Dapat membandingkan hasil pengukuran dengan mistar, jangka sorong dan milimeter
sekrup.
3. Dapat menganalisis ketidakpastian pengukuran pada masing-masing alat ukur yang
digunakan.
4. Dapat menghitung massa jenis benda.

2.2 Dasar Teori
Fisika adalah sebuah ilmu yang mempelajari gejala yang terjadi di alamdari skala atomikyang
sangat kecil sampai dengan skala yang sangat besar yaitu alamsemesta. Gejala-gejalatersebut
dinamakan sebagai besaran sis. Pengukuran besaran sis dapat dilakukan denganberbagai alat
ukur yang sesuai. Di dalamsika kita mengenal besaran pokok dan besaranturunan. Besaran pokok
adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulusedangkan besaran turunan adalah
besaran yang diturunkan dari besaran pokok.Dalam praktikum ini, kita akan mempelajari
bagaimana cara mengukur besaran pokok danbesaran turunan dengan berbagai alat ukur yang
sesuai. Sebagai contoh sebuah benda denganbentuk sembarang, apabila volume(V) dan massa(m)
benda tersebut diketahui maka massajenis benda dinyatakan dengan
p =
m
v
(2.1)
Dengandemikian, berdasarkanperumusandiataskitadapatmenentukanmassajenisbeberapabenda.
Data massa jenis beberapa zat bisa dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Massa J enis beberapa zat
Zat Cair Zat Padat Zat Gas
Nama Zat p (kg/m
3
) Nama Zat p (kg/m
3
) Nama Zat p (kg/m
3
)
Aluminium 2.70x10
3
Air (4
0
C) 1.00 x10
3
Udara 1.293
Besi dan Baja 7.80 x10
3
Air Laut 1.03 x10
3
Helium 0.1786
Emas 19.3 x10
3
Darah 1.06 x10
3
Hidrogen 0.08994
Kayu (0.3-0.9) x10
3
Bensin 0.68 x10
3
Uap Air (100
0
C) 0.6
Gelas (2.4-2.8) x10
3
Air Raksa 13.6 x10
3

Tembaga 8.9 x10
3

Seng 7.14 x10
3

Platina 21.45 x10
3

Kuningan 8.4 x10
3

Timah 11.3 x10
3

Perak 10.5 x10
3

2.3 Metode Percobaan
2.3.1 Alat dan Bahan
1. Mistar 1 buah
2. J angka sorong 1 buah
3. Mikrometer sekrup 1 buah
4. Neraca 1 buah
5. Benda 5 buah
2.3.1 Prosedur Percobaan
Pengukuran Dimensi Panjang
1. Ukurlah panjang, diameter benda yang disediakan dengan alat ukur mistar, jangka sorong,
mikrometer dan ulang minimal 10 kali.
2. Bandingkan hasil ukur masing-masing alat dan cari masing-masing ketidakpastiannya.
Pengukuran Massa Jenis Benda
1. Timbang massa beberapa benda (minimal 10 kali pengukuran) dengan menggunakan
neraca. Catat pula berapa ketidakpastian dari pengukuran tersebut.
2. Ukur dimensi dari benda tersebut (minimal 10 kali pengukuran) dengan jangka sorong dan
milimeter sekrup kemudian hitunglah berapa volumenya. Catat pula berapa ketidakpastian
dari pengukuran.
3. Tentukan massa jenis beserta ketidakpastiannya dengan perumusan pada Persamaan (2.1).
4. Ulangi percobaan dengan benda yang lain.
2.4 Tugas Pendahuluan
1. Tentukan persamaan massa jenis benda dan rambatan ketidakpastiannya untuk benda
2. berbentuk bola, silinder, kubus dan balok?
3. Bagaimana cara mengukur massa jenis zat cair dan gas?
4. J elaskan cara penggunaan jangka sorong dan millimeter sekrup!
2.5 Tugas Akhir
1. Tentukan massa jenis tiap benda beserta ketidakpastiannya!
2. Bandingkan hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dan millimeter sekrup untuk
3. tiap-tiap benda. Berikan penjelasan alat mana yang memiliki ketelitian yang lebih baik!
4. Tentukan ketelitian pengukuran dan bandingkan dengan literatur!







Percobaan 3
Gerak Translasi dan Rotasi
3.1 Tujuan
1. Mempelajari hukumNewton II pada kereta dinamika dan pesawat Atwood.
2. Mencari koesien gesekan kinetis antara kereta dinamika dan landasan.
3. Menentukan momen inersia katrol pesawat Atwood.
3.2 Dasar Teori
Hukum II Newton menyatakan: J ika resultan gaya yang bekerja pada benda tidak samadengan nol
maka akan timbul percepatan pada benda yang besarnya sebanding dengan besarresultan gaya yang
bekerja pada benda, dan berbanding terbalik dengan massa kelembamannya. Secara matematis
dapat dituliskan sebagai:
o =
P
m
(3.1)
Anda dapat mempelajari hukumtersebut di atas pada percobaan kereta dinamika maupunpada
percobaan pesawat Atwood. Percobaan kereta dinamika dapat dijelaskan sebagai berikut

Gambar 3.1: Percobaan kereta dinamika.
Pada percobaan dalamGambar 3.1, kereta dinamika berada di atas landasan (rel) yangdiberi
kemiringan dan dilepaskan tanpa kecepatan awal. Gaya berat kereta dinamika
tersebutmenyebabkansistemkeretadinamikabergerak. Padasaatkeretdilepaskan, power supply
yangdihidupkan akan menyalakan ticker timer. Pola berupa titik-titik jejak ketikan yang dihasilkan
oleh ticker timer pada pita kertas yang ditarik oleh kereta dinamika ini menggambarkan
gerakkereta dinamika secara kualitatif. Dalampercobaan ini kereta dinamika bergerak lurus dengan
kecepatan yang bertambah, karena itu gerak kereta dinamika adalah gerak berubah beraturanyang
dipercepat. Dengan demikian, jarak antara dua titik yang berturutan pada kertas pitaakan semakin
besar. Dalampercobaan kereta dinamika ini anda dapat memvariasikan sudutkemiringan dan massa
kereta dinamika. Percobaan dengan pesawat Atwood ditunjukkanseperti pada Gambar 3.2.
Bila massa silinder M1 dan beban tambahan(M
1
+m) lebih besar daripada massa silinderM
2
, maka
silinderM
1
dan beban tambahanm akan bergerak dipercepat ke bawah sedangkansilinderM
2
,
akanbergerakkeatasdenganpercepatanyangsamabesarnya. Halituakanmembuat katrol bersumbu
tetap yang menghubungkan keduanya berotasi pada sumbu tetapnya.Pada tiap silinder berlaku
hukumII Newton:
F =mo (3.2)
Sedangkan untuk katrol berlaku
=Io (3.3)
Dengan menjabarkan Persamaan (3.2) dan (3.3) di atas, kita dapat menurunkan persamaan
untuk menghitung percepatan silinder, yaitu:
o =
(M
1
+m-M
2
)
[M
1
+m+M
2
+
I
R
2

.g (3.4)
3.3 Metode Percobaan
3.3.1 Alat dan Bahan
Kereta Dinamika
1. Kereta dinamika 1 buah
2. Beban tambahan dengan pengait 1set
3. Landasan rel kereta dengan variabel kemiringan 1 buah
4. Ticker timer (6 volt AC,5060 Hz, celah pita 1 cm) 1 buah
5. Power supply 1 buah
6. Pita kertas (180 cm) 20 lembar
7. Kertas karbon Secukupnya


Gambar 3.2 Pesawat Atwood.
Pesawat Atwood
1. Katrol (tebal 5 mm, diameter 12 cm) 1 buah
2. Batang tegak (batang berskala cm, skala terkecil 1 cm) 1 buah
3. Klempemegang (1 klem memiliki pengatur panjang) 1 buah
4. Silinder materi 2 buah
5. Klempembatas berlubang 1 buah
6. Klempembatas tak berlubang 1 buah
7. Pemegang/pelepas silinder 1 buah
8. Beban tambahan 2 buah
9. Stop watch 1 buah

3.3.2 Prosedur Percobaan
Kereta Dinamika
1. Susun alat-alat seperti pada Gambar 3.1. Untuk menghidupkan ticker timer gunakanpower
supply dengan beda potensial 3 volt AC (maksimum6 Volt AC).
2. Atur kemiringan landasan rel. Pasang pita kertas pada penjepit pita di posisi belakang kereta
dinamika. Pegang kereta dinamika pada posisi teratas. Lepaskan kereta dinamika bersamaan
dengan menghidupkan ticker timer. Tangkap kereta dinamika pada saat pendorong-pegas
kereta tepat menyentuh pembatas rel, jaga dengan hati-hati (jangan sampai kereta terjatuh)
dan segara matikan ticker timer dengan memutus saklar penghubung. Amati jejak ketikan
ticker timer pada pita kertas, bila baik tandailah pita dengan mencatat kemiringan dan massa
beban pada pita lalu lakukan langkah berikutnya.
3. Ulangi langkah 2 (untuk kemiringan yang sama) dengan beban yang berbeda-beda (ambil
minimal 10 data untuk beban yang berbeda).
4. Lakukan langkah 2 sampai 3 dengan kemiringan yang berbeda-beda (untuk beban yang
tetap). Ambil minimal 10 data untuk kemiringan yang berbeda.
5. Ukur dan catatlah massa kereta dinamika dan massa beban tambahan dari setiap data yang
diambil.
Pesawat Atwood
Pertama: Menentukan Momen Inersia Katrol
1. Ukur dan catat massa silinder M
1
, M
2
, beban tambahan m
1
dan m
2
, serta massa katrol dan
jari-jari katrol (R).
2. Atur sistem seperti Gambar 3.2. Tetapkan skala nol pesawat sebagai titik A dan tentukan
letak pembatas berlubang sebagai titik B, dan catat jarak AB itu.
3. Tambahkan m
1
pada M
1
dan atur agar posisi awal m
1
tepat di A.
4. Lepaskan pemegang M
2
bersamaan dengan menghidupkan stopwatch. Catat waktu yang
diperlukan untuk bergerak dari A ke B (t
AB
).
5. Gantilah beban tambahan dengan m
2
lalu lakukan langkah ke-3 dan ke-4.
6. Lakukan langkah15 sebanyak lima kali dengan jarak AB yang berbeda-beda.
7. Berdasarkan data yang anda dapatkan, buatlah grak S
AB
=f(t
2
AB
).
Kedua: Mempelajari perilaku hukum II Newton
1. Letakkan pembatas C di bawah titik B. Atur jarak AB 80 cmdan jarak BC min 20 cm. (ket:
angka-angka ini hanya untuk memudahkan).
2. Tambahkan m
1
dan m
2
pada M
1
lalu atur agar posisi awal tepat di A, lepaskan pemegang M
2

sehingga dapat bergerak naik, M
1
turun melewati B hingga ke C, sedangkan m
1
tertahan di
B. Ukur dan catat waktu yang diperlukan untuk bergerak dari A ke B (t
AB
) dan dari B ke C
(t
BC
).
3. Lakukan langkah 8 dan 9 hingga lima kali dengan jarak AC tetap sedangkan jarak AB dan
jarak BC berbeda-beda melalui perubahan posisi B.
4. Berdasarkan data yang diperoleh buatlah grak S
AB
=f(t
AB
) dan grak S
BC
=f(t
BC
).
3.4 Tugas Pendahuluan
Eksperimen Kereta Dinamika
1. Berdasarkan Gambar 3.1, gambarkan gaya-gaya yang bekerja pada kereta dinamika!
2. Berdasarkan gaya-gaya yang bekerja, tuliskan persamaan gerak kereta dinamika jika terdapat
gaya gesekan dan tanpa gaya gesekan!
3. Berdasarkan prosedur eksperimen kereta dinamika, bagaimanakah anda dapat mengetahui
kesebandingan antara Fm, dan Fa?
4. Bagaimanakah prediksi anda tentang grak F = f(m) untuk a konstan, dan grak untuk m
konstan?
5. Dalameksperimen ini dapatkah anda mengetahui besar gaya gesekan antara kereta dinamika
dan papan landasan? Berikan argumentasi anda!
6. J elaskan bagaimana cara mengolah data hasil percobaan kereta dinamika dalammenjelaskan
keberlakuan hukumII Newton dalampercobaan ini!
Eksperimen Pesawat Atwood
1. Gambarkan gaya-gaya yang bekerja pada silinderM1,M2, dan katrol dalam percobaan
Atwood!
2. Turunkan persamaan percepatan silinder M1 dan M2 pada percobaan Atwood bila momen
inersia katrol diabaikan!
3. Turunkan persamaan percepatan silinderM1,M2 pada percobaan Atwood bila momen inersia
katrol tidak diabaikan!
4. Berdasarkan pemahaman anda tentang prosedur pesawat Atwood, bagaimanakah cara anda
mengalisis hasil momen inersia yang anda dapatkan?
5. Dengan memahami prosedur, ramalkan perilaku gerak benda pada percobaan kedua pesawat
Atwood pada jarak AB dan BC, dan bagaimana anda mengkaitkan hukum Newton II dengan
fenomena ini!
3.5 Tugas Akhir
Eksperimen Kereta Dinamika
1. Dengan menganggap frekuensi PLN 50 Hz (konstan), ubahlah data pita ticker timer dalam
tabel yang mengandung variable S waktu untuk lima ketukan, dan kecepatan rata-rata untuk
lima ketukan! (potongan pita ditempel pada laporan)
2. Melalui tabel pada langkah 1, buatlah grak v =f(t) untuk setiap percobaan. Tentukan
percepatan sistemdari masing-masing percobaan berdasarkan grak yang anda buat itu!
3. Berdasarkan grak pada langkah 2, buatlah grak F = f(m) untuk kemiringan yang konstan,
dan grak F = f(a) untuk massa yang konstan!
4. Bagaimanakah kecenderungan hasil langkah 3? Apakah sesuai dengan hukumII Newton?
Berikan penjelasan!
5. Dari data yang anda peroleh untuk kasusm konstan (berubah), buatlah grak gaya
gesekanterhadap gaya normal!Berdasarkan grak ini tentukanlah nilai koesien gesekan
kinetis antara kereta dinamika dan landasan!
Eksperimen Pesawat Atwood
1. Dari tabel data percobaan Atwood, buatlah grak S
AB
terhadap t
2
AB
ketika M
1
bergerak dari
A keB dengan beban tambahan m
1
+m
2
, lalu hitung percepatannya berdasarkan grak itu!
2. Melalui percepatan yang diperoleh pada langkah 1, tentukan harga momen inersia katroldan
apakah hasilnya sama bila anda menggunakan I =
1
2
HR
2
? Berikan argumentasi anda!
3. Buatlah grak S
AB
terhadap t
AB
, dan grak S
BC
terhadap t
BC
(untuk beban tambahanm
1
+m
2
)!
4. Berdasarkan grak yang anda buat, perkirakanlah gerak pada lintasanAB danBC!












Percobaan 4
Bandul Matematis
4.1 Tujuan
1. Mengamati gerak osilasi bandul matematis.
2. Menentukan periode bandul matematis.
3. Menentukan nilai pecepatan gravitasi bumi.
4.2 Dasar Teori
Bandul matematis adalah suatu titik benda digantungkan pada suatu titk tetap dengan tali.J ika
ayunan menyimpang sebesar sudut terhadap garis vertikal maka gaya yang mengembalikan:
F =mgsin0 (4.1)
untuk nilai yang kecil (dalam radian), sin0 0 =
s
I
nilaiyang mana s adalah busur lintasanbola
dan l merupakan panjang tali sehingga
F =
mgs
I
(4.2)
Apabila tidak ada puntiran maupun gesekan, persamaan gayanya diberikan oleh
m
d
2
s
dt
2
=
mgs
I
(4.3)
Persamaan ini adalah persamaan getaran selaras dengan periode T sebesar:
I =2n_
I
g
(4.4)
dengan g adalah percepatan gravitasi.
Harga l dan T dapat diukur pada pelaksanaan percobaan dengan bola logam yang cukupberat
digantungkan dengan kwat yang sangat ringan. Menentukan g dengan cara ini cukupteliti jika
terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tali lebih ringan dibandingkan bolanya.
2. Simpangan harus lebih kecil (sudut lebih kecil dari 15).
3. Gesekan dengan udara harus sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
4. Gaya puntiran (torsi) tidak ada (kawat penggantung tidak boleh terpuntir).

Gambar 4.1: Bandul matematis.
4.3 Metode Percobaan
4.3.1 Alat dan Bahan
1. Bola bandul 2 buah
2. Batang dan dudukan statif 1 buah
3. Bosshead universal 1 buah
4. Pasak penumpu 1 buah
5. Benang secukupnya
6. Stopwatch 1 buah
7. Mistar 1 buah
4.3.2 Prosedur Percobaan
1. Simpangkan bandul kurang dari15, lalu lepaskan sehingga bandul berosilasi.
2. Hitung periode bandul untuk 20 kali osilasi.
3. Ulangi langkah di atas dengan varisai panjang tali bandul matematis (minimal 10 variasi
panjang tali).
4. Dari data di atas, tentukan nilai tetapan percepatan gravitasi bumi dengan metode grak
dan cari ketidakpastiannya.
4.4 Tugas Pendahuluan
1. Apakah yang dimaksud dengan osilasi? J elaskan!
2. Apakah yang dimaksud dengan periode dan frekuensi? J elaskan!
3. Buktikan Persamaan (4.4)!
4. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi besar periode bandul matematis? Apakah massa
bandul berpengaruh?
4.5 Tugas Akhir
1. Buatlah grak hubungan antara T
2
dan l!
2. Dari grak T
2
dan l, tentukan percepatan gravitasi!
3. Bandingkan hasil yang diperoleh melalui percobaan dengan literatur!
4. Cari ketepatan dan ketelitian dari percobaan tersebut!
5. J elaskan faktor-faktor yang yang dapat mempengaruhi hasil percobaan!







Percobaan 5
Koesien Gesekan
5.1 Tujuan
Menentukan besar koesien gesekan benda.
5.2 Dasar Teori
Coba anda lakukan kegiatan berikut. Doronglah meja yang terletak di atas lantai datar denganarah
dorongan sejajar meja. Ketika anda melakukannya, apakah meja langsung bergerak?Ketika meja
sudah bergerak, apakah anda merasakan gaya dorong yang anda berikan menjadilebih kecil (terasa
ringan)? Selanjutnya, pada saat meja bergerak, apa yang terjadi ketikadorongan pada meja anda
lepaskan?
Contoh sederhana tersebut memberikan gambaran bahwa untuk menggerakkan benda darikeadaan
diamdiperlukan gaya minimum. Ketika gaya yang anda berikan pada meja lebih kecildaripada
suatu nilai, meja akan tetap diam. Akan tetapi, ketika gaya yang anda kerahkandiperbesar, suatu
saat meja tersebut dapat bergerak. Selain itu, anda juga akan mendapatkanbahwa ketika gaya
dorong anda pada meja dilepaskan, meja akan segera berhenti. Mengapa dapat terjadi demikian?
Pertanyaan tersebut dapat anda terangkan dengan menggunakanhukum-hukumNewton tentang
gerak. Untuk itu, perhatikan Gambar 5.1.

Gambar 5.1: Gaya gesekan timbul berlawanan arah gerak benda.
Misalkan, gaya yang anda kerahkan pada meja besarnyaF dengan arah sejajar lantai. J ikameja tetap
dalamkeadaan diam, sesuai dengan Hukum Pertama Newton, berarti resultangaya pada meja sama
dengan nol. Hal Ini menunjukkan bahwa ada gaya lain yang besarnyasama dan berlawanan arah
dengan gayaF yang anda berikan. Gaya ini tidak lain adalahgaya gesekan yang terjadi antara meja
dan lantai. Gaya gesekan pulalah yang menyebabkanmeja menjadi berhenti sesaat setelah anda
melepaskan gaya dorong anda terhadap meja yangsudah bergerak.
Hubungan antara gaya gesekanf
ges
dan gayaF yang sejajar bidang pada sebuah bendaditunjukkan
pada Gambar 5.2. Grak tersebut memperlihatkan bahwa saat benda belumdiberi gaya atauF =0,
gaya gesekan belum bekerja atauf
ges
=0. Ketika besar gayaFdinaikkan secara perlahan-lahan, benda
tetap diam hingga dicapai keadaan di mana bendatepat akan bergerak. Pada keadaan ini, gaya
gesekan selalu sama dengan gaya yang diberikanatau secara matematisf
ges
=F. Gaya gesekan yang
bekerja saat benda dalamkeadaan diamdisebut gaya gesekan statis.

Gambar 5.2: Grak hubungan antara gaya normal dan gaya gesekan.
Pada keadaan benda tepat akan bergerak, besar gaya F tepat sama dengan gaya gesekanstatis
maksimum. Besar gaya gesekan statis maksimum sebanding dengan gaya normal antarabenda dan
bidang. Konstanta kesebandingan antara besar gaya gesekan statis maksimum dangaya normal
disebut koesien gesekan statis. Dengan demikian, secara matematis besar gayagesekan statis
maksimummemenuhi persamaan

s,muks
=p
s
N (5.1)
yang mana
s
adalah koesien gesek statis dan N adalah gaya normal.
Perhatikan bahwa Persamaan (5.1) hanya berlaku ketika benda tepat akan bergerak. Persamaanini
juga menunjukkan bahwa selama gaya F yang diberikan pada benda lebih kecildaripada atau sama
dengan gaya gesekan statis(F
s,muks
), benda tetap dalam keadaandiam. Pada keadaan ini
berlaku

s,muks
p
s
N (5.2)
Selanjutnya, ketika gaya F yang diberikan lebih besar daripada besar gaya gesekan
statismaksimum,(F >
s,muks
), benda akan bergerak. Pada keadaan bergerak ini, gaya gesekan
yang bekerja disebut gaya gesekan kinetik. Gaya gesekan ini besarnya konstan dan
memenuhipersamaan

gcs
=
k
=p
k
N (5.3)

yang mana
k
merupakan koesien gesek kinetik.
Persamaan (5.3) juga memperlihatkan bahwa gaya gesekan kinetik besarnya lebih kecildaripada
gaya gesekan statis maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa koesien gesekan kinetikselalu lebih
kecil daripada koesien gesekan statis
k

s
. Itulah sebabnya mengapaanda perlu mengerahkan
gaya yang lebih besar saat mendorong benda dari keadaan diamdibandingkan dengan ketika benda
sudah bergerak. Selain itu, besarnya gaya yang harusanda kerahkan bergantung pada keadaan dua
permukaan bidang yang bergesekan. Hal inidisebabkan besarnya koesien gesekan bergantung
pada sifat alamiah kedua benda yang bergesekan,di antaranya kering atau basahnya dan kasar atau
halusnya permukaan benda yangbergesekan.
Tabel 5.1: Koesien gesek beberapa benda.

s

k

Besi dengan besi 0.74 0.57
Aluminiumdengan besi 0.61 0.47
Tembaga dengan besi 0.53 0.36
Karet pada beton 1.0 0.8
Kayu dengan kayu 0.25-0.5 0.2
Kaca dengan kaca 0.94 0.4
Kayu dengan salju basah 0.14 0.1
Kayu dengan salju kering - 0.04
Logamdengan logam 0.15 0.06
Es dengan es 0.1 0.03
Teon dengan teon 0.04 0.04
Sendi sinovial pada manusia 0.01 0.003


Gambar 5.3: Analisis gaya yang bekerja pada benda pada bidang miring.
Hasil analisa dari gaya-gaya yang bekerja pada benda yang berada pada bidang miringseperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5.3, menunjukkan bahwa besarnya koesien gesekantara bidang dan
benda sebagai
p
s
=tan0
c
(5.4)
yang mana
c
adalah sudut pada saat benda tepat akan bergerak.
5.3 Metode Percobaan
5.3.1 Alat dan Bahan
1. Bidang miring dan balok 1 set
2. Busur setengah lingkaran 1 buah
3. Stopwatch 1 buah
4. Mistar 1 buah
5.3.2 Prosedur Percobaan
1. Letakkan balok dengan bagian sisi kasar menyentuh bidang miring seperti Gambar 5.3.
2. Perbesarlah sudut bidang miring, ketika balok tepat akan bergerak catatlah sudut yang
terlihat pada penggaris busur. Catat waktu yang ditempuh balok untuk meluncur sampai
batas akhir.
3. Ulangi langkah12 sampai 10 kali.
4. Ulangi langkah13 untuk bagian sisi balok yang halus menyentuh bidang miring.
5.4 Tugas Pendahuluan
1. Buktikan Persamaan (5.3) dan (5.4)!
2. Faktor apakah yang mempengaruhi besar koesien gesekan suatu benda? Jelaskan!
3. Mengapa besar koesien gesek statik lebih besar dari koesien gesek kinetik? Jelaskan!
5.5 Tugas Akhir
1. Tentukan besar koesien gesekan dari Persamaan (5.4)!
2. Tentukan besar koesien gesek kinetis!
3. Bandingkan koesien gesekan antara permukaan yang kasar dan halus balok tersebut!
4. Tentukan percepatan benda meluncur (a)!
5. Tentukan kecepatan benda pada saat mencapai ujung bawah bidang luncur (V
t
)!


















Percobaan 6
Koesien Restitusi dan Ayunan
Balistik
6.1 Tujuan
1. Memahami konsep momentumdan tumbukan.
2. Memahami hukumkekekalan momentumdan kekekalan energi mekanik.
3. Menentukan koesien restitusi dari beberapa benda.
4. Menentukan kecepatan peluru dengan ayunan balistik.
6.2 Dasar Teori
Padaperistiwatumbukanantaraduabendayangmasing-masingmassanyam
1
danm
2
dengan
keceptan sebelum tumbukanv
1
danv
2
sedangkan kecepatan setelah tumbukanv
1
dan v
2
sertatidak
dipengaruhi gaya eksternal, berlaku hukumkekekalan momentumlinier:
m
1
:
1
+m
2
:
2
=m
1
:
1
i
+m
2
:
2
i
(6.1)
J ika pada tumbukan tidak ada panas yang dihasilkan, maka energi kinetiknya juga kekal.Tumbukan
seperti ini dinamakan tumbukan lenting sempuna. Sedangkan jika energikinetiknya tidak kekal
dinamakan tumbukan tidak lenting. Apabila setelah tumbukan keduabenda kemudian menyatu
dinamakan tumbukan tidak lenting sama sekali. Secara umumpadaperistiwa tumbukan berlaku
persamaan:
(:
1
i
:
2
i
) =c(:
1
:
2
) (6.2)
dengan e merupakan koesien restitusi yang memiliki nilai:

c =_
1
0<c <1
0
`

Koesien Restitusi Benda Jatuh
Sesuai hukum kekekalan momentum maka diperoleh koesien restitusi dari benda yang
jatuhtersebut adalah
c =_
h
|
h
(6.3)
yang mana h adalah ketinggian bola setelah memantul sedangkan h adalah ketinggian saatbola
dijatuhkan.


lenting sebagian
tidak lenting sama sekali
lenting sempurna

Gambar 6.1: Gerak bola yang dijatuhkan
Ayunan Balistik
Ayunan balistik adalah sistem yang diaplikasikan untuk menentukan besar kecepatan
peluruberdasarkan konsep hukum kekekalan energi dan hukum kekekalan momentum.
Kecepatanpeluru ketika ditembakan berdasarkan hukumkekekalan momentum dan energi adalah
:
p
=_
m
p
+M
m
p
] 2g (6.4)
dengan =I(1cos0)(Gambar 6.3), sehingga Persamaan (6.4) menjadi:
:
p
=_
m
p
+M
m
p
] 2gI(1cos0) (6.5)


Gambar 6.2: Ayunan balistik


Gambar 6.3: Geometri ayunan
6.3 Metode Percobaan
6.3.1 Alat dan Bahan
1. Bola dari bahan yang berbeda secukupnya
2. Meteran 1 buah
3. Pistol mainan 1 buah
4. Statif 1 buah
5. Benang secukupnya
6. Balok 1 buah
7. Neraca analitik 1 buah
8. Penggaris busur 1 buah
6.3.2 Prosedur Percobaan
Koesien Restitusi Benda Jatuh
1. Menjatuhkan bola dari ketinggian tertentu (h) kemudian mengamati tinggi pantulan
2. bola tersebut(h).
3. Mengulangi langkah 1 dengan ketinggian(h) berbeda, sampai mendapat 10 data.
4. Mengulangi langkah 1 sampai 2 dengan menggunakan bola lainnya.
Ayunan Balistik
1. Menyusun alat dan bahan yang diperlukan menjadi seperti Gambar 6.4.

Gambar 6.4: Set up alat ayunan balistik
2. Mengukur panjang benang yang menggantungkan benda.
3. Mengukur massa balok dan massa peluru yang akan digunakan.
4. Dengan menggunakan pistol, menembak benda (lilin yang digantung) dari satu
sisi.(Gambar 6.4)
5. Mencatat sudut yang dibuat benang dari gerakan benda saat ditembakkan peluru
bilakondisi peluru yang ditembakkan bertumbukan dan menempel pada benda
(Gambar6.4).
6. Mengulangi langkah25 sampai didapatkan sepuluh data.

6.4 Tugas Pendahuluan
1. Buktikan Persamaan (6.3), (6.4) dan (6.5)!
2. Apa yang dimaksud dengan momentumdan impuls?
3. Apa yang dimaksud dengan kekekalan momentumdan kekekalan energi?
4. Sebutkan contoh jenis tumbukan lenting, tidak lenting dan lenting sebagian!
5. Mengapa memukul batu terasa lebih sakit dibandingkan memukul bantal? J elaskan!
6.5 Tugas Akhir
1. Buatlah grak h danh, kemudian tentukan besar koesien restitusinya!
2. Bandingkan hasil koesien restitusi dari grak dan dari pengukuran langsung!
3. Tentukan besar kecepatan peluru sesuai Persamaan (6.5)!Tentukan pula ketidakpastiannya!
4. Tentukan besar ketelitian tiap percobaan!
5. Faktor apa saja yang mempengaruhi ketelitian percobaan yang anda lakukan!
























Percobaan 7
Momen Inersia Batang Silinder
7.1 Tujuan
Menentukan momen inersia batang silinder.
7.2 Dasar Teori
Benda dengan massamdan momen inersiaI digantungkan oleh tali paralel akan memberikangaya
tegang tali masing-masing sebesarI =
1
2
mg. Sistemini diputar dengan sudut kecil terhadap
sumbu pusat batang, sehingga tali akan terinklinasi sebesar (dihitung dari sumbu vertikal).
Karena kedua sudut itu ( dan ) kecil, maka berlaku:
l =
1
2
J0 (7.1)
dengan l dan d masing-masing adalah panjang tali dan jarak antar tali.

Gambar 7.1: Momen inersia batang silinder.
Besar komponen gaya tegang tali yang menyebabkan gaya pulih di titik Q dan R adalah:
1
2
mgsin =
1
2
mg =
mgd
4I
0 (7.2)
Kedua komponen gaya tegang tali ini akan menyebabkan torsi pada titik pusat batang sebesar

mgd
4I
0J, sehingga batang itu berosilasi mengikuti persamaan:
I0

=
mgd
2
4I
0 otou 0

+
mgd
2
4II
0 =0 (7.3)
dengan frekuensi sudut sebesar:
=
1
2n
_
mgd
2
4II
(7.4)
atau periode sebesar:
I =2n_
4II
mgd
2
(7.5)
7.3 Metode Percobaan
7.3.1 Alat dan Bahan
1. Statip 2 buah
2. Bosshead 2 buah
3. Batang statip 50 cm 1 buah
4. Batang silinder 25 cm 1 buah
5. Mistar 1 buah
6. Stopwatch 1 buah
7. Benang 1 buah
7.3.2 Prosedur Percobaan
1. Ambil panjang tali l=50 cmlalu ikatkan pada batang silinder .
2. Atur jarak QR(d) maksimal =36 cm.
3. Gantungkan batang silinder pada statif.
4. Simpangkan batang silinder dengan sudut kecil.
5. Catat waktu yang diperlukan batang silinder saat 10 kali osilasi.
6. Lakukan langkah 5 dan 6 dengan 5 (lima) nilai d yang berbeda-beda.
7. Lakukan seperti pada langkah 16 dengan mengambil nilai d tetap namun nilai l divariasi
sebanyak 5 kali.

Gambar 7.2: Set up alat percobaan momen inersia batang silinder
7.4 Tugas Pendahuluan
1. Apa yang dimaksud dengan momen inersia benda?
2. Turunkan secara teoritis momen inersia dari bola pejal, bola berongga, dan batang silinder
pejal panjang!
3. Buatlah tabel pengambilan data dan pengolahan data pada percobaan ini!
7.5 Tugas Akhir
1. Dari data eksperimen buat tabel perioda sebagai fungsi d kemudian gambar
graknya.Tentukan nilai momen inersia silinder!
2. Dari data eksperimen buat tabel perioda sebagai fungsi l kemudian gambar
graknya.Tentukan nilai momen inersia silinder!
3. Bandingkan momen inersia yang diperoleh dari pertanyaan 2 dan 3 kemudian bandingkan
4. pula dengan momen inersia hasil perhitungan secara teori!































Percobaan 8
Momen Inersia Benda (Bola dan
Silinder)
8.1 Tujuan
1. Mempelajari gerak rotasi suatu benda.
2. Menentukan besarnya momen inersia suatu benda.
8.2 Dasar Teori
Sebuah benda yang berotasi pada sumbunya, cenderung untuk terus berotasi pada sumbutersebut
selama tidak ada gaya luar (momen gaya) yang bekerja padanya. Ukuran yangmenentukan
kelembaman benda terhadap gerak rotasi dinamakan momen inersia(I). Momeninersia suatu benda
bergantung pada massa benda dan jarak massa benda tersebut terhadapsumbu rotasi. J ika benda
berupa partikel atau titik bermassa mberotasi mengelilingi sumbuputar yang berjarak r, momen
inersia partikel itu dinyatakan dengan persamaan
I =mr
2
(8.1)
dari Persamaan (8.1) tersebut, terlihat bahwa momen inersia suatu partikel berbanding lurusdengan
massa partikel dan kuadrat jarak partikel tersebut terhadap sumbu rotasinya.Dengan demikian,
semakin jauh jarak poros benda (sumbu rotasinya), besar momen inersiabenda tersebut akan
semakin besar. Prinsip ini banyak digunakan dalamatraksi sirkus,misalnya atraksi berjalan pada
seutas tali. Dalamatraksi tersebut, pemain akrobat membawasepotong kayu panjang yang akan
memperbesar momen inersianya sehingga ia dapatmenyeimbangkan badannya saat berjalan pada
tali tersebut. Apabila terdapat banyak partikeldengan massanya masing-masing m
1
, m
2
, dan m
3
,
serta memiliki jarak masing-masingr
1
, r
2
, dan r
3
terhadap poros (sumbu rotasi), momen inersia total
partikel tersebut adalahpenjumlahan momen inersia setiap partikelnya. Secara matematis,
dituliskan sebagai berikut.
I = m

2
=m
1
r
1
2 n
=1
+m
2
r
2
2
+m
3
r
3
2
(8.2)
Benda tegar adalah suatu benda yang memiliki satu kesatuan massa yang kontinu (tidakterpisahkan
antara satu sama lain) dan bentuknya teratur. Pada benda tegar, massa bendaterkonsentrasi pada
pusat massanya dan tersebar pada jarak yang sama dari titik pusat massabenda. Oleh karena itu,
momen inersia benda tegar dapat dihitung menggunakan teknikintegral dengan persamaan
I =r
2
Jm (8.3)

Momen inersia berbagai bentuk benda tegar berdasarkan sumbu rotasinya dituliskan padaGambar
8.1 berikut.

Gambar 8.1: Momen insersia berbagai bentuk benda tegar.

Gerak Bola Menggelinding
Ketika sedang menggelinding, benda memiliki energi kinetik yang terbagi atas dua jenis, yaitu
energi kinetik translasi dan energi kinetik rotasi. Anda telah mengetahui pada benda yangbergerak
translasi, energi kinetiknya adalah energi kinetik translasi, yaitu
EK
tuns
=
1
2
m:
2
(8.4)
sedangkan pada benda yang berotasi murni, energi kinetiknya adalah energi kinetik rotasi,yaitu
EK
ot
=
1
2
I
2
(8.5)

Pada benda yang menggelinding, gerak benda merupakan perpaduan antara gerak translasi dan
gerak rotasi. Oleh karena itu, energi kinetik yang dimiliki benda adalah energi kinetiktotal, yaitu
EK
totuI
=EK
tuns
+EK
ot

=
1
2
m:
2
+
1
2
I
2
(8.6)

J ika resultan momen gaya luar yang bekerja pada benda sama dengan nol (tidak ada momengaya
luar yang bekerja pada benda), pada gerak rotasi tersebut berlaku hukumkekekalanenergi mekanik,
yang dituliskan sebagai berikut.
EP =EK
tuns
+EK
ot
(8.7)
Sebuah benda pejal bermassa M, jari-jari R, dan momen inersia I =kHR
2
(k adalah sebuah
konstanta momen inersia benda) menggelinding menuruni bidang miring setinggi h,seperti tampak
pada Gambar 8.2, maka berlaku:
: =_
2gh
1+ki
(8.8)
yang mana v adalah kecepatan benda sesaat di dasar bidang miring.

Gambar 8.2: Bola menggelinding pada bidang miring.
8.3 Metode Percobaan
8.3.1 Alat dan Bahan
1. Papan bidang miring 1 buah
2. Penggaris 1 buah
3. Stopwatch 1 buah
4. Timbangan 1 buah
5. Bola pejal 1 buah
6. Bola berongga 1 buah
7. Silinder pejal 1 buah
8. Silinder berongga 1 buah
8.3.2 Prosedur Percobaan
1. Ukurlah dan catatlah massa dan diameter bola pejal.
2. Pasanglah papan bidang miring dengan kemiringan kecil, ukur ketinggianh dan jarak
bidang miring s.
3. J atuhkan secara perlahan bola pejal (tanpa kecepatan awal) dari ketinggianh pada bidang
miring, catat waktu yang ditempuh.
4. Ulangi langkah23 untuk jarak miring s sebanyak 10 ulangan.
5. Ulangi langkah14 untuk benda berupa bola berongga, silinder pejal dan silinder berongga.
8.4 Tugas Pendahuluan
1. J ika bola berongga, bola pejal, silinder pejal, dan silinder berongga dijatuhkan dari bidang
miring tanpa kecepatan awal, urutkan benda tersebut yang terlebih dahulu sampai ke dasar
bidang.
2. Buktikan Persamaan (8.8)!
3. Turunkan secara teoritis momen inersia dari bola pejal, bola berongga, silinder pejal dan
silinder berongga!
4. Apa perbedaan kecepatan sesaat dan keceptan rata-rata?
8.5 Tugas Akhir
1. Tentukan besarnya kecepatan rata-rata benda dan kecepatan sesaat di dasar bidang miring.
2. Gunakan Persamaan (8.8) untuk menentukan koesien momen inersia bola pejal tersebut.
3. Tentukan koesien momen inersia dan besarnya momen inersia dari benda-benda yang
diuji dalampercobaan!
4. Bandingkan besarnya kesalahan hasil percobaan anda terhadap hasil teori!
5. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan dalampercobaan ini?


























Percobaan 9
Osilator Harmonik
9.1 Tujuan
1. Menentukan besar konstanta pegas dari gerak osilasi harmonik sederhana.
2. Menentukan percepatan gravitasi dari hukumHooke.
9.2 Dasar Teori
Setiap sistemyang memenuhi hukumHooke akan bergetar dengan cara yang unik dan sederhana
yang disebut dengan gerak harmonik sederhana. Setiap sistem yang melengkung terpuntir atau
mengalami perubahan bentuk yang elastis dikatakan memenuhi hukum Hooke. Besar gaya
pemulihF ternyata berbanding lurus dengan negatif simpanganx dari pegas yang direntangkan atau
ditekan dari posisi setimbang (posisi setimbang ketika x =0). Secara matematis ditulis:
F
s
=kx (9.1)
yang mana k merupakan konstanta pegas danx adalah perubahan panjang pegas.



Gambar 9.1: Pegas yang diberi beban.
J ika pegas disusun vertikal dengan beban maka gaya pada pegas berasal dari berat beban,
sehinggajikadiketahuibesartetapanpegas, kitadapatmenentukanbesarpercepatangravitasi sebagai
g =
kx
m
(9.2)
Ketika pegas yang telah diberi beban tersebut diberi simpangan awal dan dilepaskan maka akan
terjadi gerak harmonik sederhana, berdasarkan hukumNewton II dan hukumHooke diperoleh
periode osilasi T sebagai
I =2n_
m
k
(9.3)


Gambar 9.2: Osilator harmonik pada pegas
9.3 Metode Percobaan
9.3.1 Alat dan Bahan
1. Pegas 2 buah
2. Neraca analitik 1 buah
3. Statif dan dudukan 1 buah
4. Bosshead 1 buah
5. Klem 1 buah
6. Beban dengan penggantung 1 set
7. Stopwatch 1 buah
8. Mistar 1 buah
9.3.2 Prosedur Percobaan

Gambar 9.3: Set up alat percobaan osilator harmonik
1. Siapkan alat-alat yang digunakan.
2. Tentukan massa beban.
3. Letakkan pegas pada statip seperti Gambar 9.3.
4. Ukur panjang pegas dalamkeadaan tanpa beban.
5. Ukur panjang pegas setelah dibebani dengan beban.
6. Tarik beban ke bawah kemudian lepaskan, supaya pegas dapat berosilasi.
7. Catat waktu yang diperlukan untuk melakukan beberapa kali osilasi.
8. Ulangi cara kerja untuk 10 massa beban yang berbeda dan pegas yang berbeda.
9.4 Tugas Pendahuluan
1. J elaskan apa yang dimaksud getaran(osilasi), gelombang, frekuensi, dan periode?
2. Buktikan Persamaan (9.3)!
3. J elaskan hukumHooke!
4. Apa yang dimaksud dengan gaya pemulih? J elaskan!


9.5 Tugas Akhir
1. Buatlah grafik hubungan antara T
2
dan m!
2. Dari grafik T
2
dan m, tentukan konstanta pegas !
3. Buatlah grafik antara m dan x, dan tentukan percepatan gravitasi!
4. Bandingkan hasil yang diperoleh melalui percobaan dengan literatur!
































Percobaan 10
Resonansi Bunyi
10.1 Tujuan
1. Memahami peristiwa resonansi gelombang bunyi.
2. Menentukan kecepatan rambat gelombang bunyi di udara.
10.2 Dasar Teori
Pada hakekatnya gelombang menjalar adalah suatu penjalaran gangguan, energi atas
ataumomentum. Perambatan gelombang ada yang memerlukan medium, seperti gelombang
talimelalui tali dan ada pula yang tidak memerlukan medium, seperti gelombang elektromagnet
dapat merambat dalam vakum. Perambatan gelombang dalam medium tidak diikuti
olehperambatan media, tapi partikel-partikel mediumnya akan bergetar. Perumusan
matematikasuatu gelombang dapat diturunkan dengan peninjauan penjalaran suatu pulsa. Dilihat
dariketentuan pengulangan bentuk, gelombang dibagi atas gelombang periodik dan gelombangnon
periodik.
J ika dua buah gelombang merambat dalam satu medium, hasilnya adalah jumlah dari
simpangankedua gelombang tersebut. Hasil dari supersosisi ini menimbulkan berbagai fenomena
yang menarik, seperti adanya pelayangan, interferensi, difraksi, dan resonansi. Misalkansuperposisi
dari suatu gelombang datang dengan gelombang pantulnya bisa menghasilkangelombang yang
dikenal sebagai gelombang stasioner atau gelombang berdiri.J ika gelombang datang secara terus
menerus maka akan terjadi resonansi. Resonansi padaumumnya terjadi jika gelombang mempunyai
frekuensi yang sama dengan atau mendekatifrekuensi alamiah, sehingga terjadi amplitudo yang
maksimal. Peristiwa resonansi ini banyakdimanfaatkan dalamkehidupan, misalkan saja resonansi
gelombang suara pada alat-alatmusik. Gelombang suara merupakan gelombang mekanik yang
dapat dipandang sebagai gelombangsimpangan maupun sebagai gelombang tekanan.J ika
gelombang suara merambat dalamsuatu tabung berisi udara, maka antara gelombangdatang dan
gelombang yang dipantulkan oleh dasar tabung akan terjadi superposisi. Resonansigelombang
berdiri dapat terjadi jika panjang tabung udara merupakan kelipatan dari /4, adalah panjang
gelombang. J ika gelombang suara dipandang sebagai gelombang simpangan, pada ujung tabung
yang tertutup akan terjadi simpul, tetapi jika ujungnya terbuka akan terjadi perut (lihat Gambar
10.1a dan 10.1b). Untuk tabung yang salah satu ujungnya tertutup,hubungan antara panjang tabung
L dan panjang gelombang adalah:
I =(2n +1)
x
4
, n =0,1,2, (10.1)

Dan untuk tabung yang ujungnya terbuka
I =(n +1)
x
2
, n =0,1,2, (10.2)

Gambar 10.1: Bentuk gelombang
Karena ukuran garis tabung kecil jika dibandingkan dengan panjang gelombang, perutgelombang
simpangan tidak tepat terjadi pada ujung terbuka didekatnya, melainkan pada e,suatu jarak antara
speaker dan tabung resonansi. Kemudian dengan menggunakan hubungan
z =I/ . Persamaan (10.1) dituliskan menjadi:
I =(2n +1)
z
4
c
=(2n +1)
v
4]
c (10.3)
sedangkan Persamaan (10.2) menjadi:
I =(2n +2)
z
4
2c
=(2n +2)
v
4]
2c (10.4)
Dengan membuat grafik L sebagai fungsi Vkita bisa mendapatkan
1. Dengan f diketahui, V dan e dapat dihitung.
2. Sebaliknya bila V telah diketahui, f dapat dihitung (setelah dikoreksi dengan e).





Gambar 10.2: Frekuensi harmonik pada resonansi
10.3 Metode Percobaan
10.3.1 Alat dan Bahan
1. Tabung resonansi berskala beserta speaker 1 set
2. Generator audio 1 buah
10.3.2 Prosedur Percobaan

Gambar 10.3: Rangkaian alat

1. Catatlah suhu, tekanan ruangan sebelumdan sesudah praktikum.
2. Rangkailah peralatan sesuai Gambar 10.3.
3. Ukurlah jarak antara speakter dan tabung resonansi.
4. Catatlah nilai tersebut sebagai nilai error e.
5. Ambil generator audio dan hubungkan dengan speaker pada tabung resonansi.
6. Hidupkan generator audio pada frekuensi tertentu dan catat frekuensi generator
audiotersebut.
7. Aturlah penutup tabung resonansi, mula-mula penutup berada dekat speaker dan
catatlahskala saat terjadi bunyi yang sangat keras sebagai L
1
, atur kembali penutup
tabungmenjauh dari speaker, dan begitu terdengar bunyi keras kedua catatlah skala
tabungsebagai L
2
dan seterusnya.
8. Catatlah semua skala pada tabung resonansi, ketika terdengar suara yang sangat keras(pada
konsisi ini terjadi resonani).
9. Ulangi percobaan tersebut sebanyak 5 kali untuk memastikan tepatnya posisi
resonansiuntuk frekuensi generator audio yang sama.
10. Ulangi langkah 6-9 untuk frekuensi generator yang berbeda.
11. Tulislah data pada tabel data hasil percobaan
10.4 Tugas Pendahuluan
1. Tuliskan bentuk umumfungsi gelombang, dan tuliskan arti simbol-simbol yang andapakai!
2. Tuliskan fungsi gelombang simpangan dalambentuk sinusoida dan tuliskan pula artifisis
simbol-simbol yang anda pakai!
3. Tuliskan perumusan fungsi gelombang berdiri, apa ciri-ciri umumdari gelombang berdiri?
4. Tuliskan hubungan perumusan fungsi gelombang simpangan dan gelombang tekananpada
gelombang bunyi!
5. Buktikan Persamaan (10.1) dan (10.2)!
6. Apa yang dimaksud dengan frekuensi alami suatu benda?
7. Gambar bentuk grafik sebagai L fungsi dari n!
a) Grafik tersebut melalui suatu titik, titik menakah itu?
b) Tentukan cara menentukan V dan e dari grafik tersebut.
8. Besaran apa yang saudara harus amati dalampercobaan ini?
10.5 Tugas Akhir
1. Gambarkan grafik L terhadap n untuk masing-masing nilai frekuensi yang berbeda
danhitung V dari persamaan garis linier dari grafik tersebut sesuai Persamaan (10.3)!
2. Hitung V dengan rumusI =(
yR1
M
)
2
,dimana R=8,314 J /mol.K, M=1,4 kg/mol, dan Tsuhu
ruang dalamKelvin!
3. Hitung juga V dengan I =331(1+
1
0
C
273
)
1/ 2
!
4. Bandingkan hasil V dari perhitungan no 1, 2, dan 3 serta beri penjelasan!
5. J elaskan faktor-faktor kesalahan yang mungkin terjadi pada percobaan!






Percobaan 11
Hukum Melde pada Tali
11.1 Tujuan
1. Mengetahui perilaku gelombang berdiri pada tali.
2. Menentukan frekuensi-frekuensi harmonik gelombang pada tali.
3. Menjelaskan pengaruh tegangan tali dan rapat massa tali terhadap cepat rambat
gelombangpada tali.
11.2 Dasar Teori
Gelombang adalah getaran yang merambat. Berdasarkan amplitudonya, gelombang dibagiatas
gelombang berjalan dan gelombang berdiri. Gelombang berjalan adalah gelombang yangmemiliki
amplitudo tetap, sedangkan gelombang berdiri adalah gelombang yang amplitudonyaberubah-ubah.
Frekuensi gelombang secara alami ditentukan oleh frekuensi sumbernya, sedangkan laju
gelombang melalui suatu mediumsangat ditentukan oleh sifat-sifat mediumnya,seperti elastisitas
mediumdan inersia dari medium tersebut. Dalampercobaan pada taliyang teregang, sifat elastisitas
mediumdiukur berdasarkan tegangan dan sifat inersia mediumdiukur berdasarkan massa per satuan
panjang tali. Menurut hukumMelde besarnya cepatrambat gelombang pada tali v memenuhi
persamaan berikut:
: =_
P

(11.1)
dengan F =mg adalah tegangan tali, M massa beban, dan g percepatan gravitasi bumi,dan adalah
massa persatuan panjang tali.

J ika frekuensi dan panjang gelombang diketahui, maka cepat rambat gelombang dengan mudah
dapat dihitung. Ketiga variabel ini memenuhi persamaan:
: =z (11.2)
yang mana f adalah frekuensi gelombang dan adalah panjang gelombang.

Untuk gelombang pada tali berlaku hubungan
z
n
=
2L
n
, n =1,2,3, (11.3)
hubungan antara panjang gelombang dan frekuensi menjadi

n
=

x
n
,n =1,2,3, (11.4)
Dengan bantuan Persamaan (11.2), Persamaan (11.4) dapat dituliskan:

n
=
n
2L
_
P

,n =1,2,3, (11.5)
Untuk
1
=

4L
maka berlaku

n
=n
1
,n =1,2,3, (11.6)


Gambar 11.1: Bentuk gelombang sesuai frekuensi.
11.3 Metode Percobaan
11.3.1 Alat dan Bahan
1. Audio generator 1 buah
2. Pembangkit getaran 1 buah
3. Beban gantung 1 set
4. Meter rol 1 buah
5. Katrol jepit meja 1 buah
6. Kabel penghubung 2 buah
7. Benang/tali 5 macam
11.3.2 Prosedur Percobaan


Gambar 11.2: Set up percobaan.
Hubungan tegangan tali dengan panjang gelombang
1. Ukur dan catat panjang tali, massa tali, dan massa beban yang dipakai.
2. Susunlah alat-alat seperti pada Gambar 11.2.
3. Menghubungkan vibrator dengan sumber tegangan.
4. Atur frekuensi generator audio agar pada tali terbentuk gelombang berdiri. Catat jumlah
perut gelombangnya.
5. Ulangi langkah 1-3 untuk massa beban yang divariasikan minimal 6 variasi dengan
frekuensi, panjang tali dan massa tali tetap.
Hubungan frekuensi dengan panjang gelombang
1. Ukur dan catat panjang tali, massa tali, dan massa beban yang dipakai.
2. Susunlah alat-alat seperti pada Gambar 11.2.
3. Menghubungkan vibrator dengan sumber tegangan.
4. Atur frekuensi generator audio agar pada tali terbentuk gelombang berdiri. Catat jumlah
perut gelombangnya.
5. Ulangi langkah 1-3 untuk frekuensi yang divariasikan minimal 6 variasi dengan massa
beban, panjang tali dan massa tali tetap.
Hubungan rapat massa tali dan panjang gelombang
1. Ukur dan catat panjang tali, massa tali, dan massa beban yang dipakai.
2. Susunlah alat-alat seperti pada Gambar 11.2.
3. Menghubungkan vibrator dengan sumber tegangan.
4. Atur frekuensi generator audio agar pada tali terbentuk gelombang berdiri. Catat jumlah
perut gelombangnya.
5. Ulangi langkah 1-3 untuk massa tali divariasikan dengan massa beban, panjang tali dan
frekuensi tetap.

11.4 Tugas Pendahuluan
1. J elaskan yang dimaksud frekuensi harmonik gelombang pada tali!
2. Bagaimanakah syarat terjadinya gelombang berdiri pada tali?
3. J elaskanhubungantegangantalidanrapatmassataliterhadapcepatrambatgelombangpada tali!
4. Sebuah gitar standar memiliki enamsenar yang masing-masing terhubung dengan sebuah
kuncidan sejumlah grip. J elaskan kira-kira untuk apa semuanya ini
11.5 Tugas Akhir
1. Dari data hasil Percobaan I, buatlah grafik hubungan antara kuadrat panjang gelombang
terhadap tegangan tali z
2
=(F). Dari grafik yang Anda peroleh, tentukan gradien kurva
grafik dan buatlah kesimpulannya!
2. Dari data hasil Percobaan II, buatlah grafik hubungan antara panjang gelombang
terhadapfrekensi z = [
1
]
. Dari grafik yang Anda peroleh, tentukan gradien kurva grafik
dan buatlah kesimpulannya!
3. Dari data hasil Percobaan III, buatlah grafik hubungan antara kuadrat pajang gelombang
terhadap kerapatan massa linear tali z
2
= [
1

. Dari grafik yang Anda peroleh, tentukan


gradien kurva grafik dan buatlah kesimpulannya?
4. Dari analisis data Percobaa I,II, dan III dapatkah Anda menghubungkan panjang
gelombang dengan cepat rambat gelombang? J elaskan!
5. Dari hasil analisis data Percobaan I. II, dan III tentukaan nilai kesalahan dan ketepatan
percobaan dengan perbandingan v
sinusoidal
dan v
melde
!






























Percobaan 12
TeganganPermukaan
12.1 Tujuan
1. Memahami prinsip percobaan tegangan permukaan.
2. Menentukan besar tergangan permukaan suatu larutan.
12.2 Dasar Teori
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (uida) yangberada
dalam keadaan diam (statis). Contoh yang menarik tetesan air cendrung
berbentuksepertibalon(yangmerupakangambaranluasminimumsebuahvolum)denganzatcairberadadi
tengahnya. Pada praktikumkali ini kita akan meninjau tegangan permukaan pada larutansabun.
Pada rangka kawat tembaga ABC dan DEF terpasang benang yang saling berhubunganseperti pada
Gambar 12.1. Kerangka kawat yang sudah tercelup dalamcairan sabun akanmenghasilkan lm di
bidang ACDF. Dan tali ACDF akan melengkung seperti pada Gambar12.1.Tinjaulah sisi vertikal
CD dari tali benang yang melengkung dengan jari-jarir, dan terdapattegangan tali t pada bagian PQ
dengan panjang dl (Gambar 12.2). Bila t adalahtegangan permukaan, maka kesetimbangan gaya
horisontal sepanjang dl , F (dikarenakantegangan permukaan oleh dua selaput ) akan sama
dengan2tsin atau dapat ditulis sebagaiberikut
F =2t sino (12.1)

Gambar 12.1: Rangka kawat
karena terdapat tegangan permukaan pada dua selaput, maka gaya total horisontal F didenisikan
F =2IJl (12.2)
Sehingga
2IJl =2t sino (12.3)
untuk sudut yang kecil nilai sino =
1
2
dI

, dengan mensubstitusikan ke Persamaan (12.3)diperoleh


t =2Ir (12.4)


Gambar 12.2: DiagramGaya pada Rangka Kawat
Untuk menentukan kesetimbangan lm di bagian GH. Tinjaulah GH dan sistem gayavertikal pada
Gambar 12.1. J ika kita uraikan, maka gaya-gaya yang bekerja dalamsistemadalah
1. Gaya ke atas karena tegangan permukaan sepanjang 2b, yaitu 2T2b.
2. Gaya tegangan ke atas t pada benang di titik G dan H, sehingga total gayanya adalah 2t.
3. Gaya berat mg, pada kawat DEF.
Sesuai dengan prinsip hukumNewton I, karena GH berada dalamkesetimbangan maka kita
akan dapat buktikan bahwa
I =
mg
4(+b)
(12.5)
untuk menghitung tegangan permukaan T seperti di atas, kita akan dapat mencarinya jikajari-jari
lengkung tali r diketahui. Berdasarkan geometri Gambar 12.2 kita akan mendapatkanhubungan
CI I =EI(2r EI) (12.6)
sehingga jika kita turunkan lebih lanjut maka akan dapat dibuktikan bahwa nilai jari-jari r
r =
h
2
+(u-b)
2
2(u-b)
(12.7)
dengan mensubstitusikan Persamaan (12.5) ke (12.7) akan diperoleh:
I =
mg
2(u+b)+
h
2
c-b
(12.8)
Tabel 12.1: Tegangan Permukaan berbagai Zat Cair
Zat Cair SuhuC Tegangan Permukaan (N/M)
Air Raksa 20 0.44
Darah 37 0.058
Plasma Darah 37 0.073
Etil Alkohol 20 0.023
Air 0 0.076
20 0.072
100 0.059
Benzena 20 0.029
Larutan Sabun 20 0.025
Oksigen ~193 0.016
12.3 Metode Percobaan
12.3.1 Alat dan Bahan
1. Kawat tembaga 2 buah
2. Tali benang 1 buah
3. Sabun 1 buah
4. Mistar/ Jangka sorong 1 buah
5. Beban (cincin) 2 buah
6. Statif 1 buah
7. Bosshead 1 buah
8. Klem 1 buah
9. Neraca pegas 1 buah
12.3.2 Prosedur Percobaan
1. Pasang tali benang pada rangka kawat tembaga ABC dan DEF seperti pada Gambar 12.1
2. Benang melewati secara melingkar A, C, D dan F yang mana tali diikat pada salah satu
ujungnya.
3. Gantung kawat tersebut pada statif.
4. Kerangka kawat dimasukkan ke dalamcairan sabun dan diangkat perlahan-lahan, biarkan
tali menjadi tegang dan lurus maka akan muncul lm di bidang ACDF (Beberapa lm yang
mungkin muncul diantara tali dan kawat atas ABC, dan juga tali dan kawat bawah DEF
dipecahkan), maka lm di bidang ACDF akan melengkung seperti pada Gambar 12.1.
5. Hitung massa m, panjang a, panjang b dan tinggi h dengan mengunakan alat ukur.
6. Ulangi Percobaan 1 s.d 4 sebanyak 10 kali percobaan
7. Ulangi Percobaan 1 s.d 5 dengan memvariasikan berat kawat bawah (minimal 2
bebanberbeda). Berat kawat DEF dapat divariasikan dengan menambahkan beban
yangdigantung pada ujungE, sehingga didapatkan nilai yang berbeda dariGH danCD.
12.4 Tugas Pendahuluan
1. Apa yang dimaksud gaya kohesi, gaya adhesi dan tegangan permukaan?
2. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi tegangan permukaan?
3. Berikan contoh sehari-hari tetanag fonomena tegangan permukaan? Minimal 5 contoh!
4. LanjutkanpenurunanPersamaan(12.3)sampaidenganmendapatkanPersamaan(12.4).
5. Buktikan Persamaan (12.5).
6. Buktikan Persamaan (12.7).

12.5 Tugas Akhir
1. Hitunglah jari-jari lengkung benang!
2. Hitunglah tegangan permukaan air sabun sebelumrangka kawatDEF diberi beban!
3. Hitunglah semua tegangan permukaan air sabun setelah rangka kawat DEF diberibeban
tambahan!
4. Hitunglah nilai rata-rata dari tegangan permukaan dari semua percobaan yang dilakukan!
5. Bandingkan nilai tegangan rata-rata yang didapatkan dan bagaimana seharusnya!
6. Hitunglah nilai perambatan ketidakpastian dan ketepatan dari semua nilai yang diukur!
7. Buatlah analisa dan kesimpulan dari hasil yang didapatkan!

























Percobaan 13
Tekanan Hidrostatis Pipa U
13.1 Tujuan
1. Memahami prinsip hukumutama hidrostatis.
2. Menentukan massa jenis cairan.
13.2 Dasar Teori

Gambar 13.1: Fluida yang berada pada tabung yang berbeda bentuk.
Perhatikanlah Gambar 13.1, gambar tersebut memperlihatkan sebuah bejana berhubunganyang diisi
dengan uida, misalnya air. Anda dapat melihat bahwa tinggi permukaan air disetiap tabung adalah
sama, walaupun bentuk setiap tabung berbeda. Bagaimanakah tekananyang dialami oleh suatu titik
di setiap tabung? Samakah tekanan total di titikA,B,C,dan D yang letaknya segaris? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, anda harus mengetahuihukum utama hidrostatis yang menyatakan
bahwa semua titik yang berada pada bidang dataryang sama dalamuida homogen, memiliki
tekanan total yang sama. J adi, walaupun bentukpenampang tabung berbeda, besarnya tekanan total
di titikA,B,C, danD adalah sama.
Persamaan hukum utama hidrostatis dapat diturunkan dengan memperhatikan Gambar13.2.
Misalkan, pada suatu bejana berhubungan dimasukkan dua jenis uida yang massajenisnya berbeda
yaitu
1
dan
2
.J ika diukur dari bidang batas terendah antara uida 1 dan uida 2, yaitu titik B dan
titikA, uida 2 memiliki ketinggianh
2
dan uida 1 memiliki ketinggianh
1
. Tekanan total di titikA
dan titikB sama besar. Menurut persamaan tekanan hidrostatis, besarnya tekanan di titikA dan
titikB bergantung pada massa jenis uida dan ketinggian uida di dalam tabung.

Gambar 13.2: Dua jenis cairan dalampipa U.
Secara matematis, persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut:
p
1
=p
2

p
0
+p
1
g
1
=p
0
+p
2
g
2

p
1

1
=p
1

1
(13.1)

13.3 Metode Percobaan
13.3.1 Alat dan Bahan
1. Pipa U 1 buah
2. Statif dan dudukan 1 buah
3. Bosshead 1 buah
4. Klem 1 buah
5. Gelas ukur 4 buah
6. Pipet tetes 4 buah
7. Air 250 mL
8. Minyak goreng 250 mL
9. Oli 250 mL
10. Spiritus 250 mL
13.3.2 Prosedur Percobaan
1. Rangkai alat seperti Gambar 13.3.
2. Pertama tama memasukan air putih tidak terlalu banyak. Lalu menghitung tinggi air.

Rangkai alat seperti Gambar 13.3.
3. Kemudian, memasukkan minyak goreng ke dalam beberapa tetes. Menghitung
perbedaantinggi minyak(h
2
) dengan air(h
1
) seperti pada Gambar 13.4 .

Gambar 13.3: Set up alat percobaan pipa U
4. Melakukan percobaan sebanyak 10 kali dengan penambahan minyak goreng yang
sedikitdemi sedikit agar tidak tumpah dan mengukur tiap perbedaan tingginya.
5. Setelah mendapat massa jenis minyak goreng, membuang isi selang, dan isi air lagi.
6. Ulangi langkah16 untuk jenis cairan yang lain.
13.4 Tugas Pendahuluan
1. Apa yang dimaksud uida?
2. J elaskan aplikasi hukumutama hidrostatis!
3. Bagaimana caranya mengukur massa jenis zat cair, gas dan zat padat? J elaskan!
4. Faktor apa yang menentukan besar tekanan hidrostatis? J elaskan!
5. J ika anda memasak air di gunung dan di pantai, manakah yang lebih cepat mendidih?
13.5 Tugas Akhir
1. Dengan menggunakan Persamaan (13.1). Hitung massa jenis oli dan minyak goreng!
2. Buatlah grakh
1
danh
2
!Dari grak tersebut tentukan massa jenis oli dan minyakgoreng!
3. Bandingkan hasil yang diperoleh dengan literatur!
4. J elaskan faktor yang mempengaruhi percobaan anda!



















Percobaan 14
Viskositas Zat Cair
14.1 Tujuan
1. Mempelajari dinamika benda dalamcairan.
2. Menentukan kecepatan terminal pada suatu zat cair.
3. Menentukan koesien viskositas zat cair berdasarkan hukum Stokes.
4. Menentukan besar gaya gesekan dalamzat cair.
14.2 Dasar Teori
Suatu benda jika dilepaskan dalamuida dengan kekentalan tertentu, maka benda tersebutakan
mengalami perlambatan. Hal ini disebabkan derajat kekentalan dari cairan/liquid tersebut.Derajat
kekentalan suatu cairan dikenal dengan sebutan viskositas (). Besar gayagesekan pada benda yang
bergerak dalam uida disamping bergantung pada koesien kekentalan juga bergantung pada
bentuk bendanya. Khusus untuk benda berbentuk bola, gayagesekannya, F
s
, oleh uida dapat
dirumuskan sebagai berikut:
F
s
=6npr: (14.1)
yang mana r merupakan jari-jari bola, v adalah kecepatan bola relatif terhadap uida.

Gambar 14.1: Gaya yang bekerja pada benda pada saat kecepatan terminal dicapai.
Persamaan (14.1) ini dikenal sebagai hukumStokes dan dalampenerapannya memerlukan
beberapa syarat sebagai berikut:
1. Ruang tempat uida tidak terbatas (ukurannya jauh lebih besar dari pada ukuran bola).
2. Tidak terjadi aliran turbulensi di dalamuida.
3. Kecepatan v tidak besar, sehingga aliran uida masih bersifat laminar.
J ika sebuah bola padat yang rapat massanya dan berjari-jari r dilepaskan tanpa kecepatanawal di
dalam zat cair kental yang rapat massanya
0
dengan >
0
, bola mula-mula akanmendapat
percepatan karena gaya berat dari bola, dan percepatan ini akan memperbesarkecepatan bola.
Bertambah besar kecepatan bola, menyebabkan gaya Stokes bertambah besar juga. Sehingga pada
suatu saat akan terjadi keseimbangan diantara gaya-gaya yangbekerja pada bola. Kesetimbangan
gaya-gaya ini menyebabkan bola bergerak lurus beraturan,yaitu bergerak dengan kecepatan yang
tetap. Kecepatan yang tetap ini disebut kecepatanakhir atau kecepatan terminal dari bola. Setelah
gaya-gaya pada bola setimbang, kecepatanterminal v dari bola dapat diturunkan sebagai berikut:
: =
2
2
g(p-p
0
)
9q
(14.2)
dengan g=9.81m/s
2
adalah percepatan gravitasi.
Tabel 14.1: Koesien viskositas beberapa uida
Fluida Suhu(C) Koesien Viskositas
(Pas)
Gas
Udara 0 0.017110
3

20 0.018210
3

40 0.019310
3

Karbon
dioksida
20 0.014710
3

Helium 20 0.019610
3

Zat cair
Darah 37 410
3

Gliserin 20 150010
3

Metanol 20 0.58410
3

Air 0 1.7810
3

20 1.0010
3

40 0.65110
3

Oli motor 0 11010
3


14.3 Metode Percobaan
14.3.1 Alat dan Bahan
1. Tabung viskositas 1 buah
2. Bola viskositas 2 buah.
3. Stopwatch 1 buah
4. Mikrometer sekrup 1 buah
5. Neraca 1 buah
6. Saringan 1 buah
7. Pipa U 1 buah
8. Pipet tetes 1 buah
9. Oli 150 mL
14.3.2 Prosedur Percobaan
Pengukuran Massa Jenis Bola
1. Ukur diameter bola kecil dengan mikrometer skrup dan tentukan volume bola tersebut.
2. Ukur massa bola kecil tersebut dengan pengukur massa.
3. Ulangi langkah 1- 2 sebanyak 5 kali.
4. Hitung massa jenis bola kecil tersebut sesuai persamaan p
b
=m/ I.
5. Tentukan pula rambatan kesalahannya.
6. Ulangi langkah 1-5 untuk ukuran bola yang berbeda.
Pengukuran Massa Jenis Zat Cair
1. Siapkan pipa U, kemudian masukkan air secukupnya sampai setimbang.
2. Masukkan oli pada salah satu ujung pipa U sehingga akan terlihat perbedaan ketinggian.
3. Saat telah setimbang, ukur dan catat ketinggian air dan minyak.
4. Ulangi langkah 1 - 3 sebanyak 5 kali.
5. Hitung massa jenis oli dengan p
oI

oI
= p
u

u
, yang mana p
u
=1000 kg/m3.
6. Tentukan pula rambatan kesalahannya.
Pengukuran Karakteristik Viskositas Zat Cair
1. Catat suhu zat cair dengan termometer.
2. J atuhkan bola sedemikian rupa (jangan terjadi adanya kecepatan awal) pada tabung berisi
zat cair.
3. Amati gerak bola dalamzat cair dan catat waktu t
1
untuk jarak tempuh x
1
, waktu t
2
untuk
jarak tempuh x
2
dan seterusnya sampai 5 kali pengukuran.
4. Ulangi langkah percobaan 1 - 3 di atas untuk bola dengan ukuran yang berbeda.
14.4 Tugas Pendahuluan
1. Buktikan Persamaan (14.1) dan (14.2)!
2. Bagaimanakah pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair? J elaskan!
3. Apa yang mempengaruhi besar gaya gesekan pada benda yang bergerak dalamfluida?
J elaskan!
14.5 Tugas Akhir
1. Hitunglah massa jenis bola dan cairan oli!
2. Buatlah grafik x terhadap t, kemudian tentukan kecepatan terminal bola v dari grafik
tersebut!
3. Tentukan pula besar koefisien viskositas dan gaya gesekan dari cairan oli yang dipakai dan
bandingkan hasil yang anda peroleh dengan literatur Tabel 14.1!
4. Hitung pula gaya gesekan stokes sesuai Persamaan (14.1).
5. J elaskan faktor-faktor yang mempengaruhi percobaan anda!




Percobaan 15
Hukum Archimedes
15.1 Tujuan
1. Menyelidiki hubungan antara gaya ke atas dengan berat zat cair yang dipindahkan.
2. Menentukan massa jenis zat padat dan zat cair berdasarkan hukumArchimedes.
15.2 Dasar Teori
Pernahkah Anda membandingkan berat antara kayu dan besi? Benarkah pernyataan bahwa besi
lebih berat daripada kayu? Pernyataan tersebut tentunya kurang tepat, karena segelondong kayu
yang besar jauh lebih berat daripada sebuah bola besi. Pernyataan yang tepat untuk perbandingan
antara kayu dan besi tersebut, yaitu besi lebih padat daripada kayu. Anda tentu masih ingat, bahwa
setiap benda memiliki kerapatan massa yang berbeda-beda serta merupakan sifat alami dari benda
tersebut. Dalamfisika, ukuran kepadatan benda homogen disebut massa jenis p, yaitu massa mper
satuan volume V . Secara matematis, massa jenis dituliskan sebagai berikut
p =
m
v
(15.1)
Tabel 15.1: Massa jenis beberapa zat cair dan zat padat
Bahan
Massa jenis
(gr/cm
3
)
Bahan
Massa jenis
(gr/cm
3
)
Air 1.00 Perak 10.5
Benzena 0.9 Raksa 13.6
Etil alkohol 0.81 Besi 7.8
Gliserin 1.26 Aluminium 2.7
Platina 21.4 Kuningan 8.6
Etil alkohol 0.81 Tembaga 8.9
Baja 7.8 Es 0.92
Emas 19.3 Timah hitam 11.3

Anda tentunya sering melihat kapal yang berlayar di laut, benda-benda yang terapung pada
permukaan air, atau batuan-batuan yang tenggelamdi dasar sungai. Konsep terapung, melayang,
atau tenggelamnya suatu benda di dalamfluida, kali pertama diteliti oleh Archimedes. Menurut
Archimedes benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalamfluida, akan mengalami
gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Secara
matematis, hukumArchimedes dituliskan sebagai berikut
F
A
=w w
i
(15.2)
yang mana F
A
adalah gaya ke atas, W adalah berat benda di udara dan W adalah berat
benda di dalamfluida. Ilustrasinya bisa dilihat pada Gambar 15.1.


Gambar 15.1: Prinsip hukum Archimedes.
Gaya ke atas memenuhi
F
A
=p
]
I
]
g (15.3)
yang mana p
]
adalah massa jenis fluida, I
]
adalah volumbenda yang tercelup pada fluida tersebut
dan g adalah percepatan gravitasi.
Berdasarkan Persamaan (15.3) dapat diketahui bahwa besarnya gaya ke atas yang dialami benda di
dalamfluida bergantung pada massa jenis fluida, volume fluida yang dipindahkan, dan percepatan
gravitasi Bumi. Dalampercobaan ini akan ditentukan massa jenis benda sesuai prinsip Archimedes,
dengan membandingkan besar gaya ke atas dan gaya berat di udara diperoleh massa jenis benda
sebesar
p
B
=
w
F
A
p
]

=
w
w-wi
p
]
(15.4)
15.3 Metode Percobaan
15.3.1 Alat dan Bahan
1. Neraca pegas 1 buah
2. Neraca analitik 1 buah
3. Statif dan dudukan 1 buah
4. Bosshead 1 buah
5. Batang statif 25 cm 1 buah
6. Gelas beker 1 buah
7. Pipa U 1 buah
8. Beban logam 5 buah
9. J angka sorong 1 buah
10. Minyak goreng 250 ml
15.3.2 Prosedur Percobaan
1. Siapkan beberapa benda dari bahan sejenis.
2. Tentukan volume benda menggunakan jangka sorong.
3. Ukur massa jenis minyak goreng dengan pipa U.
4. Timbang dan catat berat silinder di udara (W) dan di minyak goreng (W) dengan neraca
pegas.
5. Ulangi langkah 1 - 3 untuk benda yang berbeda.
6. Ulangi langkah 1-3 sampai 5 kali untuk setiap benda yang berbeda.
15.4 Tugas Pendahuluan
1. Bagaimana cara mengukur massa jenis zat cair, padat dan gas?
2. Bagaimana caranya mengukur massa benda dengan hukumArchimedes?
3. Tentukan volume benda dari Persamaan (15.2) dan (15.3)!
4. J elaskan prinsip kerja dari kapal selam, perahu, dan hidrometer berdasarkan hukum
Archimedes!
5. Mengapa paku yang kecil tenggelamdalamair, sedangkan kapal yang berat dapat
mengapung?
15.5 Tugas Akhir
1. Tentukan besar gaya ke atas dengan pengukuran langsung berdasarkan Persamaan
2. (15.3)! Tentukan besar gaya ke atas dengan pengukuran berdasarkan Persamaan (15.2)!
Bandingkan hasil yang diperoleh!
3. Buatlah grafik m - V , dan tentukan massa jenis benda sesuai hasil regresi linier dan
perhitungan langsung dari Persamaan (15.1)! Tentukan massa jenis benda sesuai
Persamaan (15.4)! Bandingkan massa jenis benda dengan dua metode di atas!
4. Buatlah grafik W-W terhadap V ! Dari hasil regresi linier tentukan massa jenis cairan
5. minyak tersebut! Tentukan massa jenis minyak dengan pipa U! Bandingkan hasil yang
diperoleh!
6. Tentukan volume benda dengan pengukuran langsung dan dengan cara hukum
Archimedes! Bandingkanlah hasilnya Tentukan volume benda dengan cara hukum
Archimedes!
7. Tentukan ketelitian masing-masing hasil yang diperoleh!




Percobaan 16
Kalorimeter
16.1 Tujuan
1. Menentukan kalor jenis kalorimeter.
2. Menentukan kalor jenis berbagai logam.
16.2 Dasar Teori
Percobaan ini dilakukan berdasarkan asas Black. J ika dua benda dengan temperatur berlainan
saling bersentuhan, maka akan terjadi perpindahan kalor dari benda dengan temperatur lebih tinggi
ke benda yang temperaturnya lebih rendah. Pada keadaan setimbang, kalor yang dilepas sama
dengan kalor yang diterima. Ilustrasinya bisa dilihat pada Gambar 16.1.

Gambar 16.1: Kalorimeter.
Kalor
Kalor adalah suatu bentuk energy yang mengalir atau berpindah karena adanya perbedaan
temperature atau suhu. Secara umum dapat dikatakan bahwa satu kalor adalah banyaknya kalor
yang diperlukan untuk menaikkan suhu sebesar dari 1 gramair.
Kalor Merambat dari Suhu Tinggi ke Suhu Rendah
Seperti yang dijelaskan dalamasas Black, jika dua benda saling bersentuhan, maka akan terjadi
perpindahan kalor dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah. J ika
suhu benda lebih tinggi dari suhu lingkungannya,maka benda tersebut akan terus-menerus
merambatkan energy sampai terjadi suhu terma yaitu saat suhu benda sama dengan suhu
lingkungannya.
Kalor Jenis
Suatu zat menerima kalor maka zat akan mengalami kenaikan suhu. Besar kenaikan suhu ini:
1. Sebanding dengan banyaknya kalor yang diterima.
2. Berbanding terbalik dengan massa zat.
3. Berbanding terbalik dengan kalor jenis zat.
Hubungan diatas dapat digambarkan dalamrumus berikut:
=mcI (16.1)
dengan Q adalah banyaknya kalor yang diterima, m adalah massa zat, I adalah besarnya
perubahan suhu dan c adalah kalor jenis benda. Dari Persamaan (16.1) di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa kalor jenis zat adalah banyaknya kalor yang diperlukan suatu zat untuk
menaikkan suhu 1 kg zat tersebut sebesar 1
0
C.
Kapasitas kalor
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh suatu zat untuk menaikkan suhu
sebesar 1
0
C. Hubungan antara banyaknya kalor yang diserap oleh suatu benda terhadap kapasitas
kalor benda dan kenaikkan suhu benda dapat ditulis sebagai:
=CI (16.2)
dengan Q adalah banyaknya kalor yang diperlukan, I adalah besarnya perubahan suhu dan C ad-
lah kapasitas kalor jenis benda. Kapasitas kalor jenis air dapat dianggap sama dengan 1 kal/g
0
C.
Hukum kekekalan energi untuk kalor
Hukumkekekalan energi pada kalor disebut juga dengan asas Black yang: Kalor yang dilepaskan
oleh suatu benda adalah sama dengan kalor yang diterima oleh benda lainnya. Dengan
menggunakan asas Black, kalor jenis suatu benda dapat ditentukan dengan alat kalorimeter.
Hubungan keseimbangan termal antara suatu zat dan lingkungannya, yang dalamhal ini berupa air
dapat dilihat pada persamaan berikut:

Icpus
=
tcmu

(mcI)
bcndu
=(mcI)
u
(16.3)
kalor jenis suatu benda dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan diatas dengan
sebelumnya mengukur massa benda dan air. Suhu benda dan air sebelum benda dimasukkan
kedalamair dan suhu termal setelah benda dimasukkan,serta dengan mengambil harga kapasitas
kalor jenis air sama dengan 1 kal/g
0
C.
Perubahan wujud zat
J ika dalamperubahan wujud zat (melebur, membeku, mengembun, menyublimatau menguap)
tidak disertai dengan perubahan suhu,maka suhu zat tersebut tetap. Besarnya kalor Q yang
duibutuhkan atau dilepaskan pada saat terjadi perubahan wujud dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut:
=mI
dengan L adalah kalor laten (J /Kg). Kalor laten adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1
gramzat untuk mengubah wujud dari satu wujud ke wujud lain. Kalor laten pada saat es mencair
sama dengan kalor beku saat air mulai membeku. Demikian juga dengan kalor laten penguapan
pada air dan pengembunan pada uap 1000
0
C adalah sama.
Perpindahan kalor
Perpindahan kalor dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah. Ada
3 cara perpindahan kalor yaitu:
1. Konduksi/hantaran yaitu perpindahan kalor yang tidak diikuti dengan perpindahan partikel.
2. Konveksi/aliran yaitu perpindahan kalor yang diikuti dengan perpindahan partikel.
3. Radiasi/pancaran yaitu perpindahan kalor yang tidak memerlukan media dalam
perpindahannya.
Tabel 16.1: Kalor jenis zat pada suhu 25
0
C tekanan 1 atm
J enis zat
Kalor J enis c
J /kg
0
C kal/g
0
C
Zat padat
Aluminium 900 0.215
Berylium 1830 0.436
Cadmium 230 0.055
Tembaga 387 0.0924
Germanium 322 0.077
Emas 129 0.0308
Besi 448 0.107
Timah 128 0.0305
Silikon 703 0.168
Perak 234 0.056
Kuningan 380 0.092
Kaca 837 0.200
Es (-5
0
C) 2090 0.50
Marmer 860 0.21
Kayu 1700 0.41
Zat cair
Alkohol (etil) 2400 0.58
Raksa 140 0.033
Air (15
0
C) 4186 1.00
Gas
Uap (100
0
C) 2010 0.48
16.3 Metode Percobaan
16.3.1 Alat dan Bahan
1. Kalorimeter dan selubung 1 buah
2. Termometer 1 buah
3. Gelas ukur 1 buah
4. Keping logam 1 buah
5. Pembakar spiritus 1 buah
6. Kaki tiga 1 buah
7. Kasa asbes 1 buah
8. Gelas alumunium 1 buah
9. Neraca 1 buah
10. Air secukupnya
16.3.2 Prosedur Percobaan
Pengukuran Kalor Jenis Kalorimeter
1. Timbanglah kalorimeter kosong dan pengaduknya.
2. Catat massa air setelah kalorimeter diisi oleh air kira-kira bagian.
3. Masukkan kalorimeter ke dalamselubung luarnya.
4. Tambahkan air mendidih sampai kira-kira bagian (catat temperatur air mendidih).
5. Catat temperatur kesetimbangan.
6. Timbang kembali kalorimeter tersebut.
Pengukuran Kalor Jenis Logam
1. Logamyang telah ditimbang dimasukkan kedalamtabung pemanas dan panaskan.
2. Timbang kalorimeter serta pengaduknya.
3. Timbang kalorimeter serta pengaduknya setelah diisi air kira-kira bagian.
4. Masukkan kalorimeter ke dalamselubung luarnya dan catat temperaturnya.
5. Catat temperatur keeping-keping logam.
6. Masukkan logamtadi kedalamkalorimeter dan catatlah temperatur seimbangnya.
7. Ulangi langkah 1 - 6 untuk logamlain
16.4 Tugas Pendahuluan
1. Berikan pembahasan tentang asas Black sehingga mendapatkan rumus yang kita gunakan
untuk menghitung kalor jenis kalorimeter?
2. Apakah yang dimaksud dengan kalorimeter?
3. Apa yang dimaksud dengan kalor jenis suatu benda?
4. Apakah yang dimaksud dengan keadaan setimbang?
5. J elaskan dan berilah contoh mengenai 3 jenis perpindahan panas!
16.5 Tugas Akhir
1. Tentukan kalor jenis dari kalorimeter beserta ketidakpastiannya!
2. Tentukan kalor jenis dari logam, beserta ketidakpastiannya!
3. Bandingkan hasil yang diperoleh dengan literatur!
4. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi percobaan anda?

Kepustakaan
1. Serway, R. Physics for Scientists & Engineers with Modern Physics, J ames Madison
University Harrison Burg, Virginia, 1989.
2. Resnick & Haliday, Fisika J ilid I Erlangga (Terjemahan).
3. Resnick & Haliday, Fisika J ilid II Erlangga (Terjemahan).
4. Tipler, P. Fisika Untuk Sains dan Teknik J ilid I Erlangga (Terjemahan).
5. Tipler, P. Fisika Untuk Sains dan Teknik J ilid II Erlangga (Terjemahan).