Anda di halaman 1dari 10

KASUS SUAP AUDITOR BPK OLEH PEMKOT BEKASI

A. Pendahuluan
Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis dua auditor BPK Jabar Enang
Hernawan dan Suharto dengan hukuman empat tahun penjara. Demikian putusan hakim yang
dibacakan di persidangan, Senin (8/11). Selain hukuman penjara, urai Ketua Majelis Hakim
Jupriadi, kedua terdakwa juga wajib membayar denda Rp200 juta. Bila tidak membayar,
maka hukuman diganti dengan tiga bulan kurungan. Hukuman dijatuhkan karena kedua
terdakwa dinilai terbukti menerima suap dari Pemerintah Kota Bekasi.
Hakim anggota Tjokorda Rae Suamba mengatakan, dari fakta persidangan yang
terungkap, kedua terdakwa terbukti menerima uang sebesar Rp400 juta dari pejabat
Pemerintah Kota Bekasi dengan maksud memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Bekasi tahun 2009. Jumlah
tersebut diberikan dua kali yang besarannya masing-masing Rp200 juta.
Kedua terdakwa, urai Tjokorda, terbukti menerima suap dan telah membantu untuk
memberikan arahan pembukuan LKPD Bekasi agar menjadi WTP. Padahal, sebelumnya
opini laporan keuangan Kota Bekasi Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Hakim Dudu
Duswara menuturkan, pemberian uang Rp400 juta dilakuan dua kali. Pertama, sebesar Rp200
juta di lapangan parkir sebuah rumah makan bernama Sindang Reret Bandung yang
dilakukan Herry Suparjan kepada Suharto. Dari jumlah tersebut, kemudian terdakwa Suharto
membagi-bagikannya. Terdakwa Suharto sendiri mendapat Rp150 juta, sedangkan terdakwa
Enang mendapat jatah Rp50 juta. "Karena KPK telah menyita uang dari perkara ini, kedua
terdakwa tak wajib mengganti kerugian negara," katanya.
Tahap kedua, lanjut Hakim Hugo, diberikan oleh Kepala Inspektorat Kota Bekasi Herry
Lukmantohari dan Herry Suparjan sebagai Kabid Aset dan Akuntansi Dinas PPKAD
(Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) Kota Bekasi di rumah dinas terdakwa
Suharto sebesar Rp200 juta. Akibat perbuatannya, majelis menilai keduanya terbukti
melanggar dakwaan primair Pasal 12 huruf a UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Korupsi.
"Pada saat Herry Lukmantohari dan Herry Suparjan hendak meninggalkan rumah
Suharto, petugas KPK melakukan penangkapan terhadap keduanya serta Suharto berikut
barang bukti uang sebesar Rp200 juta dalam tas warna hitam," kata Hugo. Mendengar
putusan yang dibacakan, kedua terdakwa belum mengambil sikap apakah banding atau setuju
terhadap putusan. Penasehat hukum terdakwa pun mengatakan hal yang sama. "Atas putusan
yang dibacakan saya pikir-pikir," lirih kedua terdakwa bergantian.
Setelah itu Wali Kota Bekasi Mochtar Muhammad mendatangi Gedung Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Saat ini, KPK sedang mengusut kasus dugaan suap pejabat
Kotamadya Bekasi kepada pegawai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Barat. Pantauan
VIVAnews, Mochtar Muhammad yang mengenakan batik cokelat tiba di Gedung KPK, Jalan
HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu 7 Juli 2010, sekitar pukl 09.30 WIB.
Tidak ada pernyataan yang disampaikan orang nomor satu di Kota Bekasi itu. Dia
langsung masuk ke gedung lembaga antikorupsi itu. Mochtar Muhammad datang dengan
menggunakan mobil pribadi. Dalam kasus dugaan penyuapan ini, KPK sudah menahan dua
pejabat Pemerintah Kota Bekasi dan pejabat BPK Jawa Barat III.
Tiga tersangka yang sudah dibui itu yakni HS, pejabat Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah Kota Bekasi, HL pejabat Inspektorat Wilayah Kota Bekasi, dan
S, pejabat BPK Jabar III. Dua dari tiga pejabat itu ditangkap penyidik KPK di Bandung, Jawa
Barat, pada Senin malam. S dan HS ditangkap pukul 19.45 WIB di rumah S di kawasan
Lapangan Tembak, Cikutra, Bandung. Sedangkan HL ditangkap di Bekasi.
Saat tertangkap tangan, penyidik memiliki barang bukti uang Rp 272 juta. Sementara,
uang Rp 100 juta masih ditelusuri apakah terkait dengan proses suap atau tidak. Uang itu
diduga terkait dengan upaya agar mendapatkan penilaian wajar tanpa pengecualian dari BPK.
Ratusan massa dari Aliansi Gerakan Seret Koruptor (Gesek) Bekasi, menggelar aksi
demonstrasi di depan Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka mendesak
segera ditangkapnya aktor intelektual dibelakang kasus suap oknum PNS Pemkot Bekasi
kepada auditor BPK Jabar, beberapa waktu lalu yang kini sedang ditelusuri oleh KPK.
Dalam aksinya, Gasak sempat melakukan aksi teatrikal, yaitu berupa kronologis
pembekukan dua oknum PNS Pemkot Bekasi dan satu auditor Bank Jabar yang dilakukan
oleh KPK, satu bulan yang lalu. Tak hanya itu, Gesek juga memberikan penghargaan kepada
KPK berupa Piala penghargaan dari Rakyat Kota Bekasi kepada KPK.
Selain itu, perwakilan Gesek diterima oleh perwakilan dari KPK untuk audensi bersama
pihak KPK guna mengetahui sampai mana penelusuran KPK terhadap kasus suap yang
sedang ditanganinya ini. "Kami meminta KPK untuk mengusut tuntas dan menangkap dalang
kasus suap ini, jangan sampai lolos dalangnya," ujar Kordinator Lapangan (Korlap) Gesek,
Intan Sari Geny kepada wartawan, Senin (26/7/2010).
Dalam aksi itu, Gesek juga meminta pihak KPK agar menelusuri hasil Audit APBD
2009 dan sebelumnya, mengingat banyak sekali kasus korupsi di Bekasi yang tidak tersentuh
oleh jalur hukum. "Kami juga mendesak KPK untuk mengaudit ulang APBD sebelumnya,
karena Gesak yakin banyak kejanggalan dalam hasil Audit APBD sebelumnya," katanya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kasus penyuapan terhadap auditor BPK bisa terjadi?
2. Bagaimana pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh auditor BPK?
3. Bagaimana tindak lanjut dalam penyelesaian kasus penyuapan ini?
C. Pembahasan
Dalam kasus ini ditemukan bukti uang sebesar Rp 372.000.000 yang akan digunakan
oleh pemerintah kota Bekasi untuk menyuap auditor BPK Jawa Barat agar hasil laporan
keuangan penggunaan dana di aerah tersebut wajar tanpa pengecualian. Yang menjadi
Lukmanto Hari sebagai kepala Inspektorat Kota Bekasi, Heri Suparjan selaku Kabid aset dan
kekayaan DPPKAD Kota Bekasi, Enang Hermawan dan Suharto keduanya Auditor BPK.
Pada kasus ini jelas terlihat bahwa auditor BPK telah melanggar kode etik yg mungkin
akan mendapat hukuman berupa diberhentikan dari jabatan atau malah mungkin
diberhentikan sementara sambil menunggu ketetapan hukum tetap, selain itu dengan
terbongkarnya kasus ini jelaas telah merusak merusak kredibilitas dari lembaga BPK itu
sendiri.
Selain itu ini juga menggambarkan bahwa etika profesi harus selalu dijunjung,
memegang teguh amanah, serta menjalankan semuanya dengan tanggung jawab, karena jika
tidak hal ini akan selalu terjadi, patut disayangkan karena BPK merupakan salah satu
lembaga tinggi yang mendapat remunerasi, yang seharusnya hidup berkecukupan, tapi tetap
saja masih melakukan tindakan yang imoral, ini juga menunjukan bahwa remunerasi yang
diinginkan pemerintah dari remunerasi dengan terciptanya pegawai yang
disiplin,kompeten,kredibel serta taat asas, belum terpenuhi.
Seorang auditor harus tetap menjaga sikap independensi dan netral dan tidak mempunyai
hubungan dengan kliennya. Baik itu auditor pemerintah dalam hal ini BPK maupun di
auditor-auditor KAP. Karena kualitas audit yang dilakukan oleh auditor yang mampu
menjaga sikap skeptis dan independesinya tentu saja bagus dan berkualitas dan beebeda
hasilnya dengan hasil audit yang dilakukan oleh auditor yang tidak independen.
Sangat disayangkan bila suatu instansi pemerintah karena ingin menutupi kekurangan
kinerjanya dengan menyuap auditor BPK untuk memberikan opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP). Bisa dikatakan bahwa kinerja Pemkot Bekasi tidak bagus, karena
apabila kinerja mereka sudah bagus tentu saja para pejabat pemkot tersebut tidak perlu
menyuap auditor BPK segala. Dengan pemaksaan pemberian opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) kepada LKPD Kota Bekasi tentu saja akan memberikan efek negatif
kepada beberapa pihak. Pihak investor yang akan menanamkan investasinya di daerah Bekasi
tentu saja menggunakan LKPD Kota Bekasi sebagai bahan acuan dan pertimbangan apakah
mereka akan tetap investasi di Bekasi apa tidak. Maka dengan LKPD yang telah diberikan
opini palsu oleh auditor BPK tersebut bisa saja kedepannya akan menimbulkan suatu
masalah dan akan merugikan beberapa pihak yang berkepentingan di lingkungan Pemkot
Bekasi juga. Masyarakat Bekasi sebagai pihak yang berkepentingan juga akan dirugikan,
mereka bisa mengevaluasi apakah kinerja pemerintah Bekasi sekarang sudah baik apa belum
dan apabila kinerja jelek mereka tentu saja memiliki hak untuk menuntut Pemkot Bekasi.
Akan tetapi dengan pemberian opini palsu pada LKPD Kota Bekasi maka masyarakat akan
berpikir jika segala kegiatan di lingkungan Bekasi baik-baik saja dan tidak ada
penyimpangan-penyimpangan. Karena pembangunan di Kota Bekasi juga berasal dari uang
mereka melalui beberapa iuran wajib seperti pajak daerah, retribusi dan lain-lain, oleh karena
itulah wajib bagi pemerintah suatu daerah untuk mengelola dana rakyatnya sebaik-baiknya
untuk operasional daerah dan pembangunan daerah menjadi baik. Bukan justru
diselewengkan oleh pejabatnya sendiri untuk kepentingan pribadinya
Kemudian bagi auditor BPK dengan menerima suap dari Pemkot Bekasi maka dapat
dikatakan jika auditor tersebut tidak menjalankan etika profesinya dengan baik. Seorang
akuntan itu wajib menerapkan sikap skeptis dan independesinya ketika bekerja, karena
ditangan merekalah (auditor) segala pihak yang berkepentingan terutama dengan laporan
keuangan suatu entitas mengandalkan hasil kerja seorang auditor untuk menentukan beberapa
strategi kedepannya. Beberapa tersangka baik dari lingkungan Pemkot Bekasi sendiri dan 2
auditor BPK wajib diberi sanksi pidana atau perlu di pecat dari posisinya, karena perbuatan
mereka secara tak langsung akan memberikan efek buruk bagi profesinya.
D. Penutup
1. Kesimpulan
Sebagai sebuah profesi, etika profesi akuntan publik di Indonesia sudah diatur
dalam kode etik akuntan Indonesia. Di dalamnya termuat etika yang harus dipatuhi oleh
akuntan publik. Kode etik itu dilengkapi dengan Interpretasi yang memberikan
penjelasan untuk lebih memahami isi dari kode etik tersebut. Selain itu juga sudah
diterapkan sanksi yang jelas terhadap pelanggaran terhadap aturan etika profesi akuntan
publik.
Independensi merupakan salah satu komponen etika yang harus dijaga oleh
akuntan public. Independen berarti akuntan public tidak mudah dipengaruhi, tidak
memihak kepentingan siapapun serta jujur kepada semua pihak yang meletakkan
kepercayaan atas pekerjaan akuntan publik.
Jika akuntan atau kantor akuntan melanggar ketentuan itu, ada tiga sanksi yang
siap mengganjar mereka: administratif berupa denda, peringatan, dan pencabutan izin.
Namun pada prakteknya masih terdapat pelanggaranpelanggaran etika yang dilakukan
oleh akuntan publik seperti yang sudah dicontohkan diatas. Karena meskipun sudah ada
sanksi yang jelas tapi sejauh ini pelanggaran terhadap etika hanya dijatuhi sanksi yang
ringan dan tidak sampai ke pengadilan.
2. Saran
Dalam setiap penugasan ada baiknya melihat track record dari auditor yang
ditugasi, memberikan training dan menekankan pentingnya menjaga independensi dan
kode etik akuntan professional, dan melakukan audit planning yang baik, rapi, dan sangat
terencana agar auditor tidak merasa berat menjalankannya.
Pemkot Bekasi senantiasa selalu memantau segala hal operasional daerahnya
terutama dalam pos-pos yang mempunyai potensi penyelewengan, memberikan
himbauan kepada para pegawai di Pemkot Bekasi untuk selalu menerapkan kejujuran dan
profesionalitas pekerjaan sebagai abdi Negara
BPK sebagai lembaga indenpeden negara yang bertugas memeriksa setiap laporan
keuangan instansi daerah harus selalu menekankan integritas, objektivitas, dan perilaku
professional. Setiap pegawai di BPK harus selalu tertanam sikap seperti itu. Karena sikap
dasar yang harus dimiliki oleh seorang akuntan professional adalah sikap-sikap tersebut.
Apabila seorang auditor sudah melanggar kode etik profesi akuntan tersebut maka
sebaiknya mendapatkan sanksi yang sesuai dengan kelalaiannya.
3. Rekomendasi Penyelesaian Masalah
Pemberhentian tugas terhadap 2 auditor BPK yang telah melanggar profesionalitas
seorang akuntan.
Pemberian sanksi yang tegas terhadap pejabat-pejabat Pemkot Bekasi yang telah
melanggar kedudukannya sebagai abdi Negara
BPK harus menunjuk ulang mengenai penugasan pegawainya untuk mengaudit
LKPD Pemerintah Kota Bekasi, dan tentu saja BPK harus cermat dalam pemilihan
pegawainya agar hasil yang diharapkan bisa tercapai.
Pencabutan atas opini yang diberikan terhadap LKPD Pemkot Bekasi dan melakukan
audit kembali agar keandalan atas hasil audit LKPD lebih tepat dan berkualitas.










SUMBER :
http://www.detiknews.com/read/2010/08/04/142018/1413485/10/kpk-gelar-rekonstruksi-kasus-
suap-bpk-jabar-dan-pemkot-bekasi?nd992203605

http://romanisti89.blogspot.com/2010/11/kasus-suap-terhadap-auditor-bpk-jawa.html

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4cd784ca11ac3/dua-auditor-bpk-jabar-divonis-
empat-tahun-penjara

http://cicakbekasi.wordpress.com/
http://politik.news.viva.co.id/news/read/161408-kpk-tetapkan-lagi-auditor-bpk-jadi-tersangka
http://www.antikorupsi.org/id/content/dugaan-suap-pejabat-bpk-jabar-ditangkap














KASUS PENYUAPAN AUDITOR BPK OLEH PEGAWAI PEMKOT BEKASI
Tugas disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Audit I
Dosen Pengampu : Dhyah Setyorini, M.Si., Ak.









Disusun Oleh :
Puput Risky Pramita
11412144015





PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014