Anda di halaman 1dari 24

DI SUSUN OLEH :

NAMA : EGGI SOLAENA R


NIT : 1321451
PRODI : PORT MANAGEMENT / III
A


AKADEMI MARITIM NUSANTARA CILACAP
JL.KENDENG NO.307 CILACAP





DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH..............................................................................1
1.2 PERUMUSAN MASALAH..........................................................................................2
1.3 TUJUAN........................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN CHARTER PARTY............................................................................3
2.2 DASAR-DASAR HUKUM CHARTER PARTY.........................................................3
2.3 STANDAR CHARTER PARTY...................................................................................4
2.4 JENIS-JENIS CHARTER PARTY.............................................................................12
2.5 HAL-HAL YANG DITULIS DALAM CHARTER PARTY.....................................16
2.6 SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI OLEH PEMILIK KAPAL..........17
2.7 PARA PIHAK YANG TERLIBAT DALAM CHARTER PARTY...........................18
2.8 BERAKHIRNYA CHARTER PARTY......................................................................19
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN..........................................................................................................20
3.2 SARAN......................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA











ii


KATA PENGANTAR


Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa kami memanjatkan puji dan syukur atas
selesainya makalah Pencharteran Kapal / Charter Party.Materi ini disusun mengacu
kepada keefisiensian dalam dunia Pencharteran Kapal .Di harapkan dengan
adanya makalah ini akan membantu para pembaca agar lebih memahami pengetahuan
tentang Charter Party.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari keterbatasan
pengetahuan tentang peraturan-peraturan yang sedikit banyak mendasari
tentang Curikulum Charter Party Serta Quality Standard Charter Party yang di
berlakukan di Indonesia.Sehi ngga memungki nkan mas i h banya k t e r da pat
kekur anga n bai k di da l am penya j i an maupun istilah-istilah yang sebenarnya,
untuk itu saran dan pendapat sangat penting untuk kami.
Semoga tujuan dan upaya peningkatan keterampilan bagi pelaut
Indonesia dapat tercapai sesuai yang di harapkan.























i
CILACAP,27 SEPTEMBER 2014
EGGI SOLAENA R
Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Keadaan geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-
pulau yang memiliki posisi yang sangat strategis serta penting dalam dunia internasional.
Penguasaan perairan nusantara diperlukan guna menyokong kegiatan perdagangan barang
maupun jasa, serta pengangkutan pengiriman barang baik dalam ruang lingkup nasional
maupun internasional yang terjadi dalam dunia bisnis yang berkembang dengan pesat saat ini.
Oleh karena itu, dibutuhkan sarana pengangkutan yang memadai guna memenuhi kebutuhan
mobilitas dalam rangka pemerataan dan peningkatan perekonomian, serta memperkukuh
keutuhan bangsa Indonesia. Maka, pelayaran sebagai sarana pengangkutan melalui perairan
(laut) harus ditata atau dikelola secara efektif dan efisien.
Pengangkutan laut memiliki peranan yang penting dalam perdagangan khususnya
dalam sektor perdagangan internasional.Faktor ini didasarkan data statistik bagi negara-
negara maritim, barang impor dan ekspor lebih kurang 70% dari total komoditi diangkut
melalui laut.Kegiatan penyelenggaraan pengangkutan laut internasional dapat dilakukan
sendiri oleh pemilik kapal atau bisa dilakukan oleh pencarter kapal yang telah melakukan
perjanjian pencarteran kapal. Pemilik kapal (shipowner) dapat mencarterkan kapal yang
dimiliki kepada pencarter kapal (charterer) dengan berbagai ketentuan yang dicantumkan
dalam bentuk perjanjian carter kapal (charterparty). Dengan kata lain, perjanjian carter kapal
merupakan perjanjian mengenai penggunaan kapal itu sendiri, dan bukan sebagai perjanjian
pengangkutan barang seperti halnya konosemen (bill of lading). Kedua jenis perjanjian ini
saling berkaitan, tergantung perjanjian yang dibuat para pihak dalam suatu pengangkutan
barang melalui laut. Adapun contoh perjanjian carter kapal adalah perjanjian carter
perjalanan, perjanjian carter waktu dan perjanjian carter demise/bareboat.
Perjanjian carter perjalanan merupakan perjanjian carter kapal dalam bentuk formal dan
tertulis yang memperjanjikan kapal untuk melakukan hanya satu perjalanan beserta
ketentuan-ketentuan lain bagi para pihak dalam perjanjian.Perjanjian carter waktu pada
dasarnya sama merupakan bentuk formal tertulis, namun dibuat untuk penggunaan kapal pada
waktu tertentu,sedangkan perjanjian demise/bareboat merupakan perjanjian untuk
penggunaan kapal saja.
Dalam dunia pengangkutan laut internasional, terdapat beberapa konvensi-konvensi dan
prinsip-prinsip yang berlaku secara internasional. Ketentuan-ketentuan ini harus dituruti oleh
pihak-pihak yang melakukan pengangkutan laut dalam skala internasional yang menembus
lintas batas negara. Salah satu konvensi yang mengatur mengenai pengangkutan laut yaitu
Protocol to Amend the International Convention for the Unification of Certain Rules of Law
Relating to Bills of Lading, ditandatanganidi Brussel padaFebruari1968 (selanjutnya akan
disebut dengan Hague Visby Rules). Hague Visby Rules mencantumkan berbagai hak,
kewajiban dan tanggung jawab bagi pemilik kapal maupun pencarter kapal. Salah satu contoh
kewajiban pemilik kapal adalah untuk menunjuk nahkoda dan awak kapal yang
berpengalaman dan kompeten dalam melakukan pelayaran.Hak, kewajiban dan tanggung
jawab ini harus dipenuhi sebaik-baiknya oleh pemilik kapal dan pencarter kapal sesuai
dengan jenis perjanjian carter kapal yang digunakan.


1.


Ketika pemilik kapal dan pencarter kapal sudah membuat perjanjian carter kapal, maka
tentu saja kedua belah pihak telah mempunyai kesepakatan tentang penggunaan kapal
tersebut. Seorang nahkoda yang telah ditunjuk oleh pemilik kapal, seharusnya menaati
perjanjian yang sudah dibuat dan berlayar pada jalur yang sudah ditentukan. Namun dalam
hal terjadinya keadaan-keadaan tertentu, seperti terjadinya deviasi yang dilakukan oleh
nahkoda kapal, maka timbul tanggung jawab baru bagi para pihak.
Istilah deviasi itu sendiri sudah muncul sejak 200 tahun yang lalu.Deviasi dapat
merujuk kepada pengangkutan barang di kapal tanpa persetujuan yang jelas dari pengirim
barang, proses penurunan (discharge) barang muatan yang tidak semestinya,penyimpangan
dari rute pelayaran yang semestinya ditempuh oleh seorang nahkoda, serta keadaan saat kapal
tidak sampai ke tempat tujuan yang semestinya. Hingga saat ini masih ditemukan praktik
deviasi oleh nahkoda kapal meskipun deviasi yang tidak berdasar (without lawful
justification) akan memberi dampak serius pada perjanjian pengangkutan yang sudah dibuat
sebelumnya oleh para pihak.Deviasi yang tidak beralasan dapat menyebabkan pemilik kapal
kehilangan hak dan imunitasnya dalam Hague Visby Rules;pembatalan klausul-klausul
pengecualian (exception clause) dalam perjanjian pengangkutan apabila terdapat kerusakan
atau kehilangan pada barang yang diakibatkan oleh deviasi nahkoda;serta hilangnya
perlindungan asuransi dan memposisikan pengangkut sebagai pihak yang menanggung
asuransi atas barang yang diangkut.
Maka dari itu, pertanggungjawaban para pihak atas deviasi yang dilakukan oleh
nakhoda kapal sering menjadi konflik. Terutama manakala deviasi tersebut mengakibatkan
kerugian seperti kerusakan pada kapal yang digunakan dalam proses pelayaran,
keterlambatan waktu sampainya kapal ditempat tujuan, maupun kerusakan pada barang yang
diangkut oleh kapal tersebut, maka pihak yang dirugikan berhak menuntut ganti rugi. Bentuk
ganti rugi yang dapat dimintakan oleh pihak yang dirugikan dapat berupa penggantian
sepenuhnya atas seluruh kerugian ataupun penggantian sebagian berdasarkan derajat
kesalahan para pihak. Adapun bentuk ganti rugi lain berdasarkan perjanjian para pihak yang
telah dibuat sebelumnya, atau berdasarkan hukum yang dipilih oleh para pihak dalam
perjanjiannya
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang penulisan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
beberapa masalah, yaitu:
Bagaimanakah tanggung jawab pemilik kapal dalam perjanjian carter terhadap
kerugian yang ditimbulkan oleh nahkoda kapal yang melakukan deviasi dikaitkan
dengan Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan Hague Visby Rules 1968?
Bagaimanakah tanggung jawab pencarter kapal dalam perjanjian carter terhadap
kerugian yang ditimbulkan oleh nahkoda kapal yang melakukan deviasi dikaitkan
dengan Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan Hague Visby Rules 1968?
1.3 TUJUAN
Untuk mengetahui perencanaan pemuatan yang efektif dan efisien.
Untuk mengetahui realisasi pemuatan dan pengembangan SDM yang professional.
Untuk mengetahui perencanaan pemuatan dengan realisasi pemuatan pada Charter
Party yang bertanggung jawab.


2.


BAB I
PEMBAHASAN

PENGERTIAN CHARTER PARTY

2.1 PENGERTIAN CHARTER PARTY
Didalam dunia perhubungan laut, untuk meningkatkan kelancaran penyelenggaraan
pengangkutan diperlukan suatu sarana penunjangnya, yaitu sarana kapal. Salah satu
penyelenggaraan angkutan laut adalah dengan mengadakan suatu perjanjian yang di namakan
perjanjian carter kapal. Mengenai pencarteran kapal itu sendiri adalah : penggunaan /
pengoperasian kapal milik orang lain, yang sudah di perlengkap dengan alat perlengkapan
kapal beserta pelautnya, yang siap untuk menjalankan kapal sesuai dengan intruksi pencarter
. Mengenai perjanjian carter kapal ini dapat di perhatikan pengertian pengertian di bawah
ini.Oleh H.M.N. Purwosutjipto mengartikan
Carter kapal adalah suatu perjanjian timbal balik antara tercarter (Vevrater) dengan
pencarter (Bevrachter), dengan mana tercarter mengikatkan diri untuk menyediakan kapal
lengkap dengan perlengkapan serta pelautnya untuk kepentingan pencarter, dan si pencarter
mengikatkan diri untuk membayar uang Charter (Charterprijs).
Sedangkan dalam pasal 453 ayat (1) kitab UU Hukum Dagang dinyatakan bahwa
yang namakan pencarteran kapal ialah carter menurut waktu dan carter menurut
perjalanan.Dari beberapa pengertian perjanjian carter kapal yang dikemukakan di atas, maka
penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian perjanjian carter kapal adalah
menggambarkan sifat perjanjian carter kapal yang timbale balik antara pihak tercarter dan
pihak pencarter untuk menyediakan kapal lengkap dengan perlengkapannya serta pelautnya.
Sedangkan pihak pencarter mengikatkan diri untuk membayar uang carter atas penggunaan
kapal untuk pengankutan barang barang atau tujuan lain yang sah.Dipikul sendiri oleh
pencarter apabila pekerjaan di kerjakan sendiri oleh pencarter, dan sebaliknya jika
dipersiapkan oleh tercarter.
2.2 DASAR-DASAR HUKUM CHARTER PARTY
Sebagaimana diketahui bahwa setiap kegiatan atau perbuatan yang dilakukan di tanah
air Republik Indonesia ini mempunyai dasar dasar hokum yang dijadikan tuntutan untuk
pelaksanakan kegiatan tersebut. Adapun yang dijadikan dasar hokum perjanjian carter kapal
adalah Kitab UU Hukum Dagang, yang diatur mulai dari pasal 453 sampai dengan pasal 565.
Pasal pasal tersebut secara umum isinya adalah sebagai berikut :
Pada pasal 453 mengatur mengenai perjanjian pencarter kapal secara umum dan
membedakan perjanjian carter kapal itu atas 2 (dua) jenis, yaitu perjanjian carter
kapal menurut perjalanan dan perjanjian carter kapal menurut waktu.
Pasal 454 mengatur tentang perlu adanya akta dalam suatu perjanjian carter kapal.
Pasal 455 sampai dengan pasal 459 mengatur tentang hak dan kewajiban para
pihak yang mengadakan perjanjian carter kapal.
Pasal 460 sampai dengan pasal 462 mengatur tentang perjanjian carter kapal
menurut perjalanan.
3.


Kemudian pada pasal 463 sampai dengan pasal 465 mengatur tentang perjanjian
carter kapal menurut waktu.

2.3 STANDAR CHARTER PARTY :
Baltime 1039 yang sudah beberapa kali direvisi , terakhir tahun 2001;
New York Produce Exchange (NYPE 93) yang diterbitkan oleh the Association of
Ship Brokers and Agents (USA) ,Inc., yang telah beberapa kali direvisi ,dan
terakhir tahun 1993;
Deep Sea Time Charter 1974 yang dikeluarkan oleh BIMCO dengan code name
Linertime;
Fontime yang dipersiapkan oleh the Federation of National Associations of Ship
Brokers and Agents (FONASBA) ;
BIMCO Standard Bareboat Charter dengan code name:BARECON 2001
Perjanjian penyewaan kapal untuk komoditi tertentu (Bulk Cargo) dan
untuk angkutan penumpang:
Standard Ore Charter Party, dengan code name:OREVOY, khusus untuk
angkutan biji besi;
Continent Grain Charter Party, dengan code name SYNACOMEX 90 yang
diadiopsi di Paris 1957, sudah beberapa kali direvisi dan terakhir tahun 1990,
khusus untuk angkutan bahan makanan dalam bentuk padi-padian (grain atau
cereal);
North American Grain Charter Party 1973, dengan code name NORGRAIN 89,
direkomendasikan oleh BIMCO dan FONASBA, telah direvisi tahun 1989,
khusus untuk angkutan bahan makanan dalam bentuk padi-padian (grain);
Australian Wheat Charter 1990, dengan code name AUSWHEAT 1990, telah
direvisi tahun 1991, khusus untuk angkutan gandum dari Australia;
United Nations World Food Programmed Voyage Charter Party, dengan code
name WORLDFOOD 99, khusus untuk angkutan bantuan makanan dari
Perserikatan Bangsa-bangsa ( World Food Programmed of United Nations);


4.


Gas Voyage Charter Party to be used for Liquid Gas Except LNG, dengan code
name GASVOY yang dikeluarkan oleh the Documentary Committee of the
Baltic and International Maritime Conference in July 1972, khusus untuk
angkutan gas cair selain LNG;
North American Fertilizer Charter Party 1978/88, dengan code name
FERTIVOY 88 yang diterbitkan oleh Canpotex Shipping Services Ltd.
Vancouver dan direvisi tahun 1988, khusus untuk angkutan pupuk;
The BIMCO Baltic Wood Charter Party 1973, dengan code name
NUBALTWOOD yang direvisi tahun 1997, khusus untuk angkutan kayu dari
Baltic and North Sea dengan pengecualian bagi pelabuhan-pelabuhan Rusia,
Inggris dan Irlandia;
The Baltic and International Maritime Conference Uniform Time Charter Party
for Vessels Carrying Chemicals in Bulk, dengan code name BIMCHEMTIME
1984, khusus untuk angkutan bahan kimia curah (in bulk);
Americanized Welsh Coal Charter , dengan code name AMWELSH 93 yang
diterbitkan oleh the Association of Ship Brokers and Agents {USA), Inc. New
York 1953 dan telah direvisi terakhir tahun 1993, khusus untuk angkutan
batubara;
The Baltic and International Maritime Council Coal Voyage Charter 1971 yang
direvisi tahun 1997 dengan code name POLCOALVOY, khusus untuk
angkutan batubara;
The Documentary Committee of the Japan Shipping Exchange , Inc. Coal Charter
Party, dengan code name NIPPONCOAL, yang diterbitkan di Tokyo 1983,
khusus untuk angkutan batubara;
The Baltic and International Maritime Council (BIMCO) Uniform Time Charter
Party for Container Vessels, yang diterbitkan Oktober 1990, dengan code name
BOXTIME , khusus untuk penyewaan bagi kapal petikemas (container);
Standard Cruise Voyage Charter Party , dengan code name CRUISEVOY, yang
diterbitkan oleh BIMCO , khusus digunakan untuk angkutan penumpang.


5.


Ketentuan-ketentuan bagi perjanjian penyewaan kapal berdasarkan
perjalanan, antara lain :
kewajiban pemilik kapal menyediakan kapal dengan memberitahukan posisi,
kapasitas atau daya angkut kapal yang biasanya ditentukan dalam ukuran
deadweight tonnage (DWT), dan dimana kapal tersebut dikelaskan;
penetapan pelabuhan muat pada perjalanan permulaan dan pemilik kapal berjanji
bahwa kapal harus meneruskan perjalanan;
pemilik kapal memastikan bahwa kapalnya berada dalam keadaan lengkap dan
laik-laut;
penyewa menyetujui tersedianya barang secara penuh, dan menyetujui membayar
uang tambang yang biasanya dihitung berdasarkan per ton atau per meter/kaki
barang yang diangkut;
adanya daftar resiko bahaya dilaut yang dikecualikan ;
ketentuan yang mengatur cara bongkar/muat, khususnya lama waktu
bongkar/muat untuk menentukan adanya laytime dan besaran uang demurrage
atau dispatch;
ketentuan yang memberi hak kepada penyewa untuk membatalkan perjanjian
penyewaan bila kapal tidak sampai pada waktu dan pelabuhan tertentu yang telah
disepakati;
suatu ketentuan umum yang memungkinkan memasukan ketentuan Hague-Visby
Rules;
ketentuan penyelesaian perselisihan melalui Arbitrase dan prosedur beracara;
suatu ketentuan yang memasukan York-Antwerp Rules 1974/1990, berkaitan
dengan kerugian dilaut (general average) ;
ketentuan untuk memasukan komisi broker sebagai biaya membantu dalam
negoisasi;
suatu ketentuan berkaitan bila terjadi resiko perang.



6.


Ketentuan-ketentuan bagi perjanjian penyewaan kapal berdasarkan
waktu, antara lain :
penyediaan kapal oleh pemilik kapal dengan menyebutkan ukuran/daya muat,
kecepatan, pemakaian bahan bakar dan persediaan bahan bakar yang ada di kapal
pelabuhan dimana penyerahan kapal akan dilaksanakan dan waktu penyerahan
kepada penyewa;
mengoperasikan kapal dan melakukan kegiatan perdagangan dengan tidak
melawan hukum, serta memasuki pelabuhan yang aman untuk navigasi agar kapal
dapat sandar dengan aman;
keharusan membayar gaji awak kapal, premi asuransi kapal, perbekalan, oleh
pemilik kapal dan berjanji untuk memelihara kapal sepenuhnya secara efisien;
penyewa menyediakan dan membayar bahan bakar, membayar uang labuh dan
uang sandar, mengatur dan membayar biaya bongkar/muat barang ;
penyewa menyetujui untuk membayar sejumlah uang sewa kapal yang sudah
disepakati;
ketentuan mengenai penyerahan kembali kapal;
nakhoda berada dibawah perintah penyewa;
daftar resiko yang dikecualikan dari bahaya laut;
ganti rugi pada pemilik kapal untuk kerugian atau kerusakan kapal karena ketidak
hati-hatian sewaktu memuat atau membongkar barang dari kapal;
ketentuan York-Antwerp Rules 1974/1990 mengenai kerugian laut (General
Average);
pembayaran komisi kepada ship broker sebagai biaya negosiasi dalam pembuatan
perjanjian penyewaan kapal;
ketentuan penyelesaian melalui arbitrase.
Sebagian dari ketentuan-ketentuan tersebut diatas relevan juga terhadap perjanjian
charter berdasarkan waktu tanpa nakhoda dan anak buah kapal (Bareboat / Demise Charter
Party).


7.


Demmurage dan dispatch money:
Demmurage berarti keterlambatan pembebasan kapal oleh penyewa dan untuk itu
perlu diperjanjikan sejumlah uang yang disebut dan dicantumkan dalam perjanjian
penyewaan kapal, untuk dibayarkan kepada pemilik kapal oleh penyewa sebagai kompensasi
karena keterlambatan pembebasan kapal akibat pemuatan atau pembongkaran barang
dipelabuhan melebihi toleransi waktu (Laytime atau Laydays) yang disediakan dan juga
ditentukan dalam perjanjian.
Dispatch berarti sejumlah uang yang dicantumkan dalam perjanjian penyewaan kapal
yang akan dibayarkan kepada pemilk barang sebagai kompensasi jika pemuatan atau
pembongkaran barang dapat dilakukan kurang dari waktu yang disediakan sebagaimana
ditetapkan dalam perjanjian.
Laytime ditetapkan dalam suatu perjanjian penyewaan kapal, yang tergantung pada
kesepakatan kedua belah pihak dengan memperhitungkan kondisi pelabuhan yang menjadi
tujuan muatan dan besaran uang tambang yang akan diperoleh. Sesuai dengan buku Carriage
of Goods by Sea oleh ER Hardy Ivamy, edisi ketiga belas menetapkan kapan laytime mulai
dihitung, yaitu:
kapal dalam posisi sudah sampai (Vessel Is An Arrived Ship);
kapal dalam posisi siap untuk dimuat atau dibongkar (She Is Ready To Load or
Discharge);
pemilik kapal, atau dalam hal ini nakhoda, telah memberitahukan;
kesiapan kapal untuk dimuat (The Ship Owner Has Given Notice of Readiness
To Load);
Perjanjian penyewaan kapal dalam KUHD:
Penyewaan berdasarkan perjalanan:
bila diperjanjikan sebelumnya, penyewa dapat menggunakan seluruh ruangan
kapal dan penggunaan ruang kapal untuk pihak ketiga harus mendapat ijin
darinya.Penyewa juga dapat menyewakan kapal berdasarkan perjalanan kepada
pihak ketiga bila sudah tercantum demikian dalam perjanjian penyewaan (pasal
518 h-i);


8.


pemilik kapal atau yang menyewakan kapal harus menyampaikan data daya muat
kapal yang sebenarnya kepada penyewa sebelum kapal diserahkan dan bila salah
dalam memberikan data atau melebihi dari daya muat yang sebenarnya, maka
diwajibkan memberikan ganti rugi dan uang sewa akan dikurangi secara seimbang
(pasal 518 j);
penyewa menunjuk tempat kapal dimana harus berlabuh untuk diberi muatan.
Untuk itu ia harus menunjuk tempat untuk memuat yang biasa digunakan yang
tersedia dan dimana kapal itu dapat datang dan tetap berlabuh dengan aman dan
lancer. Bila penyewa lalai untuk menunjuk hal itu pada waktunya atau para
penyewa, bila lebih dari seorang penyewa, tidak mendapat kata sepakat dalam
penunjukan, pemilik kapal bebas untuk menentukan sendiri tempat-tempat yang
biasa digunakan (pasal 518 dan 518 m);
penyewa kapal harus membawa barang-barang yang harus dimuat kedekat
disamping kapal dan menempatkannya pada pemuat yang harus disediakan oleh
pemilik kapal.
Penyewaan berdasarkan waktu:
dalam hal penyewaan kapal berdasarkan waktu, berarti seluruh ruangan kapal
diserahkan kepada an dikuasai oleh penyewa, sebagaimana dinyatakan dalam
pasal 518 a;
pemilik kapal atau yang menyewakan kapal harus menyampaikan data daya muat
kapal yang sebenarnya kepada penyewa pada waktu negosiasi penyewaan atau
setidak-tidaknya sebelum kapal diserahkan untuk dioperasikan oleh penyewa.Jika
tidak , akan menimbulkan pengurangan uang sewa secara proposional dan pemilik
kapal wajib mengganti kerugian yang disebabkan oleh penyampaian data yang
tidak benar tersebut (pasal 518 b);






9.


pada prinsipnya, nakhoda dan anak buah kapal, sebatas hal-hal yang
diperjanjikan, wajib tunduk pada penyewa. Dalam batas-batas yang ditetapkan
oleh perjanjian penyewaan kapal, nakhoda harus menurut perintah penyewa
dalam hal penerimaan, pengangkutan dan penyerahan muatan. Nakhoda
berwenang bertindak atas nama penyewa, kecuali penyewa telah menugaskan
pada orang lain. Namun demikian, penyewa tidak dapat menuntut agar kapal
memuat, membongkar dan lain sebagainya atau pergi ketempat-tempat yang tidak
dapat dicapainya (pasal 518 e);
ketentuan-ketentuan dalam pasal 518 diberlakukan bagi kapal-kapal berbendera
Indonesia walaupun tempat terjadinya perjanjian diluar Indonesia (pasal 518 g).
Beralihnya hak kepemilikan kapal tidak membatalkan perjanjian
penyewaan:
Sifat perjanjian penyewaan kapal melekat terhadap kapal yang menjadi obyek dari
perjanjian penyewaan tersebut. Artinya bahwa bila kapal berpindah tangan pada waktu
perjanjian penyewaan masih berjalan, maka pemegang hak kepemilkan yang baru tidak dapat
membatalkan perjanjian penyewaan begitu saja, dia berkewajiban meneruskan dan
memenuhi apa yang merupakan kewajiban dari pemilik kapal sebelumnya (pasal 456):
Dengan pemindah-tanganan sebuah kapal, maka persetujuan carter kapal yang
sebelumnya telah dibuat oleh pemilik kapal tersebut, tidak diputuskan karenanya. Si pemilik
baru, disamping yang memindah-tangankan itu, diwajibkan memenuhi persetujuan tersebut
Prinsip ini sama dengan prinsip yang dianut dalam penyewaan yang diatur
dalam pasal 1576 KUH Perdata.
Bill of Lading:
Perjanjian penyewaan kapal merupakan suatu perjanjian, tetapi tidak demikian halnya
dengan bill of lading atau konosemen yang berasal dari bahasa Belanda: cognossement. Bill
of lading berlaku seakan-akan perjanjian tetapi bukan perjanjian, hanya sebagai bukti (prima
facie evidence) adanya perjanjian pengangkutan dan bukti penerimaan barang oleh pemilik
kapal atau nakhoda. Bill of lading dikeluarkan atas permintaan dan diberikan kepada
penyewa kapal atau pengirim barang oleh pemilik kapal atau oleh operator kapal yang
beroperasi dalam trayek tertentu.


10.


Definisi Bill of Lading sesuai dengan Hamburg Rules pasal 1 butir 7:
Bill of lading means a document which evidences a contract of carriage by sea and
the taking over or loading of the goods by the carrier, and by which the carrier undertakes to
deliver the goods against surrender of the document. A provision in the document that the
goods are to be delivered to the order of a named person, or to order, or to bearer, constitutes
such an undertaking.
Fungsi Bill of Lading:
suatu tanda terima yang ditanda-tangani oleh atau atas nama pengangkut dan
dikeluarkan kepada pengirim barang, yang menyatakan bahwa barang seperti yang dijelaskan
dan telah dikapalkan pada kapal yang telah tercantum dalam bill of lading tersebut yang akan
mengangkutnya ketempat tujuan yang telah ditunjuk, atau jika kapalnya belum ditentukan,
diterima dan disimpan dalam kekuasaan pemilik/operator kapal untuk dikapalkan.
suatu memorandum dimana dicantumkan ketentuan-ketentuan dan persyaratan
perjanjian pengangkutan, yang telah disetujui terlebih dahulu sebelum ditanda-tangani
dokumen tersebut, dalam hal kapal telah terikat dalam suatu perjanjian carter. Bila bill of
lading didasarkan atas perjanjian penyewaan kapal, ketentuan-ketentuan dalam Bill of
Lading tidak boleh bertentangan dan harus sejalan dengan yang tercantum dalam perjanjian
penyewaan kapal.
suatu dokumen yang memberikan hak terhadap penerima barang untuk dapat menerima
penyerahan barang ditempat tujuan atau menyerahkan barang kepada orang yang namanya
dicantumkan dalam Bill of Lading sebagai penerima barang atau kepada orang lain dengan
jalan Endorsemen. Dalam hal Bill of Lading dinyatakan sebagai dokumen yang dapat
diperjual-belikan dengan ketentuan atas unjuk (To Bearer), penyerahan barang dapat pula
diberikan kepada pembawa Bill of Lading tersebut. Inilah yang dimaksud arti penting suatu
Bill of Lading yang memungkinkan pemilik barang untuk memindahkan hak
kepemilikannya walaupun secara phisik barang tersebut tidak lagi berada atau belum
berada ditangannya tetapi berada atau masih berada dibawah kekuasaan pengangkut.
Bill of Lading dalam KUHD :

Bill of Lading atau konosemen diatur dala pasal 504 sampai dengan pasal 517d, KUHD.
Pasal 504 ayat 1 menentukan :
Pengirim barang dapat meminta agar pengangkut mengeluarkan
konosemen untuk barang yang telah diterimanya untuk diangkut, dengan
menarik kembali tanda terima, sekiranya telah dikeluarkan
olehnya.Pengirim barang dilain pihak wajib memberikan pada waktu yang
tepat data-data yang diperlukan guna pengisian konosemennya.

11.


Pasal 506 ayat 1, merumuskan :
Konosemen adalah surat yang diberi tanggal, yang didalamnya
diterangkan oleh pengangkut, bahwa ia telah menerima barang-barang
tertentu, dengan maksud untuk mengangkut barang-barang tersebut
ketempat yang ditunjuk, dan menyerahkannya disana kepada orang yang
ditunjuk, demikian pula dengan persyaratan perjanjian yang bagaimana
penyerahan itu dilakukan
Ketentuan-ketentuan Bill of Lading:
Sesuai dengan Hamburg Rules 1978 (contents of bill of lading) dalam pasal 15
ayat 1:
gambaran umum dari barang dan bila perlumemberikan merek guna menunjukan
dan membedakan barang tersebut terhadap barang lain, suatu pernyataan yang
memungkinkan menerangkan sifat berbahayanya barang, jumlah koli atau lembar,
berat barang atau jumlah, dan semua hal-hal tersebut disampaikan oleh pengirim
barang;
kondisi yang dapat terlihat dari barang;
nama dan tempat usaha utama dari pengangkut;
nama pengirim barang;
penerima barang yang ditentukan oleh pengirim barang;
pelabuhan muat berdasrkan kontrak pengangkutan dan tanggal sewaktu barang
diambil-alih oleh pengangkut dipelabuhan muat;
pelabuhan bongkar sesuai kontrak pengangkutan;
jumlah lembar asli BL, bila diterbitkan lebih dari satu;
tempat dikeluarkan bill of lading;
tanda tangan pengangkut atau orang yang bertindak atas namanya;
uang tambang yang diteruskan kepada penerima barang untuk dapat dibayar atau
petunjuk lainnya bahwa uang tambang dapat diabayar olehnya;
pernyataan yang merujuk pada ketentuan pasal 23 ayat 3;
pernyataan, jika mungkin, bahwa barang harus atau dapat dimuat dibawah dek;
tanggal atau periode penyerahan barang di pelabuhan bongkar bila disetujui
diantara kedua belah pihak; dan
kenaikan batasan tanggung jawab yang disetujui sesuai dengan pasal 6 ayat 4.

2.4 JENIS JENIS CHARTER PARTY
a) Bareboat Charter
Bareboat Charter adalah suatu sistem sewa menyewa kapal, dimana pihak pemilik
kapal, menyerahkan kapal dalam keadaan kosong, tanpa ABK tetapi lengkap dengan segel
sarana/peralatan dan perlengkapan kapal untuk berlayar secara aman, setelah menerima uang
sewa( Hire Rate) dari pihak penyewa ( Charterer).



12.


Ketentuan Umum
Tarif sewa didasarkan pada bobot mati musim panas (sumer deadweight) dan
dibayar tiap bulan dan diselesaikan melalui pembayaran dimuka;
Pencharteran berhak menunjuk Nakhoda dan awak kapal, namun untuk nakhoda
dan kepala Kamar Mesin dengan persetujuan pihak pemilik kapal.
Pencharter diberikan penguasaan penuh atas kapal dan segala biaya eksploitasi
kapal, termasuk biaya reparasi survey kapal menjadi bebannya;
Asuransi kapal menjadi beban milik kapal jika dicantumkan syaratnya dalam
perjanjian sewa-menyewa kapal;
Kapal digunakan untuk pelayaran yang sah (lawful trades);
Tidak dibenarkan, mengadakan perubahan-perubahan pada bangunan kapal oleh
pihak pencharter tanpa persetujuan dari pihak pemilik kapal
Penyerahan kembali pada akhir masa charter harus dalam keadaan yang sama,
dengan pengecualian keausan (wear and tear) yang wajar.

b) Time Charter
Time Charter adalah system penyewaan kapal antara pemilik kapal ( Ships Owner)
dengan Penyewa (Charterer) yang di dasarkan pada jangka waktu (lamanya penyewaan) yang
di setujui bersama oleh kedua belah pihak
Ketentuan Umum
Pemilik kapal, menerima sejumlah uang sewa ( charterer hire rate) dari pihak
penyewa ( Charterer) selanjutnya menyerahkan kapal dimaksud kepada penyewa
untuk dipergunakan mengangkut sejumlah barang muatan.
Waktu penyewaan( Lamanyan sewa menyewa) telah di tentukan ( satu,tiga,enam
bulan atau satu tahun)
Ditentukan pula biaya-biaya apa saja yang menjadi beban pihak pemilik kapal dan
penyewa kapal.
Semua beban yang terkait dengan kapal ( gaji ABK,perawatan kapal, perbekalan
dan lain-lainnya) menjadi beban tanggungan pihak pemilik kapal ( ships owner)
tetapi biaya-biaya pelabuhan sandar,DSB dimana kapal yang di sewa itu singgah/
meninggalkan pelabuhan, bahan bakar minyak,air minum dan biaya-biaya lain
terkait dengan kepentingan penyewa, maka semua beban biaya tersebut, menjadi
tanggung jawab pihak penyewa ( Charterer).



13.


c) Trip Time Charter
Bilamana kapal dicharter untuk satu kali atau lebih pelayaran, tetapi Charter Fee
berdasarkan kepada waktu, maka jenis charter ini disebut TripTime Charter.Charter dapat
menjadi Carrier atas barang-barang pihak krtiga dan dapat pula menyewakan kapal yang
disewanya kepada pihak ketiga (Recharter/Subject Charter), baik secara Time Charter atau
Voyage Charter.
Sebagaimana ketentuan yang berlaku untuk Bareboat Charter, juga dalam Time Charter
dan Trip Time Charter berlaku ketentuan Lawfull Trade In Carrying Lawfull Merchandise,
artinya kapal boleh dipergunakan untuk pelayaran yang sah dan untuk mengangkut barang
yang sah pula.
d) Voyage Charter
Voyage Charter adalah perjanjian penyewaan kapal berdasarkan perjalanan tertentu,
dimana pemilik kapal atau pengangkut memberikan layanan pengangkutan barang dengan
kapal dalam satu atau beberapa pelayaran yang sudah tertentu. Penyewa berkewajiban untuk
menyampaikan barang dan membayar uang sewa yang biasanya diperhitungkan berdasarkan
jumlah barang yang dimuat atau diangkut atau dapat juga berdasarkan borongan.Pada setiap
perjalanan sesuai jumlah barang yang telah diserahkan, jika dikehendaki oleh penyewa atau
pemilik barang, pengangkut harus mengeluarkan konosemen atau Bill Of Loading.
Ketentuan umum:
Pemilik kapal akan menanggung semua biaya-biaya kapal baik saat kapal berada
di pelabuhan, dalam proses pengangkutan, semua biaya-biaya kebutuhan kapal
termaksuk bahan bakar dan air minum.
Penyewa hanya berkewajiban mambayar uang sewa muatan sesuai tariff yang
telah di sepakati bersama untuk satu trayek angkutan ( Voyage Hire Rate).
e) Trip Voyage Charter
Bila kapal disewa secara charter untuk pelayaran dari satu/beberapa pelabuhan pemuat
(Loading Port) kesatu/beberapa pelabuhan pembongkaran (Discharging Port), tetapi hanya
untuk satu trip dan sewa kapal didasarkan kepada banyaknya barang yang dijanjikan,jenis
charter ini disebut Trip Voyage Charter.



14.


Charter dalam bentuk Voyage Charter dan Trip Voyage Charter dapat bertindak
sebagai Carrier atas barang-barang pihak ketiga sebagai Disponent Owner, dan dapat
menyewakan kapal tersebut kepada pihak ketiga, tetapi hanya untuk trayek yang disebut
didalam C/P.
Pada umunnya jenis Voyage Charter digunakan oleh pengusaha dalam transaksi jual
brli antar pulau (Inter Island/Interinsuler) di dalam Negeri, dapat pula digunakan untuk
pelayaran antar Negara (Ocean Going) untuk transaksi jual beli komoditi berdasarkan Free
On Board (F.O.B) Cost & Freight ( C&F) atau Cost Insurance & Freight (C.I.F).
f) Berth Charter
Bert Charter dipergunakan jika tidak dapat ditentukan dengan pasti jenis dan
banyaknya koli barang yang akan di angkut. Jenis dan banyaknya koli disebut sewaktu kapal
dilayari di Dermaga (On The Berth), yaitu pada waktu pemuatan berlangsung. Bilamana
Charter tidak berhasil mengisi ruang kapal sesuai yang dijanjikan, maka dia dikenakan
DeadFreight. Dalam prakteknya Berth Charter jarang digunakan.
g) Dead Weight Charter
Tidak ada bedanya dengan Voyage Charter, apakah Charterer berhasil mengisi ruangan
kapal hingga sarat (Full and Down ) atau tidak, sewa Charter tetap sebesar yang telah
dijanjikan.
h) Gross Charter
Untuk jenis Charter ini, didalam C/P ditetapkan bahwa semua biaya kapal di Pelabuhan
termasuk Disbursement Account, biaya B/M (Stevedoring), tali dan sebagainya, menjadi
beban Ship Owner. Namun biaya-biaya tersebut oleh Ship Owner akan diperhitungkan dalam
waktu menentukan Charter Fee.
i) Net Charter
Jenis Charter ini merupakan kebalikan dari Gross Charter, yaitu biaya-biaya
sebagaimana dijelaskan pada Gross Charter menjadi beban Charterer. Biaya-biaya yang
menjadi beban Ship Owner hanyalah biaya tetap kapal (Fix Cost) dan bbm (Bunker).





15.


j) Clean Charter
Pada Charter ini, pemilik kapal hanya memikul komisi untuk Chartering Brokers
(Brokerage) dan tidak dibebani komisi-komisi lain.Misalnya Address Commission.
Address Commission merupakan suatu Return Commission yang diberikan oleh Ship Owner
kepada Charterer atas uang tambang (Sea Freight) yang dibayarnya. Jadi merupakan rabat
atau potongan atau diskon yang besarnya + 2,5% dari uang tambang bersih.
Dalam transaksi pembelian barang atas dasar F.O.B pembeli merupakan Charterer,
sehingga dialah yang menerima komisi tersebut. Sedangkan atas dasar C&F / C.I.F penjual
yang merupakan Charterer, sehingga dialah yang berhak menerima komisi tersebut.
Namun apabila dalam C/P dipergunakan syarat Free Of Address maka Ship Owner tidak
membayar Address Commission kepada Charterer.
k) Lumpsum Charter
Pada Charter ini, perhitungan besarnya Charter Fee ditentukan sebagai berikut:
Charterer menyewa seluruh atau sebagian ruang kapal sesuai yang telah dijanjikan
dengan sewa sejumlah uang tertentu, yang merupakan jumlah uang tetap
(Lumpsum). Apakah ruang kapal di isi penuh atau tidak oleh Charterer, Charter
Fee untuk Ship Owner tetap diterima sesuai besar jumlah uang yang telah
dijanjikan dalam C/P.
Bentuk Lumpsum Charter ini sering digunakan oleh perusahaan pelayaran dalam
Liner Service, jika suatu ketika Tonage kapal tidak mencukupi untuk memenuhi
order dari pelanggannya atau tidak memenuhi pengangkutan barang-barang yang
tersedia dalam trayek yang dijalaninya.
2.5 HAL-HAL YANG DITULIS DALAM CHARTER PARTY
Dalam melakukan sewa menyewa kapal (chartere kapal) adapun hal-hal yang di tulis
dalam melakukan perjanjian antara lain:
Nama pencharter / alamat
Nama alamat perusahaan pemilik kapal
System pengangkutan ( Fiost)
Waktu kedatangan kapal
Nama pelabuhan muat dan pelabuhan tujuan
Tarif sewa

16.


Term pembayaran
Jumlah barang yang di angkut
Tanggal muat dan sangsi
Sistem bongkar muat
Kewajiban pihak penyewa
Ketentuan mengenai jangka waktu
Ketentuan mengenai General Average
Ketentuan Force Majeure
Penyelesaian perselisihan
Seluk beluk kapal melipiti :
Nama kapal
Tahun pembuatan kapal
Status kapal ( milik,keganan/charter)
Bendera
GRT/NRT
DWT ( Dead weight ton)
Kapasitas muat
Lain-lain atau ketentuan khusus
2.6 SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI OLEH PEMILIK
KAPAL
Dalam kegiatan mencharter kapal adapun syarat-syarat yang harus di penuhi oleh
pemilik kapal antara lain adalah :
Usia kapal dan GRT
Maksud penentuan usia kapal dan GRT adalah untuk menyesuaikan dengan
persyaratan dari perusahaan asuransi ( muatan )
Kapal layak laut baik fisik maupun dokumen
Dalam hal fisik dilihat secara visual
Dokumen dicek validitas dokumen dan kelengkapan dokumen
Kapasitas derik


17.


Tipe palka ( Singel Deck)
Tipe tutup palka kapal (MC Gregor atau Rolling Type)
Draft Maximum
Klasifikasi ( BKI: Biro Klasifikasi Indonesia)
Kecepatan kapal
Grain capacity ( ruang muat untuk barang-barang curah)
Bale capacity ( ruang muat untuk barang dalam kantong/bags)
2.7 PARA PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PERJANJIAN CARTER
KAPAL
Para pihak dalam suatu perjanjian disebut subjek, yaitu siapa siapa yang terlibat
dengan diadakannya perjanjian subjek harus mampu atau wenang untuk melakukan perbuatan
hokum yang ditetapkan oleh UU.Dengan demikian, disamping manusia perorangan, badan
hukum juga dapat bertindak dalam hokum dan mempunyai hak hak, kewajiban dan
perhubungan hokum terhadap orang lain arau badan lain.Artinya badan hukum adalah turut
serta dalam pergaulan hidup masyarakat yang meliputi perbuatan pembeli.
Sehubungan dengan itu, dalam perjanjian carter kapal di kota jambi, para pihak yang
terikat di adakannya perjanjian tersebut adalah pihak tercarter (shipowners) suatu puak yang
mencarterkan kapal, yang dalam prakteknya pihak tercarter ini adalah perusahaan pelayaran
disatu pihak denga pihak pencarter selaku pihak pemakai jasa angkutan.
Disamping itu, didalam perjanjian carter kapal yang diadakan antara pihak tercarter
denga pencarter (pemakai jasa angkutan) terdapat pula beberapa orang yang bukan
merupakan pihak dalam perjanjian, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting untuk
memulai mengadakan perjanjian carter kapal. Orang orang ini disebut dengan pihak
perantara atau wakil masing masing pihak tercarter maupun dari pihak pencarter.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dalam perjanjian carter kapal
di kenal para pihak dalam perjanjian yang terdiri dari unsur unsur
tersebut adalah :

Pihak Tercarter (shipowners atau perusahaan pelayaran)
Pihak tercarter adalah pihak yang menyediakan kapal beserta perlengkapan dan
pelautnya yang akan di gunakan oleh pihak pencarter untuk kepentingannya dalam
perjanjian kerja laut.
Mengenai pelaut yang disediakan pihak tercarter masih tetap merupakan bawahan
pihak tercarter, yang mana mereka mengikatkan diri pada pihak tercarter
berdasakan perjanjian kerja laut.
Pihak Pencarter (Charterers atau pemakai jasa angkutan)
Pihak pencarter adalah piahk yang menggunakan penyediaan kapal untuk
kepentingan dalam pelayaran dilaut sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati
sebelumnya. Pihak pencarter dapat berupa perorangan,badan hokum seperti
Perseroan Terbatas (PT), Comaditer Veneschap (CV) dan lain lain.
18.


Selain itu juga pihak pencarter dapat berupa perusahaan pelayaran, yang dalam
menjalankan usaha pengangkutan laut mengalami kekurangan sarana kapal. Untuk
menutupi kekurangan tersebut maka pihak perusahaan pelayaran tersebut
mencarter kapal dari perusahaan lain.
Perantara atau wakil wakil dari masing masing pihak
Perantara atau wakil dari masing masing pihak adalah perantara dari pihak
adalah perantara dari pihak tercarter (shipowners atau perusahaan pelayaran)
maupun dari pihak pencarter.
Adanya pihak perantara atau wakil wakil dari masing masing pihak dalam
perjanjian carter kapal ini dikarenakan para pihak, baik pihak pencarter dan
tercarter tidak dapat berlangsung untuk melaksanakan tugasnya yang berhubungan
dengan carter kapal, sehingga bagi pihak pencarter.

2.8 BERAKHIRNYA PERJANJIAN CARTER KAPAL
Selain itu pihak perjanjian carter juga dapat berakhir pada saat tertentu yang disebabkan oleh
sesuatu hal di luar apa yang telah di janjikan bersama. Berkenaan dengan ini, pasal 462
sampai dengan pasal 465 kitab UU Hukum Dagang menentukan mengenai berakhirnya
perjanjian carter kapal, yaitu :
Perjanjian carter kapal berakhir, bila kapalnya musnah (Pasal 462 ayat (1))
Bila kapal itu hilang, perjanjian carter kapal berakhir pada saat penerimaan kabar
terakhir mengenai kapal yang bersangkutan (Pasal 462 ayat (2))
bila kapalnya tidak dapat di pakai akibat adanya kerusakan tidak di lengkapi
secara bail, tidak di lengkapi dengan awak kapal yang cukup, maka selama kapal
itu tidak dipakai, uang carter tidak perlu di bayar (Pasal 462 ayat (2))
Apabila uang carter tidak di bayar pada waktu yang telah ditentukan, maka
tercarter dapat menghentikan perjanjian carter itu dengan lebih dahulu
memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pencarter (Pasal 463)
Apabila karena sesuatu tindakan atasan atau karena pecahnya perang, perjanjian
carter menjadi terhalang pelakanaanya dan belum dapat ditentukan kapan
perjanjian dapat dilaksanakan, maka baik pencarter dan tercarter dapat mengakhiri
perjanjian carter itu dengan cara memberitahukan masing masing kepada
lawannya. Yang di maksud Pada (Pasal 464)
Apabila kapalnya sedang ada di tengah lautan, memuat barang barang atau
orang orang dalam hal sebagaimana di maksud dalam huruf 5 tersebut di atas,
maka kapal di wajibkan menuju kepelabuhan terdekat dan aman (Pasal 465)
meskipun begitu, bila terjadi hal seperti di maksudkan dalam pasal 463 dan 464,
sedangkan kapal dalam keadaan memuat barang barang atau penumpang, maka uang carter
tersebut harus di bayar sampai dengan hari di bongkarnya muatan atau diturunkan
penumpangnya tersebut.


19.


BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
Tentang kemungkinan bahwa dalam perjanjian carter kapal itu dapat di adakan oleh
masing masing pihak yang merupakan perwakilan dengan izin masing masing pihak, baik
izin dari pihak tercarter maupun izin dari pihak pencarter. Dapat ditemui dalam pasal 455
Kitab UU Hukum Dagang, yang menyebutkan Barang siapa mengadakan perjanjian kapal
untuk orang lain, bagaimanapun ia terhadap pihak yang lain terikat karenanya, kecuali
bilamana ia pada pembuatan perjanjian berbuat dalam batas kuasanya dan menyebutkan
pemberi kuasanya.
Berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam pasal 455 Kitab Undang undang Hukum
dagang tersebut dapatlah diambil kesimpulan bahwa perantara atau wakil wakil dan masing
masing pihak dalam perjanjian carter kapal adalah bertindak hnya sebagai perantara atau
wakil pihak dalam perjanjian carter kapal.Terhadap semua perantara atau wakil wakil yang
bekerja untuk masing masing pihak, mereka memperoleh komisi dari masing masing
pihak yang diwakilinya setelah mereka menyelesaikan tugas tugasnya.
3.2 SARAN
Dalam menyusun makalah ini saya menyadari kekurangan saya tentang Charter Party,
untuk itu saya minta saran pembaca untuk melengkapi atau menyempurnakan makalah yang
saya buat ini.
Semoga makalah ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca
tentang Charter Party. Terimakasih.





















20.


DAFTAR PUSTAKA

http://mochammadhasbi93.blogspot.com
http://ikarnedi.blogspot.com/2012/11/charter
http://suhirnoo.blogspot.com/2012/09/jenis-jenis-perjanjian-charter.html
http://www.maritimeworld.web.id/2013/11/Charter-Party-Dan-Standar-Perjanjian-Penyewaan-
Kapal.html
http://www.scribd.com/doc/45156448/Bab-II-Charter-Party
http://www.indonesianship.com/ship-chartering.
http://www.scribd.com/doc/51295993/KATA-PENGANTAR

http://fh.unpad.ac.id/repo/2013/01/tanggung-jawab-para-pihak-berdasarkan-perjanjian-carter-
dalam-hal-terjadinya-kerugian-yang-ditimbulkan-oleh-deviasi-yang-dilakukan-nahkoda-
kapal-dikaitkan-dengan-kitab-undang-undang-hukum-dagang-dan-t/