Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ILMU KEPENDUDUKAN DAN TEKNIK ANALISANYA

MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

NAMA : MARIA DELLA STRADA BALUN


NIM

:1207011012

SEMESTER : III A
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penduduk adalah semua orang yang menempati suatu wilayah hukum tertentu dan waktu
tertentu, sehingga kita mengenal istilah penduduk tetap (penduduk yang berada dalam suatu
wilayah dalam waktu lama) dan penduduk tidak tetap (penduduk yang berada dalam suatu
wilayah untuk sementara waktu). Sedangkan Warga Negara Indonesia adalah semua orang
yang tinggal di wilayah negara Republik Indonesia, baik penduduk asli maupun keturunan
asing yang telah disyahkan oleh undang-undang sebagai warga negara Indonesia.
Setiap Negera pasti memiliki masalah kependudukan. Masalah kependudukan yang
dihadapi suatu negara berbeda dengan negara yang dihadapi negara lain. Indonesia adalah
salah satu diantaranya. Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia memiliki
masalah-masalah kependudukan yang cukup serius dan harus segera diatasi.
Masalah ini datang sebagai akibat dari pertambahan Penduduk serta Pembangunan. selain
jumlah penduduknya yang besar, luasnya negara kepulauan dan tidak meratanya penduduk
membuat Indonesia semakin banyak mengalami permasalahan terkait dengan hal
kependudukan.
Tidak hanya itu, faktor geografi, tingkat migrasi, struktur kependudukan di Indonesia juga
membuat masalah kependudukan semakin kompleks dan juga menjadi hal yang perlu
mendapatkan perhatian khusus guna kepentingan pembangunan manusia Indonesia.
Pembangunan yang terjadi antara seperti pembangunan kesehatan dan pembangunan
ekonomi. Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari pembangunan sumber
daya manusia untuk mencapai tujuan Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II), yaitu
mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir batin. Sementara
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan
perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan
perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu Negara.
Pembangunan ekonomi sangan erat dengan masalah kesehatan karena pembangunan
ekonomi tidak akan berjalan dengan lancar bila manusianya tidak sehat dan sakit-sakitan.
Begitu pula dengan Pertumbuhan penduduk.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meninjau lebih lanjut mengenai masalah-masalah
kependudukan yang terjadi di Indonesia beserta kaitannya dengan pembangunan di bidang
lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1

Apa sajakah masalah kependudukan yang dialami Indonesia?

1.2.2

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah kependudukan tersebut?

1.2.3

Apakah Masalah tersebut mempunyai dampak terhadap derajat Kesehatan?

1.2.4

Bagaimana solusi dari masalah kependudukan tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1

Untuk mengetahui tentang Masalah kependudukan di Indonesia

1.3.2

Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah kependudukan tersebut

1.3.3

Untuk mengetahui tentang dampak masalah kependudukan terhadap derajat kesehatan

1.3.4

Untuk mengetahui solusi dari masalah kependudukan tersebut

1.4 Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode kepustakaan dan browsing
internet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Masalah Kependudukan Di Indonesia

Kemajuan suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia
(SDM), bukan oleh melimpahnya sumber daya alam (SDA) Negara tersebut. Jumlah
penduduk yang besar akan bermanfaat jika kualitasnya tinggi. Sebaliknya, jika kualitasnya
rendah, maka jumlah penduduk yang besar hanya akan menjadi beban bagi pembangunan.
Kependudukan di Indonesia menjadi akar permasalahan bangsa kita saat ini. kemiskinan,
pengangguran dan SDM yang masih rendah merupakan masalah yang terus dialami oleh
bangsa kita.
Situasi kependudukan Indonesia saat ini dinilai masih kurang menguntungkan, baik yang
berkaitan dengan kuantitas, kualitas, administrasi kependudukan, maupun mobilitas atau
persebarannya.
Beberapa masalah yang Nampak jelas dari padatnya penduduk di negera kita ini adalah
kemiskinan, masalah kesehatan, masalah pengangguran maupun masalah di bidang
pendidikan.

2.1.1

masalah kemiskinan
Pada umumya mereka tidak memiliki faktor produksi seperti tanah modal ataupun
keterampilan sehingga kemampuan untuk memperoleh pendapatan menjadi terbatas.
Disamping itu mereka juga tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset
produksi dengan kekuatan sendiri ditambah lagi dengan tingkat pendidikan rendah sehingga
waktu mereka tersita untuk mencari nafkah dan mendapatkan pendapatan penghasilan serta
mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak didukung oleh keterampilan yang
memadai.

2.1.2

masalah kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah
upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara
sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan
mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak
mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atauperusahaan di bidang pemeliharaan
kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek.
Golongan masyarakat yang dianggap teranaktirikan dalam hal jaminan kesehatan
adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan,
masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja
terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan
itu sendiri.

2.1.3

masalah pengangguran
Di dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia hendaknya bekerja manusia yang
sudah pantas bekerja di sebut dengan tenaga kerja. Tenaga kerja yaitu penduduk dalam usia
kerja yang siap melakukan pekerjaan, antara lain mereka yang sudah bekerja, mereka yang
sedang mencari pekerjaan, mereka yang bersekolah, dan mereka yang mengurus rumah
tangga.
Angkatan kerja adalah mereka yang mempunyai pekerjaan, baik sedang bekerja
maupun yang sementara tidak sedang bekerja karena suatu sebab (petani yang menunggu

panen,karyawan yang sedang sakit,dsb). Sedangkan yang dimaksud dengan usia pekerja
adalah tingkat umur seseorang yang diharapkan dapat bekerja dan memperoleh pendapatan.
Di Indonesia kisaran usia kerja adalah antara 10-64 tahun. Kemudian yang disebut
sebagai pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama
sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang
yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
Menurut data Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk usia 10-24 tahun
sebanyak 63,4 juta jiwa atau 26,6% sedangkan usia 0-9 tahun sebanyak 45,9 juta jiwa atau
sebesar 19,3 %. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang
baik, serta tidak memiliki keterampilan dan kompetensi memadai dan ketersediaan lapangan
pekerjaan, maka jumlah usia produktif yang besar tersebut tidak akan berguna dan justru akan
menjadi beban bagi negara karena tidak dapat diserap lapangan pekerjaan

Kepadatan penduduk di Indonesia merupakan sumber dari berbagai permasalahan yang


dialami bangsa kita selama ini. Kemiskinan yang besar, pengangguran dan sumber daya
manusia yang rendah merupakan hal yang tidak lepas dari negeri ini
Dalam menanggapi hal ini ,ada cita-cita besar yang ingin diraih oleh pemerintah dalam
hal pengendalian Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) hingga akhir tahun 2014. Cita-cita
besar yang dimaksud adalah terwujudnya Penduduk Tumbuh Seimbang yang ditandai
dengan Total Fertility Rate (TFR) 2,1 dan Net Reproduction Rate (NRR) =1.

2.2 Faktor-faktor penyebab masalah kependudukan

2.2.1

Besarnya Jumlah Penduduk (Over Population)


penduduk Indonesia terbilang sangat besar.Menurut Sensus Penduduk (SP) 2010,
jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa. Angka ini menduduki ranking ke
empat negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia setelah China (1,3 milyar jiwa),
India (998,1 juta jiwa) dan Amerika Serikat (276,2 juta jiwa).

Selain itu, masalah yang muncul terkait dengan jumlah penduduk yang besar adalah
dalam penyedian lapangan pekerjaan. Kebutuhan akan bahan pokok menuntut orang untuk
berkerja dan encari nafkah. Namun, penyedia lapangan kerja sangatlah minim. Yang menjadi
masalah adalah penduduk lebih senang untuk menggantungkan diri terhadap pekerjaan dan
cenderung mencari pekerjaan daripada membuka lapangan pekerjaan. Hal ini menyebabkan
masalah baru yaitu pengangguran.
Apabila jumlah pengangguran ini tinggi, maka rasio ketergantungan tinggi sehingga
negara memiliki tanggungan yang besar untuk penduduknya yang dapat menghambat
pembangunan dan menyebabkan tingkat kemiskinan menjadi tinggi.
Jumlah penduduk yang besar memiliki andil dalam berbagai permasalahan
lingkungan dan aspek lainnya. Jumlah penduduk yang besar tentunya membutuhkan ruang
yang lebih luas dan juga kebutuhan yang lebih banyak namun lahan dan juga wilayah
Indonesia tidaklah bertambah.
Oleh karena itu, perencanaan yang matang sangatlah diperlukan guna penentuan
kebijakan terkait dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia.

2.2.2

Tingkat Pendidikan
Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan
penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program
beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya.
Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini
tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.

Beberapa faktor yang

menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia sebagai berikut :


a.

Rendahnya kualitas sarana fisik

b. Rendahnya kualitas guru


c.

Rendahnya kesejahteraan guru

d. Rendahnya prestasi siswa


e.

Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan

f.

Mahalnya biaya pendidikan.

g.

Rendahnya pendapatan per kapita penduduk, menyebabkan orang tua tidak mampu
membiayai anaknya sekolah, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah
sebelum tamat.

h. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti kelas,
guru, dan buku-buku pelajaran.

2.2.3

Persebaran Penduduk Tidak Merata


Banyaknya masyarakat Indonesia yang bermigrasi ke kota-kota besar mengakibatkan
terjadinya kepadatan di kota-kota besar. Namun fasilitas dan perekonomian di daerah
perkotaan semakin meningkat. Sedangkan pada daerah yang ditinggalkan penduduknya tidak
mengalami kemajuan sama sekali sehingga terjadi ketidak seimbangan antara pertumbuhan
daerah perkotaan dan pedesaan.
Penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar adalah pulau Sumatera yang
luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk,
Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya
28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh
7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan
Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk tiap-tiap
daerah atau negara sebagai berikut:

a.

Faktor Fisiografis, meliputi keadaan fisik pulau tersebut, misal keadaan tanah, iklim dan
cuaca.

b. Faktor Biologis, meliputi keanekaragaman makhluk hidup yang ada.


c.

2.2.4

Faktor Kebudayaan dan Teknologi, meliputi kemajuan teknologi yang ada.

Rendahnya Partisipasi Pria Dalam Ber-KB


Partisipasi pria adalah tanggung jawab pria dalam keterlibatan dan kesertaan ber KB
dan Kesehatan Reproduksi, serta prilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya,
pasangannya dan keluarganya (BKKBN, 2000). Bentuk nyata dari partisipasi pria tersebut
adalah: sebagai peserta KB, mendukung dan memutuskan bersama istri dalam penggunaan
kontrasepsi, sebagai motivator KB merencanakan jumlah anak dalam keluarganya (BKKBN,
2003).

Berdasarkan pengambilan data peserta aktif pada bulan januari tahun 2010
menunjukan bahwa prevelensi KB di Indonesia adalah 75.8 % . Diantaranya akseptor wanita
sebanyak (75.4%) dan akseptor pria sebanyak (1.6%)(BKKBN, 2011).
Rendahnya partisipasi pria atau suami dalam KB dan kesehatan reproduksi
disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu:
a.

faktor dukungan, baik politis, sosial budaya, maupun keluarga yang masih rendah sebagai
akibat rendah atau kurangnya pengetahuan pria atau suami serta lingkungan sosial budaya
yang menganggap KB dan kesehatan reproduksi merupakan urusan dan tanggung jawab
perempuan.

b.

faktor akses, baik akses informasi, maupun akses pelayanan. Dilihat dari akses informasi,
materi informasi pria masih sangat terbatas, demikian halnya dengan kesempatan pria atau
suami yang masih kurang dalam mendapatkan informasi mengenai KB dan kesehatan
reproduksi. Keterbatasan juga dilihat dari sisi pelayanan dimana sarana atau tempat
pelayanan yang dapat mengakomodasikan kebutuhan KB dan kesehatan reproduksi pria atau
suami masih sangat terbatas, sementara jenis pelayanan kesehatan reproduksi untuk pria atau
suami belum tersedia pada semua tempat pelayanan dan alat kontrasepsi untuk suami hanya
terbatas pada kondom dan vasektomi (Iman, 2008).

2.2.5

Lemahnya Institusi Daerah Dalam Pelaksanaan Program KB


Kerumitan makin terbayang karena upaya untuk mengatasi simpang siur data dan
kinerja program KB untuk menahan laju pertumbuhan penduduk juga terganggu oleh
masalah institusi, terutama di kabupaten/kota. Belum lagi kalau kependudukan bukan hanya
soal jumlah, tetapi juga soal menjaga kualitasnya.
Dimulai sejak awal era reformasi, program KB seakan mati suri. Stagnasi mulai
terjadi sejak era otonomi daerah dicanangkan tahun 1999. Pada umumnya daerah tidak
menempatkan KB sebagai program prioritas.
Bahkan masih banyak kabupaten/kota yang tidak memiliki badan atau lembaga yang
mengurus KB. Dari 497 kabupaten/kota di Indonesia, baru 385 yang mempunyai institusi
untuk mengurus KB. Ironisnya, dari 385 kabupaten/kota tersebut, baru 7 persen yang

mempunyai institusi yang khusus menangani KB, sedangkan 93 persen digabung dengan
tugas-tugas lain.
Mengecilnya komitmen pemda, khususnya pemerintah kabupaten/kota pada awal
pelaksanaan otonomi daerah antara lain karena pertimbangan pembiayaan. KB yang banyak
dinilai sebagai urusan yang lebih banyak menyedot anggaran, kemudian diciutkan,
digabungkan dengan urusan lain.
Kewajiban pemerintah provinsi, maupun kebupaten/kota mengurus program KB baru
ditegaskan pada Peraturan Pemerintah 38/2007. PP ini ternyata hanya melahirkan berbagai
institusi KB yang ala kadarnya. Kinerja program tidak membaik, setidaknya jika dilihat dari
hasil SP 2010.

2.2.6

Database Serta Administrasi Kependudukan


Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan,
yang termasuk dalam Peristiwa Kependudukan antara lain perubahan alamat, pindah datang
untuk menetap, tinggal terbatas atau tinggal sementara, serta perubahan status Orang Asing
Tinggal Terbatas menjadi tinggal tetap.
Sementara yang dinamakan Peristiwa Penting adalah kelahiran, lahir mati, kematian,
perkawinan, dan perceraian, termasuk pengangkatan, pengakuan, dan pengesahan anak, serta
perubahan status kewarganegaraan, ganti nama dan Peristiwa Penting lainnya yang dialami
oleh seseorang merupakan kejadian yang harus dilaporkan karena membawa implikasi
perubahan data identitas atau surat keterangan kependudukan.
Berikut merupakan masalah dari database serta administrasi kependudukan :

a.

Masalah Akta Nikah


Masih banyak warga DKI Jakarta yang tidak memiliki akta nikah sama sekali karena
kawin di bawah tangan atau kawin siri.
Masih banyak ditemukan kasus dimana akta nikah catatan sipil tidak dapat diterbitkan
gara-gara salah satu pasangan suami istri itu tidak memiliki akta lahir saat menikah.

Apakah ada kebijakan dari Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk mengatasi
masalah tersebut, misalnya cukup dengan menunjukkan ijasah sekolah atau dengan cara lain
yang bisa digunakan dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum untuk mengatasi
masalah tersebut mengingat masih ada warga yang tidak memiliki ijasah sekolah.
b. Masalah KTP dan KK
Masih banyak warga DKI Jakarta yang belum memiliki akta kelahiran karena tidak
memiliki KTP, Kartu Keluarga, akta nikah dari KUA atau Catatan Sipil dan surat keterangan
lahir anak dari dokter atau bidan.
Kasus lain, salah satu orang tua kabur atau meninggalkan istri atausuami dan anak tanpa
kabar bertahun-tahun dengan membawa KTP dan Akta nikah sehingga istri atau suami sulit
untuk membuatkan akta kelahiran untuk anaknya.

2.2.7

Rendahnya Usia Kawin Pertama


Usia perkawinan pertama wanita erat hubungannya dengan fertilitas. Karena bila
umur perkawinan pertamanya semakin muda semaki mendekati umur haid pertama, maka
semakin lama masa reproduksinya. Hal itu semakin panjang resiko seorang wanita untuk
hamil dan melahirkan.

Data Riskesdas 2010 menunjukan bahwa prevalensi umur perkawinan pertama antara
15-19 tahun sebanyak 41,9 persen. Menurut SDKI Tahun 2007, 17 persen wanita yang saat
ini berumur 45-49 tahun menikah pada umur 15 tahun, sedangkan proporsi wanita yang
menikah pada umur 15 tahun berkurang dari 9 persen untuk umur 30-34 tahun menjadi 4
persen untuk wanita umur 20-24 tahun. Menurut data Susenas Tahun 2010, secara nasional
rata-rata usia kawin pertama di Indonesia 19.70 tahun, rata-rata usia kawin didaerah
perkotaan 20.53 tahun dan di daerah perdesaan 18.94 tahun, masih terdapat beberapa propinsi
rata-rata umur kawin pertama perempuan dibawah angka nasional.

2.2.8

Tingkat Pendapatan
Pendapatan penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi masih
tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Pendapatan Per Kapita Beberapa Negara Tahun 2010


No.

Negara

Pendapatan Per Kapita (US $)

1.

Amerika Serikat

47.140

2.

Australia

43.740

3.

Jepang

42.150

4.

Malaysia

7.900

5.

Singapura

40.920

6.

Indonesia

2.580

7.

Thailand

4.210

8.

Filipina

2.050

9.

Inggris

38.540

10.

Korea Selatan

19.890

Dengan pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu
memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai kesejahteraan.

2.3 Dampak Masalah Kependudukan Terhadap Derajat Kesehatan


Derajat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan
pembangunan. Derajat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian
bayi dan usia harapan hidup penduduknya. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi
dan angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju.
Faktor-faktor yang dapat menggambarkan masih rendahnya tingkat kesehatan di
Indonesia adalah:
a.

Banyaknya lingkungan yang kurang sehat.

b. Penyakit menular sering berjangkit.


c.

Gejala kekurangan gizi sering dialami penduduk.

d. Angka kematian bayi tahun 1980 sebesar 108 per 1000 bayi dan tahun 1990 sebesar 71 per
1000 kelahiran bayi.

2.4 Solusi terhadap masalah kependudukan

2.4.1

Peningkatan Pendapat per Kapita


upaya untuk menaikkan pendapatan perkapita, pemerintah melakukan usaha, antara
lain:

a.

Meningkatkan pengolahan dan pengelolaan sumber daya alam yang ada.

b.

Meningkatkan kemampuan bidang teknologi agar mampu mengolah sendiri sumber daya
alam yang dimiliki bangsa Indonesia.

c.

Memperkecil pertambahan penduduk diantaranya dengan penggalakan program KB dan


peningkatan pendidikan.

d.

Memperbanyak hasil produksi baik produksi pertanian, pertambangan, perindustrian,


perdagangan maupun fasilitas jasa (pelayanan)

e.

Memperluas lapangan kerja agar jumlah pengangguran tiap tahun selalu berkurang.

2.4.2

Bidang Pendidikan
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia yaitu:

e.

Menambah jumlah sekolah dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.

f.

Menambah jumlah guru (tenaga kependidikan) di semua jenjang pendidikan.

g. Pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang telah dimulai tahun ajaran
1994/1995.
h.

Pemberian bea siswa kepada pelajar dari keluarga tidak mampu tetapi berprestasi di
sekolahnya.

i.

Membangun perpustakaan dan laboratorium di sekolah-sekolah.

j.

Menambah sarana pendidikan seperti alat ketrampilan dan olah raga.

k. Meningkatkan pengetahuan para pendidik (guru/dosen) dengan penataran dan pelatihan.


l.

Penyempurnaan kurikulum sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

m. Menggalakkan partisipasi pihak swasta untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan


ketrampilan.

2.4.3

Memberikan Pendidikan Kependudukan Kepada Remaja


Dengan pendidikan kependudukan dipastikan para remaja akan memiliki 4 (empat)
sikap peduli, yakni:

a.

Peduli terhadap manusia dan kebutuhannya

b. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan ekonominya


c.

Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan sosial, budaya dan agama

d. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan lingkungan hidup.

2.4.4

Bidang Kesehatan
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk Indonesia
yaitu:

a.
b.

Melaksanakan program perbaikan gizi.


Perbaikan lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat penduduk, serta
melengkapi sarana dan prasarana kesehatan.

c.

Penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan, dan perawat.

d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.


e.

Pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.

f.

Pemberian penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

g. Penyediaan air bersih.


h. Pembentukan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)

2.4.5

Pemerataan penyebaran Penduduk


Untuk mengatasi masalah pemerataan penduduk, program pemerintah yang terkenal
dalam upaya mengatasi masalah tersebut adalah transmigrasi, yaitu pemindahan penduduk
dari daerah yang padat penduduk ke daerah yang belum padat penduduk.
Program pemerintah tersebut dilaksanakan sekitar tahun 1980 -1990 an. Tujuan
pelaksanaan transmigrasi yaitu:
a.

Meratakan persebaran penduduk di Indonesia.

b.

Peningkatan taraf hidup transmigran.

c.

Pengolahan sumber daya alam.

d.

Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

e.

Menyediakan lapangan kerja bagi transmigran.

f.

Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

g.

Meningkatkan pertahanan dan kemananan wilayah Indonesia.

Beberapa solusi lain upaya lain yang dapat dilakukan adalah:


a.

Pengadaan rumah vertikal atau rusun

b.

Mengatur jarak kelahiran

c.

Menambah pengetahuan tentang kependudukan

d.

Meningkatkan usaha ekonomi keluarga

e.

Para transmigran yang sukses bisa kembali membangun daerah asalnya

2.4.6

Mengatasi usia perkawinan muda

Salah satu program kependudukan yang dapat mengendalikan jumlah penduduk dan
langsung sasarannya terhadap perkawinan pertama pada perempuan adalah program
Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).
Program PUP ini adalah upaya untuk meningkatkan usia perkawinan pertama,
sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan usia 20 tahun bagi wanita dan 25
tahun bagi pria.
Program ini bisa terlaksana dengan baik apabila semua pihak yang terkait
mendukung. Salah satu kendala dalam pelaksanaan program PUP di lapangan adalah belum
direvisinya Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 yang membolehkan perkawinan pada
usia 16 tahun untuk wanita dan 18 tahun untuk pria.

2.4.7

partisipasi pria dalam ber-KB


Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kurangnya partisipasi pria
dalam ber-KB antara lain:

a.

Perlunya peningkatan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang partisipasi pria
dalam KB kepada pasangan usia subur sehingga mereka bisa memahami bahwa bukan hanya
perempuan saja yang ber-KB tapi pria juga penting untuk ber-KB.

b.

Perlunya peningkatan KIE melalui paguyuban atau kelompok KB pria tentang alat
kontrasepsi pria yaitu kondom untuk meningkatkan pengetahuan pria tentang alat kontrasepsi
kondom.

c.

Perlunya peningkatan KIE kepada calon pengantin pria dan wanita tentang partisipasi pria
dalam KB.

d. Perlunya bantuan biaya pelayanan KB dan penyelenggaraan safari KB selain alat kontrasepsi
vasektomi atau MOP.
e.

Perlunya peningkatan pemberian kondom gratis untuk pasangan usia subur.

f.

Perlunya pengadaan metode kontrasepsi baru bagi pria selain kondom dan vasektomi.

g.

Perlunya peningkatan KIE mengenai partisipasi pria dalam KB melalui media elektronik
seperti televisi, radio dan media massa sepeti majalah dan Koran.

2.4.8

Database dan administrasi kependudukan


Solusi dari masalah database dan administrasi kependudukan antara lain dengan
menggunakan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) bertujuan untuk
menciptakan sistem pengenal tunggal berupa Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang akan
menjadi identitas tunggal penduduk.
NIK menjadi prasyarat utama bagi database kependudukan nasional yang berbasis
registrasi dan menjadi instrumen dan validasi jati diri seseorang yang dicantumkan dalam
setiap dokumen kependudukan. DPR-RI mendukung langkah pemerintah menerbitkan single
identity number (SIN) yang akan menjadi nomor identitas tunggal bagi setiap penduduk di
seluruh Indonesia. Dengan adanya KTP nasional berbasis NIK, tidak akan ada seorang warga
yang mempunyai KTP lebih dari satu dengan NIK yang berbeda.
Hal ini dikarenakan adanya proses otentifikasi yang berjenjang, mulai dari kelurahan
hingga pusat. Selain itu, sanksi tegas akan diberikan kepada warga yang memiliki KTP lebih
dari satu.

DAFTAR PUSTAKA

Rachmaningtyas,Ayu. 2013. Angka Kematian Ibu Melonjak. Diakses pada tanggal 28


Desember 2013 dari http://nasional.sindonews.com

Ziaul,Muhammad. 2012. Masalah Kependudukan Di Indonesia. Diakses pada tanggal 28


Desember 2013 dari http://ziaulmuhammad.blogspot.com

BKKBN. 2011. Perkawinan Muda di Kalangan Perempuan: Mengapa?. Jakarta.

Mutia. 2013. Masalah Kependudukan Dan Upaya Penanggulangan. Diakses pada tanggal 28
Desember 2013 dari http://mutiahand.blogspot.com

Anwar ,Andi. 2013. Kondisi Penduduk Indonesia .Diakses pada tanggal 28 Desember 2013
dari http://gesco03.blogspot.com

Akel . 2013. Permasalahan Penduduk dan Dampaknya. Diakses pada tanggal 28 Desember
2013 dari http://ak3lvan.blogspot.com