Anda di halaman 1dari 6

RESUSITASI JANTUNG PARU

RESUSITASI JANTUNG PARU


PENDAHULUAN
Setiap menit terdapat sekitar 4-6 orang meninggal di dunia karena serangan jantung. Dan sangat
disayangkan jika seseorang tiba-tiba meninggal, yang tadinya kelihatan segar bugar, dengan kata
lain jantungnya sangat sehat untuk tidak lagi berdenyut. Jantung sekonyong-konyong
berhenti berdenyut (cardiac arrest) serta paru-paru berhenti bernapas (apnoe), atau seseorang tibatiba pingsan atau tidak sadarkan diri, seharusnya kita yang berada disekitarnya segera memberikan
bantuan sesuai standar prosedur medis yang berlaku, sehingga nyawa yang bersangkutan dapat
tertolong dalam artian sembuh sempurna seperti sediakala. Biasanya jika seseorang tiba-tiba
pingsan, suasana jadi panik, apalagi jika yang pingsan itu orang penting, maka banyak orang akan
beramai-ramai memberikan pertolongan dengan cara masing-masing, ada yang berteriak menangis
sambil memeluk korban sehingga menghalangi jalan napas, ada yang memijat ibu jari kaki sekuat
tenaga sambil komat-kamit, ada yang berdoa menurut agama masing-masing, ada yang memberi
minum, dan yang lebih rumit lagi sebagian besar berkerumun disekitar korban sambil berdesakan
hanya sekedar ingin tahu apa kejadian sebenarnya. Padahal jika lebih dalam 5 (lima) menit aliran
darah keotak terhenti maka akan terjadi kerusakan permanen di otak. Dan keberhasilan Bantuan
hidup dasar sangat menentukan keberhasilan batuan hidup lanjut (Advance Cardiac Life
Support/ACLS). Seharusnya hanya ada satu komando. Timbul pertanyaan siapa yang menjadi
komandan ?,, dalam hal ini yang menjadi komandan adalah mereka yang pernah mendapatkan
pelatihan bantuan hidup dasar (Basic Life Support/BLS) dan bantuan hidup lanjut (Advance
Cardiac Life Support/ACLS).Resusitasi jantung paru (RJP), atau juga dikenal dengan cardio
pulmonier resusitation (CPR), merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan.
Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas, tetapi masih
hidup.DEFINISIResusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan
kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan
paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).Sedangkan menurut Rilantono, dkk (1999)
resusitasi mengandung arti harfiah menghidupkan kembali, yaitu dimaksudkan usaha-usaha
yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian
biologis. Resusitasi jantung paru terdiri atas dua komponen utama yakni: bantuan hidup dasar
(BHD) dan bantuan hidup lanjut (BHL). Selanjutnya adalah perawatan pasca resusitasi.Bantuan
hidup dasar adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas (Airway) tetap terbuka,
menunjang pernafasan dan sirkulasi darah. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat
keadaan henti jantung atau henti nafas dan segera memberikan bantuan ventilasi dan sirkulasi.
Usaha BHD ini bertujuan dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke otak, jantung dan
alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan (bantuan hidup
lanjut).TUJUANTindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera
sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Tindakan resusitasi ini
dimulai dengan penilaian secara tepat keadaan dan kesadaran penderita kemudian dilanjutkan
dengan pemberian bantuan hidup dasar (basic life support) yang bertujuan untuk oksigenasi
darurat. (AHA, 2003).Tujuan tahap II (advance life support) adalah untuk memulai kembali
sirkulasi yang spontan, sedangkan tujuan tahap III(prolonged life support) adalah pengelolaan
intensif pasca resusitasi. Hasil akhir dari tindakan resusitasi akan sangat tergantung pada

kecepatan dan ketepatan penolong pada tahap I dalam memberikan bantuan hidup dasar.Tujuan
utama resusitasi kardiopulmoner yaitu melindungi otak secara manual dari kekurangan oksigen,
lebih baik terjadi sirkulasi walaupun dengan darah hitam daripada tidak sama sekali. Sirkulasi
untuk menjamin oksigenasi yang adekwat sangat diperlukan dengan segera karena sel-sel otak
menjadi lumpuh apabila oksigen ke otak terhenti selama 8 20 detik dan akan mati apabila
oksigen terhenti selama 3 5 menit (Tjokronegoro, 1998). Kerusakan sel-sel otak akan
menimbulkan dampak negatif berupa kecacatan atau bahkan kematian.FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEBERHASILAN RESUSITASIHipoksia yang disebabkan kegawatan
pernafasan akan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan
lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan
asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu
dan Monintja, 1997). Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan
apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.Depresi nafas yang
dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen
dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah
oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja,
1997).Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat
dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas
dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson
(1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas
menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca
henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.Resusitasi
akan berhasil apabila dilakukan segera setelah kejadian henti jantung atau henti nafas pada saat
kerusakan otak yang menetap (irreversible) belum terjadi. Kerusakan otak yang menetap akan
terjadi apabila kekurangan O2 dalam darah tidak segera dikoreksi atau apabila sirkulasi terhenti
lebih dari 3 5 menit (Tjokronegoro, 1998)Keberhasilan resusitasi tergantung kepada :1.
Keadaan miokardium2. Penyebab terjadinya henti jantung3. Kecepatan dan ketepatan tindakan4.
Mempertahankan penderita di perjalanan ke rumah sakit5. Perawatan khusus di rumah sakit6.
Umur (tetapi tidak terlalu menentukan)
INDIKASI Keadaan henti nafas Keadaan henti jantung
KONTRA INDIKASI Terminal illness Mati secara klinis > 5 menit
PELAKSANAAN
Pelaksanaan RJP berbeda-beda, tergantung pada usia korban. Pelaksanaannya adalah sebagai
berikut: Korban dewasa (lebih dari 8 tahun)Jika penolong hanya 1, maka fase pertama RJP
dikakukan sebanyak 4 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 15 kali tekan jantung dan 2
kali nafas buatan. Setelah fase pertama selesai, korban diperiksa jantung dan nafasnya. Jika
jantung dan nafas masih berhenti, pertolongan dilanjutkan dengan fase kedua yang terdiri dari 8
siklus (4 siklus per menit). Jika pada fase kedua ini jantung dan nafas korban masih berhenti,
maka dilanjutan ke fase ketiga yang terdiri dari 8 siklus, demikian seterusnya.Jika penolongnya 2
orang, maka 1 orang bertugas untuk menekan jantung dan 1 orang lagi memberi nafas buatan.
Fase pertama RJP dilakukan dengan 12 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali
tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Jika korban masih belum bernafas, maka fase-fase
selanjutnya dilakukan sebanyak 24 siklus (12 siklus per menit) Korban anak-anak (1 8
tahun)Untuk anak-anak (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 14

20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali pijat jantung dan sekali nafas buatan.
Yang perlu diperhatikan disini adalah penekanan jantung tidak boleh terlalu dalam, hanya 3 4
cm saja, dan tiupan pada saat pemberian nafas buatan juga tidak boleh terlalu kencang. Korban
bayi (kurang dari 1 tahun)Untuk bayi (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP
dilakukan sebanyak 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1
kali nafas buatan. Untuk bayi yang baru lahir, RJP dilakuakan sebanyak 40 siklus yang tiap
siklusnya terdiri dari 3 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan pada
RPJ pada bayi adalah penekanan jantung dilakukan dengan 2 jari saja (jari tengah dan jari manis)
dengan kedalaman 1,5 2,5 cm dan volume nafas yang diberikan hanya sebanyak
penggembungan pipi penolong saja.Langkah langkah yang harus dilakukan : Penolong
Jangan panik. Bawa korban ketempat yang tenang/aman/nyaman. (hati-hati jika ada
trauma/patah dileher, atau bagian tubuh lainnya. Periksa apakah pasien sadar, dengan
memanggil pasien pak bangun pak; atau bapak ada apa?, sambil menepuk bahu, atau lengan
korban, kalau dia tidak sadar.. maka Minta bantuan orang disekitar untuk menelpon ambulance
atau kendaraan transportasi ke rumah sakit. Kemudian kita melakukan 3 prinsip dasar yang
dikenal dengan istilah ABC yaitu Airway (jalan napas), B. Breathing (napasnya), C.
Circulation( aliran darah atau denyut nadi/denyut jantung).Langkah A. Airway (jalan
napas).Periksa jalan napas korban sebagai berikut : membuka mulut korban, masukkan 2 jari
(biasanya jaritelunjuk dan jari tengah), lihat apakah ada benda asing, darah,(bersihkan), lidah yang
jatuh kebelakang (drop), menutupi jalan napas.Letakkan tangan penolong diatas kening korban
dan tangan yang lain didagu korban , tengadahkan/dongakkan kepala korban (Head tilt chin lift),
jika kita mencurigai adanya patah atau fraktur tulang leher/servikal, maka pakai cara jaw trust, lalu
buka jalan napas.Langkah B. Breathing.(Napas korban).Periksa napas koban selama 5 detik,
paling lama 10 detik dengan cara : Lihat, rasakan dan dengarkan (look-feel-listen). (Letakkan pipi
penolong didepan mulut korban, sambil melihat dan merasakan adanya napas korban yaitu naik
turunnya dada, jika tidak ada napas, atau bernapas tapi tidak adekuat berikan napas buatan dari
mulut penolongkemulut korban (mouth to mouth ventilation), dengan menutup/memencet hidung
korban, sampai terlihat dada korban naik/ekspansi, selama 1 detik( jangan berikan napas terlalu
cepat dan volume terlalu banyak. Pemberian napas tersebut sebanyak 2 kali dengan jarak antara
pemberian napas selama 5 detik.Langkah C. Circulation.Periksa denyut nadi karotis, (sebelah
kanan atau kiri jakun), dengan 2-3 jari selama 5 detik jangan lebih dari10 detik. Jika ada denyut
nadi, maka korban hanya henti napas, maka lanjutkan resusitasi paru, berikan napas mulut ke
mulut sampai 1 menit (12 kali), sampai napas spontan (satu siklus). Jika denyut nadi tidak ada,
maka lakukan kompresi jantung ( resusitasi jantung paru) dengan meletakkan telapak tangan
ditulang dada (sternum) jari-jari tangan kanan saling mengait/mengunci, 2-3 jari diatas tulang
muda(prosesus sipoideus), atau sejajar puting payudara, kedua bahu penolong sejajar, tegaklurus,
sehingga waktu melakukan kompresi disertai bantuan berat badan penolong dan lakukan kompresi
jantung dengan kedalaman 4-5cm sebanyak 30 kali kompresi (dulu 15, sekarang 30 kompresi),
apakah penolong 1 atau 2 orang tetap 30 kali setiap siklus. Hali ini dilakukan sebanyak 4 siklus
(kurang lebih 100 kali kompresi setiap menit. Setelah 4 siklus, cek kembali kesadaran korban,
jalan napas korban, apakah sudah ada napas dan nilai denyut arteri karotis. Setelah 2 menit
sebaiknya penolong atau bagian kompresi digantikan oleh penolong lain untuk menjaga kwalitas
kompresi dan juga kelelahan penolong. Lakukan hal tersebut diatas sambil datangnya ambulance
atau alat AED (automated external defibrillator) untuk selanjutnya dilakukan Resusitasi jantung

paru lanjutan (ACLS/advance cardiac life support).


RJP pada korban dihentikan apabila: Ada penolong yang menggantikan Ada tanda
kehidupan Ada tanda kematian Setelah 30 menit

Defibrilasi dan kardioversi dilakukan dengan menggunakan defibrilator


Defibrilator adalah alat yang dapat digunakan untuk :
1.Pemantauan gambaran irama jantung.
2.Defibrilasi
3.Kardioversi
4.Pacu jantung transkutan (TCP)
Pemantauan gambaran irama jantung
Untuk memantau gambaran irama jantung dapat menggunakan paddle atau
menggunakan elektroda. Syarat pemantauan, dinding dada harus terbuka/letak
elektroda tidak mengganggu tempat untuk meletak paddle jika terapi listrik diperlukan
dan gelombang-gelombang EKG harus jelas sehingga mudah dibedakan antara
gelombang P, QRS, dan T. Umumnya lead II memberikan gambaran irama jantung
yang lebih jelas.
DefibrilasiProsedur defibrilasi :
1.Hidupkan defibrilasi
2.Pilih energi yang diperlukan
3.Pilih paddles (atau lead I, II, III) melalui tombol lead select
4.Oleskan jeli pada paddle
5.Letakan paddle pada apeks dan sternum sesuai petunjuk pada paddle
6.Nilai kembali irama pada monitor apakah masih VF/VT tanpa nadi
7.Tekan tombol pengisi energi (charge) pada paddle apeks atau pada unit defibrilator.
8.Setelah energi yang diharapkan tercapai, berikan aba-aba dengan suara yang jelas
agar tidak ada orang lain yang masih menyentuh pasien, tempat tidur maupun
peralatan lain.
9.Beri tekanan kurang lebih 10-12 kg pada kedua paddle
10.Nilai kembali irama pada monitor, apabila tetap VF/VT tanpa nadi tekan tombol
discharge pada kedua padlle
11.Nilai kembali irama pada monitor apabila masih VF/VT tanpa nadi isi kembali
defibrilator. Apabila gambaran EKG pada monitor meragukan periksa nadi dan
sensor/elektroda EKG
12.Apabila gambaran masihg tetap VF/VT tanpa nadi ulangi tahapan diatas dengan
energi 200 300 Joule dan kemudian 360 Joule jika gambaran EKG tidak berubah
13.Apabila setelah tindakan defibrilasi terakhir (360 Joule) irama masih VF/VT tanpa
nadi lakukan tahapan ACLS berikutnya
Kardioversi
Adalah suatu tindakan pengobatan menggunakan aliran listrik secara asinkron.
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan fibrilasi ventrikel atau takikardi ventrikel

tanpa nadi. Energi yang diperlukan 200, 200-300, 360 Joule (150, 150, 150 Joule
defibrilator bifasik). Peralatan yang diperlukan untuk tindakan defibrilasi meliputi
defibrilator, jeli atau electrode pads dan troli emergensi.
Adalah suatu tindakan pengobatan menggunakan aliran listrik secara sinkron.
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan Takikardi supraventrikel, takikardi
ventrikel nadi teraba. Energi yang diperlukan 100,200.300 dan 360 Joule. (beberapa
penelitian melakukan kardioversi berhasil dengan energi awal 50 Joule pada SVT dan
Flutter atrial). Peralatan yang diperlukan untuk tindakan kardioversi meliputi
defibrilator yang mempunyai modul sinkron, jeli, elektroda EKG, obat-obat
sedasi/analgesi serta troli emergensi.
Prosedur Kardioversi
Prosedur tindakan kardioversi sama dengan prosedur tindakan defibrilasi, hanya yang
membedakannya dalam hal :
1.Siapkan alat-alat resusitasi
2.Bila pasien masih sadar berikan sedasi dengan atau tanpa analgesi
3.Pilih modul sinkron
4.Pilih energi awal 50 joule untuk takikardi supraventrikel atau 100 joule untuk
takikardi ventrikel dan meningkat sesuai dengan respon pasien sampai maksimal 360
joule.
5.Paddle tidak boleh segera diangkat setelah melepaskan muatan agar modul
sinkronisasi tidak terganggu
Pacu jantung transkutan (TCP)
Pacu jantung transkutan biasa disebut juga dengan External Pacing/Non Invasive
Pacing/Transchest Pacing/External Transthoracal Pacing.
Alat ini bersifat sementara sampai Pacu jantung transvenous tersedia atau penyebab
bradikardi teratasi. Indikasi pemasangan alat ini untuk pasien dengan badikardi yang
tidak respon dengan obat-obatan atau dapat dicoba pasien asistol. Peralatan yang
diperlukan untuk tindakan ini yaitu defibrilator yang mempunyai modul untuk pacu
jantung transkutan, adhesive pads, obat sedasi/analgesi.
Prosedur
1.Elektroda atau adhesive pads ditempel pada dinding dada pada posisi standar atau
postero anterior.
2.Tentukan modul pacu jantung yang akan dipakai : demand atau fixed rate
3.Tentukan rate atau frekuensi yang dibutuhkan
4.Tentukan output yang diperlukan (30-200 mV)
5.Berikan analgesi/sedasi
6.Tekan tombol start
Defibrilasi dengan menggunakan AED ( Automatic External Defibrilator )
AED adalah defibrilator yang menggunakan sistem komputer yang dapat menganalisa
irama jantung, mengisis tingkat energi defibrilasi yang sesuai dan dapat memberikan
petunjuk pada penolong dengan menggunakan perintah perintah secara lisan untuk
mengarahkan tindakan. AED dapat memberikan petunjuk visual yang baik untuk
peletakan elektroda, elektroda itu sendiri diberi kode dengan warna warna dan gambar

ilustrasi cara pemasangannya. Petunjuk visual yang timbul berupa cahaya lampu
merah, kuning atau berkedip, lisan (suara yang dikeluarkan AED), dan instruksi
tertulis dari AED untuk menganalisa irama dan kemudian memberikan energi kepada
pasien. Jika defibrilasi tidak berhasil, lanjutkan survei ABCD sekunder (algoritme
VF/VT tanpa nadi) jika alat, obat-obatan dan tenaga tersedia.