Anda di halaman 1dari 49

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK

RSD. MARDI WALUYO KOTA BLITAR

Pembimbing:
dr. Sukardi, Sp.A.
Oleh:
Dede Iskandar, S.Ked.
207.121.0053
KEPANITERAAN KLINIK MADYA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MALANG
2014

Pendahuluan

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi


pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 38C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium
(Pusponegoro, dkk, 2006). Kejang demam terjadi
pada 2-4% anak berumur 6 bulan 5 tahun. Kejang
demam dibagi menjadi kejang demam sederhana dan
kejang demam kompleks (Pusponegoro, dkk, 2006).
Kejang demam sederhana merupakan kejang demam
yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk
umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal.
Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam
(Pusponegoro, dkk, 2006).

Identitas Pasien

Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat
Suku
Tanggal periksa

: An. B
: 3 Tahun
: Laki-laki
: Islam
: Blitar
: Jawa
: 25 Juni 2014

Anamnesa

Keluhan Utama
RPS : (Heteroanamnesa)
Pasien datang ke IGD

: Kejang

Rumah Sakit
Mardi Waluyo Blitar diantar keluarganya
dengan keluhan kejang. Kejang secara
tiba-tiba di rumah. Kejang berlangsung 1
kali dan kurang dari 5 menit. Kejang terjadi
seluruh tubuh, serta mata mendelik ke
atas. Setelah kejang berhenti, pasien
langsung sadar kemudian dibawa ke IGD.
Saat di IGD pasien tidak kejang lagi.

Menurut

ibu pasien, pasien panas


sejak 1 hari yang lalu tetapi tidak
terlalu tinggi, Sejak 4 hari yang lalu
pasien batuk dan pilek. Batuk
dirasakan jarang-jarang, tidak grokgrok dan tidak berdahak. Pilek keluar
cairan encer dan bening. BAB (+)
seperti biasanya dua hari sekali,
warna kuning lembek, BAK (+) lancar
sering biasanya sehari lebih dari 3
kali, nafsu makan menurun sejak
sakit dan minum pasien normal. Mual
(-) muntah (-). Sekitar 1 hari yang
lalu, pasien dibawa ke bidan dan
diberi paracetamol.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Saat usia 18 bulan,
pasien pernah mengalami
kejang dan dirawat di RS.
Saat itu kejang di dahului
dengan
demam,
kejang
berlangsung selama kurang
dari 5 menit. Kejang terjadi
seluruh tubuh, serta mata
mendelik ke atas.

Riwayat Pengobatan :

Usia 18 bulan pasien pernah dirawat di RS


karena kejang demam dan diberi obat anti
kejang serta penurun panas.
Riwayat Alergi
:
Riwayat alergi dingin (-), alergi debu (-), alergi
makanan (-), alergi obat-obatan (-).
Riwayat Kehamilan :
Ibu saat hamil berusia 25 tahun. Ibu pasien
mengatakan saat hamil tidak pernah sakit. Ibu
pernah imunisasi saat hamil. Riwayat Ante
Natal Care (ANC) rutin tiap bulan di bidan dan
rutin minum vitamin yang dberikan oleh bidan.
Selama hamil ibu pasien tidak pernah
mengkonsumsi obat-obatan terlarang maupun
alkohol.

Riwayat
Imunisasi :

BCG : sudah
Hep. B: sudah
Polio : sudah
DPT : sudah
Campak: sudah

Riwayat Kelahiran:
Persalinan
normal
pervaginam di bidan .
Kelahiran cukup bulan 3940 minggu. Berat badan
anak waktu lahir 2800
gram, panjang badan 50
cm, ketuban jernih. Pada
saat lahir An. B langsung
menangis.
Tidak
ada
perawatan khusus setelah
lahir, riwayat bayi kuning
(-), bayi biru (-), kejang ().

Riwayat Gizi dan nutrisi

:
Pasien sejak lahir langsung minum ASI (+)
sampai sekarang, mulai dicoba minum susu
formula sejak usia 4 bulan sampai sekarang,
diberikan makanan pendamping seperti
bubur sejak usia 4 bulan.

Riwayat Sosial

:
Pasien anak tunggal. Pasien tinggal
bersama ayah dan ibunya.

Anamnesa Sistem

Kulit: Tidak gatal, tidak kering, tidak pecah-pecah,


tidak ada bintik-bintik, tidak ada keluhan.
Kepala: Panas (+), Tidak sakit kepala, tidak

pusing, rambut kepala tidak rontok, tidak ada luka


aupun benjolan.
Mata : Penglihatan normal, pandangan mata
normal.
Hidung : Tidak ada kelainan bentuk, tidak mimisan,
ada sekret +/+. Berwarna bening encer.
Telinga : Pendengaran baik, tidak berdengung dan
tidak ada cairan yang keluar.
Mulut : Tidak ada sariawan, bibir tidak kering dan
pecah-pecah.

Tenggorokan
: Tidak ada nyeri menelan
maupun suara serak.
Pernafasan : Sesak nafas (-) , batuk (+).
Kardiovaskuler : Tidak nyeri dada, tidak berdebardebar.
Gastrointestinal : Nafsu makan menurun, muntah
(-), BAB (+) seperti biasa dua hari sekali.
Genitourinaria : BAK (+) lancar, tidak sakit saat
kencing, tidak ada keluhan.
Neurologik : Tidak lumpuh, tidak ada rasa sakit,
tidak ada kesemutan, tidak ada keluhan.
Psikiatrik :Emosi stabil, tidak mudah marah.
Muskuloskeletal :Badan kaku saat kejang (+),
tidak ada nyeri otot.
Estremitas : tidak ada keluhan

Status Gizi (berdasarkan WHO)

Pemeriksaan Antropometri :

Berat Badan
: 14 kg
Tinggi Badan
: 95 cm
Lingkar Kepala
: 49 cm (-2 SD>
z-score < 0 SD)
Status Gizi :
BB/U = -2 SD> z-score < 0 SD
TB/U = -2 SD> z-score < 0 SD
Berat badan ideal anak usia 3 tahun =
14,4 kg
BB/TB = 0 SD> Z score <1 SD
Kesimpulan : Gizi cukup

Kulit : Putih, turgor baik, pucat (-), teraba hangat (+)


Kepala : Bentuk normocephal, luka (-), rambut tidak

mudah dicabut, keriput (-), makula (-), papula (-), nodula (), benjolan (-).
Mata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (+/+), cowong (-/-), reflek kornea (+/+), radang (-/).
Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), sekret (+/+),
epistaksis (-/-). Deformitas hidung (-/-).
Mulut : Bibir kering (-), bibir sianosis (-), gusi berdarah (-),
lidah kotor (-).
Telinga : Nyeri tekan mastoid (-/-), sekret (-/-),
pendengaran berkurang (-/-).
Tenggorokan : Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
Leher : JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran
kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada
kulit (-)

Thorax : Normochest, simetris, retraksi (-), spider


nevi (-), pulsasi infrasternalis (-), sela iga melebar (-).
Cor: Inspeksi: ictus cordis tidak tampak

Palpasi : ictus cordis kuat angkat


Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi: Bunyi jantung I-II intensitas
normal, regular
Pulmo:
Inspeksi
: bentuk thoraks normochest, simetris,
retraksi intercosta (-).
Palpasi
: nyeri tekan (-).
Perkusi
: sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi
: Vesikuler
Ronki
Wheezing
+

+
+

Abdomen:
Inspeksi : Soefl, flat, meteorismus (-)
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Palpasi : undulansi (-), nyeri tekan
epigastrium (-), hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi : timpani (+)
Ekstremitas :

Sintem Genitalia

: DBN

Pemeriksaan Penunjang
Jenis Tes

Hasil Tes

Nilai Normal

1. Hemoglobin

14,1

L: 13-17 g%, P: 11,5-16 g%

2. Leukosit

5.540

4.000-11.000/CMM

3. LED/BBS

L: 0-15/jam, P: 0-20/jam

4. Hitung jenis

1/-/-/17/70/12

1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7

5. Hitung erytrosite

5.170.000

L:4.5-6.5 jt/cmm,P:3.0-6,0 jt

6. Hitung trombocyte

230.000

150.000-450.000

7. Hematokrit

44,5

L : 40-54 %, P; 35-47 %

8. MCV/MCH/MCHC

86,0/27,3/31,8

80-97 fl/27-31pg/ 32-36%

9. Widal
Tiphy O
Tiphy H
Para Tiphy A
Para Tiphy B

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Pasien

Resume

datang ke IGD Rumah Sakit Mardi Waluyo


Blitar diantar keluarganya dengan keluhan kejang.
Kejang
secara
tiba-tiba
di
rumah.
Kejang
berlangsung 1 kali dan kurang dari 5 menit. Kejang
terjadi seluruh tubuh, serta mata mendelik ke atas.
Kemudian oleh keluarga pasien segera dibawa ke
IGD. Setelah kejang berhenti, pasien langsung sadar.
Sampai di IGD pasien tidak kejang lagi tetapi kondisi
pasien masih lemas. Menurut ibu pasien, pasien
panas sejak 1 hari yang lalu tetapi tidak terlalu
tinggi, Sejak 4 hari yang lalu pasien batuk dan pilek.
Batuk dirasakan jarang-jarang, tidak grok-grok dan
tidak berdahak. Pilek keluar cairan encer dan bening.
BAB (+) seperti biasanya dua hari sekali, warna
kuning lembek, BAK (+) lancar sering biasanya sehari
lebih dari 3 kali, nafsu makan menurun sejak sakit
dan minum pasien normal. Sekitar 1 hari yang lalu,
pasien dibawa ke bidan dan diberi paracetamol.

Usia 18 bulan pasien pernah dirawat di RS

karena kejang demam dan diberi obat anti


kejang serta penurun panas..Dari riwayat
kehamilan ibu rutin periksa ANC ke bidan,
dan tidak pernah sakit saat hamil, sedangkan
Persalinan normal pervaginam di bidan .
Kelahiran cukup bulan 39-40 minggu. Berat
badan anak waktu lahir 2800 gram, panjang
badan 50 cm, ketuban jernih. Pada saat lahir
An. B langsung menangis. Riwayat imunisasi
lengkap. Riwayat tumbh kembang sesuai
dengan usianya.

Dari

hasil pemeriksan fisik didapatkan keadaan


umum cukup, kesadaran compos mentis, Nadi
120x/menit, regular (+), RR 36x/menit, dan suhu
axial 39,1C. Pemeriksaan antropometri didapatkan
BB 14 kg, TB 95 cm, lingkar kepala 49 (-2 SD> zscore < 0 SD), status gizi pada pasien menurut
WHO BB/U = -2 SD> Z score < 0 SD, TB/U = -2 SD>
Z score < 0 SD, Berat badan ideal anak usia 21
bulan adalah 10,8 kg sehingga BB/TB= 0 SD> Z
score <1 SD(Gizi cukup).
Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan
hasil hemoglobin 14,1 g/dl, leukosit 5.540/cmm,
hitung
jenis
1/-/-/17/70/12,
eritrosit
5.170.000/cmm,
trombosit
230.000/cmm,
hematokrit
44,5%,
MCV/MCH/MCHC
86,0/27,3/31,8%, widal negative.

Problem List

Kejang
Batuk
Pilek
Demam (Suhu axila 39,1C)
Secret

WORKING DIAGNOSA
Kejang Demam Simplek dan
ISPA

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
DDx Kejang demam:
Epilepsi
Gangguan elektrolit

PLANNING DIAGNOSA

Darah Lengkap

Non Medikamentosa
Tatalaksana Nutrisi
Kebutuhan zat gizi
Pemeriksaan Antropometri :
Kebutuhan kalori:
Berat Badan : 14 kg
BB ideal x kebutuhan kalori
menurut RDA
Tinggi Badan : 95 cm
14,4 x 150 = 2160
Lingkar Kepala : 49 cm (-2
Kcal/hari
SD> z-score < 0 SD)
Kebutuhan protein :
Status Gizi
:
BB ideal x kebutuhan
BB/U = -2 SD> z-score <
protein menurut RDA
0 SD
14,4 x 3 = 43,2 g/hari
TB/U = -2 SD> z-score < 0
SD
Cara pemberian makanan dan
evaluasi:
BB/TB = 0 SD> Z score <1
SD
Per oral
Berat badan ideal anak usia Evaluasi intake yang masuk
3 Tahun = 14,4 kg
Monitor kenaikan berat
Kesimpulan

: Gizi cukup

badan

Kejang Demam

Kejang demam ialah bangkitan


kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas
38C) yang disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranium (Ismael S,
1999).
Kejang demam terjadi pada 2-4%
anak berumur 6 bulan 5 tahun
(AAP, 1996).

Klasifikasi
Kejang Demam Simplek adalah:
Kejang demam yang berlangsung
singkat, kurang dari 15 menit, dan
umumnya akan berhenti sendiri
Kejang berbentuk umum tonik dan
atau klonik, tanpa gerakan fokal
Kejang tidak berulang dalam waktu
24 jam
Kejang demam sederhana merupakan
80% di antara seluruh kejang demam

Klasifikasi

Kejang Demam Komplek adalah:


1.
2.

3.

Kejang lama > 15 menit


Kejang fokal atau parsial satu
sisi, atau kejang umum didahului
kejang parsial
Berulang atau lebih dari 1 kali
dalam 24 jam

Pemeriksaan Penunjang KD

Laboratorium
Pungsi lumbal
Elektroensefalografi (EEG)
Radiologis

Dari anamnesa pasien ini didapatkan


umur pasien 3 Tahun (lebih dari 6
bulan dan kurang dari 5 tahun), kejang
secara tiba-tiba didahului demam,
kejang berlangsung 1 kali selama 24
jam dan kurang dari 5 menit dan
berhenti sendiri. Kejang terjadi seluruh
tubuh (kejang umum dan tonik klonik),
pasien tetap sadar setelah kejang
berhenti.

Riwayat penyakit dahulu pasien pernah


kejang sebelumnya, 1x saat usia 18 bulan.
riwayat penyakit keluarga tidak ada
keluarga pasien yang mengalami kejang
sebelumnya.
Dari
pemeriksaan
fisik
didapatkan suhu tubuh aksila 39,1C, tidak
ditemukan kelainan neurologis setelah
kejang. Dari anamnesa dan pemeriksaan
fisik ini kami mendiagnosa pasien ini
dengan kejang demam simplek.

Pada
kejang
demam
pemeriksaan
penunjang
seperti
pemeriksaan
laboratorium tidak dikerjakan secara rutin,
tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi
sumber penyebab demam. Pemeriksaan
laboratorium
yang
dapat
dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula
darah.
Pada
pasien
ini
didapatkan
hasil
pemeriksaan laboratorium darahdengan
hitung jenis bergeser ke kanan yang
menandakan adanya infeksi virus.

Selain itu pemeriksaan penunjang


lain seperti pungsi lumbal untuk
memeriksa
cairan
serebrospinal
dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan
kemungkinan
meningitis. Pungsi lumbal menjadi
pemeriksaan rutin pada kejang
demam bila usia pasien kurang dari
18 bulan.

Pada kasus ini pasien berumur 3 tahun dan


secara klinis tidak ditemukan gejala yang
mengarah
pada
infeksi
intracranial
sehingga pemeriksaan pungsi lumbal tidak
perlu dilakukan. Begitu juga dengan
pemeriksaan
penunjang
elektroensefalografi dan pencitraan seperti
CT-Scan dan MRI tidak perlu dilakukan
karena pasien hanya kejang satu kali dan
didahului dengan kejang serta tidak
ditemukan kelainan neurologis setelah
kejang.

Penatalaksanaan Saat Kejang


di Rumah Sakit
Diazepam IV/Rektal (1)

0,3 0,5 mg/kg (IV) / 0,5 - 0,75 mg/kg rektal


5 menit
Kejang (+)

Diazepam IV/Rektal (2)


Dosis sda, total maks 20 mg

5 menit
Kejang (+)

Slide berikutnya

Penatalaksanaan Saat Kejang


di Rumah Sakit (lanjutan)
Slide sebelumnya
Fenitoin IV

10 - 20 mg/kg
Kecepatan 1 mg/kg/mnt atau 50 mg/mnt

Kejang (+)

Kejang (-)

PICU

Fenitoin IV

4 8 mg/kg/hari

12 jam

Pemberian Obat Saat Demam


1. ANTIPIRETIK
Macam antipiretik:

Parasetamol: 10 15 mg/kg/kali, 4 5
kali/hari
Ibuprofen: 5 10 mg/kg/kali, 3 4
kali/hari

2. ANTIKONVULTION
Diazepam oral 0,3 mg/kg/8jam atau
rektal 0,5 mg/kg/8jam pada pada
saat demam > 38,50C Resiko
kejang berulang 30 60%
Dosis di atas cukup tinggi
WASPADA: ataksia, iritabel dan
sedasi
Fenobarbital, karbamazepin &
fenitoin Tidak berguna mencegah
KD

Penatalaksanaan Pada Kasus ini

IVFD D5 NS 1000 cc/24 jam


Injeksi Ampisilin 3 x 350 mg (iv)
Injeksi Novaldo 3 x 100 mg (iv)
Injeksi Dexametasone 3 x 1 amp (iv)
Injeksi Diazepam 3 mg iv bolus pelan-pelan (apabila
kejang)

Prognosis

Prognosis pada pasien ini baik dan tidak akan


menyebabkan kematian karena kejang yang
terjadi tidak berkali-kali dan hanya karena
didahului oleh demam. Jika penyebab demam
yang pada kasus ini karena ISPA segera
diatasi dengan tepat dan kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi dengan baik sehingga dapat
meningkatkan
sistem
kekebalan
atau
imunitas pasien, serta pasien tidak terpapar
dengan pencetus terjadinya infeksi lagi maka
pasien akan sembuh dengan baik dan sehat.