Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

LABORATORIUM PUBLIC HEALTH


PENANGANAN PASIEN DM TIPE 2 SECARA KOMPREHENSIF
KOLABORATIF KONTINU DAN PASIEN CENTER

Oleh:
Dede Iskandar, S.Ked.
207.121.0053

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2014

Diabetes Melitus merupakan penyakit menahun yang ditandai oleh kadar


gula darah yang tinggi dan gangguan metabolisme pada umumnya, yang pada
perjalanannya bila tidak dikendalikan dengan baik akan menimbulkan
berbagai komplikasi baik yang akut maupun yang menahun. Kelainan dasar
dari penyakit ini ialah kekurangan hormon insulin yang dihasilkan oleh
pankreas, yaitu kekurangan jumlah dan atau dalam kerjanya ( Isniati,2003).
Jumlah Penderita diseluruh dunia Jumlah penderita di seluruh dunia tahun
1998 yaitu 150 juta, tahun 2000 yaitu 175,4 juta diperkirakan tahun
2010 yaitu 279 juta (Murwani, 2007).
Berdasarkan Riskesdas 2007 , Prevalensi penyakit DM di Indonesia
berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0,7% sedangkan
prevalensi DM (D/G) sebesar 1,1%. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis
DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63,6%, lebih tinggi dibandingkan
cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung. Prevalensi nasional
Penyakit Diabetes Melitus adalah 1,1% (berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan dan gejala).
Menurut konsensus Pengelolaan Diabetes melitus di Indonesia
penyuluhan dan perencanaan makan merupakan pilar utama penatalaksanaan
DM. Oleh karena itu perencanaan makan dan penyuluhannya kepada pasien
DM haruslah mendapat perhatian yang besar (Waspadji, 2009).
1. KOMPREHENSIF
Adapun

stategi

penanggulangannnya

sebagai

berikut

(Moh

Joeharno,2009):
1. Primordial prevention
Primordial prevention merupakan upaya untuk mencegah
terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam

masyarakat

terhadap

penyakit

secara

umum.

Pada

upaya

penanggulangan DM, upaya pencegahan yang sifatnya primordial


adalah :
a. Intervensi terhadap pola makan dengan tetap mempertahankan pola
makan

masyarakat

yang

masih

tradisional

dengan

tidak

membudayakan pola makan cepat saji yang tinggi lemak,


b. Membudayakan kebiasaan puasa senin dan kamis
c. Intervensi terhadap aktifitas fisik dengan mempertahankan
kegiatan-kegiatan masyarakat sehubungan dengan aktivitas fisik
berupa olahraga teratur (lebih mengarahkan kepada masyarakat
kerja) dimana kegiatan-kegiatan masyarakat yang biasanya aktif
secara fisik seperti kebiasaan berkebun sekalipun dalam lingkup
kecil namun dapat bermanfaat sebagai sarana olahraga fisik.
d. Menanamkan kebiasaan berjalan kaki kepada masyarakat
2. Health promotion
Health promotion sehubungan dengan pemberian muatan informasi
kepada masyarakat sehubungan dengan masalah kesehatan. Dan pada
upaya pencegahan DM, tindakan yang dapat dilakukan adalah :
a. Pemberian informasi tentang manfaat pemberian ASI eksklsif kepada
masyarakat khususnya kaum perempuan untuk mencegah terjadinya
pemberian susu formula yang terlalu dini
b. Pemberian informasi akan pentingnya aktivitas olahraga rutin
minimal 15 menit sehari
3. Spesific protection
Spesific protection dilakukan dalam upaya pemberian perlindungan
secara dini kepada masyarakat sehubungan dengan masalah kesehatan.
Pada beberapa penyakit biasanya dilakukan dalam bentuk pemberian
imunisasi namun untuk perkembangan sekarang, diabetes mellitus dapat
dilakukan melalui :
a. Pemberian penetral radikal bebas seperti nikotinamid

b. Mengistirahatkan sel-beta melalui pengobatan insulin secara dini


c. Penghentian pemberian susu formula pada masa neonatus dan bayi
sejak dini
d. Pemberian imunosupresi atau imunomodulasi
4. Early diagnosis and promp treatment
Early diagnosis and prompt treatmen dilakukan sehubungan dengan
upaya pendeteksian secara dini terhadap individu yang nantinya
mengalami DM dimasa mendatang sehingga dapat dilakukan upaya
penanggulangan

sedini

mungkin

untuk

mencegah

semakin

berkembangnya risiko terhadap timbulnya penyakit tersebut. Upaya


sehubungan dengan early diagnosis pada DM adalah dengan melakukan :
a. Melakukan skrining DM di masyarakat
b. Melakukan survei tentang pola konsumsi makanan di tingkat keluarga
pada kelompok masyarakat
5. Disability limitation
Disability limitation adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk
mencegah dampak lebih besar yang diakibatkan oleh DM yang ditujukan
kepada seorang yang telah diangap sebagai penderita DM karena risiko
keterpaparan sangat tinggi. Upaya yang dapat dilakukan adalah :
a. Pemberian insulin yang tepat waktu
b. Penanganan secara komprehensif oleh tenaga ahli medis di rumah
sakit
c. Perbaikan fasilitas-fasilitas pelayanan yang lebih baik
6. Rehabilitation
Rehabilitation ditujukan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan
kembali pada individu yang telah mengalami sakit. Pada penderita DM,
upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan adalah :
a. Pengaturan diet makanan sehari-hari yang rendah lemak dan
pengkonsumsian makanan karbohidrat tinggi yang alami

b. Pemeriksaan

kadar

glukosa

darah

secara

teratur

dengan

melaksanakan pemeriksaan laboratorium komplit minimal sekali


sebulan
c. Penghindaran atau penggunaan secara bijaksana terhadap obat-obat
yang diabetagonik
Adapun Tahap pencegahannya yaitu (Konsensus,2006):
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada orang-orang
yang termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum
menderita, tetapi berpotensi untuk menderita DM. Penyuluhan sangat
penting perannya dalam upaya pencegahan primer. Masyarakat luas
melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya harus
diikutsertakan. Demikian pula pemerintah melalui semua jajaran terkait
seperti Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan perlu
memasukkan upaya pencegahan primer DM dalam program penyuluhan
dan pendidikan kesehatan. Sejak masa prasekolah hendaknya telah
ditanamkan pengertian mengenai pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola
dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk,
dan risiko merokok bagi kesehatan.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat
timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Dilakukan
dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini
penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Salah satu penyulit DM
yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular yang merupakan
penyebab utama kematian pada penyandang diabetes.
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan :

a. Skrinning
Skrinning dilakukan dengan menggunakan tes urin, kadar gula
darah puasa, dan GIT. Skrinning direkomendasikan untuk :
Orang-orang yang mempunyai keluarga diabetes
Orang-orang dengan kadar glukosa abnormal pada
saat hamil
Orang-orang yang mempunyai gangguan vaskuler
Orang-orang yang gemuk
b. Pengobatan
Pengobatan diabetes mellitus bergantung kepada pengobatan
diet dan pengobatan bila diperlukan. Kalau masih bisa tanpa
obat, cukup dengan menurunkan berat badan sampai mencapai
berat badan ideal. Untuk itu perlu dibantu dengan diet dan
bergerak badan.
Pengobatan dengan perencanaan makanan (diet) atau
terapi nutrisi medik masih merupakan pengobatan utama, tetapi
bilamana hal ini bersama latihan jasmani/kegiatan fisik ternyata
gagal

maka

diperlukan

penambahan

obat

oral.

Obat

hipoglikemik oral hanya digunakan untuk mengobati beberapa


individu dengan DM tipe II. Obat ini menstimulasi pelapisan
insulin dari sel beta pancreas atau pengambilan glukosa oleh
jaringan perifer.
Aktivitas Obat Hipoglisemik Oral
Obat
Klorpropamid (diabinise)
Glizipid (glucotrol)
Gliburid (diabeta, micronase)
Tolazamid (tolinase)
Tolbutamid (orinase)

Lamanya jam
60
12-24
16-24
14-16
6-12

Dosis lazim/hari
1
1-2
1-2
1-2
1-3

c. DIET
Diet adalah penatalaksanaan yang penting dari kedua tipe
DM. makanan yang masuk harus dibagi merata sepanjang hari. Ini
harus konsisten dari hari kehari. Adalah sangat penting bagi pasien
yang menerima insulin dikordinasikan antara makanan yang masuk
dengan aktivitas insulin lebih jauh orang dengan DM tipe II,
cenderung kegemukan dimana ini berhubungan dengan resistensi
insulin dan hiperglikemia. Toleransi glukosa sering membaik dengan
penurunan berat badan. (Hendrawan,2002).
1) Modifikasi dari faktor-faktor resiko
Menjaga berat badan
Tekanan darah
Kadar kolesterol
Berhenti merokok
Membiasakan diri untuk hidup sehat
Biasakan diri berolahraga secara teratur. Olahraga adalah
aktivitas

fisik

yang

terencana

dan

terstruktur

yang

memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai


kebugaran.
Hindari menonton televisi atau menggunakan komputer
terlalu lama, karena hali ini yang menyebabkan aktivitas fisik
berkurang atau minim.
Jangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan
kandungan. garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji
dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
Konsumsi sayuran dan buah-buahan.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang
diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah

terjadinya kecacatan lebih lanjut. Upaya rehabilitasi pada pasien


dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Sebagai contoh
aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi
penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati.
Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien
dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang
dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal .
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistik dan
terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan.
Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan
ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi
medis, gizi, podiatrist, dll.) sangat diperlukan dalam menunjang
keberhasilan pencegahan tersier (Konsensus,2006).
2. KOLABORATIF
1. Ahli gizi
Biasanya pasien DM yang berusia lanjut terutama yang gemuk
dapat dikendalikan hanya dengan pengaturan diet saja serta gerak
badan ringan dan teratur. Perencanaan makan merupakan salah satu
pilar pengelolan diabetes, meski sampai saat ini tidak ada satu pun
perencanaan makan yang sesuai untuk semua pasien. Perencanaan
makan harus disesuaikan menurut kebiasaan masing-masing
individu. Yang dimaksud dengan karbohidrat adalah gula, tepung,
serat.
Faktor yang berpengaruh pada respon glikemik makanan adalah
cara memasak, proses penyiapan makanan, dan bentuk makan serta

komposisi makanan (karbohidrat, lemak, dan protein). Jumlah


masukan kalori makanan yang berasal dari karbohidrat lebih penting
daripada sumber atau macam karbohidratnya. Gula pasir sebagai
bumbu masakan tetap diijinkan. Pada keadaan glukosa darah
terkendali, masih diperbolehkan untuk mengkonsumsi sukrosa (gula
pasir) sampai 5 % kebutuhan kalori.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi:
1) Karbohidrat 45 65%
2) Protein
10 20 %
3) Lemak
20 25 %
Makanan dengan komposisi sampai 70 75% masih
memberikan hasil

yang baik. Jumlah kandungan kolesterol

disarankan < 300 mg/hari, diusahakan lemak berasal dari sumber


asam lemak tidak jenuh MUFA (Mono Unsurated Fatty Acid), dan
membatasi PUFA (Poli Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak
jenuh. Jumlah kandungan serat 25 g / hari, diutamakan serat larut.
Jumlah kalori disesuaikan dengan status gizi,umur , ada
tidaknya stress akut, kegiatan jasmani. Untuk penentuan status gizi,
dapat dipakai Indeks Massa tubuh (IMT) dan rumus Broca.
Petunjuk Umum untuk Asupan Diet bagi Diabetes:
1) Hindari biskuit, cake, produk lain sebagai cemilan pada waktu
makan.
2) Minum air dalam jumlah banyak, susu skim dan minuman
3)
4)
5)
6)

berkalori rendah lainnya pada waktu makan.


Makanlah dengan waktu yang teratur.
Hindari makan makanan manis dan gorengan.
Tingkatkan asupan sayuran dua kali tiap makan.
Jadikan nasi, roti, kentang, atau sereal sebagai menu utama setiap

makan.
7) Minum air atau minuman bebas gula setiap anda haus.
8) Makanlah daging atau telor dengan porsi lebih kecil.
9) Makan kacang-kacangan dengan porsi lebih kecil
Klasifikasi IMT (Asia Pasific)

Lingkar Perut
Klasifikasi IMT (Asia Pasific)

BB Kurang
<18,5
BB Normal
18,5-22,9
BB Lebih
>23,0 :
Dengan risiko : 23,0-

24,9
Obes I

<90cm (Pria)
<80cm (Wanita)

>90cm (Pria)
>80cm (Wanita)

Risk of co-morbidities
Rendah
Rata-rata
Rata-rata
Meningkat
Meningkat
Sedang
Berat

Sedang
Berat
Sangat berat

: 25,0-

29,9
Obes II
: 30
Sumber :Perkeni, 2006
2. Fisioterapist
Kegiatan jasmani sehari hari dan latihan jasmani teratur (3 4
kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu
pilar dalam pengelolaan diabetes tipe II. Latihan jasmani dapat
menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas terhadap
insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan
jasmani yang dimaksud ialahjalan, bersepeda santai, jogging,
berenang.
Prinsip latihan jasmani yang dilakukan:
1) Continous:
Latihan jasmani harus berkesinambungan dan dilakukan terus
menerus tanpa berhenti. Contoh: Jogging 30 menit , maka pasien
harus melakukannya selama 30 menit tanpa henti.
2) Rhytmical:
Latihan olah raga dipilih yang berirama yaitu otot-otot
berkontraksi dan relaksasi secara teratur, contoh berlari, berenang,
jalan kaki.
3) Interval:

Latihan dilakukan selang-seling antar gerak cepat dan lambat.


Contoh: jalan cepat diselingi jalan lambat, jogging diselangi
jalan.
4) Progresive:
a) Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan, dari
intensitas ringan sampi sedang selama mencapai 30 60
menit.
b) Sasaran HR = 75 85 % dari maksimal HR.
c) Maksimal HR = 220 (umur).
3. Dokter penyakit dalam
Apabila pengendalian diabetesnya tidak berhasil dengan pengaturan
diet dan gerak badan barulah diberikan obat hipoglikemik oral. Di
Indonesia umumnya OHO yang dipakai ialah Metformin 2 3 X 500
mg sehari. Pada pasien yang mempunyai berat badan sedang
dipertimbangkan pemberian sulfonilurea.
Pedoman pemberian sulfonilurea pada DM usia lanjut :
1) Harus waspada akan timbulnya hipoglikemia. Ini disebabkan karena
metabolisme sulfonilurea lebih lambat pada usia lanjut, dan
seringkali pasien kurang nafsu makan, sering adanya gangguan
fungsi ginjal dan hati serta pengaruh interaksi sulfonilurea dengan
2)

obat-obatan lain.
Sebaiknya digunakan digunakan sulfonyl urea generasi II yang

mempunyai waktu paruh pendek dan metabolisme lebih cepat.


3) Jangan mempergunakan klorpropamid karena waktu paruhnya sangat
panjang serta sering ditemukan retensi air dan hiponatremi pada
penggunaan klorpropamid. Begitu pula bila ada komplikasi ginjal,
klorpropamid yang kerjanya 24 36 jam tidak boleh diberikan, oleh
karena ekskresi obat sangat berkaian dengan fungsi ginjal.

Hipoglikemia akibat klorpamid dapat berlangsung lama, berbeda


dengan hipoglikemi karena tolbutamid.
4) Sulfonilurea dengan kerja sedang ( seperti glibenklamid, glikasid),
biasanya dosis awal setengah tablet sehari, kalau perlu dapat
5)

dinaikkan 1 2 kali sehari.


Dosis oral pada umumnya bila dianggap perlu dapat dinaikkan tiap 1
2 minggu. Untuk mencegah hipoglikemia pada pasien tua lebih

6)

baik tidak memberikan dosis maksimum.


Kegagalan sekunder dapat terjadi setelah penggunan OHO beberapa
lama. Pada kasus sperti ini biasanya dapat dicoba kombinasi OHO
dengan insulin atau langsung diberikan insulin saja.

3. KONTINU
Latihan

daya

tahan

untuk

meningkatkan

kemampuan

kardiorespirasi, seperti jalan jogging dan sebagainya. Latihan


dengan prinsip seperti di atas minimal dilakukan 3 hari dalam
seminggu, sedang 2 hari yang lain dapat digunakan untuk
melakukan olah raga kesenangannya. Olah raga yang teratur
memainkan peran yang sangat penting dalam menangani diabetes,
manfaat manfaat utamanya sebagai berikut:
a) Olah raga membantu membakar kalori karena dapat
mengurangi berat badan.
b) Olah raga teratur dapat meningkatkan jumlah reseptor pada
dinding sel tempat insulin bisa melekatkan diri.
c) Olah raga memperbaiki sirkulasi darah dan menguatkan otot
jantung.
d) Olah raga meningkatkan kadar kolesterol baik dan
mengurangi kadar kolesterol jahat.

e) Olah raga teratur bisa membantu melepaskan kecemasan


stress, dan ketegangan, sehingga memberikan rasa sehat dan
bugar.
Petunjuk Berolah Raga Untuk Diabetes

Tidak Bergantung

Insulin
a) Gula darah rendah jarang terjadi selama berola raga dan arena
itu tidak perlu untuk memakan karbohidrat ekstra
b) Olah raga untuk menurunkan berat badan perlu didukung
dengan pengurangan asupan kalori
c) Olah raga sedang perlu dilakukan setiap hari. Olah raga berat
mungkin bisa dilakukan tiga kali seminggu
d) Sangat penting untuk melakukan latihan ringan guna
pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah berolah raga
e) Pilihlah olah raga yang paling sesuai dengan kesehatan dan
gaya hidup anda secara umum
f) Manfaat olah raga akan hilang jika tidak berolah raga selama
tiga hari berturut-turut
g) Olah raga bisa meningkatkan nafsu makan dan berarti juga
asupan kalori bertambah. Karena itu sangat penting bagi anda
untuk menghindari makan makanan ekstra setelah berolah
raga.
h) Dosis obat telan untuk diabetes mungkin perlu dikurangi
selama olah raga teratur.
4. PASIEN CENTER
Diabetes tipe II umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan
perilaku telah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan pengelolaan
diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga, dan
masyarakat. Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam menuju
perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku,

dibutuhkan edukasi yang komprehensif, pengembangan keterampilan


dan motivasi.
Edukasi tersebut meliputi pemahaman tentang:
1) Penyakit DM.
2) Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM.
3) Penyulit DM.
4) Intervensi farmakologis dan non farmakologis.
5) Hipoglikemia.
6) Masalah khusus yang dihadapi.
7) Perawatan kaki pada diabetes.
8) Cara pengembangan sistem pendukung dan pengajaran
keterampilan.
9) Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
Edukasi secara individual atau pendekatan berdasarkan
penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang
berhasil. Perubahan Perilaku hampir sama dengan proses edukasi yang
memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi, dokumentasi, dan
evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA
Adhi , Bayu.T1, Rodiyatul F. S. dan Hermansyah,2011. An Early Detection
Method of Type-2 Diabetes Mellitus in Public Hospital. Telkomnika, Vol.9,
No.2, August 2011, pp. 287~294.
Agustina, Tri ,2009.Gambaran Sikap Pasien Diabetes Melitus Di Poli Penyakit
Dalam Rsud Dr.Moewardi Surakarta Terhadap Kunjungan Ulang Konsultasi
Gizi. KTI D3. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.
Indraswari, Wiwi.2010. Hubungan Indeks Glikemik Asupan Makanan Dengan
Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Mellitus Tipe-2
Di Rsup Dr. Wahidin Sudirohusodo. Skripsi Sarjana. Program Studi Ilmu Gizi
, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Isniati, 2003, Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Militus
Dengan Keterkendalian Gula Darah Di Poliklinik Rs Perjan Dr. M. Djamil
Padang Tahun. Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2).
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia
2006 .2006. http://penyakitdalam.files.wordpress.com/2009/11/konsensuspengelolaaln-dan-pencegahan-diabets-melitus-tipe-2-di-indonesia-2006.pdf
Mohjuarno.2009. Makalah Kontenporer Konsentrasi Epidemiologi Pasca Sarjana:
Penanggulangan Diabetes Melitus. Makassar :Universitas Hasanuddin.
Murwani, Arita dan Afifin Sholeha, 2007. Pengaruh Konseling Keluarga
Terhadap Perbaikan Peran Keluarga Dalam Pengelolaan Anggota Keluarga
Dengan Dm Di Wilayah Kerja Puskesmas Kokap I Kulon Progo 2007. Jurnal
Kesehatan Surya Medika Yogyakarta. Ilmu Keperawatan Stikes Surya Global
Yogyakarta.
Nadesul, Hendrawan. 2002. 428 Jawaban untuk 25 Penyakit Manajer dan
Keluhan-keluhan Orang Mapan. Kompas.
Perkeni.2011. Empat Pilar Pengelolaan Diabetes.[online]. (diupdate 11
November 2011). http://www.smallcrab.com/ .[diakses 20 November 2011].
Rakhmadany, dkk. 2010. Makalah Diabetes Melitus. Jakarta : Universitas Islam
Negeri
Shahab, Alwi,2006.Diagnosis Dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus (Disarikan
Dari Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Di Indonesia : Perkeni
2006).Subbagian Endokrinologi Metabolik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fk
Unsri/ Rsmh Palembang, Palembang.

Tjeyan, Suryadi R.M, 2007.Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Kalangan


Peminum Kopi Di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007. Department Of
Public Health And Community Medicine, Medical Faculty, Sriwijaya
University, Palembang 30126, Indonesia. Makara, Kesehatan, Vol. 11, No. 2,
Desember 2007: 54-60 Hal 54.
Waspadji, Sarwono dkk., 2009. Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta: FKUI.
WHO, 1999. Defenition, Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus and Its
Complication.