Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
Low Back Pain (LBP) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang
bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan
samping luar. Keluhan ini dapat demikian hebatnya hingga penderitanya
mengalami kesulitan dalam setiap pergerakan sampai harus istirahat dan dirawat
di rumah sakit.
Keluhan low back pain ini ternyata menempati urutan kedua tersering
setelah nyeri kepala. Di Amerika Serikat lebih dari 80% penduduk pernah
mengeluh low back pain dan di negara kita sendiri diperkirakan jumlahnya lebih
banyak lagi. Mengingat bahwa low back pain ini sebenarnya hanyalah suatu
simptom/gejala, maka yang terpenting adalah mencari faktor penyebabnya agar
dapat diberikan pengobatan yang tepat. Pada dasarnya, timbulnya rasa sakit
tersebut karena terjadinya tekanan pada susunan saraf tepi daerah pinggang (saraf
terjepit).
Jepitan pada saraf ini dapat terjadi karena gangguan pada otot dan jaringan
sekitarnya, gangguan pada sarafnya sendiri, kelainan tulang belakang maupun
kelainan di tempat lain, misalnya infeksi atau batu ginjal dan lain-lain.
Spondylosis dan spondylolisthesis merupakan beberapa contoh kelainan tulang
belakang yang mungkin mampu menimbulkan jepitan pada saraf tersebut.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1

Identitas Pasien
Pada tanggal 15 Agustus 2014 seorang pasien diantar oleh petugas rumah

sakit datang ke Instalasi Radiologi RSUD Mardi Waluyo Blitar. Data pasien
tersebut adalah sebagai berikut :
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
No Foto
Klinis
Permintaan Foto
2.2

:
:
:
:
:
:
:

Ny. S
55 tahun
Perempuan
Blitar
7628
low back pain
lumbo sacral AP-lateral

Riwayat Pasien
Pasien tersebut mengeluh nyeri pada daerah punggung bagian bawah sejak

beberapa tahun yang lalu, kemudian berobat ke rumah sakit. Oleh dokter pasien
dilakukan pemeriksaan radiologi lumbo sacral AP-lateral.
2.3

Pelaksanaan Pemeriksaan

a.

Persiapan Pasien

1. Pasien ganti baju dan melepaskan benda-benda yang mengganggu


gambaranradiograf.
2. Petugas menjelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien.

b. Proyeksi Anteroposterior
1. Tujuan

Mendapatkan radiograf dari lumbal, ruang diskus intervertebralis, ruang


interpediculate, lamina, processus spinosus, processus transversus dan sakrum.
2. Posisi Pasien
Pasien

tidur

supine,

kepala

di

atas

bantal,

knee

fleksi.

3. Posisi Obyek
a) Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan (jika pakai buki).
b) Letakkan kedua tangan diatas dada.
c) Tidak ada rotasi tarsal/pelvis.
4.Sinar
CR : Tegak lurus kaset
CP : (a) Setinggi Krista iliaka (interspace L4-L5) untuk memperlihatkan
lumbal sacrum dan posterior Cocygeus
(b) Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas crista iliaka)
untuk melihat lumbal.
SID : 100 cm
Eksposi : Saat eksposing pasien di arahkan tarik nafas,keluarkan dan tahan
nafas

No
1
2
3

Ketebalan Obyek
Kurus
Sedang
Gemuk
5. Faktor eksposi

KV
67
73
80

MA
200
200
200

SEC.
0,160
0,160
0,160

Kriteria : Tampak vertebra lumbal, space intervertebra, prosessus spinosus dalam


satu garis pada vertebra, prosessus transversus kanan dan kiri berjarak sama.

c. Proyeksi Lateral
1). Tujuan
Mendapatkan radiografi lumbal, processus spinosus, persimpangan
lumbosakral, foramen intervertebralis dan sacrum.
2). Posisi Pasien
Pasien lateral recumbent, kepala di atas bantal, knee fleksi, di bawah
knee dan ankle diberi pengganjal.
3). Posisi obyek

a. Atur MSP(mide sagital plane) tegak lurus kaset .


b. Pelvis dan tarsal true lateral
c. Letakkan pengganjal yang radiolussent di bawah pinggang agar
vertebra lumbal sejajar pada meja (palpasi prosessus spinosus).
4). Sinar :
a.

CR : Tegak lurus kaset.

b.

CP : Setinggi Krista iliaka

c.

SID : 100 cm.

d.

Eksposi : Ekspirasi tahan napas.

5). Faktor eksposi


NO KETEBALAN OBYEK
1
Kurus
2
Sedang
3
Gemuk
Kriteria :
a.

KV
70
75
83

SEC.
0,250
0,250
0.250

Tampak foramen intervertebralis L1 L4, Corpus vertebrae, space

intervertebrae, prosessus spinosus dan L5 S1


b.

MA
200
200
200

Tidak ada rotasi

2.4

Hasil Pemeriksaan Radiologis


Foto Lumbo sacral AP :

Foto

Lumbo

sacral

Lateral :

Hasil Pemeriksaan :
Tampak lipping process pada corpus vertebrae L.3,4 dengan sedikit
pergeseran dari corpus vertebrae L4 terhadap L5 ke anterior sebesar kurang dari
25%.

Alignment masih baik dengan columna vertebralis melurus. Pedicle,


processus spinosus, transversus dan spatium intervertebralis tampak baik.
Trabekulasi tulang tampak baik. Superior dan inferior endplate tampak baik. Line
weight bearing jatuh dibidang promontorium, dan tak tampak paravertebral mass.
Kesimpulan :
Spondylolisthesis VL4 terhadap VL5 ke anterior grade I dengan spondylosis
lumbalis dan adanya paravertebral muscle spasme.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Anatomi Vertebra

Columna vertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang


memungkinkan untuk bergerak. Terdapat 33 columna vertebralis, meliputi 7
columna vertebra cervical, 12 columna vertebra thoracal, 5 columna vertebra
lumbal, 5 columna vertebra sacral dan 4 columna vertebra coccygeal. Vertebra
sacral dan cocygeal menyatu menjadi sacrum-coccyx pada umur 20 sampai 25
tahun. Columna vertebrales juga membentuk saluran untuk spinal cord. Spinal
cord merupakan struktur yang Sangat sensitif dan penting karena menghubungkan
otak dan sistem saraf perifer.1
Canalis spinalis dibentuk di bagian anterior oleh discus intervertebralis atau
corpus vertebra, di lateral oleh pediculus, di posterolateral oleh facet joint dan di
posterior oleh lamina atau ligament kuning. Canalis spinalis mempunyai dua
bagian yang terbuka di lateral di tiap segmen, yaitu foramina intervertebralis.2
Recessus lateralis adalah bagian lateral dari canalis spinalis. Dimulai di
pinggir processus articularis superior dari vertebra inferior, yang merupakan
bagian dari facet joint. Di bagian recessus inilah yang merupakan bagian
tersempit. Setelah melengkung secara lateral mengelilingi pediculus, lalu berakhir
di caudal di bagian terbuka yang lebih lebar dari canalis spinalis di lateral, yaitu
foramen intervertebralis. Dinding anterior dari recessus lateralis dibatasi oleh
discus intervertebralis di bagian superior, dan corpus verterbralis di bagian
inferior.2
Dinding lateral dibentuk oleh pediculus vertebralis. Dinding dorsal dibatasi
oleh processus articularis superior dari vertebra bagian bawah, sampai ke bagian
kecil dari lamina dan juga oleh ligamen kuning (lamina). Di bagian sempit
recessus lateralis, dinding dorsalnya hanya dibentuk oleh hanya processus

lateralis, dan perubahan degeneratif di daerah inilah mengakibatkan kebanyakan


penekanan akar saraf pada stenosis spinalis lumbalis.2
Akar saraf yang berhubungan dengan tiap segmen dipisahkan dari kantong
dura setinggi ruang intervertebra lalu melintasi recessus lateralis dan keluar dari
canalis spinalis satu tingkat dibawahnya melalui foramina intervertebralis. Di tiaptiap titik ini dapat terjadi penekanan. 2

Gambar 1. Columna Vertebralis 3

Gambar 2. Struktur Columna Vertebralis Lumbal1


3.2

Spondylosis

3.2.1

Definisi
Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang.

Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sendi tulang belakang


dengan ciri khas bertambahnya degenerasi discus intervertebralis yang diikuti
perubahan pada tulang dan jaringan lunak, atau dapat berarti pertumbuhan
berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama terletak di aspek anterior, lateral,
dan kadang-kadang posterior dari tepi superior dan inferior vertebra centralis
(corpus). Secara singkat, sponsylosis adalah kondisi dimana telah terjadi
degenerasi pada sendi intervertebral yaitu antara diskus dan corpus vertebra dan
ligamen (terutama ligamen flavum).2

10

3.2.2

Gambaran Klinis
Perubahan degeneratif dapat menghasilkan nyeri pada axial spine akibat

iritasi nociceptive yang diidentifikasi terdapat didalam facet joint, diskus


intervertebralis, sacroiliaca joint, akar saraf duramater, dan struktur myofascial
didalam axial spine. Perubahan degenerasi anatomis tersebut dapat mencapai
puncaknya dalam gambaran klinis dari stenosis spinalis, atau penyempitan
didalam canalis spinal melalui pertumbuhan osteofit yang progresif, hipertropi
processus articular inferior, herniasi diskus, bulging (penonjolan) dari ligamen
flavum, atau spondylolisthesis. Gambaran klinis yang muncul berupa neurogenik
claudication, yang mencakup nyeri pinggang, nyeri tungkai, serta rasa kebas dan
kelemahan motorik pada ekstremitas bawah yang dapat diperburuk saat berdiri
dan berjalan, dan diperingan saat duduk dan tidur terlentang. 2
Karakteristik dari spondylosis lumbal adalah nyeri dan kekakuan gerak
pada pagi hari. Biasanya segmen yang terlibat lebih dari satu segmen. Pada saat
aktivitas, biasa timbul nyeri karena gerakan dapat merangsang serabut nyeri
dilapisan luar annulus fibrosus dan facet joint. Duduk dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan nyeri dan gejala-gejala lain akibat tekanan pada vertebra
lumbar. Gerakan yang berulang seperti mengangkat beban dan membungkuk
(seperti pekerjaan manual dipabrik) dapat meningkatkan nyeri. 2
3.2.3 Etiologi
Faktor penyebab dan predisposisi adalah:
1. usia, beberapa penelitian pada osteoarthritis telah menjelaskan bahwa
proses penuaan merupakan faktor resiko yang sangat kuat untuk
degenerasi tulang khususnya pada tulang vertebra.

11

2. Stress akibat aktivitas dan pekerjaan, degenerasi diskus juga berkaitan


dengan aktivitas-aktivitas tertentu.
3. Herediter, Faktor genetik mungkin mempengaruhi formasi osteofit dan
degenerasi diskus.
4. Adaptasi fungsional, Penelitian Humzah and Soames menjelaskan bahwa
perubahan degeneratif pada diskus berkaitan dengan beban mekanikal dan
kinematik vertebra. Osteofit mungkin terbentuk dalam proses degenerasi
dan kerusakan cartilaginous mungkin terjadi tanpa pertumbuhan osteofit.
Osteofit dapat terbentuk akibat adanya adaptasi fungsional terhadap
instabilitas atau perubahan tuntutan pada vertebra lumbar.
5. Keadaan lain, seperti obesitas dan kebiasaan duduk lama
3.2.4

Patologi dan patogenesis

Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain:


a.

Annulus fibrosus menjadi kasar, collagen fiber cenderung melonggar dan

muncul retak pada berbagai sisi.


b. Nucleus pulposus kehilangan cairan
c.

Tinggi diskus berkurang

d. Perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada diskus dan
dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala.
Sedangkan pada corpus vertebra, terjadi perubahan patologis berupa
adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang
menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus. Dapat terjadi
dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predisposisi terjadinya crush
fracture.

12

Pada ligamentum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal


terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan. Pada selaput meningeal,
durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi akar saraf
dan ini menimbulkan inflamasi karena jarak diskus membatasi canalis
intervertebralis.
Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait dengan
perubahan pada osteoarthritis. Osteofit terbentuk pada margin permukaan articular
dan bersama-sama dengan penebalan kapsular, dapat menyebabkan penekanan
pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis.2
3.2.5

Pemeriksaan Radiologis
Pada foto rontgen didapatkan adanya kelainan berupa penyempitan ruangan

intervertebralis serta adanya osteofit.4


3.3

Spondylolisthesis

3.3.1 Definisi
Spondilolistesis menunjukan terplesetnya satu vertebra pada vertebra
lainnya, biasanya kearah belakang. Kelainan ini dapat disebabkan oleh proses
degenerative (berhubungan dengan osteoarthritis berat pada posterior permukaan
sendi, biasanya L4/L5), congenital, atau pascatrauma, yang menyebabkan adanya
defek pada bagian interartikularis pada lengkung neural. Seringkali bersifat
asimtomatik.5
3.3.2 Etiologi Dan Klasifikasi
Etiologi spondilolistesis adalah multifaktorial. Predisposisi kongenital
tampak pada spondilolistesis tipe 1 dan tipe 2, dan postur, gravitasi, tekanan

13

rotasional dan stres/tekanan kosentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting
dalam terjadinya pergeseran tersebut. Terdapat lima tipe utama spondilolistesis:
A. Tipe I disebut dengan spondilolistesis displastik dan terjadi sekunder
akibat kelainankongenital pada permukaan sacral superior dan permukaan
L5 inferior ataukeduanya dengan pergeseran vertebra L5.
B. Tipe II, isthmic atau spondilolitik, dimana lesi terletak pada bagian
isthmus atau parsinterartikularis, mempunyai angka kepentingan klinis
yang bermakna pada individu dibawah 50 tahun. Jika defeknya pada pars
interartikularis tanpa adanya pergeseran tulang, keadaan ini disebut dengan
spondilolisis. Jika satu vertebra mengalami pergeseran kedepan dari
vertebra yang lain, kelainan ini disebut dengan spondilolistesis.Tipe II
dapat dibagi kedalam tiga subkategori:

Tipe IIA yang kadang-kadang disebut dengan lytic atau stress


spondilolisthesis dan umumnya diakibatkan oleh mikro-fraktiur
rekuren yang disebabkan oleh hiperketensi. Juga disebut dengan stress
fracture pars interarticularis dan paling sering terjadi pada pria.

Tipe IIB umumnya juga terjadi akibat mikro-fraktur pada pars


interartikularis.Meskipun demikian, berlawanan dengan tipe IIA, pars
interartikularis masih tetapintak akan tetapi meregang dimana fraktur
mengisinya dengan tulang baru.

Tipe IIC sangat jarang terjadi dan disebabkan oleh fraktur akut pada
bagian parsinterartikularis. Pencitraan radioisotope diperlukan dalam
menegakkan diagnosis kelainan ini.

14

C. Tipe III, merupakan spondilolistesis degeneratif, dan terjadi sebagai akibat


degenerasi permukaan sendi lumbal. Perubahan pada permukaan sendi
tersebut akan mengakibatkan pergeseran vertebra ke depan atau ke
belakang. Tipe spondilolistesis ini sering dijumpai pada orang tua. Pada
tipe III, spondilolistesis degeneratif tidak terdapatnya defek dan pergeseran
vertebra tidak melebihi 30%.
D. Tipe IV, spondilolistesis traumatik, berhubungan dengan fraktur akut pada
elemenposterior (pedikel, lamina atau permukaan/facet) dibandingkan
dengan fraktur padabagian pars interartikularis.
E. Tipe V, spondilolistesis patologik, terjadi karena kelemahan struktur tulang
sekunder akibat proses penyakit seperti tumor atau penyakit tulang
lainnya.
3.3.3 Patofisiologi
Sekitar 5-6% pria dan 2-3% wanita mengalami spondilolistesis. Pertama
sekali tampak pada individu yang terlibat aktif dengan aktivitas fisik yang berat
seperti angkat besi, senam dan sepak bola. Pria lebih sering menunjukkan gejala
dibandingkan dengan wanita, terutama diakibatkan oleh tingginya aktivitas fisik
pada pria. Meskipun beberapa anak-anak dibawah usia 5 tahun dapat mengalami
spondilolistesis,

sangat

jarang

anak-anak

tersebut

didiagnosis

dengan

spondilolistesis. Spondilolistesis sering terjadi pada anak usia 7-10 tahun.


Peningkatan aktivitas fisik pada masa remaja dan dewasa sepanjang aktivitas
sehari-hari mengakibatkan spondilolistesis sering dijumpai pada remaja dan
dewasa.

15

Spondilolistesis dikelompokkan ke dalam lima tipe utama dimana masingmasing mempunyai patologi yang berbeda. Tipe tersebut antara lain tipe
displastik, isthmik, degeneratif, traumatik,dan patologik.
Spondilolistesis displatik merupakan kelainan kongenital yang terjadi
karena malformasi lumbosacral joints dengan permukaan persendian yang kecil
dan inkompeten. Spondilolistesis displastik sangat jarang, akan tetapi cenderung
berkembang secara progresif, dan sering berhubungan dengan defisit neurologis
berat. Sangat sulit diterapi karena bagian elemenposterior dan prosesus
transversus cenderung berkembang kurang baik, meninggalkan area permukaan
kecil untuk fusi pada bagian posterolateral.
Spondilolistesis displatik terjadi akibat defek arkus neural pada sacrum
bagian atas atau L5. Padatipe ini, 95% kasus berhubungan dengan spina bifida
occulta. Terjadi kompresi serabut saraf pada foramen S1, meskipun pergeserannya
(slip) minimal.
Spondilolistesis isthmic merupakan bentuk spondilolistesis yang paling
sering.

Spondilolistesis

isthmic

(juga

disebut

dengan

spondilolistesis

spondilolitik) merupakan kondisi yang paling sering dijumpai dengan angka


prevalensi 5-7%. Fredericson et al menunjukkan bahwa defek sponsilolistesis
biasanya didapatkan pada usia 6 dan 16 tahun, dan pergeseran tersebut sering
terjadi lebih cepat. Ketika pergeseran terjadi, jarang berkembang progresif,
meskipun suatu penelitian tidak mendapatkan hubungan antara progresifitas
pergeseran dengan terjadinya gangguan diskus intervertebralis pada usia
pertengahan. Telah dianggap bahwa kebanyakan spondilolistesis isthmik tidak
bergejala, akan tetapi insidensi timbulnya gejala tidak diketahui. Suatu

16

studi/penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Fredericson et al yang


mempelajari 22 pasien dengan mempelajari perkembangan pergeseran tulang
vertebra pada usia pertengahan, bahwa banyak diantara pasien tersebut mengalami
nyeri punggung, akan tetapikebanyakan diantaranya tidak mengalami/tanpa
spondilolistesis isthmik. Satu pasien menjalani operasi spinal fusion pada tingkat
vertebra yang mengalami pergeseran, akan tetapi penelitian tersebut tidak
menunjukkan apakah pergeseran isthmus merupakan indikasi pembedahan.
Secarakasar 90% pergeseran ishmus merupakan pergeseran tingkat rendah (low
grade) (kurang dari 50%yang mengalami pergeseran) dan sekitar 10% bersifat
high grade ( lebih dari 50% yang mengalami pergeseran).
Sistem pembagian/grading untuk spondilolistesis yang umum dipakai adalah
sistem grading Meyerding untuk menilai beratnya pergeseran. Kategori tersebut
didasarkan pengukuran jarak dari pinggir posterior dari korpus vertebra superior
hingga pinggir posterior korpus vertebra inferior yang terletak berdekatan
dengannya pada foto x ray lateral. Jarak tersebut kemudian dilaporkan sebagai
panjang korpus vertebra superior total:
Grade 1 adalah 0-25%
Grade 2 adalah 25-50%
Grade 3 adalah 50-75%
Grade 4 adalah 75-100%
Spondiloptosis- lebih dari 100%

17

Gambar 3. Sponylolisthesis grade


Faktor biomekanik sangat penting perannya dalam perkembangan
spondilosis menjadi spondilolistesis. Tekanan/kekuatan gravitasional dan postural
akan menyebabkan tekanan yang besar pada pars interartikularis. Lordosis lumbal
dan tekanan rotasional dipercaya berperan penting dalam perkembangan defek
litik pada pars interartikularis dan kelemahan parsinerartikularis pada pasien
muda. Terdapat hubungan antara tingginya aktivitas selama masa kanak-kanak
dengan timbulnya defek pada pars interartikularis. Faktor genetik juga berperan
penting.
Pada tipe degeneratif, instabilitas intersegmental terjadi akibat penyakit
diskus degeneratif ataufacet arthropaty. Proses tersebut dikenal dengan
spondilosis. Pergeseran tersebut terjadi akibat spondilosis progresif pada 3
kompleks persendian tersebut. Umumnya terjadi pada L4-5, danwanita usia tua
yang umumnya terkena. Cabang saraf

L5 biasanya tertekan akibat stenosis

resesus lateralis sebagai akibat hipertropi ligamen atau permukaan sendi.

18

Pada tipe traumatik, banyak bagian arkus neural yang terkena/mengalami


fraktur akan tetapi tidak pada bagian pars interartikularis, sehingga menyebabkan
subluksasi vertebra yang tidak stabil. Spondilolistesis patologis terjadi akibat
penyakit yang mengenai tulang, atau berasal dari metastasis atau penyakit
metabolik tulang, yang menyebabkan mineralisasi abnormal, remodeling
abnormal serta penipisan bagian posterior sehingga menyebabkan pergeseran
(slippage). Kelainan ini dilaporkan terjadi pada penyakit Pagets, tuberkulosis
tulang, Giant Cell Tumor, dan metastasis tumor.
3.3.4 Manifestasi kilinis
Gambaran klinis spondilolistesis sangat bervariasi dan bergantung pada tipe
pergeseran dan usiapasien. Selama masa awal kehidupan, gambaran klinisnya
berupa back pain yang biasanya menyebar ke paha bagian dalam dan bokong,
terutama selama aktivitas tinggi. Gejala jarang berhubungan dengan derajat
pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan dengan instabilitas segmental
yang terjadi. Tanda neurologis berhubungan dengan derajat pergeseran dan
mengenai sistem sensoris, motorik dan perubahan refleks akibat dari pergeseran
serabut saraf (biasanyaS1). Progresifitas listesis pada individu dewasa muda
biasanya terjadi bilateral dan berhubungan dengan gambaran klinis/fisik berupa:
Terbatasnya pergerakan tulang belakang.
Kekakuan otot hamstring
Tidak dapat mengfleksikan panggul dengan lutut yang berekstensi penuh.
Hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal.
Hiperkifosis lumbosacral junction.
Pemendekan badan jika terjadi pergeseran komplit (spondiloptosis).

19

Kesulitan berjalan
3.3.5 Gambaran Radiologis
Terplesetnya vertebra paling baik diperlihatkan pada proyeksi lateral dari
tulang belakang lumbal dan mungkin ditemukan rongga diskus yang hilang.
Paling sering terjadi setinggi L4/L5 dan L5/S1. CT/MRI dapat menilai dan adanya
penyempitan kanal tulang.5

Gambar 4. Foto Rontgen Lumbosacral lateral dengan spondylolisthesis

20

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1

Pembahasan Kasus
Pada pasien ini disimpulkan menderita spondylosis lumbalis dengan

spondylolisthesis. Spondylosis karena pada foto rontgen didapatkan gambaran


lipping process yaitu sendi sentral terjadi degenerasi yang menyebabkan
penyempitan diskus intervertebralis dan hipertrofi pada pinggir sendi dengan
terbentuknya osteofit terutama pada corpus vertebrae L3,4.
Sedangkan adanya pergeseran dari corpus vertebrae L4 terhadap L5 ke
anterior disebut dengan spondylolisthesis. Pergeseran tersebut terjadi kurang dari
25 % sehingga termasuk spondylolistesis grade I.

21

BAB V
KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan dan saran


Spondylosis merupakan penyakit degeneratif yang mengenai tulang

belakang.
Spondilolistesis menunjukan terplesetnya satu vertebra pada vertebra
lainnya, biasanya kearah belakang.
Baik spondylosis maupun spondylolistesis mampu menunjukan gejala low
back pain, terutama jika terjadi jepitan pada saraf akibat penyempitan. Untuk
mengetahui pasti apakah adanya jepitan pada syaraf tersebut dapat dilakukan
pemeriksaan MRI.