Anda di halaman 1dari 8

Kode Perkiraan Akuntansi

Kode perkiraan akuntansi perlu dicantumkan dalam pencatatan akuntansi, tujuannya adalah untuk
memudahkan proses pencatatan, pencarian dan penyimpanan serta pembebaban yang dituju pada setiap
perkiraan. Oleh karenanya kode perkiraan akuntansi hendaknya mempunyai kriteria seperti, mudah
diingat, konsisten, sederhana dan singkat serta memungkinkan adanya penambahan perkiraan akuntansi
baru tanpa mengubah kode perkiraan akuntansi yang sudah ada.
Jenis-jenis Kode Perkiraan Akuntansi
Dalam suatu sistem akuntansi perusahaan, pemberian kode perkiraan akuntansi sangat tergantung pada
keanekaragaman transaksi dan jumlah transaksi yang terjadi. Semakin banyak dan kompleksitas transaksi
yang terjadi akan menyebabkan semakin banyak kode perkiraan akuntansi yang akan digunakan.
Terdapat beberapa kode perkiraan akuntansi yang dapat digunakan biasanya seperti kode numerial, kode
desimal, kode mnemonik serta kode kombinasi huruf dan angka. Dalam pembahasan ini hanya
membicarakan dua macam kode akun yang biasa digunakan. Kode perkiraan akuntansi yang dibahas
adalah kode numerial dan kode desimal.
1. Kode Numerial. Merupakan cara pengkodean perkiraan akuntansi berdasarkan nomor secara berurutan,
yang dapat dimulai dari angka 1, 2, 3 dan seterusnya.
Contoh: Kode Perkiraan Akuntansi Numerial

2. Kode Desimal. Merupakan cara pemberian kode perkiraan akuntansi dengan menggunakan lebih dari
satu angka. Setiap angka mempunyai arti, kode desimal ini dapat dibedakan atas kode kelompok dan kode
blok.

Kode Kelompok. Merupakan cara pemberian kode perkiraan akuntansi dengan mengelompokkan
perkiraan akuntansi. Setiap kelompok akun diberi nomor kode masing-masing.

Sebagai contoh :
Perkiraan piutang usaha termasuk kelompok perkiraan aktiva diberi nomor 1 untuk aktiva. Kemudian
termasuk golongan perkiraan aktiva lancar yang diberikan nomor kode 1, kemudian merupakan jenis
aktiva lancar yang ketiga sehingga diberi nomor urut 2, dari cara mengelompokkan tersebut nomor akun
piutang usaha diberikan nomor kode tiga angka yaitu 112.
Agar lebih jelasnya, dapat dilihat pada contoh dibawah ini :

Kode Blok. Merupakan pemberian kode perkiraan akuntansi dengan cara memberikan satu blok kode
setiap kelompok perkiraan akuntansi. Misalnya aktiva diberikan nomor 100 - 199, Kewajiban diberi
nomor 200 - 299, Modal diberikan nomor 300 - 399, Pendapatan nomor 400 - 499 dan Biaya diberi
nomor 500 - 599.
Agar lebih jelasnya, dapat dilihat pada contoh dibawah ini :

AKUN(PERKIRAAN)
Akun (perkiraan) adalah formulir (media) / kartu yang digunakan untuk mengelompokkan
transaksi transaksi yang sejenis ke dalam suatu nama kelompok transaksi dan tempat untuk mencatat
penambahan serta pengurangan yang terjadi dalam kelompok tersebut.
Dalam system pencatatan, kita menggunakan system Akuntansi Berpasangan (Double Entery
Accounting), yang artinya bahwa setiap transaksi akan selalu dicatat di dalam 2 perkiraan/lebih
dengan jumlah debit dan kredit yang seimbang.
Bentuk bentuk akun atau perkiraan :
1) Bentuk T (T form) atau Skontro

2) Bentuk 2 kolom atau 2 lajur


3) Bentuk 3 kolom atau 3 lajur
4) Bentuk 4 kolom atau 4 lajur
Bagan / unsur unsur akun (perkiraan) :
1) Nama akun, contoh: aktiva, kewajiban, modal
2) Tempat untuk mencatat penambahan yang terjadi pada akun
3) Tempat untuk mencatat pengurangan yang terjadi pada akun
Debit adalah sisi sebelah kiri akun. Apabila didebit, berarti pada sisi sebelah kiri tersebut ditulis atau
dicatat suatu jumlah tertentu.
Kredit adalah sisi sebelah kanan akun. Apabila dikredit, berarti pada sisi sebelah kanan tersebut ditulis
atau dicatan suatu jumlah tertentu.
TATA PERKIRAAN (KODE AKUN)
Untuk setiap perkiraan diberi kode perkiraan tertentu atau kode akun. Pemberian kode perkiraan
atau kode akun bertujuan untuk memudahkan dalam pelaksanaan pencatatan (pembukuan) ke dalam
setiap perkiraan/akun. Tiap perkiraan diberi kode yang sesuai dengan kelompoknya (klasifikasinya).
Kode pembukuan atau diringkas dengan KP (Posting Reference disingkat PR atau Ref ).
Dalam pelaksanaannya, pemberian kode tersebut dapat ditentukan dengan memilih salah satu cara
berdasarkan kebijaksanaan masing masing pengelola perusahaan. Untuk jelasnya, pemberian kode
perkiraan itu dapat diberikan dengan sistem sebagai berikut :
1) Numerical (numerial), artinya memberikan penomoran. Pada sistem ini, pemberian kode terhadap
perkiraan dapat dilakukan secara mudah dan bebas. Setiap perkiraan dapat diberikan nomor dengan
aturannya sendiri.
Misalnya :
1. Kas
2. Piutang dagang
3. Perlengkapan kantor
4. .dst.
2) Decimal, artinya pada sistem inisetiap perkiraan diberikan kode dengan menggunakan dasar angka
Sepuluh Digit, yaitu dari angka 0 sampai 9. Angka paling depan digunakan sebagai penunjuk golongan
pokok. Selanjutnya untuk tiap anak golongan ditambah angka lagi.
Misalnya :
5. Biaya
5.0 Biaya Penyediaan Jasa
5.0.1. Gaji
5.0.2. Upah
5.0.3. Bonus
5.0.4. Komisi
5.0.4.1. Komisi Perantara
5.0.4.2. Komisi Agen
5.1 Biaya Administrasi
5.1.0. Gaji
5.1.1. Perlengkapan
5.1.2. Telepon
Dst.

3) Mnemonic, artinya mudah diingat. Jadi pada sistem ini pemberian kode dilakukan dengan tanda yang
mudah diingat. Namun biasanya pada sistem Mnemonic kode perkiraan yang digunakan adalah huruf
huruf. Paling lazim digunakan inisial dari suatu kata.
Misalnya : A untuk Aktiva
H untuk Hutang
Dan seterunya.
Kesulitan yang akan ditemukan pada sistem ini adalah jika ada kata yang inisialnya sama dengan inisial
kata perkiraan yang lain harus dibuat kode lain. Misalnya saja jika perusahaan menyebutkan Aktiva
sebagai Harta, maka inisialnya H, jafi tentunya untuk hutang harus dibuat sebutan lain. Jalan keluarnya
untuk hutang Kewajiban, sehingga inisialnya K. atau cara lain dengan menggunakan kode tambahan
yang mudah diingat.
4) Kombinasi huruf dan angka, artinya pada sistem ini setiap perkiraan diberi kode dengan menggunakan
huruf dan nomor. Keduanya dipadukan untuk membentuk kode tertentu.
Misalnya: Hutang Gaji Bagian Umum diberi kode H 1-21. H menunjukkan Hutang; 1 menunjukkan
golongan hutang; 21 menunjukkan bagian tertentu yang berhubungan dengan kejadian hutang tersebut.
Dari ke empat cara di atas yang peling sering digunakan dalam prakteknya adalah cara
decimal. Pada dasarnya pembuatan kode untuk tiap perkiraan klasifikasinya disesuaikan dengan
pengelompokan dan urutan perkiraan dalam Neraca dan Laporan Laba-Rugi, seperti pada contoh di
bawah ini :
1. Harta
1.1.
Kas
1.2.
Wesel TAgih
1.3.
Piutang Dagang
1.4.
Perlengkapan Kantor
1.5.
Sewa Dibayar di Muka
1.6.
Peralatan
1.7.
Akumulasi Penyusutan Peralatan
2. Hutang
2.1.
Wesel Bayar
2.2.
Hutang Dagang
2.3.
Hutang Bank
2.4.
Hutang Bank
2.5.
Hutang Pajak
2.6.
Hutang gaji
3. Modal
Perusahaan perseorangan:
3.1.
Modal Sudirman
3.2.
Prive Sudirman
3.3.
Ikhtisar Laba-rugi
Persekutuan (Firma/CV):
3.1.1. Modal Abdi
3.1.2. Modal Dedi
3.1.3. Modal Samun
3.2.1. Prive Abdi
3.2.2. Prive Dedi
3.2.3. Prive Samun

3.3.3. Ikhtisar Laba-Rugi


Perseroan Terbatas:
3.1.
Modal Saham
3.1.0. Saham Biasa
3.1.1. Saham Istimewa (Preferent)
3.2.
Cadangan
3.3.
Laba tidak dibagi
4. Penghasilan (Pendapatan)
4.1.
Penghasilan usaha Jasa(Penjualan)
4.2.
Penghasilan Lain lain
5. Biaya biaya
5.1.
Biaya gaji
5.2.
Biaya Perlengkapan
5.3.
Biaya sewa
5.4.
Biaya penyusutan
5.5.
Biaya Bunga
5.6.
Biaya
5.7.
Biaya Rupa rupa
PENGARUH TRANSAKSI PADA PERKIRAAN(AKUN)
Setiap transaksi keuangan yang terjadi akan menambah atau mengurangi nilai atau jumlah uang
yang tercantum pada sisi debit atau kredit perkiraan perkiraan tertentu. Pada dasarnya, naik turun atau
penambahan dan pengurangan jumlah/ nilai uang pada sisi debit dan kredit secara garis besar dapat
digambarkan sebagai berikut:
Nama Perkiraan
Bertambah di
Berkurang di
Saldo Normal
Harta / Kekayaan
Sebelah Debit
Sebelah Kredit
Debit
Hutang/ Kewajiban
Sebelah Kredit
Sebelah Debit
Kredit
Modal
Sebelah Kredit
Sebelah debit
Kredit
a. Pengambilan
Sebelah Debit
Sebelah Kredit
Debit
Pribadi(Prive)
b. Dividen
Penghasilan/pendapatan Sebelah Kredit
Sebelah Debit
Kredit
Biaya - biaya
Sebelah Debit
Sebelah Kredit
Debit

Kode Perkiraan
Dalam sistem akuntansi, kode perkiraan atau kode rekening (chat of account) mutlak
diperlukan, pengelolaan data akuntansi sangat tergantung pada penggunaan kode untuk
mencatat, mengklasifikasikan, meyimpan dan mengambil data keuangan. Dalam hal tertentu
kode rekening akan sangat mengurangi pekerjaan penulisan identitas rekening.

Pemberian kode rekening umumnya didasarkan pada rerangka pemberian kode tertentu,
sehingga memudahkan pemakai dalam penggunaannya. Pemberian kode rekening tidak
dimaksudkan agar pemakai menghafalkan kode-kode rekening yang disusun, namun untuk
memudahkan pemakai mengikuti rerangka logika pemberian kode rekening, sehingga dapat
menggunakan rekening yang disusun untuk pemberian identifikasi transaksi yang terjadi
dalam perusahaan.
Ada 4 metode pemberian kode rekening:
1. Kode Angka Urut
2. Kode Angka Blok
3. Kode Angka Kelompok
4. Kode Angka Bertingkat
Dalam program SIAP metode pemberian kode rekening apapun dapat dipakai, tetapi
disarankan untuk memakai metode nomor 4, yaitu Kode angka bertingkat.. Metode ini
sangat fleksibel terhadap adanya perkembangan dan penambahan kode baru akibat
berkembangnya usaha, juga bisa dibuat sangat detail, contoh kode bertingkat (sampai 9
tingkat) adalah sebagai berikut::
Kode Nama Perkiraan Level
---------------- ----------------------- -------1 Aktiva 1
1.01 Aktiva Lancar 2
1.01.01 Kas Dan Bank 3
1.01.01.01 Kas 4
1.01.01.01.01 Kas Besar 5
1.01.01.01.02 Kas Kecil 5
1.01.01.02 Bank 4
1.01.01.02.01 Bank Mandiri 5
1.01.01.02.02 Bank BNI 5 master data
Tampilan Program Kode Perkiraan

Penyusunan kode perkiraan sebaiknya dibuat secara detail agar buku besar yang dihasilkan
dapat juga digunakan sebagai alat kontrol. Rekap setiap kode perkiraan bisa ditampilkan
dalam kolom bulan sehingga transaksi setiap bulan bisa dibandingkan master data