Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MATA KULIAH AMDAL

AUDIT KUALITAS AIR GEDUNG KULIAH BERSAMA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Disusun Oleh :
Dian Pratiwi

L2J009001

Muhyidin Nur Rohman

L2J009013

Wuri Ariani

L2J009038

Ian Septyana

L2J009045

Fakhrian Aji

L2J009051

Ade Faridah

L2J009065

Winda Dwi Cahyani

L2J009070

Tiara Sukma Pertiwi

L2J009094

Eko Adi Purnomo

L2J009105

Nur Ilman Ilyas

L2J009112

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air bersih merupakan air yang memenuhi syarat kesehatan, yang secara garis
besar kesehatan adalah air yang tidak berwarna (bening dan tembus pandang),
tidak berubah rasanya dan tidak juga berubah baunya serta tidak mengandung zatzat dan kuman yang mengganggu kesehatan. Air bersih merupakan layanan
kebutuhan dasar bagi masyarakat. Air bersih sendiri mempunyai peran vital
sebagai sarana pendukung kegiatan ekonomi dan investasi selain prasarana jalan..
Ketersediaan air bersih dapat dipenuhi bermacam sumber. Diantaranya dapat
dilakukan dengan berlangganan melalui PDAM, pengadaan air mandiri melalui
sumur, ataupun membeli air menggunakan tangki, pada kampus Universitas
Diponegoro sendiri khususnya Gedung Kuliah Bersama Fakultas Teknik
penyediaan air nya melalui sumur yang terletak di Gedung Teknik Elektro.
Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih melalui sumur harus memperhatikan
aturan perijinan yang ada. (link perijinan sumur/air bawah tanah). Adanya
peraturan ini dengan harapan agar dalam penggunaan air tanah tidak terjadi
penggunaan secara berlebihan dan dalam rangka mengkontrol daya dukung
lingkungan terhadap penyediaan air bersih.
Audit lingkungan sendiri berguna dalam mengevaluasi sistematis dan obyektif
dari dampak yang ada maupun potensial dampak dari suatu kegiatan atas
lingkungan. Apa yang dievaluasi biasanya termasuk pengelolaan lingkungan dari
suatu kegiatan, pentaatan pada peraturan dalam pengelolaan lingkungan, termasuk
mengevaluasi penyediaan air bersih termasuk kandungannya apakah sudah
memenuhi syarat kesehatan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari audit lingkungan yang dilakukan adalah untuk mengevaluasi
sistem penyediaan air bersih di Gedung Kuliah Bersama Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro dan kelayakan dalam kualitas air bersih tersebut.

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang ada di dalam tugas Audit Lingkungan adalah :
1. Bagaimana sistem penyediaan air bersih di Gedung Kuliah Bersama
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro ?
2. Apakah kualitas air bersih yang disediakan sudah sesuai dengan baku
mutu?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi dan Sifat Audit Lingkungan

2.1.1. Definisi Audit Lingkungan


Menurut Kep. Men.LH 42/1994, Audit lingkungan adalah suatu alat
manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik, terdokumentasi, periodik
dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi sistem manajemen dan
peralatan dengan tujuan menfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan
upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pemanfaatan kebijakan
usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan
lingkungan.
Beberapa definisi yang diberikan mengenai audit lingkungan adalah
sebagai berikut:
a. Menurut The International Chamber of Commerce 1989
Audit lingkungan merupakan pengujian yang sistematis dari interaksi
antara setiap operasi usaha dengan keadaan sekitarnya.
b. Rob Gray, Jan Bebbington dan Diane Walters
Dalam buku Accounting for the Enviroment (1993, hal 104) Audit
lingkungan

merupakan

suatu

penilaian

yang

sistematis,

objektif

dan

didokumentasikan mengenai dampak dan aktivitas usaha anda terhadap


lingkungan.
Audit lingkungan adalah alat pemeriksaan komprehensif dalam sistem
manajemen

lingkungan.

Audit

lingkungan

merupakan

satu

alat

untuk

memverifikasi secara objektif upaya manajemen lingkungan dan dapat membantu


mencari langkah-langkah perbaikan guna meningkatkan performasi lingkungan,
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan (Bratasida,1996).
Menurut United States Environmental Protection Agency (US EPA), Audit
Lingkungan adalah suatu pemeriksaan yang sistematis, terdokumentasi secara
periodik dan objektif berdasarkan aturan yang ada terhadap fasilitas operasi dan

praktek yang berkaitan dengan pentaatan kebutuhan lingkungan (Tardan dkk,


1997).
Dalam perkembangan selanjutnya audit lingkungan mencakup beberapa
bidang antara lain sistem manajemen lingkungan pelaksanaan produksi bersih,
pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan dan minimisasi limbah. Audit
lingkungan merupakan upaya proaktif suatu perusahaan untuk perlindungan
lingkungan yang akan membantu perusahan meningkatkan efisiensi dan
pengendalian emisi, polutan yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra positif
dari masyarakat terhadap perusahaan.
Dasar hukum pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia adalah UU RI
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KEPMEN LH
Nomor KEP-42 MENLH/11/1994 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit
Lingkungan.

2.1.2. Sifat Audit Lingkungan


Apapun nama yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu program audit
lingkungan

-audit,

review,

surveillance,

survey,

assessment,

evaluation, atau appraisal- poin penting ialah program demikian mengaudit


dan menelaah status lingkungan dari fasilitas individual.
Salah satu perbedaan utama antara audit lingkungan dan tipe audit yang
lain adalah eksistensi dan ketiadaan standar. Terdapat sedikit standar untuk audit
lingkungan. Audit keuangan mempunyai standar yang disebarluaskan oleh badan
standar akuntansi yang berwenang. Perbedaan yang lain adalah jumlah sistem
yang ada. Sistem akuntansi keuangan yang rinci dan terkoordinasi yang berjalan
dapat menjadi sasaran audit keuangan. Namun, diluar hal-hal seperti data
pengendalian polusi, persetujuan dan MOU (Memorandum of Understanding),
sacara tipikal terdapat sedikit informasi lingkungan relative yang dapat diaudit.

2.2.

Tujuan dan Kegunaan Lingkup Audit Lingkungan

2.2.1. Tujuan Audit Lingkungan


1. Untuk memperoleh gambaran tentang keadaan kondisi lingkungan dari
suatu perusahaan atau kegiatan dan mengukur kinerja lingkungan suatu
kegiatan.
2. Menjadikan audit lingkungan sebagai suatu cerminan atau potret tentang
kinerja perusahaan atau oraganisasi terhadap lingkungan.

2.2.2. Kegunaan Audit Lingkungan


1.

Upaya untuk meningkatkan penataan perusahaan/organisasi terhadap


peraturan perundangan di bidang lingkungan, misalnya standar emisi
udara, limbah.

2.

Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar


prosedur operasi, prosedur pengelolaan lingkungan termasuk rencana
tanggap darurat, pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan
pada proses produksi.

3.

Jaminan untuk menghindari terjadinya pencemaran dan kerusakan


lingkungan.

4.

Upaya perbaikan dalam penggunaan sumber daya melalui efisiensi


penggunaan bahan baku, bahan penolong, identifikasi melalui proses
daur ulang atau penerapan produksi bersih dan efisiensi energy.
Manfaatnya :

a. Mengidentifikasi risiko lingkungan


b. Menghindari kerugian finansial seperti penutupan / pemberhentian operasi
oleh pemerintah
c. Menghindari kerugian finansial untuk tujuan akuisisi perusahaan lain.
d. Menghindari adanya sanksi hukum karena pelanggaran peraturan
perundangan dan standar standar lingkungan.
e. Meningkatkan keperdulian staff suatu perusahaan atau unit usaha /
organisasi terhadap kebijakan dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

2.3.

Ruang Lingkup Audit Lingkungan


1. Sejarah berdirinya organisasi , rona lingkungan, pencemaran dan
kerusakan lingkungan, upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan dan
isu isu lingkungan yang terkait.
2. Perubahan rona dan kualitas lingkungan sejak kegiatan dibangun sampai
dengan waktu pelaksanaan audit lingkungan.
3. Penggunaan inputdan sumber daya alam, termasuk energy, proses
produksi, produk yang dihasilkan dan limbah-limbah yang dihasilkan.
4. Identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia, B3 serta potensi
pencemaran dan kerusakan yang mungkin akan timbul.
5. Kajian resiko lingkungan.
6. Penataan terhadap perizinan, standar standar dan pengelolaan B3 dan
limbah B3.
7. Penataan terhadap hasil AMDAL ( RKL dan RPL)
Jenis jenis Audit Lingkungan

2.4.

Audit lingkungan ada beberapa jenis, yang pelaksanaannya sangat


tergantung pada kebutuhan manajemen/ perusahaan. (Tardan dkk, 1997) :
1. Audit Pentaatan
Audit Pentaatan memiliki sifat :
a. Menilai ketaatan terhadap peraturan, standar dan pedoman yang ada.
b. Meninjau persyaratan perizinan dan pelaporan.
c. Melihat pembatasan pada pembuangan limbah udara, air dan padatan.
d. Menilai keterbatasan peraturan dalam pengoperasian, pemantauan dan
pelaporan sendiri atas pelanggaran yang dilakukan perusahaan.
e. Sangat mengarah pada semua hal yang berkaitan dengan pentaatan.
f. Dapat dilakukan oleh petugas (kelompok/perusahaan) setempat.
2. Audit Manajemen
Audit jenis ini mempunyai sifat :

a. Menilai kefektifan sistem manajemen internal, kebijakan perusahaan dan


resiko yang berkaitan dengan manajemen bahan.
b. Menilai keadaan umum dari peralatan, bahan bangunan dan tempat
penyimpangan.
c. Mencari bukti/ kenyataan tentang kebenaran dan kinerja proses produksi.
d. Menilai kualitas pengoperasian dan tata laksana operasi.
e. Menilai keadaan catatan/ laporan tentang emisi, tumpahan, keluaran, dan
penanganan limbah.
f. Menilai tempat pembuangan secara rinci.
g. Meninjau pelanggaran atau pertentangan dengan petugas setempat atau
dengan masyarakat.
3. Audit Produksi Bersih dan Minimisasi Limbah
Jenis audit ini mempunyai sifat :
a. Mengurangi jumlah timbunan dan produksi buangan limbah.
b. Menggunakan analisis kualitas daan kuantitatif yang rinci terhadap praktek
pembelian, proses produksi dan timbunan limbah.
c. Mencari tindakan alternatif pengurangan produksi, dan pendaur ulangan
limbah.

4. Audit Konservasi Air


Sifat audit ini adalah :
Mengidentifikasi sumber air penggunaan air dan mencari upaya untuk
mengurangi penggunaan air total melalui usaha pengurangan, penggunaan
ulang dan pendaur-ulangan
5. Audit Konservasi Energi
Sifat audit ini adalah :
Melacak pola pemakaian tenaga listrik, gas dan bahan bakar minyak dan
mencoba untuk mengkuantifikasikan serta meminimalkan penggunaannya.
6. Audit Pengotoran/ Kontaminasi Lokasi Usaha
Sifat audit ini adalah :

a. Menilai kedaan pengotoran lokasi perusahaan akibat pengoperasian yang


dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan.
b. Melakukan pengambilan contoh dari lokasi dan melakukan penganalisaan
contoh sampel tersebut untuk jangka waktu yang cukup panjang dan
merupakan hal yang khusus pada audit jenis ini (audit lain tidak
melakukan pengambilan sampel).
c. Melakukan pengelolaan secara statistik terhadap hasil audit, jika
diperlukan.
7. Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Jenis audit ini memiliki sifat :
a. Menilai tatalaksana operasional pekerjaan, pengelolaan bahan dan limbah
berbahaya,

pembuangan

bahan

pencemar

dan

sejenisnya,

yang

berhubungan erat dengan keselamatan dan kesehatan kerja.


b. Audit ini memungkinkan pimpinan perusahaan untuk menetapkan apakah
perusahaan tersebut sudah mentaati peraturan tentanf keselamatan dan
kesehatan kerja.
8. Audit Perolehan (Procurement Audit)
Sifat audit ini adalah :
a. Meninjau praktek pembelian
b. Mengidentifikasi hasil produksi daan peralatan alternatif.
c. Dapat dilakukan terpisah atau sebagai bagian audit minimisasi limbah atau
audit produksi bersih.
d. Biasanya melibatkan pegawai bagian pembelian.
e. Melihat alternatif dari yang sederhana sampai genting (cradle to grave)

2.5.

Prinsip Prinsip Dasar

1. Karakteristik dasar
a. Prosedur yang sistematis dan terdokumentasi
b. Obyektif dan independent
c. Kriteria Audit
d. Pembuktian dan pengujian fakta

e.

Laporan audit

2. Kunci keberhasilan
a. Dukungan Pimpinan
b. Keikut - sertaan semua pihak
c. Kemandirian dan obyektivitas auditor
d. Kesepakatan tentang metodologi dan lingkup audit antara auditee dan
auditor
3. Sifat Kerahasiaan
4. Pengawasan Mutu Hasil Audit Lingkungan dan Kualifikasi Auditor
5. Peran dan tanggung jawab tim audit

2.6.

Auditing sebagai Komponen dari Manajemen Lingkungan


Suatu sistem Manajemen Lingkungan merupakan metode untuk menuntun

suatu organisasi untuk mencapai dan mempertahankan kinerja sesuai dengan


tujuan yang telah ditetapkan dan sebagai tanggapan terhadap peraturan yang
secara konstan berubah, sosial, keuangan, ekonomi dan tekanan kompetitif, dan
resiko lingkungan. Apabila beroperasi secara efektif, suatu sistem manajaemen
lingkungan korporat memberikan manajemen dan dewan direksi pengetahuan,
yaitu:
a. Perusahaan menaati hukum dan peraturan lingkungan.
b. Kebijakan dan prosedur secara jelas didefinisikan dan diumumkan ke
seluruh organisasi.
c. Resiko korporat yang berasal dari resiko lingkungan dinyatakan dan
berada dibawah pengendalian.
d. Perusahaan mempunyai sumberdaya dan staff yang tepat untuk pekerjaan
lingkungan,

menggunakan

sumber

daya

tersebut,

dan

dapat

mengendalikan masa depan sumber daya tersebut.


Sistem manajemen lingkungan terdiri dari beberapa fungsi, yaitu:
a. Perencanaan
Menetapkan tujuan, menentukan kebijakan, mendefinisi prosedur, dan
menetapkan anggaran program.

b. Mengorganisasi
Menetapkan struktur organisasi, melukiskan peranan dan tanggung jawab,
menciptakan deskripsi posisi, menetapkan kualifikasi posisi dan melatih staff.
c. Menuntun dan Mengarahkan
Mengkoordinasi, memotivasi, menetapkan prioritas, mengembangkan
standar kinerja, mendelegasi dan mengelola perubahan.
d. Mengkomunikasikan
Mengembangkan dan mengimplementasikan saluran komunikasi yang
efektif dalam korporat, dalam divisi, dan dengan kelompok eksternal, termasuk
pengatur apabila sesuai.
e. Mengendalikan dan Menelaah
Mengukur hasil, menyatakan kinerja, mendiagnosis masalah, mengambil
tindakan korektif dan secara sengaja mencari cara-cara untuk belajar dari
kesalahan masa lalu serta dengan demikian menciptakan perbaikan dalam sistem.

2.7.

Tahapan Pelaksanaan Audit Lingkungan


Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut :
a. Pendahuluan
Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang
dilaksanakan, jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor.
b. Pra-audit
Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit
lingkungan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan
keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut.
Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci
mengenai aktifitas di lapangan, status hukum, struktur organisasi, dan lingkup
usaha atau kegiatan yang akan diaudit. Aktifitas pra-audit juga meliputi
pemilihan tata laksana audit, penentuan tim auditor, dan pendanaan
pelaksanaan kegiatan audit. Pada saat ini, tujuan dan ruang lingkup audit harus
telah disepakati.
c. Kegiatan Lapangan

1. Pertemuan pendahuluan
Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan
pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit,
tata laksana, dan jadwal kegiatan audit.
2. Pemeriksaan lapangan
Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan.
Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan
yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian
secara khusus. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan, tim auditor dapat
menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum
teridentifikasi dalam perencanaan.
3. Pengumpulan data
Data dan informasi yang dikumpullkan selama audit lingkungan akan
mencakup tata laksana audit, dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha
atau kegiatan, catatan dan hasil pengamatan tim auditor, hasil sampling den
pemantauan, foto-foto, rencana, peta, diagram, kertas kerja dan hal-hal lain
yang berkaitan, Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar
mudah ditelusuri kembali. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk
menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian hasil temuan audit
lingkungan,
4. Pengujian
Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan
oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Dokumentasi yang dihasilkan
oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan, atau telah teruji melalui
pengamatan langsung oleh tim auditor. Dalam menguji hasil temuan audit, tim
auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen
yang asli dan sah. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat
pengujian data yang dibutuhkan, atau harus ditentukan oleh tim auditor.
5. Evaluasi hasil temuan
Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata
laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah

dikaji. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil
temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat.
6. Pertemuan akhir
Setelah penelitian lapangan selesai, tim auditor harus memaparkan hasil
temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. Pertemuan ini
akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang
belum tersedia. Tim auditor harus mengkaji hasil temuannya secara garis
besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. Seluruh dakumentasi
selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau
kegiatan.
d. Pasca Audit
Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil
pelaksanaan audit lingkungan. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan
tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu lingkungan yang telah
diidentifikasi.

2.8.

Aktivitas Pra dan Setelah Audit

2.8.1. Aktivitas Pra Audit


Proses audit lingkungan dimulai dengan sejumlah aktivitas sebelum audit
ditempat aktual terjadi. Aktivitas-aktivitas tersebut yaitu pemilihan fasilitas yang
diaudit, jadwal dari fasilitas yang diaudit, pemilihan tim audit, pengembangan dari
suatu rencana audit, mendefinisikan ruang lingkup audit, pemilihan topik yang
prioritas untuk dimasukkan, memodivikasi program audit dan mengalokasi
sumber daya tim audit.
Audit ditempat aktual secara tipikal terdapat 5 langkah dasar, yaitu:
1. Memahami sistem dan prosedur manajemen internal
Pemahaman auditor biasanya dikumpulkan dari berbagai sumber, misalnya
diskusi staff, kesioner, kunjungan pabrik dan dalam kasus tertentu, suatu
pengujian verifikasi terbatas dilakukan untuk membantu mengkonfirmasikan
pemahaman awal auditor. Auditor biasanya mencatat pemahamannya dalam suatu
bagan arus, uraian naratif atau gabungan dari keduanya agar dapat mempunyai

suatu deskripsi yang tertulis. Tujuan dasar dalam langkah ini untuk memahami
berbagai cara memperhatikan lingkungan yang dikelola. Dalam kelanyakan
organisasi, banyak aspek dari sistem manajemen lingkungan internal tidak
didokumentasikan secara tertulis. Namun sistem manajemen yang terpilih dapat
didokumentasikan dalam detail yang cukup untuk memberikan suatu pemahaman
dan prosedur-prosedur dasar rencana.

2. Menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemah


Auditor mencari indikator- indikator seperti tanggungjawab yang secara
jelas didefinisikan, suatu sistem otorisasi yang memadai, kesadaran dan
kapabilitas personil, dokumentasi dan pencatatan, serta verifikasi internal. Jika
disain manajemen lingkungan internal dinilai sehat (yaitu hasil yang diterima
tercapai, apabila sistem berfungsi seperti yang didisain), maka langkah audit
berikutnya dapat memfokuskan pada efektifitas yaitu disain diimplementasikan,
dan sejauhmana system dalam kenyataan telah dilaksanakan seperti yang
dikehendaki. Namun, apabila disain dari sistem intrenal tidak cukup sehat untuk
memastikan

hasil

yang

dikehendaki,

langkah

audit

berikutnya

harus

memfokuskan pada hasil lingkungan daripada sistem manajemen internal.


3. Menyimpulkan bukti audit
Kelemahan-kelemahan

yang

dicurigai

dalam

sistem

manajemen

dikonfirmasi dalam tahap ini, sistem yang tampak sehat diuji untuk membuktikan
bahwa sistem tersebut berfungsi sesuai dengan yang direncanakan dan digunakan
secara konsisten. Bukti audit dapat dikumpulkan melalui penyelidikan (seperti
kuesioner formal dan kuesioner tidak formal), pengamatan dan pengujian (seperti
menelusuri kembali data, memverifikasi jejal kertas). Tim audit harus
mengidentifikasi dan kemudian memverifikasi aktivitas tersebut dalam proses
manajemen lingkungan yang dapat memberikan pandangan secara mendalam
mengenai fungsi sistem secara keseluruhan. Bukti audit dapat berupa dalam
bentuk fisik, dokumen atau keadaan.
4. Menilai temuan audit

Pengamatan audit dan temuan dinilai, tujuannya dapat dimengerti dan


mengintegrasikan temuan-temuan dan observasi dari setiap anggota tim,
kemudian menentukan disposisi akhir temuan dan observasi akan dimasukkan ke
dalam laporan audit yang formal atau hanya membawa pada perhatian dari
manajemen fasilitas. Temuan audit dan observasi dapat diorganisasikan untuk
menentuka temuan yang umum, dapat mempunyai signifikasi yang lebih besar
daripada bila dipandang secara individual. Dalam menilai temuan audit, anggota
tim khususnya pemimpin tim, menentukan apakah bukti audit yang dimiliki cukup
untuk mendukung temuan audit.
5.

Melaporkan temuan audit


Proses pelaporan audit lingkungan sering dimulai dengan diskusi yang

tidak formal antara auditor dan koordinator lingkungan fasilitas ketika


penyimpanan diketahui. Temuan lebih jauh akan diklarifikasi ketika audit sedang
berlangsung dan kemudian dilaporkan kepada manajemen fasilitas selama
penyelesaian audit atau konferensi penutupan. Selama pertemuan, tim audit
mengkomunikasikan semua temuan dan pengamatan yang diketahui selama audit
dan menunjukkan item-item mana yang akan muncul dalam laporan audit yang
formal. Tujuan pengunaan laporan audit mencakup memberikan informasi kepada
manajemen, memprakarsai tindakan korektif, dan menyediakan dokumentasi
audit. Laporan audit memberikan kaitan yang cukup untuk seluruh penelaahan
yang dilakukan sehinggam kerangka kerja manajemen yang ada dapat
menentukan apa, apabila ada, tindakan-tindakan yang diperlukan.

2.8.2. Aktivitas setelah audit (post audit activities)


Proses audit tidak hanya berakhir pada simpulan dari audit ditempat.
Pemimpin tim audit menyiapkan suatu laporan sementara mengenai temuan dan
observasi dalam dua minggu dari audit ditempat. Laporan sementara ini dapat
ditelaah oleh manajemen fasilitas, dan lain-lain sebelum suatu laporan akhir
diterbitkan.
Ketika laporan akhir disiapkan, proses perencanaan tindakan biasanya
dimulai. Proses mencangkup menentukan lokasi yang potensial, menyiapkan

rekomendasi, memberikan tanggung jawab untuk tindakan korektif dan


menetapkan jadwal. Langkah terakhir dalam proses audit secara keseluruhan
dimulai dengan tindak lanjut terhadap rencana tindakan untuk memastikan bahwa
seluruh kekurangan dalam kenyataannya telah diperbaiki.

BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN
AUDIT LINGKUNGAN

Penentuan lokasi (sampling


area) parameter yang di ukur

Survey lokasi (Analisis


kondisi lokasi) dan pembagian
kuisioner

Pelaksanaan sampling dengan


parameter air bersih di toilet
Gedung Kuliah Bersama.

Analisa data hasil sampling di


Laboratorium Lingkungan.

HASIL PENGAMATAN

BAB IV
GAMBARAN UMUM
GEDUNG KULIAH BERSAMA (GEDUNG C)

1. Lokasi
Gedung ini diresmikan pada tanggal 5 januari 2010 oleh Dekan
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Ir. Hj. Sri Eko Wahyuni, M.S.
Gedung kuliah bersama (gedung C) berada di Jl. Prof. H. Soedharto,SH,
Tembalang Semarang.

Gambar 1. Lokasi Gedung Kuliah Bersama

2. Peruntukan
Gedung kuliah bersama ini di gunakan untuk sebagai fasilitas
perkuliahan untuk jurusan Teknik Lingkungan, Teknik Geodesi, Sistem
Komputer, Teknik Industri.
Teknik Lingkungan menempati lantai 1 untuk gedung D, E dan
lantai 2 serta 3 gedung C.
Teknik Geodesi menempati lantai 1 untuk gedung C.
Sistem Komputer menempati lantai 2 untuk gedung D dan E.
Teknik industry menempati lantai 3 untuk gedung D.

BAB V
PEMBAHASAN AUDIT KUALITAS AIR
GEDUNG KULIAH BERSAMA FAKULTAS TEKNIK UNDIP

Permasalahan Berdasarkan Survey :


1. Air yang digunakan adalah air tanah dari sumur artesis yang terletak di
kampus elektro yang dialirkan dengan pompa dan juga sumur dangkal
yang terletak di kampus GKB Belakang.
2. Belum diketahui kandungan yang terdapat di dalam air tanah tersebut
3. Air tanah ini dimanfaatkan untuk mandi, memasak, dan mencuci.

1.

Audit Observasi
Audit observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai kelayakan air

bersih yang ada di gedung Fakultas Teknik UNDIP. Observasi dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain :
a.

Interview
Interview dilakukan kepada 2 orang sample, antara lain seorang staff
administrasi dari jurusan Teknik Lingkungan dan seorang staff
administrasi jurusan Teknik Elektro. Isi dari interview diantaranya
adalah sumber air bersih untuk gedung Kuliah Bersama, bagaimana
keadaan air yang digunakan, dan kegunaan air tersebut.

b.

Uji Kandungan Air Tanah


Pengujian air bersih diambil sampel dari Gedung Kuliah Bersama
Fakultas Teknik UNDIP. Hasil kadar air yang terkandung antara lain:
Temperatur : 27,08oC
pH

: 6,7

DHL

: 0,404 mS/cm

Kekeruhan : 1,5 NTU


DO

: 6,27 mg/L

TDS

: 263 mg/L

Hasil sample air kemudian dibandingkan dengan baku mutu yang ada
di Permenkes No. 492 tahun 2010 2010 tentang Persyaratan Kualitas
Air Minum.

2.

Parameter

Hasil Pengamatan

Permenkes 492/2010

Temperatur

27,08oC

pH

6,7

6,5 8,5

Kekeruhan

1,5 NTU

5 NTU

DO

6,27 mg/l

6 mg/l

TDS

263 mgl/l

500 mg/l

Kebutuhan Air Bersih Gedung Kuliah Bersama FT UNDIP


a. Jumlah Alat Plambing
Luas Bangunan = 3000m2 (Pembulatan)
Luas Efektif bangunan

= 70% x Luas bangunan


= 70% x 3000m2
= 2100 m2

Jumlah Penghuni

= Luas efektif / density


= 2100 m2 / 5 m2/orang
= 420 orang. (Semua Lantai)

Jumlah Penghuni tiap lantai = 420 orang/ 3 lantai = 140 orang/lantai


Perbandingan Pria : Wanita di Gedung Kuliah Bersama tiap lantai adalah
4: 3 (asumsi)
a. Pria

x 140 orang

= 80 orang

b. Wanita

x 140 orang

= 60 orang

Berdasar jumlah pria dan wanita tadi, dapat ditentukan jumlah alat
plambing yang dibutuhkan tiap lantai sebagai berikut:

Tabel 5.1
Jumlah Alat Plambing Lantai 1
Jumlah

WC

LAV

UR

FC

Pria

80

wanita

60

Tabel5.2
Jumlah Alat Plambing Tiap Lantai Gedung Kuliah Bersama Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro

Peralatan Plambing
Lantai

Karyawan

Jumlah
Kloset

Urinoir

Lavatory

Faucet

Pria

80

Wanita

60

Pria

80

Wanita

60

Pria

80

Wanita

60

420

15

15

15

Jumlah

b. Kebutuhan Air Gedung Kuliah Bersama FT UNDIP

Kebutuhan air rata-rata tiap orang = 100 l/org/hari

Jangka waktu pemakaian rata-rata perhari = 8 jam

Total kebutuhan air (Qd)


Qd

= Jumlah penghuni x kebutuhan air rata-rata


= 140 orang x 100L/orang/hari
= 14000L/hari
= 14 m3/hari

Qd Total

= 14 m3/hari x 3 lantai
= 42 m3/hari

3.

Pembahasan
Berdasarkan audit observasi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa supplay

air bersih pada Gedung Kuliah Bersama Fakultas Teknik UNDIP UNDIP berasal
dari air tanah yang berlokasi di dekat kampus Elektro dari sumur artesis dan
sumur dangkal yang ada di Gedung Kuliah Bersama FT UNDIP yang dipompa
menuju gedung. Di Gedung Kuliah Bersama, terdapat 2 Tangki air dengan ukuran
masing masing 1000 Liter.
Gambar 5.1
Sumur Artesis di Gedung Elektro UNDIP

Gambar 5.2
Sumur Dangkal di Gedung Kuliah Bersama FT UNDIP

Air bersih yang ada selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan kamar
mandi dan wastafel, air tersebut digunakan untuk memasak. Mengingat hasil yang
berbeda antara data hasil uji air tanah dan Permenkes RI no 492 tahun 2010
tentang Persyaratan Air Minum pada parameter DO, maka air tersebut sudah
cukup layak untuk dikonsumsi. DO yang terkandung dalam air tersebut walaupun
melebihi baku mutu yaitu 6 mg/l, dimana kandungan DO nya sebesar 6,27 mg/l,
tidak terlalu berpengaruh bagi kesehatan dan masih dianggap layak untuk
dikonsumsi.

Gambar 5.3
Keadaan Toilet di Gedung Kuliah Bersama Lantai 3

Sumber: Dokumentasi, 2012

Saat melakukan audit untuk penyediaan air bersih, ternyata untuk gedung
kuliah bersama FT diperlukan debit pengaliran 42000 liter/harinya. Selain itu,
untuk jumlah alat plambing yang ada di gedung kuliah bersama masih kurang
jumlahnya maupun perawatannya. Seharusnya jumlah WC 5 buah ( 2 buah pria, 3
buah wanita), urinoir 1 buah, lavatory 5 buah ( 2 buah pria, 3 buah wanita ).
Tetapi pada kenyataannya, jumlah alat plambing yang ada kurang untuk
memenuhi kapasitas orang yang ada. Jumlah alat plambing di Gedung Kuliah
Bersama antara lain: WC 4 buah (2 pria, 2 wanita), 2 lavatory (1pria, 1 wanita).
Selain itu, tidak ada pembagian antara WC pria dan wanita. Tidak adanya bak
mandi membuat kesulitan saat akan menyiram kotoran. Kebersihan toilet kurang
diperhatikan dan ditemukan beberapa alat plambing yang sudah tidak layak dan
seharusnya diganti.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan
Parameter

Hasil Pengamatan

Permenkes 492/2010

Temperatur

27,08oC

pH

6,7

6,5 8,5

Kekeruhan

1,5 NTU

5 NTU

DO

6,27 mg/l

6 mg/l

TDS

263 mgl/l

500 mg/l

Kualitas air minum di Gedung Kuliah Bersama FT Universitas


Diponegoro layak untuk digunakan mandi, cuci tangan, dan kebutuhan
memasak walaupun ada parameter yang melebihi baku mutu, yaitu DO,
tapi hal ini masih dianggap wajar karena hanya melebihi 0,27 mg/l.
Dibutuhkan suplai air bersih sebesar 42 m3/hari. Jumlah alat
plambing yang ada tidak mencukupi kebutuhan dan ada beberapa alat
plambing yang sudah tidak layak pakai. Ada pula toilet yang tidak bisa
digunakan dan juga tidak ada perbedaan antara toilet pria maupun wanita.

6.2

Saran
Dibutuhkan konservasi air supaya persediaan air tanah pada sumur
artesis tetep berkualitas, kuantitas yang cukup dan kontinyuitas walaupun
musim kering.
Dibutuhkan perbaikan terhadap kamar mandi yang ada supaya
penggunaannya lebih optimal dan dapat lebih nyaman saat menggunakan
fasilitas MCK.