Anda di halaman 1dari 40

i

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASCA FRAKTUR HUMERUS 1/3


DISTAL SINISTRA MENGGUNAKAN MODALITAS INFRA RED
RADIATING (IRR) DAN TERAPI LATIHAN

DISUSUN OLEH:
ATIKA DWI MUDIATI
N. I. M : 109.109.001

Disusun Oleh :
Atika Dwi Mudiati
NIM : 109110003

PROGRAM STUDY D-III FISIOTERAPI


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2013

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat hidayah
dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASCA FRAKTUR HUMERUS 1/3
DISTAL

SINISTRA

MENGGUNAKAN

MODALITAS

INFRA

RED

RADIATING (IRR) DAN TERAPI LATIHAN dapat diselesaikan dengan baik.


Dalam kesempatan ini, tak lupa pula kami ucapkan banyak terimakasih
kepada Bapak yang telah memberikan ilmu, bimbingan dan kesempatan serta
kepada pihak yang telah memberikan bantuannya, baik moral maupun materi
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak
terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Akhir
kata penulis mengucapkan selamat membaca dan semoga makalah ini bermanfaat.
Amin

Cilacap,

Februari 2013

Penulis

iii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................

KATA PENGANTAR .....................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................

A. Latar Belakang .....................................................................................

B. Identifikasi Masalah .............................................................................

C. Pembatasan Masalah ............................................................................

D. Rumusan Masalah ................................................................................

E. Tujuan Penulisan ..................................................................................

BAB II KERANGKA TEORI..........................................................................

A. Deskripsi Teoritis .................................................................................

B. Proses Fisioterapi .................................................................................

18

C. Kerangka Berfikir.................................................................................

24

BAB III LAPORAN KASUS...........................................................................

26

A. Data Pasien ...........................................................................................

26

B. Pemeriksaan .........................................................................................

26

C. Diagnosis Fisioterapi ............................................................................

26

D. Rencana Fisioterapi ..............................................................................

30

E. Pelaksanaan Fisioterapi ........................................................................

31

F. Prognosis ..............................................................................................

33

G. Evaluasi ................................................................................................

33

BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................

35

BAB V PENUTUP ...........................................................................................

36

A. Kesimpulan ..........................................................................................

36

B. Saran .....................................................................................................

36

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut data epidemiologi pada orang dewasa insiden fraktur klavicula
sekitar 40 kasus dari 100.000 orang, dengan perbandingan laki-laki perempuan
adalah 2 : 1. Fraktur pada midhumerus yang paling sering terjadi yaitu sekitar
85% dari semua fraktur humerus, sementara fraktur bagian distal sekitar 10%
dan bagian proximal sekitar 5%. Sekitar 2% sampai 5% dari semua jenis
fraktur merupakan fraktur humerus (Anonim, 2011).
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon, frekuensi fraktur
humerus sekitar 1 kasus dari 1000 orang dalam satu tahun.Fraktur klavicula
juga merupakan kasus trauma pada kasus obstetrik dengan prevalensi 1 kasus
dari 213 kasus kelahiran anak yang hidup (Anonim, 2011).
Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada
individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan
memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan
menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatam (fisik,
elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi (Anonim,
2007). Oleh karena itu penulis perlu mengangkat kondisi mengenai faktur
humerus sinistra 1/3 distal ini untuk dijadikan bahan makalah agar lebih
memahami dan memberikan informasi tentang kasus faktur humerus sinistra
1/3 distal.
B. Identifikasi Masalah
Secara umum problematik faktur humerus sinistra 1/3 distal yaitu
1. Nyeri
Nyeri yaitu suatu perasaan yang tidak enak yang disampaikan kepada otak
oleh neuron sensori. Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma.Hal
ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau
kerusakan jaringan sekitarnya.

2. Keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS)


Keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS) terjadi karena ketidakstabilan
tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot.
3. Oedem
Oedem yaitu meningkatnya cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler.Oedem
terjadi karena adanya penumpukan cairan serosa (protein plasma) yang
terlokalisir pada daerah fraktur.
4. Spasme otot
Spasme otot adalah ketegangan pada tonus otot.Spasme otot terjadi karena
kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.

C. Pembatasan Masalah
Karena banyaknya permasalahan yang terjadi pada kondisi Fraktur Humerus
1/3 Distal Sinistra, maka penulis memberikan batasan pada penurunan nyeri
dan peningkatan lingkup gerak sendi dengan menggunakan modalitas IRR dan
terapi latihan.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan pada kondisi fraktur Fraktur Humerus 1/3 Distal
Sinistra , maka pnulis dapat merumuskan masalah :
1. Bagaimana pengaruh IRR terhadap pengurangan nyeri pada kondisi
Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra?
2. Bagaimana pengaruh terapi latihan terhadap pengurangan nyeri dan
peningkatan lingkup gerak sendi pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal
Sinistra?
E. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui bagaimana interverensi fisioterapi terhadap kondisi

Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra dengan pemasangan plate and


screw dengan pemberian modalitas IRR dan terapi latihan.
b. Untuk memperdalam pengetahuan tentang kondisi Fraktur Humerus

1/3 Distal Sinistra bagi pembaca dan penulis.


2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh Infra Red Radiating (IRR) dalam
mengurangi nyeri Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra.
b. Untuk mengetahui

terapi latihan dalam mengurangi nyeri dan

meningkatkan LGS pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra.


.

BAB II
KERANGKA TEORI

A. Deskripsi Teoritis
1. Fraktur humerus
a. Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah suatu patahan pada kontinuitas
struktur tulang (Apley, 1995). Fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya yaitu diskontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan
yang disebabkan oleh rudapaksa.
Pembagian patah tulang ada 2 yaitu trauma yang menyebabkan patah
tulang dapat berupa trauma langsung misalnya benturan keras dan
trauma yang tidak langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan.
1. Fraktur tertutup
Fraktur tertutup yaitu fragmen tulang dari luar tidak nampak, tidak
menembus kulit.
2. Fraktur terbuka
Fraktur terbuka yaitu fragmen tulang Nampak dari luar atau
menembus kulit (Sjamsuhidajat.R, dkk, 1997).
Fraktur humerus 1/3 distal adalah fraktur pada tulang humerus1/3
distal yang disebabkan oleh trauma langsung dan tidak langsung.
b. Anatomi Fisiologi
1. Tulang Humerus
Tulang humerus dibagi menjadi 3 bagian yaitu epiphysis proximal,
bagian ini membulat dan bulatanyya disebut caput humeri.
Diaphysis ini merupakan bagian tengah disebut dengan corpus
humeri dan epiphysis distal

mempunyai 2 dataran sendi yaitu

capitulum humeri dan trochlea humeri (Pudjiastuti, 2002).

Gambar 2.1
Tulang humerus tampak depan (Atlas Sobota, 2002)
Keterangan gambar 2.1 :
1. Sulcus intertubercularis
2. Tubercullum majus
3. Collum chirurgicum
4. Crista tuberculi majoris
5. Tuberositas deltoidea
6. Margo lateralis
7. Facies anterolateralis
8. Crista supraepicondiylaris lateralis
9. Fossa radialis
10. Epicondylus lateralis
11. Capitulum humeri
12. Condylus humeri
13. Trochlea humeri
14. Epicondylus medial
15. Crista supraepicondiylaris medialis
16. Fossa coronoidea
17. Facies anteromedialis
18. Margo medialis
19. Crista tuberculi minoris
20. Tubercullum minus
21. Collum anatomicum
22. Caput humeri

Gambar 2.2
Tulang humerus tampak belakang (Atlas Sobota, 2002)
Keterangan gambar 2.2 :
1. Caput humeri
2. Collum anatomicum
3. Collum chirurgicum
4. Sulcus nervi radialis
5. Facies posterior
6. Crista supraepicondiylaris medialis
7. Fossa olecrani
8. Epicondylus medial
9. Sulcus nervi ulnaris
10. Trochlea humeri
11. Epicondylus lateralis
12. Crista supraepicondiylaris lateralis
13. Corpus humeri
14. Tuberculum majus

2. Otot-otot extremitas atas


No
1

Otot

Origo

Deltoid, dibagi
menjadi 3 bagian
yaitu :

a. Akromialsepertiga
klavikula

(anterior)
b. Pars acromialis

Fungsi

Tuberositas

a. Flexi,

deltoidea

b. Bagian

a. Parsclavicularis

Insertio

atas

adduksi

b. Adduksi
bawah

shoulder
90o

spina scapula

(middle)
c. Pars

N. axilaris C5-6

shoulder

akromion
c. Bagian

Innervasi

c. Extensi
spinalis

shoulder

(posterior)
2

Supraspinatus

Infraspinatus

Fosa supraspinatus

Fosa infraspinatus

Tuberculum

Abduksi

N.

major humeri

shoulder

suprascapularis

Tuberculum

External

N.

major humeri

rotasi dan

suprascapularis

entensi

C5-6

shoulder
4

Subscapularis

Fosa subskapularis

Tuberculum

Internal

N. subscapularis

minor humeri

rotasi

C5-6

shoulder
5

Teres minor

Permukaan belakang

Cristatuberculli External

lateral scapula

major humeri

N. axillaris C5-6

rotasi dan
extensi
shoulder.

Teres major

Lateral scapula dan

Crista

Extensi

angulus inferior

tubercullum

soulder

N. subscapularis

minor humeri
7

Coraco brakhialis

Proccesus korakoideus

Margo medialis

Flexi

N.

skapula

humeri

shoulder

Muskulokutaneus
(C6 C7)

Levator scapula

Proccesus transversus Margo


C1 4

Elevasi

vertebralis

N. thoraco
dorsalis C3-4

scapula
9

Pectoralis minor

Permukaan luar costa

Proccesus

Protaksi dan

N. Thoracalis

3, 4, 5

coracoideus

internal

anterior

rotasi
11

Trapezius dibagi
menjadi 3, yaitu :
a. Superior
b. Middle
c. Inferior

a. Sepertiga medial
dari tulang occiput
b. Proccesus spinosus
thorakalis atas

a. Sepertiga
lateral

dari

klavikula
bagian

a. Elevasi

N. Accessorius

scapula

cabang pleksus

b. Adduksi
scapula

c. Proccesus spinosus

posterior

c. Depresi

thorakalis bawah

b. Tepi medial

dan

spina

adduksi

skapula

scapula

c. Tepi bawah
spina
skapula

Tabel 2.1
Otot-otot Lengan Atas

cervicalis

Gambar 2.3
Otot-otot lengan atas (Atlas Sobota, 2002)
Keterangan gambar 2.3 :
1. M. supraspinatus
2. M. trapezius
3. Clavicula
4. M. deltoideus
5. M. pectoralis mayor
6. M. biseps brachii
7. M. brachialis
8. M. brachioradialis
9. M. extensor carpi radialis longus
10. Epicondilus lateral
11. M. extensor carp radialis brevis
12. Fascia antebrachii
13. Olecranon
14. M. tricep brachii, tendon
15. M. tricep brachii, caput mediale
16. Septum intermusculare brachii lateral
17. M. tricep brachii, caput laterale
18. M. tricep brachii, caput longum
19. M. latissimus dorsi
20. M. teres minor
21. Fascia infraspinatus

10

3. Persarafan extremitas atas


a) N. Aksilaris
Perjalanannya melewati rongga kuadrangularis bersama dengan a.
sirkumfleksa posterior humeri. Memberikan: persarafan motoris bagi m.
detoideus dan m. teres minor, persarafan sensoris bagi kulit di atas m.
deltoideus, dan cabang artikularis untuk artikulasio humeri. Akibat
trauma: n. aksilaris terutama mudah terkena trauma akibat pergeseran
kaput humerus ke arah bawah saat terjadi dislokasi bahu.
b) N. Radialis
Perjalanan dan percabangannya berjalan bersama dengan a. profunda
brakii antara kaput longum dan medius m. triseps menuju kompartemen
posterior dan ke bawah di antara kaput medius dan lateral m. triseps. Di
titik tengah lengan nervus ini memasuki kompartemen anterior dengan
menembus septum intermuskularis lateral. Di regio epikondilus lateralis n.
radilalis terletak di bawah selubung brakioradialis dan terbagi menjadi
ramus superfisialis n. radialis dan n. interoseus posterior.
c) N. muskulokutaneus.
Perjalanannya lewat di sebelah lateral melalui gabungan dua kaput m.
korakobrakialis dan kemudian menuruni lengan di antara m. brakiallis dan
m. biseps, sambil mempersarafi ketiga otot ini. Nervus ini menembus fasia
profunda tepat di bawah siku.Di sini nervus ini mempersarafi lengan
bawah bagian lateral sampai ke pergelangan.
d) N. Medianus
Pejalanan dan percabangannya n. medianus pada mulanya terletak di
sebelah lateral a. brakialis namun kemudian menyilang ke sebelah medial
pertengahan lengan. Di lengan bawah n. medianus

terletak di antara

fleksor digitorum superfisialis dan fleksor digitorum profunda dan


mempersarafi seluruh fleksor sisanya kecuali m. fleksor karpi ulnaris.
Sedikit di atas pergelangan tangan nervus ini muncul dari sisi lateral m.
fleksor digiterum superfisialis dan bercabang menjadi cabang kutaneus
palmaris yang membawa serabut sensoris pada kulit di atas eminensia
tenar.

11

e) N. ulnaris (C8, T1)


Perjalanan dan percabangannya berjalan pada m. korakobrakialis
menuju pertengahan lengan di mana nervus ini menembus septum
intermuskularis medialis bersama dengan a. kolaterallis ulnaris
superior dan memasuki kompartemen posterior.Kemudian berbelok di
bawah epikonilus medialis dan lewat di antara dua kaput m. fleksor
karpi ulnaris memasuki lengan bawah dan mempersarafi m. fleksor
karpi ulnaris dan setengah m. fleksor digitorum profunda. Di lengan
bawah bagian bawah arteri berada di sisi lateral dan tendon m. fleksor
karpi ulnaris.Di sini terjadi percabangan menjadi cabang kutanes
dorsalis dan palmaris (Omar, dkk, 2002).

12

Gambar 2.4
Saraf-saraf Lengan Atas (Atlas Sobota, 2002)

Keterangan gambar 2.4 :


1. Plexus bracialis
21. Nn. Digetales palmares propii
2. Fasciculus medialis
22. Nn. Digetales palmares communes
3. Fasciculus posterior
23. R. superficialis (N. ulnaris)
4. Fasciculus lateralis
24. R. profundus (N. ulnaris)
5. Radix lateralis
25. R. Palmaris (N. ulnaris)
6. Radix medialis
26. R. dorsalis (N. ulnaris)
7. N. medianus
27. N. interosseus antebrachii anterior
8. N. axilaris
28. N. Ulnaris
9. N. cutaneus brachii lateralis superior 29. N. cutaneus antebrachii medialis
10. N. muculocutaneus
30. N. cutaneus brachii medialis
11. N. radialis
31. A. axillaris
12. N. cutaneus brachii posterior
13. N. cutaneus brachii lateralis inferior
14. N. cutaneus antebrachii lateralis
15. R. superficialis
16. R. profundus
17. N. cutaneus antebrachii posterior
18. R. communicans cum nervo ulnaris
19. Nn. Digetales palmares communes
20. Nn. Digetales palmares propii

13

4. Biomekanik
Gerakan humerus
Posisi awal berdiri tegak dengan lengan di samping tubuh.
(1) Fleksi dan ekstensi
Feksi adalah gerakan lengan atas dalam bidang sagital ke depan dari 0o ke
180o. Gerak ekstensi adalah gerak dari lengan dalam bidang sagital ke
belakang dari 0o ke kira-kira 60o.Otot-otot yang terlibat yaitu deltoid
anterior, pektoralis mayor, teres minor, teres mayor, serratus anterior,
infraspinatus, latissimus dorsi.
(2) Abduksi dan adduksi
Gerak abduksi adalah gerak dari lengan menjauhi tubuh dalam bidang
frontal dari 0 ke 180o Gerak adduksi adalah gerak kebalikan dari abduksi
yaitu gerak lengan menuju garis tengah tubuh.Otot- otot yang terlibat ialah
trapezius upper, trapezius lower dan seratus anterior.
(3) Eksorotasi dan endorotasi
Bila lengan bawah digerakkan ke dalam tubuh disebut eksorotasi, bila
lengan bawah digerakkan keluar tubuh disebut endorotasi.Luas geraknya
90o.
5. Patologi
Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana
trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, ada 2 faktor yang
mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan,
sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik
(meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan
adanya densitas tulang tulang. yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada
tulang bermacam-macam antara lain trauma (langsung dan tidak langsung),
akibat keadaan patologi serta secara spontan. Trauma langsung menyebabkan
tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan.
Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang
lebih jauh dari daerah fraktur, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap
utuh. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar, membengkok,
kompresi bahkan tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena

14

kelemahan tuklang sebelumnya akibat kondisi patologis yang terj adi di


dalam tulang. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma,
kekuatan dan arahnya.
6. Etiologi
1) Trauma
a. Trauma langsung akibat karena pukulan atau benturan pada bahu.
b. Trauma

tidak

langsung

karena

jatuh

bertumpu

pada

tangan

(Sjamsuhidayat. R, dkk, 1997).


2) Pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh simphisis pubis selama
proses melahirkan.
3) Kelemahan abnormal pada tulang (faktor patologik).
7. Modalitas
a. Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang 7700-4 juta A.
1) Klasifikasi Sinar Infra Merah
a) Berdasarkan Panjang Gelombang
1. Gelombang panjang (non penetrating)
Panjang gelombang diatas 12000 A sampai dengan 150000
A. Daya penetrasi sinar ini hanya sampai kepada lapisan
superficial epidermis, yaitu sekitar 0,5 mm.
2. Gelombang pendek (penetrating)
Panjang gelombang antara 7700-12000 A. Daya penetrasi
lebih dalam dari yang gelombang panjang, yaitu sampai
jaringan sub cutan kira-kira dapat mempengaruhi secara
langsung terhadap pembuluh darah kapiler, pembuluh
lymphe, ujung-ujung syaraf dan jaringan-jaringan lain
dibawah kulit.
2) Macam Generator Infra Merah
a) Non luminous
Non luminous hanya mengandung infra merah saja, sering
disebut dengan Infra Red Radiaton .
b) Luminous generator

15

Luminous generator mengandung prosentase infra merah, sering


disebut dengan Radiant Heating .
3) Efek Fisiologis Sinar Infra Merah
a) Meningkatkan proses metabolisme.
b) Vasodilatasi pembuluh darah.
c) Pigmentasi.
d) Pengaruh terhadap urat syaraf sensoris.
e) Pengaruh terhadap jaringan otot.
f) Destruksi jaringan.
g) Menaikkan temperature tubuh.
h) Mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
4) Prosedure Aplikasi
a) Persiapan alat.
b) Persiapan penderita.
c) Pengaturan dosis.
d) Evaluasi.
5) Indikasi dari Sinar Infra Merah
a) Kondisi peradangan setelah sub-acut: kontusio, muscle strain,
muscle sprain, trauma sinovitis.
b) Arthtritis:

Rheumatoid

Arthritis,

osteoarthritis,

myalgia,

lumbago, neuralgia, neuritis.


c) Gangguan

Sirkulasi

Darah:

Thrombo-angitis

tromboplebitis, Raynolds disease.


d) Penyakit kulit: folliculitis, furuncolosi, wound.
e) Persiapan exercise dan massage.
6) Kontra Indikasi
a) Daerah dengan insufisiensi pada darah.
b) Gangguan sensibilitas kulit.
c) Adanya kecenderungan terjadinya perdarahan.
7) Bahaya-bahaya
a) Luka Bakar (burn).
b) Electric shock.

obliterans,

16

c) Meningkatkan keadaan gangrene.


d) Headache.
e) Maintness.
f) Chill atau menggigil.
g) Kerusakan pada mata (Sujatno, Ig dkk. 2002).
b. Terapi latihan
Terapi latihan adalah suatu usaha untuk mempercepat penyembuhan
dari suatu injury atau penyakit tertentu yang telah merubah cara hidupnya
yang normal. Terapi latihan merupakan salah satu usaha dalam
pengobatan fisioterapi yang didalam pelaksanaannya menggunakan
latihan-latihan gerak baik secara aktif maupun pasif dengan sasaran
orang yang sehat maupun sakit.
Tujuan terapi latihan:
a. Memajukan aktifitas penderita dimana dan bilamana perlu.
b. Memperbaiki otot-otot yang tidak efisien dan memperoleh kembali
jarak gerak sendi yang normal tanpa memperlambat usaha mencapai
gerakan yang berfugsi da efisien.
c. Memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat
melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga
dapat mengembalikan ke aktifitas normal.
Adapun tujuan dari terapi latihan adalah mencegah gangguan fungsi,
mengembangkan, memperbaiki, mengembalikan dan memelihara:
a. Kekuatan Otot.
b. Daya tahan dan kebugaran Cardiovaskular.
c. Mobility dan fleksibility.
d. Stabilitas.
e. Rileksasi.
f. Koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional.
Setelah melalui proses komprehensif tujuan terapi latihan berguna
untuk:
a. Identifikasi problem pasien.
b. Keterbatasan fungsi.

17

c. Jenis gangguan.
d. Kemungkinan timbulnya kecacatan.
Adapun teknik terapi latihan dan gerakan yang dipergunakan dapat
digolongkan sebagai berikut:
a. Active movement: Gerak yang timbul karena kekuatan dari otot itu
sendiri.
1) Assisted active movement
Yaitu latihan dimana gerakan ynag terjadi akibat kontraksi otot
yang bersangkutan dan mendapat bantuan dari luar.
Efek dan kegunaan:
a) Memberikan stimulasi tentang gerakan yang disadari.
b) Memberikan stimulasi terhadap ingatan atau memory
dengan cara pasien melihat gerakan yang besangkutan.
c) Mengembalikan kepercayaan.
d) Meningkatkan atau mempertahankan LGS.
e) Meningkatkan kekuatan otot.
2) Free active movement
Yaitu latihan dimana gerakan yang terjadi akibat kontraksi otot
yang bersangkutan tanpa pengaruh dari luar.
Efek dan kegunaan:
a) Dapat menghasilkan rileksiasi
Penurunan otot Resiprox inhibisi
b) Mobiliasi sendi
Gerakan yang berulang-ulang dengan LGS yang penuh
maka mobilisasi senti dapat teratasi.
c) Kekuatan daya tahan otot.
d) Koordinasi system neuromuscular.
e) Kepercayaan penderita.
f) System cardiorespirasi dan vascular.
3) Assisted-resisted active movement.
Yaitu kombinasi/gabungan antara gerakan assisted dan resisted
active movement.

18

4) Resisted active movement


Yaitu suatu latihan, otot yang bekerja dalam satu gerakan untuk
melawan suatu tahanan.
Factor-factor yang membentuk efisiensi otot :
a) Power atau kekuatan
b) Endurance atau daya tahan otot
c) Besarnya otot
d) Kecepatan kontraksi
e) Koordinasi gerakan
b. Passive movement: gerak yang timbul karena bantuan dari luar.
1) Relaxed passiv movement
Efek dan kegunaan:
a. Mencegah proses perlengketan jaringan untuk memelihara
kebebasan gerak sendi.
b. Mendidik kembali pola gerakan dengan stimulasi pada
propioceptor.
c. Memelihara ekstensibilitas otot dan mencegah pemendekan
otot.
d. Memperbaiki atau memperlancar sirkulasi darah atau limfe.
e. Rileksasi
2) Force passive movement
Efek dan kegunaan:
a) Membebaskan perlengketan jaringan.
b) Mencegah pemendekan struktur sekitar sendi.
c. Manual passive movement
Biasanya dilakukan oleh seorang dokter anastesi kemudian sendi
digerakkan (Luklukaningsih, Z. 2009).
B. Proses Fisioterapi
1. Pemeriksaan subjektif
a. Anamnesis adalah cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab
antaraterapis dengan sumber data.
Macam-macam anamnesis:

19

1) Autoanamnesis adalah anamnesis yang langsung ditujukan kepada


pasien atau klien yang bersangkutan.
2) Heteroanamnesis adalah anamnesis yang dilakukan terhadap orang
lain, teman atau
3) orang lain yang mengetahui keadaan pasien atau klien.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat

Penyakit

Sekarang

adalah

merinci

keluhan

dan

menggambarkan riwayat penyakit secara lengkap.


c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Dahulu adalah Pertanyaan diarahkan pada penyakitpenyakit yang pernah dialami yang tidak berkesinambungan langsung
dengan munculnya keluhan sekarang.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Penyakit Keluarga yaitu umtuk menelusuri adanya penyakitpemyakit yang bersifat menurun (heredofamilial) dari orang tua atau
keluarga yang lain.
2. Pemeriksaan objektif
a. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah
Tekanan darah arteri adalah tekanan atau gaya lateral darah yang
bekerja pada dinding pembuluh darah.
2) Denyut nadi
Denyut nadi dihubungkan dengan kerja jantung yang dipakai untuk
membantu menegakkan diagnose.
3) Suhu
Peningkatan suhu karena suatu penyakit atau cedera merupakan
salah satu tanda khusus.
4) Penapasan
Kecepatan pernapasan adalah jumlah inspirasi per menit.
b. Inspeksi
Inspeksi adalah Pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati.
Macam-macam inspeksi:

20

1) Inspeksi statis yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam


keadaan diam
2) Inspeksi dinamis yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam
keadaan bergerak, contoh waktu penderita berjalan.
c. Palpasi
Palpasi adalah Cara pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan dan
memegang organ atau bagian tubuh pasien atau klien untuk mengetahui
tentang adanya spasme otot, nyeri tekan, suhu, tumor atau oedema,
contour organ dan lain-lain.
d. Perkusi
Perkusi adalah Cara pemeriksaan dengan jalan mengetuk atau vibrasi,
seperti mengetuk untuk mengetahui keadaan suatu rongga pada bagian
tubuh tertentu, dan lain-lain.
e. Auskultasi
Auskultasi adalah Cara pemeriksaan dengan menggunakan indera
pendengaran, biasanya menggunakan alat bantu stetoskop, untuk
mengetahui atau mendengar ronki, denyut jantung (heart rate),
systole, diastole dan lain-lain.
3. Pemeriksaan Gerakan Fungsi Dasar
a. Pemeriksaan Gerak Aktif
Pesien diminta menggerakkan anggota gerak yang diperiksa secara
aktif (free active movement), kalau dimungkinkam dilakukan secara
bilateral.Terapis melihan dan mengamati serta memberikan aba-aba.
Informasi yang diperoleh dari pemeriksaan ini antara lain adalah rasa
nyeri, lingkup gerak sendi, kekuatan otot.
Prinsip pemeriksaan gerak aktif:
1) Posisi penderita sedemikian rupa, agar memudahkan melakukan
gerakan yang dimaksud.
2) Frekuensi dan kuantitas gerakan disesuaikan dengan kebutuhan.
3) Aba-aba/instruksi hendaknya persuasive dan tidak monoton.
b. Pemeriksaan Gerak Pasif

21

Adalah suatu cara pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh terapis


pada penderita sementara penderita dalam keadaan pasif, relaks,
misalnya memeriksa lingkup gerak sendi, end feel, provokasi nyeri.
Prinsip-prinsip pemeriksaan gerak pasif:
1) Posisi penderita sedemikian rupa, agar memudahkan melakukan
gerakan yang dimaksud.
2) Frekuensi dan kuantitas gerakan disesuaikan dengan kebutuhan.
3) Fiksasi sedemikian rupa (dilakukan pada proksimal sendi yang
akan diperiksa) agar pola gerakan dapat terjadi secara optimal dan
gerakan hanya terjadi pada sendi yang diperiksa.
c. Pemeriksaan Gerak Isometris Melawan Tahanan
Adalah suatu cara pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh penderita
secara aktif sementara terapis memberikan tahanan yng berlawanan
arah dari gerakan yang dilakukan oleh penderita. Pemeriksaan tersebut
antara lain digunakan untuk provokasi nyeri pada muskulotendinogen,
kekuatan otot dan lain-lain.
Prinsip-prinsip pemeriksaan gerak isometris melawan tahanan:
1) Aba-aba seyogyanya persuasif dan tidak monoton.
2) Posisi penderita sedemikian rupa, agar memudahkan melakukan
gerakan yang dimaksud.
3) Frekuensi dan kuantitas gerakan disesuaikan dengan kebutuhan
pemeriksaan.
4) Fiksasi dilakukan pada area proksimal dari sendi yang sedang
diperiksa.
5) Tahanan diberikan pada daerah paling distal tanpa melewati dua
sendi.
d. Pemeriksaan Kognitif, Intrapersonal dan Interpersonal
Batasan fungsi kognitif meliputi atensi, konsentrasi, memori,
pemecahan masalah, pengambilan sikap, integrasi belajar dan
proses komprehensif. Alat ukur atau metode pemeriksaan kognitif
dan intrapersonal disesuaikan dengan aspek kognitif yang
diperiksa.

22

4. Pemeriksaan Spesifik
a. Nyeri menggunakan VAS
VAS (Verbal Analogue Scale)
Cara pengukuran derajat nyeri dengan menunjukkan satu titik pada
garis skala nyeri (0-10 cm).salah satu ujung menunjukkan tidak nyeri
dan ujung yang lain menunjukkan nyeri yang hebat. Panjang garis
mulai dari titik nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan besarnya
nyeri.
b. Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi
Lingkup gerak sendi adalah lingkup gerak sendi yang bisa dilakukan
oleh suatu sendi.Tujuan pengukuran LGS yaitu untuk mengetahui
besarnya LGS pada suatu sendi dan membandingkannya dengan LGS
pada sendi normal.Informasi ini digunakan untuk menentukan tujuan
dan rencana terapi dalam menambah atau mengurangi LGS.
5. Interpretasi Data/Diagnosa Fisioterapi
Diagnosis fisioterapi ditentukan berdasarkan analisa dan pengkajian semua
data

yang telah dikumpulkan berdasarkan

penemuan dan hasil

pemeriksaan yang ada. Diagnosa Fisioterapi meliputi :


a. Impairement: berupa adanya nyeri, spasme dan keterbatasan LGS yang
terjadi pada pasien dengan kondisi faktur humerus sinistra 1/3 distal
ini.
b. Functional Limitation: berupa keterbatasan fungsi yang terjadi pada
pasien dengan kondisi faktur humerus sinistra 1/3 distal sehingga
pasien kesulitan dalam melakukan ADL-nya.
c. Disability: berupa kemampuan pasien untuk kembali melakukan
pekerjaan, hobi maupun sosialisasinya dengan lingkungan sekitar.
6. Program/Rencana Fisioterapi
f. Tujuan
1) Tujuan Jangka Pendek
Merupakan suatu tujuan yang ditentukan berdasarkan problematik
untuk mengurangi keluhan yang muncul.
2) Tujuan Jangka Panjang

23

Merupakan suatu tujuan jangka panjang untuk meningkatkan,


mengembangkan dan memelihara kemampuan fungsi ADL pasien
secara mandiri.
g. Tindakan Fisioterapi
1) Teknologi Fisioterapi
a) Teknologi Alternatif: berupa teknologi yang dapat digunakan
untuk kasus tersebut.
b) Teknologi terpilih : berupa teknologi yang dipilih oleh terapis
dari sekian banyak teknologi alternatif yang akan digunakan
untuk melakukan terapi pada pasien dengan kasus tersebut.
c) Teknologi yang dilaksanakan : berupa teknologi yang
digunakan

dan

dilaksanakan

oleh

terapis

saat

terapi

berlangsung.
2) Edukasi: berupa saran dan home program yang diberikan terapis
kepada pasien dengan tujuan agar pasien dapat melakukan saran
dan home program di rumah sehingga keluhan pasien akan
berkurang.
3) Prognosis
Quo ad vitam

: baik

Quo ad sannam

: baik

Quo ad functionam

: baik

Quo ad cosmeficam

: baik

h. Rencana Evaluasi: merupakan suatu rencana yang akan dilakukan


berikutnya setelah terapi dan berdasarkan hasil yang didapat dari
pelaksanaan terapi (Mardiman, Sri dkk. 1994).

24

C. Kerangka Berfikir

faktur humerus sinistra 1/3


distal

Problematik :
1. Nyeri
2. Spasme otot
3. Keterbatasan LGS

Pembatasan Masalah :
1. Nyeri
2. Keterbatasan LGS

Modalitas yang digunakan :


1. IR
2. MASSAGE
3. TERAPI LATIHAN

Modalitas yang dilaksanakan :


1. IR
2. TERAPI LATIHAN

Hasil :
1. Nyeri berkurang
2. Peningkatan LGS
3. Ll
4.

25

BAB III
LAPORAN KASUS
Nomor Urut

Nama Mahasiswa : Atika Dwi Mudiati

Tempat Praktek : RSUD Prof.


Margono Soekarjo

N. I. M

: 109.110.003

Pembimbing

Tanggal Pembuatan Laporan :


Kondisi : Ft. Musculoskeletal
I. Keterangan umum penderita
Nama

: Sdr. N

Umur

: 21 Tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Mahasiswa

Agama

: Kristen

Alamat

: Klampok

II. Data Medis Rumah Sakit


A. Diagnosa Medis
Fraktur humerus 1/3 distal sinistra
B. Catatn Klinis
Pemeriksaan x foto elbow joint kiri posisi Ap/Lat
-

Tampak terpasang 2 set plate and scraw pada 1/3 distal os humerus.
Posisi dan kedudukan baik.

Masih tampak celah fraktur

Tak tampak loosening

Tak tampak lusensi maupun swelling soft tissue

Tak tampak dislokasi elbow joint

C. Terapi Umum
D. Rujukan Fisioterapi dari Dokter
-

26

III. Segi Fisioterapi


A. Pemeriksaan
1. Anamnesis
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri pada daerah lengan atasnya
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 24 Desember 2012 pasien mengalami kecelakaan.
Tanggannya tertindih motor. Kemudian pasien langsung dibawa ke
rumah sakit terdekat dan dirujuk ke RSOP dipasang gips. Pada
tanggal 2 Januari pasien dibawa ke rumah sakit margono dan
dilakukan operasi. Pada saat menyisir rambut, mengancing bra,
memegang piring pasien merasa kesulitan dan nyeri. Pada saat
istirahat pasien tidak merasa sakit.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (-)
DM (-)
d. Riwayat Pribadi
Pasien adalah seorang mahasiswa
e. Riwayat Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yank menderita penyakit serupa seperti
pasien.
f. Anamnesis Sistem
1. Kepala & Leher
Pasien tidak mengeluh pusing dan kaku leher.
2. Sistem Kardiovaskuler
Pasien tidak mengeluh jantung berdebar-debar
3. Sistem Respirasi
Pasien tidak mengeluh sesak napas
4. Sistem Gastrointestinal
BAB lancar
5. Sistem Urogenital
BAK lancar

27

6. Sistem Muskuloskeletal
Adanya nyeri pada daerah lengan atas
Adanya spasme pada otot biceps dan deltoid
7. Sistem Nervorum
Pasien tidak mengeluh kesemutan
2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda Vital
1) Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

2) Denyut Nadi

: 87x/menit

3) Frek. Pernapasan : 21x/menit


4) Temperature

: 36oC

5) Tinggi Badan

6) Berat Badan

b. Inspeksi
1. Statis :
Raut muka pasien tampak menahan nyeri
Terlihat bekas incisi
Tidak ada oedem
Bahu tampak asimetris
2. Dinamis :
Pada saat lengan dan siku digerakkan pasien merasakan nyeri
Pada saat berjalan tidak ada ayunan pada lengan
c. Palpasi
Tidak ada nyeri tekan
Piting odem (-)
Adanya spasme pada otot biceps dan deltoid
Suhu local normal
d. Perkusi
Tidak dilakukan
e. Auskultasi
Tidak dilakukan
f. Gerakan Dasar

28

1) Gerak Aktif
Pasien mampu menggerakkan flexi shoulder, ada nyeri, tidak
full ROM.
Pasien mampu menggerakkan extensi shoulder, tidak ada
nyeri, full ROM.
Pasien mampu menggerakkan abd shoulder, ada nyeri, tidak
full ROM.
Pasien mampu menggerakkan add shoulder, ada nyeri, tidak
full ROM.
Pasien mampu menggerakkan abd horizontal shoulder, ada
nyeri, tidak full ROM.
Pasien mampu menggerakkan add horizontal shoulder, ada
nyeri, tidak full ROM.
Pasien mampu menggerakkan flexi elbow, ada nyeri, tidak
full ROM.
Pasien mampu menggerakkan extensi elbow, ada nyeri, tidak
full ROM.
2) Gerak pasif
Terapis menggerakkan flexi shoulder, ada nyeri, tidak full
ROM, end feel firm
Terapis menggerakkan extensi shoulder, tidak ada nyeri, full
ROM, end feel firm
Terapis menggerakkan abd shoulder, ada nyeri, tidak full
ROM, end feel firm
Terapis menggerakkan add shoulder, ada nyeri, tidak full
ROM, end feel soft
Terapis menggerakkan abd horizontal shoulder, ada nyeri, tidak
full ROM, end feel firm
Terapis menggerakkan add horizontal shoulder, ada nyeri, tidak
full ROM, end feel soft
Terapis menggerakkan flexi elbow, ada nyeri, tidak full ROM,
end feel soft

29

Terapis menggerakkan extensi elbow, ada nyeri, tidak full


ROM, end feel hard
3) Gerak aktif melawan tahanan
g. Kognitif, intra personal & inter personal
Kognitif

: pasien mampu menjawab pertanyaan dari terapis

Intra personal : pasien mampu bersosialisasi dengan lingkungan


sekitar
Inter personal :

pasien mempunyai keinginan untuk sembuh

h. Kemampuan fungsional dan lingkungan aktivitas


Kemampuan fungsional :
Pasien belum mampu menyisir
Pasien belum mampu mengancing bra
Pasien merasakan kesulitan pada saat berpakaian
Pasien merasakan kesulitan pada saat memegang piring/ gelas
Lingkungan aktivitas

Pasein merasakan kesulitan pada saat melakukan aktivitas


mengetik dikampus saat pelajaran komputer
3. Pemeriksaan Spesifik
a. Pemeriksaan nyeri menggunakan VAS
Nyeri diam : 0,8
Nyeri tekan : 0
Nyeri gerak : 8,9
b. Pemeriksaan LGS menggunakan goneometer
LGS

Dextra

Shoulder

S : 50o-0-105o
F : 110o-0-60o
T : 20o-0-100o
R : 25o-0-20o

Elbow

S : 95o-90-85o

c. Kekuatan otot dengan MMT


Sendi
Shoulder

Flexor

MMT
3-

30

Elbow

Extensor

3-

Adduktor

3-

Abduktor

3-

Exorotator

3-

Endorotator

3-

Flexor

3-

Extensor

3-

B. Interpretasi data / Diagnos fisioterapi


1. Impairment
a. Adanya nyeri pada daerah lengan
b. Adanya spasme pada otot biceps dan deltoid
c. Adanya keterbatasan LGS oleh karena nyeri
d. Adanya penurunan kekuatan otot
2. Functional Limitation
Pasien belum mampu menyisir
Pasien belum mampu mengancing bra
Pasien merasakan kesulitan pada saat berpakaian
Pasien merasakan kesulitan pada saat memegang piring atau gelas
3. Disability
Pasein mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
C. Program / rencana fisioterapi
1. Tujuan
a. Tujuan jangka pendek
1) Mengurangi nyeri
2) Meningkatkan LGS
3) Mengurangi spasme otot biceps dan deltoid
b. Tujuan jangka panjang
Menjaga, memelihara dan mengembalikan kemampuan aktibitas
fungsional
2. Tindakan fisioterapi
a. Teknologi fisioterapi
1) Teknologi alterntif

31

a) IR
b) Terapi latihan
c) Massage
2) Teknologi terpilih
a) IR
b) Terapi latihan
3) Teknologi yang dilaksanakan
a) IR
b) Terapi latihan
b. Edukasi
Pasien dianjurkan untuk tidak membawa beban yang terlalu berat
3. Rencana evaluasi
a. Mengurangi nyeri dengan VAS
b. Meningkatkan LGS dengan goniometer
c. Meningkatkan kekuatan otot dengan MMT
D. Pelaksanaan Fisioterapi
Terapi I, 7 Maret 2013
IR
Posisi pasien : sitting
PLF : lengan berada diatas bantal kemudian penyinaran diberikan pada
area lengan selama 15 menit.
Active movement
Posisi pasien : sitting
PLF : pasien diminta untuk menggerakkan setiap persendian pada shoulder
dan elbow
Passive movement
Posisi pasien : sitting
PLF : terapis menggerakkan setiap persendian pada shoulder dan elbow
Hold relax
Posisi pasien : sitting
PLF : pasien iminta untuk menggerakkan elbow sampai batas nyeri
kemudian terapis memberikan tahanan, tahan 5 detik kemudian pasien
diminta untuk menarik napas kemudian hembuskan dan diforce.

32

Terapi II, 9 Maret 2013


IR
Posisi pasien : sitting
PLF : lengan berada diatas bantal kemudian penyinaran diberikan pada
area lengan selama 15 menit.
Active movement
Posisi pasien : sitting
PLF : pasien diminta untuk menggerakkan setiap persendian pada shoulder
dan elbow
Passive movement
Posisi pasien : sitting
PLF : terapis menggerakkan setiap persendian pada shoulder dan elbow
Hold relax
Posisi pasien : sitting
PLF : pasien iminta untuk menggerakkan elbow sampai batas nyeri
kemudian terapis memberikan tahanan, tahan 5 detik kemudian pasien
diminta untuk menarik napas kemudian hembuskan dan diforce.
Terapi II, 14 Maret 2013
IR
Posisi pasien : sitting
PLF : lengan berada diatas bantal kemudian penyinaran diberikan pada
area lengan selama 15 menit.
Active movement
Posisi pasien : sitting
PLF : pasien diminta untuk menggerakkan setiap persendian pada shoulder
dan elbow
Passive movement
Posisi pasien : sitting
PLF : terapis menggerakkan setiap persendian pada shoulder dan elbow
Hold relax
Posisi pasien : sitting

33

PLF : pasien iminta untuk menggerakkan elbow sampai batas nyeri


kemudian terapis memberikan tahanan, tahan 5 detik kemudian pasien
diminta untuk menarik napas kemudian hembuskan dan diforce.

E. Prognosis
Quo ad vitam

: baik

Quo ad sannam

: baik

Quo ad fungsionam

: baik

Quo ad cosmeticam

: baik

F. Evaluasi
1. Nyeri menggunakan VAS
Nyeri

T1

T2

T3

Diam

0,8

0,6

0,4

Tekan

Gerak

8,9

7,8

7,4

2. LGS menggunakkan goneometer


LGS

T1

T2

T3

Shoulder

S : 50o-0-105o
F : 110o-0-60o
T : 20o-0-100o
R : 25o-0-20o

S : 50o-0-110o
F : 110o-0-60o
T : 25o-0-105o
R : 30o-0-25o

S : 50o-0-110o
F : 110o-0-65o
T : 25o-0-105o
R : 30o-0-25o

Elbow

S : 95o-90-85o

S : 100o-90-80o S : 100o-90-80o

3. Kekuatan otot dengan MMT


Sendi
Shoulder

Elbow

T1

T2

T3

Flexor

3-

3-

3-

Extensor

3-

3-

3-

Adduktor

3-

3-

3-

Abduktor

3-

3-

3-

Exorotator

3-

3-

3-

Endorotator

3-

3-

3-

Flexor

3-

3-

3-

Extensor

3-

3-

3-

34

G. Hasil Terapi Terakhir


Setelah dilakukan terapi pada Sdr. N dengan diagnosa medis fraktur
humerus 1/3 distal sinistra didapatkan hasil :
Nyeri berkurang
LGS bertambah

35

BAB IV
PEMBAHASAN

Seorang pasien wanita berusia 21 tahun dengan diagnosa fisioterapi fraktur


humerus 1/3 distal sinistra, setelah dilakukan intervensi fisioterapi dengan
menggunakan dua modalitas yaitu IRR dan terapi latihan dengan 6 kali terapi
berturut-turut didapatkan penurunan nyeri dan penambahan LGS pada lengan
bagian sinistra.
Nyeri pada fraktur humerus 1/3 distal sinistra terjadi oleh karena adanya
spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
Penurunan nyeri pada fraktur humerus 1/3 distal sinistra ini dipengaruhi oleh efek
hangat pada modalitas IRR akan mengakibatkan fasodilatasi pembuluh darah
yang diikuti peningkatan aliran darah kapiler sehingga dapat memperlancar
sirkulasi darah dan pembuangan sisa-sisa metabolisme yaitu prostaglandin ( zat
p ) yang menumpuk. Dengan lancarnya sirkulasi darah maka zat p juga ikut
terbuang. Sehingga terjadi rileksasi pada otot dan nyeri berkurang saat pemanasan
berlangsung.
Keterbatsan LGS pada fraktur humerus 1/3 distal sinistra terjadi karena
ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot. Peningkatan LGS
pada fraktur humerus 1/3 distal sinistra dipengerahui oleh terapi latihan metode
hold relax. Hold Relax adalah salah satu teknik khusus exercises dari
Proprioceptive Neuro Muscular Facilitation (PNF) yang menggunakan kontraksi
isometrik secara optimal dari kelompok otot antagonis yang memendek sampai
terjadi penambahan ROM dan penurunan nyeri. Hold relax mengakibatkan
kontraksi isometrik dari otot-otot antagonis yang mengalami pemendekan yang
diikuti penguluran pada otot-otot tersebut. Sehingga terjadinya rileksasi pada otot,
nyeri berkurang dan peningkatan LGS.

36

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fraktur atau patah tulang adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang
(Apley, 1995). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya yaitu
diskontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh
rudapaksa.
Pembagian patah tulang ada 2 yaitu trauma yang menyebabkan patah tulang
dapat berupa trauma langsung misalnya benturan keras dan trauma yang tidak
langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan.
1. Fraktur tertutup
Fraktur tertutup yaitu fragmen tulang dari luar tidak nampak, tidak
menembus kulit.
2. Fraktur terbuka
Fraktur terbuka yaitu fragmen tulang Nampak dari luar atau menembus
kulit (Sjamsuhidajat.R, dkk, 1997).
Fraktur humerus 1/3 distal adalah fraktur pada tulang humerus1/3 distal yang
disebabkan oleh trauma langsung dan tidak langsung.

B. Saran
1. Pasien diminta untuk latihan finger leader
2. Pasien diminta untuk tidak mengangkat atau membawa barang yang berat.

37

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2011.http://www.artikel.indonesianrehabequipment.com/2011/06/perbandin
gan-hold-relax-dengan-strain.html, online pada tanggal 9 Maret 2013
Anonim, http://www.scribd.com/doc/75204562/referat-orthopaedi, online pada
tanggal 9 Maret 2013
Anonim,2007http://www.google.co.idurl?sa=t&rct=j&q=definisi%20fisioterapi%
20menurut%20wcpt&source=web&cd=10&ved=0CGEQFjAJ&url=http%3
A%2F%2Fbppt.jabarprov.go.id%2Fassets%2Fdata%2Farsip%2FKepmenke
s_376-MENKES-SKIII2007_STANDAR_PROFESI_FISIOTERAPIS.pdf&ei=CF7XT5LYAsadi
AffjcmHAw&usg=AFQjCNHri7iELIJQGAVar9AH9wtiYACmQ&cad=rja, online pada tanggal 9 Maret 2013
Faiz omar dan Moffat david, 2002. Anatomi At a Glance. Erlangga.
Graham Apley,1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Widya
medika: Jakarta.
Mardiman,
Sri.
dkk.
1994.
Dokumentasi
Persiapan
Praktek
ProfesionalFisioterapi (DP3FT). Pusat Pendidikan Tenaga kesehatan:
Surakarta.
Pudjiastuti, Sri Surini. 2002. Anatomi ( Badan dan Anggota Gerak Atas ).
Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi: Surakarta.
Putz,R dan Pabtz,R. 2000. Atlas subota anatomi tubuh manusia. EGC: Jakarta.
R. Sjamsuhidajat, Wim. 1997. Buku-ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta
Sujatno, Ig. Dkk, 1993.Sumber Fisis, Politeknik Kesehatan Surakarta, Surakarta