Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KEUANGAN INTERIM

Laporan Keuangan Interim adalah interim statement yaitu laporan keuangan bersifat antar
waktu untuk kepentingan masyarakat pengguna jasa bank dan pihak lain yang terkait, yang
meliputi periode bulanan atau triwulanan yang merupakan bagian integral dari laporan
tahunan; laporan keuangan interim wajib disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang sama
dengan laporan keuangan tahunan yang sekurang-kurangnya terdiri atas neraca, perhitungan
laba rugi, laporan ikat janji/komitmen dan kontingensi; jika terjadi perubahan dalam prinsip
akuntansi, pelaporan pada periode interim harus didasarkan pada prinsip akuntansi yang
digunakan dalam menyusun laporan keuangan terakhir.
http://www.mediabpr.com/kamus-bisnis-bank/laporan_keuangan_interim.aspx

Artikel RI 5. Persiapan Right Issue


1. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan jumlah dana yang diperlukan
serta perencanaan pengunaan dana, karena hal tersebut akan menentukan kemungkinan
perubahan struktur permodalan, Skema yang harus dipilih serta penggunaan atau
penunjukkan stand by buyer. Disamping itu juga dapat dipilih jenis efek yang akan
diterbitkan apakah akan menerbitkan saham (stock), ataukah akan menerbitkan obligasi
konversi (convertible bond). Dalam penerbitan convertible bond dapat ditentukan apakah
obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond) ataukah obligasi biasa/sukarela
(voluntary convertible bond), apabila obligasi konversi tersebut jatuh tempo maka PT Tbk
wajib melunasi sesuai dengan kesepakatan.
2. PT Tbk harus mempersiapkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk
menyetujui penambahan Modal Disetor termasuk pelaksanaan right issue. Pelaksanaan
RUPSLB tersebut sekaligus dapat menampung rencana penggunaan dana hasil right issue
dimana transaksi yang akan dilaksanakan cukup Material dan/atau terdapat Benturan
Kepentingan. Bersamaan dengan itu dipersiapkan pula rencana kourum kehadiran dan
keputusan sah dalam RUPSLB sesuai dengan agenda-agenda yang akan dimintakan
persetujuan dari pemegang saham.
3. PT Tbk menunjuk Akuntan Public dalam rangka menyediakan laporan keuangan yang
dipersyaratkan dalam right issue adalah laporan keuangan komparatif dalam 2 tahun terakhir
dimana jangka waktu tanggal laporan keuangan sampai dengan persetujuan RUPSLB tidak
boleh kurang dari 6 bulan. Sesuai dengan ketentuan PT Tbk sudah diwajibkan untuk
membuat dan menyampaikan laporan keuangan tahunan secara komparatif dalam 2 tahun
terakhir kepada Otoritas maupun kepada masyarakat, dengan demikian apabila
penyelenggaraan RUPSLB untuk right issue dapat dilaksanakan paling lambat tanggal akhir
bulan Juni maka tidak diperlukan laporan keuangan intrim, namun apabila RUPSLB baru
dapat dilaksanakandalam semester 2, maka PT Tbk harus menyediakan laporan keuangan
auditan secara komparatif dalam 2 tahun terakhir ditambah laporan intrim yang diaudit
sedemikian rupa sehingga jangka waktu antara tanggal laporan keuangan intrim sampai
dengan tanggal pelaksanaan RUPSLB atau efektifnya Pernyataan Pendaftaran dalam rangka
right issue tidak boleh kurang 6 bulan.

4.
5.

6.

7.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

p.

PT Tbk melakukan penunjukan Konsultan Hukum dengan maksud agar menyiapkan hasil
penelaahan dari segi hokum (legal audit) dan pendapat hokum (legal opinion) atas aktivitas
PT Tbk termasukhal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan right issue.
PT Tbk menunjuk Profesi Penunjang Pasar Modal, Notaris dalam rangka penyelenggaraan
RUPSLB, perubahan Anggaran Dasar (jika ada), serta pemeriksaan perjanjian atas transaksi
yang berkaitan dengan pelaksanaan right issue. Dalam hal rencana penggunaan dana hasil
right issue digunakan untuk Transaksi Material, Afiliasi, maupun Benturan Kepentingan
maka PT Tbk diwajibkan untuk menunjuk Perusahaan Penilai untuk memberikan pendapat
atas kewajaran transaksi yang dilaksanakan. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya,
apabila rencana penggunaan dana akan digunakan hal-hal yang tertentu maka PT Tbk
diwajibkan untuk menunjuk Pembeli Siaga (Stand by Buyer) untuk menjamin terjualnya
saham diterbitkan dalam right issue tersebut.
Dalam hal efek yang diterbitkan dalam right issue adalah obligasi konversi (convertible
bond) PT Tbk wajib menunjuk Penunjang Pasar Modal, yaitu Waliamanat dalam rangka
mewakili kepentingan Pemegang Obligasi Konversi sampai dengan obligasi konversi tersebut
dikonversikan menjadi saham. Tugas dan kewenangan Waliamanat tersebut sama seperti
dalam penawaran umum obligasi.
PT Tbk menyampaikan dokumen-dokumen untuk Pernyataan Pendafataran dalam rangka
Right Issue kepada Regulator, dokumen Pernyataan Pendaftaran tersebut antara lain:
surat pengantar Pernyataan Pendaftaran; (formulir IX.C.1-1)
Prospektus; (IX.D.3)
rencana jadwal Penawaran Umum Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
perjanjian yang menetapkan pembelian Efek yang tidak dipesan melalui penawaran Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu (jika ada);
perjanjian perwaliamanatan (jika ada);
perjanjian penanggungan (jika ada);
informasi penggunaan dana dari hasil Penawaran Umum sebelumnya;
laporan Keuangan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terakhir, jangka waktu laporan
keuangan yang diaudit sampai dengan efektifnya Pernyataan Pendaftaran tidak boleh lebih
dari 6 bulan.
surat dari Akuntan (comfort letter) sehubungan dengan perubahan keadaan keuangan Emiten
atau Perusahaan Publik yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan yang diaudit oleh
Akuntan;
surat pernyataan dari Emiten atau Perusahaan Publik di bidang akuntansi;
keterangan lebih lanjut tentang prakiraan dan atau proyeksi, jika dicantumkan dalam
Prospektus;
kebijakan dividen serta riwayat pembayaran dividen;
laporan pemeriksaan dan pendapat dari segi hukum (sehubungan dengan perubahan yang
terjadi setelah tanggal dikeluarkannya pendapat hukum sebelumnya dan hal yang berkaitan
dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum);
surat pencabutan pembatasan-pembatasan (negative covenant) yang dapat merugikan
kepentingan pemegang saham publik dari kreditur;
dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Benturan
Kepentingan Transaksi Tertentu atau Peraturan Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha Utama Perusahaan, dalam hal penggunaan dana untuk ekspansi
termasuk pembelian aktiva;
pernyataan Profesi Penunjang Pasar Modal sesuai dengan Formulir Nomor IX.C.1-4
Lampiran 4 Peraturan Nomor IX.C.1; dan

q. informasi lain sesuai dengan permintaan Bapepam yang dipandang perlu dalam penelaahan
Pernyataan Pendaftaran, sepanjang dapat diumumkan kepada masyarakat tanpa merugikan
kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik.
r. Keterbukaan Informasi mengenai HMETD yang wajib diiklankan dalam surat kabar:
1) nama lengkap Emiten atau Perusahaan Publik, alamat kantor pusat, telepon, teleks, faksimili,
E-mail dan kotak pos;
2) uraian mengenai Efek yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penerbitan Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu;
3) tanggal Rapat Umum Pemegang Saham;
4) tanggal pencatatan pemegang saham yang mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
pada Daftar Pemegang Saham atau nomor kupon untuk menentukan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu;
5) tanggal terakhir dari pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dengan
pemberitahuan bahwa hak yang tidak dilaksanakan pada tanggal tersebut tidak berlaku lagi
dan tanggal terakhir pembayaran;
6) periode perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
7) harga pelaksanaan Efek;
8) rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas saham yang ada;
9) tata cara pemesanan Efek;
10) uraian mengenai perlakuan Efek yang tidak dibeli oleh yang berhak dan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu dalam bentuk pecahan;
11) pernyataan mengenai tata cara pengalihan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
12) tata cara penerbitan dan penyampaian bukti Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu serta Efek;
13) nama Bursa Efek tempat diperdagangkannya Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan
saham yang mendasarinya tercatat (jika ada);
14) rencana Emiten atau Perusahaan Publik untuk mengeluarkan atau tidak mengeluarkan saham
atau Efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam waktu 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal efektif;
15) Nama lengkap Pihak yang bertindak sebagai pembeli siaga (jika ada);
16) dampak dilusi dari penerbitan Efek baru;
17) penggunaan dana hasil Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
18) ringkasan analisis dan pembahasan oleh manajemen; dan
19) informasi tentang tempat Prospektus dapat diperoleh.
8. Materi Prospektus sesuai dengan Peraturan IX.D.3
a. Aspek-aspek penting dari penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, seperti :
1) nama lengkap Emiten atau Perusahaan Publik
2) uraian mengenai Efek yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penerbitan Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu;
3) tanggal Rapat Umum Pemegang Saham;
4) tanggal daftar pemegang saham yang berhak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu;
5) tanggal terakhir dari pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
6) periode perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
7) harga pemesanan Efek;
8) rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas saham yang ada;
9) tata cara pemesanan Efek;
10) uraian mengenai perlakuan Efek yang tidak dibeli oleh yang berhak dan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu dalam bentuk pecahan;
11) pernyataan mengenai tata cara pengalihan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;

12) tata cara penerbitan dan penyampaian bukti Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu serta surat
Efek;
13) nama Bursa Efek tempat diperdagangkannya Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan
saham yang mendasarinya tercatat (jika ada);
14) rencana Emiten atau Perusahaan Publik untuk mengeluarkan atau tidak mengeluarkan saham
atau Efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam waktu 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal efektif;
15) nama lengkap pihak yang bertindak sebagai pembeli siaga;
16) pernyataan berikut dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik perhatian
para pembaca :
BAPEPAM TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK
MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU
KECUKUPAN ISI ROSPEKTUS INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN
DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.
17) EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA
ATAS KEBENARAN SEMUA KETERANGAN, DATA, ATAU LAPORAN DAN K E
JUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM PROSPEKTUS.
18) pernyataan bahwa sehubungan dengan Penawaran Umum, setiap Pihak terafiliasi dilarang
untuk memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak ungkapkan dalam
Prospektus, tanpa persetujuan tertulis dari Emiten atau Perusahaan Publik;
19) pernyataan ringkas dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik perhatian
para pembaca tentang faktor risiko yang material yang mungkin mempunyai dampak
merugikan bagi pemodal; dan
20) pernyataan ringkas dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik perhatian
para pembaca tentang dampak dilusi dari penerbitan efek baru.
b. Uraian atas Efek yang tidak mempunyai sifat-sifat yang sama, mengenai penjelasan
perbedaan sifat-sifatnya dan alasan perbedaan. (jika ada)
c. Dalam hal penerbitan hak untuk Efek utang konversi, Emiten atau Perusahaan Publik
wajib menyajikan hal-hal sebagai berikut :
1) hak para pemegang Efek;
2) sifat Efek yang dapat dikonversikan ke jenis Efek lain;
3) sifat Efek utang konversi yang memungkinkan pelunasan lebih dini atas pilihan Emiten atau
Perusahaan Publik atau pemegang Efek;
4) harga dan tingkat suku bunga dari Efek utang konversi.
5) jadwal pelunasan atau cicilan termasuk jumlahnya;
6) jadwal pembayaran bunga;
7) jadwal konversi;
8) ketentuan tentang dana pelunasan atau sinking fund (jika ada);
9) denominasi mata uang yang menjadi denominasi utang dan mata uang lain yang menjadi
alternatif (jika ada) digunakan dalam penerbitan Efek utang bersangkutan (jika ada);
10) nama, alamat kantor pusat dan uraian mengenai Pihak-pihak yang bertindak sebagai Wali
Amanat dan Penanggung (jika ada);
11) ringkasan pokok-pokok perjanjian penanggungan (jika ada);
12) ringkasan pokok-pokok perjanjian perwaliamanatan, termasuk tingkat senioritas dari utang
dibandingkan dengan utang Emiten atau Perusahaan Publik yang masih ada dan utang lainnya
yang mungkin diperoleh Emiten atau Perusahaan Publik pada masa yang akan datang; dan
13) ringkasan tentang setiap tuntutan atas aktiva dari Emiten atau Perusahaan Publik yang
dijadikan agunan untuk Efek yang ditawarkan.

d. Pernyataan tentang dicatatkan atau tidaknya Efek yang bersangkutan di Bursa Efek.
Jika dicatatkan maka jumlah dan persentasenya harus diungkapkan.
e. Rincian struktur modal sebelum dan sesudah Penawaran Umum yang disajikan dalam
bentuk tabel.
f. Uraian tentang persyaratan penting dari perjanjian pembelian sisa Efek atau
persetujuan untuk membeli Efek oleh Pihak yang disebut namanya (jika ada).
g. Uraian tentang penggunaan dana secara terinci
h. Uraian tentang sisa penggunaan dana secara terinci yang diperoleh dari Penawaran
Umum sebelumnya (jika ada).
i. Analisis dan Pembahasan oleh Manajemen
j. Risiko Usaha
k. Kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan.
l. Keterangan singkat tentang Emiten
m. Pengurusan dan Pengawasan
n. Ikhtisar data keuangan penting
o. Ekuitas
p. Kebijakan Dividen
q. Perpajakan
r. Nama Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal
s. Keterangan tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.
t. Persyaratan tentang pemesanan pembelian saham.

1)
2)
3)
4)
5)
6)

u. Dalam hal penerbitan Waran, Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyajikan halhal antara lain :
rasio konversi;
tanggal dimulai dan diakhirinya konversi tersebut;
harga konversi;
nilai terakhir, jika hak konversi tidak dilaksanakan;
informasi tentang Waran yang bersifat tetap atau yang tergantung pada suatu kondisi (jika
ada); dan
perubahan rasio konversi sebagai akibat adanya pertambahan jumlah modal disetor, saham
bonus, dividen saham atau pemecahan saham;

7)

faktor-faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi likuiditas Waran tersebut termasuk


perkiraan jumlah pemegang Waran, dan likuiditas saham yang mendasarinya serta rencana
pencatatan Efek di Bursa Efek tersebut (jika ada).
(Butir 9 s/d 18 peraturan IX.C.3)
9. Materi keterbukaan informasi menganai HMETD yang diiklankan kepada public, sekurangkurang memuat:
a. nama lengkap Emiten atau Perusahaan Publik, alamat kantor pusat, telepon, teleks, faksimili,
E-mail dan kotak pos;
b. uraian mengenai Efek yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penerbitan Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu;
c. tanggal Rapat Umum Pemegang Saham;
d. tanggal pencatatan pemegang saham yang mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
pada Daftar Pemegang Saham atau nomor kupon untuk menentukan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu;
e. tanggal terakhir dari pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dengan pemberitahuan
bahwa hak yang tidak dilaksanakan pada tanggal tersebut tidak berlaku lagi dan tanggal
terakhir pembayaran;
f. periode perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
g. harga pelaksanaan Efek;
h. rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas saham yang ada;
i. tata cara pemesanan Efek;
j. uraian mengenai perlakuan Efek yang tidak dibeli oleh yang berhak dan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu dalam bentuk pecahan;
k. pernyataan mengenai tata cara pengalihan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
l. tata cara penerbitan dan penyampaian bukti Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu serta Efek;
m. nama Bursa Efek tempat diperdagangkannya Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan saham
yang mendasarinya tercatat (jika ada);
n. rencana Emiten atau Perusahaan Publik untuk mengeluarkan atau tidak mengeluarkan saham
atau Efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam waktu 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal efektif;
o. Nama lengkap Pihak yang bertindak sebagai pembeli siaga (jika ada);
p. dampak dilusi dari penerbitan Efek baru;
q. penggunaan dana hasil Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
r. ringkasan analisis dan pembahasan oleh manajemen; dan
informasi tentang tempat Prospektus dapat diperoleh.
http://konsultancorporateactionpttbk.blogspot.com/p/artikel-ri-5-persiapan-rightissue.html

Pengertian Right Issue


Right issue merupakan hak pembeli saham tambahan yang dilakukan oleh
perusahaan dengan cara memesan terlebih dahulu dengan harga yang telah
ditentukan sebelumnya untuk tanggal tertentu (www.e-bursa.com). Istilah right
issue di Indonesia dikenal pula dengan istilah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu

(HMETD), karena emiten mengeluarkan saham baru dalam rangka penambahan


modal perusahaan dengan terlebih dahulu ditawarkan kepada pemegang saham
saat ini. Dengan demikian, pemegang saham memiliki preemptive right atau hak
memesan efek terlebih dahulu atas saham-saham baru tersebut.
Right issue diterjemahkan sebagai bukti right. Alat investasi merupakan
produk turunan dari saham. Kebijakan right issue merupakan upaya emiten
untuk menambah saham yang beredar, guna menambah modal perusahaan.
Sebab, dengan pengeluaran saham baru tersebut, berarti pemodal harus
mengeluarkan uang untuk membeli saham yang berasal dari right issue.
Kemudian uang ini akan masuk ke modal perusahaan.
Pada umumnya tujuan dilakukannya right issue adalah untuk menghimpun
dana segar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha, membayar pinjaman
atau untuk modal kerja. Beberapa tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan
porsi kepemilikan pemegang saham atau meningkatkan jumlah saham yang
beredar. Jadi dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar saham akan
meningkat dalam jumlah yang lebih kecil dari pada presentase jumlah lembar
saham yang beredar. Umumnya diharapkan penambahan jumlah lembar saham
di pasar akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan
kata lain dapat meningkatkan likuiditas saham.
Bagi investor, right issue berdampak positif kalau tidak berpengaruh
terhadap harga saham. Sebaliknya, berdampak negatif kalau menyebabkan
menurunnya harga. Secara umum, dampak right issue bisa dirasakan oleh
semua pemodal. Right issue merupakan hak bagi pemodal untuk membeli
saham baru yang dikeluarkan oleh emiten. Karena merupakan hak, maka
investor tidak terikat harus membelinya. Investor boleh mengabaikan haknya
dengan konsekuensi berkurangnya kepemilikan saham atas emiten tersebut. Hal
ini, karena pada dasarnya perusahaan menawarkan
mengeluarkan

saham

baru.

Akibatnya

akan

right sama dengan

mempengaruhi

presentase

kepemilikan bila tidak membeli secara proporsional.


Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam suatu penerbitan right,
antara lain : waktu, harga, dan rasio. Bagi investor informasi waktu penerbitan
sangat penting untuk mengambil keputusan. Apakah dia akan melaksanakan
haknya membeli right atau tidak, sebab right mempunyai masa berlaku yang
sangat singkat.
Beberapa istilah yang terkait dengan right issue :

1.

Cum Date, yaitu tanggal terakhir / batas akhir seorang investor mendapatkan
haknya untuk memesan efek terlebih dahulu.

2.

Ex Date, yaitu batas dimana investor sudah tidak mempunyai hak lagi akan
suatu penawaran / corporate action (right issue).

3.

Daftar Pemegang Saham (DPS), adalah daftar nama orang atau investor yang
berhak atas suatu corporate action, biasanya diumumkan dalam tanggal yang
dikenal dengan nama DPS Date.

4.

Trading Period of Right Certificate, adalah periode pelaksanaan right tersebut


dicatatkan di bursa dan kapan berakhirnya.

5.

Exercise Date, adalah tanggal jatuh tempo atas pelaksanaan right issue.

6.

Allotment Date, adalah tanggal penentuan jatuh investor yang mendapatkan


right dan berapa besar tambahan saham baru akibat right issue.

7.

Listing Date, adalah tanggal right itu pertama kalinya diperdagangkan di bursa
atau tanggal dimana penambahan saham akibat right tersebut diperdagangkan
di Bursa Efek.
Harga pelaksanaan right issue merupakan harga pelaksanaan yang harus
dibayar investor untuk mengkonversikan haknya tersebut ke dalam saham.
Umumnya harga pelaksanaan right issue di bawah harga saham yang berlaku.
Hal ini, dimungkinkan sebagai tarikan agar investor mau membelinya. Right itu
sendiri mempunyai harga di pasar, harga terbentuk dari penawaran yang terjadi.
Informasi penting lainnya adalah rasio dari pelaksanaan right issue,
penentuan rasio ini sangat ditentukan dari berapa besar dana yang dibutuhkan
dan kemampuan investor lama memenuhinya. Jadi, rasio ini merupakan
komposisi berapa besar hak pemegang saham lama mendapatkan kesempatan
memesan efek terlebih dahulu. Right ratio yang biasanya digunakan di Indonesia
adalah 2 : 1 yang berarti bahwa dua saham lama mendapatkan hak memesan
satu saham baru.
Konsekuensi penambahan saham akibat kebijakan penerbitan right ini
mempengaruhi kepemilikan pemegang saham lama yang tidak melakukan
konversi rightnya. Penurunan nilai ini terjadi karena harga pasar biasanya
terkoreksi dengan adanya kebijakan ini. Untuk mengukur berapa besar koreksi
yang timbul kita harus memperhatikan informasi waktu, harga, dan rasio
penerbitan right tersebut.
http://nanangbudianas.blogspot.com/2013/02/pengertian-right-issue.html

MEMAHAMI RIGTHS ISSUE DALAM PASAR MODAL INDONESIA


Pengertian

Rigths Issue / Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam pasar
modal Indonesia adalah hak yang diperoleh para pemegang saham yang
namanya telah terdaftar dalam daftar pemegang saham suatu perseroan
terbatas untuk menerima penawaran terlebih dahulu apabila perusahaan sedang
menjalani proses emisi atau pengeluaran saham-saham dari saham portopel
atau saham simpanan. Hak tersebut diberikan dalam jangka waktu 14 hari
terhitung sejak tanggal penawaran dilakukan dan jumlah yang berhak diambil
seimbang dengan jumlah saham yang mereka miliki secara proporsional.
(wikipedia)
Right issue adalah salah satu bentuk corporate action yang dilakukan oleh
perusahaan saat hendak melepaskan/menjual saham ke publik (Initial Public
Offering = IPO). Mekanismenya, perusahaan tersebut menjual hak beli kepada
publik/pemegang saham yang sudah ada, sehingga si pemegang hak beli
tersebut pada periode yang telah ditetapkan berhak melakukan pembelian
saham sesuai dengan harga yang telah ditetapkan. (sederhana)
Tujuan Rigths Issue

Banyak informasi yang mempengaruhi keputusan investor dalam melakukan


transaksi, salah satunya adalah informasi mengenai aksi korporasi (corporate
action). Aksi korporasi (corporate action) merupakan aktivitas emiten yang

berpengaruh terhadap jumlah lembar saham yang beredar, komposisi


kepemilikan saham, risiko sistematis saham serta pergerakan harga saham. Oleh
karena itu calon investor harus mencermati sinyal yang dilempar emiten
tersebut supaya tidak terjadi kesalahan interpretasi yang dapat menyebabkan
pengambilan keputusan yang salah.
Tujuan dilakukannya aksi korporasi (corporate action) oleh perusahaan emiten
adalah untuk meningkatkan modal perusahaan, membayar hutang yang telah
jatuh tempo, ekspansi usaha, meningkatkan likuiditas perdagangan saham serta
tujuan lainnya. Salah satu aksi korporasi (corporate action) yang dilakukan para
emiten untuk mendapatkan dana segar untuk tujuan-tujuan di atas adalah
dengan melakukan penerbitan saham baru (right issue).
Menurut Ghozali dan Solichin (2003) ada dua alasan bagi perusahan melakukan
penerbitan saham baru (right issue), yaitu dengan penerbitan saham baru (right
issue) dapat mengurangi biaya karena emiten tidak harus membayar fee untuk
jasa penjamin (underwriter) dan penerbitan saham baru (right issue)
menyebabkan jumlah saham perusahaan bertambah sehingga diharapkan
dengan langkah tersebut akan dapat meningkatkan frekuensi perdagangan, yang
berarti meningkatkan likuiditas saham.
Dengan adanya hak memesan efek terlebih dahulu (preemptive right), para
investor lama dapat mempertahankan proporsi kepemilikan mereka. Apabila
para investor lama tidak menggunakan haknya tersebut, maka mereka dapat
menjual right yang dimilikinya kepada pihak lain.
Manfaat Right Issue Bagi Investor

Pengumuman penerbitan saham baru (right issue) merupakan berita yang


disampaikan oleh pihak manajemen perusahaan yang selanjutnya akan
mempengaruhi nilai perusahaan. Investor akan merespon informasi tersebut
sebagai sinyal terhadap adanya peristiwa (event) tertentu yaitu berupa sinyal
positif (good news) atau berupa sinyal negatif (bad news). Apabila dana dari
penerbitan saham baru (right issue) digunakan untuk ekspansi usaha atau
perbaikan struktur modal, maka kinerja perusahaan akan lebih baik di masa
depan. Sehingga informasi yang dihasilkan memberikan sinyal positif bagi
investor yang selanjutnya akan meningkatkan harga saham perusahaan.
Tetapi jika dana dari penerbitan saham baru (right issue) akan digunakan untuk
tujuan perluasan investasi yang mempunyai nilai sekarang bersih (net present
value) nol atau negatif dan untuk membayar utang yang telah jatuh tempo
sehingga menyebabkan kondisi laba di masa depan menurun, maka informasi

yang diperoleh investor memberi sinyal yang negatif. Sinyal tersebut akan
direspon oleh investor yang tercermin dengan perubahan harga saham dan
tingkat likuiditas saham di seputar pengumuman penerbitan saham baru (right
issue) yang dilakukan oleh perusahaan.
Penelitian Para Ahli Tentang Rigth Issue

Pengumuman penerbitan saham baru (right issue) yang dilakukan perusahaan,


secara teoritis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara
negatif, dan ini merupakan kejadian yang diakibatkan oleh risiko sistematik
(systematic risk). Risiko sistematik (systematic risk) adalah bagian risiko yang
tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi atas portofolionya
(Ghozali dan Solichin, 2003).
Beberapa temuan empiris tersebut adalah: Scholes (1972) yang menulis artikel
klasik pertama kali tentang right issue, Marsh (1979), Asquith dan Mullins (1986),
Masulis dan Korwar (1986), Myers dan Majluf (1984), Barclay dan Litzenberger
(1988), Mikkelson dan Partch (1986). Temuan empiris tersebut menunjukkan
bahwa nilai pasar saham perusahan turun sampai 3% pada saat pengumuman
right issue (Budiarto dan Baridwan, 1999)
Penelitian ini adalah untuk menguji kandungan informasi dari peristiwa
penerbitan saham baru (right issue). Apakah peristiwa itu mempunyai
kandungan informasi yang cukup kuat untuk membuat pasar bereaksi yang
ditunjukkan dengan perubahan harga saham dari sekuritas yang bersangkutan.
Reaksi ini biasanya akan diukur dengan menggunakan return sebagai nilai
perubahan harga atau dengan menggunakan abnormal return (Hartono, 1998:
318) dan trading volume activity sebagai nilai perubahan volume perdagangan
saham. Jika suatu peristiwa memiliki kandungan informasi maka akan
memberikan abnormal return kepada pasar. Sebaliknya jika suatu peristiwa tidak
mempunyai kandungan informasi maka tidak akan memberikan abnormal return
kepada pasar.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan hasil yang berbedabeda, bahkan menunjukkan hasil yang kontroversial. Hal ini terlihat dari
penelitian yang dilakukan oleh Smith (1977), Marsh (1979), Myers dan Maljuf
(1984) serta Healey dan Palepu (1990), dimana hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa setelah pengumuman penerbitan saham baru (right issue) terjadi
penurunan terhadap harga saham atau dengan kata lain pasar memberikan
respon negatif terhadap pengumuman penerbitan saham baru (right issue).
Sementara penelitian yang dilakukan oleh Loderer dan Zimmerman (1988),

Goyal dkk (1994), Dhatt dkk (1996) dan Bohren dkk (1997), justru menunjukkan
hasil yang berlawanan yakni pasar melakukan reaksi positif dan signifikan
(Kurniawati dan Winarso, 2005).
Di Indonesia penelitian mengenai peristiwa penerbitan saham baru (right issue)
telah dilakukan oleh Budiarto dan Baridwan (1999), Ghozali dan Solichin (2003)
serta Rahman dan Kustono (2003). Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan
bahwa informasi peristiwa penerbitan saham baru (right issue) di BEJ tidak
memiliki kandungan informasi yang cukup, yang dapat menyebabkan terjadinya
perbedaan preferensi investor yang dicerminkan dalam perubahan harga saham
dan aktivitas volume perdagangan saham.
Ilustrasinya Rigth Issue
Berapa Jumlah saham Anda setelah Right Isue :
Misal kita mempunyai saham ASRI sebanyak 1000 lot diharga 100 / Lembar
Apabila anda menebus rightnya dengan perbandingan 5(old) : 2 (new), maka
berarti anda harus membeli saham baru sebanyak : 1000 lot dibagi 5 x 2 = 400
lot.
Berarti anda harus mengeluarkan uang sebesar 400 lot x 500 x 100,- = Rp.
20.000.000,Sehingga saham anda menjadi 1000 lot + 400 lot = 1400 lot.
Dengan demikian maka prosentasi kepemilikan saham anda tetap tidak berubah
antara sebelum dan sesudah right issue, dengan kata lain saham anda tidak
terdilusi.
Apa pengaruhnya bila anda tidak melaksanakan Right Isue :
Bila anda tidak membeli saham barunya, maka kepemilikan saham anda akan
terdilusi
menjadi
sebesar
:
1000/1400
x
100%
=
71.42%.
(Sahamnya sih tetap saja 1000 lot, sedangkan Prosentasi kepemilikannya
menjadi berkurang sebesar 100%-71.42% = 28.58%).
Berapa harga teoritis saham setelah Right issue :
Harga teoritis = (harga terakhir cum datex jumlah saham old) + (harga
tebus x jumlah saham baru) dibagi (Jumlah saham lama + jumlah saham
baru).
Misal harga ASRI pada tanggal tercakhir cum date adalah 140, maka harga
teoritisnya adalah sebagai berikut :
(140 x 5) + (100 x 2) dibagi ( 5+2) = (700 + 200) : 7 = 128, 57.
Harga
teoritis
saham
ASRI
setelah
cum
date
adalah
128,
57
Berarti bila saham ASRI setelah Right Isue harganya diatas 128,57 berarti naik.
Sedangkan bila harganya turun dibawah 128,57 berarti turun.
Bagaimana jika
berpartisipasi :

anda

tidak

mempunyai

sahamnya,

tapi

ingin

Beli saja Rightnya pada saat periode perdagangannya, dengan demikian anda
dapat membeli saham baru dengan menggunakan right tersebut. Yang perlu
anda pertimbangkan adalah berapa harga right untuk saham baru tersebut.

Misal harga ASRI pada akhir masa Cum Date : 140, Nilai tebus 100, Perbandingan
adalah 5(old) : 2 (new). Harga teroritis saham ASRI setelah Right : 128. Maka
Right akan diperdagangkan sekitar 128-100 = 28. Bagi anda yang tidak akan
menebus saham barunya, anda bisa menjual right tsb.
Timbul pertanyaan apakah setelah Right Isue apakah sahamnya akan
naik ?
Biasanya Emiten seharusnya menjaga sahamnya untuk tidak turun, agar para
trader tetap mau memegang sahamnya. Namun mengenai akan naik atau
turunnya adalah tergantung prospek dan tujuan emiten mengadakan Right Isue
ini, apakah akan lebih meningkatkan profit atau tidak?
Bila akan meningkatkan profit, maka P/Enya dengan sendirinya akan naik,
sehingga sahamnya juga akan naik. Oleh karena itu, sebagai Trader tetap saja
kita harus bisa melakukan pengantisipasian untuk semuanya ini, lain halnya bila
anda ingin menjadi seorang investor.
http://infodatabroker.blogspot.com/2012/04/memahami-rigths-issue-dalam-pasarmodal.html

Proses Initial Public Offering (IPO) atau Go Public Suatu Perusahaan

I. Tahap Persiapan
1.
Perusahaan yang akan melakukan IPO terlebih dahulu mengadakan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Umum Pemegang Saham Luar BIasa (RUPS-LB)
untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Dalam RUPS atau RUPS-LB tersebut
diputuskan berapa modal yang dibutuhkan dan bagaimana komposisi saham setelah IPO
dilakukan.
2.

Mempersiapkan Penjamin Emisi/Underwriter

Setelah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham untuk melakukan IPO dalam
RUPS atau RUPS-LB maka perusahaan mencari dan menunjuk perusahaan efek yang
berfungsi sebagai Penjamin Emisi/Underwriter, profesi penunjang dan lembaga penunjang.
Profesi penunjang dan lembaga penunjang berfungsi untuk membantu mempersiapkan
berbagai dokumen emisi untuk keperluan IPO tersebut.
II. Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran

Pernyataan Pendaftaran merupakan tahapan dimana calon emiten menyerahkan dokumen


yang memuat prinsip-prinsip keterbukaan dan prospektus ringkas yang berisi berbagai
informasi terkait dengan perusahaan, mulai dari company profile, kinerja operasional
perusahaan seperti, neraca rugi laba, proyeksi kinerja perusahaan serta untuk kepentingan apa
dana masyarakat itu dibutuhkan.
Dalam Pernyataan pendaftaran juga harus terdapat informasi dan atau fakta materiel
mengenai perusahaan yang akan melakukan penawaran umum atas efeknya. Pernyataan
pendaftaran tidak hanya memuat fakta mengenai calon emiten tetapi juga memuat pendapat
dari profesi penunjang yang ada di pasar modal mengenai calon emiten tersebut baik
mengenai harta kekayaan, keuangan atau status hukum dari calon emiten tersebut.
Di BAPEPAM semua dokumen dari calon emiten yang telah diterima akan dievaluasi,
BAPEPAM dapat meminta perubahan atau tambahan informasi kepada calon emiten
apabila menilai bahwa dokumen yang diajukan perlu penambahan kelengkapan mengenai
kejelasan informasi, keterbukaan, maupun aspek hukum, akuntansi, keuanganc dan
manajemen.
Setelah melakukan evaluasi terhadap kelengkapan dokumen yang disampaikan oleh calon
emiten dan BAPEPAM menyatakan dokumen tersebut lengkap maka BAPEPAM akan
megeluarkan pernyataan efektif. Pernyataan efektif ini merupakan gerbang bagi calon emiten
untuk menawarkan sahamnya kepada masyarakat. Mengenai jangka waktu dinyatakan
efektifnya Pernyataan Pendaftaran, dalam Undang-undang Pasar Modal dinyatakan bahwa
Pernyataan Pendaftaran menjadi efektif pada hari ke empat puluh lima atau pada tanggal
yang lebih awal jika dinyatakan efektif oleh oleh BAPEPAM. Dalam hal ini dapat dilihat
bahwa BAPEPAM merupakan awal dari kegiatan suatu perusahaan atau calon emiten di pasar
modal. Selain sebagai hulu dari semua kegiatan di pasar modal BAPEPAM juga berfungsi
dan bertanggungjawab dalam melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan dalam
kegiatan di pasar modal sesuai dengan UU no 8 Th 1995 tentang Pasar Modal.
III. Tahap Penawaran Efek pada Pasar Perdana
Setelah pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh BAPEPAM maka efek yang
dikeluarkan oleh emiten sudah boleh dipasarkan kepada masyarakat. Mekanisme penawaran
umum ini ditentukan dan diatur oleh underwriter yang ditunjuk oleh emiten. Penawaran
umum inilah yang dinamakan penawaran pada Pasar Perdana.
Mekanisme awal yang perlu dilakukan oleh emiten adalah menyediakan prospektus lengkap
atau prospektus final yang akan diserahkan kepada calon investor. Dalam prospektus final ini
terangkum semua informasi mengenai emiten secara lengkap sehingga dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai emiten sehingga investor dapat mengambil keputusan
membeli atau tidak emisi yang ditawarkan. Untuk lebih menyebarkan informasi mengenai
penawaran umum tersebut emiten juga akan mengumumkan prospektus ringkas yang sudah
diperbaiki (apabila ada perbaikan dari prospectus awal) pada surat kabar harian berbahasa
Indonesia yang beredar secara nasional.
IV. Tahap Pencatatan Efek di Bursa dan Perdagangan di Pasar Sekunder.
Setelah melakukan penawaran umum maka emiten akan mencatatkan perusahaannya di bursa
atau Bursa Efek Indonesia (BEI) dan atau di bursa lain baik dalam negeri maupun di luar

negeri sepanjang emiten sanggup memenuhi syarat pencatatan suatu emisi di suatu bursa dan
tentu saja sesuai dengan kebutuhan dari emiten. Pencatatan Efek di bursa inilah yang disebut
dengan tahapan dimana suatu perdangan efek dari perusahaan memasuki pasar sekunder.
Sebelum suatu bursa mencatatkan efek dari emiten, bursa tersebut juga akan memeriksa
kelengkapan yang diperlukan dalam rangka pencatatan efek dari emiten, dimana setiap bursa
mempunyai persyaratan tersendiri dalam rangka pencatatan suatu emisi.
Dengan adanya pencatatan efek ini maka efek tersebut dapat ditransaksikan oleh pemiliknya
dimana efek tersebut dicatatkan. Bagi emiten pencatatan di bursa ini bisa juga merupakan
promosi gratis karena suatu perusahaan terbuka akan mendapatkan pemberitaan yang lebih
banyak daripada perusahaan yang bersifat tertutup. Bagi investor pencatatan perusahaan di
bursa akan memberikan likuiditas yang lebih bagi efek yang dimilikinya sehingga akan
mempermudah investor tersebut memperjualbelikan efek yang dipegangnya.
Prospektus dan Kelengkapannya.
Prospektus bagi emiten adalah sebagai sarana untuk memperkenalkan diri kepada investor.
Dalam prospektus ini emiten menguraikan semua tentang emisi yang ditawarkan. Sedangkan
bagi investor prospectus ini merupakan sarana untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang
emisi yang ditawarkan sehingga investor tersebut dapat mengambil keputusan yang benar
dalam hal membeli atau tidak efek yang ditawarkan oleh emiten. Dari segi penulisan
prospectus ini harus jelas dan komunikatif sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh
pemodal yang tidak semuanya paham mengenai bahasa-bahasa teknis.
Prospectus ini harus menyajikan informasi mengenai emiten secara lengkap baik tentang efek
yang ditawarkan apakah efek hutang atau efek ekuitas, nilai efek yang ditawarkan maupun
jumlah lembarnya. Selain itu disajikan juga nilai nominal dan harga yang ditawarkan untuk
efek-efek tersebut, yang dapat ditawarkan sama dengan nilai nominal atau di atas nilai
nominal. Informasi mengenai efek ini juga akan mencakup mengenai hak-hak dari pemegang
efek tersebut.
Prospectus juga menguraikan mengenai emiten yang menerbitkan efek tersebut. Seperti
sejarah dari emiten, struktur permodalan dan perkembangannya termasuk
pemindahan/mutasi-mutasi hak atas saham.
Prospektus secara lengkap juga harus menguraikan rencana penggunaan atas dana yang
diperoleh dari hasil penawaran umum. Hal ini penting karena dengan melihat rencana
penggunaan atas dana hasil IPO ini maka investor dapat memperkirakan prospek dari emiten
ke depannya sehingga investor dapat membuat keputusan yang benar.
Prospectus juga harus memuat laporan keuangan yang di susun oleh Akuntan Publik yang
terdaftar di BAPEPAM, dimana BAPEPAM mensyaratkan bahwa jangka waktu laporan
keuangan tersebut dan tanggal efektifnya pernyataan pendaftaran, harus tidak lebih dari
seratus delapan puluh hari. Hal ini dimaksudkan agar laporan keuangan tersebut
menggambarkan kondisi terkini dari emiten.
Untuk perlindungan bagi pemodal maka BAPEPAM juga mensyaratkan agar emiten juga
memberikan pernyataan tentang kejadian penting relevan yang menyagkut emiten setelah
laporan keuangan yang dikeluarkan oleh akuntan public tersebut.

Kelengkapan-kelengkapan yang harus ada dalam prospectus diantaranya informasi-informasi


mengenai fakta material sebagai berikut:
1.
Keterangan, bahwa pendaftaran telah diajukan ke BAPEPAM sesuai dengan UUPM dan
ketentuan pelaksanaannya.
2.
Pernyataan, bertanggungjawab sepenuhnya atas kebenaran semua informasi dan
kewajaran pendapat yang diungkapkan dalam Pernyataan Pendaftaran.
3.
Pernyataan, semua dan lembaga profesi penunjang pasar modal yang disebut dalam
pernyataan pendaftaran, bertanggungjawab penuh atas data yang disajikan dan relevan
dengan fungsi mereka sesuai dengan peraturan yang berlaku, kode etik, norma dan standar
profesi.
4.
Nama lengkap, alamat perusahaan, logo perusahaan, nomor telepon, nomor faximil,
nomor kotak kantor pos dan kegiatan perseroan public dan kantor perwakilan.
5.

Struktur modal saham pada saat pernyataan pendaftaran diajukan meliputi:

a.

Modal dasar (authorized capital)

b.

Modal ditempatkan (subscribed capital)

c.

Modal disetor penuh (paid up capital)

d.

Jumlah dan nilai total saham

6.
Keterangan mengenai rencana struktur modal saham pada tanggal pernyataan
pendaftaran yang mencakup:
a.

Modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor.

b.
Rincian kepemilikan saham oleh pemegang saham yang memilik 5% atau lebih, Direksi
dan Komisaris.
7.

Analisa dan pembahasan oleh manajemen secara singkat tentang:

a.
Kecendrungan yang diketahui, permintaan-permintaan, ikatan-ikatan, kejadian-kejadian
atau kepastian yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan atau penurunan
yang material terhadap likuiditas perseroan.
b. Analisis atau pembahasan mengenai ikatan yang materiel untuk investasi barang modal
dengan penjelasan tentang tujuan perikatan-perikatan tersebut, serta sumber dana yang
diharapkan memenuhi perikatan-perikatan dimaksud.
c.
Analisis mengenai seberapa jauh hasil usaha atau keadaan keuangan perseroan pada
masa yang akan datang:

Menghadapi resiko fluktuasi kurs dan suku bunga.

d.

Memberikan semua keterangan tentang semua pinjaman dan perikatan tanpa proteksi
kurs, yang dinyatakan dalam mata uang asing atau suku bunganya ditentukan terlebih
dahulu.
Analisis mengenai perkembangan materiel yang akan terjadi meliputi:

Kecenderungan keadaan persaingan

Ketidakpuasan yang diketahui dapat meneyebabkan informasi keuangan yang telah


dilaporkan tidak memberikan indikasi atas hasil usaha dan keadaan keuangan pada
masa yang akan dating.

e.
Uraian kejadian transaksi yang tidak normal terjadi atau perubahan yang penting dalam
ekonomi yang dapat mempengaruhi jumlah pendapatan yang dilaporkan dalam laporan
keuangan yang telah diperiksa akuntan.
f.
Pembahasan, jika laporan keuangan dalam pernyataan pendaftaran mengungkapan
perningkatan material dari penjualan atau penjualan bersih serta laba operasi perseroan
selama tiga tahun atau selama perusahaan menjalankan usaha jika kurang dari tiga tahun.
g.
Bahasan mengenai prospek perusahaan dan proyeksi keuangan yang diungkapkan harus
dipersiapkan dengan seksama serta objektif berdasarkan asumsi yang layak.
8.

Resiko usaha, disusun berdasarkan bobot resiko yang dihadapi, antara lain:

a.

Resiko peperangan

b.

Pasokan bahan baku

c.

Ketentuan Negara lain atau internasional

d.

Kebijakan pemerintah

9.

Kejadian penting setelah tanggal laporan akuntan

10. Keterangan tentang perseroan atau perusahaan, meliputi:


a.

Riwayat singkat perseroan, yang berisi penjelasan:

1)

Pendirian perseroan

Tanggal pendirian

Pemegang saham

Nama lengkap dan kegiatan usahanya

Sifat dan akibat kepailitan perwakilan atau proses sejenis

Uraian mengenai sifat dan akibat strukturisasi, penggabungan atau konsolidasi


perusahaan afiliasi penting

Aktiva yang materiel yang dibeli di luar kegiatan usaha biasa

Perubahan penting dalam menjalankan kegiatan usaha

2)

Kronologis singkat dokumen hokum yang berkaitan dengan:

Pendirian, dan

Perubahan penting

3)

Perubahan kepemilikan saham setelah pendirian.

4)

Kejadian yang berkenaan dengan perkembangan perusahaan:

Perubahan sarana produksi

Penggunaan teknologi baru

5)

Perjanjian penting yang menyangkut:

Lisensi

Pembeli utama

Penunjukan agen dan distributor tunggal produk penting

Perjanjian teknis

6)
Gambaran semua sarana dan prasarana yang dikuasai, seperti tanah, gudang pabrik
serta status hukumnya
7)

Hubungan dengan perusahaan lain:

Berdasar kepemilikan

Berdasar pemegang saham yang sama, atau

Factor lain

b.

Pengurusan dan pengawasan:

1)

Nama anggota direksi dan komisaris

2)

Uraian singkat identitas anggota direksi dan komisaris

Kewarganegaraan

Umur (tanggal lahir)

Jabatan sekarang dan sebelumnya

Pengalaman kerja serta usaha yang relevan

Pendidikan, sekolah bidang studi dan tahun tamat belajar

c.

Sumber daya manusia (SDM)

1)

Rincian pegawai menurut jabatan dan pendidikan

2)

Nama pendidikan atau latihan

3)

Tenaga kerja asing (jika ada)

4)
Sarana kesejahteraan (jika ada), meliputi pengobatan, transportasi, perjanjian tenaga
kerja, Jamsostek, koperasi dan dana pension.
11. Kegiatan dan prospek usaha
a) Penjelasan mengenai sumber dan ketersediaan bahan baku serta tingkat ketergantungan
pada permasalahan tertentu.
b) Penjelasan mengenai proses produksi dan pengendalian mutu, uraian umum mengenai
status pengembangan produksi dan jasa tertentu serta apakah pengembangan itu memerlukan
investasi yang relative berarti.
c) Kapasitas dan hasil peroduksi selama lima tahun terakhir atau sejak perseroan berdiri jika
masih kurang lima tahun.
d)

Produksi dan jasa utama perseroan.

e) Masa berlaku paten, merek, lisensi, franchise, konsesi serta pentingnya hal-hal itu bagi
perusahaan.
f)

Besarnya ketergantungan perusahaan terhadap satu atau sekelompok pelanggan.

g)

Sifat musiman dari kegiatan usaha (jika ada)

h)

Kegiatan usaha sehubungan dengan modal kerja yang menimbulkan resiko khusus:

a.

Memiliki persediaan dalam jumlah besar

b.

Kemungkinan terjadi pengembalian barang-barang dagangan

c.

Pemberian pelanggaran mengenai syarat pembayaran kepada pelanggan

i)

Uraian tentang pesanan:

a.

Menumpuk atau tidak

b.

Perkembangan pesanan dalam tiga tahun terakhir

c.

Kemungkinan penumpukan pesanan pada masa yang akan datang

j)

Ketergantungan kontrak dengan pemerintah

k)

Keadaan persaingan

l)

Informasi singkat mengenai pengeluaran riset dan pengembangan

m) Uraian tentang pemasaran:


a.

Daerah pemasaran produksi

b.

System penjualan dan distribusi

c.

Data mengenai angka-angka penjualan perusahaan yang dinyatakan dalam rupiah

n) Prospek perusahaan sehubungan dengan industry, ekonomi secara umum dan pasar
internasional.
12. Ikhtisar data keuangan penting

Penjelasan laporan keuangan merupakan sumber data.ulbyobhz

Penjelasan laporan keuangan telah diperiksa atau tidak oleh akuntan

Data yang diajukan konsisten dengan laporan keuangan dengan menjelaskan akun
yang dipergunakan.

Laporan keuangan yang relevan dengan usaha atau industry yang bersangkutan.

13. Ekuitas
Keterangan mengenai ekuitas berdasat laporan keuangan yang diperksa akuntan:
a)
Tabel ekuitas yang menurut neraca ekuitas pertanggal laporan keuangan sebelum priode
yang disajikan dalam laporan keuangan
b)
Uraian secara kronologis yang menggambarkan perubahan struktur permodalan dalam
perusahaan-perusahaan:

Perubahan modal dasar, dan

Perubsahan modal disetor dan nilai nominal perusahaan

c)
Perubahan struktur permodalan yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan terakhir
(jika ada)
14. Kebijakan dividen:
1)

Informasi dividen yang direncanakan

2)

Rentang jumlah presentase deviden yang direncanakan dikaitkan dengan laba biasa.

15. Perpajakan
1)

Pajak yang berlaku baik bagi pemodal maupun bagi perusahaan

2)

Fasilitas khusus perpajakan yang diperoleh

16. Nama dan alamat profesi dan lembaga penunjang pasar modal
17. Pendapat dan laporan dari segi hokum:
1)

Keabsahan akta pendirian serta AD dan perubahan-perubahan AD

2)
Keabsahan izin dan persetujuan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan usaha
atau kegiatan usaha yang direncanakan.
3)

Status kepemilikan aktiva secara material.

4)

Perkara perdata, pidana, perburuhan dan TUN serta tindakan hukum lain.

5)

Perikatan-perikatan dengan pihak ketiga.

6)
Permodalan perusahaan dan perubahan-perubahan yang direncanakan, dinyatakan
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan semua telah memperoleh
persetujuan yang diperlukan.
18. Laporan keuangan
1)

Laporan akuntan berkenaan dengan laporan keuangan yang disajikan

2)
Menyajikan laporan keuangan untuk jangka waktu tiga tahun terakhir atau sejak
berdirinya perusahaan, meliputi:

Neraca,

Laporan rugi laba,

Laporan saldo laba,

Laporan arus kas,

Catatan atas laporan keuangan, dan

Laporan lain serta materi penjelasan integral laporan keuangan jika dipersyaratkan
seperti laporan komitmen dan kontigensi bagi perusahaan yang bergerak di bidang
perbankan.

19. Laporan penilai oleh Penilai yang ditunjuk.


20. Anggaran Dasar (AD)
AD terakhir yang mendapat Keputusan Persetujuan atau telah diberitahukan kepada instansi
terkait.
http://magisterhukumbisnis.wordpress.com/2011/11/29/proses-initial-publicoffering-ipo-atau-go-public-suatu-perusahaan/

Pengertian Initial Public Offering (IPO)


Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public
offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan
melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. IPO adalah kegiatan penawaran efek yang
dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal.
Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen
penjual. Pada umumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit
dari pesanan. Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat
besar sehingga dilakukan penjatahan.
Proses Initial Public Offering (IPO)
Di Indonesia, prosedur sebuah perusahaan untuk go public mengikuti tiga tahapan utama
yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal- LK (BAPEPAM-LK). Tahap pertama
adalah persiapan diri, kemudian tahap kedua adalah memperoleh ijin registrasi dari
BAPEPAM-LK, dan ketiga adalah melakukan penawaran perdana ke publik dan memasuki
pasar sekunder dengan mencatatkan efeknya di bursa.
http://nenygory.wordpress.com/2011/08/11/

LAPORAN KEUANGAN INTERIM


LAPORAN KEUANGAN INTERIM
A. PENDAHULUAN

Umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun fiskal penuh.
Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi interim
sebagai bagian dari tahun fiskal. Laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan
pandangan yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan
periode tahunan.
Pada dasarnya, laporan keuangan interim menyediakan informasi mengenai kondisi
perusahaan kurang dari satu tahun. Laporan tersebut biasanya diterbitkan setiap tiga bulan
dan biasanya berisi informasi kumulatif dari awal tahun sampai dibuatnya laporan tersebut.
Sebelum tahun 1973, keseragaman isi dari laporan interim yang dibuat untuk para pemegang
saham sangat rendah. Ketidakseragaman dan semakin pentingnya laporan interim mendorong
dikeluarkannya APB Opinion Nomor 28 pada bulan Mei 1973.
Pengungkapan informasi segmen sebagaimana diatur dalam Statement of Financial
Accounting Standards (SFAS) Nomor 14 tentang Financial Reporting for Segments of
Business Enterprise tidak berlaku untuk pelaporan interim, kecuali jika laporan interim
tersebut berupa laporan keuangan yang dimaksudkan untuk menyajikan posisi keuangan,
hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang
Berterima Umum (PABU) atau Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).
A. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN INTERIM
Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
keuangan tahunan. Laporan keuangan interim: (1) harus dipandang sebagai bagian yang
integral dari periode tahuan; dan (2) dapat disusun secara bulanan, triwulanan, atau periode
lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai
standar akuntansi keuangan. Di Indonesia, laporan keuangan interim dimuat dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan
Interim yang terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
B. SIFAT LAPORAN KEUANGAN INTERIM
Secara konseptual, laporan keuangan interim (interim report) menyediakan informasi yang
lebih tepat waktu, tetapi kurang lengkap dibandingkan dengan laporan keuangan tahunan
(annual report). Laporan keuangan interim menunjukkan adanya trade-off antara ketepatan
waktu dan kehandalan data-data keuangan, karena memerlukan adanya estimasi untuk
melakukan review piutang, utang dagang/usaha, persediaan, dan informasi lainnya yang
mendukung pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan. Kebutuhan

minimum pengungkapan sebagaimana diatur dalam APB Opinion Nomor 28 tidak


mewajibkan penyajian keuangan yang wajar hasil operasi dan posisi keuangan sesuai dengan
PABU.
Berdasarkan APB Opinion Nomor 28, masing-masing periode interim merupakan bagian
integral dari laporan tahunan (annual report). Hasil perhitungan periode interim harus
didasarkan pada prinsip akuntansi dan praktik yang digunakan dalam tahun terakhir
penyusunan laporan keuangan. Meskipun demikian, modifikasi tetap diperbolehkan untuk
menyesuaikan periode interim dengan periode tahunan supaya memiliki informasi yang
berarti. Sebagai contoh, laporan interim memodifikasi prosedur yang digunakan untuk
penghitungan biaya produksi dan biaya-biaya yang lain yang biasanya digunakan dalam
laporan tahunan.

C. PANDANGAN SEHUBUNGAN DENGAN LAPORAN KEUANGAN INTERIM


Pada umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun fiskal
penuh. Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi
interim sebagai bagian dari tahun fiskal.
Pada dasarnya, ada dua pandangan sehubungan dengan laporan keuangan interim adalah
sebagai berikut.
1. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan
menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama, seperti
pada periode tahunan.
2. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan periode
tahunan.
Di Indonesia, laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan pandangan yang kedua
yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan.
E.

BIAYA PRODUK

Untuk menghitung biaya produk antara lain dapat digunakan dengan metode sebagai berikut.
1.

Metode Laba Kotor. Apabila perusahaan menggunakan metode ini untuk harga sediaan
selama masa interim, pengungkapan metode dan rekonsiliasi dengan sediaan tahunan perlu
dilakukan.

2. Metode Last In First Out (LIFO). Jika sediaan LIFO dilikuidasi pada masa interim tetapi
metode tersebut akan diganti pada akhir tahun, harga pokok penjualan (cost of goods sold)
harus dimasukkan dalam biaya pergantian metode dari LIFO, sebagai konsekuensi likuidasi
interim. Sebagai contoh, sebuah perusahaan melakukan likuidasi 100 unit sediaan yang
diperhitungkan dengan LIFO pada tiga bulan pertama. Perusahaan tersebut akan
membebankan harga pokok/kos penjualan pada current cost 100 unit daripada historical cost
LIFO jika 100 unit tersebut akan digantikan pada akhir tahun. Kelebihan nilai current cost di
atas historical cost menunjukkan adanya kewajiban lancar pada neraca interim.
Dalam kasus perubahan metode sediaan LIFO, pengaruh kumulatif perubahan pada awal
periode tidak dapat dihitung. Jika perubahan tersebut dilakukan pada periode pertama, fakta
tersebut harus diungkap tetapi bukan jumlah pro forma. Jika perubahan dibuat pada periode
selanjutnya, perubahan tersebut diungkap bersamaan dengan informasi keuangan pada
periode interim sebelum perubahan.
F. PENURUNAN NILAI PASAR PERSEDIAAN
Penurunan nilai pasar sediaan tidak ditangguhkan selama periode interim, kecuali jika
ditentukan secara temporer tidak ada kerugian yang akan terjadi selama setahun secara
keseluruhan.
G. SISTEM BIAYA STANDAR
Rencana varian berdasarkan sistem biaya standar yang diharapkan akan diserap pada akhir
tahun sebaiknya ditangguhkan pada masa interim.
H. BIAYA-BIAYA LAIN
Biaya Tahunan dalam Laporan Interim. Biaya yang dibebankan secara tahunan sebaiknya
dialokasikan ke periode interim. Prosedur alokasi harus konsisten dengan prosedur untuk
laporan tahunan. Biaya-biaya yang muncul dalam periode interim tidak ditangguhkan, kecuali
jika biaya-biaya tersebut akan ditangguhkan pada akhir tahun.
Biaya Iklan. Biaya iklan tidak ditangguhkan selama masa interim, kecuali jika manfaatnya
juga dapat dirasakan pada periode sesudahnya.
Pajak Penghasilan. Pajak penghasilan dalam laporan interim dibagi menjadi (a) pajak
penghasilan untuk penghasilan dari operasional tidak termasuk item-item yang bukan biaya
atau jarang terjadi, dan (b) pajak penghasilan untuk item yang tidak biasa, pemberhentian
operasi dan item luar biasa. Biaya pajak penghasilan untuk masa interim berdasarkan pada

estimasi tarif pajak efektif tahunan untuk pendapatan kena pajak (PKP) yang berasal dari
operasi tidak termasuk item-item luar biasa. Estimasi pajak penghasilan tahunan dikurangi
dengan pajak penghasilan yang telah diakui pada periode sebelumnya menjadi beban pajak
periode kini. Pengaruh pajak untuk item-item yang tidak biasa diperhitungkan secara terpisah
dan ditambahkan pada periode interim di mana item ini dilaporkan. Gain dan loss untuk
pemberhentian operasi dan item luar biasa dilaporkan dalam laporan tahunan.
I.

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN INTERIM

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan


Interim berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan keuangan
interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya: pasar modal, dan lain-lain.
Untuk industri yang telah diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) industri yang
bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus
tersebut.
Laporan keuangan interim meliputi: (1) neraca; (2) laporan laba/rugi; (3) saldo laba interim;
(4) laporan arus kas; dan (5) catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus
menyajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan
laba/rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode
interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date).
Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak
lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan
keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam
jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai
lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva
tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai
jangka panjang.
Khusus untuk perusahan tertentu, antara lain bank dan asuransi, yang mempunyai metode
khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
J. PENGUNGKAPAN RINGKASAN DATA KEUANGAN INTERIM
Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan
keuangan interim, maka data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan:

1. Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk
pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif perubahan akuntansi,
perubahan akuntansi, dan laba bersih.
2. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan.
3. Pendapatan dan beban musiman.
4. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan.
5. Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa, dan tidak sering terjadi.
6. Kewajiban kontinjen.
7. Perubahan akuntansi.
8. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.
Laporan keuangan interim terakhir, misalnya laporan keuangan interim triwulan keempat,
tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan
laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak
diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan
tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus
merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya
tahun yang bersangkutan.
K. SIMPULAN
Dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual surat berharga di pasar modal,
laporan keuangan interim menjadi semakin diperlukan pemakai laporan keuangan
membutuhkan laporan keuangan perusahaan secepat mungkin untuk memberikan gambaran
tentang kegiatan perusahaan. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang
diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan.
Tuntutan pengungkapan untuk laporan interim ditemukan dalam APB Opinion Nomor 28 dan
diamandemen dalam FASB Statement Nomor 3 dan FASB Interpretation Nomor 18. Laporan
interim menyediakan informasi yang tepat waktu. Meskipun demikian, sebagian besar
informasinya didasarkan pada estimasi dan laporan yang tidak diaudit. Setiap laporan interim
merupakan bagian integral dari laporan tahunan. Laporan interim ditentukan berdasarkan
prinsip akuntansi yang digunakan dalam laporan tahunan tahun sebelumnya. Meskipun

demikian, beberapa modifikasi mungkin diperlukan untuk menyusun laporan interim sebagai
pelengkap laporan tahunan.
Semoga bermanfaat.
http://aguskemponk28.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-xnone_19.html

IPO
Minggu, 14 November 2010 | 04:18 WIB
Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan
IPO menjadi sebuah kata yang sangat terkenal bagi kita dalam dua minggu ini, terutama
dalam kasus PT Krakatau Steel, Tbk. IPO adalah sebuah aktivitas penawaran saham kepada
masyarakat dengan mengikuti proses sesuai undang-undang yang dikenal dengan UndangUndang Pasar Modal. Masyarakat bisa membeli saham perusahaan tersebut melalui
perusahaan sekuritas yang mempunyai periode penawaran. Perusahaan yang ingin melakukan
penawaran saham kepada publik setidaknya ada tahapan yang dilalui dan sering kali harus
dilaksanakan.
Tahap awal yang dilakukan adalah meminta persetujuan akan dilakukan penawaran saham
kepada publik kepada pemegang saham yang ada melalui mekanisme RUPS. Apabila RUPS
telah menyetujui penawaran saham kepada masyarakat, direksi bisa menindaklanjutinya.
Salah satu tindak lanjut dari hasil RUPS tersebut dewan direksi bisa membuat tim untuk
menangani proses IPO (initial public offering) tersebut.
Dalam melaksanakan IPO, perusahaan tidak bisa melakukannya dan harus dibantu oleh pihak
lain yang dikenal dengan profesi pasar modal dan lembaga penunjang pasar modal serta
perusahaan sekuritas sebagai mitra dalam proses IPO ini. Sementara itu, profesi tersebut
adalah akuntan, konsultan hukum, dan notaris, sedangkan lembaga penunjang pasar modal
adalah lembaga penilai dan biro administrasi efek. Perusahaan sekuritas yang memimpin
semua pihak yang berpartisipasi dalam proses IPO tersebut. Penentuan harga IPO ditentukan
oleh perusahaan sekuritas dan perusahaan yang ingin IPO, di mana saat ini dilakukan dengan
book-building. Harga IPO biasanya diminta dengan harga yang tinggi oleh perusahaan yang
ingin go public dan perusahaan sekuritas selalu meminta dengan harga yang lebih rendah
dengan berbagai alasan, baik hasil book-building maupun yang lain. Alasan utama diminta
harga rendah karena perusahaan sekuritas tidak menginginkan investornya mengalami
kerugian ketika berinvestasi pada saham tersebut agar pada IPO perusahaan lain maka
investor tersebut ikut berpartisipasi untuk membeli saham.
Perusahaan
Titik awal memulai IPO setelah ada hasil RUPS dengan menunjuk konsultan hukum dan
notaris agar semua aktivitas yang dilakukan tidak melanggar hukum yang ada. Tindakan yang
dilakukan yaitu meningkatkan modal dasar perusahaan dan mengubah AD/ART agar
memenuhi. Tindakan ini juga mengubah perusahaan dari perusahaan tertutup menjadi
perusahaan terbuka sehingga perusahaan tersebut selalu mencantumkan singkat pendek

Tbk setelah nama perusahaan. Peningkatan modal dasar dan juga modal setor harus
disesuaikan dengan undang-undang yang berlaku.
Persyaratan IPO bisa diperoleh dari Bapepam, baik langsung maupun melalui website yang
dimiliki lembaga tersebut, bahkan perusahaan bisa mendapatkan dari perusahaan sekuritas.
Persyaratan ini yang perlu dipersiapkan oleh perusahaan dengan pihak-pihak yang turut
berpartisipasi dalam IPO tersebut. Salah satu syarat yang harus diperhatikan perusahaan
adalah laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik. Laporan keuangan yang telah
diaudit tersebut hanya berlaku 180 hari sampai terbitnya surat efektif dari Bapepam.
Misalkan, bila perusahaan menggunakan laporan audit 30 Juni, laporan ini hanya berlaku
sampai Desember sehingga proses IPO harus dilakukan selama enam bulan dan surat efektif
dari Bapepam sudah keluar.
Jika kelengkapan dokumen sudah terkumpul, perusahaan dibantu perusahaan sekuritas
mendaftarkannya ke Bapepam yang dikenal dengan pernyataan pendaftaran. Ketika
perusahaan mengajukan pernyataan pendaftaran ke Bapepam, perusahaan harus transparan
dan wewenang Bapepam untuk membuat saham tersebut menjadi wajar dan teratur. Apabila
pemeriksaan dokumen yang dilakukan oleh Bapepam sudah memenuhi syarat, Bapepam
menerbitkan surat efektif atas IPO saham perusahaan tersebut.
Selanjutnya, setelah surat efektif diperoleh dari Bapepam, perusahaan dengan perusahaan
sekuritas melakukan public expose untuk mendapatkan investor walaupun sebenarnya
kebanyakan investor perusahaan sekuritas tersebut. Kemudian perusahaan sekuritas
melakukan book-building atas harga saham. Ada periode penawaran saham yang lamanya
sekitar tiga hari untuk mendapatkan pembeli atas saham tersebut. Pada saat ini ketahuan siapa
sebenarnya pembeli saham tersebut. Jika saham tersebut dianggap murah dan berkualitas,
saham tersebut menjadi hot issue sehingga permintaan meningkat. Investor yang pintar akan
melipatgandakan pesanannya dan investor yang tidak pintar ikut membeli saham tersebut.
Apabila saham tersebut biasa saja, pembelinya kebanyakan investor yang tidak pintar dan
sedikit yang pintar. Artinya, investor yang yang tidak pintar selalu terpojok sehingga investor
tidak heran jika tidak mendapat jatah untuk saham-saham yang hot issue, seperti saham IPO
Krakatau Steel.
Restrukturisasi
Salah satu proses yang cukup menarik dilakukan perusahaan sebelum IPO dilaksanakan
adalah melakukan restrukturisasi perusahaan. Restrukturisasi ini perlu dilakukan untuk
membuat perusahaan lebih menarik agar lebih laku dijual. Restrukturisasi yang dilakukan
adalah bagaimana membuat nilai perusahaan dari harga Rp 500 menjadi Rp 750 atau bahkan
jauh lebih tinggi. Tindakan ini diperlukan oleh pemilik karena pemilik telah lama
mengoperasikan perusahaan sehingga perlu mendapatkan goodwill atau premium atas
penjualan saham yang dilakukannya. Restrukturisasi ini sering juga disebut dengan rekayasa
perusahaan agar lebih menarik. Rekayasa yang dilakukan sangat beragam dan rekayasa ini
diketahui oleh orang-orang Indonesia bukan dari kita, tetapi dari asing yang menawarkan
konsultan di Indonesia untuk perusahaan yang ingin go public. Besaran rekayasa ini
bervariasi tergantung keinginan pemilik saham lama dan lakunya saham dijual. Bahkan,
penulis mensinyalir hampir semua saham di bursa mengalami rekayasa. Tak heran, ada
beberapa perusahaan BUMN yang melakukannya dan bisa dideteksi sehingga perusahaan
mendapat penalti, baik direksi maupun perusahaan itu sendiri.

Perlukah investor melakukan investasi pada saham yang sedang IPO. Beberapa pihak
investor yang bercerita bahwa setiap ada IPO investor tersebut mengikuti dan menjualnya
pada hari pertama saham tersebut ditransaksikan. Investor tersebut selalu mengalami
keuntungan minimum sebesar 5 persen dan jangka waktu atas investasi tersebut tidak lebih
dari dua minggu. Artinya, investor tersebut telah memperoleh tingkat pengembalian yang
cukup tinggi apabila disetahunkan mencapai 250 persen. Berdasarkan penelitian empiris yang
dilakukan Rock (1986) bahwa semua saham yang ditawarkan pada saat IPO mempunyai
harga yang rendah sehingga investor akan mengalami keuntungan ketika diperdagangkan
pada hari pertama.
Empiris dan praktik yang terjadi telah saling mendukung sehingga investor jangan lupa untuk
berinvestasi pada IPO. Tetapi, ada juga saham yang diperdagangkan pada hari pertama turun
dari harga IPO-nya, misalnya saham Semen Gresik yang harganya drop dari Rp 7.000 ke
harga Rp 6.550 pada hari pertama transaksi saham ini.
KOMPAS
http://idhamazhari.blogspot.com/2010/11/ipo.html

LAPORAN INTERIM
Filed under: MATERI KULIAH Tinggalkan komentar
Oktober 1, 2010

Rate This
LAPORAN KEUANGAN INTERIM
2.1 Laporan Keuangan Interim
Laporam keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
keuangan tahunan.
Laporan keuangan interim ;

Harus dipandang sebagai bagian yang integral dari periode tahunan.

Dapat disusun secara bulanan, trriwulan atau periode lain yang kurang dari setahun
dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi
keuangan.

2.1.1 Pandangan Sehubungan Dengan Laporan Keuangan Interim


Dua pandangan sehubungan dengan laporan keuangan interim adalah sebagai berikut :
1. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan
menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama
seperti pada periode tahunan.
2. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan
periode tahunan.
Pernyataan ini dikembangkan berdasarkan pandangan kedua yang menganggap laporan
keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan.
2.1.2 Pelaporan dan Pengungkapan
Unsur yang sama antara pelaporan keuangan intrim dengan pelaporan keuangan tahunan
adalah :
1. Dasar pengakuan pendapatan
2. Kebijakan akuntansi dasar pelaporan pada periode interim, kecuali jika ada perubahan
dalam standar akuntansi.
3. Penyajian penggolongan aktiva sebagai lancar dan tidak lancar, dan kewajiban
sebagai jangka pendek dan jangka panjang.
2.1.3 Biaya dan Beban
Pelaporan biaya dan beban diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu :
1. Beban yang dapat dihubungkan dengan pendapatan ditentukan atas dasar yang sama
dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tahunan kecuali
untuk persediaan dengan modifikasi sebagai berikut :
1. Perusahaan yang dalam periode interim menggunakan estimasi laba kotor
dalam menentukan nilai persediaan atau metode lain yang berbeda dengan
metode yang digunakan dalam penilaian persediaan aktif tahun, harus
mengungkapkan hal tersebut dalam laporan keuangan interim.
2. perusahaan yang melakukan penilaian persediaan berdasarkan biaya standar
tidak perlu melaporkan penyimpangan atau selisih dengan biaya aktual yang
terjadi, jika selisih biaya tersebut tidak meterial atau diharapkan bisa
diselesaikan pada akhir tahun. Pengaruh dari penyimpangan yang tidak
direncanakan dan tidak diperkirakan harus dilaporkan pada kahir periode
interim dengan prosedur yang sama seperti yang digunakan pada akhir tahun.
3. Kerugian yang disebabkan penurunan harga pasar tidak boleh ditangguhkan
untuk dibebankan ke periode di luar periode penurunan harga tersebut.
Pemulihan harga yang sama boleh diakui sebagai keuntungan pada periode

interim selanjutnya, keuntungan yang diakui tidak boleh melebihi kerugian


yang telah dibebankan pada periode sebelumnya.
2. Biaya dan beban lain-lain
Untuk periode pelaporan interim, biaya dan beban lain-lain termasuk produksi dibebankan
atas dasar yang sama seperti periode tahunan.
2.1.4 Pendapatan dan Beban Musiman
Laporan keuangan interim memberi gambaran pendapatan dan beban periode interim
tersebut. Laporan keuangan interim tertentu diperbandingkan dengan periode sebelumnya
memberi manfaat yang lebih besar bagi para pemakai laporan dalam contoh kondisi-kondisi
sebagai berikut :
1. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan interim periode
sebelumnya, untuk mengetahui kecenderungan (tren) posisi keuangan dan kinerja.
2. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan interim yang sama dalam periode
akuntansi yang lalu, untuk mengetahui kecenderungan berulang (cyclical) musiman
dari kegiatan usaha.
3. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan kumulatif dari
awal tahun buku sampai dengan tanggal laporan keuangan interim untuk mengetahui
kontribusi atau pengaruh periode interim yang dilaporkan pada periode berjalan.
4. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan tahun buku
yang lalu, untuk mendapat gambaran pengaruh dan kinerja interim tersebut terhadap
posisi keuangan, kinerja dan arus kas periode akuntansi yang lalu.
2.1.1 Penyisihan Pajak Penghasilan
Pada akhir tiap periode interim, perusahaan harus membuat taksiran pajak penghasilan untuk
dibebankan pada periode interim. Perhitungan pajak penghasilan periode interim harus sesuai
dengan kebijakan akuntansi tentang pajak penghasilan yang dianut pada akhir tahun.
2.1.2 Penghapusan Segmen Usaha, Pos Luar Biasa, Transasksi Tidak Biasa dan Tidak
Sering Terjadi Serta Kewajiban Kontijen
Penghapusan segmen usaha, penggabungan usaha, pos luar biasa, dan kejadian tidak biasa
dan tidak sering terjadi harus dibebankan pada periode interim saat terjadinya dan tidak boleh
dibebankan pada periode lain.
Pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dan dimasukkan dalam laporan laba rugi
periode interim saat pos luar biasa terjadi. Dalam mennetukan materialitas, pos luar biasa
harus dihubungikan langsung dengan estimasi pendapatan tahunan.
Peristiwa atau kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi dan berpengaruh material
terhadap hasil operasi tetapi tidak dapat dikelompokkan dalam pos luar biasa juga harus
dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah dalam laproan laba rugi periode interim.

Kewajiban kontinjen dan ketidakpastian lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi


kewajaran penyajian data keuangan pada tanggal neraca diungkapkan dalam laporan
keuangan interim dengan cara yang sama seperti dalam laporan keuangan tahunana.
Pengungkapan tersebut harus diulang dalam laporan keuangan interim berikutnya dan dalam
laporan keuangan tahunana sampai kewajiban kontinjen itu terselesaikan.
2.1.3 Perubahan Akuntansi
Perubahan akuntansi dalam periode interim yang memerlukan penyesuaian harus dilaporkan
dalam periode interim saat perubahan itu terjadi dengan cara yang sama seperti yang
dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan sebagaimana yang diatur dalam pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan,
Kesalahan Mendasar dan Perubahan kebijakan Akuntansi.
Perusahaan berkewajiban mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan bila
mengetahui akan ada perubahan akuntansi dalam periode laporan keuangan interim
berikutnya.
Laporan keuangan interim harus menunjukkan perubahan akuntansi :
1. yang terjadi pada periode interim yang dilaporkan.
1. yang terjadi pada periode interim sebelumnya dalam tahun buku yang sama,
bila berpengaruh material pada periode interim yang dilaporkan.
Bila dalam menentukan materialitas pelaporan pengaruh kumulatif dari perubahan akuntansi
atau koreksi kesalahan, jumlah yang ada harus dihubungkan dengan estimasi perndapatan
setahun penuh dan kecenderungan laba pada periode interim berikutnya dalam tahun buku
yang sama. Perubahan yang material bila dikaitkan dengan suatu periode interim tetapi tidak
material bila dikaitkan dengan estimasi pendapatan setahun penuh atau dengan
kecenderungan laba harus diungkapkan secara tersendiri dalam periode interim tersebut.
2.1.4 Penyajian Laporan Keuangan Interim
Pernyataan ini berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan pelaporan
keuangan interim pleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya pasar modal, dan lainlain. Untuk industri yang telah diatur dalam standar akuntansi keuangan industri yang
berasngkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus
tersebut.
Laporan keuangan interim meliputi neraca, laporan laba rugi dan saldo interim, laporan arus
kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus disajikan secara
komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan laba-rugi interim harus
mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terkahir yang
dilaporkan (year-to-date).
Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak
lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan
keuangan tahunan. Kalau suatu angka dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam
jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai

lancar, atau kewajbian tersebut digolongkan sebagai jangka pendek, kalau tidak aktiva
tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai
jangka panjang.
Khusus untuk perusahaan tertentu seperti bank dan asuransi yang mempunyai metode khusus
dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai d standar
akuntansi keuangan yang berlaku.
2.1.5 Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim
Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan
keuangan interim, data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan :
1. Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa
(termasuk pengaruh terhadap pajak pnghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif
perubahan akuntansi, perubahan akuntansi dan laba bersih.
2. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan.
3. Pendapatan dan beban musiman.
4. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan.
5. Pelepasan suatu segen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa dan tidak sering
terjadi.
6. Kewajiban kontinjen.
7. Perubahan akuntansi, dan
8. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.
Suatu perubahan kebijakan akuntnasi harus diterapkan secara retrospektif dengan melaporkan
jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode sebelumnya
sebagai suatu penyesuaian pada saldo awal periode (retained earnings), kecuali jumlah
tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali,
kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis.
Pengaruh perubahan akuntansi terhadap hasil keuangan periode interim pada periode interim
berikutnya harus diungkapkan.
Laporan keuangan interim terakhir, misalnya triwulan keempat tidak perlu disusun karena
pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan laporan keuangan tahunan.
Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka
penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan tahunan. Di
samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari
laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang
bersangkutan.
2.1.6 Tanggal Efektif

Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan laporan keuangan interim yang mencakupi periode
laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. penerapan lebih dini sangat
dianjurkan.
http://kuliahnurinfo.wordpress.com/2010/10/01/laporan-interim/