Anda di halaman 1dari 13

NUTRISI PARENTERAL

Apabila dukungan nutrisi tidak sepenuhnya dapat diberikan lewat tube enteral,
pemberian nutrisi secara intravena dapat digunakan sebagai jalur nutrisi tambahan
ataupun sebagai pengganti nutrisi enteral. Bab ini akan menjelaskan tentang
bentuk dasar dari nutrisi intravena dan penjelasan tentang bagaimana cara
membuat regimen nutrisi parenteral total (TPN) yang sesuai dengan kebutuhan
pasien.
LARUTAN NUTRISI INTRAVENA
Larutan Dekstrosa
Sebagaimana disebutkan dalam bab 45 dan 46, regimen nutrisi yang standar
menggunakan karbohidrat untuk mensuplai kurang lebih 70% dari kebutuhan
kalori harian (non protein). Hal ini dapat diperoleh dari larutan dekstrosa
(glukosa), yang tertera pada tabel 47.1. Karena dekstrosa bukan merupakan
sumber metabolik yang poten (lihat tabel 45.1), larutan dekstrosa harus
dikonsentrasikan agar mendapat kalori yang cukup, yang sesuai dengan kebutuhan
harian. Akibatnya larutan dekstrosa yang digunakan untuk TPN adalah yang
hiperosmolar dan sebaiknya diberikan secara infus melalui vena sentral yang
besar.
Larutan asam amino
Larutan asam amin dicampurkan bersama dengan larutan dekstrosa untuk
mencukupi kebutuhan protein harian. Sejumlah larutan asam amino yang tersedia
untuk keadaan klinis tertentu, dapat dilihat pada tabel 47.2. Larutan asam amino
standar mengandung kurang lebih 50% asam amino esensial (N=9) serta 50%
asam amino non esensial (N=10) dan semi esensial (N=4). Nitrogen dalam asam
amino esensial sebagian didaur ulang untuk menghasilkan asam amino non
esensial, maka metabolisme asam amino esensial menghasilkan sedikit
peningkatan konsentrasi nitrogen urea darah dibanding metabolisme asam amino
non esensial. Untuk alasan tersebut, larutan asam amino dibuat untuk digunakan
1

pada gagal ginjal yang kaya akan asam amino esensial (lihat aminosyn RF pada
tabel 47.2). Pada akhirnya, untuk alasan yang dikemukakan dalam bab 46,
formula nutrisi pada keadaan hiperkatabolik (contohnya trauma) dan kerusakan
hati dapat ditambahkan dengan cabang dari rantai asam amino (isoleusin, leusin,
dan valin), dan 2 larutan amino yang khusus untuk setiap keadaan itu terdapat
pada tabel 47.2. hal ini penting untuk menentukan bahwa tidak satupun dari
formula nutrien khusus dapat memperbaiki prognosis penyakit dimana larutan
tersebut diberikan.
Tabel 47.1. Larutan Dekstrosa Intravena
Kekuatan

Konsentrasi

Energi*

Osmolalitas

5%

(gr/L)
50

(kkal/L)*
170

(mOsm/L)
253

10%

100

340

505

20%

200

680

1010

50%

500

1700

2525

70%

700

2380

3530

*Berdasarkan pada energi oksidasi 3,4 kkal/gr untuk dekstrosa

Glutamin
Sebagaimana disebutkan dalam bab 46, glutamin merupakan sumber energi
metabolik yang utama untuk sel epitel intestinal, dan TPN suplemen-glutamin
berperan penting dalam mempertahankan fungsi mukosa usus dan mencegah
perpindahan bakteri. Meskipun glutamin tidak termasuk asam amino esensial
(karena dihasilkan di otot skelet), kadar glutamin dalam darah dan jaringan
menurun pada keadaan akut, hiperkatabolik (misalnya trauma), maka glutamin
merupakan asam amino esensial yang dikondisikan. Asam amino yang
mengandung asam glutamat dapat dilihat pada tabel 47.3. Glutamin dibentuk pada
saat asam glutamat bergabung dengan amonia dalam sintesa enzim glutamin,
maka asam glutamat dapat menjadi sumber glutamin eksogen.

Bukti yang mendukung tentang peran asam amino yang mengandung


glutamat dalam mengurangi komplikasi infeksi dan mortalitas untuk pasien ICU
telah tersedia. Untuk alasan tersebut pemberian glutamin dianjurkan.
Tabel 47.2. Larutan Asam Amino Standar dan Khusus
Keadaan

Indikasi

Aminosyn

Aminosyn-HBC

Aminosyn-

HepatAmine

7%,

7%, (Abbott)

RF 5,2%,

8%

Hiperkatabolism

(Abbott)
Gagal ginjal

(Abbott)
TPN Standar

e
Konsentrasi

70 g/L

Kandungan

11

nitrogen

(McGaw)
Kerusakan
Hati

70 g/L

52 g/L

80 g/L

7,7

12

89%

52%

33%

36%

475

785

11,2

(g/L)
AAS esensial

48%

(total %)
Rantai AAS

68%
25%

(total %)
Osmolalitas
(mOsm/L)

51%
700
665

Borgsdorf LR. Cada DJ. Cirigliano M, et al. Drug Facts and Comparisons. 60th ed. St Louis, MO:
Wolters Kluwer, 2006.

Emulsi Lemak
Emulsi lemak intravena mengandung droplet submikro ( 0,45 mm) dari
kolesterol dan fosfolipid disekitar rantai trigliserida yang panjang. Trigliserida
merupakan turunan dari minyak sayuran (minyak kedelai dan safflower) dan
banyak terdapat dalam asam linoleat, suatu asam lemak poliunsaturasi esensial
yang tidak dihasilkan oleh tubuh manusia. Sebagaimana dilihat pada tabel 47.4,
emulsi lemak tersedia pada larutan 10% dan 20% (persentase berdasarkan gram
trigliserida per 100 mL larutan). Emulsi 10% dapat memberikan kira-kira 1
kkal/mL, dan emulsi 20% akan memberikan 2 kkal/mL. Tidak seperti larutan
3

dekstrosa hipertonis, emulsi lemak lebih isotonis terhadap plasma dan dapat
diinfuskan melalui vena perifer. Emulsi lemak tersedia dalam volume 50-500 mL
dan dapat diinfuskan secara terpisah (dengan kecepatan maksimal 50 mL/jam)
atau ditambahkan pada campuran asam amino-dekstrosa. Trigliserida yang
dimasukkan kedalam aliran darah tidak dapat dibersihkan dalam waktu 8-10 jam,
dan infus lemak seringkali menghasilkan suatu transient, plasma lipemik (warna
keputihan).
Tabel 47.3. Larutan Asam Amino dengan Asam Glutamat
Sediaan
Aminosyn-PF 7%

Pabrikan
Abbott

Kandungan Glutamat (mg/dL)


576

Aminosyn II 10%

Abbott

738

Aminosyn II 15%

Abbott

1107

Novamin 11,4%

Clintec

570

Novamin 15%

Clintec

749

Borgsdorf LR. Cada DJ. Cirigliano M, et al. Drug Facts and Comparisons. 60th ed. St Louis, MO:
Wolters Kluwer, 2006.

Restriksi lemak
Lemak digunakan untuk mencukupi 30% kebutuhan kalori harian (nonprotein).
Namun, karena lemak dapat teroksidasi dan menimbulkan kerusakan sel akibat
oksidan, maka dianjurkan membatasi pemberian lemak pada pasien dengan
penyakit kritis (pasien yang memiliki tingkat oksidasi tinggi). Meskipun infus
lemak

diperlukan

untuk

mencegah

terjadinya

defisiensi

asam

lemak

(kardiomiopati, miopati otot skelet), hal ini dapat dilakukan dengan pemberian
lemak dalam jumlah kecil (lihat catatan kaki pada tabel 47.4).

Tabel 47.4. Emulsi Lemak Intravena yang Digunakan Secara Klinis


Keterangan

Intralipid*

Liposyn II

Liposyn III*

(Clintec)

(Hospira)

(Hospira)

10%

20%

10%

20%

10%

20%

Kalori (kkal/mL)

1,1

1,1

1,1

% kalori sebagai

50%

50%

66%

66%

55%

55%

250-300

250-

13-22

13-22

19-21

19-21

EFA

(asam

linoleat)
Kolesterol

300

(mg/dL)
260

260

276

258

284

292

Volume per unit

50

50

100

200

100

200

(mL)

100

100

200

500

200

500

250

250

500

500

500

Osmolalitas
(mOsm/L)

500

*Intralipid dan Liposyn II adalah turunan dari minyak kedelai.

Liposyn II merupakan turunan dari minyak kedelai (50%) dan minyak safflower (50%).

Asam lemak esensial (EFA) dalam emulsi lemak adalah asam linoleat. Untuk mencegah terjadinya
defisiensi EFA, kira-kira 4% dari total kalori harian dihasilkan oleh aam linoleat (Barr LH, Dunn
GD, Brennan MF. Essential fatty acid deficiency during total parenteral nutrition. Ann Surg
1981;193:304-311).
Diambil dari : Borgsdorf LR. Cada DJ. Cirigliano M, et al. Drug Facts and Comparisons. 60th ed.
St Louis, MO: Wolters Kluwer, 2006.

ADDITIF
Di pasaran tersedia dalam bentuk campuran elektrolit, vitamin, dan elemen trace
yang ditambahkan pada campuran asam amino-dekstrosa.
Elektrolit
Sebagian besar campuran elektrolit mengandung sodium, klorida, potassium, dan
magnesium; yang juga mengandung kalsium dan fosfor. Kebutuhan potassium
harian atau elektrolit tertentu dapat dikelompokkan pada pengaturan TPN. Jika
kebutuhan

elektrolit

dikhususkan,

maka

elektrolit

ditambahkan

untuk

menggantikan kehilangan harian dari elektrolit normal.


5

Tabel 47.5. Sediaan Elemen Trace dan Kebutuhan Harian


Elemen Trace

Kebutuhan

Konsentrasi

Konsentrasi

Kromium

Parenteral Harian*
10-15 g

MTE-5
10 g

MTE-6
10 g

Tembaga

300-500 g

1 g

1 g

Iodine
Besi

150 g

75 g

2,5-8 g

Mangan

60-100 g

500 g

500 g

Selenium

20-60 g

60 g

60 g

Zinc (seng)

2,5-5 g

5 g

5 g

*Diambil dari : Mirtallo J, Canada T, Johnson D, et al. Safe practices for parenteral nutrition. J
Parenter Enteral Nutr 2004;28:S39-70.

Borgsdorf LR. Cada DJ. Cirigliano M, et al. Drug Facts and Comparisons. 60th ed. St Louis, MO:

Wolters Kluwer, 2006.


Besi bukanlah komponen rutin dari tambahan suplemen campuran.

Vitamin
Preparat multivitamin cair ditambahkan pada campuran asam amino-dekstrosa.
Satu vial preparat multivitamin standar akan mencukupi kebutuhan harian
sebagian besar vitamin normal. Kebutuhan vitamin tambahan pada pasien
hipermetabolik yang dirawat di ICU biasanya tidak dibutuhkan. Selanjutnya,
beberapa vitamin dikurangi sebelum diberikan. Contohnya riboflavin dan
piridoksin (yang sedikit dikurangi) dan tiamin (yang dikurangi menggunakan
sulfit yang digunakan sebagai tambahan untuk larutan asam amino.
Elemen Trace
Berbagai macam elemen trace tambahan juga tersedia, dan 2 campuran yang
tersedia di pasaran dapat dilihat pada tabel 47.5. Sebagian besar campuran elemen
trace mengandung kromium, tembaga, dan zinc, tapi tidak mengandung besi dan
iodine. Beberapa campuran mengandung selenium, dan yang lainnya tidak.
Mengingat pentingnya selenium pada proteksi antioksidan endogen (lihat bab 21),
6

diperlukan pemilihan elemen trace tambahan yang mengandung selenium.


Pemberian besi secara rutin tidak dianjurkan pada pasien penyakit kritis karena
kerja pro-oksidan untuk besi (lihat bab 21, gambar 21.5).
MEMBUAT REGIMEN TPN
Langkah-langkah tindakan berikut menunjukkan bagaimana cara membuat
regimen TPN untuk pasien individu. Pasien pada contoh ini adalah seorang
dewasa dengan berat 70 kg yang tidak mendapat pengurangan nutrisi dan volume.
Langkah 1
Langkah pertama diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan protein dan kalori
harian sebagaimana yang dijelaskan pada bab 45. Contohnya, kebutuhan kalori
harian adalah 25 kkal/kg, dan kebutuhan protein harian adalah 1,4 gr/kg. Oleh
karena itu, untuk pasien dengan berat badan 70 kg, kebutuhan protein dan kalori
adalah sebagai berikut :
Kebutuhan kalori

= 25 (kkal/kg) x 70 (kg)

= 1750 kkal/hari

Kebutuhan protein

= 1,4 (gr/hari) x 70 kg

= 98 gr/hari

(47.1)

Langkah 2
Langkah selanjutnya adalah mengambil campuran standar asam amino 10% (500
mL) dengan dekstrosa 50% (500 mL) serta menentukan volume dari campuran
tersebut yang diperlukan untuk menentukan perkiraan kebutuhan protein harian.
Meskipun campuran asam amino-dekstrosa ditujukan pada A10-D50, maka
campuran akhirnya menjadi asam amino 5% (50 gram protein per liter) dan
dekstrosa 25% (250 gram dekstrosa per liter). Oleh karena itu, volume campuran
A10-D50 yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan protein harian adalah :
Volume A10-D50 = 98 (gr/hari) / 50 (gr/L) = 1,9 L/hari

(47.2)

Jika campuran tersebut diinfuskan secara kontinyu selama 24 jam,


kecepatan infus yang diberikan adalah 1900 mL/24 jam = 81 mL/jam (atau 81
tetes/menit).

Langkah 3
Menggunakan volume total harian dari campuran asam amino-desktrosa yang
tertera pada langkah 2, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kalori total
yang dapat dihasilkan oleh desktrosa dalam bentuk campuran tersebut.
Menggunakan energi 3,4 kkal/gr untuk dekstrosa, total kalori dekstrosa adalah
sebagai berikut :
Jumlah dekstrosa = 250 (gr/L) x 1,9 (L/hari) = 475 gr/hari
Kalori desktrosa = 475 (gr/hari) x 3,4 (kkal/gr) = 1615 kkal/hari

(47.3)

Karena perkiraan kebutuhan kalori adalah 1750 kkal/hari, dekstrosa akan


mencukupi seluruhnya tapi tersisa 135 kkal/hari. Sisa kalori akan dicukupi oleh
emulsi lemak intravena.
Langkah 4
Emulsi lemak 10% (1 kkal/mL) diberikan untuk mencukupi 135 kkal/hari, volume
emulsi lemak harian adalah 135 mL/hari. Karena emulsi lemak tersedia dalam
volume 50 mL, volume dapat diberikan sampai 150 mL/hari untuk mencegah
pemborosan. Selanjutnya volume diinfuskan separuh dari kecepatan maksimal
yang dianjurkan (50 mL/jam) untuk mengurangi meningkatnya serum lemak
selama berlangsungnya infus.
Langkah 5
Pengaturan TPN harian untuk contoh sebelumnya dapat ditulis sebagai berikut :
1. Memberikan TPN standar A10-D50 dengan kecepatan 80 mL/jam.
2. Tambahkan elektrolit standar, multivitamin, dan elemen trace.
3. Berikan intralipid 10%: 150 mL diinfus selama 6 jam.
Pengaturan TPN ditulis kembali setiap hari. Kebutuhan elektrolit tertentu,
vitamin, dan elemen trace ditambahkan pada pengaturan harian jika dibutuhkan.
Contohnya diterapkan pada pembagian pemberian campuran asam aminodesktrosa dengan emulsi lemak. Penerapan lainnya adalah tentang banyaknya
penggunaan tambahan larutan nutrisi serta additif lainnya secara bersamaan untuk
membentuk campuran nutrisi total (TNA). Meskipun ini merupakan bentuk
8

pemberian nutrisi yang sederhana dan akan menghemat biaya, terdapat lambatnya
pendapat tentang kompatibilitas (misalnya, preparat multivitamin yang tidak dapat
digabungkan dengan emulsi lemak).
KOMPLIKASI
Terdapat berbagai bentuk komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral.
Beberapa diantaranya akan disebutkan pada paragraf berikut ini.
KOMPLIKASI KATETER
Karena larutan asam amino dan desktrosa adalah hiperosmolar (tabel 47.1 dan
47.2), TPN diberikan melalui vena sentral yang besar, yaitu vena cava superior.
Komplikasi dari kateter vena sentral telah dijelaskan pada bab 6 dan 7. Letak
kateter yang salah, sepertu yang terlihat pada gambar 47.1, sebaiknya tidak
digunakan untuk pemberian TPN karena dapat meningkatkan resiko terjadinya
trombosis vena. Letak kateter yang salah dapat diperbaiki ulang menggunakan
kawat penuntun (mandring) sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
Memperbaiki Letak Kateter
Apabila letak kateter salah yang sampai ke leher, pasien sebaiknya diposisikan
semirecumbent atau posisi upright jika memungkinkan dan kateter sebaiknya
dicabut ulang beberapa sentimeter dari ujung kateter yang masih terpasang.
Mandring yang fleksibel dimasukkan sepanjang kateter dan ditambah sejauh 10
cm. Kateter dilepaskan dari mandril, dan masukkan kateter yang baru dan
ditambah sampai sejauh 15 cm. Mandring dicabut dan probe Doppler (salah satu
yang digunakan oleh perawat untuk mencari pedal nadi) ditempatkan pada vena
jugularis interna di leher. Bolus saline dimasukkan melalui kateter. Jika kateter
terancam akan naik sampai ke leher, injeksi bolus akan menimbulkan suara bising
pada probe doppler. Jika hal ini terjadi, maka perlu dimasukkan kateter yang baru
kedalam vena jugularis interna pada sis yang sama. Jika tidak terdengar suara
bising, maka dapat dilakukan pemeriksaan x-ray untuk menentukan apakah letak
kateter telah berada didalam vena cava superior.
9

Gambar 47.1. Gambaran X-ray dari kateter vena sentral yang salah posisi masuk kedalam leher.
Gambar diperbesar secara digital.

INFUS KARBOHIDRAT
Hiperglikemi
Intoleransi glukosa merupakan salah satu komplikasi yang paling sering
ditemukan pada TPN. Meskipun masalah ini dapat diatasi dengan memberikan
sedikit kalori nonprotein seperti glukosa (dan yang lebih adalah lemak),
hiperglikemi persisten membutuhkan pemberian tambahan insulin dalam larutan
TPN. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa insulin dapat diabsorbsi kedalam
seluruh plastik maupun bahan kaca yang digunakan pada perangkat infsu
intravena. Terdapat sejumlah absorbsi yang hilang dengan penambahan insulin,
tapi diperkirakan sekitar 20%-30% kehilangan yang terjadi. Albumin digunakan
untuk mengurangi ikatan insulin terhadap perangkat infus intravena, tapi hal ini
akan menghemat biaya. Dalam hal ini, dosis yang digunakan berperan untuk
mencapai kontrol glikemi yang diinginkan. Apabila TPN dihentikan, kebutuhan
insulin akan berkurang dibanding yang dibutuhkan selama TPN.
Hipofosfatemia
10

Efek TPN terhadap kadar fosfat serum dapat dilihat pada gambar 35.2. Efek ini
disebabkan oleh tambahan asupan fosfat kedalam sel yang berhubungan dengan
asupan glukosa kedalam sel. Fosfat selanjutnya digunakan untuk membentuk
tiamin pirofosfat, yang merupakan cofaktor yang penting pada metabolisme
karbohidrat.
Lemak Hati
Apabila kalori glukosa akan menambah kebutuhan kalori harian, maka terjadi
lipogenesis di hati dan hal ini akan menimbulkan infiltrasi lemak hati dan
meningkatkan kadar enzim transamin dalam darah. Tetapi belum jelas apakah
poses ini memiliki akibat patologis atau apakah keadaan ini merupakan petanda
berlebihnya kalori karbohidrat.
Hiperkapnia
Kelebihan karbohidrat akan menibulkan retensi CO2 pada pasien yang mengalami
insufisiensi respirasi. Meskipun hal ini ditujukan pada tingkat respirasi yang
tinggi yang berhubungan dengan metabolisme karbohidrat (lihat tabel 45.1), hal
ini bisa merupakan gambaran intake yang berlebihan pada umumnya dan tidak
terkhusus hanya pada kelebihan intake karbohidrat.
INFUS LEMAK
Salah satu toksisitas utama (dan seringkali terlupakan) yang berhubungan dengan
infus lemak adalah meningkatnya resiko terjadinya kerusakan sel akibat oksidasi.
Formula lemak yang digunakan pada TPN adalah yang banyak mengandung
lemak yang dapat dioksidasi, dan infsu dari beberapa lemak dapat menimbulkan
kerusakan organ yang sama terlihat pada pasien dengan penyakit kritis.
Contohnya, infus asam oleat, suatu asam lemak yang berlebihan dalam emulsi
lemak yang digunakan pada TPN, yaitu suatu cara standar untuk menghasilkan
acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada hewan coba (Am Rev Respir
Dis 1994;149:245-260), dan hal ini dapat menjelaskan mengapa infus lemak pada
formula TPN berhubungan dengan terganggunya oksigenasi dan kerusakan
11

respirasi yang berlangsung lama. Kemungkinan peran infus lemak dalam


menimbulkan kerusakan organ akibat oksidasi memerlukan perhatian yang lebih.
KOMPLIKASI GASTROINTESTINAL
2 komplikasi yang berhubungan secara tidak langsung dengan TPN adalah
berhubungan hilangnya nutrien dalam usus secara besar-besaran.
Atrofi Mukosa
Hilangnya nutrien yang banyak didalam usus akan menimbulkan atrofi dan
kerusakan mukosa usus. Hal ini telah dijelaskan pada bab 46 dan digambarkan
pada gambar 46.1. Perubahan tersebut dapat menimbulkan translokasi patogen
enterik melewati mukosa usus dan septikemia. Karena TPN biasanya
berhubungan dengan istirahatnya usus, maka salah satu komplikasi tidak langsung
dari TPN adalah translokasi bakteri dan sepsis dari usus alami. Sebagaimana
disebutkan diawal, TPN tambahan glutamin dapat membantu mengurangi
komplikasi tersebut.
Kolesistitis Akalkuli
Hilangnya lemak di usus kecil bagian proksimal akan mencegah kontraksi
kolesistokinin dari kandung empedu dan stasis empedu yang dihasilkan akan
menimbulkan kolesistitis akalkulous. Penyakit ini telah dijelaskan pada bab 42.
NUTRISI PARENTERAL PERIFER
Nutrisi parenteral dapat diberikan melalui vena perifer untuk jangka waktu yang
singkat. Tujuan nutrisi parenteral perifer (PPN) adalah memberikan kalori
nonprotein secukupnya untuk mengurai protein agar bisa menghasilkan energi
(misalnya, tambahan nutrisi protein). PPN tidak memberikan kesetimbangan
nitrogen positif yang cukup untuk membentuk cadangan protein, dan selanjutnya
tidak diberikan pada pasien yang kekurangan protein ataupun pasien yang
mengalami hiperkatabolik dan beresiko mengalami kekurangan protein.

12

Osmolalitas infus vena perifer sebaiknya dipertahankan dibawah 900


mOsm/L dengan pH antara 7,2-7,4 untuk memperlambat terjadinya kerusakan
osmotik terhadap pembuluh darah. Oleh karena itu, PPN sebaiknya diberikan
menggunakan larutan asam amino dan larutan dekstrosa. Karena emulsi lemak
adalah isotonis terhadap plasma, maka lemak dapat digunakan untuk memberikan
jumlah kalori non-protein yang cukup dalam PPN.
Cara
Sejumlah campuran yang digunakan pada PPN adalah campuran asam amino 3%
dan dekstrosa 20%. Campuran tersebut menghasilkan konsentrasi akhir asam
amino 1,5% (15 gram protein per liter), dengan osmolalitas kira-kira 500
mOsm/L. Dekstrosa tersebut menghasilkan 340 kkal/L, maka 2,5 L campuran
akan menghasilkan 850 kkal. Jika 250 mL Intralipid 20% ditambahkan pada
regimen (tambahan 500 kkal), kebutuhan total kalori nonprotein akan naik sampai
1350 kkal/hari. Hal ini sebaiknya mendekati kebutuhan kalori nonprotein rata-rata
pada orang dewasa dalam keadaan istirahat (25 kkal/kg/hari). Pada pasien
hipermetabolik, volume PPN yang besar dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
energi harian.
Sebagai kesimpulan, nutrisi perifer intravena dapat digunakan sebagai
penilaian sementara untuk mencegah atau membatasi penguraian protein pada
pasien yang tidak mengalami kekurangan protein dan diperkirakan dapat memulai
intake oral dalam beberapa hari. Pasien postoperatif kelihatannya lebih cocok
untuk nutrisi penunjang seperti ini.
AKHIR KATA
Akhir kata untuk nutrisi parenteral adalah .....mencegah.....(bila memungkinkan).
Untuk lebih jelas, silahkan baca bagian AKHIR KATA pada bab terakhir.

13