Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH METODE PENANGKAPAN IKAN

GILL NET (JARING INSANG)

KELOMPOK 5
Diana Fitriani

230210130010

Fahmi Ghiffari

230210130022

Mashita Hafitri

230210130029

Rizky Purwandi

230210130030

Rivana Jaisyul Haq

230210130046

Vega Kharisma N.

230210130072

Muhammad Naufal M. R

230210130073

Mikhael Fredrik

230210130083

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan memberi
petunjuk kepada kami sehingga makalah mengenai alat tangkap Gill net ini dapat
diselesaikan. Makalah ini kami buat guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode
Penangkapan Ikan.
Kami sadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan mungkin beberapa
kesalahan di dalamnya. Untuk itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran agar
kedepannya kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi. Semoga dengan adanya
makalah ini kami dapat memberikan wawasan baru yang bermanfaat, khususnya bagi kami
yang menyusun makalah ini dan umumnya bagi khayalak banyak.

Jatinangor, Maret 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terdapat banyak alat tangkap yang digunakan di Indonesia salah satunya
adalah alat tangkap Gillnet (jaring insang). Gillnet termasuk alat penangkap ikan
yang pasif, selektif, dan juga ramah lingkungan. Gillnet hampir dioperasikan di
seluruh lapisan kedalaman perairan, mulai dari lapisan permukaan, pertengahan,
hingga perairan dasar.
Istilah Gillnet didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap
terjerat di sekitar di sekitarnya operculumnya pada mata jaring atau terbelit pada
tubuh jaring. Jenis ikan yang umumnya tertangkap ialah jenis ikan yang berenang
pada permukaan laut, jenis ikan demersal, juga jenis udang, lobster, kepiting, dan
lain-lain. Pemakaian Gillnet tergantung pada daerah penangkapannya dan jenis ikan
yang ingin ditangkap. Penamaan Gillnet pun dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan
nelayan setempat, ada yang memberi nama sesuai jenis ikan yang tertangkap, adapula
yang memberi nama sesuai dengan letak fishing ground.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Gillnet? Apa saja macam-macam Gillnet?
2. Apa saja bagian-bagian yang terdapat pada Gill net? Bagaimana dimensi
Gillnet?
3. Bagaimana cara pengoperasian Gillnet?
4. Apa target hasil penangkapan dengan menggunakan Gillnet?
1.3 Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Metode Penangkapan Ikan yaitu mengenai alat tangkap Gillnet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Gillnet

Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), jaring insang


atau Gillnet adalah jaring berbentuk empat persegi panjang dengan
ukuran mata jaring yang sama. Dinamakan jaring insang karena
berdasarkan cara tertangkapny, ikan terjerat di bagian insangnya pada

mata jaring.
Menurut Subani dan Barus (1999), Gillnet atau jaring insang adalah
suatu alat tangkap berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi
dengan pelampung, pemberat ris atas-bawah (kadang tanpa ris bawah:
sebagian dari jaring udang barong).

Maka dapat disimpulkan bahwa Gillnet adalah jaring yang berbentuk persegi
panjang yang dilengkapi dengan pemberat pada tali ris bawahnya dan pelampung
pada tali ris atasnya. Pada lembaran jaring bagian atas diletakkan pelampung
(float) dan bagian bawah pemberat (singker). Dengan menggunakan dua gaya
yang berlawanan arah, yaitu buoyancy dari float yang bergerak menuju ke atas
dan singker ditambah dengan berat jaring di dalam air yang bergerak menuju ke
bawah, maka jaring akan terentang. Jaring-jaring ini terdiri dari satuan-satuan
jaring yang biasa disebut tinting (piece). Dalam 1 tintingnya mempunyai panjang
100 meter dan lebar 100 mata jaring (1 mata = 1 inchi). Dalam operasi
penangkapan jaring biasanya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi
satu sehingga merupakan satu unit dengan panjang mencapai (300-500 meter).

Gambar 1. Ilustrasi Gillnet

2.2 Syarat-syarat Gillnet


Agar ikan-ikan mudah terjerat (gill net) pada mata jaring dan dapat terbelitbelit (entangled) pada tubuh jaring, maka baik material yang dipergunakan ataupun
pada waktu pembuatan jaring hendaklah diperhatikan hal-hal antara lain seperti
berikut (Nomura, 1978; Ayodhyoa, 1981).
1. Kekuatan dari Twine (Rigidity of Netting Twine)
Twine
yang
dipergunakan
hendaklah

lembut

tidak

kaku,

pliancy, suppeleness. Dengan demikian, twine yang digunakan adalah cotton,


hennep, linen, amylan, nilon, kremona, dan lain-lain, dimana twine ini
mempunyai fibres yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal,
jerami, dan lainnya yang fibresnya keras tidak digunakan. Untuk
mendapatkan twine yang lembut, ditempuh dengan cara memperkecil
diameter twine atau jumlah pilin persatuan panjang dikurangi, atau bahanbahan celup pemberi warna ditiadakan.

2. Ketegangan Rentangan Tubuh Jaring


Yang dimaksud dengan keterangan rentangan disini ialah rentangan ke arah
panjang jaring. Jaring mungkin direntangkan dengan tegang sekali, tetapi
mungkin pula tidak terlalu tegang. Ketegangan rentangan ini, akan
mengakibatkan terjadinya tension bail pada float line ataupun pada tubuh
jaring, dan sedikit banyak berhubungan pula dengan jumlah tangkapan yang
akan diperoleh. Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama
oleh bouyancy dari float,

berat

tubuh

jaring,

tali

temali,

sinking

force dari sinker, dan juga shortening yang digunakan.


3. Shortening atau Shrinkage
Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) ataupun terbelit-belit pada mata
jaring dan supaya ikan-ikan tersebut tidak mudah terlepas dari mata jaring,
maka

pada

jaring

perlulah

diberikan shortening yang

dimaksudkan shortening atau shrinkage adalah

pengerutan,

cukup.

Yang

yaitu

beda

panjang tubuh jaring dalam keadaan tegang sempurna dengan panjang jaring
setelah diletakkan pada float line ataupun sinker line, disebutkan dalam
persen.
Contoh : Panjang tubuh jarring (webbing) 100m, setelah ditata jarring menjadi 70m
(panjang float line maupun sinker line),maka dikatakan shortening tersebut adalah :

( LO LI ) x 100
LO
( 10070 ) x 100
100

= 30%

4. Tinggi Jaring
Tinggi jaring ialah jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring
tersebut terpasang di perairan. Untuk jaring insang tetap, akibat resistance

terhadap arus akan menyebabkan perubahan bentuk jaring, pertambahan lebar


jaring (mesh depth) akan juga berarti pertambahan resistance terhadap arus.
Biasanya lebar jaring insang tetap tidak melebihi sekitar 7 meter.
5. Mesh Size dan Besar Ikan
Antara mesh size dari gillnet dan besar ikan yang terjerat terdapat hubungan
yang erat sekali. Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa
sesuatu mesh sizemempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan
yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gillnet akan
besifat selektif terhadap besar ukurancatch yang diperolehnya.
6. Warna Jaring
Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman dari
perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan, dan faktor lainnya.
Sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan-ikan
yang berbeda-beda. Demikian pula hendaklah warna jaring sama dengan
warna air diperairan tersebut, juga warna jaring jangan membuat yang sangat
kontras, baik terhadap warna air juga terhadap warna dari dasar perairan
tersebut.
Menurut Baranov (1999) vide Tibrizi (2003) menyatakan bahwa mekanisme
tertangkapnya ikan dibedakan dalam tiga cara, yaitu:
a. Gilled
b. Wedged
c. Tangled

: Ikan terjerat mata jaring pada bagian operculum.


: Ikan terjerat mata jaring pada bagian keliling tubuhnya.
: Ikan terpuntal di jaring pada bagian gigi, maxillaria,

sirip, apendik atau bagian tubuh ikan lainnya.

2.3 Jenis-jenis Gillnet


Berdasarkan letak alat dalam perairan:
a. Gillnet permukaan (surface gillnet);
b. Gillnet pertengahan (midwater gillnet);
c. Gillnet dasar (bottom gillnet)

Gambar 2 (a). Bottom Gillnet

Gambar 2 (b). Midwater gillnet

Gambar 2 (c). Surface Gillnet


Berdasarkan kedudukan alat waktu dipasang:
a. Gillnet hanyut (drift gillnet)
Jaring insang yang pemasangannya dibiarkan hanyut mengikuti arus.
Salah satu ujung tali risnya diikatkan pada perahu/kapal.
b. Gillnet tetap (set gillnet)

Jaring insang yang dipasang secara menetap untuk sementara waktu


dengan menggunakan jangkar. Dalam hal ini kadang-kadang jaring diberi
jangkar atau diikatkan pada suatu tempat yang tetap.

Gambar 3. Drift Gillnet dan Set Gillnet


Berdasarkan bentuk alat pada waktu dioperasikan:
a. Gillnet melingkar (encircling gillnet)
Gillnet yang cara pemasanggannya dengan melingkarkan jaring pada
gerombolan ikan. Setelah jaring melingkar dan mengurung gerombolan
ikan, maka ikan dikejutkan agar menabrak jaring dan tersangkut pada
mata jaring.

Gambar 4. Encircling gillnet


b. Gillnet mendatar (drift gillnet)

Gambar 5. Drift Gillnet


Berdasarkan jumlah lembaran jaring:
a. Gillnet rangkap (trammel gillnet)
Jaring ini terdiri dari tiga lapis, dua lapis yang diluar memiliki mata jaring
yang lebih besar dan yang ditengah matanya lebih kecil, serta
pemasangannya agak longgar.

Gambar 6. Trammel Gillnet


b. Gillnet rangkap dua
Gillnet rangkap dua merupakan jaring yang memiliki dua lapis dengan
mata jaring besar pada lapis pertama dan mata jaring kecil pada lapis
kedua. Seperti halnya gill net rangkap tiga, ikan-ikan tertangkap dengan
cara terpuntal.

Gambar 7. Gillnet rangkap dua

2.4 Bagian-bagian Gillnet


a. Bagian utama gillnet

Gambar 8. Badan Jaring

b. Tali Ris Atas dan Bawah


Tali ris atas merupakan komponen pembentuk jaring dan sekaligus pengatur
bukaan mata jaring. Pada ris atas inilah dipasangkan pelampung dan jaring. Diantara
jaring umumnya menggunakan srampad (selvedge) yang berfungsi sebagai peredam
beban tegangan dari dua tali ris yang berukuran besar dan kuat yang harus diterima oleh
benang jaring jauh lebih kecil dan lemah. Tali ris atas sering juga disebut sebagai tali

pelampung adalah tali yang terdapat pada bagian atas jaring insang. Tali ris atas
terdiri dari dua utas tali. Satu utas tali untuk tempat memasang pelampung dan
disebut dengan tali ris utama. Tali yang kedua digunakan untuk memasang
(menggantungkan) badan jaring insang. Kedua tali ris atas biasanya berukuran
sama tetapi berbeda arah pintalannya yaitu pintal kanan dan pintal kiri.
Pemasangan pelampung dipasang pada jarak yang sama sepanjang ris atas,
sama juga dengan pemsangan pemberat pada ris bawah. Tujuannya adalah daya
apung dan daya tenggelam merata pada seluruh badan jaring insang. Atau dengan
kata lain, bukaan mata jaring akan sama disemua tempat di seluruh permukaan
webbing.
Ukuran maupun konstruksi ris bawah maupun bahan tali ris bawah sama
halnya dengan ris atas. Juga terdiri dari dua utas tali yang diikat menjadi satu

sehingga berperan menjadi satu tali ris bawah. Satu diantara tali ris bawah
digunakan untuk memasang pemberat dan yang lainnya sebagai tumpuan
webbing.

Gambar 9. Tali Ris Atas

Gambar 10. Tali Ris Bawah dan Pemberat

c. Tali Pelampung Utama dan Jangkar


Tali pelampung utama sangat berguna jika akan mengoperasikan jaring insang
di lapisan perairan pertengahan atau di lapisan dasar.

Gambar 11 (a)

Gambar 11 (b)

Gambar 11 (c)
d. Tali Selambar
Tali selambar terdiri dari tiga jenis. Jenis yang pertama adalah tali yang
menghubungkan antara jaring insang yang terpasang di air dengan kapal. Jenis
yang kedua adalah yang menghubungan natara satu pis jaring insang dengan
pis lainnya. Sedangkan jenis yang ketiga adalah yang dipasangkan di ujung
terakhir jaring insang yang dipasangi pelampung utama dan lampu (jika
dioperasikan malam hari).

Gambar 12. Tali Selambar

2.5 Dimensi Gillnet

Gambar 13. Bentuk dan Ukuran Gillnet

Keterangan gambar
Ukuran Mata : 320 mm
Panjang
: 313 mata
Tinggi
: 5 mata
Hanging Ratio : 0,50
Pelampung
: 32 pelampung plastik, dengan daya apung masing-masing 50
gf
Pemberat
Tali/Benang
Ris atas
Ris bawah

: 156 buah timah, masing-masing beratnya 50 gram


: Bahan PA, ukuran R 1666 tex
: PP/PA, diameter 6 mm panjang 50 m
: PP/PA, diameter 6 mm panjang 50 m

Penentuan mata jaring pada gillnet


Penentuan ukuran mata jaring bedasarkan spesies ikan. Dalam rumus Fridman
disebutkan perbandingan antara lingkar body atau panjang ikan yang akan
ditangkap dengan ukuran mata jaring gillnet sebagai berikut:

Om=
Om
L (ikan)
K
dan
K
K

L(ikan)
K

dengan,

: lebar permukaan mata jaring (mm)


: panjang rata-rata ikan yang akan ditangkap
: nilai koefnien menurut spesies
: 5 untuk ikan yang panjang dan pipih
: 3,5 untuk ikan yang berukuran sedang (tidak terlalu tebal dan

tidak terlalu pipih)


K
: 2,5 untuk ikan yang besar, lebar, atau panjang

2.6 Cara Pengoperasian Gillnet


Secara umum pengoperasian gillnet dilakukan secara pasif, tetapi ada juga
yang dilakukan secara semi aktif pada siang hari. Pengoperasian gillnet secara pasif
umumnya dilakukan pada malam hari, dengan atau tanpa alat bantu cahaya.
Kemudiangillnet dipasang di perairan yang diperkirakan akan dilewati ikan atau
hewan lainnya dan dibiarkan beberapa lama sampai ikan menabrak dan terjerat
memasuki mata jaring. Lama waktu pemasangan gillnet disesuaikan dengan target
tangkapan atau menurut kebiasaan nelayan yang mengoperasikan (Martasuganda,
2005).
Metode pengoperasian alat tangkap gillnet pada umunya terdiri atas beberapa
tahap, yaitu (Miranti, 2007):
a. Persiapan Alat
Sebelum operasi dimulai semua peralatan dan perbekalan harus dipersiapkan
dengan teliti. Jaring harus disusun di atas kapal dengan memisahkan antara
pemberat dan pelampung supaya mudah menurunkannya dan tidak kusut.
Penyusunan gillnet diatas kapal penangkapan ikan disesuaikan dengan

susunan peralatan di atas kapal atau tipe kapal yang dipergunakan. Sehingga
dengan demikian gill net dapat disusun di atas kapal pada:
- buritan kapal
- samping kiri kapal
- samping kanan kapal
b. Waktu Penangkapan
Penangkapan ikan denan menggunakan alat tangkap gill net umumnya
dilakukan pada waktu malam hari terutama pada saat gelap bulan. Dalam satu
malam bila bulan elap penuh operasi penangkapan aatau penurunan alat dapat
dilakukan sampai dua kali karena dalam sekali penurunan alat, gill net
didiamkan terpasang dalam perairan sampai kira-kira selam 3-5 jam.
c. Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
Setelah semua peralatan tersusun rapi maka kapal dapat dilayarkan menuju ke
daerah penangkapan (fishing ground). Syarat-syarat daerah penangkapan yang
baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net adalah:
bukan daerah alur pelayaran umum dan
arus arahnya beraturan dan paling kuat sekitar 4 knots
dasar perairan tidak berkarang
d. Penurunan Alat
Bila kapal telah sampai di daerah penangkapan, maka persiapan alat dimulai,
yaitu:
posisi kapal ditempatkan sedemikian rupa agar arah angin datangnya
dari tempat penurunan alat
setelah kedudukan/ posisi kapal sesuai dengan yang dikehendaki,
jaring dapat diturunkan. Penurunan jaring dimulai dari penurunan
jangkar, pelampung tanda ujung jaring atau lampu, kemudian tali
slambar depan, lalu jaring, tali slambar pada ujung akhir jaring atau
tali slambar belakang, dan terakhir pelampung tanda.
pada saat penurunan jaring, yang harus diperhatikan adalah arah arus
laut. Karena kedudukan jaring yang paling baik adalah memotong arus
antara 450-900.
e. Penaikan Alat dan Pengambilan Ikan

Setelah jaring dibiarkan di dalam perairan sekitar 3-5 jam, jaring dapat
diangkat (dinaikkan) ke atas kapal untuk diambil ikannya. Bila hasil
penangkapan baik, jaring dapat didiamkan selama kira-kira 3 jam sedangkan
bila hasil penangkapan sangat kurang jaring dapat lebih lama didiamkan di
dalam perairan yaitu sekitar 5 jam. Bila lebih lama dari 5 jam akan
mengakibatkan ikan-ikan yang tertangkap sudah mulai membusuk atau
kadang-kadang dimakan oleh ikan lain yang lebih besar.
Urutan pengangkatan alat ini adalah merupakan kebalikan dari urutan
penurunan alat yaitu dimulai dari pelampung tanda, tali selambar belakang, baru
jaring, tali selambar muka dan terakhir pelampung tanda. Apabila ada ikan yang
tertangkap, lepaskan ikan tersebut dari jaring dengan hati-hati agar ikan tidak sampai
terluka. Untuk hal tersebut bila perlu dengan cara memotong satu atau dua kaki (bar)
pada mata jaring agar ikan dilepas tidak sampai luka/ rusak. Ikan-ikan yang sudah
terlepas dari jaring segera dicuci dengan air laut yang bersih dan langsung dapat
disimpan ke dalam palka, dengan dicampur peahan es atau garam secukupnya agar
iakn tidak lekas membusuk.

2.6 Target Hasil Tangkapan Gillnet


Jenis ikan yang sering tertangkap dengan jaring cenderung memiliki ukuran
badan yang seragam seperti : tenggiri, tongkol, cakalang, kembung, layang, bawal,
kakap. Namun kerap sekali ikan yang berukuran besar juga tertangkap seperti hiu,
tuna, marlin dan lain sebagainya.Ikan yang berukuran besar tertangkap dengan cara
terpuntal oleh badan jaring (bukan terjerat oleh mata jaring).
a. Tenggiri
Tenggiri merupakan ikan pelagis, hidup membentuk kumpulan kecil pada
kisaran kedalaman 15 dan 200 meter. Pemakan ikan-ikan yang lebih kecil
seperti laying dan teri. Daerah penangkapannya hampir terdapat di seluruh
perairan Indonesia.
b. Tongkol

Ikan tongkol merupakan ikan pelagis, sama seperti tenggiri baik daerah
penangkapannya maupun kisaran kedalamannya, yaitu berkisar antara 15 dan
200 meter. Namun, kelompok ikan ini menghindari perairan yang bersalinitas
rendah seperti muara-muara sungai besar. Pemakan ikan-ikan kecil, cumi dan
krustasea, khususnya larva stomatopod dan udang.
c. Bawal adalah ikan demersal. Hidup di sekitar pantai hingga landas kontinen
sekitar 80 meter. Membentuk kelompok di dasar perairan berlumpur.
Kelompok ini sering bercampur dengan spesies Nemipretus dan Leiogathus.
Banyak memakan invertebrate pelagis seperti copepoda, salps, dan jellyfishes.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Salah satu alat tangkap yang mudah digunakan dan ramah lingkungan di
wilayah perairan Indonesia adalah jaring insang atau Gillnet. Prinsip kerja alat
tangkap ini adalah dengan mampu menjerat ikan pada bagian operculumnya, dimana
bentuk dan ukuran ikan sama dengan ukuran mata jarinya. Macam-macam gillnet
dapat dibedakan berdasarkan letak alat dalam perairan, berdasarkan letak alat saat
dipasang, berdasarkan, berdasarkan alat waktu dioperasikan, berdasarkan jumlah
lembaran jaring. Target tangkapan operasi oleh gillnet ini biasanya ikan tenggiri, ikan
tongkol, dan ikan bawal.

DAFTAR PUSTAKA

Sudirman, Malawa Achmar. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Jakarta.


Ayodhyoa, A.U. 1983. Metode Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan IPB: Bogor.
Hal. 53-58
Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan. 2009. Alat Penangkapan
Ikan. Jakarta. Hal. 61
Zulbainarni, Nimmi. 2011. Gillnet (Jaring Insang). Departemen Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor: Bogor. Hal. 1-22