Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT 1&2


ANALISA GAS DARAH (AGD)

Nama Mahasiswa

: Inggi Wilantika

NIM

: 2011720013

Tempat Praktik

: ICU RSIJPK

Tanggal Praktik

: 15-16, 18 Desember 2014

Mata Kuliah

: KGD 1&2

Kelas

: Program A

Semester/Th Akademik

: VII/2011

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2014

Analisa Gas Darah


A. Definisi.
Analisa gas darah adalah salah satu tindakan pemeriksaan laboratorium yang ditujukan ketika
dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa pasien. Hal ini
berhubungan untuk mengetahui keseimbangan asam basa tubuh yang dikontrol melalui tiga
mekanisme, yaitu sistem buffer, sistem respiratori, dan sistem renal (Wilson, 1999).
Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan ASTRUP, yaitu
suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.
Tempat pengambilan darah arteri :
1. Arteri Radialis, merupakan pilihan pertama yang paling aman dipakai untuk fungsi arteri
kecuali terdapat banyak bekas tusukan atau haematoem juga apabila Allen test negatif.
2. Arteri Dorsalis Pedis, merupakan pilihan kedua.
3. Arteri Brachialis, merupakan pilihan ketiga karena lebih banyak resikonya bila terjadi
obstruksi pembuluh darah.
4. Arteri Femoralis, merupakan pilihan terakhir apabila pada semua arteri diatas tidak dapat
diambil. Bila terdapat obstruksi pembuluh darah akan menghambat aliran darah ke
seluruh tubuh/tungkai bawah dan bila yang dapat mengakibatkan berlangsung lama dapat
menyebabkan kematian jaringan. Arteri femoralis berdekatan dengan vena besar,
sehingga dapat terjadi percampuran antara darah vena dan arteri.
B. Tujuan.
Analisa gas darah memiliki tujuan sebagai berikut (McCann, 2004):
1. Mengetahui keseimbangan asam dan basa dalam tubuh.
2. Mengevaluasi ventilasi melalui pengukuran pH, tekanan parsial oksigen arteri (PaO2),
dan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2).
3. Mengetahui jumlah oksigen yang diedarkan oleh paru-paru melalui darah yang
ditunjukkan melalui PaO2.
4. Mengetahui kapasitas paru-paru dalam mengeliminasikan karbon dioksida yang
ditunjukkan oleh PaCO2.
5. Menganalisa isi oksigen dan pemenuhannya serta untuk mengetahui jumlah bikarbonat.
C. Peralatan.
1. Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi).


Jarum nomor 22 atau 25 (bevel pendek).
Penutup udara dari karet.
Kapas alkohol.
Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik).
Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi :
a. Nama, tanggal dan waktu.
b. Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa.
c. Suhu.

D. Persiapan Pasien.
1. Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan yang dilakukan.
2. Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit.
3. Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul.
4. Jelaskan tentang allens test.
Caranya :
Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteriradialis
dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi
warna jari-jari, ibu jari, dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna
merah menunjukkan test allens positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat,
menunjukkan test allens negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan
periksa tangan yang lain.

E. Langkah-langkah Tindakan/Prosedur.
1. Persiapan alat.
2. Memberitahukan pasien tentang tujuan daripada pengambilan darah arteri yang akan di
pungsi.
3. Memilih arteri yang akan di pungsi.
4. Menyiapkan posisi pasien :
a. Arteri Radialisi :
- Pasien tidur semi fowler dan tangan diluruskan.
- Meraba arteri kalau perlu tangan boleh diganjal atau ditinggikan.
- Arteri harus benar-benar teraba untuk memastikan lokalisasinya.
b. Arteri Dorsalis Pedis.

Pasien boleh flat/fowler.


c. Arteri Brachialis
Posisi pasien semi fowler, tangan di hyperekstensikan/diganjal dengan siku.
d. Arteri Femoralis.
Posisi pasien flat.
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
6. Raba kembali arteri untuk memastikan adanya pulsasi daerah yang akan ditusuk sesudah
dibersihkan dengan kapas bethadine secara sirkuler. Setelah 30 detik kita ulangi dengan
kapas alkohol dan tunggu hingga kering.
7. Bila perlu obat anethesi lokal gunakan spuit 1 cc yang sudah diisi dengan obat (adrenalin
1 %), kemudian suntikan 0,2-0,3 cc intracutan dan sebelum obat dimasukkan terlebih
dahulu aspirasi untuk mencegah masuknya obat ke dalam pembuluh darah.
8. Lokalisasi arteri yang sudah dibersihkan difiksasi oleh tangan kiri dengan cara kulit
diregangkan dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah sehingga arteri yang akan ditusuk
berada di antara 2 jari tersebut.
9. Spuit yang sudah di heparinisasi pegang seperti memegang pensil dengan tangan kanan,
jarum ditusukkan ke dalam arteri yang sudah di fiksasi tadi.
a. Pada arteri radialis posisi jarum 45 derajat.
b. Pada arteri brachialis posisi jarum 60 derajat.
c. Pada arteri femoralis posisi jarum 90 derajat.
Sehingga arteri ditusuk, tekanan arteri akan mendorong penghisap spuit sehingga darah
dengan mudah akan mengisi spuit, tetapi kadang-kadang darah tidak langsung keluar.
Kalau terpaksa dapat menghisapnya secara perlahan-lahan untuk mencegah hemolisis.
Bila tusukan tidak berhasil jarum jangan langsung dicabut, tarik perlahan-lahan sampai
ada dibawah kulit kemudian tusukan boleh diulangi lagi kearah denyutan.
10. Sesudah darah diperoleh sebanyak 2 cc jarum kita cabut dan usahakan posisi pemompa
spuit tetap untuk mencegah terhisapnya udara kedalam spuit dan segera gelembung udara
dikeluarkan dari spuit.
11. Ujung jarum segera ditutup dengan gabus / karet.
12. Bekas tusukan pungsi arteri tekan dengan kapas alkohol campur dengan bethadine.
a. Pada arteri radialis dan dorsalis pedis selama 5 menit.
b. Pada arteri brachialis selama 7 10 menit.
c. Pada arteri femoralis selama 10 menit.
d. Jika pasien mendapat antikoagulan tekan selama 15 menit.
13. Lokalisasi tusukan tutup dengan kassa + bethadine steril.
14. Memberi etiket laboratorium dan mencantumkan nama pasien, ruangan, tanggal, dan jam
pengambilan, suhu, dan jenis pemeriksaan.

15. Bila pengiriman/pemeriksaannya jauh, darah dimasukkan kantong plastik yang diisi es
supaya pemeriksaan tidak berpengaruh oleh suhu udara luar.
16. Kembali mencuci tangan setelah selesai melakukan tindakan.
F. Pendokumentasian.
Nilai normal Gas Darah Arteri
1. pH : 7,35 7, 45
2. PO2 : 80 100 mmHg
3. Saturasi O2 : 95%
4. PC O2 : 35 45 mmHg
5. HCO3- : 22 36 mEq/L
6. BE (kelebihan Asam) : -2 - +2
G. Komplikasi/Bahaya yang Mungkin Terjadi.
Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan ini, yaitu (McCann, 2004):
1. Adanya risiko jarum mengenai periosteum tulang yang kemudian menyebabkan pasien
mengalami kesakitan. Hal ini akibat dari terlalu menekan dalam memberikan injeksi.
2. Adanya risiko jarum melewati dinding arteri yang berlainan.
3. Adanya kemungkinan arterial spasme sehingga darah tidak mau mengalir masuk ke
syringe.

DAFTAR PUSTAKA
Gallo dan Hudak. 2010. Keperawatan Kritis, Edisi 6 Vol.1. EGC : Jakarta
McCann, J. A. S. (2004).Nursing Procedures.4th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Chaira.

2011. Analisa

Gas

Darah [online]

tersedia http://www.scribd.com/doc/75288842/Analisa-Gas-Darah-Agd di akses tanggal 8 Juli


2012 Jam 14.00.
Citha.

2011. http://www.scribd.com/doc/52259213/agd-ekg-cvp-umbah-lambung-bls-suction di

akses tanggal 8 Juli 2012 Jam 14.30.


Zahra.

2011. Pengambilan

AGD [online].

Tersedia

: http://zahra-

youtube.blogspot.com/2011/03/pengambilan-agd.html di akses tanggal 8 Juli 2012 Jam 15.00.