Anda di halaman 1dari 87

Bab 3 Loads

BAB III
PIPING DESIGN LOADS

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.1. Pendahuluan
Pipe Stress Analysis
Bertujuan untuk menjamin keamanan operasi sistem perpipaan
dengan verifikasi integritas struktur yang mendapat berbagai
kondisi pembebanan.
Hal di atas dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan &
perbandingan parameter berikut terhadap harga-harga yang
diijinkan :
- tegangan yang terjadi pada dinding pipa
- perpindahan akibat ekspansi pipa
- beban-beban pada nozle
- frekuensi pribadi sistem
Stress analysis juga bertanggung jawab pada penentuan bebanbeban tumpuan (support) sehingga sistem dapat direstrain
dengan baik.
2

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Piping Design
Dibagi menjadi 2 bagian besar :
I. Overall system design :
- Fluid distribution system
- All in line equipment (vessels, pumps, valves)

II. Detailed component design :


- Component
- Piping support.

Analisis sistem memberikan input ke analisis komponen dalam


bentuk beban-beban komponen dari sistem perpipaan dan beban
beban tumpuan.
3

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Sistem Perpipaan.
Typically dibagi menjadi 2 kategori.
I. Hot system , design temp. 1500F (660C)
II. Cold system, design temp. < 1500F (660C)
Hot system pipelines memerlukan analisis
fleksibilitas yang teliti untuk menentukan gaya-gaya
thermal, tegangan dan perpindahan.
Klasifikasi sistem perpipaan juga dilakukan
berdasarkan fungsinya (dijelaskan dalam code).
4

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Piping Loads
Jenis-jenis beban pada sistem perpipaan dapat
diklasifikasikan menjadi 3 :
1. Sustained Load :
Beban yang bekerja terus-menerus selama
operasi normal (contoh : berat, tekanan, dll)
2. Occasional Load :
Beban yang terjadi kadang-kadang selama
operasi normal (contoh : angin, gempa, dll)
3. Expansion Load :
Beban akibat perpindahan pada struktur pipa
(contoh : thermal expansion, diff.anchor
Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.2. SUSTAINED LOADS


3.2.1 Berat
Semua sistem perpipaan haruslah dirancang
mampu menahan beban berat fluida, isolasi,
komponen, dan struktur pipa itu sendiri.
Semua beban berat tsb kemudian diteruskan ke
komponen tumpuan (support) juga harus dirancang
mampu menahan beban-beban tsb.
Metode sederhana untuk menghitung tegangan dan
beban tumpuan adalah dengan memodelkan pipa
sebagai beam dengan terdistribusi merata.
6

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Model tumpuan simply supported :


Tegangan maksimum :
Gaya tumpuan :

WL2

8Z

WL
F
2

Model tumpuan fixed end :


Tegangan maksimum :
Gaya tumpuan :

WL2

12 Z

WL
2
7

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Dalam kenyataan, kondisi tumpuan umumnya adalah


antara simply supported dengan fixed-end, sehingga
tegangan maksimum biasanya dihitung dengan
persamaan :
WL2

10Z

atau lebih konservatif

WL2

8Z

Jadi untuk pipa horizontal lurus, jarak antar


tumpuan dapat dihitung :
10 ZS
L
W

dimana :
L = jarak tumpuan maksimum
S = tegangan yang diijinkan (tergantung dari jenis
material pipa, temperatur dan code)
Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gaya-gaya tumpuan adalah :


(10WZS)1 / 2
F
2

Standard :
Untuk menyederhanakan perhitungan, MSS
(Manufacturers Standardization Society)
memberikan rekomendasi jarak antar tumpuan
dalam SP-69

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Tabel 5.1 Span Maksimum yang Dianjurkan antara


Support dan Pipa

10

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Rekomendasi pada SP-69 telah mempertimbangkan


ukuran pipa, jenis fluida, isolasi, s = 1500 psi (1110,3
Mpa) dan defleksi maksimum 0,1 in (2,5 mm)
Dalam kasus dimana pipa tidak hanya lurus
horisontal, beban-beban yang ditimbulkan pada
tumpuan dapat dihitung dengan metode Weight
Balancing.
Karena umumnya sistem perpipaan tidak horisontal
lurus maka dalam menentukan posisi tumpuan perlu
mempertimbangkan hal-hal berikut :
11

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

1. Tumpuan harus diletakkan sedekat mungkin


dengan beban terkonsentrasi seperti valves,
flanges, dll
Dari segi tegangan; tumpuan terbaik diletakkan
pada peralatan, hal ini sulit dilakukan.
Peralatan atau equipment tersebut dimodelkan
sebagai beban terkonsentrasi.
2. Jika arah pipa mengalami perubahan (belokan)
disarankan jarak tumpuan dari tabel SMS,
untuk menjaga stabilitas dan untuk
mengakomodasi beban eksentrik.
12

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3. Standar pada SP-69 tidak berlaku untuk pipa


vertikal (riser). Tumpuan biasanya ditentukan
berdasarkan panjang pipa dan distribusi beban
pada struktur bangunan penumpu.
Direkomendasikan tumpuan diletakkan pada
bagian atas riser untuk mencegah buckling dan
instability.
Guide dapat ditempatkan disepanjang riser untuk
mencegah defleksi pipa. Jarak guide pipa biasanya 2
kali jarak tabel SP-69, dan tidak menahan beban
berat.
4. Lokasi tumpuan diusahakan sedekat mungkin
dengan bagunan baja yang ada, sehingga tidak
diperlukan bangunan tambahan untuk menopang
struktur pipa.
Pipe stress analysis

13

Bab 3 Loads

Contoh Soal 1
Gambar 3.1. Menunjukkan pipeline yang
menghubungkan dua buah nozle (A & H). Pipa
mempunyai diameter nominal 12 in, berisi air dan
mempunyai tebal isolasi 4,5 in, belokannya long
radius dan semua valvenya 150 psi pressure rating
gate valve. Tentukan letak-letak penumpu dan
hitunglah bebannya.

14

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 3.1
15

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 1
Titik pusat gravitasi
Valve: 1170 lb (5206 N), 1.5 ft (0.46 m) dari titik A
Pipe: 6.5 x 119 =774 lb (3444 N), 6.25 ft (1.91 m) dari titik A
Elbow: 299 lb (1322 N), 10.5 ft (3.2 m) dari titik A, 6 in (0.15 m) di sebelah titik C
Pipe: 8.5 x 119 = 1012 lb (4503 N), 5.75 ft (1.75 m) di sebelah titik C

M 0
0 299(0.5) 1012(5.75) 10C
C 597 lb (2649 N ) ke atas
X

M 0
0 1170 (1.5) 4 B 774(6.25) 299(10.5) 1012(11) 597(11)
B 3574 lb (15,955 N ) ke atas
Z

16

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

F 0
0 A 1170 3574 774 299 1012 597
A 916 lb (4119 N ) ke bawah
y

M 0
Terhadap titik C
0 3.05 D 1607(10) 299(9.5) 1012(4.25)
D 2321lb (10,334 N ) ke atas
X

F 0
0 C 1607 299 1012 2321
C 597 lb (2648 N ) ke atas
y

17

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Tabel 3.2

18

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

19

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

20

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

21

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.2.2 Tekanan
Sistem perpipaan umumnya mendapat beban
tekanan internal dari fluida yang dialirkan
Beban tekanan lebih berpengaruh pada tegangan
yang ditimbulkan pada dinding pipa dibandingkan
dengan menimbulkan beban pada tumpuan. Hal ini
diakibatkan beban tekan dinetralize oleh
tegangan pada dinding pipa

22

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

P ( AP ) - { PAP/Am }Am = 0

Gambar 5.4

dimana :
P = tekanan internal
Ap = luas penampang rongga bagian dalam pipa
Am = luas penampang pipa
Pipe stress analysis

23

Bab 3 Loads

Jika penampang pipa tidak continuous maka


beban tekanan tidak dapat ditahan oleh tegangan
pada dinding pipa, sehingga harus ditahan oleh
restrain-restrain dan anchor
Contoh : - slip type expansion joint
- bellows expansion joint

24

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.5

Beban tekanan pada expansion joint adalah


sama dengan tekanan dikalikan luas
penampang
25

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Slip joint :

Bellows :

D o
A
4

D b
A
4

Do = diameter luar pipa

Db = diameter dalam
maksimum bellows

26

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Contoh soal 2
Gambar 5.7 menunjukkan pipeline dengan
diameter pipa 12 in mengalami beban tekanan
internal gauge 250 psi dan mempunyai slip
joint di titik C. Pipa direstrain oleh anchor di
titik A dan E, dan oleh vertikal restrain di titik
B dan D

27

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.7
28

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 2
Pipa: Dnominal = 12 in (300 mm)
P = 250 psi (1724 kPa)
PPD
((250
)) ((12
..75
))
D
250
12
75
FF

31
31,,919
919lb
lb
44
44
22

00

atau

(1724) (0.32385)
FF (1724) (0.32385) 142
142,,005
005N
N
44
22

Dari teori batang


Pb
Pb
M

M
22
AA

33Pb
FF Pb
22aa
AA

22Pa
33Pb
Pa
Pb
FF
22aa
bb

29

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Bila:

P = 31,919 lb (124.005 N)

Maka:

a = 50 ft (15.25 m)

b = 15 ft (4.58 m)

(31,919)(15)
239,939 ft.lb
2

M pada anchor

(142,005)(4.58)
325,191 m.N
2

(3)(31,919)(15)
14,364 lb
2(50)
(3)(142,005)(4.58)

63,972 N
2(15.25)

F pada anchor

F pada restrain

( 2)(31,919)(50) (3)(31,919)(15)
46,283 lb
2(50)
(2)(142,005)(15.25) (3)(142,005)(4.58)
205,977 N
2(15.25)
30

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.1 Occasional Loads


Beban yang dikategorikan occasional loads pada sistem
dalam periode yang sebagian saja dari total periode operasi
sistem ( 1 10 % ). Contoh : snow, fenomena alam
(hurricane, gempa, dll), unusual plant operation (relief value
discharge), postulated plant accident (pipe rupture, dll)
Posisi tumpuan yang optimal untuk menahan occasional
loads tidak selalu sama dengan posisi tumpuan untuk
sustained load
- Dalam perancangan perlu dilakukan kompromi sehingga
tumpuan dapat menahan kedua jenis beban tersebut
- Contoh : beban dinamik paling baik ditahan dengan rigid
support. Tapi rigid support akan menurunkan fleksibilitas
* Snubber mungkin dapat digunakan
31

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Rekomendasi untuk menentukan posisi


tumpuan untuk beban occasional:
1. Tentukan posisi awal yang sesuai untuk beban
sustained (berat)
2. Tentukan jarak tumpuan (span) optimum untuk
occasional load. Reduksi span yang didapat
sampai coincides dengan kelipatan span tahap 1
3. Pada sistem pipa dingin,gunakan rigid support di
semua tumpuan
4. Pada sistem pipa panas, tentukan dulu dimana
lokasi rigid support dapat ditempatkan. Pada
tempat tumpuan lain mungkin perlu dipasang
snubber
(software : NPS OPTIM, HANGIT, QUICK PIPE)
Pipe stress analysis

32

Bab 3 Loads

3.1.1 Beban Angin


Sistem pipa yang terletak outdoor harus
dirancang mampu menahan beban angin
maksimum yang terjadi sepanjang umur
operasional pipa tertsebut.
Kecepatan angin tergantung pada kondisi
lokal, dan biasanya bervariasi terhadap
elevasi
33

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.9
Pipe stress analysis

34

Bab 3 Loads

Besaran utama dari beban angin adalah


diakibatkan oleh momentum angin yang
menganai pipa.
Beban angin dimodelkan sebagai gaya
uniform yang searah dengan arah angin
sepanjang pipa
Gaya angin dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan Bernoulli

35

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

C ddD q
F
( USCS)
386.4
C ddD q
F
(SI)
386.4
dimana :
F = beban angin (N/m)
Cd = koefisien drag
q = tekanan dinamik (N/m2) = V2/2
D = diameter luar pipa (termasuk isolasi) (m)
= massa jenis udara (kg/m3)
V = kecepatan udara (m/s)

Pipe stress analysis

36

Bab 3 Loads

Gambar 5.10
37

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Harga koefisien drag adalah


merupakan fungsi dari bentuk struktur
dan bilangan Reynold.
Bilangan Reynold (dimensionless)
adalah parameter yang menunjukkan
derajat keturbulenan aliran fluida

38

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

DV
Rn
( USCS)
386.4
DV
Rn
(SI)
1000
= massa jenis udara (kg/m3)
V = kecepatan angin (m/s)
D = diameter pipa (m)
= viskositas dinamik udara (kg/m s)

Pada kondisi tertentu, perlu dimasukkan faktor


keamanan tambahan yang disebut dengan Gust
factor (biasanya berharga 1.0 1.3)
39

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Contoh soal 3
Gambar 5.11 menunjukkan sistem pipa dengan
diameter nominal pipa 8 in dan tebal isolasi 2 in.
Sistem pipa tersebut terkena angin dengan kecepatan
maksimum 75 mph arah utara-selatan. Tentukan
beban yang diterima oleh restrain C, E, dan H pada
arah x.

40

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.11
41

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 3
Menentukan beban angin per panjang proyeksi pipa:
V = 75 mph = 110 ft/s (33.55m/s)
udara = 0.0748 lbm/ft3 (1.198 kg/m3) pada 29.92 in Hg dan 700F (210C)
udara = 39.16 x 10-8 lbf.s/ft2 [1.87 x 10-5 kg/(m.s)]
D = 8.625 (pipa) + 2 x 2 (insulasi) = 12.625 in (320.7 mm)
Bilangan Reynolds:
R

(0.0748)(12.625)(110 )
5

6
.
9

10
(386.4)(39.16 10 5 )

(1.198)(320.7)(33.55)
5

6
.
9

10
(1000)(1.87 10 5 )

atau

42

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gaya drag dapat dihitung dengan menggunakan faktor gust 1.3:


(1.3)(0.6)(0.5 0.0748 110 )(12.625)
F
11.5 lb / ft
386.4
22

atau
(1.3)(0.6)(0.5 1.198 33.55 )(320.7)
F
170 N / m
1000
22

Actual load
Wl 11.5(20)

8.1lb / ft
L
20 20
22

22

Dimana
W = beban angin, lb/ft (N/m)
L = panjang sesungguhnya, ft (m)
l = panjang proyeksi, tegak lurus terhadap beban angin, ft (m)
Pipe stress analysis

43

Bab 3 Loads

Dengan penjumlahan momen terhadap titik A, diperoleh:


M 0
y

0 20 E (230)(10)
E 115 lb

atau

0 6.1E (1037)(3.05)
E 519 N

M 0
0 115(45) 230(45) 518(22.5) 15C
z

C 1122 lb

atau

0 519(13.8) 1037(13.8) 2346(6.9) 4.6C


C 5073 N
F 115 1122 230 518 A 0
x

A 489 lb

atau F 519 5073 1037 2346 A 0


x

A 2209 N

44

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Untuk segmen E-H:


M 35 H 229( 25) 172.5(7.5) 0
y

H 200.5 lb (892 N )
F 200.5 229 172.5 E 0
x

E 201 lb (894 N )

Beban total pada restrain E adalah jumlah dari beban pada


setiap sisi, atau
E 115 201 316 lb
519 894 1413 N
tot

45

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.1.2 Beban Relief Valve Discharge


Relief valve digunakan dalam sistem
perpipaan sebagai pembuangan tekanan
dari sistem jika tekanan meningkat di atas
operasi yang aman.
Saat relief valve discharge, fluida akan
menginitiate jet force yang ditransfer ke
sistem pipa.
46

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gaya discharge dapat dihitung dengan (B 31.1):


mV

mV
FF DLF
PA
DLF
PA
32

32..22

((USCS
USCS))

PA

PA
FF DLF
DLF mV
mV
66
1

10

1 10

((SI
SI))

dimana :
F = gaya discharge
DLF = dynamic load factor
m = mass flow rate valve x1.11, lbms (kg/s)
P = static gauge pressure from discharge (N/m2)
A = discharge flow area (mm2)
47

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Juga
50113
50113((hh00 aa))
V
((USCS
V
USCS))
22bb 11

22..0085
0085((hh00 aa))
V
((SI
V
SI))
22bb 11

ho = enthalpy stagnasi fluida

Harga a dan b diberikan pada tabel berikut

48

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Dan

m b 1 48.33(h 00 a )
P
- PAA ( USCS)
a b
2b 1
12
12

m b 1 1.995 10 (h 00 a )
P
- PAA (SI)
a b
2b 1
PA = tekanan atmosfer

49

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.13
50

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Dynamic load factor (DLF) digunakan untuk


menghitung kenaikan beban akibat aplikasi yang
tiba-tiba dari gaya discharge. Faktor ini bervariasi
dari 1.1 sampai 2.0 tergantung dari kekakuan
instalasi valve dan waktu pembukaan.
Perhitungan DLF dapat dimulai dengan
menghitung periode natural instalasi valve:
3
WH
WH 3
TT 00..1846
((USCS
1846
USCS))
EI
EI

3
WH
WH 3
TT 114
((SI
114..59
59
SI))
EI
EI

dimana :
W = massa valve
H = jarak pipa utama ke pipa outlet (mm), in
E = modulus elastisitas pipa
4
4
I = momen inersia pipa
inlet
Pipe
stress (mm
analysis ), in

51

Bab 3 Loads

Step berikutnya adalah menentukan ratio to/T,


dimana to adalah waktu pembukaan valve.
DLF akhirnya dapat ditentukan dari grafik
berikut:

Gambar 5.14
Pipe stress analysis

52

Bab 3 Loads

Contoh soal 4
Diketahui gaya relief discharge dengan 1500 lb
(Gambar 5.15). Run pipe pada tee akibat gaya 1500
lb menerima momen 3000 lb ft. Tentukan resultan
reaksi di restraint.

53

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.15
54

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 4
Reaksi pada restrain
1500(3) 3000
F

375 lb
17 3
20
aa

1500(17) 3000
F

1125 lb
17 3
20
bb

atau
6675(0.92) 4702
F

1672 N
5.19 0.92 6.11
aa

6675(5.19) 4702
F

5003 N
5.19 0.92 6.11
bb

55

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.1.3 Beban Gempa


Sistem perpipaan haruslah didesain mampu
menahan beban gempa
Kriteria seismic dalam perancangan dapat
dimulai dengan mengestimasi potensial gempa
dalam daerah dimana pipa akan dipasang

didapat dari literatur search


contoh akibat gempa dalam Mercelli Scale
56

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.16
57

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Contoh gempa di US

Gambar 5.17
58

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Analisis yang perlu dilakukan adalah:


1. Time history analysis
Dilakukan berdasarkan catatan gempa
terhadap waktu
Data percepatan, kecepatan dan
perpindahan tanah dijadikan input untuk
menganalisis model dinamik struktur pipa.
Output hasil analisis adalah dalam bentuk
perpindahan , tegangan dan gaya-gaya
tumpuan
59

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.18
60

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

2. Modal Analysis
Alternatif lain untuk mendapatkan respon
struktur terhadap gempa adalah modal
analysis
Model dinamik dari sistem pipa dibagi
menjadi sejumlah model single dof yang
secara keseluruhan dapat mewakili
karakteristik dinamik sistem pipa
Spektrum gempa kemudian diaplikasikan
pada model untuk mendapatkan respon
sistem secara keseluruhan
61

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.19
62

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.4 Expansion Load


Restraint diperlukan untuk menahan beban
sustained dan beban occasional. Tetapi jika
terjadi kenaikan temperatur pada saat pipa
beroperasi, maka pipa akan ekspansi
sehingga timbul tegangan yang tinggi
Kondisi restraint dari sudut pandang
thermal, maka tidak ada restraint
perlu dirancang restraint yang optimum
63

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.4.1 Perhitungan Beban Termal


Ekspansi termal dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
Thot
Thot

LL
dT
dT
Tcold
Tcold

dimana :
=ekspansi termal (mm)
L = panjang pipa (mm)

= koefisien ekspansi termal (mm/mm0C)


T = temperatur pipa (0C)

Ekspansi pipa untuk beberapa jenis material diberikan


pada Tabel 5.4
64

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Tabel 5.4

65

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

66

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Metode sederhana menghitung beban termal


pada tumpuan digunakan metode guided
cantilever
pada setiap tumpuan akan timbul:
66 EE II

M
M
LL22

12
12 EE II
PP
LL33

dimana :
P = gaya-gaya pada tumpuan
M = momen pada tumpuan
E = modulus elastisitas
I = momen inersia
= pertambahan panjang
L = panjang pipa

67

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penggunaan expansion loop adalah alternatif


untuk dapat mengatasi ekspansi termal yang
besar

Gambar 5.20
68

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Contoh soal 5
Sistem yang terlihat pada Gambar 5.26 terbuat dari baja
karbon dan beroperasi pada 3500F (1770C). Sistem
tersebut menggunakan pipa berdiameter 12 in (300 mm)
schedule standar dengan I = 279 in4 (1.16 x 108 mm4) dan
E = 27.7 x 106 psi (1.91 x 1011 N/m2). Sistem diberi
tumpuan jangkar (anchors) pada titik a dan G, dan dua
tumpuan vertikal pada titik D dan E.
Tentukan :
1. Pergeseran yang diserap oleh segmen A-B, B-C, dan E-F
2. Gaya dan momen yang diterima oleh segmen A-B, B-C,
dan E-F
3. Gaya dan momen pada tumpuan A
69

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.26
70

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 5
LL

LL
33

nn

nn

33

TT

ii

00..34
((30
))
34
30
yang
00..034
yang diserap
diserapoleh
olehBB C
C
034in
in((00..864
864mm
mm))
30
30 60
60 30
30
33

xx

33

33

33

12
((27
..7710
)(
279
)(
00..034
))
12
27
10
)(
279
)(
034
FF sepanjang
66
sepanjang BB C
C
66lb
lb((300
300N
N))
360
360
66

xx

33

00..65
((15
))
65
15
sepanjang
00..202
sepanjang AA BB
202in
in((55..11mm
mm))
15
15 20
20
33

yy

33

33

12
((27
..7710
)(
279
)(
00..202
))
12
27
10
)(
279
)(
202
FF sepanjang
3210
sepanjang AA BB
3210lb
lb((14
14,,285
285N
N))
180
180
66

yy

33

71

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Pergerakan Pipa
From segment Direction

Magnitude

Resisted by

A-B

0.34 in (8.6 mm)

B-C, C-F, F-G

B-C

0.68 in (17.3 mm)

A-B, C-D

C-F

1.36 in (34.5 mm)

A-B, B-C, F-G

F-G

0.68 in (17.3 mm)

E-F

72

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Untuk segemen A-B


6(27.7 10 )(279)(0.202)
M
289,096 in.lb(32,697 m.N )
180
1.36(15)

0.08 in (2.03 mm)
15 30 30
6

12(27.7 10 )(279)(0.08)
F
1272 lb(5661 N )
180
6(27.7 10 )(279)(0.08)
M
114,493 in.lb(12,950 m.N )
180
6

X ( torsion ) @ A

1.36(30 ) 6(27.7 10 )(279)

15 30 30
360
3

X , B C

228,987 in.lb (25,899 m.N )


73

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Fx = 66 lb (300N)

Mx = 228,987 in.lb (25,899 m.N)

Fy = 3210 lb (14,285 N)

My = 114,493 in.lb (1290 m.N)

Fz = 1272 lb (5661 N)

Mz = 289,096 in.lb (32,697 m.N)

Dengan cara yang sama, beban-beban pada titik D dan E dapat


dihitung:
3
00..68
68((20
20)) 3
YY,,CCDD 33
0.478 in (12.1 mm)
33 0.478 in (12.1 mm)
15
15 20
20
66
12
(
27
.
7

10
)(279)(
)(00..478
478)) 3210 lb(14,285 N )
FFYY,,CCDD 12(27.7 10 )(3279
3210 lb(14,285 N )
3
240
240

66
66((27
..7710
)(
27
10
)(279
279)(
)(00..478
478)) 384,804 in.lb(43,523 m.N )
M

MZZ,,CCDD
384,804 in.lb(43,523 m.N )
22
240
240
74

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

YY, E, EFF

00..68
68in
in((17
17..33mm
mm))

12
((27
..7710
)(
279
)(
00..68
))
12
27
10
)(
279
)(
68
FF
4567
4567lb
lb((20
20,,321
321N
N))
240
240
66((27
..7710
)(
279
)(
00..68
))
27
10
)(
279
)(
68
M
547
M
547,,421
421in
in..lb
lb((61
61,,916
916m
m..N
N))
240
240
66

YY, E, EFF

33

66

ZZ, E
, EFF

22

Gaya Total pada titik D dan E:


384
,,805
547
,,421
384
805
547
421 7094 lb(31,570 N )
FF 3210

3210
7094 lb(31,570 N )
240
240
240
240
384
,,805
547
,,421
384
805
547
421 8451lb(37,608 N )
FF 4567

4567

8451lb(37,608 N )
240
240
240
240
YY, D
,D

YY, E, E

Perhitungan gaya dan momen pada anchor di titik G juga


dilakukan dengan cara yang sama
75

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

ITT Grinnel menabelkan perhitungan beban akibat


termal seperti dicantumkan pada tabel 5.6

76

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

77

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

78

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

79

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

80

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

81

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

82

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

83

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

3.4.2 Perhitungan Perpindahan Termal


Perpindahan pipa akibat beban termal dapat
diestimasi pada titik intermediate dengan
mengasumsikan variasi linier antara titiktitik yang diketahui perpindahannya.

84

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Contoh soal 6
Gambar 5.28 menunjukkan semua perpindahan vertikal pada sistem,
seperti perpindhan nosel dari keadaan dingin ke keadaan panas.
Titik A : 2 in (50.8 mm) ke atas, dingin (cold) ke panas (hot)
Titik C : 0 in
Titik F : 4 in (101.6 mm) ke bawah, dingin ke panas
Titik K : 1 in (25.4 mm) ke atas, dingin ke panas
Titik L : 0 in
Titik M : 0 in
Material pipa adalah intermediate alloy steel, dan sistem beroperasi
pada temperatur 9000F (4820C)
Tentukan
a. Pertambahan panjang segmen B-C, C-D, dan I-J
b. Pertambahan panjang pegas H1 dan H2
c. Besar perpindahan titik E, J, dan I
85

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Gambar 5.28
86

Pipe stress analysis

Bab 3 Loads

Penyelesaian contoh 6
Dari tabel 5.4: ekspansi = 0.0707 in/ft (0.0059 mm/m), sehingga:
LB-C = (0.0707)(15) = 1.06 in (26.9 mm) ke atas
LC-D = (0.0707)(30) = 2.12 in (53.8 mm) ke bawah
LI-J = (0.0707)(10) = 0.707 in (18.0 mm)
H1 = 1.06 +4/28(2-1.06)=1.19 in (30.2 mm) ke atas
Perpindahan di titik E:
E = 28/44 (4) = 2.55 in (64.8 mm) ke bawah
H2 = 2.12 + 4/21 (2.55-2.12) = 2.2 in (55.9 mm) ke bawah
K = 1 0.707 = 0.273 in (6.9 mm)
J = 1 6/94 (0.273) = 0.983 in (25.0 mm)
87

Pipe stress analysis