Anda di halaman 1dari 31

LISENSI MEREK

Pengertian Lisensi Merek


Lisensi adalah suatu perjanjian dimana pemegang
hak kekayaan intelektual(misalnya pemegang hak
atas merek) mengijinkan pihak lain untuk
menggunakan hak ekslusifnya tersebut dalam
jangka waktu tertentu dengan imbalan membayar
royalti.
Lihat definisi hak atas Merek adalah hak eksklusif
yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek
yang terdaftar dalam Daftar Umum merek untuk
jangka waktu tertentu dengan menggunakan
Merek tersebut atau memberikan izin kepada
pihak lain untuk menggunakannya.

Pengertian Lisensi Merek


License: a revocable permission to commit some
act that would otherwise be unlawful, for
example, a license allowing licensee to use a
trademark on goods and services. This
authorizes the licensee to use the trade mark in
the manner authorized by the licensor.
The license may be general, covering all the
goods and services for which the mark is
registered or limited, only covering some of the
goods or services for which the mark is
registered.

Lisensi Hak Atas Merek secara


Ekslusif dan Non Ekslusif
Lisensi Eksklusif
diberikan oleh
pemberi lisensi kepada penerima
lisensi untuk jangka waktu tetentu
dan wilayah tertentu. Artinya lisensi
hanya diberikan kepada pemegang
lisensi ekslusif
dalam wilayah
tersebut, misalnya Indonesia, untuk
jangka waktu berlakunya lisensi.

Lisensi Ekslusif dan Non


Eksklusif
Dalam hal lisensi diberikan secara ekslusif,

maka dipastikan bahwa penerima lisensi


akan memberikan kontribusi yang memadai
untuk memproduksi dan mendistribusikan
produk yang bersangkutan dan berusaha
sebaik-baiknya untuk mempromosikannya.
Sebaliknya penerima lisensi dapat meminta
supaya dalam radius tertentu wilayah
eksklusifnya, tidak diberikan lisensi kepada
pihak lainnya.

Lisensi Eksklusif dan Non


Ekslusif
Lisensi non Eksklusif adalah suatu
bentuk
lisensi
yang
memberi
kesempatan kepada pemilik Merek
untuk memberikan lisensi kepada
pemakai lisensi lainya dan juga
menambah jumlah pemakai lisensi
dalam wilayah yang sama.

Lisensi Eksklusif dan Non


Ekslusif
Pasal 44 Undang-undang No.15 tahun
2001:
Pemilik
Merek
terdaftar yang telah
memberikan Lisensi kepada pihak lain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43
ayat 1 tetap dapat menggunakan sendiri
atau memberikan Lisensi kepada pihak
ketiga lainnya untuk menggunakan merek
tesebut, kecuali
jika diperjanjikan
lain.

Parallel Import and Exhaustion of


Right
Bagaimana dengan klausula ini:
Pemilik Merek memberikan hak yang bersifat
eksklusif
kepada penerima lisensi untuk
menggunakan merek,
memproduksi dan
memdistribusikan ke wilayah Indonesia;
Pemilik merek secara langsung maupun tidak
langsung (misalnya lisensi) berhak memasok
atau menjual produk di luar wilayah
Indonesia kepada suatu Badan Pembelian
Global dan tidak bertanggunjawab atas
distribusi dan penjualan kembali oleh Badan
Pembelian Global kemanapun.

Parallel Import and Exhaustion


Right
Parallel Import : Goods bearing valid
trade marks that are manufactured
abroad and imported to United States to
compete with domestically manufactured
goods
bearing
the
same
valid
trademarks. Domestic parties commonly
complain that parallel imports compete
unfairly in the US Market , but US
trademark law dose not prohibit the sale
of most parallel import.

Parallel Import and Exhaustion


Right
Parallel import: A product bought in one state and
imported into another state by the purchaser, often
to take advantage of price differences between
states are also known as grey market goods.
Parallel Importation usually take place outside
supplier-authorized official distribution networks.
Within the EU measures: taken to prevent parallel
import in the single market will infringe Article 81
of the Treaty of Rome. While it is permitted to
restrict an exclusive distributor from soliciting sales
outside his exclusive area, absolute territorial
protection may not be given, either by contract
terms or by conduct or oral arrangements.

Parallel Import and Exhaustion


of Right
Exhaustion of
Right adalah suatu doktrin bahwa
dalam hal penerima lisensi sudah memproduksi dan
memasarkan produk ber merek
sesuai dengan
perjanjian lisensi merek, maka pemilk merek tidak
memiliki hak apapun untuk mencegah usaha penerima
lisensi maupun pihak ketiga untuk memasarkan dan
menggunakan merek tersebut kemanapun.
Kecuali dalam keadaan tertentu, yaitu jika telah
diadakan perubahan atau modifikasi terhadap barangbarang tersebut yang akan membawa akibat yang
sangat merugikan bagi merek tersebut (Benelux Mark
Act 1971 article 13A)

Parallel Import and Exhaustion Of


Right
Exhaustion of right: A free trade principle which hold that
once goods are put o the market, owners of intellectual
property rights in those goods who made the goods or
allowed others to do so under their right, may not use
national intellectual property rights to do prevent an
import or export of the goods. Within the European
Community these rules derive from Article 28-30 of the
Treaty of Rome.
The trade mark cases on exhaustion of right have arisen
under article 30 EC. In principle, a product which has been
lawfully marketed in one Member State should be capable
of being exported to another Member State and should
be capable of being traded in that second Member State .

Parallel Import and Exhaustion of


Right
However, some Member States laws have nationally been
capable of being used to impede the free movement of goods, if the
company could be selling its products at higher price in other
Member State, so that parallel import of the cheaper products from
the first Member State could undermine its pricing structure in
those other Member States. A long line case law in the ECJ has
established that in principle, a Member State may not permit to
invoke their trade mark in a manner which obstacles to inter State
trade, except if it justifies a means of protecting the very essence,
the so called specific subject matter of the trade mark right.
Di Indonesia belum ada peraturan atau case law yang secara tegas
melarang parallel import. Jika parallel import dilarang maka
pemilik merek terkenal akan memegang posisi monopoli, jika
parallel import dibolehkan kemungkinan barang yang diimport ke
negara kita memiliki mutu yang rendah atau bahkan dijual dengan
harga yang lebih murah.

Lisensi ditinjau dari sudut Hukum


Perjanjian
Lisensi adalah suatu perjanjian dimana pemegang HKI
mengijinkan pihak lain untuk menggunakan hak ekskusifnya tsb
dalam jangka waktu tertentu dengan imbalan royalty;
Bagi perjanjian lisensi berlaku ketentuan Buku III KUH Perdata:
pasal 1319 KUH Perdata menyebutkan bahwa ketentuan Buku III
KUH Perdata berlaku bagi perjanjian nominat dan perjanjian
innominat . Bearti syarat sahnya perjanjian juga berlaku bagi
perjanjian lisensi.
Pasal 1320 KUH Perdata: kata sepakat dan kecakapan adalah
syarat subyektip. Syarat obyektip, hal tertentu, menurut pasal
1333 KUH Perdata paling tidak harus dapat ditentukan jenisnya.
Tapi untuk misalnya lisensi merek jasa yang tidak dapat
dipisahkan dari kemampuan, kualitas atau ketrampilan pemberi
jasa ybs, seperti Rudi Harisuwarno sebaiknya disebutkan secara
rinci.

Lisensi ditinjau dari sudut Hukum


Perjanjian
Perjanjian Lisensi harus memenuhi syarat sebab yang halal,
artinya isi perjanjian tidak bertentangan dengan undangundang, ketertiban umum dan kesusilaan.
Pasal 47 UU No. Tahun 2001 bahwa perjanjian lisensi
dilarang memuat ketentuan baik yang lansung maupun tidak
langsung
menimbulkan
akibat
yang
merugikan
perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang
menghambat
kemampuan
bangsa
Indonesia
dalam
menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya;
Pasal 584 KUH Perdata , suatu pengalihan hak selain harus
didasarkan pada perjanjian yang sah, juga harus dilakukan
oleh pihak yang berwenang mengalihkan hak tsb. Karena itu
dalam perjanjian lisensi maupun assignment seharusnya
dilakukan oleh pemegang hak atas merek.

Lisensi ditinjau dari segi Hukum


Perjanjian

Pasal 3 UU No.15 Tahun 2001, Hak atas Merek adalalah hak eksklusif yang
diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar. Dengan mudah
dapat diketahui siapa pemilik merek yang terdaftar. Karena hak atas merek
lahir dari pendaftaran dan pendaftaran berfungsi sebagai pemberitahuan
kepada publik atau kepada pihak ketiga siapa pemilik merek yang sejati. Jika
terjadi perselisihan antara pemilik merek yang terdaftar dengan penerima
lisensi yang mengadakan perjanjian lisensi dengan pihak yang tidak
terdaftar sebagai pemilik merek ybs, maka perlindungan hukum diberikan
kepada pemilik merek yang terdaftar.

Akan tetapi berdasarkan Pasal 48 UU No.15 tahun 2001, bahwa


penerima lisensi yang beritikad baik, tetapi kemudian merek itu
dibatalkan atas dasar adanya persamaan pada pokoknya atau
keseluruhannya dengan merek lain yang terdaftar, maka penerima
lisensi tetap berhak melaksanakan perjanjian lisensi tsb sampai
dengan berakhirnya jangka waktu lisensi. Pembayaran lisensi tidak
diberikan kepada pihak yang mereknya dibatalkan tetapi kepada
pemilik merek yang tidak dibatalkan.

UU No.21/1961 Tidak Mengatur


Lisensi

Kasus merek Gold Bond: Putusan MARI No.3051K/Sip/1981,


tgl. 28/12/1983.
Merek Gold Bond telah dipakai di Indonesia atas dasar
perjanjian lisensi antara Gallaher Limited dan PT.A.I.T.
Meskipun UU No.21/1961 belum mengenal lisensi tetapi
karena PT. A.I.T. berdasarkan perjanjian lisensi telah
memproduksi merek Gold Bond di Indonesia, maka adalah
tidak patut dan bertentangan dengan kesusilaan yang baik
apabila PT.A.I.T meminta untuk dihapuskannya pendafatran
merek yang telah dilakukan oleh Gallaher Limited;
Bahwa sebenarnya di beberapa negara maju sitem lisensi
telah diperkenankan;
Putusan Mahkamah Agung dalam perkara merek Gold Bond
mengukuhkan dasar hukum pemberian lisensi.

Pengaturan Lisensi dalam UU


No.15/1961
Pasal 43 UU No.15/2001:
Pemilik merek terdaftar berhak memberikan lisensi kepada pihak
lain dengan
perjanjian bahwa
penerima lisensi akan
menggunakan merek tersebut untuk sebagian atau seluruh jenis
barang dan jasa;
Perjanjian lisensi berlaku diseluruh wilayah negara Republik
Indonesia, kecuali bila diperjanjikan lain untuk jangka waktu yang
tidak lebih lama dari jangka waktu perlindungan merek terdaftar
yang bersangkutan di Indonesia;
Perjanjian lisensi wajib dimohonkan pencatatan pada Direktorat
Jenderal dengan biaya dan akibat hukum dari pencatatan ,
perjanjian lisensi berlaku terhadap pihak ketiga;
Perjanjian lisensi sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 dicatat
oleh Direktorat Jenderal dalam Daftar Umum Merek dan
diumumkan dalam berita resmi merek.

Pengaturan Lisensi dalam UU


No.15/1961
Comment: Hal yang perlu diperhatikan dalam hal perjanjian
lisensi merek diberlakukan untuk seluruh wilayah Indonesia adalah
kepastian bahwa penerima lisensi akan menggunakan merek
tersebut sesuai dengan jenis barang dan jasa yang terdaftar.
Karena bila merek tsb tidak digunakan, maka berdasarkan pasal61
ayat 2 Direktorat Jenderal dapat melakukan penghapusan
pendaftaran merek, jika merek tidak digunakan selama tiga tahun
berturut-turut dalam perdagangan barang/dan atau jasa sejak
tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir;
Defensive Registration is Additional protection for some very well
known marks which have been so widely used that it will cause
confusion if others were free to use them I relation to different
categories of goods or services. In Australia it can be obtained even
though the registered owner does not use or intend to use the
trade mark in relation to those goods or services. In Indonesia it is
not allowed.

Pencatatan Perjanjian Lisensi


Merek
Pencatatan perjanjian lisensi diwajibkan supaya pemerintah
dapat mencegah perjanjian lisensi yang memuat ketentuan
baik yang langsung maupun tidak langsung dapat merugikan
perekeonomian Indonesia atau memuat pebatasan yang
menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai
teknologi. Berdasarkan Pasal 47, Direktorat Jenderal wajib
menolak permohonan pencatatan lisensi tersebut.
Comment: melalui lisensi suatu merek asing dapat
menggunakan goodwill dari perusahaan dan reputasinya untuk
menembus pasr negara berkembang. Dengan mendaftarkan
mereknya secara dosmestik diharapkan penerima lisesni
mempromosikan dan memperdagangkan merek tsb di pasar
domestik untuk jangka waktu tertentu. Penerima lisensi
biasanya sudah melakukan investasi untuk fasilitas produksi
dan distribusi.

Pencatatan Perjanjian Lisensi Merek


Comment: jangan sampai setelah penerima lisensi
berhasil
memasarkan merek asing, maka lisensinya tidak diperpanjang.
Bahkan pemberi lisensi melakukan export dari negaranya atau
memberikan lisensi kepada pihak lain ;
Jangka waktu lisensi
harus memberi
kesempatan kepada
penerima lisensi untuk memeroleh return of investment dan
keuntungan;
Ketentuan yang mewajibkan penerima lisensi mengembangkan
merek lokal sebagai subtitusi merek asing, sehingga selama
berlakunya perjanjian lisensi merek lokal tsb dapat digunakan
bersama-sama dengan merek asing untuk mencapai pengakuan
masyarakat dan standar internasional
Karena perjanjianlisensi berlaku bagi pihak ketiga, jika pemilik
merek mengalihkan hak atas mereknya kepada pihak ketiga,
maka perjanjian lisensi juga berlaku bagi pihak ketiga tsb.

Pengalihan Hak Atas Merek/Assignment


Pasal 40 UU No.15/2001, hak atas merek
dapat beralih atau dialihkan, dengan cara:
Pewarisan; wasiat; hibah; perjanjian; atau
sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh
undang-undang.
Trade
mark
is
disposable
assets.
Assignment of registered trade mark could
be with or without goodwill of the
business. See article 41 Trade Mark Law of
2001 No.15.

Lisensi Merek sebagai cara


Menggunakan dan Mempertahankan
Merek
Subkontraktor dan agen tunggal: bertindak untuk dan atas
nama pemilik merek dalam melakukan promosi dan penjualan.
Lisensi : penerima lisensi bertindak sebagai independent
contractor dan pemberi lisensi
dapat melakukan quality
control dan pemeriksaan berkala metode produksi untuk
menjaga keabsahan mereknya. Pemilik merek dapat
melepaskan tanggungjawab perbuatan melawan hukum atau
wanprestasi sepanjang tidak menyangkut pelanggaran hak
atas merek, karena penerima lisensi dianggap sebagai
independent contractor. Tapi lihat pasal 24 UU Perlindungan
Konsumen bahwa pelaku usaha yang menjual barang da/atau
jasa melalui pelaku usaha lain bertanggungjawab atas
kerugian yang diderita konsumen sepanjang tidak terjadi
perubahan substansial atas produk ybs.

Lisensi Merek sebagai cara


Menggunakan dan Mempertahankan
Merek

Pasal 44: lisensi non eksklusif. Karena itu pemilik merek yang
sudah memberikan lisensi tetap dapat menggunakan sendiri
mereknya atau memberikan lisensi kepada pihak ketiga.
Comment: Dalam hal lisensi merek diberikan secara non
eksklusif maka pemberi
lisensi dapat mencantumkan
persyaratan tata cara penggunaan merek tsb untuk memberi
indikasibahwa penggunaan merek tsb di bawah pengawasan
pemilik merek. Akan tetapi di negara-negara tertentu (di
luar Indonesia) terdapat persyaratanbahwa untuk dapat
digunakan, maka merek harus diterjemahkan dalam bahasa
domestik atau penggunan merek asing tidak diijinkan untuk
produk-produk yang dibuat melalui kerjasama dengan pihak
asing yang ditujukan untuk pasar domestik, tapi hanya
diijinkan dibuat untuk pasar eksport

Lisensi Merek sebagai cara


Menggunakan dan
Mempertahankan Merek

Pasal 45 UU No.15 tahun 2001 bahwa dalam suatu perjanjian


lisensi dapat ditentukan bahwa penerima
lisensi diberi
wewenang untuk memberikan lisensi lebih lanjut kepada pihak
ketiga.
Praktek ini sering dijumpai dalam perjanjian penerima waralaba,
dimana penerima waralaba utama memberikan lisensi kepada
penerima waralaba lanjutan.
Pasal 46 UU No.15 Tahun 2001 bahwa penggunaan merek
terdaftar di Indonesia oleh penerima lisensi dianggap sama
dengan penggunaan merek tsb di Indonesia oleh pemilik merek.
Comment: sebab berdasarkan pasal 61 Dirjen dapat melakukan
penghapusan pendaftaran merek, jika merek tidak digunakan
dalam perdagangan barang dan jasa selama tiga tahun berturutturut sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian akhir.

Lisensi Merek sebagai cara


Menggunakan dan
Mempertahankan Merek

Pasal 77:gugatan atas pelanggaran merek


dapat diajukan oleh penerima Lisensi merek
terdaftar
baik
secara
sendiri
maupun
bersama-sama dengan pemilik merek yang
bersangkutan.
Compare to Singapore: any party sued by
such licensee may raise defense that would be
open to him if he had been sued by the trade
mark owner. Normally the licensee must join
the trade mark owner as a party, unless the
court permits otherwise.

Pengakuan terhadap
Goodwill dan Pengawasan
Mutu
Pasal 41:

Pengalihan hak atas merek terdaftar dapat disertai dengan


pengalihan nama baik, reputasi atau lainnya yang terkait dengan
merek tersebut
Hak atas merek jasa terdaftar yang tidak dapat dipisahkan dari
kualitas atau ketrampilan pribadi pemberi jasa
bersangkutan
dapat dialihkan dengan ketentuan harus ada jaminan terhadap
kualitas pemberian jasa.
Penjelasan bahwa pengalihan hak atas merek jasa dapat dilakukan
dengan syarat ada jaminan dari pemilik merek maupun pemegang
merek atau penerima lisensi untuk menjaga kualitas jasa yang
yang diperdagangkan. Untuk itu, perlu suatu pedoman khusus yang
disusun oleh pemilik merek sebagai pemberi lisensi atau sebagai
pihak yang mengalihkan merek tsb mengenai metode atau cara
pemberian jasa yang melekat pada merek tersebut.

Pengakuan terhadap Goodwill dan


Pengawasan Mutu

Comment: dalam suatu pengalihan atau lisensi merek


barang atau jasa selalu terkait goodwill yaitu nama baik
dan reputasi orang atau perusahaan yang mengalihkan
atau memberikan lisensi. Karena itu pengalihan maupun
lisensi merek biasanya disertai persyartan quality control.
Sebab jika barang atau jasa yaqng dihasilkan bermutu
rendah, maka mungkin saja masyarakat akan menganggap
bahwa barang dan jasa tsb tidak terkait dengan pemilik
merek yang terdaftar dan karena itu merek dapat
dihapuskan dari pendaftaran. Sesuai doktrin bahwa fungsi
merek adalah agar masyarakat
mengetahui berasal
darimana barang dan jasa yang beredar di pasar.

Pengakuan terhadap Goodwill dan


Pengawasan Mutu

Sarana pengawasan mutu dapat berupa kewajiban penerima lisensi


merek untuk menrima pasokan bahan mentah dan sumber daya
manusia dari pemberi lisensi;
Lisensi merek seperti ini dapat dikualifikasikan sebagi perjanjian
tertutup atau tying agreement yang dilarang Pasal 15 ayat 2 UU
No.5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Moopoli .
Akan tetapi Pasal 50 huruf B UU No.5/1999 mengecualikan perjanjian
waralaba dan lisensi Hak Kekayaan Intelektual dari undang-undang
ini;
Di berbagai negara keabsahan perjanjian tertutup, dinilai melalui
pendekatan rule of reason ketimbang illegal per se. Artinya jika
perjanjian tertutup mengakibatkan mengakibatkan persaingan
usaha tidak sehat, maka akan dilarang. Sebaliknya jika perjanjian
lisensi yang merupakan perjanjian tertutup tsb bermanfaat untuk
sarana pengawasan mutu atau justru mendorong effisiensi, maka
perjanjian tsb dapat dibenarkan.

REFERENCES
. Alison Firth, Shelley Lane Yvonne Smyth(editor),
Reading in Intellectual Property.
Anne Fitzgerald, Intellectual Property.
Bryan A. Garner, Blacks Law Dictionary.
Elizabeth A.Martin and Jonathan Law (editor)
Oxford Dictionary of Law.
Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum
Acara Perdata.
Suharnoko, Lisensi Hak Cipta dan Lisensi Merek.
Walter Woon, Basic Business Law in Singapore.

TO BE CONTINUED