Anda di halaman 1dari 15

1.

Definisi Perencanaan Tambang menurut Beberapa Ahli

Definisi perencanaan tambang menurut (Lee, 1984 dan Taylor, 1977)

Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.

Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan


dilakukan.

Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan


kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.

Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat


terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.

Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan


berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.

2. Konsep Dasar Perencanaan Tambang


Pengertian Perencanaan adalah penentuan persyaratan dalan mencapai
sasaran,kegiatan serta urutan teknik pelaksanaan berbagai macam kegiatan
untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran yang diinginkan. Pada dasarnya
perencanaan dibagi atas 2 bagian utama, yaitu:
1. Perencanaan strategis yang mengscu kepada sasaran secara
menyeluruh, strategi pencapaiannya serta penentuan cara, waktu, dan biaya.
2. Perencanaan operasional, menyangkut teknik pengerjaan dan
penggunaan sumber daya untuk mencapai sasaran. Dari dasar perencanaan
tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa suatu perencanaan akan berjalan
dengan menggunakan dua pertimbangan yaitu pertimbangan ekonomis dan
pertimbangan teknis. Untuk merealisasikan perencanaan tersebut dibutuhkan
suatu program-program kegiatan yang sistematis berupa rancangan kegiatan
yang dalam perencanaan penambangan disebut rancangan teknis
penambangan Rancangan teknis ini sangat dibutuhkan karena merupakan
landasan dasar atau konsep dasar dalam pembukaan suatu tambang khususnya
tambang bijih nikel.
Perhitungan cadangan bijih Salah satu tahapan dalam melakukan
perencanan tambang adalah melakukan prhitungan cadangan. Untuk setiap
blok atau lubang dalam bijih harus dihitung kualitas dan kuantitasnya dengan
baik. Dengan menggunakan data hasil perhitungan cadangan maka rencana
produksi dapat dibuat. Untuk mengetahui cadangan bijih nikel di Tanjung Buli
dihitung dengan menggunakan metode area of influence. Data bor yang
dijadikan acuan perhitungan adalah data loging bor spasi 50 meter x 50
meter,dengan data elevasi terbaru. Untuk menghitung volume cadangan
maka didapat dengan mengalikan antara luas blok dengan ketebalan yang
mengandung bijih pada data log bor tersebut.

Volume = luas x tebal . (3.1)


Sedangkan menghitung tonnage cadangan diperoleh dari hasil kali
volume blok dengan density insitu.
Tonnage = Volume x Density .. (3.2)
Pertimbangan dasar perencanaan tambang dalam suatu
perencanaan tambang, khususnya tambang bijih nikel terdapat dua
pertimbangan dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
3.3.1 Pertimbangan Ekonomis Pertimbangan ekonomis ini
menyangkut anggaran. Data untuk pertimbangan ekonomis dalam melakukan
perencanaan tambang batubara,yaitu:
a. Nilai (value) dari endapan per ton batubara
b. Ongkos produksi, yaitu ongkos yang diperlukan sampai
mendapatkan produk berupa bijih nikel diluar ongkos stripping.
c. Ongkosstripping of overburdendengan terlebih dahulu
mengetahui stripping rationya.
d. Keuntungan yang diharapkan dengan mengetahui Economic
Stripping Ratio.
e. Kondisi pasar
3.3.2 Pertimbangan Teknis Yang termasuk dalam data untuk
pertimbangan teknis adalah:
a. Menentukan Ultimate Pit Slope (UPS) Ultimate pit slope adalah
kemiringan umum pada akhir operasi penambangan yang tidak menyebabkan
kelongsoran atau jenjang masih dalam keadaan stabil. Untuk menentukan UPS
ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: - Stripping ratio yang

diperbolehkan. - Sifat fisik dan mekanik batuan - Struktur Geologi - Jumlah


air dalam di dalam batuan
b. Ukuran dan batas maksimum dari kedalaman tambang pada akhir
operasi.
c. Dimensi jenjang/bench Cara-cara pebongkaran atau penggalian
mempengaruhi ukuran jenjang. Dimensi jenjang juga sangat tergantung pada
produksi yang diinginkan dan alat-alat yang digunakan. Dimensi jenjang harus
mampu menjamin kelancaran aktivitas alat mekanis dan faktor keamanan.
Dimensi jenjang ini meliputi tinggi, lebar, dan panjang jenjang.
d. Pemilihan sistem penirisan yang tergantung kondisi air tanah dan
curah hujan daerah penambangan.
e. Kondisi geometrik jalan Kondisi geometrik jalan terdiri dari
beberapa parameter antara lain lebar jalan, kemiringan jalan, jumlah lajur, jarijari belokan,superelevasi,cross slope, dan jarak terdekat yang dapat dilalui
oleh alat angkut.
f. Pemilihan peralatan mekanis yang meliputi: - Pemilihan alat dengan
jumlah dan type yang sesuai. - Koordinasi kerja alat-alat yang digunakan.
g. Kondisi geografi dan geologi Topografi Topografi suatu daerah
sangat berpengaruh terhadap sistem penambanganyang digunakan. Dari faktor
topografi ini,dapat ditentukan cara penggalian, tempat penimbunan
overburden, penentuan jenis alat, jalur-jalur jalan yang dipergunakan,dan
sistem penirisan tambang. Struktur geologi Struktur geologi ini terdiri atas
lipatan, patahan, rekahan, perlapisan dan gerakan-gerakan tektonis.
Penyebaran batuan Kondisi air tanah terutama bila disertai oleh stratifikasi
dan rekahan.Adanya air dalam massa ini akan menimbulkan tegangan air pori.

Dasar pemilihan sistem penambangan Dengan perkembangan


teknologi, sistem penambangan dibagi dalam tiga sistem penambangan yaitu:
Tambang terbuka yaitu sistem penambangan yang seluruh kegiatan
penambangannya berhubungan langsung dengan udara luar.
Tambang dalam yaitu sistem penambangan yang aktivitas
penambangannya dibawah permukaan atau di dalam tanah.
Tambang bawah air (Under water Mining) Dalam penentuan sistem
penambangan yang akan digunakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
diantaranya adalah: Letak kedalaman endapan apakah dekat dengan
permukaan bumi atau jauh dari permukaan. Pertimbangan ekonomis yang
tujuannya untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dengan Mining
Recovery yang maksimal dan relatif aman. Pertimbangan teknis
Pertimbangan Teknologi. Ketiga sistem penambangan yang telah disebutkan
sebelumnya, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing serta
sesuai dengan karakteristik dari endapan yang akan ditambang. Khusus dalam
penelitian ini akan dibahas sistem penambangan secara tambang terbuka.
Metode penambangan yang biasanya digunakan untuk tambang bijih adalah
metode open pit, open mine, open cut, dan open cast. Perbedaan dari keempat
metode ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.1 Open pit/Open Cast dan Open Cut/Open Mine Pada
kegiatan penambangan menggunakan empat metode diatas, bijih berasal dari
penggalian excavator baik dilakukan sendiri atau dengan kombinasi alat lain
cara penggalian bijih nikel yang digunakan pada metode penambangan open
pit,open cut, open cast dan open mine adalah: a. Sistem jenjang tunggal
(Single Bench) Sistem jenjang tunggal biasanya dipakai untuk menambang
bahan galian yang relatif dangkal dan memungkinkan unutk beroperasi
dengan jenjang tunggal.

Gambar 3.2 Jenjang Tunggal Tinggi jenjang maksimum yang stabil,


kemiringannya tergantung pada jenis batuan yang ditambang. Ketinggian
jenjang yang aman ditetapkan dengan mempertimbangkan keselamatan
pekerja dan peralatan. Ketinggian jenjang berhubungan erat dengan
kesetabilan permukaan yang aman adalah apabila alat-alat yang berioperasi
dan pekerja dalam kondisi tidak aman, dimana tempat yang enjadi landasan
terdapat kemungkinan akan runtuh/longsor. Besarnya hasil produksi yang
dihasilkan dengan jenjang tunggal sangat terbatas dan ditentukan oleh
kapasitas alat. Selain itu juga ditentukan oleh luas permukaan kerja (front). b.
Sistem jenjang bertingkat (Multiple bench) Penambangan dengan jenjang
bertingkat umumnya digunakan untuk menambang bahan galian yang kompak
(massive) dan endapan bijih tebal yang sanggup ditambang jika menggunakan
cara penambangan dengan jenjang tunggal. Jenis batuannya harus kuat dan
keras agar dapat mendukung beban yang ada diatasnya.
Gambar 3.3 Jenjang Bertingkat Kemiringan lereng dapat dibuat lebih
vertikal jika daya dukung batuan besar. Pit slope bervariasi antara 20 - 70.
Dari horizontal. Hal ini diaksud agar mendapatkan perolehan bijih yang lebih
banyak lagi. Kestabilan jenjang perlu dijaga terutama untuk mempertinggi
faktor keamanan. Untuk menghindari kecelakaan, beberapa cara dapat
dilakukan yaitu dengan pembersihan bongkah-bongkah batu yang menempel
pada dinding jenjang, mengetahui daerah kritis,pengeringan, dan memonitor
pergerakan dan pergeseran. Pada pemilihan sistem penambangan secara
tambang terbuka ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan
sistem penambangan, yaitu :
Jumlah Tanah Penutup Tanah penutup atau overburden yaitu tanah
yang berada di atas lapisan bijih. Sebelum pengambilan bijih, terlebih dahulu
tanah penutupnya harus dikupas. Jumlah dari tanah penutup harus diketahui
dengan jelas untuk menentukan nilai Stripping Ratio.

Jumlah Cadangan Bijih Dari data hasil pemboran dan eksplorasi,


dapat diketahui jumlah cadangan bijih yang dapat ditambang (mineable). Dari
jumlah bijih nikel hasil perhitungan cadangan tersebut terdapat standar
pengurangan yang digunakan oleh perusahaan sehinggga diperoleh mining
recovery. Standar pengurangan tersebut dapat berupa: - Geologi faktor - Mining
loss Dilution.Batas Penambangan (Pit Limit) dan Stripping ratio Batas
penambangan ditentukan dengan cara menentukan daerah yang layak untuk
diproduksi. Cara penentuannya adalah dengan memisahkan daerah yang layak
dalam masalah kadar,diman kelayakan kadar adalah cut off grade (COG). COG
adalah kadar rata-rata terendah yang asih menguntungkan. Kemudian langkah
selanjutnya adalah menghitung stripping ratio (SR). SR adalah perbandingan
antara volume tanah penutup yang dipindahkan per satuan berat bijih (satuan
m3/ton). Sehingga dengan mengetahui nilai SR, maka dari daerah yang sudah
memenuhi syarat COG dilihat lagi SRnya. Jika SRnya lebih besar dari SR yang
ditentukan perusahaan, maka daerah tersebut tidak layak untuk diproduksi.
Rancangan teknis penambangan merupakan bagian dari suatu
perencanaan tambang. Rancangan penambangan ini merupakan program
penambangan yang akan dikerjakan dan telah diberikan batas-batas dan aturan
tegas yang harus dipenuhi dalam setiap aktivitasnya sebagai bagian dari
keseluruhan perencanaan tambang tersebut. Setelah menganalisa dasar dari
pemilihan sistem penambangan, maka dibuat suatu rancangan penambangan atau
teknis pelaksanaan penambangan tersebut. Analisa yang dibuat berupa metode
penambangan yang akan diterapkan.Persiapan Penambangan Persiapan
penambangan merupakan kegiatan pendahuluan dari aktivitas penambangan.
Persiapan penambangan ini berupa pembersihan areal yang akan ditambang (Land
Clearing), pembuatan jalan tambang, penanganan masalah air (drainase) dan
pengupasan tanah penutup (Stripping OB). Pembersihan lahan adalah suatu
pekerjaan tahap awal pada kegiatan penambangan. Pembersihan lahan ini
dilakukan untuk menyingkirkan pepohonan dan semak belukar yang tubuh di

sekitar areal penambangan dan mempersiapkan akses masuk ke tambang atau


pembuatan jalan angkut. Penanganan masalah air tambang mencakup pembuatan
saluran, sumuran, dan kolam pengendapan. Dimensi saluran, sumuran dan kolam
pengendapan harus dibuat sesuai dengan debit air yang ada sehingga air tambang
tidak langsung mengalir ke air bebas yang dapat menimbulkan masalah
lingkungan. Pekerjaan pengupasan yang dilakukan pada tanah penutup,biasanya
dilakukan bersama-sama dengan clearing dengan menggunakan alat bulldozer.
Pekerjaan ini dimulai dari tepat yang lebih tinggi, dan tanah penutup didorong ke
bawah ke arah yang lebih rendah sehingga alat dapat bekerja dengan bantuan gaya
gravitasi.Desain Jenjang dan Analisis Kemantapan Lereng Karena letak bijih
berada dilapisan bawah dari permukaan dan tertutup oleh lapisan tanah penutup,
maka untuk mencapai lapisan bijih itu biasanya dibuat jenjang/bench. Suatu
jenjang yang dibuat harus mampu menampung dan mempermudah pergerakan
alat-alat mekanis pada saat aktivitas pengupasan tanah penutup dan pengambilan
bijih. Dimensi suatu jenjang dapat ditentukan dengan mengetahui data produksi
yang diinginkan, peralatan mekanis yang digunakan, material yang digali, jenis
pembongkaran dan penggalian yang dipergunakan dan batas kedalaman
penggalian atau tebalnya lapisan bijih, serta data sifat mekanik dan sifat fisik
batuan unutk kestabilan lereng. Dimensi daripada jenjang adalah:
a. Panjang jenjang Panjang jenjang tergantung pada produksi yang
diinginkan dan luas dari areal penambangan atau dibuat sampai pada batas
penambangan yang direncanakan. Pada dasarnya adalah alat-alat mekanis yang
digunakan mempunyai ruang gerak yang cukup untuk bermanuver dalam
aktivitasnya.
b. Lebar jenjang Lebar jenjang dirancang sesuai dengan jarak yang
dibutuhkan oleh alat mekanis dalam beroperasi, dalam hal ini alat gali/muat dan
alat angkut.Untuk menghitung lebar jenjang minimum dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan:
Wmin = 2R +JP + C + JA .. (3.4)

Dimana: W min = Lebar jenjang minimum R = Radius putar alat muat


excavator back hoe JP = Jangkauan penumpahan BH C = Lebar alat angkut JA =
Jarak aman c. Tinggi jenjang Tinggi jenjang adalah jarak vertikal yang diukur dari
kaki jenjang ke puncak jenjang tersebut. Tinggi jenjang dibuat tergantung dari
faktor keamanan suatu lereng dan tinggi maksimum penggalian dari alat gali yang
digunakan. Analisis kemantapan lereng (slope stability) diperlukan sebagai
pendekatan untuk memecahkan masalah kemungkinan longsor yang akan terjadi
pada suatu lereng. Lereng pada daerah penambangan dapat mengalami
kelongsoran apabila terjadi perubahan gaya yang bekerja pada lereng tersebut.
Perubahan gaya ini dapat terjadi karena pengaruh alam atau karena aktivitas
penambangan. Kemantapan lereng tergantung pada gaya penggerak (driving
force) yaitu gaya yang menyebabkan kelongsoran dan gaya penahan (resisting
force) yaitu gaya penahan yang melawan kelongsoran yang ada pada bidang
gelincir tersebut serta tergantung pada besar atau kecilnya sudut bidang gelincir
atau sudut lereng. Menurut prof. Hoek (1981) kemantapan lereng biasanya
dinyatakan dalam bentuk faktor keamanan yang dapat dirumuskan sebagai
berikut: Dimana: Fk > 1 berarti lereng aman Fk = 1 berarti lereng dalam keadaan
seimbang Fk < 1 berarti lereng dianggap tidak stabil Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kemantapan dari lereng diantaranya adalah:
1. Geometri lereng
2. Sifat fisik dan mekanik tanah/batuan
3. Struktur geologi
4. Pengaruh air tanah
5. Pengaruh gaya-gaya luar
6. Kedudukan lereng terhadap bidang perlapisan batuan
7. Faktor waktu. Longsoran pada suatu lereng dapat terjadi dengan
beberapa bentuk atau cara. Hal ini yang membuat analisa dari kemantapan lereng
sangat penting menurut Hoek & Bray (1981), klasifikasi longsoran dapat dibagi
atas :

1. Longsoran busur Bidang gelincir dari longsoran ini mempunyai


bentuk busur lingkaran. Longsoran ini biasanya terjadi pada lereng dengan batuan
yang sudah mengalai pelapukan, tanah atau batuan yang ikatan anatarbutirnya
relatif lemah. Analisis kemantapan lereng dengan bentuk longsoran busur adalah
yang paling banyak dipakai terutama pada pekerjaan sipil dan pertambangan atau
tambang terbuka di daerah tropis.
2. Longsoran bidang (Plane failure) Pergerakan material pada jenis
longsoran ini akan melalui satu bidang luncur. Bidang luncur adalah bidang lemah
pada lereng perlapisan, sesar, dan kekar. Longsoran ini dapat terjadi jika terdapat
bidang luncur dan arah bidang luncur relatif sejajar dengan kemiringan lereng.
Kemiringan lereng lebih besar dari sudut geser dalam dan terdapat bidang bebas
pada kedua sisi lereng.
3. Longsoran baji (wedge failure) Bidang luncur dari longsoran jenis
ini merupakan dua bidang lemah yang saling berpotongan. Arah pergerakan akan
searah dengan garis perpotongan bidang lemah tersebut.
4. Longsoran guling ( topling failure) Longsoran guling terjadi pada
jenis batuan yang keras dan pada batuan tersebut banyak terdapat bidang lemah
yang relatif sejajar satu sama lain. Kondisi yang memungkinkan terjadinya
longsoran ini adalah jika kemiringan lereng berlawanan arah dengan kemiringan
bidang-bidang lemahnya. Longsoran tanah pada daerah penambangan
diasumsikan bahwa:
a. Material yang membentuk lereng dianggap homogen dngan sifat
mekanik akibat beban sama ke segala arah
b. Longsoran yang terjadi menghasilkan bidang luncur berupa busur
c. Tinggi permukaan air pada lereng adalah jenuh sampai kering
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk menganalisa keungkinan

longsoran, ada beberapa macam cara yang digunakan. Salah satu diantara cara
yang digunakan adalah dengan menggunakan diagaram Hoek & Bray dimana
tanah dengan lima macam kondisi permukaan air tanahnya dibagi ke dalam lima
diagram. Pemilihan metode ini selain dan cepat hasilnya juga cukup teliti dan
sering dipergunakan untuk tahap perancangan.Pembongkaran, Pemuatan dan
Pengangkutan Pembongkaran adalah upaya yang dilakukan untuk melepaskan
batuan dari batuan induknya baik dengan cara penggalian dengan enggunakan alat
gali maupun dengan cara pemboran dan peledakan. Pada intinya pembongkaran
ini bertujuan agar batuan dapat dengan mudah dan cepat dilepaskan serta alat
muat dapat dengan mudah memuat material ke alat angkut. Pemuatan adalah
kegiatan lanjutan setelah pembongkaran batuan pada loading point yang bertujuan
untuk memuat material ke alat angkut kemudian diangkut ke titik dumping baik
itu grizzly atau pada disposal area. Banyaknya material yang dibongkar, dimuat,
dan diangkut oleh masing-masing alat dinyatakan dalam jumlah produksi yang
dapat diketahui dengan menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Partanto
Projosumarto berikut: a. Produksi alat gusur Dimana: P(BD) = produksi bulldozer
(ton/jam) Fk = faktor koreksi (%) BF = Blade faktor (%) KB = kapasitas blade
(m3) SF = swell factor (%) D = density (ton/m3) b. Produksi alat muat/gali
Dimana: P(BH) = produksi excavator back hoe (ton/jam) Eff. = effisiensi kerja
(%) KB = kapasitas blade (m3) SF = swell factor (%) FF = fill factor (%) D =
density (ton/m3) Ct = Cycle time (menit) c. Produksi alat angkut Dimana: P(DT)
= produksi dump truck (ton/jam) Eff. = effisiensi kerja (%) KB = kapasitas blade
(m3) SF = swell factor (%) FF = fill factor (%) n = jumlah pengisian D = density
(ton/m3) Ct = Cycle time (menit).
Penirisan Tambang Penirisan tambang adalah upaya untuk
mencegah atau mengeluarkan air yang masuk atau menggenangi suatu daerah
penambangan yang dapat aktivitas penambangan. Perkiraan air yang masuk ke
dalam tambang berasal dari air lipasan berupa air hujan dan air tanah berupa
rembasan. Upaya yang dilakukan pada penirisan tambang ini diantaranya adalah:
Pembuatan drainage/saluran air Saluran air tambang berfungsi untuk mencegah
air dari luar tambang serta menampung air limpasan pada suatu daerah dan
mengalirkannya ke tempat yang lain. Saluran air ini dibuat di luar areal

penambangan. Pemompaan Pemompaan ini dilakukan jika air yang telah


masuk ke dalam tambang tidak bisa dialirkan langsung menuju saluran yang
dibuat. Untuk mengeluarkan air yang masuk kedalam tambang maka dibuatlah
suatu saluran penirisan dan pemompaan. Besarnya debit air yang kedalam lokasi
penambangan dapat dihitung dengan menggunakan metode rasional dengan
persamaan sebagai berikut: Q = 0,278 x C x I x A Dimana: Q = Debit air yang
masuk kedalam lokasi tambang (m3/detik) C = Koefisien pengaliran I = Intensitas
curah hujan (mm/jam) A = luas daerah tangkapan hujan (m2) Dimensi saluran
yang akan dibuat untuk mengalirkan air dari tambang dapat diketahui dengan
menggunakan persamaan Manning berikut ini: Q = 1/n x R2/3 x S1/2 x
Dimana: Q = Debit air dalam saluran per detik (m3/detik) n = Koefisien kekerasan
saluran S = gradien kemiringan dasar saluran A = Luas penampang R = jari-jari
hidrolis Beberapa bentuk-bentuk saluran yaitu:
a. Bentuk penampang segitiga Bentuk ini biasanya dipergunakan
untuk saluran dangkal. Saluran bentuk ini tidak mudah digerus oleh air.
Kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama dalam
pembuatannya.
b. Bentuk penampang segiempat Bentuk saluran ini digunakan untuk
debit air yang besar kelebihannya yaitu mudah dalam pembuatannya dan biasanya
dibangun pada bahan yang stabil misalnya kayu, batu dan lain-lain.
Kelemahannya adalah mudah terjadi pengikisan sehingga terjadi pengendapan
pada dasar saluran.
c. Bentuk penampang trapesium Bentuk penampang ini adalah bentuk
kombinasi antara segitiga dan segiempat. Biasanya digunakan untuk saluran yang
berdinding tanah dan tidak dilapisi sebab stabilitas kemiringan dinding dapat
disesuaikan.Bentuk ini sering digunakan pada daerah tambang karena tahan
terhadap pengikisan dan mudah digunakan pada daerah tambang karena tahan
terhadap pengikisan dan mudah dalam pembuatannya serta cocok untuk debit air
yang besar. Dan untuk menghitung dimensi saluran yang optimum dapat
digunakan persamaan efisiensi hidrolis:

A = (b + zh) h P = b + 2h 1 + (z)2 R = A/P Dimanan : b = Lembar


dasar saluran (m) A = Luas penampang basah (m2) P = Keliling basah (m) R =
jari-jari hidrolik (m) Pembuatan sump / sumuran Sumuran dibuat untuk
menampung air yang masuk kedalam tambang dan dibuat pada dasar bukaan
kemudian dipompa keluar menuju kolampengendapan atau settling pond yang
lainnya. Setelah dari tambang tersebut diendapkan, sebagian dipergunakan untuk
keperluan tambang sebagian dialirkan ke laut sekitar.

3.Tujuan Dari Perencanaan Tambang


Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu
rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :

Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan


dengan biaya yang semurah mungkin.

Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa


kriteria ekonomik seperti rate of return atau net present value.
1. mengurangi operation cost
2. parameter operasional tepat
3. menjaga persediaan bijih
4. menunda pemindahan overurden
5. pengurangan cashflow

MAKALAH
PERENCANAAN TAMBANG

OLEH :
NAMA

: M.RIZANI

NIM

: 12 .02. 0040
: FAHRORUZI
: 12.02.00

YAYASAN SWADIRI BHAKTI


AKADEMI TEKNIK PEMBANGUNAN NASIONAL
JURUSAN DIPLOMA III TEKNIK PERTAMBANGAN

BANJARBARU
2012