Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan secara
global dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga tak mau
ketinggalan dengan melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik
dalam bidang teknologi maupun industri. Memasuki Abad XXI, Indonesia telah
mencanangkan Era Industrialisasi. Sejalan dengan tekad tersebut, di dalam GBHN
industrialisasi dengan segenap aspeknya sudah dimuat. Pengalaman dari bangsabangsa yang telah lama maju menunjukkan, bahwa banyak masalah yang terjadi
pada awal industrialisasi, bahkan juga selama industrialisasi itu berjalan.
Dengan

adanya

perubahan

kearah

industrialisasi

tersebut

maka

konsekuensinya terjadi perubahan pola penyakit / kasus-kasus penyakit karena


hubungan dengan pekerjaan. Seperti disebabkan karena faktor mekanik (proses
kerja, peralatan), faktor fisik (panas, bising, radiasi) dan faktor kimia. Pada awal
industrialisasi, banyak masyarakat industri (industriawan maupun pekerja) yang
belum siap mental, sehingga seringkali menjadi korban dari industri tersebut.
Pada

umumnya

kesehatan

tenaga

pekerja

sangat

mempengaruhi

perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada
negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju. Secara umum bahwa kesehatan
dan

lingkungan

dapat

mempengaruhi

pembangunan

ekonomi.

Dimana

industrialisasi banyak memberikan dampak positif terhadap kesehatan, seperti


meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat tinggal yang lebih baik dan
peningkatan pelayanan. Akan tetapi kegiatan industrialisasi juga memberikan
dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat kerja dan masyarakat
pada umumnya.
Seperti telah disinggung pada paragraf sebelumnya, industrialisasi dapat
mendatangkan kemakmuran, tetapi bila tidak dikelola secara profesional akan

dapat mendatangkan bencana, misalnya: meningkatkan kecelakaan industri atau


kecelakaan kerja, munculnya penyakit akibat pekerjaan (occupational disease),
dan meningkatkan kerusakan lingkungan atau ekosistem.
Sadar betapa pentingnya industrialisasi bagi bangsa Indonesia, dan betapa
pentingnya pencegahan terhadap dampak buruk tersebut di atas, dan bahkan
sekaligus menyadari bahwa perlunya dikembangkan industri yang produktif,
efisien dan efektif maka diperlukan pengawasan kesehatan pekerja yang benarbenar nyata oleh pihak pengusaha dengan cara pemeriksaan kesehatan berkala
maupun dengan jaminan kesehatan kerja.
Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman
merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat
kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam
mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu
lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap
kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan
peningkatan produktivitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak
sehat (sering terpapar zat berbahaya yang mempengaruhi kesehatan) dapat
meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan
pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas penulis menentukan tiga rumusan masalah
yang akan diteliti. Rumusan masalah itu adalah sebagai berikut:
1.2.1. Apakah Pengertian Ergonomi?
-

1.2.2. Tuntutan tugas, kemampuan dan penampilan dalam ergonomi?


1.2.3.

Apakah yang Dimaksud dengan Antropometri Dinamik dan


Statis?

1.2.4. Faktor lingkungan, suhu, music dan dekorasi dalam Ergonomi?


1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan karya ilmiah ini adalah:


1.3.1.

Mengetahui Pengertian Ergonomi

1.3.2

Mengetahui Tuntutan tugas, kemampuan dan penampilan dalam


Ergonomi

1.3.3. Mengetahui Apakah yang Dimaksud dengan Antropometri


Dinamik dan Statis
1.3.4. Mengetahui Faktor lingkungan, suhu, music dan dekorasi dalam
Ergonomi
1.4. Manfaat Penelitian
Ada tiga manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini. Manfaat
tersebut adalah :
1.4.1. Bagi masyarakat, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan bacaan
yang bermanfaat agar dapat diterapkan untuk meningkatkan
kesehatan kerja
1.4.2. Bagi mahasiswa penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi
untuk proses pembelajaran siswa.
1.4.3. Bagi penulis, penelitian ini menjadi rujukan untuk mengetahui
segala hal yang berhubungan dengan Ergonomi dan ruang
Lingkupnya

BAB II
Pengertian Ergonomi
Ergonomi sering disebut Human Factor Engineering, suatu ilmu yang
mengatur bagaimana manusia bekerja. Istilah ergonomi berasal dari bahasa
Yunani yaitu Ergo (kerja) dan Nomos (peraturan dan hukum kerja) serta dapat
didefenisikan sebagai penerapan ilmu-ilmu biologi tentang manusia bersama-sama
dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama
lain

secara

optimal

dari

manusia

terhadap

pekerjaannya.

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari perancangan pekerjaanpekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia, sistem orang dan mesin, peralatan
yang dipakai manusia agar dapat dijalankan dengan cara yang paling efektif
termasuk alat-alat peragaan untuk memberi informasi kepada manusia.
(Sutalaksana : "Teknik Tata Cara Kerja").
Perhatian utama ergonomi adalah pada efisiensi yang diukur berdasarkan
pada kecepatan dan ketelitian performance manusia dalam penggunaan alat.
Faktor keamanan dan kenyamanan bagi pekerja telah tercakup di dalam
pengertian efisiensi tersebut. (Wesley E Woodson).
Suatu rancangan memenuhi kriteria baik apabila mampu memenuhi
konsep ENASE (Efektif, Nyaman, Aman,Sehat dan Efisien). Dan untuk mencapai
konsep ENASE ini maka ilmu ergonomi memiliki peran yang sangat besar.
Karena di dalam ilmu ergonomi manusia merupakan bagian utama dari sebuah
system (Human Integrated Design), maka harus disadari benar bahwa faktor
manusia akan menjadi kunci penentu sukses didalam operasionalisasi sistem
manusia-mesin (produk); tidak peduli apakah sistem tersebut bersifat manual,
semiautomatics (mekanik) ataupun full-automatics.
Dalam penyelidikannya Ergonomi pada dasarnya dikelompokkan atas
empat bidang penyelidikan, yaitu :

1. Penyelidikan tentang tampilan (display)


2. Penyelidikan tentang kemampuan kekuatan

fisik

manusia

(Biomekanika)
3. Penyelidikan tentang ukuran tempat kerja (Antropometri)
4. Penyelidikan tentang lingkungan fisik
Berkenaan dengan bidang-bidang penyelidikan itu, maka terlibat sejumlah
disiplin dalam ergonomi, yaitu :
a. Anatomi dan fisiologi ; cabang ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi
tubuh pada manusia.
b. Antropometri : ilmu yang mempelajari tentang ukuran-ukuran/dimensi
tubuh manusia.
c. Fisiologi psikologi : ilmu yang mempelajari sistem syaraf dan otak.
d. Psikologi eksperimen : ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan
tingkah laku manusia.
Oleh murel dan kawan-kawan, fungsi ergonomi dirumuskan sebagai studi
ilmiah tentang perkaitan antara orang dengan lingkungan kerjanya (The
Scientific Study of the relationship between man and his working environment).
Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktifitas rancang bangun
(design) ataupun rancang ulang (Redesign). Inti dari ergonomi adalah suatu
prinsip pekerjaanlah yang harus disesuaikan terhadap kemampuan dan
keterbatasan yang dimiliki oleh manusia (fitting the job to the man rather than the
man to the job). Ini berarti dalam merancang suatu jenis pekerjaan perlu
diperhatikan faktor-faktor apa saja yang menjadi kelebihan dan keterbatasan
manusia sebagai pelaku kerja. Salah satu faktor keterbatasan manusia yang harus
diperhatikan adalah ketrbatasn dalam ukuran dimensi tubuh. Untuk tujuan
perancangan inilah dibutuhkan data-data mengenai diri seseorang.

Manfaat dan Peran Ilmu Ergonomi


Ergonomi memeiliki beberapa manfaat, diantaranya :
1. Meningkatkan unjuk kerja, seperti : menambah kecepatan kerja, ketepatan,
keselamatan kerja, mengurangi energi serta kelelagan yang berlebihan.
2. Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan
3. Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan
ketrampilan yang diperlukan.
4. Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan
peralatan yang disebabkan kesalahan manusia.
5. Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja
Dalam lapangan kerja, ergonomi ini juga mempunyai peranan yang cukup
besar. Semua bidang pekerjaan selalu menggunakan ergonomi. Ergonomi ini
diterapkan pada dunia kerja supaya pekerja merasa nyaman dalam melakukan
pekerjaannya. Dengan adanya rasa nyaman tersebut maka produktivitas kerja
diharapkan menjadi meningkat. Secara garis besar ergonomi dalam dunia kerja
akan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Bagaimana orang mengerjakan pekerjaannya.


Bagaimana posisi dan gerakan tubuh yang digunakan ketika bekerja.
Peralatan apa yang mereka gunakan.
Apa efek dari faktor-faktor diatas bagi kesehatan dan kenyamanan
pekerja.

Aspek-aspek Ergonomi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja


yang nyaman. Sebagai contoh pada pekerja yang berhubungan dengan komputer.
1. Ergonomi Stasiun Kerja
a. Keluhan yang sering muncul :
-

Pengguna komputer mengalami ketegangan otot pundak, ketegangan otot

siku, ketegangan punggung.


Pengguna yang bekerja lama didepan komputer akan mendapatkan
miope yang semakin besar. (Haider-Austria).

Pengguna mengalami iritasi dan ketegangan mata yang semakin hari


makin bertambah. (Laubli Swiss).

b. Cara Mengatasi Keluhan


-

Perlu pengaturan tata letak semua peralatan yang digunakan di stasiun

kerja.
Dua faktor yang mempengaruhi unjuk kerja operator, yakni viewing

angle dan posisi papan ketik. (Sauter).


Rancangan stasiun kerja yang baik adalah penempatan papan ketik dan
tempat duduk pada ketinggian yang tepat. (Dainof).

2. Aspek Pencahayaan Lebih ditekankan pada pencahayaan di area layar


tampilan. Untuk menghindari kelelahan mata. Hal-hal yang harus
diperhatikan:
-

Hindarkan pengguna dari cahaya terang langsung/tak langsung.


Atur keseimbangan antar kecerahan layar tampilan dan kecerahan yang

ada di depan pengguna.


Hindari cahaya menyilaukan, langsung/tak langsung, yang mengenai

layar.
Pastikan bahwa ada cahaya cukup untuk pekerjaan yang tidak
menggunakan layar tampilan.

3. Aspek Suhu dan Udara


Kenyamanan udara (thermal comfort) adalah kondisi dimana manusia
merasa tidak kepanasan atau kedinginan pada saat dia hanya mengenakan pakaian
biasa. Kenyamanan udara ini dapat diperoleh dengan mengatur kelembaban, suhu,
dan aliran udara.

Ukuran kenyamanan udara (ASHRAE Standard 55)


a. Kecepatan aliran udara : 0.15 m/s.
b. Kelembaban relatif sebesar : 50% baik musin dingin/panas.
c. Suhu pada musim dingin : 23 - 26 C.

d. Suhu pada musim panas : 20 - 23.5 C.


4. Aspek Gangguan Suara
a. Suara dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena :
- Suara-suara tertentu bisa mempengaruhi konsentrasi seseorang.
- Hilangnya konsentrasi menyebabkan turunnya kinerja seseorang.
b. Cara pengendalian gangguan suara.
- Pasang panel kedap suara.
- Buat active noise controller.
- Berikan pengertian ke sesama teman kerja tentang jenis musik dan
tingkat volume suara dari audio sistem yang sedang diaktifkan.
Tujuan Ergonomi
Secara umum penerapan ergonomi terdiri dari banyak tujuan. berikut ini
tujuan dalam penerapan ergonomi:
1.

Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan


cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak


sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan
sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak
produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan
antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta
kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. (Tarwaka. dkk, 2004).
Definisi dan Ruang Lingkup Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan
elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan
teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat

dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk


rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja,
agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan
keterbatasan manusia (International Ergonomic Assosiation, 2002) Spesialisasi
bidang ergonomi meliputi: ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi sosial,
ergonomi organisasi, ergonomi lingkungan dan faktor lain yang sesuai.
Evaluasi ergonomi merupakan studi tentang penerapan ergonomi dalam
suatu sistem kerja yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
penerapan ergonomi, sehingga didapatkan suatu rancangan keergonomikan yang
terbaik.
Adapun isi ruang lingkup bidang ergonomi meliputi:
a.

Ergonomi

Fisik

berkaitan

dengan

anatomi

tubuh

manusia,

anthropometri, karakteristik fisiolgi dan biomekanika yang berhubungan


dengan aktifitas fisik. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik
antara lain: postur kerja, pemindahan material, gerakan berulan-ulang,
sumber daya manusia (SDM), tata letak tempat kerja, keselamatan dan
kesehatan.
b. Ergonomi Kognitif: berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di
dalamnya; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi
manusia terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan
dalam ergonomi kognitif antara lain; beban kerja, pengambilan keputusan,
performance, human-computer interaction, kehandalan manusia, dan stress
kerja.
c. Ergonomi Organisasi: berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik,
termasuk sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang
relevan dalam ergonomi organisasi antara lain; komunikasi, manajemen
sumber daya manusia (MSDM), perancangan kerja, perancangan waktu
kerja, teamwork, perancangan partisipasi, komunitas ergonomi, cultur
organisasi, dan organisasi virtual.
d. Ergonomi Lingkungan: berkaitan dengan pencahayaan, temperatur,
kebisingan, dan getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi
lingkungan antara lain; perancangan ruang kerja, sistem akustik dan lainlain.

Faktor-Faktor Risiko Ergonomi


Faktor-faktor Risiko ergonomi adalah unsur-unsur tempat kerja yang
berhubungan dengan ketidak nyamanan yang dialami pekerja saat bekerja, dan
jika diabaikan, lama-lama bisa menambah kerusakan pada tubuh pekerja
diakibatkan kecelakaan.
Faktor resiko yang terpenting dari pengabaian faktor ergonomi dalam
tempat kerja adalah MSDs (musculoskeletal disorders). MSDs ini memungkinkan
timbul dalam waktu yang cukup lama (adanya kumulatif resiko).
Menurut UCLA-LOSH (bagian K3 UCLA), ada beberapa faktor risiko
yang berhubungan dengan ergonomi, seperti dibawah ini :
1. Pengaturan kerja yang buruk (Poor Work Organization) : Aspek-aspek
diamana suatu pekerjaan diorganisasikan dengan buruk. Sebagai contoh
tugas yang membosankan, pekerjaan menggunakan mesin, jeda kerja yang
kurang, batas waktu yang banyak. Beban kerja yang proporsional, jeda
kerja yang cukup, penugasan yang bervariasi, otonomi individual.
2. Pengulangan Berkelanjutan (Continual Repetition) : Melakukan gerakan
yang sama secara terus menerus. Mendisain ulang pekerjaan sehingga
jumlah pergerakan yang berulang dapat berkurang, perputaran pekerjaan.
3. Gaya Berlebih (Excessive Force) : Pergerakan tubuh dengan penuh tenaga,
usaha fisik yang berlebih-menarik, memukul, dan mendorong. Kurangi
gaya dalam menyelesaikan pekerjaan, disain ulang pekerjaan, tambah
pekerja, gunakan bantuan mesin.
4. Postur Janggal (Awkward Posture) : Meperpanjang pencapaian dengan
tangan, twisting, berlutut, jongkok. Postur janggal lawan dari posisi netral.
Disain pekerjaan dan peralatan yang dapat menjaga posisi netral. Posisi
netral tidak semestinya memberikan tekanan pada otot, tulang sendi,
maupun syaraf.
5. Posisi Tidak Bergerak (Stationary Positions): Terlalu lama diam dalam
satu posisi, menyebabkan kontraksi otot dan lelah. Disain pekerjaan untuk
menghindari posisi tidak bergerak; berikan kesempatan untuk merubah
posisi.
6. Tekanan Langsung Berlebih (Excessive Direct Pressure) :Tubuh kontak
langsung dengan permukaan keras atau ujung benda, seperti ujung meja

atau alat. Hindari tubuh berpijak pada permukaan yang keras seperti meja
dan kursi. Perbaharui peralatan atau sediakan bantalan; seperti pulpen
ergonomis, keset untuk berdiri.
7. Pencahayaan yang inadekuat (Inadequate Lighting) : Sumber atau level
dari pencahayaan yang terlalu terang atau gelap. Setel pencahayaan yang
pas, hindari pencahayaan langsung dan tak langsung yang dapat
mengakibatkan kerusakan mata. Gunakan sekat cahaya silau, tirai untuk
jendela.
Sedangkan menurut WHO, faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan
ergonomi yang juga kerap menimbulkan MSDs (Musculoskeletal Disorders)
sebagai berikut:
1. Exertion of high-intensity force (Keram otot) : Mengangkat, Membawa,
mendorong, menarik objek yang berat. Hindari penanganan manual atas
objek yang berat.
2. Handling heavy loads over long periods of time (Penyakit degenerative
khususnya pada lumbar tulang belakang) : Mengenakan alat-alat berat
secara manual. Solusinya kurangi masa beban dan jumlah penanganan
setiap harinya.
3. Frequently repeated manipulation of object (Lelah dan perubahan struktur
otot) : Mengetik terlalu lama dan sousinya kurangi frequensi pengulangan.
4. Working in unfavorable posture (Gangguan pada tulang dan unsur-unsur
otot). Bekerja sambil jongkok, atau tangan diatas bahu. Solusinya bekerja
dengan tubuh yang tegak dan tangan dekat dengan tubuh.
5. Static muscular load (Aktivitas otot yang tiada jeda dan memungkinkan
overload) : Bekerja di confined space dan solusinya relaksasi otot.
6. Muscular inactivity (Hilang kapasitas fungsional otot, tendon, tendon, dab
tulang) : Duduk lama tanpa adanya pergerakan dan solusinya sesekali
berdiri, peregangan otot, olahraga.
7. Monotonous repetitive manipulations (Keluhan tidak spesifik pada bagian
ekstremitas atas) : Pekerjaan berulang pada otot yang sama tanpa adanya
relaksasi dan solusinya jeda aktivitas dan kerja.
8. Application of vibration (Disfungsi sistem syaraf, menghambat aliran
darah, penyakit degenerative) : Menggunakan hand-tool, duduk diatas
kendaraan yang bergetar dan solusinya gunakan alat serta tempat duduk
yang meredam getaran.

9. Physical environmental factor (Interaksi dengan beban mesin serta


penambahan resiko) : Mengangkat es batu dengan tangan terbuka dan
solusinya menggunakan sarung tangan.
10. Psychosocial factors (Peningkatan tegangan fisik, meningkat pada ketidak
hadiran dalam bekerja) : Penentuan keputusan yang rendah dalam bekerja,
dukungan sosial yang rendah solusinya rotasi kerja, motivasi kerja,
pengurangan faktor negative dalam sosial
Secara garis besar, faktor-faktor ergonomi yang menyebabkan resiko MSDs
dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Repetitive Motion
Repetitive Motion atau melakukan gerakan yang sama berulang-ulang.
Resiko yang timbul bergantung dari berapa kali aktivitas tersebut dilakukan,
kecepatan dalam pergerakan/perpindahan, dan banyaknya otot yang terlibat
dalam kerja tersebut. Gerakan yang berulang-ulang ini akan menimbulkan
ketegangan pada syaraf dan otot yang berakumulatif. Dampak resiko ini akan
semakin meningkat apabila dilakukan dengan postur/posisi yang kaku dan
penggunaan usaha yang terlalu besar.
b. Awkward Postures
Sikap tubuh sangat menentukan sekali pada tekanan yang diterima otot
pada saat aktivitas dilakukan. Awkward postures meliputi reaching, twisting,
bending, kneeling, squatting, working overhead dengan tangan mauoun lengan,
dan menahan benda dengan posisi yang tetap. Sebagi contoh terdapat
tekanan/ketengan yang berlebih pada bagian low back seperti aktivitas
mengangkat benda yang dilakukan pada gambar.
c. Contact stresses
Tekanan pada bagian tubuh yang diakibatkan karena sisi tepi atau ujung
dari benda yang berkontak langsung. Hal ini dapat menghambat fungsi kerja
syaraf maupun aliran darah. Sebagai contoh kontak yang berulang-ulang
dengan sisi yang keras/tajam pada meja secara kontinu.
d. Vibration
Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh
kontak dengan benda yang bergetar seperti menggunakan power handtool dan
pengoperasian forklift mengangkat beban.

e. Forceful exertions (termasuk lifting, pushing, pulling)


Force adalah jumlah usaha fisik yang digunakan untuk melakukan
pekerjaan seperti mengangkat benda berat. Jumlah tenaga bergantung pada tipe
pegangan yang digunakan, berat obyek, durasi aktivitas, postur tubuh dan jenis
dari aktivitasnya.
f. Duration
Durasi menunjukkan jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan
suatu pekerjaan. Semakin lama durasinya dalam melakukan pekerjaan yang
sama akan semakin tinggi resiko yang diterima dan semakin lama juga waktu
yang diperlukan untuk pemulihan tenaganya.
g. Static Posture
Pada waktu diam, dimana pergerakan yang tak berguna terlihat,
pengerutan supplai darah, darah tidak mengalir baik ke otot. Berbeda halnya,
dengan kondisi yang dinamis, suplai darah segar terus tersedia untuk
menghilangkan hasil buangan melalui kontraksi dan relaksasi otot.
Pekerjaan kondisi diam yang lama mengharuskan otot untuk menyuplai
oksigen dan nutrisi sendiri, dan hasil buangan tidak dihilangkan. Penumpukan
Local hypoxia dan asam latic meningkatkan kekusutan otot, dengan dampak
sakit dan letih (grandjean, 1980)
Contoh dari ganguan statik termasuk didalamnya: meningkatkan bahu
untuk periode yang lama, menggenggam benda dengan lengan mendorong dan
memutar benda berat, berdiri di tempat yang sama dalam waktu yang lama dan
memiringkan kepala kedepan dalam waktu yang lama.
Diperkirakan semua pekerjaan itu dapat di atur dalam beberapa jam per
hari tanpa gejala keletihan dalam jika menggunakan gaya yang besar tidak
boleh melebihi 8 % dari maksimum gaya otot (Graendjean, 1980)
h. Physical Environment; Temperature & Lighting
Pajanan pada udara dingin, aliran udara, peralatan sirkulasi udara dan alatalat pendingin dapat mengurangi keterampilan tangan dan merusak daya
sentuh. penggunaan otot yang berlebihan untuk memegang alat kerja dapat
menurunkan resiko ergonomik. tekanan udara panas dari panas, lingkungan
yang lembab dapat menurunkan seluruh tegangan fisik tubuh dan akibat di
dalam panas kelelahan dan heat stroke. Begitu juga dengan pencahayaan yang
inadekuat dapat merusak salah satu fungsi organ tubuh, seperti halnya
pekerjaan

menjahit

yang

didukung

oleh

pencahayaan

yang

lemah

mengakibatkan suatu tekanan pada mata yang lama-lama membuat keruasakan


yang bisa fatal.
i. Other Conditio
Kekurangan kebebasan dalam bergerak adalah dipertimbangkan sebagai
faktor resiko, ketika pekerjaan operator dengan sepenuhnya telah di perintah
oleh orang lain. kandungan kerja dan pengetahuan dipertimbangkan faktor
resiko yang lain, ketiha operator hanya melakukan satu tugas dan tidak
memeliki kesempatan untuk belajar satu macam kemampuan ataun tugas.
Faktor tambahan dimasukkan organisasi asfek sosial, tidak dikontrol
gangguan, ruang kerja, beratnya bagian kerja, dan sift kerja.

Resiko Karena Kesalahan Ergonomi


Sering dijumpai pada sebuah industri terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan
kerja tersebut disebabkan oleh faktor dari pekerja sendiri atau dari pihak
menajemen perusahaan. Kecelakaan yang disebabkan oleh pihak pekerja sendiri,
karena pekerja tidak hati-hati atau mereka tidak mengindahkan peraturan kerja
yang telah dibuat oleh pihak manajemen. Sedangkan faktor penyebab yang
ditimbulkan dari pihak manajemen, biasanya tidak adanya alat-alat keselamatan
kerja atau bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak manajemen masih belum
mempertimbangkan segi ergonominya. Misalnya pekerjaan mengangkat benda
kerja di atas 50 Kg tanpa menggunakan alat bantu. Kondisi ini bisa menimbulkan
cidera pada pekerja.Untuk menghindari cedera, pertama-tama yang dapat
dilakukan adalah mengidentifikasi resiko yang bisa terjadi akibat cara kerja yang
salah. Setelah jenis pekerjaan tersebut diidentifikasi, maka langkah selanjutnya
adalah menghilangkan cara kerja yang bisa mengakibatkan cidera.
Faktor Resiko Definisi Jalan Keluar
Pengulangan yang banyak Menjalankan gerakan yang sama berulangulang
Desain kembali cara kerja untuk mengurangi jumlah pengulangan gerakan atau
meningkatkan waktu jeda antara ulangan, atau menggilirnya dengan pekerjaan
lain. Tekanan Tubuh tertekan pada suatu permukaan atau tepian Memperbaiki
peralatan yang ada untuk menghilangkan tekanan, atau memberikan bantalan.

Antropometri
Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata antropos yang artinya manusiadan metri
yang berarti ukuran. Jadi antropometri diartikan sebagai suatu ilmu yang secara
khusus berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang digunakan untuk
menentukan perbedaan pada individu, kelompok, dan sebagainya.
Antropometri menurut Stevenson ( 1989 ) dan Nurmianto ( 1991 ) adalah
suatu kumpulan data secara numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik
tubuh manusia ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut
untuk penanganan masalah desain. Penerapan data antropometri ini akan dapat
dilakukan jika tersedia nilai mean ( rata-rata) dan standar deviasinya dari satu
distribusi normal.
Antropometri mengkaji masalah tubuh manusia. Informasi ini diperlukan
untuk merancang suatu sistem kerja agar menunjang kemudahan pemakaian,
keamanan dan kenyamanan dari suatu pekerjaan, sehingga antropometri dapat
juga diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan
fungsi tubuh ( termasuk bentuk dan ukuran tubuh) dengan disain alat-alat yang
digunakan manusia.
Antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri,
perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut,
data statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk
menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari,
nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam
distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan
membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometri.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Variasi Data Antropometri
Manusia pada umumnya berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi
ukuran tubuhnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia,

yaitu:
1. Umur/Usia
Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20
tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi
pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan
menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan. Manusia
dapat digolongkan atas beberapa kelompok usia yaitu :
a. Balita Anak-anak
b. Remaja
c. Dewasa, dan
d. Lanjut usia.
2. Jenis kelamin (sex)
Pada umumnya dimensi pria dan wanita ada perbedaan yang
signifikan diantara rata-rata dan nilai perbedaan ini tidak dapat diabaikan
begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya
daripada wanita. Oleh karenanya data antropometri sangat diperlukan
dalam perancangan sebuah alat atau produk. Secara umum pria memiliki
dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan pinggul.
3. Suku bangsa (etnik), Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik tertentu
akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya.
4. Sosio ekonomi, Tingkat sosio ekonomi sangat mempengaruhi dimensi
tubuh manusia. Pada negara-negara maju dengan tingkat sosio ekonomi
tinggi, penduduknya mempunyai dimensi tubuh yang besar dibandingkan
dengan negara-negara berkembang.
5. Posisi tubuh (posture), Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh
terhadap ukuran tubuh.
oleh karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei
pengukuran.
Alat-Alat Ukur Antropometri (Antropometer)

Dalam pengukuran antropometri digunakan Beberapa alat, diantara alat-alat


tersebut adalah sebagai berikut
1. Goniometer ini dipakai untuk mengukur lekukan-lekukan tubuh manusia.

Gambar 2.1 Goniometer


2. Kursi antropometri dipakai untuk mengukur data-data antropometri
manusia dalam posisi duduk. Data yang diperoleh biasanya dipakai untuk
merancang kursi dan ketinggian meja kerja serta untuk perancangan
fasilitas kerja yang berhubungan dengan manusia pemakainya. Orang yang
akan diukur data antropometrinya harus duduk di kursi ini.

Gambar 2.2 Kursi Antropometri

3. Terdapat tiga kelas pengukuran antropometri dinamis, yaitu


(1) Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti
keadaan mekanis dari suatu aktifitas, contohnya mempelajari performasi
seseorang,
(2) Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja dan
(3) Pengukuran variabilitas kerja.

Gambar 2.3 Jenis-jenis antropometer

Secara umum deskripsi dari pengukuran data antropometrik terdiri dari


setidaknya tiga buah tipe terminology dasar yaitu :
1. Locator yang mengidentifikasikan suatu titik atau daerah dari tubuh yang
menjadi dasar pengukuran titik atau bidang.
2. Orientator yang mengidentifikasikan arah atau tujuan dari suatu dimensi
tubuh.
3. Potensioner yang menandakan asumsi dari posisi tubuh subyek dalam
pengukuran, seperti posisi duduk. Data Antropometri data antropometri
adalah data mengenai ukuran dimensi tubuh manusia.
Data antropometri diperoleh dari pengukuran bagian tubuh manusia, jenisjenis pengukuran tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.4 Ukuran Tubuh Manusia pada Pengukuran Antropometri


Dimensi tubuh manusia untuk perancangan produk terdiri dari dua jenis,
yaitu struktural dan fungsional. Dimensi tubuh struktural yaitu pengukuran tubuh
manusia dalam keadaan tidak bergerak. Sedangkan dimensi tubuh fungsional
adalah pengukuran tubuh manusia dalam keadaan bergerak. Secara umum data
antropometri yang sering digunakan untuk merancang produk dan stasiun kerja
adalah :
Antropometri Struktural
Pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada permukaan tubuh.
Ada beberapa metode pengukuran tertentu agar hasilnya representative. Disebut
juga pengukuran dimensi struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai
posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang
diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam
posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat
berdiri atau duduk, panjang lengan, dan sebagainya. Antropometri struktural ini
diantaranya: tinggi selangkang, tinggi siku, tinggi mata, rentang bahu, tinggi
pertengahan pundak pada posisi duduk, jarak pantat-ibu jari kaki, dan tinggi mata
pada posisi duduk
Antropometri Fungsional

Antropometri fungsional adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik


manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang
mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya. Hasil yang
diperoleh merupakan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan
gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatankegiatan tertentu. Antropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang
dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas.
Persentil
Persentil adalah suatu nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari
orang yang memiliki ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh,
persentil ke-95 akan menunjukkan 95% populasi akan berada pada atau dibawah
ukuran tersebut, sedangkan persentil ke-5 akan menunjukkan 5% populasi akan
berada pada atau dibawah ukuran itu. Dalam antropometri, angka persentil ke-95
akan menggambarkan ukuran manusia yang terbesar dan persentil ke-5
sebaliknya akan menunjukkan ukuran terkecil. Bilamana diharapkan ukuran
yang mampu mengakomodasikan 95% dari populasi yang ada, maka diambil
rentang 2.5-th dan 97.5-th persentil sebagai batas-batasnya. Pemakaian nilai-nilai
persentil yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data antropometri ada pada
tabel berikut.
Prinsip Prinsip Penerapan Data Antropometri
Prinsip prinsip penerapan data antropometri adalah :
1. Prinsip perancangan bagi individu dengan ukuran ekstrim.
Berdasarkan prinsip ini, rancangan yang dibuat bisa digunakan
oleh individu ekstrim yaitu terlalu besar atau kecil dibandingkan dengan
rata- ratanya agar memenuhi sasaran, maka digunakan persentil besar
(90th, 95th atau 99th percentile) atau persentil kecil (1st, 5h atau 10th
percentile)
2. Prinsip perancangan yang bisa disesuaikan.
Disini, rancangan bisa diubahubah ukurannya sehingga cukup
fleksibel untuk diaplikasikan pada berbagai ukuran tubuh (berbagai
populasi). Dengan menggunakan prinsip ini maka kita dapat merancang

produk yang dapat disesuaikan dengan keinginan konsumen. Misalnya


kursi pengemudi pada kendaraan.
3. Prinsip perancangan dengan ukuran ratarata.
Rancangan didasarkan atas ratarata ukuran manusia. Prinsip ini
dipakai jika peralatan yang didisain harus dapat dipkai untuk berbagai
ukuran tubuh manusia. Disain dengan prinsip ini dapat dikatakan
perancangan dengan persentil 50. Masalahnya adalah bahwa dapat
dikatakan sangat sedikit atau tidak ada yang namanya individu rata rata
sehingga perancangan berdasarkan prinsip ini memerlukan kajian yang
lebih mendalam lagi. Perancangan berdasarkan ukuran rata-rata dapat
menggunakan data persentil 95-th untuk ,mendsain peralatan dengan
ukuran maksimum. Sedangkan untuk ukuran minimum digunakan data
persenti kecil dari persentil 10-th.
Penggunaan Data Antropometri
Sebelum membahas lebih jauh mengenai penggunaan data ini maka ada
baiknya kita bahas istilah The fallacy of the average man or average woman.
Istilah ini mengatakan bahwa merupakan suatu kesalahan dalam
perancangan suatu tempat kamar mandi jika berdasar pada dimensi yang hipotesis
yaitu menganggap bahwa semua dimensi adalah merupakan rata-rata. Walaupun
hanya dalam penggunaan satu dimensi saja, seperti misalnya jangkauan kedepan
(forward reach), maka penggunaan rata-rata (50 persentil) dalam penyesuaian
pemasangan suatu tempat peralatan mandi akan menghasilkan bahwa 50 %
populasi akan tidak mampu menjangkaunya. Selain dari itu, jika seseorang
mempunyai dimensi pada rata-rata populasi, katakanlah tinggi badan, maka,
belum tentu , bahwa dia berada pada rata-rata populasi untuk dimensi lainnya.
Adapun pendekatan dalam penggunaan data antropometri diatas adalah
sebagai berikut:
a. Pilihlah standar deviasi yang sesuai untuk perancangan yang dimaksud..
b. Carilah data pada rata-rata dan distribusi dari dimensi yang dimaksud
untuk populasi yang sesuai.
c. Pilihlah nilai persentil yang sesuai sebagai dasar perancangan.

Tujuan, Manfaat, dan Ruang Lingkup Ergonomic


Pelaksanaan dan penerapan ergonomic di tempat kerja dimulai dari yang
sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan yang ergonomis
akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat
menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban
kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan
meningkatkan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kontak

sesama

pekerja,

pengorganisasian

yang

lebih

baik

dan

menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja.


3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik,
ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan
meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Manfaat pelaksanaan ergonomi adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja.
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
1. Tehnik

2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan
otot dan persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up
take, pols, dan aktivitas otot.
8. Desain
Konsep Keseimbangan Ergonomi
Sudut pandang ergonomi menjelaskan antara tuntutan tugas dan kapasitas
kerja harus selalu dalam garis keseimbangan sehingga dicapai performa kerja
yang tinggi. Hal ini menunjukan tuntutan tugas pekerjaan tidak boleh terlalu
rendah (underload), dan juga tidak boleh terlalu berlebihan (overload) karena
keduanya akan menyebabkan stres (Tarwaka, 2004).
Konsep keseimbangan antara kapasitas kerja dan tuntutan tugas dapat
diilustrasikan seperti pada gambar berikut (Manuaba, 2000).

TASK DEMAND

PERFORMANCE
Quality
Fatigue
Discomfort
Injury
Stress
Accident
Diseases
Productivity

WORK CAPACITY

Gambar 2. Konsep Keseimbangan Ergonomi


Sumber: Manuaba, 2000
A. Work Capacity (Kemampuan Kerja)
Kemampuan seseorang sangat ditentukan oleh:
1) Personal Capacity (Kapasitas Pribadi), meliputi faktor usia, jenis kelamin,
antropometri,

pendidikan,

pengalaman,

status

sosial,

agama

dan

kepercayaan, riwayat kesehatan dan kebugaran tubuh, dsb.


2) Physiological Capacity (Kapasitas Fisiologis), meliputi kemampuan dan
daya tahan kardiovaskuler, saraf otot, pancaindera, dsb.
3) Psycological Capacity(Kapasitas Psikologis), kemampuan psikologi
berhubungan dengan mental, reaksi, adaptasi, stabilitas emosi, dsb.
4) Biomekanikal Capacity(Kapasitas Biomekanik), kemampuan dan daya
tahan sendi dan persendian, tendon, dan jaringan tulang.
B. Task Demand(Permintaan/Tuntutan Tugas)
1) Task and Material Characteristic(Karakteristik Tugas dan Material),
ditentukan oleh peralatan dan tipe mesin, kecepatan dan irama kerja, dsb
2) Organizational Characteristics (Karakteristik Organisasi), meliputi jam
kerja dan istirahat, kerja malam dan bergilir, cuti dan libur, manajemen,
3)

dsb.
Environmental Characteristics(Karakteristik Lingkungan), berkaitan
dengan manusia dan tuntutan tugas, suhu dan kelembaban, bising dan
getaran, penerangan/pencahayaan, sosial budaya, tabu, norma, adat dan

kebiasaan, bahan-bahan pencemaran, dsb.


C. Performance
Performa atau aksi seseorang sangat tergantung pada rasio dan besarnya
tuntutan tugas dengan kemampuan orang tersebut.
1) Tuntutan tugas > kemampuan/kapasitas Kerja, terjadi

overstress

(ketidaknyamanan). Hal yang bisa terjadi adalah kelelahan, kecelakaan,


cedera, sakit dan tidak produktif.
2) Tuntutan
tugas
<kemampuan/kapasitas

kerja

personal,

terjadi understress (kebosanan, kejenuhan, kelesuan, sakit, tak produktif)

3) Agar aksi menjadi optimal, maka perlu adanya keseimbangan dinamis.


Tuntutan tugas= kemampuan, untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja
sehat, kondusif, aman, nyaman, produktif.
1. Dasar Teori
Antropometri berasal dari bahasa Yunani yaitu Anthrospos yang berarti
manusia dan Metricos yang berarti pengukuran. Antropometri merupakan
pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi
tubuh. Antropometri merupakan salah satu bagian yang menunjang ergonomi,
khususnya dalam perancangan suatu peralatan berdasarkan prinsip-prinsip
ergonomi. Menurut Stevenson (Nurmianto, 2000), antropometri adalah satu
kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh
manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan data tersebut untuk
penanganan desain.
Data antropometri dapat digunakan dalam perancangan suatu sistem kerja
yang sasarannya adalah sistem kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien
(ENASE).
2. Jenis Jenis Data Antropometri
Antropometri dapat dibagi atas dua berdasarkan posisi tubuh pada saat
pengukuran
bagian yaitu :
a. Antropometri Statis
Antropometri statis adalah pengukuran tubuh manusia pada posisi diam.
Contohnya pengukuran tinggi duduk tegak, tinggi duduk normal, tebal
paha, tinggi sandaran punggung, tinggi pinggang, tinggi popliteal dan lainlain.
b. Antropometri Dinamis
Antropometri dinamis adalah pengukuran yang dilakukan terhadap posisi
tubuh pada saat melakukan gerakan-gerakan yang berkaitan dengan
pekerjaan yang dilakukannya. Tujuannya adalah mendapatkan ukuran
tubuh yang nantinya berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata dalam

melakukan suatu pekerjaan. Contohnya pengukuran putaran lengan,


putaran telapak tangan, dan sudut telapak kaki
3. Faktor yang Mempengaruhi Data Antropometri
Ada beberapa faktor yang membedakan antara populasi satu dengan yang lainnya,
yaitu (Nurmianto, 1996) :
a. Jenis Kelamin
Terdapat perbedaan yang signifikan antara tubuh pria dan wanita. Antara
pria dan wanita terdapat perbedaan dimensi tubuh, umumnya dimensi
tubuh pria lebih besar kecuali pada bagian dada dan pinggul. Ini
menyebabkan data antropometri untuk kedua jenis kelamin terpisah.
b. Umur
Dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok yaitu :
Balita
Anak-anak
Remaja
Dewasa
Lanjut usia
Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir hingga sekitar usia
20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang
setelah 60 tahun.
c. Suku Bangsa
Suku bangsa juga mempengaruhi dimensi tubuh manusia. Orang Eropa
dan Amerika memiliki dimensi tubuh yang lebih besar bila dibandingkan
dengan dimensi tubuh orang Jepang dan Asia Tenggara.
d. Pakaian
Hal ini merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya
iklim/ musim yang berbeda dari satu tempat ketempat lain terutama untuk
daerah dengan empat musim. Misalnya pada waktu dingin, manusia akan
memakai pakaian yang relatif tebal dan ukuran yang relatif besar.
e. Pekerjaan (aktivitas sehari-hari)
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam
seleksi karyawan ataupun stafnya. Contoh : orang yang rutin bermain
basket cenderung lebih tinggi.
f. Faktor kehamilan pada wanita

Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti
dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil, terutama dalam analisis
perancangan produk dan analisis perancangan kerja.
g. Cacat Tubuh secara fisik
Cacat tubuh mempengaruhi suatu data antropometri, tubuh yang cacat
dapat mempengaruhi dimensi tubuh tersebut.
h. Keacakan / Random
Perbedaan distribusi secara statistik dari dimensi kelompok anggota
masyarakat dapat dipresentasikan dengan dengan distibusi normal, dan
menggunakan persentil yang dapat diduga jika rata-rata dan standar
deviasi diketahui.
Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan maka ada
beberapa rekomendasi yang diberikan untuk tahapan-tahapan dalam penggunaan
data tersebut (Wickens, 1997) :

Tentukan populasi atau target pengguna yang akan menggunakan produk

hasil rancangan tersebut.


Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam rancangan tersebut.
Tentukan prinsip rancangan yang digunakan, individu ekstrim, rata-rata

atau yang dapat disesuaikan.


Tentukan nilai persentil yang digunakan dalam perancangan tersebut.
Tetapkan nilai dari tabel antropometri yang sesuai dengan langkah-langkah

diatas.
Lakukan pengujian hasil rancangan.

4. Aplikasi Data Antropometri Dalam Perancangan


Agar data yang didapat bisa digunakan dalam perancangan nantinya, maka
terdapat 3 prinsip umum dalam menggunakan data Antropometri dalam proses
perancangan, yaitu (Wignjosoebroto, 2000) :
a. Perancangan untuk individu ekstrim
Idealnya dalam setiap perancangan, hal utama yang patut menjadi
perhatian adalah agar rancangan tersebut dapat digunakan oleh sebagian

besar populasi yang akan digunakan. Akan tetapi karena begitu besarnya
variasi dimensi tubuh manusia, akan sangat sulit untuk dapat
mengakomodasi kebutuhan seluruh populasi. Karena itulah digunakan
prinsip maksimum atau minimum (ekstrim) dalam perancangan.
Perancangan untuk nilai populasi maksimum adalah keputusan yang tepat
jika dapat mengakomodasikan semua orang, misalnya tinggi pintu.
Sebaliknya untuk perancangan dengan populasi minimum, contohnya
jarak tombol pengendali dari operator dan kekuatan yang dibutuhkan
untuk mengoperasikan tombol. Keterbatasan dari konsep perancangan ini
adalah bahwa ada sebagian kecil populasi yang tidak terakomodasi oleh
rancangan yang dibuat.
b. Perancangan fasilitas yang dapat disesuaikan
Beberapa segi/bagian tertentu dari peralatan atau fasilitas dapat dirancang
sehingga dapat disesuaikan dengan individu yang memakainya. Contohnya
adalah kursi mobil, kursi kantor dan lain-lain. Meskipun konsep
perancangan seperti ini sangat dianjurkan, seringkali dalam hal teknis
maupun

biaya

sulit

untuk

membuat

rancangan

yang

mampu

mengakomodasi rentang nilai populasi mulai dari persentil 5 hingga


persentil 95.
c. 3. Perancangan berdasarkan nilai rata-rata
Prinsip ini hanya digunakan apabila prinsip berdasarkan individu ekstrim
tidak mungkin dilakukan, dan tidak praktis untuk merancang dengan
prinsip penyesuaian. Perancangan ini sebaiknya hanya dilakukan untuk
peralatan atau fasilitas yang tidak kritis atau membahayakan baik dalam
jangka waktu pendek ataupun panjang.
1.

Antropometri Dinamis

Antropometri dinamis adalah ukuran tubuh atau karakteristik tubuh dalam


keadaan bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi
saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatan.
Contoh: Putaran sudut tangan, sudut putaran pergelangan kaki.
Data Antopometri
Data antropometri adalah data-data dari hasil pengukuran yang digunakan
sebagai data untuk perancangan peralatan. Mengingat bahwa keadaan dan ciri
dapat membedakan satu dengan yang lainnya, maka dalam perancangan yang

digunakan data antropometri terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu
(Wignjosoebroto, 2003):
1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim (minimum
atau maksimum)
Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan agar fasilitas
yang akan di rancang tersebut dapat di pakai dengan enak dan nyaman
oleh sebagian besar orang-orang yang akan memakainya. Contohnya:
Ketinggian kontrol maksimum digunakan tinggi jangkauan keatas dari
orang pendek, ketinggian pintu di sesuaikan dengan orang yang tinggi
dan lain-lain.
2. Prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan.
Prinsip digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas
tersebut dapat menampung atau bisa dipakai dengan enak dan nyaman
oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Biasanya rancangan
ini memerlukan biaya lebih mahal tetapi memiliki fungsi yang lebih
tinggi. Contohnya: Kursi kemudi yang bisa di atur maju-mundur dan
kemiringan sandarannya, tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan
mejanya.

3. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan harga rata rata para pemakainya.


Prinsip ini hanya di gunakan apabila perancangan berdasarkan
harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika
menggunakan prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip
berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bila lebih banyak
rugi dari pada untungnya, ini berarti hanya sebagian kecil dari orang-orang
yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut.
Kenyataan menunjukan bahwa terdapat perbedaan atribut/ukuran fisik
antara satu manusia dengan manusia yang lain. Perbedaan antara satu populasi

dengan populasi yang lain dikarenakan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi


data antropometri, yaitu :
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Ras dan suku bangsa
d. Jenis pekerjaan
Dalam rangka untuk mendapatkan suatu rancangan yang optimum dari
suatu ruang dan fasilitas akomodasi maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah
faktor- seperti panjang dari suatu dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis
maupun dinamis selain itu juga harus didapatkan data-data yang sesuai dengan
tubuh manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika
diaplikasika pada data perorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah manusia
yang diukur dimensi tubuhnya, maka akan semakin kelihatan betapa besar
variansinya antara tubuh dengan tubuh lainnya baik secara keseluruhan tubuh
maupun segmennya.

Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas


Istilah

antropometri

berasal

dari anthro yang

berarti

manusia

dan metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan
sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia.
Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomi dalam
proses perancangan produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi
manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara
luas antara lain dalam hal, (Menurut Wignjosoebroto, 2003):

1. Perancangan area kerja (work station, mobile, interior, dll)


2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas dan
sebagainya
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, dan
sebagainya.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik
Jadi dapat disimpulkan bahwa data antropometri dapat menentukan
bentuk, ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan
manusia yang akan mengoperasikanya atau menggunakan produk tersebut. Dalam
kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi
dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut.
Secara umum sekurang-kurangnya 90%-95% dari populasi yang menjadi target
dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah dapat menggunakan produk
tersebut.
Untuk mendesain peralatan kerja secara ergonomi yang digunakan dalam
lingkungan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan
seharusnya disesuaikan dengan manusia di lingkungan tersebut. Apabila tidak
ergonomis akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi manusia tersebut.
Dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi dalam jangka waktu pendek
(short term) maupun jangka panjang (long term).

Prinsip Perancangan Produk Atau Fasilitas Dengan Ukuran Rata-Rata Data


Antropometri
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran
manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka
yang berbeda dalam ukuran rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki
ukuran ekstrim akan dibuatkan rencana tersendiri. Berkaitan dengan aplikasi data
antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas
kerja, maka ada beberapa sarana/ rekomendasi yang bisa diberikan sesuai
langkah-langkah sebagai berikut (Nurmianto, 2003):

1. Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh mana yang
nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rencana tersebut
2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut,
dalam hal ini perlu juga diperhatikan apakah harus menggunakan data
dimensi tubuh statis ataukah data dimensi tubuh dinamis
3. Selanjutnya

tentukan

populasi

terbesar

yang

harus

diantisipasi,

diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk


tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai segmentasi pasar seperti produk
mainan anak-anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dll.
4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan
tersebut untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang
fleksibel (adjustabel)ataukah ukuran rata-rata.
5. Pilih prosentase populasi yang harus diikuti 90th, 95th, 99th ataukah nilai
persentil yang lain yang dikehendaki
6. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya
pilih/tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai.
Aplikasikan

data

tersebut

dan

tambahkan

faktor

kelonggaran (allowance) bila diperlukan seperti halnya tambahan ukuan


akibat tebalnya pakaian yang harus dikenakan oleh operator, pemakaian
sarung tangan dan lain-lain.
Selanjutnya untuk menjelaskan mengenai data antopometri untuk bisa
diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka
gambar berikut akan memberikan informasi tentang berbagai macam anggota
tubuh yang perlu diukur.
1 = Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala)
2 = Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak
3 = Tinggi bahu posisi berdiri tegak
4 = Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)
5 = Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam dalam posisi berdiri

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

= Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari atas tempat duduk/pantat
sampai dengan kepala
= Tinggi mata dalam posisi duduk
= Tinggi bahu dalam posisi duduk
= Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)
= Tebal atau lebar paha
= Panjang paha yang diukur dari ujung pantat sampai dengan ujung lutut
= Panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang
dari lutut/betis
= Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk
= Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantaisampai dengan
paha
= Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)
= Lebar pinggang/pantat
= Lebar dari dada dalam keadaan membusung
= Lebar perut
= Panjang siku yang diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jarijari dalam posisi tegak
= Lebar kepala
= Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari
dalam posisi tegak
= Lebar telapak tangan
= Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping
= Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak,
= Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, tetapi posisi duduk
= Jarak tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari
Tangan
Data antropometri dibuat sesuai dengan ukuran tubuh laki-laki dan

perempuan, harga rata-rata, standard deviasi serta persentil tertentu


Macam-Macam Bahaya Fisik ditempat Kerja dan Dampaknya bagi Kesehatan
a.

Temperatur
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan temperatur luar adalah jika
perubahan temperatur luar tubuh tersebut tidak melebihi 20% untuk kondisi
panas dan 35% untuk kondisi dingin. Semua ini dari keadaan normal tubuh.
Dalam keadaan normal anggota tubuh manusia mempunyai temperatur berbedabeda, seperti bagian mulut sekitar 37C, dada sekitar 35C, dan kaki sekitar 28C.
Tubuh manusia dapat menyesuaikan diri karena memiliki
kemampuannya untuk melakukan proses konveksi, radiasi, dan penguapan jika
terjadi kekurangan atau kelebihan panas yang membebaninya. Menurut

penyelidikan untuk berbagai tingkat temperatur akan memberikan pengaruh yang


berbeda-beda seperti berikut
1

49C : Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh di atas

tingkat kemampuan fisik dan mental.


30C : Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan

3
4

cenderung untuk dalam pekerjaan, serta menimbulkan kelelahan fisik.


24C : Kondisi optimum.
10C : Kelakuan fisik yang ekstrim mulai muncul.
Dari suatu penelitian diperoleh hasil bahwa produktivitas kerja manusia

akan mencapai tingkat paling tinggi pada temperatur sekitar 24C sampai 27C.

b. Kelembaban (Humidity)
Yang dimaksud kelembaban di sini adalah banyaknya air yang terkandung
dalam udara (dinyatakan dalam %). Kelembaban ini dipengaruhi oleh temperatur
udara. Suatu keadaan dimana temperatur udara sangat panas dan kelembabannya
tinggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran,
karena sistim penguapan, dan pengaruh lain ialah makin cepatnya denyut jantung
karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
Tubuh manusia selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antara panas
tubuhnya dengan suhu disekitarnya.
c.

Sirkulasi Udara (Ventilation)


Seperti kita ketahui udara di sekitar kita mengandung sekitar 21% Oksigen,
0,03%

Karbondioksida

dan

0,9%

gas

lainnya

(campuran).

Oksigen

terutama merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama untuk
menjaga kelangsungan hidupnya (proses metabolisme). Udara di sekitar kita
dikatakan kotor bila kadar oksigen di udara telah berkurang dan bercampur
dengan gas-gas lain yang berbahaya bagi kesehatan. Jika kita menghirup udara
kotor kita akan marasa sesak dan akan lebih cepat merasa lelah. Sirkulasi udara
dengan memberikan ventilasi yang cukup akan menggantikan udara yang kotor

dengan udara yang bersih. Demikian juga dengan menaruh tanaman akan mampu
membantu memberi kebutuhan akan oksigen yang cukup.
d. Pencahayaan (Lighting)
Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat
obyek secara jelas dan cepat tanpa melakukan kesalahan. Pencahayaan yang
kurang mengakibatkan pekerja mudah lelah karena mata akan berusaha melihat
dengan cara membuka lebar-lebar. Lelahnya mata akan mengakibatkan pula
kelelahan mental dan lebih jauh bisa merusak mata. Kemampuan mata untuk
melihat objek dengan jelas akan ditentukan oleh ukuran objek, derajat kontras
antara objek dengan sekelilingnya, luminensi (brightness) serta lamanya waktu
untuk melihat objek tersebut.

Untuk menghindari silau (glare) karena letak dari sumber cahaya yang
kurang tepat, maka sebaiknya mata tidak secara langsung menerima cahaya dari
sumbernya akan tetapi cahaya tersebut harus mengenai objek yang akan dilihat
yang kemudian dipantulkan oleh objek tersebut ke mata kita.
e.

Kebisingan (Noise)
Kebisingan adalah bunyi-bunyian yang tidak dikehendaki oleh telinga kita,
karena dalam waktu panjang bunyi-bunyian tersebut dapat mengganggu
ketenangan kerja, merusak pendengaran dan dapat menimbulkan kesalahan
komunikasi. Ada 3 aspek yang menentukan kualitas bunyi yang bisa menentukan
kualitas bunyi yang bisa menentukan tingkat gangguan pada manusia yaitu:
a. Lama waktu bunyi tersebut terdengar.
b. Intentitas biasanya diukur dalam satuan desibel (dB) yang
menunjukan besarnya arus energi per satuan luas.
c. Frekuensi suara yang menunjukan jumlah dari gelombanggelombang suara yang sampai ke telinga kita setiap detik dinyatakan
dalam jumlah getaran per detik (Hz).

f. Getaran Mekanis (Mechanical Vibration)


Gerakan mekanis dapat diartiakn sebagai getaran-getaran yang ditimbulkan
oleh alat-alat mekanis yang sebagian dari getaran ini sampai ke tubuh dan dapat
menimbulkan akibat-akibat yang kurang baik untuk tubuh kita. Besarnya

getaran ini ditentukan oleh intensitas, frekuensi, getaran dan lamanya getaran itu
berlangsung. Sedangkan anggota tubuh manusia juga memiliki frekuensi
alami dimana apabila frekuensi ini beresonansi dengan frekuensi getaran akan
menimbulkan gangguan-gangguan antara lain :
a. Mempengaruhi konsentrasi kerja
b. Mempercepat datangnya kelelahan
c. Gangguan-gangguan pada anggota tubuh seperti : mata, syaraf, oto-otot.
g. Bau Bauan
Adanya bau-bauan yang dalam hal ini juga dipertimbangkan sebagai polusi
akan dapat mengganggu konsentrasi orang bekerja. Temperatur dan kelembaban
merupakan dua faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepekaan
penciuman. Oleh karena itu pemakaian Air Conditioning yang tepat merupakan
salah satu cara yang bisa digunakan untuk menghilangkan bau-bauan yang
mengganggu sekitar tempat kerja.
h. Warna
Yang dimaksud disini adalah warna tembok ruangan dan interior yang ada
disekitar tempat kerja. Warna ini selain berpengaruh terhadap kemampuan
mata untuk melihat objek, juga memberikan pengaruh yang lain seperti :
a.
b.
c.
d.
e.

Warna merah bersifat merangsang.


Warna kuning memberikan kesan luas, terang dan leluasa.
Warna hijau atau biru memberikan sejuk, aman dan menyegarkan.
Warna gelap memberikan kesan sempit.
Warna terang memberikan kesan leluasa.

Dengan adanya sifat-sifat itu maka pengaturan warna ruangan tempat kerja
perlu diperhatikan dalam arti harus disesuaikan dengan kegiatan kerjanya. Dalam
keadaan dimana ruangan terasa sempit maka pemilihan warna yang sesuai dapat
menghilangkan kesan tersebut. Hal ini secara psikologis akan menguntungkan
karena kesan sempit cenderung menimbulkan stres.
Pengertian Kelelahan (Fatigue)
Lelah adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar
dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah
kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu,
tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas

kerja serta ketahanan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kelelahan berperan
dalam menjaga homeostatis tubuh.
Kelelahan (fatigue) merupakan suatu kondisi suatu kondisi yang telah
dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan pada umumnya mengarah
pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun ini
bukan merupakan satu-satunya gejala.
Secara harafiah, fatigue dapat diartikan secara sederhana sama dengan
kelelahan yang sangat (deep tiredness), mirip stres, bersifat kumulatif. Bila
dikaitkan dengan pengalaman seperti apa sebenarnya fatigue itu, pengertiannya
menjadi bervariasi. Dari berbagai literatur, fatigue sering dihubungkan dengan
kondisi kurang tidur, kondisi akibat tidur yang terganggu, atau kebutuhan kuat
untuk tidur yang berhubungan dengan panjangnya waktu kerja, dan stres-stres
kerja (dan penerbangan) yang bervariasi.
Ahli lainnya sering mengkaitkan fatigue dengan perasaan lelah bersifat
subjektif, hilangnya perhatian bersifat temporer, dan menurunnya respon
psikomotor atau berhubungan dengan gejala-gejala yang dikaitkan dengan
menurunnya

efisiensi performance dan skill

atau,

berhubungan

dengan

menurunnya performance.
Fatigue juga kerap dikaitkan dengan kondisi non-patologis yang dapat
membuat kemampuan seseorang menurun dalam mempertahankan kinerja yang
berhubungan dengan stres fisik maupun mental atau, terganggunya siklus biologis
tubuh (jetlag).
Kelelahan kerja menurut Tarwaka (2004), merupakan suatu mekanisme
perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan
demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat.
Kelelahan adalah perpaduan dari wujud penurunan fungsi mental dan fisik
yang menghasilkan berkurangnya semangat kerja sehingga menagkibatkan
efektifitas dan efisiesni kerja menurun (Saito, 1999).
Menurut Kroemer 1997, kelelahan kerja merupakan gejala yang ditandai
dengan adanta persaan lelah dan kita merasa segan dan aktivitas akan melemah
serta ketidakseimbangan pada kondisi tubuh. Kelelahan mempengaruhi kapasitas
fisik, mental, dan Tingkat emosional seseorang, dimana dapat mengakibatkan

kurangnya kewaspadaan, yang ditandai dengan kemunduran reaksi pada sesuatu


dna berkurangnya kemampuan motorik ( Australia safety compensation council,
2006)
Jenis-jenis kelelahan ( fatigue )
Kelelahan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu berdasarkan :
1. Proses
a. Kelelahan otot ialah menurunnya kinerja sesudah mengalami stress tertentu
yang ditandai dengan menurunnya kekuatan dan kelambanan gerak.
b. Kelelahan umum, menurut Grandjean (1985) ialah suatu perasaan yang
menyebar yang disertai adanya penurunan kesiagaan dan kelambanan pada
setiap aktivitas. Perasaan adanya kelelahan secara umum ditandai dengan
berbagai kondisi antara lain :
a) Kelelahan visual, yaitu ketegangan yang terjadi pada organ visual
(mata).
b) Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan
mental atau intelektual (proses berpikir).
c) Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan
berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada
pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
d) Kelelahan monotonis, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas
kerja yang bersifat rutin, monoton, atau lingkungan kerja yang sangat
menjemukan.
e) Kelelahan kronis, yaitu yaitu kelelahan yang disebabkan olehakumulasi
efek jangka panjang.
f) Kelelahan sirkandian, yaitu bagian dari ritme siang-malam dan
memulai periode tidur yang baru. Pengaruh-pengaruh tersebut
terakumulasi di dalam tubuh manusia dan menimbulkan perasaan lelah
yang dapat menyebabkan seseorang berhenti bekerja (beraktifitas).
2. Waktu terjadinya kelelahan
a. Kelelahan akut, disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh organ tubuh
secara berlebihan dan datangnya secara tiba-tiba.

b. Kelelahan kronis, merupakan kelelahan yang terjadi sepanjang hari dalam


jangka waktu yang lama dan kadang-kadang terjadi sebelum melakukan
pekerjaan, selain itu timbulnya keluhan psikosomatis seperti meningkatnya
ketidakstabilan jiwa, kelesuan umum, meningkatnya sejumlah penyakit fisik
seperti sakit kepala, perasaan pusing, sulit tidur, masalah pencernaan, detak
jantung yang tidak normal, dan lain-lain
Penyebab terjadinya kelelahan
a. Faktor fisiologis merupakan kelelahan yang disebabkan karena adanya
factor lingkungaan fisik, seperti penerangan, kebisingan, panas dan suhu.
b. Faktor psikologis terjadi apabila adanya pengaruh hal-hal diluar diri yang
berwujud pada tingkah laku atau perbuatan dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, seperti suasana kerja, interaksi dengan sesama pekerja maupun
dengan atasan. (Ida, 2001)
Faktor-faktor penyebab kelelahan:
Kita tahu dari pengalaman sehari-hari bahwa kelelahan memiliki penyebab
yang berbeda, dengan ilustrasi yang paling penting pada Gambar 11.6. Tingkat
kelelahan

adalah

agregat

dari

semua

tekanan

yang

berbeda

dalam

sehari. Visualisasikan ini sebagai barel sebagian diisi dengan air. Waktu istirahat
penyembuhan adalah keluar dari laras. Untuk memastikan bahwa laras tidak
meluap kita harus memastikan bahwa inflow dan outflow adalah dari urutan yang
sama besarnya. Dengan kata lain, untuk menjaga kesehatan dan efisiensi proses
penyembuhan harus membatalkan tekanan. Penyembuhan terjadi terutama pada
malam-waktu tidur, tetapi periode gratis selama hari dan segala macam jeda
selama bekerja juga membuat kontribusi mereka. Kelelahan mempunyai beragam
penyebab yang berbeda, yaitu :
a. Beban Kerja
Merupakan volume pekerjaan yang dibebankan kepada tenaga kerja,
baik fisik maupun mental dan tanggung jawab. Beban kerja yang melebihi
kemampuan akan mengakibatkan kelelahan kerja. (Depkes, 1991)
b. Beban Tambahan

Beban tambahan merupakan beban diluar beban kerja yang harus


ditanggung oleh pekerja. Beban tambahan tersebut berassal dari
lingkungan kerja yang memiliki potensi bahaya seperti lingkungan kerja.
Lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kelelahan adalah:
a. Iklim Kerja
Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan
gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh
tenaga

kerja

sebagai

akibat

pekerjaannya

(Kepmenaker,

No:

Kep-

51/MEN/1999). Suhu yang terlalu rendah dapat menimbulkan keluhan kaku


dan kurangnya koordinasi sistem tubuh, sedangkan suhu terlalu tinggi akan
menyebabkan kelelahan dengan akibat menurunnya efisiensi kerja, denyut
jantung dan tekanan darah meningkat, aktivitas organ-organ pencernaan
menurun, suhu tubuh meningkat, dan produksi keringat meningkat. (Rasjid,
1989)
b. Kebisingan
Kebisingan merupakan suara atau bunyi yang tidak dikehendaki karena pada
tingkat atau intensitas tertentu dapat menimbulkan gangguan, terutama
merusak alat pendengaran. Kebisingan akan mempengaruhi faal tubuh seperti
gangguan pada saraf otonom yang ditandai dengan bertambahnya metabolisme,
bertambahnya tegangan otot sehingga mempercepat kelelahan.(Setiarto, 2002)
c. Penerangan
Penerangan ditempat kerja merupakan salah satu sumber cahaya yang
menerangi bendabenda ditempat kerja. Penerangan yang baik adalah
penerangan yang memungkinkan tenaga kerja melihat pekerjaan dengan teliti,
cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu serta membantu menciptakan
lingkungan kerja yang nikmat dan menyenangkan. Penerangan tempat kerja
yang tidak adekuat juga bisa menyebabkan kelelahan mata, akan tetapi
penerangan yang terlalu kuat dapat menyebabkan kesilauan.
Faktor Individu
a. Umur

Umur dapat mempengaruhi kelelahan kerja. Semakin tua umur seseorang


semakin besar tingkat kelelahan. Fungsi faal tubuh yang dapat berubah karena
faktor usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas kerja seseorang.
(Sumamur, 1999)
b. Masa Kerja
Masa kerja dapat mempengaruhi pekerja baik positif maupun negatif. akan
memberikan pengaruh positif bila semakin lama seseorang bekerja maka akan
berpengalaman dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya akan memberikan
pengaruh negatif apabila semakin lama bekerja akan menimbulkan kelelahan
dan kebosanan. Semakin lama seseorang dalam bekerja maka semakin banyak
dia telah terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut.
Secara garis besar masa kerja dapat dikategorikan menjadi 3 (Budiono, 2003),
yaitu:

1. Masa kerja < 6 tahun


2. Masa kerja 6-10 tahun
3. Masa kerja >10 tahun
Mekanisme Terjadinya Kelelahan
Konsep kelelahan merupakan reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu
cortex cerebri yang dipengaruhi oleh dua sistem penghambat (inhibisi dan system
penggerak/aktivasi) Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan
otot, yaitu:
a. Teori Kimia
Secara teori kimia bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya
cadangan Energi dan meningkatnya sistem metabolisme sebagai penyebab
hilangnya efisiensi otot, sedangkan perubahan arus listrik pada otot dan syaraf
adalah penyebab sekunder.
b. Teori syaraf pusat
Bahwa perubahan kimia hanya penunjang proses, yang mengakibatkan
dihantarkannya rangsangan syaraf oleh syaraf sensosrik ke otak yang disadari
sebagai kelelahan otot. Rangsangan aferen ini menghambat pusat-pusat otak

dalam mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial gerakan pada sel


syaraf menjadi berkurang. Berkurangnya frekuensi ini akan menurunkan
kekuatan dan kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan
menjadi lambat.
Kondisi dinamis dari pekerjaan akan meningkatkan sirkulasi darah yang
juga mengirimkan zat-zat makanan bagi otot dan mengusir asam laktat. Karena
suasana kerja dengan otot statis aliran darah akan menurun, maka asam laktat
akan terakumulasi dan mengakibatkan kelelahan otot lokal. Disamping itu juga
dikarenakan beban otot yang tidak merata pada jaringan tertentu yang pada
akhirnya akan mempengaruhi kinerja (performance) seseorang. (Eko
Nurmianto, 2003).
Kelelahan diatur oleh sentral dari otak. Pada susunan syaraf pusat, terdapat
sistem aktivasi dan inhibisi. Kedua sistem ini saling mengimbangi tetapi
kadang kadang salah satu dari padanya lebih dominan sesuai dengan
kebutuhan. Sistem aktivasi bersifat simpatis, sedang inhibisi adalah
parasimpatis. Agar tenaga kerja berada dalam keserasian dan keseimbangan,
kedua sistem tersebut berada pada kondisi yang memberikaan stabilitas pada
tubuh. (Sumamur PK, 1999).
Dampak Kelelahan ( fatigue )
Beberapa bentuk kelelahan yang terjadi pada dunia kerja merupakan suatu
kondisi kronis ilmiah. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh suatu sebab
tunggal seperti terlalu kerasnya beban kerja, namun juga oleh tekanan-tekanan
yang terakumulasi setiap harinya pada suatu masa yang panjang. Bila keadaan
seperti ini berlarut-larut maka akan muncul tanda-tanda memburuknya kesehatan
yang lebih tepat disebut kelelahan Klinis atau Kronis.
Pada keadaan seperti ini, gejalanya tidak hanya muncul selama periode
stress atau sesaat setelah masa stress, tetapi cepat atau lambat akan sangat
mengancam setiap saat perasaan lelah kerap kali muncul ketika bangun di pagi
hari, justru sebelum saatnya bekerja, misalnya berupa perasaan kebencian yang
bersumber dari terganggunya emosi. Sejumlah orang kerap kali menunjukkan
gejala-gejala sebagai berikut :

1. Munculnya tanda-tanda kelelahan psikosomatis diatas berpengaruh pula


pada waktu-waktu absent dari pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa
penyebab ketidak hadiran ditempat kerja, karena yang bersangkutan
membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.
2. Tenaga kerja yang mempunyai masalah psikologis dan kesulitan-kesulitan
lainnya amatlah mudah untuk mengidap suatu bentuk kelelahan kronis dan
sangatlah sulit melepaskan keterkaitannya dengan maslah kejiwaan.
Gambaran mengenai gejala kelelahan secara subjektif dan objektif antara
lain :
1. Perasaan lesu, ngantuk dan pusing
2. Tidak / kurang mampu berkonsentrasi
3. Berkurangnya tingkat kewaspadaan
4. Persepsi yang buruk dan lambat
5. Tidak ada / berkurangnya gairah untuk bekerja
6. Menurunnya kinerja jasmani dan rohani
7. Gejala-gejala yang timbul ini dapat menyebabkan penurunan
efisiensi dan efektivitas kerja fisik dan mental. Sejumlah gejala
tersebut menifestasinya timbul berupa keluhan oleh tenaga kerja
dan seringnya tenaga kerja tidak masuk kerja.
Kronis (atau klinik) kelelahan
Beberapa negara kelelahan yang timbul dari praktek industri bersifat
kronis. Ini adalah kondisi yang dibawa bukan oleh satu contoh dari terlalu
melelahkan tetapi dengan tekanan yang kambuh lebih hari atau periode lebih
lama. Karena kondisi seperti ini biasanya juga disertai dengan tanda-tanda
kesehatan yang buruk, hal ini benar bisa disebut kelelahan klinis atau kronis .
Dalam kondisi ini gejala terjadi tidak hanya selama masa stres atau segera
sesudahnya tetapi laten hampir sepanjang waktu. Perasaan kelelahan sering hadir
pada bangun di pagi hari, sebelum pekerjaan telah dimulai.Bentuk kelelahan
sering disertai dengan perasaan jijik untuk bekerja, yang memiliki asal-usul
emosional. Orang jadi lelah sering menunjukkan gejala berikut:

Peningkatan ketidakstabilan psikis (quarrelsomeness dan perilaku

2
3
4

yang terkait).
Cocok depresi (kekhawatiran tak berdasar).
Umum melemahnya drive dan keengganan untuk bekerja.
Meningkatkan kemungkinan penyakit.

Penyakit ini sebagian besar tidak jelas dan datang di bawah judul dari
gangguan psikosomatik. Istilah ini diterapkan untuk gangguan fungsional dari
organ internal atau sirkulasi yang dinilai menjadi manifestasi eksternal dari
konflik psikologis dan kesulitan. Beberapa gejala yang lebih umum adalah:
1. sakit kepala
2. Kepeningan
3. hilangnya tidur
4. denyut jantung tidak teratur
5. berkeringat mendadak cocok
6. kehilangan nafsu makan
7. pencernaan masalah (sakit perut, diare, sembelit).
8. Penyakit lebih berarti absen lebih dari pekerjaan, terutama absen
singkat, menunjukkan bahwa penyebab ketidakhadiran adalah
kebutuhan untuk lebih banyak istirahat.
Orang-orang yang memiliki masalah psikologis dan kesulitan dengan
mudah jatuh ke dalam keadaan kelelahan kronis dan seringkali sulit untuk
memisahkan mental mereka dari masalah fisik mereka. Dalam prakteknya, sebab
dan

akibat

sulit

untuk

membedakan

dalam

kasus-kasus

klinis

kelelahan. Penyebabnya mungkin suka pendudukan, tugas langsung atau tempat


kerja, atau sebaliknya ini mungkin menjadi penyebab ketidakmampuan untuk
bekerja atau lingkungan.
Dampak Kelelahan Terdahap Produktivitas Kerja
Terdapat keterkaitan yang arah antara kelelahan yang dialami tenaga kerja
dengan kinerja perusahaan. Apabila tingkat produktivitas seseorang tenaga kerja
terganggu yang disebabkan oleh kelelahan fisik maupun psikis, maka akibat yang

ditimbulkannya akan terasa oleh perusahaan berupa penurunan produktivitas


perusahaan. Tenaga kerja sebagai aset investasi perusahaan perlu perlu dikelola
dengan baik dan benar antara lain dengan memperhatikan faktor-faktor
kemungkinan timbulnya kelelahan. Sebagai diketahui, bahwa dengan peningkatan
kinerja organisasi melalui penanganan tata cara kerja yang ergonomik adalah
salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas, khususnya ila organisasi
tersebut tidak memiliki tambahan dana investasi. Oleh karena itu , perbaikan
terhadap system kerja, faktor-faktor fisik dan lingkungan krja agar segera
dilakukan, sehingga tercipta suasana lingkungan kerja yang aman, nyaman sehat
dan produktif.
Tubuh kita ini ada batasnya, diibaratkan sebagai mesin mobil, tubuh
manusiapun perlu istirahat. Jika terus dipaksa untuk beraktifitas maka tubuh kita
akan mengalami kelelahan. Dampak kelelahan ini adalah gangguan kesehatan
secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis dan menurunnya daya tahan
tubuh seseorang. Kelelahan serta stress yang tinggi juga akan sangat mengganggu
proses metabolisme dan hormonal didalam tubuh kita.
Kelelahan terjadi karena dipaksanya fisik dan mental kita untuk bekerja
secara terus menerus tanpa istirahat yang cukup. Selain itu kondisi lingkungan
yang selalu menuntut beliau tersenyum dan meladeni permintaan penggemarnya
untuk berfoto dan minta tanda tangan akan memperburuk kondisi kelelahan yang
terjadi.
Dampak kelelahan ini dapat berakibat serius bagi kesehatan seseorang
apalagi tanpa disertai asupan makan yang cukup. Kelelahan berhubungan dengan
berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan sistim pencernaan, gangguan
sistim jantung dan pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak serta
penurunan daya tahan tubuh.
Gangguan pencernaan merupakan hal utama yang terjadi jika seseorang
mengalami kelelahan. Keluhan pencernaan yang timbul antara lain nafsu makan
berkurang dimana hal ini akan memperparah kondisi fisik yang sedang mengalami
kelelahan tersebut. Seseorang yang mengalami kelelahan juga akan mengalami
mual bahkan muntah serta nyeri di uluhati.

Mereka yang mengalami kelelahan juga sebenarnya sudah tidak


berkonsentrasi dan bekerja dengan baik selain itu emosinya juga menjadi tinggi.
Kecelakaan lalu lintas sering terjadi pada pengendara yang sedang mengalami
kelelahan tersebut.
Berbagai penyakit kronis dapat menjadi kambuh jika seseorang mengalami
kelelahan antara lain sakit maag, gangguan kejiwaan, asma, Diabetes Mellitus,
hipertensi, stroke dan serangan jantung.
Kelelahan fisik dan psikis juga akan memperburuk daya tahan tubuh
seseorang yang mengalami kelelahan tersebut mereka akan mudah terkena infeksi
virus seperti virus flu, mudah terjadi infeksi usus berupa diare mereka juga rentan
terkena infeksi virus Hepatitis, Demam Thypoid dan virus demam berdarah.
Dalam kondisi demikian, diharapkan tingkat kelelahan tenaga kerja dapat
ditekan dan dikendalikan ke tingkat yang wajar agar produktivitas kerja tidak
mengalami gangguan.
Untuk mencegah dan mengatasi memburuknya kondisi kerja akibat faktor
kelelahan pad tenaga kerja disarankan agar :
1. Merubah metoda kerja menjadi lebih efesien dan efektif
2. Menerapkan penggunaan peralatan dan pranti kerja ang memenuhi
standar ergonomik
3. Menjadwalkan waktu istirahat yang cukup bagi seorang tenaga kerja
4. Menciptakan suasana lingkungan kerja yang sehat, aman, dan nyaman,
bagi tenaga kerja.
5. Melakukan pengujian dan evaluasi kinerja tenag kerja secera periodic
untuk mendeteksi indikasi kelelahan secara lebih dini menemukan
solusi yang tepat.
6. Menerapkan saran produktivitas kerja berdasarkan pendekatan
manusiawi dan fleksibiltas yang tinggi.
Contoh jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja:
Salah satu jenis pekerjaan yang sangat berkaitan dengan kelelahan yaitu pekerja
yang bekerja di bidang manufacture dan jasa. Di bidang jasa, dapat diperhatikan
yaitu perawat yang bekerja di Rumah Sakit dengan memiliki sistem kerja Shift.

Perawat sebagai salah satu diantara pemberi pelayanan mempunyai waktu


paling panjang disisi pasien yaitu selama 24 jam yang terbagi menjadi 3 shift
(pagi,siang,malam). pengaturan shift kerja dan pemberian waktu istirahat pada
hakekatnya bertujuan untuk mengurangi kelelahan pada pekerja. Tetapi dampak
pengaturan waktu kerja tersebut tetap memberikan efek terhadap tenaga kerja.
Bagi seorang pekerja, shift kerja berarti berada pada lokasi kerja yang
sama, baik teratur pada saat yang sama (shift kerja kontinyu) atau pada waktu
yang berlainan (shift kerja rotasi). Shift kerja berbeda dengan hari kerja biasa,
dimana pada hari kerja biasa pekerjaan dilakukan secara teratur pada waktu yang
telah ditentukan sebelumnya, sedangkan shift kerja dapat dilakukan lebih dari satu
kali untuk memenuhi jadwal 24 jam/ hari. Bagi industri manufaktur dan jasa, cara
yang umum digunakan adalah membagi 24 jam menjadi 3 shift dengan panjang
yang sama. Di Inggris dan Eropa biasanya diterapkan dari pukul 06.00 sampai
14.00 (shift pagi), 14.00 sampai 20.00 (shift sore), dan 20.00 sampai 06.00 (shift
malam) atau satu jam (bisa 2 jam) lebih dulu untuk tiap shift.
Pekerja shift adalah sebagai seseorang yang bekerja diluar jam kerja
normal dalam seminggu. Para pekerja shift termasuk mereka yang bekerja dalam
tim berotasi, pekerja malam dan mereka yang bekerja pada jam-jam yang tidak
umum, minggu kerja yang tidak umum dan hari kerja yang diperpanjang.
(Lanfranchi, 2001)
Evaluasi Ergonomi
Berdasarkan Antropometri, Biomekanika, Fisiologi Kerja, Pencegahan dan
pengendalian bahaya dengan diterapkannya ergonomi, sistem kerja dapat menjadi
lebih produktif dan efisien. Dilihat dari sisi rekayasa, informasi hasil penelitian
-

ergonomi dapat dikelompokkan dalam beberapa bidang penelitian, yaitu:


Antropometri
Biomekanika
Fisiologi
Pencegahan dan Pengendalian Bahaya
1. Antropometri
Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran dimensi
tubuh manusia dan karakteristik khusus lain dari tubuh yang relevan dengan
perancangan alat-alat/benda-benda yang digunakan manusia.Antropometri
dibagi atas dua bagian utama, yaitu:

a. Antropometri Statis (struktural). Pengukuran manusia pada posisi diam,


dan linier permukaan tubuh.
b. Antropometri Dinamis (fungsional). Yang dimaksud dengan antropometri
dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam
keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin
terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.
Yang sering disebut sebagai antropometri rekayasa adalah aplikasi
dari kedua bagian utama di atas untuk merancang workspace dan
peralatan.Permasalahan variasi dimensi antropometri seringkali menjadi
faktor dalam menghasilkan rancangan sistem kerja yang fit untuk
pengguna. Dimensi tubuh manusia itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang harus menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan
sampel data yang akan diambil. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Umur. Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir
sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita.
Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun.
2. Jenis kelamin. Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang
lebih besar kecuali bagian dada dan pinggul.
3. Rumpun dan Suku Bangsa
4. Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh.
5. Kondisi waktu pengukuran.
Metode

Perancangan

dengan

Antropometri

(Antropometric

Method) terdapat dua pilihan dalam merancang sistem kerja berdasarkan


data antropometri, yaitu:
1. Sesuai dengan tubuh pekerja yang bersangkutan (perancangan
individual) yang terbaik secara ergonomi.
2. Sesuai dengan populasi pemakai/pekerja Perancangan untuk populasi
sendiri memiliki tiga pilihan yaitu:
a) Design for extreme individuals.
b) Design for average.
c) Design for adjustable range.

Gambar: Antropometri Perempuan

Gambar: Antropometri Laki-Laki


1. Biomekanika
Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum
fisika dan konsep-konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan
gaya pada berbagai macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas.
Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material
handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau
pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Meskipun
kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun
tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan
dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan.
Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam
durasi waktu kerja tertentu, misalnya penanganan atau pemindahan
material secara manual. Usaha fisik ini banyak mengakibatkan
kecelakaan kerja ataupun low back pain, yang menjadi isu besar di
negara-negara industri belakangan ini.
3. Fisiologi
Pengukuran Konsumsi Energi
Secara garis besar, kegiatan-kegiatan kerja manusia dapat
digolongkan menjadi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak).
Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapat

hubungan yang erat antara satu dengan lainnya. Apabila dilihat dari
energi yang dikeluarkan, kerja mental murni relatif lebih sedikit
mengeluarkan energi dibandingkan kerja fisik. Kerja fisik akan
mengakibatkan perubahan pada fungsi alat-alat tubuh, yang dapat
dideteksi melalui perubahan :
a) Konsumsi oksigen.
b) Denyut jantung.
c) Pengeluaran Energi.
d) Peredaran udara
e) Temperatur tubuh.
f) Konsentrasi asam laktat
Kerja fisik mengakibatkan pengeluaran energi yang berhubungan
erat dengan konsumsi energi. Konsumsi energi pada waktu bekerja
biasanya ditentukan dengan cara tidak langsung, yaitu dengan
pengukuran :
a) Kecepatan denyut jantung
b) Konsumsi oksigen
Bilangan nadi atau denyut jantung merupakan peubah yang
penting dan pokok, baik dalam penelitian lapangan maupun dalam
penelitian laboratorium. Dalam hal penentuan konsumsi energi, biasa
digunakan parameter indeks kenaikan bilangan kecepatan denyut
jantung. Indeks ini merupakan perbedaan antara kecepatan denyut
jantung pada waktu kerja tertentu dengan kecepatan denyut jantung
pada saat istirahat. (Widyasmara, 2007).
Pengukuran Beban Psikologis
Aspek psikologi dalam suatu pekerjaan dapat berubah setiap
saat. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan psikologi
tersebut. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri pekerja
(internal) atau dari luar diri pekerja/lingkungan (eksternal). Baik
factor internal maupun eksternal sulit untuk dilihat secara kasat mata,
sehingga dalam pengamatan hanya dilihat dari hasil pekerjaan atau
faktor yang dapat diukur secara objektif, atau pun dari tingkah laku
dan

penuturan

pekerja

sendiri

yang

dapat

diidentifikasikan.

Pengukuran beban psikologi dapat dilakukan dengan :


Pengukuran beban psikologi secara objektif
a. Pengukuran denyut jantung.
Secara umum, peningkatan denyut jantung berkaitan dengan

meningkatnya level pembebanan kerja.


b. Pengukuran waktu kedipan mata.
Secara umum, pekerjaan yang membutuhkan atensi visual
berasosiasi dengan kedipan mata yang lebih sedikit, dan durasi
kedipan lebih pendek.
c. Pengukuran dengan metoda lain.
Pengukuran dilakukan dengan alat flicker, berupa alat yang
memiliki sumber cahaya yang berkedip makin lama makin cepat
hingga pada suatu saat sulit untuk diikuti oleh mata biasa.

4. Pencegahan dan Pengendalian Bahaya


Menghilangkan, mengurangi, atau mengontrol adanya faktor resiko.
1. Pengendalian secara Teknik
2. Pengendalian secara Administrasi
3. Desain Kantor Kerja
4. Pelatihan
1. Pengendalian secara Teknik
Teknik kontrol adalah mekanisme yang lebih disukai untuk
mengendalikan bahaya ergonomis. Ini mungkin memerlukan
merancang ulang stasiun kerja, metode kerja, dan alat untuk
mengurangi tuntutan pekerjaan, seperti tenaga, pengulangan, dan
posisi yang aneh. Seperti pada gambar dibawah ini salah satu cara
dalam bekerja secara ergonomis dengan cara pengadaan suatu alat
(yaitu berupa tempat duduk/kursi seperti yang ditunjukkan gambar
dibawah ini).

Gambar: Bekerja secara Ergonomis (kiri) dan Tidak Ergonomis (kanan)


2. Pengendalian secara Administrasi
a. Penggantian personil untuk berbagai macam pekerjaan
dengan persyaratan fisik yang berbeda.

b. Membuat jadwal kerja / jadwal istirahat istirahat.


c. Pelatihan personil untuk menggunakan metode kerja yang
sesuai cocok.
3. Desain Kantor Kerja. Kantor kerja harus mudah disesuaikan untuk
mengakomodasi pekerja dalam melakukan tugas.
4. Pelatihan
a. Pelatihan harus memungkinkan setiap orang untuk mengenali
faktor risiko dan memahami prosedur yang digunakan untuk
meminimalkan resiko.
b. Pelatihan penyegaran harus disediakan setiap tahun dan
pelatihan ulang harus dilakukan ketika personil ditugaskan ke
pekerjaan baru dengan risiko yang berbeda, atau risiko baru
ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA
Ashfal, Ray C. (1999). Industrial Safety and Health Management 4th Edition.
New Jersey : Prentice Hall

Buchholz, B. (1996) PATH : A Worksamplingbased Approach to Ergonomic Job


Analysis for Construction and Other Non-repetitive Work. UK : Applied
Ergonomics Vol 27 : 177-187
Canadian Centre of OSH. (2008) Heat Exposure and Effects <URL :
www.ccohs.ca> last accesed 8 November 2010 pukul 20.48
David, G., Woods,V., Guangyan Li, Bukle, P. (2007). The Development of The
Quick Exposure Checklist (QEC) for Assesing Exposure to Risk Factors
for WorkRelated Musculoskeletal Disorders. UK: Applied Ergonomics Vol
39 : 57-69
Dewayana, T., Hetharia, D., Lanni (2007). Perbaikan Kondisi Lingkungan Kerja
untuk Menigkatkan Produktivitas. Prosiding Seminar Nasional
Ergonomi dan K3 2007; Semarang, 15-16 November 2007
Guangyan Li, Bukle, P. (2005). QEC for Assessment of Work-Related
Musculoskeletal Disorders (WMSDs), Handbook of Human Factors and
Ergonomics Methods. CRC Press LLC.
Hammer, Willie (1989). Occupational Safety Management and Engineering 4th
Edition. New Jersey : Prentice-Hall Inc.
Hart, S., Staveland, L. (1988). Development of NASA-TLX (Task Load Index).
California : San Jose State University
Hertanti, N.N., Indriastadi, H. (2007). Evaluasi Persamaan Penentuan Pengeluaran
Energi bagi Wanita pada Aktivitas Penanganan Material Secara Manual.
Prosiding Seminar Nasional Ergonomi dan K3 2007; Semarang, 15-16
November 2007