Anda di halaman 1dari 2

oleh: Ade Sanjaya

17 Agustus 1945
Hari Ini Aku berdiri Menghadap
sang saka
Hentak beraniku Menyonsong cita
ku
Suci jiwaku menggapai harapan ku
Aku Anak Bangsa Indonesia
Suara lantang Menyuarakan
Merdeka Merdeka Merdeka
Majulah Indonesiaku
17 Agustus 1945
Hari ini Hari Kemerdekaan
indonesia
Hari Kebangsaan indonesia
Hari Lahirnya Bangsa Indonesia
Semangat Juang Para Pahlawan
Gugur damai di medan Perang
Harum Nama mu di kandung badan
Merdeka Merdeka Merdeka
Jaya lah Indonesia Ku

Malang nasibmu, Indonesiaku


tiga setengah abad engkau di jajah
kucuran keringat dan darah, harta
sekalipun nyawa di korbankan para
pejuang.
66 tahun silam engkau bebas dari
penjajahan, kata mereka.
malang nasibmu, indonesiaku
engkau berada di tangan para
penjilat harta dan tahta
sang merahputihpun tetap berkibar
di sana, seakan menampar muka
para penguasa korup
Burung garudapun tetap bertengger
di sana.
Burung garuda berkata hai
penguasa! turunkan aku dari sini,
kau merongrong indonesiaku
merekapun diam membisu, di
anggapnya patung tiada guna.
malang nasibmu, indonesiaku
mereka berebut kekuasaan

Untuk negeriku
Hancur lebir tulang belulangku
Berlumur darah sekujur tubuh
Bermandi keringat penyejuk hati
Kurela demi tanah air negeriku
Sangsaka merah berani
Putih suci
Melambai-lambai ditiup angin
Air mata bercucuran,
menganjungkan doa
untuk pahlawan negeri
Berpijak berdebu pasir
Berderai kasih hanya untuk
pahlawan jagad raya
Hanya jasamu bisa kulihat
Hanya jasamu bisa kukenang
Tubuhmu hancur hilang entah
kemana
Demi darahmu .
Demi tulangmu ..
Aku perjuangkan negeriku ini,
Indonesia.

Salam Puisi Kemerdekaan.


Pahlawan

KAU MELEBUR DI SANA


: pahlawan

Untuk Pahlawan Negeriku

Karya: Nurfitri
Siswi Kls I SMAN I Pangkalan
Kuras, Pelalawan

Oleh: Seno Aji Airlangga*


Semangat Pahlawan

kau melebur di sana


di permulaan musim gerhana
yang terselubung aroma darah
dan tanah yang berembun air mata

Di balik dawai dia berjasa,


Ku lihat engkau di sana, pahlawan
Bersembunyi namun terdengar,
Tak menyerah patah arang
Pengantar alunan tanpa terpandang,

kau melebur di sana


kala sang surya mengelupaskan
kulit kami
hingga kawanan peluhmu yang
siaga
menghalau kepulan debu
yang mengepung dari negeri asing
kau melebur di sana
saat air bah berlarian
memanjati hamparan tanah usang
dengan jeritan malang
serta busung lapar
kau melebur di sana
saat air mata telah mengguruh
menjadi telaga
hingga timba yang kau ayunkan
menandaskan kepingan dahaga
yang merintih di setiap gigir luka
kami

Tak gentar medan kau lawan


Deretan nada tercipta oleh getaran,
Bersorak-sorai tanda kemenangan
Tanpa jasa, beliau mengantar
ketentraman di keramaian,

Letih raga kau rasa

Sekarang, alunan tercipta indah,

Jatuh tanda tak kalah

Mengalun tenang dan menidurkan,

Di sini ku kan berdoa

Menidurkan mereka sehingga


terbuai kenikmatan,

Bangkit hadapi menyerang lawan


Tak dengar caci mereka

Tidak ingat pengantar, lupa akan


pembawa kenikmatan,

Berjalan, Tuhan akan berkata

Nikmat, nikmat, dan nikmat..

Hamba bersujud berharap

Tanpa tahu getir pahit sang


pengantar kenikmatan..

Mentari senyum tanda melawan


Ku lihat engkau di sana, pahlawan

Pekanbaru, 2010

Kawan ingatkah kalian akan


pahlawan?

INDONESIAKU

Tambahan 2 puisi yang diambil dari


berbagai sumber

Walau tulang tak lagi menyatu


Tapi jiwa berkata beda
Semangat maju takkan luntur

Kini, mimpi telah usai


Tapi cita takkan berhenti

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

angkat senjata lagi.


Tapi siapakah yang tidak lagi
mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap
hati ?

Perjalanan hidup panjang di sini


Semangat pahlawan kembali
Ciptaan: Risang Raditya A

Dan berikut ini adalah kumpulan


dari puisi pahlawan yang berasal
dari pujangga besar tanah air Chairil
Anwar.
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya
seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak
bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderangberpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru
tercapai
Jika hidup harus merasai

PERSETUJUAN DENGAN BUNG


KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari
kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan
bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami
lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada
rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat
satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita
berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita
bertolak & berlabuh
(1948)
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa
nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang
tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintangbintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah
mati ini
Aku suka pada mereka yang berani
hidup
Aku suka pada mereka yang masuk
menemu malam
Malam yang berwangi mimpi,
terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa
nasib waktu !
KRAWANG-BEKASI

Maju
Serbu
Serang
Terjang

Kami yang kini terbaring antara


Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak Merdeka dan

Kami bicara padamu dalam hening


di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam
dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal
tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami
bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa
memperhitungkan arti 4-5 ribu
nyawa
Kami cuma tulang-tulang
berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai
tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk
kemerdekaan kemenangan dan
harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi
bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening
di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam
dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas
pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi
debu
Beribu kami terbaring antara
Krawang-Bekasi