Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna
memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Posyandu (Pos Pelayanan
Terpadu) adalah salah satu pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat dapat
sekaligus memperoleh pelayanan KB dan kesehatan serta pelayanan profesional
oleh petugas sektor, serta non-profesional (oleh kader) dan diselenggarakan atas
usaha masyarakat sendiri.
Posyandu merupakan suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan di suatu wilayah kerja puskesmas, di mana pelaksanaannya
dilakukan di setiap kelurahan atau RW. Kegiatannya berupa KIA (Kesehatan Ibu
dan Anak), KB (Keluarga Berencana), P2M (Imunisasi dan Penanggulangan
Diare), dan gizi (penimbangan balita). Sasarannya adalah ibu hamil, ibu
menyusui, wanita usia subur, dan balita. Pelayanan yang diberikan di posyandu
bersifat terpadu , hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan
bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah
pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama (Depkes RI, 1990).
Posyandu memiliki ruang lingkup yang luas dan bervariasi. Di samping
itu, juga terdapat kriteria posyandu yang mempunyai tujuan dan fungsi masingmasing. Usaha untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bukan hanya dilakukan
oleh pihak kesehatan saja, tetapi dibutuhkan campur tangan dari instansi terkait,
seperti Dinas Kesehatan dan Puskesmas.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam

penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Apa definisi dari posyandu?
2. Apa tujuan dari posyandu?
3. Apa manfaat dari posyandu?

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa jenis-jenis dari posyandu?


Apa sasaran dari posyandu?
Apa kegiatan-kegiatan dalam posyandu?
Apa dasar pelaksanaan dari posyandu?
Bagaimana kriteria posyandu?
Bagaimana keterkaitan posyandu dengan kesehatan keluarga, ibu dan

anak?
10. Bagaimana peranan instansi dengan program posyandu?
11. Bagaimana sistem kerja posyandu?
1.3

Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Untuk menjelaskan definisi dari posyandu.


Untuk menjelaskan tujuan dari posyandu.
Untuk menjelaskan manfaat dari posyandu.
Untuk menjelaskan jenis-jenis posyandu.
Untuk menjelaskan sasaran posyandu
Untuk menjelaskan kegiatan dalam posyandu
Untuk menjelaskan dasar pelaksanaan dari posyandu.
Untuk menjelaskan kriteria posyandu.
Untuk menjelaskan keterkaitan posyandu dengan kesehatan keluarga, ibu

dan anak.
10. Untuk menjelaskan peranan instansi dengan program posyandu.
11. Untuk menjelaskan sistem kerja posyandu.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Posyandu
Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu

program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan


terpadu dan dinamis seperti halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai
program lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).

Menurut Effendy (1998), Posyandu merupakan forum komunikasi, alih teknologi


dan pelayanan kesehatan masyarakat, dari oleh dan untuk masyarakat yang
mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.
Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola
dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan tehnis dari
petugas kesehatan dalam rangka pencapaian norma keluarga kecil bahagia
sejahtera.
2.2

Tujuan Posyandu

Tujuan dari posyandu adalah sebagai berikut:


1. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (Ibu
hamil, melahirkan dan nifas).
2. Membudayakan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera).
3. Meningkatkan peran serta dan

kemampuan masyarakat untuk

mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB beserta kegiatan lainnya


yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
4. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera,
Gerakan Ketahanan

Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga

Sejahtera. (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)


Tujuan pokok dari Posyandu menurut Effendy (1998), antara lain untuk :
1. Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak.
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan untuk menurunkan angka
kematian ibu dan anak.
3. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia sejahtera.
4. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan
kegiatan kesehatan dan kegiatankegiatan lain yang menunjang
peningkatan kemampuan hidup sehat, pendekatan dan pemerataan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan geografi.
5. Meningkatkan dan pembinaaan peran serta masyarakat dalam rangka
alih tehnologi untuk swakelola usahausaha kesehatan masyarakat.
2.3

Manfaat Posyandu
Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak, KB, imunisasi,
3

gizi, dan penanggulangan diare.


1) Kesehatan Ibu dan Anak
Ibu: Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, pemeriksaan
kehamilan dan nifas, pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian
vitamin dan pil penambah darah, dan imunisasi TT untuk ibu hamil.
Pemberian Vitamin A: Pemberian vitamin A dosis tinggi pada
bulan Februari dan Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik
FKM USU:2007).

Akibat

dari

kurangnya

vitamin

adalah

menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas


Kesehatan RI. 2006: 95)
Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di
posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 95). Penimbangan secara
rutin di posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan mendeteksi
sedini

mungkin penyimpangan

pertumbuhan

penimbangan yang kemudian dicatat di KMS, dari

balita.

Dari

data tersebut

dapat diketahui status pertumbuhan balita (Dinas Kesehatan RI. 2006:


54), apabila penyelenggaraan posyandu baik

maka

upaya

untuk

pemenuhan dasar pertumbuhan anak akan baik pula.


KMS (Kartu Menuju Sehat) adalah kartu untuk mencatat dan
memantau pekembangan balita dengan melihat garis pertumbuhan
berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS dapat diketahui
status pertumbuhan anaknya.
Kriteria Berat Badan balita di KMS:
a) Berat badan naik : berat badan bertambah mengikuti salah
satu

pita

warna,

berat

badan bertamabah ke pita warna

diatasnya.
b) Berat badan tidak naik : berat badannya berkurang atau turun,
berat badan tetap, berat badan bertambah atau naik tapi
pindah ke pita warna di bawahnya.
c) Berat badan dibawah garis merah : merupakan awal tanda
balita gizi buruk. Pemberian makanan tambahan atau PMT,
PMT diberikan kepada semua balita yang menimbang ke
posyandu. (Departemen Kesehatan RI. 2006: 104)
2) Keluarga Berencana
Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom,
pil KB, dan suntik KB.
4

3) Imunisasi
Di posyandu balita akan mendapatkan layanan imunisasi. Macam
imunisasi yang diberikan di posyandu adalah:
a) BCG untuk mencegah penyakit TBC.
b) DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
c) Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.
d) Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning).
4) Peningkatan Gizi
Dengan adanya posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita,
sangat tepat untuk meningkatkan gizi balita (Notoadmodjo, Soekidjo.
2003: 205). Peningkatan gizi balita

di posyandu yang dilakukan

oleh kader berupa pemberian penyuluhan tentang ASI, status gizi


balita, MP-ASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang
anak, diare pada balita (Dinas Kesehatan RI. 2006: 24).
5) Penanggulangan diare
Penyediaan oralit di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006:
127), melakukan rujukan pada penderita diare yang menunjukan tanda
bahaya di Puskesmas. (Departemen Kesehatan RI. 2006: 129),
memberikan penyuluhan penggulangan diare oleh kader posyandu.
(Departemen Kesehatan RI. 2006: 132)
Selain

itu,

dalam

Buku

Saku

Posyandu

(Pusat

Promosi

Kesehatan:2012) menyebutkan bahwa manfaat posyandu adalah sebagai berikut:


1)

Bagi Masyarakat
a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan
pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak balita.
b. Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita
gizi kurang atau gizi buruk.
c. Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul Vitamin A.
d. Bayi memperoleh imunisasi lengkap.
e. Ibu hamil akan terpantau berat badannya dan memperoleh
tablet tambah darah (Fe) serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT).
f. Ibu nifas memperoleh kapsul Vitamin A dan tablet tambah darah
(Fe).
g. Memperoleh penyuluhan kesehatan terkait tentangkesehatan ibu
dan anak.
h. Apabila terdapat kelainan pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu
nifas dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujukke

puskesmas.
i. Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan
ibu, bayi, dan anak balita.
2) Bagi Kader
a. Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan
lebih lengkap.
b. Ikut berperan secara

nyata

dalam

perkembangan

tumbuh

kembang anak balita dan kesehatan ibu.


c. Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang
terpercaya dalam bidang kesehatan.
d. Menjadi panutan karena telah mengabdi demi pertumbuhan anak
dan kesehatan ibu. (Pusat Promosi Kesehatan:.2012)
2.4

Jenis-Jenis Posyandu
1. Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum
mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya
terbatas. Keadaan ini dinilai gawat sehingga intervensinya adalah
pelatihan kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan
dilakukan pelatihan dasar lagi.
2. Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan
lebih dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang
atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan
Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian
posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. Intervensi untuk
posyandu madya ada 2 yaitu :
a. Pelatihan Tokoh Masyarakat dengan modul eskalasi posyandu yang
sekarang sudah dilengkapi dengan metoda simulasi.
b. Penggarapan dengan pendekatan PKMD (Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa) berupa SMD (Survei Mawas Diri) dan MMD
(Musyawarah Masyarakat Desa) untuk menentukan masalah dan
mencari

penyelesaiannya,

termasuk

menentukan

program

tambahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.


3. Posyandu purnama (warna hijau)
Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu

yang

frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5
orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan
6

Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin
sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana. Intervensi pada posyandu di
tingkat ini adalah :
a. Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan
masyarakat

menetukan

sendiri

pengembangan

program

di

posyandu
b. Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana
Sehat yang kuat dengan cakupan anggota minimal 50% KK atau
lebih.
4. Posyandu mandiri (warna biru)
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara
teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan
Dana Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah
pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut
menggunakan

prinsip

JPKM

(Jaminan

Pemeliharaan

Kesehatan

Masyarakat).
2.5

Sasaran Posyandu
Sasaran posyandu antara lain seluruh masyarakat, terutama :
1. Bayi
2. Anak balita
3. Ibu hamil , ibu nifas dan ibu menyusui
4. Pasangan Usia Subur (PUS) (Depkes RI, 2006:13)
Balita merupakan kelompok umur rawan gizi. Kelompok ini merupakan

kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP) dan jumlahnya dalam
populasi besar. Beberapa kondisi yang menyebabkan anak balita rawan gizi dan
rawan kesehatan antara lain sebagai berikut :
a. Anak balita berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan
orang dewasa.
b. Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik atau ibunya sudah
bekerja penuh sehingga perhatian ibu sudah berkurang.
c. Anak balita sudah main di tanah dan sudah dapat amin di luar
rumahnya sendiri sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang
kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan
berbagai macam penyakit.
7

d. Dengan adanya posyandu yang sasaran utmanya adalah anak balita


adalah sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15).
2.6

Kegiatan Posyandu

Tujuh kegiatan Posyandu (sapta krida posyandu) meliputi:


1. Kesehatan ibu anak,
2. Keluarga berencana,
3. Imunisasi,
4. Peningkatan gizi,
5. Penanggulangan diare,
6. Sanitasi dasar,
7. Penyediaan obat esensial;
Sedangkan jenis pelayanan yang diberikan antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita,


Penimbangan bulanan,
Pemberian makanan tambahan,
Imunisasai bagi bayi 0-11 bulan,
Pemberian oralit untuk penanggulangan diare,
Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama;

Beberapa kegiatan pada pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan
pasangan usia subur antara lain :
1. Pemeriksaan kesehatan umum
2. Pemeriksaan kehamilan dan nifas
3. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah
4.
5.
6.
7.
8.

darah
Imunisasi tetanus toxoid untuk ibu hamil
Penyuluhan kesehatan dan keluarga berencana
Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare
Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama
Pertolongan pertama pada kecelakaan

Prinsip dasar pelayanan Posyandu antara lain :


1. Pos pelayanan terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat
perpaduan antara pelayanan profesional
2. Adanya kerjasama lintas program yang baik kesehatan ibu dan anak,
keluarga berencana, gizi, imunisasai, penanggulangan diare maupun lintas

sektoral seperti: departemen kesehatan, bantuan desa dan badan koordinasi


keluarga berencana nasional
3. Kelembagaan masyarakat pos desa, kelompok timbang/pos timbang, pos
imunisasai, pos kesehatan
4. Mempunyai sasaran penduduk yang sama bayi umur 0-1 tahun, anak balita
umur 1-4 tahun, ibu hamil, pasangan usia subur
5. Pendekatan yang digunakan adalah pengembangan dan pembangunan
kesehatan masyarakat desa dan primary health care .
Sistem 5 Meja Posyandu
Pelaksanaan posyandu terdiri dari 5 program utama yaitu KIA, KB,Imunisasi,
Gizi, dan Penanggulangan Diare, yang dilakukan dengan sistem 5 meja antara
lain:
1. Meja I: Pendaftaran
Menuliskan nama balita pada KMS (Kartu Menuju Sehat) dan secarik
kertas yang diselipkan pada KMS dan mendaftarkan nama ibu Hamil di
formulir Ibu Hamil
2. Meja II: Penimbangan
Menimbang Bayi/Balita dan mencatat hasil penimbangan pada secarik
kertas yang akan dipindahkan pada KMS
3. Meja III: Pengisian KMS
Memindahkan catatan hasil penimbangan Bayi/Balita dari secarik kertas
kedalam KMS
4. Meja IV: Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS
Memberikan penyuluhan kepada setiap Ibu yang mengacu pada data KMS
yang menjadi hasil pengamatan mengenai masalah yang dialami objek
posyandu (sasaran) dan memberikan rujukan ke Puskesmas apabila
diperlukan serta memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar misalnya
pil penambah darah, vitamin A, oralit,dan sebagainya
5. Meja V: Pelayanan Sektor (KB.Kes)
Pelayanan yang diberikan antara lain pelayanan imunisasi,pelayanan KB,
pengobatan dan pemberian pil penambah darah (pil besi), vitamin A, dan
obat-obat lainnya.
Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh Kader PKK, sedangkan
pada Meja V dilaksanakan oleh Paramedis seperti Juru Imunisasi (Jurim),
Bidan Desa (Bindes), Perawat, dan Petugas KB.

2.7

Dasar Pelaksanaan Posyandu


Surat Keputusan Bersama: Mendagri/Menkes/BKKBN. Masing-masing

No.23 tahun 1985. 21/Men.Kes/Inst.B./IV1985, 1I2/HK-011/ A/1985 tentang


penyelenggaraan Posyandu yaitu :
1. Meningkatkan kerja sama lintas sektoral untuk menyelenggarakan
Posyandu dalam lingkup LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa)
dan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga).
2. Mengembangkan peran serta masyarakat dalarn meningkatkan fungsi
Posyandu serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam programprogram pembangunan masyarakat desa
3. Meningkatkan fungsi dan peranan LKMD PKK dan mengutamakan
peranan kader pembangunan.
4. Melaksanakan pembentukan Posyandu di wilayah/di daerah masingmasing dari melaksanakan pelayanan paripurna sesuai petunjuk Depkes
dan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).
5. Undang-undang no. 23 tahun 1992 pasal 66, dana sehat sebagai cara
penyelenggaraan

dan

pengelolaan

pemeliharaan

kesehatan

secara

paripurna. (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU: 2004)


2.8

Kriteria Posyandu
1. Kriteria pembentukan Posyandu.
Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan
Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat
lebih tercapai sedangkan satu Posyandu melayani 100 balita.
2. Kriteria kader Posyandu:
1) Dapat membaca dan menulis.
2) Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
3) Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
4) Mempunyai waktu yang cukup.
5) Bertempat tinggal di wilayah Posyandu.
6) Berpenampilan ramah dan simpatik.
7) Diterima masyarakat setempat. (Bagian Kependudukan dan Biostatistik
FKM USU:2004)

10

2.9

Keterkaitan Posyandu dengan Kesehatan Keluarga, Ibu dan Anak


Dalam pelaksanaannya, pelayanan posyandu memiliki lima program

prioritas yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB),
imunisasi,

Gizi

dan

Penanggulangan

diare (Ambarwati, 2009). Kegiatan

posyandu penting untuk bayi dan balita, karena tidak terbatas hanya pemberian
imunisasi saja, tetapi juga memonitor tumbuh kembang bayi dan balita melalui
kegiatan penimbangan dan pemberian makanan tambahan. Pencegahan

dan

penanganan gizi buruk juga dapat segera ditangani sedini mungkin, karena
pada dasarnya anak balita bergizi buruk tidak semua lahir dalam keadaan
berat badan tidak normal (Suhardjo, 2003).
Sejalan dengan program yang dilaksanakan oleh MDGs (Millennium
Development Goals) tentang menurunkan angka kematian balita terdapat pula
program pemerintah tentang revitalisasi posyandu. Revitalisasi posyandu adalah
upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi
terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Maka diperlukan juga
keaktifan dari ibu untuk memeriksakan anaknya di posyandu demi meningkatnya
status gizi anak tersebut (Suwandono, 2006).
Strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan
anak, dapat dilakukan pada Posyandu. Dalam kaitannya dengan pemantauan status
gizi pada balita, Posyandu dapat melaksanakan fungsi dasarnya sebagai unit
pemantau tumbuh kembang anak, serta menyampaikan pesan kepada ibu sebagai
agen pembaharuan dan anggota keluarga yang memiliki bayi dan balita dengan
mengupayakan bagaimana memelihara anak secara baik, yang mendukung
tumbuh kembang anak sesuai potensinya
Kegiatan Posyandu diasumsikan sebagai salah satu pendekatan yang
tepat

untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan balita serta

dapat

meningkatkan status gizi balita (Depkes RI,2011). Posyandu merupakan salah


satu pelayanan kesehatan di desa memudahkan masyarakat untuk mengetahui
atau memeriksakan kesehatan terutama ibu hamil dan anak balita. Keaktifan
keluarga pada setiap kegiatan posyandu tentu akan berpengaruh pada keadaan
status gizi anak balitanya, karena salah satu tujuan posyandu adalah memantau
peningkatan status gizi masyarakat terutama anak balita dan ibu hamil

11

(Meilani,2009). Posyandu menjadi pelayanan kesehatan penting untuk bayi


dan balita yang paling awal. Namun pada kenyataannya di posyandu warga
masyarakat sendiri banyak yang tidak

memanfaatkan

posyandu

untuk

memantau tumbuh kembang anaknya dengan alasan sibuk kerja atau tidak
sempat membawa anak balitanya ke posyandu dan kurangnya pengetahuan
tentang pentingnya pemantauan tumbuh dan kembang pada anak balita (Yulifah
& Johan:2009).
Pendidikan ibu dikatakan berhubungan dengan status gizi balita, hal ini
disampaikan pada buku laporan MDGs (Millennium Development Goals) yang
diterbitkan oleh Departemen Kesehatan. Anak dengan ibu berpendidikan rendah
memiliki angka mortalitas daripada anak dengan ibu berpendidikan tinggi.
Masalah yang lain adalah rendahnya pelayanan imunisasi. Imunisasi yang lengkap
dapat mencegah terjadinya mortalitas pada anak (Depkes RI, 2007).
2.10

Peranan Instansi Terkait dengan Posyandu

a. Sesuai Inmendagri Nomor 9 Tahun 1990 tentang Peningkatan Pembinaan


mutu Posyandu di tingkat desa kelurahan sebagai berikut :
1) Penanggungjawab umum : Ketua Umum LKMD (Kades/Lurah).
2) Penggungjawab operasional: Ketua I LKMD (Tokoh Masyarakat)
3) Ketua Pelaksana : Ketua II LKMD/Ketua Seksi 10 LKMD( Ketua
Tim Penggerak PKK).
4) Sekretaris: Ketua Seksi7 LKMD
5) Pelaksana: Kader PKK, yang dibantu Petugas KB-Kes.
b. Pokjanal (Kelompok Kerja Operasional) Posyandu
Pokjanal posyandu yang dibentuk di semua tingkatan pemerintahan
terdiri dari unsur Instansi dan Lembaga terkait secara langsung dalam
pembinaan Posyandu yaitu :
1. Tingkat Propinsi :
a) BKKBN
b) PMD (Pembinaan Masyarakat Desa)
c) Bappeda
d) Tim Penggerak PKK
2. Tingkat Kab/Kodya:
a) Kantor Depkes/Kantor Dinkes
b) BKKBN
c) PMD (Pembinaan Masyarakat Desa)
d) Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah)
3. Tingkat Kecamatan :
a) Tingkat Pembina LKMD Kec ( puskesmas, Pembina petugas
12

Lapangan, KB, Kaur Bang (Kepala Urusan Pembangunan)


b) KPD (Kader Pembangunan Desa)
4. Pokjanal Posyandu bertugas :
a) Menyiapkan data dan kelompok sasaran serta cakupan program.
b) Menyiapkan kader.
c) Menganalisis masalah dan menetapkan aIternatif pemecahan
d)
e)
f)
g)

masalah.
Menyusun rencana.
Melakukan pemantauandan bimbingan.
Menginformasikan masalah kepada instansi/lembaga terkait.
Melaporkan kegiatan kepada Ketua Harian Tim Pembina LKMD.
(Bagian Kependudukan dan Biostatistika FKM USU:2004)

2.11

Sistem Kerja Posyandu


Menurut Muninjaya (1999), sistem kerja Posyandu merupakan rangkaian

kegiatan yang meliputi input, proses dan output.


1. Input
Input adalah ketersedianya sumber daya yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan kegiatan posyandu, yang meliputi antara lain sarana fisik atau
kelengkapan seperti bangunan, meja kursi, perlengkapan penimbangan,
perlengkapan pecatatan dan pelaporan, perlengkapan penyuluhan dan
perlengkapan pelayanan, sumber daya manusia yang ada seperti kader,
petugas kesehatan dan aparat desa atau kecamatan yang ikut berperan
dalam kelangsungan program. Ketersedianya dana, sebagai penunjang
kegiatan yang berasal dari pemerintah maupun swadaya masyarakat,
Penyelenggaraan kegiatan posyandu dan bagaimana cara persiapan serta
mekanisme pelayanannya.
2. Proses
Proses, dalam sistem pelayanan Posyandu antara lain meliputi:
a) Pengorganisasian posyandu mencakup adanya struktur organisasi,
yaitu adanya perencanaan kegiatan mulai persiapan, monitoring
oleh petugas sampai evaluasi proses dan hasil kegiatan.
b) Adanya kejelasan tugas dan alur kerja yang jelas serta dipahami
oleh kader posyandu. Pelaksanaan kegiatan posyandu yang
mencakup pendaftaran, penimbangan, pencatatan penyuluhan,
pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Program pokok yang
minimal harus dilaksanakan meliputi lima pelayanan yaitu

13

kesehatan ibu dan anak, gizi, keluarga berencana, penanggulangan


diare dan imunisasi
c) Pembinaan dan pemantauan petugas yang mencakup adanya
rencana kegiatan pembinaan dan pemantauan yang jelas dan
tertulis, ada jadwal yang terencana dengan baik, siapa yang
menjadi sasaran, cara pembinaan, pemantauan dan pemecahan
masalah
d) Pelaksanaan kunjungan rumah oleh kader untuk membina
kesehatan dan gizi masyarakat terutama pada keluarga sasaran.
Proses pelaksanaan kunjungan harus direncanakan siapa sasaran,
kapan dilaksanakan, siapa yang melaksanakan dan hasil dicatat
dalam kegiatan kader.
e) Pelaksanaan evaluasi program dilaksanakan setiap bulan. Di
tingkat posyandu dilaksanakan setelah selesai kegiatan pelayanan
yang melibatkan kader, aparat desa, pembinaan kesejahteraan
keluarga dan petugas pembina. Sedangkan di tingkat kecamatan
dilaksanakan melalui pertemuan lintas sektor di kecamatan lain
yang berkaitan dengan kesehatan dan perbaikan gizi serta keluarga
berencana.
f) Umpan balik tentang hasil kegiatan posyandu, hasil pembinaan dan
evaluasi disampaikan melalui pertemuan rutin yang telah
direncanakan. Umpan balik berasal dari aparat desa, tokoh
masyarakat dan kelompok kerja personal baik tingkat desa,
kecamatan maupun kabupaten
Imbalan (reward) bagi kader, sangat bermanfaat untuk menjaga
kelestarian kader dalam melaksanakan tugasnya, dan harus dipikirkan,
karena dengan imbalan tersebut diharapkan dapat memelihara dan
meningkatkan motivasi kerja kader.
3. Output
Keluaran kegiatan posyandu berupa cakupan hasil kegiatan
penimbangan, pelayanan pemberian makanan tambahan, distribusi paket
perbaikan gizi, pelayanan imunisasi, pelayanan keluarga berencana dan
penyuluhan. Sedangkan output kegiatan yang diharapkan berupa
peningkatan status gizi, dan ibu hamil, penurunan angka kematian ibu,
angka kematian bayi, berat badan lahir rendah dan angka kesakitan.
14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu
program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi
pelayanan terpadu dan dinamis seperti halnya program KB dengan
kesehatan atau berbagai program lainnya yang berkaitan dengan
kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).
2. Tujuan dari posyandu adalah untuk menurunkan angka kematian bayi,
angka kematian ibu (Ibu hamil, melahirkan dan nifas), membudayakan
NKKBS, meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB beserta kegiatan lainnya
yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera, serta
berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera,
Gerakan Ketahanan

Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga

Sejahtera. (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007)


3. Manfaat posyandu adalah untuk memberikan layanan kesehatan ibu
dan anak, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare.
4. Jenis-jenis posyandu adalah posyandu pratama, posyandu madya,
posyandu purnama dan posyandu mandiri.
5. Sasaran posyandu antara lain bayi, anak balita, ibu hamil , ibu nifas
dan ibu menyusui, serta pasangan usia subur (PUS) (Depkes RI,
2006:13)
6. Tujuh kegiatan Posyandu (sapta krida posyandu) meliputi:
Kesehatan ibu anak, Keluarga berencana, Imunisasi, Peningkatan gizi,
Penanggulangan diare, Sanitasi dasar, dan Penyediaan obat esensial.
7. Dasar pelaksanaan posyandu adalah Surat Keputusan Bersama:

15

Mendagri/Menkes/BKKBN.

Masing-masing

21/Men.Kes/Inst.B./IV1985,

1I2/HK-011/

No.23

tahun

A/1985

1985.
tentang

penyelenggaraan posyandu.
8. Kriteria pembentukan Posyandu adalah tidak terlalu dekat dengan
Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat
lebih tercapai sedangkan satu Posyandu melayani 100 balita.
Sedangkan kriteria kader posyandu adalah dapat membaca dan
menulis, berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan, mengetahui
adat istiadat serta kebiasaan masyarakat, mempunyai waktu yang
cukup, bertempat tinggal di wilayah Posyandu, berpenampilan ramah
dan simpatik, diterima masyarakat setempat. (Bagian Kependudukan
dan Biostatistik FKM USU:2004)
9. Keterkaitan posyandu dengan kesehatan keluarga, ibu dan anak adalah
kegiatan

posyandu

penting untuk bayi dan balita, karena tidak

terbatas hanya pemberian imunisasi saja, tetapi juga memonitor


tumbuh kembang bayi dan balita melalui kegiatan penimbangan dan
pemberian makanan tambahan.
10. Peranan instansi terkait dengan posyandu sudah diatur dalam
Inmendagri Nomor 9 Tahun 1990 tentang Peningkatan Pembinaan
mutu Posyandu di tingkat desa kelurahan.
11. Sistem kerja posyandu meliputi input, proses dan output.
3.2

Saran
1. Diharapkan dengan ditulisnya makalah ini dapat menambah wawasan
pembaca tentang posyandu dan kegiatan di dalamnya.
2. Diharapkan ada penelitian lebih lanjut tentang kajian ini.

16

DAFTAR PUSTAKA
Bagian Kependudukan dan Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara. 2004. Posyandu Sebagai Saran Peran Serta
Masyarakat Dalam Usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat Nasap
Sembiring. (Online) diakses dari
http://library.usu.ac.id/download/fkm/biostatistik-nasap.pdf pada tanggal
1 November 2014
BKKBN, Buku Sumber Pendidikan KB, JAKARTA, 1989.
Depkes RI, 1990. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 416/Menkes/Per/IX/1990,
Jakarta.
Departemen kesehatan RI. 2006. Buku Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan
Gizi Keluarga. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.
Departemen kesehatan RI. 2008. Buku Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan
Gizi Keluarga. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kita Suarakan MDGs Demi
Pencapaiannya di Indonesia. Indonesia: BPS; 2007
Departemen Kesehatan RI. 2011. Pedoman Umum

Pengelolaan

Posyandu.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI.


Indonesian Public Health. 2013. Pengertian, Tujuan, dan Kegiatan Posyandu.
(Online) diakses dari http://www.indonesianpublichealth.com/2013/03/manajemen-posyandu.html pada tanggal 1
November 2014
Kelompok Informasi Masyarakat. 2012. Manfaat Posyandu bagi Masyarakat.
(Online) diakses dari http://kimbijak.blogspot.com/2012/05/manfaaatposyandu-bagi-masyarakat.html pada tanggal 1 November 2014
Kementrian Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan. 2012. Buku Saku Posyandu.
Jakarta. Kementrian Kesehatan RI
Kependudukan dan Biostatik FKM USU. Posyandu Sebagai Sarana Peran Serta
Masyarakat dalam UPKM. (Online) diakses dari

17

http://www.library.usu.ac.id pada tanggal 1 November 2014


Meilani, N dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya.
Muninjaya, A., A., G. 2004. Manajemen Kesehatan, EGC, Jakarta.
Kompasiana. 2014. Peran Posyandu dalam Pembangunan Manusia. (Online)
diakses dari http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2014/05/27/peranposyandu-dalam-pembangunan-manusia-660411.html

pada

tanggal

November 2014
Sakbaniyah dkk. Hubungan Pengetahuan Ibu Balita Dengan Kepatuhan
Kunjungan Balita Ke Posyandu Di Desa Sumberejo Kecamatan Mranggen
Kabupaten Demak. 2013. (Online) Diakses dari
http://www.jurnal.unimus.ac.id/index.php/jur_bid/article/view/818 pada
tanggal 1 November 2014
Surat Keputusan Bersama: Mendagri/Menkes/BKKBN.Masing-masing No.23
tahun 1985. 21/Men.Kes/Inst.B./IV1985, 1I2/HK-011/ A/1985 tentang
penyelenggaraan Posyandu
Suwandono A. 2006. Existing situation of the community based health system and
effort to revitalize. Proceeding of Round Table Discussion on Reforms of
the Indonesian Community Based Health System. Jakarta.
Yulifah, R. dan Johan, T. A. Y. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas.
Jakarta : Salemba Medika.

18

LAMPIRAN

19