Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur atas berkat Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan kesehatan
dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan individu Praktek
Kebidanan Asuhan Kebidanan Komunitas Komprehensif di Desa Parahangan.

Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari berbagai kendala namun berkat dan
dorongan dari berbagai pihak, baik moral maupun material sehingga sedikit demi
sedikit kendala tesebut dapat diatasi dengan baik.Akhir kata penulis berharap semoga
Tuhan Yang Maha Esa memberikan pahala yang setimpal atas bantuan dan jasa-
jasanya dan laporan ini dapat bemanfaat bagi penulis dan rekan- rekan mahasiswa.

Palangka Raya, November 2019

Penulis
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Tujuan Umum dan Khusus
C. Kompetensi Praktek
D. Waktu dan Tempat

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB III HASIL PENGUMPULAN DATA DAN TINJAUAN KASUS

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DOKUMENTASI
DAFTAR LAMPIRAN

1. Presensi / Daftar Hadir Kelompok Mahasiswa


2. Jurnal Bimbingan Praktek Kebidanan Komunitas Komprehensif
3. Daftar Capaian Kompetensi Praktek
4. Log Book Kegiatan Harian
5. Askeb Hamil
6. Askeb Nifas
7. Askeb Bayi, balita ( pemantauan tumbuh kembang )
8. Askeb KB
9. Askeb Kesehatan Reproduksi
a. IVA
b. Sadanis
c. Penkes Remaja
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3,
yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali; Masalah yang
belum dapat diselesaikan (un-finished); dan Masalah gizi yang sudah meningkat
dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging). Masalah gizi lain yang juga
mulai teridentifikasi dan perlu diperhatikan adalah defisiensi vitamin D. Masalah
gizi yang sudah dapat dikendalikan meliputi kekurangan Vitamin A pada anak
Balita, Gangguan Akibat Kurang Iodium dan Anemia Gizi pada anak 2-5 tahun.
Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) pada anak Balita sudah
dilaksanakan secara intensif sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul
vitamin A setiap 6 bulan, dan peningkatan promosi konsumsi makanan sumber
vitamin A.
Dua survei pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara nasional proporsi
anak dengan serum retinol kurang dari 20 ug sudah di bawah batas masalah
kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang vitamin A secara nasional tidak
menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Penanggulangan GAKI dilakukan sejak tahun 1994 dengan mewajibkan
semua garam yang beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm. Data
status Iodium pada anak sekolah sebagai indikator gangguan akibat kurang
Iodium selama 10 tahun terakhir menunjukkan hasil yang konsisten. Median
Ekskresi Iodium dalam Urin (EIU) dari tiga survai terakhir berkisar antara
200230 g/L, dan proporsi anak dengan EIU <100 g/L di bawah 20%. Secara
nasional masalah gangguan akibat kekurangan Iodium tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat.
Masalah gizi ketiga yang sudah bisa dikendalikan adalah anemia gizi pada
anak 2-5 tahun. Prevalensi anemia pada anak mengalami penurunan, yakni
51,5% (1995) menjadi 25,0% (2006) dan 17,6% (2011). Masalah gizi yang
belum selesai adalah masalah gizi kurang dan pendek (stunting). Pada tahun
2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita
kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari
31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1
yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015
diperkirakan dapat dicapai. Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa 35,6% anak
Indonesia “stunted”. Sebagai akibatnya, produktivitas individu menurun dan
masyarakat harus hidup dengan penghasilan yang rendah.Stunting atau
penurunan tingkat pertumbuhan pada manusia utamanya disebabkan oleh
kekurangan gizi. Lebih jauh lagi, kekurangan gizi ini disebabkan oleh rusaknya
mukosa usus oleh bakteri fecal yang mengakibatkan terjadinya gangguan
absorbsi zat gizi. Dengan demikian, peningkatan cakupan sanitasi dan perilaku
hygiene sebesar 99% dapat membantu menurunkan insiden diare sebesar 30%
dan menurunkan prevalensi stuntingsebesar 2,4%. Sudah bukan rahasia lagi
bahwa sanitasi buruk mengakibatkan beragam dampak negatif, baik bagi
kesehatan, ekonomi maupun lingkungan. Saat ini, tantangan pembangunan
sanitasi semakin berat dengan adanya temuan bahwa sanitasi buruk
mengakibatkan sebagian besar generasi penerus bangsa terdiagnosa stunted.
Sanitasi buruk dan air minum yang terkontaminasi mengakibatkan diare yang
mengganggu penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh. Akibatnya, anak-anak tidak
mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga pertumbuhannya terhambat.

B. Tujuan Umum dan Khusus


1. Apa pengertian dari stunting?
2. Bagaimanakah gejala dari stunting?
3. Apa saja klasifikasi dari stunting?
4. Apa saja penyebab stunting?
5. Bagaimana cara pencegahan stunting?
6. Bagaimana cara penanggulangan stunting?

C. Manfaat
Agar mahasiswa memahami dan lebih memberikan wawasan pada masyarakat
Desa Parahangan.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Menurut data yang dilansir WHO, 178 juta anak di bawah lima tahun
mengalami stunted. Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat
pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi
badan populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan
dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak
lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009).

Stunting adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD),


ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan
dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunting
merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan
digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak (Dinkes
Sumsel). Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,
hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai
dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted).
Stunting adalah perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama
(Candra, 2013). Menurut Millennium Challenge Account-Indonesia, stunting
adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang
dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak
saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka
kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki
postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif para penderita juga
berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi
Indonesia.

Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-up growth
(tumbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah stunting
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan
meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik
motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up
growth yang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk
mencapai pertumbuhan optimal, hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok
balita yang lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila
pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik.

B. Gejala Stunting
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah anak yang mengalami
stunting ini memiliki ciri-ciri atau gejala-gejala sebagai berikut:

a. Anak yang stunted, pada usia 8-10 tahun lebih terkekang/tertekan (lebih
pendiam, tidak banyak melakukan eye-contact) dibandingkan dengan anak
non-stunted jika ditempatkan dalam situasi penuh tekanan.
b. Anak dengan kekurangan protein dan energi kronis (stunting) menampilkan
performa yang buruk pada tes perhatian dan memori belajar, tetapi masih
baik dalam koordinasi dan kecepatan gerak.
c. Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah 5cm/tahun
decimal
d. Tanda tanda pubertas terlambat (payudara, menarche, rambut pubis, rambut
ketiak, panjangnya testis dan volume testis
e. Wajah tampak lebih muda dari umurnya
f. Per tumbuhan gigi yang terlambat

C. Klasifikasi Stunting
Menurut Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Penilaian
status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan cara penilaian
antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar deviasi
unit z (Z- score). Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang
berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan
dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan
lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.
Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WHO. Normal,
pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat
pendek) (Nailis, 2016).

Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan


per umur (TB/U).

I. Sangat pendek : Zscore < -3,0


II. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0
III. Normal : Zscore ≥ -2,0 13

D. Penyebab Stunting
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada
anak. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri maupun
dari luar diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting adalah asupan gizi dan
adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah pola
asuh, pelayanan kesehatan, ketersedian pangan, faktor budaya, ekonomi dan
masih banyak lagi faktor lainnya (Bappenas R.I, 2013).
a. Faktor Langsung (Asupan Gizi Balita)
Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda, permasalahan gizi
ganda tersebut adalah adanya masalah kurang gizi dilain pihak masalah
kegemukan atau gizi lebih telah meningkat. Keadaan gizi dibagi menjadi 3
berdasarkan pemenuhan asupannya yaitu:
1) Kelebihan gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan
asupan zat gizi yang lebih banyak dari kebutuhan seperti gizi lebih,
obesitas atau kegemukan.
2) Gizi baik adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan asupan zat
gizi yang sesuai dengan kebutuhan.
3) Kurang gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan asupan
zat gizi yang lebih sedikit dari kebutuhan seperti gizi kurang dan buruk,
pendek, kurus dan sangat kurus (Depkes R.I, 2008). Asupan gizi yang
adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh
balita. Masa kritis ini merupakan masa saat balita akan mengalami tumbuh
kembang dan tumbuh kejar. Balita yang mengalami kekurangan gizi
sebelumnya masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik sehingga
dapat melakukan tumbuh kejar sesuai dengan perkembangannya. Namun
apabila intervensinya terlambat balita tidak akan dapat mengejar
keterlambatan pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh.
Begitu pula dengan balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan
pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak mencukupi. Dalam
penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa
konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,
selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di
bawah rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek.
b. Faktor Tidak Langsung
1) Ketersediaan Pangan
Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas adalah
kondisi penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi, finansial/keuangan,
alam, dan manusia) yang cukup untuk memperoleh dan/atau
ditukarkan untuk memenuhi kecukupan pangan, termasuk kecukupan
pangan di rumah tangga. Masalah ketersediaan ini tidak hanya terkait
masalah daya beli namun juga pada pendistribusian dan keberadaan
pangan itu sendiri, sedangkan pola konsumsi pangan merupakan
susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah dan
frekuensi dan jangka waktu tertentu. Aksesibilitas pangan yang rendah
berakibat pada kurangnya pemenuhan konsumsi yang beragam,
bergizi, seimbang dan nyaman di tingkat keluarga yang mempengaruhi
pola konsumsi pangan dalam keluarga sehingga berdampak pada
semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat (Bappenas R.I,
2013).
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada
kurangnya pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri.
Ratarata asupan kalori dan protein anak balita di Indonesia masih di
bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan
anak balita perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai
rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek
dari pada standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2013). Oleh
karena itu penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor
kesehatan saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian
stunting, ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh
pendapatan keluarga, pendapatan keluarga yang lebih rendah dan
biaya yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih rendah
merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek.
Penelitian di Semarang Timur juga menyatakan bahwa pendapatan
perkapita yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting
(Nasikhah dan Margawati, 2012). Selain itu penelitian yang dilakukan
di Maluku Utara dan di Nepal menyatakan bahwa stunting dipengaruhi
oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor sosial ekonomi yaitu
defisit pangan dalam keluarga (Ramli et all, 2009; Paudel et all, 2012)
2) Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor,
faktor tersebut dapat terjadi sebelum kehamilan maupun selama
kehamilan. Beberapa indikator pengukuran seperti 1) kadar
hemoglobin (Hb) yang menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah
untuk menentukan anemia atau tidak; 2) Lingkar Lengan Atas (LILA)
yaitu gambaran pemenuhan gizi masa lalu dari ibu untuk menentukan
KEK atau tidak; 3) hasil pengukuran berat badan untuk menentukan
kenaikan berat badan selama hamil yang dibandingkan dengan IMT
ibu sebelum hamil.

E. Pencegahan terhadap Stunting


Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah stunting atau
tubuh pendek dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain:
a. Pemberian ASI secara baik dan tepat disertai dengan pengawasan berat
badan secara teratur dan terus menerus.
b. Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak untuk mengganti
ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI, terutama pada usia
dibawah empat bulan.
c. Meningkatkan pendapatan keluarga yang dapat dilakukan dengan upaya
mengikutsertakan para anggota keluarga yang sudah cukup umur untuk
bekerja dengan diimbangi dengan penggunaan uang yang terarah dan
efisien. Cara lain yang dapat ditempuh ialah pemberdayaan melalui
peningkatan keterampilan dan kewirausahaan
d. Meningkatkan intensitas komunikasi informasi edukasi (KIE) kepada
masyarakaat, terutama para ibu mengenai pentingnya konsumsi zat besi
yang diatur sesuai kebutuhan. Hal ini dapat dikoordinasikan dengan
kegiatan posyandu.
Menurut Millenium Challenge Account-Indonesia (2015) stunting dapat
dicegah dengan beberapa cara yaitu:
a. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus
mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet
zat besi atau Fe), dan terpantau kesehatannya. Namun, kepatuhan ibu
hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Padahal
mereka harus minimal mengkonsumsi 90 tablet selama kehamilan.
b. ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi
makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan
kualitasnya.
c. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang
sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan
pertumbuhan
d. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta
menjaga kebersihan lingkungan.
Intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting.
Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk
kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia di
bawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit Paparan
terus menerus terhadap kotoran manusia dan binatang dapat menyebabkan
infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut, disebabkan oleh praktik sanitasi
dan kebersihan yang kurang baik, membuat gizi sulit diserap oleh tubuh.

F. Penanggulangan Stunting

Menurut Dinak Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, periode yang


paling kritis dalam penanggulangan stunting dimulai sejak janin dalam
kandungan sampai anak berusia 2 tahun yang disebut dengan periode emas
(seribu hari pertama kehidupan). Oleh karena itu perbaikan gizi diprioritaskan
pada usia seribu hari pertama kehidupan yaitu 270 hari selama kehamilannya
dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya. Secara
langsung masalah gizi disebabkan oleh rendahnya asupan gizi dan masalah
kesehatan. Selain itu asupan gizi dan masalah kesehatan merupakan dua hal
yang saling mempengaruhi. Adapun pengaruh tidak langsung adalah
ketersediaan makanan, pola asuh dan ketersediaan air minum (bersih), sanitasi
dan pelayanan kesehatan.

Seluruh faktor penyebab ini dipengaruhi oleh beberapa akar masalah


yaitu kelembagaan, politik dan ideologi, kebijakan ekonomi, dan sumberdaya,
lingkungan, teknologi, serta kependudukan. Berdasarkan faktor penyebab
masalah gizi tersebut, maka perbaikan gizi dilakukan dengan dua pendekatan
yaitu secara langsung (kegiatan spesifik) dan secara tidak langsung (kegiatan
sensitif). Kegiatan spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan seperti
PMT ibu hamil KEK, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan
kehamilan, imunisasi TT, pemberian vitamin A pada ibu nifas. Untuk bayi
dan balita dimulai dengan inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif,
pemberian vitamin A, pemantauan pertumbuhan, imunisasi dasar, pemberian
MP-ASI. Sedangkan kegiatan yang sensitif melibatkan sektor terkait seperti
penanggulangan kemiskinan, penyediaan pangan, penyediaan lapangan kerja,
perbaikan infrastruktur (perbaikan jalan, pasar), dan lain-lain. Kegiatan
perbaikan gizi dimaksudkan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Multicentre Growth Reference Study
(MGRS) Tahun 2005 yang kemudian menjadi dasar standar pertumbuhan
internasional, pertumbuhan anak sangat ditentukan oleh kondisi sosial
ekonomi, riwayat kesehatan, pemberian ASI dan MP-ASI. Untuk mencapai
pertumbuhan optimal maka seorang anak perlu mendapat asupan gizi yang
baik dan diikuti oleh dukungan kesehatan lingkungan.
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu
hari pertama kehidupan, meliputi :

a. Pada ibu hamil


1) Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara
terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat
makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan
sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK),
maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil
tersebut.
2) Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal
90 tablet selama kehamilan.
3) Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

b. Pada saat bayi lahir


1) Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu
bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
2) Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja
(ASI Eksklusif)
c. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
1) Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan
sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. 2) Bayi dan anak
memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar lengkap.
d. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh
setiap rumah tangga.
BAB III

HASIL PENGUMPULAN DATA DAN TINJAUN KASUS

1.3 Tabel Identitas


Nama Kepala Keluarga : Tn. Markus
Jenis kelamin : Laki - laki
Umur : 42 Tahun
Agama : Hindu
Suku Bangsa : Dayak
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Trans RT. 003

Hubungan
No Nama Umur Sex Pendidikan Pekerjaan Ket
Keluarga
1 Markus 42 th Laki-laki Suami SD Swasta
2 Helmi 30 th Perempuan Istri SMP IRT
3 Selfa 10 th Perempuan Anak SD Pelajar
4 Sifa 8 th Perempuan Anak SD Pelajar
5 Kartika 2,3 th Perempuan Anak - -
6 Jesika 1,7th Perempuan Anak - -

No Nama Umur BB TB R Keluhan


1 Kartika 2,3 th 9 kg 81 cm 36x/menit -
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, mahasiswa akan membandingkan praktek belajar


lapangan di Desa Parahangan RT 003 khususnya pada keluarga Tn.Markus
Kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau.

A. Pengumpulan Data
Pada tahap pengkajian ini data diperoleh melalui observasi dan wawancara
yang dilakukan secara kunjungan rumah. Kegiatan pengkajian dilakukan
pendekatan, tabulasi, analisis data dan perumusan masalah. Dalam kegiatan
pengkajian terdapat kesulitan antara lain, kesulitan menemui responden.
Namun dalam menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut, mahasiswa berusaha
keras melakukan pendekatan dan waktu yang seefektif mungkin dan
mengkunjungi kembali responden untuk menerima tanggapan dari responden.

B. Perencanaan Data
Tahap perencanaan yang terdiri atas rumusan dan penyusunan rencana
tindakan telah dilaksanakan sesuai dengan prioritas masalah yang ada.
Rencana yang disusun merupakan rencana kerja yang dilaksanakan oleh
masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat dengan mahasiswa sebagai
fasilitator. Dalam hal ini terfokus pada keluarga Tn. Markus
Dengan melibatkan semua anggota keluarga Tn Markus, maka ditetapkan dan
dibahas prioritas masalah, sasaran, waktu, tempat, tempat dan penanggung
jawab yang dilakukan seusai kebutuhan masyarakat kususnya anggota
keluarga Tn. Markus

C. Pelaksanaan
Pelaksanaan disesuaikan dengan waktu senggang anggota keluarga
Tn.Markus pada prioritas ini kegiatan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan
yang dirasakan dan kebutuhan nyata yang ada di lapangan dengan menekan
upaya promotif dan preventif. Berikut ini beberapa masalah yang ada di
keluarga Tn Markus dan solusi atau alternative pemecahan masalah yang
dilakukan mahasiswa pada langkah implementasi.
1. Pengetahuan Tentang Stunting
Penyuluhan ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang
stunting dan gizi seimbang yang tepat dan sesuai untuk balita usia 2,3
tahun. Agar memberikan edukasi pada Ny. H untuk lebih dan memahami
tentang stunting.
Penyuluhan tentang stunting yang diberikan pada An. K pada tanggal 10
November 2019 di rumah Tn. Markus pada pukul 14.00 WIB.

a. Kurangnya pengetahuan ny. H tentang gizi pada balita, dengan


memberikan makanan snack pada balitanya pada umur 2 tahun. Untuk
mengetahui masalah tersebut, maka dilakukan penyuluhan dan
konseling tentang gizi pada balita.

D. Evaluasi
Penyuluhan tentang gizi pada balita yang diberikan pada ny.H pada
tanggal 10 november 2019 di rumah tn.M pada pukul 14.00 yang di lakukan
oleh penulis dengan hasil ny. H mengerti dan memahami tentang pengertian,
manfaat, dan kebutuhan gizi pada balita. Sehingga dengan bertambahnya
pengetahuan klien tentang kebutuhan gizi pada balita ibu bisa mengetahui
untuk memenuhi kebutuhan makanan yang baik untuk bayi.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
1. Dari hasil analisa data selama melakukan pengkajian, terdapat prioritas
masalah sebagai berikut:
Kurangnya pengetahuan tentang gizi pada bayi dan balita
2. Dari hasil diagnosa masalah, dilakukan beberapa rencana tindakan yang
kemudian diimplementasikan sesuai dengan prioritas masalah yang ada,
kemudian dilakukan evaluasi dengan hasil sebagai berikut :
Ny. H mengerti dan mampu menjelaskan tentang pengertian, manfaat,
kebutuhan gizi pada bayi dan balita.

SARAN
1. Puskesmas dan bidan desa
Agar dapat secara proaktif menjalin kerjasama dan menindak lanjuti kegiatan
yang telah dilaksanakan
2. Masyarakat
Agar dapat meningkatkan partisipasi dalam kegiatan peningkatan kesehatan
melalui upaya promotif dan preventif
3. Mahasiswa
Agar secara proaktif meningkatkan keterampilan dan wawasan dalam
memberikan asuhan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat A, Sujiyatini. 2010. Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Nuha


Medika

Karwati, dkk (2011). Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas).Jakarta: TIM

Notoatmojo.2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Asih Mahasatya

Pudiastuti, Ratna .2011. Buku Ajar kebidanan komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika

Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Yogyakarta. Yogyakarta:
CV ANDI OFFSET

Sumarah, kk (2009). Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya

Suprajitno (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC

Syarifudin (2009). Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC