Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH ETIKOLEGAL

SKENARIO (ROLEPLAY)

Oleh :
Kelompok II
1. Chintya Musdalifah

R1115018

2. Desi Chairani

R1115020

3. Destiningsih Dini Safitri

R1115022

4. Dewi Setyoningsih

R1115024

5. Dian Puspita Reni

R1115026

6. Diastuti Putri Utami

R1115028

7. Dyah Krisnawati Satia P

R1115030

8. Eka Oktaviana Desy K

R1115032

PROGRAM STUDI DIV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
TAHUN AJARAN 2015/2016

PERSALINAN LETAK SUNGSANG

Pemeran Adegan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Chintya Musdalifah
Desi Chairani
Destiningsih Dini S.A
Dewi Setyoningsih
Dian Puspita Reni
Diastuti Putri Utami
Dyah Krisnawati S.P
Eka Oktaviana Desy K

: Ibu Hamil
: Ibu Mertua
: Suami
: Narator
: Bidan
: Ibu Kandung
: Tetangga
: Perawat

---------SKENARIO--------Suatu hari di desa Manunggal Jaya, sebuah desa terpencil di Kalimantan


Timur. Seorang ibu hamil tua bernama Ny. C (39 tahun) datang ke pondok bersalin
desa ditemani seorang tetangganya.
Desa ini jauh dari rumah sakit dan membutuhkan waktu minimal 5 jam
perjalanan yang juga hanya dapat ditempuh menggunakan transportasi air.
Tetangga

: (Tok, tok, tok!!) Assalamualaikum Bu Bidan

Ibu Hamil

: (ekspresi ibu meringis kesakitan)

Bidan

: Waalaikumsalam, mari silahkan masuk bu. Bagaimana? Ada


yang bisa saya bantu bu? (mempersilahkan duduk)

Tetangga

: Ini Ibu Cintya udah mau lahiran, Bu Bidan

Bidan

: Mari kalau begitu langsung berbaring saja di sini bu


(menunjuk tempat tidur)

Ibu Hamil

: (menuju tempat tidur dan berbaring)

Tetangga

: (membantu ibu berbaring ke tempat tidur)

Bidan

: Ada buku untuk periksa hamilnya bu?

Ibu Hamil

: Ehmtidak Bu

Bidan

: Buku yang pink itu? Ibu sudah pernah periksa hamil?

Ibu Hamil

: Belum Bu, kalau pas hamil pertama dulu saya punya.

Bidan

: Ohya baiklah kalau begitu.

Ibu Hamil

: Suami saya sibuk, tidak ada yang mengantar buat periksa Bu,
jauh juga

Bidan

: Hmm.. sayang sekali ya Bu, saya jadi tidak mengetahui


bagaimana perkembangan kehamilan Ibu.

Bidan

: Nama lengkap Ibu siapa ya?

Ibu Hamil

: Cintya Laura Natakusuma Tungga Dewi Puspita Ningrum,


Ibu

Bidan

: Wah nama yang bagus ya, nama panggilannya siapa Ibu?

Ibu Hamil

: Cintya

Bidan

: Oh ya. Ibu Cintya nama lengkap suami siapa Ibu?

Ibu Hamil

: Joko Tingkir, Bu

Bidan

: Umur Ibu dan suami?

Ibu Hamil

: Saya 39 tahun, suami 42 tahun

Bidan

: Ini hamil yang ke berapa ya Bu?

Ibu Hamil

: Hamil ke tiga

Bidan

: Sebelumnya pernah keguguran?

Ibu Hamil

: Belum Bueh tidak pernah

Bidan

: Hari pertama menstruasi terakhir tanggal berapa ya Bu?

Ibu Hamil

: Haduh. Kapan ya pokoknya pas tahun baru itu saya


udah nggak mens Bu

Bidan

: Berarti terakhir Mens Desember ya? Kalau tanggalnya


biasanya kapan mulainya?

Ibu Hamil

: Iya Desember, ya tanggal tengah-tengah Bu, kadang 15, 16,


17, kadang maju jadi 13, gitu nggak mesti Bu.

Bidan

: Oh ya, baiklah. Anak terakhir umur berapa ya?

Ibu Hamil

: Alhamdulillah sudah 4 tahun

Kemudian Bidan melanjutkan anamnesanya sampai selesai secara lengkap


dan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik
tersebut didapatkan data : Ny.Cintya umur 39 tahun G3P2A0 usia kehamilan 40
minggu 2 hari, janin hidup, tunggal, intrauterine, punggung kiri, presentasi bokong,
dalam persalinan kala I, fase aktif, patologis.
TD 120/80 mmHg, nadi 75x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,5C, status present
dan obstetric dalam batas normal, TBJ 3100 gr, pembukaan 4 cm, eff 50%, KK utuh,
teraba bokong, bagian lain (-), penurunan bagian terendah di Hodge II, lendir darah
(+)
Bidanpun segera memberitahukan tentang hasil pemeriksaan kepada Ny.
Cintya.
Bidan

: Ibu.berdasarkan hasil pemeriksaan tadi, ibu sudah


mengalami pembukaan 4. Denyut jantung janin 140x/menit,
normal ya Bu, sehat adeknya. Tapi Ibu maaf ini bayinya
sungsang bokongnya yang ada di bawah. Ya?

Ibu Hamil

: (terkejut) hah? Terus bagaimana Bu?

Bidan

:Ibu tenang dulu Saya jelaskan ya Bu. Seharusnya memang


posisi normal bayi itu adalah bagian kepala yang di bawah
kalau bokong yang dibawah banyak risiko yang dapat terjadi
terutama pada bayinya nanti. Maka dari itu persalinan sungsang
harus dilakukan di RS dengan dokter.

Ibu Hamil

: Oh begitu ya Bu Bidan, memangnya kalau disini saja nggak


bisa ya Bu?

Bidan

: Tidak bisa Ibu, risikonya sangat tinggi. Saya tidak memiliki


kewenangan untuk melahirkan bayi sungsang. Lagi pula karena
ini masih pembukaan 4, masih ada waktu untuk merujuk,
karena biasanya juga persalinan sungsang berlangsung lebih
lama.

Ibu Hamil

: ehmsaya harus bilang suami dulu Bukalau boleh di RS


ya ke RS nanti, wong saya ndak pernah lahiran di RS.

Bidan

: Iya begini saja, sebaiknya saya berdiskusi dahulu dengan


suami atau keluarga terdekat, saya akan jelaskan tentang
persalinan sungsang, bagaimana jalan keluar yang terbaik.
Semoga nanti diberi kemudahan dalam mengambil keputusan.
Kira-kira sekarang yang bisa dihubungi siapa ya Bu?

Ibu Hamil

: Kalau masalah seperti ini suami saya Bu, sama mertua saya
harus ikut musyawarah

Tetangga

: Bu Bidan, ini harus segera, apa darurat ngga ya Bu? soalnya


keluarga ibu Cintya sedang dalam perjalanan kemari

Bidan

: Iya...kira-kira berapa lama lagi ya Bu bisa sampai disini?

Tetangga

: yah kira-kira sekitar 1,5-2 jam lagi, Bu


Kalau begitu saya hubungi lagi saja ya Bu biar cepat sampai
sini. (tetangga menghubungi keluarga)

Dua jam kemudian, keluarga ibu datang ke Polindes.


Suami

: Assalamualaikum

Bidan &tetangga

: Waalaikummussalam, silahkan masuk Pak

Bidan

: Ini Pak Joko ya?

Suami

: Iya Bu, bagaimana keadaan istri saya bu?

Bidan

: Tenang Pak, Bu.kondisi ibu dan bayi sehat. Saat ini ibu
dalam masa persalinan, tadi jam 10.00 masih pembukaan 4.
Namun saya butuh berdiskusi dengan bapak dan Ibu sekalian.
Karena ada hal yang harus diputuskan

Ibu kandung

: Anak saya kenapa bu?

Bidan

: Silahkan duduk dulu. Begini bu bapak, kondisi ibu dan bayi


memang sehat. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan letak
bayinya sungsang atau bokongnya yang berada di bawah. Pada

keadaan normal seharusnya kepala yang berada di bawah.


Karena bagian terberat dan terbesar bayi itu adalah kepala, jadi
yang seharusnya lahir dahulu membuka jalan lahir adalah
kepala, kalau bagian terbesar sudah bisa lahir maka bagian lain
seperti badan sampai kaki mudah juga keluarnya nanti. Tapi
kalau sungsang, yang di bawah bokong, nanti persalinannya
berbeda. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Seperti
persalinannya jadi lama karena bokong lebih ringan dan lebih
lunak

untuk

membuka

jalan

lahir,

kemudian

karena

persalinannya yang lama bisa terjadi gawat janin dan berlanjut


setelah lahir bayinya tidak langsung menangis, dan juga kadang
kepalanya sulit lahir setelah badan lahir. Untuk itu dalam
menanganinya harus dengan tehnik khusus, dan membutuhkan
minimal 2 orang tenaga ahli. Selain saya tidak memiliki
wewenang untuk menolong persalinan sungsang, polindes juga
tidak memiliki alat yang lengkap jika terjadi sesuatu pada ibu
maupun bayi. Selain itu untuk merujuknya membutuhkan
waktu yang lama, sehinga ditakutkan akan terlambat. Untuk itu
yang paling baik persalinan sungsang itu dilakukan di RS
dimana alat-alatnya sudah lengkap. Jadi semisal terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan bisa segera diatasi.
Suami

: (terdiam)

Ibu Kandung

: Astagfirullahaladzim

Mertua

: Lalu harus di rumah sakit gitu Bu?!

Bidan

: Iya Ibu, karena saya tidak boleh menolong persalinan


sungsang karena risikonya yang sangat tinggi tersebut.
Mumpung ini masih pembukaan 4, jadi lebih baik mencegah
dan antisipasi dini terlebih dahulu

Mertua

: Yang namanya lairan ya pasti ada risikonya! Bu Bidan ini


terlalu berlebihan!, tante saya lahiran sungsang di rumah ya
ndak kenapa-napa itu

Ibu Kandung

: Iya Bu, apa ndak bisa diusahakan disini saja, lagian Bu


Bidan pasti sudah banyak pengalamannya

Bidan

: Begini Ibu, ini bukan masalah pengalaman atau tidak


pengalaman. Saya memikirkan betul bagaimana yang terbaik
untuk anak Ibu. Karena saya tau apa risiko yang bisa terjadi. Ini
mumpung anak ibu masih pembukaan awal jadi alangkah
baiknya kalau kita rujuk segera ke RS agar segera mendapatkan
penanganan yang maksimal

Mertua

: Bu Bidan, memangnya di RS itu menjamin selamat apa?!


Wong ya banyak yang lairan di RS malah mati, justru kalau di
RS itu nambah-nambah masalah. Saya ini lahiran 12 kali
ngga tau posisi-posisi bayi apa ya sehat-sehat saja bayinya!
Pokoknya saya ngga setuju kalau menantu saya di bawa ke
RS!

Ibu kandung

: Ibu besan, tenang dulu, ndak usah kenceng-kenceng


ngomong sama Bu Bidan.

Mertua

: Saya khawatir Bu kalau anak menantu saya di bawa ke RS

Ibu Kandung

: Lha iya, tapi gimana lagi. Bu Bidan, apa ndak bisa dicoba
disini dulu?

Bidan

: Tidak bisa Ibu, itu namanya saya melanggar peraturan. Saya


sudah 20 tahun bekerja sebagai Bidan. Saya rekomendasikan
sekali Ibu Cintya untuk dibawa ke RS. InsyaAllah semua bisa
ditangani dengan baik disana. Mudah-mudahan tidak terjadi
risiko apapun. Tapi kalau sudah berada di rumah sakit kan
sudah ayem dulu Bu

Suami

: Iya Bu Bidan, betul memang seperti itu (sambil manggutmanggut)

Mertua

: Betal-betul apanya?! Nakkamu itu ngga tau apa-apa soal


lairan. Pokoknya kalau bu bidan ngga mau nolong anak saya,
biar saya bawa pulang saja lairan sama mbah dukun! Apaapaan ke rumah sakit. Biayanya mahal, bahaya, jauh pula nanti
kalau lahiran di jalan bagaimana?! Ibu mau tanggung jawab?
Cucu saya lair di perahu?!

Suami

: Ibuk! Ngga usah berlebihan begitu. Sini Ibu bicara sama saya
saja. Kasihan Bu Bidan sudah baik, ibu marah-marah ga jelas
Ibu, Bu Bidan ini kan sudah senior, ilmunya juga banyak,
sudah kita nurut saja apa saran beliau. Ibu ndak usah mikirin
uang. Uang itu saya yang cari, ibu ga usah rebut soal uang.
Yang penting kan anak dan istri saya selamat. Sekarang kita
tanya saja sama Cintya maunya bagaimana. Kalau dia pasti
tidak mau lair di dukun Bu. Dia sudah modern. 2015 kok lair di
dukun

Mertua

: (bertanya pada Cintya yang masih kesakitan di tempat tidur).


Nak, bagaimana? Kamu mau lairan di RS?

Ibu Hamil

: Iya Bu, ndak apa-apa. Saya manut Bu Bidan sama suami


saya

Suami

: Nah kan? Udah Ibu ga usah berfikir yang macam-macam


lagi.

Mertua

: (terdiam sejenak) Yowislah karepmu Jok

Ibu Kandung

: Iya, Ibu sini duduk saja dulu, tenangkan diri

Bidan

: Bagaimana Pak Joko? Berarti setuju untuk dilakukan


rujukan?

Suami

:Iya Bu Bidan.

Bidan

:Baiklah, saya periksa Ibu Cyntya dulu ya, nanti setelah ini
kita persiapkan untuk merujuk

Suami

: Iya Bu
Setelah itu Bidan melakukan pemeriksaan VT yang kedua sebelum dirujuk.

Berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Ny.Cintya telah mengalami pembukaan 9 cm,


penipisan 75%, dan penurunan bokong telah di H III. DJJ dan TTV Ibu masih normal,
kontraksinya semakin kuat menjadi 5x/10, 50. Ternyata persalinan berlangsung
lebih cepat dari dugaan Bidan. Ny.Cintya juga sudah tidak dapat menahan rasa sakit
karena kontraksi dan mulai mengejan sendiri.
Ibu Hamil

:Heeeerrgkkkk.. (suara mengejan Ny.Cintya)

Bidan

: Ibu.nggak boleh ngejan dulu ya, tarik nafas panjang lagi


ayo. Nafas panjang lewat hidung, rasakan udara masuk paru,
keluarkan lewat mulut.

Ibu Hamil

: (melakukan tehnik relaksasi yang diajarkan Bidan sambil


berpegangan dengan tangan suami)

Bidan

: He eh pinter.jangan ngejan dulu ya nanti bisa bengkak


jalan lahirnya

Suami

: Bagaimana Bu Bidan?

Bidan

: Bapak Joko ini pembukaan sudah hampir lengkap,


kontraksinya bagus sekali, jadi ini tidak mungkin lagi untuk
dibawa kerumah sakit, karena bisa lahir segera

Suami

: Lalu bagaimana Bu?

Bidan

: Iya bapak tenang dulu, saya nanti akan panggilkan teman


saya untuk membantu persalinannya. Sebelum saya melakukan
pertolongan persalinan Bapak mohon tanda tangani surat
persetujuan ini dulu ya Pak, mohon dibaca dengan teliti isi
suratnya. Dan perlu diketahui bahwa dalam menandatangani
pernyataan tersebut tidak ada paksaan maupun tekanan dari

pihak manapun. Sebelumnya saya sudah menjelaskan resikoresiko yang kemungkinan akan terjadi jika ibu melahirkan
secara sungsang ya pak.
Suami

: Oh iya Bu, (bapak membaca informed consent). Saya setuju


Bu, mohon bantuannya (Suami menandatangani informed
consent yang diberi)

Bidan

: IyainsyaAllah, Bapak sekarang temani ibu cintya dulu,


dipijat diusap-usap punggung belakang sini, dan ingatkan untuk
nafas panjang kalau ibu mengejan ya Pak?

Suami

: Iya Bu
Bidanpun menelepon perawat yang bekerja satu puskesmas dengannya yang

rumahnya tidak jauh dari polindes tersebut dan kemudian mempersiapkan alat-alat
yang dibutuhkan.
Ibu Kandung

: Bagaimana Bu Bidan? Apa tidak jadi di rujuk?

Bidan

: Tidak Ibu. Tadi setelah saya periksa ternyata pembukaannya


sudah hampir lengkap, jadi sudah tidak mungkin untuk dirujuk
karena kemungkinan akan lahir di jalan. Jadi saya yang akan
menolong. Ibu mohon doanya agar semua lancar ya Bu?

Ibu Kandung

: Oh iya Bukalau begitu, mohon bantuannya ya Bu Bidan


anak saya bisa lahir sehat bayi juga sehat semua

Bidan

: Iya Bu, saya akan lakukan semampu saya

Mertua

: Gimana ini? Nggak jadi dirujuk?

Ibu Kandung

: Nggak jadi Bu, pembukaannya sudah mau lengkap. Nanti


nek lahir di jalan

Mertua

: Lho gimana to? Katanya tadi pembukaannya bakal lama?


Lalu gimana kalau terjadi risiko-risiko itu tadi?

Ibu Kandung

: Hussh! Istighfar Bu. Jangan ngomong yang enggak-enggak

Bidan

: Iya Bu mohon maaf ternyata persalinannya berlangsung


lebih cepat dari yang biasanya. Kontraksinya sangat kuat
sehingga pembukaannya cepat. Saya sudah memanggil rekan
saya untuk membantu saya. Semoga nanti semua berjalan
lancar, karena sudah tidak ada waktu untuk merujuk

Mertua

: Huhsaya bilang tadi apaya syukurlah ngga jadi ke RS

Bidan

: Iya Bu, mohon doanya ya

Kemudian perawat yang dipanggil Bidan pun sampai di polindes.


Perawat

: Assalamualaikum bu

Bidan

: Waalaikumsalam. mari bu bantu saya menolong


persalinan Ny C, ini sudah pembukaan lengkap

Perawat

: Baik Bu (Mengecek ulang alat yang dibutuhkan)


Bu ini pengkajian pasiennya ya bu (menunjuk lembar
pengkajian dan membacanya)

Bidan

: Iya bu. Nanti tolong bantu saya seperti biasanya, untuk


persalinan sungsang

Perawat

: Siap bu. Informed consent nya bagaimana? Keluarga setuju


ya bu?

Bidan

: Iya sudah setuju bu. Keluarga sudah tanda tangan

Perawat

: Baiklah yang terpenting itu bu. Karena hal tersebut


memberikan perlindungan hukum kepada kita

Bidan dan perawat membantu proses persalinan Ny C. Setelah 10 menit


kemudian, bayi Ny C lahir spontan dengan jenis kelamin laki-laki. Lahir sehat dan
normal. Ibu dan bayi selamat.
Bidan

: Pak, Bu Alhamdulillah bayinya sudah lahir. Laki-laki pak,


busehat dan normal

Suami

: Alhamdulillahterima kasih bu bidan, keadaan istri saya


bagaimana bu?

Bidan

: Istrinya sehat pak, tadi ada sedikit robekan pada jalan lahir,
tapi sudah dijahit. Saran saya, ibu diberi makanan yang banyak
mengandung protein.jangan banyak dikasih pantangan ya
pak, buhal ini bertujuan untuk mempercepat proses
penyembuhan luka

Ibu Kandung

: Alhamdulillahterima kasih bu bidan

Mertua

: Alhamdulillah.saya punya cucu. Tu kan feeling orang tua


itu kuat. Kalau lahirnya disini, ya disini.
Akhirnya ibu dan bayi dapat ditolong dengan selamat. Ibu bidan melakukan

pencatatan dan pelaporan ke Puskesmas.

Kesimpulan :
Pesan moral pada kasus diatas bahwasanya Bidan harus bekerja sesuai dengan
kewenangan dan kode etiknya. Tindakan Bidan diatas sudah sesuai dengan Peraturan
Menteri (PERMENKES) No. 1464 Tahun 2010 dan KEPMENKES No. 900 Tahun
2002.
Dalam kondisi seperti kasus diatas Bidan harus mampu mendiagnosa dengan
benar kondisi klien. Ketika Bidan menemukan kasus yang bukan merupakan
kewenangannya Bidan harus selalu menginformasikan kepada klien, keluarga dan
melakukan rujukan segera ke tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
lengkap. Namun, dalam kondisi yang gawat dan darurat bidan dapat memberikan
pelayanan diluar kewenangannya dengan syarat bahwa lokasi tersebut tidak memiliki
Dokter. Dalam memberikan pelayanan Bidan harus memberikan informed choice dan
informed consent kepada klien serta keluarga. Informed consent sebagai perlindungan
hukum bagi bidan dalam menjalankan pelayanan diluar kewenangannya. Untuk dapat
menjalankan praktik kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan
yang up to date, tetapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam
pelayanan kebidanan.