Anda di halaman 1dari 37

SASARAN BELAJAR

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Pankreas


1.1 Anatomi Makroskopis Pankreas
1.2 Anatomi Mikroskopis Pankreas
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Insulin
2.1 Aspek Biokimia Insulin
2.2 Mekanisme Sintesis dan Sekresi Insulin
2.3 Mekanisme Kerja Insulin
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Diabetes Mellitus
3.1 Definisi
3.2 Etiologi
3.3 Epidemiologi
3.4 Klasifikasi
3.5 Patofisiologi
3.6 Manifestasi Klinis
3.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.8 Tatalaksana
3.9 Komplikasi
3.10 Pencegahan
3.11 Prognosis
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Diabetic Retinopathy
3.1 Definisi
3.2 Epidemiologi
3.3 Klasifikasi
3.4 Patofisiologi
3.5 Manifestasi Klinis
3.6 Diagnosis
3.7 Tatalaksana
3.8 Pencegahan
LI 5. Memahami dan Menjelaskan Diet Pada Pasien Diabetes Mellitus
LI 6. Memahami dan Menjelaskan Makanan yang Halal dan Tayyiban

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


LI 1 Memahami dan Menjelaskan Makroskopis dan Mikroskopis Pankreas
1.1 Makroskopis Pankreas

Gambar 1. Pankreas In Situ (Netter, 2014)

Gambar 2. Saluran eksokrin pancreas (Netter, 2014)


Pankreas merupakan organ eksokrin dan endokrin yang terletak posterior dari lambung. Pankreas
termasuk organ retroperitoneal, kecuali bagian ujung caudal nya, karena menempel dengan lien. Bagian
anatomis dari pancreas meliputi
a. Caput
2

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Terletak pada kurva duodenum dan bentuknya mirip huruf C. Terdapat processus uncinatus yang
terletak posterior dari a. mesentericus superior
b. Collum
Terletak anterior dari a. mesentericus, dan di bagian lebih dalam dari pylorus gaster.
c. Corpus
Badan dari pancreas menjulur dari flexura duodenalis menuju bagian superior dari ginjal kiri
d. Caudal
Ujung dari pancreas berakhir di ligamentum splenorenal.
(Netter, 2014)
Pankreas mendapatkan suplai darah arterial dari truncus celiacus, dan dari areri mesentericus superior.
1.2 Mikroskopis Pankreas
Pankreas memiliki komponen endokrin dan eksokrin. Komponen endokrin meliputi pulau-pulau
Langerhans, yaitu kluster-kluster dari sel endokrin pada jaringan kapiler pankreas. Terdapat banyak sekali
pulau-pulau Langerhans yang berwarna pucat pada ankreas, dan tiap pulau tersebut dikelilingi oleh
komponen eksokrin eosinophilic. Jaringan ikat berupa septum memisahkan pankreas menjadi beberapa
lobulus.
Dua ductus interlobularis beserta jaringan ikat yang mengelilinginya merupakan bagian eksokrin dari
pankreas. Pankreas bagian endokrin tidak memiliki ductus; hormon yang diproduksinya (insulin dan
glukagon) disekresi oleh pulau Langerhans dan dilepaskan langsung ke sirkulasi darah melalui kapiler.
Insulin dan glukagon memiliki peranan penting dalam mengatur kadar glukosa dalam darah. Insulin
menstimulasi glukosa untuk masuk ke dalam berbagai sel, sehingga dapat mengatur metabolisme
karbohidrat serta menurunkan kadar glukosa darah. Glukagon menstimulasi sintesis glukosa dari hati ke
darah, sehingga dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
(Cui, 2011)

Gambar 3. Histologis Pankreas, H&E Stain x39 (Cui, 2011)

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Gambar 4. Terdapat 4 tipe sel endokrin yang ada pada pulau Langerhans: sel alpha, sel beta, sel delta, dan
sel PP. Pada pewarnaan H&E, kesemua sel-sel tersebut sulit untuk dibedakan. Namun, sel beta umumnya
terdistribusi pada seluruh permukaan dari pulau; tiga tipe sel lainnya umumnya dapat ditemui pada
bagian perifer. Sel alpha mensekresi glukagon, sel beta mensekresi insulin, sel delta mensekresi
somatostatin dan gastrin, sementara sel PP mensekresi pancreatic polypeptide. (Cui, 2011)

Gambar 5. Distribusi sel-sel endokrin di pulau langerhans (Boron, 2012)

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


LI 2 Memahami dan Menjelaskan Aspek Fisiologis dan Biokimia Insulin
2.1 Aspek Biokimia Insulin
Insulin hanya diproduksi di sel dari pulau langerhans pankreas. Insulin dikode oleh gen pada lengan
pendek kromosom 11. Insulin terbentuk apabila pulau langerhans terekspos oleh glukosa. (Boron, 2012)

Gambar 6. Struktur kimia insulin (Katzung, 2013)

Tabel 1. Produk hormon yang dihasilkan oleh sel-sel di puulau langerhans (Boron, 2012)

Tabel 2. Efek kadar glukosa plasma terhadap kadar insulin (Boron, 2012)

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Tabel 3. Transporter glukosa pada sel-sel tubuh (Katzung, 2013)

2.2 Mekanisme Pembentukan dan Sekresi Insulin


Pembentukan
Proses pembentukan insulin berawal dari transkripsi gen insulin yang menghasilkan mRNA
preproinsulin. Dimulai dari ujung rantai 5, mRNA ini mengkode beberapa peptida domain yaitu B, C,
dan A. Saat preprohormon ini telah terbentuk, rantai leadernya yang terdiri dari 24 asam amino
mengalami cleavage dan menghasilkan proinsulin yang terdiri dari domain B, C, dan A. Selanjutnya,
terbentuk molekul insulin dengan dua rantai peptida, yaitu rantai A dan B, serta dihubungkan dengan
rantai disulfida. Insulin yang matur memiliki 51 asam amino; 21 asam amino berasal dari rantai A dan 30
asam amino berasal dari rantai B. Pada secretory granule, insulin berikatan dengan zinc. Vesikel
sekretorius ini berisi insulin, proinsulin, dan peptida C. Ketiganya akan dilepaskan menuju vena porta
ketika sel terstimulasi oleh glukosa.

Gambar 7. Proses pembentukan insulin di sel pankreas (Boron, 2012)


Sekresi
Peranan biologis C peptide saat ini belum diketahui. Namun, produksi C peptide rasionya 1:1 dengan
insulin, sehingga C peptide bagus untuk marker sekresi insulin. Proinsulin memiliki aktivitas yang mirip
6

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


dengan insulin, namun kekuatannya hanya 1/20 dari insulin. Selain itu, sel hanya memproduksi 5%
jumlah proinsulin terhadap insulin. Sehingga proinsulin tidak memegang peranan penting dalam
mengatur kadar glukosa darah.
(Boron, 2012)
Sebanyak 60% insulin yang disekresi menuju vena porta akan dihilangkan ketika melewati hati.
Sementara C peptide sama sekali tidak diekstraksi oleh hati. C peptide pada akhirnya dieksresi di urin,
dan pengukuran jumlah C peptide selama 24 jam dapat menggambarkan jumlah produksi insulin dalam
24 jam tersebut.
(Boron, 2012)
Pada individu yang sehat, kadar glukosa plasma diatur sedemikian rupa sehingga range nya relatif stabil
dari waktu ke waktu. Pada saat malam hari ketika tidur, kadar glukosa plasma adalah 4-5 mM; kadar
glukosa plasma dapat meningkat setelah makan, namun dengan makan banyak sekalipun, kadar glukosa
plasma tidak melebihi 10 mM. Peningkatan kadar glukosa plasma dapat menigkatkan sekresi insulin.
(Boron, 2012)
Mekanisme Stimulasi Sekresi Insulin
Sel pankreas dapat mengambil dan memetabolisme glukosa, galaktosa, dan mannosa; ketiganya dapat
menstimulasi proses sekresi insulin. Heksosa lainnya (misalnya 3-O-methylglucose atau 2-deoxyglucose)
dapat ditransport masuk ke dalam sel namun tidak bisa dimetabolisme, sehingga tidak menstimulasi
sekresi insulin. Beberapa asam amino seperti arginine dan leucine, serta asam keton (alphaketoisocaproate, dan fruktosa), juga dapat menstimulasi sekresi insulin meskipun lemah.
(Boron, 2012)
Pada berbagai macam percobaan, diketahui bahwa ATP yang dihasilkan dari metabolisme beberapa zat di
atas dapat menstimulasi sekresi insulin. Dalam keadaan laboratorium, diketahui bahwa terjadi
depolarisasi membran sel-sel langerhans dengan cara peningkatan kadar K + ekstraseluler. Keadaan ini
dapat mengstimulasi sekresi insulin.
(Boron, 2012)
Kunci dari mekanisme di atas adalah adanya channel ATP-sensitive K+ dan channel voltage-gated Ca2+ di
membran plasma. Glukosa dapat menstimulasi sekresi insulin dalam 7 tahapan (Boron, 2012):
1. Glukosa masuk ke dalam sel melalui transporter glukosa aitu GLUT2 dengan cara difusi
terfasilitasi. Asam amino masuk melalui transporter lain.
2. Apabila terdapat glucokinase (enzim yang mengatur proses glikolisis), glukosa tersebut akan
mengalami glikolisis dan dapat meningkatkan kadar ATP dengan cara memfosforilasi ADP. Beberapa
asam amino dapat masuk pada siklus asam sitrat (Krebs cycle) yang mana dapat memproduksi ATP
juga. Pada dua keadaan tersebut, rasio NADH/NAD + juga meningkat.
3. Peningkatan kadar ATP intraseluler dan peningkatan rasio [ATP] i/[ADP]I ataupun peningkatan rasio
[NADH]i/[NAD+]I menyebabkan channel KATP menutup
4. Penurunan konduktansi K+ membran sel menyebabkan sel mengalami depolarisasi (pada kasus ini,
potensial membran sel menjadi lebih negatif)
5. Proses depolarisasi ini menyebabkan aktivitas channel voltage-gated Ca2+
6. Peningkatan permeabilitas Ca2+ menyebabkan peningkatan jumlah ion Ca2+ yang masuk dan juga
menyebabkan peningkatan ion Ca2+ bebas dalam sel. Peningkatan kadar Ca 2+ dapat memicu
terjadinya proses Ca2+ -induced Ca2+ release.
7. Peningkatan kadar Ca2+ dapat menyebabkan pelepasan insulin.

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Gambar 8. Proses sekresi insulin oleh sel pankreas (Boron, 2012)


Mekanisme Lainnya yang Menstimulasi Sekresi Insulin
Pulau langerhans diinervasi oleh saraf simpatik maupun parasimpatik yang merupakan divisi dari sistem
saraf autonomik. Sinyal neurologis diketahui memiliki peranan penting dalam menstimulasi sel pada
berbagai macam keadaan. Stimulasi reseptor -adrenergic diketahui dapat meningkatkan stimulasi
insulin, sementara stimulasi reseptor -adrenergic dapat menghambat sekresi insulin. Katekolamin
sintetik seperti isiproterenol yang mana memiliki aktivitas -adrenergic agonist, dapat menstimulasi
pelepasan insulin. Sebaliknya, norepinephrine dan -adrenergic agonist lainnya dapat menginhibisi
sekresi insulin. (Boron, 2012)
Neuron-neuron simpatik post-synaptic pankreas dapat melepaskan norepinephrine, yang dapat
menstimulasi -adrenoreceptor, sehingga stimulasi simpatik melalui nervus celiacus dapat menginhibisi
8

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


sekresi insulin. Sebaliknya, stimulasi parasimpatik melalui nervus vagus (yang mana terjadi pelepasan
acetylcholine), dapat meningkatkan sekresi insulin.
(Boron, 2012)
2.3 Mekanisme Kerja Insulin
Tabel 4. Gambaran keseluruhan kerja insulin di beberapa jaringan target (Porth, 2012)

Mekanisme Kerja Insulin di Hepar


Kerja insulin di berbagai macam sel target umumnya melibatkan berbagai macam proses enzimatik dan
struktural. Darah dari pankreas mengalir menuju hepar melalui sistem vena porta, sehingga seluruh
hormon yang disekresi oleh pankreas harus melalui hepar sebelum akhirnya masuk ke sirkulasi sistemik.
Untuk insulin, hepar merupakan jaringan target terjadinya kerja hormon, sekaligus juga tempat
degradasinya.
Kadar insulin di vena porta adalah 4 kali lebih tinggi daripada kadar insulin di sirkulasi sistemik. Oleh
karena itu, hepatosit seringkali mendapatkan insulin dalam kadar yang sangat tinggi. Setelah makan,
kadar insulin plasma meningkat. Peningkatan ini disebabkan oleh stimulasi kadar glukosa dan stimulasi
neural.
Peningkatan kadar insulin plasma dapat menurunkan pemecahan dan utilisasi glikogen, dan justru terjadi
proses yang sebaliknya, yaitu dimulainya pembentukan glikogen dari glukosa plasma. Pada konsentrasi
yang sangat tinggi, insulin juga dapat menghambat glukoneogenesis (proses pengubahan laktat/piruvat
dan asam amino menjadi glukosa 6-fosfat).
Glukosa dari plasma masuk ke dalam hepatosit melalui transporter GLUT2, yaitu merupakan difusi
terfasilitasi. GLUT2 sangat banyak terdapat di membran plasma hepar, dan aktivitasnya tidak dipengaruhi
oleh insulin. Insulin menstimulasi sintesis glikogen dengan cara aktivasi glucokinase dan glycogen
synthase. Pada saat glycogen synthase diaktivasi, peningkatan insulin dan juga glukosa dapat
9

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


menurunkan aktivitas glikogen phosphorylase. Enzim ini berfungsi untuk mengatur kecepatan pemecahan
glikogen. Insulin juga menghambat glucose-6-phosphatase, yaitu enzim yang mengubah glucose 6phosphate menjadi glucose, yang mana terdapat pada proses pengubahan glikogen menjadi glukosa.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat yang penting dalam hepar maupun otot.
(Boron, 2012)

Gambar 9. Efek insulin di hepatosit. Pertama, insulin mengawali sintesis glikogen dari glukosa dengan
cara meningkatkan transkripsi dari glucokinase (1) dan juga dengan cara mengaktivasi glycogen (2)
synthase. Selain itu, insulin dan glukosa menghambat pemecahan glikogen dengan cara mengurangi
aktivitas G6Pase (4). Glukosa juga menghambat glycogen phosphorylase (3). Kedua, insulin memulai
sintesis glikolisis dan oksidasi karbohidrat dengan cara meningkatkan aktivitas glucokinase (1),
phosphofructokinase (5), dan pyruvate kinase (6). Insulin kemudian memicu metabolise glukosa
melalui hexose monophosphate shunt (7). Insulin juga dapat memicu oksidasi pyruvate dengan cara
menstimulasi pyruvate dehdrogenase (8). Insulin menghambat glukoneogenesis dengan cara
menghambat aktivitas PEPCK (9), FBPase (10), dan G6Pase (4). Ketiga, insulin memicu sintesis dan
penyimpanan lemak dengan cara meningkatkan aktivitas acetyl CoA carboxylase (11), dan fatty acid
synthase (12), dan juga sintesis beberapa apoprotein yang dikemas dalam VLDL. Insulin juga secara
tidak langsung menghambat oksidasi lemak karena peningkatan malonyl CoA menghambat CAT I (13).
Inhibisi oksidasi lemak dapat membantu esterifikasi asam lemak menjadi trigliserida dan menyimpannya
dalam bentuk VLDL ataupun droplet lipid. Keempat, terjadi mekanisme yang masih belum diketahui,
10

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


yaitu di mana insulin dapat memicu sintesis protein (14) dan menghambat pemecahan protein (15).
(Boron, 2012)
Mekanisme Kerja Insulin di Otot
Otot merupakan jaringan yang sensitif terhadap insulin dan juga merupakan jaringan target untuk
mengubah glukosa. Insulin memiliki 4 aktivitas di otot. Pertama, berbeda dengan di hepar, glukosa masuk
ke dalam membran plasma melalui reseptor GLUT4. Reseptor ini merupakan transporter glukosa yang
sensitif terhadap insulin. GLUT4, yang mana ditemui di otot dan jaringan lemak, termasuk ke dalam
keluarga protein yang membantu difusi terfasilitasi glukosa. Insulin diketahui mampu menstimulasi
GLUT4 di otot dan di jaringan lemak dengan cara merekrut transporter dari sitoplasma menuju ke
membran. Rekrutmen ini menyebabkan semakin banyaknya transporter glukosa di membran sel, sehingga
dapat meningkatkan Vmax dari transport glukosa menuju sel otot. Hal inilah yang menyebabkan semakin
tingginya arus masuk glukosa dari cairan interstitial ke dalam sitoplasma.
Efek kedua insulin pada otot adalah meningkatkan konversi glukosa menjadi glikogen dengan cara
aktivasi hexokinase (berbeda dengan glucokinase pada hepar) dan glycogen synthase. Ketiga, insulin
dapat meningkatkan pemecahan glukosa dan oksidasinya dengan cara meningkatkan aktivitas
phosphoructokinase dan pyruvate dehydrogenase. Keempat, insulin juga menstimulasi sintesis protein di
otot skelet, dan memperlambat degradasi protein yang sudah ada. Hal ini menyebabkan terjaganya massa
protein otot, yang mana dapat menjaga kekuatan dan ketahanan otot.
(Boron, 2012)

Gambar 10. Efek insulin pada otot. (Boron, 2012)


11

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


LI 3 Memahami dan Menjelaskan Diabetes Mellitus
3.1 Definisi
Diabetes mellitus (DM) merujuk kepada sekumpulan kelainan metabolisme yang memiliki fenotip sama,
yaitu hiperglikemia. Tergantung dari etiologi dari DM, beberapa faktor yang dapat menyebabkan
hiperglikemia antara lain penurunan sekresi insulin, penurunan utilisasi glukosa, dan peningkatan
produksi glukosa. Disregulasi metabolik sebagai akibat dari DM menyebabkan patofisiologi sekunder di
beberapa sistem organ, yang mana dapat membebani individu penderita diabetes mellitus. Di Amerika
Serikat, DM merupakan penyebab utama end-stage renal disease (ESRD), amputasi ekstremitas bawah
nontraumatik, dan kebutaan dewasa. DM juga menjadi predisposisi terjadinya penyakit kardiovaskular.
(Fauci, 2012)
3.2 Etiologi
a. Diabetes tipe 1 (destruksi sel pankreas, biasanya mengarah pada defisiensi total insulin)
Immune mediated & Idiopathic
b. Diabetes tipe 2 (dapat disebabkan oleh resistensi insulin, relative insuline deficiency, ataupun defek
sekresi insulin disertai dengan resistensi insulin)
c. Penyebab lainnya: Hepatocyte nuclear transcription factor (HNF) 4 (MODY1), Glucokinase
(MODY2), HNF-1 (MODY3), Insulin promoter factor-1 (IPF-1; MODY 4), pancreatitis,
pancreatectomy, neoplasia, cystic fibrosis, hemochromatosis, fibrocalculous pancreatopathy, mutasi
pada carboxyl ester lipase, beerapa obat seperti glucocorticoid, vacor, pentamidine, nicotinic acid,
diazoxide, -adrenergic agonist, thiazides, hdantoins, asparginase, -interferon, protease inhibitor,
antipsychoics, epinephrine, dll.
(Fauci, 2012)
3.3 Epidemiologi
Laporan data epidemiologi McCarty dan Zimmer menunjukkan bahwa jumlah penderita DM di dunia
dari 110,4 juta pada tahun 1994 melonjak 1.5 kali lipat (175,4 juta) pada tahun 2000, dan akan melonjak
dua kali lipat (239,3 juta( pada tahun 2010 (Tjokroprawiro, 2006)0. International Diabetes Federation
(IDF) menyatakan bahwa pada tahun 2005 di dunia terdapat 200 juta (5,1%) orang dengan diabetes dan
diduga 20 tahun kemudian yaitu tahun 2025 akan meningkat menjadi 333 juta (6,3%) orang. Negaranegara seperti India, China, Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Italia, Russia, dan
Brazil merupakan 10 besar negara dengan jumlah penduduk diabetes terbanyak (Depkes RI, 2007).
Dalam Diabetes Atlas edisi kedua tahun 2003 yang diterbitkan oleh IDF, prevalensi diabetes di Indonesia
pada tahun 2000 adalah 1,9% (2,5 juta orang) dan toleransi glukosa terganggu (TGT) 9,7% (12,9 juta
orang) dengan prediksi bahwa di tahun 2025 berturut-turut akan menjadi 2,8% (5,2 juta orang) dan 11,2%
(20,9 juta orang) dengan TGT. (Fitrania, 2008)

Gambar 11. Prevalensi diabetes mellitus di seluruh dunia (Fauci, 2012)


12

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


3.4 Klasifikasi
DM diklasifikasikan berdasarkan proses patogenik yang menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Secara
umum, terdapat 2 tipe diabetes yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Kedua tipe diabetes tersebut didahului
oleh fase homeostasis glukosa yang abnormal. DM tipe 1 adalah diebetes mellitus akibat dari defisiensi
total (atau defisiensi mendekati total) insulin. DM tipe 2 merupakan tipe kelainan yang disebabkan oleh
resistensi insulin, gangguan sekresi insulin, dan peningkatan produksi glukosa.
Selain kedua tipe DM di atas, tipe diabetes mellitus lain yang perlu diketahui adalah gestational diabetes
mellitus (GDM). Intoleransi glukosa yang terjadi pada saat kehamilan dikategorikan sebagai diabetes
gestational. Resistensi insulin yang terkait dengan perubahan metabolisme saat kehamilan, ataupun
peningkatan kebutuhan insulin mengarah kepada impaired glucose tolerance (IGT) atau diabetes. GDM
terjadi pada 2-10% kehamilan di Amerika Serikat; wanita tersebut pada umumnya dapat kembali seperti
normal kadar glukosanya setelah masa kelahiran, namun memiliki risiko tinggi (35-60%) untuk mengidap
DM pada 10-20 tahun mendatang.
(Fauci, 2012)
Tabel 5. Spektrum hemostasis glukosa pada kasus Diabetes Mellitus (Fauci, 2012)

3.5 Patofisiologi
Diabetes Mellitus Tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1, yang memiliki karakteristik yaitu destruksi sel pankreas, diidap oleh 5-10%
dari total pasien diabetes. Diabetes mellitus tipe 1 dibagi menjadi beberapa subdivisi, yaitu 1A immunemediated diabetes, dan tipe 1B non-immune-related diabetes. Di Amerika Serikat dan Eropa, sebanyak
90-95% pasien diabetes tipe 1 merupakan diabetes tipe 1 immune-mediated. Derajat destruksi sel
sangat bervariasi, dan pada beberapa kasus (utamanya pada anak-anak dan bayi), terjadi sangat cepat.
Namun pada dewasa, umumnya terjadi lebih lambat. Beberapa individu tertentu, terutama anak-anak dan
remaja, dapat menunjukkan ketoacidosis sebagai gejala klinis pertamanya. Individu lainnya dapat saja
menunjukkan klinis peningkatan FPG yang dengan cepat dapat berubah menjadi hiperglikemia berat,
disertai dengan ketoacidosis dan infeksi.
Destruksi sel artinya orang yang menderita diabetes tipe 1 dapat mengalami kekurangan insulin yang
berat (karena tidak ada insulin yang diashilkan), dan kondisi ini sangat rentan untuk terjadinya
ketoacidosis. Salah satu mekanisme yang dapat dihambat oleh insulin adalah mekanisme lipolisis dan
juga pelepasan asam lemak dari sel-sel lemak. Pada saat tidak tersedianya insulin, ketosis dapat
menyebabkan asam-asam lemak ini untuk diubah menjadi keton di hepar.
13

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


(Porth, 2012)
Diabetes Tipe 1A (Immune-Mediated)
Diabetes tipe 1A, dicirikan dengan destruksi sel akibat dari sel-sel imun. Diabetes tipe ini seringkali
terjadi pada anak-anak dan dewasa. Faktanya, sebanyak dari seluruh kasus diabetes tipe 1A adalah
anak berusia <18 tahun. Diabetes tipe 1A merupakan kelainan autoimun yang terjadi akibat predisposisi
genetik, pemicu dari lingkungan (misalnya infeksi), reaksi hipersensitivitas oleh sel limfosit T terhadap
antigen sel . Pada beberapa evidence, diketahui bahwa terdapat gen MHC pada kromosom 6 yang
mengkode human leukocyte antigen (HLA)-DQ dan HLA-DR (terutama DR-3 dan DR-4) yang memiliki
peranan dalam menyebabkan diabetes tipe 1A.
(Porth, 2012)
Diabetes Tipe 1B (Idiopathic)
Diabetes tipe 1B terjadi karena tidak adanya bukti proses autoimunitas terhadap sel pankreas yang
rusak. Hanya sedikit orang yang mengidap penyakit diabetes tipe 1B, namun diketahui bahwa diabetes
tipe 1B sangat terkait dengan keturunan.
(Porth, 2012)
Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Sindrom Metabolik
Diabetes mellitus tipe 2 menggambarkan keadaan hiperglikemia yang disertai dengan sedikitnya jumlah
insulin yang diproduksi, ataupun tidak adanya insulin yang diproduksi. Sebanyak 90-95% pasien diabetes
mengidap diabetes mellitus tipe 2. Kebanyakan orang dengan diabetes mellitus tipe 2 adalah dewasa dan
overweight. Namun saat ini, diabetes tipe 2 mulai sering ditemui pada anak-anak ataupun remaja yang
obese.
Mekanisme abnormalitas metabolisme yang terkait dengan diabetes tipe 2 antara lain (1) resistensi
insulin, (2) peningkatan produksi glukosa oleh hepar, dan (3) penurunan sekresi insulin oleh sel
pankreas. Resistensi insulin biasanya mengawali terjadinya hiperglikemia dan biasanya disertai dengan
mekanisme kompensasi sel yaitu hiperfungsi dan hiperinsulinemia pada masa-masa awal. Resistensi
insulin terjadi sebagai akibat gagalnya jaringan target untuk merespon insulin. Hal ini menyebabkan
penurunan uptake glukosa oleh sel otot dan dapat menyebabkan gangguan supresi pembentukan glukosa
di liver. Resistensi insulin di hepar ditandai dengan produksi glukosa yang berlebihan meskipun terjadi
hiperinsulinemia. Meskipun glukosa mampu mengambil sedikit kadar glukosa yang meningkat setelah
makan, namun efisiensi clearancenya berkurang, sehingga mengakibatkan tingginya postprandial blood
glucose level.
(Porth 2012)

14

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Gambar 12. Diagram patogenesis terjadinya diabetes mellitus tipe 2 (Porth, 2012)
Penyebab spesifik terjadinya kerusakan sel beta meliputi penurunan massa sel terkait dengan faktor
genetik ataupun prenatal, peningkatan apoptosis ataupun penurunan regenerasi sel , keausan sel akibat
tingginya resistensi terhadap insulin, glukotoksisitas, lipotoksisitas, dan disposisi amiloid. Pada satu
studi, diketahui bahwa fungsi sel berkurang 50% pada saat seseorang didiagnosis diabetes tipe 2,
sehingga dapat memperburuk keadaan hiperglikemia meskipun derajat resistensi insulinnya stabil.
Patogenesis terjadinya diabetes tipe 2 melibatkan faktor genetik maupun faktor lingkungan. Apabila
terdapat riwayat keluarga yang menderita diabetes tipe 2, maka risiko seseorang untuk menderita diabetes
meningkat dua hingga 4 kali lipat. Meskipun tampaknya diabetes tipe 2 memiliki faktor familial yang
kuat, namun saat ini genetik penyebab diabetes tipe 2 masih belum diketahui.
Dari beberapa penyebab diabetus mellitus tipe 2, obesitas dan inaktivitas merupakan penyebab utama
terjadinya diabetes mellitus dari faktor lingkungan. Sebanyak 90% orang dengan diabetes tipe 2 termasuk
overweight. Obesitas diketahui memiliki efek yang sangat kuat pada jaringan-jaringan yang sensitif
terhadap insulin. Ketika BMI naik, maka naik pula risiko untuk mengidap diabetes mellitus. Risiko ini
tidak hanya terkait dengan jumlah lemak yang dimiliki seseorang, namun juga distribusi dari lemak
tersebut di tubuh. Diketahui bawa orang-orang dengan lemak yang menumpuk di bagian atas tbuh (atau
sentral) memiliki risiko terkena diabetes yang lebih tinggi daripada orang-orang yang distribusi lemaknya
terpusat di bagian bawah tubuh.
Patofisiologi Komplikasi Diabetes Akut
Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)
HHS dicirikan dengan hiperglikemia (glukosa darah >600 mg/dL, [33.3 mmol/L]), hiperosmolaritas
(osmolaritas plasma >320 mOsm/L), dan dehidrasi, tanpa disertai dengan ketoacidosis dan depresi
sensorium. HHS dapat terjadi akibat dari komplikasi diabetes tipe 2, pankreatitis akut, infeksi berat,
myocardial infection, dan terapi dengan solusi nutrisi via parenteral. Namun HHS paling sering ditemui
pada orang dengan diabetes tipe 2.
Insulin defisiensi yang partial ataupun relatif dapat mengawali terjadinya sindrom ini dengan cara
menurunkan utilisasi glukosa, dan di saat yang bersamaan, menyebabkan hyperglucagonemia serta
meningkatkan output glukosa dari hepar. Karena terjadinya glikosuria yang masif, maka terjadi pula
kehilangan cairan. Apabila orang tersebut tidak mampu mempertahankan keseimbangan cairan, maka
dapat terjadi dehidrasi. Ketika volume plasma berkurang, dapat terjadi insufisiensi renal. Hal ini dapat
menyebabkan menurunnya glukosa yang dapat dikeluarkan oleh ginjal, sehingga dapat memperparah
kadar glukosa di dalam darah, serta dapat memperparah derajat hiperosmolar plasma.
Pada keadaan hiperosmolar, plasma dapat menarik air dari sel-sel tubuh, termasuk sel otak. Hal ini juga
dapat diperparah dengan terbentuknya thromboembolic akibat dari terlalu tingginya osmolalitas serum.
Manifestasi yang paling menonjol adalah lemas, dehidrasi, olyuria, gejala-gejala neurologis, dan
kehausan. Tanda-tanda neurologis yang penting untuk diperhatikan antara lain hemiparesis, Babinski
reflex, aphasia, hyperthermia, hemianopia,, nystagmus, halusinasi, kejang-kejang, dan coma. Onset
terjadinya HHS biasanya sangat cepat. Karena HHS biasanya terjadi pada orang tua, seringkali HHS
didiagnosis sebagai stroke.
Tabel 6. Hasil laboratorium pada kasus DKA (Diabetic Ketoacidosis; lebih sering terjadi pada pasien
diabetes mellitus tipe 1), dan HHS (Hyperosmolar Hyperglicemic Syndrome; lebih sering terjadi pada
diabetes mellitus tipe 2) (Fauci, 2012)
15

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Komplikasi Kronis
Terdapat 3 jalur metabolisme utama yang dapat menyebabkan komplikasi kronis diabetes. (1)
hiperglikemia intraseluler akibat dari terganggunya jalur polyol, (2) pembentukan advanced glycation end
products, dan (3) aktivasi protein kinase C.
1. Polyol Pathway
Polyol merupakan senawa organik dengan gugus hidroksil (OH) sebanyak tiga ataupun lebih. Jalur
polyol merujuk pada mekanisme intraseluler yang bertanggung jawab terhadap perubahan jumlah
gugus hydroxyl dari molekul glukosa. Pada jalur sorbitol, gklukosa pertama diuba menjadi sorbitol
dan kemudian fruktosa. Proses ini diaktivasi oleh enzim aldose reductase. Meskipun glukosa dapat
dengan cepat diubah menjadi sorbitol, kecepatan ini tidak diimbangi dengan kecepatan berubahnya
sorbitol menjadi fruktosa. Sorbitol secara osmotik sangat aktif, dan penumpukan jumlah sorbitol di
dalam sel dapat mengganggu fungsi sel yang metabolismenya juga menggunakan jalur ini (lensa
mata, saraf, ginjal, dan pembuluh darah). Di lensa mata misalnya, peningkatan efek osmotik sorbitol
menyebabkan pembengkakan. Peningkatan sorbitol juga dikaitkan dengan penurunan myoinositol
dan penurunan aktivitas ATP. Penurunan senyawa-senyawa tersebut dapat menyebabkan patogenesis
terjadinya neuropati (terjadi karena adanya kerusakan sel Schwann).
2. Pembentukan Advanced Glycation End Products
Glikoprotein, yang mana juga dapat disebut sebagai protein glukosa, merupakan komponen normal
pada bagian membrana basalis di pembuluh darah kecil ataupun kapiler. Glikoprotein ini juga dapat
disebut sebagai advanced glycation end products (AGEs). Saat ini diketahui bahwa peningkatan
konsentrasi glukosa intraseluler akibat dari tidak terkontrolnya kadar glukosa dapat menyebabkan
defek struktural pada bagian membran sel pembuluh darah kecil. Komplikasi yang terjadi antara lain
pada organ mata dan ginjal.
3. Protein Kinase C
Aktivasi PKC di pembuluh darah retina, ginjal, ataupun saraf dapat menyebabkan kerusakan
vaskuler. (Porth, 2012)

16

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


3.6 Manifestasi Klinis
Diabetes mellitus memiliki onset yang rapid ataupun lambat. Pada diabetes tipe 1, gejala klinis biasanya
muncul dengan sangat cepat. Namun diabetes tipe 2, biasanya lebih lambat; biasanya diabetes tipe 2
terdeteksi saat pasien sedang menjalankan medicak examination rutin.
Gejala klinis yang umum dijumpai pada diabetes adalah 3 poli: (1) poliuria, (2) polidipsia, (3) polifagia.
Ketiga gejala ini sangat erat terkait dengan hiperglikemia dan glikosuria diabetes. Glukosa merupakan
senyawa yang kecil namun aktif secara osmotik. Ketika glukosa darah meningkat cukup tinggi, jumlah
glukosa yang difiltrasi oleh glomerulus ginjal melebihi jumlah glukosa yang dapat diserap oleh tubulus
renal; hal ini menyebabkan glikosuria disertai dengan keluarnya banyak air di urin. Rasa haus diakibatkan
oleh dehidrasi intraseluler karena kadar glukosa yang tinggi di darah menyebabkan keluarna air dari
dalam sel tubuh, termasuk sel di pusat rasa haus hipotalamus. Polifagia biasanya jarang terlihat pada
pasien diabetes tipe 2. Pada pasien diabetes tipe 1, polifagia mungkin terjadi karena cellular staration
akibat dari deplesi cadangan karbohidrat, lemak dan protein di dalam sel.
Penurunan berat badan lebih sering dijumpai pada pasien dengan diabetes tipe 2 tanpa komplikasi. Gejala
lainnya yang diakibatkan oleh keadaan hiperglikemia antara lain pandangan kabur, kelelahan, apresthesia,
dan infeksi kulit. Infeksi kulit kronis biasanya dijumpai pada pasien dengan diabetes tipe 2.
Hiperglikemia dan glikosuria merupakan keadaan yang baik untuk tumbuhnya jamur.
(Porth, 2012)
3.7 Diagnosis & Diagnosis Banding
Anamnesis
Perlu diketahui riwayat diabetes mellitus yang dimiliki keluarga, faktor risiko untuk penyakit
kardiovaskular, kebiasaan berolahraga, kebiasaan merokok dan minum-minuman beralkohol.
Tabel 7. Faktor Risiko Diabetes Mellitus tipe 2 menurut American Diabetes Association 2011 (Fauci,
2012)

Pemeriksaan Fisik
Perlu diperhatikan berat badan pasien dan juga BMI, selain itu perlu diperiksa kondisi retina, tekanan
darah orthostatic, pemeriksaan kaki, denyut perifer, dan bekas-bekas injeksi insulin. Tekanan darah
>130/80 mmHg dianggap sebagai hipertensi pada individu yang menderita diabetes. Pemeriksaan
17

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


ekstremitas bawah perlu dilakukan untuk mengetahui denyut nadi di kaki, neuropati periferal, kalus,
infeksi jamur superfisial, penyakit-penyakit di kuku, deformitas kaki, dan juga refleks pergelangan kaki.
Selain itu, sebaiknya dilakukan juga tes sensasi vibratori (dengan menggunakan garpu tala 128 MHz pada
bagian bawah ibu jari kaki), kemudian tes dengan monofilament (harus bisa merasakan sensasi sentuhan
5.07, 10g monofilament), sensasi pinprick, dan vibration perception threshold (menggunakan
biothesiometer). (Fauci, 2012)
Pemeriksaan Penunjang
Menurut American Diabetes Association 2011, diagnosis diabetes mellitus ditegakkan dengan kriteria
sebagai berikut
Tabel 8. Kriteria diagnosis diabetes mellitus menurut American Diabetes Association 2011 (Fauci, 2012)

Tabel 9. Kriteria diagnosis diebetes mellitus menurut American Diabetes Association 2014

18

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Tabel 10. Kriteria pemeriksaan diabetes pada dewasa asimptomatik (American Diabetes Assocation,
2014)

Diagnosis Banding
A Insulin Resistance
Resistensi Insulin (IR) adalah kondisi di mana jumlah normal insulin tidak memadai untuk
menghasilkan respons insulin normal dari sel lemak, sel otot dan sel hati. resistensi insulin
umumnya bersifat "pasca-reseptor", yang berarti masalah terletak pada respon sel terhadap insulin
alih-alih produksi insulin. Kadar plasma yang tinggi dari insulin dan glukosa akibat resistensi insulin
diyakini sebagai asal usul sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, termasuk komplikasinya.
B Hiperglikemi reaktif
Hiperglikemi reaktif adalah gangguan regulasi gula darah yang dapat terjadisebagai reaksi non
spesifik terhadap terjadinya stress kerusakan jaringan, sehinggaterjadi peningkatan glukosa darah dari
pada rentang kadar puasa normal 80 90 mg / dl darah, atau rentang non puasa sekitar 140 160 mg
/100 ml darah (Pulsinelli,1996), hyperglikemia reaktif ini diartikan sebagai peningkatan kadar
glukosa darahpuasa lebih dari 110 mg/dl (zacharia, dkk, 2005), reaksi ini adalah fenomena yangtidak
berdiri sendiri dan merupakan salah satu aspek perubahan biokimiawi multipleyang berhubungan
dengan stroke akut (Candelise, dkk, 1985).
C Glucose intolerance
Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan dengan pemeriksaan TTGO setelah puasa 8 jam. Diagnosis
intoleransi glukosa ditegakkan apabila hasil tes glukosadarah menunjukkan salah satu dari tersebut
dibawah ini :
1 Toleransi glukosa terganggu (TGT = IGT)

Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan adanya disglikemi
yaitu kenaikan glukosa plasma 2 jam setelah beban 75 gram glukosa pada pemeriksaan tes toleransi
glukosa oral (TTGO) yaitu antara 140 mg/dl sampai dengan 199 mg/dl. Keadaan ini disebut juga
sebagai prediabetes oleh karena risiko untuk mendapat Diabetes Melitus tipe 2 dan penyakit
kardiovaskuler sangat besar. Disebut TGT jika gula darah setelah makan tidak normal, atau berkisar
antara 140-199 mg/dL. Sedangkan gula darah puasa normal.
Gula darah puasa terganggu (GDPT = IFG)
Kadar gula darah yang tinggi, tetapi tidak cukup tinggi untuk menjadi diabetes. Disebut GPT jika
kadar gula darah puasa (8-10 jam tidak mendapat asupan kalori) tidak normal, atau berkisar 100-125
mg/dL.

19

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

3.8 Tatalaksana
Tabel 11. Target terapi diabetes mellitus dewasa (Fauci, 2012)

Non Farmakologis
1. Edukasi Pasien
Topik edukasi yang penting untuk diberikan pada pasien diabetes yaitu monitoring kadar gula darah
secara mandiri, monitoring keton urin (DM tipe 1), administrasi insulin, pencegahan hipoglikemia,
perawatan kaki dan kulit, manajemen diabetes pada saat sebelum, maupun setelah berolahraga, dan
mengubah aktivitas yang memperberat faktor risiko. (Fauci, 2012)
2. Nutrisi
Medical nutrition therapy(MNT) merupakan istilah yang digunakan oleh ADA untuk
mendeskripsikan intake kalori yang optimal terkait dengan aspek diet lain (misalnya pemberian
insulin, olahraga, dan juga diet penurunan berat badan). Tujuan utama MNT adalah memperlambat
onset dari DM tipe 2 pada individu dengan risiko tinggi (obese ataupun dengan kriteria prediabetes).
Tujuan sekunder dari MNT adalah untuk memperlambat ataupun mencegah terjadinya komplikasi
pada penderita diabetes dengan cara mengontrol kadar glukosa darah. Tujuan tersier dari MNT adalah
untuk manajemen diet pada kasus komplikasi akibat diabetes, misalnya penyakit kardiovaskular
ataupun nefropati. Misalnya, pada individu dengan diabetes disertai dengan chronic kidney disease,
intake proteinnya harus dibatasi menjadi 0.8g/kg berat badan setiap harinya.
Pada dasarnya, komponen makanan program MNT pada individu dengan DM tipe 1 ataupun 2 sama
saja dengan populasi pada umumnya (konsumsi buah, sayur, makanan kaya serat, makanan rendah
lemak, dll).
(Fauci, 2012)

20

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Tabel 12. Rekomendasi nutrisi untuk pasien diabetes (Fauci, 2012)

3. Olahraga
Olahraga memberikan efek yang sangat positif pada penderita diabetes, karena dapat menurunkan
risiko terkena penyakit kardiovaskular, penurunan tekanan darah, mempertahankan massa otot,
pengurangan lemak tubuh, dan juga penurunan berat badan. Pada individu dengan diabetes tipe 1 dan
2, olahraga juga dapat menurunkan kadar glukosa darah. Pada pasien dengan diaetes, ADA
merekomendasikan durasi olahraga selama 150 menit per minggu (dibagi kurang lebih selama 3
hari), dengan derajat olahraga aerobic yang sedang.
Meskipun banyak manfaatnya, olahraga juga dapat menimbulkan masalah terutama pada pasien DM
mengingat mekanisme regulasi glukosanya yang tidak normal (insulin normalnya turun pada saat
olahraga, dan diikuti dengan peningkatan kadar glukagon). Otot skeletal merupakan tempat utama
dalam mengonsumsi energi pada saat istirahat, dan konsumsi ini dapat meningkat apabila otot
dibebani dengan aktivitas yang lebih berat. Individu dengan DM tipe 1 sangat rentan mengalami
hiperglikemia ataupun hipoglikemia pada saan berorahlaga, tergantung pada kadar glukosa plasma
sebelum olahraga, kadar insulin yang bersirkulasi, serta derajat beratnya olahraga yang dilakukan.
Untuk mencegah hiper ataupun hipoglikemia akibat olahraga, individu dengan DM tipe 1 harus (1)
memonitor kadar glukosa sebelum, saat, dan setelah olahraga; (2) tunda olahraga apabila kadar
glukosa >14 mmol/L (250 mg/dL), atau apabila ada keton (3) Apabila glukosa darah < 100 mg/dL,
konsumsi karbohidrat sebelum berolahraga; (4) monitor kadar glukosa pada saat olahraga, dan makan
karbohidrat untuk mencegah hipoglikemia; (5) kurangi dosis insulin (berdasarkan pengalaman
sebelumnya) sebelum olahraga, dan injeksikan insulin pada bagian-bagian yang tidak akan
mengalami gerakan berat. Pada individu dengan DM tipe 2, hipoglikemia akibat dari olahraga lebih
jarang terjadi, namun dapat terjadi pada pasien yang mendapatkan terapi insulin. (Fauci, 2012)
21

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Farmakologis

Gambar 13. Tatalaksana farmakologis diabetes mellitus (American Diabetes Association, 2014)
Saat ini tersedia 7 kategori agen antidiabetes untuk terapi penderita diabetes tipe 2; insulin secretagogue
(sulfonylurea, meglitinides, derivatif D-phenylalanine), biguanide, thiazolidinedione, -glucosidase
inhibitor, terapi incretin-based, amylin analog, dan bile acid-bindin sequestrant. Insulin secretagogue
merangsang peningkatan sekresi insulin dari sel pankreas. Biguanide menurunkan produksi glukosa
hepar. Thiazolidinedione dapat mengurangi resistensi insulin. Terapi incretin-based dapat mengontrol
kadar gula postprandial dengan cara meningkatkan sekresi insulin dan mengurangi sekresi glukagon.
Amylin analog juga dapat mengurangi kadar glukosa postprandial dan mengurangi nafsu makan. glucosidase inhibitor memperlambat digesti dan absorpsi zat tepung dan disakarida.
(Katzung, 2013)
Insulin Secretagogue: Sulfonylurea
a. Sekresi insulin dari sel pankreas
Sulfonylurea berikatan dengan reseptor sulfonylurea (memiliki afinitas tinggi, 140-kDa) yang
diasosiasikan dengan -cell inward rectifier ATP-sensitive potassium channel. Ikatan dengan
sulfonylurea dapat menghambat efflux ion kalium melalui channel, sehingga terjadi depolarisasi.
Depolarisasi ini membuka voltage-gated calcium channel, yang menyebabkan influx ion calcium dan
terjadinya pelepasan insulin.
22

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

b. Pengurangan kadar glukagon serum


Pemberian sulfonylurea untuk pasien diabetes tipe 2 dapat menurunkan kadar glukagon serum, yang
juga menunjang efek antiglikemik dari obat ini. Mekanisme supresi kadar glukagon saat ini masih
belum diketahui dengan jelas.
(Katazung, 2013)
Tabel 13. Berbagai macam sediaan obat golongan Sulfonylurea (Katzung, 2013)

Insulin secretagogue: Meglitinide


Repaglinide merupakan obat pertama dalam kelompok meglitinide (insulin secretagogue). Obat golongan
ini dapat mengubah jumlah insulin yang dilepaskan oleh sel pankreas dengan cara mengatur efflux
kalium (melalui potassium channel), seperti pada sulfonylurea.
(Katzung, 2013)
Insulin secretagogue: D-Phenylalanine Derivative
Nateglinide, merupakan D-phenylalanine derivative, merupakan insulin secretagogue yang paling
terakhir tersedia di pasar. Nateglinide menstimulasi pelepasan insulin dari sel pankreas dengan sangat
cepat.
(Katzung, , 2013)

23

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Tabel 14. Obat golongan insulin secretagogue lainnya (Katzung, 2013)

Biguanide
Penjelasan penuh dari mekanisme kerja biguanide saat ini masih belum diketahui secara jelas, namun
efek utamanya adalah mengurangi produksi glukosa di hepar dengan cara aktivasi enzim AMP-activated
protein kinase (AMPK). Mekanisme ini juga dapat mengganggu proses glukoneogenesis di tempat lain,
misalnya di ginjal, kemudian dapat memperlambat absorpsi glukosa di GIT, meningkatkan konversi
glukosa menjadi latkat di enterosit, stimulasi glikolisis secara langsung di jaringan tubuh, peningkatan
pembuangan glukosa dari darah, dan penurunan kadar glukagon plasma.
Mekanisme penurunan glukosa yang dimiliki oleh biguanide tidak memanfaatkan fungsi sel . Pasien
dengan diabetes tipe 2 menunjukkan penurunan hiperglikemia puasa serta penurunan hiperglikemia
postprandial setelah pemberian biguanide. Meski demikian, hipoglikemi pada saat pemberian biguanide
tidak diketahui alasannya.
Biguanide direkomendasikan sebagai first-line therapy untuk pasian diabetes mellitus tipe 2. Karena
metformin merupakan agen insulin-sparing dan tidak meningkatkan berat badan (dan juga tidak
menyebabkan hipoglikemia), terapi dengan metformin sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan
terapi insulin ataupun sulfonylurea.
Metformin memiliki waktu paruh 1.5-3 jam, dan tidak terikat dengan protein plasma, serta tidak juga
dimetabolisme. Metformin diekskresi di ginjal dalam keadaan senyawa aktif. Dosis metformin adalah
500mg hingga maksimum 2.55 g sehari. Tergantung dari derajat hiperglikeminya, metformin dapat
dimulai dengan dosis 1 kali sehari sebelum tidur ataupun sebelum makan. Apabila dosis ini dapat
ditoleransi dan tidak terjadi gangguan gastrointestinal (namun hiperglikemia masih menetap), maka dapat
ditambah dengan tablet 500mg setelah makan malam.
(Katzung, 2013)
Thiazolidinedione
Thiazolidinedione bekerja dengan cara mengurangi resistensi insulin. Thiazolidinedione
Merupakan ligan dari peroxisome proliferator-activated receptor-gamma (PPAR-gamma), yaitu bagian
dari steroid dan superfamili thyroid dari reseptor nukleus. Reseptor PPAR ini dapat ditemui di otot,
lemak, dan hepar. Reseptor PPAR-gamma mengubah ekspresi gen yang terlibat pada metabolisme lipid
dan glukosa, transduksi sinyal insulin, dan adiposa.
24

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Pada pasien diabetes, target kerja Thiazolidinedione yang utama adalah di jaringan adiposa. Pada jaringan
tersebut, Thiazolidinedione menyebabkan uptake glukosa dan utilisasinya, serta mengubah sintesis dari
hormon lipid atau sitokin, dan protein lainnya yang terlibat pada regulasi energi. Thiazolidinedione juga
mengatur apoptosis adiposit dan diferensiasinya. Terdapat 2 sediaan Thiazolidinedione yang ada di pasar,
yaitu pioglitazone dan rosiglitazone.
Tabel 15. Sediaan obat golongan Thiazolidinedione (Katzung, 2013)

-Glucosidase Inhibitor
Acarbose dan miglitol merupakan inhibitor kompetitif -glucosidase intestinal dan dapat mengurangi
jumlah glukosa postprandial yang diekskursi. Cara kerjanya adalah dengan menghambat digesti dan
absorpsi dari karbohidrat dan disakarida. Hanya monosakarida seperti glukosa dan fruktosa yang dapat
ditransport mdari lumen interstitial menuju aliran darah. Karbohidrat kompleks, oligosakarida, dan
disakarida harus dipecah menjadi monosakarida sebelum akhirnya diabsorbsi oleh duodenum dan
jejunum bagian atas. Digesti ini difasilitasi oleh enzim enterik, meliputi -amylase, -glucosidase.
Tabel 16. Sediaan obat golongan -Glucosidase Inhibitor (Katzung, 2013)

25

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Tabel 17. Obat antidiabetes (Fauci, 2012)

26

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

Tabel 18. Properti dari Insulin Secretagogue (Fauci, 2012)

Tabel 19. Properti dari sediaan insulin (Fauci, 2012)

27

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

3.9 Komplikasi
Tabel 20. Komplikasi Diabetes Mellitus Kronik (Fauci, 2012)

28

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Diabetes Mellitus (DM) dengan karakteristik hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dapat
mengakibatkan berbagai macam komplikasi berupa komplikasi akut (yang terjadi secara mendadak) dan
komplikasi kronis (yang terjadi secara menahun).
1

Komplikasi akut dapat berupa :


A. Hipoglikemia yaitu menurunnya kadar gula darah < 60 mg/d
B. Keto Asidosis Diabetika (KAD) yaitu DM dengan asidosis metabolic dan hiperketogenesis
C. Koma Lakto Asidosis yaitu penurunan kesadaran hipoksia yang ditimbulkan oleh hiperlaktatemia.
D. Koma Hiperosmolar Non Ketotik, gejala sama dengan no 2 dan 3 hanya saja tidak ada
hiperketogenesis dan hiperlaktatemia.

Komplikasi kronis :
A. Kadar gula darah tetap tinggi sheingga timbul komplikasi kronik. Komplikasi kronik diartikan
sebagai kelainan pembuluh darah yang akhirnya bias menyebabkan serangan jantung, gangguan
ginjal, gangguan saraf.
B. (Nephropathy ) : kerusakan ginjal. DM dapat mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal. Sehingga
ginjal tidak dapat menyaring zat yang terkandung dalam urin. Bila ada kerusakan ginjal, racun
tidak dapat dikeluarkan, sedangkan protein yang seharusnya dipertahankan ginjal bocor keluar
(proteinuria).
C. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar (pembuluh darah yang dapat dilihat secara
mikroskopis) antara lain pembuluh darah jantung / Penyakit Jantung Koroner, pembuluh darah
otak /stroke, dan pembuluh darah tepi / Peripheral Artery Disease.
D. Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah mikroskopis antara lain retinopati diabetika (mengenai
retina mata) dan nefropati diabetika (mengenai ginjal).
E. (Neuropathy) : Bisa terjadi setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik dan
berlangsung sampai 10 tahun lebih. Akhirnya saraf tidak bias mengirim atau mengahntar pesanpesan rangsangan impuls saraf, salah kirim, atau terlambat dikirim. Meyebabkan kelemahan otot
sampai penderita tidak bias jalan.
F. (Retinopathy) : kerusakan retina mata. Glukosa tinggi menyebabkan rusaknya pembuluh darah
retina bahkan dapat menyebabkan kebocoran pembuluh darah kapiler. Darah akan menutup sinar
yang menuju ke retina sehingga pasien DM penglihatan menjadi kabur.
G. Penyakit jantung : DM merusak pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan lemak di
dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Jika pembuluh darah coroner menyempit,
otot jantung akan kekurangan O2 dan makanan akibat suplai darah kurang.

29

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


H. Hipertensi : DM cenderung terkena hipertensi 2x lipat dari orang normal. Dan dapat memicu
terjadinya serangan jantung, retinopati, kerusakan ginjal, atau stroke.
I.

Gangguan saluran pencernaan : menyebabkan urat saraf lambung akan rusak sehingga fungsi
lambung untuk mengahncurkan makanan menjadi lemah. Gejalanya adalah sukar BAB, perut
gembung, dan kotoran keras.

3.10 Pencegahan
1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada orang-orang yang termasuk kelompok risiko
tinggi, yakni mereka yang belum menderita, tetapi berpotensi untuk menderita DM. Penyuluhan
sangat penting perannya dalam upaya pencegahan primer. Masyarakat luas melalui lembaga swadaya
masyarakat dan lembaga sosial lainnya harus diikutsertakan. Demikian pula pemerintah melalui semua
jajaran terkait seperti Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan perlu memasukkan upaya
pencegahan primer DM dalam program penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Sejak masa prasekolah
hendaknya telah ditanamkan pengertian mengenai pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola dan jenis
makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan.

2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang
telah menderita DM. Dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini
penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Salah satu penyulit DM yang sering terjadi adalah
penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab utama kematian pada penyandang diabetes.
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan :
a Skrinning
Skrinning dilakukan dengan menggunakan tes urin, kadar gula darah puasa, dan GIT. Skrinning
direkomendasikan untuk :
i
Orang-orang yang mempunyai keluarga diabetes
ii
Orang-orang dengan kadar glukosa abnormal pada saat hamil
iii
Orang-orang yang mempunyai gangguan vaskuler
iv
Orang-orang yang gemuk
b

Pengobatan
Pengobatan diabetes mellitus bergantung kepada pengobatan diet dan pengobatan bila diperlukan.
Kalau masih bisa tanpa obat, cukup dengan menurunkan berat badan sampai mencapai berat badan
ideal. Untuk itu perlu dibantu dengan diet dan bergerak badan.
Pengobatan dengan perencanaan makanan (diet) atau terapi nutrisi medik masih merupakan
pengobatan utama, tetapi bilamana hal ini bersama latihan jasmani/kegiatan fisik ternyata gagal
maka diperlukan penambahan obat oral. Obat hipoglikemik oral hanya digunakan untuk mengobati
beberapa individu dengan DM tipe II. Obat ini menstimulasi pelapisan insulin dari sel beta
pancreas atau pengambilan glukosa oleh jaringan perifer.
Tabel 21 Aktivitas Obat Hipoglisemik Oral
Obat
Lamanya jam
Klorpropamid (diabinise)
60
Glizipid (glucotrol)
12-24
Gliburid (diabeta,
16-24

Dosis lazim/hari
1
1-2
1-2
30

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


micronase)
Tolazamid (tolinase)
Tolbutamid (orinase)
c

14-16
6-12

1-2
1-3

DIET
Diet adalah penatalaksanaan yang penting dari kedua tipe DM. makanan yang masuk harus dibagi
merata sepanjang hari. Ini harus konsisten dari hari kehari. Adalah sangat penting bagi pasien yang
menerima insulin dikordinasikan antara makanan yang masuk dengan aktivitas insulin lebih jauh
orang dengan DM tipe II, cenderung kegemukan dimana ini berhubungan dengan resistensi insulin
dan hiperglikemia. Toleransi glukosa sering membaik dengan penurunan berat badan.
(Hendrawan,2002). Modifikasi dari faktor-faktor resiko
a Menjaga berat badan
b Tekanan darah
c Kadar kolesterol
d Berhenti merokok
e Membiasakan diri untuk hidup sehat
f Biasakan diri berolahraga secara teratur. Olahraga adalah aktivitas fisik yang terencana dan
terstruktur yang memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai kebugaran.
g Hindari menonton televisi atau menggunakan komputer terlalu lama, karena hali ini yang
menyebabkan aktivitas fisik berkurang atau minim.
h Jangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan. garam yang tinggi. Hindari
makanan siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
i Konsumsi sayuran dan buah-buahan.

3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit
dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan
sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari)
dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit
makroangiopati. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga.
Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup
yang optimal . Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistik dan terintegrasi antar
disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai
disiplin (jantung dan ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi,
podiatrist, dll.) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier
(Konsensus,2006).

3.11 Prognosis
Prognosis Diabetes Melitus usia lanjut tergantung pada beberapa hal dan tidak selamanya buruk, pasien
usia lanjut dengan Diabetes Melitus tri II (Diabetes Melitus III) yang terawat baik prognosisnya baik pada
pasien Diabetes Melitus usia lanjut yang jatuh dalam keadaan koma hipoklikemik atau hiperosmolas,
prognosisnya kurang baik. Hipoklikemik pada pasien usia lanjut biasanya berlangsung lama dan serius
dengan akibat kerusakan otak yang permanen. Karena hiporesmolar adalah komplikasi yang sering
ditemukan pada usia lanjut dan angka kematiannya tinggi.
LI 4 Memahami dan Menjelaskan Diabetic Retinopathy sebagai Komplikasi Diabetes Mellitus
4.1 Definisi
31

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


Retinopati diabetik adalah kerusakan progresif pembuluh darah di retina yang disebabkan oleh kadar gula
darah tinggi (hiperglikemia).
(Kanski & Bowling, 2011)
4.2 Epidemiologi
Diabetic retinopathy menjadi diagnosis kebutaan baru bagi penduduk Amerika Serikat usia 20-74 tahun.
Dua puluh tahun setelah onset diabetes, hampir seluruh dari pasien diabetes tipe 1 dan lebih dari 60%
pasien diabetes tipe 2 mengidap retinopati pada derajat tertentu. Kehamilan, pubertas, dan operasi katarak
dapat memperparah perubahan ini. Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut, namun faktor risiko yang
terkait dengan diabetic retinopathy antara lain tidak terkontrolnya kadar glukosa darah, peningkatan
tekanan darah,dan hiperlipidemia.
(Kanski & Bowling, 2011)
4.3 Klasifikasi
Diabetic Retinopathy Nonproliferative
Retinopati nonproliferatif biasanya terjadi pada dekade pertama ataupun awal dekade kedua dari
perjalanan penyakit diabetes, ditandai dengan mikroaneurisma vaskuler, perdarahan, dan cotton-wool
spot. Retinopati nonproliferatif ringan dapat memberat dan menjadi penyakit yang lebih ekstensif
,ditandai dengan perubahan pada kaliber pembuluh darah vena, abnormalitas mikrovaskular intraretina,
dan semakin banyaknya mikroaneurisma serta perdarahan.
Diabetic Retinopathy Proliferative
Munculnya neovaskularisasi sebagai respon dari hipoksemia merupakan tanda adanya retinopati diabetik
proliferatif. Pembuluh darah yang baru terbentuk ini muncul di dekat saraf optik dan/atau makula mudah
mengalami ruptur, sehingga menyebabkan perdarahan vitreous, fibrosis, dan pada akhirnya detachment
dari retina.
(Fauci, 2012)
4.4 Patofisiologi
Faktor risiko pasien diabetes mellitus untuk mengalami diabetic retinopathy antara lain:
1 Durasi diabetes
2 Kontrol diabetes yang buruk
3 Kehamilan
4 Hipertensi
5 Neuropati
6 Faktor risiko lain
Diabetic retinopathy umumnya terjadi karena adanya mikroangiopati, yaitu pembuluh darah kecil yang
sangat rentan terhadap kerusakan akibat hiperglikemia. Efek hiperglikemia secara langsung pada sel
retina juga diketahui memiliki peranan penting.
1 Mekanisme kerusakan seluler akibat dari akumulasi sorbitol intraseluler, kemudian terjadi stress
oxidative akibat dari banyaknya radikal bebas, akumulasi advanced glycation end products (AGEs)
dan peningkatan aktivasi protein kinase C yang berlebihan.
2 Capillaropathy dicirikan dengan kerusakan perisit, penebalan membrana basalis kapiler, kehilangan
otot-otot polos vaskular dan ploriferasi sel endotel.
3 Neovaskularisasi disebabkan oleh hipoksia retina akibat dari nonperfusi kapiler, sehingga terbentuk
vaskularisasi baru yang membentang secara preretinal (PDR) dan intraretinal.
(Kanski & Bowling, 2011)
4.5 Manifestasi Klinis
1 Mikroaneurisma
32

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

2
3

Tanda: bintik merah kecil, umumnya temporal dari fovea, dan menjadi tanda awal dari diabetic
retinopathy. Mungkin sulit dibedakan dengan dot hemorrhage. Fluorescein angiography, yaitu bintik
hiperfluorescent.
Perdarahan retina
Tanda: perdarahan lapisan serat saraf retina, perdarahan intraretina, perdarahan bulat berwarna gelap
Eksudat

Gambar 14. Eksudat kecil dan mikroaneurisma (Kanski &


Bowling, 2011)
4.6 Diagnosis & Diagnosis Banding

Gambar 15. Pada opthalmoscope, terlihat pada mata pasien diabetic retinopathy: perdarahan, eksudat
berwarna kuning, dan neovaskularisasi (Fauci, 2012)
4.7 Tatalaksana
Terapi paling efektif diabetic retinopathy adalah pencegahan. Kontrol glikemik dan tekanan darah yang
intensif dapat memperlambat terjadinya retinopati pada individu dengan diabetes mellitus tipe 1 ataupun
2. Namun perlu diketahui bahwa pada penderita diabetik retinopati yang baru 6-12 bulan mengontrol
glikemia nya, diabetik retinopati yang dialami justru dapat memburuk. Perburukan ini hanya terjadi
secara sementara, dan pada jangka panjang, kontrol glikemik dapat menurunkan risiko diabetic
retinopathy.
Individu dengan risiko tinggi retinopathy, harus dilakukan fotokoagulasi profilaktik. Apabila sudah
menderita retinopati, kadar glukosa darah yang terkontrol sekalipun tidak memberikan keuntungan selain
dari kebutaan. Pemeriksaan mata komprehensif harus rutin dilakukan untuk seluruh pasien DM. Penyakit
mata pada DM umumnya dapat diterapi dengan sukses apabila dideteksi lebih dini. Laser
photocoagulation dinilai sangat baik untuk menjaga pengelihatan. Proliferative retinopathy umumnya
diterapi dengan panretinal laser photocoagulation, sementara macular edema diterapi dengan focal laser
photocoagulation.
(Fauci, 2012)
Tabel 21. Tatalaksana diabetic retinopathy berdasarkan klasifikasinya (Kanski & Bowling, 2011)

33

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN

LI 5 Memahami dan Menjelaskan Kebutuhan Kalori Pasien Diabetes Mellitus


1 Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:
Karbohidrat
b Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupanenergi.
c Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan
d Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yangberserat tinggi.
e Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang dia-betes dapat makan sama dengan makanan
keluarga yanglain
f Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
g Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula,asal tidak melebihi batas aman konsumsi
harian.
h Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbo-hidrat dalam sehari. Kalau diperlukan dapat
diberikan makananselingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebu-tuhan kalori sehari.

Lemak
a Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori.Tidak diperkenankan melebihi 30% total
asupan energi.
b Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
c Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemaktidak jenuh tunggal.
d Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyakmengandung lemak jenuh dan lemak trans
antara lain: daging berlemak dan susu penuh (whole milk).
e Anjuran konsumsi kolesterol <200 mg/hari.
Protein
34

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


a
b
c

Dibutuhkan sebesar 10 20% total asupan energi.


Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi,dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit,
produk susurendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan pro-tein menjadi 0,8 g/KgBB perhari atau 10%
dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi.

Natrium
a Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes samadengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu
tidak lebihdari 3000 mg atau sama dengan 6-7 gram (1 sendok teh)garam dapur.
b Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400mg.
c Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin,soda, dan bahan pengawet seperti natrium
benzoat dan na-trium nitrit.
Serat
a Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes di-anjurkan mengonsumsi cukup serat dari
kacang-kacangan,buah, dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi se-rat, karena mengandung
vitamin, mineral, serat, dan bahanlain yang baik untuk kesehatan.
b Anjuran konsumsi serat adalah 25 g/hari.
Pemanis alternatif
a. Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori danpemanis tak berkalori. Termasuk pemanis
berkalori adalahgula alkohol dan fruktosa.
b. Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
c. Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitung-kan kandungan kalorinya sebagai bagian
dari kebutuhankalori sehari.
d. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang dia-betes karena efek samping pada lemak darah.
e. Pemanis tak berkaloriyang masih dapat digunakan antaralain aspartam, sakarin, acesulfame potassium,
sukralose,dan neotame.
f. Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batasaman (Accepted Daily Intake/ ADI)
(Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus, 2011)
B. Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yangdibutuhkan penyandang diabetes. Di antaranya
adalah denganmemperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30kalori/kgBB ideal, ditambah atau
dikurangi bergantung padabeberapa faktor seperti: jenis kelamin, umur, aktivitas, beratbadan, dll.Perhitungan
berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sbb:
a Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
b Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus dimodi kasi
menjadi:
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.BB Normal : BB ideal 10 %
Kurus : < BBI - 10 %
Gemuk : > BBI + 10 %
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh(IMT).Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan
rumus:IMT = BB(kg)/ TB(m2)
Klasifikasi IMT
BB Kurang < 18,5
BB Normal 18,5-22,9
35

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


BB Lebih 23,0
(Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus, 2011)

LI 6 Memahami dan Menjelaskan Makanan yang Halal dan Tayyiban


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. ( Al
Baqarah : 168) Ayat ini merupakan seruan kepada manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halalan
toyyiban. Halal dalam pandangan agama sebagaimana dinaskan dalam Al Quran, sedangkan makanan yang
toyyiban atau yang baik adalah makanan yang mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tubuh.
Kebutuhan gizi seseorang tentunya tidak bisa disama ratakan. seperti halnya kebutuhan gizi atau makanan bagi
mereka yang menderita sakit akan berbeda kebutuhan gizinya dengan orang yang sehat. Sebagai contoh,
daging yang mengandung banyak vitamin dan lemak akan menjadi berbahaya jika dikonsumsi oleh orang yang
menderita darah tinggi, ataupun bahayanya gula jika dikonsumsi mereka yang diabet. Makanan yang baik atau
dalam istilah agama toyyiban selain baik dari sudut pemenuhan kebutuhan gizi sesuai dengan kecukupan
kebutuhan gizi juga mengandung arti makanan yang diolah secara baik dengan media baik serta dengan bahan
campuran yang baik serta menggunakan bahan penolong yang baik juga.
Banyak diantara kita semua yang ketika membeli sebuah produk hanya melihat masa kedalaursanya saja dan
hanya sebagain kecil yang memperhatikan labelisasi halal yang menjamin bahwa produk makanan atau
minuman yang kita beli halal untuk dikonsumsi, Padahal seperti juga batas kedaluarsa, kehalalan makanan
menjadi salah satu factor yang sangat penting bagi umat Islam.
Labelisasi halal dalam makanan dan minuman adalah hasil prodak hukum yang dikeluarkan oleh Majlis Ulama
Indonesia atau MUI sebagai upaya perlindungan konsumen terhadap makanan minuman yang dikonsumsi agar
terhindar dari bahan atau zat yang mengandung unsur keharaman, yang hal tersebut menjadi ranahnya LP
POM MUI dan BP POM Dinas Kesehatan. Regulasi tentang jaminan produk halal menjadi sangat penting
sebagai jaminan ketentraman umat islam diIndonesia. Dan apabila terjadi pelanggaran atas hukum positif
pemerintah tentang pangan halal, maka hal tersebut akan menjadi ranah hukum sebagaimana pelanggaran atas
Undang-undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Setidaknya ada bebera unsur yang harus diperhatikan dalam kita memilih atau meneliti kehalalan toyyiban
sebuah produk yang akan kita konsumsi. PERTAMA adalah kehalalan sutu makanan yang telah dinaskan
dalam Al Quran. Surat Al Maidaah Ayat 3 yang artinya Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,
daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh,
yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak
panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus
asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.
Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha
pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam kata lain, makanan yang diharamkan secara syariat adalah :
Pertama, Bangkai yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan
bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah
36

Tugas Mandiri SK 1 ENDOKRIN


yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada
yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits.
Kedua, Darah, Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya "Atau darah yang
mengalir" [QS6:145] Dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu
apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang
atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar
dikumpulkan dan dibuatmakanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24]
Ketiga, Daging Babi, Babi, baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh
anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur'an, hadits
dan ijma' ulama.
Keempat, Sembelihan untuk selain Allah, Setiap hewan yg disembelih dgn selain nama Allah hukumnya
haram. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik
patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan
kesepakatan ulama.
Kelima, Hewan yang diterkam binatang buas, Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing
lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya
mengalir dan bagian lehernya yang kena.Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Binatang
Buas Bertaring, seperti harimau, singa, anjing, serigala dan binatag buas sejenisnya. Burung Yang Berkuku
Tajam, Binatang yang berkuku tajam seperti burung elang dan sejenisnya. Khimar Ahliyyah yaitu sebangsa
keledai Jinak. Serta binatang yang menjijikan lainnya.
Dalam proses pembuatan makanan setidaknya ada istilah-istilah yang bisa digunakan dalam produksi, antara
lain Bahan Inti (bahan dasar) sebagai bahan utama pembuatan makanan seperti contohnya tepung, gula, telur
dalam pembuatan roti. Selanjutnya Bahan tambahan yaitu bahan yang sengaja ditambahkan untuk menjadikan
hasil produksi lebih banyak atau lebih tahan lama, jika bahan ini diambil dari bahan yang berbahaya tentunya
akan menjadi berbahaya juga bagi yang mengkonsumsi, seperti pengawet makanan menggunakan formalin
dan sejenisnya. Bahan penolong ( bahan yang dugunakan untuk membantu proses pembuatan produk) contoh
pewarna, pengembang, aroma dll.
Bila diteliti, antara makanan haram dan halal sebenarnya banyaklah makanan yang halal, oleh karenanya tidak
ada alasan untuk kita mengkonsumsi makanan yang diharamkanoleh Islam karena didalam larangan itu
pastilah ada rahasia Allah yang sudah barang tentu akan memberikan kebaikan kepada umat manusia seluruh
alam

37