Anda di halaman 1dari 27

Bab II

Isolasi dan Diagnosis Isolasi Transformator

2.1.

Isolasi Transformator
Isolasi pada peralatan sistem tenaga berfungsi untuk memisahkan bagian -

bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan atau dapat juga
antara bagian bertegangan dengan bagian bertegangan lain agar diantara bagian
tersebut tidak terjadi lompatan listrik (flash over).
2.1.1. Isolasi Cair Pada Transformator
Dielektrik atau isolasi cair telah lama dipergunakan pada berbagai
peralatan seperti transformator, kapasitor, kabel, dan switchgear. Isolasi cair yang
saat ini dipergunakan diantaranya minyak mineral, minyak parafin,minyak silikon,
dan beberapa minyak lain termasuk yang sedang dikembangkan yaitu minyak
nabati.
Pada trafo isolasi cair yang digunakan yaitu isolasi cair minyak. Isolasi
cair minyak pada trafo mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai isolasi listrik
dan sebagai media pendingin. Sebagai isolasi listrik, minyak harus mampu
menahan medan listrik tinggi. Sebagai media pendingin, maka sifat-sifat transfer
panas, viskositas, titik bakar dan beberapa sifat thermal lainnya penting untuk
diperhatikan.
2.1.1.1. Minyak Sebagai Isolasi
Pada peralatan tegangan tinggi terdapat daerah-daerah yang memiliki beda
tegangan dengan level yang cukup tinggi mencapai ratusan kilovolt. Jika antara
bagian yang berpotensial tinggi dengan bagian yang berpotensial rendah terjadi
hubungan singkat dapat menimbulkan arus yang tinggi sehingga dapat merusak

trafo dan juga dapat merusak peralatan-peralatan lain yang terhubung dengan
trafo tersebut. Minyak sebagai bahan isolasi trafo harus mampu menahan stress
medan listrik yang lebih tinggi agar trafo dapat beroperasi dengan normal. Dalam
fungsinya sebagai isolasi maka minyak haruslah mempunyai kekuatan dielektrik
yang tinggi, faktor rugi-rugi kecil dan resistivitas yang tinggi.
2.1.1.2. Minyak Sebagai Pendingin
Pada Trafo pemanasan dapat timbul akibat adanya rugi-rugi energi pada
belitan dan inti besi. Proses pemanasan pada trafo ini akan berlangsung secara
berkelanjutan selama pengoperasiannya dan akan menyebabkan kenaikan
temperatur pada belitan dan inti besi. Jika proses pemanasan ini tidak diimbangi
dengan proses pendinginan, maka akan terjadi pemanasan berlebih yang dapat
mengakibatkan terjadinya kerusakan pada trafo. Adanya minyak sebagai cairan
pengisi dalam trafo dapat membantu proses pendinginan belitan dan inti. Salah
satu kelebihan minyak yaitu dapat mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi
serta secara serentak melalui proses konversi energi dapat menyalurkan sekaligus
mereduksi panas yang timbul akibat rugi energi.
Pada kebanyakan trafo, minyak bumi (mineral oil) merupakan salah satu
media yang paling banyak digunakan karena kemampuannya dalam menyerap dan
mereduksi panas dalam trafo yang sangat baik. Namun seiiring berjalannya waktu,
minyak trafo akan mengalami proses penuaan (ageing) yang akan menyebabkan
degradasi. Oleh sebab itu, untuk menjaga kondisi minyak agar lebih tahan lama,
seringkali digunakan metode sirkulasi paksa (forced) dengan pompa. Metode
sirkulasi paksa merupakan minyak yang disirkulasikan keluar permukaan trafo
dan melewati proses pendinginan di luar kemudian disirkulasikan kembali ke
dalam trafo.Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan laju penyaluran
panas pada minyak antara lain kapasitansi panas dan konduktivitas termal.

2.1.1.3 Struktur Kimia Minyak [1]


Pada dasarnya minyak trafo tersusun atas senyawa-senyawa hidrokarbon
dan non hidrokarbon.
2.1.1.3.1. Senyawa Hidrokarbon
Senyawa Hidrokarbon adalah senyawa kimia yang terdiri atas unsur-unsur
hidrogen (H) dan karbon (C). Senyawa hidrokarbon merupakan bagian terbesar
dari minyak. Senyawa ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu
senyawa parafin, senyawa napthena, dan senyawa aromatik.
1. Senyawa Parafin
Parafin adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang mempunyai rantai karbon
lurus atau bercabang. Dalam kimia organik dikenal sebagai senyawa dengan
rantai terbuka atau senyawa alifatis.
2. Senyawa Napthena
Senyawa napthena digolongkan sebagai senyawa hidrokarbon yang
mempunyai rantai tertutup atau struktur berbentuk cincin. Senyawa ini dikenal
pula sebagai senyawa alisiklis. Masing-masing cincin dapat berisi lima atau enam
atom karbon.Senyawa napthena dapat berupa monosiklik, disiklik, dan seterusnya
tergantung pada jumlah cincin yang dimilikinya. Pada masing-masing cincin pula
terhubung satu atau lebih rantai lurus atau berantai bercabang.
3. Senyawa Aromatik
Senyawa ini memiliki satu atau lebih cincin aromatik yang dapat
bergabung dengan cincin alisiklik. Beberapa senyawa aromatik berfungsi sebagai
penghambat oksidasi (inhibitor) dan penjaga kestabilan. Jika jumlahnya terlalu
banyak akan bersifat merugikan yaitu berkurangnya kekuatan dielektrik, serta
berkurangnya kekuatan dielektrik, serta berkurangnya sifat pelarutan minyak
terhadap isolasi padat di dalamnya.

2.3.1.2.Senyawa Non Hidrokarbon


Senyawa non hidrokarbon yang terdapat dalam minyak trafo adalah
substansi asphalt / ter, senyawa organik yang mengandung belerang dan nitrogen,
asam napthen, ester, alkohol dan senyawa organometalik.
1. Ter
Selama proses pemurnian minyak isolasi, sebagian besar ter dihilangkan.
Pada minyak hasil pemurnian ini hanya ter dengan konsentrasi rendah yaitu 2 2,5% berat. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, beberapa jenis senyawa ini
mempunyai pengaruh pada sifat kerja minyak trafo. Senyawa ini memberikan
warna yang khas pada minyak. Ter juga dapat mempercepat oksidasi.
Ter diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Ter netral , senyawa yang larut dalam minyak eter yang berwujud cair atau
semi cair dengan massa jenis sekitar satu.
b. Asphaltena, substansi padat yang tidak larut dalam minyak eter tetapi larut
dalam benzena , senyawa benzena seri, kloroform dan karbon disulfida.
c. Karbena , substansi yang tidak larut dalam pelarut konvensional tetapi
dapat larut sebagian dalam pridin dan karbon disulfida.
2. Senyawa Sulfur (Belerang)
Senyawa sulfur selalu terdapat pada semua minyak mentah, jumlahnya
bervariasi mulai lebih kecil dari 1 % sampai dengan 20 % berat. Senyawa ini
mempunyai pengaruh pada sifat-sifat minyak dan turut menentukan proses yang
diperlukan untuk mengolah minyak. Bagian dari hasil penyulingan minyak yang
mempunyai titik didih rendah hampir semua senyawa sulfur terdapat didalamnya,
tetapi untuk hasil penyulingan yang mempunyai titik didih di atas 200 oC
kebanyakan mengandung senyawa sulfur dengan struktur siklis.
Beberapa senyawa belerang yang terdapat di dalam minyak bersifat
korosif dan tidak stabil. Oleh karena itu dalam proses destilasi minyak diusahakan
untuk menghilangkan atau menekan jumlah senyawa belerang agar korosi dapat
dicegah atau dikurangi.
8

3. Senyawa Nitrogen
Jumlah senyawa nitrogen yang terkandung dalam minyak cukup kecil,
yaitu kurang dari 0,8 %. Walaupun senyawa ini sangat sedikit terdapat dalam
minyak, senyawa ini memegang peranan yang sangat penting pada proses oksidasi
yang bersifat katalis sehingga kehadirannya tidak diharapkan.
4. Asam Napthena dan Senyawa yang Mengandung Oksigen
Asam napthena juga terdapat dalam minyak bumi dalam jumlah cukup
besar. Sebagian besar diantaranya terbuang selama proses pemurnian minyak
sehingga jumlahnya tinggal sedikit sekali sekitar 0,02 %. Disamping asam-asam
napthena,minyak juga mengandung asam-asam dari senyawa alifatik dan aromatik
dalam jumlah yang kecil sekali, selain itu masih terdapat pula senyawa ester ,
alkohol , keton , dan peroksida.
5. Senyawa yang Mengandung Logam
Isolasi cair dapat mengandung garam-garam dari asam organik dan
senyawa metal kompleks. Minyak juga mengandung logam besi, tembaga ,
aluminium , titanium, kalsium, molibdeum, timah ,magnesium , krom, dan perak
walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit.
1.5.1. Isolasi Padat Pada Transformator
Secara umum isolasi padat mempunyai sifat dielektrik yang baik,
mempunyai kemampuan mekanik dan dapat menjadi protektor terhadap
lingkungan. Isolasi padat mempunyai berbagai keuntungan diantaranya bersifat
self supporting (tidak perlu didukung) dan tidak perlu wadah. Beberapa
kelemahan isolasi padat diantaranya recovery sifat isolasinya sangat rendah
sehingga sekali mengalami tembus maka sudah tidak dapat dipergunakan lagi dan
fungsi sebagai pedingin kurang baik.
Pada trafo, isolasi padat terdapat pada belitan. Tujuan isolasi pada belitan
yaitu untuk mengisolasi masing-masing belitan terhadap belitan yang lainnya,
sehingga tidak terjadi flashover antar belitan. Biasanya dalam aplikasinya Trafo
menggunakan Kertas sebagai bahan isolasi padat.
9

Kertas terbuat dari bahan baku selulosa. Kertas untuk dielektrik biasanya
diproses dari pulp kayu kraft yang berasal dari konifer, kayu lunak atau pinus.
Selulosa mempunyai rumus kimia (C6H12O5)n yang merupakan polimer dengan
berat molekul tinggi yang terdiri dari daerah kristalin yang bergabung dengan
bagian amorphous. Secara umum selulosa mempunyai ikatan linear. Namun tidak
jarang dilakukan cross linking ringan. Pada proses pembentukan kertas awal,
kandungan air dapat mencapai 98 % namun pada proses selanjutnya, kertas
dikeringkan dan kandungan kelembapan di dalamnya turun hingga sekitar 5 %.
Kertas mempunyai sifat higrokopis (mudah menyerap air). Oleh karena itu dalam
itu dalam pemakaiannya dikeringkan dahulu kemudian diimpregnasi dengan
minyak mineral, minyak sintetik atau minyak sayur (vegetable oil). Konstanta
dielektrik kertas sangat tergantung dari minyak impregnasi dan selulosa bahan
kertasnya.
Secara umum isolasi kertas mempunyai karakteristik sebagai berikut :

Biasanya t < 0,8 mm

r sekitar 3 dan tan sekitar 25 %.

Bersifat Higroskopis

Selalu digunakan dalam bentuk kombinasi dengan minyak atau resin

Impregnasi minyak : fleksibel

Impregnasi resin : keras dan kaku


Pada Trafo, Kertas dalam pemakaiannya biasanya bersamaan dengan

isolasi cair dalam bentuk impregnasi. Impregnasi kertas menggunakan minyak


akan mengurangi pengaruh kelembapan dan terisinya pori-pori kertas sehingga
sifat dielektrik dalam bentuk komposit menjadi lebih baik.
1.6.

Parameter Kualitas Isolasi Transformator [2]


Peralatan trafo tenaga merupakan bagian penting dalam jaringan tenaga

listrik. Peralatan ini perlu untuk dijaga kondisinya agar dapat beroperasi optimal.
Salah satu bagian penting yang dapat menggambarkan kondisi trafo secara
10

keseluruhan adalah peralatan isolasi. Peralatan isolasi trafo terdiri dari isolasi cair
(minyak) dan isolasi padat (kertas). Saat ini PT PLN telah melakukan beberapa
pengujian untuk mengetahui kualitas isolasi trafo, yaitu :
1.6.1. Tegangan Tembus Minyak (Breakdown Voltage)
Merupakan pengujian untuk mengetahui pada tegangan berapa isolasi
minyak trafo mengalami breakdown. Metode pengujian yang dapat dilakukan
antara lain ASTM D-1816 dan ASTM D-877. Standar nilai hasil pengujian untuk
kedua metode tersebut adalah ;
Tabel 2.1 Standar IEEE C57.106 pengujian kekuatan dielektrik
Metode

<69 kV

69 < 230 kV

>230 kV

ASTM D-1816 ( 1 mm)

23

28

30

ASTM D-1816 ( 2 mm)

40

47

50

Semakin tinggi nilai hasil pengujian tegangan tembus minyak, maka


kekuatan isolasi minyak juga akan semakin tinggi. Tegangan tembus minyak
mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya partikel-partikel hasil
oksidasi dan kandungan air dalam minyak.

Dalam membuat analisa kondisi

isolasi, selain hasil pengujian kekuatan dielektrik harus diperhatikan juga


kandungan air dan oksigen. Kombinasi antara dua zat ini dengan energi panas
akan mengakibatkan kerusakan pada isolasi kertas sebelum nilai kekuatan
dielektrik di bawah standar.

11

Gambar 2.1 Alat Ukur Tegangan Tembus Minyak Trafo


1.6.2. Tegangan Antar Muka (Interfacial Tension /IFT)
Nilai IFT adalah besarnya daya yang dibutuhkan untuk menarik sebuah
cincin kecil ke atas sejauh 1 cm melalui permukaan antara air dan minyak (ASTM
D-971). Minyak yang bagus (baru) mempunyai nilai IFT antara 40 50 dyne/cm.
Nilai IFT dipengaruhi oleh banyaknya partikel-partikel kecil hasil oksidasi
minyak dan kertas. Oksidasi akan menghasilkan air dalam minyak, meningkatkan
nilai keasaman minyak dan pada kondisi tertentu akan menyebabkan
pengendapan(sludge). Standar hasil pengujian IFT menggunakan metode ASTM
D-971 adalah sebagai berikut
Tabel 2.2 Standar IEEE C57.106 pengujian Tegangan Antar Muka
IFT

<69 kV

69 <230 kV

>230 kV

ASTM D-971

25

30

32

Minyak harus di reklamasi ketika nilai IFT mencapai 25 dyne/cm. Pada


kondisi ini, minyak sudah banyak mengandung kontaminasi hasil oksidasi dan
akan terjadi pengendapan.

12

Gambar 2.2 Alat Ukur Tegangan Antar Permukaan


1.6.3. Kandungan Air dalam Minyak (Water Content)
Salah satu hal yang membahayakan trafo adalah kandungan air.
Kandungan air dan oksigen yang tinggi

akan mengakibatkan korosi,

menghasilkan asam, endapan dan cepat menurunkan usia trafo. Dari hasil
penelitian EPRI diperolah bahwa setiap peningkatan kandungan air 2 kali lipat
pada temperatur yang sama akan menurunkan usia isolasi menjadi 0.5 kali.
Kandungan air dalam trafo dapat berasal dari udara saat trafo dibuka untuk
keperluan inspeksi, dan apabila terjadi kebocoran maka uap air akan masuk ke
dalam trafo karena perbedaan tekanan parsial uap air.
Standar hasil pengujian kandungan air dalam minyak menggunakan metode
ASTM D-1533 [2] adalah sebagai berikut :
Tabel 2.3 Standar IEEE C57.106 pengujian kandungan air dalam minyak
Kandungan Air

<69 kV

69 <230 kV

>230 kV

ASTM D-1533

35

25

20

13

Nilai diatas tidak sepenuhnya menjamin kondisi isolasi trafo. Karena


kandungan air dalam minyak akan sangat berbahaya apabila mencapai 30%
saturasi air dan minyak harus direklamasi. Untuk itu pada waktu pengambilan
sampel minyak untuk pengujian kandungan air harus dicatat temperatur minyak
trafo. Temperatur ini sangat diperlukan pada waktu melakukan analisa. Persentase
saturasi air dalam minyak dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.3 Persentase saturasi air dalam minyak


Selain itu, kandungan air dalam minyak dapat digunakan untuk
memperkirakan jumlah kandungan air dalam kertas
Tabel 2.4 Perbandingan distribusi air dalam minyak dan kertas
Temperatur (oC)

Air dalam minyak

Air dalam kertas

20

3000

40

1000

60

300

14

Kandungan air pada kertas terutama terkumpul pada sepertiga belitan


bagian bawah dimana suhu minyak rendah. Hal ini akan memungkinkan
terjadinya flashover antar belitan.

Gambar 2.4 Alat Ukur Kandungan Air dalam Minyak Trafo


1.6.4. Angka Keasaman ( Neutralization Number / NN)
Merupakan jumlah kalium hidroksida (KOH) yang dibutuhkan (dalam mg)
untuk menetralkan 1 gram minyak sampel. Semakin banyak KOH yang
dibutuhkan, maka semakin asam minyak dan semakin besar pula angka
kenetralannya. Proses oksidasi pada kertas dan minyak akan menghasilkan asam.
Kandungan asam dalam minyak mempercepat penurunan kondisi minyak dan
kertas, yaitu :

asam akan membentuk lebih banyak asam dari minyak dan kertas

bereaksi dengan kertas menghasilkan air

asam bersifat korosif terhadap logam dan akan membentuk lebih banyak
partikel-partikel logam pada belitan dan bagian bawah tangki minyak.

15

Standar hasil pengujian angka kenetralan minyak dengan metode pengujian


ASTM D-974 adalah sebagai berikut :
Tabel 2.5. Standar IEEE C57.106 pengujian angka keasaman
Metode

<69 kV

ASTM D 974

0.2

69 <230 kV

>230 kV

0.15

0.1

Berdasarkan hasil pengujian IFT dengan NN, dapat dibuat analisa lebih
lanjut dengan membandingkan nilai keduanya :
Tabel 2.6 Nilai perbandingan IFT dengan NN
Kondisi Minyak

IFT

NN

IFT / NN

Bagus

30,0 45,0

0,00 0,10

300 1500

Proprosional A

27,1 29,9

0,05 0,10

271 600

Marginal

24,0 27,0

0,11 0,15

160 318

Jelek

18,0 23,9

0,16 0,40

45 159

Sangat jelek

14,0 17,9

0,41 0,65

22 44

Sangat sangat jelek

9,00 13,9

0.66 1,50

6 21

Rusak

> 1,51

Dari hasil perbandingan di atas, apabila hasil pengujian IFT : 29,2


dyne/cm, NN : 0,3 dan IFT / NN : 96 maka minyak diklasifikasikan ke dalam
kondisi jelek.

16

Gambar 2.5 Alat Ukur Kadar Asam Minyak Trafo


1.6.5. Flash Point
Temperatur minimum dimana minyak menghasilkan uap yang cukup
untuk dibakar bersama udara. Flash point merupakan indikator ketidakstabilan
minyak. Minyak yang bagus mempunyai nilai flash point tinggi, nilai standar
berdasarkan metode pengujian ASTM D-92 adalah 150oC dan akan terus
berkurang apabila kandungan air, oksigen, gas-gas terlarut meningkat dan ikatan
rantai karbon minyak berkurang.

Gambar 2.6 Alat Ukur Flash Point pada minyalk trafo


17

1.6.6. Warna
Untuk mendeteksi kecepatan penurunan atau kontaminasi yang serius.
Nilai standar berdasarkan metode pengujian ASTM D-1500 adalah <3,5. Hasil
pengujian yang tinggi menggambarkan adanya karbon, partikel isolasi dan
material terlarut lainnya. Karbon terbentuk pada waktu timbul partial discharge
maupun arcing. partikel-partikel dapat berupa furan maupun hasil oksidasi.

Gambar 2.7 Alat Ukur Flash Point pada minyak trafo


1.6.7. Sludge
Sludge dihasilkan oleh adanya oksigen dan kandungan air dalam minyak
trafo. Sludge terutama terjadi pada belitan trafo bagian bawah dan terus
meningkat. Slugde akan mengakibatkan suhu trafo naik pada beban yang dan hasil
pengujian IFT akan mengalami penurunan.

18

Gambar 2.8 Alat Ukur sludge (endapan) pada minyak trafo


1.6.8. Rasio CO/CO2
Jumlah gas CO2 dan CO dalam trafo meningkat seiring dengan
peningkatan suhu operasi trafo. Berdasarkan hasil pengujian DGA menurut
standar IEEE C57.104 , akumulasi gas CO2 dan CO menggambarkan kondisi
kertas yang dibedakan ke dalam 4 status seperti pada tabel berikut :
Tabel 2.7. Akumulasi gas CO2 dan CO
CO2 (ppm)

CO (ppm)

Kondisi 1

0 - 2500

0 - 350

Kondisi 2

2501 4.000

351 - 570

Kondisi 3

4001 10.000

571 1.400

Kondisi 4

> 10.000

> 1.400

Kondisi 1 adalah kondisi normal operasi sedangkan kondisi 4 kertas sudah


mendekati kerusakan.
Apabila salah satu atau kedua gas telah mencapai kondisi 2 atau 3, maka
rasio peningkatan jumlah CO2 / CO sangat membantu dalam menentukan kondisi
isolasi padat. Pada trafo yang beroperasi pada beban dan suhu normal, hasil
19

pengujian rasio pertambahan gas CO2 akan 7 sampai 20 kali lebih besar dibanding
CO. Kondisi normal ini dapat dipertimbangkan untuk rasio pertambahan
mencapai 5. Apabila rasio kurang dari 5 disertai dengan pertambahan gas H2,
CH4, C2H6 maka ada kemungkinan terjadi masalah di dalam trafo dan kertas
mengalami penurunan kondisi yang cepat apabila rasio CO2/CO kurang dari 3.
Pada kondisi ini trafo mendekati kerusakan sehingga perlu dilakukan inspeksi
internal pada isolasi kertas.

Gambar 2.9 Alat Ukur Dissolved Gas Analysis termasuk CO dan CO2
1.6.9. Furan
Pengujian furan dilakukan apabila hasil pengujian rasio pertambahan
CO2/CO bernilai 3 atau kurang. Furan adalah molekul organik yang dihasilkan
dari penurunan isolasi kertas akibat pemanasan berlebih, oksidasi dan asam.
Pengujian yang dilakukan adalah pengujian untuk 5 macam furan yang
disebabkan oleh hal, yaitu :

5H2F (5 hidroksimetil 2 furaldehid) yang disebabkan oleh oksidasi

2FOL (2 fulfurol) disebabkan kandungan air yang tinggi pada kertas

2FAL (2 furaldehid) disebabkan oleh pemanasan berlebih


20

2ACF (2 Asetilfuran) disebabkan oleh petir

5M2F (5 Metil 2 Furaldehid) disebabkan oleh hotspot pada belitan.


Pada isolasi yang bagus, seharusnya jumlah keseluruhan furan yang

terdeteksi kurang dari 100 ppb. Jika terjadi kerusakan pada kertas, maka hasil uji
furan akan lebih dari 100 ppb sampai 70.000 ppb. Minyak harus direklamasi jika
jumlah furan melebihi 250 ppb, karena kertas telah mengalami penurunan kondisi
dan usia trafo berkurang. Hasil pengujian furan ini dikorelasikan dengan hasil
pengujian IFT dan keasaman. Asam menyerang isolasi kertas menghasilkan furan
dan akan menyebabkan IFT turun. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,
analisa hasil pengujian dilakukan berdasarkan pada tren hasil pengujian bukan
pada satu hasil pengujian saja.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kondisi isolasi trafo adalah
kandungan gas oksigen. Gas ini sangat berbahaya karena menimbulkan oksidasi di
dalam trafo. Oksigen di dalam minyak berasal dari adanya kebocoran dan
penurunan kondisi isolasi. Beberapa ahli dan organisasi termasuk EPRI meyakini
bahwa kandungan oksigen dalam lebih dari 2000 ppm akan mempercepat
pemburukan kondisi kertas. Minyak harus di-treatment apabila kandungan
oksigen mencapai 10.000 ppm.
1.6.10. Faktor Rugi-Rugi Dielektrik (tan ) [1]
Faktor Rugi-rugi dielektrik (tan ) merupakan indikator rugi-rugi energi
pada material isolasi dalam kondisi tegangan bolak-balik (AC). Secara umum,
rugi-rugi dielektrik disebabkan oleh adanya elektron bebas dalam isolasi cair.
Keberadaan elektron bebas inilah yang akan menyebabkan timbulnya arus
konduksi (IR) dalam minyak. Sudut rugi-rugi dielektrik akan membesar jika arus
konduksi semakin besar. Rangkaian Ekivalen dan diagram fasor material isolasi
adalah sebagai berikut :

21

(a)

(b)

Gambar 2.10 (a).Rangkaian Ekivalen pararel material isolasi


(b).Diagram fasor rangkaian
Nilai tan berbanding lurus dengan disipasi energi dalam bentuk panas
pada material isolasi. Semakin besar nilai tan minyak transformator
mengindikasikan bahwa disipasi energi dalam bentuk panas pada minyak tersebut
cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam minyak terdapat kerusakan
atau kandungan kontaminan baik berupa uap air, karbon,varnish, senyawa
sodium, maupun kontaminan penggangu lainnya. Karena itu nilai tan minyak
transformator dapat menentukan unjuk kerjanya karena dapat dijadikan parameter
untuk mengevaluasi efesiensi dielektrik serta menilai kerusakan dielektrik karena
penggunaan yang cukup lama. Selain itu, pengujian tan pada minyak
transformator dapat menentukan apakah zat kontaminan masih dapat dalam batas
yang diperbolehkan atau tidak.
Karakteristik tan digunakan untuk mengevaluasi efesiensi dielektrik. Tan
cukup peka untuk mendeteksi serta menilai kerusakan dielektrik akibat telah
dipergunakan untuk waktu yang lama. Pengaruh langsung dari naiknya nilai
adalah terjadinya pemanasan dielektrik. Sedangkan pengaruh tidak langsungnya
adalah naiknya korosi logam, laju kerusakan dielektrik, kelarutan air, emulsifikasi
air dan kecepatan oksidasi.

22

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kondisi isolasi trafo adalah
kandungan gas oksigen. Gas ini sangat berbahaya karena menimbulkan oksidasi di
dalam trafo. Oksigen di dalam minyak berasal dari adanya kebocoran dan
penurunan kondisi isolasi. Beberapa ahli dan organisasi termasuk EPRI meyakini
bahwa kandungan oksigen dalam lebih dari 2000 ppm akan mempercepat
pemburukan kondisi kertas. Minyak harus di-treatment apabila kandungan
oksigen mencapai 10.000 ppm.
1.7.

Proses Degradasi pada Isolasi Transformator


Kegagalan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) disebabkan

karena beberapa hal antara lain isolasi tersebut sudah lama dipakai, berkurangnya
kekuatan dielektrik dan karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada
perinsipnya tegangan pada isolasi merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress)
yang harus dilawan oleh gaya dalam isolasi itu sendiri agar isolasi tidak gagal.
Dalam struktur molekul material isolasi, elektron-elektron terikat erat pada
molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan terhadap tekanan yang
disebabkan oleh adanya tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka
sifat isolasi pada tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan
tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari suatu molekul ke
molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Karakteristik
isolasi akan berubah bila material tersebut kemasukan suatu ketidakmurnian
(impurity) seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat
menurunkan tegangan gagal. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi
mekanisme kegagalan yaitu :

Partikel
Ketidak murnian memegang peranan penting dalam kegagalan isolasi.
Partikel debu atau serat selulosa dari sekeliling dielektrik padat selalu
tertinggal dalam cairan. Apabila diberikan suatu medan listrik maka
partikal ini akan terpolarisasi. Jika partikel ini memiliki permitivitas e2
yang lebih besar dari permitivitas carian e1, suatu gaya akan terjadi pada
23

partikel yang mengarahkannya ke daerah yang memiliki tekanan elektris


maksimum diantara elektroda elektroda. Jika partikel tersebut lembab atau
basah maka gaya ini makin kuat karena permitivitas air tinggi. Partikel
yang lain akan tertarik ke daerah yang bertekanan tinggi hingga partikel
partikel tersebut bertautan satu dengan lainnya karena adanya medan. Hal
ini menyebabkan terbentuknya jembatan hubung singkat antara elektroda.
Arus yang mengalir sepanjang jembatan ini menghasilkan pemanasan
lokal dan menyebabkan kegagalan.

Air
Air yang dimaksud adalah berbeda dengan partikel yang lembab. Air
sendiri akan ada dalam minyak yang sedang beroperasi/dipakai. Namun
demikian pada kondisi operasi normal, peralatan cenderung untuk
membatasi kelembaban hingga nilainya kurang dari 10 %. Medan listrik
akan menyebabkan tetesan air yang tertahan didalam minyak yang
memanjang searah medan dan pada medan yang kritis, tetesan itu menjadi
tidak stabil. Kanal kegagalan akan menjalar dari ujung tetesan yang
memanjang sehingga menghasilkan kegagalan total.

Gelembung
Pada gelembung dapat terbentuk kantung kantung gas yang terdapat dalam
lubang atau retakan permukaan elektroda, yang dengan penguraian
molekul molekul cairan menghasilkan gas atau dengan penguatan cairan
lokal melalui emisi elektron dari ujung tajam katoda. Gaya elektrostatis
sepanjang gelembung segera terbentuk dan ketika kekuatan kegagalan gas
lebih rendah dari cairan, medan yang ada dalam gelembung melebihi
kekuatan uap yang menghasilkan lebih banyak uap dan gelembung
sehingga membentuk jembatan pada seluruh celah yang menyebabkan
terjadinya pelepasan secara sempurna.

24

1.7.1. Penuaan (Aging)


Kandungan air, oksigen, dan produk penuaan minyak trafo (termasuk
keasaman di dalamnya) merupakan penyebab degradasi isolasi trafo yang
kemudian dapat mengurangi umur trafo secara signifikan. Parameter-parameter itu
muncul karena adanya pengaruh dari luar diantaranya suhu, stress medan yang
tinggi dan lain-lain.
Proses pemburukan isolasi trafo melibatkan difusi air yang terjadi
perlahan-lahan, gas, dan produk dari penuaan akan memberikan pengaruh buruk
pada keadaan sebagian struktur isolasi yang disebut struktur tipis (isolasi kertas
pada belitan dan coils, pressboard shets) yang merupakan 40-60% dari total
massa isolasi trafo. Bagian paling panas dari isolasi merupakan faktor penyebab
percepatan kegagalan isolasi.
Pada kenyataannya, fluida merupakan bagian terbesar dari trafo dan
berperan sebagai pemain utama dalam menentukan kondisi keseluruhan sistem.
Seluruh ketidakmurnian pada minyak (air, gas, dan produk penuaan lainnya)
merupakan bagian dari seluruh sistem dielektrik. Produk penuaan yang agresif
akan diserap oleh bahan isolasi yang kemudian akan menghancurkan selulosa dan
juga memberikan pengaruh buruk pada minyak baru setelah refill. Rekondisi
minyak merupakan keputusan yang tepat untuk perpanjangan umur trafo
1.7.2. Kadar Air
Ada tiga faktor yang dapat menyebabkan kadar air dalam isolasi trafo
menjadi berlebihan yaitu :

Embun yang tertinggal di dalam struktur tebal isolasi trafo tidak menguap

Air yang berasal dari udara luar

Penuaan selulosa dan minyak


Sumber utama kontaminasi air adalah embun yang berasal dari udara luar.

Mekanisme masuknya air ke dalam isolasi trafo adalah dengan masuknya udara
25

yang lembab atau bisa saja air dari luar masuk melalui bagian trafo yang tidak
tertutup rapat (kebocoran). Air hujan pun dapat menjadi sumber kontaminasi air
dalam trafo dalam waktu yang cepat. Selain itu pengembunan di dalam trafo pun
dapat terjadi saat pembukaan trafo ke udara untuk keperluan inspeksi.
Penuaan yang terjadi pada minyak trafo dan selulosa dapat menghasilkan
air dalam jumlah yang banyak sehingga menyebabkan nilai suhu akan naik dan
kerusakan pun terjadi dengan cepat. Dalam hal ini molekul air akan berpindah
terutama dari sekitar titik panas ke belitan.
1.7.3. Kontaminasi Partikel
Selulosa, besi, alumunium, tembaga dan partikel lainnya timbul dari
proses pembuatan /produksi dari minyak trafo itu sendiri. Terjadinya penuaan dan
meningkatnya temperatur lama-kelamaan akan terbentuk partikel-partikel yang
mengendap. Terjadinya pemanasan berlebih di atas 500oC dapat menimbulkan
terbentuknya karbon.
Kontaminasi partikel merupakan faktor penting yang menyebabkan
menurunnya kekuatan dielektrik pada isolasi trafo, oleh karena itu dalam
memproduksi minyak trafo akan sangat lebih baik jika meminimasikan jumlah
partikel yang dapat mengkontaminasi minyak tersebut. Partikel yang paling
berbahaya adalah partikel yang bersifat konduktif diantaranya karbon, logam,
fiber.
Melakukan identifikasi dan mengetahui jumlah kontaminasi partikel pada
isolasi trafo merupakan salah satu hal yang penting dalam melakukan condition
monitoring.
1.7.4. Penuaan Isolasi Kertas
Gambar 2.11 memperlihatkan bagan tentang proses penuaan isolasi
minyak-kertas pada trafo karena adanya air, kontaminasi partikel dan produk dari
penuaan minyak. Bagian dielektrik yang aman di antara isolasi mayor dan isolasi
26

minor yang telah terkontaminasi air akan ditentukan oleh nilai kekuatan dielektrik
pada isolasi minyak.

Gambar 2.11 Bagan penuaan pada isolasi minyak-kertas trafo [9]


Munculnya gelembung sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas partial
discharge (PD) yang dapat terjadi bahkan saat rated voltage. Keberadaan
gelembung tersebut menjadi masalah yang serius pada trafo panas. Trafo
panas terjadi bukan hanya karena tingginya temperatur dan kandungan air tapi
juga karena adanya udara dan menurunnya tegangan antar muka pada minyak.
fenomena inilah yang disebut penuaan.
Kandungan air yang tinggi akan menyebabkan kegagalan isolasi dengan
cepat. Sedangkan keberadaan partikel konduktif dapat mengurangi kekuatan
dieletrik minyak. Selain itu air juga menyebabkan terjadinya depolimerisasi
selulosa. Fenomena ini akan menjadi lebih berbahaya dengan adanya zat asam.
Oleh karena itu sebaiknya condition monitoring pada trafo yang terkontaminasi
harus mempertimbangkan juga kontaminasi pada minyak oeh partikel konduktif
dan produk penuaan minyak itu sendiri.
27

1.8.

Diagnosis Isolasi Transformator [1]


Salah satu metoda yang banyak dipergunakan untuk mengetahui kondisi

isolasi transformator adalah dengan menganalisa gas terlarut dalam minyak


(dissolved gas analysis,DGA). Dengan menggunakan kromatografi gas maka
spesies dan konsentrasi gas dalam minyak dapat diketahui. Selanjutnya dari
spesies dan konsentrasi gas tersebut diinterpretasikan kondisi isolasi trafo.
Beberapa teknik atau metode menginterpretasikan data DGA seperti :
a. Total Combustible Gas TCG
b. Key Gas Method
c. Rogers Ratio Method
1.8.1. Metode Total Combustible Gas (TCG)
Menurut IEEE trafo yang sehat harus mengandung 0 720 ppm (v/v)
konsentrasi TCG atau gas-gas yang mudah terbakar yaitu Hidrogen (H2) dan
hidrokarbon rantai pendek seperti metana (CH4), etana (C2H6),etilen (C2H4), dan
asitilen (C2H2). Berdasarkan Standar IEEE C57-104-1991 serta ASTM D-3612
memberikan petunjuk mengenai penggunaan analisis dengan TCG serta
kandungan gas-gas secara individual.
Tabel 2.8 Konsentrasi gas-gas terlarut (ppm) berdasarkan metode TCG
Status

H2

CH4

Kondisi 1

100

120

Kondisi 2

101-700

Kondisi 3
Kondisi 4

121-400

701-

401-

1800

1000

>1800

>1000

C2H2

C2H4

C2H6

CO

CO2

TDCG

35

50

65

350

2500

720

36-50

51-100

66-100

351-570

2500 -

721-

4000

1920

51-80
>80

101-

101-

571-

4001-

1921-

200

150

1400

10000

4630

>200

>150

>1400

>10000

>4630

28

Masing-masing kondisi trafo diatas dikelompokkan sesuai konsentrasi


TCG ataupun konsentrasi Combustible Gas maksimum yang diijinkan. Untuk
diagnosis dan penanganan terhadap kondisi trafo berdasarkan tabel berikut.
Tabel 2.9 Diagnosis dan penanganan terhadap kondisi trafo berdasarkan metode
TCG
Konsentrasi TCG
Kondisi

dan atau konsentrasi

Diagnosis

Prosedur

gas individual

Penanganan

Kondisi

TCG < 720 ppm

Trafo beroperasi

Tidak perlu dilakukan

atau konsentrasi

Dengan normal

penanganan khusus
Lanjutkan pengoperasian

tertinggi gas individual


berdasarkan tabel 2.8
Kondisi
2

TCG 721-1920 ppm

TCG berada dia atas normal , Lanjutkan tindakan pencegahan agar

atau konsentrasi

kegagalan

tertinggi gas individual

mungkin terjadi

berdasarkan tabel 2.8

pada kondisi ini

gejala tidak terus berlanjut


Lakukan investigasi untuk masingmasing combustible gas yang
melebihi batas normal

Kondisi
3

TCG 1921- 4630 ppm

TCG pada level inimenunjuk Segera lakukan tindakan

atau konsentrasi

kan telah terjadi dekomposisi

pencegahan agar gangguan tidak

tertinggi gas individual

tingkatan tinggi

berlanjut
Lakukan investigasi lebih cermat

berdasarkan tabel 2.8

untuk masing-masing combustible


gas yang terdeteksi
Kondisi
4

Laju pembentukan gas dan

TCG > 4630 ppm

Terjadi dekomposisi yang

atau konsentrasi tertinggi

sangat berlebihan

penyebabnya harus segera

gas individual

dan menyeluruh

diidentifikasi dan dilokalisir

berdasarkan tabel 2.8

dalam minyak.

Segera ambil tindakan perbaikan

Meneruskan operasional
dapat menyebab kan
gangguan yang serius

29

1.8.2. Metode Gas Kunci (Key Gas Method)


Berdasarkan pada standar IEEE C57.104.1991. Dengan melihat komposisi
gas-gas kunci pada data maka dapat mempermudah dalam mendiagnosis kondisi
trafo.
Tabel 2.10 Metode Gas Kunci dan Diagnosis gangguan
Gas Kunci
Asetilen (C2H2)

Kriteria
Konsentrasi gas C2H2 dan H2 dalam jumlah yang

Diagnosis
Gangguan
Arching

besar disertai timbulnya gas CH4 dan C2H4 dalam


jumlah kecil. CO dan CO2 juga dapat timbul jika
terjadi dekomposisi pada selulosa
Hidrogen (H2)

Konsentrasi H2 dalam jumlah yang besar, CH4

Corona (PD)

tidak terlalu banyak, serta C2H6 dan C2H4 dalam


jumlah kecil. CO dan CO2 juga dapat timbul jika
terjadi dekomposisi pada selulosa
Etilen (C2H4)

Konsentrasi C2H4 dalam jumlah besar. C2H6, CH4

Overheating of oil

dan H2 dalam jumlah kecil, serta sedikit


konsentrasi CO
Karbonmonoksida

Konsentrasi CO dan CO2 dalam jumlah besar.

Overheating

(CO)

Gas-gas hidrokarbon dapat juga timbul

of cellulose

1.8.3. Metode Rasio Rogers


Metode ini merupakan salah satu perangkat pelengkap untuk analisis
kandungan gas terlarut dalam minyak trafo. Rasio Rogers diperoleh dengan
membandingkan kuantitas dari berbagai gas-gas kunci yang akan memberikan
sebuah nilai rasio suatu gas kunci terhadap gas lainnya.
Rasio Rogers diperoleh dengan perbandingan gas-gas CH4 /H2 ,C2H6/CH4
,C2H4/C2H6 , C2H2/C2H4. Jika diperoleh perbandingan gas-gas tersebut >1 maka
rasio Rogers bernilai 1 dan jika perbandingan gas-gas tersebut 1 maka rasio
Rogers bernilai 0 Nilai dan diagnosis gangguan dengan Rasio Rogers dapat dilihat
pada Tabel 2.11 berikut.
30

Tabel 2.11 Diagnosis gangguan dengan Rasio Rogers


CH4/H2

C2H6/CH4

C2H4/C2H6

C2H2/C2H4

R1

R2

R3

R4

Normal deterioration

Slight overheating below 150oC

Slight overheating 150oC-200 oC

Slight overheating 200oC-300 oC

General conductor overheating

Circulating currents and/or

Diagnosis

overheating joints
0

Flashover without power follow through

Tap changer selector breaking


current

Arc with power follow-through or


persistent sparking

31