Anda di halaman 1dari 32

ASKEP PADA PASIEN DEPRESI

ASKEP PADA PASIEN DEPRESI Oleh : Yayang Nur Enida(S1-KEPERAWATAN)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan
yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Alam
perasaan merujuk pada perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi seluruh
kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang . Alam perasaan ini meliputi perlakuan dan
penyerapan emosi seseorang dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan dan
emosi. Emosi atau alam perasaan memberikan suatu peran adaptif terhadap individu. Depresi
adalah suatu jenis Gangguan alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa
susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi
disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor
kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia
dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh
trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta
faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi
merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor
pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi
merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak
dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. 1.2 Tujuan Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah
keperawatan jiwa. b. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang askep klien dengan depresi
dari materi yang dicari diluar bangku kuliah. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kasus (Masalah
Utama) Gangguan alam perasaan. 2.2 Definisi Depresi Alam perasaan : keadaan emosional yang
berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang.
Gangguan alam perasaan ditandai oleh dendrom depresi sebagian / penuh selain itu juga ditandai
oleh kehilangan minat / kesenangan dalam aktivitas sehari-hari dan rekreasi (Depkes RI. 2000).
Depresi adalah suatu respon emosional yang berasal dari seseorang yang mengalami gangguan
alam perasaan, ditandai dengan perasaan sedih ; berduka yang memanjang dan berlebihan (stoart
& sundeen, 1998). Depresi adalah keadaan afektif yang mempunyai karakteristik perasaan sedih,
merasa bersalah dan harga diri rendah. Keadaan ini kemungkinan bagian dari penyakit baik
kondisi kronis maupun akut, sering dihubungkan dengan respon kehilangan
(Schultz,Videbeck,1998). Depresi adalah suatu kelainan alam perasaan berupa hilangnya minat

atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau
(Townsend,1998:179). Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang
muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti
rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan
kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et all 1993). Bisa disimpulkan bahwa depresi adalah
gangguan patologis terhadap mood yang mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam
perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak
berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut bahaya yang akan datang.
Psikodinamik Gangguan alam perasaan : depresi dapat terjadi karena ketidakseimbangan
elekerolis yaitu perubahan Na+ dan K+ di dalam cairan. Perubahan biokimia (norepinefrin,
dopamin & serotonin) juga mempengaruhi keadaan emosional individu. Rendahnya kadar
norepinefrin & dopamine di dalam otak mengakibatkan individu berada dalam episode depresi,
sedangkan peningkatan kadar norepinefrin dan dopamine didalam otak mengakibatkan perilaku
mania. Rentang Respon emosional Responsif Respon emosional individu yang terbuka dan
sadar akan perasaannya. Pada rentang ini individu berpartisipasi dengan dunia internal dan
eksternal. Reaksi kehilangan yang wajar Posisi rentang yang normal yang dialami oleh
individu karena kehilangan, pada respon ini menghadapi realita dan kehilangan dan mengalamai
proses kehilangan, misal : bersedih, marah pada diri sendiri, berhenti melakukan kegiatan seharihari. Reaksi kehilangan ini tidak berlangsung lama. Supresi Tahap awal respon emosional
yang mendapat dan yang menyangkal, menekan semua aspek perasaannya terhadap lingkungan.
Reaksi duka yang memanjang Merupakan penyangkalan yang menekan dan memanjang tapi
tidak tampak reaksi emosional terhadap kehilangan kembali bersama. Ini dapat terjadi beberapa
tahun. Depresi Suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan selama berduka
yang berlebihan dan berkepanjangan reaksi dapat digunakan untuk menunjukan berbagai
penomena, tanda, gejala emosional, reaksi penyakit/kondidi secara menyeluruh. Mania Suatu
gangguan alam perasaan yang ditandai dengan gangguan alam perasaan yang meningkat,
meluas / keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang. Kondisi ini dapat diiringi
dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan banyak bicara, tindakan yang meloncat, senda
gurau, tertawa berlebihan, penyimpangan seksual. 2.2.1 Jenis-Jenis Depresi Penggolongan
depresi dapat dibedakan (Wilkinson,1995:18 - 26): 1. Menurut gejalanya Depresi neurotic :
Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan tetapi yang
jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional yang
mendahului penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, milik berharga, atau
seorang kekasih. Orang yang menderita depresi neurotik bisa merasa gelisah, cemas dan
sekaligus merasa depresi. Mereka menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti
agrofobia tetapi mereka tidak menderita delusi atau halusinasi. Depresi psikotik : Secara tegas
istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan dengan delusi dan
halusinasi atau keduanya. Psikosis depresi manik : Depresi manik biasanya merupakan
penyakit yang kambuh kembali disertai gangguan suasana hati yang berat. Orang yang
mengalami gangguan ini menunjukkan gabungan depresi dan rasa cemas tetapi kadang-kadang
hal ini dapat diganti dengan perasaan gembira, gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran
ini disebut 'mania'. Pemisahan diantara keduanya :Para dokter membedakan antara depresi
neurotik dan psikotik tidak hanya berdasarkan gejala lain yang ada dan seberapa terganggunya
perilaku orang tersebut. 2. Menurut Penyebabnya Depresi reaktif : Pada depresi reaktif,
gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
Depresi endogenus : Pada depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor

lain. Depresi primer dan sekunder : Tujuan penggolongan ini adalah untuk memisahkan depresi
yang disebabkan penyakit fisik atau psiatrik atau kecanduan obat atau alkohol (depresi
'sekunder') dengan depresi yang tidak mempunyai penyebab-penyebab ini (depresi 'primer').
Penggolongan ini lebih banyak digunakan untuk penelitian tujuan perawatan. 3. Menurut arah
penyakit Depresi tersembunyi : Diagnosa depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang
dibuat bilamana depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang tidak dapat
diterangkan, misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab yang nyata atau hipokondria atau
sebaliknya perilaku yang tidak dapat diterangkan seperti wanita lanjut usia yang suka mengutil.
Berduka : Proses kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan terhadap suatu
kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan itu mampu menerima kenyataan tersebut,
mengalami rasa sakit akibat kesedihan yang menimpa, menderita putusnya hubungan dengan
orang yang dicintai dan penyesuaian kembali. Depresi pascalahir : Banyak wanita kadangkadang mengalami periode gangguan emosional dalam 10 hari pertama setelah melahirkan bayi
ketika emosi mereka masih labil dan mereka merasa sedih dan suka menangis. Seringkali hal itu
berlangsung selama satu atau dua hari kemudian berlalu. Depresi dan manula : Usia tua
merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi. Namun, kadang-kadang depresi pada
manula ditutupi oleh penyakit fisik dan cacat tubuh seperti penglihatan atau pendengaran yang
terganggu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengingat kemungkinan terjadinya penyakit
depresi pada orang tua. 2.3 Proses Terjadinya Masalah Depresi adalah suatu jenis alam perasaan
atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak
bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan
darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor
psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan
sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,
pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan
kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila
berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan
dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila
keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan
tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Faktor Predisposisi 1. Faktor Genetik Mengemukakan
transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam
perasaan mengikat pada kembar memozigot daripada di zigot. 2. Teori agresi berbalik pada diri
sendiri Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dijatuhkan pada
diri sendiri. Fresusi mengatakan bahwa kehilangan objek / orang ambilkan antara kerusakan dan
cinta dapat berbalik menjadi perasaan yang mengasihkan diri sendiri 3. Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan misalnya kehilangan orang bisa pada masa anak,
perpisahan yang bersifat romantis dengan orang yang sangat dicintai, individu tidak berdaya
mengatasi kehilangan. 4. Teori Kepribadian Mengemukakan bahwa sifat kepribadian akan
menyebabkan seseorang mengalami depresi. 5. Teori Kognitif Mengemukakan bahwa depresi
terjadi sebagai akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian yaitu penilaian negatif
terhadap diri sehingga terjadi gangguan proses pikir, individu menjadi pesimis dan memandang
dirinya tidak ada kuat dan tak berharga secara hidup yang tidak memiliki harapan. 6. Model
belajar ketidakberdayaan Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri
karena pengalamn kegagalan, menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah akhirnya
keyakinan individu akan ketidakmampuan mengadakan kehidupan sebagai ia tidak berupaya

mengembangkan respon yang adaptif. 7. Model Perilaku Mengemukakan bahwa depresi


merupakan kurangnya pengiriman (reinforcement) positif selama interaksi dengan lingkungan. 8.
Model biologis Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi penurunan kimiawi yaitu
defisiensi kolefsolamin dan banyaknya endokrin & hipersekresi isortisol. Faktor Presipitasi
Stresser yang dapat menyebabkan GAP (Gangguan Alam Perasaan) 1. Faktor Biologis
Ketidakseimbangan metabolisme khususnya penggunaan obat-obat dari hipertensi gangguan
yang adaptif dan roanya klien yang kronis disertai depresi. Depresi pada usia lanjut akan
komplik dan organic. 2. Faktor Psikologis Kehilangan kasih sayang termasuk kehilangan cinta
seseorang dan kehilangan harga diri, seperti kejadian dalam kehidupan. 3. Faktor Sosial Budaya
Kehilangan peran mekanisme, koping, status sosial ekonomi keluarga, hubungan inter personal,
organisasi kemasyarakatan, kurangnya support, mendukung depresi. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan pada depresi, kehilangan memanjang pada depresi.
Mekanisme koping yang digunakan adalah represi, mengikari dari disosiasi. Terlalu mania
merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurangnya
pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam
menghadapi kehilangan. Tanda dan Gejala / Perilaku yang Ditampilkan oleh Klien Depresi
Afektif : sedih, cemas, apatis, kebencian, kebesaran, marah, perasaan artolok, perasaan bersalah,
merasa tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri dan merasa tidak berharga.
Kognitif : Abivalen, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, kurang perhatian dan
motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tak menentu, pesimis. Fisik : sakit
perut, anorexia, gangguan tingkat aktivitas, menarik diri, isolasi sosial, irritable (mudah marah,
menangis, tersinggung), berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan. Tingkah
laku: agresif, agriasi, gangguan tingkat aktivitas, menarik diri, isolasi sosial, irritable (mudah
marah, menangis, tersinggung) berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.
Menurut Kaplan (1997) gejala utama dari depresi adalah kehilangan minat atau kesenangan.
Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa dalam kesedihan, atau tidak
berguna. Adapun tanda dan gejala depresi menurut Rawlins et all (1993) adalah: 1). Dimensi
Fisik 1. Gangguan primer pada struktur dan fungsi otak dan sistem saraf 2. Perubahan kimiawi
yaitu penurunan noreprineprin, serotonin &peningkatan steroid 3. Penurunan metabolism 4.
Penurunan perawatan diri dan kebersihan diri 5. Kehilangan energi dengan lelah dan lemah 6.
Penurunan aktivitas motorik 7. Depresi mungkin berhubungan dengan adanya gangguan sistem
imun 2). Dimensi intelektual 1. Pemikiran negatif terhadap diri sendiri, dunia/lingkungan dan
masa depan 2. Tidak mampu berfikir rasional 3. Merasa tidak mampu mengontrol dirinya sendiri
maupun lingkungan 3). Dimensi emosional 1. Merasa takut dan cemas 2. Merasa tidak berdaya
dan putus asa 3. Perasaan marah ditekan 4). Dimensi sosial 1. Hubungan antara orang depresi
dengan orang lain kadangkala terlihat seperti ketergantungan yang berlebihan 2. Tingkah laku
depresi mungkin sebagai usaha untuk memanipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya 3.
Orang depresi merasa tidak mempunyai pendukung menarik diri dari lingkungan dan hilang
ketertarikan 2.4 Pohon Masalah 2.5 Masalah Keperawatan yang Perlu Dikaji 2.5.1 Masalah
Keperawatan Masalah Keperawatan yang mungkin muncul adalah : - Gangguan alam perasaan
depresi - Ketidakberdayaan - Resti mencederai diri - Berduka disfungsional - Kehilangan - HDR
- Isolasi diri - Defisit perawatan diri 2.5.2 Data yang Perlu Dikaji Pengkajian dilakukan dengan
mengidentifikasi : - Faktor predisposisi. - Faktor presipitasi. - Perubahan perilaku. - Mekanisme
yang digunakan klien. Data yang dapat terkaji pada klien depresi antara lain : - Mengatakan tidak
dapat menghasilkan sesuatu. - Mengatakan secara verbal ketidakmampuan
pengendalikan/mempengaruhi sesuatu. - Mengatakan ketidakmampuan merawat diri. - Segan

mengekspresikan perasaan yang sebenarnya. - Apatis, pasif. - Ekspresi muka murung. Berbicara dan gerakan lambat. - Tidak berlebihan. - Menghindari orang lain. - Nafsu makan
kurang. - Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan kesempatan. Atau
bisa mengkaji tentang : 1.Gangguan alam perasaan: depresi a.Data subyektif: Tidak mampu
mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatik. Merasa
dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan
cenderung bunuh diri. b.Data obyektif: Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung
dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat
dengan langkah yang diseret.Kadang kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah,
tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat, seolah olah
pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak
mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang
mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang
kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable)
dan tidak suka diganggu. 2.Koping maladaptive a. DS: menyatakan putus asa dan tak berdaya,
tidak bahagia, tak ada harapan. b. DO: nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat
mengontrol impuls. 2.6 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan menurut NANDA yang
muncul pada pasien dengan depresi (Fortinash,1995) adalah : 1. Risiko mencederai diri
berhubungan dengan gangguan mental depresi. 2. Gangguan alam perasaan: depresi
berhubungan dengan koping maladaptif. 3. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan
gangguan konsep diri (harga diri rendah) 4. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan
kegagalan 5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tingkat percaya diri tidak
adekuat dalam kemampuan koping 6. Putus asa berhubungan dengan stress berkepanjangan 7.
Defisit perawatan diri (mandi/personal higine) berhubungan dengan menurunnya motivasi 8.
Defisit perawatan diri (makan) berhubungan dengan menurunnya motivasi 2.7 Rencana
Tindakan keperawatan No Dx Kep Perencanaan Tujuan Intervensi Rasional 1 Risiko mencederai
diri b.d gangguan mental depresi TU : Mengajarkan klien dapat berespon yang adaptif, merespon
kepuasan dan rasa senang klien terhadap apa yang diterima dari lingkungan. TK. 1.Klien dapat
membina hubungan saling percaya diri. 2. Klien dapat mengenali dan mengekspresikan
emosinya 3. Mampu memodifikasi rasa kognitif yang negatif. 4. Klien termotivasi untuk
mencapai tujuan yang realistis 1. a. bina hubungan saling percaya dengan klien, tanggapi
pembicaraan dengan sabar, tidak menyangkal, bicara jelas, empati, hangat, bisa hebatan. b. Beri
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan c. Berikan respon empati dan menerima
klien. 2. a. Tunjukan respon emosional dan menerima klien. b. Bantu klien untuk
mengekspresikan perasaan dan rasa marahnya dengan tepat. c. Bantu klien mengurunkan tingkat
kecemasan, yaitu dengan menyediakan waktu untuk diskusi dan bina hubungan yang sifatnya
supportif d. Beri waktu klien untuk berespon e. Berikan respon empati dengan berfokus pada
perasaan klien. 3. a. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk
mengumpulkannya. b. Identifikasi pemikiran yang negatif c. Bantu klien meningkatkan
pemikiran yang positif. d. Identifikasi persepsi kliennya tidak tepat, penyimpangan dan
pendapat-pendapat yang tidak rasional 4. a. Bantu klien untuk dapat mengarah tujuan yang tidak
realistis ke tujuan yang realistis. b. Bantu klien menyadari nilai yang dimilikinya / perubahan
yang terjadi c. Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan masa lalu/ masa depan d. Berikan
penghargaan / pujian jika klien melakukan sesuatu. - Merupakan sasaran untuk melakukan
intervensi dan perawatan pada klien. - Untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan
klien - Klien merasa penting dan ditangani -Klien depresi mania mempunyai kesamaan

mengantisipasi dan mengekspresikan perasaannya -Modifikasi pola kognitif / membantu untuk


melakukan pengendalian diri dantingkah laku perubahan diri. -Tujuan yang realistis
memudahkan klien lebih jelas dicapai sehingga mengurangi rasa tidak berdaya dan putus asa.
Rencana tidakan keperawatan untuk diagnosa yang lainnya diantaraya : Klien dapat
mengarahkan moutnya lebih baik. o Hindari milieu terapi dengan suasana dan tata warna yang
cerah. o Ajak klien ke tempat yang lebih menyenangkan. o Alihkan suasana hati klien agar tidak
terus menerus memikirkan masalahnya. o Diskusikan dengan klien tentang pentingnya
mengontrol persepsi dan perasaan kita agar hidup lebih menyenangkan. Klien dapat
menggunakan koping adaptif dan melihat sisi positif dari masalah. o Beri dorongan untuk
mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang di rasa klien.
o Tanyakan pada klien cara yang biasa dilakukanmengatasi perasaan sedih. o Diskusikan dengan
klien manfaat dari kopinga yang bisa di gunakan. o Bersamaan dengan klien mencari berbagai
alternative koping. o Anjurkan klien untuk mencoba alternative lain dalam menyelesaikan
masalah. Klien dapat membina hubungan saling percaya dan insiatif berkomunikasi o
Perkenalkan diri dengan klien dengan cara menyapa klien dengan rama,baik verbal dan non
verbal. o Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin dengan sikap empati. o Terima klien
deangan apa adanya tanpa membandingkan dengan orang laen o Ajarkan teknik komunikasi lain
selain verbal untuk menyampaikan ide,gagasan Klien dapat menggunakan dukungan social. o
Kaji system pendukung kenyakinan o Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstrenal individu
Klien dapat meningkatkan harga diri. o Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusasaannya o Bantui mengindentifikasi sumber-sumber harapan. Klien mampu
meningkatkan produtivitas dan membuat jadwal harian. o Ajarkan kaitan manajemen waktu
dengan nasib baik seseorang. o Identifikasi kegiatan harian yang positif yang bisa dilakukan di
rumah o Identifikasi kegiatan yang dilakukan d rumah sakit. o Mendemonstrasikan cara
membuat jadwal harian Klien dapat menggunakan dengan benar dan tepat o Diskusikan tentang
obat o Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar o Anjurkan membicarakan efek samping
yang di rasakan. o Beri reinforcement positif bila menggunakan obat yang benar. Klien mampu
dan berupaya untuk memenuhi personal hygiene o Mengkaji kemampuan melakukan perawatan
diri o Mendiskusikan pentingnya kebersihan dan pengaruhnya terhadap kesehatan dan kehidupan
yang lebih baik d masa depan. o Mendiskusikan dengan keluarga agar mampu merawat anggota
kluarganya yang mengalami masalah kurang perawatan diri Evaluasi Untuk mengukur
keberhasilan asuhan keperawatan yang perawat lakukan, dapat dilakukan dengan menilai
kemampuan pasien dan keluarga, contohnya : 1. Evaluasi terhadap masalah risiko bunuh diri
Kemampuan pasien: a. Pasien mampu mengungkapkan ide bunuh diri b. Pasien mampu
mengenali cara-cara untuk mencegah bunuh diri c. Pasien mampu mendemonstrasikan cara
menyelesaikan masalah yang konstruktif Kemampuan keluarga: a.Keluarga mampu mengenali
tanda dan gejala awal perilaku bunuh diri b.Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang
aman untuk mencegah perilaku bunuh diri c.Keluarga mampu membantu pasien dalam
menetapkan cara-cara yang positif untuk mengatasi masalah 2. Evaluasi terhadap masalah
ketidak berdayaan Kemampuan pasien: a. Pasien mampu berpartisipasi dalam menentukan
perawatan diri b. Pasien mampu melakukan kegiatan positif dalam menyelesaikan masalah
Kemampuan keluarga: a. Keluarga mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien b.
Membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki Dokumentasi asuhan
keperawatan Pendokumentasian atau pencatatan dilakukan pada semua tahap proses
keperawatan. Berikut adalah panduan pengkajian pada pasien dengan depresi. Berikut ini adalah
contoh pendokumentasian lengkap askep dengan depresi di puskesmas : BAB III PENUTUP 3.1.

Kesimpulan Kesimpulan pada makalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut : - Depresi adalah
suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan
dan berkepanjangan. - Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu
yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai
dengan faktor pencetusnya. - Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan
tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh
orang lain. 3.2. Saran Saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut : - Akademik
hendaknya menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan askep pada klien depresi
umumnya materi-materi yang berkaitan dengan keperawatan jiwa. - Untuk mengatasi masalah
depresi ini tidak bisa dilakukan secara instan melainkan harus sabar dan konsisten. Ada beberapa
cara sederhana dan mudah dalam menghadai depresi adalah : o Berolah raga secara rutin dan
teratur o Perbanyaklah berjemur di sinar matahai pagi o Hindari menyendiri, usahakan untuk
sering berkumpul bersama keluarga atau saudara agar ada orang yang bisa diajak bicara. o
Jangan terlalu banyak berpikir akan hal hal negatif, pikirkanlah hal hal baik dan menyenangkan o
Usahakan untuk bersikap terbuka terhadap orang terutama keluarga o Berjalan jalan ke tempat
tempat yang disukai. o Pijat refleksi pada orang yang tepat juga bisa membantu mengurangi
depresi. o Jika olah raga dan jalan jalan dipagi hari bisa dilakukan secara rutin dan konsisten
maka dapat memacu otak untuk melepaskan hormon bahagia (endorphins) dan dukungan yang
sepenuhnya dari keluarga juga sangat dibutuhkan oleh penderita depresi. DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa, Teori & Tindakan Keperawatan, Jakarta : Dirjen
Penatalaksanaan Medik. http://www.akperppni.ac.id/keperawatan-jiwa/asuhan-keperawatanjiwa-depresi-2 http://www.kapukonline.com/2010/01/askepjiwadepresi.html#ixzz1aReRwG6L
Johnson&M Maas. (2000).Nursing Outcomes Classification. St. Louis: Mosby Kellas, B.A.
1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC. NANDA,2001, Nursing Diagnosis;
Definition and Classification (2001-2002) Philadelphia Nurjannah, Intansari (2004), Pedoman
Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia, Yogyakarta Swart & Sunyeen, 1998. Buku Saku
Keperawatan Jiwa. Jakata : EGC. Towsend, MC. 1998. Diagnosa Keperawatan Pada
Keperawatan Psikotrik. Jakarta : EGC

Asuhan Keperawatan Depresi

Rate This

1. PENGERTIAN DEPRESI
Depresi merupakan gangguan psikis yang dapat menurunkan alam kesadaran seseorang,
sehingga seseorang yang terkena depresi akan terganggu aktifitasnya. Ada banyak pengertian
tentang arti depresi, Depresi adalah penyakit suasana hati. Penyakit dari sekitar kesedihan atau
duka cita. Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai
seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood
yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan
harapan(HTTP://www.e-psikologi.com/masalah/index.htm)depresi). Depresi merupakan satu
masa terganggunya fungsi manusia baik fungsi psikis mupun fungsi fisik, yang berkaitan dengan
alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotorik, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri.(ilmu kedokteran jiwa darurat halm 227)
Depresi tidak hanya menggambarkan suasana hati, tetapi juga meliputi perubahan dalam
pemikiran, perilaku, dan biologis kita. Jika hal tersebut dibiarkan maka akan sangat berbahaya
karena akan mempengaruhi keseimbangan hubungan diri kita dengan lingkungan. Depresi dapat
menurunkan fungsi kognitif, emosi dan produktifitas pada individu.
2. JENIS DAN TINGKATAN DEPRESI
Pembagian depresi dimaksudkan untuk mempermudah dalam mengambil tindakan perawatan
dan pengobatan. Ada tiga tingkatan dalam depresi antara lain :
2.1 Depresi Sesaat
Depresi sesaat terjadi karena kita bereaksi terhadap keadaan yang teradi, misalnya path hati.
Depresi ini terbilang tingkat ringan karena kemudian bisa hilang begitu kondisi tak
menyenangkan dilalui. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi depresi ini,
karena jika kita menemukan sesuatu yang baru maka depresi ini akan hilang dengan sendirinya
2.2 Depresi Neurotik
Penyembuhan depresi ini memakan waktu bertahun dan lebih sering ditemukan di antara orangorang yang tidak menikah, pengguna narkoba dan alkoholik. Dari sana menunjukkan bahwa
kasus depresi bisa terjadi pada orang segala usia. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga pada
orang yang sangat tua maupun anak
2.3 Depresi Berat
Pada orang yang terkena gangguan depresi neurotik, sekitar 40 persen menjadi depresi berat.
Tingkat depresi berat itu adalah yang paling parah karena sebagian menjadi gila dan mendapat

perawatan rumah sakit. Biasanya kerja mulai terganggu atau tidak bisa bekerja. Sedangkan
depresi neurotik, biasanya diri sendiri merasa terganggu tetapi dari luar belum kentara terganggu
kualitasnya. Terganggu pada pekerjaan tetapi masih bisa berjalan. Pada tingkatan depresi berat
penderita harus selalu mendapatkan perawatan yang intensif baik dari segi medis maupun
melalui psikiater.
3. PENYEBAB DEPRESI
Pada intinya, depresi merupakan suatu kondisi di mana alam perasaan seseorang itu turun ke
posisi yang terendah. Sekalipun penyebab persis depresi tidak diketahui, tetapi bisa diduga
faktor-faktor yang mendukung terjadinya depresi
Macam-macam penyebab depresi :
1.

Mengalami kekecewaan yang berat dalam hidupnya

2.

Tidak berhasil mencapai suatu keinginan

3.

Kehilangan orang yang paling dicintai

4.

Tuntutan terhadap anak

5.

Pertengkaran hebat antar pasangan

6.

Derita penyakit berkepanjangan

7.

Masalah keuangan

8.

Persaingan karier

9.

Rendahnya harga diri

10. Kesulitan menjalin hubungan dengan pasangan dan relasi


11. Gangguan hormonal
Sebab-sebab depresi di atas merupakan penyebab depresi yang terjadi karena hubungan soial
penderita. Beberapa obat yang dipakai untuk mengobati HIV dapat menyebabkan atau
memperburuk depresi, terutama efavirenz. Ada beberapa penyakit misalnya anemia atau diabetes
yang dapat menyebabkan gejala serupa dengan depresi, begitu juga dengan penggunaan narkoba
atau alkohol, serta testosteron, vitamin B6 atau vitamin B12 yang rendah

4. GEJALA DEPRESI
Pasien depresif tidak selalu mengeluh adanya sedih. Mereka mungkin mudah tersinggung dan
banyak keluhan fisik. Gejala deperesi berbeda-beda tergantung pada pasien yang bersangkutan.
Kebanyakan dokter mencurigai depresi bila pasien melaporkan bahwa dia merasa sedih atau
kehilangan gairah untuk kegiatan sehari-hari. Kemungkinan kita mengalami depresi bila
perasaan ini tetap berlanjut selama dua minggu atau lebih.
Sebelum kita menjelajah lebih jauh untuk mengenali gejala depresi, ada baiknya jika kita
mengenal apakah artinya gejala. Gejala merupakan sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan
yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu bersamaan. Gejala depresi merupakan
kumpulan dari perilaku dan perasaan yang secara spesifik dan mempengaruhi fisik maupun
psikis seseorang, serta dapat dikelompokkan sebagai depresi[1]. Namun yang perlu diingat,
setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau
perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang
dengan yang lain. Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis,
gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah
dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan
menurunnya daya tahan. Gejala-gejala depresi dapat dikelompokkan menjadi tiga gejala yaitu
gejala dari segi fisik, psikis, dan sosial. Untuk lebih jelasnya, kita lihat uraian di bawah ini
4.1 GEJALA FISIK
Menurut para ahli, gejala depresi yang kelihatan secara fisik mempunyai rentangan dan variasi
yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada
beberapa gejala fisik umum yang mudah untuk dideteksi. Gejala-gejala tersebut antara lain :
Gangguan pola tidur, baik mengalami kesulitan untuk tidur, terlalu sedikit maupun terlalu
banyak
Perubahan perilaku, pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku
yang pasif, suka pada kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton TV, makan, tidur
Aktivitas menurun, dan mudah capek. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian
atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan
atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatan
seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktifitas membuat penderita semakin
kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri
agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Penderita mudah sekali lelah, capek padahal belum
melakukan aktifitas yang berarti

Semangat kerja menurun, tidak konsentrasi terhadap pekerjaan. Penyebabnya jelas orang
yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau
pekerjaan. Sehingga, mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas.
Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efesien dan tidak berguna, seperti misalnya
ngemil, melamun, merokok terus-menerus, sering menelepon yang tidak perlu. Yang jelas, orang
yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya kurang terstruktur, sistematika kerjanya
jadi kacau atau kerjanya jadi lamban
Nafsu makan berkurang dan kehilangan berat badan
4.2 GEJALA PSIKIS
gejala psikis adalah segala sesuatu yang menyangkut emosi dan tingkah laku seseorang,
seseorang yang mengalami depresi akan mengalami perubahan tingkah laku dan watak yang
mencolok sekali. Berikut adalah gejala-gejala psikis yang dapat dialami oleh para penderita
depresi
Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung
memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang
sekali membandingkan dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai,
beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan
pikiran negatif lainnya
Sensitif. Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan
dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral dipandang dari sudut
pandang yang berbeda oleh penderita, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka penderita
mudah marah, mudah tersinggung, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya
tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri.
Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi
orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya penderita kuasai.
Misalnya, seorang manajer mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam
persepsinya, permutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan
menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan.
Perasaan bersalah. Perasaan bersalah kadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami
depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau
akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan.
Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka
atas situasi tersebutr.

Perasaan terbebani. Banyak orang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya.
Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat.
4.3 GEJALA SOSIAL
Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan
pekerjaan (atau aktivitas rutin lainnya). Lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang
yang depresi tersebut yang pada umunya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri,
sensitif, mudah letih, mudah sakit). Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah
interaksi dengan rekan kerja, atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik,
namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara
kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak
mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun
ada kesempatan.
Menurut dr. Hubertus gejala depresi dibagi menjadi 2 yaitu :
Gejal Major Depression :
1.

Gelisah dan sedih

2.

Pesimis

3.

Tak berguna, tidak percaya diri

4.

kehilangan minat pada aktivitas yang menyenangkan termasuk seks

5.

tak bersemangat dan lamban

6.

sulit konsentrasi

7.

sulit mengambil keputusan putus asa

8.

sulit tidur atau terlalu banyak tidur

9.

putus asa

10. kehilangan selerea makan atau makan jadi berlebihan


11. berpikir tentang atau ingin bunuh diri
12. mudah tersinggung

13. merasa sakit kepala atau penyakit lain tak bisa sembuh seketika
Gejala Maniac-Depressive Illnes :
1.

Gembira berlebihan dan tidak normal

2.

Mudah tersinggung yang tidak lazim

3.

Kebutuhan tidur menurun drastis

4.

Bicara muluk tentang dirinya

5.

Bicara berlebihan

6.

Hasrat seksual meningkat pesat

7.

Perilaku sosial menyimpang

8.

Sulit berpikir jernih

5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA DEPRESI


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang lebih berisiko terkena depresi, faktor
tersebut antara lain :
5.1 Jenis Kelamin
Pada pengamatan yang hampir universal, terlepas dari kultur negara, terdapat prevalensi
gangguan depresi berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Walaupun
alasn adanya perbedaan tersebut tidak diketahui, penelitian telah jelas menunjukkan bahwa
perbedaan di dalam masyarakat barat tidak semata-mata karena praktek diagnostik yang secara
sosial mengalami bias(sinopsis psikiatri halm 779)
5.2 Usia
Rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun, 50 persen dari
semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 30 tahun. Gangguan depresif berat juga
mungkin memiliki onset selama masa anak-anak atau pada lanjut usia, walaupun hal tersebut
jarang terjadi. Beberapa data epidemiologis baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi gangguan
depresif berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun. Karena
pada usia tersebut masalah hidup lebih berat Jika pengamatan tersebut benar, hal tersebut

mungkin berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol dan zat lain pada kelompok
usia tersebut.
5.3 Status Perkawinan
Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki
hubungan interpersonal yang erat atau yang bercerai atau berpisah. Hal ini mungkin karena
penderita tidak mempunyai tempat maupun orang untuk menceritakan atau berbagi masalah yang
dialami dalam kehidupannya
5.4 Pertimbangan Sosioekonomi dan Kultural
Tidak ditemukan adanya korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresif berat.
Depresi mungkin lebih sering di daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan. Untuk depresi
sesaat ekonomi sangat berpengaruhmisalnya kenaikan harga BBM dapat menyebabkan depresi,
karena hal tersebut sangat memberatkan apalagi untuk golongan ekonomi ke bawah. Tetapi
depresi ini akan hilang dengan sendirinya dalam jangk waktu tertentu. Dalam kasus ini jika harga
BBM kembali turun maka depresi tersebut akan hilang.
6. DAMPAK DEPRESI
Depresi tidak hanya menyerang psikis seseorang, tetapi juga dapat menimbulkan efek-efek lain
bagi tubuh yang secara langsung dapat mengganggu aktifitas dan kesehatan penderita. Efek
paling berat paling dirasakan pada orang yang mengalami depresi berat, karena pada tingkatan
depresi ini sebagian besar harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa. Lingkungan rumah
sakit maupun efek obat untuk terapi tentu akan berpengaruh secara langsung terhadap fisik
pasien depresi di rumah sakit. Ada berbagai macam dampak depresi dari yang paling ringan
hingga yang sangat berat bahkan menimbulkan kematian. Dampak-dampak tersebut antara lain :
1.
Depresi biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma, jantung koroner, sakit
kepala dan maag
2.
Menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice, depesi akan meningkatkan
resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi depresi cenderung meningkatkan sirkulasi
adrenalin dan kortisol sehingga menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya. Jika sistem kekebalan
tubuh menjadi lemah maka penyakit akan mudah untuk menyerang penderita depresi
3.
Penyakit mudah hinggap karena orang yang terkena depresi sering kehilangan nafsu
makan, kebiasaan makannya jadi berubah (terlalu banyak makan atau sulit makan), kurang
berolah raga, mudah lelah dan sulit tidur

4.
Selain penurunan daya tahan tubuh, depresi dipandang berbahaya bagi kesehatan psikis dan
fisik karena bisa menyebabkan penurunan fungsi kognitif, emosi dan produktifitas dalam
pekerjaan.
5.
Dampak depresi tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri penderita tersebut tapi juga
akan berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah
orang lain di sekitar penderita. Seperti halnya jika kita terserang flu, maka seluruh tubuh kita
merasa lemas dan tidak enak . bukan hanya itu, orang lain yang ada disekitar kita juga
berpotensi untuk tertular oleh penyakit flu kita.
Menurut miner (1992), seorang professor dari The State University di New York, di dalam
konteks organisasi situasi demikian dikenal dengan konsep the sick organization. Sebab, seorang
karyawan yang mengalami gangguan emosional seperti hanya depresi, akan membawa implikasi
tidak hanya pada kinerja dan kepuasan kerjanya sendiri melainkan juga pada kinerja dan
atmosphere organisasi[2] (http://www.e-psikologi.com/masalah/index.htm) halm1
6. Ada pula dimana depresi tidak menyebabkan penyakit, tetapi justru penyakit yang tak
kunjung sembuh yang akhirnya menyebabka depresi sehingga akan memperparah penyakit
tersebut. Contoh kasus adalah depresi yang dialami penderita kanker, asma, sakit punggung yang
biasanya berlangsung bertahun-tahun
7. Perawatan Depresi
Depresi sebenarnya mudah untuk disembuhkan kecuali pada depresi berat. Pada tingkatan
depresi ini diperlukan terapi pengobatan yang agak sulit. Karena depresi berat sudh mengarah
pada ganggan kejiwaan. Kebanyakan orang kawatir dengan dampak pengobatan antidepresan
yang apabiladignakan dalam secara terus meners dan dalam jangka waktu yang lama akan dapat
mempengaruhi kerja otak. Rata-rata dua dari tiga penderita depresi bisa disembuhkan, pada
tingkat tertentu, yaitu pada tingkatan depresi sesaat dan neurologis. Sedangkan pada depresi
berat diperlukan pemberian antidepresan. Untuk itu pengobatan depresi ditempuh melalui dua
jalan yaitu perawatan secara psikis dan perawatan secara medis.
Perawatan secara psikis adalah cara perawatan untuk memperbaiki psikis penderita, perawatan
ini lebih menekankan pada terapi yang kontinu dalam meningkatkan percaya diri dan
mengurangi faham-faham negatif penderita depresi terhadap dirinya dan orang lain. Perawatan
medis adalah perawatan depresi yang menggunakan terapi obat dan lebih menonjolkan pada
terapi medis yang umumnya dilaksanakan dirumah sakit jiwa. Perawatan ini lebih cenderung
ditujukan pada penderita depresif berat, walaupun pada depresif neurologis juga membutuhkan
terapi ini, tetapi persentasenya lebih kecil dibandingkan dengan depresi berat dalam pemberian
terapi ini.

Cara-cara perawatan depresi adalah sebagai berikut :


7.1 Terapi Psikis
Terapi psikis umumnya tidak memerlukan seorang psikiater tapi lebih cenderung pada
menerapkan disiplin diri dan mencari jalan keluar untuk menghadapi masalah yang menjadi
sumber depresi tersebut.
7.1.1 Perhatian utama dalam menangani masalah depresi adalah adanya komitmen dan
persistensi untuk menyelesaikannya. Fokuskan perhatian pasien pda da hal tersebut agar
keiinginannya untuk sembuh meningkat. Sehingga pasien lebih kooperatif dan kita mudah untuk
mengetahui permasalahan pasien
7.1.2 Banyak pasien depresi merasa terkucil dan putus asa, ntuk itu diperlkan sikap kita yang
lebih berteman. Sehingga pasien tidak akan merasa kesepian dan dengan leluasa dapat
mencurahkan segala permasalahan hidupnya.
7.1.3 Beritahu pasien bahwa depresi itu umum terjadi, sehingga pasien tidak merasa
terkucilkan lagi
7.1.4 Bantulah pasien untuk menemukan stressor atau masalah utama yang dihadapi sehingga
mengakibatkan depresi. Stressor dapat berupa individu, kelompok, maupun lingkungan. Dengan
menemukan stressor dapat mengurangi perasaan dosa dan rendah diri pasien
7.1.5 Tekankan pada pasien bahwa depresi merupakan suatu penyakit, seperti juga hipertensi
yang membutuhkan pengobatan medik
7.1.6 Perbaiki segala macam anggapan dan ambivalensi pasien. Berikan penjelasan bila
terdapat ambivalensi sehingga pasien ragu untuk mencari pengobatan. Anggapan yang beredar di
masyarakat biasanya orang yang pergi ke psikiateradalah orang gila.
7.1.7

Hindari bualan atau harpan yang kosong

7.1.8 Memperbaiki hubungan interpersonal. Apabila pasien memiliki hubungan dengan


seseorang yang suka menganiaya atau hubungan dengan seseorang yang selalu mencela pasien,
sulit bagi pasien untuk sembuh dari depresi
7.1.9 Terapi dari pasangan dan terapi keluarga bisa membantu mengatasi depresi, hampir setiap
komunitas terdekat memiliki program untuk membantu pasien. Termasuk keluarga. Keluarga
diharapkan bisa membantu mengenali keluhan fisik akibat depresi, mengawasi kondisi pasien
dan memotivasi pasien untuk sembuh

7.1.10 Memperbaiki hubungan dengan orang terdekat dapat membantu memperoleh dukungan
positif saat pasien berusaha menyembuhkan depresi
7.1.11 Penjadwalan aktifitas, hal ini dimaksudkan agar pasien lebih meningkatkan aktifitasnya
terutama aktifitas yang menyenangkan. Untuk pengobatan depresi, sering kali menekankan pada
peningkatan jumlah aktifitas mingguan yang menyenngkan dan yang dapat menimbulkan
perasaan puas. Karena dengan hal itu pasien akan merasa lebih baik
7.2 Terapi Obat
Depresi dapat diobati dengan antidepresanObat untuk depresi, namun anti depresan dapat
berinteraksi dengan ARV. Anti depresan harus dipakai dalam pengawsan dokter yang mengetahui
mengenai ARV yang kita pakai. Ritonavir FOOt NOTE dan indinavir paling sering beriteraksi
dengan antidepresan.
Antidepresan yang paling sering dipakai dalam mengobati depresi adalah SSRIFOOTNOTE.
Efek samping obat golongan ini dapat menyebabkn kehilangan nafsu seks, kehilangan nafsu
makan, sakit kepala, insomnia (sulit tidur), kelelahan, mual, diare, dan kegelisahan
Obat dari golongan trisiklik menyebabkan lebih banyak efek samping daripada SSRI. Obat dari
golongan ini dapat menyebabkan sedasi FOOTNOTE, sembelit, dan denyut jantung tidak teratur.
Pengobatan depresi ringan dapat disesuaikan dengan gejala-gejala yang timbul. Misalnya susah
tidur dan kehilangan nafsu makan dapat diberikan obat penambah nafsu makan atau obat tidur.
Terapi antidepresi yang pasti adalah dengan obat atau kejang listrik (ECT) membutuhkan
beberapa minggu atau lebih lama. Informasi penting untuk menentukan tindakan pengobatan
adalah : apakah pasien psikotik?, apakah pasien telah minum obat atau alkohol?, adakah
gangguan medik yang ditemukan?. Jika kita telah mengetahui masing-masing informasi tentang
hal diatas, maka tindakan pengobatan selanjutnya akan lebih aman, mengingat antidepresan
sangat mudah bereaksi dengan obat lain.
Berikut ini adalah terapi obat dengan antidepresan :
7.2.1
Bila pasien mengidap gangguan organik, dapat diatasi dengan benzodiazepine seperti
lorazem (ativan) 1-2 mg per oral atau 1M, alprazolam (xanax) 0,5-1 mg per oral, atau oksazepam
(serax) 10-30 mg per oral, semua diberikan tiap 4 jam dan seperlunya
7.2.1
Bila gejala psikotik timbul, benzodiazepine dapat digunkan, tetapi antipsikotika perlu
dipertimbangkan. Contuh haloperidol (haldol) 2-5 mg per oral atau 1M, flufenazin (prolixin,
anatensol) 2-5 mg per oral atau 1M, atau tiotiksen (navane) 2-5 mg per oral atau 1M. semua
diberikan tiap 4 jam seperlunya

8. Pencegahan Depresi
Depresi memang dapat diobati namun depresi juga dapat dicegah, ingat mencegah lebih baik
daripada mengobati. Berikut adalah cara mencegah depresi :
a.
Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah hati. Jangan pernah
untuk menyimpan sendiri beban hidup kita. Karena hal ini dapat memperburuk depresi yang sdah
dialami mapun dapat mengakibatkan depresi
b.
Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih baik, hal ini dapat
mengalihkan perhatian kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari
masalah tetapi labih cenderung menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap untuk
menghadapinya lagi nanti.
c.
Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi. Hilangkan kata seandainya
saya dalam hidup kita
d.
Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial, kegiatan tersebut membuat
kita lebih jarang melamun
e.
Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan hati kita gembira karena
hal tersebut dapat menghindarkan diri dari menyalahkan diri sendiri
f.

Jangan banyak berpengharapan

g.

Berpikir positif

h.
Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat menjauhkan diri kita
dari depresi
LAPORAN PENDAHULUAN

I.

MASALAH UTAMA

Gangguan alam perasaan: depresi dengan resiko bunuh diri.

II.

PROSES TERJADINYA MASALAH

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa
susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor
konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik,
faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti bunuh diri, penyakit infeksi, pembedahan,
kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau
harga diri dan akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan
adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya.
Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan
realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
III. A. POHON MASALAH

2. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

1.

Gangguan alam perasaan: depresi

a.

Data subyektif:

Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan


somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa
putus asa dan cenderung bunuh diri.
b.

Data obyektif:

Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang
merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang
diseret.Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan,
sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong,
konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya
khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk
akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang-kadang pasien suka
menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka
diganggu.
2.

Koping maladaptif

a.

DS

: menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.

b.

DO

: nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1.

Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.

2.

Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.

V. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


a.

Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.

b.

Tujuan khusus

1.

Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan:
1.1.

Perkenalkan diri dengan klien

1.2.

Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati

1.3. Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai
bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.
1.4.

Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya

1.5.

Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti

1.6. Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.
2.

Klien dapat menggunakan koping adaptif

2.1.
Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat
memahami apa yang dirasakan pasien.
2.2. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan
sedih/menyakitkan
2.3.

Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan

2.4.

Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.

2.5.

Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima

2.6.

Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih

2.7.

Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.

3.

Klien terlindung dari perilaku mencederai diri

Tindakan:
3.1. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.
3.2.
Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai
dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.
3.3.

Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.

3.4.

Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.

4. Klien dapat meningkatkan harga diri

Tindakan:
4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
4.2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
4.3. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan,
hal-hal untuk diselesaikan).
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
5.1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim
pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
5.2. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan,
kepercayaan agama).
5.3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
6.

Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

Tindakan:
6.1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
6.2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
6.3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
6.4. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

DEPRESI

DI SUSUN OLEH
DONISIUS
11010
BAB I
PENDAHULUAN
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa
susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan
fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor
konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik,
faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan,
persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan
akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan
adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya.
Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan
realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

BAB II
TINJAUAN TEORI
Pengertian
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan
kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup. (Hawari,
2001, hal. 19).
Proses Terjadinya Masalah
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor
konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik,
faktor biokimia dalam tubuh,A faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan,
persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan
akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan
adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya.
Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan
realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

Rentang Respon Emosional


Menurut Purwaningsih (2009) Reaksi Emosi dibagi menjadi dua yaitu :
Reaksi Emosi Adaptif
Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap rangsangan yang diterima dan
berlangsung singkat. Ada dua macam reaksi adaptif :
Respon emosi yang responsive
Keadaan individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya. Pada rentang ini individu dapat
berpartisipasi dengan dunia eksternal dan internal.
Reaksi kehilangan yang wajar
Merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang mengalami kehilangan. Pada
rentang ini individu menghadapi realita dari kehilangan dan mengalami proses kehilangan,
misalnya bersedih, berhenti kegiatan sehari-hari, takut pada diri sendiri, berlangsung tidak lama.
Reaksi Emosi Maladaptif
Merupakan reaksi emosi yang sudah merupakan gangguan, respon ini dapat dibagi 3 tingkatan,
yaitu :
Supresi
Tahap awal respon emosional maladaptive, individu menyangkal, menekan atau
menginternalisasi semua aspek perasaanya terhadap lingkungan.
Reaksi kehilangan yang memanjang
Supresi memanjang sehingga mengganggu fungsi kehidupan individu.
Gejala : bermusuhan, sedih berlebihan, rendah diri.
Mania/Depresi
Merupakan respon emosional yang berat dan dapat dikenal melalui intensitas dan pengaruhnya
terhadap fisik individu dan fungsi social.
Patopsikologi
Alam perasaan adalah kekuatan / perasaan hati yang mempengaruhi seseorang dalam jangka
waktu yang lama setiap orang hendaknya berada dalam afek yang tidak stabil tapi tidak berarti
orang tersebut tidak pernah sedih, kecewa, takut, cemas, marah dan sayang, emosi ini terjadi
sebagai kasih sayang seseorang terhadap rangsangan yang diterimanya dan lingkungannya baik
internal maupun eksternal.
Reaksi ini bervariasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai maladaptive.
Penyebab Terjadinya Depresi
Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan kehilangan. Tak ada orang yang
mengalami depresi bila kenyataan hidupnya sesuai dengan keinginan dan harapannya.
Kekecewaan
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi jengkel, tidak dapat
berpikir sehat atau kejam pada saat-saat khusus jika cinta untuk iri sendiri lebih besar dari pada
cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa,
hal ini langkah pertama depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan
kekesalan dan keputusasaan.
Kurang Rasa Harga Diri
Ciri-ciri universal yang lain dari orang depresi adalah kurangnya rasa harga diri, sayangnya
kekurangan ini cenderung dilebih-lebihkan menjadi ekstrim, karena harapan-harapan yang
realistis membuat dia tidak mampu merestor dirinya sendiri, hal ini memang benar khususnya

pada individu yang ingin segalanya sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang
dicapainya.
Perbandingan yang Tidak Adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai lebih baik dari kita
dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi.
Penyakit
Beberapa faktor yang dapat mecetuskan depresi adalah organic contoh individu yang mempunyai
penyakit kronis kanker payudara dapat menyebabkan depresi.
Aktivitas Mental yang Berlebihan
Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi
Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak terpenuhi maka
terjadilah depresi. (Anonymous, 2004).
Menurut Nanda (2005-2006) adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan sedih kronis adalah
:
Kematian orang yang dicintai
Pengalaman sakit mental/ fisik kronis, cacat (retardasi mental, sklerosis multiple, prematuritas,
spina bifida, kelainan persalinan, sakit mental kronis, infertilitas, kanker, sakit Parkinson)
Pengalaman satu atau lebih kejadian yang memicu (krisis dalam manajemen penyakit, krisis
berhubungan dengan stase perkembangan, kehilangan kesempatan yang dapat meningkatkan
perkembangan, norma social atau personal)
Ketergantungan tak henti pada pelayanan kesehatan dengan mengingat kehilangan.
Gejala Klinis Depresi
Menurut Hawari (2001) secara lengkap gejala klinis depresi adalah sebagai berikut :
Aspek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat, merasa
tidak berdaya.
Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan.
Nafsu makan menurun
Berat badan menurun
Konsentrasi dan daya ingat menurun
Gangguan tidur : insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya hipersomnia (terlalu banyak
tidur). Gangguan ini sering kali disertai dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan,
misalnya mimpi orang yang telah meninggal.
Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya)
Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi, kreativitas
menurun, produktivitas juga menurun.
Gangguan seksual (libido menurun)
Pikiran-pikiran tentang kematian, bunuh diri.
Tingkat Depresi
Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses komunikasi social dan rasa tidak
nyaman.
Depresi Sedang

Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis.


Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non
verbal meningkat.
Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non verbal
meningkat.
Partisipasi social : menarik diri, tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung
Depresi Berat
Gangguan Afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang.
Gangguan proses pikir
Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif, kurang
merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan.
Penatalaksanaan Depresi
Menurut Tomb (2003, hal. 61), semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan
beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung pada
diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap terapi sebelumnya.
Terapi Psikologik
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati, pengertian dan optimistic.
Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan hal-hal yang membuatnya prihatin dan
melontarkannya. Identifikasi faktor pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah
memecahkan problem eksternal (missal, pekerjaan, menyewa rumah), arahkan pasien terutama
pada periode akut dan bila pasien tidak aktif bergerak. Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda
dekompensasi yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per
minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau untuk selamanya. Kenalilah
bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan anda (melalui kemarahan,
hostilitas, dan tuntutan yang tak masuk akal, dll). Psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang,
dapat berguna pada pasien depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien dengan depresi
mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai konflik.
Terapi Kognitif Perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi sedang dan ringan.
Diyakini oleh sebagian orang sebagai ketidak berdayaan yang dipelajari, depresi diterapi
dengan memberikan pasien latihan keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman
sukses. Dari perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiranpikiran negative dan harapan-harapan negative. Terapi ini mencegah kekambuhan.
Deprivasi tidur parsial (bangun dipertengahan malam dan tetap terjaga sampai malam
berikutnya), dapat membantu mengurangi gejala-gejala depresi mayor buat sementara. Latihan
fisik (berlari, berenang) dapat memperbaiki depresi, dengan mekanisme biologis yang belum
dimengerti dengan baik.
Terapi fisik
Semua depresi mayor dan depresi kronis atau depresi minor yangtidak membaik membutuhkan
antidepresan (70%-80% pasien berespon terhadap antidepresan), meskipun yang mencetuskan
jelas terlihat atau dapat diidentifikasi. Mulailah dengan SSRI atau salah satu anti depresan
terbaru. Apabila tidak berhasil, pertimbangkan antidepresan trisiklik, atao MAOI (terutama pada
depresi atipikal) atau kombinasi beberapa obat yang efektif bila obat yang ertama tidak
berhasil. Waspadalah terhadap efek samping dan bahwa antidepresan dapat mencetuskan episode
manic pada beberapa pasien bipolar (10% dengan TCA, dengan SSRI lebih rendah, tetapi semua

konsep tentang presipitasi manic masih diperdebatkan). Setelah sembuh dari depresi pertama,
obat dipertahankan untuk beberapa bulan, kemudian diturunkan, meskipun demikian pada
beberapa pasien setelah satu atau lebih kekambuhan, membutuhkan obat rumatan untuk periode
panjang. Anitdepresan saja (tunggal) tidak dapat mengobati depresi psikosis unipolar.
Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania dan mungkin bermanfaat dalam
pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa depresi unipolar. Obat ini cukup efektif pada
bipolar serta untuk mempertahankan remisi dan begitu pula pada pasien unipolar. Antikonvulsan
juga tampaknya sama baik dengan litium untuk mengobati kondisi akut, meskipun kurang efektif
untuk rumatan. Antidepresan dan litium dapat dimulai secara bersama-sama dan litium
diteruskan setelah remisi. Psikotik, paranoid atau pasien sangat agitasi membutuhkan
antipsikotik, tunggal atau bersama-sama dengan antidepresan, litiun atau ECT- antidepresan
antipikal yang baru saja terlihat efektif.
ECT mungkin merupakan terapi terpilih :
Bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu pengobatan,
Bila kondisi pasien menuntut remisi segera (missal, bunuh diri yang akut)
Pada beberapa depresi psikotik
Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (missal, pasien tua yang berpenyakit jantung).
Lebig dari 90% pasien memberikan respons.
Pengkajian
Faktor Predisposisi
Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi
gangguan alam perasaan pada kembar monozigote dari dizigote.
Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan dari perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.
Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak mampu
mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.
Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan : misalnya kehilangn orang tua pada masa anak,
perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatsi kehilangan.
Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi
atau mania.
Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian
negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
Teori Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dilmulai dari kehilangan kendali diri, lalu menjdi pasif dan tidak
mampu menghadapi masalah. Kemidian individu timbul dengan keyakinan akan
ketidakmampuam mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respon
yang adaptif.
Model Prilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian positif selama berinteraksi

dengan lingkungan.
Model Biologis
Mengemukakan bahwa depresi terjadi prubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak
berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol.
Faktor Presipitasi
Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis, psikologis,
dan social budaya. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obatobatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan
metabolisme. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta,
seseorang dan kehilangan harga diri. Faktor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan.
Perilaku dan Mekanisme Koping
Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi kesedihan dan
kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada
reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari tekanan
yang hebat.
Analisa Data
Data Subyektif
Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan
somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa
putus asa dan cenderung bunuh diri.
Data Obyektif
Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang
merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang
diseret.Kadangkadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan,
sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat, seolaholah pikirannya kosong,
konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya
khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk
akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadangkadang pasien suka
menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka
diganggu.
Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi
Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
Tujuan khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan:
Perkenalkan diri dengan klien
Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empat
Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non
verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan
Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginanny
Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.
Klien dapat menggunakan koping adaptif
Tindakan:
Beri Data Obyektifrongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat
memahami apa yang dirasakan pasien.
Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan
Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan
Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
Beri Data Obyektifrongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat
diterima
Beri Data Obyektifrongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
Klien terlindung dari perilaku mencederai diri
Tindakan:
Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.
Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang
lain, ditempat yang aman dan terkunci.
Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.
Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.
Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, halhal untuk diselesaikan).
Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan
kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan,
kepercayaan agama).
Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
Diskusikan tentang obat (nama, Data Obyektifsis, frekuensi, efek dan efek samping minum
obat).
Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, Data Obyektifsis, cara,
waktu).

Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.


Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa
susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor
konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik,
faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Tingkat Depresi
Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses komunikasi social dan rasa tidak
nyaman.
Depresi Sedang
Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis.
Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non
verbal meningkat.
Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non verbal
meningkat.
Partisipasi social : menarik diri, tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung
Depresi Berat
Gangguan Afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang.
Gangguan proses pikir
Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif, kurang
merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
http://tenreng.wordpress.com/2009/02/19/asuhan-keperawatan-dengan-pasien-depresi/

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DEPRESI

Di susun oleh :
A.Bonifasya
Adelson Devry
Angel Berta Fau
Mega Novaria
Nurmaria
AKADEMI KEPERAWATAN YUKI
JAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Puji Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan anugerahnya makalah yang
berjudulAskep pada
klien dengan depresi dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen. Dalam penulisan
makalah ini penulis mengalami hambatan namun berkat bimbingan dan pengarahan dari berbagai
pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Theodora Manurung .,SMIP selaku dosen pembimbing
Orang tua dan saudara-saudari yang telah banyak memberikan bantuan dorongan baik moral
maupun material
Rekan-rekan mahasiswa Aper Yuki yang telah membantu memberikan dorongan dan
partisipasinya untuk menyelesaikan makalah ini
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat

mengharapkan masukan dari para pembaca yang bersifat membangun guna kesempurnaan
makalah ini.
Demikian makalah ini kami susun, semoga isi dari makalah ini bermanfaat bagi para mahasiswa
Akademi Keperawatan pada khususnya.
Jakarta, Mei 2012
Penulis
i
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
BAB II LANDASAN TEORI
Pengertian
2
Proses terjadianya masalah
2
Tentang respon emosional
2
Patopsikologi
3
Penatalaksanaan depresi
6
Pengkajian
8
Analisa data
9
Diagnose keperawatan
10
Rencana tindakan keperawatan
10
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
14

13