Anda di halaman 1dari 41

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI

OLEH KELOMPOK 5:

PUTU INDAH JELITA LESTARI (173222826)


NI WAYAN KENDRANITI (173222822)
NI PUTU SUYATI NINGSIH (173222820)
NI WAYAN SUTARNI (173222824)
NI LUH WIDARSIH (173222811)
NI MADE WIDYANTHI (173222816)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN ALIH JENJANG
2018
KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izinnya
kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan
Lansia dengan Depresi” dengan tepat pada waktunya.

Kami sudah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin, akan tetapi kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Namun berkat arahan,
bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak termasuk dosen dan teman-teman, makalah ini
dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan
arahan dan bimbingan kepada kami.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca
umumnya. Kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan tugas ini.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
A. Latar Belakang....................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 1
C. Tujuan .................................................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................................................. 2
BAB II .............................................................................................................................. 3
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................... 3
A. Pengertian Lansia .................................................................................................. 3
B. Batasan umur lanjut usia ....................................................................................... 3
C. Pengertian Depresi ................................................................................................. 3
D. Penyebab ................................................................................................................ 4
E. Tanda dan Gejala ................................................................................................... 6
F. Tingkat Depresi ..................................................................................................... 6
G. Gambaran klinis depresi pada usia lanjut .............................................................. 7
H. Pemeriksaan Diagnostic ........................................................................................ 8
I. Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia ........................................................... 8
BAB III ........................................................................................................................... 37
PENUTUP ...................................................................................................................... 37
A. Simpulan .............................................................................................................. 37
B. Saran .................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 38

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari
bayi sampai menjadi tua. Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia
telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu, lansia juga masa
dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada
beberapa pendapat mengenai usia seorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu
ada yang menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun.
Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa umur 65 tahun, sebagai
usia yang menunjukkan seseorang telah mengalami proses menua yang berlangsung
secara nyata dan seseorang itu telah disebut lansia.
Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada manusia
seseorang mengalami kemunduruan fisik, mental dan social sedikit demi sedikit
sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak
menghadapi berbagai masalah kesehatan seperti penyakit degeneratif yang perlu
penangan segera dan terintegrasi. Selain masalah fisik tersebut, lansia juga sering
mengalami masalah psikologis, salah satunya adalah depresi. Jumlah penduduk
lanjut usia mengalami peningkatan hampir mencapai 50% dari penduduk lanjut usia
yang mengalami depresi (Kantor Menteri Kependudukan/BKKBN, 1999).
Kalangan ilmuwan di National Institute of Aging dalam sebuah artikel yang dimuat
dalam jurnal Gerontologi (dalam Peplau, 1990) mengatakan bahwa berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, separuh dari jumlah orang tua berusia lanjut
meninggal dalam perasaan hampa, terasing, tidak berdaya serta depresi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan lansia?
2. Bagaimana batasan umur orang dikatakan lansia?
3. Apa yang dimaksud dengan depresi?
4. Apa penyebab depresi pada lansia?
5. Apa tanda dan gejala depresi pada lansia?
1
6. Bagaimana tingkat depresi pada lansia?
7. Bagaimana gambaran klinis depresi pada lansia?
8. Bagaimana pemeriksaan diagnostic depresi pada lansia
9. Bagaimana penatalaksanaan depresi pada lansia?
10. Bagaimana contoh kasus asuhan keperawatan lansia dengan depresi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian lansia
2. Untuk mengetahui batasan umur pada lansia
3. Untuk mengetahui pengertian depresi
4. Untuk mengetahui penyebab depresi pada lansia
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi pada lansia
6. Untuk mengetahui tingkat depresi pada lansia
7. Untuk mengetahui gambaran klinis depresi pada lansia
8. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic depresi pada lansia
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan depresi pada lansia
10. Untuk mengetahui contoh kasus asuhan keperawatan lansia dengan depresi

D. Manfaat
Dengan mempelajari asuhan keperawatan lansia dengan depresi diharapkan
mahasiswa mampu memahami tentang hal tersebut dan dapat memberikan
pelayanan terbaik bagi lansia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Dasar Penyakit

A. Pengertian Lansia
Menurut UU No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia
menyatakan bahwa lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai
usia 60 tahun ke atas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995 dalam
Sunaryo, 2016), lanjut usia (lansia) adalah tahap masa tua dalam perkembangan
individu dengan batas usia 60 tahun ke atas. Berdasarkan pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah berumur diatas 60
tahun.

B. Batasan umur lanjut usia


Batasan umur lansia menurut WHO (dalam Sunaryo,2016) dibagi menjadi
empat bagian yaitu :
1. Usia pertengahan : 45-59 tahun
2. Lanjut usia : 60 – 74 tahun
3. Lanjut usia tua : 75- 90 tahun
4. Usia sangat tua : diatas 90 tahun

C. Pengertian Depresi
1. Depresi menurut WHO (2010) merupakan suatu gangguan mental umum
yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat,
perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang
energi,dan konsentrasi yang rendah.
2. Depresi adalah perasaan sedih, ketidakberdayaan dan pesimis yang
berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditujukan kepada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Nugroho,
2012)
3. Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan
kesedihan yang amat sangat mendalam, perasaan tidak berarti dan bersalah,

3
menarik diri dari orang lain dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan,
hasrat seksual dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa
dilakukan (Davison dkk, 2006).

D. Penyebab
Dalam Kaplan & Sadock, 2010 penyebab terjadinya depresi adalah :
1. Faktor Biologis
Banyak penelitian melaporkan abnormalitas metabolit amin biogenic- seperti
asam 5-hidroksiindolasetat (5-HIAA), asam homovanilat (HVA) dan 3
metoksi-4-hidroksifenilglikol (MHPG)- di dalam darah, urine dan cairan
serebrospinalis pasien dengan gangguan mood. Laporan data ini paling
konsisten dengan hipotesisi bahwa gangguan mood disebabkan oleh
disregulasi heterogen amin biogenic.
2. Faktor Genetik
Data genetik dengan kuat menunjukkan bahwa faktor genetik yang
signifikan terlibat dalam timbulnya gangguan mood tetapi pola pewarisan
genetik terjadi melalui mekanisme yang kompleks. Tidak hanya
menyingkirkan pengaruh psikososial tetapi faktor nongenetik mungkin
memiliki peranan kausatif didalam timbulnya gangguan mood pada beberapa
orang. Komponen genetik memiliki peranan yang bermakna didalam
gangguan bipolar I daripada gangguan depresi berat.
3. Faktor Psikososial
Peristiwa hidup dan penuh tekanan lebih sering timbul mendahului episode
gangguan mood yang mengikuti. Hubungan ini telah dilaporkan untuk
pasien gangguan depresif berat dan gangguan depresif I. sebuah teori yang
diajukan untuk menerangkan pengamatan ini adalah bahwa stress yang
menyertai episode pertama mengakibatkan perubahan yang bertahan lama
didalam biologi otak.Perubahan yang bertahan lama ini, dapat menghasilkan
perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan system
pemberian sinyal interaneuron, perubahan yang bahkan mencakup hilangnya
neuron dan berkurangnya kontak sinaps yang berlebihan. Akibatnya

4
seseorang memiliki resiko tinggi mengalami episode gangguan mood
berikutnya, bahkan tanpa stressor eksternal.
Sejumlah klinis bahwa peristiwa hidup memegang peranan utama dalam
depresi. Klinisi lain menunjukkan bahwa peristiwa hidup hanya memegang
peranan terbatas dalam awitan dan waktu depresi. Data yang paling
meyakinkan menunjukkan bahwa peristiwa hidup yang paling sering
menyebabkan timbulnya depresi dikemudian hari pada seseorang adalah
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stresor lingkungan yang paling
sering menyebabkan timbulnya awitan depresi adalah kematian pasangan.
Factor resiko lain adalah PHK.Seseorang yang keluar dari pekerjaan
sebanyak tiga kali lebih cenderung memberikan laporan gejala episode
depresif berat daripada orang yang bekerja.
4. Faktor Kepribadian
Tidak ada satupun ciri bawaan atau jenis kepribadian yang secara khas
merupakan predisposisi seseorang mengalami depresi dibawah situasi yang
sesuai. Orang dengan gangguan kepribadian tertentu seperti objektif
kompulsif, histrionic dan borderline mungkin memiliki resiko yang lebih
besar untuk mengalami depresi daripada orang dengan gangguan kepribadian
antisocial atau paranoid. Gangguan kepribadian paranoid dapat
menggunakan mekanisme defense proyeksi dan mekanisme eksternalisasi
lainnya untuk melindungi diri mereka dari kemarahan didalam dirinya. Tidak
ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan kepribadian tertentu terkait
dengan timbulnya gangguan bipolar I dikemudian hari. Meskipun demikian,
orang dengan gangguan distemik dan siklotimik memiliki resiko gangguan
depresi berat atau gangguan bipolar I kemudian hari.
5. Faktor Psikodinamik Depresi
Pemahaman psikodinamik depresi yang dijelaskan oleh Sigmund freud dan
dikembangkan Karl Abraham dikenal dengan pandangan klasik mengenai
depresi. Teori ini memiliki 4 poin penting :
a. Gangguan hubungan ibu-bayi selama fase oral (10-18 bulanpertama
kehidupan) menjadi predisposisi kerentanan selanjutnya terhadap
depresi
5
b. Depresi dapat terkait dengan kehilangan objek yang nyata atau
khayalan
c. Introyeksi objek yang meninggal adalah mekanisme pertahanan yang
dilakukan untuk menghadapi penderitaan akibat kehilangan objek
d. Kehilangan objek dianggap sebagai campuran cinta dan benci sehingga
rasa marah diarahkan kedalam diri sendiri.

E. Tanda dan Gejala


PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) dalam
penelitian Ani (2012) yang menyebutkan depresi gejala menjadi utama dan
lainnya seperti dibawah ini :
Gejala utama meliputi :
1. Perasaan depresif atau perasaan tertekan
2. Kehilangan minat dan semangat
3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
Gejala lain meliputi :
1. Konsentrasi dan perhatian berkurang
2. Perasaan bersalah dan tidak berguna
3. Tidur terganggu
4. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
5. Perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri
6. Pesimistik
7. Nafsu makan berkurang

F. Tingkat Depresi
Berpedoman pada PPDGJ III dalam penelitian Ani (2012) dijelaskan bahwa,
depresi digolongkan ke dalam depresi berat, sedang dan ringan sesuai dengan
banyk dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan
seseorang. Gejala tersebut terdiri atas gejala utama dan gejala lainnya yaitu :
1. Ringan, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala depresi utama
ditambah dua dari gejala lainnya namun tidak boleh ada gejala berat
diantaranya. Lama periode depresi sekurang- kurangnya selama dua minggu.
Hanya sedikit kesulitan kegiatan sosial yang umum dilakukan.
6
2. Sedang, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi
seperti pada episode depresi ringan ditambah tiga atau empat dari gejala
lainnya. Lama episode depresi minimum dua minggu serta menghadaapi
kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial.
3. Berat, tanpa gejala psikotik yaitu semua tiga gejala utama harus ada
ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya. Lama episode
sekurang-kurangnya dua minggu akan tetapi apabila gejala sangat berat dan
onset sangat cepat maka dibenarkan untuk menegakkan diagnosa dalam
kurun waktu dalam dua minggu. Orang sangat tidak mungkin akan mampu
meneruska kegiatan sosialnya.

G. Gambaran klinis depresi pada usia lanjut


Mengenali depresi pada usia lanjut memerlukan suatu keterampilan dan
pengalaman, karena manifestasi gejala-gejala depresi klasik (perasaan sedih,
kurang semangat, hilangnya minat/hobi atau menurunya aktivitas) sering tidak
muncul. Sangat tidak mudah untuk membedakan sekuele gejala psikologik
akibat penyakit fisik dari gangguan depresi atau gejala somatik depresi dari efek
sistemik penyakit fisik. Keduanya bisa saja terjadi pada seorang individu usia
lanjut pada saat yang sama. Usia lanjut yang mengalami depresi bisa saja
mengeluhkan mood yang menurun, namun kebanyakan menyangkal adanya
mood depresi, yang sering terlihat adalah gejala hilangnya tenaga/energi,
hilangnya rasa senang, tidak bisa tidur, atau kehilangan rasa sakit/nyeri (Depkes
RI, 2001).
Menurut Brodaty, 1991 dalam Depkes RI (2001), gejala yang sering muncul
adalah anxietas atau kecemasan, preokupasi gejala fisik, perlambatan motorik,
kelelahan, mencela diri sendiri, pikiran bunuh diri, dan insomnia. Sedangkan
gejala depersonalisasi, rasa bersalah, minat seksual menurun agak jarang.
Sebagai petunjuk kearah depresi perlu diperhatikan tanda-tanda berikut (Depkes
RI, 2001) :
a. Rasa lelah yang terus menerus bahkan juga sewaktu beristirahat
b. Kehilangan kesenangan yang biasanya dapat ia nikmati (tidak merasa
senang lagi jika dikunjungi oleh cucu-cucunya),

7
c. Mulai menarik diri dari kegiatan dan interaksi sosial.
Gambaran klinis depresi pada usia lanjut dibandingkan dengan pasien yang
lebih muda berbeda, usia lanjut cenderung meminimalkan atau menyangkal
mood depresinya dan lebih banyak menonjolkan gejala biologisnya, disamping
mengeluh tentang gangguan memori, juga pada umumnya kurang mau mencari
bantuan psikiater karena kurang dapat menerima penjelasan yang bersifat
psikologis untuk gangguan depresi yang mereka alami.

H. Pemeriksaan Diagnostic
Beck Depression Inventory dibuat oleh dr.Aaron T. Beck, BDI merupakan
salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mengukur derajat
keparahan depresi.
Para responden akan mengisi 21 pertanyaan, setiap pertanyaan memiliki
skor 1 s/d 3, setelah responden menjawab semua pertanyaan kita dapat
menjumlahkan skor tersebut, Skor tertinggi adalah 63 jika responden mengisi 3
poin keseluruhan pertanyaan. Skor terendah adalah 0 jika responden mengisi
poin 0 pada keseluruhan pertanyaan. Total dari keseluruhan akan menjelaskan
derajat keparahan yang akan dijelaskan di bawah ini.
1-10 = normal
11-16 = gangguan mood ringan
17-20 = batas depresi borderline
21-30 = depresi sedang
31-40 = depresi berat
>40 = depresi ekstrim
(Lumongga Namora. 2009)

I. Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia


1. Terapi fisik
a. Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan
jenis antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan
terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya pengobatan dimulai

8
dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan
sampai ada perbaikan gejala.
b. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh
diri atau retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif
dan aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada pasien rawat nginap,
unilateral untuk mengurangi confusion/memory problem. Terapi ECT
diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan
dengan anti depresan untuk mencegah kekambuhan.
2. Terapi Psikologi
a. Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika
dilakukan bersama-sama dengan pemberian antidepresan. Baik
pendekatan psikodinamik maupun kognitif behaviour sama
keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya
dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses
terapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman,
lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.
b. Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang
selalu negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak
mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif.
Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode
ini meskipun penjelasan harus diberikan secara singkat dan terfokus.
Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas tertentu terapi
kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir.
c. Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit
depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting.
Proses penuaan mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi
dari dominan menjadi dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi
terhadap keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan
9
perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap /
struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan
pasien.
d. Penanganan Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif
baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis
okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan
dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini
diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.
e. Dukungan Keluarga dalam Kaitannya dengan Depresi Pada Lansia
Keluarga memainkan suatu peranan yang signifikan dalam kehidupan
pada hampir semua orang lanjut usia (lansia). Ketika keluarga tidak
menjadi bagian kehidupan seseorang yang telah lansia, umumnya
menyebabkan orang tersebut tidak mempunyai tempat tinggal, atau
ada masalah-masalah yang telah berlangsung lama dan keterasingan.
Sebaliknya, kepercayaan yang umum, ketika orang lansia akan
membutuhkan bantuan keluarga menyediakan sekurang-kurangnya
80% dukungan / bantuan. Dibandingkan dengan "kenyamanan di hari
tua", keluarga saat ini menyediakan kepedulian yang lebih luas
selama periode waktu yang lama (Schmall, Pratt, 1993).
Walaupun anak yang telah dewasa adalah suatu sumber utama
yang memberi bantuan terhadap orangtua yang lansia, beberapa trend
demografi dan sosial mempunyai akibat / impak yang signifikan pada
kemampuan anggota keluarga dalam menyediakan dukungan. Hal ini
tidak berarti bahwa keluarga bertanggung jawab atas timbulnya
depresi pada seseorang namun sudah jelas bahwa banyak masalah
depresi berkisar di seputar kesulitan dalam cara anggota keluarga
saling berkomunikasi dan saling berhubungan.

10
II. Contoh Kasus Asuhan Keperawatan Lansia dengan Depresi
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Tn. “WD” DENGAN DEPRESI
DI PANTI WREDHA WANA SERAYA DENPASAR
TANGGAL 2-4 MARET 2018

I. PENGKAJIAN
Pengkajian dilaksanakan pada tanggal pukul 08.00 WITA di panti wredha wana seraya
Denpasar.Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik dan dokumentasi.

A. DATA BIOGRAFI
Nama Pasien : Tn. WD
Jenis kelamin : Laki-laki
Golongan darah :-
Tempat & tanggal lahir : Ketewel, 1 Juli 1952
Pendidikan terakhir : SMA
Agama : Hindu
Status perkawinan : Menikah
Tinggi badan/berat badan : 162 cm / 52 kg
Penampilan : Bersih
Alamat : Br. Tengah, Desa Ketewel, Kec. Sukawati, Kab. Gianyar

Orang yang mudah dihubungi : Ni Wayan Suniarni


Hubungannya dengan klien : Anak
Alamat : Br. Tengah, Desa Ketewel, Kec. Sukawati, Kab.
Gianyar

11
B. Riwayat Keluarga
Genogram :

Keterangan :
= meninggal
= laki-laki masih hidup
= perempuan masih hidup
= hubungan perkawinan
= lansia
= tinggal serumah

C. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan saat ini : Tidak Bekerja
Alamat pekerjaan :-
Berapa jarak dari rumah :-
Alat transportasi :-
Pekerjaan sebelumnya : Pemborong
12
Alat tranportasi : Mobil
Sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan :
Tn.WD mengatakan sumber pendapatannya dari anaknya yang terkadang datang ke
panti memberikan uang

D. Riwayat Lingkungan Hidup


Tipe tempat tinggal : Permanen
Kamar : Di panti klien terdapat 2 bangunan permanen yang
mana Tn. WD menempati salah satu bangunan yang
berisikan 5 kamar. Tn. WD menggunakan kamar
sebelah kanan.
Kondisi tempat tinggal : Bersih
Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah : 8 orang yang terdiri dari Tn. WD, dan
beberapa lansia lainnya
Derajat privasi : Klien berbagi kamar dengn lansia lainnya.
E. Riwayat Rekreasi
Hobi/minat : Membaca buku
Keanggotaan dalam organisasi :-
Liburan/perjalanan : - Dulu klien sering liburan keliling bali sambil
mencari barang dagangannya
- Sekarang klien mengatakan belum pernah
berekreasi ke tempat yang jauh

F. Sistem Pendukung
Perawat/bidan/dokter/fisiotherapi : Klien mengatakan apabila sakit langsung
dicarikan dokter oleh pengurus panti
Jarak dari rumah :-
Pelayanan kesehatan di rumah : Pengurus Panti
Makanan yang dihantarkan : Klien mengatakan sehari-hari makan nasi dengan
lauk pauk yang tidak menentu tiap harinya,
terkadang dengan lauk tahu tempe dengan sayur
maupun ikan dan kacang-kacangan.
13
Perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga : Klien mengatakan anaknya jarang
datang ke panti dikarenakan
kesibukan anaknya bila merasakan
sakit langsung dibantu oleh
pengurus panti
Kondisi lingkungan rumah : Lingkungan panti terlihat bersih dan rapi,
rumah klien terdiri dari 2 bangunan permanen.
Tn.WD berada pada bangunan dengan 5 kamar.
Satu kamar digunakan oleh Tn. WD dengan lansia
lainnya. Terdapat 10 buah kamar mandi dan
sebuah dapur serta.Sumber air pasien diperoleh
dari air PDAM.
G. Status Kesehatan
Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu :
- Hipertensi
Tn. WD mengatakan sudah menderita penyakit hipertensi selama 2 Tahun.
Keluhan utama :
Klien mengatakan tidak berguna dan merasa bersalah kepada anaknya karena
semenjak ia bangkrut anaknya yang menanggung semua kebutuhannya selain itu ia
juga merasa bersalah kepada almarhum istrinya karena dulu sering menghamburkan
uang untuk kepentingan pribadinya. Hal tersebut telah dirasakan klien dari 5 tahun yang
lalu
Obat-obatan
NO NAMA OBAT DOSIS KET
1 Amlodipine Besylate Diminum saat sakit Obat penurun tekanan
kepala. darah

Status imunisasi : Pasien mengatakan tidak mengingat mengenai status


imunisasi
Alergi :
* Obat-obatan : Tidak memiliki alergi terhadap obat
* Makanan : Pasien memiliki alergi terhadap telur
14
* Faktor lingkungan : tidak memiliki alergi terhadap factor lingkungan
Penyakit yang diderita : Hipertensi

H. Aktivitas Hidup Sehari-hari


Indeks Katz :
AKTIVITAS SENDIRI DENGAN BANTUAN
Tanpa supervisi, Dengan supervisi, petunjuk
petunjuk atau bantuan dan bantuan
Mandi √
Berpakaian √
Toileting √
Berpindah √
Buang air besar/ √
buang air kecil
Makan √
POINT TOTAL 6 = A (Mandiri pada keenam item)

BB : 52 kg
TL : 50 cm
TB : (2,02 x TL) – (0,04 x umur) + 64,19
(2,02 x 50) – (0,04 x 65) + 64,19
101-2,6 + 64,19
= 162,39 cm
= 162 cm

IMT :BB/(TB)2
52/(1,62)2 = = 19,85 kg/m2 (Normal)
Klasifikasi nilai IMT :

IMT Status Gizi Kategori

< 17.0 Gizi Kurang Sangat Kurus

15
17.0 - 18.5 Gizi Kurang Kurus

18.5 - 25.0 Gizi Baik Normal

25.0 - 27.0 Gizi Lebih Gemuk

> 27.0 Gizi Lebih Sangat Gemuk

Vital Sign :
Suhu : 36,2°C
Nadi : 82 x/ menit
Respirasi : 20 x/ menit
TD tidur : 160/ 80 mmHg
TD duduk : 160/ 90 mmHg
TD berdiri : 160/ 90 mmHg

I. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari


a. Oksigenasi
Saat pengkajian klien mengatakan tidak memiliki kesulitan dalam bernafas s
b. Cairan dan Elektrolit
Saat pengkajian klien mengatakan setiap hari minum dapat minum sebanyak
±1500 ml
c. Nutrisi
Saat pengkajian klien mengatakan setiap hari makan 3 kali sehari dengan porsi 1
piring. Klien makan nasi dengan lauk pauk yang tidak menentu tiap harinya,
terkadang dengan lauk tahu tempe dengan sayur, maupun ikan dan kacang-
kacangan.
d. Eleminasi
1.Buang air besar : Pasien mampu BAB mandiri. Sebelum maupun setelah
pengkajian pasien mengatakan BAB 1x sehari. Waktu di pagi hari dengan
konsistensi lembek.
2.Buang air kecil : Pasien mampu BAK mandiri. Sebelum maupun setelah
pengkajian pasien BAK ± 7x sehari dengan warna kuning jernih, dan bau khas
urin.
16
e. Aktivitas
Saat pengkajian klien mengatakan masih bisa melakukan akitivitas seperti biasa
seperti membaca buku dan berdiam diri di kamar dan terkadang berbincang
dengan lansia lainnya
f. Istirahat dan Tidur
Saat pengkajian klien mengatakan tidur sekitar 3-4 jam saja karena susah
memejamkan mata dan terkadang teringat dengan anaknya yang menderita
akibat dirinya.
g. Personal Hygiene
Saat pengkajian klien mengatakan dapat mandi sendiri dan pasien biasanya
mandi 1 kali sehari sore hari, dan klien keramas 2 kali dalam seminggu.
h. Seksual
Saat pengkajian klien mengatakan tidak memiliki masalah dengan seksualitas.
i. Rekreasi
Saat pengkajian klien mengatakan biasanya berada dipanti sambil menonton
televisi atau membaca buku maupun koran di kamar
j. Psikologis
 Persepsi klien
Lansia mengatakan bahwa dia memilih tinggal di Panti karena
merasa bersalah pada anaknya dan menjadi beban bagi anaknya, lansia tidak
mampu bekerja lagi dan tidak memiliki dana yang cukup untuk menghidupi
dirinya dan keluarga. Lansia mengatakan telah gagal dalam hidupnya. Tetapi
lansia menyadari bahwa semua ini merupakan nasib dan garis hidup yang
harus dijalani.
 Konsep diri
Konsep diri klien kurang baik, klien mengatakan menyesal dan merasa tidak
berguna. Klien juga mengatakan sangat kasihan pada istri dan anaknya dulu
karena klien sering menghamburkan uang dan sekarang klien merasa
menjadi beban anaknya.
 Emosi
Lansia menangis setiap menceritakan keadaan dirinya dan riwayat
kehidupannya.
17
 Adaptasi
Kemampuan beradaptasi klien cukup baik meskipun terkadang klien lebih
memilih membaca buku di kamar daripada bergabung dengan yang lainnya.
Klien mampu beradaptasi dengan orang lain.
 Mekanisme pertahanan diri
Rasionalisasi

J. Tinjauan Sistem
Keadaan umum : Baik
Tingkat kesadaran : Compos Metis
GCS : E4V5M6
Tanda-tanda vital : S: 36,20C, N: 82x/mnt, R: 20x/mnt, TD: 160/90 mmHg
1. Kepala :
Bentuk kepala simetris, rambut berwarna hitam sedikit beruban, hematoma tidak
ada, kebersihan rambut cukup.
2. Mata-Telinga-Hidung :
a) Penglihatan :
Mata pasien simetris, persebaran alis merata, konjungtiva berwarna merah,
pupil isokor, visus 6/7,5.
b) Pendengaran :
Telinga pasien simetris, tidak ada nyeri tekan.Pendengaran pasien tidak ada
masalah dan masih berfungsi normal.
a) Hidung,Pembau :
Bentuk simetris, sekret (-), nyeri tekan (-), lesi (-), penciuman baik.
3. Leher :
Bentuk simetris, tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba bendungan
vena jugularis, tidak ada pembengkakan kelenjar limfa, nyeri tekan (-), lesi (-)
4. Dada dan punggung :
a. Paru – paru : Bentuk simetris, vesikuler +/+, wheezing -/-, Ronchi -/-
b. Jantung : S1 dan S2 tunggal regular, suhu akral hangat

5. Abdomen dan pinggang :

18
a) Sistem Pencernaan : Tidak mengalami asites, tidak terdapat nyeri
tekan, bising usus 8 x/mnt.
b) Sistem Genetaurinariue : saat pengkajian pasien mengatakan tidak
memiliki keluhan dalam berkemih. Sebelum maupun setelah pengkajian
pasien BAK ± 7x sehari dengan warna kuning jernih, dan bau khas urine.
6. Ektremitas atas dan bawah,
Kekuatan otot : 555 555
555 555
ROM : 1. penuh 2. terbatas
Hemiplegi/parese : 1. tidak 2. ya, kanan
Akral : 1. hangat 2. dingin
Capillary refill time : 1. < 2 detik 2. > 2 detik
Edema : 1. tidak ada 2. ada di daerah………….
Lain-lain :
7. Sistem immune : pasien mengatakan sakit yang biasa dirasa hanya lemah,
Dan sakit kepala
8. Genetalia : tidak terkaji
9. Reproduksi : tidak terkaji
10. Persarafan : respon klien tampak baik
11. Pengecapan : pasien mengatakan tidak memiliki masalah dalam
pengecapannya. Pasien mampu merasakan rasa makanan
secara normal

K. Hasil pengkajian kognitif dan mental


1. Short Porteble Mental Status Questionaire ( SPMSQ ) =
Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)
Skor
No Pertanyaan Jawaban
+ -
- 1. Tanggal berapa hari ini? Tidak tahu
+ 2. Hari apa sekarang? Jumat
+ 3. Bulan apa sekarang? Maret

19
+ 4. Tahun berapa sekarang? 2018
+ 5. Apa nama tempat ini? Di panti wredha
+ 6. Berapa usia Anda? Sekitar 65 tahun
- 7. Kapan Anda lahir? Lupa
+ 8. Siapa nama presiden Indonesia Jokowi
sekarang?
+ 9. Siapa presiden Indonesia sebelum SBY
jokowi?
- 10. Siapa nama kecil ibu Anda? Tidak tahu

Jumlah kesalahan total 3


Keterangan :
Kesalahan 0-2 : Fungsi intelektual utuh
Kesalahan 3-4 : Kerusakan intelektual ringan
Kesalahan 5-7 : Kerusakan intelektual sedang
Kesalahan 8-10 : Kerusakan intelektual berat
Jumlah kesalahan total pasien yaitu 3, maka pasien termasuk dalam
kategori kerusakan intelektual ringan.
2. Mini - Mental State Exam ( MMSE )
Skor Skor Pasien Pertanyaan
Maksimum
5 3 Tanggal, bulan, tahun, hari apakah sekarang?
5 5 Dimanakah kita sekarang? Banjar? Desa? Kota?
Provinsi? Letak puskesmas?
3 3 Sebutkan 3 benda yang berbeda secara perlahan
lalu instruksikan pasien menirukan
5 2 Minta pasien menghitung mundur, dimulai dari
angka 100
3 3 Mengingat 3 kata yang disebutkan sebelumnya.
2 2 Sebutkan 2 kata objek dan instruksikan pasien
untuk mengulanginya.
1 1 Sebutkan kata “tidak, jika, dan, atau, tetapi”
20
3 3 Lipat sehelai kertas menjadi dua bagian dan
letakkan di meja, instruksikan pasien untuk
menirukannya.
1 1 Tuliskan instruksi “Tutup mata ”, instruksikan
pasien untuk membacanya dan melakukannya.
1 0 Buat 1 kalimat terdiri dari subjek dan predikat.
1 1 Istruksikan pasien meniru gambar.
30 24
Keterangan :
Skor 24-30 : Status kognitif normal
Skor 17-23 : Kemungkinan gangguan kognitif
Skor 0-16 : Gangguan kognitif
Jumlah skor yang diperoleh pasien yaitu 24, maka pasien termasuk
dalam kategori status kognitif normal
3. Status emosional
Identifikasi Masalah Emosional :

No Pertanyaan YA TIDAK
 L
1 a Apakah klien mengalami kesulitan tidur? 
2 n Apakah klien sering merasa gelisah? 
j
3 u Apakah klien sering murung dan menangis sendiri? 
4 t Apakah klien sering was-was atau kuatir? 
k

Berlanjut ke pertanyaan tahap 2 jika ≥ 1 jawaban “ya

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam 
sebulan
2 Ada/banyak pikiran 
3 Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain 
4 Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter 

5 Cenderung mengurung diri 


21
MASALAH EMOSIONAL POSITIF (+)

4. Pengkajian Spiritual
Klien beragama Hindu. Klien sembahyang 2 kali sehari di kamar . Klien juga
sering berdoa terutama mendoakan anaknya.
5. Pengkajian Depresi
No PERTANYAAN Ya Tdk

1 Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan anda ? 1

2 Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat anda ? 0

3 Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong ? 0

4 Apakah anda sering bosan ? 1

5 Apakah anda harapan tentang masa depan ? 1

6 Apakah anda merasa terganggu dengan pikiran yang anda 1

pendam ?
7 Apakah anda merasa bersemangat disetiap waktu ? 1

8 Apakah anda takut akan sesuatu yang buruk menimpa anda? 0

9 Apakah anda merasa bahagia sepanjang waktu ? 1

10 Apakah anda sering merasa tidak ada yang menolong ? 0

11 Apakah anda sering merasa kurang istirahat dan lemah ? 1

12 Apakah anda lebih menyukai berada dirumah, daripada pergi 1

keluar untuk melakukan hal-hal baru ?


13 Apakah anda sering khawatir dengan masa depan ? 0

14 Apakah anda merasa lebih banyak memiliki masalah mengenai 0

daya ingat dibandingkan sebelumnya ?


15 Menurut anda apakah hidup anda saat ini menyenangkan ? 1

16 Apakah anda sering merasa bersedih ? 1

17 Apakah anda merasa tidak berharga dengan cara anda sekarang ? 1

18 Apakah anda merasa khawatir dengan masa lalu ? 1

19 Apakah anda merasa hidup ini sangat menarik ? 1

20 Apakah berat untuk anda memulai hal yang baru ? 0

22
21 Apakah anda merasa penuh dengan energy ? 1

22 Apakah anda merasa situasi sekarang tidak ada harapan ? 1

23 Apakah anda merasa semua orang lebih beruntung daripada 1

anda?
24 Apakah anda merasa sering kecewa berlebihan karena hal kecil ? 0

25 Apakah anda sering merasa ingin menangis ? 1

26 Apakah anda memiliki masalah dalam hal berkonsentrasi ? 0

27 Apakah anda menikmati bangun pada pagi hari ? 1

28 Apakah anda lebih suka menghindari pergaulan social ? 0

29 Apakah anda mudah dalam membuat keputusan ? 1

30 Apakah pikiran anda sejelas dan sejernih dahulu ? 1

 Keterangan :
- Setiap jawaban mempunyai skor 1 :
Skor 0-9 : tidak depresi/normal
Skor 10-19 : depresi ringan
Skor 20-30 : depresi berat
Klien mendapat nilai 20 (Depresi Berat)
6. Risiko jatuh (skala morse dan TUG (The Time Up and Go))
1) Skala morse
No. Pengkajian Jawaban Nilai
1 Riwayat jatuh: apakah lansia pernah - TIDAK - 0
jatuh dalam 3 bulan terakhir? - 25
2 Diagnosa sekunder: apakah lansia - TIDAK - 0
memiliki lebih dari satu penyakit? - 15
3 Alat Bantu jalan:
- Bed rest/ dibantu perawat - 0
- Kruk/ tongkat/ walker - 15
- Berpegangan pada benda-benda - 30
di sekitar
4 Terapi Intravena: apakah saat ini TIDAK - 0

23
lansia terpasang infus? - 20
5 Gaya berjalan/ cara berpindah: Normal
- Normal/ bed rest/ immobile - 0
(tidak dapat bergerak sendiri) - 10
- Lemah (tidak bertenaga) - 20
- Gangguan/ tidak normal
(pincang/ diseret)
6 Status Mental
- Lansia menyadari kondisi Ya - 0
dirinya - 15
- Lansia mengalami keterbatasan Tidak
daya ingat
NILAI TOTAL :

Klien tidak memiliki resiko jatuh sehingga klien hanya perlu perawatan dasar

2) Skala TUG
THE TIMED UP AND GO (TUG) TEST
No. Langkah
1 Posisi pasien duduk di kursi
2 Minta pasien berdiri dari kursi, berjalan 10 langkah (3meter),
kembali ke kursi, ukur waktu dalam detik
 Keterangan :
- ≤ 10 detik : low risk of falling
- 11 - 19 detik : low to moderate risk for falling
- 20 – 29 detik : moderate to high risk for falling
- ≥ 30 detik : impaired mobility and is at high risk of falling
Klien memiliki resiko jatuh yang rendah klien dapat kembali duduk dalam waktu 10
detik.

7. APGAR Keluarga
Instrument Penilaian APGAR Keluarga
24
No. Items Penilaian Selalu Kadang-Kadang Tidak Pernah
(2) (1) (0)
1 A : Adaptasi Saya puas 
bahwa saya dapat
kembali pada
keluarga ( teman-
teman ) saya untuk
membantu pada
waktu sesuatu
menyusahkan saya
2 P : Partnership Saya 
puas dengan cara
keluarga ( teman
teman ) saya
membicarakan
sesuatu dengan
saya dan
mengungkapkan
masalah saya.

3 G : Growth Saya puas 


bahwa keluarga (
teman-teman ) saya
menerima &
mendukung
keinginan saya
untuk melakukan
aktifitas atau arah
baru.

4 A : Afek Saya puas 

25
dengan cara
keluarga (
temanteman ) saya
mengekspresikan
afek dan berespon
terhadap emosi-
emosi saya, seperti
marah, sedih atau
mencintai.
5 R : Resolve Saya puas 
dengan cara teman-
teman saya dan
saya menyediakan
waktu
bersamasama
mengekspresikan
afek dan berespon

Jumlah 6

Klien mengalami disfungsi keluarga sedang

L. Data Penunjang
i. Laboratorim : -
ii. Radiologi :-
iii. EKG :-
iv. USG :-
v. CT- Scan :-
vi. Obat - obatan : Amlodipine Besylate

26
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Analisa Data
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH
KEPERAWATAN
1 DS: Klien mengatakan tidak berguna dan Koping Individu tidak Harga Diri Rendah
merasa bersalah kepada anaknya efektif Kronis
karena semenjak ia bangkrut anaknya
yang menanggung semua
kebutuhannya selain itu ia juga
merasa bersalah kepada almarhum
istrinya karena dulu sering
menghamburkan uang untuk
kepentingan pribadinya. Hal tersebut
telah dirasakan klien dari 5 tahun
yang lalu
DO: Skala Depresi pasien 20 (Depresi
Berat)

2. DS: Klien hanya dapat tidur 3-4 jam karena Faktor Psikologis Gangguan Pola Tidur
susah memejamkan mata dan (Depresi)
terkadang teringat dengan anaknya
yang menderita akibat dirinya.
DO: Klien tampak lesu dan tampak adanya
kantung mata
B. Prioritas Masalah Keperawatan
1. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Kronis berhubungan dengan
ketidakefektifan koping individu ditandai dengan Klien mengatakan tidak berguna
dan merasa bersalah kepada anaknya karena semenjak ia bangkrut anaknya yang
menanggung semua kebutuhannya selain itu ia juga merasa bersalah kepada
almarhum istrinya karena dulu sering menghamburkan uang untuk kepentingan
pribadinya. Hal tersebut telah dirasakan klien dari 5 tahun yang lalu dan skala
depresi klien : 20 (Depresi Berat)
2. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan factor psikologis (Depresi) ditandai
dengan Klien hanya dapat tidur 3-4 jam karena susah memejamkan mata dan

27
terkadang teringat dengan anaknya yang menderita akibat dirinya, klien tampak lesu
dan tampak adanya kantung mata.

28
III. RENCANA KEPERAWATAN

Perencanaan
No. Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

1 Harga Diri Tujuan: a. Pasien dapat membina a. Bina hubungan saling percaya
Rendah Kronis hubungan saling percaya dengan pasien
Setelah diberi
dapat b. Dorong pasien untuk
asuhan keperawatan b. Pasien
mengungkapkan perasaan
selama 3x 45 menit mengidentifikasi aspek
c. Diskusikan kemampuan dan
jam diharapkan , positif yang dimilikinya
aspek positif yang dimiliki
harga diri
pasien c. Pasien mengungkapkan
pasien, bantu pasien menilai
meningkat dengan perasaan yang berkaitan
kemampuan yang masih dapat
dengan harga diri
digunakan, bantu pasien memilih
d. Pasien mengungkapkan atau menetapkan kemampuan
perasaan aman di yang akan dilatih, latih
lingkungan kemampuan yang sudah dipilih

e. Pasien bekerja sama dalam dan susun jadwal pelaksanaan

perawatan diri dan proses kemampuan yang telah dilatih

pengambilan keputusan dalam rencana harian.

secara bertahap d. Dengarkan pasien, berikan


respon dengan penerimaan yang
f. Pasien meningkatkan

29
interaksi sosial dengan tidak menghakimi, perhatian
orang lain yang sungguh-sungguh dan
ketulusan
g. Pasien menunjukkan
penurunan perasaan e. Kaji status mental pasien melalui
observasi dan wawancara
negatif tentang dirinya
minimal sekali sehari
f. Kaji risiko bunuh diri dan
kemungkinan perilaku
mematikan pada pasien
g. Libatkan pasien secara bertahap
dalam pengambilan keputusan
h. Atur situasi untuk mendorong
interaksi sosial atau profesional
antara pasien dan orang lain
i. Berikan umpan balik positif
kepada pasien ketika pasien
menunjukkan peningkatan harga
diri
2 Gangguan Pola NOC:  Jumlah jam tidur Sleep Enhancement
Tidur dalam batas normal
 Anxiety Control a. Kaji pola tidur pasien
 Pola tidur,kualitas b.
 Comfort Level Jelaskan pentingnya tidur yang
dalam batas normal

30
 Pain Level  Perasaan fresh sesudah adekuat
 Rest : Extent and tidur/istirahat c. Fasilitasi untuk
Pattern  Mampu mempertahankan aktivitas
 Sleep : Extent mengidentifikasi hal- sebelum tidur (membaca)
ang Pattern hal yang meningkatkan d. Ciptakan lingkungan yang
tidur nyaman
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3x 45 menit
gangguan pola tidur
pasien teratasi

31
IV. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/tgl/ jam No.
Tindakan Keperawatan Evaluasi Paraf
Dx
Jumat,2 Maret 1,2 Membina hubungan saling Tn. WD tampak sedikit membuka diri dan menunduk saat
2018 percaya melihat perawat baru
Pukul 09.00 Wita
Pukul 09.05 Wita 1 Mendorong pasien untuk Tn WD mulai menceritakan perasaannya dan rasa tidak berguna
mengungkapkan perasaan serta merasa jadi beban bagi anaknya

Pukul 09.10 Wita 1 Mengkaji status mental Tn. WD masuk dalam kategori kerusakan intelektual ringan
pasien melalui observasi dan dan system kognitifnya normal
wawancara minimal sekali
sehari
Pukul 09.15 wita Mendengarkan pasien, Tn WD tampak serius bercerita dan sesekali menangis
berikan respon dengan
penerimaan yang tidak
menghakimi, perhatian yang
sungguh-sungguh dan
ketulusan

Pukul 09.20 wita 2 Mengkaji pola tidur klien Tn WD mengatakan hanya bisa tidur 3-4 jam karena tidak bisa
memejamkan mata akibat teringat akan penderitaan anaknya
Pukul 09.25 wita 2 Jelaskan pentingnya tidur Tn. WD mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan

32
yang adekuat

Pukul 09.35 wita 1 Mengkaji risiko bunuh diri Tn. WD mengatakan belum pernah berfikir sampai kesitu
dan kemungkinan perilaku
mematikan pada pasien

Pukul 09.45 wita 1 - Mendiskusikan - Tn. WD mengatakan sangat menyukai membaca


kemampuan dan aspek terutama membaca koran dan juga sebenarnya klien
positif yang dimiliki juga menyukai melukis
pasien - Tn. WD ingin mencoba untuk kembali melukis lagi
- Membantu pasien
memilih atau menetapkan
kemampuan yang akan
dilatih
-
Sabtu,3 Maret 1 Bina hubungan saling Tn. WD sudah mampu tersenyum dengan perawat
2018 percaya
Pukul 09.00
Pukul 09.05 Wita 2 Mengkaji pola tidur pasien Tn. WD mengatakan tidurnya masih sekitar 3-4 jam di
malam hari

Pukul 09.10 wita 1 - Melatih kemampuan yang - Tn. WD mencoba melukis pemandangan dengan alat-
sudah dipilih dan susun alat yang telah dibawa perawat
jadwal pelaksanaan
33
kemampuan yang telah - Tn. WD ingin melukis saat memiliki waktu senggang
dilatih dalam rencana
harian.
- Melibatkan pasien secara
bertahap dalam
pengambilan keputusan
Pukul 09.30 wita 1 Atur situasi untuk mendorong - Tn. WD mengatakan dekat dengan lansia yang satu
interaksi sosial atau kamar dengannya.
profesional antara pasien dan - Tn WD tampak berkenalan dengan lansia yang baru
orang lain
datang ke panti wredha

Pukul 09.45 wita 2 - Memfasilitasi untuk - Tn. WD tampak senang diberikan buku
mempertahankan - Klien mengatakan akan membaca saat klien akan tidur
aktivitas sebelum tidur - Tn. WD tampak senang karena spraynya diganti dengan yang
(membaca) baru dan perawat memberikan aroma terapi lavender yang
- Ciptakan suasana nyaman nanti akan dinyalakan saat tidur
untuk tidur

Minggu, 4 Maret 1 Mendorong pasien untuk Tn. WD tampak terbuka dengan kehadiran perawat kembali.
2018 mengungkapkan
Pukul 09.00 Wita perasaannya.
Pukul 09.15 wita 2 Mengkaji pola tidur klien - Tn. WD mengatakan tidur 4-5 jam.
- Tn. WD mengatakan lebih tenang saat mencium bau

34
lavender yang diberikan perawat

Pukul 09.20 wita 1 Mengkaji status mental Klien mengatakan tidurnya sudah sampai 4-5 jam
pasien melalui observasi dan Klien masih merasa tidak berguna dan merasa jadi beban
wawancara minimal sekali anaknya
sehari

Pukul 09.30 Wita 1 Melatih kemampuan yang Tn. WD melukis barong


sudah dipilih dan susun
jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah dilatih
dalam rencana harian.

Pukul 09.45 Wita 1 Memberikan umpan balik Tn. WD tampak malu saat dipuji perawat
positif kepada pasien ketika
pasien menunjukkan
peningkatan harga diri.

35
V. EVALUASI KEPERAWATAN
Hari/tanggal/jam No. Evaluasi Paraf
Dx
Minggu, 4 Maret 1 S : “Tn. WD mengatakan masih merasa bersalah
2018 kepada anaknya karena menjadi beban untuk
Pukul 09.45 wita anaknya”.
O : Ny. NS tampak kooperatif dan mau terbuka serta
menerima kehadiran perawat.
A : Tujuan teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi keperawatan (membina
hubungan saling percaya, menggali aspek positif
yang dimiliki).
Minggu, 4 Maret 2 S : “Tn. WD mengatakan sudah dapat tidur 4-5 jam
2018 berkat terapi lavender serta membaca buku di
Pukul 09.45 wita malam hari”.
O : Kantung mata Tn. WD tampak berkurang
A : Tujuan tercapai sebagian
P : Lanjutkan intervensi keperawatan (Memberiakn
terapi lavender setiap pasien tidur)

36
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Depresi menurut WHO (2010) merupakan suatu gangguan mental umum yang
ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau
harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi,dan konsentrasi yang rendah
Dalam Kaplan & Sadock, 2010 penyebab terjadinya depresi adalah : Faktor Biologis ,
Faktor Genetik , Faktor Psikososial , Faktor Kepribadian, Faktor Psikodinamik Depresi
Gejala utama meliputi :
1. Perasaan depresif atau perasaan tertekan
2. Kehilangan minat dan semangat
3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
Penatalaksanaan Depresi pada Lanjut Usia yaitu ada Terapi fisik maupun psikologi

B. Saran
- Pelayanan lanjut usia diselenggarakan dalam bentuk pelayanan kepererawatan secara
komprehensif dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu meliputi bidang kesehatan,
rehabilitasi dan sosial.
- Peningkatan pendidikan kesehatan dilaksanakan secara terpadu sesuai dengan media yang
sehingga dapat mengoptimalkan lansia dalam memenuhi kehiudpan sendiri secara mandiri
sehingga siap diresosialisasikan.
- Bagi mahasiswa perawat seharusnya dapat lebih memahami masalah psikologis lansia
terutama depresi karena perawatan yang paling diinginkan seseorang yang telah lanjut usia
adalah perawatan psikologis.

37
DAFTAR PUSTAKA

Ani. 2012. Depresi pada Lansia. http://digilib.unila.ac.id/6562/16/BAB%20I.pdf . Diakses


tanggal 30 September 2016
Depkes RI. 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2001 menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI
J Gallo WilliamReichel,Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta: EGC
Kaplan and Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jakarta : EGC
Nurarif dan Kusuma. 2015. Aplikasi NANDA NIC NOC. Jogjakarta: MediAction
Sunaryo. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI
WHO (2010).Depression Worksheet.http://ebookbrowse.com/search/depression-worksheet-pdf.

38