Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Stroke atau serangan otak (brain attack) merupakan penyakit neurologi
yang sering dijumpai. Penderita yang paling banyak dirawat di pusat-pusat
pelayanan neurologi, demikian pula di Ruang Saraf RSUD dr. Soetomo
Surabaya adalah penderita stroke. Di seluruh dunia, angka kejadian rata-rata
stroke sekitar 180 per 100.000 pertahun (0,2%), dengan angka prevalensi
500-600 per 100.000 (0,5%). Stroke menduduki urutan ketiga terbesar
penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker, dengan laju
mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama dan 62% untuk stroke
berulang.
Penyakit yang terutama menyerng kelompok usia madya dan usia tua
ini, juga merupakan penyakit neurologi yang paling sering mengakibatkan
cacat dan kematian. Diperkirakan 25% orang yang sembuh dari stroke yang
pertama akan mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 5 tahun. Hasil
penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa terjadinya risiko kematian
pada 5 tahun pasca-stroke adalah 45 61% dan terjadinya stroke berulang 25
37%. Menurut studi Framingham, insiden stroke berulang dalam kurun
waktu 4 tahun pada pria 42% dan wanita 24%. Makmur dkk. (2002)
mendapatkan kejadian stroke berulang 29,52%, yang paling sering terjadi
pada usia 60-69 tahun (36,5%), dan pada kurun waktu 1-5 tahun (78,37%)
dengan faktor risiko utama adalah hipertensi (92,7%) dan dislipidemia
(34,2%).
Penderita Stroke saat ini menjadi penghuni terbanyak di bangsal atau
ruangan pada hampir semua pelayanan rawat inap penderita penyakit syaraf.
Karena, selain menimbulkan beban ekonomi bagi penderita dan keluarganya,
Stroke juga menjadi beban bagi pemerintah dan perusahaan asuransi
kesehatan. Untuk mengatasi masalah krusial ini diperlukan strategi
penangulangan Stroke yang mencakup aspek preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif.
Keberadaan unit Stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap,
tetapi sudah menjadi keharusan, terlebih bila melihat angka penderita Stroke

yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan


Stroke yang cepat, tepat dan akurat akan meminimalkan kecacatan dan angka
kematian yang terjadi di Indonesia.
1.2.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana patofisiologi stroke perdarahan intraserebral (ICH)?
2. Bagaimana cara penegakan diagnosa stroke perdarahan intraserebral
(ICH)?
3. Bagaimana penatalaksanaan stroke perdarahan intraserebral (ICH)?

1.3.

Tujuan
1. Mengetahui patofisiologi stroke perdarahan intraserebral (ICH).
2. Mengetahui cara penegakan diagnose stroke perdarahan intraserebral
(ICH).
3. Mengetahui penatalaksanaan stroke perdarahan intraserebral (ICH).

1.4.

Manfaat
Untuk Penelaah
1. Menambah ilmu pengetahuan tentang stroke.
2. Khususnya dapat memahami tentang stroke perdarahan intraserebral
(ICH)

baik

itu

patofisiologi,

cara

penegakan

diagnosa

serta

penatalaksanaannya.
Untuk Pembaca
1. Menambah ilmu pengetahuan tentang stroke.
2. Dapat memahami tentang stroke perdarahan intraserebral (ICH) baik itu
patofisiologi, cara penegakan diagnosa serta penatalaksanaannya.
3. Sebagai bekal bagi para dokter muda, khususnya mahasiswa FK Unisma
dalam prakteknya dan aplikasinya di lapangan sesuai dengan kompetensi
dokter umum.
Untuk Ilmu Pengetahuan
1. Sebagai salah satu literatur dalam mengembangkan ilmu pengetahuan
2.

tentang kedokteran, khususnya penyakit stroke.


Memberikan inspirasi kepada para ilmuwan

untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran.

dapat

BAB II
STATUS PENDERITA
2.1. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Ny.R

Umur

: 50 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan

:-

Agama

: Islam

Alamat

: Dampit

Status perkawinan

: Menikah

Suku

: Jawa

Tanggal Periksa

: 8 Oktober 2012

No. Registrasi

: 312147

2.2. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama :
Tangan dan kaki kanan tidak bisa digerakan.
2. Keluhan Tambahan :
Sakit kepala, tidak bisa bicara.
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke UGD pukul 10.00 WIB dengan keluhan tangan dan
kaki kiri tiba-tiba lemas sejak pagi tadi pukul 06.00 WIB setelah
bangun tidur dan kemudian tdak bisa digerakan. Kemudian bicara agak
sulit (pelo), keluhan juga disertai dengan sakit kepala, sakit kepala
dirasakan cekot-cekot di seluruh bagian kepala, pasien tidak mual dan
tidak muntah. Sebelumnya pasien tidak pernah jatuh dan terbentur.
Pasien mengaku tidak ada masalah BAB maupun BAK.

4. Riwayat Penyakit Dahulu :


-

Riwayat sakit serupa

:-

- Riwayat mondok

:-

- Riwayat sakit gula

:-

- Riwayat Hipertensi

: punya penyakit hipertensi sudah lama

dan tidak terkontrol.


- Riwayat sakit kejang

:-

- Riwayat alergi obat

:-

- Riwayat alergi makanan

:-

- Riwayat alergi cuaca

:-

- Riwayat stroke

:-

5. Riwayat penyakit lain

: Riwayat Pengobatan

6. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : Tidak ada
- Riwayat hipertensi

: Menyangkal

- Riwayat sakit gula

: Menyangkal

- Riwayat jantung

: Menyangkal

- Riwayat sakit lain

: Menyangkal

:-

7. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok

:-

- Riwayat minum kopi

:+

- Riwayat minum alkohol

: Tidak pernah

- Riwayat menggunakan narkoba

: Tidak pernah

- Riwayat olah raga

: Tidak pernah

- Sering tidur larut malam dan jarang olahraga.


8. Riwayat Sosial Ekonomi :
Penghasilan satu bulannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari (ekonomi
menengah ke bawah).
9. Riwayat Gizi :
Makanan sehari-hari cukup dan sederhana.

2.3. ANAMNESIS SISTEM


1. Kulit

: kulit gatal (-), sakit (-)

2. Kepala

: sakit kepala (+), pusing (-), rambut kepala tidak rontok,


luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)

3. Mata

: pandangan mata berkunang-kunang (+/+), penglihatan


kabur (-/-), ketajaman penglihatan dalam batas normal

4. Hidung

: tersumbat (-/-), mimisan (-/-)

5. Telinga

: pendengaran berkurang (+/+), berdengung (-/-), keluar


cairan (-/-)

6. Mulut

: sariawan (-), mulut kering (+), lidah terasa pahit (-)

7. Tenggorokan

: sakit menelan (-), serak (-)

8. Pernafasan

: sesak nafas (-), batuk (+), mengi (-)

9. Kadiovaskuler

: berdebar-debar (+), nyeri dada (-), ampeg (-)

10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan turun (-),
nyeri perut (-), BAB normal.
11. Genitourinaria

: BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal.

12. Neurologik

: kejang (-), lumpuh pada tangan (+/-), lumpuh pada kaki


(+/-), kesemutan dan rasa tebal pada kaki dan tangan
(+/-)

13. Psikiatri

: emosi stabil, mudah marah (-)

14. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri/liu-linu pada lutut kanan-kiri (-),
nyeri otot (-)
15. Ekstremitas

o Atas kanan

: bengkak (-), sakit (-), luka (-)

o Atas kiri

: bengkak (-), sakit (-), luka (-)

o Bawah kanan

: bengkak (-), sakit (-), luka (-)

o Bawah kiri

: bengkak (-), sakit (-), luka (-)

2.4. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan Umum : compos mentis, tampak lemas (GCS: 436)
2. Tanda Vital
Tensi

: 190/110 mmHg

Nadi

: 96x/menit

Pernafasan : 20x/menit
Suhu

: 36C

3. Kulit
:
Kulit sawo mateng, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-),
venektasi (-), petechie (-), spider nevi (-).
4. Kepala
:
Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-),
nodula (-), kelainan mimik wajah/meringis (lipatan nasolabialis kiri
tertinggal).
5. Mata
:
Mata tidak cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil
isokor (+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat
kehitaman).
6. Hidung
:
Nafas cuping hidung (-/-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung
(-/-), hiperpigmentasi (-/-).
7. Mulut
:
Bibir pucat (-), bibir kering (+), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-).
8. Telinga
:
Nyeri tekan mastoid (-/-), sekret (-/-), pendengaran berkurang (-/-),
cuping telinga dalam batas normal.
9. Tenggorokan :

Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-/-)


10. Leher
:
Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).
11. Toraks
:
Normochest, simetris, pernafasan thorakoabdominal, retraksi

(-),

spidernevi (-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)


Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis kuat angkat
: Batas kiri atas
: ICS II linea para sternalis sinistra
Batas kanan atas
: ICS II linea para sternalis dekstra
Batas kiri bawah
: ICS V linea medio clavicularis
sinistra
: ICS IV linea para sterna dekstra
: ICS II linea para sternalis sinistra

Batas kanan bawah


Pinggang jantung

(kesan jantung tidak melebar)


Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas noral, regular, bising
Pulmo
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-),

Palpasi

luka (-)
: Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-),

Perkusi

krepitasi (-)

Auskultasi

Sonor
Sonor
sonor

Sonor
sonor

: suara dasar vesikular


+
+
+
+
+
suara tambahan: Ronkhi

12.
Abdomen
:
Inspeksi

wheezing
-

: Dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-),

jaringan parut/bekas luka (-), tumor/benjolan (-).


Auskultasi : Bising usus 8x/menit (+) normal

Palpasi

: supel, nyeri tekan epigastrium (-), meteorismus (-), hepar

dan lien tidak teraba


Perkusi
: timpani
13. Sistem Collumna Vertebralis :
Inspeksi
: Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Palpasi
: Nyeri tekan (-)
Perkusi
: NKCV (-)
14. Ektremitas : palmar eritema (-/-)
Akral dingin
Odem
15. Sistem genetalia : Tidak diperiksa
16. Pemeriksaan Neurologik
:
A. Kesan Umum
Kesadaran

: GCS E4V3M6

Pembicara
: Disartri (+), afasia (-), monoton (-), scanning (-)
Kepala
: simetris
B. Pemeriksaan Khusus
1. Rangsangan selaput otak : tidak dilakukan
2. Saraf Otak
N.I
: tidak dilakukan
N.II
: tidak dilakukan
N. III, IV, VI: kedudukan bola mata (+/+), exophtalmus (-/-), ptosis
N.V
N. VII

(-/-), pupil isokor (+/+)


: otot masseter (greget) (+/+)
: kerutan dahi (waktu bergerak) (kiri tertinggal
sedikit), lipatan nasolabialis (meringis) (kiri

N.VIII
N.IX, X

tertinggal sedikit).
: tidak dilakukan
: suara biasa, kedudukan arcus pharynx (kanan
tertinggal/lebih

N.XI
N.XII
3. Saraf Motorik
4. Saraf Sensoris
5. Reflek-refleks

rendah),

kedudukan

(bergerak ke kiri).
: mengangkat bahu (+/+)
: kedudukan lidah waktu bergerak ke kanan.
:
1
5
1
5
Kekuatan
:
N
Tebal
N
Tebal
Rasa nyeri
:
1
2
1
2
+
R.Fisiologis R.Patologis

ovula

6. Susunan saraf otonom : BAK (DBN), BAB (DBN), sekresi keringat


(meningkat).
17. Pemeriksaan Psikiatrik
:
Penampilan
: Perawatan diri baik
Kesadaran
: Kualitatif tidak berubah, kuantitatif compos mentis
Afek
: Appropriate
Psikomotor
: Normoaktif
Proses piker : Bentuk
: realistik
Isi
: waham (-), hausinasi (-), ilusi (-)
Arus
: koheren
Insight
: Baik
2.5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 28 Oktober 2012
Darah Lengkap
Item periksa
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Kimia Darah

Hasil
14,9
42,0
4,95
13.400
193.000

Satuan
g/dl
%
juta/cmm
sel/cmm
sel/mm3

Nilai Normal
L:13,5-18; P: 12-16
L: 40-54; P: 35-47
L: 4,5-6,5; P: 3,0-6,0
4.000 11.000
150.000 450.000

Item periksa
Hasil Pemeriksaan Satuan
Gula Darah Sewaktu
138
mg/dl
SGOT
28
U/L
SGPT
16
U/L
Ureum
22
mg/dl
Kreatinin
0,87
Mg/dl
Elektrolit
Natrium
136
mmol/L
Kalium
3,3
mmol/L
Chlorida
103
mmol/L
CT-SCAN CRANIUM

Nilai Normal
< 140
L: < 43; P: <36
L: < 43; P: <36
20-40
L: 0,6-1,1; P: 0,5-0,9
136 - 145
3,5 5,1
97 - 111

10

Kesimpulan : Intracerebral Hemorrhage Sinistra


2.6. RESUME
Pasien datang ke UGD pukul 10.00 WIB dengan keluhan tangan dan kaki
kiri tiba-tiba lemas sejak pagi tadi pukul 06.00 WIB setelah bangun tidur
dan kemudian tdak bisa digerakan. Kemudian bicara agak sulit (pelo),
keluhan juga disertai dengan sakit kepala, sakit kepala dirasakan cekot-cekot
di seluruh bagian kepala, pasien tidak mual dan tidak muntah. Sebelumnya
pasien tidak pernah jatuh dan terbentur. Pasien mengaku tidak ada masalah
BAB maupun BAK. Riwayat penyakit dahulu pasien hipertensi sudah lama
dan tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil GCS 436, TD
190/110 mmHg, N: 94x/ menit, hemiparese ekstremitas superior dan inferior
bagian dextra, RP -/-, kekuatan otot ekstremitas sup/inf. dextra lemah. Dan
hasil CT-Scan ICH sinistra.
Working diagnosis: ICH latealisasi dextra hari ke I
Different diagnosis: - CVA Infark lateralisasi dextra
- Tumor otak
- SAH

11

2.7. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Umum (5B)
a. Breath
: menjaga fungsi pernafasan dengan memberikan
b. Blood

oksigen kalau ada sesak


: tidak langsung menurunkan TD, pemberian cairan

infuse RL 1000-1500 cc/ hari = 14-21tpm


c. Brain
: GCS dipantau, VS selalu diobservasi.
d. Bowel
: fungsi saluran cerna baik
e. Bone dan body skin
: setiap 2 jam ganti posisi tidur untuk
mencegah dekubitus.
2. Terapi Khusus
a. Pemberian obat untuk stabilisasi membrane otak (mencegah
kerusakan otak)
Citicolin 2x250 mg i.v
b. Mengurangi gejala simtomatis: Ranitidine 2x1 i.v
c. B1 1x1
3. Non-medikamentosa
KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi)
f. Memberi hubungan saling percaya antara dokter dengan pasien
beserta keluarga pasien.
g. Banyak berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersabar
h. Memberikan penjelasan tentang hasil pemeriksaan yang mendukung
penegakan diagnosis.
i. Memberikan informasi tentang diagnosis pasien.
j. Memberikan penjelasan sekaligus meminta persetujuan tentang
tindakan yang akan dilakukan. Secara konservatif dilakukan tirah
baring (istirahat total) agar kondisi pasien membaik dan
sembuh,

tidak

boleh

duduk

maupun

berdiri

karena

ditakutkan ada pembuluh darah di otak yang pecah lagi.


k. Pertama kali, pasien dilatih untuk makan, harus teratur. Dimulai
dengan makan bubur kasar kemudian kembali seperti biasa.
Kemudian dilatih untuk minum.
l. Tidak merokok dan minum kopi, dan tidak boleh makan daging
kambing dan makanan yang asin, jangan tidur larut malam.
m. Memberikan pegertian kepada pasien tentang keharusan untuk
mengurangi stress dan beban pikiran karena dengan begitu dapat
memperbaiki kondisi pasien. Kepada keluarganya harus terus
memberikan dukungan kepada pasien.
n. Harus rutin control dan rajin minum obat.

12

2.8. PROGNOSA

: Dubia ad bonam (cendrung baik). Bila penyakit berat,

pengobatan terlambat/tidak adekuat atau ada komplikasi berat, bahkan


terdapat serangan kedua, prognosa meragukan/buruk.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Definisi
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah
tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal
(atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau
lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain selain
vaskuler.
WHO juga mendefinisikan stroke sebagai gejala-gejala defisit fungsi
susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan
bukan oleh yang lain dari itu. Menurut sumber Wikipedia, Stroke adalah
suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tibatiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan
serangkaian reaksi bio-kimia, yang dapat merusakkan atau mematikan selsel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang
dikendalikan oleh jaringan itu.
Pengertian Stroke menurut Iskandar Junaidi adalah merupakan penyakit
gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf/deficit neurologik akibat
gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak. Secara sederhana Stroke
didefinisi sebagai penyakit otak akibat terhentinya suplai darah ke otak
karena sumbatan atau perdarahan, dengan gejala lemas / lumpuh sesaat atau
gejala berat sampai hilangnya kesadaran, dan kematian.

13

Sumber

lain

menyebutkan

bahwa

Stroke

termasuk

penyakit

serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian


jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah
dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa
dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.
Stroke intracerebral hemorrhage (ICH) atau perdarahan intraserebral
(PIS) adalah suatu sindroma yang ditandai adanya perdarahan spontan ke
dalam substansi otak.
3.2. Epidemiologi
Perdarahan intraserebral lebih sering terjadi pada hipertensi yang
kronis, lebih-lebih tidak terkontrl. Biasanya mengenai arteri kecil atau artery
penetrating yang berdiameter 50-200 m terutama arteri lentikulostriata,
thalamoperforate, cabang arteri basiler paramedian dan cabang kecil dari
arteri cerebello infero superior dan anterior. Perubahan ini menyebabkan
terjadinya lipohialinosis dan nekrosis fibroid yang akan memperlemah
dinding pembuluh darah. Bilamana terjadi peningkatan yang mendadak dari
tekanan darah atau aliran darah ke otak akan menyebabkan pecahnya
pembuluh darah arteri, arteriole, kapiler. Hematoma ini lebih sering pada
gaglia basalis, kapsula interna, thalamus, daripada daerah kortek.
Perdarahan intraserebral dua kali lebih banyak dibanding perdarahan
subarakhnoid (PSA) dan lebih berpotensi menyebabkan kematian atau
disabilitas dibanding infark serebri atau PSA. Sekitar 10% kasus stroke
disebabkan oleh PIS. Sumber data dari Stroke Data Bank (SDB)
menyebutkan bahwa setidaknya 1 dari 10 kasus stroke disebabkan oleh
perdarahan parenkim otak.
Sekitar 10-15% dari seluruh kasus stroke disebabkan oleh perdarahan
intraserebral (PIS). Angka kejadian PIS berkisar antara 10-20/100.000
penduduk per tahun.angka kematian PIS dala 30 hari setelah serangan
mencapai 35-52%. Dari jumlai ini, separuh diantaranya meninggal dalam 2
hari pertama setelah serangan stroke. Salah satu laporan di Amerika Serikat
menyebutkan bahwa 67.000 penderita stroke, hanya 20% diantaranya yang

14

mandiri dan tidak mengalami kecacatan yang berarti, dalam 6 bulan setelah
mengalami serangan PIS.
Dalam salah satu populasi yang melibatka 1041 penderita PIS, 50%
perdarahan terjadi didaerah subkortikal dalam, 35% di substransia slbs
(lobar), 20% di serebelum, dan 6% di batang otak. Sedangkan kematian yang
terjadi dalam selang waktu 1 tahun setelah serangan dialamin oleh 65% PIS
di batang otak, 57% PIS di substansia alba (lobar), 51% PIS di subkortikal
dalam, dan 42% PIS di serebelum.
Populasi dimana frekuensi hipertensinya tinggi, seperti Amerika-Afrika
dan orang-orang Cina, Jepang dan keturunan Thai, memiliki frekuensi yang
tinggi terjadinya PIS. Perdarahan intraserebral dapat terjadi pada rentang
umur yang lebar, dapat terjadi pada dekade tujuh puluh, delapan puluh dan
sembilan puluh. Walaupun persentase tertinggi kasus stroke pada usia
dibawah 40 tahun adalah kasus perdarahan, PIS sering juga terjadi pada usia
yang lebih lanjut. Usia lanjut dan hipertensi merupakan faktor resiko paling
penting dalam PIS. Perdarahan intraserebral terjadi sedikit lebih sering pada
pria dibanding wanita dan lebih sering pada usia muda dan setengah-baya
pada ras kulit hitam dibanding kulit putih di usia yang sama.
3.3. Klasifikasi
Stroke diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan kelainan patologis
a. Stroke hemoragik
1) Perdarahan intra serebral
2) Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid)
b. Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan)
1) Stroke akibat trombosis serebri
2) Emboli serebri
3) Hipoperfusi sistemik
2. Berdasarkan waktu terjadinya
1) Transient Ischemic Attack (TIA)
2) Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
3) Stroke In Evolution (SIE) / Progressing Stroke
4) Completed stroke
3. Berdasarkan lokasi lesi vaskuler
1) Sistem karotis
a. Motorik : hemiparese kontralateral, disartria

15

b. Sensorik : hemihipestesi kontralateral, parestesia


c. Gangguan visual : hemianopsia homonim kontralateral, amaurosis
fugaks
d. Gangguan fungsi luhur : afasia, agnosia
2) Sistem vertebrobasiler
a. Motorik : hemiparese alternans, disartria
b. Sensorik : hemihipestesi alternans, parestesia
c. Gangguan lain : gangguan keseimbangan, vertigo, diplopia
3.4. ETIOLOGI
Faktor Anatomi

Faktor Hemodinamik
Faktor Hemostatis

Faktor Lain

Lipohialinosis dan mikroaneurisma


Arteriovenous malformation (AVM)
Angiopati amiloid
Aneurisma sakular
Trombosis venus intracranial
Mikroangioma
AVM duralis
Arteritis septic dan aneurisma mikotik
Sindroma moya-moya
Diseksi arteri
Fistula karotiko-kavernosa
Hipertensi arterial akut maupun kronis
Migren
Antikoagulan
Antiplatelet
Trombolitik
Hemofilia
Leukemia
Trombositopeni
Tumor intra serebral
Alkohol
Amfetamin
Kokain dan obat simpatomimetik
Vaskulitis

3.5. Patofisiologi
Kebanyakan kasus PIS terjadi pada pasien dengan hipertensi kronik.
Keadaan ini menyebabkan perubahan arteriosklerotik pembuluh darah kecil,
terutama pada cabang-cabang arteri serebri media, yang mensuplai ke dalam
basal ganglia dan kapsula interna. Pembuluh-pembuluh darah ini menjadi
lemah, sehingga terjadi robekan dan reduplikasi pada lamina interna,
hialinisasi lapisan media dan akhirnya terbentuk aneurisma kecil yang

16

dikenal dengan aneurisma Charcot-Bouchard. Hal yang sama dapat terjadi


pembuluh darah yang mensuplai pons dan serebelum. Rupturnya satu dari
pembuluh darah yang lemah menyebabkan perdarahan ke dalam substansi
otak.
Pada pasien dengan tekanan darah normal dan pasien usia tua, PIS
dapat disebabkan adanya cerebral amyloid angiopathy (CAA). Keadaan ini
disebabkan adanya akumulasi protein -amyloid didalam dinding arteri
leptomeningen dan kortikal yang berukuran kecil dan sedang. Penumpukan
protein -amyloid ini menggantikan kolagen dan elemen-elemen kontraktil,
menyebabkan arteri menjadi rapuh dan lemah, yang memudahkan terjadinya
resiko ruptur spontan. Berkurangnya elemen-elemen kontraktil disertai
vasokonstriksi dapat menimbulkan perdarahan masif, dan dapat meluas ke
dalam ventrikel atau ruang subdural. Selanjutnya, berkurangnya kontraktilitas
menimbulkan kecenderungan perdarahan di kemudian hari. Hal ini memiliki
hubungan yang signifikan antara apolipoprotein E4 dengan perdarahan
serebral yang berhubungan dengan amyloid angiopathy.
Suatu malformasi angiomatous (arteriovenous malformation/AVM)
pada otak dapat ruptur dan menimbulkan perdarahan intraserebral tipe
lobular. Gangguan aliran venous karena stenosis atau oklusi dari aliran vena
akan meningkatkan terjadinya perdarahan dari suatu AVM.
Terapi antikoagulan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya
perdarahan intraserebral, terutama pada pasien-pasien dengan trombosis
vena, emboli paru, penyakit serebrovaskular dengan transient ischemic attack
(TIA) atau katub jantung
prostetik. Nilai internationa! normalized ratio
Hemorrhage
(INR) 2,0 - 3,0 merupakan batas adekuat antikoagulasi pada semua kasus
kecuali untuk pencegahan emboli pada katub jantung prostetik, dimana nilai
Serotonin,
Toxic effect of
Increased
Release of
yang direkomendasikan berkisar 2,5 - 3,5. Antikoagulan lain seperti heparin,
Prostaglandin,
blood
intracranial
vasocontrictors
trombolitik
dan
aspirin
meningkatkan
resiko
PIS.
Penggunaan
trornbolitik
darah,
produk
constituents
pressure
pecahan
darah
setelah infark miokard sering diikuti terjadinya PIS pada beberapa
ribu pasien
(oksihemoglobin,
tiap tahunnya.
2+
bilirubin)
Global
Influks Ca
ischaemia

Influks Ca2+

Vasocontriction

Nerve cell
necrosis

Focal ischaemi

17

18

3.6. Penegakan Diagnosa

19

Perbedaan antara letak Kortikal-subkortikal


GEJALA / TANDA
Afasia
Astereogonosis
2 point discrimination terganggu
Graphesthesi terganggu
Extincition phenomenon
Loss of body image
Kelumpuhan lengan dan tungkai tidak
sama
Dystonic posture
Gangguan sensibilitas
Kedua mata melihat ke hidung
Diagnosa Banding stroke

KORTIKAL
++
++
++
++
++
++
++

SUBKORTIKAL
-

++
++
++

20

Siriraj Stroke Score:

Siriraj stroke score dapat dihitung menggunakan rumus berikut:


(2.5 x tingkat kesadaran) + (2 x muntah) + (2 x pusing) + (0.1 x
tekanan darah diastolik) - (3 x atheroma markers) - 12
Skor untuk stroke perdarahan adalah > +1 dan skor untuk stroke
iskemik < -1, sedangkan skor antara > -1 dan < +1 menunjukkan bahwa
diperlukan pemeriksaan CT SCAN untuk menentukan diagnose pasien

21

Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis diantaranya adalah


darah lengkap, kadar gula darah, faal hepar, faal ginjal, faal hemostasis,
serum elektrolit, EKG serta foto thorax, tetapi gold standard diagnosis
stroke tetap CT-Scan dan MRI.
Stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi
kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging (pencitraan)
untuk mengevaluasi kasus Stroke atau penyakit pembuluh darah otak
(Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan)
dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah,
cepat dan relatif murah untuk kasus Stroke. Namun dalam beberapa hal, CT
scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus Stroke
hiperakut.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan
atau MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan
penyebab dari Stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang
dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening
melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.
Sistem skoring yang dapat digunakan adalah Siriraj Stroke Score dan
Algoritma Stroke Gajah Mada karena sederhana, murah dan mudah
digunakan untuk membedakan stroke perdarahan dan stroke iskemik.

22

3.7. Diaagnosa Banding


-Meningitis
-Tumor otak
-Hiperglikemia

-penyalahgunaan obat (mis:narkoba)


-epilepsi
-migren
-malingering

3.8. Penatalaksanaan
Prinsip tujuan utama terapi stroke adalah :
Mencegah kerusakan otak yang bersifar irreversible
Mencegah komplikasi
Mencegah kecacatan yang lebih parah
Mencegah serangan ulang
Penanganan penderita PIS terutama bertujuan untuk mengatasi edema serebri
dan peningkatan tekanan intracranial.
Penatalaksanaan strok meliputi:

Terapi Umum (6B):


1. Breath : Menjaga agar fungsi pernafasan dan oksigenasi
tetap baik. Penurunan kesadaran, sembab paru dan penyakit
pada saluran pernafasan segera diberikan oksigen. Bebaskan
jalan napas,bila perlu pasang mayo,chinlift,jawtrust,suction
2. Blood
: Tekanan darah selu dievaluasi, tidak boleh
menurunkan tekanan darah pada fase akut, meurunkan tekanan

23

darah tidak boleh > 20% TD awal. pertahankan tensi antara


180/100

untuk

perdarahan

dan

200/100

untuk

infark.Penurunan tensi tidak boleh lebih dari 10-20%, periksa


kadar gula darah, pemberian cairan infuse.
3. Brain
: Pemantauan derajat kesadaran (GCS), Vital sign,
ada kejang atau tidak?, peningkatan tekanan intracranial?.
4. Bowel
: Observasi fungsi saluran cerna, nutrisi (TKTP),
perdarahan gastrointestinal. Pemasangan NGT pada pasien
tidak sadar.
5. Bladder : Observasi fungsi saluran kencing, produksi urin.
Pemasangan kateter pada pasien tidak sadar.
6. Bone dan Body skin
: Mencegah terjainya

dekubitus

dengan cara mika-miki tiap 2 jam, perawatan dan pemantauan


kulit dan tulang dengan cara pemakaian kasur air,higienis

kulit,higienis oral.
Terapi Khusus :
1. Pemberian neuroprotektor untuk mencegah kerusakan otak
seperti pirasetam, Colinar dll.
2. Pembedahan
Tidak dioperasi
1. Perdarahan kecil ( < 10 cm3 ) atau dengan defisit neurologi
minimal
2. GCS < 4. Tetapi penderita dengan GCS < 4 dengan

perdarahan serebelum dan kompresi batang otak adalah


kandidat operasi pada beberapa kasus

Dioperasi
1. Perdarahan serebelum dengan diameter > 3 cm dengan
deteriorasi atau mengalami kompresi batang otak dan
hidrosefalus akibat obstruksi ventrikel

24

2. Perdarahan intraserebral karena lesi struktural ( aneurisma,


malformasi arteriovenosa, angioma kavernosa), jika lesi
terjangkau
3. Penderita muda dengan perdarahan lobar sedang atau besar
( > 50 cm3 ) yang mengalami deteriorasi
3.9. Prognosis
Prognosis pasien dengan stroke hemoragik (perdarahan intraserebral)
tergantung pada ukuran hematoma. Hematoma > 3 cm umumnya
mortalitasnya besar, hematoma yang massive biasanya bersifat lethal. Jika
infark terjadi pada spinal cord, prognosis bervariasi tergantung keparahan
gangguan neurologis. Jika control motorik dan sensasi nyeri terganggu,
prognosis jelek.
3.10.

Komplikasi
Pasien yang mengalami gejala berat, misalnya imobilisasi dengan

hemiplegia berat, rentan terhadap komplikasi yang dapat menyebabkan


kematian lebih awal, yaitu:

Pneumonia, septicemia (akibat ulkus dekubitus atau infeksi


saluran kemih),

Trombosis vena dalam dan emboli paru,

Infark miokard, aritmia jantung, dan gagal jantung,

Ketidakseimbangan cairan

Sekitar 10% pasien dengan infark serebri meninggal pada 30 hari


pertama. Hingga 50% pasien yang bertahan akan membutuhkan bantuan
dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Faktor-faktor yang mempunyai
kontribusi pada disabilitas jangka panjang meliputi:

Ulkus dekubitus

Epilepsi

Jatuh berulang dan fraktur

Spastisitas dengan nyeri, kontraktur dan kekakuan sendi bahu

Depresi

25

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan

26

stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda


klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau
global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih,
dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain selain vaskuler.
Stroke intracerebral hemorrhage (ICH) atau perdarahan intraserebral
(PIS) adalah suatu sindroma yang ditandai adanya perdarahan spontan ke
dalam substansi otak.
Faktor risiko stroke dibagi atas faktor risiko yang dapat dimodifikasi
(modifiable) dan yang tidak dapat dimodifikasi (nonmodifiable). Faktor
risiko stroke yang dapat dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi, penyakit
jantung (fibrilasi atrium), diabetes melitus, merokok, konsumsi alkohol,
hiperlipidemia, kurang aktifitas, dan stenosis arteri karotis. Sedangkan faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin, ras/suku,
dan faktor genetik.
Sistem skoring yang dapat digunakan untuk mendiagnosa stroke adalah
Siriraj Stroke Score, Algoritma Stroke Gajah Mada dan Djoenaidi Score
karena sederhana, murah dan mudah digunakan untuk membedakan stroke
perdarahan dan stroke iskemik, tetapi gold standard diagnose stroke adalah
CT-Scan dan MRI.
Upaya untuk mencegah stroke atau mengurangi faktor risiko dengan
menerapkan pola hidup sehat, olahraga teratur, penghindari stress hingga
meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah
hingga dapat mencegah terjadinya stroke.

DAFTAR PUSTAKA

Bahrudin, M. 2008. Catatan Kuliah Dasar-Dasar Neurologi.

27

Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes Neurologi Edisi Kedelapan. Jakarta:


Penerbit Erlangga.
Ikawati,

Zullies.

2009.

Stroke.

http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/wp-

content/uploads/stroke.pdf.
Islam M.S. 1997. Patofisiologi Stroke. Surabaya. Lab./SMF Ilmu Penyakit saraf
FK Unair. RSUD Dr Sutomo Surabaya.
Israr,

Yayan.

A.

2008.

Stroke.

http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/01/case-s-t-r-o-k-e.pdf
Ritarwan, Kiking. 2003. Pengaruh Suhu Tubuh Terhadap Outcome Penderita
Stroke

yang

Dirawat

di

RSUP

H.

Adam

Malik

Medan.

http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking.pdf.
Sari, Intan Mustika. 2008. Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi Pada
Penderita Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah dr.
M. Ashari Pemalang. http://etd.eprints.ums.ac.id/8036/2/K100050246.pdf.
Setyopranoto,

Ismail.

2010.

Manajemen

Stroke

Akut.

http://clinicalupdates2010.files. wordpress.com/2010/03/dr-ismail.pdf.
Siswanto, Yuliaji. Beberapa Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Stroke
Berulang

(Studi

Kasus

di

RS

dr.

Kariadi

Semarang).

http://eprints.undip.ac.id/4942/1/Yuliaji_Siswanto.pdf.
Sunardi. Asuhan Keperawatan pada Tn.Am dengan Stroke Hemoragik (+) di
IRNA B Lt I Kanan
http://nardinurses.files.
strore-hemoragik.pdf.

RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.


wordpress.com/2008/01/asuhan-keperawatan-