Anda di halaman 1dari 5

Ada dua cara penutupan sumur yaitu Soft Shut In dan Hard Shut In.

The Hard
Shut In adalah penutupan sumur dimana annular preventer dengan segera ditutup setelah
pompa dimatikan. Sedangkan Soft Shut In adalah proses penutupan sumur dimana choke
dibuka terlebih dahulu sebelum penutupan annular preventer. Alasan penggunaan Soft Shut In
adalah untuk mencegah adanya tumbukan keras dari fluida formasi yang menghantam
preventer karena adanya penutupan yang dilakukan secara tiba-tiba, hal ini disebut sebagai
Low Choke Pressure Method yang akan membuat naiknya tekanan pada casing.
Sebenarnya metode penutupan secara Soft maupun Hard ini tidak banyak
berbeda, keduanya dapat dipakai dan menghasilkan penutupan yang bagus. Efek dari
hantaman fluida terhadap peralatan maupun efek negatif lain belum dapat dibuktikan.
Penutupan sumur ketika pipa didalam sumur atau pada waktu drilling
prosedurnya adalah sebagai berikut :
1. Memberi peringatan pada kru
2. Dengan segera tarik kelly keatas sampai tool joint diatas rotary table
3. Menghentikan putaran Rotary table dan mematikan pompa
4. Memerikasa aliran dari dalam sumur dan bila ada aliran kita lakukan prosedur
penutupan sumur yaitu dengan :
a) Metode Hard Shut In
-

Membuka Choke Line Valve

Menutup rangkaian BOP

Memberitahu personel perusahaan

Membaca SIDPP dan SICP setiao menit

b) Metode Modifikasi
-

Menutup rangkaian BOP

Membuka Choke Line valve

Memberitahu personel perusahaan

Membaca SIDPP dan SICP setiap menit

c) Metode Soft Shut In


-

Membuka Choke lIne valve

Menutup rangkaian BOP

Menutup Choke dan melihat tekanan casing untuk meyakinkan tidak ada
tekanan yan terjebak.

Memberitahu personel perusahaan

Membaca SIDP dan SICP setiap menit

Circulation Penyebab lost circulation adalah adanya celah terbuka yang cukup
besar di dalam lubang bor,yang memungkinkan lumpur untuk mengalir kedalam formasi
.Celah

tersebut

dapat

terjadi

secara

alami

dalam

formasi

yang

caver

nous,fracture,fissure,unconsolidated,atau tekanan terlalu besar.Hal ini dapat terjadi jika


pemboran menebus formasi yang memiliki banyak gerowong ataupun rekahan alami dengan
ukuran celah yang sangat besar ,loss Circulation juga bisa karena mud weight di bore hole
melebihi tekanan formasi ataupun melebihi frackture gradient nya, hal ini dapat
menyebabkan drilling fluid masuk ke formasi akibatnya kolam lumpur akan menurun dan
tekanan hidrostatik juga menurun, sehingga tekanan hidrostatik akan mengecil di bawah
tekanan formasi yang akan menyebabkan fluida formasi bisa keluar dan mendorong kolam
lumpur keatas hal ini menyebabkan kick bahkan bisa juga menyebabkan blow out formasi
semacam sering di jumpai pada batuan karbonat atau limestone. Ukuran celah yang besar
menyebabkan di mungkin kannya mengatasi lost circulation ini dengan metode konvesional
seperti penambahan aditif LCM ataupun cement plug untuk menyumbat celah celah pada
formasi tersebut. 1.

Formasi Natural yang dapat menyebabkan lost Walau formasi yang

menyebabkan lost circulation tidak di ketahui secara nyata, namun dapat di pastikan bahwa
formasi tersebut mesti berisi lubang pori yang lebih besar dari ukuran partikal lumpur. Hal ini
di tunjukan dalam kasus bahwa phase solid dari lumpur tidak akan masuk ke pori dari
formasi yang terdiri dari clay shale dan sand stone denan permeabilitas normal. a.

Coarse

dan Gravel yang mempunyai variasi permeabilitas Studi menunjukan bahwa formasi
memerlukan permeabilitas yang besar untuk di masuki lumpur. Permeabilitas yang besar ini
dapat terjadi pada shallow sand dan lapisan gravel. Formasi yang berkonsulidasi dengan baik
dapat menyebabkan keguguran dinding sumur yang membentuk gua gua, hal ini dapat
terjadi karena adanya tekanan overburden dari berat rig. b.

Breksiasi Breksiasi terjadi

karena adanya eart stress yang menghasilkan rekahan, rekahan yang terjadi dapat
menyebabkan lost circulation. c.

Covernous atau vugular formation Pada prinsipnya zona

cavernous atau vugular terjadi pada formasi limestone, pada formasi limestone di hasilkan
oleh aliran yang kontinyu dari alami yang menghancurkan bagian dari matriks batuan
menjadi encer dan larut, ketika formasi ini di tembus lumpur akan cepat hilang ke dalam
formasi, volume lumpur yang hilang tergantung pada derajat vugs yang saling berhubungan
sedangkan cavernous dapat terjadi karena pendinginan magma. d.

Cracked dan fracture

Lost circulation juga terjadi jika formasi cracked dan adanya frackture, selain itu juga terjadi
karena depleted zone, depleted sand sangat potensial untuk terjadinya lost, karena jika

formasi produktif dalam lapangan yang sama menyebabkan tekanan sub normal akibat
produksi dari sumur sebelumnya, ( sumur pengembangan ). Dalam kasus ini brat lumpur
yang di perlukan untuk mengontrol tekanan formasi yang lebih dangkal mungkin terlalu
tinggi untuk lapisan sand di bawah nya akibat nya lapisan sand menjadi rekah dan akan di
masuki lumpur. 2.

Lost circulation karena tekanan Selain karena adanya formasi natural

yang dapat menyebabkan lost, lost circulation dapat juga terjadi karena kesalahan yang
dilakukan pada saat operasi pemboran yang berkaitan dengan tekanan misal nya : a.
Memasang intermediet casing pada tempat yang salah jika casing diatas zona transisi antara
zona yang bertekanan normal maka di perlukan lumpur yang berat untuk mengimbangi
tekanan yang abnormal. b.

Pelanggaran down hole pressure antara lain, mengangkat atau

menurunkan pipa yang terlalu cepat, pipe whipping, sloghing shale, peningkatan tekanan
pompa yang terlalu cepat, lumpur yang yang berat. 4.3 Penangulangan Lost Circulation Lost
circulation dapat menimbulkan beberapa masalah dan kerugian misalnya, hilangnya
lumpur,bahaya terjepitnya pipa, formation damage, kehilangan waktu, tidak di perolehnya
cuttng untuk sample log, gas kick dan penurunan permukaan lumpur yang dapat
menyebabkan blowout pada formasi berikutnya. Beberapa metode yang di lakukan untuk
menanggulangi lost circulation, yaitu : 1.

Mengurangi tekanan pompa Terjadinya lost

circulation dapat di ketahui dari flow sensor, atau berkurangnya lumpur di mud pit. Bila berat
lumpur normal dan tekanan abnormal bukanlah faktor penyebab, langkah utama dan paling
mudah dilakukan adalah mengatur tekanan pompa dan berat lumpur. Tekanan sirkulasi
lumpur berkisar antara 900 Psi sampai 3000 Psi, fungsi dari tekanan ini adalah unutuk
menanggulangi kehilangan tekanan selama pengaliran lumpur. 2.

Mengurai berat lumpur

Salah satu fungsi lumpur pemboran adalah untuk mengimbangi tekanan fomasi, semakin
besar berat lumpur semakin besar diferensial pressure antara kolam lumpur dan formasi,
lumpur yang terlalu berat dapat menyebabkan pecah nya formasi, jadi jika lost yang yang
terjadi cukup kecil maka langkah yang harus di ambil yaitu menurunkan berat lumpur sambil
melanjutkan drilling dan monitoring circulation. 3.

Menaikan viscositas dan gel streng Pada

shalow dept, lost sirculation umumnya di sebabkan oleh formasi yang porous yang terdiri dari
coarse, gravel atau cavernous, peningkatan viscositas dan gel streng akan membantu
memecahkan masalah ini. 4.

Mengurangi tekanan surge lubang bor Tekanan surge di

hasilkan dari penurunan pipa kedalam lubang bor yang terlalu cepat, kondisi ini dapat
memecahkan formasi, untuk itu drill string mesti di turunkan dengan lambat untuk
mengurangi tekanan surge yang dapat memecahkan formasi. 5.

Sealing agent Bila

beberapa metode di atas gagal ataupun lost yang terjadi cukup besar biasanya di tambah lost

circulation material (LCM), yaitu bahan pengurang kehilangan lumpur. 6.

Cement Plug

Penggunaan semen untuk mengatasi hilang lumpur terutama di daerah yang banyak
mengandung gerowong sebagaimana terdapat pada formasi karbonat. 7.

Blind Drilling

Drilling blind adalah pemboran yang dilakukan secara membabi buta dimana sirkulasi
lumpur tidak ada karena semua lumpur hilang ke formasi, drilling blind sangat berbahaya
karena cuting yang tidak terangkat ke permukaan dapat menjepit pipa/ stuck. 8.

Aerated

drilling Aerated drilling mud di lakukan dengan tujuan untuk menurunkan densitas lumpur,
metode ini sangat cocok di terapkan untuk mengatasi lost circulation yang di jumpai pada
formasi cavernous, vugs yang besar, metode ini di lakukan dengan memompa campuran air
dan udara kedalam lubang. Jumlah air yang di pompa ke dalam lubang dapat di atur sesuai
dengan kebutuhan, setelah daerah vugular di lewati, pipa dapat di set atau aerated drilling
dapat di teruskan. 4.4 Pipe Stuck Jika pada suatu pemboran terjadi kondisi dimana drillpipe
sudah dapat di naikan, diturunkan atau bahkan di putar. Pipe stuck di bagi menjadi 4 situasi,
yaitu ; 1.

Differential sticking yaitu terjadi karena adanya mud cake. 2.

terjadi karena adanya cuting. 3.

Undergauge hole. 4.

Packing off yaitu

Keyseating. 4.5 Faktor Penyebab

Pipe Stuck Pipe stuck disebabkan karena adanya swealing, clay swealing terbentuk karena
mud weight yang terlalu rendah sehingga clay akan mengembang bisa juga karena komposisi
kimawi dari drilling fluid yang tidak sesuai dengan jenis lempungnya sehingga saat clay
mengembang menyebabkan rangkaian pipa bor akan terjepityang di kenal dengan istilah Pipe
Stuck. 4.5.1 Penanggulangan Pipe Stuck 1. Jika karena differential sticking penanggulangan
nya dengan cara menurunkan mud weight bersaan dengan proses sirkulasi. 2. Jika mud
weight kurang maka mud weight harus di tambah atau dengan menggunakan clay inhibitor
yang di sesuaikan dengan jenis clay nya. 3. Dengan cara cabut masuk rangkaian drillstring.
4.6 Hole Pack Off Hole pack off adalah terjepitnya rangkaian pipa pengeboran akibat
runtuhnya dinding lubang bor ataupun sebagai akibat dari adanya perbedaan tekanan antara
tekanan formasi dengan tekanan dari permukaan serta tekanan dari lubang sumur.