PPH 21
PPH 21
Pengertian WPOP
Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) adalah Orang Pribadi yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau
pemotong pajak tertentu.
1.
Objek Pajak Penghasilan Orang Pribadi
Undang-undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa penghasilan merupakan setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Dalam konteks orang pribadi, penghasilan dapat berasal kegiatan
usaha, pekerjaan bebas ataupun penghasilan-penghasilan lainnya.
Dalam hal orang pribadi menjalankan kegiatan usaha dan melaksanakan pembukuan, penghasilan neto dihitung
dengan mengurangkan peredaran usaha dengan harga pokok penjualan dan biaya usaha. Penghasilan neto dari
kegiatan usaha selanjutnya akan dilakukan beberapa penyesuaian fiskal baik positif maupun negatif.
Penyesuaian ini adalah penyesuaian penghasilan neto komersial dalam rangka menghitung penghasilan kena
pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya, yang dapat bersifat
menambah maupun mengurangi penghasilan kena pajak.
Dalam hal wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas namun peredaran usahanya atau
peredaran brutonya kurang dari Rp4,8 miliar setahun maka Wajib Pajak dapat menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto. Selain itu Wajib Pajak yang memiliki pekerjaan bebas seperti dokter,
pengacara, notaris, akuntan, konsultan, penilai, aktuaris dan arsitek juga wajib melaporkan penghasilan
brutonya dan Pajak Penghasilannya.
1.
Tarif Pajak Penghasilan
Tarif pajak penghasilan orang pribadi yang berlaku saat ini di Indonesia adalah sebagai berikut:
Pembayaran PPh ini dilakukan dalam tahun berjalan melalui pemotongan oleh pihak-pihak tertentu. Pihak yang
wajib melakukan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26 adalah pemberi kerja, bendaharawan
pemerintah, dana pension, badan, perusahaandan penyelenggara kegiatan.
Jumlah pajak yang telah dipotong dan disetorkan dengan benar oleh pemberi kerja dan pemotong lainnya dapat
digunakan oleh Wajib Pajak untuk dijadikan kredit pajak atas PPh yang terutang pada akhir tahun.
1.
Pemotong PPh pasal 21 adalah setiap orang pribadi atau badan yang diwajibkan oleh UU No. 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2000 dan terakhir No. 36 Tahun
2008 untuk memotong PPh Pasal 21. Termasuk pemotong pasal 21 dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
252/KMK.03/2008.
Hak dan Kewajiban Pemotong Pajak
Hak-hak pemotong PPh Pasal 21 adalah :
1.
Pemotong pajak berhak atas kelebihan jumlah penyetoran PPh pasal 21 yg terjadi karena jumlah PPh
pasal 21 yang terutang dalam 1 (satu) tahun Takwim lebih kecil daripada jumlah PPh pasal 21 yang telah
disetor. Jumlah kelebihan tersebut akan diperhitungkan dengan PPh pasal 21 yang terutang atas gaji untuk
bulan pada waktu dilakukan perhitungan tahunan, dan jika masih ada sisa kelebihan diperhitungkan untuk
bulan-bulan lainnya dalam tahun berikutnya.
2.
Pemotong pajak berhak mengajukan permohonan untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian
surat pemberitahuan (SPT) PPh pasal 21.
3.
Pemotong pajak dapat mengajukan keberatan kepada direktur jenderal pajak dan permohonan banding
kepada badan peradilan pajak.
1.
Setiap Pemotong Pajak Wajib mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak
Setempat.
2)
Pemotong Pajak mengambil sendiri formulir-formulir yang diperlukan dalam rangka pemenuhan
kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak Setempat.
3)
Pemotong Pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetor PPh Pasal 21 yang terutang untuk setiap
Pemotong Pajak wajib melaporkan penyetoran PPh Pasal 21 tersebut sekalipun nihil dengan menggunakan
Surat Pemberitahuan (SPT) Masa ke Kantor Pelayan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat.
5)
Pemotong Pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 kepada pegawai tetap, termasuk
penerima pension bulanan, dengan menggunakan formulir yang ditentukan oleh Dirjen Pajak dalam waktu 2
(dua) bulan setelah tahun pajak berakhir.
1.
Penerima Penghasilan (Wajib Pajak PPh pasal 21)
Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 dan/atau PPh pasal 26 adalah orang pribadi yang
merupakan :
1.
Pegawai
2.
Penerima uang pesangon, pension atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari
tua, termasuk ahli warisnya.
3.
Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan antara lain:
Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas seperti pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan,
notaris, penilai dan aktuaris.
Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan,
sutradara, kru film dan seniman lainnya.
Olahragawan
Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik computer dan system aplikasinya.
4.
Agen iklan
Pengawas atau pengelola proyek
Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara.
Petugas penjaja barang dagangan
Petugas dinas luar asuransi
Distributor perusahaan multi level marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya.
Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan keikutsertaannya
dalam suatu kegiatan.
Pasal 21)
Tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 (bukan Objek PPh Pasal 21) adalah:
1.
Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan asuransi
kesehatan, asuansi kecelakan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa.
2.
Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun diberikan oleh Wajib
Pajak atau pemerintah (termasuk Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja, maupun yang
ditanggung oleh pemerintah), kecali penghasilan yang diterima pensiun secara teratur berupa uang peniun
atau penghasilan sejenisnya.
3.
Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada badan penyelenggara tunjangan hari
tua atau badan penyelenggara jaminan social tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja.
4.
Zakat yang diteria oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amal zakat yang dibentuk
atau di sahkan oleh pemerintah, atau sumbangan keagamaan yang sifat nya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga keagamaan yang dibentuk
atau di sahkan oleh pemerintah.
5.
Beasiswa yang diterima oleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka
mengikuti pendidikan di dalam negeri pada tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi yang tidak mempunyai hubungan istimewa dengan pmilik, komisaris, direksi dan
pengurus dari Wajib Pajak pemberi beasiswa.
1.
Secara umum menghitung Pajak Penghasilan yang terutang pada PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemotong
pajak adalah :
PPh Pasal 21 = Tarif x Dasar Pengenaan Pajak
Tarif PPh Pasal 21
Beberapa tarif berikut ini digunakan sebagai dasar menghitung PPh Pasal 21.
1.
Tarif Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2008, dengan ketentuan sebagai berikut.
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Tarif Pajak
5%
15%
25%
Di atas Rp 500.000.000,00
30%
2.
Tarif Khusus
Tarif khusus berikut diterpkan atas penghasilan berupa uang pensiun yang diterima sekaligus.
Tarif 0% dari penghasilan bruto sampai dengan Rp 50.000.000
Tarif 5% dari penghasilan bruto di atas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000.
Tarif 15% dari penghasilan bruto di atas Rp 100.000.000 smpai dengan Rp 500.000.000
Tarif 25% dari penghasilan bruto diatas Rp 500.000.000.
1.
Tarif khusus berikut diterapkan atas penghasilan berupa uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau
jaminan hari tua.
2.
Tariff 0% atas penghasilan bruto sampai dengan Rp 50.000.000
3.
Tarif 5% atas penghasilan bruto di atas Rp 50.000.000
4.
Tarif khusus 55 atas upah harian, borongan satuan yang diterima oleh tenaga kerja harian lepas yang
mempunyai total upah sebulan kurang dari Rp 1.320.000 dan upah sehari kurang dari Rp 150.000.
Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP) menjadi lebih tinggi 20% daripada tarif yang ditetapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat
menunjukan NPWP.
Contoh:
Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp. 75.000.000,00
Pajak Penghasilan yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang memiliki NPWP adalah:
5% x Rp 50.000.000,00
15% x Rp 25.000.000,00
Jumlah
Rp. 2.500.000,00
Rp. 3.750.000,00 +
Rp. 6.250.000,00
Pajak Penghasilan yang harus dipotong jika wajib Pajak tidak memiliki NPWP adalah:
5% x 120% x Rp 50.000.000,00
Rp 3.000.000,00
Rp 4.500.000,00 +
Jumlah
Rp 7.500.000,00
Besarnya tarif dan dasar pengenaan pajak ditentukan oleh kelompok penerima penghasilan dan jenis
penghasilan. Penghasilan yang sama diterima oleh kelompok penerima yang berbeda, tarif dan dasar
pengenannya bisa berbeda. Contoh PPh pasl 21 atas honorarium yang diterima oleh bukan pegawai dan pegawai.
1.
Hitungan 1 diterapkan pada pegawai tetap dan penerima pensiun berkala. Penghitungannya dikelompokkan
menjadi 2, yaitu :
1)
Penghitungan masa atau bulanan yang menjadi dasar pemotongan PPh pasal 21 yang terutang untuk setiap
masa pajak, yang dilaporkan dalam SPT masa PPh pasal 21, selain masa pajak Desember atau masa pajak
dimana pegawai tetap berhenti bekerja.
2)
Penghitungan kembali sebagai dasar pengisian form 1721-A1 atau 1721-A2 dan pemotongan PPh pasal 21
yang terutang untuk masa pajak Desember atau masa pajak dimana pegawai tetap berhenti bekerja.
Penghitungan kembali in dilakukan pada:
1.
Bulan dimana pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun;
2.
Bulan Desember bagi pegawai tetap yang bekerja sampai akhir tahun kalenser dan bagi penerima
pensiun yang menerima uang pensiun sampai akhir tahun kalender.
Penghitungan Masa atau Bulanan Selain Masa Pajak Desember atau Masa Pajak di mana
Pegawai Tetap Berhenti Bekerja
1.
Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur
2.
Penghitungan PPh atas Penghasilan Teratur bagi Pegawai Tetap
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
a)Untuk menghitung PPH Pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap, terlebih dahulu dihitung penghasilan
bruto yang diterima atau diperoleh selama sebulan.
b)Untuk perusahaan yang masuk program Jamsostek, premi jaminan kecelakaan kerja (JKK) yang
dibayar oleh pemberi kerja merupakan penghasilan bagi pegawai. Dalam menghitung PPH Pasal 21, premi
tersebut digabungkan dengan penghasilan bruto yang dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pegawai.
c)Selanjutnya dihitung jumlah penghasilan neto sebulan dengan biaya jabatan, serta iuran pensiun,
iuran jaminan hari tua dan iuran tunjangan hari tua yang dibayar sendiri oleh pegawai yang bersangkutan
melalui pemberi kerja kepada dana pensiun.
d)Selanjutnya dihitung penghasilan neto setahun, yaitu jumlah penghasilan neto sebulan dikalikan 12.
e)Dalam hal seorang pegawai tetap dengan kewajiban pajak subjektif sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri
sudah ada sejak awal tahun.
f)Selanjutnya dihitung penghasilan kena pajak sebagai dasar penerapan tarif pasal 17 ayat (1) huruf
a UU PPh, yaitu sebesar Penghasilan neto setahun , dikurangi dengan PTKP.
g)Setelah diperoleh PPh terutang dengan menrapkan tarif pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh terhadap
penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada point ke 6, selanjutnya dihitung PPh pasal 21 sebulan,
yang harus dipotong atau disetor ke kas negara yaitu sebesar :
(1). Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana dimaksud pada point 4 dibagi dengan 12 atau.
(2). Jumlah PPh pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana dimaksud pada point 5 dibagi dengan 12.
1.
h)Apabila pajak yang terutang oleh pemberi kerja tidak didasarkan atas masa gaji sebulan, maka
penghitungan pjak pasal 21, jumlah penghasilan tersebut terlebih dahulu dijadikan penghasilan bulanan
dengan mempergunakan faktor perkalian sebagai berikut.
2.
Gaji untuk masa seminggu dikalikan 4.
3.
Gaji untuk masa sehari dikalikan 26.
7.
i)Selanjutnya dilakukan penghitungan PPh pasal 21 sebulan dengan cara seperti pada point 4 sampai
dengan point 7.
8.
j)PPh pasal 21 atas penghasilan seminggu dihitung berdasarkan PPh pasal 21 sebulan dalam point 9,
sedangkan PPh pasal 21 atas penghasilan sehari dihitung berdasarkan PPH pasal 21 sebulan dalam point 9
dibagi 26.
9.
k)Jika pada pegawai disamping dibayar gaji bulanan juga dibayr kenaikan gaji yang berlaku surut
(rapel), misalnya untuk lima bulan, maka penghitungan PPh pasal 21 atas rapel tersebut adalah sebagai
berikut :
1)
Rapel dibagi dengan banyaknya buln perolehan rapel tersebut (dalam hal ini 5 bulan).
2)
Hasil pembagian rapel tersebut ditambahkan pada gaji setiap bulan sebelum adanya kenaikan gaji, yang
PPh pasal 21 atas gaji untuk bulan-bulan setelah ada kenaikan, dihitung kembali atas dasar gaji baru
PPh pasal 21 terutang atas tambahan Gaji untuk bulan bulan dimaksud adalah selish antara jumlah pajak
yang dihitung berdasarkan angka 3 dikurangi jumlah pajak yang telah dipotong sebagaimana disebut pada angka
2.
3.
l)Apabila kepada pegawai di samping dibayar gaji yang didasarkan masa gaji kurang dari satu bulan
(rapel) seperti tersebut dalam angka 4, maka cara penghitungan PPh pasal 21-nya adalah sesuai dengan yang
telah ditetapkan dalam angka 4 dengan memperhatikan ketentuan dalam angka 3.
Penghitungan PPh pasal 21 bagi pegawai tetap atas atas penghasilan yang bersifaftetap secara umum dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Penghasilan bruto
1.
Gaji sebulan
2.
Tunjangan PPh
3.
Tunjangan dan honorarium lainnya
4.
Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja
5.
Penerimaan dalam bentuk natura yang dikenakan pemotongan
6.
Jumlah penghasilan bruto (jumlah 1 s.d 5)
Pengurangan
1.
Biaya jabatan (5%penghasilkan bruto, maksimal Rp.500000 sebulan)
2.
Iuran pensiun atau iuran THT/JHT
3.
Jumlah pengurangan (jumlah 1 s.d 3)
()
2.
Penghasilan neto setahun / disetahunkan (1012bulan)
3.
Penghasilan Tidak Kena Pajak
4.
Penghasilan kena pajak setahun
5.
PPh pasal 21 yang terutang (4tarif pasal 17 ayat (1) huruf a.)
6.
PPh pasal 21 yang dipotong sebulan (14 + 12bulan)
Catatan:
Sesuai PMK 162 tersebut mulai 1 Januari 2013 PTKP yang berlaku adalah sbb :
Rp 24.300.000 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi.
Rp 2.025.000 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahkan untuk wajib pajak yang kawin
Rp 24.300.000 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk penghasilan istri
digabung dengan penghasilan suami.
Rp 2.025.000 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) Tambahan untuk anggota keluarga sedarah dan
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, maksimal 3
(tiga) orang untuk setiap keluarga.
Contoh 1.1. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan
Tommy Hakim bekerja pada Universitas Nusantara dengan memperoleh gaji sebulan berupa gaji pokok Rp.
3.500.000,00 tunjangan struktural Rp. 4.000.000, tunjangan profesi Rp. 3.500.000,00. Tommy Hakim
mebayar iuran pensiun sebesar Rp. 100.000,00. Tommy menikah tetapi belum mempunyai anak.
Penghitungan PPh pasal 21 adalah.
Gaji Pokok sebulan
Rp. 3.500.000
Rp. 4.000.000
Rp.3.500.000
Rp. 11.000.000
Pengurangan:
Biaya jabatan (5%Rp.11.000.000)
= Rp.550.000, maka diperbolehkan
Iuran pensiun
Rp. 500.000
Rp. 100.000
Rp. 600.000
Penghasilan neto sebulan
Rp.10.400.000
Rp. 124.800.000
Untuk WP sendiri
Tambahan WP kawin
Rp. 15.840.000
Rp. 1.320.000
Rp. 17.160.000
Penghasilan Kena Pajak setahun
Rp. 107.640.000
Rp. 2.500.000
Rp. 8.646.000
Rp. 11.146.000
PPh Pasal 21 sebulan: Rp. 11.146.000 12
Rp. 928.833
Catatan:
1.
Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dapat
dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa
memandang mempunyai jabatan ataupun tidak.
2.
Contoh di atas berlaku apabila pegawai yang bersangkutan sudah memiliki NPWP. Dalam hal pegawai
yang bersangkutan belum memiliki NPWP, maka jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah
sebesar: 120%Rp.928.833= Rp. 1.114.599
3.
Untuk contoh-contoh selanjutnya diasumsikan penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 sudah
memiliki NPWP , kecuali disebut lain dalam contoh tersebut.
Contoh 1.2. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan (wanita, suami tidak berpenghasilan)
Endang Vidyawati adalah seorang karyawati dengan status menikah tanpa anak, bekerja pada PT Ventura Entiti
dengan gaji sebulan sebesar Rp.2.500.000. Endang Vidyawati membayar iuran pensiun ke dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh menteri Keuangan sebesar Rp.50.000 sebulan, berdasarkan surat keterangan
dari Pemda tempat Endang Vidyawati berdomisili yang diserahkan kepada pemberi kerja, diketahui bahwa
suaminya tidak mempunyai penghasilan apa pun.
Rp. 2.500.000
Pengurangan:
-Biaya Jabatan (5% Rp. 2.500.000)
-Iuran pensiun
Rp. 125.000
Rp. 50.000
Rp. 175.000
Penghasilan neto sebulan
Penghasilan neto setahun 12 Rp.2.325.000
Rp. 2.325.000
Rp. 27.900.000
PTKP
-Untuk WP sendiri
-tambahan karena menikah
Rp. 15.840.000
Rp. 1.320.000
Rp. 17.160.000
Penghasilan Kena Pajak setahun
Rp. 10.740.000
Rp. 537.000
Rp. 44.750
Contoh 1.3. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan (Wanita, suami berpenghasilan)
Firma Utami karyawati dengan status menikah tetapi belum mempunyai anak bekerja pada PT. Unggul
Farmindo. Firma Utami menerima gaji Rp. 3.000.000 sebulan. PT Unggul Farmindo mengikuti program
pensiun dari Jamsostek. Perusahaan membayar iuran pensiun kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, sebesar Rp.40.000 sebulan. Firma Utami juga membayar iuran pensiun
sebesar Rp.30.000 sebulan, disamping itu perusahaan membayarkan iuran jaminan hari tua karyawannya setiap
bulannya sebesar 3,70% dari gaji, sedangkan Firma Utami membayar iuran jaminan harei tua setiap bulan
sebesar 2,00% dari gaji. Berdasarkan surat keterangan Pemda tempat Firma Utami brtempat tinggal diketahui
bahwa suami Firma Utami tidak memliki penghasilan apapun. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan
Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji.
Penghitungan PPh pasal 21 adalah:
Gaji sebulan
Rp. 3.000.000
Premi JKK
Rp. 30.000
Rp. 9.000
Rp. 3.039.000
Pengurangan:
-Biaya jabatan 5% Rp.3.039.000
-iuran pensiun
-iuran jaminan hari tua
Rp. 151.950
Rp. 30.000
Rp. 60.000
Rp. 241.950
Penghasilan neto sebulan
Penghasilan neto setahun 12 Rp. 2.797.050
Rp. 2.797.050
Rp. 33.564.600
PTKP
-Untuk WP sendiri
-Tambahan krn menikah
Rp. 15.840.000
Rp. 1.320.000
Rp.17.160.000
Penghasilan Kena Pajak setahun
Pembulatan
Rp.16.404.600
Rp. 16.404.000
Rp. 820.200
Rp. 68.350
Catatan :
Apabila suami Firma Utami bekerja, besarnya PTKP Firma Utami adalah PTKP untuk diri sendiri sebesar Rp
15.840.000.
Contoh 1.4. Pegawai tetap yang penghasilannya Sebagian atau Seluruhnya Diperoleh dalam
Mata Uang Asing
Neill Mc Leary adalah seorang karyawan memperoleh gaji pada bulan Januari 2011 dalam mata uang asing
sebesar US$ 2.000 sebulan. Kurs yang berlaku untuk bulan Januari 2011 berdasarkan keputusan Menteri
Keuangan adalah Rp 11.250 per US$1,00. Neill Mc Leary berstatus menikah dengan satu anak.
Perhitungan PPh pasal 21 adalah:
Gaji sebulan
US$2000 Rp. 11.250
Rp. 22.500.000
Pengurangan:
-Biaya jabatan 5% Rp. 22.500.000 =
Rp. 1.125.000
Maksimum diperkenankan
Rp. 500.000
Rp. 22.000.000
12 Rp 22.000.000
Rp. 264.000.000
PTKP
-untuk WP sendiri
Rp. 15.840.000
Rp. 1.320.000
Rp. 1.320.000
Rp. 18.480.000
Penghasilan kena Pajak
Rp. 245.520.000
Rp. 2.500.000
Rp. 29.328.000
Rp. 31.328.000
PPh pasal 21 sebulan : Rp. 31.328.000 12 =
Rp. 2.652.333
1.
Mekanisme Pemungutan PPh Pasal 21/26
1.
2.
3.
4.
5.
Pemotong pajak setelah memotong pajak wajib menyetorkan pajak tersebut ke Bank Persepsi, Kas
Negara atau Kantor Pos dengan menggunakan SSP selambat-lambatnya pada tanggal 10 bulan takwim
berikutnya.
Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar dengan menggunakan SPT Masa selambat-lambatnya tanggal 20 bulan takwim berikutnya.
Pemotongan pajak wajib memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 baik diminta maupun tidak pada
saat dilakukannya pemotongamn pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap, penerima
pensiun, penerima THT , penerima pesangon, dan penerima dana pensiun,iuran pasti.
Pemotong pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 tahunan (1721-A1 bagi pegawai tetap
atau penerima pensiun atau tunjangan hari tua/tabungan hari tua/jaminan hari tua dan 1721-A2 bagi
pegawai negeri sipil, pejabat negara dan pensiunan. Formulir bukti pemotongan tersebut dibuat rangkap 2
terdiri atas lembar pertama untuk pegawai dan lembar kedua untuk pemotong pajak
Pemotong pajak setelah tahun takwim berakhir berkewajiban melaporkan seluruh penghasilan bruto dan
PPh yang terutang/dibayar dalam SPT Masa PPh Pasal 21/26 (1721 dan 1721-I) bulan Desember tahun yang
bersangkutan.
KASUS
PERDANA Transport merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa transportasi. Perusahaan ini
didirikan sejak akhir tahun 2003 oleh pemilik Tuan Akbar. Informasi yang berkaitan dengan perhitungan pajak
beserta pengisian SPT Masa PPh sbb.
1.
Data Perusahaan
: 04.129.225.2.541.000
Alamat
Telp
: (0274) 524501
: perdana@yahoo.com
Jenis Usaha
: Jasa Transportasi
Jasa Pimpinan
No.
Nama
: Ananda
1.
Ananda
2.
Monalisa
Riskawan
4.
Yogananta
5.
Effendi
2.
Pada bulan Juli 2011, perusahaan mempekerjakan tiga pegawai harian lepas dengan upah borongan yang
dibayarkan pada saat pekerjaan selesai, yaitu tanggal 25 Juli 2011 sbb:
Himawan (tidak kawin, tanpa tangguhan), alamat: JL. Wonosari Km. 11 No. 110 Yogyakarta, NPWP:
68.302.123.4.542.000, upah borongan sebesar Rp.2.500.000,00, dikerjakan dalam waktu 20 hari
Hendrawan (kawin/tangguhan 1), alamat: JL. Godean No. 240 Yogyakarta, upah borongan sebesar Rp.
1.400.000,00, dikerjakan dalam waktu 15 hari
Hilman (tidak kawin/tanpa tangguhan), alamat: JL. Godean No. 245, Yogyakarta , upah borongan
1.600.000,00, dikerjakan dalam waktu 9hari.
PENYELESAIAN
HimawanUpah bulan Juli sebesar
Rp. 125.000,00
Upah sehari tidak kena pajak : PTKP setahun : 360 (karena upah sebulan melebihi Rp. 1.320.000) =
Rp. 15.840.000 : 360
Rp 44.000,00 (-)
Rp. 81.000,00
Rp. 4.050,00
Rp. 81.000,00
Contoh Penghitungan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja pada
Kategori Usaha Tertentu- Pekerja Memiliki NPWP
Contoh 1
Veri Irawan adalah pekerja tetap pada PT Majutex. PT Majutex merupakan perusahaan yang bergerak pada
kategori usaha industry pertenunan dengan klasifikasi lapangan usaha (KLU) 17114.Pada bulan Maret 2009 Veri
Irawan memperoleh gaji beserta tunjangan berupa uang sebesar Rp5.000.000,00 , dan membayar uang pensiun
sebesar Rp25.000,00. Veri Irawan menikah dan mempunyai 2 anak.
1.
Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang bulan Maret 2009
Penghasilan bruto sebulan
Rp. 5.000.000,00
Pengurangan:
Iuran Pensiun
Rp. 275.000,00(-)
Rp. 250.000,00
Rp. 25.000,00
Rp. 4.725.000,00
Rp. 56.700.000,00
PTKP setahun:
Untuk WP sendiri
Tambahan WP kawin
Rp. 15.840.000,00
Rp. 1.320.000,00
Rp 2.640.000,00
Rp.19.800.000,00(-)
Penghasilan kena pajak setahun
Rp. 36.900.000,00
Rp. 1.845.000,00
Rp. 153.750,00
Besarnya penghasilan yang diterima Veri Irawan apabila PPh pasal 21 Tidak Ditanggung Pemerintah
Rp. 5.000.000,00
Dikurangi :
Rp. 25.000,00
Rp. 153.000,00
Rp. 178.750,00
Besarnya penghasilan yang diterima
1.
Rp. 4.821.250,00
Besarnya penghasilan yang diterima Veri Irawan apabila PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah
Rp. 4.950.000,00
Contoh 2
Danang adalah seorang pegawai pada PT Barcelona. PT Barcelona merupakan perusahaan yang bergerak
pada kategori usaha industry pertenunan dengan klasifikasi lapangan usaha 17114. Pada bulan Maret 2009
Danang memperoleh gaji sebesar Rp4.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp25.000,00. Selama
ini PPh Pasal 21 yang terutang ditanggung oleh PT Barcelona. Danang menikah dan mempunyai 2 anak.
1.
Rp. 4.000.000,00
Pengurangan:
Iuran Pensiun
Rp. 200.000,00
Rp. 25.000,00 (+)
Rp. 3.775.000,00
Rp. 45.300.000,00
PTKP setahun:
Untuk WP sendiri
Tambahan WP kawin
Rp. 15.840.0000,00
Rp. 1.320.000,00
Rp. 2.640.000,00
Rp. 25.500.000,00
Rp. 106.250,00
1.
Besarnya penghasilan yang diterima Danang apabila PPh Pasal 21 Tidak Ditanggung Pemerintah
Rp. 4.000.000,00
Rp. 3.975.000,00
Besarnya penghasilan yang diterima Danang apabila PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah
Rp. 4.081.250,00
Catatan:
Oleh karena selama ini PT Barcelona yang menangung PPh Pasal 21 maka yang ditanggung tersebut tidak dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan.
Contoh Perhitungan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja pada
Kategori Usaha Tertentu- Pekerja Tidak Memiliki NPWP
Contoh 1
Irawan adalah pe gawai tetap pada PT. Jogjatex dan belum memiliki NPWP. PT.Jogjatex merupakan perusahaan
yang bergerak pada kategori usaha pertenunan dengan klasifikasi lapangan usaha 17114. Pada bulan Maret 2009
Irawan memperoleh gaji beserta tunjangan berupa uang sebesar Rp5.000.000,00 dan membayar iuran pension
sebesar Rp.25.000,00. Irawan menikah dan mempunyai 2 anak.
1.
Rp. 5.000.000,00
Pengurangan:
Iuran pension
Rp. 250.000,00
Rp. 25.000,00(+)
Rp. 4.725.000,00
Untuk WP sendiri
Rp. 15.840.000,00
Tambah WP kawin
Rp. 1.320.000,00
Rp. 2.640.000,0
Rp. 36.900.000,00
Rp. 30.750,00
Rp. 184.500,00
1.
Besarnya penghasilan diterima Irawan apabila PPh Pasal 21 tidak ditanggung Pemerintah
Rp. 5.000.000,00
Dikurangi:
Rp. 25.000,00
Rp. 153.750,00
Rp. 30.750,00
Rp. 209.500,00
Besarnya penghasilan yang diterima
1.
Rp. 4.790.500,00
Besarnya penghasilan yang diterima Irawan apabila PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah.
Rp 153.750.00 (+)
Rp 4.944.250,00
*) Besarnya PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah tidak termasuk kenaikan tarif pajak 20% lebih tinggi sehingga
PT Jogjatex tetap harus melakukan pemotongan Pasal 21 denag tariff\ pajak 20% lebih tinggi yaitu sebesar
RP30.750,00.
Atas PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah dan kenaikan tarif pajak 20% lebih tinggi wajib dibuatkan bukti
pemotongan PPh Pasal 21 sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang
Pribadi.
4.
Apabila setelah bulan Juni 2009, Irawan belum memiliki NPWP, atas PPh Pasal 21 yang terutang tidak
ada yang Ditanggung Pemerintah sehingga besarnya penghasilan yang diterima Irawan adalah sebesar
Rp. 4.790.500,00