Anda di halaman 1dari 15

PT.

Jalamas Berkatama

ANALISA HUBUNG SINGKAT


PADA PENYULANG PARALEL DI PEMBANGKIT

1. PENDAHULUAN

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai cara perhitungan arus pada masing-masing
cabang antara bus-bus dan tegangan tiap bus dari suatu sistem tenaga listrik dimana
beberapa pembangkit diparalel satu dengan lainnya mempergunakan saluran transmisi
(interkoneksi antar pembangkit). Tujuan pembahasan adalah untuk menyelesaikan
perhitungan arus dan tegangan pada saat gangguan hubung singkat dimana jaringan dari
suatu sistem tenaga listrik sudah besar dan rumit, pembahasan lebih bersifat cara
penyelesaian melalui operasi matriks terhadap sistem yang mengandung bilangan-bilangan
kompleks. Teknik operasi komputasi yang digunakan adalah mengubah sistem persamaan
linier yang mengandung bilangan kompleks, menjadi persamaan linier murni bilangan riil
dengan teknik pemisahan matriks (matrix partitioning).

2. TEKNIK PEMISAHAN PADA MATRIKS BILANGAN KOMPLEKS

Penyelesaian problema sistem persamaan linier dengan bilangan komples tidak bisa
dilakukan secara langsung sebagaimana pada persamaan linier yang hanya mengandung
bilangan riil, yang perlu dilakukan terlebih dahulu pada matriks dengan elemen bilangan
kompleks adalah pemisahan/penyekatan antara elemen matriks bilangan riel dan bilangan
imajiner (matrix partitioning), dari suatu matriks lengkap diubah menjadi penjumlahan
submatriks yang elemen-elemennya mengambil bilangan riel dari bilangan kompleks matriks
awal, dan submatriks yang elemen-elemennya mengambil bilangan imajiner dari bilangan
kompleks matriks awal.

Bila sudah demikian pengertian proses perkalian matriks disederhanakan dengan pengertian
perkalian bilangan kompleks seperti contoh di bawah ini :

Secara umum, persamaan linier dapat dituliskan :


A*x = b

Untuk persamaan dalam bilangan kompleks dapat dituliskan sebagai :


( Ar + j Ai ) * ( xr + j xi ) = ( br + j bi )

Ar xr dan bi adalah komponen riil dan Ai xi serta bi adalah komponen imaginer (j). Uraian dari
persamaan di atas adalah:
Ar*xr +jAi*xr +Ar*jxi +jAi*jxi =br+ jbi

Dengan pengertian, jika : - imajiner dikalikan dengan imajiner (j x j) = -1


- imajiner dikalikan dengan riel (j x 1) = imajiner ( j )

Hasilnya bilangan riel dengan riel digabungkan dan imajiner dengan imajiner digabungkan,
maka diperoleh :
( A r * x r - A i * x i ) + j (A i * x r + A r * x i ) = ( b r + j b i )

sekarang dari persamaan terakhir ini, jelas diperoleh :


Ar*xr -Ai*xi = br
Ai*xr+Ar*xi = bi

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 1


PT. Jalamas Berkatama

Dua persamaan ini dapat diekspresikan dalam bentuk perkalian matriks yang bentuk
matriksnya menjadi 2 x 2 seperti berikut di bawah :
Ar -Ai xr br
Ai Ar * xi = bi

Elemen-elemen matrik di atas, dapat dituliskan :


A r = A11 , - A i = A12 , A i = A21 dan A r = A22

Jadi 2 persamaan linier dengan bilangan kompleks dapat diselesaikan dengan persamaan
matriks seperti di atas.

Selanjutnya bila bilangan-bilangan dalam persamaan awal itu adalah suatu matriks berorde
n x n yang elemen-elemennya terdiri dari bilangan kompleks, maka menurut salah satu sifat
matriks, matriks tersebut dibuat dulu menjadi penjumlahan matriks yang berisi elemen
bilangan rielnya dengan matriks yang berisi elemen bilangan imajinernya, sehingga tinggal
berupa simbol matriks saja, misalnya A. Dengan demikian persamaan perkalian matriks
dapat diekspresikan seperti persamaan linier bilangan kompleks yang kemudian bisa
diselesaikan dengan persamaan (perkalian) matriks berorde 2n x 2n yang seluruh
elemennya sudah terdiri dari bilangan riil melalui teknik pemisahan elemen riel dan elemen
imajiner pada matriks awal yang elemen-elemennya terdiri dari bilangan kompleks.

Agar lebih jelas maksudnya, berikut ini diberikan contoh persamaan dengan angka-angka.

CONTOH : Sistem persamaan linier bilangan kompleks :

15 + 10 i 5–3i x1 6+2i
* =
8- 7i 2+4i x2 2+ i

dimana x1 dan x2 adalah bilangan kompleks, persamaan ini dipisah menjadi :

15 5 10 -3 x1 6 2
+j * = +j
8 2 -7 4 x2 2 1

dan,

15 5 10 - 3 6 2
Ar= , Ai= ,br= ,b i =
8 2 -7 4 2 1

Sehingga sesuai uraian pemisahan elemen di atas, penyelesaian persamaan matriks


bilangan kompleks selengkapnya menjadi :
A11 - A12
15 5 -10 3 xr1 6
8 2 7 -4 xr2 2
* =
10 -3 15 5 xi1 2

-7 4 8 2 xr2 1
A21 A22

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 2


PT. Jalamas Berkatama

Jadi dalam menyelesaikan persamaan matriks berorde 2 x 2 yang elemennya bilangan


kompleks adalah dengan membentuk matriks berorde 4 x 4 dengan 4 variabel bilangan anu
yang dicari, yang hasilnya disusun dalam 2 kelompok bilangan riel dan 2 kelompok bilangan
imajiner yaitu x r1, x r2, x i1 dan x i2, pada kondisi ini penyelesaian selanjutnya dilakukan sama
seperti halnya penyelesaian persamaan linier dengan bilangan riil biasa. Bilangan anu yang
didapat adalah x r1, x r2 , x i1 dan x i2. dimana x r1, x r2 adalah bilangan riel dari bilangan X 1,
X 2 berturut-turut dan x i1, x i2 adalah bilangan imajiner dari bilangan X1, X2 berturut-turut.

Kalau dimisalkan
A * x = b adalah penyederhanaan atau ekspresi dari suatu perkalian matriks,
atau
b
x =
A
= A-1 * b
Dimana : A-1 = invers matriks A

Maka dengan mempergunakan beberapa fasilitas lotus 123R.. atau Microsoft Excel dalam
pengolahan matrik, proses perhitungan matriks x di atas dilakukan dengan membuat Invers
matriks A terlebih dahulu baru kemudian dilakukan perkalian dengan matrik b, kesemuanya
itu memanfaatkan fasilitas program Lotus 123R.. atau dengan program Excel. Dari
pengolahan di atas hasil perkalian antara invers matriks A dan matrik b, diperoleh :
X r1 = 0, 376, x r2 = 0,036 x i1 = 0,014, x i2 = 0,187

Nilai-nilai ini dimasukkan ke bilangan anu yang dicari dan sudah bisa dinyatakan dalam
bentuk kompleks sebagai berikut :
X1 = x r1 + x i1 i
X2 = x r2 + x i2 i

Jika angka-angka yang diperoleh dimasukkan ke dalam bilangan X1 dan X2 maka :


X1 = 0,376 + 0,014 i
X2 = - 0,036 + 0,187 i

3. PERHITUNGAN DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK

Di antara perhitungan yang dilakukan dalam sistem tenaga listrik adalah perhitungan
gangguan hubung singkat, dimana di dalam sistem kelistrikan, parameter-parameter yang
digunakan banyak dalam bentuk kompleks (ada riel dan imajinernya), oleh sebab itu dasar-
dasar seperti dijelaskan pada Bab 2 akan sangat bermanfaat membantu enjinir dalam
melakukan perhitungan arus dan tegangan sewaktu gangguan hubung singkat atau
perhitungan aliran daya.

Dalam perhitungan selanjutnya, diperlukan penyamaan satuan dari parameter yang akan
dihitung. Penyamaan satuan parameter biasa digunakan adalah per unit (pu), sehingga nilai
Impedansi, tegangan dan arus semuanya diubah ke satuan per unit pada suatu dasar yang
ditetapkan. Biasanya dasar perhitungan untuk mendapatkan satuan per unit yang ditetapkan
terlebih dahulu adalah MVAdasar dan kVdasar, dan selanjutnya dihitung impedansidasar dan
arusdasar. Ketetapan dasar ini dipergunakan sebagai penyebut dimana parameter daya,
tegangan arus dan impedansi pada sistem tenaga listrik sebagai pembilangnya untuk
memperoleh satuan p.u.

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 3


PT. Jalamas Berkatama

Dasar perhitungan yang digunakan adalah sebagai berikut:


• MVA dasar = dipilih (MVA)
• KV dasar = dipilih (kV),
dari dua dasar ini dapat dibentuk dasar selanjutnya, yaitu :
( kVdasar ) 2
• Impedansi dasar = Ohm
MVAdasar

• Impedansi per unit = Z x 1000 x pu


(kV)2

• Arus dasar = MVAdasar Amp


√3 . kVdasar
2
• Zpu baru = kVdasar MVAbaru
Zpu(awal) p.u
* kVbaru * MVAdasar

Dengan dasar perhitungan di atas, semua nilai parameter jaringan yang dipakai untuk
perhitungan dikonversikan ke suatu besaran dengan satuan yang dipakai adalah per unit
(p.u).

Contoh :
Suatu sistem tenaga listrik dipasok dari Trafo 150/20 kV di Gardu induk, dengan kapasitas
60 MVA mempunyai jaringan 20 kV dengan impedansi 10 Ohm, akan dicari nilai per unitnya

60 MVA

ZL = 10 Ohm

150 kV 20 kV

Tap trafo
154/19 kV

Dipilih MVAdasar = 100 MVA


KVdasar = 150 kV di bus 150 kV, base di Bus 20 kV = 19/154 X 150 kV = 18,51 kV
I dasar = 100. 1000 /√3.150 Amp = 384 Amp
Zdasar di Bus 20 kV = (18,51)2/100 = 3,4225 Ohm.

Sehingga diperoleh : ZL = 10 Ohm / 3,4225 Ohm = 2,922 pu.

4. APLIKASI PERHITUNGAN MATRIK UNTUK 3 BUAH BUS

4.1. UMUM

Sebagai contoh aplikasi adalah perhitungan arus gangguan hubung singkat pada
sistem 2 buah bus dan pada masing-masing Bus mempunyai 1 set pembangkit, antara
kedua pembangkit tersebut diinterkoneksikan dengan jaringan paralel. Jika salah satu
jaringan terjadi gangguan hubung singkat 3 fasa, maka dalam perhitungan yang dibuat,
titik yang terjadi gangguan tersebut harus dianggap sebagai suatu lokasi Bus baru
(dimisalkan titik gangguan tersebut sebagai bus), maka terbentuklah bus sebanyak 3

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 4


PT. Jalamas Berkatama

buah yang terdiri dari dua buah bus dengan pembangkit dan bus yang ketiga terbentuk
karena adanya gangguan.

Matrik yang elemen-elemennya mempunyai bilangan riel dan imajiner dapat dihitung
dengan teori seperti pada bab 2, perhitungan arus dan tegangan pada saat terjadi
gangguan, selanjutnya dilakukan dengan bantuan program excel.

4.2. CONTOH PERHITUNGAN

Pada gambar di bawah memperlihatkan dua buah Pembangkit yang diinterkoneksi,


melalui dua buah interkonektor paralel.
Z
A B

Data-data dari pembangkitan dan jaringan sebagai berikut :

Dasar hitungan : 100 MVA


20 kV

DATA PEMBANGKIT A

Generator Trafo Unit Rn = 40


Kapasitas Teg. Xd' Xd' (p.u) Kapasitas Xt Xt (p.u) NGR ke Operasi
Unit
(MVA) (kV) (p.u) (100MVA) (MVA) (p.u) (100MVA) Netral?
1 15,000 6,3 0,25 1,67 18,000 0,1 0,56 ya ya

R1 jX1 Ro jXo
( p.u ) ( p.u ) ( p.u ) ( p.u )
Total Impedansi Pusat Kit I
Pada base MVA = 100 1E-20 2,22 30 0,56
dan base KV = 20

DATA PEMBANGKIT B

Generator Trafo Unit Rn = 40


Kapasitas Teg. Xd' Xd' (p.u) Kapasitas Xt Xt (p.u) NGR ke Operasi
Unit
(MVA) (kV) (p.u) (100MVA) (MVA) (p.u) (100MVA) Netral?
1 10,000 6,3 0,25 2,50 12,000 0,1 0,83 ya ya

R1 jX1 Ro jXo
( p.u ) ( p.u ) ( p.u ) ( p.u )
Total Impedansi Pusat Kit II
Pada base MVA = 100 1E-20 3,33 30 0,83
dan base KV = 20

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 5


PT. Jalamas Berkatama

DATA INTERKONEKTOR

Base Impedansi sisi 20 kV = 4 Ohm

Interkonektor 1 Pada 100 MVA Interkonektor 2 Pada 100 MVA


Ohm/km ( p.u ) ( p.u ) Ohm/km ( p.u ) ( p.u )
R jX R jX R jX R jX
Impedansi positif 0,216 0,331 0,054 0,083 0,216 0,331 0,054 0,083
Impedansi Zero 0,363 1,618 0,091 0,405 0,363 1,618 0,091 0,405
Panjang 13 km 13 km
Impedansi Total Interkonektor 1 Impedansi Total Interkonektor 2
R jX R jX R jX R jX
Impedansi positif 2,811 4,297 0,703 1,074 2,811 4,297 0,703 1,074
Impedansi Zero 4,720 21,034 1,180 5,259 4,720 21,034 1,180 5,259

4.3. PENYUSUNAN ELEMEN MATRIKS

Penyusunan elemen matrik untuk jaringan seperti gambar di atas dimana dipilih suatu
titik gangguan yang terletak di tengah-tengah interkonektor 2 (panjang 50% dari Z2).
Titik yang diumpamakan terjadi gangguan harus dibuat sebagai satu buah Bus
sehingga jaringan itu sekarang menjadi suatu sistem dengan 3 Bus, lihat gambar di
bawah ini.
ZAB
ZGA ZGB
EGA ZAC ZBC
EGB
A
C
ZC B

Perhitungan besar arus gangguan hubung singkat di titik gangguan, besar arus
kontribusinya dan tegangan tiap Bus sebagian besar berdasarkan Hukum Ohm,
sementara dalam menyusun elemen matriks berdasarkan Hukum Kirchhoff yaitu Σ I
disatu titik (Node) = 0, sehingga semua elemen jaringan dalam gambar di atas diubah
dahulu menjadi Admitansi (Y = 1/Z) dan masing-masing Sumber Tegangan yang
tersambung ke Jaringan diubah menjadi Sumber Arus yang menginjeksi ke suatu titik
di dalam jaringan dimana Sumber tersebut tersambung misalnya IA = EG.YGA

Untuk memudahkan perhitungan tegangan Node (Bus) sewaktu tidak ada gangguan
adalah : VA = VB = VC = EG

Sesuai Hukum Kirchhoff I seperti disebutkan di atas maka disusun persamaan :

Besar arus yang diinjeksikan oleh Sumber Arus ke satu titik = jumlah Arus yang keluar
pada tiap cabang dari titik itu :
IA = EG.YGA = VA * YGA + (VA – VB) * YAB + (VA – VC) * YAC
= VA * (YGA + YAB + YAC) – VB * YAB – VC * YAC
IB = EG.YGB = VB * YGB + (VB – VA) * YBA + (VB – VC) * YBC
= – VA * YBA + VB * (YGB + YBA + YBC) – VC * YBC
IC = EG.YGC = VC * YGC + (VC – VA) * YCA + (VC – VB) * YCB
= – VA * YAC – VB * YBC + VC * (YGC + YCA + YCB)

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 6


PT. Jalamas Berkatama

Kelompok persamaan di atas kemudian disusun sebagai berikut di bawah ini :


IA = VA * (YGA + YAB + YAC) – VB * YAB – VC * YAC
IB = – VA * YBA + VB * (YGB + YBA + YBC) – VC * YBC
IC = – VA * YCA – VB * YCB + VC * (YGC + YCA + YCB)

Dari penggunaan hukum Kirchhoff, dimana jumlah arus yang masuk ke suatu titik
(Node) = jumlah arus yang keluar dari titik (Node) tersebut, sehingga persamaan linier
dari penjumlahan Arus di atas dapat disusun seperti persamaan matriks sebagai
berikut :

(YGA + YAB + YAC) –YAB –YAC VA IA


–YBA (YGB + YBA + YBC) –YBC * VB = IB
–YCA –YCB (YGC + YCA + YCB) VC IC

Untuk dapat memberikan penjelasan selanjutnya, bentuk perkalian Matriks tersebut,


secara umum penulisannya dibuat :

YAA YAB YAC VA IA

YBA YBB YBC VB IB


* =
YCA YCB YCC VC IC

Dari uraian sampai mendapatkan persamaan di atas dapat dilihat bahwa elemen
matriks Admitansi YAA dibentuk oleh jumlah semua admitansi yang terhubung pada
Node A. Sedang elemen matrik lain di baris A (YAB dan YAC) adalah nilai negatip dari
admitansi masing-masing antara Node-Node yang mengapit Node A tersebut,
demikian pula elemen matrik lain di kolom A (YBA dan YCA) diisi dengan nilai negatif dari
admitansi yang mengapit Node A.

Sama halnya dengan pembentukan elemen matriks YAA, elemen matriks YBB dan YCC
(elemen yang membentuk diagonal pada matriks) dihitung dengan cara yang sama
yaitu dengan menjumlahkan admitansi yang terhubung ke Node itu masing-masing,
sedang elemen lainnya adalah nilai negatif dari adamitansi yang mengapit Node itu.

Nilai negatip ini dapat dimengerti bila diamati dari proses pembentukan elemen-elemen
matrik Admitansi dan nilai negatip ini bisa dipakai sebagai patokan dalam
pembentukan elemen matrik Admitansi pada perhitungan untuk sistem yang
mempunyai lebih dari 3 Node.

Untuk matriks yang sedang diolah yaitu matriks Y =

YAA YAB
YAC
Y =
YBA YBB
YBC
Atau isi elemen-elemennya :

YG1 + YAB + YAC –YAB – YAC


Y =
– YBA YGB + YBA + YBC – YBC

– YCA – YCB YGC + YCA + YCB

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 7


PT. Jalamas Berkatama

Sebelum menyusun matrik seperti tersebut di atas, kita perlu memisahkan matrik Riel
dan imajiner, sebagai berikut :

1. Penyusunan admitansi urutan positif dan negatif.


Data Impedansi Positif & Negatif Sequence dari jaringannya adalah :

Dari Ke Bus Impedansi Admitansi


Bus R jX Z sudut Y sudut G jB
Gen. A 0,000 2,222 2,222 90,0 0,450 -90,0 0,000 -0,450
Gen. B 0,000 3,333 3,333 90,0 0,300 -90,0 0,000 -0,300
A B 0,703 1,074 1,284 56,8 0,779 -56,8 0,427 -0,652
A C 0,351 0,269 0,442 37,4 2,261 -37,4 1,797 -1,373
B C 0,351 0,269 0,442 37,4 2,261 -37,4 1,797 -1,373
Penyusunan elemen matrik admitansi positif dan negatif diperoleh dari beberapa
admitansi di atas, sebagai berikut :
Contoh : Elemen YAA untuk bus A adalah penjumlahan dari semua admitansi yang
menuju bus A, YAA = YGA + YAB + YAC
( GGenA + GA -B + GA –C ) = 0,000 + 0,427 + 1,797 = 2,223
( jBGenA + jBA -B + jBA –C ) = -0,450 + - 0,652 + -1,373 = -2,475
demikian juga YBB = YGB + YBA + YBC , dan YCC = YGC + YCA + YCB ,
YBB = 2,223 – j2,325 p.u,
YCC = 3,593 – j2,747 p.u, yang hasilnya adalah sebagai berikut :
Susunan elemen matriks admitansi urutan positif dan negatif menjadi :
G JB G jB G jB
a b c
a 2.223 -2.475 -0.427 0.652 -1.797 1.373
b -0.427 0.652 2.223 -2.325 -1.797 1.373
c -1.797 1.373 -1.797 1.373 3.593 -2.747

2. Penyusunan elemen matriks admitansi urutan nol.


Dari Ke Bus Impedansi Admitansi
Bus R jX Z sudut Y sudut G jB
Gen. A 30,000 0,556 30,005 1,1 0,033 -1,1 0,033 -0,001
Gen. B 30,000 0,833 30,012 1,6 0,033 -1,6 0,033 -0,001
A B 1,180 5,259 5,389 77,4 0,186 -77,4 0,041 -0,181
A C 0,590 2,629 2,695 77,4 0,371 -77,4 0,081 -0,362
B C 0,590 2,629 2,695 77,4 0,371 -77,4 0,081 -0,362
Sama seperti pada matrik positif sequence penyusunan elemen matrik admitansi
zero sequence diperoleh dari penjumlahan admitansi dari admitansi urutan nol yang
menuju bus yang dipilih. Dan hasilnya disusun sebagai berikut :
Matriks Admitansi Zero Sequence :
G jB G jB G jB
a b c
a 0.155 -0.544 -0.041 0.181 -0.081 0.362
b -0.041 0.181 0.155 -0.544 -0.081 0.362
c -0.081 0.362 -0.081 0.362 0.163 -0.724

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 8


PT. Jalamas Berkatama

Seperti telah dijelaskan pada bab 2, Elemen suatu matriks dapat berupa hasil
penjumlahan elemen dari dua buah matriks, dalam hal elemen matriks dalam
bentuk kompleks yang merupakan penjumlahan bilangan riel dan bilangan imajiner
maka elemen-elemen matriks yang didapat di atas dapat dibuat menjadi
penjumlahan 2 matriks, dimana matriks pertama berisi elemen-elemen bilangan
rielnya sedang matriks lainnya berisi elemen-elemen imajinernya. Uraiannya
menjadi seperti berikut di bawah ini.

3. Pemisahan Elemen Riel & Imajiner Matriks admitansi urutan Pos. & Neg.
Pemisahan elemen matrik positif dan negatif sequence :
A b C a b c
A 2.223 -0.427 -1.797 -2.475 0.652 1.373
B -0.427 2.223 -1.797 0.652 -2.325 1.373
C -1.797 -1.797 3.593 1.373 1.373 -2.747
Riel Imajiner
Pemisahan elemen matrik zero sequence :
A b C a b c
a 0.155 -0.041 -0.081 -0.544 0.181 0.362
B -0.041 0.155 -0.081 0.181 -0.544 0.362
c -0.081 -0.081 0.163 0.362 0.362 -0.724
Riel Imajiner
Sesuai pembahasan matriks bilangan kompleks di Bab 2 dimana proses perkalian
matriks tidak lagi melihat nilai imajiner (j) tetapi mengambil nilai riel tanpa notasi
imajiner (j) dengan cara contoh pada bab 2 (diulangi) sebagai berikut :
(A r * X r - A i * X i ) + j (A i * X r + A r * X i ) = ( B r + j B i )
A r * X r - A i* X i = B r
A i * X r + A r * X i = B i , dimana dua persamaan ini dapat diekspresikan dalam
bentuk perkalian matriks yang bentuk matriksnya menjadi 2 x 2 seperti berikut di
bawah :
Ar -Ai Xr Br
Ai Ar * Xi = Bi
Ar - Ai
Maka adalah dapat diartikan matriks Admitansi yang diolah di atas.
Ai Ar
Dimana : A r = elemen Riel
A i = elemen imajiner.
Elemen Riel dan Imajiner dari matriks Admitansi di atas dimasukkan ke dalam
matriks A r dan matriks A i, sehingga terbentuk matrik baru yang juga simetris tetapi
berorde 6 x 6. (dua kalinya)
Penyelesaian selanjutnya dilakukan sama seperti halnya penyelesaian persamaan
linier dengan bilangan riel biasa.

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 9


PT. Jalamas Berkatama

4. Pembentukan matriks 6x6 untuk proses bilangan kompleks dari matrik 3x3
a. Matrik bilangan kompleks urutan positif dan negatif

Ar -Ai

a b c a B c
a 2.223 -0.427 -1.797 2.475 -0.652 -1.373
b -0.427 2.223 -1.797 -0.652 2.325 -1.373
c -1.797 -1.797 3.593 -1.373 -1.373 2.747
a -2.475 0.652 1.373 2.223 -0.427 -1.797
b 0.652 -2.325 1.373 -0.427 2.223 -1.797
c 1.373 1.373 -2.747 -1.797 -1.797 3.593

Ai Ar

b. Matrik bilangan kompleks urutan nol.

Ar -Ai

a b c a B c
a 0.155 -0.041 -0.081 0.544 -0.181 -0.362
b -0.041 0.155 -0.081 -0.181 0.544 -0.362
c -0.081 -0.081 0.163 -0.362 -0.362 0.724
a -0.544 0.181 0.362 0.155 -0.041 -0.081
b 0.181 -0.544 0.362 -0.041 0.155 -0.081
c 0.362 0.362 -0.724 -0.081 -0.081 0.163

Ai Ar

4.4. PROSES INVERS MATRIKS ADMITANSI BILANGAN KOMPLEKS.

Elemen bilangan kompleks dari matriks admitansi di atas adalah disusun dari elemen
Admitansi sistem tenaga listrik yang ada, dari hasil ini selanjutnya dihitung Invers dari
Matriks tersebut untuk mendapatkan Matriks Z, karena Z = Y-1, dan elemen matriks Z
yang didapat adalah nilai Impedansi ekivalen dari satu Bus ke seluruh sistem (elemen
diagonal) dan nilai Impedansi ekivalen antara Bus ke Bus di dalam Sistem. Untuk
memperoleh invers matriks Admitansi dapat mempergunakan fasilitas yang ada di
program Ecxel.

Oleh sebab itu sekarang dengan teori Thevenin sudah dapat dihitung arus gangguan di
tiap Bus dengan bantuan hukum Ohm.

Thevenin melihat bahwa arus gangguan di suatu Bus (mis, bus A), dihitung dengan
membagi tegangan Bus A sebelum gangguan (1 p.u) dengan Impedansi elemen
diagonal ZAA, persoalannya sekarang tinggal Impedansi ZAA yang mana yang dipakai,
karena ada nilai Impedansi ZAA urutan positif, ada ZAA urutan negatif dan ZAA urutan
nol.

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 10


PT. Jalamas Berkatama

Hal itu tergantung dari jenis gangguannya, apakah gangguannya 3 fasa, 2 fasa atau
gangguan satu fasa ke tanah, menurut teori komponen simetris rumus-rumusnya
adalah :
E FASA
I POS = I POS = I FASA untuk gangguan 3 fasa
ZAA-pos
E FASA
I POS = I POS = - I NEG , gangguan fasa-fasa
ZAA-pos + ZAA-neg
E FASA I POS = I NEG = I NOL , ganggan tanah
I POS =
ZAA-pos + ZAA-neg + ZAA-nol

ZAA pada masing-masing urutanpun masih harus dikenali lagi, karena impedansi
tersebut dalam bentuk kompleks (ada bilangan riel dan ada bilangan imajinernya),
sedangkan elemen pada matriks Impedansi (hasil invers matriks Y) terlihat semua
elemennya riel, maka untuk menentukan mana yang berperan sebagai bilangan riel
dan mana yang berperan sebagai bilangan imajiner dapat diingat kembali posisinya
sewaktu masih dalam bentuk matriks Admitansi. Dengan demikian nilai ZAA sudah
dapat diketahui pada baris dan kolom yang mana. Demikian untuk gangguan di Bus B,
C dan seterusnya dapat dihitung dengan memilih Impedansinya ZBB , ZCC atau lainnya.

4.5. PROSES PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN 3 FASA DI TITIK GANGGUAN

Sebelum mencari arus gangguan, dicari terlebih dahulu arus positif sequence tiap bus,
dengan mempergunakan Hukum Ohm. Tegangan dipilih 1 pu dan impedansi diperoleh
dari invers impedansi urutan positif (invers admitansi).

Misal : Arus positif seguence pada bus C


I = V * Y -1 = V / Z = V / (RCC2 + XCC2)0,5
= 1 / ((0.117)2 + (1.468 )2 )0,5 ∠ arctan (1,468/0,117)
= 0.675 ∠-83,1 p.u
I r = I * Cos φ = 0,675 * Cos –83,1 = 0,081 p.u
I x = I * Sin φ = 0,675 * Sin –83,1 = - 0,670 p.u

Demikian pula halnya bila gangguan terjadi di bus B dan bus A dapat dicari dengan
cara yang sama yaitu :
I = V / (RBB2 + XBB2)0,5
I = V / (RAA2 + XAA2)0,5

Hasilnya dapat disusun seperti pada tabel di bawah ini :


Arus positif sequence
Di Bus I (p.u) Sudut Ir (p.u) Ix (p.u)
A 0.717 -87.9 0.027 -0.717
B 0.679 -85.4 0.054 -0.677
C 0.675 -83.1 0.081 -0.670

4.6. PROSES MENGHITUNG TEGANGAN TIAP BUS

Proses perhitungan yang tidak kalah penting dalam Analisa Hubung Singkat adalah
menghitung tegangan tiap Bus, yang dalam hal ini proses menghitungnya tetap
menggunakan cara-cara dalam komponen simetris yaitu dengan menghitung tegangan
urutan positif, negatif dan nol di tiap Bus untuk gangguan hubung singkat di suatu Bus

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 11


PT. Jalamas Berkatama

tertentu, dimana setelah tegangan urutan tiap Bus sudah dihitung, dapat dihitung Arus
urutan (positif, negatif dan nol) tiap cabang menurut hukum Ohm, yaitu selisih
tegangan (urutan) antara dua Bus dibagi dengan impedansi urutan antara dua Bus
tersebut.

Tahapan menghitung tegangan tiap Bus diawali dengan menghitung tegangan drop
antara sumber ke Bus yang akan dihitung tegangannya. Dengan memanfaatkan
matriks Impedansi (hasil invers matriks Y) yang dikalikan dengan matriks Arus Satu
Kolom yang dibentuk dari hasil perhitungan Arus gangguan di salah satu Bus (yang
tentunya untuk masing-masing urutan). Nilai elemen matriks Arus untuk Bus yang
terganggu dimasukkan nilai negatif dari Arus hasil hitungan arus yang didapat di atas.

Dengan bahasa sederhana, untuk memperoleh tegangan drop antara Sumber dan Bus
yang ditinjau didapat dari perkalian invers matriks Admitansi tersebut dengan matriks
Arus. Karena berpegang kepada rumus Z * I = V , dan Z = Y-1. Maka : Y -1 * I = V,
dimana Y –1 = matriks Impedansi hasil invers matriks Y (Admitansi).
I= matriks Arus satu kolom dengan elemen arus khusus untuk Bus yang
terganggu dimasukkan nilai negatif dari arus gangguan di Bus yang ditinjau.
V = Tegangan drop dari sumber (yang besar tegangannya 1 p.u) ke Bus yang
ditinjau.

Untuk memperoleh invers matriks Admitansi dan perkalian matriks dapat


menggunakan program Excel.

Pemilihan arus yang akan dimasukkan ke dalam matriks Arus disesuaikan dengan
pemilihan lokasi titik gangguan dan jenis gangguan (1 phasa, 2 phasa atau 3 phasa)
dan bus yang tidak terganggu mempunyai nilai nol, perlu diperhatikan pula apakah
arus urutan mana yang ada nilainya dan mana yang tidak ada nilainya (nol), sebagai
contoh, untuk gangguan tiga fasa, maka arus gangguan urutan negatif = nol dan arus
gangguan urutan nol = nol. Oleh karena itu perlu disusun bagaimana bentuk dan nilai
elemen-elemennya, yang hasilnya sebagai berikut :

1. Tegangan drop urutan positif dari Sumber ke Bus


Tegangan drop ini didapat dari perkalian Matriks Impedansi (hasil Invers matriks
admitansi bilangan kompleks urutan positif) dan Arus gangguan urutan positif.
Y-1 * - If1 = ∆V1
0,052 -0,078 -0,013 -1,393 -1,244 -1,318 0,000 -0,882
-0,078 0,117 0,020 -1,244 -1,468 -1,356 0,000 -0,910
-0,013 0,020 0,179 -1,318 -1,356 -1,471 -0,081 -1,000
1,393 1,244 1,318 0,052 -0,078 -0,013 0,000 -0,116
1,244 1,468 1,356 -0,078 0,117 0,020 0,000 -0,097
1,318 1,356 1,471 -0,013 0,020 0,179 0,670 0,000

2. Tegangan drop urutan negatif dari sumber ke Bus.


Tegangan drop ini didapat dari perkalian Matriks Impedansi (hasil Invers matriks
admitansi bilangan kompleks urutan negatif) dan Arus gangguan urutan negatif.
Y-1 * - If2 = ∆V2
0.052 -0.078 -0.013 -1.393 -1.244 -1.318 0.000 0.000
-0.078 0.117 0.020 -1.244 -1.468 -1.356 0.000 0.000
-0.013 0.020 0.179 -1.318 -1.356 -1.471 0.000 = 0.000
1.393 1.244 1.318 0.052 -0.078 -0.013 0.000 0.000
1.244 1.468 1.356 -0.078 0.117 0.020 0.000 0.000
1.318 1.356 1.471 -0.013 0.020 0.179 0.000 0.000

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 12


PT. Jalamas Berkatama

3. Tegangan drop urutan nol dari sumber ke Bus.


Tegangan drop ini didapat dari perkalian Matriks Impedansi (hasil Invers matriks
admitansi bilangan kompleks urutan negatif) dan Arus gangguan urutan negatif.
Y-1 * - If0 = ∆V0
15.180 14.827 15.003 -0.988 0.296 -0.346 0.000 0.000
14.827 15.168 14.997 0.296 -0.992 -0.348 0.000 0.000
15.003 14.997 15.295 -0.346 -0.348 -1.662 0.000 = 0.000
0.988 -0.296 0.346 15.180 14.827 15.003 0.000 0.000
-0.296 0.992 0.348 14.827 15.168 14.997 0.000 0.000
0.346 0.348 1.662 15.003 14.997 15.295 0.000 0.000

Karena gangguan pada titik C adalah gangguan 3 phasa, maka arus gangguan urutan
negatif dan zero sequence tidak ada, jadi arus gangguan urutan-urutan ini nilainya
adalah nol (seperti terlihat pada matrik di atas).

Untuk gangguan 3 phasa (dalam contoh ini terjadi di bus C), tidak terdapat arus urutan
negatif dan arus urutan nol, sehingga menurut komponen simetris arus gangguan fasa
R, S dan T dihitung dengan rumus-rumus komponen simetris seperti berikut :
I R = I0 + I+ + I-
I S = I 0 + a2 * I + + a * I -
I T = I 0 + a * I + + a2 * I -
dimana a penggeser sudut 120o atau (-0.5 + j0.866), dan a2 = penggeser sudut 240o
atau (-0.5 - j0.866).

Sehingga dalam hal ini IR, IS dan IT di titik gangguan di Bus C mempunyai nilai yang
sama.

Bila akan dilihat pula nilai arus gangguan di titik C tersebut dalam Amper dengan arus
dasar di sisi 20 kV sebesar 2886,75 Ampere, maka hasilnya dapat dilihat seperti pada
tabel :
I gang. Arus fasa R Arus fasa S Arus fasa T
Di Bus I (p.u) I (Amper) sudut I (p.u) I (Amper) sudut I (p.u) I (Amper) sudut
A 0.000 0.0 0.0 0.000 0.0 0.0 0.000 0.0 0.0
B 0.000 0.0 0.0 0.000 0.0 0.0 0.000 0.0 0.0
C 0.675 1947.6 -83.1 0.675 1947.6 156.9 0.675 1947.6 36.9

Kembali kepada gangguan 3 phasa terjadi di bus C seperti yang disebutkan pada
awal tulisan ini, akan dilihat berapa tegangan tiap bus dan kontribusi arus pada
tiap cabang saluran atau dari generator.

Untuk menghitung tegangan (urutan positif, negatif dan nol) di tiap bus, dihitung
terlebih dahulu tegangan drop antara sumber dan bus dimaksud ∆Vr… dan ∆Vx…,
dengan cara mengalikan matriks Impedansi (hasil invers matriks admitansi) dengan
matriks arus, sebagai berikut :
Matriks Z hasil invers matriks Y - IF1 ∆V

0.052 -0.078 -0.013 -1.393 -1.244 -1.318 0.000 -0.882


-0.078 0.117 0.020 -1.244 -1.468 -1.356 0.000 -0.910
-0.013 0.020 0.179 -1.318 -1.356 -1.471 -0.081 -1.000
1.393 1.244 1.318 0.052 -0.078 -0.013 0.000 -0.116
1.244 1.468 1.356 -0.078 0.117 0.020 0.000 -0.097
1.318 1.356 1.471 -0.013 0.020 0.179 0.670 0.000

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 13


PT. Jalamas Berkatama

Sehingga tegangan pada bus itu dihitung sebagai jumlah antara Vsumber + ∆V.

Sebagai contoh hitungan, berapa tegangan di bus A sewaktu gangguan di bus C :


Vr = 1 pu + ∆Vr hasil perkalian matrik Impedans dan matrik arus (lihat tabel)
= 1 pu + (-0.882) = 0,118 pu
Vx = 0 pu + ∆Vi hasil perkalian matrik Impedans dan matrik arus (lihat tabel)
= 0 + (-0.116) = - 0,116 pu

Jadi tegangan positif sequence = V (pu) = ((Vr)2+( Vi)2)0.5


VA+ (pu) = 0,166∠-44,5

Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :


Tegangan positif sequence
Di Bus V (p.u) Sudut Vr (p.u) Vx (p.u)
A 0.166 -44.5 0.118 -0.116
B 0.133 -47.1 0.090 -0.097
C 0.000 -144.8 0.000 0.000

Kontribusi arus urutan positif untuk gangguan 3 phasa terjadi di bus C dalam pu
dihitung dari selisih tegangan antara bus-bus yang ditinjau dibagi dengan
impedansi antara kedua bus tersebut.

Contoh : Kontribusi arus dari bus A ke bus B:


I A –B = [(VrA - VrB)2 + (VxA - VxB)2]0,5 / ZA-B
= [(0.118 - 0.090)2 +(-0.116 + 0.097)2 ]0.5 / (1.284 ∠56,8)
= 0.026 ∠ [atan (-0.019/0.028) – 56,8]
= 0.026 ∠ 91.0

Selengkapnya kontribusi arus dari tiap cabang dan dari generator dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :
Kontribusi Arus positif sequence
Dari Bus Ke Bus I (p.u) Sudut Ir (p.u) Ix (p.u)
Gen. A 0.400 -82.5 0.052 -0.397
Gen. B 0.274 -83.9 0.029 -0.273
A B 0.026 -91.0 0.000 -0.026
A C 0.375 -81.9 0.053 -0.371
B C 0.300 -84.5 0.029 -0.299

Untuk gangguan 3 phasa (dalam contoh ini terjadi di bus C), tidak terdapat arus urutan
negatif dan arus urutan nol, sehingga menurut komponen simetris, kontribusi arus
gangguan fasa R, S dan T juga dihitung dengan rumus-rumus komponen simetris telah
disebutkan di atas :
I R = I0 + I+ + I-
I S = I 0 + a2 * I + + a * I-
IT = I0 + a * I+ + a2 * I -
dimana a penggeser sudut 120o atau (-0.5 + j0.866), dan a2 atau (-0.5 - j0.866).

Sehingga dalam hal ini, I R, I S dan I T kontribusi arus fasa tiap cabang untuk gangguan
di Bus C dapat dihitung dengan rumus komponen simetris tersebut.

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 14


PT. Jalamas Berkatama

Bila akan dilihat pula nilai arus dalam Amper dengan arus dasar di sisi 20 kV sebesar
2886,75 Ampere, maka hasilnya dapat dilihat seperti pada tabel :

Kontribusi Arus fasa R Arus fasa S Arus fasa T


Dari-Ke I (p.u) I (Amp) sudut I (p.u) I (Amp) sudut I (p.u) I (Amp) sudut
Gen.-A 0,400 1155,5 -82,5 0,400 1155,5 157,5 0,400 1155,5 37,5
Gen.-B 0,274 792,2 -83,9 0,274 792,2 156,1 0,274 792,2 36,1
A-B 0,026 75,3 -91,0 0,026 75,3 149,0 0,026 75,3 29,0
A-C 0,375 1081,1 -81,9 0,375 1081,1 158,1 0,375 1081,1 38,1
B-C 0,300 867,0 -84,5 0,300 867,0 155,5 0,300 867,0 35,5

Tegangan tiap fasa juga di tiap bus untuk gangguan 3 phasa di bus C, juga dihitung
dengan rumus-rumus komponen simetris :
V R = V0 + V+ + V-
V S = V 0 + a2 * V + + a * V -
V T = V 0 + a * V + + a2 * V -

Nilai tegangan tiap fasa pada masing-masing bus dengan tegangan dasar sebesar
11,547 kV ( 20 kV / √ 3 ).

Tegangan Tegangan fasa R Tegangan fasa S Tegangan fasa T


di Bus V (p.u) V ( kV ) sudut V (p.u) V ( kV ) sudut V (p.u) V ( kV ) sudut
A 0.17 1.91 -44.5 0.17 1.91 -164.5 0.17 1.91 75.5
B 0.13 1.53 -47.1 0.13 1.53 -167.1 0.13 1.53 72.9
C 0.00 0.00 -144.8 0.00 0.00 95.2 0.00 0.00 -24.8

Dari perhitungan-perhitungan di atas, terlihat jika terjadi gangguan (dipilih) bus c dapat
dihitung kontribusi arus tiap cabang baik dari generator yang diparalel arus antar Bus
maupun tegangan tiap Bus.

Hasil hitungan kontribusi arus dan tegangan Bus ini yang digunakan untuk penyetelan
Relai di Jaringan.

5. PENUTUP

Dengan memahami cara-cara perhitungan hubung singkat yang sederhana ini yang hanya
menggunakan paket program Excel, pembaca dan praktisi dapat diharapkan dapat
mengembangkan ke arah pembuatan program dengan bahasa pemrograman yang lain
misalnya Basic, Fortran atau lainnya dengan kreasinya sendiri.

Tulisan ini sekedar membuka gagasan bahwa menghitung gangguan hubung singkat itu bisa
dipelajari sendiri. Yang jelas tulisan ini masih belum sempurna sekali.

Kursus Proteksi Pada Pembangkit 28-31 Mei 2001 15