Anda di halaman 1dari 177

Materi berikut ini dibuat oleh Direktorat Jendral Pembinaan

Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3-Kementerian


Ketenagakerjaan Republik Indonesia, ALPK3 (Asosiasi Lembaga
Pelatihan K3), PJK3 (Perusahaan Jasa K3),dan para Instruktur K3
Listrik pada Temu Teknis tanggal 4-7 Agustus 2015 di Yogyakarta,
dan Temu Teknis tanggal 18-21 Agustus 2015 di Bandung

II. KELOMPOK INTI :

II.16.
Persyaratan K3 Pemeriksaan
dan Pengujian Instalasi,
Perlengkapan, dan
Peralatan Listrik berkala
1
MEKANISME
PEMERIKSAAN dan PENGUJIAN
Instalasi Listrik
(electrical installation (of building))
Adalah suatu jaringan listrik yang tersusun secara
terkoordinasi, mulai sumber pembangkit atau titik
sambungan suplai daya listrik sampai titik beban
rangkaian akhir yang direncanakan

2
Ketenagalistrikan

1/9/2019 created by PNK3 previous3 next


History K3 Listrik
1. Zaman Sebelum Merdeka
- VR 1910 STBL No. 406
2. Zaman Merdeka
- UU No. 14 Th 1969 digantikan dgn UU No. 13 Th 2003
tentang Ke-TK-an)
- UU No. 1 Th 1970 (UU KK)
Kepmenaker No.75/M/2002 Pemberlakuan PUIL 2000
- Permenaker No.12/M/2015 Pengawasan K3 listrik
- S.Kepdirjen PPK No. 48/DJPPK/2015 Tenisi K3 Listrik
- - S.Kepdirjen PPK No. 47/DJPPK/2015 Ahli K3 Sps Listrik

4
History K3 Listrik

- Permenaker No. 02/M/89 Pengawasan Inst penyalur petir


Sebagai rujukan untuk proteksi EXTERNAL

SKB Depnaker & BATAN Kep 08/M/79 dan No. 24/DJ/20/11/79


Pemakaian Penangkal petir radioaktif

SKB DEPNAKER & BATAN


Kep 1880/M/87-PN 00.01/193/DJ/87
Penertiban ijin penangkal RADIOAKTIF (LARANGAN PEMASANGAN BARU )

Permenaker No. 03/M/1999pesawat lift


SK Dirjen Binawas No. 407/BW/1999 Petugas,pemasang lift

5
Pasal 3
Tujuan K3 Listrik
1. Melindungi Keselamatan Kesehatan Kerja TK
dan orang lain (lingker, potensi bahaya listrik)
2. Menjamin kehandalan dan akurasi serta aman
instalasi listrik ,penyalur petir dan
pesawat lift sesuai tujuan penggunaannya.
2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik
N bahaya sentuhan langsung
N bahaya sentuhan tidak langsung
N bahaya kebakaran

6
G

TT/
UU.K3 LISTRIK UU.KETENAGALISTRIKAN
Kebijakan nasional Kebijakan nasional

TET
dalam hal upaya dalam hal penyediaan
menjamin tenaga listrik
tempat kerja TM/
(pengusahaan)
yang Aman dan yang Andal, Aman dan
lingkungan yang Sehat Akrap lingkungan
TR
M

Tempat kerja Bukan tempat kerja


1/9/2019 created by PNK3 7
klasifikasi sistem tegangan :
a) Tegangan Ekstra Rendah - setinggi-tingginya 50 V a.b.
atau 120 V a.s.
CATATAN Tegangan ekstra rendah ialah sistem
tegangan yang aman bagi manusia.

b) Tegangan Rendah (TR) - setinggi-tingginya 1000 V a.b.


atau 1500 V a.s.

c) Tegangan di atas 1000 V a.b., yang mencakup :


1) tegangan menengah (TM), tegangan lebih dari 1 kV
sampai dengan 35 kV a.b. digunakan khususnya
dalam sistem distribusi;
2) tegangan tinggi (TT), tegangan lebih dari 35 kV a.b.
3) Tegangan extra tinggi (TET), tegangan lebih dari
70 kV a.b

8
Perlengkapan listrik
a) meliputi bahan, fiting, gawai, peranti, luminair,
aparat, mesin, dan lainlain yang digunakan
sebagai bagian dari, atau dalam kaitan dengan,
instalasi listrik.
b) barang yang digunakan untuk maksud-maksud
seperti pembangkitan, pengubahan, transimisi
distribusi atau pemanfaatan energi listrik,
seperti, mesin, transformator, radas,
instrumen, gawai proteksi, perlengkapan untuk
pengawatan, peranti.

Peralatan listrik adalah setiap alat pem akai


Listrik atau pengguna

9
LANJUTAN

Kecelakaan akibat penggunaan


Instalasi penyalur petir yang tidak
memenuhi syarat dapat mengundang
bahaya terhadap obyek yang paling tinggi seperti ;
bangunan gedung, konstruksi dan peralatan listrik
maupun perlengkapan listrik rawan terhadap
sambaran petir

1/9/2019 10
10
Dasar hukum :
Undang undang No 1 tahun 1970
Keselamatan Kerja

Pasal 2 ayat (2) huruf q


(Ruang lingkup)
Setiap tempat dimana listrik
dibangkitkan, ditransmisikan,
dibagi-bagikan, disalurkan dan
digunakan

11
SUMBER BAHAYA Menurut R.L. UU 1/70
Pasal 2 ayat (2) huruf q
Setiap tempat dimana listrikdibangkitkan,
ditransmisikan, dibagi-bagikan, disalurkan dan
digunakan

B1 = Mesin B10 = Peralatan Listrik


B2 = Penggerak Mula & B11 = Bahan Kimia
Pompa B12 = Debu Berbahaya
B3 = Lift B13 = Radiasi Bahan Radio Aktif
B4 = Pesawat Angkat B14 = Faktor Lingkungan
B5 = Conveyor B15 = Bhn Mudah Terbakar & Benda Panas
B6 = Pesawat Angkut B16 = Binatang
B7 = Alat Transmisi Mekanik B17 = Permukaan Kondisi Kerja
B8 = Perkakas Kerja Tangan B18 = Lain-lain
B9 = Pesawat Uap & Bejana
12
Dasar hukum :

Pasal 3 ayat (1) huruf q


Undang undang No 1 tahun 1970

(Objective)
Keselamatan Kerja

Dengan peraturan perundangan


ditetapkan syarat-syarat keselamatan
kerja untuk:
q. mencegah terkena aliran listrik
berbahaya

13
Dasar ukum :
Undang undang No 1 tahun 1970
Peraturan Menteri
Tenaga Kerja RI
Keselamatan Kerja

No Per. 12/Men/2015
April 2015
Pengawasan K3 L PUIL
2011

Mencabut Kepmenakerwajib
75/M/2002
Pemberlakuan PUIL
2000

14
STANDAR K3 LISTRIK
DI INDONESIA

Peraturan
KHUSUS B Peraturan
Khusus B
Peraturan
04/78
Peraturan
04/88

1/9/2019 created by PNK3 15


15
Ditetapkan
Sebagai Standar Wajib
Kep Menteri Energi & Sumber Daya Mineral
No. : KBSN 32/KEP/BSN/2006
Dirjen listrik 01/PJK/DITTEK /II/2009
Batas waktu penyesuaian 3 tahun

•PUIL tidak berlaku :


a) bagian instalasi listrik dengan tegangan rendah yang
hanya digunakan untuk menyalurkan berita dan syarat.
b) bagian instalasi listrik yang dipergunakan untuk
keperluan komunikasi dan pelayanan kereta rel listrik
c) instalasi listrik dalam kapal laut, kapal terbang, kereta rel
listrik, dan kendaraan lain yang digerakan secara terus
menerus.
d) instalasi listrik di bawah dalam tambang.

1/9/2019 created by PNK3 16


16 18
RUANG LINGKUP
PERMENAKER 12/M/2015
Psl 4

Berlaku untuk persyaratan K3


Yang meliputi :
– perancangan, pemasangan, pemeriksaan,
pengujian, pelayanan, pemeliharaan maupun
pengawasannya
- Pemeriksaan dan pengujian.

- Persyaratan dlm kegiatan :


Pembangkitan,Transmisi,Distribusi dan
pemamfaatan listrik.

17
Sesuai dgn psl 5 ( Kegiatan –kegiatan di dalam
psl 4 ayat 1)

◼ Memenuhi standar PUIL 2011 - dengan segala


keterbatasan dan kelebihan dari standar PUIL
ini maka kami memberikan tambahan standar
listrik lain antara lain :

IEC; IEEE; NEC; ANSI; NFPA; ATEX; Manual


Handbook

18
Pasal 6

Berlaku untuk persyaratan Pembinaan


Yang meliputi :
– perancangan, pemasangan, pemeriksaan, pengujian, pelayanan,
pemeliharaan maupun pengawasannya

- TEKNISI K3 LISTRIK.
- AHLI K3 LISTRIK
- PENGAWAS KETENAGAKERJAAN Spesialis

- Psl 7
- (PUIL 2011 Pengusahaan listrik)

- PJK 3

19
Inventarisasi
Jenis jabatan fungsional berbasis kompetensi K3 Listrik
1. Klas I. →Teknisi ( pemasangan, pemeliharaan)
2. Klas II. →Penyelia (pemasangan, pengoperasian, pemeliharaan)
3. Klas III. →Ahli K3 Listrik

Teknisi Listrik Penyelia K3 Listrik Ahli K3 Listrik

Dapat melayani dan Dapat melakukan Dapat mengevaluasi


memelihara inst. pengawasan pek. potensi bahaya dan
listrik secara benar pemasangan dan tindakan koreksi
dan aman, baik bagi pemeliharaan inst. terhadap:
dirinya, peralatan dan listrik secara benar • gambar
aman dalam dan aman sesuai rancangan;
pengoperasiannya ketentuan dan • hasil
prosedur K3. pemeriksaan dan
pengujian;
20
B. Jenis Sertifikasi Kompetensi Personel
1. Bidang Teknisi K3 Listrik (Kepdirjrn 47/DJPPK/2015)
2. Ahli K3 Spesialis Listrik (Kepdirjen 48/DJPPK/2015.

3. Sertifikat Bidang Teknisi Lift (407/M/99)


• PENYELIA PEMASANGAN
Mengawasi pelaksanaan pekerjaan
Proyek pemasangan
• TEKNISI (Ajustment)
Melaksanakan Comissioning,
• TEKNISI PEMELIHARAAN
Merawat dan memperbaiki lift
• PENYELIA OPERASI LIFT
Mengawasi kelaikan operasi lift

Pengurus Wajib Membentuk Organisasi K3


PK dan Menyiapkan Personilnya
21
Pasal 9

PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

PUIL 2011 Bagian 6 VERIFIKASI


Ruang lingkup: MEMBERIKAN PERSYARATAN UNTUK
VERIFIKASI AWAL DAN PERIODIK DARI INSTALASI
LISTRIK.

perancangan, pemasanga dilakukan pemeriksaan dan


Pengujian

22
KEMAMPUAN
→→→→→→→→→→→→
HANTAR ARUS
SYARAT K3
KHA : MIN 1,25 X I
nominal

KHA kabel listrik ditentukan oleh jenis


bahan konduktornya dan ukuran
penampangnya
(Periksa tabel PUIL)

23
24
25
26
Resistans TAHANAN ISOLASI

PANEL R-S R-T T-S R-N R-G S-N S-G T-N T-G N-G

P1- P1.1

p1-P1.2

P1-P1.3 1000 Ohm /Volt (diruang normal)


100 Ohm / Volt (diruang lembab)
P1.P1.4

P1.P1.5

P1-P1.6

27
N
28
Bahaya Sentuhan Tidak
Langsung
Sentuhan tidak langsung
adalah bahaya sentuhan pada
bagian konduktif yang secara
normal tidak bertegangan, menjadi
bertegangan karena terjadi
kegagalan isolasi

29
Proteksi bahaya
N Sentuhan tidak langsung

1. Sistem TT atau
Pembumian Pengaman (PP)
2. Sistem IT atau
Hantaran pengaman (HP)
3. Sistem TN atau
Pembumian Netral Pengaman (PNP)

30
1. Sistem TT atau Pembumian Pengaman (PP)

L1
Membumikan titik netral di
L2
sumbernya dan membumikan
L3
N pada BKT instalasi dan BKT
perlengkapan listrik.

Bila terjadi kegagalan


isolasi, teganan suplai akan
PE
terputus karena alat
proteksi bekerja otomatik

31
SISTEM PEMBUMIAN PENGAMAN
L1
L2
L3
N

SATU FASE TIGA FASE

32
2. Sistem IT atau Hantaran pengaman (HP) Tujuan
pembumian :
Bila terjadi arus bacor atau hubung singkat, arus akan
tersalur ke bumi melalui penghantar pengaman sehingga arus
meningkat dan pengaman akan terputus secara otomatik

Fasa tunggal 3 kawat


Penghantar Aktif
Penghantar Nol/Netral
Hantaran pengaman

33
SISTEM HANTARAN PENGAMAN
L1/R
L2/S
L3/T
N
PE

34
WAKTU PEMUTUSAN
SISTEM IT
WAKTU PEMUTUSAN
TEGANGAN (detik)
(volt) N tdk N terdistribusi
terdistribusi
120-240 0,8 5
230/400 0,4 0,8
400/690 0,2 0,4
580’1000 0,1 0,2

35
3. Sistem TN atau
Pembumian Netral Pengaman (PNP)
Fasa tunggal 3 kawat

Nol &
Ground
dihubungkan

36
SISTEM HANTARAN NETRAL PENGAMAN
L1
L2
L3
N/PE

37
WAKTU PEMUTUSAN
SISTEM TN
TEGANGAN WAKTU PEMUTUSAN
(volt) (detik)

120 0,8
230 0,4
277 0,4
400 0,2
> 400 0,1

38
Sentuhan langsung
adalah bahaya sentuhan pada bagian
konduktif yang secara normal
bertegangan

39
PROTEKSI BAHAYA
SENTUH LANGSUNG
METODA :
1
Isolasi bagian aktif
2
Penghalang atau Selungkup
3
Rintangan
4
Jarak aman atau diluar jangkauan
5
Gawai proteksi arus sisa
6
3
Isolasi lantai kerja.
40
41
42
TEGANGAN SENTUH YANG DIIJINKAN (IEC)

Tegangan Sentuh Waktu Maksimum Yang


(Volt) Diijinkan (Detik)

< 50 ~
50 5
75 1
90 0.5
110 0.2
150 0.1
220 0.05
280 0.03
43
menghentikan fungsi jantung dan menghambat pernafasan

44
Kemungkinan jatuh dari ketinggian

Luka bakar akibat


sentuh
langsung listrik

45
Mengisolasi bagian aktif

46
Menutup dg Penghalang atau
Selungkup

47
Memasang Rintangan

48
Memberi Jarak Di Luar Jangkauan

49
PROTEKSI BAHAYA
“JARAK AMAN”
Jarak aman atau diluar jangkauan :
TEGANGAN
JARAK (cm)
(KV)
1 50
12 60
20 75
70 100
150 125
220 160
500 300
50
SISTEM PENGAMANAN
“ISOLASI LANTAI KERJA”
Rd 3000  V

V2
75 kg
V1

Pelat logam Kayu


25 x 25 x 0,2 Cm
Kain basah 27 x 27 Cm

ISOLASI LANTAI KERJA (R1)


R1 = Rd ( V1/V2 -1) Ohm
TANAH
R1 min. 50 kilo Ohm

51
PUIL 2000 VERSUS PUIL
2011
PUIL 2000 PUIL 2011
Bagian 1 Bagian 1
Pendahuluan Pendahuluan, prinsif fundamental dan
definisi
Bagian 2 Bagian 2
Persyaratan dasar Desain instalasi listrik

Bagian 3 Bagian 3
Proteksi untuk keselamatan Asesment karakteristik umum

Bagian 4 Bagian 4
Perancangan instalasi listrik Proteksi untuk keselamatan

52
PUIL 2000 VERSUS PUIL
2011
PUIL 2000 PUIL 2011
Bagian 5 Bagian 5
Perlengkapan listrik Pemilihan dan pemasangan
perlengkapan listrik
Bagian 6 Bagian 6
Perlengkapan Hubung Bagi dan Verifikasi
Kendali (PHBK) serta komponennya

Bagian 7 Bagian 7
Penghantar dan pemasangannya Pemilihan dan pemasangan
perlengkapan listrik-Konduktor dan
pemasangannya
Bagian 8 Bagian 8
Ketentuan untuk berbagai ruang dan etentuan untuk berbagai ruang dan
instalasi khusus instalasi khusus 53
PUIL 2000 VERSUS PUIL
2011
PUIL 2000 PUIL 2011
Bagian 9 Bagian 9
Pengusahaan instalasi listrik SNI 04- Pengusahaan instalasi listrik SNI 04-
0225-2000 0225-2011

54
Jaringan Instalasi Listrik
Industri

55
Bagian-bagian jaringan

◼ Trafo Distribusi
◼ Alat Pengukur dan Pembatas (APP)
◼ Generator Set
◼ Main Distribution Panel
◼ Subdistribution Panel

56
Keberlakuan PUIL
(RUANG LINGKUP)
• PUIL 2000 (1.2.1.1)
• Berlaku untuk semua pengusahaan instalasi
– Tegangan rendah AC sampai dengan 1000 V,
– Tegangan DC 1500 V
– Tegangan Menengah sampai dengan 35 kV dalam
bangunan dan sekitarnya
• Yang meliputi :
– perancangan, pemasangan, pemeriksaan,
pengujian, pelayanan, pemeliharaan maupun
pengawasannya

57
Keberlakuan PUIL
(RUANG LINGKUP)

◼ PUIL 2011 (11.2 MOD)


◼ Berlaku untuk semua pengusahaan instalasi
◼ Tegangan rendah AC sampai dengan 1000 V,

◼ Tegangan DC 1500 V

◼ Frequensi 50 dan 400 Hz, Frekuensi lain


dimungkinkan
◼ Sirkit, selain pengawatan internal aparatus,
yang beroperasi pada tegangan > 1000V, dan
disuplai dari instalasi yang tegangannya <
1000V

58
Bagian 9
Pengusahaan Instalasi Listrik

Bagian 9.5.3.2 : Orang yang mengawasi pemasangan


instalasi listrik
Bagian 9.5.3.1 : Orang yang diberi tanggung jawab,
perancangan, pemasangan,
pemeriksaan, dan pengujian inst.
Listrik, harus memahami K3 dan
memiliki ijin kerja.
Bagian 9.10.4. : Pengusahaan listrik > 200 kVA harus
memiliki organisasi yang
bertanggjawab secara khusus

1/9/2019 created by PNK3 59


Proses pengesahan gambar ins. listrik
Dokumen perencanaan listrik
1. Peta lokasi Berkas Commissioning.
2 Gambar instalasi perencanaan. Rekomendasi.
- Lay out perlengkapan dan
peralatan listrik Analisis:
- Rangkaian peralatan dan Berdasarkan SNI 04-225-2000
oleh pegawai pengawas
pengendalinya
3. Diagram garis tunggal
4. Gambar rinci Tidak
Memenuhi syarat
5. Perhitungan beban
6. Tabel bahan Ya
7. Ukuran teknis
PENGESAHAN GAMBAR
- Sepesifikasi & cara pasang Setuju dipasang.
- Cara menguji Rekomendasi.
- Jadwal waktu
1/9/2019 created by PNK3 60
Jaringan Instalasi Listrik
Industri

61
62
63
ALAT UKUR TAHANAN ISOLASI AMPHER TESTER

created by PNK3 64 1/9/2019


64
5. SPESIFIKASI KAMERA INFRAMERAH Thermo Tracer TH9100 WV
High Spec, and High Performance IR Thermal
Imager
ALAT PENGUKUR PANAS Visual Camera Built into IR lens
Specifications :
THERMOGRAFH
Measuring range -40 to 2000 oC
Resolution 0.06 oC (at 30 oC 60 Hz) --- range 1
Accuracy ± 2 oC or ± 2% of reading
Detector Uncooled Focal Plane Array (microbolometer)
Spectral range 8 to 14 μm
I.F.O.V. 1.2 mrad
Focusing range 30 cm to infinity
Field of View 21.7 o(H) x 16.4 o(V)
Frame time 60 frames/sec
Display View finder and 3.5 inch LCD monitor
Thermal image pixels 320 (H) x 240 (V) pixels
Measuring functions Run / Freeze
S/N improvement ?2, ?8, ?16 and spatial filter ON/OFF
Interval measurement Recording on memory card : 2 t 3600 sec interval
Trigger function

Emissivity correction 0.10 to 1.00 ( at 0.01 step )


Env. Temp. correction Provided ( including interval UNC )
Auto functions Full automatic (level, sense, focus)
Display funtions Display color : color/monochrome, posi/nega
Annotation Text and voice annotation (30 sec per image)
Movie recording Real-time memory : 1664 images ( max. 60 Hz)
Operating temp / -15 to 50 oC, 90% RH or less (not condensed)
humidity
Storage temp / -40 to 70 oC, 90% RH or less (not condensed)
humidity 65
Shock and vibration 294m/sec2 (IEC60068-2-27), 29,4m/sec2
THERMAL VISUAL

KETERANGAN TEMPERATUR ( OC )

1 2 3
OBYEK MCCB AC PHASA-T TERMINAL BAWAH

66.3
LABEL NO. X-1 T SPOT

40
PANEL /
PNL. UTAMA SEL-3 T REF
ALAT

26.3
LOKASI RUANG GENSET ∆T

SKALA C
KEMUNGKINAN PENYEBAB

X Koneksi buruk (kendor / kotor ) KOMENTAR & SARAN


Beban berlebih (overload)
OVERHEATING PADA KABEL MCCB AC PHASA-T TERMINAL BAWAH
PERBAIKI KONEKSI MCCB TSB
Beban tdk seimbang (unballance)
OFF PANEL, LEPAS KONEKSI YANG BERMASALAH, GANTI SKUN KABEL & KABELNYA, BERSIHKAN TERMINAL MCCB, KEMUDIAN KONEK KEMBALI DAN
KENCANGKAN BAUT TERMINASINYA
Komponen dalam PERIKSA ULANG SETELAH DILAKUKAN PERBAIKAN

Induksi elektromagnetis
66
Suhu kerja
Aspek pertimbangan rancangan /
evaluasi instalasi listrik
Internal
Jenis pelayanan/beban
◼ Penerangan Eksternal
◼ Pesawat tenaga Jenis /kondisi lingkungan
◼ Peruntukan / ◼ Ruang normal
◼ Karakteristik ◼ Ruang lembab
◼ Daur tugas ◼ Ruang panas
◼ Dll ◼ Ruang berdebu
BESARAN NOMILAL ◼ Ruang uap/gas ledak
67
Bekerja di dekat instalasi yang bertegangan :
Perhatikan Jarak minimum aman
Perlengkapan harus bebas dari kebocoran isolasi atau imbas.
Dilarang menggunakan pengukur dari logam
Dilarang menggunakan tangga kayu yang diikat batang logam.

68
Bekerja pada keadaan bertegangan ;
• dilakukan minimal dua orang, ahli, memilki surat ijin kerja.
• Pekerja dalam keadaan sehat rohani dan jasmani.
• Pekerja harus berdiri ditempat isolasi atau menggunakan
pekakas berisolasi yang handal.
• Menggunakan pengaman badan (APD) yang diperlukan.
• Semua perlengkapan yang digunakan diperksa.
• Keadaan cuaca.
• Dilarang menyentuh perlengkapan listrik dengan tangan
telanjang.

69
PROTEKSI BAHAYA
“JARAK AMAN”

Jarak aman atau diluar jangkauan


Tegangan kV Jarak cm
1 50
12 60
20 75
70 100
150 125
220 160
500 300
1/9/2019 Created by DIT. PNK3 70
70
a. Cara membebaskan penderita dari aliran listrik
• Penghantar dibuat bebas dari tegangan dengan
memutuskan sakelar atau gawai pengaman, penghantar
ditarik sampai terlepas dari penderita dengan
menggunakan benda kering bukan logam, kayu atau tali
yang diikat pada penghantar.
• Penderita ditrik dari tempat kecelakaan.
• Penghantar dilepas dari tubuh penderita dengan tangan
yang dibungkus dengan pakaian kering yang dilipat-
lipat.
• Penghantar dihubungpendekan atau dibumikan.
b. Berikan pertolongan medis secepatnya.

71
Petir REF.
1. Keputusan Dirjen BATAN No.Per
02/45/DJ/31/III/1977 Ketentuan pemakaian
penangkal petir Rdioaktif
2.PP.11/1975 keselamatan kerja thd radiasi
3. PP.12 /1975 ijin pemakaian zat radioaktif atau zat
radiasi lainnya
Sebagai rujukan untuk proteksi EXTERNAL
SKB Depnaker & BATAN Kep 08/M/79 dan No.
24/DJ/20/11/79 Pemakaian Penangkal petir radioaktif

SKB DEPNAKER & BATAN


Kep 1880/M/87-PN 00.01/193/DJ/87
Penertiban ijin penangkal RADIOAKTIF (LARANGAN
PENANGKAL PEMASANGAN BARU )

PETIR

1/9/2019 created by PNK3 72


72
KONSEP PROTEKSI BAHAYA
SAMBARAN PETIR
PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG
Dengan memasang instalasi penyalur petir pada
bangunan
Jenis instalasi :
- Sistem Franklin
- Sistem Sangkar Faraday
- Sistem Elektro statik

PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG


Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan
pada jaringan instalasi listrik (Arrester)

1/9/2019 created by PNK3 73


73
AWAN KE AWAN perintis kilat 20 msec
mencapai bumi jrk 3 km

Arus : 5.000 ~ 200.000 A


Panas: 20.000 oC

AWAN KE BUMI perintis kilat 20 msec


mencapai bumi jrk 3 km
Return stroke BUMI ke awan 100 msec

Sasaran
KERUSAKAN
• THERMIS, OBYEK YANG TERTINGGI
• ELEKTRIS,
• MEKANIS,
1/9/2019 created by PNK3 74
74
75

Lightning also strikes people, causing serious injury and burns and
sometimes even death :
On June 14, 1991, during one of the world’s most prestigious golf
competitions, the US Open, a spectator was killed by a lightning bolt !
76

More recently in October 2002, the footballer, Herman Gavaria died after
being struck while taking part in a training session with fellow players from
the Cali club in Colombia.
77
78

How far the strikes is?


By counting the seconds
between the lightning
"flash" and the "bang" of
thunder, you can tell how
far away the lightning
was. Each five seconds
equals one mile. If you
count 15 seconds, the
flash was 3 miles away
and you know that you are
in a high danger zone. Six
miles (30 second count) is
still in the high danger
zone.
79

Lightning desperation position


Squatting position when lightning threatens : If caught out in the open during a lightning storm with no shelter, squat lo to
the ground as quickly as possible. Do not lie flat on the ground. The aim is to get as low as possible while minimizing the area
of exposed body surface. Lying flat makes you larger target.

80
Safe refuges from lightning : During a thunderstorm the safest place to be is in low-rise building. Keep the windows closed
and unplug any electrical equipment (if unprotected). If you can’t take refuge in a building, a car is a safe alternative. If a car
(or airplane for that matter) is hit by lightning you will not be harmed. However, avoid touching any metal parts of the
interior, such as the radio

81
Unsafe refuges from lightning : Standing in open filed, on a golf course or beach, or under a tree are all wrong places to be
when lighting strikes. Lightning is attached to tall targets. If you feel your hair standing on end, lightning is about to strike
near you.

82
83

Broken down conductor at tower CSM Cikarang


Lightning Event Counter (LEC) &
Alat Ukur Pita Magnetik (APM)

84
BAHAYA SAMBARAN PETIR

SAMBARAN
LANGSUNG

. SAMBARAN
TIDAK LANGSUNG

85
INSTALASI PENYALUR PETIR
PERMENAKER PER-02 MEN/1989
SISTEM FRANKLIN
BAGIAN BAGIAN PENTING

PENERIMA
Sudut perlindungan (AIR TERMINAL)
112 o

 HANTARAN PENURUNAN
(DOWN CONDUCTOR)min
BC 50mm2
 HANTARAN PEMBUMIAN
(GROUNDING)

Resistan pembumian
mak 5 ohm

86
Jenis Penerima (Spitzer)

87
).Sistem instalasi proteksi petir dapat memanfaatkan kolom-kolom
gedung bertingkat tinggi. Sedangkan pembumiannya menggunakan tiang
pancang pada kolom-kolom tersebut. Tentu saja sambungan-sambungan
antar kolom besi betonnya harus berhubungan secara elektrik. Ini sudah
digunakan di Negeri Belanda. Metoda sistem proteksi bahaya petir
semacam ini yang disebut dengan sistem sangkkar (Faraday Cage)
Sistem sangkar faraday
seperti pada gambar

17/11/02 created by Ganjar Budiarto 60


88
Sistem Electrostatik dengan cara meggunakan
penerima tunggal sebagai penangkap/penerima

89
90
91
92
Franklin (Konventional) VS LPS
(Electrostatik/Electromagnet)

Resistans pembumian Makimal 5


Ohm. Bila dari hasil pengukuran
resistan pembumian tidak
memenuhi syarat akan dapat
mengundang bahaya, yang
disebut tegangan langkah seperti
diuraikan diatas. Perhatikan 93
PROTEKSI PETIR SYSTEM INTERNAL

Semua bagian konduktif dibonding


Semua fasa jaringan RSTNG dipasang Arrester
Bila terjadi sambaran petir pada jaringan instalasi listrik semua
kawat RSTN
tegangannya sama tidak ada beda potensial

RSTN RSTN

ARRESTER

GROUNDING

94
95
LIGHTNING ARRESTER
(L.A)

Lightning arrester adalah suatu alat


untuk mencegah terjadinya perambatan
gelombang tegangan/arus yang tinggi
pada suatu peralatan akibat gangguan
petir (gangguan external).
Dalam Intalasi Tenaga listrik peralatan
ini dipasang pada line/ jala-jala untuk
mengamankan trafo, Gen-set .
96
PRINSIP KERJA LIGHTNING
ARRESTER (L.A)

Apabila ada gelombang petir pada jala-jala dan


melalui Lightning Arrester maka tegangan tsb
akan dipotong (Chopped) oleh LA dan dialirkan
ke bumi(dibumikan),sehingga peralatan dalam
jala-jala menjadi aman.
Komponen dalam lightning arrester yang
memotong gelombang dan mengalirkan sisa
gelombang tsb kebumi bersifat Non Linier
Resistan dan berfungsi sebagai AIR GAP.
97
LIGHTNING ARRESTER

Gambar lightning Arrester yang


digunakan untuk trafo,genset dan
dipasang dalam jala2 :
1.Thyrite valve.
2.Rumah atau pelindung keramik
3.Air gap (celah udara) sebagai
pengaman yang akan mengalirkan
gelombang tegangan/arus bila melebihi
tegangan nominal LA
98
LIGHTNING ARRESTER UNTUK
MENGAMANKAN TRAFO

1. Unit kumparan primer dan sekunder.


2. Inti dan pegangan kerangka .
3. Hubungan tegangan tinggi dibawah permukaan
minyak untuk mencengah busur
4. Sekreing (pengaman) tegangan tinggi untuk
melindungi bila ada kesalahan di dalam.
5. Lightning arrester de.ngan air gap untuk huburgan ke
tegangan tinggi dan grounded.
6. Tegangan tinggi dan penyambung.
7. Tegangan rendah
8. Gasket seal untuk tutup
9. Penarik dan pengangkat
10. Permukaan minyak
11. Hubungan tanah
12. Isolasi antara kumparan dan inti
99
PEMASANGAN
PEMBUMIAN PADA
MOTOR LISTRIK

100
CARA PEMASANGAN
LIGHTNING ARRESTER
Lightning arrester dipasang di jala2
masuk (sisi incoming ) di dekat
perlengkapan/alat yang dilindungi
Break Down voltage LA harus
lebihtinggi dari pada nominal voltage
alat yang dilindungi.
Bisa dipasang pada single phase
ataupun three phase jala2
101
++++++++
++++++++
++++++++
------------
-------------
------------

MENYAMBAR
JARINGAN LISTRIK

102
TYPE ARRESTER

103
104
ALAT UKUR TAHANAN SEBARAN TANAH
(EARTH TESTER)

created by PNK3 105 1/9/2019


105
PERTIMBANGAN PEMASANGAN
INSTALASI PENYALUR PETIR

INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR


A : Peruntukan bangunan (-10 0 1 2 3 5 15)
B : Struktur konstruksi (0 1 2 3)
C : Tinggi bangunan (0 2 3 4 5 - 10)
D : Lokasi bangunan (0 1 2)
E : Hari guruh (0 1 2 3 4 - 7)

R =A+B+C+D+E
< 11 ABAIKAN
= 11 KECIL
= 12 SEDANG
= 13 AGAK BESAR
= 14 BESAR
> 14 SANGAT BESAR
106
INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR
A: Peruntukan bangunan
Rumah tinggal : 1
Bangunan umum : 2
Banyak orang : 3
Instalasi gas,minyak, rumah sakit : 5
Gudang handak : 15

B: Struktur konstruksi
Steel structure : 0
Beton bertulang, kerangka baja atap logam: 1
Beton bertulang, atap bukan logam : 2
Kerangka kayu atap bukan logam : 3

C: Tinggi bangunan

107
INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR

C: Tinggi bangunan
s/d 6m : 0
12 m : 2
17 m : 3
25 m : 4
35 m : 5
50 m : 6
70 m : 7
100 m : 8
140 m : 9
200 m : 10

108
INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR
D: Lokasi bangunan
Tanah datar : 0
Lereng bukit : 1
Puncak bukit : 2

E: Hari guruh per tahun


2 : 0
4 : 1
8 : 2
16 : 3
32 : 4
64 : 5
128 : 6
156 : 7

109
SNI 225 - 1987
Harus dipasang instalasiPUIL-1987
(820 - B.16 dan - C.4)
PROTEKSI PETIR
(Sistem internal protection)

Ruangan berpotensi
bahaya ledakan
gas/uap/debu/serat

110
PENERIMA (AIR TERMINAL)
1. Dipasang pada tempat yang akan tersambar.
2. Daerah terlindung
3. Tinggi lebih dari 15 cm dari sekitar
4. Jumlah dan jarak harus diatur (daerah perlindungan 112 derajat)

Penerima dapat berupa :


a. Logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga
b. hiasan,-hiasan pada atap, tiang-tiang, cerobong logam yang disambung dengan instalasi
penyalur petir.
c. Atap –atap dari logam yang disambung secara elekteris.

111
Pesawat lift sebagai sarana transportasi
LIFT vertikal yang dirancang dengan
perangkat pengendali otomatik dari
dalam kereta dan pada setiap lantai
pemberhentian.
Apabila terjadi sesuatu hal yang
membahayakan, penumpang tidak
dapat berbuat apa apa,

Aspek kehandalan dan keselamatan


penumpang merupakan faktor
dasar dalam pertimbangan
perancangan pesawat lift.

112
Listrik
Salah satu bentuk sumber daya atau
energi potensial banyak mamfaat
sebagai tenaga penggerak mekanik,
pencahayaan termasuk penggunaan
pesawat lift

Pesawat lift sebagai sarana transportasi


vertikal yang dirancang dengan perangkat
pengendali otomatik dari dalam kereta dan
pada setiap lantai pemberhentian.
Pengguna/penumpang lift hanya dengan
tekan tombol dapat mengendalikannya
menuju lantai yang dikehendaki;

1/9/2019 created by PNK3 113


K3 LIFT
Untuk menjamin kehandalan dan
keamanan pesawat lift, telah ditetapkan
syarat-syarat K3,

Dasar :
Undang undang No 1 th 1970;
Peraturan Menaker No Per. 03/Men/1999
Kepdirjen No. : Kep 407/M/BW/1999

114
K3 LIFT
SYSTEM PENGGERAK LIFT ;
1. LIFT HYDROLIK
2. LIFT TRACXY

JENIS JENIS LIFT ;

1. PASSENGER LIFT
2. SERVICE LIFT
3. CARGO LIFT ( SNI 1718 ) 1979

115
Ruang Mesin

Pintu
Luar

Buffer
116
Ketentuan K3 LIFT

UU 1/70 Bab II Psl 2 (2) - f


……… tempat kerja dimana :
f. Dilakukan pengangkutan barang,
binatang, atau manusia, baik
didarat, melalui terowongan,
dipermukaan air, dalam air maupun
di udara

117
Syarat-syarat K3 Lift

UU 1/70 (Bab III Psl 3 (1) - n


Dengan peraturan perundangan
ditetapkan syarat-syarat keselamatan
kerja untuk :
n. “Mengamankan dan memperlancar
pengangkutan orang, binatang,
tanaman atang barang”.

118
Bank Indonesia

BI

15 ORANG MENINGGAL
119
Contoh Kebakaran

120
KLASIFIKASI & KOMPETENSI TEKNISI LIFT
KEPUTUSAN MENTERI
No KEP-407/M/BW/99

PENYELIA PEMASANGAN
Mengawasi pelaksanaan pekerjaan
Proyek pemasangan

TEKNISI (Ajustment)
Melaksanakan Comissioning,

TEKNISI PEMELIHARAAN
Merawat dan memperbaiki lift

PENYELIA OPERASI LIFT


Mengawasi kelaikan operasi lift

121
C0ntoh

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI

KARTU LISENSI K3
TEKNISI PEMELIHARAAN LIFT DAN ESCALATOR
No : 64/PNKK/07.03 Berlaku s/d : 28 Juli 2008
Nama : FRANSISCUS WARTOYO
Tempat & tgl lahir : Yogyakarta, 2 April 1954
Instansi/Perh. : PT. Toshindo Elevator Utama
Alamat : Jl. Boulevard Rukan Plaza Pasific B2 No. 25 -
Kelapa Gading – Jakarta Utara
Jakarta, 28 Juli 2003
PLT. DIREKTUR PENGAWASAN NORMA
KESELAMATAN KERJA

Ir. Imam Subari


NIP. 160009422

122
C0ntoh

KOMPETENSI
TEKNISI PEMELIHARAAN LIFT DAN ESCALATOR
SESUAI KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA RI
NO. : KEP. 407/M/BW/1999

Tugas dan tanggung jawab :


1. Merawat dan mengawasi kelaikan operasi lift dan
eskalator;
2. Membantu pemeriksaan dan pengujian lift dan
eskalator;

123
C0ntoh

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI


KARTU LISENSI K3
PENYELIA OPERASI LIFT DAN ESCALATOR
No : 48/PNKK/07.03 Berlaku s/d : 28 Juli 2008
Nama : SLAMET RIYANTO
Tempat & tgl lahir : Semarang, 28 Mei 1963
Instansi/Perh. : Pemda Jawa Tengah
Alamat : Jl. Pahlawan No. 9 Semarang 50243

Jakarta, 28 Juli 2003


PLT. DIREKTUR PENGAWASAN NORMA
KESELAMATAN KERJA

Ir. Imam Subari


NIP. 160009422

124
IJIN PEMAKAIAN LIFT (PERMENAKER : PER 03/MEN/1999)

Pasal 30 AS BUILT DRAWING LIFT


Ayat (1)
Setiap lift sebelum dipakai harus
diperiksa dan diuji sesuai standar TEST & COMMISSIONING
uji yang ditentukan -PEMERIKSAAN VISUAL/VERIFIKASI DATA
-PENGUJIAN PEMBEBANAN
-PENGUJIAN REM & SAFETY DEVISES

Standar uji K3 lift :


Memenuhi
SNI 1718 – 1989 – E
syarat
Bentuk laporan :
-38 - L
-39 - L IJIN K3

LIFT LAIK
OPEPASI
1 tahun
125
Pencegahan dan Tindakan Penyelamatan
Penyebab Kecelakaan Dalam Keadaan Darurat

Kerusakkan Tindakan
Lift
Pencegahan
Kebakaran Prosedur
Gedung dan
tindakan
Gempa Bumi standard
Persiapan
Banjir
126
Pemasangan Door Switch Untuk Mencegah :

Lift Jalan saat penumpang


Keluar masuk
Kecelakaan terhadap orang
yang membuka pintu dari luar
saat kereta sedang bisa
berjalan cepat.

127
Pencegahan Kecelakaan Kerja
1. Peraturan
2. Standardisasi
3. Pengawasan
4. Penelitan Teknik
5. Penelitian Medis
6. Penelitian Psikologis
7. Penelitian Statistik
8. Pendidikan
9. Pelatihan
10. Persuasi
11. Asuransi
12. Penerangan 1 s/d 11

Ref. Accident Preventions, ILO


128
Syarat –syarat k3 lift
* Memiliki Panel operasi lift
-Kapasistas angkut (Kg & Orang)
-Sesuai dengan dokumen

•Bagian –bagian lift dan pemasangan


• Kuat, tidak cacat, aman dan
memnhuni syarat K3

129
MESIN DAN KAMAR MESIN

-Sesuai SNI yang berlaku


-Rem membuka dengan magnet
listrik dan dapat berhenti
otomatis pad asaat arus listrik
putus.
-Mesin harus dilengkapi dengan
rem yang bekerja dengan
tenaga pegas
130
MESIN DAN KAMAR MESIN
- Bangunan kamar kuat, bebas air, tahan api min 1 jam
- Luas kamar mesin ruang luncur min 1,5 x luas ruang
luncur dan tinggi min 2,2 m kec. Lift perumahan atau
rumah tinggal.
- Cukup penerangan dan ventilasi
- Dilengkapi jalan masuk dengan membuka ke arah luar
(0,7 x 2 m)dan dapat terkunci, tahan api ( 1 jam)
- Terdapat mesin, alat pengendali kerja dan hubung bagi
listrik
- Tersedia APAR min Kapasitas 5 kg.

131
TALI BAJA DAN TEROMOL
- Tali baja harus kuat, luwes, tidak boleh ada sambungan,
semua utas tali seragam dari satu sumber yang sama
- Tali baja harus mempunyai angka Faktor keamanan
untuk kecepatan lift
- 20 – 59 m/menit ----- 8 x kapasitas angkut
- 59 - 90 m/menit ----- 9,5 x kapasitas angkut
- 105 – 180 m/menit ----- 10,5 x kapasitas angkut
- 210 – 300 m/menit ----- 11,5 x kapasitas angkut
- 300 atau lebih ------ 12 x kapasitas angkut
- Garis tengah tali baja penarik min 10 mm
- Tali baja tidak boleh terbuat dari rantai
- Lift tarikan gulung min mempunyai 2 tali baja
penggerak
- Lift Gesek min mempunyai 3 tali baja penarik.
132
TALI BAJA DAN TEROMOL
-Teromol harus diberi alur
-Perbandingan antara garis tengah teromol dan tali baja
-Lift penumpang atau barang = 40 : 1
-Lift pelayan = 40 : 1
-Governor = 25 : 1

133
CONVEYER
Bab IV –Per 05/M/85 Pita Tranport

DD PNK3 134
134
ESCALATOR

135 1/9/2019 created by PNK3


135
A. Penyebab Kecelakaan
Karena Kerusakkan Eskalator
1. Kerusakkan Eskalator bisa
menyebabkan
a. Terjepit diantara 2 anak
tangga.
b. Terjepit antara anak tangga dan
skirt guard.
c. Terjepit antara anak tangga
dengan plat landas.
d. Terjepit Celah Inlet Hand Rail.

136 1/9/2019 created by PNK3


136
B. Pencegahan.
Pengahan
kecelakaan Karena
Kerusakkan :
- Lakukan Pemerik-
saan harian.

137 1/9/2019 created by PNK3


137
GOVERNOR DAN PERLENGKAPAN
PENGAMAN

- lift harus dilengkapi dengan alat untuk memicu atau mengatur


bekerjanya rem pengaman (governor), yang bekerja jika
-Kecepatan lift sampai 42 m/menit. Kec. Governor 50 %
lebih besar,
-Kec. 42-90 m/menit, Kec. Governor 40 % lebih besar
-Kec. 90 – 120 m/menit , Kec. 35 % lebih besar
-Kec. Lebih 120 m/menit, kec. 30 % lebih besar
- Governor lift yang berkecepatan 60 m/menit lebih, harus
dilengkapi saklar pemutus arus ke mesin sesaat sebelum
governor bekerja.
- Dilengkapi rem pengaman yang dapat menghentikan kereta
jika terjadi kecepatan lebih atau goncangan atau tali baja
penarik putus. 138
INSTALASI LISTRIK PADA INSTALASI LIFT

-Sesuai dengan SNI –0225-2000 (PUIL 2000)


-Rangkaian, pengaman dan pelayanan lift harus sesuai
dengan gambar rencana
-Daya harus diambil dari sisi incoming PHButama
rangkaian listrik
-Dipasang interkoneksi dengan sistem alarm, jika ada
gangguan listrik/kebakaran dapat beroperasi lift kebakaran
(bergerak ke posisi terbawah dan berhenti dengan pintu
terbuka)

139
PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

- Setiap lift sebelum digunakan harus dilakukan


pemeriksaan dan pengujian
- Setiap lift harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian
secara berkala 1 (satu) tahun sekali.
- Pemeriksaan dapat dilakukan oleh pegawai pengawas
atau Ahli K3

PENGAWASAN
- Pelaksanaan pengawasan terhadap syarat K3 lift dilakukan oleh
Pegawai Pengawas atau AHLI K3
140
Inspeksi K3

Pelaksanaan inspeksi oleh operator


• Dilakukan oleh setiap karyawan pada
area kerjanya masing-masing
• Hal yang harus di inspeksi adalah
kondisi lingkungan, keadaan
peralatan mesin, metode kerja
• Dilakukan seseringnya agar kondisi
bahaya tidak muncul,

141
Pembukaan Rem Motor Secara Manual

Pintu Car

Door Cam

Roller Pembuka Pintu

Pintu Luar
142
Beban nominal eskalator pada kecepatan 0.5 m/s atau 180 m/jam
dan sudut kemiringan 30
Escalator
lebar step
Kapasitas teoritis
Beban/kapasitas nominal
% kapasitas teoritis
600 mm
800 mm
1000 mm
5100 P/j
6800 P/j
8160 P/j
2040 orang/jam
3060 orang/jam
4080 orang/jam
40%
45%
50%

143
SEKIAN TERIMA KASIH
◼ WASSALAMUALAIKUM W.W

144
Aplikasi Pre Test

Persyaratan K3 untuk
Peralatan Alat Ukur Listrik

Jenis alat ukur


Teori Dasar
dan fungsinya
145
Pre Test
No. Pertanyaan Jawaban
Benar (B)
atau
Salah (S)
1. Untuk mengukur tahanan isolasi peralatan listrik adalah Earth
Tester
2. Kemampuan Alat Ukur untuk memberikan respon terhadap
perubahan terkecil dari nilai yang diukur adalah Resulusi

3. Penyimpangan variabel yang diukur terhadap harga


sebenarnya disebut dengan Error
4. Kelas alat ukur yang dipergunakan pada peralatan panel
listrik adalah alat ukur dengan allat ukur o,5
5. Clam on atau yang dikenal dengan Tang Amper, digunakan
untuk mengukur besaran listrik tegangan

146
Persyaratan K3 untuk
Peralatan Alat Ukur Listrik

Oleh:

depnakertrans

147
PENDAHULUAN
Alat Ukur Listrik adalah instrumen yang
digunakan untuk menunjukan nilai besaran
elektrik dari suatu sistem tenaga listrik. (Arus,
Tegangan, Daya, Frekuensi, Beda Fasa, dll).

Pengukuran Listrik adalah upaya untuk


menentukan nilai besaran-besaran listrik pada
suatu sistem jaringan tenaga listrik.

148
149
FAKTOR-FAKTOR ALAT UKUR YANG
MEMPENGARUHI HASIL PENGUKURAN
1. Ketelitian (Accuracy), menunjukan kemampuan Alat
Ukur dalam mendapatkan harga yang mendekati
harga sebenarnya.
2. Ketepatan (Prececion), menunjukan tingkat
keberhasilan Alat Ukur dari suatu sistem pengukuran.
3. Sensitivitas (Sensitivity), Menggambarkan
perbandingan antara harga pengukuran dengan
besaran responnya.
4. Resolusi (Resolution), Kemampuan Alat Ukur untuk
memberikan respon terhadap perubahan terkecil dari
nilai yang diukur.
5. Kesalahan (Error), Penyimpangan variabel yang
diukur terhadap harga sebenarnya.

150
PROSEDUR PENGUKURAN

1. Melakukan pengukuran berulang-ulang


dengan Alat Ukur yang sama.
2. Melakukan pengukuran yang sama
dengan menggunakan beberapa Alat
Ukur yang berbeda.
3. Menguasai teknik lebih lanjut teknik
pengukuran.

151
TEORI KESALAHAN ALAT UKUR
Kesalahan dari suatu Alat Ukur dinyatakan
dengan rumus

M–T=Є

T : Menyatakan harga sebenarnya dari


besaran yang diukur
M : Harga hasil pengukuran

Є/T : Kesalahan Relativ (Rasio Kesalahan)


T – M = α disebut Koreksi, yaitu perbedaan dari
harga ukur M dengan harga sebenarnya.

152
Contoh

Arus dengan harga sebenarnya 25 A, diukur


dengan Alat Ukur Amperemeter
mendapatkan harga ukur 24,3 A.
Kesalahan, Koreksi dari Alat Ukur
Amperemeter adalah -0,7 A, 0,7 A.

153
KLASIFIKASI KELAS ALAT UKUR
Menurut standard IEC No 13 B-23 ada 8 Kelas Alat Ukur.
Kelas 0,05, 0,1, 0,2 Alat Ukur dengan ketelitian
yang tinggi digunakan pada laboratorium.

Kelas 0,5 Alat Ukur yang mempunyai ketelitian


lebih presisi dari kelas 0,2 (Alat Ukur Portable).

kelas 1,0 Alat Ukur yang mempunyai presisi


lebih rendah dari Alat Ukur kelas 0,5 (Panel
Besar).

Kelas 1,5 , 2,5 atau 5 Alat Ukur dipergunakan


pada panel-panel dimana faktor ketelitian tidak
begitu penting.
154
FAKTOR KESALAHAN DARI
ALAT UKUR
1. Medan Magnet Luar
2. Temperatur Lingkungan
3. Pemanasan sendiri
4. Pergeseran dari titik Nol
5. Gesekan
6. Umur
7. Letak dari Alat Ukur

155
KLASIFIKASI ALAT UKUR
LISTRIK

Alat ukur listrik yang


beroperasi dengan
sistem pengukuran besi
putar. Meter ini dapat
digunakan untuk
mengukur Arus dan
tegangan searah (dc),
arus dan tegangan
bolak-balik (ac) dengan
frekuensi 15-100 Hz
156
Alat ukur listrik beroperasi
dengan sistem pengukuran
kumparan putar. Meter ini
digunakan untuk
mengukur arus dan
tegangan DC. Alat ukur ini
memiliki range skala yang
linier

157
Instrumen ini memiliki
konstruksi yang sama dengan
dengan kumparan putar
biasa, namun dengan
penambahan komponen
penyearah untuk pengukuran
besaran arus bolak-balik(ac).
Alat ini digunakan untuk
mengukur arus dan tegangan
dc, arus dan tegangan ac.

158
Alat ini digunakan
untuk mengukur
Frekuensi, sudut
fasa.
Alat ini dilengkapi
dengan converter.

159
Alat ukur ini beroperasi
dengan sistem pengukuran
ekspansi spiral bimetal.
Alat ukur jenis ini
digunakan untuk
mengukur besar dc dan ac
hingga 2000 Hz.

160
Alat ukur ini beroperasi
dengan sistem 2 belitan;
stator dan rotor.
Digunakan untuk
pengukuran besaran AC.

161
Alat ukur ini
dikonstruksi dengan 2
buah kumparan,
kumparan arus dan
kumparan tegangan.

162
Alat ukur ini beroperasi
dengan prinsip induksi.
Alat ini digunakan untuk
pengukuran besaran
arus bolak-balik satu fasa
maupun tiga fasa.

163
ALAT UKUR LISTRIK BERDASARKAN
JENIS BESARAN LISTRIK YANG DIUKUR

❑ Ampere Meter
❑ Volt Meter
❑ Cos Phi Meter
❑ Frekuensi Meter
❑ WH Meter
❑ Insulation Tester (Mega Ohm Meter)
❑ Earth Resistansi Meter

164
Contoh aplikasi simbol pada alat ukur Analog

165
MOV & Gas Arrester (MGA)
Tester

166
Telecommunication Line
Protectors (TLP) Tester

167
Earth Resitance Tester

168
PERALATAN BANTU UKUR

➢ POTENSIAL TRANSFORMATOR
(PT)
➢ CURRENT TRANSFORMER (CT)
➢ SHUNT RESISTOR
➢ SELEKTOR-AMP SWITCH
➢ SELEKTOR VOLT SWITCH

169
SKALA ALAT UKUR
(contoh)

170
Diagram Pengawatan
Amper Meter Dengan CT

171
Diagram Pengawatan
Volt Meter Langsung

172
Diagram Pengawatan
Volt Meter Dengan CT

173
Diagram Pengawatan
KWH Meter 1 Fasa

174
Diagram Pengawatan
KWH Meter 3 Fasa

175
Diagram Pengawatan
Earth Resistance Tester

176
SELESAI

177

Anda mungkin juga menyukai