Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Dalam proses metalurgi mineral yang akan diproses akan melewati proses

pra-olahan. Bijih akan diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan yang
dibutuhkan pada proses berikutnya. Pengaturan ini baik secara ukuran maupun
peningkatan kadar dari logam berharga itu sendiri pengaturan ini baik secara
ukuran maupun peningkatan kadar dari logam berharga itu sendiri. Untuk
peningkatan kadar mineral berharga pada bahan galian makan material harus
melewati serangkaian proses benefisiasi. Proses benefesiasi terdiri dari proses
kominusi (crushing da n grinding), sizing (pengklasifikasian material berdasarkan
ukuran) konsentrasi (pemisahan mineral berharga dari pengotornya), dan
dewatering (pengurangan kadar air dalam material.
Kominusi adalah proses mereduksi ukuran butir atau proses meliberasi
bijih. Yang dimaksud dengan proses meliberasi bijih adalah proses melepaskan
bijih tersebut dari ikatnnya yang merupakan gangue mineral dengan
menggunakan alat crusher atau grinding mill. Kominusi terbagi dalam 3 tahap,
yaitu primary crushing, secondary crushing dan fine crushing. Salah satu alatnya
adalah Rod mill yang merupakan penggerus berputar yang menggunakan batang
sebagai media gerus, Digunakan untuk menggerus bijih, batu bara/kokas, dan
material lain untuk penggunaan kering dan basah. Tanpa mengalami proses pra
olahan, bongkahan bongkahan bijih yang merupakan hasil penambangan tidak
mungkin dapat langsung digunakan dalam proses metalurgi ekstraksi. Jika hal itu
dilakukan maka efisiensi dari proses metalurgi ekstraksi itu sendiri akan rendah
bahkan menyebabkan kerugian yang cukup besar.
1.2

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah mengetahui pengaruh parameter dan

jumlah media gerus pada hasil produk grinding dari proses Rod Mill.

1.3

Batasan Masalah
Dalam percobaan jigging concentrator ini batasan masalahnya adalah

waktu dan media penggerus sebagai variabel bebas dan variable terikatnya hasil
atau ukuran dari produk grinding.
1.4

Sistematika Penulisan
Laporan praktikum ini disusun dengan sistematika penulisan yang

tentunya sesuai dengan peraturan dan ketentuan dari tim laboratorium metalurgi.
Isi laporan ini terdiri dari lima bab. Bab I berisikan pendahuluan yang
didalamnya terdapat latar belakang penulis melakukan percobaan, tujuan dari
percobaan, batasan masalah yang dibahas dalam pengerjaan laporan ini serta
uraian sistematika penulisan laporan. Bab II berisikan mengenai teori-teori dasar
yang berkaitan dengan percobaan yang dilakukan oleh penulis. Bab III berisikan
mengenai metode percobaan yang didalamnya menguraikan diagram alir dari
prosedur percobaan, alat-alat dan bahan yang digunakan, serta penjelasan
prosedur percobaannya mengenai langkah-langkah yang dilakukan selama
percobaan. Bab IV berisikan data percobaan serta pembahasan yang didalamnya
terdapat tabel dan grafik hasil percobaan dari data-data yang sudah diperoleh.
Bab V merupakan bab terakhir yang berisikan mengenai kesimpulan dari datadata percobaan yang penulis dapatkan. Laporan ini juga dilengkapi dengan daftar
pustaka serta lampiran-lampiran. Lampiran A merupakan contoh perhitungan,
lampiran B merupakan jawaban pertanyaan dan tugas khusus, lampiran C
merupakan gambar alat dan bahan, serta lampiran D adalah blanko percobaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pasir Besi dan Pasir Kuarsa


Endapan pasir besi terjadi karena adanya proses pelapukan dari batuan

andesit. Selama proses transportasi hasil pelapukan batuan andesit tersebut akan
mengalami prpses perubahan bentuk dan ukuran (degradasi), dari partikel
berukuran besar menjadi partikel berukuran halus. Selama proses pelapukan
batuan andesit mengalami erosi sampai terbawa ke sungai dengan bantuan air dan
sampai terbawa ke sungai dengan bantuan air dan dari sungai terus terbawa
sampai kelaut, setelah dilaut, karena pengaruh dari gelombang air lait maka
partikel-partikel tersebut akan dihempaskan kembali di sepanjang pantai sehingga
terbentuklah endapan pasir besi. Secara umum pasir besi teridiri dari mineral opak
yang tercampur dengan butiran butiran dari mineral logam seperti kuarsa,
feldspar, amphibol, piroksen, biotite dan tourmaline. Mineral tersebut dari
magnetite, ilmenite, limonite dan hematite. Pasir besi mengandung mineral besi
utama yaitu titanomagnetite dengan sedikit magnetite dan hematite yang disertai
dengan mineral pengotor yang memiliki unsur dominan Alumunium, silikon dan
vanadium. (Al2O3, SiO2 dan V2O5). Pengotor lainnya yang biasa terdapat dalam
pasir besi adalah fosfor dan sulfur. Sifat fisis pasir besi berupa serbuk atau pasir
yang berwarna hitam, semakin hitam warnanya berarti semakin bagus kualitas
dari pasir besi tersebut. Mineral besi utama dalam pasir besi memiliki sifat
kemagnetan yang tinggi. Sedangkan mineral pengotornya atau gangue memiliki
sifat kemagnetan yang rendah. Sehingga mineral besi dan mineral gangue
memiliki selisih kemagnetan yang tinggi.
Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silika
(SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses
pengendapan. Pada umumnya,senyawa pengotor tersebut terdiri atas oksida besi,
oksida kalsium, oksida alkali, oksida magnesium, lempung, dan zat organik hasil

pelapukan sisa-sisa hewan, serta tumbuhan. Di alam pasir kuarsa ditemukan


dengan kemurnian yang bervariasi bergantung kepada proses terbentuknya,
disamping adanya material lain yang ikut selama proses pengendapan.
Material pengotor tersebut bersifat sebagai pemberi warna pada pasir
kuarsa, dan dari warna tersebut dapat diperkirakan derajat kemurniannya. Putih
bening atau warna lain bergantung kepada senyawa pengotornya, misalnya warna
kuning mengandung Fe-oksida, warna merahmengandung Cu-Oksida. Pada
umumnya, di alam pasir kuarsa ditemukan dengan ukuran butir bervariasi dalam
distribusi yang melebar, mulai dari fraksi halus (0.06 mm) sampai dengan ukuran
kasar (2 mm).
2.2

Pengolahan Mineral
Merupakan

proses

pengolahan

dengan

memanfaatkan

perbedaan-

perbedaan sifat fisik mineral untuk memperoleh produk mineral yang


bersangkutan. Pengolahan bahan galian (Ore Dressing) atau mineral processing
pada umumnya dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu : preparasi, konsentrasi,
dan dewatering.
1. Preparasi
Preparasi

merupakan

operasi

atau

tahap

persiapan

sebelum

dilakukannya konsentrasi, yaitu usaha untuk meliberasi/ membebaskan


bijih antara mineral berharga dengan mineral pengotornya dengan jalan
mereduksi / memperkecil ukuran butir. Tujuannya agar sifat mineralnya
tampak murni dan tidak terikat lagi dengan mineral pengotornya. Pada
preparasi sering dilakukan pengendalian /pengelompokan ukuran butir
material (sizing) dengan menggunakan pengayak (screen) maupun
classifier.
2. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan suatu operasi untuk memisahkan antara
mineral yang berharga dengan mineral tak berharga / pengotornya (gangue
mineral) dalam sustu bijih / material yang memanfaatkan sifat fisik atau
sifat kimia-fisika permukaan mineral yang akan dipisahkan. Sifat fisik

yang sering digunakan sebagai dasar pemisahan adalah berat jenis,


kemagnetan, sifat konduktor dan sifat permukaannya.
3. Dewatering
Adalah operasi pemisahan antara cairan dengan padatan yang pada
umumnya melalui 3 tahapan, yaitu thickening yang merupakan tahapan
pertama dari dewatering dengan mendasarkan atas kecepatan jatuh
material pada media, sehingga solid factor mencapai =1(%solid=50%).
Tahapan kedua yaitu filtrasi yang merupakan operasi pemisahan antara
cairan dengan padatan menggunakan saringan (filter) yang terbuat dari
kain, hingga diperoleh solid factor = 4 (%solid = 80 %). Dan tahapan
terakhir dewatering yaitu drying yang merupakan operasi pemanasan
material sampai 110oC, sehingga didapat %solid = 100 %.
.
2.3

Gravity Concentration
Gravity concentration merupakan salah satu proses konsentrasi yang

bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dan mineral tak berharga


berdasarkan perbedaan massa jenis dari partikel bijih dan partikel pengotor.
Metode gravity concentration memisahkan mineral dari perbedaan berat jenis
oleh gerakan relative sebagai respon dari gravitasi dan satu atau beberapa gaya
lainnya. Partikel-partikel yang mempunyai berat jenis yang lebih besar akan jatuh
dengan kecepatan yang lebih cepat daripada partikel-partikel yang kecil.
Pemisahan mineral ini berdasarkan berat jenisnya dalam suatu medium fluida,
dengan menggunakan perbedaan kecepatan pengendapan.
Operasi konsentrasi atau pemisahan satu mineral atau lebih dengan
mineral lainnya dengan memanfaatkan perbedaan massa jenis dari mineralmineral yang akan dipisah. Mineral-mineral yang terdapat dalam bijih akan
merespon gaya gravitasi dari bumi sesuai dengan massa jenis yang dimilikinya.
Mineral-mineral yang memiliki nilai massa jenis yang tinggi disebut dengan
mineral berat, sedangkan mineral-mineral yang memiliki nilai massa jenis yang
rendah disebut dengan mineral ringan. Media yang digunakan pada gravity
separation adalah fluida, yaitu air dan udara. Biasanya yang digunakan adalah air.

Dalam fluida tersebut partikel-partikel mineral bergerak sesuai dengan massa jenis
dan ukurannya. Berdasarkan gerakan fluida, ada tiga cara pemisahan secara
gravitasi:
1. Fluida tenang, contoh dense medium separation atau heavy medium
separation.
2. Aliran fluida horisontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral
concentration.
3. Aliran fluida vertikal, contoh jengkek (jig)
Konsentrasi gravitasi pada mineral-mineral yang mempunyai perbedaan
massa jenis yang mecolok sehingga terjadi kelompok mineral dengan massa jenis
tinggi dan kelompok mineral dengan massa jenis rendah. Dan salah satu dari
kelompok mineral tersebut akan menjadi konsentrat.
Proses gravity concentration merupakan proses yang terjamin untuk
mengkonsentrasikan mineral. Keunggulannya adalah memiliki efisiensi yang
tinggi dan biaya yang relatif murah. Gravity concentration biasanya digunakan
untuk memisahkan bijih titanium, bijih tungsten, bijih mangan, bijih galena, bijih
timbal, celestite, barite, dan lain-lain. Bila jumlah partikel (mineral) di dalam
fluida relatif sedikit, maka akan terjadi pengendapan bebas (free settling). Tetapi
bila jumlah partikel banyak gerakannya akan terhambat sehingga terbentuk
stratifikasi yang terdiri dari 3 (tiga) tahap sebagai berikut:
1. Hindered settling classification, klasifikasi pengendapannya terhalang.
2. Differential acceleration pada awal pengendapan artinya partikel yang
berat mengendap lebih dahulu.
3. Consolidation trickling pada akhir pengendapan partikel-partikel kecil
berusaha mengatur diri di antara partikel-partikel besar sesuai dengan
berat jenisnya.
Produk dari proses konsentrasi gravitasi ada 3 (tiga), yaitu.
1. Konsentrat (concentrate) yang terdiri dari kumpulan mineral berharga
dengan kadar tinggi.
2. Amang (middling) yaitu konsentrat yang masih kotor.
3. Ampas (tailing) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang harus
dibuang.

2.4

Jigging Concentrator
Ini adalah metode tertua dari gravity concentration. Jig biasanya

digunakan untuk memperoleh logam-logam berat seperti: emas, bijih besi,


batubara. Pemisahan jenis-jenis mineral menurut perbedaan berat jenis (BJ). Tipetipe jig adalah sebagai berikut.
1. Hartz Jig , jenis yang pertama kali dipakai
2. Denver jig , untuk Pemisahan logam-logam berat
3. Baum Jig , untuk memisahkan partikel partikel ringan seperti batubara

Gambar 2.1 Tiga Mekanisme Kerja Jigging


Prinsip kerja jig dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Perbedaan percepatan (differential acceleration), dalam waktu yang
relatif singkat partikel dengan berat jenis lebih besar akan mempunyai
jarak tempuh yang lebih besar dari pada partikel yang berat jenisnya
lebih kecil.
2. Hindered settling: bukan pengendapan bebas dari satu partikel,
melainkan dari sekelompok partikel yang menjadi satu.
3. Interstitial trickling: partikel kecil dapat lolos di antara partikel besar.

Pada jig percepatan tidak tergantung pada ukuran feed. Percepatan


tergantung pada berat jenis partikel feed dan fluida yang dipakai. Ukuran dapat
mempengaruhi pemisahan partikel. Untuk memisahkan partikel yang kecil berat
dengan partikel yang besar ringan, maka dilakukan siklus jigging yang pendek.

Gambar 2.2 Skematik Siklus Proses Pemisahan dengan Jigging (A) Pulsion, (B)

Differential acceleration, (C) Hindered settling, (D) Interstitial trickling

Gambar 2.3 Mekanisme Jigging Concentrator


Berikut adalah cara kerja dari jig concentrator.

1. Umpan masuk ke saringan.Pemisahan partikel yang berdasarkan


perbedaan berat jenis dibantu dengan pulsed water yaitu pergerakan air
akibat tekanan dan hisapan secara berfluktuatif.
2. Partikel-partikel ringan terbawa arus ke atas dan terbuang sebagai
tailings.
3. Partikel-partikel berat terus menembus penyaringan (ragging) karena
specific gravity-nya yang besar ke arah bawah.

BAB III

10

METODE PERCOBAAN

3.1

Diagram Alir Percobaan


Pada percobaan jigging concentrator, dilakukan prosedur percobaan yang

dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini.


Menyiapkan pasir kuarsa dan pasir besi

Mengatur alat jigging concentrator sesuai dengan voltase


motor jig dan debit air yang ditentukan

Mengisi tangki jig dengan air penuh

Menghidupkan jig sebelum umpan


dimasukan
Menghitung stroke permenit saat sebelum proses pengumpanan berlangsung
Memasukan umpan kedalam pulp
Mematikan motor jig setelah proses selesai
Mengeluarkan konsentrat dari bawah tangki
Mengeluarkan tailing dari penampung
Mengeringkan konsentrat dan tailing
Menimbang massa konsentrat dan tailing

11

Literatur

Data Pengamatan

Pembahasan

Kesimpulan
Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan Jigging Concentration
3.2

Alat dan Bahan


3.2.1

Alat yang digunakan


1.
2.
3.
4.
5.

3.2.2

Jig Concentrator
Neraca
Oven pemanas
Penjepit
Tatakan

Bahan yang digunakan


1. Pasir besi
2. Pasir kuarsa
3. Air

3.2

Prosedur Percobaan
1. Menimbang pasir besi dan pasir kwarsa dengan masing-masing massanya
30 gram dan 70 gram sebanyak 3 sampel.
2. Mempersiapkan alat jig sesuaikan voltase dan debit airnya.
3. Mengsisi tangki jig dengan air sampai penuh.
4. Menghidupkan motor jig
5. Memasukkan umpan kedalam pulp.
6. Mematikan motor jig setelah proses selesai.
7. Mengeluarkan konsentrat dari botol.
8. Mengeluarkan tailing dari wadah.
9. Mengeringkan konsentrat dan tailing di dalam oven.
10. Menimbang beratnya masing-masing dengan menggunakan neraca teknis.
11. Mengulangi prosedur diatas.
12. Melakukan analisa kadar Fe yang tertampung (konsentrat).

12

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Percobaan
Setelah dilakukan percobaan jigging concentration maka didapatkan data

yang diperoleh dari hasil percobaan sebagai berikut.


Tabel 4.1 Data Percobaan Jigging Concentration

13

Voltase Stroke
(Volt)
(spm)

4.2

NK

(%)

Tailling (g)

Konsentrat (g)

Pasir

Pasir

Pasir

Pasir

besi

kwarsa

besi

kwarsa

23

200

30.61

0.327

1.23

8.58

15.8

24.97

24

230

25.56

0.0391

2.11

14.36

11.04

12.8

25

245

33.01

0.63

0.63

5.97

14.4

17.03

Pembahasan
Konsentrasi merupakan proses pemisahan mineral berharga dari mineral

pengotornya berdasarkan sifat fisik masing-masing mineral. Konsentrasi


berdarkan berat jenis atau densitas material disebut konsentrasi graviti. Salah satu
konsentrasi graviti adalah dengan menggunakan jigging concentrator. Umpan
terdiri dari pasi besi dan pasir kuarsa dengan pasir besi sebagai konsentrat dan
pasir kuarsa sebagai mineral pengotornya. Sifat fisi pasir besi yang mecolok
dalam percobaan ini yaitu berwarna hitam mengkilap dan mempunyai sifat
kemagnetan yang baik dan massa jenis atau densitas yang lebih besar dari pasir
kuarsa, dan pasir kuarsa mempunyai warna yang variatif seperti warna putih, tidak
berwarna, kuning dan merah. Warna putih menunjukan kemurnian pasir kuarsa
sedangkan warna kuning mengandung Fe-oksida, warna merah mengandung CuOksida.
Persiapan pertama yaitu menyiapkan pasir besi dan pasir kuarsa. Pasir besi
ditimbang sebanyak 20 gram dan pasir kuarsa ditimbang sebanyak 30 gram.
Sebelum melakukan penimbangan pada pasir kuarsa, dilakukan pemisahan pasir
kuarsa dari pasir besi dengan menggunakan magnet. Hal ini bertujuan untuk
mendapatkan pasir kuarsa murni tanpa tercampur dengan pasir besi untuk proses
jigging yang lebih akurat. Setelah melakukan penimbangan, pasir besi dan pasir
kuarsa tersebut dicampurkan sehingga didapatkan sampel campuran pasir besi dan
pasir kuarsa sebanyak 50 gram. Dalam 50 gram sampel tersebut dapat diketahui
bahwa pasir besi memiliki persen massa sebanyak 40%.

14

Kemudian alat jigging dinyalakan dan diatur voltase-nya dan debit airnya
untuk sampel pertama dengan voltase 23 volt, sampel kedua 24 volt, dan sampel
25 volt. Sebelum memasukan umpan, dilakukan penghitungan kecepatan stroke
secara manual. Dan umpan sampel satu dilakukan proses konsentrasi dan
didapatkan konsentrat dan pengotor yang terpisah. Konsentrat mengendap
dibagian bawah penampung konsentrat dan pengotor terpisah saat proses jigging
dilakukan. konsentrat dan pengotor kemudian dimasukan kedalam oven pemanas.
Hal ini bertujuan mengeringkan konsentrat dan tailing karna proses jigging
dilakukan pada kondisi basah menggunakan air. Setelah mengeringkan konsentrat
dan tailing, dilakukan pemisahan pasir besi dan pasir kuarsa pada konsentrat dan
tailing dengan menggunakan magnet. Dan menimbang pasir kuarsa dan pasir besi
pada masing-masing konsentrat dan pengotor.
Pada sampel satu dengan voltase 23 didapatkan massa pasir besi dan pasir
kuarsa pada konsentrat sebanyak 15.80 gram dan 24.97 gram sedangkan pada
tailing 1.23 gram dan 8.58 gram. Pada sampel dua dengan voltase 24 didapatkan
massa pasir besi dan pasir kuarsa pada konsentrat sebanyak 11.04 gram dan 12.80
gram sedangkan pada tailing 2.11 gram dan 14.36 gram. Dan Pada sampel pada
dengan voltase 25 didapatkan massa pasir besi dan pasir kuarsa pada konsentrat
sebanyak 15.80 gram dan 24.97 gram sedangkan pada tailing 1.23 gram dan 8.58
gram. Dari data yang didapatkan dari percobaan dapat diperoleh kadar pasir besi
pada konsentrasi pada sampel satu adalah 38.75%, pada sampel dua 46.3%, dan
pada sampel tiga 45.81%. Kadar pasir besi pada umpan adalah 40% setelah
dilakukan proses konsentrasi menggunakan jigging concentrator terdapat
penurunan dan peningkatan kadar pasir besi. Pada sampel satu terjadi penurunan
kadar pasir besi. Hal ini dapat terjadi karna adanya pasir besi yang terbawa
kedalam tailing. Pada sampel dua dan tiga terjadi kenaikan kadar dari pasir besi
pada konsentrat. Kenaikan ini dapat terjadi karena lebih banyaknya pasir kuarsa
yang terpisah dan masuk kedalam tailing.

15

300
250
200

Stroke(spm)

150
100
50
0
22.5

23

23.5

24

24.5

25

25.5

Voltase(Volt)

Gambar 4.1 Grafik voltase terhadap stroke


Grafik diatas menunjukan pengaruh voltase terhadap kecepatan stroke.
Semakin tinggi tegangan maka kecepatan stroke semakin bertambah. Karna
tegangan yang diberikan berpengaruh terhadap daya kerja mesin menggerakan
stroke. Sehingga memberikan kecepatan yang yang lebih tinggi saat diberikan
tegangan yang berlebih. Kecepatan ini adalah kecepatan penekanan air sehingga
semakin cepat semakin besar pulsed water. Pulsed water yaitu pergerakan air
akibat tekanan dan hisapan secara berfluktuatif. Pulsed water ini akan
menentukan kuat arus air yang terbentuk yang akan memisahkan mineral yang
ringan yaitu pasir kuarsa dengan mineral berat yaitu pasir besi. Mineral ringan
akan terbawa arus air dari pulsed water sehingga terpisah dari mineral berat.
Sehingga pasir besi akan mengendap ke bagian dasar.

16

48
46
44
42

Kadar Pasir Besi (%)

40
38
36
34
22.5

23

23.5

24

24.5

25

25.5

Voltase (Volt)
Gambar 4.2 Grafik Voltase Terhadap Kadar Pasir besi
Pada Grafik Gambar 4.2 menunjukan pengaruh voltase yang tinggi
terhadap kadar pasir besi yang didapatkan pada konsentrat. Dengan memberikan
tegangan yang tinggi akan berpengaruh pada kecepatan stroke sehingga
mempengaruhi mekanisme proses pemisahan mineral. Yaitu mempengaruhi arus
air yang terbentuk dari pulsed water yang akan mempengaruhi banyak konsetrat
dan tailing. Peningkatan tegangan dari 24 volt ke 25 volt meningkatkan kadar
pasir besi dalam konsentrat. Tetapi setelah peningkatan tegangan ke 26 volt kadar
pasir besi sedikit menurun. Penurunan ini dapat disebabkan karna saat
memisahkan konsentrat dari air ada konsentrat yang ikut terbuang atau terbawa
air.
35
30
25
20

Recovery

15
10
5
0
190

200

210

220

Stroke (spm)

230

240

250

17

Gambar 4.3 Grafik Stroke Terhadap Recovery


Dari grafik diatas pengaruh stroke terhadap nilai recovery. Nilai recovery
akan meningkat seiring dengan meningkatnya stroke. Karna nilai recovery yang
tinggi sebanding dengan nilai konsentrat yang dihasilkan. Namun pada grafik
diatas ada penurunan dari recovery hal ini dapat dikarenakan konsentrasi yang
didapat lebih sedikit karna beberapa kesalahan yang dapat dilakukan saat
percobaan. Seperti pada saat membuang air ada konsentrat yang ikut terbuang
bersama air. Atau konsentrat belum sepenuhnya dipindahkan dari penampungan
konsentrat.

18

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dan data yang telah dibahas maka
dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Didapatkan nilai recovery sampel satu 30.61%, sampel dua 25.56%,
dan sampel tiga 33.01%
2. Semakin besar voltase akan membuat kadar mineral berharga dalam
konsentrat semakin banyak, karena mempercepat gerakan stroke
sehingga mineral berat yang berharga dan mineral ringan yang kurang
berharga mudah terpisah.
5.2

Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan praktikum korosi kalsinasi

batu kapur selanjutnya adalah:


1. Saat melakukan percobaan diharapkan lebih teliti memisahkan air
dengan konsentrat ataupun tailing.
2. Dalam penimbangan massa sampel praktikan juga harus teliti dalam
membaca neracam untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

19

DAFTAR PUSTAKA
[FT.UNTIRTA] Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Modul
Praktikum Laboratorium Metalurgi I.Cilegon: FT.UNTIRTA; 2013.
F, A. Taggart. Hand Book of Mineral Dressing, Ores and Industrial Materials.
New York: John Willie & Sons.Inc. 1927
Kelly, E.G. Introduction to Mineral Processing. New York: John Willie &
Sons.Inc. 1982.

20

Perhitungan
1. Menghitung kadar konsentrat
Rumus : k = Massa pasir besi di konsentrat (gr) x 100 %
Total massa konsentrat (gr)
a. Sampel I
k = 15.8 x 100% = 38.75%
40.77
b. Sampel II
k = 11.04 x 100% = 46.3%
23.84
c. Sampel III
k = 14.4 x 100% = 45.81%
31.43
2. Menghitung kadar feed
Rumus : f = Massa pasir besi awal (gr) x 100 %
Massa konsentrat awal (gr)
f = 20 x 100% = 40%
50
3. Menghitung Recovery
Rumus : R = K x k x 100%
Fxf
a. Sampel I
R = 40.77 x 38.75% = .30.61
50 x 40%
b. Sampel II
R = 23.84 x 46,3% = 25.56
50 x 40%
c. Sampel III
Rumus : R = 31.43 x 45.81% = 33.01
50 x 40%
4. Menghitung Nisbah Konsentrasi
Rumus : NK = 1
R
a. Sampel I
NK= 1
= 0.0327
30.61
b. Sampel II
NK = 1
25.56
c. Sampel III

= 0.039

21

NK= 1
33.01

1.

= 0.0303

Jawaban Pertanyaan
Sebutkan dan jelaskan dua macam proses jigging?
Jawab :
Dua macam proses jigging pada pemisahan ini adalah pulsion (dorongan) dan
suction (hisapan). Ketika pulsion, ragakan terdorong naik. Sehingga batuan
pada lapisan ragakan merenggang karena adanya tekanan. Rag mendorong
mineral ringan ke atas sekaligus memberi ruang kepada mineral berat untuk
mengendap ke lubang konsentrat. Pada saat suction, rag menutup kembali
sehingga mineral berat berukuran besar dan mineral ringan berukuran besar
tidak berpeluang masuk ke tangki. Rag membantu mendorong mineral berat
agar dapat menuju lubang konsentrat dengan tepat.

22

2.

Sebutkan alat (metode) untuk pemisahan mineral berdasarkan


perbedaan gravity? Jelaskan mekanismenya!(minimal 3)
Jawab:
a) Shaking Table, Mekanisme pemisahannya pada meja terdapat jalur-jalur yang
mempunyai arah menyeberangi meja secara melintang. Ketika meja diberi
goncangan, partikel ringan dan padat akan terhambat lajunya akibat friksi
sehingga tidak mudah jatuh dan sampai ke ujung meja, sedangkan partikel
besar dan ringan akan jatuh ke bagian bawah.
b) Sluice Box Mekanisme pemisahan yang terjadi dalam sluice box yaitu feed
yangsudah terliberasi sempurna dimasukkan ke dalamsluice box. Kita
pisahkan partikel-partikel yang besar terlebih dahulu. Bila ujungalat sudah
terdapat mineral berat, artinya alat sudah jenuh maka pada alat loundertersebut
dibersihkan yaitu dengan mengalirkan pembersih (wash water) dan
akanterjadi pemisahan-pemisahan antara partikel berat dan partikel ringan.
Dimanapartikel berat akan tertinggal pada bagian belakang bawah riffle atau
akanmenempel pada karpet yang disebut sebagai konsentrat.
c) Humprey Spiral, Mekanisme pemisahannya umpan memasuki saluran spiral
dalam bentuk campuran yang hampir homogen. Ketika larutan air beserta
umpan mengalir mengelilingi jalur spiral, pemisahan terjadi pada bidang
vertikal. Pemisahan biasanya terjadi sebagai hasil perpaduan dari Hindered
Settling dan Interstitial Trickling. Hasilnya adalah: partikel-partikel yang berat
akan mengalir pada daerah dengan kecepatan rendah, pada sisi dalam dari
bidang spiral, sedangkan partikel-partikel yang ringan akan mengalir pada

3.

daerah dengan kecepatan tinggi, pada sisi luar bidang spiral.


Sebutkan dan jelaskan pengelompokkan dari bijih?
Jawab:
Bijih dibedakan menjadi 4 jenis yaitu:
a. Bijih native, adalah bijih yang tidak berikatan dengan unsur lain (sendiri).
Contohnya adalah Ag, Cu;
b. Bijih sulfida, adalah bijih yang berikatan dengan sulfida. Contohnya adalah
Chalchopyrite (CuFeS2), Galena (PbS), Sphalerite (ZnS);

23

c. Bijih oksida, adalah bijih yang memiliki komposisi oksida, karbonat, silikat,
sulfat. Contohnya adalah Hematit (Fe2O3), Magnetit (Fe3O4)
4.

Jelaskan tiga mekanisme yang terjadi pada pergerakkan partikelpartikel saat proses jigging dilakukan?
Jawab:
a. Hindered settling classification, terjadi pada saat pulsion dimana material
dengan berat jenis ringan akan keluar atau terlempar sedangkan mineral
dengan berat jenis berat akan mengendap.
b. Differential acceleration, didalam jigging partikel bergerak selamaperiode
percepatan dan karena itu partikel berat akan mempunyai percepatan awal dan
kecepatan jauh lebih besar daripada partikel ringan.
c. Consolidation trickling, pada waktu akhir dari suction partikel-partikelyang
berukuran kecil tetapi berat jenisnya besar akan mempunyaikesempatan untuk
menerobos diantara partikel-partikel itu maupunmenerobos jig bed daripada
mineral ringan berat jenis kecil

5.

Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah


konsentrat (kadar Fe) yang diperoleh pada proses jigging?
Jawab:
a. Amplitudo membran atau frekuensi stroke. Bila jumlah (rpm) pukulan besar,
maka panjang langkahnya (amplitudo) lebih pendek demikian sebaliknya.
Frekuensi stroke ini akan berpengaruh kepada kecepatan aliran vertikal ke atas
dimana kecepatannya tidak boleh lebih besar dari pada kecepatan jatuh
partikel. Jika stroke terlalu cepat maka pemisahan tidak akan efektif.
b. Kecepatan aliran horizontal. Kecepatan aliran horizontal adalah kecepatan air
yang mengalir di atas lapisan bed.Fungsi kecepatan horizontal adalah untuk
membawa material ringan, baik yang berukuran besar ataupun kecil.
Kecepatan aliran horizontal ini sangat berpengaruh terhadap pengendapan
mineral

24

c. Ketebalan bed dan ukuran batu pada lapisan bed yang digunakan. Ketebalan
dan ukuran bed sangat mempengaruhi hasil pemisahan dan tergantung kepada
mineral yang akan dipisahkan.
d. Volume air tambahan (Under water). Air yang masuk adalah air yang
bercampur bersama feed dan air yang berasal dari header tank (air tambahan).
Sedangkan air yang keluar adalah air yang keluar bersama-sama dengan
tailing dan air yang keluar melalui spigot bersama konsentrat.
e. Ukuran lubang spigot. Apabila ukuran lubang spigot terlalu besar, maka
volume air yang keluar melalui lubang spigot akan menjadi besar. Untuk
menjaga keseimbangan air didalam jig, maka ukuran lubang spigot diusahakan
sekecil mungkin.
f. Feeding dan proses padatan. Penyebaran

feed yang tidak merata

mengakibatkan terjadinya penumpukan dan kelebihan beban yang terlalu


besar yang diterima oleh permukaan jig. Feed yang terlalu kental akan
menyebabkan penumpukan dan kecepatan aliran kecil, sebaliknya feed yang
terlalu encer akan menyebabkan kecepatan aliran yang besar sehingga banyak
mineral berharga yang hilang sebagai tailing.
g. Motor jig. Motor jig merupakan motor penggerak stroke yang menyebabkan
terjadinya pulsion dan suction pada proses pemisahan. Penentuan daya atau
HP motor yang digunakan berdasarkan beban yang akan didorong pada saat
pulsion, jumlah putaran gear box dan panjang pukul motor yang digunakan.
h. Jig screen. Jig screen merupakan saringan yang terbuat dari kawat (ketebalan
kawat 1,5 mm) yang dipasang diantara rooster bawah dan rooster atas. Posisi
pemasangan jig screen berpengaruh terhadap jumlah dan luas lubang bukaan
jig screen tersebut.
i. Kecepatan aliran didalam jig tank. Apabila kecepatan aliran vertikal keatas
akibat pulsion lebih besar dari kecepatan jatuh butir mineral berharga, maka
mineral berharga tidak memiliki kesempatan untuk turun mengendap sebagai
konsentrat. Sebaliknya jika kecepatan aliran vertikal ke atas terlalu kecil
maka kadar konsentrat akan menjadi rendah.

25

j. Kemiringan jig. Kemiringan jig berpengaruh terhadap kecepatan aliran


horizontal pada kondisi yang stabil, dengan perbandingan kemiringan jig 1:12,
jika kemiringan jig ditambah satu derajat maka kecepatan akan bertambah dua
belas kali dari kecepatan pada posisi jig yang datar.
k. Voltase yang digunakan mempengaruhi banyaknya stroke per minute.
6.

Apa yang dimaksud dengan rag dan apa kegunaannya dalam proses
jigging!
Jawab:
Rag adalah batuan berbentuk kerikil yang terletak di atas screening yang
memiliki berat jenis diantara mineral berat dan mineral ringan yang ingin
dipisahkan.Fungsi rag adalah:
a. Meratakan dorongan ke atas selama pulsion, sekaligus mencegah dorongan
sebagian.
b. Sebagai pengatur atau pengendali dan mencegah mineral ringan lewat menuju
konsentrat.
c. Pada saat pulsion, lapisan ditambah mineral akan membentuk suspense
sehingga membuat kondisi hindered settling, dengan perbandingannya yang
sangat besar.
d. Mencegah lolosnya mineral ringan.

7.

Jelaskan mekanisme terjadinya proses pemisahan mineral dengan


metode jig dengan tepat!
Jawab:
Mekanisme pemisahan mineral pada jig yaitu memasukkan feed kedalam pulp,
feed yang masuk akan langsung mengalir oleh air yang akan membawa feed
tersebut ke jig bed atau rag. Apabila terjadi pulsion,maka bed akan terdorong
naik. Sehingga batuan pada lapisan bed akan merenggang karena adanya
tekanan. Mineral berat akan menerobos bed masuk ke tangki sebagai
konsentrat sedangkan mineral ringan akan terbawa oleh aliran horizontal
diatas permukaan bed dan akan terbuang sebagai tailing. Pada saat terjadi
suction, bed menutup kembali sehingga mineral berat berukuran besar dan

26

mineral ringan berukuran besar tidak berpeluang masuk ke tangki. Jadi,


mineral berat berukuran besar akan mengendap diatas bed untuk menunggu
kesempatan pulsion berikutnya, sedangkan mineral ringan berukuran besar
akan terbawa aliran arus horizontal. Jigging mengalami proses up-stroke and
down-stroke yakni proses naik turunnya piston atau eksentrik untuk memompa
hutch water yang ada didalam tangki jig.
8.

Tentukan nilai spm berdasarkan percobaan yang telah anda lakukan!


Jawab:
Nilai spm dapat ditentukan dengan cara menghitung tiap kenaikan dan
penurunan (satu kali pulsion dan satu kali suction) dari jig bed selama 1 menit.
Pada percobaan ini dengan menggunakan tegangan 22 volt didapat nilai spm
sebesar 189, pada tegangan 22,5 volt didapatkan spm sebesar 230, dan pada
tegangan 23 volt didapatkan spm sebesar 246.

9.

Jelaskan pengaruh frekuensi stroke dan debit air terhadap konsentrat


yang diperoleh!
Jawab:
Frekuensi stroke akan berpengaruh kepada kecepatan aliran vertikal ke atas
dimana kecepatannya tidak boleh lebih besar dari pada kecepatan jatuh
partikel. Apabila hal ini terjadi maka akan menyebabkan kehilangan mineral
berharga yang mempunyai ukuran butir lebih kecil. Dan apabila aliran
kebawah terlalu cepat akan menyebabkan mineral kurang berharga ikut
terbawa dan mengendap dalam konsentrat.

10.

Buatlah grafik hubungan anatara spm (stoke per minute) terhadap


kadar Fe yang diperoleh pada hasil percobaan anda!
Jawab:

27

48
46
44
42
40
38
36
34

Kadar Fe (%)

Stroke
Gambar C.1 Grafik Stroke Terhadap Kadar Fe
Tugas Khusus
1. Kriteria dan Rag yang dipakai pada alat jigging concentrator
Jawab:
Adapun agar mendapatkan hasil yang lebih baik rag yang digunakanharus
memiliki

berat

jenis

diantara

mineral

ringan

dan

berat

yang

akandipisahkan. Jika Ukuran rag yang besar akan memberikan celah yang
besar,sehingga
bergerak

mineral

turun

dan

jumlahkonsentrat.

Rag

berat
akan

lebih

bebas

menambah

yang terlalu tebal

akan menyulitkan partikel-partikel untuklolos


pada lapisan rag dan ini akan mengurangi
konsentrat. Rag yang dipakai yaitu batubara.

Gambar C.1 Jigging Separator

Gambar C.2 Neraca

28

Gambar C.3 Oven Pemanas


Kuarsa

Gambar C.4 Pasir Besi dan

29