Anda di halaman 1dari 13

MENGANALISIS MENGENAI KEBAKARAN HUTAN DI RIAU

I.

DATA

Jokowi Perintahkan Izin Perusahaan Pelaku Pembakaran Hutan Dicabut


JAKARTA Pemerintah terus berupaya mengatasi persoalan pembakaran hutan yang
menimbulkan asap. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekembalinya dari lawatannya di tiga
negara Timur Tengah telah memerintahkan Panglima TNI untuk menambah personil TNI
dalam memadamkan titik api.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mewakili Presiden Jokowi untuk memberikan
keterangan pers di Bandara Halim Perdanakusuma Selasa malam (15/9) mengatakan,
Presiden Jokowi akan memimpin langsung rapat kabinet terbatas Rabu (16/9) yang khusus
membahas masalah pembakaran hutan dan asap.
"Dalam kunjungan ke 3 negara, Presiden secara khusus tetap memantau perkembangan
yang bekaitan dengan pembakaran hutan dan asap. Besok (Rabu 16/9) akan ada ratas
yang berkaitan dengan hal ini Dan Presiden memerintahkan kapada Panglima TNI untuk
menambah pasukannya. Dan per hari ini pasukan TNI berjumlah 1059 orang," ungkap
Pramono.
Presiden Jokowi, lanjut Pramono, telah memerintahkan untuk mengambil tindakan hukum
yang tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan,
termasuk pencabutan ijin hak pengelolaan hutan yang diberikan pemerintah.
"Presiden juga sudah memerintahkan Kapolri untuk menegakkan dan memberikan sanksi
yang seberat-beratnya baik itu perorangan maupun perusahaan. Kepada perusahaan,
perusahaan itu akan di black-list izinnya. Kepada komisaris dan direksinya akan dilakukan
tindakan hukum," tutur Pramono.
Lebih lanjut Pramono menambahkan, Kepala Negara juga meminta pada Pemerintah
Daerah setempat yang daerahnya terkena bencana asap karena kebakaran hutan, agar
pelayanan kesehatan kepada warga terdampak segera ditingkatkan.
Sementara, Kepala Kepolisian Repubik Indonesia, Jenderal Badrodin Haiti mengatakan,
Polri telah menetapkan 10 perusahaan tersangka dari 132 kasus pembakaran hutan yang
terjadi di Indonesia. 10 perusahaan di Indonesia tersebut berada di Provinsi Sumatera
Selatan, Kalimantan Barat, Riau dan Kalimantan Tengah.

"Tersangkanya kan ada 127 yang perorangan. Kemudian yang korporasi ada 10. Kalau
hanya dihukum mungkin percobaan atau setahun, ya sama saja. Tidak ada efek jera. Tapi
kalau perusahaan itu di black-list kan ada efek jeranya. Kalau dia ke depan-nya nanti
mengajukan izin yang sama ya jangan dikasih," kata Badrodin.
Backing Oknum Aparat Sipil dan TNI-Polri
Penanganan kasus pembakaran hutan dan lahan yang menimbulkan masalah asap,
ternyata juga berhadapan dengan adanya Perusahaan Perusahaan perkebunan yang
mendapat dukungan atau backing (beking) dari oknum birokrat sipil dan oknum anggota
TNI-Polri.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menjelaskan, ada temuan di
beberapa daerah terkait dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang dibekingi oleh
oknum aparat sipil dan TNI-Polri.
"Yang (ada beking) itu di Sumatra Utara, di Riau, di Kalimantan Barat, dan di Nusa Tenggara
Barat. Macam-macam bervariasi. Dari Pemdanya ada, dari TNI nya da, Polisi nya juga ada.
Makanya Presiden ini kan ngajaknya (penanganan pembakaran hutan) bertiga ini. TNI-Polri,
Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehutanan," demikian ujar Siti Nurbaya.

Ini Akar Masalah Kebakaran Hutan di Indonesia


JAKARTA - Pemerintah dinilai lalai karena membiarkan adanya peraturan daerah yang
melanggar Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pasalnya, dalam Pasal 69 Ayat (2) disebutkan pembukaan lahan yang diperbolehkan hanya
maksimal dua hektar per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan
dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.
"Akan tetapi pada kenyataannya saat ini ada peraturan gubernur yang memperbolehkan
pembukaan lahan lebih dari dua hektar," kata peneliti Forest Watch Indonesia, Togu
Manurung dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/11/2015).
Hal inilah kata dia yang menyebabkan bencana kabut asap hingga berlanjut sampai
sekarang. Ini tentunya mempermalukan kita secara gamblang, imbuhnya.

Dia menerangkan, bahwa ada empat akar masalah dalam kebakaran hutan di Indonesia.
Yang pertama, dari sisi pengelolaan hutan yang sejauh ini masih jauh diharapkan. Kedua
yaitu, praktek pembakaran yang dilakukan oleh warga secara sengaja.
"Ketiga, supremasi penegakan hukum yang masih lemah dan yang terakhir, pemerintah
lalai," tegasnya.

Perusahan Tersebut Berinisial PT PLM Yang Merupakan Perusahaan Asal Singapura


SMEAKER.COM Setelah mencekal pentingginya, akhirnya Direktorat Reserse Kriminal
Khusus Polda Riau menetapkan perusahan Asal Singapura sebagai salah satu tersangka
Kebakaran Hutan dan Lahan.
Hal itu dilakukan penyidik setelah menemukan bukti kuat tantang keterlibatan perusahan
asal Singapura tersebut. Perusahaan Asal Singapura terbukti telah melakukan Pembebasan
Lahan dengan cara Pembakaran Hutan.
Kabut Asap yang tak kunjung reda di Sumatera ini merupakan anadil dari Pembakar Hutan
dan lahan Yang dilakukan oleh Perusahan Asal Singapura tersebut.
Ari Rahman Navarin, Wakil Ditreskrimsus Polda Riau mengungkapkan bahwa Perusahaan
ini berinisial PT PLM yang berpusat di Singapura. Penetapan Tersangka Pembakaran Hutan
serta lahan ini setelah penyidik melakukan gelar perkara dan mengecek ke Lokasi
perusahaan yang terbakar.
Sebelum menetapkan korporasi ini sebagai tersangka Sebalumnay Tim Penyidik Polda Riau
memeriksa para petinggi dan Staf Perusahaan. Petinggi perusahan Asdal Singapura hingga
saat ini sudah dicejkal untuk tidak berpergian keluar Negeri.
Polisi saat ini sudah membidik sejumlah perusahan asal Singapura lain yang mungkin
terlibat selain perusahaan yang bergerak dalam perkebunan sawit PT PLM. Perusahaan
tersebut beroperasi di Kabupaten Bengkalis dan diduga sengaja untu membakar lahan.
Ari mengatakan akan mengabari perkembangan dari Satu Perusahan lain asal singapura
yang diduga terlibat. Tim penyidik Sedang melakukan penyelidikan terkait dengan
Keterlibatan satu perusahan ini.
Dengan berkembangnya penyidikan ini, sudah ada dua perusahan yang ditetapkan sebagai
tersangka Pembakar Hutan yang menyebabkan Kabut Asap di Riau. Yaitu satu perusahaan

asal Singapura dan yang satunya adalah PT Langgam Inti Hibrindo. Sedangkan Tersangka
perorangan lain penyebab Kabut Asap ada 64 orang.
Disamping dua perusahaan tersebut saat ini masih ada 16 perusahanb yang masih disidik
Polda Riau. Alat Bukti terjadinya tinak pidana telah ditemukan. Namun orang yang paling
betanggung jawab dari Timbulnya Kabut Asap di Riau masih terus diusut.

4 Perusahaan di Sumsel dan Riau Dibekukan Izinnya karena Kebakaran Lahan


Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memberi sanksi bagi 4
perusahaan yang ada di Riau dan Sumsel. Sanksi itu pencabutan izin, sehingga 4
perusahaan yang terdiri atas perusahaaan perkebunan dan pemanfaatan areal hutan tak
bisa

beroperasi

lagi.

"Seminggu lalu setelah disebut progresnya, kami sudah melakukan pengawasan dengan tim
untuk mengevaluasi 4 perusahaan," jelas Sekjen LHK Bambang Endoryono dalam jumpa
pers di Kemenhut di Manggala Wanabakti, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Dia menjelaskan, ada 2 perusahaan di Riau dan 2 di Sumsel yang diberi sanksi. Lahan di
area mereka terbukti terbakar.
4 perusahaan itu, sanksi pembekuan izin. Sanksi ini kena 3 perusahaan perkebunan. Di
Sumsel PT Tempirai Palm Resources di Oki dan PT Waringin Agro Jaya, Perkebunan sawit.
Kedua perusahaan ini terhitung hari ini dihentikan seluruh kegiatan operasionalnya," imbuh
dia.
"Di Riau Langgam Inti Hibrido di Provinsi Riau dikenakan pembekuan izin. Pemberhentian
izin operasional dan PT Hutani Sola Lestari, perusahaan izin pemanfaatan hutan kayu
(HPH),

sudah

lama

memegang

izin

dan

arealnya

terbakar,"

ungkai

Bambang.

Perusahaan itu, lanjut Bambang, karena arealnya terbakar maka menyumbang asap.
"Pengenaan sanksi izin ini mengikuti aturan berlaku dan kami melihat dari areal ini yang
menyumbang asap dan memberi dampak kesehatan serta memberi penderitaan yang luas
untuk masyarakat," tutupnya.
(mnb/dra)

II . ANALISIS

Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati
yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
yang lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan). Sedangkan menurut Ensiklopedia Indonesia, hutan adalah suatu areal yang
dikelola untuk produksi kayu dan hasil hutan lainnya dipelihara bagi keuntungan tidak
langsung atau dapat pula bahwa hutan sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama.
Pemanfaatan sekaligus perlindungan hutan di Indonesia diatur dalam UUD 45, UU No. 5
tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan
beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen
Pengusahaan Hutan. Menurut beberapa peraturan tersebut,hutan merupakan sumberdaya
alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai
sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah
banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu
pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya.

Riau dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya banyak berprofesi sebagai petani
sawit, itu dikarenakan daerah Riau sendiri merupakan daerah penghasil sawit terbesar di
Indonesia. Kebakaran hutan yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu sudah menjadi
rutinitas tahunan, karena sampai saat ini masih belum diketahui siapa saja yang terlibat
dalam kejadian tersebut. Hanya saja, masih belum ada tindak lanjut dari pemerintahnya
sendiri. Banyak oknum oknum yang terlibat dalam kejadian ini namun banyaknya
perusahaan yang melakukan pembersihan sehingga saat pengecekan bukti bukti di TKP
tiba tiba hilang bak di telan bumi. Sama hal nya dengan kasus kebakaran hutan yang
setiap tahun terjadi, selalu saja terulang namun jika api telah padam. Seakan kasus tersebut
tidak pernah ada bak di telan bumi.
Di Indonesia, diciptakan kebijakan kebijakan yang mengatur tentang kehutanan.
Serta dengan tujuan untuk mendukung peningkatan penanaman modal asing maupun
modal dalam negeri di bidang pengusahaan sumber daya hutan, maka pemerintah
membangun instrumen hukum teknis dengan pembentukan UU No. 5 Tahun 1967 tentang

Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan dan untuk melaksanakan ketentuan mengenai


pengusahaan hutan yang mendasari kebijakan pemberian konsesi eksploitasi sumber daya
hutan, maka dikeluarkan PP No. 21 Tahun 1970 junto PP No. 18 Tahun 1975 tentang Hak
Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPH dan HPHH).
Setelah Peraturan ini dikeluarkan, mulailah kegiatan eksploitasi sumber daya hutan
secara besar- besaran dilakukan pemerintah, terutama di pulau Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Papua), melalui pemberian konsesi HPH dan HPHH
kepada pemilik modal asing maupun modal dalam negeri dalam bentuk Badan Usaha Milik
Swasta (BUMS) maupun kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Tahun 1999 produk hukum Kehutanan kembali diperbaharui dengan dikeluarkannya
Undang-undang Nomor : 41 tahun 1999 disertai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6
tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 2002 dimana Undang-undang ini
mencakup pengaturan yang luas tentang hutan dan kehutanan, termasuk sebagian
menyangkut konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam penjelasan,
dijelaskan bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kehutanan, ternyata belum cukup memberikan landasan hukum bagi perkembangan
pembangunan kehutanan, oleh karena itu dipandang perlu mengganti undang-undang
tersebut sehingga dapat memberikan landasan hukum yang lebih kokoh dan lengkap bagi
pembangunan kehutanan saat ini dan masa yang akan datang
Adanya beberapa poin yang kontroversial pada PP 6/1999 seperti HPH dapat
digunakan sebagai jaminan, kemudian mendorong pemerintah mengeluarkan produk hukum
baru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan. PP 35
tahun 2002 tentang Dana Reboisasi, dan PP 44 tahun 2004 tentang Perencanaan Hutan.
Khususnya

dalam

PP

34/2002,

beberapa

poin

baru

yang

menarik

adalah

1. Pemanfaatan jasa lingkungan dan pemanfaatan kawasan,


2. Kesatuan pengusahaan hutan produksi diubah menjadi kesatuan pengelolaan hutan
produksi (KPHP), disamping ada bentuk kesatuan pengelolaan hutan yang berfungsi lain
seperti KPHL untuk Hutan Lindung dan KPHK untuk Hutan Konservasi,
3. Hak pengusahaan hutan diganti menjadi ijin usaha pemanfaatan hasil hutan (IUPHH),
4. Pemberian wewenang pemberian ijin kepada pemerintah propinsi dan kabupaten/kota.

Kaitannya dengan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) terdapat kerancuan
yang cukup mengganggu, yaitu meskipun namanya ijin usaha pemanfaatan namun
pemegang ijin usaha masih dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya
tergolong sebagai pekerjaan pengelolaan hutan. Pemegang ijin usaha diwajibkan membayar
dana reboisasi yang menjadi pendapatan negara bukan pajak, tetapi pada saat yang sama
pemegang ijin masih diwajibkan untuk melakukan rehabilitasi hutan.
Sejak tahun 2003, penyusunan rencana kerja didasarkan pada SK Menhut No.16/KptsII/2003 tentang Rencana Kerja, Rencana Kerja Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan
Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam. Secara umum dapat
dikelompokkan ke dalam 4 tahap pelaksanaan yaitu :
1. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Usaha / RKU;
2. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Lima Tahun / RKL;
3. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Tahunan / RKT; dan
4.Penetapan kuota produksi dan proses pengesahan RKT.
Dalam perkembangannya kemudian, PP34/2002 direvisi menjadi PP 6/2007 tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan. Beberapa
poin baru penting yang terkandung dalam peraturan pemerintah yang baru ini adalah :
1. Diperkenalkannya Hutan Tanaman Rakyat (HTR) untuk memberi akses kepada
masyarakat pada kawasan hutan;
2. Pembentukan kesatuan pengelolaan hutan (KPH) sebagai wilayah pengelolaan kawasan
hutan sesuai dengan fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien
dan lestari beserta penjabaran detilnya;
3. Dihilangkannya pemberian IUPHHK melalui lelang;
4. Pembentukan lembaga keuangan untuk mendukung pembangunan HTI dan HTR.

Berikut daftar beberapa kebijakan / produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait
dengan upaya pengelolaan hutan lestari :

NO. JENIS PERATURAN TENTANG


1. UU No.41 Tahun 1999 Kehutanan.
2. UU N0.19 Tahun 2004 Tata Cara Pemberian Ijin Dan Perluasan Areal Kerja Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industr dalam Hutan Tanaman pada
Hutan Produksi.
3. PP No. 44 Tahun 2004 Perencanaan Kehutanan.
4. PP No. 6 Tahun 2007 Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
PP No. 38 Tahun 2007 Tata Hutan dan Penyusunan Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan
Hutan.
5. Permenhut Nomor : 9/Menhut-II/2007 Rencana Kerja, Rencana Kerja Tahunan, dan
Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri dan
Hutan Tanaman Rakyat dalam Hutan Tanaman.
6. Permenhut Nomor : P.01/Menhut-II/2008 Rencana Strategis Kementrian Negara/Lembaga
(Renstra-KL) Departemen Kehutanan.
7. Permenhut Nomor : P.6/ Menhut-II/2007 Rencana Kerja dan Rencana Kerja Tahunan
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam dan Restorasi Ekosistem dalam
Hutan Alam pada Hutan Produksi.
8. Permenhut Nomor : P.16/ Menhut-II/2007 Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri
(RPBBI) Primer Hasil Hutan Kayu.
9. Permenhut Nomor : P.19/ Menhut-II/2007 Tata Cara Pemberian Ijin dan Perluasan Areal
Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman pada Hutan Produksi.
10. Permenhut Nomor : P.20/ Menhut-II/2007 Tata Cara Pemberian Ijin Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam pada Hutan Produksi Melalui Permohonan.
11. Permenhut Nomor : P.23/ Menhut-II/2007 Tata Cara Permohonan Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman pada Hutan Tanaman Rakyat dalam
Hutan Tanaman.

Menteri Kesehatan RI, 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan menimbulkan polutan
udara yang dapat menyebabkan penyakit dan membahayakan kesehatan manusia.
Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan, misalnya : debu
dengan ukuran partikel kecil (PM10 & PM2,5), gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran
pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain.
Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan, sehingga dapat
menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. Gumpalan asap yang pedas akibat
kebakaran yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan
Kalimantan, juga Singapura dan sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang
terkena gangguan kesehatan yang disebabkan oleh asap. (Cifor,2001).
Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir daripada yang
dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. Hal itu membuat Indonesia menjadi salah
satu pencemar lingkungan terburuk di dunia pada periode tersebut (Applegate, G. dalam
CIFOR, 2001).
Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan perhitungan
luas kebakaran yang ditemukan. Taconi, 2003 menyebutkan bahwa kebakaran yang
mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1,62-2,7
miliar dolar. Biaya akibat pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar; biaya ini
kemungkinan lebih tinggi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di
Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon menunjukkan
bahwa kemungkinan biayanyamencapai2,8 miliar dolar.

II.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari dampak kebakaran hutan bagi ekosistem adalah:
1. Hutan merupakan sumber daya alam yang tidak ternilai harganya karena didalamnya
terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan
kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, dan
sebagainya

2. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang sangat besar dan dampaknya sangat luas,
bahkan melintasi batas negara. Di sisi lain upaya pencegahan dan pengendalian yang
dilakukan selama ini masih belum memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu
perbaikan secara menyeluruh, terutama yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat
pinggiran atau dalam kawasan hutan.
3. Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan antara lain dibidang penyuluhan kepada
masyarakat khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor penyebab kebakaran hutan,
peningkatan kemampuan aparatur pemerintah terutama dari Departemen Kehutanan,
peningkatan fasilitas untuk mencegah dan menanggulagi kebakaran hutan, pembenahan
bidang hukum dan penerapan sangsi secara tegas.
4. Sejak tahun 2003, penyusunan rencana kerja didasarkan pada SK Menhut No.16/KptsII/2003 tentang Rencana Kerja, Rencana Kerja Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan
Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam. Secara umum dapat
dikelompokkan ke dalam 4 tahap pelaksanaan yaitu :
1. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Usaha / RKU;
2. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Lima Tahun / RKL;
3. Penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja Tahunan / RKT; dan
4.Penetapan kuota produksi dan proses pengesahan RKT.
5. Kaitannya dengan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) terdapat
kerancuan yang cukup mengganggu, yaitu meskipun namanya ijin usaha pemanfaatan
namun pemegang ijin usaha masih dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya
tergolong sebagai pekerjaan pengelolaan hutan. Pemegang ijin usaha diwajibkan membayar
dana reboisasi yang menjadi pendapatan negara bukan pajak, tetapi pada saat yang sama
pemegang ijin masih diwajibkan untuk melakukan rehabilitasi hutan.
6. Dalam perkembangannya kemudian, PP34/2002 direvisi menjadi PP 6/2007 tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan. Beberapa
poin baru penting yang terkandung dalam peraturan pemerintah yang baru ini adalah :
1. Diperkenalkannya Hutan Tanaman Rakyat (HTR) untuk memberi akses kepada
masyarakat pada kawasan hutan;
2. Pembentukan kesatuan pengelolaan hutan (KPH) sebagai wilayah pengelolaan kawasan
hutan sesuai dengan fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien
dan lestari beserta penjabaran detilnya;
3. Dihilangkannya pemberian IUPHHK melalui lelang;

4. Pembentukan lembaga keuangan untuk mendukung pembangunan HTI dan HTR.

III.

CARA PENANGGULANGAN

Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan dilakukan antara lain
(Soemarsono, 1997):
Memantapkan kelembagaan dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat
Kebakaran Hutan dan Lembaga non struktural berupa Pusdalkarhutnas, Pusdalkarhutda
dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam kebakaran hutan di masing-masing HPH
dan HTI;
Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan;
Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran
hutan;
Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga
BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan;
Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan;
Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi),
Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara
Lingkungan Hidup;
Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan,
selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.
Upaya Penanggulangan Kebakaran Hutan di Indonesia
Disamping melakukan pencegahan, pemerintah juga nelakukan penanggulangan melalui
berbagai kegiatan antara lain (Soemarsono, 1997):
Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan
pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga I dan II.

Mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di
jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaanperusahaan.
Meningkatkan

koordinasi

dengan

instansi

terkait

di

tingkat

pusat

melalui

PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan


SATLAK kebakaran hutan dan lahan.
Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan
BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar; Bantuan
pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk kebakaran di Lampung;
Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean, Korea
Selatan, Cina dan lain-lain.
Peningkatan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan
Upaya pencegahan dan penanggulangan yang telah dilakukan selama ini ternyata
belum memberikan hasil yang optimal dan kebakaran hutan masih terus terjadi pada
setiap musim kemarau. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
Kemiskinan dan ketidak adilan bagi masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.
Kesadaran semua lapisan masyarakat terhadap bahaya kebakaran masih rendah.
Kemampuan aparatur pemerintah khususnya untuk koordinasi, memberikan penyuluhan
untuk kesadaran masyarakat, dan melakukan upaya pemadaman kebakaran semak
belukar dan hutan masih rendah.
Upaya pendidikan baik formal maupun informal untuk penanggulangan kebakaran hutan
belum memadai.
Hasil identifikasi dari serentetan kebakaran hutan menunjukkan bahwa penyebab utama
kebakaran hutan adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal
kebakaran adalah kegiatan perladangan, pembukaan HTI dan perkebunan serta konflik
hukum adat dengan hukum negara, maka untuk meningkatkan efektivitas dan optimasi
kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan perlu upaya penyelesaian
masalah yang terkait dengan faktor-faktor tersebut.

Di sisi lain belum efektifnya penanggulangan kebakaran disebabkan oleh faktor


kemiskinan dan ketidak adilan, rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya
kemampuan aparat, dan minimnya fasilitas untuk penanggulangan kebakaran, maka
untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan di
masa depan antara lain:
Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
pinggiran atau dalam kawasan hutan, sekaligus berupaya untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan semak belukar.
Memberikan penghargaan terhadap hukum adat sama seperti hukum negara, atau
merevisi hukum negara dengan mengadopsi hukum adat.
Peningkatan kemampuan sumberdaya aparat pemerintah melalui pelatihan maupun
pendidikan formal. Pembukaan program studi penanggulangan kebakaran hutan
merupakan alternatif yang bisa ditawarkan.
Melengkapi fasilitas untuk menanggulagi kebakaran hutan, baik perangkat lunak
maupun perangkat kerasnya.
Penerapan sangsi hukum pada pelaku pelanggaran dibidang lingkungan khususnya
yang memicu atau penyebab langsung terjadinya kebakaran.