Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TETAP

HIDROKARBON
DISTILASI MINYAK MENTAH

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
Ahmadan Yusuf Azlan
Dela Regina Pratiwi
Deviana Aditya Putri
Diah Pusphasari
Dian Febrianti Pisceselia
Dimas Agung Budi Setyawan

(061330401052)
(061330401053)
(061330401054)
(061330401055)
(061330401056)
(061330401057)

KELAS 5KF
DOSEN PEMBIMBING

Ir. Selastia Yuliati, M.Si.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2015

DISTILASI MINYAK MENTAH


I.

TUJUAN
Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Mengetahui fraksi-fraksi minyak bumi yang dihasilkan sebagai distilat dan
residu
2. Menjelaskan mengenai titik didih fraksi-fraksi tersebut

II.

ALAT DAN BAHAN


2.1 Alat yang Digunakan :
1. Heating mantel, 1000 ml
2. Double necked round bottom flask
3. Bubble cap column with 2 tray
4. Distillation bridge, 2ST 29/32, GI 18
5. Counterflow cooler after dimroth
6. Distillation adapter, straight
7. Round bottom flask, 500 ml
8. Beaker, 100 ml
9. Thermometer, (-100C) (2500C)
10. Water batch

: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 2 buah
: 2 buah
: 1 buah

2.2 Bahan yang Digunakan :


1. Minyak bumi (crude oil)
2. Batu didih
3. Aquadest
4. Silicone grease

: 1000 ml
: 5 buah
: secukupnya
: secukupnya

III.
DASAR TEORI
3.1 Struktur dan Komposisi Minyak Mentah
Kebanyakan senyawa-senyawa yang terkandung di dalam minyak dan gas bumi
terdiri dari hidrogen dan karbon sebagai unsur-unsur utamanya. Senyawa-senyawa
tersebut disebut sebagai senyawa hidrokarbon. Selain daripada senyawa-senyawa
tersebut terdapat pula senyawa-senyawa lain dalam jumlah yang sedikit mengandung
unsur-unsur belerang atau sulfur, oksigen dan nitrogen.
Komposisi minyak mentah dan gas bumi berdasarkan unsur-unsur penyusunnya
adalah sebagai berikut :
Karbon

: 83,5 87, 5% (berat)

Hidrogen
: 11,5 14,0%
Sulfur
: 0,1 3,0%
Oksigen
: 0,1 1,0%
Nitrogen
: 0,01 0,3%
Selain unsur-unsur di atas terdapat juga unsur-unsur logam seperti vanadium, besi,
nikel, khrom, posfor dan logam-logam lain yang jumlahnya kurang dari 0,03% berat.
3.2 Klasifikasi Minyak dan Gas Bumi
Sekitar 85% dari minyak mentah (crude oil) di dunia diklasifikasikan menjadi 3
golongan, yaitu :
1.
Minyak dasar aspal (asphaltic base)
2.
Minyak dasar parafin ( paraffinic base)
3.
Minyak dasar campurab ( mixed base)
Minyak dasar aspal mengandung sedikit lilin parafin dengan aspal sebagai
residu utama. Minyak dasar aspal sangat dominan mengandung aromatik. Kandungan
sulfur, oksigen dan nitrogen relatif lebih tingggi dibandingkan dengan minyak-minyak
dasar lainnya. Minyak mentah dengan dasar aspal sangat cocok untuk memproduksi
gasolin yang berkualitas tinggi, minyak pelumas mesin dan aspal. Fraksi-fraksi ringan
dan menengah mengandung presentase naftalen yang tinggi.
Minyak dasar paraffin mengandung sangat sedikit aspal, sehingga sangat baik
sebagai sumber untuk memproduksi lilin paraffin, minyak pelumas motor dan kerosin
dengan kualitas tinggi.
Minyak dasar campuran mengandung sejumlah lilin dan aspalsecara bersamaan.
Produk yang dihasilkan minyak dasar ini lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan
dua tipe minyak di atas.
Berdasarkan jarak titik didih tiap fraksi yang dihasilkan, maka susunan molekul
menurut jumlah atom karbon dari fraksi dan produk akhir kilang dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1. Susunan Hidrokarbon Fraksi/Produk Minyak dan Gas Bumi
Fraksi / Produk
Gas-gas
Gasolin
Nafta
Kerosin dan avtur
Diesel dan fuel oil

Jarak Didih, 0C

Jumlah Atom Karbon

<30
30 210
100 200
150 250
160 400

dalam Molekul Minyak


C1 C4
C5 C12
C8 C12
C11 C13
C13 C17

Gas oil
Fuel oil berat
Atm residu
Vac residu

220 345
315 540
>450
>650

C17 C20
C20 C45
>C30
>C60

3.3 Proses Pengolahan Dasar


Proses epngolahan dasar sebagai proses utama untuk mengolah minyak mentah
menjadi produk dan fraksi-fraksinya terdiri dari :
1.

Pengolahan secara fisik , yaitu distilasi terdiri dari :


- Distilasi Atmosfir
- Distilasi Hampa
- Distilasi Bertekanan

2.

Pengolahan secara kimia , disebut juga sebagai proses konversi atau reforming

terdiri dari :
a.
Proses perengkahan (cracking) terdiri dari :
- Perengkahan Termis ( Thermal Cracking )
- Perengkahan Katalis (Catalytic Cracking )
- Perengkahan Hidro ( Hydrocracking )
b.
Proses Pembentukan Kembali (reforming ) terdiri dari :
- Reformasi Termis ( Thermal Reforming )
- Reformasi Katalis ( Catalytic Reforming )
c.
Proses Penggabungan Molekul , terdiri dari :
- Polimerisasi Katalis , yakni : Polimerisasi Selektif dan Polimerisasi tidak
1.

selektif
Alkilasi Katalis , yang terdiri dari : Alkilasi H2SO4 dan alkilasi HF

Pengolahan secara fisik


Proses distilasi dalam kilang minyak merupakan proses pengolahan secara fisik

yang primer mengawali semua proses-proses yang diperlukan untuk memproduksi


BBM dan non BBM.
Proses distilasi/fraksionasi adalah proses untuk memisahkan campuran yang
terdapat dalam minyak mentah ( crude oil ) menjadi komponen-komponen nya atas
dasar fraksi atau pemotongan (cut) yang dibatasi oleh jarak titik didih tertentu , bukan
atas dasar titik didih masing-masing komponen. Proses distilasi ini dapat menggunakan
satu kolom atau lebih menara fraksionasi, misalnya residu dari menara distilasi atmosfir
dialirkan ke menara distilasi hampa , atau salah satu fraksi dari menara distilasi
atmosfir dialirkan ke menara distilasi bertekanan. Fraksi-fraksi yang dapat ditarik dari
kolom distilasi/menara fraksionasi antara lain adalah sebagai berikut:

Fraksi

Jarak didih , F

Gas

< 80

Nafta ringan

80 220

Nafta berat

180 520

Gas oil ringan

420 650

Gas oil berat

610 800

Residu

> 800

Contoh proses distilasi /fraksionasi di PERTAMINA RU III


- Distilasi Atmosfir :
1) Crude Batterry (CB)
2) Crude Distiller (CD)
-

Distilasi Hampa :
1) High Vacuum Unit ( HVU)
2) Vacuum Distillation Unit (VDU)

Distilasi Bertekanan : Stabilizer

Proses Pengolahan Minyak Bumi dan Minyak Mentah dan Komposisinya Proses pengolahan fosil hewan menjadi minyak melewati beberapa tahap yang cukup
panjang.Mula-mula, para ahli melakukan eksplorasi, yaitu kegiatan yang bertujuan
memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan mendapatkan
perkiraan cadangan minyak bumi.Pada umumnya, mereka membuat peta topografi
dengan pemotretan dari udara. Setelah daerah-daerah yang akan diselidiki ditetapkan,
para ahli bumi (geologi) mencari contoh-contoh batu atau lapisan batu yang muncul
dari permukaan karang atau tebing-tebing untukdiperiksa di laboratorium.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan penyelidikan geofisika.
Caranya dengan membuat gempa kecil atau getaran-getaran di bawah tanah (kegiatan

seismik).Gelombang-gelombang getaran dari ledakan ini turun ke bawah dan memantul


kembali ke permukaan bumi. Dengan cara ini, lokasi yang mengandung minyak bumi
dapat diperkirakan secara ilmiah. Pada daerah lapisan bawah tanah yang tak berpori
tersebut dikenal dengan nama antiklinal atau cekungan. Daerah cekungan ini terdiri dari
beberapa lapisan, lapisan yang paling bawah berupa air, lapisan di atasnya berisi
minyak, sedang di atas minyak bumi tersebut terdapat rongga yang berisi gas alam. Jika
cekungan mengandung minyak bumi dalam jumlah besar, maka pengambilan
dilakukandenganjalanpengeboran.
Setelahmenentukanlokasi yang diperkirakan mengandung minyak bumi,
tahapan selanjutnya adalah melakukan kegiatan eksploitasi.Eksploitasi adalah
rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan minyak bumi.Kegiatan ini
terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan,
penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian minyak.Pengeboran
sumber minyak bumi menghasilkan minyak mentah yang harus diproses lagi.Selain
minyak mentah, terdapat juga air dan senyawa pengotor lainnya. Zat-zat selain minyak
mentah dipisahkan terlebih dahulu sebelum dilakukan proses selanjutnya. Kandungan
utama minyak mentah hasil pengeboran merupakan campuran dari berbagai senyawa
hidrokarbon. Adapun senyawa lain, seperti sulfur, nitrogen, dan oksigen hanya terdapat
dalam jumlah sedikit. Tabel berikut menunjukkan persentase komposisi senyawa yang
terkandung dalam minyakmentah (crude oil).
Kelompok Unsur: Karbon 84%; Hidrogen 14%; Sulfur Antara
3%; Nitrogen Kurang

dari

1%; Oksigen Kurang

dari

1%

hingga

1%; Logam Kurang

dari

1%; Garam Kurang dari 1%.


Campuranhidrokarbondalamminyak mentah terdiri atas berbagai senyawa
hidrokarbon,

misalnya

senyawa

alkana,

aromatik,

naftalena,

alkena,

dan

alkuna.Senyawa-senyawa ini memiliki panjang rantai dan titik didih yang berbedabeda.Semakin panjang rantai karbon yang dimilikinya, semakin tinggi titik
didihnya.Agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan, komponen-komponen
minyak mentah harus dipisahkan berdasarkan titik didihnya.

Tahap Lengkap Pengolahan Minyak Mentah Minyak mentah (crude oil) yang
diperoleh dari hasil pengeboran minyak bumi belum dapat digunakan atau
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan secara langsung. Hal itu karena minyak bumi
masih merupakan campuran dari berbagai senyawa hidrokarbon, khususnya komponen
utama hidrokarbon alifatik dari rantai C yang sederhana/pendek sampai ke rantai C
yang banyak/panjang, dan senyawa-senyawa yang bukan hidrokarbon.
Untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang bukan hidrokarbon, maka pada minyak
mentah ditambahkanasamdanbasa.
Minyak mentah yang berupa cairan pada suhu dan tekanan atmosfer biasa,
memiliki titik didih persenyawan-persenyawaan hidrokarbon yang berkisar dari suhu
yang sangat rendah sampai suhu yang sangat tinggi.Dalam hal ini, titik didih
hidrokarbon

(alkana)

meningkat

dengan

bertambahnya

jumlah

atom

dalammolekulnya.
Dengan memperhatikan perbedaan titik didih dari komponen-komponen minyak
bumi, maka dilakukanlah pemisahan minyak mentah menjadi sejumlah fraksi-fraksi
melalui proses distilasi bertingkat. Destilasi bertingkat adalah proses distilasi
(penyulingan) dengan menggunakan tahap-tahap/fraksi-fraksi pendinginan sesuai
trayek titik didih campuran yang diinginkan, sehingga proses pengembunan terjadi pada
beberapa tahap/beberapa fraksi tadi. Cara sepertiinidisebutfraksionasi.
Minyak mentah tidak dapat dipisahkan ke dalam komponen-komponen murni
(senyawa tunggal).Hal itu tidak mungkin dilakukan karena tidak praktis, dan mengingat
bahwa minyak bumi mengandung banyak senyawa hidrokarbon maupun senyawasenyawa yang bukan hidrokarbon.Dalam hal ini senyawa hidrokarbon memiliki
isomerisomer dengan titik didih yang berdekatan. Oleh karena itu, pemisahan minyak
mentah dilakukan dengan proses distilasi bertingkat. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari
destilat minyak bumi ialah campuran hidrokarbon yang mendidih pada trayek suhu
tertentu.

a. Pengolahan tahap pertama (primary process)


Pengolahantahappertamaini berlangsung melalui proses distilasi bertingkat,
yaitu pemisahan minyak bumi ke dalam fraksi-fraksinya berdasarkan titik didih
masing-masing fraksi.
Komponen yang titikdidihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke
bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian
atas melalui sungkup-sungkup yang disebut menara gelembung. Makin ke atas, suhu
dalam menara fraksionasi itu makin rendah. Hal itu menyebabkan komponen dengan
titik didih lebih tinggi akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen yang titik
didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian seterusnya,
sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang pada suhu
kamar berupa gas.
Hasil-hasil frasionasi minyak bumiyaitusebagaiberikut.
1) Fraksi pertama
Padafraksiinidihasilkan gas, yang merupakan fraksi paling ringan.Minyak bumi
dengan titik didih di bawah 30 oC, berarti pada suhu kamar berupa gas.Gas pada kolom
ini ialah gas yang tadinya terlarut dalam minyak mentah, sedangkan gas yang tidak
terlarut dipisahkanpadawaktupengeboran.
Gas yang dihasilkanpada tahap ini yaitu LNG (Liquid Natural Gas) yang
mengandung komponen utama propana (C3H8) dan butana (C4H10), dan LPG (Liquid
Petroleum Gas) yang mengandung metana (CH4)danetana (C2H6).
2) Fraksi kedua
Padafraksiinidihasilkan petroleum eter. Minyak bumi dengan titik didih lebih
kecil 90 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendinginan dengan suhu
30 oC 90 oC. Pada trayek ini, petroleum eter (bensin ringan) akan mencair dan keluar
ke penampungan petroleum eter. Petroleum eter merupakan campuran alkana dengan
rantai C5H12 C6H14.

3) Fraksi Ketiga
Padafraksiinidihasilkan gasolin (bensin). Minyak bumi dengan titik didih lebih
kecil dari 175 oC , masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu
90 oC 175 oC. Pada trayek ini, bensin akan mencair dan keluar ke penampungan
bensin. Bensin merupakan campuran alkana dengan rantai C6H14C9H20.
4) Fraksikeempat
Padafraksiinidihasilkan nafta. Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari
200 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 175 oC 200 oC. Pada trayek ini, nafta (bensin berat) akan mencair dan keluar ke penampungan
nafta. Nafta merupakan campuran alkana dengan rantai C9H20C12H26.
5) Fraksikelima
Padafraksiinidihasilkan kerosin (minyak tanah). Minyak bumi dengan titik didih
lebih kecil dari 275 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan
suhu 175 oC - 275 oC. Pada trayek ini, kerosin (minyak tanah) akan mencair dan keluar
ke

penampungan

kerosin.

Minyak

tanah

(kerosin)

merupakan

campuran

alkanadenganrantai C12H26C15H32.
6) Fraksikeenam
Padafraksiinidihasilkan minyak gas (minyak solar). Minyak bumi dengan titik
didih lebih kecil dari 375 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin
dengan suhu 250 oC - 375 oC. Pada trayek ini minyak gas (minyak solar) akan mencair
dan keluar ke penampungan minyak gas (minyak solar). Minyak solar merupakan
campuran alkanadenganrantai C15H32C16H34.
7) Fraksiketujuh
Padafraksiinidihasilkan residu. Minyak mentah dipanaskan pada suhu tinggi,
yaitu di atas 375 oC, sehinggaakanterjadipenguapan.
Padatrayekinidihasilkan residu yang tidak menguap dan residu yang
menguap.Residu yang tidak menguap berasal dari minyak yang tidak menguap, seperti

aspal dan arang minyak bumi.Adapun residu yang menguap berasal dari minyak yang
menguap,

yang

masuk

ke

kolom

pendingin

dengan

suhu

375 oC.Minyak

pelumas (C16H34C20H42) digunakan untuk pelumas mesin-mesin, parafin (C21H44


C24H50) untuk membuat lilin, dan aspal (rantai C lebih besar dari C36H74) digunakan
untuk bahan bakar dan pelapis jalan raya.
b. Pengolahan tahap kedua
Pengolahan tahap kedua merupakan pengolahan lanjutan dari hasil-hasil unit
pengolahan tahapan pertama.Pada tahap ini, pengolahan ditujukan untuk mendapatkan
dan menghasilkan berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM) dan non bahan bakar
minyak (non BBM) dalam jumlah besar dan mutu yang lebih baik, yang sesuai dengan
permintaankonsumenataupasar.
Pada pengolahan tahap kedua, terjadi perubahan struktur kimia yang dapat
berupa pemecahan molekul (proses cracking), penggabungan molekul (proses
polymerisasi, alkilasi), atau perubahan strukturmolekul (proses reforming).
Proses pengolahan lanjutan dapat berupa proses-proses seperti di bawahini.
1) Konversistrukturkimia
Dalam proses ini, suatu senyawa hidrokarbon diubah menjadi senyawa hidrokarbon lain
melalui proses kimia.
a) Perengkahan (cracking)
Dalam proses ini, molekul hidrokarbon besar dipecah menjadi molekul hidrokarbon
yang lebih kecil sehingga memiliki titik didih lebihrendahdanstabil.
Caranya dapat dilaksanakan, yaitusebagaiberikut:
Perengkahan termal; yaitu proses perengkahan dengan menggunakan suhu dan
tekanan tinggi saja.
Perengkahan katalitik; yaitu proses perengkahan dengan menggunakan panas dan
katalisator untuk mengubah distilat yang memiliki titik didih tinggi menjadi bensin dan
karosin. Proses ini juga akan menghasilkan butana dan gas lainnya.

Perengkahan dengan hidrogen (hydro-cracking); yaitu proses perengkahan yang


merupakan kombinasi perengkahan termal dan katalitik dengan "menyuntikkan"
hidrogen pada molekul fraksi hidrokarbon tidak jenuh.
Dengan cara seperti ini, maka dari minyak bumi dapat dihasilkan elpiji, nafta, karosin,
avtur, dan solar. Jumlah yang diperoleh akan lebih banyak dan mutunya lebih baik
dibandingkan dengan proses perengkahan termal atauperengkahankatalitiksaja.
Selain itu, jumlahresidunyaakanberkurang.
b) Alkilasi
Alkilasi adalah suatu proses penggabungan dua macam hidrokarbon isoparafin secara
kimia menjadi alkilat yang memiliki nilai oktan tinggi. Alkilat ini dapat
dijadikanbensinatau avgas.
c) Polimerisasi
Polimerisasi adalah penggabungan dua molekul atau lebih untuk membentuk molekul
tunggal

yang

disebut

polimer.Tujuan

polimerisasi

iniialahuntukmenggabungkanmolekul-molekulhidrokarbondalam bentuk gas (etilen,


propena) menjadisenyawanaftaringan.
d) Reformasi
Reformasi adalah proses yang berupa perengkahan termal ringan dari nafta untuk
mendapatkan produk yang lebih mudah menguap seperti olefin dengan angka oktan
yang lebih tinggi. Di samping itu, dapat pula berupa konversi katalitik komponenkomponen nafta untuk menghasilkan aromatik dengan angka oktan yang lebihtinggi.
e) Isomerisasi
Dalam proses ini, susunan dasar atom dalam molekul diubah tanpa menambah atau
mengurangi bagian asal. Hidrokarbon garis lurus diubah menjadi hidrokarbon garis
bercabang yang memiliki angka oktan lebih tinggi. Dengan proses ini, n-butana dapat
diubah menjadi isobutana yang dapat dijadikan sebagai bahan bakudalam proses
alkilasi.

2) Proses ekstraksi
Melalui proses ini, dilakukan pemisahan atas dasar perbedaan daya larut fraksifraksi
minyak dalam bahan pelarut (solvent) seperti SO2, furfural, dan sebagainya. Dengan
proses ini, volume produk yang diperoleh akan lebih banyak dan mutunya lebih baik
bila dibandingkan dengan proses distilasisaja.
3) Proses kristalisasi
Pada proses ini, fraksi-fraksi dipisahkan atas dasar perbedaan titik cair (melting point)
masing-masing. Dari solar yang mengandung banyak parafin, melalui proses
pendinginan, penekanan dan penyaringan, dapat dihasilkan lilin dan minyak filter. Pada
hampir setiap proses pengolahan, dapat diperoleh produk-produk lain sebagai produk
tambahan. Produk-produk ini dapat dijadikan bahan dasar petrokimia yang diperlukan
untuk pembuatan bahan plastik, bahan dasar kosmetika, obat pembasmi serangga, dan
berbagaihasilpetrokimialainnya.
4) Membersihkan produk dari kontaminasi (treating)
Hasil-hasil minyak yang telah diperoleh melalui proses pengolahan tahap pertama dan
proses pengolahan lanjutan sering mengalami kontaminasi dengan zat-zat yang
merugikan seperti persenyawaan yang korosif atau yang berbau tidak sedap.
Kontaminan ini harus dibersihkan misalnya dengan menggunakan caustic soda, tanah
liat, atau proses hidrogenasi.
Proses pengolahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi minyak bumi yang bermanfaat
dilakukan di kilang minyak (oil refinery). Di Indonesia terdapat sejumlah kilang
minyak, antara lain:
kilang minyak Cilacap, Jawa Tengah (Kapasitas 350 ribu barel/hari);
kilang minyak Balongan, Jawa Tengah (Kapasitas 125 ribu barel/hari);
kilang minyak Balikpapan, Kalimantan Timur (Kapasitas 240 ribu barel/hari);
kilang minyak Dumai, Riau;
kilang minyak Plaju, Sumatra Selatan;

kilang minyak Pangkalan Brandan, Sumatra Utara; dan


kilang minyak Sorong, Papua.

Minyak mentah atau crude oil adalah cairan coklat kehijauan sampai hitam yang
terutama terdiri dari karbon dan hidrogen. Teori yang paling umum digunakan untuk
menjelaskan asal-usul minyak bumi adalah organic source materials. Teori ini
menyatakan bahwa minyak bumi merupakan produk perubahan secara alami dari zatzat organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang mengendap selama
ribuan sampai jutaan tahun. Akibat dari pengaruh tekanan, temperatur, kehadiran
senyawa logam dan mineral serta letak geologis selama proses perubahan tersebut,
maka minyak bumi akan mempunyai komposisi yang berbeda di tempat yang berbeda.
Minyak bumi memiliki campuran senyawa hidrokarbon sebanyak 50-98% berat,
sisanya terdiri atas zat-zat organik yang mengandung belerang, oksigen, dan nitrogen
serta senyawa-senyawa anorganik seperti vanadium, nikel, natrium, besi, aluminium,
kalsium, dan magnesium. Secara umum, komposisi minyak bumi dapat dilihat pada
tabel berikut:
Table 1.1 Komposisi Elmental Minyak Bumi
Komposisi

Persentase

Karbon (C)

84-87

Hydrogen (H)

11-14

Sulfur (S)

0-3

Nitrogen (N)

0-1

Oksigen (O)

0-2

Berdasarkan kandungan senyawanya, minyak bumi dapat dibagi menjadi golongan


hidrokarbon dan non-hidrokarbon serta senyawa-senyawa logam.
1.

Hirokarbon

Golongan hidrokarbon-hidrokarbon yang utama adalah parafin, olefin, naften, dan


aromat.

1.

Parafin

Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon jenuh berantai lurus (alkana), C nH2n+2.
Contohnya adalah metana (CH4), etana (C2H6), n-butana (C4H10), isobutana (2-metil
propana, C4H10), isopentana (2-metilbutana, C5H12), dan isooktana (2,2,4-trimetil
pentana, C8H18). Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh
lebih banyak daripada senyawa yang tergolong n-parafin. Tetapi, di dalam minyak bumi
mentah, kadar senyawa isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.
2.

Olefin

Olefin adalah kelompok senyawa hidrokarbon tidak jenuh, CnH2n. Contohnya etilena
(C2H4), propena (C3H6), dan butena (C4H8).
3.

Naftena

Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan
rumus molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena yang banyak ditemukan
adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon. Contohnya
adalah siklopentana (C5H10), metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana (C6H12).
Umumnya, di dalam minyak bumi mentah, naftena merupakan kelompok senyawa
hidrokarbon yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.
4.

Aromatik

Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom-atom karbon


yang membentuk cincin benzen (C6H6). Contohnya benzen (C6H6), metilbenzen (C7H8),
dan naftalena (C10H8). Minyak bumi dari Sumatera dan Kalimantan umumnya memiliki
kadar aromat yang relatif besar.
2.

Non Hidrokarbon

Selain senyawa-senyawa yang tersusun dari atom-atom karbon dan hidrogen, di dalam
minyak bumi ditemukan juga senyawa non hidrokarbon seperti belerang, nitrogen,
oksigen, vanadium, nikel dan natrium yang terikat pada rantai atau cincin hidrokarbon.
Unsur-unsur tersebut umumnya tidak dikehendaki berada di dalam produk-produk
pengilangan minyak bumi, sehingga keberadaannya akan sangat mempengaruhi
langkah-langkah pengolahan yang dilakukan terhadap suatu minyak bumi.
1.

Belerang

Belerang terdapat dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), belerang bebas (S), merkaptan
(R-SH, dengan R=gugus alkil), sulfida (R-S-R), disulfida (R-S-S-R) dan tiofen
(sulfida siklik). Senyawa-senyawa belerang tidak dikehendaki karena:

menimbulkan bau tidak sedap dan sifat korosif pada produk pengolahan.

mengurangi efektivitas zat-zat bubuhan pada produk pengolahan.

meracuni katalis-katalis perengkahan.

menyebabkan pencemaran udara (pada pembakaran bahan bakar minyak,

senyawa belerang teroksidasi menjadi zat-zat korosif yang membahayakan lingkungan,


yaitu SO2 dan SO3).
1.

Nitrogen

Senyawa-senyawa nitrogen dibagi menjadi zat-zat yang bersifat basa seperti 3metilpiridin (C6H7N) dan kuinolin (C9H7N) serta zat-zat yang tidak bersifat basa seperti
pirol (C4H5N), indol (C8H7N) dan karbazol (C12H9N). Senyawa-senyawa nitrogen dapat
mengganggu kelancaran pemrosesan katalitik yang jika sampai terbawa ke dalam
produk, berpengaruh buruk terhadap bau, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk
tersebut.
2.

Oksigen

Oksigen biasanya terikat dalam gugus karboksilat dalam asam-asam naftenat (2,2,6trimetilsikloheksankarboksilat, C10H18O2) dan asam-asam lemak (alkanoat), gugus
hidroksi fenolik dan gugus keton. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah serius
seperti halnya senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses katalitik.
1.

Senyawa logam

Minyak bumi biasanya mengandung 0,001-0,05% berat logam. Kandungan logam yang
biasanya paling tinggi adalah vanadium, nikel dan natrium. Logam-logam ini terdapat
bentuk garam terlarut dalam air yang tersuspensi dalam minyak atau dalam bentuk
senyawa organometal yang larut dalam minyak. Vanadium dan nikel merupakan racun
bagi katalis-katalis pengolahan minyak bumi dan dapat menimbulkan masalah jika
terbawa ke dalam produk pengolahan.
Minyak bumi merupakan campuran yang sangat kompleks dari hidrokarbonhidrokarbon penyusunnya. Oleh karena itu, analisis kadar senyawa-senyawa
penyusunnya yang bukan saja amat sulit dilakukan, juga kurang berguna dalam praktek.

Analisis elemental yang menentukan kadar-kadar unsur karbon, hidrogen, belerang,


nitrogen, oksigen dan logam-logam juga tidak memberi gambaran mengenai karakter
dan sifat minyak bumi yang dihadapi. Padahal, dalam merancang proses pengolahan
minyak bumi mentah, informasi-informasi tersebut sangat dibutuhkan. Mengingat hal
itu,

orang

mulai

mengembangkan

metode-metode

semi

empirik

untuk

mengkarakterisasi minyak bumi berdasarkan hasil-hasil pengukuran sifat-sifat fisik dan


kimia yang mudah ditentukan.
1.

Berat Jenis

Berat jenis minyak bumi umumnya dinyatakan dalam satuan API, yang didefinisikan
sebagai berikut:
dengan s = berat jenis 60/60 (densitas minyak pada 60 F (15,6 C) dibagi dengan
densitas air pada 60 F). Persamaan tersebut menunjukkan bahwa API akan semakin
besar jika berat jenis minyak makin kecil. Berat jenis (specific gravity) kadang-kadang
digunakan sebagai ukuran kasar untuk membedakan minyak mentah, karena minyak
mentah dengan berat jenis rendah biasanya adalah parafinik. Perkiraan jenis minyak
bumi ditunjukkan sebagai berikut:
Tabel 1.2 Perkiraan Jenis Minyak Bumi Berdasarkan API
Jenis Minyak Bumi

Specific Gravity

API

0.830

39

Medium Ringan

0.830 0.850

39 35

Medium Berat

0.860 0.865

35 32.1

Berat

0.865 0.905

32.1 24.8

0.905

24.8

Ringan

Sangat Berat
1.

Pour Point

Pour point atau titik tuang adalah harga temperatur yang menyebabkan minyak bumi
yang didinginkan mengalami perubahan sifat dari bisa menjadi tidak bisa dituangkan
atau sebaliknya. Makin rendah titik tuang, berarti kadar parafin makin rendah
sedangkan kadar aromatnya makin tinggi.
2.

Distilasi/Rentang Pendidihan

Pengukuran rentang pendidihan menghasilkan petunjuk tentang kualitas dan kuantitas


berbagai fraksi yang terdapat dalam minyak bumi. Pengujian rentang pendidihan yang
lazim dilakukan di laboratorium-laboratorium karakterisasi minyak bumi antara lain
distilasi ASTM atau distilasi Engler (distilasi sederhana), distilasi Hempel, dan distilasi
TBP (True Boiling Point).
Salah satu penggunaan terpenting hasil pengukuran berat jenis dan rentang pendidihan
suatu minyak bumi adalah untuk menentukan faktor karakterisasi Watson atau UOP
(Universal Oil Products Co.) dan index korelasi (CI) USBM (United States Bureau of
Mines).
Faktor karakterisasi Watson atau K-UOP didefinisikan sebagai:
dengan:
3.

TB : Titik didih rata-rata minyak bumi (K)

s : berat jenis 60/60 minysk bumi


Klasifikasi berdasarkan K-UOP sebagai berikut:
Tabel 1.5 Perkiraan Tipe Minyak Bumi Berdasarkan K-UOP
K

Tipe Minyak Bumi

12.5 13

Parafinik

11 12

Naftenik

9.8 11.8

Aromatik

Index Korelasi USBM didasarkan pada pengamatan bahwa n-parafin memiliki nilai
CI=0 dan CI=100 untuk benzen. CI didefinisikan sebagai:

Table 1.6 Perkiraan Tipe Minyak Bumi Berdasarkan Indeks Korelasi USBM
CI

Tipe minyak bumi

10

Ultra parafink

30

Parafinik

30-40

Naftenik

40-60

Aromatik

IV.
1.
2.
3.
4.

LANGKAH KERJA
Setiap sambungan pada alat diberikan silicon grease
Menimbang bottom flask kosong dan mencatat beratnya
Mengisi bottom flask dengan 400 ml crude oil , kemudian menambahkan 5 buah
batu didih
Menghidupkan air pendingin , dan pemanas (temperatur set II , setelah 15 menit
menghidupkan set III )
Perhatikan :
Setelah mendekati 8 menit crude oil mulai mendidih , temperatur crude oil
65C, setelah 10 menit uap akan naik pada tray pertama dan terkondensasi.
Setelah 20 menit , distilat terkondensasi pada semua tray dan mengalami refluk.
Komponen yang mempunyai titik didih rendah akan mencapai thermometer
paling atas dan terkondensasi pada dimroth condenser. Setelah 25 menit hasil

5.
6.

7.

V.

sulingan akan berkurang.


Mencatat temperatur sebelum menghentikan hasil sulingan
Setelah 50 menit pemanas dimatikan , mencatat temperatur , temperatur dasar
tidak melebihi 240 C. Temperatur pada tray pertama 155C , tray kedua 105
C , tray atas 40C
Residu dari distilasi ini akan digunakan untuk distilasi vakum pada minggu II

DATA PENGAMATAN
- Percobaan I
t/min

A11/oC

B11/oC

A12/oC

B12/oC

29

30

30

31

29

30

30

31

47

30

30

31

71

29

30

32

10

102

29

30

31

12

127

29

30

31

14

138

30

31

31

16

146

31

31

31

18

154

31

31

31

20

162

32

31

31

22

169

34

31

31

24

173

34

32

31

26

167

45

32

32

t/min

A11/oC

B11/oC

A12/oC

B12/oC

27

28

29

29

28

28

29

29

29

28

29

29

30

29

29

29

36

28

28

29

42

28

29

29

46

28

29

29

59

29

29

30

73

29

29

28

10

84

28

29

30

11

97

28

29

30

12

105

28

28

30

13

107

29

31

29

14

107

29

80

29

15

108

33

86

29

16

108

77

91

29

17

109

85

94

29

18

109

87

95

29

Percobaan 2

19

109

89

96

32

20

109

90

96

36

21

108

92

96

41

22

109

92

96

47

23

109

92

97

50

24

110

92

96

54

25

110

93

97

57

26

110

93

96

61

27

110

93

96

64

28

110

93

96

69

29

110

93

96

71

30

110

94

97

76

31

110

94

98

79

32

111

93

98

81

33

112

94

97

83

34

111

94

97

83

35

111

94

96

83

36

111

94

98

85

37

111

95

98

85

38

111

94

97

85

39

112

94

98

86

40

111

95

98

87

41

111

94

98

85

42

112

94

97

86

43

111

94

98

87

44

111

95

96

86

45

113

95

98

88

46

112

95

98

87

47

113

94

97

88

48

113

94

97

87

49

114

94

97

87

50

115

94

97

86

51

114

95

98

87

52

114

94

98

87

53

114

94

98

85

54

115

95

98

85

55

115

95

98

86

56

115

95

99

84

57

116

95

98

83

58

116

94

99

82

59

117

94

97

80

60

117

93

98

78

61

117

94

98

78

VI.

ANALISA PERCOBAAN

Destilasi fraksionasi adalah suatu teknik pemisahan larutan yang mempunyai


perbedaan titik didih. Pada praktikum kali ini dillakukan distilasi minyak mentah
dengan menggunakan seperangkat alat distillation bridge yang dihubungkan ke
perangkat komputer, sehingga secara otomatis kita dapat suhu proses yang terjadi di
layar komputer.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui fraksi-fraksi minyak bumi
sebagai distilat dan residu. Distilasi minyak mentah merupakan suatu proses pemisahan
fraksi-fraksi minyak berdasarkan titik didihnya.
Ada 4 titik / tray pada alat distilasi ini, yaitu A11, B12, B11 dan A12. Tray A11
merupakan tempat / wadah dari minyak yang akan di distilasi. Fraksi yang memiliki
titik didih paling rendah akan terkondensasi terlebih dahulu. uap akan naik ke titik
pertama (B12) dan terkondensasi. Selanjutnya, uap akan naik ke titik kedua (B11)
hingga ke tray yang ketiga (A12).
Berdasarkan referen, titik didih standar dari fraksi fraksi minyak adalah
sebagai berikut :
Fraksi

Titik didih (0C)

Gas

0 50

Gasoline

50 85

Kerosin

85 105

Solar

105 135

Residu

>135

Selanjutnya, dilakukan analisa pada kedua hasil kondensat tersebut. Analisanya


yaitu ; titik nyala dan indeks bias.

VII.

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Distilasi minyak mentah merupakan pemisahan fraksi-fraksi berdasarkan
titik didih.

2. Fraksi yang memiliki titik didih paling rendah akan menguap lebih dulu dan
terkondensasi. Hal itu terjadi pada titik pertama yang merupakan tray B12.
3. Tujuan distilasi minyak mentah adalah memisahkan fraksi-fraksi minyak
berdasarkan titik didihnya.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
- Jobsheet. 2015. Praktikum Teknologi Minyak Bumi. POLSRI : Palembang
- www.Google.com
- www.scribd.com