INSTEK KISTA OVARIUM
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas Keperawatan Perioperatif 3
Yang dibimbing oleh Bapak Yosep Catur Wibowo, SST
Oleh:
Kelompok 2
Cristoforus Frumensius Pay 1501410002
Dewi Andryani
1501410017
Intan Rizki Andini
1501410024
Taufiqurrahman
1501410037
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
November 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt, atas segala rahmat dan hidayah yang telah diberikan
kepada kita semua, sehingga makalah teknik instrumentasi hernia inguinalis ini dapat
diselesaikan dan disusun dengan baik.
Makalah ini kami susun untuk memahami bagaimana penerapan teknik insrumentasi
hernia inguinalis di kamar operasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
kamimengharap masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun, demi
kelengkapan makalah kami.
Kami berharap, dengan makalah ini dapat menjadikan peningkatan dalam proses belajar
kami dalam mata kuliah keperawatan perioperatif. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Penyusun
Kelompok 7
DAFTAR ISI
2
KATA PENGANTAR .......................................................................................................2
DAFTAR ISI .....................................................................................................................3
PENDAHULUAN
1. Definisi ...........................................................................................................4
2. Etiologi ...........................................................................................................4
3 Indikasi ............................................................................................................4
4. Tujuan dan Manfaat.........................................................................................5
5. Persiapan Pasien..............................................................................................5
6. Persiapan Kamar Operasi ...............................................................................6
7. Instrumen kista ovarium..................................................................................6
8. Instek Kista Ovarium.......................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................11
1. PENDAHULUAN
a. Definisi
3
Kista Ovarium merupakan perbesaran sederhana dari ovarium normal. folikel de graf
atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari
epithelium ovarium (Smeltzer and Bare, 2002).
Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh
hormonal dengan siklus menstruasi (Lowdermilk dkk, 2005).
b. Etiologi
Penyebab dari kista ovarium belum diketahui secara pasti, tapi ada beberapa faktor
pemicu yaitu:
1. Gaya hidup tidak sehat
- Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang sehat
- Zat tambahan pada makanan
- Kurang olahraga
- Merokok dan konsumsi alkohol
- Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
- Sering stress
- Zat polutan
2. Faktor Genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang berpotensi memicu kanker yaitu yang
disebut protoonkogen karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang
bersifat karsinogen, polusi dan terpapar zat kimia tertentu atau radiasi. Protoonkogen
ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
c. Indikasi
Adapun indikasi operasi pada kista ovarium adalah:
- Kista berdiameter lebih dari 5 cm, dan telah diobservasi selama 6-8 minggu tanpa
-
ada pengecilan tumor
Ada bagian padat dari dinding tumor
Dinding tumor bagian dalam berjonjot
Kista lebih besar dari 10 cm disertai ascites
Adanya kista torsi atau rupture kista
Apabila dinyatakan bahwa kista yang tumbuh dalam tubuh berukuran menjadi
semakin besar, tampak tidak normal ketika dilihat menggunakan pemindai
ultrasonik, menyebabkan rasa sakit dan menyebabkan seorang wanita tidak
mengalami siklus menstruasi, maka biasanya dokter akan menyarankan
penanganan berupa operasi. Wanita yang telah mengalami menopause juga bisa
disarankan untuk operasi. Ada beberapa jenis operasi penyakit kista, yaitu:
1. Operasi laparoscopi. Dokter akan sedikit menoreh bagian perut, kemudian
mengidentifikasi kista untuk selanjutnya dilakukan pengangkatan kista, atau
hanya sekedar pengambilan sample saja.
2. Laparotomy. Operasi ini lebih besar. Pembedahan pada bagian perut
dilakukan untuk mengangkat kista.
4
3. Operasi untuk menekan tumbuhnya kista kembali. Kista dapat tumbuh
kembali di ovarium dan menyebabkan sakit parah di bagian perut sehingga
mengurangi nafsu makan dan menyebabkan muntah. Jika ini terjadi, ini
merupakan kondis darurat, sehingga operasi harus dilakukan untuk
menanganinya
d. Tujuan dan Manfaat
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba
(Salpingo-oovorektomi). (Wiknjosastro, et.all, 1999).
2. PERSIAPAN PASIEN
a. Pasang infus, DC , skin tes
b. Skiren
c. Keadaan umum pasien di awasi
d. Status pasien dilengkapi
e. Tim op menelpon bangsal untuk menurunkan pasien ke ruangan persiapan
f. Pasien ganti baju dan topi operasi
g. Semua perhiasan dan aksesoris lain-lain dilepas dahulu
h. Surat persetujuan operasi
3. PERSIAPAN KAMAR OPERASI
-
Meja Operasi
Lampu Operasi
Meja Linen
Meja Mayo (2) / Meja Instrumen
Mesin ESU
Mesin Suction Pump
Standar Infus
Bedside Monitor
Peralatan Oksigenasi
Tempat Sampah
5
Tempat Duduk
4. ALAT-ALAT/ INSTRUMEN
1) Desinfeksiklem/dressing forcep (ukuran 26,5 cm)
:1
2) Mangkok
:2
3) Cucing
:2
4) Pincetchirurgis/tissue forceps ukuran 13-14,5 cm
:2
5) Pincet anatomis kecil ukuran,dessecting forcep ukuran 11,5-14,5 cm
:2
6) Pincet anatomis panjang/dessecting forcep ukuran 16-20cm
:2
7) Pincet anatomis manis ujung kecil/delicate ,dessecting forcep ukuran20 cm
:1
8) Pincet chirurgis panjang,tissue forcepukuran 16-20 cm
:1
9) Musquito/klem pean kecil
:2
10) Klem pean bengkok sedang
:4
11) Klem kocher bengkok sedang
:4
12) Pean priper
:2
13) Klem pean lurus sedang/delicate hemostatic forceps
:1
14) Mikoliq/peritoneum klem ukuran 18 cm
:4
15) Naldfoeder besar/needle holdersukuran 18,5 -20 cm
:3
16) Naldfoeder/needle holderskecilukuran 14,5cm
:1
17) Ringklem/sponge holding 18 cm
:2
18) Klem peanhisterectomi
:4
19) Canule sucton laparatomi
:1
20) Richardson retractor ukuran 25-27cm
: 1pasang
21) Timan retractor besar/deaver wound retactur dari berbagai ukuran
:4
22) Towel klem
:5
23) Slang suction
:1
24) Gunting benang lurus
:1
25) Gunting mayo besar panjang
:1
26) Gunting metszembum panjang
:1
27) Scalpel Handles no 4
:1
28) Langenbeck/ wound retractor
:2
29) Jarum :
Round besar tanggung
:2
Round tipis ( untuk peritoneum fiserale )
:1
Round sedang ( Untuk peritoneum parietale)
:1
Cuting ( untuk fascia, fat )
:1
BAHAN HABIS PAKAI
-
Mess no 22
Handscoen
Ns 0,9 %
Kasakecil
Buiggaas
Deppers
: 1 buah
: 4 pasang
: 2 fles
: 3 bendel
: 5 buah
: 10 buah
6
Povidon iodine
Saflon 4
Sterile tulle grass
Hipafik
Cutgutcromic 2
Cutgut plain 1 / 2 0
Polyglactin 1
Glyconate monofilament absorbable
: 1 lembar
: 1 pak
: 1 pak
: 1 pak
: 1 pak
LINEN
-
Duk lubang besar
Duk tulang
Duk kecil
Sarung meja mayo
Perlak kecil
Scort
5.
: 1 buah
: 2 buah
: 4 buah
: 1 buah
: 3 buah
: 3 buah
INSTEK
1. Sign In (dihadiri seluruh tim operasi sebelum induksi)
Identifikasi identitas, area operasi, tindakan operasi dan lembar persetujuan
Identifikasi area operasi (lateralisasi)
Identifikasi mesin anastesi, pulse oksimeter dan obat-obatan anastesi
Identifikasi riwayat alergi pasien
Identifikasi resiko aspirasi dan kehilangan darah
2.
Perawat sirkuler mengatur posisi klien supine
3.
Anastesi melakukan pembiusan, pasang arde pada kaki pasien
4.
Perawat sirkular mencuci area operasi dengan sabun dan langsung
dikeringkan
5.
Perawat instrument melakukan surgical srubing, gowning, gloving dan
membantu operator serta asisten untuk gowning dan gloving
6.
Operator melakukan desinfeksi area operasi, berikan desinfeksi klem
dan kom berisi 3 deppers dan povidone iodine
7.
Operator dan asisten melakukan draping, berikan duk besar untuk
bawah dan atas, duk sedang untuk samping kanan dan kiri berikan duk klem untuk
fiksasi keempat sisinya, berikan duk kecil untuk bagian bawah, terakhir berikan duk
tapal kuda
8.
Dekatkan meja mayo, meja instrumen dan troli waskom ke meja
operasi, pasang suction, hand couter fiksasi dengan kassa + duk klem
9.
Perawat siap membacakan time out
10.
Operator mulai melakukan insici posisi insici median, berkan Hv mess
no 3 dengan mess no 20 untuk insici kulit sampai lemak, berikan kassa kering dan
arteri klem vanpean kepada asisten untuk melakukan perawatan perdarahan dengan
cauter (coagulan)
11.
Berikan Hv no: 3 dan mess: 20 ke operator dan 2 kocher untuk asisten
untuk insisi ke vasia, dan perlebar incisi dengan menggunakan gunting mayo.
12.
Setelah vasia terbuka berikan langenbeck kepada asisten untuk
memperluas lapangan operasi
13.
Berikan pinset anatomis ke operator untuk membuka otot secara
tumpul
14.
Berikan pinset anatomis dan gunting metzenboum untuk membuka
peritoneum
15.
Berikan 4 peritoneum klem untuk memegang atas, bawah, kanan, kiri
peritoneum
16.
Berikan deaver retractor untuk membuka rongga perut
17.
Berikan kassa besar untuk melindungi usus
18.
Berikan deaver retractor untuk memperlebar rongga perut
19.
Berikan arteri klem vanpean 20 cm 3 buah untuk menjepit kista, 2
menjepit ke arah pembuluh darah
20.
Berikan gunting metzenboum untuk memotong kista kanan atau kiri
21.
Berikan hecting set dengan benang cromic no: 2 untuk menjahit daerah
tuba
22.
Berikan hecting set dengan benang cromic no: 2 untuk menjahit bagian
ke arah pembuluh darah, 2 kali
23.
(evaluasi perdarahan), jika perdarahan, siapkan hecting set dengan
benang cromic no:2
24.
(instrument mengingatkan untuk mengambil kasa besar)
25.
Berikan cairan NaCl 0,9 % (bila perlu) untuk mencuci intra abdoment
8
26.
(Berikan hecting set dengan benang plain no: 1 untuk menjahit
peritoneum
27.
Berikan hecting set dengan benang plain no: 00 untuk menjahit otot
28.
Sign Out (dilakukan sebelum menutup fasia)
Perawat sirkuler mengkonfirmasi jenis tindakan dan bahan spesimen
(bila ada) kepada operator
Perawat instrumen mengkonfirmasi penggunaan jumlah kassa, alat dan
jarum
29.
Berikan hecting set dengan benang cromic no: 2 atau vicril no: 0 untuk
menjahit vasia
30.
Berikan hecting set dengan benang plain n0: 000 atau no: 00 untuk
menjahit lemak
31.
Berikan hecting set dengan benang zeide no: 000 atau no: 00 atau
prolin no: 000 untuk menjahit kulit
32.
Setelah proses penjahitan selesai berikan kassa basah untuk
membersihkan area operasai kemudian dikeringkan dengan kassa kering, tutup dengan
sufratule, kasa kering kemudian hepafik
33.
Alat-alat dibersihkan, pasien dirapikan
34.
Perawat intrumen menginventarisasi alat-alat dan bahan habis pakai,
kemudian mencuci alat-alat dan menata instrumen pada intrumen set, serta merapikan
kembali ruangan
DAFTAR PUSTAKA
F. Gary Cunningham, F. Gant N.(et al), alih bahasa, Andry Hartono, Y. Joko S.(et al). 2005.
Obstetri William. Edisi 21. Cetakan pertama. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC..
p1036-1037.
Turkanto, 2005, (INSTEK) Instrumentasi Teknik, PT Media Mitra Persada, Solo
Puruhito dkk, 2001, Pedoman Teknik Operasi, Airlangga University Press, Surabaya
10