Anda di halaman 1dari 2

Konsep Manusia dalam Al-Quran

Al-Quran adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk segenap
manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan manusia, mengajarkan tauhid dan
menyucikan manusia dengan berbagai ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat
membawa kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial, membimbing
manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri, mengembangkan kepribadiannya, serta
meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Berbicara tentang manusia, manusia merupakan makhluk Allah yang paling tinggi
derajadnya dibanding makhluk lain. Di dalam kitab suci Alquran, Allah SWT menggunakan
beberapa istilah yang pada dasarnya menjelaskan tentang konsep manusia, bahkan istilah-istilah
itu disebutkan lebih dari satu kali. Istilah-istilah manusia dalam Alquran memiliki arti yang
berbeda-beda. Berikut tujuh istilah 'manusia' dalam Alquran, sebagai berikut:
a. Konsep al-Basyar

Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Quran dengan menggunakan kata
basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar adalah , menunjukkan makna
bahwa manusia adalah anak keturunan Nabi Adam as dan makhluk fisik yang juga suka
makan serta minum. Kehidupan manusia terikat dengan kaidah prinsip kehidupan biologis
seperti berkembang biak.
Secara sederhana, Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia dinamai basyar karena
kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang yang lain. Dengan kata
lain, kata basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai
bentuk tubuh yang sama, ia, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini.
b. Konsep Al-Insan
Al Ihsan memiliki arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Istilah ini menunjukkan
bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir dibanding dengan makhluk
lainnya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, mengetahui yang
benar dan yang salah, serta dapat meminta izin ketika menggunakan sesuatu yang bukan
miliknya. Manusia dalam istilah ini merupakan makhluk yang dapat dididik, memiliki
potensi yang dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
c. Konsep Al-Nas
Menunjukkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Manusia harus menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya. Dari awal terciptanya,
seorang manusia berawal dari sepasang laki-laki dan wanita. Ini menunjukkan bahwa
manusia harus hidup bersaudara dan saling membantu.
d. Konsep Bani Adam
Manusia dalam istilah ini memiliki arti keturunan Adam. Istilah ini digunakan untuk menyebut
manusia bila dilihat dari asal keturunannya. Istilah 'Bani Adam' disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7
ayat Alquran. Menurut Thabathabai dalam Samsul Nizar : penggunaan kata bani Adam

menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang

dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya
adalah dengan berpakaian guna manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan
Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran.
Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan
mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah
dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain.
e. Konsep Al-Ins
Al Ins memiliki arti tidak liar atau tidak biadab. Istilah Al Ins berkebalikan dengan istilah
al jins atau jin yang bersifat metafisik dan liar. Jin hidup bebas di alam yang tidak dapat
dirasakan dengan panca indra. Berbeda dengan manusia yang disebut menggunakan istilah al
ins. manusia adalah makhluk yang tidak liar, artinya jelas dan dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin,
maka manusia adalah makhluk yang kasat mata. Sedangkan jin adalah makhluk halus yang
tidak tampak,
f. Konsep Abd. Allah
Manusia itu pada hakikatnya adalah turunan dari manusia pertama yang bernama Adam,
karena itulah disebut Bani Adam (Keturunan Adam). Jawaban ini tentu tidak salah, tetapi ada
rahasia yang sangat agung kenapa Allah menyebut manusia sebagai Bani Adam.
Al Quran merupakan kalam yang agung, karena itu pemilihan katanya pun sangat selektif
dan tentu saja sangat sesuai dengan tuntutan alur kalam. Pada ayat di atas Allah secara tegas
mengatakan bahwa Dia memuliakan anak-anak Adam dengan memberi mereka akal, bisa
berbicara, bisa menulis, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bentuk
tubuh yang baik, bisa berdiri tegak serta bisa mengatur kehidupan, baik sekarang di dunia
maupun untuk nanti di akhirat. Manusia juga dimuliakan oleh Allah dengan memberi mereka
pendengaran, penglihatan dan hati, dimana ketiganya merupakan modal yang berharga untuk
memahami segala hal.
g. Konsep Khalifah Allah
Khalifah berarti pengganti, yaitu pengganti dari jenis makhluk yang lain, atau pengganti,
dalam arti makhluk yang diberi wewenang oleh Allah agar melaksanakan perintahNya di
muka bumi. Pada hakikatnya eksistensi manusia dalam kehidupan dunia ini adalah untuk
melaksanakan kekhalifahan, yaitu membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya ini.,
sesuai dengan kehendak Penciptanya. Peran yang dilakonkan oleh manusia menurut
statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua jalur, yaitu jalur horizontal
dan jalur vertikal.
Peran dalam jalur horizontal mengacu kepada bagaimana manusia mengatur hubungan
yang baik dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan peran dalam jalur vertikal
menggambarkan bagaimana manusia berperan sebagai mandataris Allah. Dalam peran ini
manusia penting menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya untuk menguasai alam dan
sesama manusia adalah karena penegasan dari Penciptanya.