Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat TUHAN YANG MAHA ESA karna
berkat dan rahmatNYAlah kami dapat menyelesaikan makalah seminar keperawatan jiwa
ini dengan judul Asuhan Keperawatan Kepada Klien Halusinasi Pendengaran di Ruang
Murai Rumah Sakit Jiwa Soeprapto Bengkulu
Dalam penyusunan makalah ini masiih banyak terdapat kekurangan-kekurangan,
untuk itu kami mengharapkan mamsukan atau sanggahan yang sifatnya membangun
dalam penyempurnaan makalah ini.
Dan juga kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam penyusunan makalah ini kami tujukan kepada:
1. Bapak dr.H.Mucthar, selaku kepala RSJKO Bengkulu yang telah
membarikan izin kepada kami untuk praktek disini.
2. Bapak Adriansyah ssos,MM selaku kepala prodi D III keperawatan UNRAS
Argamakmur.
3. Bapak Danirul Sanadi dan Astan Fahliwi selaku CI pembimbing RSJKO
Bengkulu.
4. Bapak Edwin Junaidi dan Ibu Koryani selaku dosen pembimbing dari
pendidikan.
5. Serta teman-teman seperjuangan yang mendukung dalam penyusunan
makalah ini.
Sebagai harapan akhir kami, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada pembaca umumnya dan khususnya kepada penyusun.

Penyusun

Kelompok I

Asuhan keperawatan klien pada Tn.S dengan gangguan


halusinasi

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I RUANG MURAI
LISNAWATI JUMIARTA SIANTURI
SEPTIANI
AGUSTINA
ZAKIA SOSIANA
KHERYA
YULIESTI EKA FITRI
KIKI EFYANI
YANTORI

D III KEPERAWATAN UNIVERSITAS RATU SAMBAN


ARGAMAKMUR
2008

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Jiwa yang sehat adalah keadaan di mana struktur kepribadian
individu relatif stabil dan berinteraksi dengan lingkungan serta mampu
menyanggah atau menahan stress yang berasal dari lingkungan dengan
kapasitas (marmor jeanetta,1980:519)
Sedangkan gangguan jiwa adalah sindrom perilaku
psikologik seseorang yang secara teknik cukup bermakna dan secara
berkaitan dengan segala sesuatu tentang penderitaan) ;distress
hendaya(impairment/distability) didalam suatu atau lebih fungsi
penting dari manusia negatif ( RTA ) ( Realiti Testing Ability )

atau
khas
dan
yang

Adapun proses pertama yang menyebabkan terjadinya halusinasi


adalah terjadinya stressor baik stressor jangka panjang maupun
pendek,namun mekanisme koping yang dimiliki oleh setiap individu
umumnya dapat menghilangkan halusinasi.contoh mengungkapkan secara
verbal yang dengan mempertimbangkan kebutuhan orang lain,namun ada
penderitaan gangguan jiwa,halusinasi ini disebabkan oleh karena klien
menggunakan mekanisme maladaptif.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan
perubahan persepsi sensori ; halusinasi pendegaran di rumah sakit jiwa
Bengkulu.
2. Tujuan khusus
a.mampu mengkaji pada klien Tn.S dengan perubahan persepsi sensori
kemudian meganalisa data dan merumuskan masalah keperawatan
untuk memenuhi prioritas masalah .
b.mampu menyusun masalah tindakan keperawatan pada klien Tn.S
dengan perubahan sensori ;halusinasi pendengaran.
c.dapat menilai hasil tindakan yang di tetapkan terhadap klien Tn.S
dengan perubahan persepsi sensori;halusinasi pendengaran.
d.dapat mengindentifikasi kesenjangan antara teori dan praktek padkasus
Tn.S dengan perubahan persepsi sensori;halusunasi pendengaran.
e.mampa melaksanakan implementasi keperawatan pada Tn.S dengan
perubahan sensori ; halusinasi pendengaran.

f.dapat membantu proses keperawatan pada Tn.S dengan perubahan


persepsi sensori
g.sebagai bahan masukan bagi mahasiswa/ institusi pendidikan dan
rumah sakit dalam memberikan asuhan keperawatan pada Tn.S dengan
perubahan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
C.Ruang Lingkup
Dalam ruang lingkup ini, kelompok hanya membahas pada klien
Tn.S dengan asuhan keperawatan resiko menciderai diri sendiri dan
orang lain, perubahan persepsi sensori; halusinasi pendengaran dan
gangguaan harga diri rendah yang merupakan percobaan pada pohon
masalah utama yang ditemukan pada Tn.S.
D.Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
: Terdiri dari latar belakang, tujuan
umum, tujuan khusus, ruang lingkup
dan sistematika penulisan.
Bab II
: a. konsep teori masalah utama
Berisikan tentang penyusunan teoriteori medis, ilmu keperawatan yang
berhubungan dengan perubahan
persepsi sensori yang dimiliki
pengertian
tentang
respon,
penyebab, gejala dan komplikaksi.
b. konsep keperawatan
berisikan tentang uraian pengkajian
data dasar, pohon masalah ( teori )
masalah keperawatan ( teori ),
analisa data, diagnosa keperawatan.
Bab III
: Dalam bab ini berisikan pengkajian
pada klien, pohon masalah pada klien,
masalah keperawatan klien, analisa data
pada klien, diagnosa keperawatan pada
klien dan strategi pelaksanaan tindakan
pada klien, evaluasi keperawatan pada
klien.
Bab IV
:
Bab
ini
berisikan
tentang
perbandinngan antara teori medis dan
teori keperawatan dengan praktek
pelaksanaan tindakan keperawatan pada

Bab V

klien sehingga dapat ditemukan


kesenjangan antara teori dengan
masalah yang nyata pada klien.
: Yang mencakup kesimpulan dan
saran-saran yang dapat diberikan oleh
penulis setelah melakukan asuhan
keperawatan pada klien perubahan
persepsi sensori , baik itu untuk penulis,
institusi
Rumah
Sakit
Jiwa
Ketergantungan Obat Bengkulu.

BAB II
LANDASAN TEORI
I.Masalah utama
Halusinasi
II.Proses Terjadinya Masalah
A. Pengertian
- halusinasi adalah tanggapan / persepsi panca indra tanpa
rangsangan dari ( external ), dapat berupa halusinasi dengar,
penciuman, raba, penglihatan, dan pengecapan. ( Maramis,
1998 ).
- Halusinasi merupakan pengindraan tanpa rangsangan external
dimana pasien merasakan halusinasi suatu yang amat nyata
untuk saat tertentu. ( Lubis, 1993 ).
B. Gambaran klinis dan Diagnosa
1. Halusinasi berhubungan dengan salah satu panca indra tertentu
yang khas seperti :
- halusinasi pendengaran ( audiotorik )
- halusinasi penglihatan ( visual )
- halusinasi perabaan ( taktil )
- halusinasi pengecapan ( gustatorik )
- halusinasi penciuman ( olpaktorik )
Lamanya situasi saat terjadinya, arti halusinasi sering terjadi dalam
beberapa indra secara multipel dan sering berhubungan dengan
gangguan waham dan penilaian yang salah.
2. Halusinasi merupakan gejala psikotrik
- halusinasi visual, olfaktorik dan gustatorik paling sering
ditemukan pada gangguan organik. ( Epilepsi temporalis )
- halusinasi taktil berupa kutu yang diatas / dibawah kulit sering
dijumpai pada intoksikasi, kokain, putus alkohol dan hipnotika,
sedatif. Halusinasi yang dapat timbul pada saat pasien tidur
( hipnogokik ) / saat terbangun dari tidur ( hipnoporapik )
dianggap tidak patologik.
Halusinasi merupakan gejala beberapa gangguan psikiatrik, seperti
- schizopremia
- gangguan schizopeniform
- psikosis reaktif sejenak
gangguan schizoid

- maniak
- depresi psikotik
- gangguan psikotik yang disengaja
C. Tingkat Intensitas halusinasi / fase-fase halusinasi
1. Tahap I : Menenangkan ( ansietas tingkat sedang )
- Bersifat menyenangkan
- Karakteristik
- Mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa
b
Ersalah dan takut.
- Individu tahu bahwa pikiran / sensori tersebut dapat
dikendalikan bila ansietasnya bisa diatasi.
- Perilaku yang teramati
- Tertawa yang tidak sesuai
- Menggerakkan bibir tanpa bersuara
- Gerakan amat cepat dan respon verbal lambat
- Diam dan dipenuhi dengan hal yang mengasyikkan
2. Tahap II : Menyalahkan ( ansietas tingkat berat )
- Bersifat menjijikkan
- Karakteristik
- pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan
- kehilangan kendali dan menjauhkan diri dari sumber yang
dipersepsikan
- sering merasa malu karena pengalaman sensorinya dan
menarik diri dari orang lain ( non psikotik )
- Perilaku yang teramati
- peningkatan sistem syaraf otonom yang menunjukkan ansietas
- penyempitan kemampuan kosentrasi
- dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara
halusinasi dan realita.
3. Tahap III : Mengendalikan ( tingkat berat )
- karakteristik :
- halusinasi lebih menonjol
- klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya
- Perilaku yang teramati
- halusinasinya memberi kesenangan dan rasa aman sementara.
4. Tahap IV : menaklukan ( tingkat panik )
- Sifat : Halusinasi menjadi lebih rumit terkait dengan delusi.
- Karakteristik

- Halusinasi dapat berlangsung beberapa jam / hari jika tidak


- Perilaku yang teramati
perilaku menyerang / teror seperti panik
potensial melakukan bunuh diri / membunuh
kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk,
dan menarik diri
Tidak mampu berespon pada petunjuk yang kompleks
Tidak dapat berespon terhadap lebih dari satu orang
D. Jenis halusinasi
1. Halusinasi pendengaran
Klien mendengar suara dan bunyi berhubungan dengan stimulasi
nyata dan orang lain tidak mendengar
2. Halusinasi penglihatan
Klien melihat gambar yang nyata / samar-samar tanpa stimulasi
yang nyata dan orang lain tidak melihat
3. Halusinasi pengecapan
Klien merasa mengecap rasa di mulut tapi tidak ada sumbernya
4. Halusinasi raba
Klien dapat merasa ada yang merayap pada kulitnya padahal tidak
ada
5. Halusinasi penciuman
Klien merasa mencium sesuatu bau berhubungan dengan stimulasi
nyata dan orang lain tidak menciumnya
E. Rentan respon neurobiologik
Adaptif

Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan
pengalaman
Perilaku cocok
Hubungan sosial
Dinamis

Mal adaptif

Kadangkadang proses
pikiran
terganggu
Emosi labil
Perilaku tidak
biasa
Menarik diri

Gambar : 1.2 Rentang respon neurobiologik

Gabungan
proses pikir /
waham
Halusinasi /
ilusi
Perilaku yang
tidak
terorganisasi
Isolasi sosial

F. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi
1. perkembangan sosial
pengalaman mempengaruhi perkembangan seseorang. Contoh
kebanyakan walaupun bagian dari individu sangat sulit untuk
mengontrol emosinya.dan itu semua menggambarkan dirinya.
2. biologis
implikasi bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi status
emosi seseorang
3. psikologis
ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi emosi
4. stress yang menumpuk.
G. Faktor presipitasi
Sosial budaya ( stress, kecemasan, penurunan stabilitas,
keluarga, perpisahan dengan orang lain )
Faktor biokimia ( dopamin, norepineprin, kalekolamin, zat
halusinogenik )
Faktor psikologi ( kecemasan ekstrim yang memanjang )
H. Pengkajian
Fisik

Muka merah kadang pucat

Ekspresi wajah tegang

TD meningkat

Nafas Terengah engah

Timbul Gangguan kebutuhan yang mengakibatkan


keadaan fisik menurun
Emosi
Ketakutan dan rasa tegang
Rasa tidak aman dan nyaman
Tidak berdaya menyalahkan diri sendiri atau orang lain
Sikap curiga dan bermusuhan
Rasa tegang, marah, jengkel, dendam, benci dan sakit hati
Sosial
Menarik diri, menghindari orang lain
Berbicara sendiri
Komunikasi Verbal terganggu
Biasa inkoheren dan tidak masuk akal

Merusak diri sendiri, orang lain / lingkungan


Intelektual
Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak

nyata

Sulit membuat keputusan

Tidak dapat memusatkan perhatian / konsentrasi

Berfikir abstrak dan daya ingat yang menurun


Spiritual
Menyatakan bisa mendengar suara tuhan. Ia berasal dari planet
lain
Akibat dari disosiasi kepribadian maka terjadi gangguan fungsi
mental
I. Masalah keperawatan

Resiko kekerasan, menciderai diri sendiri, orang lain atau


lingkungan

Perubahan persepsi sensori, halusinasi pendengaran

Isolasi sosial menarik diri

Harga diri rendah

Koping individu in efektif


J. Pohon masalah
Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Perubahan persepsi sensori ; Halusinasi

Isolasi sosial ; menarik diri


Harga diri rendah
koping individu inefektif
K. Diagnosa keperawatan
1. Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan B/D
perubahan persepsi sensori halusinasi.
2. Perubahan persepsi halusinasi B/D isolasi sosial menarik diri

3. isolasi sosial menarik diri B/D dengan harga diri rendah


4. harga diri rendah B/D koping individu inefektif

BAB III
GAMBARAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.S.DENGAN
GANGGUAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG MURAI
RUMAH SAKIT JIWA KETERGANTUNGAN OBAT SOEPRAPTO
BENGKULU
A. PENGKAJIAN
Ruang rawat
Tanggal rawat
Tanggal pengkajian

:
:
:

1. IDENTITAS KLIEN
Nama
Umur
Jenis kelamin
Status perkawinan
Pekerjaan
Agama

Murai
28-01-2008
: Tn.S
: 38 Tahun
: Laki-laki
: kawin
: Pedagang
: Islam

IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB


Nama
: NY. I .
Umur
:35 THN
Pekerjaan
: Wartawan
Alamat
:Lingkar barat
II. ALASAN MASUK
Menurut data yang didapat dari RSJKO Bengkulu, klien masuk
tanggal
, diantar oleh keluarganya.Dari data yang
didapat bahwa klien suka marah-marah, memukul kaca, suka
ngomong sendiri, sudah 2 kali dibawa ke RSJKO Bengkulu. Gejala
ini timbul sejak lebih kurang 5 bulan yang lalu, klien perna berobat
kedukun,tidak berhasil kemudian klien dibawak kembali keRSJKO
bengkulu.sebelum nya klien pernah memukul pamannya gara
gara berebut warisan.

Masalah keperawatan :resiko menciderai diri sendiri,orang lain dan


lingkungan.
III.
klien pernah mengalami gangguan jiwa
sebelumnya. Klien sudah pernah masuk dua kali. Yang pertama
tahun 2003 yang kedua tahun 2004. sebelum klien diantar ke
rumah sakit, klien pernah berobat ke dukun atau orang pintar tapi
kurang berhasil.
Masalah keperawatan : regimen/
kurang pengetahuan keluarga tentang perawatan klien dirumah
IV. Pemeriksaan fisik
1. Tanda-tanda vital
TD
: 130 / 80 mmHg
N
: 80 X/M
S
: 36,5
RR
: 24 X/M
2. Ukur
TB
: 155 CM
BB
: 53 THN
3. KELUHAN FISIK
Terdapat bekas luka dan jahitan dilehernya
V. Psikososial
1. Genogram

Keterangan :
Klien adalah anak kedua dari 5 bersaudara, memiliki 3 saudara laki-l
aki dan 2 orang perempuan. Klien sudah menikah dan memiliki 2
orang anak.1 perempuan dan 1 laki-laki.
2. Konsep diri

a. gambaran diri
Klien tidak suka dengan lehernya, klien mengatakan minder
dengan luka pada lehernya.
Mk : Harga diri rendah
b. identitas
Klien tamat STM, bekerja sebagai wiraswasta, klien sudah
menikah dan memiliki 2 orang anak, klien adalah seorang laki-laki
berumur 38 tahun. Klien mengaku anak kedua dari 5 bersaudara.
Klien merasa puas dengan jenis kelaminnya.
c. peran
klien tinggal bersama bibinya,di curup. Sementara istri dan kedua
anaknya tinggal dipariaman
d. ideal diri
klien berharap agar cepat sembuh dan pulang agar bisa berkumpul
kembali bersama keluarganya.
3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti bagi klien adalah istri, bibi, dan anakanaknya serta keluarganya.
b. Klien pernah mengikuti kegiatan kemasyarakatan,yaitu
pemuda pancasila
c. Klien sulit berhubungan dengan orang lain karena selalu ada
bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk pulang, berbisnis,
bersama jin.
MK : Kerusakan interaksi sosial
4. Spiritual
a. Nilai dan kenyakinan
Klien beragama islam dan klien mengatakan percaya kepada Allah
SWT.
b. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan tidak pernah melakukan ibadah.
VI. Status mental
1. penampilan
klien berpakaian rapi, rmbut tidak acak-acakan, gigi dan kuku
kurang bersih, dan pakaian sering ganti.
2. pembicaraan
klien berbicara cepat, klien koopeatif berbicara sesuia dengan apa
yang ditanyakan.
3. aktivitas motorik
klien tampak bersemangat
4. alam perasaan

klien tampak sedih dan sering menyendiri serta suka melamun.


5. afek
klien memiliki afek yang datar karna tidak ada perubahan roman.
6. interaksi selama wawancara
sewaktu diajak bicara kadang respon klien baik, dan kontak mata
baik.
7. persepsi
klien mendengar suara yang menyuruh untuk pulang, dengan
janji kalau dia pulang akan diberi mobil, rumah dan diajak
berbisnis.
8. proses pikir
klien berbicara berbelit-belit tapi sampai pada tujuan.
9. isi pikir
klien mengatakan ada pikiran yang selalu dan muncul waluapun
klien sudah berusaha untuk menghilangkannya
10.tingkat kesadaran
tingkat kesadaran baik
11.memori
klien dapat mengingat dalam jangka waktu yang pendek(klien
masuk rumah sakit di antar oleh keluarganya)
12.kemampuan penilian
klien hanya mengalami gangguan ringan,karena klien masih bisa
membedakan warna warni membedakan antara laki laki dan
perempuan
13.tingkat kosentrastrasi dan berhitung
kadang kadang klien tidak kosentrasi dan mudah teralih
14.daya tarik diri
klien merasa dirinya tidak berharga dan merasa tidak ada yang
memperhatikan diri nya
VII. Kebutuhan persiapan pulang
1) makan
klien makan 3 x 1, poorsi makan selalu habis
2) BAB / BAK
BAB
: I X I sehari
BAK
: 3-4 X sehari
3) Mandi
Mandi
: 3 x 1 sehari
4) Berpakaian
Klien mampu memilih dan menggunakan pakaian sesuai
kondisi.

5) Istirahat dan tidur


Pada siang hari klien tidak bisa tidur
Tidur malam lamanya 6-8 jam, sekitar pukul 20.00-05.00 wib.
6) Penggunaan obat
Klien mengatakan obat dimakan 3 x sehari
7) Pemeliharaan kesehatan
Klien kurang mampu memelihara kkesehatan dirinya
8) Kegiatan didalam rumah
Klien kurang mampu membersihkan dan menjaga kebersihan
rumah.
9) Kegiatan diluar rumah
Klien tidak mampu bertransportasi , jika klien pulang
diharapkan klien mampu menjadi seorang suami yang baik.
VII. Mekanisme koping
Mekanisme koping ,yang dilakukan klien yaitu
melakukan aktivitas sesuai dengan progran ruangan dan bila
punya masalah klien menceritakan dengan orang lain dan
berusaha menyelesaikan masalah itu.
IX. Masalah psikososial dan lingkungan
a) Masalah dengan dukungan kelompok, klien belum bisa
berinteraksi dengan orang lain.
b) Masalah dengan pekerjaan, klien tidak bekerja
c) Masalah berhubungan dengan lingkungan, klien sering
menyendiri dan tidak bergaul dengan lingkungan.
d) Masalah dengan pendidikan .
Klien hanya sekolah sampai SMA
e) Masalah dengan perumahan
Klien tinggal dengan istri dan kedua anaknya
f) Masalah ekonomi
Klien merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan
ekonomi keluarganya.
g) Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien tidak mengalami masalah dengan pelayanan
kesehatan.
X. Pengetahuan
Klien tidak mengetahui faktor presipitasi, koping, penyakit
jiwa, sistem pendukung penyakit, fisik dan obat-obatan

XI. Aspek medik


Diagnosa

Therapy medik : XII. Analisa data


No
DATA
MASALAH
1 S : Klien mengatakan Saya mendengarkan Perubahan persepsi
suara yang menyuruh saya untuk pulang dan sensori halusinasi
berdagang lagi
pendengaran
O : Klein tampak sedang mendengarkan
sesuatu
2

S : Klien mengatakan ada Jin yang Resiko menciderai


mendatangi dia dan menyuruh dia untuk diri sendiri,orang lain
membunuh bibiknya dan klien pernah dan lingkungan
meninju kaca sampai tangannya terluka
O : - kontak mata positif
- suara pelan

S : Klien mengatakan malas bergaul Isolasi sosial menarik


dengan teman-temannya
diri
O : - Klien diam
- Klien suka menyendiri
- Jika ada masalah klien tidak mau
bercerita.

B.

MASALAH KEPERAWATAN
a. Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
b. Kerusakan interaksi sosial.
c. Isolasi Sosial : menarik diri.
d. Koping individu Inefektif.
e. Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain.
f. Gangguan konsep diri : HDR
g. Kurang kemampuan merawat diri.
h. Regiment Therapeutik keluarga inefefktif.
i. Gangguan aktifitas motorik.

C.

POHON MASALAH DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Pohon masalah
Resiko menciderai diri sendiri/orang lain
Dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori : halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri


Harga diri rendah
koping individu inefektif

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN.
a) Resiko menciderai orang lain berhubungan dengan halusinasi
pendengaran.
b) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik diri.
c) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan
gangguan konsep diri.
d) Gangguan konsep diri berhubungan dengan koping individu
inefektif.
e) Gangguan aktifitas motorik berhubungan dengan kerusakan
interaksi sosial : menarik diri.

BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan pelaksanaan asuhan kesehatan pada tuan S dengan
masalah utama : perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran selama
4 hari di ruang Murai Rumah Sakit Jiwa Ketergantungan Obat Bengkulu,
yang penulis temukan diisi :
A. Pengkajian.
Dalam melakukan pengkajian atau pengumpulan data, penulis
mendapatkan data tersebut dari klien, status klien dan keluarga klien.
Predisposisi
Klien dengan kepribadian yang tertutup atau introvert mudah
tersinggung, suka memendam masalah, tidak mau menceritakan
kepada oran lain. Kebiasaan keluarga yang sering memcahkan
masalah tanpa musyawarah dan mengambil keputusan sendiri
B. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa yang penulis temukan dalam melakukan asuhan
keperawatan terhadap tuan S selama 4 hari di ruang Murai Rumah Sakit
Jiwa ketergantungan Obat Bengkulu yaitu :
1. Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik diri.
3. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
C. Perencanaan.
Dalam menyusun rencana asuhan keperawatan penulis berdasarkan
teori yang ada dan tidak mendapatkan hambatan yang berarti. Dari
masalah yang muncul dalam melaksanakan asuhan keperawatan

penulis telah menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan


diagnosa yang ada.
D. Implementasi.
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap tuan S sesuai
dengan intervensi yang telah disusun, penulis melaksanakannya
seoptimal mungkin demi tercapainya tujuan.
E. Evaluasi.
Pada tahap evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada tuan S
dengan masalah utama perubahan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran di ruang Murai RSJKO Bengkulu. Hasil evaluai yang
ditemukan penulis belum dapat mencapai tujuan yang maksimal.
Keadaan ini diakibatkan keterbatasan waktu yang dimiliki penulis
dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap tuan S (selama 4
hari) sedangkan untuk klien dengan gangguan kejiwaan dibutuhkan
waktu yang cukup lama dalam penerapan asuhan keperawatan.
Namun demikian, klien sudh menemukan kriteria hasil yang
diharapkan. Setelah melakukan evaluasi keperawatan kriteria hasil
yangsudah dicapai adalah : hubungan saling percaya antara klien
dengan perawat sudah terbina, klien dapat mengenali halusinasinya
klien juga dapat mengontrol halusinasinya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penerapan asuhan keperawatan hjiwa pada
tuan .S. dengan perubahan persepsi sensori : Halusinasi yang di
rawat di rumah sakit jiwa ketergantungan obat Bengkulu penulis
dapat menggambarkan sebagai berikut :
1. Dengan
melakukan
pengkajian
yang
baik
menggunakan langkah-langkah yang digambarkan
pada teori maka kelengkapan dan data yang mutlak di
perlukan sebelum melakukan asuhan keperawatan jiwa
yang dilaksanakan secara komprehensif yang meliputi
biopsikososial dan spiritual karena dengan data yang
lengkap diharapkan pelaksanaan asuhan perawatan
jiwa dapat dilaksanakan secara optimal.pada
pengkajian yang dilakukan penulis,kasus yang di
temukan dari tinjauan adalah klien sering mendengar
suara jin yang menyuruh dia pulang dan kembali
berdagang,dan hal itu membuat klien marah dan
jengkel,klienpernah ingin membunuh bibikny saat
mendengar bisikan,klien sering menyendiri diam, tidak
bergaul,jika ada masalah klien tidak mau bercerita,
merasa malu dan tidak mau bergabung dengan
kelompok atau orang lain. Dari pengkajian di atas
maka klien termasuk perubahan persepsi sensori :
Halusinasi yang di rawat di rung murai
2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari
kasus di atas adalah :

Resiko menciderai diri sendiri , orng lain dan


lingkungan

Perubahan persepsi sensori


pendengaran
Gangguan harga diri rendah

halusinasi

B. Saran
Berdasarkan hasil penerapan hasil asuhan keperawatan jiwa telah
dilaksanakan terhadap tuan .S. dengan perubahan persepsi sensori
: Halusinasi , kami sedikit dapat memberikan beberapa saran
yang dapat di pertimbangkan dan berguna bagi kita semua yaitu :
1. Untuk klien

Mampu mengontrol / mengatasi halusinasinya.

Klien dapat membina dan mempertahankan


hubungan dengan orang lain

Klien dapat mengenal halusinasinya


2. Untuk keluarga
Hendaknya keluarga berperan aktif dan memberikan
informasi kepada klien untuk menjalankan terapy
program kerena dengan menjalankan terapy program
dapat
mencapai
proses
penyembuhan
yang
optimal.maka dari itu keluarga sangat dibutuhakan
untuk penyembuhan klien, bagaimanapun klien akan
tetap kembali ke keluarga.

No
Dx

Hari / tanggal

IMPLEMENTASI

Evaluasi

28-januari-08 - Selamat pagi pak?


S : pagi juga
perkenalkan kami 8 orang
suster nama
mahasiswa-mahasiswi D III
saya
keperawatan universitas ratu
sumantok
samban bengkulu utara pak
saya senang
nama saya Zakia, saya septi
di panggil
pak..saya lisna pak..dan saya
mantok..saya
hesti pak..saya yantori ,saya
di bawa k
tina..dan saya thya pak..kalau
RSJKO
nama saya kiki pak..kalau
kerena saya
boleh tau siapa nama
sering bicara
bapak..dan senangnya di
sendiri..dan
panggil apa pak ? bagaimana
memukul
kabar bapak hari ini ? kami di
kaca..saya
tugaskan untuk merawat
juga pernah
bapak selama 4 hari jika
berniat ingi
bapak memerlukan bantuan
membunuh
kami siap membantu bapak
bibik saya
jadi bapak tidak usah ragu
saya merasa
untuk berceriata dangan
senang
kami..kalau boleh tau kenapa
bercerita
bapak sampai di bawa kesini ?
dengan
bagaimana perasaan bapak
kalian
setelah bercerita dngan
O :-semua
kami..?baiklah pak karena
pertanyaan
waktunya sudah habis,untuk
perawat di
hari ini cukup sampai disini
jawab
ya pak ?mungkin ada hal- hal
dengan baik
yang lain yang belum bapak
-Respon baik
ceritakan silahkan bapak
- kontak mata
ingat-angat lagi.. sampaikan
positip.
dalam pertemuan kita besok..
- Klien
tersenyum

A : Hubungan
saling
percaya
terjalin
dengan baik
P : Pertahankan
TUK I
lanjutkan ke
TuK II
29-januari-08 Selamat pagi pak?
bagaimana kabarnya hari ini ?
apakah bapak masih ingat
dengan kami ? oy pak apakah
masih ada yang mau bapak
ceritakan..ttg hal-hal yang
membuat bapak di bawa
kasini mungkin sekarang
bapak sudah ingat..oy pak
sesuai dengan janji kita
kemaren hari ini kita akan
mengenali halusinasi yang
bapak alami.

S : selamat pagi
juga..saya
masih ingat
dengan
kalian..klien
bercerita
kalau dia
sering di
datangi oleh
jin yang
menyuruh
dia pulang
dan
berdagang..s
ura itu
membuat
saya jengkel
dan kesal
Suara itu
sering sekali
datang
bahkan
setiap hari
O :-semua
pertanyaan di
jawab
dengan baik
-klien
bercerita
dengan suara

pelan sambil
tersenyum..
A : TUK II
berhasil
P : Planing di
lanjutkan ke
TUK III
30-01-08

Selamat pagi pak ? bagaimana S : selamat pagi


kabarny hari ini ? baiklah ini
jugakabar
merupakan pertemuan kita
saya
yang ke tiga ya
baik..saya
pak.sebelumnya saya mau
sekarang
bertanya apakah masih ada
sudah biasa
halusinasi yang lain yang
mendengarka
bapak rasakan selain dari yang
n suara itu,
bapak ceritakan
tapi,malahan
kemaren..mungkin sekarang
saya ajak
bapak sudah ingatsilahkan
saja
bapak ceritakan..baiklah pak
berbicara
untuk pertemuan kita hari ini
kalau suara
kita akan membahas tentang
itu terus
mengendalikan
datang
halusinasi.apa yang bapak
membuat
lakukan jika bapak mendengar
saya jengkel
bisikan-bisikan yang bapak
jugakarena
sebutkan kemaren? Apa yang
dia terus
bapak lakukan untuk
menyuruh
mengatasi bisikan-bisikan itu?
saya
Bapak tau cara mengatasinya?
pulang
O : - semua
pertanyaan
perawat
dijawab
dengan baik
- respon baik
- ekspresi
wajah biasa.

A : TUK III
belum
tercapai
P : Planning
diteruskan

31 januari-08

Selamat pagi pak? Bagaimana S : Selamat pagi


kabar nya hari ini? Baiklah
juga.saya
pak sebelumnya saya mau
tidak
bertanya apakah ada cara-cara
memiliki
yang lain yang bapak lakukan
cara lain
dalam mengatasi halusinasi
selain cara
mungkin sekarang bapak
yang saya
sudah ingat Baiklah pak
kasih tahu
sekarang kita akan
kemaren
memebahas tentang cara-cara
saya benarmemutusi halusinasi..jika
benar ingin
suara itu datang bapak tutup
memutuskan
telinga sekuat mungkin
halusinasi
sampai suara itu hilang
saya
katakan bahwa kamu adalah
O : klien tampak
suara palsu..Pak ini
serius
merupakan pertemuan kita
mendengarka
yang terakhir..setelah ini
n perawat
bapak tidak akan bertemu
bicara..klien
dengan kami lagi..seandainya
menutup
bapak punya masalah..bapak
mata,dan
akan mendapat bantuan dari
telinganya
perawat yang lain.
sambil
mengatakan
kamu
adalah suara
palsu..

A : TUK II

Tercapai
B : Planning Di
lanjutkan